Saat Ibu-ibu Nahi Munkar. Para Bapak pada kemana?

arrisalahnet Saat Ibu-ibu Nahi Munkar. Para Bapak pada kemana?

Video seorang ibu yang menghentikan pagelaran dangdut campursari di Sukoharjo menjadi viral di media sosial beberapa waktu lalu. Didorong rasa gemas karena pagelaran dangdut campursari kerap diisi oleh biduanita-biduanita yang berpakaian tak senonoh, sang ibu muncul ke tengah-tengah arena sebelum pagelaran dangdut campursari dimulai. Ia tampak menasihati orang yang hadir di situ. Aksi itu kemudian menjadi sorotan setelah tersebar di dunia maya. Banyak komentar nyinyir melihat aksi sang ibu, namun tak sedikit yang mengacungkan jempol untuk keberanian si ibu dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Kemungkaran memang tidak boleh dibiarkan karena tugas amar makruf nahi munkar adalah tugas setiap muslim, baik laki maupun perempuan. Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

 

Baca Juga: Bentuk Intoleransi Pada Pemakai Cadar

 

Hanya ada tiga pilihan ketika seseorang melihat kemungkaran, mengubah dengan tangan, dengan lisan, dan dengan perasaan tak senang. Sebagaimana Rasulullah sampaikan, “Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, jika tidak mampu maka dengan hati, dan itu selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim). Tak ada pilihan keempat bagi pelihat kemungkaran.

Membiarkan sambil hati menolak disebut sebagai selemah-lemah iman. Maka tak disebut mengingkari dengan hati saat duduk-duduk bersama pelaku kemungkaran dan membiarkan orang terjerumus dalam kesesatan tanpa mengingatkan dan hanya hatinya yang ingkar. Saat melihat kemungkaran dan ia mampu menghentikan maka sudah kewajibannya menghentikan. Bila tak mampu tak semestinya menikmati sambil mengatakan mengingkari dengan hati.

 

Baca: Ada Sesuatu Dibalik Media

 

Namun, kita tidak boleh melewatkan kesempatan jika memungkinkan untuk menasihati mereka, karena kita telah melihat hasil perbuatan maksiat itu pada mereka, maka kita menasihati mereka karena hal ini termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan sama dengan itu, jika anda duduk bersama seseorang yang tercium bau rokok darinya, maka tidaklah mengapa bila anda duduk dengannya namun nasehatilah ia untuk tidak membiasakan mengisapnya. Adapun jika ia sedang mengisap rokok maka anda janganlah duduk bersamanya karena jika anda duduk (dengannya) maka andapun menjadi sekutunya.

 

Oleh: Muhtadawan/Biah

 

%d bloggers like this: