Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara

arrisalahnet Kedatangan Bangsa Portugis di Nusantara Membawa Misi Kristenisasi

Portugis bersusah payah mencari jalan pelayaran ke Asia. Di bawah pimpinan Vasco da Gama, mereka berhasil tiba di India pada 1498. Pelayaran pertama ke India ini harus dibayar mahal. Hanya 54 dari 170 kelasi dan dua dari empat kapal yang kembali ke negeri mereka dengan selamat pada 1499. Meski demikian, pelayaran da Gama berhasil membangun rute laut dari Eropa ke India yang memungkinkan perdagangan dengan Timur Jauh tanpa menggunakan rute Jalur Sutera antara Timur Tengah dan Asia Tengah yang sering tidak aman.

Untuk kedua kalinya, Vasco da Gama kembali ke India pada 1502. Kali ini ia datang dengan armada yang terdiri dari 20 kapal perang. Ia memaksa orang India agar menerima cara dagang Portugis. Kota Calicut ditembaki karena melawan Portugis. Selain menguasai kota-kota di pantai India, Portugis juga berusaha meluaskan pengaruhnya ke wilayah lain. Terlebih akhirnya Portugis mengetahui bahwa India bukanlah tempat rempah-rempah berasal. Barang dagangan ini berasal dari negeri yang masih jauh berada di sebelah timur India. Pada 1509, mereka pun untuk pertama kali datang ke Nusantara.

 

Motif Kedatangan Portugis

Pada pelayaran kedua dan selanjutnya, semakin terlihat jelas motif kedatangan Portugis ke Asia umumnya dan Nusantara khususnya. Setidaknya ada tiga motif yang melatarbelakangi pelayaran mereka.

Pertama: motif ekonomi (gold/emas), yaitu merebut perdagangan Asia. Rempah-rempah merupakan komoditas terpenting di pasar Eropa. Barang itu harus didatangkan dari Asia dengan jarak tempuh yang sangat panjang sehingga harganya pun menjadi mahal. Pada waktu itu, rempah-rempah dikuasai oleh para pedagang Muslim dari Turki. Portugis ingin menemukan jalan ke Asia dan mengambil rempah-rempah langsung dari pusatnya.

 

Baca Juga: Kedatangan Si Perusak Kedamaian; Portugis

 

Kedua: motif politik (glory/kejayaan), yaitu menghancurkan kekuasaan negeri-negeri Islam. Kalau berhasil memperoleh jalan langsung ke Asia, mereka dapat mengalihkan lalu lintas perdagangan melalui jalan itu. Hal ini akan merugikan bangsa-bangsa yang sampai saat itu menguasai rantai perdagangan Asia-Eropa. Salah satu dari bangsa itu ialah bangsa Turki yang justru pada zaman itu sedang melancarkan serangan yang dahsyat terhadap negara-negara Eropa. Serangan mereka mungkin dapat dilumpuhkan kalau pendapatan yang diperoleh negara Turki dari perdagangan dapat dihancurkan.

Ketiga: motif agama (gospel), yaitu menyebarkan agama Kristen. Orang-orang Portugis ingin mengepung lawan yang beragama Islam dan menyiarkan agama Kristen di seberang lautan. (M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, hlm.32)

 

Api Perang Salib

Semangat perang salib sangat kuat mendorong ekspansi mereka. Portugis memandang semua penganut Islam adalah bangsa Moor dan musuh yang harus diperangi. Oleh karena itulah ketika Alfonso d’Albuquerque berhasil menduduki Malaka pada 1511, ia berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita adalah mengusir orang Moor dari negeri ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini… Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka, Kairo dan Mekkah akan hancur total dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugis.” (F. C. Danvers, The Portuguese in India, I/226)

 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

 

Api perang salib cukup kuat dalam diri Albuquerque sehingga mendorongnya menangkap dan menjarah semua kapal muslim yang bisa ditemukannya antara Goa dan Malaka. Ia memerangi orang Muslim sambil melayani kepentingan perniagaan Portugis. Demikianlah, sekali lagi terjadi perang salib antara orang Muslim dan orang Kristen. Sebelumnya, perang itu berkali-kali bergolak di Laut Tengah. Akan tetapi, kini perang itu berlangsung di Nusantara yang jauh. Dengan pukulan pertama, armada Portugis berhasil menjatuhkan Malaka, tetapi tiga kerajaan lain bangkit untuk tetap mengibarkan bendera Nabi Muhammad di Kepulauan Nusantara. Kerajaan tersebut adalah kesultanan Aceh, Demak, dan Ternate. (Bernard H. M. Vlekke, Nusantara, hlm. 98)

 

Kristenisasi

Setelah berhasil menaklukkan Malaka, pada 1512 kapal-kapal Portugis mulai berlayar di Laut Jawa dan akhirnya sampai ke Maluku. Di kawasan inilah terletak kepulauan rempah-rempah. Pada mulanya Portugis hanya membeli rempah-rempah di kepulauan tersebut. Mereka juga meminta izin untuk mendirikan benteng sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah. Para sultan di Maluku memberikan izin kepada mereka karena mengharapkan laba besar dari hubungan dagang itu. Benteng Portugis pun berdiri di Hitu pada 1515 dan di Ternate pada 1523.

Akan tetapi, lama kelamaan Portugis berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah. Para pedagang Muslim tidak boleh lagi turut dalam perniagaan itu. Portugis juga mengedarkan dan menjual minuman keras di kalangan penduduk Muslim. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Lebih dari itu, Portugis juga menyebarkan agama Kristen Katholik Roma.

 

Baca Juga: Awal Islamisasi Maluku

 

Penyebaran Kristen Katholik di Maluku dimulai sekitar 1523, yaitu ketika Antonio de Brito datang untuk mendirikan benteng di Ternate. Pada waktu itu, beberapa biarawan Fransiscan ikut serta dalam kapal Portugis. Para misionaris Portugis itu menyebarkan agama Kristen Katholik dengan cara paksaan dan tidak mengenal toleransi beragama. Para misionaris Portugis tidak menghiraukan agama Islam yang telah dianut oleh penduduk di Maluku. Hal ini membangkitkan perlawanan dari kaum Muslim di Maluku.

Penyebaran Kristen Katholik oleh para misionaris Portugis di wilayah-wilayah Islam terkadang dilaksanakan pada hari Jumat tepat waktu shalat. Pada waktu itu semua orang laki-laki berada di masjid, sedangkan wanita dan anak-anak berada di rumah. Mereka yang dapat meloloskan diri dari kepungan Portugis terpaksa lari meninggalkan keluarganya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi di wilayah-wilayah Islam di pulau Ambon, seperti Negeri Lama (Pasolama), Suli, Wai dan lain-lain. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-41)

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

%d bloggers like this: