Kedatangan Si Perusak Kedamaian-Portugis

arrisalahnet Sejarah Islam Indonesia: Kedatangan Si Perusak Kedamaian-Portugis

Pada abad 15 M, jalur perdagangan dari Malaka hingga Maluku sangat ramai. Berbagai suku bangsa terlibat di dalamnya, seperti Melayu, Jawa, Keling, Arab, Persia dan Cina. Meski berbeda ras dan agama, mereka mampu menjaga jalur tersebut tetap ramai, damai, dan tanpa monopoli salah satu pihak. Masing-masing pedagang saling menghormati. Akan tetapi, kedamaian jalur perdagangan itu hancur saat memasuki abad 16 M setelah Portugis datang. 

    

Euforia Kemenangan

Wilayah Portugis terletak di Semenanjung Iberia Eropa Barat. Sejak 711 M hingga beberapa abad kemudian, umat Islam pernah menguasai Semenanjung Iberia. Selanjutnya Semenanjung Iberia dikenal dengan nama Andalusia. Pada masa kejayaannya, Andalusia memancarkan sinar peradaban cemerlang yang menerangi Eropa. Selain Muslim, banyak orang Kristen dan Yahudi turut mengambil manfaat dengan menimba ilmu di sekolah-sekolahnya. Akan tetapi, sinar itu perlahan redup, kemudian padam. Kelemahan dan perpecahan internal di antara kaum Muslim menjadi celah bagi orang Kristen untuk menyerang mereka. Perebutan Andalusia dari tangan umat Islam ini oleh orang Kristen dinamakan Reconquista yang secara harfiah berarti “penaklukan ulang”. Di Portugis sendiri, kekuasaan Islam berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III

Setelah berhasil mengusir orang Moor –sebutan untuk orang Muslim– dari Semenanjung Iberia, Portugis mengalami euforia kemenangan. Mereka pun melanjutkan peperangan ke wilayah lain. Pada 1400, Raja Portugis Joao I (1385-1433) memerangi wilayah tetangganya yang seagama, Castilia. Peristiwa ini menyebabkan Sang Raja merasa bersalah. Oleh karena itu, ia ingin menebus kesalahannya dengan “mencuci tangan-tangan yang berdosa tersebut dengan darah orang kafir”. Ia kemudian mengumumkan perang salib untuk merebut Ceuta, yang terletak di pantai utara Afrika di seberang Gibraltar, dari tangan orang Islam. Pada 1415, Ceuta jatuh ke tangan Portugis. Setelah peristiwa ini, mulailah serangan secara berturut-turut atas kedudukan umat Islam

Putra Joao I, Henrique, melanjutkan usaha ayahnya untuk mengekang kekuasaan Islam di Afrika Utara hingga Selatan. Ia mendirikan sekolah navigasi untuk mendorong usaha-usaha ekpansi Portugis berikutnya. Oleh karena itu, namanya sering disebut Henrique sang Navigator. Meskipun belum pernah berlayar jauh, ia mengatur banyak perjalanan ke wilayah-wilayah yang baru dikunjungi Portugis. (C.P.F. Luhulima, Motif-Motif Ekspansi Nederland dalam Abad Keenambelas, hlm. 9-10)

 

Baca Juga: Awal Islamisasi di Banjarmasin

 

Pada 1460, tahun meninggalnya Don Henrique, orang Portugis sampai di pantai Guinea. Di sini mereka mengambil emas dan penduduk pribumi sebagai budak. Dua puluh enam tahun kemudian, Bartholomeus Diaz sampai di ujung selatan Afrika. Ia sebenarnya berharap dapat melintasi ujung ini agar bisa melanjutkan perjalanan ke wilayah di baliknya. Akan tetapi, ia terpaksa kembali ke Portugis karena kapalnya diserang badai. Ujung selatan Afrika itu kemudian dinamakan Tanjung Harapan.

Ekspedisi Portugis berikutnya dipimpin oleh Vasco da Gama. Ekspedisi ini sukses melewati ujung selatan Afrika. Begitu sampai di Samudra Hindia, Vasco da Gama menyaksikan kawasan tersebut sangat ramai. Banyak kapal berukuran jauh lebih besar dari kapal Portugis. Kapal-kapal itu membawa berbagai macam barang berharga. Yang lebih mengejutkan lagi bagi Portugis, pelayaran di Samudra Hindia didominasi oleh musuh mereka, orang Moor. (J.C. van Leur, Indonesian Trade and Society, hlm. 96 dan Bernard H.M. Vlekke, Nusantara, hlm. 97)

 

Menuju India

Tujuan Portugis selanjutnya adalah India, tempat yang mereka ketahui rempah-rempah berasal. Selain itu, Portugis juga menduga India adalah tempat kerajaan rahasia Pendeta John. Sejak lama Portugis ingin membangun sebuah persekutuan dengan sang Pendeta untuk mengobarkan kembali perang salib melawan orang Moor. (B.J.O. Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 53)

Oleh karena belum mengetahui jalur ke India, Portugis memanfaatkan jasa para navigator Muslim. J.C. van Leur menyebutkan bahwa Portugis dibantu oleh seorang Muslim Gujarat yang diberikan oleh penguasa Melinde (wilayah Kenya). Sementara itu, M.A.P. Meilink Roelofsz menyebutkan bahwa Ibn Iyas dan Ibn Majid –keduanya orang Arab– membantu pelayaran Portugis ke India.

Pada 1498, ekspedisi Vasco da Gama sampai di Calicut India. Di sini, orang Portugis disambut oleh para pedagang Maghribi dengan sikap mengejek dan menjelekkan mereka di hadapan penguasa Calicut, raja Zamorin. Tetapi apa daya, mereka juga memerlukan para pedagang Maghribi, yang mengerti bahasa setempat sekaligus bahasa Spanyol, itu. Mereka lalu mempersembahkan pemberian kepada raja, “dua belas lembar kain lakan bergaris-garis, dua belas buah jubah bertudung kepala, enam buah topi, empat cabang karang, enam buah pasu (bejana besar dari tanah untuk tempat air), sepeti gula serta dua gentong minyak dan madu.”

 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

 

Pemberian ini memicu sindiran para pedagang Maghribi. Mereka menertawakannya. Mereka memandang pemberian Portugis itu terlalu remeh. Menurut mereka, pedagang Mekah yang paling miskin pun akan menganggap pemberian itu sangat tidak layak. (Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid 2, hlm. 4)  

Portugis kemudian mendirikan kantor-kantor dagang di beberapa pelabuhan di India. Selain berdagang, Portugis juga menyebarkan agama Katholik. Dalam rombongan Vasco da Gama memang terdapat beberapa orang misionaris. Orang Portugis merasa bahwa penyebaran Katholik adalah tugas yang sejalan dengan penjajahan mereka. Pemimpin tertinggi Katholik saat itu, Paus Alexander VI, bahkan merestui hal ini. Dalam Perjanjian Tordesillas pada 4 Mei 1493, ia membagi dunia menjadi dua: bagian barat untuk Spanyol dan bagian timur untuk Portugis, dengan syarat kedua bangsa ini harus menyebarkan agama Katholik di wilayah yang mereka kuasai.

Setelah kunjungan pertama pada 1498, beberapa tahun kemudian Vasco da Gama kembali ke perairan India dengan perintah tegas dari raja Portugis untuk menghentikan semua pelayaran Arab antara Mesopotamia dan India. Setelah beberapa pertempuran dahsyat, ia berhasil mengontrol bagian barat Samudra Hindia bagi rajanya. Wallahu a‘lam.

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia   

%d bloggers like this: