Ketika Rasulullah Bercanda

arrisalahnet Ketika Rasulullah Bercanda

Adakalanya bercanda itu dibolehkan agar otot-otot yang kaku kembali renggang dan melepaskan penat setelah bekerja seharian. Tapi ada saatnya juga bercanda itu dilarang saat terlewat batas dan sampai terlena bahkan menabrak syariat.

Rasulullah adalah orang yang bijaksana, mesipun demikian beliau tetap humanis dan bercanda kepada para sahabatnya. Dalam sebuah hadits diriwayakan sebagai berikut,

عن أبى هريرة – رضى الله عنه – قال: قالوا (أى الصحابة): “يا رسول الله إنك تداعبنا ! قال صلى الله عليه وسلم: لا أقول إلا حقاً

Dalam hadits ini Abu Hurairah menceritakan, “Para sahabat bertanya kepada Nabi “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga bersendau-gurau bersama kami?” Rasulullah menjawab, “Tentu, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Ahmad)

Allah ta’ala telah menghiasi kehidupan kita dengan hadirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau adalah teladan yang baik, petunjuk beliau adalah sebaik-baik petunjuk, amalan beliau adalah sebaik-baik amalan, sampai canda beliaupun meninggalkan kesan yang baik bagi kita, sehingga kita patut meneladani dan mengikuti beliau.

Baca Juga: Senyumlah Selagi Mudah Melakukannya 

Beliau turut bercanda, namun tawa beliau bermanfaat, canda beliau memiliki maksud, gurauan beliau mengandung hikmah dan nasehat.

Pada suatu saat, ketika Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak, pernah makan kurma bersama-sama Rasulullah. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji-biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah, Ali pun berkata,”Wahai Nabi, Engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.”

Nabi pun tertawa dan menjawab, “Ali, kamulah yang makan lebih banyak kurma. Aku hanya memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau memakan kurma dengan biji-bijinya.”

Kisah yang paling terkenal adalah seorang nenek yang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah wanita tua sepertiku ini layak masuk surga?” Rasulullah menjawab, “Wahai ibu, sesungguhnya di surga itu tidak ada wanita tua.” Wanita tua itu langsung menangis dan mengingat nasibnya. Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al-Waqi’ah ayat : 35, : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (HR. at-Tirmidzi, Hadits Hasan)

Baca Juga: 3 Tips Islami Cegah Stres

Meskipun Beliau juga humoris terhadap keluarga dan kaumnya, namun tetap dalam batasannya. Beliau tidak melampaui batas bila tertawa, beliau hanya tersenyum. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga terlihat anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian indah contoh Nabi dalam bercanda. Jangan sampai kita terlewat batas dalam tertawa, jangan menyakiti dan jangan berdusta saat bercanda. Semoga bermanfaat. (Majalah ar-risalah/Makalah edisi 121)

 

Tema Terkait: Senyum, Akhlak, Keluarga

%d bloggers like this: