Menyikapi Berita Dusta (HOAX)

Menyikapi Berita Dusta (HOAX

Di era modernisasi saat ini, kita dimanjakan dengan berbagai macam gadget dan alat komunikasi. Dengan begitu kita bisa leluasa mengakses apapun yang kita inginkan. Berita, tontonan, musik dan lain sebagainya tersaji di depan mata tinggal menekan tombol enter pada keyboard kita. Sampai anak balita yang belum paham tulisan dengan baik sekalipun mampu mengoperasikannya meski hanya bermain game atau hanya sekedar menonton video animasi.

Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari perkembangan teknologi yang satu ini, tapi perlu dicermati dan menjadi perhatian bagi kita semua bahwa apa yang ditampilkan dan diberitakan di media sosial tidak serta merta benar adanya. Dengan kemudahan yang ada justru menjadi lahan subur bagi para pendusta dan orang-orang fasik untuk menebar kebencian dan berita hoax untuk menyerang islam dan kaum muslimin.

BACA JUGA: Pemenrintah Sumber Fitnah?

Dalam islam Allah sudah mewanti jauh-jauh hari agar kita berhati-hati dengan berita dusta yang dibawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan” (QS. al-Hujurat:6)

Ayat diatas turun pada saat peristiwa bani musthaliq yang mana kepala kaum mereka al-Harits bin dhirar masuk Islam dan mengajak kaumnya memeluk Islam dan membayar zakat dan membuat kesepakatan dengan Nabi untuk mengambil zakatnya pada waktu yang ditetukan. Tiba saat pengambilan zakat Nabi mengutus seorang utusan, ditengah perjalanan Ia kembali ke madinah dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Nabi al-Harits menghalangi diriku untuk mengambil zakat mereka dan akan membunuhku” Seketika Nabi marah dan mengutus pasukan menemui al-Harits pemuka bani Musthaliq tadi. Di tengah jalan mereka bertemu dengannya dan al-Harits pun bertanya pada mereka, “Kepada siapa kalian diutus?” mereka menjawab, “kepadamu” al-harits balik bertanya, “Ada apa denganku?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah mengutus al-Walid bin Uqbah kepadamu untuk mengambil zakat, namun kamu halangi dan hendak kau bunuh”. Al-Harits berkata, “Demi zat yang mengutus Muhammad, aku tidak menemui dan melihat utusan Rasul itu sama sekali”. Setibanya al-Harits di madinah Ia langsung menemui Nabi, dan Nabi seraya berkata, “Kamu tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku? Kemudian al-Harits berkata, “Wahai Nabi demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihat dan aku tidak bertemu dengan utusan tersebut. Dan aku kesini serta merta karena tidak ada utusan yang menjemput zakat ini, aku takut bila hal ini membuat murka Allah dan rasul-Nya. Lalu turunlah ayat ini.

Hari ini sering kita dapati begitu mudah si fulan berkata demikian, si media anu memberitakan demikian, portal berita berkata sedemikian rupa padahal sumbernya belum jelas dan belum terintegrasi kebenarannya. Ini merupakan musibah, musibah bagi kaum muslimin yang apabila tidak segera mencari kebenaran dan mengkrosceknya kelak yang akan didapat adalah penyesalan di ujung cerita. Oleh sebab itu, dari ayat diatas menjelaskan setidaknya ada 4 kaaedah dalam menerima kabar atau berita,

  1. Pemberitaan dari orang yang dikenal adil (kredibel) maka ucapannya boleh diterima, kecuali ada beberapa hal yang menjadikannya tidak lagi bisa dipercaya.
  2. Allah tidak melarang mentah-mentah berita dari orang fasik. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk tabayun (mencari kejelasan). Apabila berita yang dibawakan benar adanya maka berita tersebut dapat diterima meskipun yang menyampaikan orang fasik.
  3. Tidak perlu terburu-buru untuk menyebar berita yang kita terima, sebagaimana Allah mencela orang-orang yang terburu-buru menyiarkan berita,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. an-Nisa: 83)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“berhati-hati itu dari Allah dan terburu-buru itu dari syetan.” (HR. Baihaqi dihasankan oleh al-Albani)

 

  1. Ayat ini juga menjelaskan betapa bahaya terburu-buru menyebarkan berita yang berdampak pada keadaan orang/ organisasi yang diberitakan. Yang kelak kita sendiri yang akan menyesalinya.

 

Demikian beberapa hal yang perlu kita cermati sebelum kita menyampaikan atau menyebar luaskan sebuah berita dan informasi agar kita lebih berhati-hati. Nabi sendiri pernah mengingatkan “Cukup seseorang dikatakan dusta, apabila Ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar”. Jadi belum tentu apa yang kita dapatkan dari broadcast, dari status seseorang, dari portal berita anu benar adanya sebelum kita mengecek kevalidan berita tersebut. Demikian apa yang diungkapkan Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam kitab Qawaid Qur’aniyah, semoga bermanfaat.