Bara Dendam Kafir Quraisy

Quraisy

Dengan kekalahan kaum Quraisy di Perang Badar dan banyak terbunuhnya pemuka dan bangsawan Quraisy, Makkah penuh dengan kebenciam terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimana kaum Quraisy dapat melupakan kekalahan itu, sedang mereka adalah kabilah yang angkuh dan mempunyai kedudukan terhormat. Mereka selalu berkabung, selalu menangisi dan meratapi, hati mereka dipenuhi hasrat untuk balas dendam.

Bara semakin menyala setelah kafilah dagang Quraisy kehilangan barang dagangan mereka di tangan pasukan Muslim yang dipimpin Zaid bin Haritsah, bahkan mengancam ekonomi mereka. Kesedihan dan kegalauan yang bertumpuk-tumpuk ini semakin mendorong kaum Quraisy untuk cepat-cepat mengadakan persiapan perang melawan Rasulullah dan kaumnya.

Akhirnya, semua pemuka Quraisy sepakat untuk berperang habis-habisan terhadap kaum Muslimin. Tindakan pertama yang mereka lakukan adalah menghimpun kembali barang dagangan Abu Sufyan bin Harb –penyebab pecahnya perang Badar- yang bisa diselamatkan. Barang-barang tersebut akan dijual dan keuntungannya digunakan untuk membiayai pasukan. Mereka juga menghimbau orang-orang yang banyak hartanya untuk menyumbangkan harta mereka, hingga terkumpul sekitar seribu onta dan seribu lima ratus dinar. Kesempatan untuk turut berpartisipasi memerangi kaum Muslim pun dibuka lebar-lebar, entah mereka berasal dari Habasyah, Kinanah, atau pun Tihamah.

BACA JUGA : Gejolak Madinah Perang Dzi Amar

Abu Azzah, seorang penyair yang tertawan di perang Badar, namun dibebaskan Rasulullah dengan syarat tidak boleh memerangi kaum Muslim lagi dalam bentuk apapun. Dibujuk oleh Abu Shafwan agar membangkitkan semangat berbagai kabilah untuk memerangi Rasulullah dan kaumnya. Abu Shafwan berjanji jika Abu Azzah kembali dari perang dalam keadaan selamat, akan diberi harta yang melimpah. Jika tidak, maka anak-anaknya akan mendapat perlindungan.

Dalam perundingan persiapan, ada yang berpendapat supaya wanita diikut sertakan dalam pasukan, “Biar mereka bertugas membangkitkan kemarahan kalian, dan mengingatkan kepada korban Badar. Kita adalah masyarakat yang sudah bertekad mati, pantang pulang sebelum Muhammad dan pengikutnya kalah, atau kita yang mati.”

“Mengikut sertakan wanita-wanita kita dalam peperangan bukanlah pendapat yang baik. Apabila kalian mengalami kekalahan lagi, wanita kitapun akan tercemar.” Sahut yang lain.

Tiba-tiba Hindun binti Utba, istri Abu Sufyan, berteriak kepada orang Quraisy yang menentang keikut sertaan kaum wanita. “Kalian yang selamat dari perang Badar dapat kembali kepada istri kalian. Sedangkan orang-orang yang kami sayangi terbunuh, tak ada yang menyemangati mereka. Kami akan berangkat ikut menyaksikan perang, jangan ada lagi yang melarang kami.”

Akhirnya kaum Quraisy sepakat membolehkan wanita mereka berangkat dengan dipimpin oleh Hindun. Hindun lah orang yang paling ingin membalas dendam, karena orang-orang yang dicintainya terbunuh di perang Badar.

Setelah genap setahun, dan persiapan yang benar-benar matang, diberangkatkanlah pasukan Quraisy sebanyak tiga ribu orang menuju Madinah. Diantaranya ada dua ratus pasukan berkuda dan tujuh ratus pasukan berbaju besi. Tidak sedikit perlengkapan dan senjata yang mereka bawa, dibutuhkan tiga ribu unta untuk mengangkut semua perlengkapan tersebut. Komandan tertinggi pasukan Quraisy dipegang oleh Abu Sufyan, komandan pasukan berkuda oleh Khalid bin Walid dibantu Ikrimah bin Abu Jahal. Adapun bendera perang diserahkan pada Bani Abdid-Dar.

Sementara itu Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah yang masih berada di Makkah, terus memata-matai persiapan pasukan Quraisy. Segala tindakan dan persiapan mereka digambarkan secara rinci dalam surat yang ditulisnya. Surat itu diserahkan pada salah seorang dari Bani Ghifar supaya disampaikan kepada Rasulullah. Akhirnya surat tersebut sampai di Madinah dan diterima Rasulullah hanya dalam jangka waktu tiga hari saja.

Ketika itu, pasukan dari Makkah mengambil jalur utama kea rah barat menuju Madinah. Sesampainya di Abwa, beberapa dari mereka mengusulkan untuk membongkar makam Aminah binti Wahab, Ibunda Rasulullah. Akan tetapi pemuka-pemuka mereka menolak hal ini. “Jangan melakukan hal tersebut, bisa-bisa kabilah lain ikut membongkar juga kuburan-kuburan kita.”

Maka, pasukan Quraisy melanjutkan perjalanan mereka hingga mendekati Madinah. Mereka melewati wadi Aqiq, lalu menuju arah kanan hingga tiba di bukit Uhud. Mereka berhenti di suatu tempat yang bernama Ainain, di sebelah utara Madinah.