Ideologi Tertutup?

ideologi tertutup

Orang beriman bukanlah sebagaimana yang digambarkan oleh orang-orang yang tidak tahu sifat-sifat mukmin. Sepertinya ingin menjelaskan kepada kadernya, akan tetapi justru memfitnah, melecehkan dan menghina kaum muslimin dan Islam. figur orang yang menyebar fitnah pun menjadi poin besar dalam memberikan syubhat bagi yang lemah iman.

Nusantara lebih awal dari pada wujudnya Indonesia, sejak awal muslimin berada di nusantara, mereka tidak menggunakan senjata, teror dan propaganda serta menutup dialog, bahkan masuknya Islam di Nusantara dan keberadaan muslimin di Indonesia hingga detik ini menjadi bukti paling jelas bahwa muslimin tidak menggunakan cara cara buruk dan jahat, karena memang islam itu Rahmatan lil ‘aalamiin.

Dialog sangat terbuka, kemanan dan persatuan dalam keberagamanpun terwujud bersama Islam dan muslimin. Sejarah dan fakta berbicara siapa yang membawa senjata, memberikan teror dan propaganda pada nusantara dan Indonesia, Belanda dengan tentaranya yang bukan beragama Islam, Jepang dengan tentaranya yang juga bukan beragama Islam dan cina dengan komunisnya.

Bukan Islam dan muslimin yang membahayakan persatuan dan keberagaman, akan tetapi merekalah yang justru menjadi ancaman nyata bagi keamanan negri,  jiwa dan harta penduduk nusantara dan Indonesia. Telah terbukti dengan peninggalan sejarah yang mereka tuliskan sendiri dengan darah penduduk nusantara dan Indonesia.

Bila ada orang yang mengaku Islam berkata dengan lisannya :

“Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memposisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya”.

Bisa mengakibatkan kekafiran pelakunya!, kepada siapa kita akan percaya akan berita kehidupan dunia fana bila tidak kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam yang (memiliki asal nasab Arab) mendapat wahyu dari Allah lewat perantaraan makaikat Jibril, yang mentrasferkan ilmu ini kepada para ulama (baik yang Arab maupun bukan Arab).

Kefasihan para ulama dalam menjelaskan kehidupan akhirat (sebagai Rukun iman yang wajib ada dalam diri muslim) disebabkan sumbernya terpercaya, pasti benar dan tidak meragukan. Sehingga mereka menyampaikan dengan penuh keyakinan dan tanpa ragu.

Bila seorang yang mengaku muslim tidak percaya kepada hari akhir (termasuk kehidupan setelah dunia fana), maka ia telah murtad dan persangkaannya menjadi muslim tidaklah berarti. Bila seorang komunis  yang berkata demikian maka bisa dimaklumi dan wajar saja, karena mereka tidak mengenal Allah, apalagi mengenal kehidupan setelah dunia fana!

Allah ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al Baqarah: 208)

Bagi yang sudah menyatakan untuk beriman (tentunya tanpa paksaan, intimidasi dan dengan kesadaran penuh) maka perintahnya masuklah dalam Islam secara keseluruhan, jangan sebagian saja yang diterima dan yang lain ditolak. Masuk islam tapi tidak mau syariat Islam, masuk Islam tapi memilih orang kafir sebagai pemimpin dan mendukung serta membela orang kafir dan meninggalkan orang mukmin, masuk Islam tapi tidak mengimani kehidupan setelah dunia fana, masuk Islam tapi mesra dengan komunis dan phobi dengan muslimin, ini adalah mengikuti langkah syaitan.

Islam dan umatnya tidak memaksakan idiologinya untuk diterima oleh seluruh masyarakat. Salah bila ada ibu-ibu yang mengatakan (bila maksud dari idiologi tertutup itu adalah Islam):

“Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat.”

Ini buktinya, Allah ta’ala berfirman :

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al Baqarah: 256)

Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam yang keturunan Arab tidak memaksakan kepada Arab maupun non Arab untuk memeluk Islam, dan begitu juga setiap ulama Islam tidak memaksakan kepada siapa saja untuk masuk Islam, jadi Islam bukanlah idiologi yang dipaksakan untuk diterima oleh seluruh masyarakat.

Yang mau masuk Islam, alhamdulillah dan silahkan. Yang tidak mau masuk Islam maka tidak ada paksaan bagi mereka. Tidak akan diteror, ditodong senjata, digrebek dengan detasemen khusus, apa lagi dibunuh.

Namun bagi siapa saja yang menghalangi kebenaran Islam ketika disampaikan maka Islam juga memiliki kekuatan untuk menghadapi siapa saja yang menghalangi dakwah Islam.

Ada seorang bapak yang berkata kepada anaknya :

“Kalau kamu mau menjadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.”

Lalu diartikan oleh anak : “kalau kamu jadi orang Islam tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya nusantara yang kaya raya ini.”

Pemahaman tersebut salah dan menyesatkan, karena ada adat dan budaya di nusantara ini yang bertentangan dengan Islam. Seperti ketika Rasul berdakwah Islam maka saat itu orang Arab memiliki adat menyembah banyak tuhan, dan Islam tidak membenarkan adat tersebut. Maka begitu juga dengan adat dan budaya di nusantara dan indonesia, ada yang bertentangan dengan Islam, maka jadilah orang Islam dan jangan melakukan adat dan budaya yang membatalkan keislaman seseorang.

Bangsa ini memiliki prinsip Ketuhanan yang Maha Esa bukan komunis, bukan pula tuhan yang berbilang dan banyak. Wallahu a’lam

 

Ust. Taufik al-Hakim, Lc

 

 

%d bloggers like this: