Pembunuhan Karakter

arrisalahnet pembunuhan karakter

Hadirnya wacana atau kebangkitan sebuah sistem di tengah sistem yang sudah ada acap kali melahirkan friksi. Ada yang gigih memperjuangkan, mempertimbangkan untung rugi, ada pula yang mati-matian membela status quo. Itu pula yang terjadi di masa awal dakwah Rasulullah. Kaum musyrikin bersepakat memerangi dakwah yang telah “menodai” realitas jahiliyah mereka, mengusik keyakinan mereka, dan merendahkan cakrawala berpikir mereka. Banyak cara yang mereka tempuh untuk menghentikan dakwah atau setidaknya membatasi ruang penyebarannya.

Mereka datangi orang-orang terdekat Nabi agar mereka mencegah penyebaran dakwah. Mereka tawarkan aneka hadiah hingga ancaman. Berulang kali mereka mencoba menekan Rasulullah melalui perantara keluarganya namun gagal.

Baca Juga: Di Balik Media 

Setelah pendekatan keluarga dirasa tak berhasil, mereka siapkan strategi baru. Perang opini. Pembunuhan karakter the credible massanger. Meskipun hal ini sebenarnya cukup sulit karena Nabi sebagai credible massanger hampir tak bercela di antara mereka. Kita simak pembicaraan Walid bin Mughirah bersama pembesar Quraish yang tercatat dalam lembaran Sirah Rasulullah.

“Wahai orang-orang Quraisy, musim haji telah tiba. Rombongan orang Arab akan datang ke tempat kalian. Mereka telah mendengar perihal sahabat kalian. Oleh karena itu mari kita satukanlah pendapat, jangan berselisih. Jangan saling menjatuhkan satu sama lain. Jangan sampai ucapan kalian menjadi kontraproduktif.”

Mereka pun mulai mengusulkan sebutan yang tepat untuk Rasulullah. Seseorang mengusulkan, “kita sebut Muhammad seorang dukun.” “Telah banyak saya lihat dukun dan yang dia ucapkan bukan ucapan para dukun,” Mughirah menepis.

“kita sebut dia orang gila,” kata yang lain. “Tidak. Dia bukan orang gila.

“kita sebut dia penyair,” kata yang lain lagi. “Dia bukan penyair.”

Setelah semua mentok, mereka bertanya, “lantas apa?”

“Demi Allah sesungguhnya yang diucapkan Muhammad itu manis, akarnya harum, rantingnya matang. Jika kita sebut dia seperti tadi maka bisa disimpulkan perkataan kalian salah. Sepertinya pernyataan yang paling tepat tentang dia adalah menyebutnya sebagai penyihir. Dia membawa sihir yang memisahkan orang dengan ayahnya, dengan saudaranya, dengan istrinya, dan dengan keluarganya.”

Baca Juga: Berita Bohong (HOAX)

Demikianlah, perang psikologis melawan Rasulullah tidak diarahkan sembarangan. Semua dipersiapkan dan dipikirkan masak-masak oleh para pembesar. Juga menurut aturan yang berlaku dalam perencanaan perang psikologis modern, seperti memilih waktu dan tempat yang tepat. Dipilihnya waktu haji karena pada saat itu banyak orang berkumpul. Mereka bersepakat di antara mereka sehingga tidak ada pernyataan yang kontradiktif. Dan hal-hal lain yang mendukung efektifitas kampanye mereka. Dengan perencanaan yang matang diharapkan akan mendapat hasil yang maksimal.

Perang opini itu toh akhirnya kandas. Tak mampu memblokade besarnya pengaruh Rasulullah dan kepribadiannya yang mulia. Kampanye negatif dan hoax tentang Muhammad saw terkalahkan oleh kesopanan beliau dalam berbicara, gaya bahasanya yang fasih, pikirannya yang sehat, letupan cinta dan ketenangan, serta niat tulus untuk memberikan petunjuk melalui wahyu ilahi. (Bahri/Opini/Biah)

 

Tema Terkait: Opini, Biah, Tsaqafah

%d bloggers like this: