Ujian Berat yang Dianggap Ringan

ujian seorang istri

Seorang shahabiyah (sahabat wanita) mulia, yang bapaknya, saudaranya dan suaminya terbunuh di Perang Uhud tatkala dikabari berita duka tersebut justru ia malah bertanya bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dikatakan kepadanya, “Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) baik-baik saja seperti yang engkau harapkan.” Dia menjawab, “Biarkan aku melihatnya.” Tatkala ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia mengatakan, “Sungguh semua musibah terasa ringan wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali bila hal itu menimpamu.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 2:99).

Setiap istri memiliki ujian masing-masing dalam keluarga. Ada seorang wanita yang takdir Allah mempertemukannya dengan lelaki tak berharta. Hidup pun harus ia jalani dengan apa adanya. Rumah, dari tahun ke tahun harus berpindah dari kontrakan ke kontrakan berikutnya. Kendaraan, yang dipunya hanya motor butut  satu-satunya di mana sang istri harus rela duduk di bagian paling belakang karena berbagi dengan anak-anaknya. Duduk di atas bagian besi, itu pun kadang hanya separuh bagian yang bisa diduduki. Belanja harian harus benar-benar disiplin, tidak boleh melebihi kuota yang cuma beberapa rupiah. Jika harga cabai melambung, misalnya, berarti menu harian bisa dipastikan minus rasa pedas. Sekolah, ingin hati menyekolahkan anak di sekolah Islami, namun apa daya, sekolah islami favorit biasanya tarifnya tinggi, tidak bersahabat dengan kantong suami.

Di keluarga lain, ada istri yang hidup berkecukupan tapi diuji dengan minimnya kesehatan. Terkena diabates misalnya. Makan terbatasi, aktifitas harus selalu dalam kendali, dan hidup terasa sempit karena banyak hal yang harus dihindari. Atau terkena kanker rahim yang mengakibatkan peluang memiliki anak hilang selamanya. Tentu bukan hal ringan membayangkan kehidupan berkeluarga tanpa satu pun momongan. Atau justru sang suamilah yang sakit hingga istri yang seharusnya merupakan tulang rusuk harus menjadi tulang punggung keluarga.

Ada pula istri yang ujiannya adalah sang mertua. Tinggal seatap dengan mertua, bahkan meskipun sang mertua kaya harta, biasanya tetap seperti hidup dalam penjara. Keluarga adalah rumah tempat segala privasi mendapatkan tempatnya. Ada banyak sekali perkara-perkara yang hanya layak dan baik untuk diketahui oleh pasangan saja. Keberadaan orang lain di dalam rumah, sedekat apapun hubungannya, tentu akan menghilangkan privasi ini. Dan pada level tertentu, hal itu bisa membuat istri jadi frustrasi.

Beragam dan setiap istri telah mendapat jatah ujiannya sendiri-sendiri. Bentuk ujiannya tidak akan beralih dari paket-paket ujian hidup yang terangkum dalam ayat 155 surat al Baqarah: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Nah, lantas apa hubungannya ujian-ujian ini dengan kisah shahabiyah tersebut di atas? Kita lihat bagaimana sikap sang shahabiyah menghadapi ujian dan musibah yang menimpa; kehilangan ayah, saudara bahkan suaminya. Dalam timbangannya, ujian itu terasa ringan karena tidak menimpa agamanya. Rasulullah adalah representasi tunggal eksistensi Islam dan agama bagi semua orang. Keselamatan Beliau adalah keselamatan bagi Islam dan terluka atau bahkan terbunuhnya beliau adalah kematian bagi Islam, kecuali setelah syariat disempurnakan. Intinya, bagi seorang shahabiyah, apapun ujian yang menimpa, asal bukan menimpa agamanya, ujian itu tidak ada apa-apanya.

Ini soal pemetaan ujian diprioritas dalam menyikapinya. Selagi ujian tersebut bukan kategori ujian bagi agama, tak perlu terlalu mempermasalahkan. Tetap bersabar, berusaha untuk memperbaiki keadaan dan berdoa agar Allah berkenan meringankan. Namun jika ujian yang dihadapi adalah ujian bagi agamanya, sudah sewajarnya jika seseorang merasa gusar, merasa berat dan entah bagaimana caranya harus segera keluar darinya. Masalahnya, ujian yang menimpa dien (agama) seseorang ini sering tidak dianggap ujian, bahkan tidak sedikit yang menyangkanya sebagai kebaikan.

Seorang istri, meskipun mendapat suami berkecukupan, sehat sejahtera, punya rumah dan mobil pribadi tapi penghasilan suaminya mengandung riba, itu adalah musibah dalam agama. Inilah ujian berat yang sesungguhnya. Mengapa? Karena dengan riba adalah pangkal segala petaka. Dunianya boleh saja sejahtera tapi akhiratnya terancam binasa. Ujian seperti inilah yang seharusnya membuat seseorang selalu risau dan tidak bisa hidup tenang. Ujian ini berat karena sang istri harus segera memperingatkan suami dan memaksanya berganti profesi.

Atau, seorang isteri yang suaminya tak peduli dengan keshalihan pasangan dan keluarga dan malah membiarkan kemaksiatan memasuki rumahnya, ini juga musibah dalam agama. Sebanyak apapun hartanya, seromantis apapun hubungannya, seharmonis apapun rumah tangganya, hakikatnya, sang isteri tengah menghadapi ujian luar biasa. Rumahnya yang terlihat indah dan bersih,  di mata Allah jauh lebih buruk dari kuburan karena tak terdengar bacan al Quran. Tawa canda bahagia keluarga hanyalah awal sementara dari kesengsaraan tak terkira di akhirat sana.

Jadi, marilah kita petakan musibah yang kita hadapi dengan sudut pandang shahabiyah tadi. Jika yang menimpa adalah ujian-ujian duniawi; kurangnya harta, rumah yang jelek, rezeki yang mepet, hutang yang menggunung, penyakit yang tak kunjung sembuh atau mertua yang cerewet, anggaplah semua itu ujian ringan. Asalkan pribadi, suami dan keluarga masih senantiasa berusaha taat dalam syariat-Nya, insyaallah ujian itu hanyalah ujian ringan. Penyelesaiannya pun gampang; sabar dan berdoa. Insyaallah semua ada pahala dan semua ada akhir masanya. Namun jika musibah menimpa agama, sabar bukanlah pilihan karena seseorang harus segera keluar darinya. Harus segera menyelesaikannya sebelum ajal menjemputnya. Jika tidak, apalagi malah berdiam menikmatinya, bersiap-siaplah menghadapi kehidupan yang sengsara di alam baka. Bukankah ini lebih berat?.Wallahua’lam.

 

(Ust. Taufik Anwar)

 

 

 

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: