Jika Dosa Berbau

Andai Dosa Berbau, Khutbah arrisalah

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Juga kepada para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.

Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa dalam setiap khutbahnya.Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan tidak  asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya, juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.

 

Jamaah jumat Rahimakumullah

Selain nikmat Islam dan al Quran, ada satu nikmat besar lagi yang Allah berikan kepada kita yang sering tidak kita sadari. Di dalam surat Luqman ayat 20 Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّـهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…. (QS. Luqman:20)

Imam adh Dhahak, seorang pakar tafsir pada masa Tabi’in menjelaskan, maksud nikmat yang sifatnya lahiriyah adalah al-Islam dan al-Quran. Adapun nikmat yang sifatnya bathiniyah adalah Allah telah tutupi aib-aib kita. (Kitab Makarimal Akhlaq: 488)

Nikmat terbesar itu adalah ditutupinya aib-aib kita. Apa aib-aib itu? penyakit kulit yang memalukan? penyakit ayan? Kemandulan? Bukan! Penyakit-penyakit itu bisa jadi merupakan aib bagi kita tapi kita tidak perlu malu mengidapnya. Mengapa? Karena penyakit itu pemberian Allah. Lantas apa aib-aib memalukan yang Allah tutupi itu? Bukan lain adalah dosa-dosa kita. Dosa-dosa yang kita perbuat, tapi Allah tutupi dari pandangan manusia.

Dengan apa Allah menutupi dosa-dosa kita? Yaitu dengan mewujudkan dosa dalam bentuk abstrak; tidak berwujud, tidak berbau, tidak terasa, namun kita sebagai orang beriman yakin bahwa dosa itu ada. Catatan-catatan kesalahan dan kemaksiatan itu benar-benar nyata. Berada dalam genggaman malaikat-malaikat yang telah Allah perintahkan mengawasi kita saban hari. Raqib dan Atid.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bayangkan jika dosa itu berwujud. Taruhlah wujudnya berupa titik hitam pada organ manusia yang melakukan dosa. Sekali melakukan ghibah, misalnya, ada titik hitam di lidah. Sekali mata melihat maksiat, ada titik hitam pada area mata. Sekali tangan melakukan kemungkaran, ada titik hitam pada pergelangan. Dengan frekuensi dosa dan kesalahan yang kita lakukan, dalam kurun waktu lima tahun, barangkali tubuh kita sudah lebih hitam daripada kulit orang-orang Negro. Legam dipenuhi tanda dosa dan kesalahan.

Bayangkan pula jika dosa itu mewujud dalam bentuk bau. Sekali mulut mengucap kata keji, bau menyengat menyertai nafas. Sekali tangan melakukan kezhaliman, bau tak sedap keluar dari telapak tangan. Dan sekali telinga digunakan mendengar kemaksiatan, bau busuk keluar dari lobang telinga hingga tercium oleh siapa saja di dekatnya. Sebagai manusia awam yang sering kalah oleh nafsu, mungkin saat ini kita sudah jauh lebih bau daripada penampung kotoran.

Dan terakhir, jika dosa Allah wujudkan sebagai rasa sakit, subhanallah, entah sudah seperti apa jasad kita saat ini. Sekali saja hati bersuudzan kepada Allah, jantung terkena penyakit. Sekali saja kaki melangkah menuju tempat maksiat, rasa pegal, nyeri atau apapun bentuk rasa sakitnya segera menyerang daerah kaki. Demikian pula anggota badan yang lain. Dan saat kita menapaki umur yang mulai uzur, sementara taubat kita terus saja mundur, entah akan seperti apa raga kita akibat terpaan rasa sakit akibat dosa dan kesalahan yang kita lakukan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Memang, di satu sisi, tidak berwujudnya dosa justru melenakan jiwa. Kita jadi sering tidak sadar setelah melakukan dosa bahkan ketika dosa kita sudah sebanyak air di samudra. Namun di sisi lain, sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari dosa, salah dan lupa, tentu nikmat ini adalah nikmat yang besar bagi kita. Sebuah karunia yang nyata adanya, meski wujudnya adalah ketiadaan.

Nikmat ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Meskipun dosa telah tercatat, tapi masih ada taubat. Masih ada waktu untuk memperbaiki yang telah lalu. Masih ada maaf dan ampunan yang dapat menghapuskan kesalahan. Allah tidak serta merta memberikan hukuman atas segala kesalahan, tidak pula serta merta mengazab setiap perbuatan biadab. Allah wujudkan dosa hanya dalam sebuah catatan. Itupun hanyalah catatan yang sangat rapuh karena dapat segera luruh hanya dengan sekelumit istighfar dalam taubat yang utuh. Dapat terkikis habis hanya dengan penyesalan dan senggukan tangis, dan dapat musnah bahkan terganti dengan catatan kebaikan, jika diiringi taubat nasuha dan iringan iman juga amal keshalihan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karena Allah telah menutupi dosa kita, maka janganlah kita beberkan dosa-dosa kita di hadapan manusia. Satu hal yang paling Alalh murkai adalah ketika manusia membeberkan perbuatan dosanya, padahal Allah telah menutupinya.

Rasulullah bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan mujaharah (yaitu melakukan dosa terang-terangan).” (HR. Bukhari)

Dan celakanya, di masa ini, tidak sedikit orang tidak sadar telah melakukan Mujaharah (melakukan dosa terangan-terangan) dengan mengunggah perbuatan dosanya di media sosial. Ada muda-mudi yang mengunggah foto pacaran mereka, mengunggah foto saat minum minuman keras, mengunggah foto mesum, status atau tulisan yang berisi fitnah dan ghibah, dan lain sebagainya. Naudzubillah, semua itu sama saja dengan mempertontonkan dosa di hadapan manusia di dunia nyata. Itu mujaharah dosa, dan itu sangat dimurkai oleh Allah. Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan semacam ini.

Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah kita tambah rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Berusaha mengurangi kesalahan dan dosa dengan memohon ampunan dan melaukan amal kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa mampu bertaubat dan beristighfar atas setiap dosa yang kita lakukan. Dan semoga pula, Allah senantiasa menutupi dosa-dosa kita lalu berkenan mengampuninya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Oleh: Taufik Anwar 

 

Khutbah Lainnya: Belajar Syukur dari Lelaki Buntung, Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

%d bloggers like this: