Intellectual Disorder Dalam Penggandaan Uang

penggandaan uang

Connecting the Dots

Menurut keterangan isteri mendiang Ismail Hidayat, awal perkenalan suaminya dengan Taat Pribadi adalah ketertarikan terhadap barang-barang klenik : keris, mata tombak, perhiasan- antik, dll. Diperlukan minyak ghaib untuk mengeluarkan barang-barang itu dari tanah yang dibawa oleh orang-orang yang mempercayainya. Minyak ‘ghaib’ tersebut harganya mahal. Meskipun penulis dan pembaca tidak mempercayai itu sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi, dan jika pun terjadi ada keterlibatan sihir dengan bantuan syaithan, atau setidaknya permainan sulap yang tidak dilihat oleh orang awam, tetapi itu yang dipercayai oleh Ismail Hidayat dkk.

Isteri mendiang Ismail Hidayat berkata bahwa Hasil penjualan barang-barang klenik tersebut tidak dibagi, di-investasikan untuk ‘sesi-sesi’berikutnya, sementara keperluan akan ‘minyak ghaib’ yang mahal itu semakin besar. Kebutuhan terhadap ‘minyak ghaib’ semakin besar, harus ada pemasukan uang untuk pengadaan, padahal tidak semua orang mempercayai. Mereka yang mau percaya itupun harus dibius dengan harapan yang melambung untuk dapat dimainkan impiannya, kemudian di-eksploitasi uangnya. Jaringan penjualan harapan kosong dan customer-nya ini merupakan jaringan eksklusif. Dipasarkan secara ‘getok tular’ dengan sistem menyerupai MLM.

Untuk mengikat impian utopis tersebut diperlukan kehebatan, pencitraan dan aura magis yang kuat, agar umur kebohongan itu dapat dipertahankan selama mungkin, jika perlu didorong untuk ikhlas tanpa tuntutan apapun, meski fatamorgana itu terus menjauh dan menjauh. Bahkan jika mungkin harapan itu dibawa mati seperti pada kasus Hajah Najmiah dari Makasar itu, atau seperti beberapa pengikut setia yang mati ketika ‘menggantang asap’ di padepokan.

Untuk keperluan kehebatan itu sudah dipersiapkan sejak muda dengan berguru ke beberapa ‘orang pintar’ sehingga tokoh sentral itu memiliki kemampuan hebat untuk menggandakan (‘mengadakan’ menurut istilah Marwah Daud, ketua yayasan), jubah dipesan dan dibuat secara eksklusif dengan kapasitas penampungan uang yang begitu besar, didemonstrasikan, di-shoot, lalu di youtube-kan. Segera, ’kemampuan’ itu menjadi viral dan pengikat impian dari mereka yang memang sudah menjadi korban sejak ‘keterpanaan’ pertama.

Adapun keperluan pencitraan dibangun dengan beragam cara ; dana mahar (yang oleh Marwah Daud di-analogikan sebagai uang pendaftaran anggota, atau simpanan pokok bagi anggota koperasi) sebagiannya digunakan oleh Ismail Hidayat dkk sewaktu titik kulminasi ketertipuan, untuk membangun megah padepokan, jalan-jalan di sekitar padepokan, menyantuni lingkungan sebagai ‘pagar hidup’.

Berhenti disitukah? Tidak! Para pengikut setia jaringan, perlu penyematan aura magis yang sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat jaringan, maka para pentolan dengan prestasi gemilang mengumpulkan pengikut, pemilik down-line besar, penyumbang mahar paling banyak, disemati gelar ‘Sultan Agung’ membawahi para ‘sultan’ yang menjadi kaki tangan pengumpul korban penyetor mahar. Ketika gelar Sultan dan Sultan Agung pun telah terpakai untuk leher jaringan, lalu apa gelar kepalanya? Maka gelar ‘Kanjeng Dimas’ yang ber-nuansa magis ‘dunia-akherat’ disematkan kepada ‘top-korak’-nya.

Pencitraan tidak berhenti disitu. Langkah pentahbisan lakon ‘Petruk jadi raja’ ini, dilanjutkan dengan menghadirkan Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI) yang terdiri dari perwakilan 24 kerajaan dan kesultanan di Indonesia, bahkan hadir perwakilan dari Malaysia, juga Thailand. Eksekutif Nasional Kerajaan dan Kesultanan Indonesia, Sri Lalu Gedhe Padma kari ‘kesultanan Sasak’ menahbiskan Taat Pribadi sebagai raja Anom Probolinggo dengan gelar Raja Anom ‘Sri Prabu Rajasanagara’ mengambil gelar puncak kejayaan Majapahit  Hayam Wuruk. Mengundang hadir perwakilan dari berbagai daerah, bahkan sebagian dari luar negeri tentu tidak sedikit biayanya. Tetapi biaya yang dikeluarkan tersebut dianggap murah dan ringan ketika tujuan pencitraan, serta upaya mengikat pengikut dengan ikatan yang kuat itu tercapai, apalagi sumber pendanaan telah safety, dengan beberapa pendana kakap yang terikat magis.

Pernik-pernik klenik di lingkungan ‘customer-eksklusif’ terencana dan diproduksi secara massal dari mulai photo figur sentral, pulpen ‘ladunni’ yang pemegangnya dijamin menguasai 7 bahasa asing, ATM dapur, keris, merah delima dll. Benda-benda itu hampir selalu ditemukan di rumah para pengikut. Bahkan ada batu mungil indah yang jika dipegang tangan manusia menyala, ketika ada yang iseng memecahkan batu mungil itu, ternyata di dalamnya ada battery-elektrik-nya,…sempurna. Sulit untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa penipuan besar-besaran itu terencana dan tersistem.

Bahkan ketika tokoh sentral sudah diciduk dengan dakwaan keterlibatan pembunuhan terencana pun, ketua yayasan tetap menghibur pengikut setianya bahwa mereka sedang ‘diuji’ Alloh. Tentunya dalam terminologi agama (Islam) orang yang diuji jika sabar akan mendapatkan pahala besar dan pertolongan yang dekat. Tak heran jika ratusan ‘santri’ setia tetap bertahan di padepokan dengan keyakinan penuh.

Intellectual Disorder

Dr.Marwah Daud salah seorang intelektual dan mantan politikus yang ikut terlibat dalam yayasan, bahkan sejak 11 Agustus 2016 sebagai ketua. Nama yayasan itu adalah Yayasan Kraton Kesultanan Nusantara Sri Raja Prabu Rajasanagara. Sebelum terlibat di yayasan ini, isteri Ibrahim Tadju ini telah aktif di partai Golkar, bahkan pernah masuk Dewan Pimpinan Pusat, juga aktif di ICMI, pengurus MUI pusat. Jauh sebelum itu, ketika menjadi mahasiswa telah pula aktif di HMI. Gelar master dan PhD diraih di Amerika.

Marwah mengklaim bahwa yang ikut terlibat aktif dalam kegiatan yayasan itu ada ahli dari berbagai bidang ; ada ahli energi, ada ahli pertanian, dll, bahkan ada ahli membuat pesawat terbang. Program-programnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Nusantara, karenanya dia memandang keterlibatannya sebagai amanah.

Ketika dikonfirmasi kegiatan yang ada di padepokan, dia mengatakan para ‘santri’ itu pagi sholat Subuh, istighotsah, membaca sholawat Nariyah, khatam-an, dzikir, baca al-Qur’aan, dll, berbagai aktivitas ibadah ‘biasa’ (dengan tanpa membedakan apakah ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan ataukah ‘kreasi’ di luar yang dituntunkan, alias bid’ah). Semua yang disebut itu tidak berhubungan dengan kemajuan dan kemakmuran rakyat yang dikatakan sebelumnya, tidak nyambung.

Baca juga : Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan Paradoks Sistem Sekuler

Lebih ‘tidak nyambung’ lagi, antara argumentasi yang dibangun, dengan kenyataan bahwa para pengikut yang setiap hari melakukan ibadah dan istighotsah di padepokan itu, dengan meninggalkan keluarga yang hanya dihibur janji dan impian. Apalagi mereka di situ ada yang sudah selama empat tahun, ada yang beberapa bulan. Mereka menyangka bahwa langit akan menurunkan hujan emas, dengan berbagai amal dan ibadah itu.

Asumsi penulis, Marwah bukan orang yang ‘sejak awal’ tergiur kemampuan ‘mengadakan’ uang untuk interest pribadi, tetapi untuk kemashlahatan umat, karenanya dia menyebut Taat Pribadi dengan penuh ta’zhim ‘Yang Mulia Paduka Kanjeng Dimas Taat Pribadi’. Dia dengan intelektualitasnya, kemampuan penalarannya, bisa ‘tertipu’ dan menganggap sulapan penggandaan uang  itu sebagai anugerah Allah. Bahkan, begitu yakin dia memohon agar figur sentral padepokan itu diberi kesempatan untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan Kapolri, BI, otoritas keuangan, bahkan Presiden. Yang membuat heran, bagaimana seorang intelektual setingkat DR bisa ‘dikadali’ oleh sihir atau sulapan Taat Pribadi? Mungkin telah terjadi intellectual disoder dalam kasus ini.

Pada akhirnya, tinggallah Islam sebagai tertuduh karena penggunaan simbol dan atribut yang dalam kacamata awam melambangkan Islam, dan musuh pun bersorak, agama memang ‘candu bagi masyarakat’. Semoga Alloh mengampuni kita semua dan melindungi agama-Nya.

%d bloggers like this: