<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Abu Umar Abdillah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/author/abu-umar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 01:51:09 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saat Rekaman Dosa Tampak di Depan Mata</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/saat-rekaman-dosa-tampak-di-depan-mata.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/saat-rekaman-dosa-tampak-di-depan-mata.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 01:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran 30)
Jiwa yang terpancari oleh cahaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاللهُ رَءُوفُُ بِالْعِبَادِ</p>
<p><em>“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.</em>” (QS. Ali Imran 30)</p>
<p>Jiwa yang terpancari oleh cahaya iman akan tahu, apa yang harus dilakukan saat hati mengidap gejala sakit atau mebatu. Khalifah Abdul Malik bin Marwan, saat mendeteksi adanya bibit penyakit dalam hati berkata kepada Al-Manshur RHM, <em>“Bacakanlah kepadaku suatu ayat dari Kitabullah, karena hal itu bisa menjadi obat bagi penyakit di dada, dan karena al-Qur’an adalah penyembuh dan cahaya</em>.”</p>
<p>Dari sekian ribu ayat yang ada, al-Manshur memilih untuk membacakan firman-Nya,</p>
<p>“<em>Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya;”</em> (QS. Ali Imran: 30)</p>
<p>Tampaknya, ayat yang dibacakan oleh al-Manshur tersebut begitu hebat menancap di ulu hati sang Khalifah, hingga menyebabkan beliau pingsan seketika. Di antara yang beliau ucapkan setelah siuman dari pingsannya adalah, “Sungguh, barangsiapa yang memikirkan ayat ini, lalu dia tetap nyaman dalam bermaksiat kepada Allah setelahnya, maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”</p>
<p><strong>Rekaman Hidup di Dunia</strong></p>
<p>Hari itu, masing-masing jiwa akan mendapati rekaman seluruh harinya di dunia. Tentang secuil ketaatan yang pernah dijalani, juga sederetan dosa yang pernah dilakoni. Tak ada sedikitpun yang tersembunyi atau terlewati. Itulah hari dibukanya topeng kemunafikan, ditelanjanginya segala bentuk kedustaan, disingkapnya segala makar kejahatan.</p>
<p>Satu perbuatan jahat yang telah dilupakan di dunia, atau sepenggal kata dusta yang telah tertimbun oleh memori berjuta giga, kelak akan terkuak pula. Tak ada sedikit jua yang tersisa. Dari yang kecil hingga yang besar, tampak begitu rincinya.</p>
<p>Pandangan manusiapun terbelalak. Seakan tak percaya sedetil itu semua lakon hidupnya akan terkuak. Sedikitpun ia tak mampu membela diri atau mengelak. Semua bukti yang ada terlalu valid untuk ditolak.</p>
<p>Apalagi, lembar kehidupan telah tercatat oleh malaikat. Bumi menjadi saksi atas segala ucapan, sikap dan gelagat. Allah menjadi saksi atas segala hal yang kita perbuat. Tangan, kaki dan semua jasad juga menjadi saksi kunci yang teramat kuat. Sementara lisan terkunci rapat, tak kuasa membantah meski hanya dengan satu kalimat.</p>
<p>Anas bin Malik RDL menceritakan, “Suatu kali kami bersama Nabi SAW, dan tiba-tiba beliau tertawa dan berkata, “Tahukah kalian, karena apa aku tertawa?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Lalu beliau bersabda,</p>
<h2>مِنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ رَبَّهُ يَقُولُ يَا رَبِّ أَلَمْ تُجِرْنِى مِنَ الظُّلْمِ قَالَ يَقُولُ بَلَى. قَالَ فَيَقُولُ فَإِنِّى لاَ أُجِيزُ عَلَى نَفْسِى إِلاَّ شَاهِدًا مِنِّى قَالَ فَيَقُولُ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ شَهِيدًا وَبِالْكِرَامِ الْكَاتِبِينَ شُهُودًا &#8211; قَالَ &#8211; فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ فَيُقَالُ لأَرْكَانِهِ انْطِقِى<br />
<h2>
<p>“K<em>arena perbincangan seorang hamba dengan Rabbnya. Hamba itu berkata, “Wahai Rabbi, bukankah Engkau bebaskan hamba dari kezhaliman?” Allah berfirman, “Ya.” Hamba itupun berkata, “Kalau begitu, hamba tidak mau menerima saksi lain kecuali saksi dari diriku sendiri.” Lalu Allah berfirman, “Cukuplah dirimu sendiri yang menjadi saksi pada hari ini, dan al-Kiraamul Kaatibun menjadi saksi!” lalu lisanpun dikunci, kemudian dikatakan kepada seluruh anggota badan, “Berbicaralah!.</em>” (HR Muslim)</p>
<p>Allah SWT mengijinkan seluruh anggota badan untuk berbicara, tangan bisa bersuara, begitupun dengan kaki, mata dan telinga. Semuanya melapor tentang apa yang telah diperbuat di dunia. Ini sesuai dengan firman-Nya,</p>
<p><em>“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”</em> (QS. Yaasin: 65)</p>
<p>Jika demikian, masihkah hati tergiur oleh dosa? Adakah nafsu masih berselera dengan tindakan durjana? Sedangkan dosa yang telah lewat dan masih kita ingatpun sulit dihitung saking banyaknya. Dan lebih banyak lagi dosa yang kita telah lupa, namun Allah tidak pernah lupa.</p>
<p><strong>Dosa-Dosa yang Tak Ditampakkan</strong></p>
<p>Hari itu, tak terbayangkan betapa malunya para pendosa. Karena aib akan terbuka, dosa-dosa akan kasat mata. Kita tak sedang membicarakan orang lain yang kita lihat sering berbuat dosa. Tapi kita justru mengkhawatirkan nasib kita, akankah kita juga akan malu sedemikian rupa?</p>
<p>Rasa takut tetap harus ada, lalu antisipasi harus diambil segera. Jika tidak ingin malu lantaran salah dan dosa, jangan biarkan kita terseret ke dalamnya. Meski tak satupun manusia yang ma’shum dari dosa, tidak berarti boleh menjadi alasan kita untuk sengaja menjamahnya. Karena faktanya, banyak sekali dosa yang kita lakukan namun kita tak menyadarinya. Bukan karena lupa atau tak sadar melakukannya, tapi saking sering dan terlalu biasa. Hingga terhadap maksiat tak lagi peka. Maka jangan lagi kita menambah dosa, apalagi dengan sengaja.</p>
<p>Adapun maksiat yang telah terjadi di masa lalu, masih ada celah agar kelak di akhirat kita tak melihatnya. Yakni dengan taubat nashuha, berhenti, menyesal, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan memohon ampunan Allah SWT.</p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzar RDL, bahwa Nabi SAW bersabda,</p>
<p>“Sesungguhnya aku tahu orang terakhir yang masuk jannah, dan yang terakhir keluar dari neraka. Ada seseorang didatangkan pada hari Kiamat, lalu dikatakan, “Perlihatkan kepadanya dosa-dosa kecilnya!” Lalu dikatakan kepada orang itu, “Kamu telah melakukan ini, ini dan itu pada hari anu. Dan kamu juga berbuat ini, ini dan itu pada hari anu.” Orang itu berkata, “Benar,” ia tidak kuasa untuk mengelak, sedangkan dia masih mengkhawatirkan ditampakkannya dosa besar yang pernah dilakukannya. Lalu dikatakan kepadanya, “Bagimu, setiap keburukan (dihapus dan) diganti dengan kebaikan.” Lalu hamba itu berkata, “Wahai Rabbi, saya melakukan suatu dosa yang tidak saya lihat di sini?!”<em> Sungguh aku (Abu Dzar) melihat Nabi tertawa hingga kelihatan gerahamnya.</em>” (HR Muslim)</p>
<p>Allahu akbar! Begitulah kemurahan Allah, Dia menghapus dosa orang yang bertaubat, dan menggantinya dengan kebaikan. Sebagaimana firman-Nya,</p>
<p><em>“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. al-Furqan: 70)</p>
<p>Allahummastur ‘auraatana, wa aamin rau’atana, Ya Allah, tutuplah auarat kami dan amankanlah penjagaan kami. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/saat-rekaman-dosa-tampak-di-depan-mata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menepis Dosa Ala Orang Bertakwa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/menepis-dosa-ala-orang-bertakwa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/menepis-dosa-ala-orang-bertakwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 01:29:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raaf: 201)
Orang yang bertakwa bukanlah orang ma’shum yang terjaga dari segala kesalahan. Ada kalanya ia lengah, hingga terpancing oleh bujuk rayu setan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya</em>.” (QS. al-A’raaf: 201)</p>
<p>Orang yang bertakwa bukanlah orang ma’shum yang terjaga dari segala kesalahan. Ada kalanya ia lengah, hingga terpancing oleh bujuk rayu setan. Kadang pula terbersit keinginan untuk bermaksiat, dan bahkan sesekali terjerumus ke dalamnya.</p>
<p>Tapi, alangkah beda karakter orang yang bertakwa dengan orang-orang fajir yang gemar berbuat dosa. Para pendosa tidak memiliki sensor dan lepas kontrol, tidak peka terhadap dosa, tidak berusaha mendeteksi status halal atau haram, tidak pula berpikir akan risiko perbuatan dosa yang dilakukannya.</p>
<p><strong>Waspadai Dosa Sebelum Kedatangannya</strong></p>
<p>Meski sesekali pernah berbuat dosa, dari awal orang yang bertakwa telah optimal melakukan penjagaan dari dosa. Dia berusaha ‘membangun’ pagar antara dia dengan dosa di wilayah yang aman dari dosa, bukan di wilayah ‘abu-abu’, atau persis di batas wilayah antara halal dan haram yang rawan dengan tindakan dosa. Karakter mereka seperti yng dijelaskan oleh Nabi SAW,</p>
<h6>لاَ يَبْلُغُ الْعَبدُ أنْ يَكُونَ منَ المُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأسَ بِهِ ، حَذَراً مِمَّا بِهِ بَأسٌ</h6>
<p><em>“Seorang hamba belum mencapai derajat muttaqin sehingga dia meninggalkan apa-apa yang tidak berdosa karena takut terjerumus ke dalam dosa.</em>” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, “hadits hasan”)</p>
<p>Dia tidak hanya meninggalkan yang haram, tapi juga yang syubhat agar lebih jauh dari dosa.</p>
<p>Orang yang bertakwa memiliki kepekaan yang tajam terhadap dosa. Terkadang sensor ketakwaannya mampu mendeteksi godaan setan sejak awalnya, juga dari pintu mana setan hendak masuk mencuri hatinya. Seketika itu iapun bersegera menepisnya. Dia mematuhi sabda Nabi SAW,</p>
<h6>يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ</h6>
<p>&#8220;Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, “Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?” Hingga dia bertanya,&#8217;Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?&#8217; Oleh karena itu, jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan (waswas tersebut)&#8221;. (HR Bukhari)</p>
<p>Terkadang pula kepekaan itu muncul saat orang yang bertakwa itu benar-benar dekat sekali dengan kemaksiatan, lalu dia tersadar dan menjauh darinya. Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Asakir, bahwa ada seorang pemuda di zaman sahabat yang rajin beribadah ke masjid. Lalu, seorang wanita terus merayu dan menggodanya. Hingga suatu kali, hampir saja dia masuk ke dalam rumah bersama wanita itu, lalu dia teringat dan membaca firman-Nya,</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS al-A’raaf 201)</p>
<p>Tiba-tiba saja ia jatuh pingsan. Pemuda itu sempat sadar dan kembali mengulang bacaannya sebelum akhirnya wafat. Begitu besar rasa takutnya kepada Allah, hingga mencegahnya dari tindakan keji, meski jarak antara dia dengan dosa tinggal sedikit lagi.</p>
<p>Orang yang bertakwa juga mudah menerima peringatan, seketika tersadar saat dibacakan ayat-ayat Allah, sehingga mencegahnya untuk berbuat melampaui batas. Seperti ulama tabi’in, Ali bin Husain bin Ali yang dikenal dengan Zainul Abidin. Tatkala beliau hendak berwudhu, seorang budak beliau menuangkan air dengan kendinya, tiba-tiba kendi itu terjatuh dan pecah, hingga pecahannya melukai wajah beliau. Hampir saja beliau marah, tapi sang budak membacakan firman Allah dalam Surat Ali Imran 134, “<em>wal kazhimiinal ghaizha</em>..(yang menahan amarah)..” Beliau tersadar dan berkata, “Aku tahan amarahku!” Si budak melanjutkan, “<em>wal ‘aafiina ‘anin naas</em> (yang memaafkan manusia)..” Beliau menyahut, “Aku maafkan kamu!” Si budak melanjutkan, “<em>wallahu yhibbul muhsiniin</em> (dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik).” Lalu beliau berkata,<br />
“Aku merdekakan dirimu!”</p>
<p><strong>Peka Terhadap Dosa yang Telah Terjadi</strong></p>
<p>Memang ada kemungkinan paling parah yang dialami orang yang bertakwa. Di mana ia benar-benar terjerumus ke dalam dosa. Tapi, kebeningan hatinya segera menyadarkan ia akan kesalahannya. Seketika itu ia akan menyesali perbuatannya, takut akan akibat, dan lantas bersegera kembali mengingat Allah. Berbeda dengan orang fajir yang tak merasa bersalah usai bermaksiat, tak ada penyesalan dan tetap merasa aman dan nyaman. Beda antara keduanya dijelaskan dalam sebuah hadits,</p>
<h6>إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ</h6>
<p><em>“Sesungguhnya orang mukmin memandang dosanya seperti orang yang duduk di kaki gunung, ia takut tertimpa olehnya. Sedangkan orang fajir, memandang dosa-dosanya layaknya lalat yang melewati hidungnya (yang mudah dihalau</em>).” (HR Bukhari)</p>
<p>Bukan sekedar menyadari kesalahan, orang yang bertakwa teringat akan dosanya, saat musibah menimpa mereka. Sufyan ats-Tsauri pernah mengatakan, “Aku terhalang shalat malam selama lima bulan karena dosa yang saya lakukan.”</p>
<p>Muhammad bin Sirin, seorang ulama tabiin juga pernah terlilit hutang. Lalu beliau mengevaluasi diri dengan caranya orang shalih, bukan dengan gaya pedagang. Lalu beliau mendapatkan kesimpulan, “Sungguh, musibah ini tidak menimpaku melainkan karena dosa yang pernah aku perbuat sejak 40 tahun yang silam. Di mana aku mengatakan kepada seseorang, “Hai, orang bangkrut!”  Tatkala kisah ini disampaikan kepada Abu Sulaiman ad-Darani, beliau memberikan komentar, “Dosanya sedikit, sehingga dia bisa mendeteksi dosa mana yang menyebabkan musibah terjadi, tapi dosa kita banyak, sehingga tak tahu lagi, dosa mana yang menyebabkan datangnya tiap musibah.”</p>
<p><em>Allahumma aati anfusana taqwaaha</em>, ya Allah, anugerahkan taqwa di hati kami. Amin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2010/09/menepis-dosa-ala-orang-bertakwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerdas dengan Indera Pendengaran</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/cerdas-dengan-indera-pendengaran.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/cerdas-dengan-indera-pendengaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 01:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Mata adalah jendela hati dan pikiran, apapun yang memasukinya berpengaruh terhadap keduanya. Tak terkecuali ilmu. Membaca yang merupakan aktivitas mata seringkali diidentikkan dengan ilmu. Ini tidaklah salah. Namun harus diakui, mata hanya salah satu pintu yang memungkinkan ilmu. Juga hanya satu indera yang darinya keburukan juga bisa menerobos dan menodai keyakinan hati dan pikiran.
Masih ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/cerdas-dengan-indera-penden.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-342" title="cerdas-dengan-indera-penden" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/cerdas-dengan-indera-penden-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Mata adalah jendela hati dan pikiran, apapun yang memasukinya berpengaruh terhadap keduanya. Tak terkecuali ilmu. Membaca yang merupakan aktivitas mata seringkali diidentikkan dengan ilmu. Ini tidaklah salah. Namun harus diakui, mata hanya salah satu pintu yang memungkinkan ilmu. Juga hanya satu indera yang darinya keburukan juga bisa menerobos dan menodai keyakinan hati dan pikiran.</p>
<p>Masih ada indera lain yang tak kalah urgen, yakni indera pendengaran. Bahkan, tidak mudah untuk langsung disimpulkan bahwa indera mata lebih penting dari pendengaran. Pada beberapa sisi, pendengaran memiliki nilai lebih dibanding penglihatan. Mata hanya mampu melihat benda yang ada di hadapan saja, sedangkan telinga mampu mendeteksi suara dari segala arah.</p>
<p>Pendengaran juga lebih siaga setiap saat dibanding penglihatan. Mata tak mampu mendeteksi apa-apa saat manusia tertidur. Berbeda halnya dengan pendengaran, ia tetap berfungsi meski kesadaran manusia diambang titik nol lantaran lelap tertidur. Ketika itu, telinga tetap peka terhadap suara. Dengan sebab ini, kita akan mudah terbangun dari tidur begitu mendengar suara alarm atau yang lain.</p>
<p>Kita juga bisa membandingkan efek dari orang yang tidak sempurna pendengarannya dengan orang yang tuna netra. Meski tanpa disuguhkan data pembanding yang valid, pengalaman menunjukkan, bahwa orang yang hafal al-Qur’an dari kalangan tuna netra lebih banyak dibandingkan penghafal dari kalangan tuna rungu. Kita juga lebih sering mendengar adanya ulama senior yang tuna netra katimbang ulama yang tuna rungu.</p>
<p>Begitulah kelebihan pendengaran bila dibandingkan dengan indera penglihatan.</p>
<p><strong>Al-Qur’an Menyebut Pendengaran Sebelum Penglihatan</strong></p>
<p>Ketika ayat-ayat menyebutkan nikmat pendengaran dan penglihatan, hampir seluruh ayat mendahulukan pendengaran dibanding penglihatan. Hanya satu tempat saja di mana penglihatan lebih didahulukan dari pendengaran. Yakni dalam firman-Nya,</p>
<p><em>&#8220;Wahai Rabb Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin</em>.&#8221; (QS. as-Sajdah: 12)</p>
<p>Selebihnya, banyak sekali ayat yang menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Seperti dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”</em> (QS. an-Nahl: 78)</p>
<p>Bisa jadi karena pendengaran lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Dan bisa jadi pula pendengaran memiliki manfaat lebih dibanding penglihatan.</p>
<p>Dari urutan fungsi, pendengaran lebih dahulu berfungsi dibanding penglihatan. Karenanya, bayi yang baru lahir umumnya langsung peka terhadap suara, sedangkan penglihatan berfungsi setelah sekian hari lamanya. Bahkan banyak peneliti menyebutkan, bahwa janin di rahim ibu sudah peka terhadap suara, sedang mata belum berfungsi apa-apa.</p>
<p>Belajar dari sumber ilmu syar’i, al-Qur’an dan al-hadits juga ditransfer pertama melalui pendengaran sebelum ditulis dan menjadi tulisan yang bisa dibaca. Ketika wahyu pertama turun, Jibril mengejakan kepada Nabi, “iqra’!”, bacalah, yakni menirukan bacaan yang beliau dengar dari Jibril, bukan membaca sesuatu yang ditulis oleh Jibril AS.</p>
<p>Begitupun dengan hadits Nabi SAW. Para sahabat belajar kepada Nabi SAW dengan mengandalkan pendengaran dan hafalannya, bukan dengan catatan atau buku yang bisa dibaca.</p>
<p>Pun begitu, mereka adalah para penghafal terbaik, dan Nabi SAW memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menyampaikan hadits yang mereka dengar. Beliau SAW bersabda,</p>
<p>&lt;h6&gt;أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِب&lt;/h6&gt;</p>
<p><em>“Ingatlah! Hendaknya di antara kalian yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir!</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p>Seperti Abdullah bin Abbas RA, yang masih berusia 10 tahun saat Nabi SAW wafat, beliau mampu menghafal dari apa yang beliau dengar dari Nabi SAW sebanyak 1660 hadits. Begitupun dengan sahabat-sahabat yang lain.</p>
<p>Optimalkan Pendengaran Untuk Belajar</p>
<p>Tradisi belajar dengan mengoptimalkan pendengaran ini terus dilestarikan oleh ulama-ulama ternama setelah generasi sahabat hingga kini. Meski banyak perkembangan dari sisi cara belajar maupun menghafal, pun tradisi ini masih tetap tidak bisa dihilangkan.</p>
<p>Banyak ulama yang lebih mengandalkan pendengaran dan hafalan saat berada di majlis ilmu. Seperti Imam at-Tirmidzi, beliau mendengarkan hadits di majlis ilmu, namun mencatatnya di luar majlis, atau bahkan saat beliau dalam perjalanan.</p>
<p>Abu al-Barakat, kakek dari Ibnu Taimiyah, atau sering dipanggil dengan Ibnu Taimiyah al-Jadd, betul-betul memanfaatkan pendengarannya untuk belajar. Tak jarang ketika beliau hendak masuk WC, beliau menyerahkan buku kepada anaknya dan berkata, “Baca di halaman ini dengan keras, agar aku bisa mendengarnya dari dalam.”</p>
<p>Subhanallah, begitulah cara beliau menghargai waktu dan mengoptimalkan indera pendengaran untuk belajar.</p>
<p>Hari ini, seiring dengan kemajuan teknologi, tentu ada cara yang lebih praktis untuk dilakukan, banyak pula sarana yang lebih canggih untuk dipergunakan. Ada rekaman, kaset, MP3, MP4, Tape recorder dan banyak lagi yang lain, tapi mengapa hafalan dan pengetahuan tidak sehebat mereka?</p>
<p>Memang faktornya bukan semata-mata sarana dan peralatan. Tapi lebih pada kemauan, penghargaan terhadap nilai ilmu dan waktu, juga tingkat kesyukuran atas segala nikmat yang Allah berikan.</p>
<p>Jika mau, kita bisa menggunakan semua alat tadi untuk mendengarkan tartil al-Qur’an berulang-ulang kapanpun kita menginginkan, sehingga hafalan lebih mudah didapatkan. Tidak pula membutuhkan pengorbanan yang begitu berarti untuk bisa mendengarkan rekaman ceramah dari para ustadz tentang kajian ilmu syar’i yang berfaedah. Bahkan kita bisa saja merekam sendiri suara kita, baik ayat-ayat yang mau kita hafalkan, maupun hadits dan kitab-kitab yang perlu untuk dihafal. Kita bisa meluangkan waktu secara khusus, bahkan banyak sekali aktivitas harian yang bisa kita iringi dengan suara tartil, ceramah maupun hafalan hadits.</p>
<p>Tapi sayang, seringkali sarana yang ada kerapkali justru menjadi alat menghamburkan waktu, bahkan sarana untuk bermaksiat kepada Allah. Padahal, kelak pendengaran kita akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah,</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.</em>” (QS. al-Isra’: 36)</p>
<p>Memanfaatkan pendengaran untuk menangkap sumber-sumber ilmu dan hal-hal yang berfaedah, juga menjauhkannya dari suara-suara yang sia-sia dan mengandung dosa adalah bukti syukur kita kepada Penciptanya. Sekaligus menjadi cara efektif meraih derajat tinggi dalam hal ilmu. <em>Allahummaj’al fi sam’ina nuuran</em>, ya Allah, jadikanlah cahaya pada pendengaran kami. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/cerdas-dengan-indera-pendengaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Ungkapan Panjang Tangan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/makna-ungkapan-panjang-tangan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/makna-ungkapan-panjang-tangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 01:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[makna panjang tangan]]></category>
		<category><![CDATA[panjang tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ini kelihatan sepele. ‘Hanya’ soal arti kiasan yang acap muncul di pelajaran Bahasa Indonesia. Dan sering pula terpakai di media seperti koran-koran harian. Utamanya di berita-berita kriminal. Tapi, ketika ini menyangkut kehormatan orang-orang yang harus dimuliakan karena Islam, maka persoalannya tak lagi sederhana. Karena salah mengartikan, atau keliru menyebutkan ungkapan bisa mengandung konsekuensi berkebalikan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/makna-ungkapan-panjang-tang.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-349" title="makna-ungkapan-panjang-tang" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/makna-ungkapan-panjang-tang-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Mungkin ini kelihatan sepele. ‘Hanya’ soal arti kiasan yang acap muncul di pelajaran Bahasa Indonesia. Dan sering pula terpakai di media seperti koran-koran harian. Utamanya di berita-berita kriminal. Tapi, ketika ini menyangkut kehormatan orang-orang yang harus dimuliakan karena Islam, maka persoalannya tak lagi sederhana. Karena salah mengartikan, atau keliru menyebutkan ungkapan bisa mengandung konsekuensi berkebalikan. Seperti menghinakan orang-orang yang mulia, dan memuliakan orang-orang yang hina.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang, setiap siswa ketika ditanya maksud ‘panjang tangan’ pasti menjawab, “suka mencuri.” Sederhana tampaknya. Kalau saja tidak ada nash (dalil) khusus yang menggunakan istilah ini, maka tak ada persoalan dengan kiasan dan makna yang dimaksudkan. Masalahnya, ada dalil yang menunjukkan arti ‘panjang tangan’ yang sangat jauh dan bahkan berkebalikan dengan yang dipahami orang kebanyakan.</p>
<p>Dalil yang dimaksud adalah hadits Aisyah rdlh, bahwa Nabi saw berkata kepada para istrinya menjelang wafatnya,</p>
<p><em>“Yang paling cepat menyusulku (wafat) adalah yang paling ‘panjang tangannya’ di antara kalian</em>.” (HR Muslim, juga Bukhari dengan redaksi yang sedikit berbeda)</p>
<p>Aisyah menceritakan, bahwa ketika itu para istri-istri Nabi saw saling mengukur tangan masing-masing untuk mendapatkan siapa yang paling panjang tangannya. Didapatkan bahwa yang paling panjang tangannya adalah Saudah rdlh. Tapi, ternyata yang pertama kali wafat setelah Nabi saw di antara istri-istri beliau adalah Zaenab rdl. Maka tahulah mereka, bahwa maksud sabda Nabi ‘yang paling panjang tangannya’ adalah yang paling banyak sedekahnya. Karena mereka menilai memang Zaenab adalah istri Nabi yang paling banyak sedekahnya.</p>
<p>Mari kita perhatikan, apa jadinya jika ungkapan ‘panjang tangan’ itu diartikan dengan suka mencuri? Tentu akan mengandung konsekuensi pelecehan terhadap istri Nabi saw. Meskipun, bisa saja seseorang berkilah bahwa khusus hadits ini konteksnya lain dari ungkapan yang biasa dipakai dalam konteks keindonesiaan. Namun, berhati-hati adalah lebih baik. Apalagi, tak ada dalil dengan konteks lain yang menunjukkan makna negatif untuk kiasan ‘panjang tangan’.</p>
<p>Di kasus lain bahkan ada seorang sahabat yang dijuluki dengan ‘Dzul Yadaini’, orang yang panjangtangannya. Ukuran tangannya yang memang panjang menjadikan beliau mendapatkan gelaran itu. Dan hadits Bukhari, Muslim dan yang lain merekam kata Dzul Yadaini yang nama aslinya al-Khirbaaq, untuk suatu peristiwa yang menunjukkan keutamaan beliau. Beliaulah satu-satunya yang berani mengingatkan Nabi saw tatkala beliau terlupa mengerjakan shalat Ashar dengan dua rekaat saja. Setelah yakin, Nabi saw bersabda,</p>
<p>&lt;h6&gt;صَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ&lt;/h6&gt;</p>
<p>“<em>Benarlah Dzul Yadaini</em>.” (HR Bukhari)</p>
<p>Lalu beliapun melakukan sujud syahwi, dan kaum muslimin mendapatkan faedah besar dengan peristiwa tersebut. Karena kita menjadi tahu, apa yang harus kita lakukan saat terlupa rekaat shalat yang kita lakukan.</p>
<p>Jadi, hati-hati memilih diksi, juga memaknai ungkapan dan kiasan. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/09/makna-ungkapan-panjang-tangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merasa Suci Lalu Berdosa Lagi</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/merasa-suci-lalu-berdosa-lagi.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/merasa-suci-lalu-berdosa-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 01:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[berdosa lagi]]></category>
		<category><![CDATA[merasa suci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Adalah al-Manshur bin Ammar RHM ditanya oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, “Wahai Manshur, ada masalah yang mengganjal sejak setahun ini, siapakah sebenarnya orang yang paling pintar, siapa pula orang yang paling bodoh?”
Al-Manshur pun keluar menemui para ulama untuk mendapatkan jawabannya, lalu ia menghadap kepada Abdul Malik. Sang Khalifah bertanya, “Wahai Manshur, jawaban apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/merasa-suci-lalu-berdosa-la.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-360" title="merasa-suci-lalu-berdosa-la" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/merasa-suci-lalu-berdosa-la-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Adalah al-Manshur bin Ammar RHM ditanya oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, “Wahai Manshur, ada masalah yang mengganjal sejak setahun ini, siapakah sebenarnya orang yang paling pintar, siapa pula orang yang paling bodoh?”</p>
<p>Al-Manshur pun keluar menemui para ulama untuk mendapatkan jawabannya, lalu ia menghadap kepada Abdul Malik. Sang Khalifah bertanya, “Wahai Manshur, jawaban apa yang kamu bawa?”</p>
<p>Beliau berkata, “Wahai amirul mikminin, orang yang paling berakal adalah orang yang berbuat baik, namun dia tetap merasa takut kepada Allah, sedangkan orang yang paling bodoh adalah orang yang mengumbar dosa, namun merasa aman dari siksa Allah.”</p>
<p>Jawaban itu membuat Abdul Malik menangis, hingga air mata membasahi bajunya, “Demi Allah, ini jawaban yang bagus wahai Manshur.” Sahutnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Merasa Suci, Padahal Belum Pasti</strong></p>
<p>Fragmen nyata yang terjadi di zaman salaf tersebut tampaknya relevan dengan situasi kita yang telah melewati hari demi hari selama Ramadhan. Banyak peluang kebaikan, bertabur pula harapan pahala dan pengampunan. Bervariasi jenis dan kadar amal shalih yang dilakukan masing-masing orang, dan beragam pula tingkat kepuasan para pelaku amal. Ada yang sedih karena merasa belum optimal, namun tak sedikit yang merasa diri telah berjuang total.</p>
<p>Ada baiknya kita mengevaluasi diri sendiri. Tapi evaluasi yang jujur, muhasabah yang menimbulkan efek positif di kemudian hari. Bukan perhitungan orang yang tertipu, merasa diri panen pahala, ternyata pailit kenyataannya.</p>
<p>Apa yang disampaikan oleh al-Manshur tentang orang yang paling pintar dan orang yang paling bodoh, bisa kita jadikan rujukan mengaca diri, sejauh mana tingkat keshalihan kita. Apakah dekat dengan ring paling tinggi yang telah berbuat baik namun tetap merasa takut, ataukah lebih dekat dengan ring paling bawah, yang tak beres usahanya, namun merasa aman dari siksa.</p>
<p>Dengan berakhirnya ramadhan, banyak yang terkecoh dengan ungkapan kembali suci. Mereka merasa bersih dari dosa, begitu melewati ramadhan dan memasuki  ‘Iedul Fithri. Istilah ‘iedul fithri pun diartikan menjadi hari kembali suci. Makna ini perlu diteliti kembali. Karena Nabi SAW sendiri telah memberikan makna yang berbeda dari makna yang biasa dipahami khalayak. Beliau bersabda,</p>
<h6>وَأَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ</h6>
<p><em>“Dan adapun, (maksud) hari Fithri adalah hari berbuka kamu dari shaum.”</em> (HR Abu Dawud dan dalam riwayat Tirmidzi ada tambahan “dan hari raya bagi kaum muslimin.”)</p>
<p><strong>Berharap Itu Harus, Tapi…</strong></p>
<p>Memang janji Nabi SAW tidaklah dusta. Bahwa shalat malam di bulan Ramadhan menghapus dosa yang telah lalu, begitupun dengan shaum di siang harinya. Dan mungkin kitapun telah menjalani amalan itu dengan komplit. Kita harus berharap, agar semua ibadah kita diterima, dosa-dosa kitapun terampuni. Tapi kita juga perlu khawatir, sekiranya semua yang kita jalani belum memenuhi kriteria ‘maqbul’ sebagai amal shalih. Termasuk kebodohan, jika seseorang mengklaim sudah mengantongi banyak pahala, atau telah bersih dari dosa. Apalagi bila yang dilakukannya ternyata belum seberapa.</p>
<p>Klaim ini akan menimbulkan efek negatif di belakangnya. Bukan saja tidak ada upaya perbaikan dan peningkatan amal. Bahkan cenderung menganggap sepele dosa. Lantaran sudah bersih dari dosa, maka ia merasa masih berpeluang untuk berdosa.</p>
<p>Padahal, amal yang bisa menghapuskan dosa adalah amalan yang maqbul, diterima oleh Allah. Yakni amal yang benar dan juga ikhlas. Siapakah yang berani menjamin amalnya telah ikhlas dan tetap ikhlas? Karena keikhlasan itu harus dituntut adanya tak hanya sebelum dan ketika beramal saja. Bahkan setelah menjalani amal, dan batas akhirnya adalah ajalnya. Boleh jadi seseorang bisa ikhlas sesaat setelah beramal, namun di kemudian hari dia batalkan keikhlasannya dengan riya’, sum’ah maupun ujub. Maka amal yang telah lalu tidak diterima sebagai amal yang diterima dan tidak bisa berfaedah sebagai penghapus dosa. Maka sepantasnya kita tidak terpedaya dengan amal yang telah kita lakukan.</p>
<p>Mungkin inilah alasan sahabat Abdullah bin Umar yang meskipun telah beramal luar biasa, tetap saja mengatakan, “Andai saja aku tahu pasti, ada satu sujud (shalat) saya telah diterima, maka aku berangan-angan sekiranya aku mati sekarang juga.”</p>
<p>Lihat pula bagaimana jawaban Hatim al-Asham RHM, tatakala ditanya bagaimana cara beliau mendirikan shalat. Beliau menjawab,  <em>&#8220;Apabila datang waktu shalat aku segera berwudlu dengan sempurna, lalu datang ketempat shalatku, akupun duduk mengkonsentrasikan seluruh jiwa ragaku, kemudian aku berdiri dengan ketundukan dan rendah diri, kujadikan ka’bah seakan diantara kedua mataku, titian shirat dibawah kedua telapak kakiku, surga disebelah kananku, dan neraka disebelah kiriku, malaikat maut dibelakangku, dan kubayangkan bahwa ini adalah shalat terakhirku, selanjutnya aku tempatkan diriku diantara rasa takut dan penuh pengharapan. Kemudian aku bertakbir dengan penuh keyakinan akan kebesaran Allah, lalu aku membaca al-Fatihah dan surat dengan sedalam-dalamnya penghayatan. Kemudian aku ruku’ dengan tuma’ninah, selanjutnya akupun sujud dengan segala rasa rendah diri, lalu aku duduk diatas pangkal paha kiriku, dan kutegakkan telapak kaki kananku diatas ibu jarinya, semua itu aku usahakan di atas keikhlasan hati setulus-tulusnya. Dan selanjutnya…aku tak tahu pasti, apakah shalatku itu diterima oleh Allah ataukah tidak!</em></p>
<p><strong>Memaknai Amal Pendulang Pahala dan Penghapus Dosa</strong></p>
<p>Orang yang hatinya tulus dalam mengabdi kepada Allah, juga jujur dalam memaknai nash-nash hadits dan ayat-ayat suci, pastilah memahami. Bahwa disebutkannya keutamaan suatu amal shalih dengan janji-janji pahala adalah supaya kita terdorong untuk melakukannya. Dan sama sekali bukan untuk meremehkan amal yang selainnya. Misalnya tentang keutamaan tahmid,</p>
<h6>وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ.</h6>
<p><em>“Dan bacaan ‘alhamdulillah’ itu bisa memenuhi timbangan.”</em> (HR Muslim)</p>
<p>Arahan hadits ini adalah untuk memperbanyak ucapan tahmid, sama sekali bukan untuk menafikan amalan lain. Atau karena merasa timbangan sudah penuh lantas menganggap kurang perlu amalan yang lain. Lebih parah lagi jika amal-amal yang wajib seperti shalat lima waktu juga ditinggalkan karenanya. Padahal, fadhilah tahmid tersebut, betapapun besar tidak bisa menutup kewajiban menjalankan shalat. Bahkan tanpa shalat, sama sekali fadhilah itu tidak berguna karena batas antara muslim dan kafir adalahmeninggalkan shalat.</p>
<p>Orang yang cerdik juga memahami, bahwa tujuan disebutkannya amal-amal yang berfaedah menghapus dosa adalah menghasung kita agar segera bertaubat dan membersihkan diri dari dosa. Bukan justru dijadikan alasan untuk menumpuk dosa baru dengan alasan dosa yang lalu telah terhapus.</p>
<p>Seperti hadits,</p>
<h6>مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه</h6>
<p>“<em>Barangsiapa shalat di malam bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p>Jelas, bahwa inti pesan Nabi SAW tersebut supaya umatnya menjalankan shalat malam di bulan Ramadhan, bukan supaya melakukan maksiat setelah menjalankan shalat malam.</p>
<p>Lagi pula, menurut Imam an-Nawawi, juga ulama yang lain menyebutkan bahwa maksud dosa yang otomatis diampuni karena shalat tarawih tersebut adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Shalat tarawih tidak bisa menghapus dosa syirik secara otomatis, atau dosa meninggalkan shalat lima waktu, apalagi menggantikannya. Hanya orang bingung yang mengandalkan shalat tarawih lalu meninggalkan shalat wajibnya.</p>
<p><strong>Mohon Ampunan-Nya, Tapi Sengaja Memancing Murka </strong></p>
<p>Selain terpedaya oleh amal penghapus dosa, ada juga yang salah dalam memahami makna istighfar. Begitu mudah seseorang melakukan dosa, karena merasa mudah pula untuk menebusnya. Cukup dengan bacaan istighfar, serta merta dosanya lenyap seketika.</p>
<p>Orang yang merasa telah bersih dari dosa, lalu menyengaja berbuat dosa, hakikatnya adalah seorang pembangkang dan durjana. Dia menyalahartikan pengampunan Allah dan menggunakannya sebagai pemicu untuk berbuat dosa. Dia sengaja memancing kemurkaan Allah dengan dosa, lalu menyandarkan alasannya pada kasih sayang Allah dan kemurahan ampunanNya. Alangkah tidak sopannya kepada Allah, dan amat jauhlah ia dari sifat pengagungan kepada Allah.</p>
<p>Bukankah anak dikatakan durhaka bila sengaja membuat jengkel ayahnya, atau memancing kemarahannya, lantaran dia tahu bahwa sang ayah sangat penyabar dan suka memaafkan kesalahannya? Lantas bagaimana jika perilaku seperti itu dilakukan terhadap Allah Azza wa Jalla?</p>
<p>Istighfar adalah realisasi taubat yang wajib disertai tekad untuk tidak mengulangi dosa kembali. Tanpanya, taubatnya hanya bohong belaka. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa yang kita sengaja, dan mengampuni dosa yang tidak kita sengaja atau tidak kita ketahui. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/merasa-suci-lalu-berdosa-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Cita-Cita dan Angan-Angan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 03:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[angan-angan]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Usai menyampaikan motivasi tentang dahsyatnya cita-cita, juga keharusan memiliki cita-cita yang tinggi, seorang peserta menghampiri saya, lantas memberikan apresiasi yang baik. Namun dia juga mengutarakan rasa bimbangnya. Ada rasa takut untuk bercita-cita, karena khawatir terjerumus kepada angan-angan yang dicela. Masih ada kesamaran, apa yang membedakan antara bercita-cita dengan panjang angan-angan.
Sekilas memang tampak mirip antara keduanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-331" title="antara-cita-cita-dan-angan-" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan--150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Usai menyampaikan motivasi tentang dahsyatnya cita-cita, juga keharusan memiliki cita-cita yang tinggi, seorang peserta menghampiri saya, lantas memberikan apresiasi yang baik. Namun dia juga mengutarakan rasa bimbangnya. Ada rasa takut untuk bercita-cita, karena khawatir terjerumus kepada angan-angan yang dicela. Masih ada kesamaran, apa yang membedakan antara bercita-cita dengan panjang angan-angan.</p>
<p>Sekilas memang tampak mirip antara keduanya, sama-sama berharap bisa merengkuh suatu kesuksesan dan kemuliaan. Sementara, nash-nash menunjukkan adanya nilai yang berkebalikan antara keduanya. Allah dan Rasul-Nya memuji orang yang optimis dalam bercita-cita, menyukai cita-cita yang tinggi, juga menghasung kita untuk tinggi dalam bercita-cita. Seprti tersirat dalam doa untuk menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa, memohon jannah Firdaus yang merupakan jannah yang paling tinggi dan paling tengah, juga bertekad dengan tulus supaya sampai ke derajat orang yang syahid.</p>
<h6>مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ</h6>
<p>“<em>Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan menyampaikan dirinya ke derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas kasurnya.</em>” (HR Muslim)</p>
<p>Berbeda dengan panjang angan-angan yang dipandang syariat sebagai cela. Layaknya penyakit yang perlu diterapi atau kelemahan yang mendatangkan kerugian dan kebinasaan. Firman Allah,</p>
<p>“<em>Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka</em>). (QS al-Hijr 3)</p>
<p>Muhammad bin Waasi’ rahimahullah, tokoh tabi’in berkata, “Ada empat pertanda kesengsaraan; panjang angan, keras hati, sempit pandangan dan bakhil.”</p>
<p>Maka jelas, nilai kedudukan keduanya berkebalikan, yang satu mulia dan yang satu hina. Lalu apa yang membedakan antara bercita-cita dan berangan-angan?</p>
<p><strong>Beda Motivasi</strong></p>
<p>Pertama, dari sisi sebab munculnya sudah beda. Angan-angan itu muncul karena dorongan hawa nafsu, seperti yang disebutkan oleh Imam as-Suyuuthi dalam Jami’ al-Hadits bahwa <em>thuulul amal huwa raja’un ma tuhibbuhu an-nafsu</em>, harapan (yang timbul) karena keinginan nafsu. Ingin kaya agar bisa menikmati setiap yang diinginkannya, ingin menjadi pejabat yang memiliki banyak bawahan dan terhormat di mata manusia, atau keinginan lain yang ujungnya adalah ingin mendapatkan kepuasan nafsu.</p>
<p>Berbeda halnya dengan cita-cita. Ia muncul dari pemikiran yang jitu, juga renungan yang mendalam tentang posisi atau target apa yang bisa mendatangkan maslahat untuk dirinya dan juga umat. Hal ini sesuai dengan pesan Nabi saw,</p>
<h6>احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِز</h6>
<p>“<em>Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah (pesimis).”</em> (HR Muslim)</p>
<p><strong>Beda </strong><strong>Pula</strong><strong> Efeknya</strong></p>
<p>Di samping faktor pemicu antara angan dan cita-cita berbeda, efek yang ditimbulkan karena keduanya juga berbeda. Orang yang bercita-cita cenderung membulatkan tekadnya, mengatur langkahnya, mengerahkan potensinya dan serius untuk menggapai tujuannya. Berbeda dengan panjang angan-angan yang menyebabkan pemiliknya justru berleha-leha dan banyak melakukan taswif (menunda).</p>
<p>Dengan kata lain, jika ada seseorang memiliki target masa depan yang tinggi, tapi dia berleha-leha, maka yang dia miliki sebenarnya angan-angan, bukan cita-cita. Andai dia memiliki cita-cita, tentu dia akan menggunakan peluang dan potensinya untuk sesuatu yang bermanfaat dan mengantarkan cita-citanya. Dan untuk tujuan inilah Islam menghasung umatnya untuk bercita-cita mulia.</p>
<p>Nabi saw membedakan cita-cita mulia orang yang cerdas dengan kelemahan orang yang mengandalkan angan-angan,</p>
<h6>الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّه</h6>
<p>“<em>Orang yang cerdas adalah orang yang sudi mengoreksi diri dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah.</em>” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan haditsnya hasan)</p>
<p>Si lemah berangan-angan, bahwa dengan bersenang-senang, mengikuti hawa nafsu, serta tanpa kesungguhan amal mereka menyangka akan mendapatkan kemuliaan oleh Allah. Tentang hadits ini, Al-Manawi dalam at-Taisir bi Syarhil Jaami’ ash-Shaghiir berkata, “Antara cita-cita dan angan-angan itu berbeda. Barangsiapa yang tidak mengolah tanah, tidak menaburinya dengan benih, namun dia menunggu datangnya panen, maka dia hanyalah pengandai yang terpedaya dan bukan orang yang bercita-cita. Karena orang yang bercita-cita itu adalah orang yang mengelola tanah, menaburinya dengan benih, mengairinya dengan air dan melakukan sebab-sebab yang logis untuk ikhtiar, lalu selebihnya dia berharap kepada Allah agar menghindarkan dari segala hama dan memberikan karunia panen raya.”</p>
<p><strong>Cita-cita Hanya Milik Mukmin Saja</strong></p>
<p>Satu hal lagi yang membedakan antara cita-cita dan panjang angan. Sesungguhnya, cita-cita hanyalah milik orang yang beriman saja. Setinggi apapun target yang hendak diraih oleh orang kafir, meski akhirnya mereka berhasil menggapainya, sebenarnya dari sejak semula, keinginan mereka hanyalah angan-angan semata. Karena obsesi terbesar mereka adalah dunia, puncak ilmu mereka adalah dunia dan mereka menyangka disitulah letak kebahagiaan dan kemuliaan, padahal itu hanyalah fatamorgana. Maka, sebenarnya mereka hanya memiliki angan-angan, bukan cita-cita.</p>
<p>Nantinya mereka akan sadar akan kekeliruannya dalam berangan-angan. Sadar telah salah mengambil jalan. Namun sayang, kesadaran itu muncul saat tak ada waktu lagi untuk merevisi angan-angan kosong menjadi cita-cita mulia,</p>
<p>“<em>Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”</em> (QS al-Hijr 2)</p>
<p>Ya Allah, sampaikanlah kami kepada cita-cita kami, untuk bersama orang-orang yang telah Engkau karuniakan nikmat kepada mereka, dari para Nabi, Shiddiqiin, Syuhada’ dan Shalihin. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memindah Penyakit ke Dalam Telur</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/memindah-penyakit-ke-dalam-telur.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/memindah-penyakit-ke-dalam-telur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 06:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pasien datang ke ‘orang pintar’. Dia mengeluhkan sakit perut yang lama di deritanya. Sesaat si dukun memeriksa, disimpulkanlah bahwa pasien terkena santet. Terapi di mulai. Si dukun mengambil telur ayam lalu menggelindingkan telur berkali-kali ke perut pasien sambil berkomat-kamit. Sesaat kemudian, si dukun menyediakan baskom dan memecah telur di hadapan pasien. Ajaib, di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/memindah-penyakit-ke-dalam-.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-314" title="memindah-penyakit-ke-dalam-" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/memindah-penyakit-ke-dalam--150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Seorang pasien datang ke ‘orang pintar’. Dia mengeluhkan sakit perut yang lama di deritanya. Sesaat si dukun memeriksa, disimpulkanlah bahwa pasien terkena santet. Terapi di mulai. Si dukun mengambil telur ayam lalu menggelindingkan telur berkali-kali ke perut pasien sambil berkomat-kamit. Sesaat kemudian, si dukun menyediakan baskom dan memecah telur di hadapan pasien. Ajaib, di dalam telur terdapat paku, pines, jarum, maupun pecahan silet. “Nih, santetnya sudah aku keluarkan, kamu sudah sembuh!” katanya.</p>
<p>Kasihan, pasien ini telah ditipu oleh dukun dengan trik murahan. Memang dukun konsisten dengan semboyannya, “kebodohan kamu adalah keuntungan kami.” Mari kita ‘bedah’ trik dukun yang masih laris di pasaran ini.</p>
<p>Sejatinya dukun itu tidak bisa memindah penyakit dari perut ke telur. Benda-benda tajam yang terdapat dalam telur itu sengaja dimasukkan dengan proses kimiawi. Caranya, telur direndam ke dalam cuka selama lebih kurang 1 jam. Kulit telur akan lembek dan lunak, sehingga bisa dimasuki jarum, atau paku atau duri atau silet atau bahkan bisa disuntik dengan darah ayam segar. Setelah diangkat dari air cuka dan didiamkan, kulit kembali mengeras, lalu lobang bekas memasukkan barang tersebut ditutup dengan sabun yang memiliki warna paling mirip dengan warna kulit telur. Inilah rahasia di balik keanehan itu. Selebihnya, tinggal keluwesan dukun dalam bersandiwara, dan kelengahan pasien yang gampang percaya.</p>
<p>Mungkin ada pertanyaan, kenapa pasien kadang-kadang sembuh? Bukan karena telurnya, tapi karena kuatnya sugesti pasien yang melihat dengan mata kepala, bahwa penyakit telah ‘berpindah’ ke dalam telur. Rasa lega ini yang membuatnya lupa akan penyakitnya. Tapi, karena inti penyakitnya belum hilang, biasanya ini tidak berlangsung lama, penyakit akan kambuh kembali, dan pasien akan ketagihan lagi datang ke dukun untuk memiskinkan diri sendiri dan memperkaya dukun, <em>na’udzu billah.</em></p>
<p>Agar kita tidak gampang tertipu oleh cara-cara pengobatan yang aneh, atau terjerumus pada terapi ala ketok magic yang sesat, maka ada rambu-rambu yang dijelaskan para ulama untuk memilih cara pengobatan yang diperbolehkan oleh syar’i.</p>
<p>Pertama, pengobatan itu haruslah yang bersifat <em>ma’qul</em>, logis, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah atau <em>hissiyah</em> (bisa diindera). Yang penting bukan menggunakan sesuatu yang diharamkan, karena Nabi saw bersabda,</p>
<h6>فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَام</h6>
<p>“Maka berobatlah, akan tetapi jangan berobat dengan yang haram.” (HR Abu Dawud)</p>
<p>Kedua, dalam hal pengobatan yang tidak logis, haruslah masyru’, ada keterangan syariatnya. Seperti do’a-do’a ma’tsur atau secara umum ruqyah syar’iyyah, yang meskipun terhitung tidak logis, namun dalil syar’i telah mengukuhkan kebolehan dan khasiatnya.</p>
<p>Pengobatan yang tidak masuk nalar dan tidak pula dididapatkan keterangannya dalam syariat besar kemungkinan itu adalah perdukunan atau hanya tipuan belaka. Seperti memindahkan penyakit ke hewan, berobat dengan mengganti tanda tangan dan cara lain yang tidak logis dan tidak masyru’. <em>Wallahu a’lam</em>. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/memindah-penyakit-ke-dalam-telur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/08/setan-dibelenggu-nafsu-menghasutmu.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/08/setan-dibelenggu-nafsu-menghasutmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 08:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan datang, kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.
Tapi bukan berarti semua manusia menjadi ma’shum karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/setan-dibelenggu.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-279  alignleft" title="setan-dibelenggu" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/setan-dibelenggu-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ramadhan datang, kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.</p>
<p>Tapi bukan berarti semua manusia menjadi <em>ma’shum</em> karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan mata, dosa pun masih menjadi pemandangan yang biasa. Mengapa?</p>
<p>Masih ada bahaya latin pada diri manusia. Dia adalah musuh besar manusia, tapi dianggap tuan olehnya. Perintahnya diikuti, keinginannya dituruti dan pantangannya disingkiri. Dialah nafsu yang sebagian ulama menyebutnya dengan <em>‘aduwwun matbuu’</em>, musuh yang diikuti.</p>
<p><strong>Nafsu, Teman dan Tunggangan Setan</strong><br />
Nafsu disebut pula sebagai <em>rafiiqusy syaithan</em>, teman akrabnya setan. Nafsu punya kecenderungan bersenang-senang, lalu setan yang menyuguhkan progam maksiat yang menyenangkan. Atau setan lebih dulu memberikan tawaran menggiurkan, lalu nafsu datang memberikan sambutan. Maka antara setan dan nafsu ibarat sejoli yang saling melengkapi keinginan pasangannya.</p>
<p>Ulama yang lain menyebut nafsu sebagai <em>markabusy syaithan</em> atau <em>mathiyyatusy syaithan</em>, kendaraan setan. Karena tatkala setan hendak melancarkan serangan, dia akan memboncengi nafsu yang selaras dengan kesenangan yang memperdayakan. Melalui pintu nafsu pula setan bisa masuk dan menghembuskan bisikan.</p>
<p>Keduanya saling berperan dalam menyesatkan, maka, kelak di neraka masing-masing saling menuduh siapa ‘biang’ yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Setan akan ‘cuci tangan’ atas ajakan yang pernah ia lakukan. Allah berfirman,</p>
<p>“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, &#8220;Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah diri (nafsu)mu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.” (QS Ibrahim 22)</p>
<p>Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan “<em>nafsu ammaaratun bis suu’</em>.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,</p>
<p><em>“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.</em>” (QS Yusuf 53)</p>
<p>Memang tidak salah jika manusia memiliki kecenderungan dan kesenangan terhadap wanita, anak-anak, harta dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Bahkan semua itu bisa menjadi sarana untuk taat kepada Allah.</p>
<p>Akan tetapi, seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu tak puas hanya sebatas itu. Ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.</p>
<p>Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.</p>
<p><strong> Jika Dituruti, Tak Pernah Terpuasi</strong><br />
Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi saw memberikan gambaran tentang nafsu manusia,</p>
<h6>لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ</h6>
<p>“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR Bukhari)</p>
<p>Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hanya dengan satu jenis maksiat saja.</p>
<p>Ibnul Qayyim al-Juaziyah mengatakan, “Hendaknya orang yang berakal mengetahui bahwa orang yang menuruti kemauan syahwat, akan tergiur untuk berpindah dari satu jenis syahwat menuju syahwat yang lain. Pun ia tidak akan pernah puas karenanya, tetapi tidak pula kuasa untuk meninggalkan kebiasaannya. Karena seakan itu telah menjadi bagian hidup yang mesti di jalaninya. Untuk itu, Anda juga melihat bahwa orang yang terus mabuk khamr dan zina tidak pernah merasakan sepersepuluh kepuasan yang didapat orang lain dalam hidupnya.</p>
<p>Syeikh Ath-Thanthawi bahkan memberikan pengandaian yang lebih berani, “Seandainya diberikan kepada Anda seluruh harta Qarun, postur tubuh seperti Herkules dan disediakan untukmu sepuluh ribu wanita yang paling cantik dari berbagai warna kulit, bentuk dan berbagai sisi kecantikan, apakah Anda mengira telah cukup puas? Tidak, aku katakan dengan tegas, ‘tidak.., aku menulisnya dengan pena yang tajam. Akan tetapi, satu saja wanita yang halal untukmu niscaya cukup bagi Anda. Janganlah Anda menuntut bukti kepada saya, karena setiap kali Anda menoleh kepada kehidupan sekitar Anda niscaya Anda akan mendapatkan bukti yang valid, jelas dan kasat mata.”</p>
<p><strong>Menyesali, Tapi Kembali Lagi</strong><br />
Ketika nafsu ‘menggolkan’ suatu dosa, hingga pemiliknya terjerumus ke dalamnya, bukan berarti nafsu tidak menyesalinya. Terkadang ia juga menyesal, tapi sebentar kemudian ia ketagihan lagi untuk meneguk cawan maksiat. Inilah yang disebut dengan <em>‘nafsul lawwaamah’. </em>Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).</em>” (QS al-Qiyamah 2)</p>
<p>Ibnu Jarir menyimpulkan berbagai penafsiran tentang <em>nafsul lawwaamah</em>, “yakni nafsu yang suka menyesali perbuatan baik maupun perbuatan buruk dan menyesali apa yang telah berlalu.” Dia menyesal atas perbuatan buruk yang telah dikerjakan, atau perbuatan baik yang ia sia-siakan.</p>
<p>Ada kalanya, ada orang yang dirahmati Allah, penyesalan itu akan membawa pemiliknya untuk bertaubat dan melakukan perbaikan. Namun tak jarang pula yang tetap kembali dengan kebiasaan lama, mencebur kembali ke habitatnya yang kelam.</p>
<p><strong>Nafsu Bisa Disapih</strong><br />
Nafsu itu seperti bayi, jika dibiarkan menyusu, ia tak mau berhenti. Tapi jika disapih, tak akan membuatnya celaka. Dengan dipandu oleh wahyu, dibimbing oleh syariat, nafsu yang liar bisa ditundukkan menjadi tenang. Ia akan ridha dalam ketaatan dan benci terhadap kemaksiatan. Inilah yang disebut dengan nafsul muthma’innah. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p><em>“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya…</em>” (QS al-Fajr 27-28)</p>
<p>Ibnu Katsier rahimahullah menafsirkan nafsul muthma’innah dengan jiwa/nafsu yang tenang, teguh dan berjalan di atas kebenaran.</p>
<p>Dengan kata lain, syariat tidak ‘membunuh’ adanya potensi nafsu pada diri manusia, karena itulah fitrah bagi manusia. Tapi syariat mengarahkan nafsu kepada sesuatu yang bermanfaat, dan mencegahnya dari madharat. Allah melarang zina, tapi menghalalkan pernikahan dengan ketentuan yang rinci. Allah mengharamkan khamr, tapi masih lebih banyak minuman yang dihalalkan. Mengharamkan bangkai dan daging babi, tapi menghalalkan yang baik-baik yang juga disukai oleh nafsu, begitulah seterusnya.</p>
<p>Wal hasil, tantangannya sekarang adalah, mampukah kita mengendalikan nafsu agar tidak menjamah di luar batas yang dihalalkan oleh Allah. Semoga hadirnya Ramadhan menjadi momen penting bagi kita untuk menyapih hawa nafsu dan menundukkan dari sifat <em>ammaratun bis suu’</em> menuju <em>thuma’niinah</em>. Wallahul muwaffiq. <em>(Abu Umar Abdillah)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/08/setan-dibelenggu-nafsu-menghasutmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awalnya Penasaran Akhirnya Ketagihan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/07/awalnya-penasaran-akhirnya-ketagihan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/07/awalnya-penasaran-akhirnya-ketagihan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 06:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Banyak pintu menuju maksiat, bertebaran pula para penjaja dosa yang mengumbar janji-janji kenikmatan. Tak hanya membuat betah para durjana untuk mengulangi dosa, tapi juga mengundang hasrat orang yang baru ngedrop iman tergiur untuk mencicipinya.
Awalnya Penasaran Lalu Coba-coba Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah untuk menjadi hamba bagi Penciptanya dan tunduk dengan aturan-aturan-Nya, naluri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/07/634693_33739027.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-242    alignleft" title="634693_33739027" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/07/634693_33739027-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Banyak pintu menuju maksiat, bertebaran pula para penjaja dosa yang mengumbar janji-janji kenikmatan. Tak hanya membuat betah para durjana untuk mengulangi dosa, tapi juga mengundang hasrat orang yang baru ngedrop iman tergiur untuk mencicipinya.</p>
<p>Awalnya Penasaran Lalu Coba-coba Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah untuk menjadi hamba bagi Penciptanya dan tunduk dengan aturan-aturan-Nya, naluri untuk menghindar dari maksiat dan dosa. Lantas kapan manusia mulai ‘menikmati’ dosa? Masing-masing tentu memiliki pengalaman yang berbeda, baik dari sisi waktu, faktor pemicu, maupun jenis dosa yang pada gilirannya menjadi kebiasaan dalam hidupnya.</p>
<p>Tak hanya oleh orang yang belum tahu, dosa tak jarang dilakukan oleh orang yang sudah mengerti hukum, juga paham tentang perkara yang dilarang oleh agama. Rasa penasaran lantaran belum pernah melakukan, sering menjadi awal dari dosa. Rasa  penasaran itu bisa lahir dari bisikan nafsu yang terus ‘dikompori’ oleh setan, dan atau berpadu dengan banyaknya iming-iming dari luar. Penasaran seperti apa rasanya ‘ngefly’ oleh minuman khamr, lezatnya makan daging babi dan nikmatnya kemaksiatan lain seperti zina dan berjudi.</p>
<p>Sementara di luar, setan terus memberikan rangsangan. Menggambarkan kenikmatan dosa melalui gambar yang terpampang, film-film yang tertayang dan cerita-cerita yang tersebar. Hal ini semakin menguatkan nafsu orang untuk menjajalnya. Setanpun mulai memanfaatkan peluang. Dia berusaha menepis berbagai keraguan, menyingkirkan sensor-sensor keimanan yang masih tersisa di hati dan pikiran calon korbannya. Mungkin dengan memberi pengharapan masih adanya kesempatan untuk bertaubat, atau memberikan alibi yang terkesan masuk akal. Seperti ketika Adam penasaran terhadap pohon yang dilarang untuk didekati, maka Setan datang dengan membawa jawaban yang menyesatkan, meski sekilas tampak logis dan seakan ia berada pada pihak yang membela Adam,</p>
<p><em>“Dan Setan berkata, &#8220;Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam Jannah)&#8221;.</em> (QS. al-A’raaf 19)</p>
<p>Begitulah, setan akan mencarikan seribu alasan ‘logis’ agar manusia tak ragu untuk mencicipi dosa. “Mumpung masih muda, toh hanya sekali, masih ada waktu untuk taubat, tak ada orang yang tahu, yang penting niatnya baik, cukup diambil manfaatnya, jangan hanya melihat sisi buruknya…” dan seabrek polesan yang membuat akal tersihir dan hati menjadi terlena, hingga akhirnya manusia termakan oleh propaganda setan, nas’alullahal ‘aafiyah.</p>
<p>Terkadang setan memanfaatkan peluang kebosanan seseorang dalam menjalani aktivitas kehidupan. Sasarannya adalah mereka yang belum merasakan kenikmatan ibadah meski telah menjalankannya, atau orang yang tidak membenci dosa meskipun belum mencicipinya. Lalu setan datang untuk ‘menasihatinya’, “Kamu tidak merasakan nikmatnya ibadah karena jalan hidupmu datar-datar saja. Coba kalau kamu menjadi ahli maksiat terlebih dahulu, seperti si fulan atau fulanah, pasti setelah taubat kamu akan merasakan manisnya keimanan..!” Tampak logis, berpihak dan berlagak sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu tak lebih dari perangkap, yang seandainya seseorang masuk ke dalamnya, sulit baginya untuk keluar.</p>
<p>Tatkala dorongan nafsu semakin kuat, pengaruh akal melemah, sementara dalih juga telah disiapkan, mulailah seseorang untuk mencoba mencicipi dosa. Satu langkah setan telah diikuti, sulit bagi si korban untuk kembali kecuali yang dirahmati Allah,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” </em>(QS. an-Nuur 21)</p>
<p>Akhirnya Ketagihan Dosa</p>
<p>Sekali mencoba, pasti dia akan merasakan satu di antara dua rasa yang berbeda, meski follow up dari coba-coba ini akhirnya sama juga. Mungkin ia tidak merasakan nikmat sebagaimana yang dia bayangkan sebelumnya. Ini membuatnya makin penasaran, maka dia terdorong untuk mencoba kali kedua untuk meyakinkannya. Atau sekali coba dia langsung mendapatkan rasa yang diharapkannya, maka diapun tergila-gila dan ketagihan untuk mengulanginya.</p>
<p>Seperti awal mula orang yang hobi berjudi. Awalnya coba-coba, siapa tahu mendapat ‘keberuntungan’. Jika ternyata menang, maka akan dijadikan sumber penghasilan, jika kalah, maka semakin penasaran untuk mencoba berulang-ulang. Harta ludes pun belum tentu menjadi alasan untuk berhenti berjudi, dia akan terus mengejar angannya meski harus dengan berhutang atau bahkan mencuri.</p>
<p>Dusta juga begitu. Bohong yang pertama seakan menjadi bibit unggul bagi tumbuhnya kedustaan berikutnya. Karena untuk menutupi kedustaan pertama seseorang akan melakukan dusta yang kedua, ketiga, keempat dan begitu seterusnya.</p>
<p>Apalagi dosa zina. Tidak mudah orang berhenti dari perbuatan keji ini jika terlanjur mencobanya. Karena ketagihannya itulah, maka hukuman bagi pezina di akhirat sangat sesuai dengan karakter mereka di dunia. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menuturkan,</p>
<p>“Ketahuilah bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan. Hati yang telah terpaut dengan sesuatu yang haram, setiap kali dia berhasrat untuk meninggalkan dan keluar darinya, pada akhirnya kembali ke dosa semula.</p>
<p>Begitu pula dengan balasan baginya di barzakh maupun di akhirat. Pada sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundub yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,</p>
<p>‘Suatu malam aku bermimpi ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku keluar, maka akupun beranjak bersama keduanya. Ternyata aku melihat ada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas, sedangkan di bawahnya ada nyala api. Di dalam bangunan tersebut ada kaum laki-laki dan  perempuan yang telanjang. Ketika api dinyalakan merekapun berusaha naik ke atas hingga hampir-hampir mereka keluar. Jika api redup merekapun kembali ke tempat semula. Sayapun bertanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah para pezina.”</p>
<p>Maka perhatikanlah kesesuaian hadits ini dengan kondisi hati para pezina di dunia. Setiap kali mereka berkeinginan untuk bertaubat dan berhenti darinya, serta keluar dari tungku syahwat menuju kesejukan taubat, ternyata kandas dan mereka kembali lagi padahal hampir saja mereka keluar darinya.”</p>
<p>Tak terkecuali dosa-dosa yang lain, pada dasarnya dosa adalah bibit bagi dosa berikutnya, baik dengan jenis yang sama atau bahkan melahirkan dosa-dosa baru yang berbeda jenisnya. Hingga ada kaidah yang populer di kalangan ulama,</p>
<p>إِنَّ مِنْ عَقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهاَ<br />
<em>“Sesungguhnya, di antara hukuman bagi keburukan adalah lahirnya keburukan berikutnya.</em>”</p>
<p>Menjadi Pengikut Setan yang Setia</p>
<p>Seperti minum air laut, makin banyak minum akan terasa semakin haus. Begitulah gambaran orang yang kecanduan dosa setelah mencoba. tatkala kecenderungan terhadap dosa makin kuat mencengkeram, ketika itu ikatan ketaatan mulai longgar dan akhirnya pudar. Tak merasa bersalah saat menelantarkan kewajiban, merasa enjoy saat menjamah kemaksiatan. Intinya, dia telah menjadi pecinta dan pendukung kemaksiatan. Satu langkah setan lagi diikuti, makin sulit pula harapan dia untuk kembali ke jalan yang lurus.</p>
<p>Tinggal langkah terakhir, hampir-hampir dia sudah sejenis dengan setan, atau berbuat seperti yang diperbuat oleh setan. Ketika dia menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, lalu menghasung manusia kepada kemaksiatan dan menghalangi manusia dari ketaatan, maka dia telah memiliki karakter yang sama dengan setan, kafir dan menyeru kepada kekafiran, na’udzu billah.</p>
<p>Itulah siklus dosa yang boleh jadi tidak disadari, dari sekedar kecenderungan dan penasaran yang diikuti dengan coba-coba, akhirnya menumbuhkan kesenangan dan cinta dosa. Akhirnya, iapun berbuat seperti yang diperbuat oleh setan,</p>
<p><em>“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.</em>” (QS al-An’am 113)</p>
<p>Maka, bersabar untuk tidak mencoba dosa, meskipun berat, itu lebih ringan daripada dia harus bersabar menghadapi beratnya dorongan nafsu setelah dosa pertama dijamahnya. Semoga Allah melindungi kita dari dosa. Amien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/07/awalnya-penasaran-akhirnya-ketagihan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Kenal Maka Tak Benci</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/06/tak-kenal-maka-tak-benci.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/06/tak-kenal-maka-tak-benci.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 02:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[keburukan]]></category>
		<category><![CDATA[tak benci]]></category>
		<category><![CDATA[tak kenal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Rasa cinta atau benci, adalah faktor yang menggerakkan hati untuk menerima atau menolak, diam atau bergerak. Namun rasa itu sendiri akan muncul setelah seseorang mengenali obyek yang hendak dicinta atau dibenci. Tanpa mengenali, seseorang belum memiliki keberpihakan, sedangkan salah dalam mengenali, maka akibatnya lebih fatal lagi. Dia akan mencintai sesuatu yang mestinya dia benci, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa cinta atau benci, adalah faktor yang menggerakkan hati untuk menerima atau menolak, diam atau bergerak. Namun rasa itu sendiri akan muncul setelah seseorang mengenali obyek yang hendak dicinta atau dibenci. Tanpa mengenali, seseorang belum memiliki keberpihakan, sedangkan salah dalam mengenali, maka akibatnya lebih fatal lagi. Dia akan mencintai sesuatu yang mestinya dia benci, dan membenci apa-apa yang selayaknya dia cintai.</p>
<p><strong><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/mutholaah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-217" title="mutholaah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/mutholaah-e1275620837196.jpg" alt="" width="310" height="254" /></a>Tak Kenal Dosa, Maka tak Membencinya</strong></p>
<p>Benci terhadap maksiat dan dosa adalah konsekuensi logis dari cinta terhadap ketaatan dan pahala. Kaum muslimin juga satu kata dalam memandang bahwa dosa itu cela. Memvonis bahwa maksiat adalah biang dari segala musibah dan duka lara. Tapi sayang, tak banyak yang peduli untuk mengerti lebih detil dan rinci, tentang larangan yang dihukumi haram secara syar’i. Sehingga nyaris pengetahuan globalnya tentang buruknya dosa itu tidak berfaedah, lantaran mereka tidak tahu apa itu maksiat, dan perbuatan apa yang dianggap dosa oleh syariat. Kebanyakan hanya tahu bahwa syirik itu dosa besar, tapi toh mereka juga tidak ingin tahu, keyakinan dan perbuatan apa saja yang bisa masuk dalam kategori syirik, dosa yang tak terampuni itu. Akhirnya, perbuatan dosapun menjadi hal yang biasa, atau tak jarang malah dipromosikan dan dibela.</p>
<p>Jika kita bacakan suatu dalil bahwa ini adalah haram, itu adalah dosa, maka serta merta mereka akan menggerutu, “sedikit-sedikit dosa…sedikit-sedikit dosa.” Yang lain lagi menyanggah, “Jangan mengada-ada, baru kali ini saya mendengar ada yang mengatakan ini dosa!” Ada lagi yang membantah, “Haji fulan saja berbuat begitu..!” dan komentar lain yang menunjukkan bahwa dalil-dalil keharaman itu masih asing di telinga. Terlebih dosa-dosa yang sudah jamak dilakukan di tengah masyarakat.</p>
<p>Kita ambil satu sampel, jika kita kita katakan bahwa apa yang dilakukan oleh biduanita yang menghibur dengan nyanyian genit, berjoged sembari mengenakan pakaian mini atau ketat itu dosa, maka banyak yang terheran-heran. Apalagi jika kita katakan bahwa itu termasuk dosa besar, tentu mereka makin tidak percaya, dan kita dianggap mengada-ada. Sementara telah jelas dalil dari Nabi saw yang mengabarkan peristiwa yang bakal terjadi di akhir zaman,</p>
<p>“Dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihatnya&#8230;(kemudian beliau menyebutkan salah satunya)</p>
<h6>وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</h6>
<p>“Dan wanita yang berpakaian tapi telanjang, menyimpang, melenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang miring, mereka tidak akan masuk jannah, bahkan tidak mencium baunya jannah, padahal bau jannah bisa dirasakan dari jarak sekian dan sekian (yakni sangat jauh).” (HR Muslim)</p>
<p>Perhatikanlah ciri wanita yang disebut oleh Nabi sejak lebih dari seribu tahun lalu itu. Apa yang kita saksikan di zaman ini bukan lagi mirip dengan apa yang disebutkan cirinya oleh Nabi, bahkan sudah melewati sekian langkah lebih parah. Perbuatan itu dikategorikan dosa besar karena disertai ancaman yang keras di akhirat, yakni tidak akan mencium baunya jannah, na’udzu billah.</p>
<p>Belum lagi dosa-dosa dalam urusan makanan, minuman, pakaian, perdagangan dan pencaharian. Rata-rata orang tak lagi peduli dengan cara yang dia lakukan. Keadaannya seperti yang digambarkan oleh Nabi SAW,<br />
<strong><br />
يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ ، لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنَ الْحَرَام<br />
</strong><br />
“Akan datang atas manusia, suatu zaman di mana seseorang tidak peduli atas apa yang diambilnya, apakah dari yang halal, ataukah dari yang haram.” (HR Bukhari)</p>
<p>Setidaknya, makna tidak peduli dalam hadits ini meliputi dua hal, yakni tidak merasa perlu untuk mengetahui status halal haramnya sesuatu, atau bisa jadi telah mengetahui hukumnya, namun ia tidak mengindahkannya, dan tidak menjadikannya sebagai pertimbangan dalam setiap tindakan.</p>
<p>Sebagian lagi malah sengaja menghindar dari belajar fikih halal haram alasannya takut dengan konsekuensinya. Takut jika sudah tahu hukum lalu tidak bisa mengikuti rambu-rambunya. Sekilas alasan ini masuk akal. Tapi sebenarnya sikap ini berakibat fatal. Perumpamaannya seperti orang yang takut melihat jalan berbahaya, lalu berjalan dengan memejamkan mata. Kecil sekali kemungkinan untuk bisa selamat. Karena itulah, ketika seseorang berkata kepada sahabat Abu Hurairah, “Saya tidak mau belajar karena takut menyia-nyiakan ilmu!” Maka beliau menjawab, “Cukuplah kamu dikatakan menyia-nyiakan ilmu jika kamu tidak mau belajar.” Kiranya sangat tepat jawaban beliau. Jika alasan orang itu diterima maka kebodohan terhadap hukum syar’i akan merata, maksiatpun akan merajalela. Dan lagi, mereka merasa tidak berdosa menjamah dosa dengan alasan belum mengerti ilmunya.</p>
<p><strong>Mengenali Keburukan Seperti Mengenali Kebaikan</strong></p>
<p>Mengetahui larangan sama pentingnya dengan pengetahuan tentang perintah. Sebagaimana mengenali suatu dosa itu sama urgennya dengan mengenali fadhilah dan pahala. Para ulama terdahulu mengatakan, bidhiddiha tu’raful asy-ya’, dengan mengetahui kebalikannya, maka akan diketahui hakikat sesuatu.</p>
<p>Karena itulah, para sahabat dan ulama terdahulu seirus untuk mengenali beragam keburukan sebagaimana kegigihan mereka dalam mempelajari beragam kebaikan. Hudzaifah bin Yaman pernah berkata,<br />
<strong><br />
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ  Nعَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.<br />
</strong><br />
“Dahulu orang-orang (para Sahabat) bertanya kepada Rasulullah ` tentang kebaikan. Sementara aku menanyakan kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir terjerumus ke dalamnya.” (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Umar bin Khathab juga mengkhawatirkan generasi yang hanya mengetahui kebaikan, sementara mereka tidak memahami yang sebaliknya. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya simpul Islam itu akan terurai satu per satu apabila seseorang itu tumbuh besar dalam Islam sedangkan ia tidak mengetahui jahiliyyah.” [<em>Al-Fawaa`id</em>, hal. 109 dan <em>al-Jawāb al-Kaafi</em>, hal. 152]</p>
<p>Memiliki pengetahuan tentang kebaikan adalah keharusan, karena memahaminya adalah pintu awal untuk mengerjakannya. Mengenali keburukan juga tak kalah pentingnya, karena dengannya seseorang bisa menghindar dari keburukan. Seperti yang dikatakan oleh Abu Faraas al-Hamdani,<br />
<strong><br />
عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ</strong></p>
<p><strong>وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ<br />
</strong><br />
<em>Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan, namun untuk menjaga diri darinya.</em></p>
<p><em>Karena barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan,niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya</em>.</p>
<p>Orang yang hanya memburu pahala tanpa mengenali dan mewaspadai dosa, seperti orang yang bergegas menuju tempat tujuan, tanpa melihat jalan yang berlubang dan menggelincirkan. Jelas, sulit baginya untuk selamat. Realita inilah yang banyak kita dapatkan. Orang-orang yang melakukan berbagai bentuk kebaikan, namun juga melakukan dosa-dosa yang bisa mengurangi pahala atau bahkan terkadang berakibat hapusnya seluruh amal kebaikan yang dilakukannya. Maka menjadi kewajiban kita untuk mempelajari kebaikan lalu berusaha mengikutinya, dan memahami keburukan-keburukan untuk kemudian dihindari.</p>
<p>Alangkah indah apa yang diungkapkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib yang menandai karakter pemburu jannah yang sesungguhnya. Beliau mengatakan,  “Barangsiapa yang memiliki enam karakter, berarti dia betul-betul sedang memburu jannah dan lari dari neraka. Barangsiapa mengenal Allah lalu ia mentaati-Nya, mengenal setan lalu mendurhakainya, mengenal kebenaran lalu mengikutinya, mengenal kebathilan lalu ia menghindar darinya, mengenal dunia lalu zuhud terhadapnya dan mengenal akhirat lalu dia memburunya.”</p>
<p>Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu tampak benar, dan anugerahilah kami untuk bisa mengerjakannya, dan tunjukkanlah yang salah itu tampak salah, dan berilah taufik kepada kami untuk menjauhinya. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2010/06/tak-kenal-maka-tak-benci.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
