Al-Aqsha, Masjid Suci Para Nabi

arrisalahnet Al Aqsha masjid suci para Nabi

Masjid al-Aqsha yang terletak di jantung kota Yerusalem Palestina, merupakan masjid kedua yang didirikan di muka bumi setelah Masjidil Haram di kota Mekah. Sebagian besar para Ulama menegaskan bahwa para Malaikat dan Nabi Adam lah yang mendirikan masjid tersebut setelah mendirikan Masjidil Haram dalam waktu 40 tahun.

Sepeninggal Nabi Adam AS pembangunan dan pemakmuran Masjid al-Aqsha di lanjutkan oleh Nabi Nuh pada sekitar tahun 2000 SM, lalu dilanjutkan oleh Nabiyullah Ishak dan Ya’kub dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman pada tahun 1000 SM. Yang mana saat itu beliau berdoa 3 hal; bijaksana dalam berhukum, kerajaan yang tidak akan dimiliki satupun orang setelahnya dan siapa saja yang pergi ke Masjid al-Aqsha dengan niat shalat/beribadah di dalamnya, ia akan diampuni dosa-dosanya sebagaimana ia baru terlahir ke dunia.

Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya dalam hadits yang berkaitan dengan riwayat tersebut, “Doa pertama dan kedua telah dikabulkan oleh Allah dan semoga yang ketiga diberikan kepada umatku.” (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga: Masjid Akhir Zaman, Isi Tak Seindah Bangunan

 

Mana Yang Disebut al-Aqsha?

Banyak orang beranggapan bahwa Masjid al-Aqsha adalah masjid dengan kubah emas yang sering kita lihat di media sosial, atau masjid yang berkubah tinggi dengan 7 pintu besar. Pada nyatanya kedua masjid tersebut masuk ke area masjid al-Aqsha. Halaman Masjidil Aqsha memiliki luas sekitar 144×1000 m2, yang didalamnya mencakup isi dari Qubatus Shakhra’ (Dome of the Rock) masjid yang berkubah emas, Al-Jami’ al-Qibli (masjid yang memiliki 7 pintu dan menara yang agak lancip) dan beberapa masjid di sekitarnya.

Berbeda dengan dua masjid agung lainnya yaitu Masjid Nabi dan Masjidil Haram, masjid al-Aqsha semenjak dibangun pertama kali oleh Nabi Adam dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman belum pernah mengalami perluasan.

Maka siapa saja yang yang mendirikan shalat di komplek masjid al-Aqsha, entah itu di emperannya, di masjid yang berkubah emas, di bawah pohon, atau di salah satu kubah-kubahnya, shalatnya akan dilipat gandakan pahalanya. Sebagaimana nabi bersabda,

صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات فيه ولنعم المصلى وليوشكن أن لا يكون للرجل مثل شطن فرسه من الأرض حيث يرى منه بيت المقدس خير له من الدنيا جميعا

“Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hapir seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya dan dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari seisi dunia” (HR. Hakim)

 

Kemuliaan Masjid al-Aqsha

Banyak hadits menyebut kemuliaan dari masjid al-Aqsha, mulia karena Nabi sendiri yang menjelaskannya dan Nabi sendiri yang megalaminya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Sahabat Ibnu Abas RA berkata, “Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mekah berkiblat ke Masjidil Aqsha padahal disampingnya Ka’bah, kemudian setelah 16 bulan hijrah ke Madinah beliau menggeser kiblatnya ke Ka’bah.”

Kemuliaan lainnya bahwa Nabi di Isra’ kan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj menuju Masjid Al-Aqsha dan Beliau memulai mi’raj ke langit ketujuh dari masjid tersebut. Allah bisa saja memilih Masjidil Haram untuk Isra’ dan Mi’raj, akan tetapi Allah memilih Masjid al-Aqsha agar kaum muslimin memahami kebesaran dan kemuliaannya.

Selain beberapa hadits yang telah tertulis sebelumnya, Nabi melaarang seseorang untuk berletih-letih safar (bepergian) kecuali ke tiga tempat, yaitu;

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Jangan berletih-letih untuk safar kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjid al-Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian besar keagungan yang dimiliki masjid Al-Aqsha, semoga suatu saat kita dianugerahi nikmat agar bisa safar dan shalat disana.

Baca Juga: Masjid Makmur, Fadhilah Tertabur

Masjid al-Aqsha sepenuhnya hak kaum muslimin yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad dan berakhir di tangan Beliau. Ia merupakan anugerah Allah kepada kaum muslim sebagai penyempurna risalah Islam dari risalah-risalah yang dibawa para Nabi terdahulu yang diwujudkan Masjid suci. Adapun sebagai orang yang beriman, kita wajib meyakininya dan wajib untuk menjaga dan membelanya. Sungguh dusta bila ada kelompok yang merebutnya dan mengklaim bahwa masjid tersebut warisan Nabi Sulaiman, padahal beliau adalah Nabi yang diimani oleh kaum muslimin. Wallahu a’lam

(disarikan dari; Islamstory.com)

%d bloggers like this: