Kecewa Tanpa Takwa

kecewa tanpa takwa

Ini tak boleh, itu tak boleh, begini haram, begitu juga dilarang, kok ribet ya? Begitulah kira-kira ungkapan ketidakpuasan orang yang tak ingin diatur oleh syariat. Yang mereka tahu, syariat itu membelenggu dan kaku. Lalu merekapun memilih untuk hidup seperti yang mereka mau.

 

Ingin Bahagia Tanpa Takwa

 Mencari kesenangan sesukanya, mencari harta dengan segala cara, membelanjakan juga seenak perutnya dan hidup tanpa aturan agama. Disangkanya itu yang lebih memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan lebih cepat membahagiakannya. Tidak ribet dengan aturan halal-haram, tidak ‘terganggu’ acaranya dengan jeda shalat atau yang lain. Dan juga tidak perlu berlapar-lapar ria saat siang di bulan Ramadhan.

Sepertinya logis, ketika seseorang tidak terikat dengan perintah dan larangan, tidak terbatasi oleh aturan halal dan haram, maka semakin banyak peluang kesenangan dan makin banyak pula variasi cara yang mendukung tercapainya tujuan. Karena dia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Tapi apakah benar seperti itu kenyataannya?

Itu hanya ilusi manusia yang mengira, bahwa apa yang terjadi di alam raya ini tak ada yang mengaturnya, atau berjalan sesuai dengan kemauannya sendiri. Manusia sering lupa, bahwa segala yang berjalan di muka bumi itu terjadi atas kehendak Allah. Dan Allah telah menetapkan ‘aturan main’ bagi manusia. Siapa yang mengikuti aturan-Nya, ia akan selamat dan mendapatkan kemudahan dalam kebaikan dan kebahagiaan. Jika Allah perintahkan sesuatu atau melarang sesuatu yang lain tujuannya adalah menyelamatkan manusia dan membahagiakannya. Allah mengetahui segala maslahat apapun bagi manusia, sebagaimana juga mengetahui segala bahaya apapun yang mengancam manusia, maka Allah menurunkan aturan supaya manusia mudah melaluinya dan sampai dengan selamat di tempat tujuannya. Inilah jalan takwa.

Akan tetapi, ada orang-orang yang merasa tidak butuh aturan itu, tidak butuh pula apa yang Allah siapkan bagi mereka yang mengikuti jalan yang telah ditetapkan. Seakan dirinya memiliki kemampuan tentang segala hal yang bermanfaat bagi dirinya dan mampu menjangkau seluruhnya. Seakan ia mampu mendeteksi segala jenis bahaya yang bakal terjadi, sekaligus merasa mampu mengantisipasi bahayanya. Mereka ini, dijamin bakal kecewa dan merana sepanjang hayat dan setelah matinya.

Allah telah kokohkan kaidah-Nya tentang hal ini dengan firman-Nya,

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. al-Lail: 5-7)

Dengan berderma, takwa dan membenarkan janji Allah maka akan dimudahkan dalam segala urusan kebaikan; di dunia maupun di akhirat. Bukan saja kemudahan tatkala mendapatkannya, tapi juga berupa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan yang menyertainya.

Kemudian Allah memvonis siapapun yang tak mengindahkan takwa dengan jaminan kesulitan dan kesukaran yang akan ditemuinya. Allah berfirman,

“Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. al-Lail: 8-10)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menafsirkan ayat ini, “Adapun orang yang bakhil, yakni tidak berkeinginan dan tidak pula berlaku dermawan untuk melakukan apa yang Allah perintahkan, istaghna yakni dengan meninggalkan takwa dan tidak mencegah diri dari perbuatan yang dilarang. Sedangkan makna kadzzaba bil husna yakni tidak memiliki pengetahuan atau perasaan untuk membenarkan keimanan dan balasannya.” Allah janjikan untuknya, “Maka akan Kami mudahkan baginya (jalan)yang sulit.”

Makna dimudahkan mendapat kesulitan ada dua pengertian; pertama, ia akan terhalangi untuk melakukan sebab-sebab datangnya kebaikan, maka keburukanlah yang merasuk di hatinya, niatnya, lisannya dan begitupun anggota badannya. Makna yang kedua, akan terhalangi untuk mendapatkan hasil yang mudah sebagaimana ia terhalang melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kemudahan.

Mungkin bisa langsung dicerna ketika Allah menyebut kebalikan dari berderma adlah bakhil, dan kebalikan dari kemudahan adalah kesulitan. Tapi apa hikmahnya Allah menyebutkan takwa dengan istaghna (merasa tidak butuh kepada Allah)?

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan dalam kitabnya at-Tibyan fie Aqsaamil Qur’an, “ini merupakan kebalikan yang sangat tepat. Ketika orang yang bertakwa merasa butuh dan sangat menghajatkan pertolongan Allah, maka dia takut dan menjaga diri jangan sampai mengundang kemarahan, kemurkaan dan hukuman Allah disebabkan melanggar apa yang dilarang Allah atasnya.” Bagaimana mungkin seseorang berani membuat kecewa dan sengaja memancing kemarahan Dzat yang berwenang dan Kuasa memberikan segala sesuatu atau mencegahnya?

Maka kebalikan dari takwa adalah istighna’, merasa tidak butuh terhadap apa yang Allah sediakan bagi orang yang bertakwa. Dia juga tidak merasa butuh dengan petunjuk yang Allah gariskan. Dia merasa mampu mengatasi masalah tanpa pertolongan Allah, dan mampu menghindar dari bahaya tanpa perlindungan dari Allah. Karenanya ia berbuat dengan apa yang ia suka. Maka ada dua sifat tercela dalam hal ini; kesombongannya kepada Allah dan kecerobohannya dalam berbuat maksiat.

 

Berakhir Kecewa dan Menderita

Sebagai balasan atas kesombongan orang seperti ini, Allah menjanjikan kesulitan baginya. Maka sebenarnya, orang-orang yang sengaja menelanjangi dirinya dari takwa, itu menjadi penanda bahwa mereka bakal mendapatkan kesulitan di belakangnya; baik di dunia maupun di akhirat. Allah akan menimpakan kesulitan yang senantiasa mengepungnya dari segala arah. Ini berlaku tak hanya di akhirat, tapi juga di dunia.

Mungkin ada yang menganggap ini janggal, atau bertentangan dengan realita. “Itu, yang suka korup kenapa mudah sekali mendapatkan kekayaan?” “Itu yang hobi maksiat, mudah sekali mendapatkan apa yang mereka inginkan?” “Itu yang suka curang, kenapa mudah mendapatkan jabatan?” Dan beberapa tanda tanya lain yang sekilas bertolak belakang dengan kaidah ini.

Tapi, yang terjadi sebenarnya tidaklah bertentangan. Cobalah kita renungkan dengan seksama, apakah seseorang lantas dikatakan mendapatkan kemudahan jika apa yang diinginkan didapatkan? Mari dihayati ulang. Bahwa semestinya ukuran kemudahan itu tidak hanya diukur dari start seseorang memulai usaha sampai tujuan teralisasi, tapi lihat juga, apa yang terjadi setelah itu?

Bagaimana dikatakan mendapat kemudahan, jika setelah tujuan tercapai justru membawa efek galau berat dan kekhawatiran di belakangnya? Atau bahkan resiko yang lebih besar serta berefek pada keruwetan yang berkepanjangan? Mungkin orang bisa cepat kaya dengan korupsi, tapi apakah ini berarti kemudahan? Tidak mudah bagi maling menyembunyikan barang curian selamanya. Hati juga tidak bisa dibohongi oleh rasa was-was yang berkepanjangan. Dan tatkala aksinya benar-benar ketahuan, buntutnya adalah problem yang tak kelar-kelar, melelahkan dan menguras pikiran. Ini hanya sekedar sampel, namun begitulah ujung dari semua cara meraih tujuan yang tidak memenuhi unsur takwa, pasti sulit dan rumit.

 

Lelah Hebat di Akhirat

Adapun di akhirat; penyesalan, kelelahan dan penderitaan hebat akan dialami oleh orang yang menempuh jalan selain takwa. Dan siapakah yang lebih sibuk dan lelah dalam derita selain penghuni neraka yang ketika di dunia tak mengenal takwa?

Imam Hasan al-Bashri menafsirkan firman Allah Ta’ala, “aamilatun naasibah, tashla naaran haamiyah,”

Yakni, “ketika ia tidak bekerja untuk Allah di dunia, maka kelak ia akan dipekerjakan di neraka.” Sedangkan Qatadah menafsirkan, “Ia berlaku sombong di dunia dari mentaati Allah, maka Allah membuatnya sibuk dan lelah di neraka.” Dan Ibnu Zaid sebagaimana disebutkan oleh ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan, “Tak ada seorangpun yang lebih lelah dan lebih menderita dari penghuni neraka.”

Belum lagi fase-fase sulit dan melelahkan yang akan mereka jalani di akhirat sebelum masuk neraka; dikumpulkan di makhsyar ribuan tahun (dalam hitungan dunia) di bawah paans matahari yang berjarak satu mil, pembagian catatan amal, peliknya hisab, sulitnya menyeberangi Shirath dan lain-lain. Semoga Allah beri kemudahan bagi kita di dunia dan di akhirat. Hadirnya Ramadhan semoga menjadi peluang meraih takwa yang diharapkan, aamiin.

(Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: