Gagal Paham Ramadhan, Pahala pun Melayang

Gagal paham Ramadhan

Di awal Ramadhan, masjid penuh sesak dimana saja, terutama saat shalat isya dan subuh. Bisa dipastikan di hari awal Ramadhan tak ada yang mau ketinggalan ikut memeriahkan keagungan bulan ini. Berbagai spanduk terpampang dimana saja, warung makan pada tutup di siang hari dan orang-orang khusyuk menjalankan ibadah puasa.

Tapi, seiring bergulirnya hari, semakin surut pula antusiasme manusia dalam berpuasa. Terutama ketika memasuki sepuluh hari kedua, suasana berubah drastis daripada hari-hari awal puasa. Jumlah shaf di masjid semakin maju, jamaah tinggal beberapa gelintir, warung-warung makan pun kembali buka seperti sedia kala dan berbagai spanduk motifasi tinggal tulisannya.

Demikian tradisi tahunan yang terjadi di masyarakat kita. Membuktikan bahwa keagungan bulan Ramadhan kurang dipahami dengan baik oleh manusia, hingga terlewat begitu saja. Dari sekian tradisi diatas, setidaknya ada beberapa gejala yang menyebabkan orang kurang paham terhadap makna Ramadhan,

 

1. Mereka paham untuk menahan dari makan, minum, hubungan suami-istri dan menghindari berbagai pembatal puasa, namun mereka tidak menahan diri dari hal-hal yang diharamkan, seperti; ghibah, adu domba, dusta, mencela, menghina dan perbuatan yang dapat merusak puasa lainnya.

Padahal puasa adalah tarbiyah bagi orang mukmin. Karena itu, tidak masuk akal jika mereka menahan diri dari yang mubah tetapi justru membiarkan dirinya melakukan perbuatan yang haram.

 

2. Menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Aktifitas mengendor, banyak santai dan produktivitas menurun drastis. Dengan alasan bahwa tidurnya orang yang puasa adalah ibadah, akhirnya banyak tidur dan meninggalkan beramal shalih.

Padahal kita tahu, pada generasi awal islam, kaum muslimin banyak berjuang dan mengeluarkan kekuatan di bulan Ramadhan. Sebut saja perang badar, fathu makkah dan lainnya.

Hari ini berkebalikan drastis dari masa tersebut. Oleh karenanya, mestinya bulan Ramadhan benar-benar dimanfaatkan untuk beramal shalih dan berjuang.

 

3. Berlebihan dan bermewah-mewah dalam berbuka, makan dan minum. Banyak kaum muslimin yang mengubah menu pada bulan puasa, mula-mula hanya sekedar memenuhi 4 sehat 5 sempurna, tapi demi memenuhi gizi dan stamina saat puasa, banyak yang kelewatan dalam hidangan. Berlebihan makan sehingga menghilangkan hikmah dari puasa itu sendiri.

 

4. Ada yang salah dalam memotifasi diri saat puasa. Sebagian berharap dengan puasa, terpenuhi keutamaan-keutamaan duniawi semisal; badan sehat, terhindar dari obesitas, otak semakin cerdas dan pencernaan sehat. Padahal dibalik itu, ada kemuliaan besar yang lebih dari sekedar apa yang didapat di dunia. Kita akan diampuni segenap dosa, dikabulkan setiap doa dan Allah telah menyiapkan pintu khusus bagi para shaimiin. Sebagaimana banyak dalil tertera dalam al-Quran dan sunnah.

 

Setidaknya empat kesalahan diatas yang menyebabkan di sepuluh hari kedua Ramadahan ini shaf-shaf di masjid semakin maju, jamaah lambat laun menua, karena para pemudanya menjadi lupa untuk pergi lagi ke masjid, warung makanan kembali menyajikan makanan di siang hari dan spanduk ajakan untuk meningkatkan amal shalih tinggal tulisan saja.

Andai orangĀ  tidak gagal paham terhadap Ramadhan, pastilah masjid akan riuh dan ramai sampai akhir bulan nanti bahkan seterusnya. Semoga Allah menganugerahkan segenap nikmat semangat dalam beribadah di bulan ini dan benar dalam memahami Ramadahan.

 

(Majalah ar-risalah edisi 75/ tahun 2007)

%d bloggers like this: