<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; ar-risalah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/author/Admin/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Peta Titik Lemah Jiwa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/peta-titik-lemah-jiwa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/peta-titik-lemah-jiwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 01:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[peta jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[titik lemah jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[titik lemah kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1069</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda. Celah-celah jiwa yang bakal diobservasi oleh setan guna mencari jalan untuk menguasai hatinya. Setelah ditemukan, hasil diagnosa akan dijadikan acuan untuk membuat formulasi penyesatan. Ada yang tidak mempan dengan minuman keras, tapi lemah menghadapi wanita, tapi ada pula yang sebaliknya. Ada yang kuat menahan godaan wanita, anti minuman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/peta-titik.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1042" title="peta-titik" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/peta-titik-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a>Setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda. Celah-celah jiwa yang bakal diobservasi oleh setan guna mencari jalan untuk menguasai hatinya. Setelah ditemukan, hasil diagnosa akan dijadikan acuan untuk membuat formulasi penyesatan.</p>
<p>Ada yang tidak mempan dengan minuman keras, tapi lemah menghadapi wanita, tapi ada pula yang sebaliknya. Ada yang kuat menahan godaan wanita, anti minuman keras, tapi lemah dalam menahan marah. Ada pula yang merupakan kombinasi dari dua kelemahan atau bahkan lebih. Sangat bervariasi. Jika diperinci, akan didapatkan list bermeter-meter panjangnya karena setiap manusia memiliki titik kelemahan atau kombinasi dari beberapa kelemahan hati dengan karakternya sendiri-sendiri. Namun begitu, celah paling lebarlah yang biasanya dijadikan fokus untuk menyuntikkan bisikan menyesatkan.</p>
<p>Titik-titik lemah tersebut dapat dikategorikan menjadi empat kategori didasarkan pada jenis-jenis dosa sebagai output yang dihasilkannya. Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayim al Jauziyah dalam bukunya <em>al Jawabul kafi</em>,bahwa dosa akan terklasifikasi menjadi empat tipe ditinjau dari kategori motif dasarnya. Empat klasifikasi itu adalah; Dosa malikiyah, dosa syaithoniyah, dosa siba’iyah dan dosa bahimiyah.</p>
<p>Dosa malikiyah adalah dosa-dosa yang berawal dari kelemahan jiwa berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya ke-maha-an. Kecenderungan hati pada perkara-perkara terkait kekuasaan, kesombongan,keinginan dipuja dan diagungkan, penghormatan yang bersifar hierarki atas-bawah, keinginan untuk mendominasi, atau menentang.</p>
<p>Outputnya adalah syirik. Baik syirik dalam bentuk menjadikan dirinya sebagai sesembahan selain Allah atau menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah. Ibnul Qayim memang tidak mencontohkan Firaun, namun Firaun sepertinya memang cocok menjadi salah satu contohnya. Keinginan untuk disembah, diagungkan membuatnya sesat dengan menuhankan diri sendiri. Para nabi palsu sepertinya juga termasuk golongan ini. Juga para pemimpin dan pejabat yang lalim, suka berebut kekuasaan, dan ingin agar dirinya atau hukumnya lebih ditaati daripada hukum Allah adalah spesies yang sama dengan Firaun.</p>
<p>Selanjutnya adalah dosa syaithoniyah. Jenis dosa yang bermula dari karakter buruk jiwa yang mirip dengan setan. Unsur-unsur yang menyusun sama dengan karakter dasar setan seperti; dengki, dusta dan suka menipu, khianat, culas, senang mengajak orang berbuat maksiat dan melakukan pelanggaran dan berbagai hal diluar tatanan juga bid’ah dan penyelewengan dalam agama.</p>
<p>Wujudnya adalah manusia-manusia yang tidak hanya senang melanggar,tapi juga mengajak orang lain untuk turut serta ‘menikmati’ pelanggaran. Barangkali mereka merasa ada yang kurang jika bermaksiat sendiri. Selain itu, jika semakin banyak yang ikut, kadangkala keburukan bisa dianggap hal yang wajar. Mereka pun tak perlu lagi merasa malu melakukannya.</p>
<p>Sebaliknya, terhadap orang-orang yang taat, kedengkian, olokan, celaan, dan hinaan adalah instrumen yang sering mereka jadikan alat pemuas diri. Bagi mereka, orang-orang taat adalah manusia-manusia sok suci yang suka menipu diri (maksudnya nafsu). Sebenarnya suka terhadap maksiat tapi pura-pura ogah dan benci.</p>
<p>Yang ketiga adalah dosa siba’iyah.  Jenis dosa yang muncul dari sifat-sifat binatang buas yang ada di dalam jiwa. Permusuhan, amarah, dendam, kekejaman dan kesewenangan dalam berbagai wujudnya. Para pembunuh, preman dan psikopat adalah contoh penampakan manusianya. Muncul dari kekerasan hati dan watak, kesombongan serta minimnya rasa belas kasihan menjadikan pemiliknya menjadi serigala-serigala buas yang mengerikan.</p>
<p>Dan yang terakhir adalah dosa bahimiyah. Yaitu dosa-dosa yang bersifat kebinatangan. Berkisar antara nafsu perut dan yang dibawah perut. Nafsu perut dilayani dengan pemuasan terhadap mulutnya dengan berbagai macam cara; riba, mencuri, korupsi, jual-beli yang haram atau dengan cara haram dan mengambil harta orang dengan curang. Nafsu di bawah perut adalah teman setia yang akan muncul bersamaan atau setelah nafsu perut terpuaskan.</p>
<p>Dosa-dosa ini muncul dari lemahnya jiwa manusia dari sisi syahwat, kemalasan dan ketidak pedulian pada kehormatan diri, kebodohan, dan minimnya rasa malu. Wujudnya adalah orang-orang malas yang gemar makan, para pezina, pengumbar aurat, koruptor, pemakan riba dan manusia-manusia yang memilih makan yang haram daripada yang halal hanya karena khawatir miskin, sengsara dan turun statusnya di mata orang.</p>
<p>Begitulah. Meskipun masih ada dosa yang tidak disebutkan, tapi jika dirunut, hulunya muncul dari keempat klasifikasi ini. Atau bisa juga merupakan kombinasi dari dua atau bahkan keempatnya. Seorang pemimpin lalim tidak sedikit yang juga terkena skandal dengan wanita, penggelapan uang atau konspirasi pembunuhan rival.</p>
<p>Yang paling jahat memang yang pertama dan tidak semua orang bisa atau berpeluang melakukannya. Sedang yang paling rendah dan jamak adalah yang terakhir. Namun begitu, klasifikasi terakhir juga dapat menjadi penyebab seseorang sampai pada taraf klasisifkasi dosa pertama.</p>
<p>Nah sekarang, keempat klasifikasi ini dapat menjadi peta penunjuk, dimana posisi kita sebenarnya. Kelemahan hati kita dapat kita diagnosis dari keburukan-keburukan yang kita lakukan. Mengetahui kelemahan sangatlah penting bagi yang ingin menjadi kuat. Karena mengetahui kelemahan diri adalah separuh dari kekuatan itu sendiri. Maka, mari berintrospeksi. Wallhua’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/peta-titik-lemah-jiwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komitmen Manusia tak Sempurna</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/komitmen-manusia-tak-sempurna.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/komitmen-manusia-tak-sempurna.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 05:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[abawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Pengikat hati itu adalah komitmen. Berawal dari sebuah keyakinan yang mantap, untuk kemudian berubah menjadi tindakan sadar yang bertanggung jawab. Salah satunya adalah bersiap menghadapi setiap tantangan yang menghadang, menaklukkan semua ujian yang datang, menyadari risiko yang ada, serta keadaan-keadaan yang tidak mengenakkan  lainnya. Maka, saat pilihan untuk menikah itu datang, kita mestinya sadar, sesadar-sadarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/komitmen-manusia.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1012" title="komitmen-manusia" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/komitmen-manusia-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pengikat hati itu adalah komitmen. Berawal dari sebuah keyakinan yang mantap, untuk kemudian berubah menjadi tindakan sadar yang bertanggung jawab. Salah satunya adalah bersiap menghadapi setiap tantangan yang menghadang, menaklukkan semua ujian yang datang, menyadari risiko yang ada, serta keadaan-keadaan yang tidak mengenakkan  lainnya.</p>
<p>Maka, saat pilihan untuk menikah itu datang, kita mestinya sadar, sesadar-sadarnya malah, bahwa jalan yang terbentang di depan sana sangat terjal dan berliku. Penuh onak dan duri, serta tak sepi dari air mata. Konflik, pendidikan, finansial, ipar dan mertua, tetangga, dan karir, adalah di antaranya. Bukankah kita tidak sedang bermimpi, namun hidup di alam nyata?</p>
<p>Tidak ada –kecuali Allah menghendaki- hal yang kita temui dalam hidup, seluruhnya mulus tanpa hambatan. Indah seperti impian, manis laksana khayalan. Namun yang ada adalah hal-hal tak terduga berbeda dengan rencana. Juga fakta-fakta mengejutkan yang seringkali, nyaris membuat kita frustasi dan putus asa. Mimpi sedih yang menjadi nyata.</p>
<p>Romantisme cinta yang indah itu bisa jadi tidak ada dalam kehidupan nyata. Kalaupun ada, ia tidaklah kekal. Serupa kisah cinta dalam film yang hanya berdurasi 2 sampai 3 jam. Ia akan usai dan pergi bersama kenangan indah yang tidak menjejak bumi. Hasrat yang menggebu-gebu itu telah berlalu. Keindahan ragawi dan hal-hal lain yang pernah membuat kita mabuk telah berubah bentuk. Fluktuasi rasa yang timbul tenggelam, tinggi rendah, menguat dan melemah menguapkan kemesraan dan menipiskan kasih sayang.</p>
<p>Dan kini, tinggallah komitmen akan nilai-nilai yang dipegangi. Komitmen yang membuahkan kesabaran menjalani hari-hari sulit, juga kelapangan dada saat menemukan si dia yang sesungguhnya. Karena kita tidak lagi berbicara tentang wajah yang indah, yang telah berubah. Tentang raga yang kini memulai lemah karena tua. Tentang harta yang bisa binasa. Atau tentang pangkat dan kedudukan yang bisa saja tak lagi ada.</p>
<p>Keinginan menjadi hamba Allah yang baik, memanfaatkan usia yang tak lagi belia, memproduktifkan waktu yang terus melaju, kesemuanya dalam keshalihan amal dan tetap berhusnuzhan kepada-Nya. Hal-hal seperti inilah yang akan melahirkan komitmen. Dalam pernikahan, ia berarti komitmen untuk menyelamatkan biduk rumah tangga; memastikan tercapainya tujuan, peduli kepada setiap penumpang yang ada, juga kesediaan kita untuk mengatur prioritas agar keluarga mendapatkan haknya.</p>
<p>Kita berkomitmen menjadi kepala keluarga; suami dan ayah yang baik, istri-istri kita berkomitmen untuk menjadi pendamping suami dan ibu yang baik. Kesetiaan terhadap tugas dan fungsi, nilai, capaian yang lebih tinggi, misalnya, ridha Allah dan anak-anak yang shalih shalihah.  Hal-hal seperti itu yang mestinya lebih kita utamakan daripada sibuk mempersoalkan hal-hal sepele yang menyesakkan dada. Membuat kita tidak terima, menyalahkan Allah atas takdir-Nya, atau berkeluh kesah alih-alih bersyukur atas nikmatNya.</p>
<p>Jangan merendahkan diri dengan bangunan iman yang goyah dan nyaris runtuh hanya karena masalah-masalah remeh temeh. Sebaris gigi berbaris rapi dalam senyum yang menawan, kerlingan mata, ajakan berkenalan yang kemudian berujung pada perselingkuhan, atau kesibukan tak jelas yang melalaikan. Di mana para qawwam keluarga yang teduh dan berwibawa itu? Kenapa kita menjadi kanak-kanak yang tidak pernah mau berhenti bermain-main, sedang pertaruhannya sedemikian besar?</p>
<p>Ruh ibarat jalur frekwensi radio. Jika berada pada gelombang yang sama, ia akan terhubung dan merasa nyaman, satu dengan yang lain. Lalu, apakah yang menyamankan diri kita saat bersama istri-istri kita? Keshalihan yang merupakan sebaik-baik harta dunia, atau sekedar tubuh langsing yang nyaris tanpa cela? Pada apa yang membuat kita nyaman, di situlah nilai kita sesungguhnya.</p>
<p>Kecerewetan kita kepada hal-hal yang tidak substansial, komitmen yang rendah terhadap penjagaan keluarga, serta ketidakpedulian akan perasaan mereka, justeru, menunjukkan seberapa sebenarnya nilai kita. Siapa diri kita sesungguhnya.</p>
<p>Bahwa dalam perjalanan berkeluarga kita akan merasakan lelah, lemah, dan bosan, ya, itu sangat besar kemungkinannya. Dan itu bisa sangat menyita perhatian dan menguras energi. Namun kita, insyaallah, akan dengan mudah bangkit kembali jika hal itu karena rutinitas yang padat, jadwal yang ketat, atau tekanan yang berat. Bukankah hal ini sangat manusiawi? Penat setelah bekerja berat.</p>
<p>Akan halnya kebosanan dan kelelahan yang muncul karena penolakan terhadap pasangan, terhadap ‘kerja’ sebagai kepala keluarga, sangat lain keadaannya. Alih-alih pulih dan bersemangat memulai kerja baru, seluruh yang kita rasakan adalah kelelahan itu sendiri. Kehidupan berkeluarga jadi hambar, kehilangan daya tarik, terasa menyiksa, penuh tekanan dan intimidasi. Ada perbedaan mendasar antara lelah setelah bekerja dengan lelah di saat bekerja.</p>
<p>Maka, daripada sibuk menolak pasangan, lebih baik kita menerima kekurangannya kemudian fokus melakukan perbaikan yang diperlukan. Dan berharap semoga semuanya menjadi amal shalih kita di sisi-Nya. Karena kita memang manusia yang tidak sempurna, maka kita harus berkomitmen untuk saling mendukung bergandengan tangan di jalan berliku. Ta’awun ‘alal birri wat taqwa!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/07/komitmen-manusia-tak-sempurna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepupu Boleh Dinikahi</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/07/sepupu-boleh-dinikahi.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/07/sepupu-boleh-dinikahi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 03:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya-jawab]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sepupu]]></category>
		<category><![CDATA[nikahi sepupu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang tua yang masih berkeyakinan bahwa sepupu dari pihak ayah adalah mahram (tidak boleh dinikahi), bernarkah itu? Anggapan bahwa sepupu dari keturunan ayah adalah mahram merupakan suatu kesalahan. Hal ini disebabkan kurang kritisnya dalam mengkoreksi pemahaman yang pernah didapat dari orang tua dan guru atau kemungkinan yang lain adalah kurangnya pendalaman keilmuan Islam, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/sepupu-boleh.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-976" title="sepupu-boleh" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/sepupu-boleh-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Banyak orang tua yang masih berkeyakinan bahwa sepupu dari pihak ayah adalah mahram (tidak boleh dinikahi), bernarkah itu?</p>
<p>Anggapan bahwa sepupu dari keturunan ayah adalah mahram merupakan suatu kesalahan. Hal ini disebabkan kurang kritisnya dalam mengkoreksi pemahaman yang pernah didapat dari orang tua dan guru atau kemungkinan yang lain adalah kurangnya pendalaman keilmuan Islam, maka otomatis berakibat fatal, orang-orang yang sebenarnya bukan mahram dianggap sebagai mahramnya.</p>
<p>Allah SWT memberikan penjelasan tentang mahram dengan sebab keturunan dalam firman-NYa :</p>
<p><em>“Katakanlah kepada wanita yang beriman, &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka”</em>(QS. An-Nur: 31).</p>
<p>Para ulama&#8217; tafsir menjelaskan bahwalelaki yang menjadi mahram (dengan sebab nasab) bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu:<br />
1. Ayah<br />
Termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahram bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahram berdasarkan firman Allah Ta&#8217; ala:</p>
<p><em>&#8220;Dan All</em><em>a</em><em>h tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu&#8221;</em> (QS. Al-Ahzab : 4)<br />
2. Anak laki-laki<br />
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahram berdasar pada keterangan di atas.<br />
3. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.<br />
4. Anak laki-laki  dari saudara (atau disebut keponakan), baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka.</p>
<p>Dari ayat diatas tidak disebutkan sepupu/anak paman (baik dari jalur bapak maupun ibu) sebagai mahram. Maka sepupu boleh dinikahi dan bukan mahram. Jadi hukum sepupu seperti hukum non mahram, misalnya tidak boleh <em>khalwat</em>, berjabat tangan dan menampakkan sebagian aurat yang biasa ditampakkan di depan mahram.</p>
<p>Wallahu A’lam bis Shawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/07/sepupu-boleh-dinikahi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Penting Baik dan tidak Mengganggu</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/yang-penting-baik-dan-tidak-mengganggu.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/yang-penting-baik-dan-tidak-mengganggu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 06:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak manusia]]></category>
		<category><![CDATA[bertetangga]]></category>
		<category><![CDATA[habluminallah]]></category>
		<category><![CDATA[habluminannas]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tidak mengganggu]]></category>
		<category><![CDATA[yang penting baik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=999</guid>
		<description><![CDATA[Wasiyat Allah agar manusia masuk islam secara kafah (total) benar-benar harus dicamkan baik-baik. Berislam secara kafah berarti berusaha memahami dan melaksanakan Islam secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong (parsial). Memahami Islam secara parsial tidak akan membawa seseorang sampai kepada kebenaran yang hakiki. Sebaliknya sangat berpotensi menjerumuskan kepada kesesatan karena pemahaman yang timpang.Ibarat merawat kendaraan, yang dirawat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/yang-penting-baik.jpg" mce_href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/yang-penting-baik.jpg"><img src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/yang-penting-baik-150x150.jpg" mce_src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/yang-penting-baik-150x150.jpg" alt="" title="yang-penting-baik" class="alignleft size-thumbnail wp-image-978" height="150" width="150"></a>Wasiyat Allah agar manusia masuk islam secara kafah (total) benar-benar harus dicamkan baik-baik. Berislam secara kafah berarti berusaha memahami dan melaksanakan Islam secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong (parsial). Memahami Islam secara parsial tidak akan membawa seseorang sampai kepada kebenaran yang hakiki. Sebaliknya sangat berpotensi menjerumuskan kepada kesesatan karena pemahaman yang timpang.Ibarat merawat kendaraan, yang dirawat hanya salah satu bagian saja tanpa memedulikan yang lain.</p>
<p>Sayangnya, tidak sedikit umat islam yang terjebak dalam pemahaman seperti ini. Misalnya persepsi sebagian orang yang hanya menititikberatkan pada sisi mu’amalah saja. Berdasarkan ungkapan “<i>ad dienu mu’amalah</i>” (agama adalah baiknya interaksi), tidak sedikit yang menyederhanakan pelaksanaan islam hanya pada aspek keharmonisan hubungan antar sesama dan mengabaikan sisi yang lain.</p>
<p>Saat melihat banyak polemik seputar jilbab, dakwah, amar makruf nahi mungkar dan gelora semangat dalam menjalankan Islam, mereka pun berujar “Jadi orang Islam itu nggak perlu macam-macam, yang penting baik pada orang lain, selesai.” Biasanya, statemen ini akan ditambahi dengan nukilan beberapa kasus yang seakan membenarkan persepsi semacam ini. Misalnya, seseorang yang rajin shalat tapi masih suka mencuri, rajin ngaji tapi gemar menggunjing atau wanita berjilbab tapi suka berkata kasar dan menyakiti tetangga. Jadi, shalat dan jilbab ternyata tidak menjadikan seseorang menjadi baik.</p>
<p><b>Hanya salah satu unsur islam</b></p>
<p>Tak dipungkiri bahwa berbuat baik pada sesama merupakan salah satu unsur penting dalam ajaran islam. Rasulullah bersabda,</p>
<p>الْمُسْلِمُمَنْسَلِمَالْمُسْلِمُونَمِنْلِسَانِهِوَيَدِهِ</p>
<p>“ Seorang muslim sejati adalah yang mampu membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (Hr. Bukhari Muslim)</p>
<p>Hanya saja, hal ini hanyalah salah satu&nbsp; aspek dari Islam sebagai sebuah ajaran yang menyeluruh dan sangat luas. Menitikberatkan Islam hanya pada baiknya hubungan pada sesama dan &nbsp;mengabaikan hal-hal lain jelas telah membonsai Islam menjadi ajaran yang kerdil dan sempit.Apa jadinya jika semua muslim hanya menganggap Islam hanyalah baiknya hubungan dengan sesama?</p>
<p>Kalau dicermati, persepsi semacam itu sebenarnya hanyalah kedok dari keengganan melaksanakan Islam secara menyeluruh. Utamanya adalah bagian-bagian ajaran Islam yang hari ini tengah mendapat banyak cobaan berupa stigma buruk dan penentangan seperti jilbab, jenggot, dakwah dan jihad. Dengan memenangkan hati bahwa inti islam adalah baiknya hubungan dengan manusia, seseorang merasa tidak perlu lagi menjalankan perintah-perintah agama yang dianggap tak lebih dari sekadar simbol-simbol agama.</p>
<p>Pemahaman semacam ini makin kacau dengan penafsiran ‘baik dan tidak mengganggu orang lain” yang rancu. Baik dan tidak mengganggu yang dimaksud adalah ketika satu sama lain bisa saling mengerti dan merasa nyaman dan aman atas apapun yang dilakukan, termasuk saat melanggar syariat. Kalau benar Islam adalah agama yang substansinya hanya seperti ini, maka Islam tak layak disebut agama karena pada dasarnya seluruh manusia sudah memiliki konsep seperti itu, baik dan tidak saling mengganggu.</p>
<p>Padahal mengacu pada aspek amar makruf nahi mungkar, kadangkala ‘mengganggu orang lain’ jusrtu merupakan gambaran kebaikan yang sesungguhnya. Seseorang yang ‘mengganggu’ pasangan yang tengah berpacaran, selingkuh, minum miras, asyik bermain dan lupa shalat dan pelanggaran syariat yang lain dengan cara memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan adalah dosa, pada dasarnya bukanlah mengganggu tapi justru tengah berbuat baik. Bukankah Rasulullah bersabda:</p>
<p>انْصُرْأَخَاكَظَالِمًاأَوْمَظْلُومًا» . قَالُوايَارَسُولَاللَّهِهَذَانَنْصُرُهُمَظْلُومًا،فَكَيْفَنَنْصُرُهُظَالِمًاقَالَ«تَأْخُذُفَوْقَيَدَيْهِ</p>
<p>“Tolonglah saudaramu yang dizhalimi atau yang berbuat dzalim.” Shahabat bertanya, “ wahai Rasulullah bagaimana kami menolong yang berbuat dzalim?” rasulullah menjawab, “ engkau cegah dia dari melakukan kedzaliman.” (HR. Bukhari)</p>
<p><b>Urusan personal</b></p>
<p>Kemudian, mengenai seorang muslim yang rajin shalat atau berjilbab tetapi masih saja mengganggu orang lain, sifatnya sangat kasusitik dan lebih merupakan kesalahan personal. Menarik kasus-lasus semacam ini untuk kemudian disimpulkan bahwa shalat dan jilbab bukanlah hal substansial karena tak membuat seseorang baik adalah kesimpulan yang sangat tidak cerdas dan sama sekali tidak bisa diterima.</p>
<p>Bahkan standar minimal seseorang disebut islam bukanlah baik kepada orang lain tapi shalat. Sebaik apapun seseorang pada sesama tapi tidak shalat, dia sama buruknya bahkan lebih buruk keislamannya dari yang rajin shalat tapi masih mencuri. Rasulullah bersabda, “ Batas antara kami (orang beriman) dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, sesiapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” (Hr. an Nasa’i).</p>
<p><b>Hablum minallah hablum minannas</b></p>
<p>Lebih dari itu Islam adalah poros yang mengatur hubungan dua arah; kepada Allah dan kepada sesama. Aspek yang paling prioritas adalah hubungan kepada Allah. Yaitu berusaha untuk selalu melaksanakan perintah-perintah berkaitan dengan ibadah dan hubungan langsung dengan sang Pencipta. Seiring dengan itu, menjalin hubungan dengan manusia dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan Islam.</p>
<p>Jadi, Islam bukanlah ‘yang penting berbuat baik pada orang lain dan tidak mengganggu” tapi berbat baik dan tidak menggangu itu penting karena merupakan bagian dari Islam. Wallahua’lam.(taufik.a)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/yang-penting-baik-dan-tidak-mengganggu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takwa, Bekal Terbaik</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/takwa-bekal-terbaik.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/takwa-bekal-terbaik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 07:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bekal terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab shahih muslim terdapat sebuah kisah ajaib. Dahulu kala, ada seorang yang sedang dalam safar mendengar suara dari langit. “Siramilah kebun si fulan!” Tak lama kemudian,gelombang awan mulai menggumpal dan bergerak. Awan itu memuntahkan hujan di hamparan tanah berbatu. Karena penasaran iapun mengejar awan tersebut dan mendekati tempat dimana hujan tersebut jatuh. Dia melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kitab shahih muslim terdapat sebuah kisah ajaib. Dahulu kala, ada seorang yang sedang dalam safar mendengar suara dari langit. “Siramilah kebun si fulan!” Tak lama kemudian,gelombang awan mulai menggumpal dan bergerak. Awan itu memuntahkan hujan di hamparan tanah berbatu. Karena penasaran iapun mengejar awan tersebut dan mendekati tempat dimana hujan tersebut jatuh.</p>
<p>Dia melihat seorang petani mencangkul tanah guna menadah air hujan agar bisa mengairi kebunnya. Lantas ia bertanya kepada petani itu, “siapa nama anda?” “Saya fulan. Kenapa anda menanyakan nama saya?” tanya petani. Ia menjawab, “Aku mendengar suara dari atas awan yang mengatakan, siramilah kebun si Fulan. Apakah yang anda lakukan?” “Karena kamu menanyakan aku akan menjawabnya. Setiap kali kebun ini panen, saya mensedekahkan sepertiganya, aku makan sepertiganya dan sepertiga sisanya aku gunakan sebagai bibit.”</p>
<p>Sekilas, kisah di atas ibarat dongeng yang tidak nyata. Jika bukan karena riwayat dari Rasulullah SAW, mungkin kita tidak mempercayainya. Tapi, kisah itu memang benar-benar terjadi. Ternyata, takwa yang berwujud dalamamal shalih yang biasa dikerjakan hamba dapat menjadi faktor datangnya rizki dan kemudahan.</p>
<p>Sebenarnya, suatu keberhasilan atau keinginan bisa terwujud karena Allah lah yang menentukan itu terjadi. Bisa jadi, karena seeorang telah menggenapi sunnah kauniyahnya ataupun karena faktor amal shalih, doa atau takwa. Allah SWT berfirman, “<em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar</em>.” (QS. At-Thalaq: 2)</p>
<p>Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, seorang muslim yang bertakwa, menjaga aturan-aturan Allah SWT dan menjaga hak-hakNya seperti orang yang sedang menabung kemudahan.  Ia dapat menarik saldonya saat lapang maupun saat susah. Bahkan kemudahan-kemudahan itu akan tiba dengan cara yang tidak ia duga dan tanpa membutuhkan usaha keras.</p>
<p>Apa yang terjadi tersebut semata-mata pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang tejadi pada shahabat khubaib bin adi pada waktu dipenjara di Makkah. Seorang wanita Quraisy melihatnya sedang memakan anggur, padahal saat itu bukan musim anggur. Lalu, dari manakah anggur tersebut berasal? Tentu itu adalah pertolongan Allah SWT <em>min haitsu la yahtasib</em> atau dengan cara yang tak terduga.</p>
<p>Karena itu, amal shalih ibarat investasi yang tak pernah merugi. Minimal ada dua manfaat besar yang dapat dipetik dari takwa. Pertama, taat menjalankan perintah Allah SWT menjadi faktor yang menyebabkan manusia selamat dari api neraka dan mengantarkannya menuju jannah yang penuh nikmat. Dengan kata lain, manfaat untuk kehidupan di akhirat.</p>
<p>Selain rahmat Allah SWT, amal shalih merupakan syarat untuk masuk jannah. Karena itu, manusia yang mengabaikan atau menyepelekan amanat tersebut pasti mendapatkan hukuman atas ketidakseriusannya. Kadang hukuman tersebut menimpanya di dunia, kadang di akhirat. Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk atau hidayah agar tetap dapat konsisten dalam menjalankan ketentuan Allah SWT. Selain itu, manusia juga membutuhkan tawakkal dan maunah-Nya. Sebab, <em>La haula wala quwwata illa billah</em>, tidak ada kekuatan yang dapat merealisasikan dan menolak sesuatu tanpa bantuan-Nya. Yusuf bin Asbath mengatakan, “kerjakan amal shalih seperti orang celaka yang tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali amal shalihnya. Bertawakallah seperti orang yang yang tidak akan mengalami takdir selain yang telah ditulis akan terjadi.”</p>
<p>Kedua, manusia harus memenuhi <em>asbab</em> agar kebutuhannya terpenuhi. Seperti makan saat merasa lapar, minum kala haus, berteduh dari panas matahari dan memakai mantel saat udara dingin. Semua manusia terikat dengankebutuhan ini. Tentunya, jika ada orang yang tidak memenuhinya ia mengundang madharat bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Saat lahir, manusia normal dibekali dengan badan yang memiliki masa kadaluarsa.Selama ia menjaga kesehatannya dengan baik, jasad tersebut diperkirakan bisa awet untuk beberapa puluh tahun, atas izin Allah SWT. Tapi, bila ia tidak memenuhi standar perawatan tubuh, organ-organ tersebut akan mengalami degradasi mutu dan rusak lebih cepat.</p>
<p>Dalam berberapa kasusAllah SWT membuat sejumlah orang dapat keluar dari sunnah tersebut di atas. Meski mereka tidak memenuhi standar kebutuhan fisik, tetap mampu beraktifitas secara normal. Bagi orang yang ‘luar biasa’ tersebut, Kekuatan fisiknya ditunjang dengan ruhiyah yang kuat. Orang lain belum tentu bisa menerapkannya. Misalnya, Abdullah bin Zubair dan Abu Jauza’ yang bisa makan sekali dalam seminggu. Ada pula cerita bahwa Ibrahim At-Taimi tidak makan dua bulan, hanya mengandalkan minuman manis. Sebagian salaf juga ada orang yang tidak terpengaruh dengan cuaca. Seperti Ali bin Abi Thalib yang memakai baju musim panas di waktu musim dingin dan sebaliknya. Hal tersebut terjadi karena Rasulullah SAW pernah berdoa agar Allah SWT membuatnya tahan menghadapi panas dan dingin. Dengan asupan makan atau minum yang hanya sedikit mereka tetap dapat memenuhi kebutuhan ibadah yang Allah SWT wajibkan kepada mereka.</p>
<p>وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى</p>
<p>“<em>Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa</em>.” (QS. Al-Baqarah: 197)</p>
<p>Semakin orang bertakwa kepada Allah SWT, semakin ia merasa membutuhkan Allah SWT. Apa yang dikerjakannya dengan maksimal hanyalah sunnah kauniyah yang menjadi tugasnya sebagai manusia. hasil akhir, ada tangan Allah SWT. Takwa dalam kontens ini mencakup dua hal, pertama amal yang sebagai wujud taat kepada-Nya. Kedua, Tawakkal dengan hati sebagai wujud iman kepadanya. Karena itu seorang muslim yang sempurna takwanya tidak takut akan hari esok. Meskipun penuh misteri, ia yakin Allah SWT akan memudahkan takdirnya. Umar bin abdul aziz mengatakan, setiap pagi menjelang aku selalu bahagia terhadap qadha dan takdir yang akan terjadi.<em>Wallahu A’lam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/06/takwa-bekal-terbaik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sunnah Fajar Terlambat</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/05/shalat-sunnah-fajar-terlambat.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/05/shalat-sunnah-fajar-terlambat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 02:41:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya-jawab]]></category>
		<category><![CDATA[shalat fajar]]></category>
		<category><![CDATA[sunah fajar terlambat]]></category>
		<category><![CDATA[terlambat shalat fajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Tanya ustadz, bila ketinggalan jama’ah shalat shubuh di masjid, sebaknya shalat sunnah qabliyah dulu kemudian shalat shubuh sendiri, atau langsung shalat shubuh baru kemudian mengqadha’ sunnah qabliyah shubuh, dan kapan waktu yang diperbolehkan mengqadha’ qabliyah shubuh? mengingat ada larangan shalat seusai melaksanakan shalat shubuh? jazakumullah atas jawabannya. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/shalat-fajar-terlambat.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-869" title="shalat-fajar-terlambat" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/shalat-fajar-terlambat-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh</em></p>
<p>Tanya ustadz, bila ketinggalan jama’ah shalat shubuh di masjid, sebaknya shalat sunnah qabliyah dulu kemudian shalat shubuh sendiri, atau langsung shalat shubuh baru kemudian mengqadha’ sunnah qabliyah shubuh, dan kapan waktu yang diperbolehkan mengqadha’ qabliyah shubuh? mengingat ada larangan shalat seusai melaksanakan shalat shubuh? jazakumullah atas jawabannya.</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Was<em>salamualaikum warahmatullah wabarakatuh</em></p>
<p>Jawab:</p>
<p>Wa’alaikumsalam warahmatullah wabaraokatuh.</p>
<p><em>B</em><em>ismillah walhamdulillah wassholatu wassalamau ‘ala ra</em><em>sulillah. Waba’du,</em></p>
<p>Shalat sunnah qabliyah shubuh atau shalat fajar merupakan sunnah rawatib yang sangat dianjurkan untuk dilakukan mengingat sabda Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahihnya dengan sanadnya dari ‘Aisyah <em>radiyallahu &#8216;anha</em>:</p>
<p>&#8220;Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.&#8221;</p>
<p>Dan waktu pelaksanaan shalat sunnah rawatib adalah sebagaimana yang dijelaskan olehImam Ibnu Qudamah dalam  kitab <em>al Mughni</em>(1/799) : “Setiap sunah qabliyah waktunya adalah ketika masuk waktu shalat sampai sebelum shalat wajib dilakukan, dan sunnah ba’diyah waktunya adalah setelah shalat wajib dilakukan sampai habisnya waktu shalat tersebut.”</p>
<p>Maka bagi siapa saja yang ketinggalan jama’ah shubuh atau seorang wanita yang shalat di rumah apabila bangunnya agak terlambat dari awal waktu shubuh, sebaiknya shalat sunnah qabliyah terlebih dahulu baru kemudian shalat shubuh, demikian fatwa dariSyaikh Utsaimin (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin 14/204 no soal 868). Bahkan ketika bangun dan matahari telah terbit sebaiknya sunah qabliyah dulu baru shalat shubuh, hal ini mengacu pada hadits shahih yang diriwayatkanImam Nasa`i dalam Sunannya dengan sanadnya dari sahabat Abu maryam <em>radiyallahu &#8216;anhu</em>, ia berkata :</p>
<p><em>“Kami dahulu pernah bersama Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em><em>dalam satu perjalanan, kami berjalan di malam hari. Ketika menjelang waktu subuh, Rasulullah </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em><em>berhenti dan tidur, dan orang-orang pun ikut tidur.</em><em>B</em><em>eliau bangun setelah matahari terbit. Lalu Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em><em> memerintahkan mua</em><em>d</em><em>zin (untuk bera</em><em>d</em><em>zan) </em><em>dan </em><em>ia (muadzin) mengumandangkan a</em><em>d</em><em>zan, kemudian beliau </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em><em>shalat dua rakaat sebelum shalat subuh, </em><em>setelah itu</em><em> memberi perintah pada mua</em><em>d</em><em>zin, lalu sang mua</em><em>d</em><em>zin iqamah, l</em><em>antas</em><em> beliau </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em><em>mengimami orang-orang (shalat subuh)</em><em>.”</em></p>
<p>Adapun bila seseorang terlambat berjama’ah shubuh lalu ia mendapati satu raka’at bersama imam dan ia belum melaksanakan shalat sunnah qabliyah shubuh, maka boleh baginya untuk mengqadha’ setelah shalat shubuh atau setelah matahari terbit (waktu dhuha). Ini berdasarkan hadits shahih dalam Sunan Tirmidzi, yaitu kisah sahabat Qais <em>radiyallahu &#8216;anhu </em>yang mengqadha’ shalat qabliyah subuh setelah selesai mengerjakan shalat subuh berjamaah bersama Rosul <em> </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>, dan Rosul <em> </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>tidak mengingkarinya. Adapun dalil kedua juga terdapat dalam sunan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah <em>radiyallahu &#8216;anhu </em>secara marfu’ bahwa Rasulullah <em> </em><em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda : “Barang siapa yang belum mengerjakan dua rakaat fajar maka kerjakanlah setelah matahari terbit”.Wallahu Ta’ala a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/05/shalat-sunnah-fajar-terlambat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Andai yang Dilantunkan adalah Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/02/andai-yang-dilantunkan-adalah-al-quran.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/02/andai-yang-dilantunkan-adalah-al-quran.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Feb 2011 01:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[al-qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[lantunan al-qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Imam adz-Dzahabi dalam Kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menceritakan kisah taubatnya Zaadzan Abu Amru al-Kindy, seorang ulama senior di kalangan tabi’in, “Dari Abu Hasyim berkata, “Zaadzan pernah bercerita, “Dahulu aku adalah seorang pemuda yang memiliki suara merdu dan terampil dalam memainkan thanbuur (semacam gitar-pen). Seperti biasa, aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, ditemani dengan arak dan khamr, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/02/andai-yg-dilantukan-alqura.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-741" title="andai-yg-dilantukan-alqur'a" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/02/andai-yg-dilantukan-alqura-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Imam adz-Dzahabi dalam Kitabnya <em>Siyar A’lam an-Nubala’</em> menceritakan kisah taubatnya Zaadzan Abu Amru al-Kindy, seorang ulama senior di kalangan tabi’in,</p>
<p>“Dari Abu Hasyim berkata, “Zaadzan pernah bercerita, “Dahulu aku adalah seorang pemuda yang memiliki suara merdu dan terampil dalam memainkan <em>thanbuur</em> (semacam gitar-pen). Seperti biasa, aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, ditemani dengan arak dan khamr, sementara aku mendendangkan lagu dan memetik gitarku untuk kawan-kawanku. Ketika itu, Abdullah bin Mas’ud lewat dan memergoki kami. Serta merta beliau memecahkan botol khamr dan gitar, kemudian berkata, “Andai saja yang diperdengarkan dari merdunya suaramu adalah al-Qur’an…”</p>
<p>(versi lain menyebutkan bahwa yang memecahkan botol dan gitar itu adalah Zaadzan sendiri setelah menyadari keteledorannya-pen)</p>
<p>Setelah Ibnu Mas’ud beranjak pergi, aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapakah orang itu?” Mereka menjawab, “Beliau adalah Ibnu Mas’ud, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”</p>
<p>Lalu saya memutuskan diri untuk bertaubat, aku mengejar beliau sambil menangis. Aku memegangi ujung bajunya dan berdiri di hadapan beliau, lalu kukatakan, “Demi Allah, aku bertaubat dari apa yang telah kukerjakan dan dari memusuhi Rabbku, aku benar-benar ingin bertaubat!”</p>
<p>Ibnu Mas’ud juga ikut menangis haru dan berkata, “Marhaban, selamat datang sebagai orang yang dicintai oleh Allah ta’ala. Selamat datang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.”</p>
<p>(Siyaru A’lam an-Nubalaa’, Imam adz-Dzahabi)</p>
<p>Pada gilirannya, beliau menjadi seorang imam dan qari’ setelah tadinya sebagai pemusik dan penyanyi. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang meriwayatkan hadits.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/02/andai-yang-dilantunkan-adalah-al-quran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersin dan Menguap Saat Shalat</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/12/bersin-dan-menguap-saat-shalat.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/12/bersin-dan-menguap-saat-shalat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 00:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya-jawab]]></category>
		<category><![CDATA[bersin]]></category>
		<category><![CDATA[menguap saat shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Ustadz, saya mau tanya, apakah orang yang bersin dan menguap ketika shalat boleh mengucapkan alhamdulillah dan ta’awudz? Syukran atas jawabannya. Dari Abdullah di Semarang Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz menjelaskan dalam salah satu fatwanya bahwa, apabila seseorang bersin saat shalat, ia boleh mengucapkan alhamdulillah. Hanya saja kalau ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/bersin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-566" title="bersin" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/bersin.jpg" alt="" width="200" height="156" /></a>Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. </em></p>
<p>Ustadz, saya mau tanya, apakah orang yang bersin dan menguap ketika shalat boleh mengucapkan alhamdulillah dan ta’awudz?</p>
<p>Syukran atas jawabannya.</p>
<p>Dari Abdullah di Semarang</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh</em></p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Bazz menjelaskan dalam salah satu fatwanya bahwa, apabila seseorang bersin saat shalat, ia boleh mengucapkan alhamdulillah. Hanya saja kalau ada yang mendengar tidak boleh turut mendoakan dengan “yarhamukallah”.</p>
<p>Rasulullah bersabda,</p>
<p>عَنْمُعَاوِيَةَبْنِالْحَكَمِالسُّلَمِيِّقَالَصَلَّيْتُمَعَرَسُولِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَعَطَسَرَجُلٌمِنْالْقَوْمِفَقُلْتُيَرْحَمُكَاللَّهُفَرَمَانِيالْقَوْمُبِأَبْصَارِهِمْفَقُلْتُوَاثُكْلَأُمِّيَاهُمَاشَأْنُكُمْتَنْظُرُونَإِلَيَّفَجَعَلُوايَضْرِبُونَبِأَيْدِيهِمْعَلَىأَفْخَاذِهِمْفَعَرَفْتُأَنَّهُمْيُصَمِّتُونِيفَقَالَعُثْمَانُفَلَمَّارَأَيْتُهُمْيُسَكِّتُونِيلَكِنِّيسَكَتُّقَالَفَلَمَّاصَلَّىرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِأَبِيوَأُمِّيمَاضَرَبَنِيوَلَاكَهَرَنِيوَلَاسَبَّنِيثُمَّقَالَإِنَّهَذِهِالصَّلَاةَلَايَحِلُّفِيهَاشَيْءٌمِنْكَلَامِالنَّاسِهَذَاإِنَّمَاهُوَالتَّسْبِيحُوَالتَّكْبِيرُوَقِرَاءَةُالْقُرْآنِ</p>
<p>Dari Mu&#8217;awiyah bin Al Hakam As Sulami dia berkata; Saya shalat bersama Rasulullah SAW, lalu ada seseorang yang bersin, maka aku mengucapkan; &#8220;<em>Yarhamukalah</em> (semoga Allah merahmatimu) &#8220;karena itu orang-orang mengalihkan pandangannya kepadaku, maka aku berkata; &#8220;Celaka, kenapa kalian memandang kepadaku?&#8221; Kemudian mereka menepukkan tangan ke paha mereka, sehingga aku tahu bahwa mereka bermaksud menyuruh aku diam. Utsman mengatakan; &#8220;Ketika aku tahu mereka menyuruhku diam, maka aku pun diam.” Kata Mu&#8217;awiyah; &#8220;Demi ayah dan ibuku, ketika Rasulullah SAW selesai shalat, beliau tidak memukulku dan tidak pula membentakku serta tidak memakiku.&#8221; Kemudian Beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya shalat ini, tidak halal di dalamnya bercampur dengan sesuatu perkataan manusia, akan tetapi yang ada hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al Qur&#8217;an.”</p>
<p>Adapun orang yang menguap ketika sedang shalat, maka jangan mengatakan sesuatu (berta’awudz misalnya), namun cukup dengan menahan semampunya dan meletakkan tangan dimulutnya sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam shahih Bukhari dari sahabat Abu Hurairah:</p>
<p>التَّثَاؤُبُمِنْالشَّيْطَانِفَإِذَاتَثَاءَبَأَحَدُكُمْفَلْيَرُدَّهُمَااسْتَطَاعَفَإِنَّأَحَدَكُمْإِذَاقَالَهَاضَحِكَالشَّيْطَانُ</p>
<p>&#8220;Menguap itu dari setan. Maka bila seorang dari kalian menguap hendaklah sedapat mungkin menahannya karena bila kalian menguap dengan mengeluarkan suara “haa”, setan akan tertawa&#8221;.</p>
<p>Dalam riwayat lain :</p>
<p>الْعُطَاسُمِنْاللَّهِوَالتَّثَاؤُبُمِنْالشَّيْطَانِفَإِذَاتَثَاءَبَأَحَدُكُمْفَلْيَضَعْيَدَهُعَلَىفِيهِ</p>
<p>&#8220;Bersin itu dari Allah, sedangkan menguap itu dari setan, apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah meletakkan tangannya di mulutnya”.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada dalil berta’awud ketika menguap, adapun yang dilakukan banyak orang yang berta’awudz ketika menguap adalah ketika mereka tahu bahwa menguap itu dari syetan. Yang disyariatkan Allah ketika menguap adalah menahannya dan meletakkan tangan pada mulutnya dan jangan sampai terdengar dari mulutnya suara ‘haah’ karena setan tertawa karenanya.Cukup menutup dengan tangan dan tidak perlu berta’awudz karena tidak terdapatnya dalil akan hal itu, ini jika pada saat shalat. Adapun diluar shalat maka membaca ta’awudz boleh-boleh saja.</p>
<p>(Majmu’ Fatawa Bin Baz 26/200 dengan sedikit tambahan dalil).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/12/bersin-dan-menguap-saat-shalat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melaksanakan Nadzar Orang Tua</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/melaksanakan-nadzar-orang-tua.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/melaksanakan-nadzar-orang-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 07:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya-jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz semasa hidupnya orang tua saya pernah bernadzar untuk mengerjakan sesuatu. Namun, sebelum orang tua saya merealisasikan nadzar yang pernah diucapkannya, Allah telah memanggilnya. Bolehkan saya melaksanakan nadzar yang telah diucapkankan oleh orang tua saya ? Jawab: Nadzar dibagi menjadi dua; mutlaq dan muallaq atau muqayyad. Nadzar muthlaq adalah semacam janji seseorang pada diri sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz semasa hidupnya orang tua saya pernah bernadzar untuk mengerjakan sesuatu. Namun, sebelum orang tua saya merealisasikan nadzar yang pernah diucapkannya, Allah telah memanggilnya. Bolehkan saya melaksanakan nadzar yang telah diucapkankan oleh orang tua saya ?</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/nadzar.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-233" title="nadzar" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/nadzar.jpg" alt="" width="225" height="217" /></a>Jawab: 	Nadzar dibagi menjadi dua; mutlaq dan muallaq atau muqayyad. Nadzar muthlaq adalah semacam janji seseorang pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu tanpa dikaitkan dengan apapun. Misalnya, “Saya akan bersedakah dengan sepertiga uang saya”. Sedang nadzar muallaq adalah nadzar yang dikaitkan dengan sesuatu. Misalnya, “Saya akan memberi makan fakir miskin jika disembuhkan dari penyakit ini.”  Jika  yang dinazdarkan, baik yang muallaq maupun yang muthlaq, adalah sesuatu yang baik, maka nadzar tersebut wajib dilaksanakan. Tapi jika berupa kemaksiatan harus ditinggalkan.  Dalam  hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim disebutkan :  عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ Dari &#8216;Aisyah RDH, dari Nabi SAW, beliau bersabda: &#8220;Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, hendaknya ia menaati-Nya, dan barangsiapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah ia perturutkan untuk bermaksiat kepada-Nya.&#8221; Apabila yang bernadzar meninggal sebelum melaksanakan nadzarnya, ahli warisnya wajib melaksanakan nadzarnya. Jika nadzarnya terkait dengan harta, diambilkan dari harta si mayyit. Jika nadzarnya terkait dengan pelaksanaan ibadah seperti haji dan puasa, maka keluarganya harus melaksanakannya. Dalam sebuah hadits dijelaskan :  “ Dari Abdullah bin Abbas mengabarkan  bahwa Sa&#8217;d bin Ubadah Al Anshari meminta fatwa kepada Nabi SAW tentang nadzar yang ditanggung ibunya, kemudian ibunya meninggal sebelum memenuhi nadzarnya. Nabi SAW memberinya fatwa agar ia melaksanakan nadzarnya, kemudian hal itu menjadi sunnah. ( HR.Bukhari Muslim ) Dalam hadists yang lain : “Dari Ibnu &#8216;Abbas RDH berkata; &#8221; Seorang laki-laki datang kepada menemui Nabi SAW lalu berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meningal dunia dan dia mempunyai kewajiban (hutang) puasa selama sebulan, apakah aku boleh menunaikannya?&#8221;. Beliau SAW berkata: &#8220;Ya.&#8221;, Beliau melanjutkan: &#8220;Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar&#8221; (HR.Bukhori Muslim ) Tapi, itu hanya berlaku untuk nadzar mutlaq, sedang nadzar muallaq ahli waris tidak perlu melaksanakan nadzar itu. Wallahu A’lam. (Shohih fiqih sunnah 2/ 325-327; Fatwa-fatwa masa kini 2/ 321 )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/melaksanakan-nadzar-orang-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukuran Satu Rakaat itu Rukuk atau al Fatihah?</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/ukuran-satu-rakaat-itu-rukuk-atau-al-fatihah.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/ukuran-satu-rakaat-itu-rukuk-atau-al-fatihah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 07:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ar-risalah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya-jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz, teman saya mengatakan barang siapa yang shalat jamaah dan mendapatkan imam sudah rukuk, ia dianggap kehilangan satu rakaat, karena dianggap kehilangan salah satu rukun yaitu membaca fatihah. Tapi, saya sebaliknya. Meskipun imam sedang rukuk, selama bisa takbiratul ihram kemudian rukuk dengan tenang bersama imam, maka saya anggap telah dapat satu rakaat. Mohon diberi penjelasan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ustadz, teman saya mengatakan barang siapa yang shalat jamaah dan mendapatkan imam sudah rukuk, ia dianggap kehilangan satu rakaat, karena  dianggap  kehilangan salah satu rukun yaitu membaca fatihah. Tapi, saya sebaliknya. Meskipun  imam sedang rukuk, selama bisa takbiratul ihram  kemudian rukuk dengan tenang bersama imam, maka saya anggap telah dapat satu rakaat. Mohon diberi penjelasan.</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/ruku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-230" title="ruku'" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/ruku.jpg" alt="" width="297" height="290" /></a>Jawab :<br />
Dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama (kebanyakan ulama dan Imam empat madzhab) menyebutkan, seseorang dianggap mendapatkan satu rakaat jika sempat mengikuti rukuk bersama imam. Pendapat kedua (Ibnu Hazm dan Imam As Subki)  menyebutkan seseorang dikatakan dapat satu rakaat jika bisa membaca al Fatihah bersama imam, dengan alasan membaca al Fatihah adalah rukun dalam salat.<br />
Terlepas dari perbedaan di atas, dalam sebuah hadits yang dinilai hasan oleh Imam Al Bani  disebutkan, Rasulullah bersabda :<br />
إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ<br />
&#8220;Jika kalian datang untuk menunaikan shalat, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka ikutlah bersujud, dan janganlah kalian menghitungnya satu raka&#8217;at, dan barangsiapa mendapatkan ruku&#8217;, berarti dia telah mendapatkan shalat (satu raka&#8217;at -pent).&#8221; ( HR. Abu Dawud dan Hakim )<br />
Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori  disebutkan:<br />
عَنْ أَبِي بَكْرَة أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ<br />
Dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi SAW sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi SAW, Nabi SAW lalu bersabda: &#8220;Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali.&#8221;<br />
Rasulullah SAW tidak memerintahkan Abu Bakrah untuk mengulangi shalatnya meskipun tidak sempat membaca al Fatihah. Beliau hanya melarang Abu Bakrah untuk tidak mengulangi memulai shalat sebelum sampai shaf. Namun perlu dicatat, bahwa rukuk yang dikerjakan tidak bersamaan imam bangkit dari rukuk, dilakukan dengan tenang dan sempat membaca bacaan rukuk dengan baik. Wallahu A’lam.<br />
( Lihat : Shahih Fiqih Sunnah II/525; al Mughni, Ibnu Qudamah II/50, Fatawa Lajnah Daimah Juz VII/ 322).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/tanya-jawab/2010/06/ukuran-satu-rakaat-itu-rukuk-atau-al-fatihah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

