<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Analisa</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/analisa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Rugi, karena Menipu Sendiri</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 04:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[rugi menipu sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1433</guid>
		<description><![CDATA[بَلِ الإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ﴿١٤﴾ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ ﴿١٥﴾ “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah:14-15) Disebutkan dalam Kitab Uyunul Atsar, Imam Zuhri mengisahkan, “Bahwa suatu ketika Abu Sufyan, Abu Jahal dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Masing-masing mengambil posisi untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/rugi-tipu-sendiri.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1398" title="rugi-tipu-sendiri" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/rugi-tipu-sendiri-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>بَلِ الإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ﴿١٤﴾ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ ﴿١٥﴾</p>
<p align="center"><em>“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.</em>” (QS. Al-Qiyamah:14-15)</p>
<p>Disebutkan dalam Kitab Uyunul Atsar, Imam Zuhri mengisahkan, “Bahwa suatu ketika Abu Sufyan, Abu Jahal dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Masing-masing mengambil posisi untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi masing-masing, yang tidak diketahui oleh yang lain. Hingga ketika Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam.</p>
<p>Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga   mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam, dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. usai melaksanakan shalat, mereka pun selalu memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling cela sebagaimana yang terjadi sebelumnya.</p>
<p>Malam berikutnya, lagi-lagi mereka rindu untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat janji satu sama lain untuk tidak kembali ke rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah, meski mereka memungkiri kenabian Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasalam, namun hati kecil mereka tidak bisa ditipu, bahwa Al-Qur’an itu indah, benar dan menakjubkan. Berbagai alasan, argumen dan kilah sebenarnya tidak bisa mengelabuhi perasaannya,</p>
<p><em>“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.</em>” (QS. Al-Qiyamah:14-15)</p>
<p>Rumus ini berlaku bagi siapapun yang menyelisihi kebenaran, baik yang ringan maupun yang berat. Mereka sebenarnya hanya membohongi diri sendiri tatkala lebih memilih menyelisihi daripada tunduk dan patuh terhadap kebenaran.</p>
<p>Sejenak kita introspeksi dan jujur terhadap diri sendiri. Tatkala diri merasa malas untuk belajar ilmu syar’i, berbagai alasan muncul untuk membela diri. Sibuk dengan pekerjaan, ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan, kesulitan kendaraan, tidak ada tempat kajian, kurang enak badan dan seabrek alasan yang lain. Ketika itu, nurani kita bisa mengukur, apakah semua yang kita utarakan itu benar-benar menjadi udzur, hingga betul-betul tak memiliki peluang untuk menambah ilmu syar’i? Jawabanya, ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” Diri kita sendiri yang tahu akan kebenaran alasan kita, selagi jujur dengan hati nurani.</p>
<p>Begitupula, tatkala ada yang lama tidak menampakkan diri di masjid untuk shalat berjama’ah, berbagai argumen juga digelar agar orang lain memaklumi. Alasan tidak wajib, ada urusan penting, badan masih kotor karena belum mandi, jauh dari masjid, tidak mendengar adzan, tidak bisa khusyuk shalat di masjid dan masih banyak alasan yang lain. Apakah alasan ini dibuat-buat ataukah tidak, sebenarnya diri kita sendiri mengetahui. Diri kita menjadi saksi atas apa penyebab sesungguhnya ketidakhadiran kita ke masjid untuk berjamaah. Kita juga menjadi saksi akan kejujuran atau kedustaan lisan kita saat mengungkapkan alasan.</p>
<p>Sebagaimana dalam hal meninggalkan ketaatan, setiap kemaksiatan seringkali dicarikan alasan oleh pelakunya. Agar orang lain memaklumi, mengapa dia melakukan itu semua. Alasan belum tahu ilmunya, menurutnya tidak berdosa, tidak sengaja melakukannya, hanya coba-coba dan sederet alasan yang bisa dipaparkan. Tapi, kebenaran ucapannya diuji oleh hati nuraninya sendiri. Benarkah ia belum tahu ilmunya, betulkah berdasarkan ilmu yang diketahuinya itu tidak berdosa dan seterusnya. Cukuplah kita katakan kepadanya, ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”</p>
<p>Jika kita merenungkan hal ini, niscaya kita dapatkan perkara yang sangat mengherankan, apa gunanya alasan-alasan itu dikemukakan jika tidak sesuai kenyataan? Siapa yang rugi dengan kebohongan itu? Bukankah dirinya sendiri yang rugi?       Tidakkah ini berarti membinasakan diri sendiri? Memang aneh, tapi faktanya banyak orang yang berusaha menjerumuskan diri sendiri.</p>
<p>Sebagaimana sabda Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam,</p>
<p dir="RTL" align="left">كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا</p>
<p>”Setiap manusia itu berusaha, maka ia mempertaruhkan jiwanya, ada yang usahanya itu menyelamatkan dirinya, ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR Muslim)</p>
<p>Orang yang membohongi diri sendiri termasuk golongan orang yang usahanya untuk membinasakan diri sendiri dalam konteks ini.</p>
<p>Setelah hati nurani kita di dunia menjadi saksi atas setiap alasan saat taat atau maksiat, maka kelak di akhirat, seluruh anggota badan kita sendiri juga akan menjadi saksi atas seluruh apa yang kita jalani di dunia. Saat itu, benar atau tidaknya alasan yang diungkapkan lisan, akan dibuktikan dengan kesaksian seluruh anggota tubuh. Inilah makna kedua dari firman Allah, ” ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”</p>
<p>Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat ini, ”makna bashirah adalah saksi. Yakni kesaksian seluruh anggota badan atas dirinya. Tentang tangannya, apa yang telah ia jamah dengan keduanya, tentang kedua kakinya, kemana ia melangkahkan keduanya, tentang matanya, apa yang telah ia lihat dengan keduanya.”</p>
<p>Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, ”</p>
<p><em>”Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” </em>(QS an-Nuur 24)</p>
<p>Maka jika kita sayang kepada diri sendiri, hendaknya berlaku jujur dalam menilai diri sendiri. Lalu menepis segala hal yang melemahkan kita dari ketaatan, dan memangkas jalan menuju kemaksiatan. Wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati yang Peka terhadap Dosa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/10/hati-yang-peka-terhadap-dosa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/10/hati-yang-peka-terhadap-dosa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 09:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[hati peka dosa]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1353</guid>
		<description><![CDATA[إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raf 201)  Disebutkan dalam Mukhtashar Tarikh Dimasyqi, dari Yahya bin Ayub al-Khuza’ bahwa di zaman Umar bin Khathab ada seorang pemuda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/hati-yang-peka.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1232" title="hati-yang-peka" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/hati-yang-peka-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ</p>
<p align="center">“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raf 201)</p>
<p><strong> </strong>Disebutkan dalam Mukhtashar Tarikh Dimasyqi, dari Yahya bin Ayub al-Khuza’ bahwa di zaman Umar bin Khathab ada seorang pemuda yang rajin beribadah, dia melazimi masjid, Umar juga menaruh simpati kepadanya. Dia memiliki seorang ayah yang sudah lanjut usia. Sudah menjadi kebiasaan pemuda itu, setelah shalat Isyak ia selalu menyambangi ayahnya. Jalan yang ia lalui melewati rumah seorang wanita yang suka menggodanya. Hingga suatu malam, tatkala pemuda itu melewati jalan itu, wanita itu terus merayu si pemuda, dan pemuda itupun terpedaya dan hampir saja mengikuti ajakannya. Ketika si wanita telah masuk, sementara pemuda itu berada di ambang pintu, tiba-tiba ia mengingat Allah dan secara reflek lisannya membaca firman Allah,</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” Tiba-tiba saja ia tersungkur dan pingsan.</p>
<p><strong><em>Hati yang Peka Terhadap Dosa</em></strong></p>
<p>Setiap manusia, tak pernah lepas dari pantauan setan. Kapanpun ada peluang, setan akan masuk menghembuskan bisikan. Seperti yang digambarkan oleh Khalid bin Ma’dan rahimahullah, ”Tiada seorang hambapun melainkan ada setan yang senantiasa mengintainya. Setan berjalan berjingkat melalui punggungnya, lalu memilinkan lehernya di bahu seraya mendekatkan mulutnya di pintu hati manusia. Jika ia dapatkan hamba itu sedang berdzikir maka ia akan menyingkir, namun jika ternyata hamba itu lalai, dia akan masuk dan menggoda.”</p>
<p>Hal ini seperti yang dikatakan oleh sahabat Abdullah bin Abbas tatkala menafsirkan makna ’alwas-was al-khannaas’ dalam Surat an-Naas,</p>
<p dir="RTL">اَلشَّيْطاَنُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذاَ سَهَا وَغَفِلَ وَسْوَسَ، وَإِذاَ ذَكَرَ اللهَ خَنَسَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Setan bertengger di hati Anak Adam, jika manusia itu lalai dan terlena, setan akan membisikinnya, namun tatkala hamba itu berdzikir kepada Allah, setan akan menjauhinya.”</p>
<p>Dengan intensitas setan yang menggoda tanpa henti, maka setiap orang pernah terjatuh dalam bujuk rayunya, hingga ia terjerumus ke dalam dosa. Tak ada orang yang kebal dari dosa. Tak terkecuali orang yang shalih dan bertakwa. Rasulullah bersabda:</p>
<p dir="RTL">كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاء</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Setiap Bani Adam pasti pernah melakukan dosa&#8230;” (HR Tirmidzi)</p>
<p>Hanya saja, bagaimana kepekaan hamba dalam merespon dosa yang terlanjur dijamahnya sangat tergantung kadar takwanya, dan akhirnya ini pula yang mempengaruhi nilai dan derajat hamba di sisi Allah.</p>
<p>Dalam hal ini, ada tiga tingkatan kepekaan sebagaimana yang diutarakan oleh Ahmad bin ’Ashim al-Hakim rahimahullah.</p>
<p>Dari mereka ada yang menyerah kalah, ia terbuai dengan dosa dan nasihat maupun peringatan tak menghentikannya dari dosa. Ada yang tatkala terjerumus ke dalam dosa, ia tidak segera sadar dengan sendirinya. Tapi tatkala peringatan datang kepadanya, ia menyadari keteledorannya, lalu berjuang untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.</p>
<p>Adapun tingkatan yang paling tinggi adalah orang yang senantiasa berhati-hati dan waspada, jika suatu kali tergelincir jatuh, serta merta ia bangun sebelum ada orang lain membangunkannya. Lekas tersadar sebelum orang lain menyadarkannya. Kepekaannya begitu tajam hingga dengan cepat mampu mengendus ‘aroma’ dosa. Mereka itulah yang dimaksud dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”</em> (QS al-A’raf 201)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Membalas Muslihat Setan dengan Ketaatan</em></strong><strong></strong></p>
<p>Tak hanya berhenti pada kesadaran atau siuman dari dosa. Ia segera bangun dan membalas muslihat setan, ia ganti keburukan dengan ketaatan. Ia tunaikan wasiat Nabi,</p>
<p>“Dan tutupilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya.” (HR Ahmad dan al-Hakim)</p>
<p>Jika suatu kali nafsu mengikuti bujuk rayu setan, ia akan memberikan sangsi atas nafsunya supaya jera. Ia akan mengorbankan apa-apa yang disukai nafsunya untuk dipersembahkan di jalan Allah. Seperti Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau shalat sunnah di kebunnya, seekor burung membuatnya terlena dari shalatnya. Maka dia sedekahkan kebunnya sebagai sangsi atas dirinya. Umar al-Faruq juga telah mendahuluinya di medan yang sama. Saat beliau terlambat shalat Ashar karena sibuk dengan kebunnya, beliau pun menyedekahkan kebunnya pula. Diikuti pula oleh puteranya, Abdullah bin Umar. Karena terlambat satu rekaat berjamaah Isyak, ia korbankan nafsu tidurnya, beliau menggantinya dengan shalat sunnah semalam suntuk. Begitulah mereka memberikan sangsi atas nafsunya, sekaligus membalas muslihat setan dengan ketaatan.</p>
<p>Ini bukanlah hal yang mengherankan. Jika seorang pemimpin memberikan sangsi kepada bawahannya karena kesalahan yang dilakukannya, lantas bagaimana dengan kita yang wajib mengendalikan nafsu agar tidak berpetualang secara liar. Apalagi, karakter nafsu yang cenderung mengikuti tawaran setan.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, orang yang bertakwa bisa memutus ‘perselingkuhan’ antara nafsu dengan setan. Ia juga memutus rantai keburukan yang jika tidak dihentikan akan terus beranak pinak. Karena maksiat akan membuahkan maksiat setelahnya. Tatkala seseorang tersadar dari dosa, bersegera bertaubat dan mengiringinya dengan amal shalih, maka keburukan akan diganti dengan kebaikan. Jerih payah yang telah diusahakan setan pun akan sia-sia. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” </em>(QS Hud 114)</p>
<p>Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan buruknya amal-amal kita. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/10/hati-yang-peka-terhadap-dosa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/09/istighfar.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/09/istighfar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 08:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[istighfar]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qalbi]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا ”Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/istighfar.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1204" title="istighfar" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/istighfar-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p align="center">فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا</p>
<p>”<em>Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”</em> (QS Nuh 10-12)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada beberapa orang datang kepada al-Hasan al-Bashri mengeluhkan problem yang mereka hadapi. Ada yang mengeluhkan kemarau yang panjang. Ada lagi yang memiliki problem ekonomi dan serba kekuarangan. Ada pula yang belum dikarunia keturunan. Yang lain lagi kebunnya tidak menghasilkan buah, sungai-sungai menjadi kering. Setiap kali problem ditanyakan, beliau selalu menjawab dengan kalimat, “Istighfarlah kepada Allah!”</p>
<p>Hal ini membuat orang-orang tampak keheranan dengan jawaban al-Hasan. Lalu mereka berkata, “Mengapa setiap ada yang mengeluh dari kami Anda selalu menjawab dengan “istighfarlah kepada Allah?” Kemudian beliau menjawab, “Tidakkah kalian membaca firman Allah,</p>
<p><em>“Maka aku katakan kepada mereka, ’Mohonlah ampun kepada Rabbmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”</em> (QS Nuh 10 – 12)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Karena Biang Segala Problem adalah Dosa</em></strong><strong></strong></p>
<p>Berapa banyak orang shalih dari zaman ke zaman merasakan dahsyatnya istighfar. Berbagai problem yang terpecahkan, musibah terangkat, dan kendala menjadi sirna karenanya. Terselip pertanyaan besar, bagaimana istighfar menjadi solusi dari banyak kesulitan? Apa hubungan antara permohonan ampun kepada Allah dengan datangnya jalan keluar?</p>
<p>Tentu kita ingat, bahwa hakikatnya setiap musibah, juga kesulitan yang dihadapi manusia, itu disebabkan karena dosa. Sebagaimana   firman Allah,</p>
<p><em>“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”</em> (QS asy-Syuura 30)</p>
<p>Dosa juga menjadi penyebab krisis multi dimensi. Termasuk problem ekonomi, baik secara perorangan, maupun golongan. Secara perorangan, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sesungguhnya seseorang terhalang dari rejeki disebabkan oleh dosa yang dilakukannya.” (HR Ahmad, al-Hakim, Ibnu Majah)</p>
<p>Adapun secara komunal, diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami dan bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Muhajirin, lima perkara, apabila menimpa  kalian, maka tidak ada kebaikannya, atau kalian akan tertimpa bermacam-macam adzab, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menjumpainya. Tidaklah kekejian (zina) tampak nyata di suatu kaum, hingga mereka berterang-terangan dengannya, kecuali akan tersebar di kalangan mereka wabah tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah dialami oleh orang-orang sebelum mereka. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan diadzab dengan paceklik dan sulitnya bahan kebutuhan dan dhalimnya penguasa atas mereka. Dan tidaklah mereka menolak untuk membayar zakat, kecuali mereka dicegah dari turunnya hujan, dan seandainya tidak karena adanya binatang-binatang pasti mereka tidak diberi hujan. Dan tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji RasulNya,  kecuali Allah akan menguasakan musuh atas mereka dari orang selain mereka, lalu mereka (musuh itu) mengambil sebagian apa-apa yang di tangan mereka.</p>
<p>Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih-milih dari apa-apa yang telah Allah turunkan, niscaya Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka. ” (HR Ibnu Majah, adz-Dzahabi dalam at-Talkhis mengatakan shahih)</p>
<p>Dan banyak lagi keterangan yang menguatkan bahwa dosa adalah biang masalah, keruwetan dan kesulitan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Istighfar adalah Solusinya</em></strong><strong></strong></p>
<p>Tatkala seorang hamba bertaubat, dan memohon ampun kepada Allah atas segala perbuatan buruknya, lalu kembali ke jalan yang benar, maka dosa pun diangkat beserta seluruh efek yang ditimbulkan oleh dosa. Kemudahan akan didapatkan, jalan keluar di depan mata, dan musibah yang tengah melanda menjadi sirna pula.</p>
<p>Begitulah alurnya, mengapa istighfar bisa menjadi solusi dari problem yang dihadapi manusia. Bahkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, menjadikan istighfar sebagai andalan ketika menghadapi masalah yang pelik, termasuk dalam hal ilmu. Di mana beliau berkata kepada muridnya, ”Tatkala suatu masalah atau problem mengganggu pikiranku, maka akupun memperbanyak istighfar hingga dadaku menjadi lapang, dan terurailah kesulitan demi kesulitan. Dan ketika aku membiasakan istighfar saat berada di pasar, masjid, kendaraan maupun majlis ilmu, maka aku mendapatkan apa yang aku cari.”</p>
<p>Adalah Imam asy-Syaafi’i pernah mengeluhkan hafalannya kepada seorang gurunya, yakni Imam Waki’ bin Jarah. Tak disangka, sang guru berkata dengan lantang, ”bertaubatlah.” Saat itulah Imam Syafi’i mengingat dosa yang pernah dilakukannya, lalu bertaubat kepada Allah darinya. Seketika, kekuatan hafalan beliau pulih seperti sedia kala, hingga beliau menggubah sya’ir yang sangat tenar, ”Aku mengadu kepada al-Waki’ (bin Jarah) tentang buruknya hafalanku. Dia menyuruhku untuk meninggalkan maksiat, dan dia menasihatiku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak dikaruniakan kepada pendosa.”</p>
<p>Begitulah, ilmu terhalang lantaran dosa, sedangkan taubat melancarkan kembali jalan masuk cahaya ilmu ke dalam hati.</p>
<p>Istighfar bukan saja berfaedah mengentaskan seseorang dari musibah dan problema setelah terjadi, namun juga bisa mencegah musibah dan masalah sebelum terjadinya. Tentang firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em>”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” </em> (QS al-Anfaal 33)</p>
<p>Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menafsirkan, “Kita mempunyai dua jaminan keamanan, namun yang satu telah tiada, yakni keberadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di tengah kita, adapun yang tersisa adalah istighfar yang menyertai kita, maka jika istighfar tiada, maka kita akan binasa.”</p>
<p>Tentu saja, istighfar dengan sehebat khasiatnya itu bukan sekedar berupa ucapan tanpa makna. Namun istighfar yang diiringi taubat yang tulus. Taubat yang memenuhi kriteria nasuha; berhenti dari dosa, menyesal perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya dan mengembalikan hak bila dosa terkait dengan hak sesama manusia.</p>
<p>Ucapan istighfar ini tidak pula menihilkan ikhityar untuk mencari solusi. Karena istighfar mampu menyingkirkan kendala, namun untuk sampai kepad tujuan, atau selamat dari gangguan, harus ada kemauan untuk melangkah dan berusaha. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan memudahkan segala urusan kita. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/09/istighfar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasab tak Menjamin Nasib</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/08/nasab-tak-menjamin-nasib.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/08/nasab-tak-menjamin-nasib.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 08:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[nasab bukan nasib]]></category>
		<category><![CDATA[nasab dan nasib]]></category>
		<category><![CDATA[nasab nasib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1167</guid>
		<description><![CDATA[فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mukminun:101) Di hari kiamat nanti, keturunan bukan merupakan faktor yang bisa menentukan nasib seseorang. Bahwa anak dari orang shalih pasti akan selamat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1106" title="nasab-nasib" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ</p>
<p><em>“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS.</em> Al Mukminun<em>:</em>101<em>)</em></p>
<p>Di hari kiamat nanti, keturunan bukan merupakan faktor yang bisa menentukan nasib seseorang. Bahwa anak dari orang shalih pasti akan selamat, dan anaknya penjahat pasti mendapat laknat. Di akhirat selamat atau tidak, yang paling berpengaruh adalah rahmat Allah, kemudian amal perbuatan manusia masing-masing. Meskipun anak dari seorang manusia yang mulia, tapi dirinya termasuk golongan yang layak mendapat siksa, status keturunan ini tidak akan berguna. Atau sebaliknya, seburuk apapun kedua orangtua, jika dirinya sendiri memang layak untuk selamat, buruknya nasab sedikitpun tidak akan membahayakannya.</p>
<p>Orang bilang iman itu tak dapat diwarisi, demikian pula kehormatan diri apatah lagi keselamatan di akhirat nanti. Tak hanya di hari kiamat dan di hadapan Allah, bahkan di dunia dan dimata manusiapun semua itu berlaku. Keturunan orang terhormat tapi bejat, di mata manusia tetap akan dipandang rendah sebagai manusia yang tak bermartabat. Kalaupun ada yang memaksakan diri menghormati, hal itu pasti dilakukan dengan menipu nurani. Sebaliknya, meskipun keturunan penjahat tapi dengan hidayah Allah menjadi mukmin yang shalih dan taat, orang pasti akan menaruh segala hormat.</p>
<p>Bahkan ini juga berlaku bagi keturunan Nabi sekalipun. Memang benar, ahlul bait memiliki keutaman. Tapi keutamaan sebagai ahlul bait didapatkan bukan karena faktor kekerabatan dan keturunan, tapi karena iman dan ketaatan. Jika dua hal itu ada, maka status sebagai ahlul bait menjadikan kemuliaan itu semakin sempurna.</p>
<p>Hal ini disadari betul oleh salah seorang keturunan Nabi SAW, Ali Zainal Abidin. Suatu ketika Thawus bin Kisan melihat Ali Zainal Abidin sedang meratap penuh gelisah dihadapan Ka’bah. Seakan-akan dia sedang berada di ambang kehancuran. Terdengar tangisnya yang tersedu-sedu, diiringi doa memohon perlindungan kepada Allah. Thawus berhenti. Setelah tangis mereda, Thawus mendekat dan berkata, “Wahai cucu Rasulullah, Aku melihat anda meratap sedih, padahal anda memiliki tiga keutamaan yang dapat membuat anda merasa aman.”</p>
<p>Ali bertanya, “ Apa tiga keutamaan itu?”</p>
<p>Thawus menjawab, “Pertama anda cucu Rasulullah.  Kedua, anda bisa mendapatkan syafaat dari kakek anda. Ketiga, anda akan mendapat rahmat Allah.”</p>
<p>Ali Zainal Abidin menjawab, “Wahai Thawus! Sekalipun aku keturunan Rasulullah, namun keturunan itu tidak menjadikan diriku aman dari rasa takut akan siksa Allah. Itu setelah aku membaca firman-Nya,</p>
<p><em>“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” </em>(QS. Al Mukminun<em>:</em>101<em>)</em></p>
<p>Adapun tentang syafaat kakekku kepadaku, sesungguhnya Allah telah menegaskan dalam firman-Nya;</p>
<p dir="RTL">وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ</p>
<p><em>“…dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.</em>(QS. Al Anbiya 28)</p>
<p>Dan mengenai rahmat Allah itu, Allah akan memberikannya kepada orang yang selalu berbuat kebaikan sebagaimana firman-Nya;</p>
<p dir="RTL">إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>“…Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” </em>(QS. Al A’raf:56)</p>
<p>Meski sebagai keturunan Rasulullah, beliau tidak berani berangkuh diri untuk merasa aman dan pasti selamat.  Walaupun melihat keimanan dan ketakwaan yang beliau miliki, dengan ijin Allah, tiga hal itu sepertinya memang layak beliau dapatkan. Namun begitu, beliau menegaskan bahwa keturunan itu tidak akan banyak membantu jika tidak didahului dengan keimanan, lalu disertai ketakwaaan dan amal shalih.</p>
<p>Rasulullah sendiri pernah mewanti-wanti anaknya juga kerabatnya. Dalam Sebuah hadits disebutkan, dari Abu Hurairah beliau berkata,</p>
<p dir="RTL">قَامَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) قَالَ « يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ &#8211; أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا &#8211; اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا</p>
<p><em>“Tatkala Allah menurunkan ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!”, (QS. Asy Syuara’:214), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri dan berseru, “Wahai kaum Quraisy – atau perkataan yang mirip ini-, selamatkanlah jiwa kalian! sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah. Wahai bani Abdu Manaf, aku sama sekali tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah. Wahai Abbas bin Abdilmutthalib, aku tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah. Wahai Sofiyah bibinya Rasululllah, aku sama sekali tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, aku sama sekali tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah.”</em> (HR. Al-Bukhari no 4771).</p>
<p>Ulama menjelaskan, hadits in menegaskan bahwa para kerabat dari orang-orang yang shalih jangan terlena dengan kedekatan hubungan mereka dengannya. Sebab orang shalih itu menjadi mulia karena keshalihannya sendiri, bukan karena tali kekerabatan. (<em>Kasyful Musykil ‘an Hadits Shahihain</em> I/897). Hadits ini juga tidak menafikan adanya syafaat dari nabi SAW. Nabi SAW akan tetap diberi wewenang memberi syafaat kepada umatnya. Namun begitu, pada hakikatnya syafaat itu juga dari Allah, orang yang berhak mendapat syafaat juga orang yang diijinkan oleh Allah untuk mendapatkannya.</p>
<p>Jadi sekali lagi, nasib masing-masing orang tergantung pada rahmat Allah dan kualitas diri. Jangan merasa bangga meski menjadi keturunan orang mulia, jika ternyata iman di dada belum seberapa. Tetap berusaha berlaku lurus dan memohon hidayah-Nya, niscaya keturunan itu akan membuat diri semakin mulia. Tak perlu pula merasa risau meski menjadi keturunan pendurhaka, jika iman dan takwa bisa tumbuh dan bertambah hingga menemui Yang Maha kuasa. Mengapa? karena nasab tak menjamin nasib. Wallahua’lam. (Abu Abdillah R)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&lt;a href=&#8221;http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib.jpg&#8221;&gt;&lt;img class=&#8221;alignleft size-thumbnail wp-image-1106&#8243; title=&#8221;nasab-nasib&#8221; src=&#8221;http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib-150&#215;150.jpg&#8221; alt=&#8221;" width=&#8221;150&#8243; height=&#8221;150&#8243; /&gt;&lt;/a&gt;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/08/nasab-tak-menjamin-nasib.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kikir, Membuat Hidup Makin Fakir</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/07/kikir-membuat-hidup-makin-fakir.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/07/kikir-membuat-hidup-makin-fakir.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 04:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup fakir]]></category>
		<category><![CDATA[kikir]]></category>
		<category><![CDATA[pelit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9) Abu al-Hiyaj bercerita, “Saya melihat seorang syeikh sedang thawaf di Baitullah sembari berdoa, ‘Rabbi qiniy syuhha nafsi, Rabbi qiniy syuhha nafsi, Wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran, wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/kikir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1016" title="kikir," src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/kikir.jpg" alt="" width="105" height="104" /></a>وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p><em>Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. </em>(QS. Al-Hasyr 9)</p>
<p>Abu al-Hiyaj bercerita, “Saya melihat seorang syeikh sedang thawaf di Baitullah sembari berdoa, ‘<em>Rabbi qiniy syuhha nafsi, Rabbi qiniy syuhha nafsi</em>, Wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran, wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran…” Dia terus menerus membaca doa itu dan tidak menambahnya dengan yang lain. Lalu saya mencari tahu tentangnya, ternyata beliau adalah sahabat Abdurrahman bin Auf RA. Akupun menemui beliau dan bertanya tentang alasan beliau membaca doa itu, lalu beliau membacakan firman Allah,</p>
<p>وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p><em>Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9)</em></p>
<p><strong>Tiada Beruntung Orang yang Kikir</strong></p>
<p>Ingin mengumpulkan harta sebanyak mungkin, dan bakhil mendermakannya selain untuk keinginan nafsunya, adalah tabiat buruk yang disandang banyak manusia. Dengan sifat itu, mereka menyangka bisa meraih keberuntungan. Namun ayat ini justru meyakinkan sebaliknya. Keberuntungan bisa didapatkan ketika seseorang terhindar dari sifat kekikiran. Sifat kikir mengundang banyak sekali kerugian dan keburukan, maka barangsiapa yang terhindar darinya, maka dia terhindar dari banyak kerugian dan keburukan.</p>
<p>Makna ’<em>Syuhha nafsuhu’ </em>tidak hanya sebatas bakhil, atau menolak untuk memberi. Akan tetapi juga disertai ambisi untuk memiliki apa-apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Dari definisi ini, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang akan dialami oleh orang yang berkarakter kikir.</p>
<p>Kerugian pertama dialami oleh hati. Orang yang kikir tak pernah merasakan lapangnya dada, atau puasnya hati saat memiliki. Panasnya hati saat berambisi terhadap sesuatu yang belum dimiliki, melalaikan dirinya dari kebahagiaan yang mestinya dia rasakan karena telah memiliki sesuatu yang bisa dinikmati. Derita ini tidak pernah berkurang kadarnya, meski dia telah berhasil meraih ambisinya. Karena sifat tamaknya segera mengalihkan pandangannya kepada kenikmatan lain, sebelum dia sempat menikmati hasil jerih payahnya. Jika keberhasilannya meraih tujuan tak bisa membuat hati menjadi nyaman dan tenang, lantas bagaimana jika usahanya menemui jalan buntu, betapa hatinya makin terbakar karenanya. Sungguh beruntung, jiwa yang terhindar dari kikir dan bakhil.</p>
<p>Kerugian kedua adalah miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena tak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil. Ambisi dan sifat rakusnya bahkan membahayakan siapapun yang dekat dengannya. Hartanya terancam, kehormatannya teranacam, bahkan terkadang nyawa juga tak aman dari ancaman. Karena orang yang kikir hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan tidak memikirkan kepentingan orang lain. Nabi SAW bersabda,</p>
<p>”Jauhilah oleh kalian sifat kikir (syuhh). Karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.” (HR Abu Dawud)</p>
<p>Harta yang mestinya berfaedah menenangkan jiwa, juga mengikat sahabat dan kerabat, justru menjadi petaka bagi orang yang bakhil. Padahal persahabatan, persaudaraan dan kekerabatan adalah faktor penting yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan. Jauh lebih penting dari sekedar mempertahankan harta dan menimbunnya.</p>
<p>Adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata, ”Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh untuk diumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.</p>
<p><strong>Fakir di Dunia, Siksa di Neraka</strong></p>
<p>Meski sifat kikir diharapkan bisa mendatangkan keuntungan materi bagi pemiliknya, namun tidak demikian kenyataannya. Kikir tak akan menambah harta dunia, apalagi kekayaan akhirat. Orang yang kikir akan luput dari doa malaikat untuk keberkahan orang yang mendermakan hartanya. Justru doa kebangkrutan tiap pagi yang tertuju untuknya. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,</p>
<p>”Tiada datang pagi hari yang dilalui hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ”Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) baik orang yang berderma.” Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, ”Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Yang paling parah, sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan. Karena sifat ini merusak hasrat akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka,</p>
<p>“<em>Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, &#8220;Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu</em>.&#8221; (QS. at-Taubah: 35)</p>
<p>Allahumma qinaa syuhha anfusanaa”, ya Allah, jauhkanlah diri kami dari kekikiran. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/07/kikir-membuat-hidup-makin-fakir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Muslim yang Seharusnya</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharusnya.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharusnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 02:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[asyahdu bianna muslim]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi muslim seharusnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=958</guid>
		<description><![CDATA[“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah 3) Sa’ad bin Abi Waqash adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun tatkala beliau masuk Islam, ibunya marah dan berkata, “Wahai Sa’ad, agama apa yang kamu anut ini? Kamu harus keluar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharus.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-959" title="menjadi-muslim-yang-seharus" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharus-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah 3)</p>
<p>Sa’ad bin Abi Waqash adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun tatkala beliau masuk Islam, ibunya marah dan berkata, “Wahai Sa’ad, agama apa yang kamu anut ini? Kamu harus keluar dari Islam, atau kalau tidak, maka aku tidak akan makan, tidak akan minum hingga mati. Lalu orang-orang pun akan mencelamu dan memanggilmu dengan kalimat, ”Wahai anak yang telah membunuh ibunya!” Dengan santun beliau berkata, ”Jangan lakukan itu wahai Ibunda, saya tidak akan meninggalkan Islam apapun yang terjadi.” Hari-hari berlalu, sementara sang ibu benar-benar mogok dari makan dan minum. Hingga kemudian Saad bin Abi Waqash memberanikan diri berkata kepada sang ibu, “Ketahuilah wahai Ibunda, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, lalu satu persatu nyawa itu keluar dari jasad ibu, maka sekali-kali saya tidak akan meninggalkan agama ini,maka terserah ibu ingin makan ataukah tidak!” (Siyaru a’lam an-Nubala’)</p>
<p>Sahabat yang lain, Abdullah bin Hudzafah bahkan tak mundur dari Islam saat diancam hendak direbus hidup-hidup oleh Heraklius. Tawaran masuk Nasarni ditolaknya mentah-mentah, meski diiming-imingi hadiah separuh kerajaan Romawi. Baginya, nilai Islam dalam sekejap mata lebih berharga dari seluruh kerajaan Romawi.</p>
<p>Adapula yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Islamnya seperti Yasir dan istrinya; Sumayyah.</p>
<p>Kekuatan apakah yang menjadikan mereka sanggup bertahan dengan ragam siksaan yang begitu berat? Pertimbangan manakah yang mereka gunakan hingga mereka rela mengambil resiko harta, tenaga bahkan nyawa? Tidak ada jawaban lain kecuali karena keimanan mereka terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad saw, keyakinan bahwa Islam menjamin kebahagiaan bagi mereka, bukan sekedar di dunia yang fana, namun juga di akhirat yang abadi. Mereka betul-betul merasakan betapa indahnya hidup dalam Islam, dan betapa agungnya rahmat Islam bagi mereka dan bahkan bagi alam semesta. Tak ada anugerah yang lebih istimewa darinya. Sehingga mereka tidak mau melepaskan secuilpun dari syariat demi tawaran apapun yang memikat. Tak sudi menanggalkan keislamannya, meski nyawa harus keluar dari jasad. Mereka benar-benar merasakan firman Allah,</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah 3)</p>
<p>Namun, hari ini paradigma telah berubah. Seiring dengan minimnya pemahaman, tipisnya keimanan, Islam tak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Seakan Islam disandangnya secara kebetulan, bukan karena keinginan atau kebutuhan. Yang karenanya pula,  tak ada beban bagi mereka untuk melepas sebagian atau bahkan keseluruhan, tak ada rasa bersalah jika sesekali syariat disandang, dan di kali yang lain ditendang.</p>
<p>Fenomena ini terus berkembang, seiring dengan mendominasinya hawa nafsu, ditambah pula dengan gencarnya upaya setan jin dan manusia untuk mengaburkan tapal batas antara iman dan kekafiran. Hingga, garis pembeda antara haq dan bathil makin tersamarkan. Dalam persepsi kebanyakan orang, tak ada lagi keistimewaan Islam di atas keyakinan yang lain. Tiada pula sisi kemuliaan mukmin dibanding orang kafir, atau ahli tauhid dibanding ahli syirik.</p>
<p>Perhatikanlah prolog sebuah film yang mengusung paham liberalisme dan toleransi yang kebablasan, yang mengajarkan bahwa semua agama sama benarnya. Dengan suara lembut terkesan keibuan bak penasihat yang bijak mengawali film itu, ”Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”</p>
<p>Dengan pandangan seperti ini, semua cara beragama dianggapnya sama benarnya. Semua jalan dipandangnya sama-sama mencapai surga, termasuk pilihan untuk tidak beragama. Semua sesembahanpun diyakini sebagai Tuhan yang sama,apakah berujud patung, batu maupun manusia. Inilah konsep netral agama yang tak mengenal istilah tauhid dan syirik, tak ada kata mukmin dan kafir, dan tak ada kamus hidayah maupun murtad. Padahal, semua istilah itu sangat krusial di dalam Islam.</p>
<p>Seakan surga disediakan untuk penganut apa saja, agama apapun, hanya berbeda kapling atau lokasinya. Lantas dimanakah keyakinan mereka terhadap firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em>‘Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi.’</em> (QS Ali Imran 85)</p>
<p>Bagaimana pula mereka mengira, bahwa Allah akan membalas dengan balasan yang sama atas cara dan jalan agama yang berbeda-beda, sedangkan Allah berfirman,</p>
<p>“Maka Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau Adakah kamu (berbuat demikian). Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS al-Qalam 35-36)</p>
<p>Bahkan secara tegas, Nabi saw telah memberitaka kesudahan bagi siapapun yang tidak mengambil Islam sebagai agamanya,</p>
<p>لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ أُ مَّتِي يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ  ماَتَ وَ لاَ يُؤْمِنُ بِمَا جِئْتُ بِهِ إِلاَّ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ</p>
<p><em>&#8220;Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan<strong>-</strong>Nya, tiada seorangpun dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tdiak beriman dengan apa yang aku bawa dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.&#8221;</em> (Hadits Riwayat Muslim)</p>
<p>Seseorang yang merasa memiliki Islam, dan menjadikan Islam sebagai darah dan dagingnya, tentu tidak tertarik dengan ajakan pendangkalan terhadap nilai keagungan Islam. Tak hanya itu, keyakinannya atas kebenaran Islam dia wujudkan dengan mendalami ilmunya, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan membelanya dari serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuhnya, begitulah seharusnya menjadi seorang muslim. Billahit taufiq. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/menjadi-muslim-yang-seharusnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Hati Tidak Terkunci Mati</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/agar-hati-tidak-terkunci-mati.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/agar-hati-tidak-terkunci-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 03:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[hati mati]]></category>
		<category><![CDATA[hati terkunci]]></category>
		<category><![CDATA[hati tidak mati]]></category>
		<category><![CDATA[qolbun marid]]></category>
		<category><![CDATA[qolbun mayyit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS al-Muthaffifin: 14) Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan meninggalkan bercak hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan perbuatan itu dan beristighfar kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ<a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/agar-hati-tidak-terkunci.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-907" title="agar-hati-tidak-terkunci" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/agar-hati-tidak-terkunci-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></strong></p>
<p>“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS al-Muthaffifin: 14)</p>
<p>Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang mukmin berbuat dosa, maka akan meninggalkan bercak hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan perbuatan itu dan beristighfar kepada Allah, maka hatinya akan kembali bersih. Jika ia terus melakukan dosa, maka bertambah pula bercak hitam di hatinya, sehingga bercak hitam itu menutupi hatinya. Itulah ’rona’ hati yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p>“<em>Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”</em> (QS. Al-Muthaffifin: 14)</p>
<p><strong>Bermula Dari Satu Bercak Dosa</strong></p>
<p>Pengaruh dosa bagi hati, tak ubahnya penyakit yang menggerogoti jasad. Jika penyakit terus bertambah, stamina semakin turun dan kematian segera datang. Begitupun matinya hati, dosa demi dosa akan mengatarkan hati menuju kematiannya. Seperti banjir, yang diawali oleh satu tetes hujan, kemudian disusul dengan tetesan lain yang terus menerus, itu pula pula yang terjadi dengan bencana yang menimpa hati. Setiap dosa menyumbang satu bercak hitam yang menutupi kejernihan hati. Makin banyak bilangan dosa yang dilakukan, makin dominan pula bercak hitam yang menutupi hati. Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan ayat ini, ”Jika dosa dilakukan terus menerus, maka ia akan menutupi hati, jika hati sudah tertutup, maka Allah akan mengunci mati hati, sehingga tidak ada lagi jalan bagi iman untuk memasukinya. Dan kekufuran tidak bisa keluar dari dalamnya. Itulah penutup dan kunci yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, “<em>Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat.”</em> (QS. Al-Baqarah: 7)</p>
<p>Sekarang kita lihat diri kita masing-masing. Bayangkan jika satu hari kita melakukan sepuluh dosa misalnya. Maka, betapa singkat waktu yang dibutuhkan untuk membuat hati menjadi mati terkunci. Karenanya, sebagai bentuk waspada terhadap dosa, Mujahid bin Jabr memberikan gambaran yang mengerikan. Beliau berkata, “Hati itu, seperti ini&#8230;(beliau memperagakan telapak tangannya yang dibuka). Jika ia berbuat dosa, maka akan seperti ini&#8230; (beliau kemudian melipat salah satu jarinya hingga menutup sebagian telapak tangan). Jika dia berbuat dosa lagi, maka seperti ini..(beliau melipat jari yang kedua), demikian juga untuk yang ketiga dan keempat).”  Kemudian pada bilangan ke lima beliau menggenggamkan ibu jari hingga telapak tangan menjadi tertutup, beliau berkata, “Lalu Allah mengunci mati hatinya. Lalu siapakah di antara kalian yang masih yakin bahwa hatinya belum tertutup?”</p>
<p>Sungguh mengerikan penggambaran ini. Karena betapa kita sering melakukan dosa, lalu kita merasa aman. Tidak kita ingat, tidak kita hitung, apalagi berusaha untuk dibersihkan. Sehingga potensi tertutupnya hati begitu cepat. Bila hati telah tertutup, maka sulit bagi cahaya iman menerobos masuk menerangi hati, lantaran rapatnya penutup hati dan bercak dosa yang menyelimutinya. Maka jangan heran jika di antara manusia ada yang sulit menerima kebenaran, meski telah jelas bukti-buktinya. Karena hati telah mati. Ia tak lagi mampu menjalankan fungsi yang semestinya. Fungsi untuk mendeteksi, memilih serta mengomando jasad untuk menjalani kebenaran, dan menjauh dari keburukan. Nasihat tidak pula berfaedah baginya. Sebagaimana karakter orang kafir yang difirmankan Allah,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. </em><em>Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” </em> (QS. al-Baqarah 6-7)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Agar Hati Tidak Mati</strong></p>
<p>Hati adalah sesuatu yang paling berharga bagi manusia. Kerusakannya pertanda kesengsaraan pemiliknya sepanjang masa, di dunia, di alam barzakh hingga kekal tinggal di neraka. Hanya hati yang salim, bersih dan lurus yang bisa menyelamatkan manusia, hingga ia menghadap Rabbnya. Karenanya, penjagaan hati dari segala unsur yang merusaknya, lebih diperhatikan dari penjagaan terhadap apapun yang kita miliki di dunia.</p>
<p>Jika di antara ulama mengibaratkan hati dengan rumah, maka hati orang mukmin seperti rumah yang dipenuhi oleh kekayaan iman. Sedangkan setan layaknya pencuri yang mengincarnya. Tentunya, dia tidak akan membiarkan pencuri untuk mengambil sedikitpun kekayaan yang ada di dalamnya.</p>
<p>Di antara salaf mengatakan, “Hati itu ibarat rumah yang memiliki enam pintu, maka jagalah semua pintu, jangan sampai pencuri masuk melalui salah satu pintu itu, karena ia akan merusak rumahmu. Hati adalah rumah, sedangkan pintu-pintu itu adalah mata, lisan, pendengaran, penglihatan, kedua tangan, dan kedua kaki. Siapa yang membuka salah satu pintu ini untuk setan maka hilanglah isi rumahnya.”</p>
<p>Pun begitu, keterbatasan manusia yang memang tidak maksum dari dosa, sesekali akan kecolongan juga. Karena setan tak pernah tidur, sedang kita tidur. Setan terus menggoda, sementara kita tak selalu siap dengan perisai yang menghalanginya. Kadang penjagaan lengah, hingga setan mencuri sebagaian kekayaan imannya. Kadang seseorang tergelincir dalam dosa, hingga hal itu meninggalkan bercak dalam hatinya. Manusia yang takwa takkan menyerah begitu saja. Dia segera mengusir setan dari dalam hatinya, dia akan membersihkan bercak yang menempel di hatinya, sebagaimana yang difirmankan Allah, <em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”</em> (QS. Al-A’raf: 201)</p>
<p>Orang yang bertakwa ialah dia yang peka terhadap dosa, lalu segera membersihkannya, menyesal, bertaubat nasuha dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Dia juga memohon perlindungan kepada Allah dari segala godaan setan yang menghasutnya. Selayaknya, kita banyak berdoa kepada Allah, seperti ’curhat’ <strong> </strong>Umar bin Abdul Aziz yang sering berdoa kepada Rabbnya dengan doa, “Rabbi, Engkau telah menguasakan musuh atas diriku. Engkau jadikan dadaku sebagai tempat tinggalnya. Engkau jadikan aliran darahku sebagai jalannya. Jika aku ingin berbuat maksiat, dia menyemangatiku. Jika aku ingin berbuat taat, ia memperlambat langkahku. Dia tidak lalai saat aku lalai. Dia tidak lupa saat aku lupa. Dia memasang jerat syahwat dan menyuguhkan syubhat. Rabbi, jika Engkau tidak menjauhkan tipudayanya dariku, maka ia akan menggelincirkanku. Ya Allah, tundukkanlah kekuatannya untukku dengan kekuasaan-Mu atas dirinya, sehingga ia menyingkir dengan banyaknya dzikirku kepada-Mu, sehingga aku termasuk orang-orang yang terjaga dari kejahatan setan.” Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/05/agar-hati-tidak-terkunci-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Neraka, Derita Tanpa Jeda</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/03/neraka-derita-tanpa-jeda.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/03/neraka-derita-tanpa-jeda.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 09:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[derita tanpa jeda]]></category>
		<category><![CDATA[hidangan neraka]]></category>
		<category><![CDATA[makanan neraka]]></category>
		<category><![CDATA[minuman neraka]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni neraka]]></category>
		<category><![CDATA[siksa neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman. (QS.al-Lail 14-16) Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengimami Shalat Maghrib dengan membaca Surat al-Lail. Tatkala bacaan sampai pada firman-Nya, “fa andzartukum naaran talazhzha..”,  beliau menangis hingga tak mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/nerakah-derita-tanpa-jeda.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-837" title="nerakah,-derita-tanpa-jeda" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/nerakah-derita-tanpa-jeda-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a>Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman</em>. (QS.al-Lail 14-16)</p>
<p>Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengimami Shalat Maghrib dengan membaca Surat al-Lail. Tatkala bacaan sampai pada firman-Nya, “fa andzartukum naaran talazhzha..”,  beliau menangis hingga tak mampu melanjutkan bacaannya. Kemudian beliau mengulanginya dari awal, namun sampai pada ayat yang sama, beliau kembali menangis dan tak sanggup melanjutkannya. Hal itu terjadi dua atau tiga kali, lalu beliau membaca surat yang lain.</p>
<p>Kita memang tidak bisa mengukur persis, gejolak macam apa yang membuncah di dada beliau, hingga air mata tumpah tak terbendung. Tapi, begitulah karakter ulama, “innama yaksyallaha min ‘ibaadihil ‘ulama’, hanyasanya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama’.</p>
<p>Mereka merasa menjadi obyek langsung dari Kalamullah. Lantas seperti apa perasaan seseorang yang merasa diingatkan langsung oleh Allah? Apalagi, tatkala peringatan itu berupa ancaman siksa neraka, yang tak ada lagi level penderitaan yang menandinginya.</p>
<p><strong>Orang yang Paling Celaka</strong></p>
<p>Neraka tidak dimasuki kecuali oleh orang yang paling celaka. ”La yashlaaha illal asyqa”, Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. Tidak ada lagi orang yang lebih celaka darinya. Karena neraka disifati dengan segala kepungan penderitaan dan kesengsaraan, dan dinihilkan dari segala hiburan dan kesenangan.</p>
<p>Di dunia, kita memang sering menyaksikan dan mendengar kisah tentang penderitaan seseorang. Tentang orang yang miskin papa, beratnya penyakit yang menipa, atau dahsyatnya musibah yang menerpa. Tapi, itu semua sungguh tidak seberapa, ketika dibanding dengan neraka. Pasti ada jeda derita di dunia, pun banyak faktor yang bisa membuat beban menjadi ringan dirasa. Tidak sebagaimana derita di neraka, bersabar atau tidak bersabar sama saja bagi mereka.</p>
<p>Intensitas siksa yang tiada jeda dan tanpa koma, bahkan tak ada sedikit waktu meski hanya sekedar menurunnya kadar derajat siksa. Hingga para penghuninya berkata,</p>
<p><em>”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari” (QS al-Mukmin: 49)</em></p>
<p><strong>Menu Makanan di Neraka</strong></p>
<p>Pada galibnya, makanan dan minuman itu identik dengan kenikmatan dan kelezatan. Tapi tidak demikian halnya dengan menu yang disediakan di neraka. Makanan menjadi siksa, minuman juga sebagai siksa, dan buah-buahan pun berupa siksa.</p>
<p>Ada makanan dhaari’, yang tidak menghilangkan rasa lapar, apalagi membuat perut menjadi kenyang. Rasapun bertentangan dengan selera lidah, bahkan untuk menelannya  harus dengan merobek tenggorokan, karena ia berupa duri,</p>
<p><em>“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS al-Ghasyiyah:6-7)</em></p>
<p>Disediakan pula menu buah untuk mereka. Namun bukan untuk menambah vitamin atau hidangan penutup yang menyempurnakan kenikmatan. Bentuknya menyeramkan, tumbuh dari tempat yang sangat mengerikan,</p>
<p><em>”Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zhalim.. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar naar jahim. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. (QS. Ash-Shaffat 63-65)</em></p>
<p>Tentang rasa, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan perumpamaan yang menakutkan,</p>
<p>”Seandainya satu tetes dari zaqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan di dunia, lantas bagaimana halnya dengan orang yang memakannya?” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih)</p>
<p>Tidak disebutkannya akhir dari orang yang menyantapnya itu menunjukkan kedahsyatannya, hingga sulit digambarkan dengan kata-kata, atau dibayangkan dengan nalar manusia, semoga Allah menjauhkan kita dari neraka.</p>
<p>Jenis makanan lain yang disediakan bagi penghuni neraka adalah ghisliin,</p>
<p><em>“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.”  (QS. al-Haaqah: 36)</em></p>
<p>Di antara ulama menafsirkan bahwa ghisliin adalah adonan dari seluruh kotoran yang keluar dari tubuh penghuni neraka, baik nanah, keringat, ludah, maupun kotoran dari depan maupun belakang, nas’alullahal ‘aafiyah.</p>
<p>Minuman yang Disediakan di Neraka</p>
<p>Jika makanan penghuni neraka begitu mengerikan, lantas bagaimana dengan minumannya? Sebagaimana halnya makanan, mereka juga diberi aneka jenis minuman. Tapi masing-masing minuman menjanjikan sisi penderitaan yang berbeda-beda, dengan tingkat derita yang paling ekstrim.</p>
<p>Ada minuman ’hamiim’, air yang mencapai tingkat panas yang paling puncak, hingga meluluhlantakkan segala isi perut yang meminumnya,</p>
<p><em>“dan diberi minuman dengan air yang mendidih (hamim) sehingga memotong-motong ususnya.” (QS. Muhammad: 15)</em></p>
<p>Jauh sekali dari kesegaran, tidak pula bermanfaat untuk mengusir haus dan dahaga, bahkan peminumnya menanggung derita tiada tara saking panasnya. Berbeda halnya dengan minuman ‘shadiid’, siksa yang dirasakan bukan semata karena panasnya, namun karena bau dan wujud yang sangat menjijikkan,</p>
<p><em>“Diminumnya air nanah (shadiid)  itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya.” (QS. Ibrahim: 17)</em></p>
<p>Dan terakhir adalah minuman dari air ‘muhl’, cairan besi yang mendidih, sebagaimana firman Allah,</p>
<p><em>“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. 18:29)</em></p>
<p>Begitu komplit jenis penderitaan neraka yang tak diselingi sedikitpun oleh kenikmatan ataupun kesenangan. Itulah balasan bagi orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari ketaatan. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka. Amin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/03/neraka-derita-tanpa-jeda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup, Bukan untuk Main-Main</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/02/hidup-bukan-untuk-main-main.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/02/hidup-bukan-untuk-main-main.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 08:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[hidup bukan main]]></category>
		<category><![CDATA[hidup bukan main-main]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (QS al-Mukminun 115) Ibrahim bin Adham termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya kaya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya untuk menghibur diri dan bersenang-senang. Ketika ia sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/02/hidup-bukan-main-main.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-734" title="hidup,-bukan-main-main" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/02/hidup-bukan-main-main-150x142.jpg" alt="" width="150" height="142" /></a>“<em>Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.</em> (QS al-Mukminun 115)</p>
<p>Ibrahim bin Adham termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya kaya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya untuk menghibur diri dan bersenang-senang. Ketika ia sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.</em>”                                                 (QS al-Mukminun 115)</p>
<p>Serasa disambar petir. Ayat itu betul-betul menyentak beliau. Menggugah kesadaran, betapa selama ini telah bermain-main dalam menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan tak terperi, atau kebahagiaan tak tertandingi. Yakni saat di mana mereka dikembalikan kepada Allah untuk bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Sejak itulah beliau tersadar, dan itulah awal beliau meniti hidup secara semestinya, hingga saksi sejarah mencatat beliau sebagai ahli ibadah dan ahli ilmu yang ‘bukan main’.</p>
<p><strong>Bila Hidup Dianggap Main-Main</strong></p>
<p>Rasa-rasanya, ayat ini seperti belum pernah diperdengarkan di zaman kita ini. Meski tidak terkalamkan, <em>lisaanul haal</em> menjadi bukti, banyak manusia yang menganggap hidup ini hanya iseng dan main-main. Aktivitasnya hanya berkisar antara tidur, makan, cari makan dan selebihnya adalah mencari hiburan. Seakan untuk itulah mereka diciptakan.</p>
<p>Ayat ini menjadi peringatan telak bagi siapapun yang tidak serius menjalani misi hidup yang sesungguhnya. Kata <em>‘afahasibtum’, </em>(maka apakah kamu mengira)<em>,</em> ini berupa <em>istifham inkari</em>, kata tanya yang dimaksudkan sebagai sanggahan. Yakni, sangkaan kalian, bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk iseng, main-main atau kebetulan itu sama sekali tidak benar. Dan persangkaan kalian, bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami, adalah keliru.</p>
<p>Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskan jatah umur, lalu mati dan tidak kembali,</p>
<p><em>”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”</em> (QS. Al-Qiyamah 36)</p>
<p>Orang yang tidak mengetahui tujuan ia diciptakan, tak memiliki pathokan yang jelas dalam meniti hidup. Tak ada panduan arah yang bisa dipertanggungjawabkan, hingga ia akan terseok dan tertatih di belantara kesesatan.</p>
<p>Hanya ada tiga ’<em>guide’ </em>yang mungkin akan mereka percaya untuk memandu jalan. Pertama adalah hawa nafsu. Dia berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Apa yang diingini nafsu, itulah yang dilakukan. Kemana arah nafsu, kesitu pula dia akan berjalan. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan bengkok, betapa besar potensi ia terjungkal ke jurang kesesatan.</p>
<p>Pemandu jalan kedua adalah setan. Ketika seseorang tidak secara aktif mencari petunjuk sang Pencipta sebagai rambu-rambu jalan, maka setan menawarkan peta perjalanan. Ia pun dengan mudah menurut tanpa ada keraguan. Karena sekali lagi, dia tidak punya ’kompas’ yang bisa dipertanggungjawabkan dalam menentukan arah perjalanan. Sementara, peta yang disodorkan setan itu menggiring mereka menuju neraka yang menyala-nyala,</p>
<p><em>”Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.”</em> (QS. Fathir: 6)</p>
<p>Rambu-rambu ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran itu adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah <em>kiblat </em>dan barometer setiap tingkah laku dan perbuatan. Padahal,</p>
<p><em>”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”</em> (QS. al-An’am: 116)</p>
<p><strong>Misi Hidup yang Bukan Main</strong></p>
<p>Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung; agar mereka beribadah kepada-Nya. Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya; lembar catatan amal dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan.</p>
<p>Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua tercatat dengan detil dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetil itu, mereka berkata,</p>
<p><em>”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” </em>(QS. al-Kahfi: 49)</p>
<p>Sebelum peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk menjadikan hidup lebih berarti. Mudah-mudahan, fragmen singkat di bawah ini membantu kita untuk membangkitkan semangat itu.</p>
<p>Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur Anda sekarang ini?” Orang itu menjawab, “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau begitu, selama 60 tahun itu Anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan Allah, dan tak lama lagi perjalanan Anda akan sampai.”</p>
<p>“<em>Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un</em>,” tukas orang itu.</p>
<p>Fudhail kembali bertanya, ”Tahukah Anda, apa makna kata-kata yang Anda ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan jawaban.”</p>
<p>Orang itu bertanya, ”Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sedangkan kesempatan telah terlewat?”</p>
<p>Fudhail menjawab, ”Hendaknya Anda berusaha memperbagus amal di umur yang masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa lampau.”</p>
<p>Semoga kita mampu mengubah hidup kita, dari main-main, menjadi bukan main. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/02/hidup-bukan-untuk-main-main.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemburu Akhirat dan Pecandu Dunia</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/01/pemburu-akhirat-dan-pecandu-dunia.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/01/pemburu-akhirat-dan-pecandu-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2011 03:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ &#8220;Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/01/pemburu-ahirat.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-641" title="pemburu-ahirat" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/01/pemburu-ahirat.jpg" alt="" width="148" height="135" /></a>مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ</p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.&#8221; </em><em>(QS. </em>Asy-Syura: 20)</p>
<p>Semua manusia bergerak dan berusaha demi kenikmatan yang menjadi tujuan. Garis besarnya ada dua titik akhir yang diharapkan. Ada yang mengingini dunia sebagai terminal akhir perjalanan, ada pula yang menatap lebih jauh ke depan, mereka jadikan akhirat sebagai akhir perjalanan yang didambakan. Masing-masing titik tujuan, ada penggemarnya. Ada yang banting tulang demi nikmat dunia yang didamba, ada yang bekerja keras demi kejayaan hidup setelah dunia menjadi sirna. Sahabat Ali bin Thalib mengistilahkan dengan <em>abna’ul akhirah</em> dan <em>abna’ud dunya.</em> Beliau berkata setelah menyebutkan perbedaan karakter dunia dan akhirat,</p>
<p>وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ</p>
<p>“Masing-masing dari keduanya memiliki generasi (penggemar), maka jadilah generasi akhirat, dan janganlah menjadi generasi dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah tempat berjuang belum ada perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan, tidak ada lagi amal.” (Shahih al-Bukhari)</p>
<p><strong>Karakter Pemburu Akhirat</strong></p>
<p>Orang yang cerdas akan menjatuhkan pilihan akhirat sebagai negeri tujuan yang didambakan. Alasannya sangat kuat, tak ada satu celahpun keraguan hati yang melekat. Karena informasi bersumber dari al-Qur’an yang seratus persen akurat. Allah berfirman.</p>
<p><em>&#8221; Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.&#8221; </em> {Al-&#8217;Ala : 17}</p>
<p>Jenis kenikmatan yang tersedia terlampau hebat untuk dibayangkan. Masa mengenyam kelezatannya kekal tiada batasan. Hanya orang bodoh yang rela kehilangan, demi kenikmatan yang sangat sedikit, dengan durasi waktu yang sangat sempit.</p>
<p>Karena itulah, Nabi memberikan gelar al-kayyis, orang yang jenius bagi mereka yang mau mengevaluasi diri dan berbekal untuk hidup setelah mati.</p>
<p>Mereka rela mempertaruhakn apapun demi mendapatkan jannah yang dinanti. Mereka juga rela kehilangan berbagai kenikmatan syahwati yang bisa menjerumuskan ke dalam kesengsaraan abadi. Maka segala penderitaan apapun di dunia dia senantiasa berusaha untuk bersabar. Karena itu terlalu ringan dan singkat bila dibanding dengan siksa di akhirat. Allah berfirman,</p>
<p>“Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha 127)</p>
<p>Orang yang serius menjadi pejuang akhirat, pastilah banyak memikirkan dan mengingatnya. Seperti orang yang senang dengan hobi tertentu, pandangannya akan tertuju kepada apa yang menjadi kecenderungannya. Seperti para pekerja bangunan tatkala masuk ke dalam bangunan yang indah mempesona. Tukang batu akan memerhatikan dindingnya, tukang kayu akan mengamati kursi, almarai, pintu dan jendelanya.</p>
<p>Begitu pula keadaan orang yang hatinya terkait dengan akhirat. Tatkala melihat orang yang tidur, dia mengingat kematian, jika berada di kegelapan, dia ingat alam kubur, jika merasakan atau melihat kenikmatan, maka dia akan mengingat jannah.</p>
<p>Seperti Imam Hasan al-Bashri, tatkala dijamu dengan air yang dingin nan segar, seketika beliau terkejut dan pingsan. Setelah siuman, beliau ditanya, ”Ada apa dengan Anda wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab, “Aku teringat akan harapan penghuni neraka tatkala mereka berkata kepada penghuni jannah,</p>
<p>”Limpahkanlah kepada kami sedikit air, atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.” (QS al-A’raf 50)</p>
<p>Di zaman sahabat, ada Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu. Ketika ada jenazah lewat di depan beliau, llau beliau ditanya, “Jenazah siapa yang baru saja lewat itu?” Maka beliau menjawab, “Itu adalah kamu dan aku, tidakkah kamu membaca firman Allah,</p>
<p>“Sesungguhnya kamu mayit, dan mereka adalah mayit.”</p>
<p>Dan masih banyak lagi teladan yang menakjubkan dari para pemburu akhirat.</p>
<p><strong>Derita Para Pemuja Dunia</strong></p>
<p>Sebagaimana tersirat dalam ayat yang kita bahas, pemburu dunia akan mendapatkan kerugian besar dari dua sisi,</p>
<p><em>“dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.&#8221;(QS asy-Syuura 20)</em></p>
<p><em>Dia tidak mampu mengenyam semua kenikmatan dunia yang diidamkan, tidak pula sempat menikmati seluruh hasil jerih payah yang diusahakan. Dan yang lebih berat lagi, dia tidak mendapatkan kenikmatan apapun, atau kebahagiaan sedikitpun di akhirat. Laa haula wa laa quwwata illa billah.</em></p>
<p><em>Marilah kita simak perumpamaan para ulama yang makin memperjelas, betapa piciknya orang yang rela mengorbankan akhirat demi secuil kenikmatan dunia yang fana.</em></p>
<p>Perumpamaan pertama datang dari Bisyr bin al-Harits al-Hafi rahimahullah. Beliau berkata, Dunia itu laksana biji-bijian yang dikumpulkan semut di musim panas sebagai simpanan menghadapi musim dingin. Tanpa sadar, tatkala semut sedang asyik membawa sebutir biji di mulutnya, datanglah seekor burung yang mematuk sang semut beserta sebutir biji yang sedang dibawanya. Maka semut itu tak sempat menikmati makanan yang dikumpulkannya, tidak pula mendapatkan apa yang diharapkannya.” Terapkanlah permisalan tersebut, di mana biji-bijian itu adalah kenikmatan dunia, semut itu adalah manusia, sedangkan burung tersebut ibarat malakul maut. Betapa banyak manusia sibuk mengumpulkan harta, hingga kematian tiba-tiba menyergapnya di saat dia masih mengumpulkan dunianya, dan dia belum sempat mengenyam semua hasil jerih payahnya.</p>
<p>Perumpamaan kedua datang dari seorang ulama yang sangat faqih di Abad 6 H, Ibnu al-Jauzi rahimahullah. Beliau mengumpamakan dunia laksana perangkap yang ditebar di dalamnya biji-bijian. Sedangkan manusia ibarat seekor burung yang menyukai biji-bijian. Burung-burung itu hanya asyik menikmati bijian-bijian itu, tanpa menaruh waspada terhadap perangkap yang akan menjeratnya sekejap mata. Cukup jelas, pemburu dunia terperangkap kenikmatan yang menipu, akhirnya mendekam dalam kesengsaraan tanpa batasan waktu.</p>
<p>Perumpamaan yang lebih menohok dibuat oleh senior tabi’in, Imam penduduk Bashrah, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah. Beliau berkata, “Wahai anak Adam, pisau telah diasah, dapur api telah dinyalakan, sedangkan domba masih sibuk menikmati makanan.”</p>
<p>Ya, siksa telah disiapkan, tapi manusia masih terbuai dengan kenikmatan yang memperdayakan. Wallahul musta’an. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/01/pemburu-akhirat-dan-pecandu-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

