<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Abu Umar Abdillah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/author/abu-umar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 08:46:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Misteri Paku di Jasad Manusia</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/misteri-paku-di-jasad-manusia.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/misteri-paku-di-jasad-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 08:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kafsyu syubhah]]></category>
		<category><![CDATA[misteri paku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1608</guid>
		<description><![CDATA[Desember lalu, media gencar menyiarkan berita tentang bocah yang di betisnya terdapat puluhan paku, logam maupun jarum. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan resmi tentang asal-usul paku tersebut. Para dokter juga tampak kewalahan menjelaskan sisi medisnya. Umat Islam juga bertanya-tanya, bagaiman penjelasan syar’inya. Bahwa kejadian tersebut tak lepas dari kuasa Allah, dan bahwa apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/misteri-paku.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1563 alignnone" title="misteri-paku" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/misteri-paku-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Desember lalu, media gencar menyiarkan berita tentang bocah yang di betisnya terdapat puluhan paku, logam maupun jarum. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan resmi tentang asal-usul paku tersebut. Para dokter juga tampak kewalahan menjelaskan sisi medisnya. Umat Islam juga bertanya-tanya, bagaiman penjelasan syar’inya.</p>
<p>Bahwa kejadian tersebut tak lepas dari kuasa Allah, dan bahwa apapun yang dikehendaki Allah bisa terjadi, semua sepakat. Toh, banyak kejadian luar biasa sepanjang sejarah yang sebagian masih menyisakan misteri dan belum bisa dijelaskan secara ilmiah.</p>
<p>Hanya saja, ada pertanyaan yang butuh jawaban, mungkinkah masuknya paku-paku ke dalam betis bocah tersebut melalui proses santet? Mengingat posisi paku-paku tersebut mustahil jika dimasukkan secara manual.</p>
<p>Tulisan berikut hanya membahas sisi mungkin tidaknya kasus ini terkait dengan santet, bukan menyimpulkan secara pasti, apakah yang terjadi tersebut sudah pasti santet ataukah bukan.</p>
<p>Santet tergolong jenis sihir. Jumhur ulama berpendapat bahwa di antara sihir memiliki hakikat, bukan sekedar takhyili (ilusi) saja. Hanya sedikit yang menyelisihi pendapat ini, di antaranya Ibnu Hazm azh-zhahiri dan para penganut mu’tazilah. Bahkan al-Qarrafi dalam kitabnya al-Furuuq menyebutnya sebagai ijma’ (kesepakatan). Beliau berkata, “Sihir dan beritanya telah masyhur diketahui oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan mereka sepakat tentang adanya hakikat sihir.” Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah.</p>
<p>Nash-nash yang shahih banyak mengisahkan sihir dan hakikatnya. Seperti sihir yang memisahkan antara suami dengan istri, kisah tentang tukang sihirnya Fir’aun, tentang tukang sihir dalam peristiwa Ashhabul Ukhdud dan masih banyak lagi.</p>
<p>Bahkan Allah mengajarkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan tukang sihir, <em>“wa min syarrin naffaatsati fil ‘uqad”</em>, dan dari kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (QS. Al-Falaq; 4).</p>
<p>Sekiranya sihir itu tidak memiliki hakikat, tentu Allah tidak akan memerintahkan kita berlindung kepada darinya.</p>
<p>Lantas, apakah ada jenis sihir yang mampu memasukkan barang seperti paku ke dalam jasad manusia? Dalil-dalil menunjukkan kemungkinannya, meskipun tidak secara definitif menyebut kasusnya. Karena jenis sihir dari zaman ke zaman berubah-ubah dan bervariatif. Tapi intinya, bahwa sihir terjadi atas kerjasama antara manusia dengan setan dari golongan jin.</p>
<p>Sedangkan jin mampu memindah barang-barang milik manusia, seperti pengakuan Ifrit yang mampu memindahkan singgasana Bilqis dalam waktu cepat. Jin juga mampu merasuk ke dalam jasad manusia, seperti yang seringkali penulis bahas. Dan yang terakhir, bahwa jin diciptakan lebih dahulu daripada manusia, ia juga diberi akal. Dengan akal itu pastilah memiliki peradaban, teknologi dan temuan-temuan yang terus berkembang. Jika manusia mampu melakukan operasi cangkok anggota tubuh, maka tidak menutup kemungkinan mereka mampu melakukan dengan teknologi yang mereka miliki. Mereka ‘bekerja’ sedangkan kita tidak melihatnya. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/misteri-paku-di-jasad-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Level Kesempurnaan Manusia</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/level-kesempurnaan-manusia.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/level-kesempurnaan-manusia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 03:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kesempurnaan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[level manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1594</guid>
		<description><![CDATA[Syariat Allah diturunkan sebagai hidayah, petunjuk bagi manusia agar bisa kembali kepada Rabb-nya dengan selamat. Di dunia, hidayah Allah menjadi lensa yang harus dipasang di mata dan hati manusia agar mampu  membedakan yang benar dan yang salah. karenanya, keyakinan dan sikap yang diambil serta seluruh aktivitas harus didasarkan pada citra yang divisualisasikan lensa hidayah ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/level-manusia.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1557 alignnone" title="level-manusia" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/level-manusia-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Syariat Allah diturunkan sebagai hidayah, petunjuk bagi manusia agar bisa kembali kepada Rabb-nya dengan selamat. Di dunia, hidayah Allah menjadi lensa yang harus dipasang di mata dan hati manusia agar mampu  membedakan yang benar dan yang salah. karenanya, keyakinan dan sikap yang diambil serta seluruh aktivitas harus didasarkan pada citra yang divisualisasikan lensa hidayah ini. Semakin banyak pengetahuan Islam dimiliki, semakin jernih pandangan yang dihasilkan. Semakin baik pula kemampuannya untuk membedakan kebenaran dan kebatilan hingga detail, bahkan meski kebatilan berkamuflase sekalipun.</p>
<p>Itulah yang disebut <em>al bashirah fid dien</em>, mata hati yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang Islam. Mata hati yang dituntun cahaya hidayah hingga mampu membedakan yang haq dan yang bathil. Hanya saja, kemampuan ini belum cukup. Harus ada kekuatan selanjutnya berupa kekuatan <em>tanfidzud dien</em>, yaitu kemampuan untuk menunaikan tuntutan dari dienul Islam.</p>
<p>Dua hal ini, menurut Ibnul Qayim dalam kitabnya <em>ad Daa’ wa ad Dawa’</em> (hal. 105-106) merupakan dua aspek pokok untuk menilai kesempurnaan manusia. Kedudukan manusia di sisi Allah bertingkat-tingkat sesuai kadar dua aspek ini.</p>
<p>Ada yang mampu melihat kebenaran tapi lemah dalam usaha menjalankannya, atau mengetahui kebathilan tapi tak kuasa menolak apalagi mengenyahkannya.</p>
<p>Karenanya, secara global, tipudaya setan juga akan berkisar pada dua hal ini; menutup segala pintu ilmu tentang Islam dan membelokkan hasrat manusia dari belajar Islam. Hal ini dilakukan agar pandangan manusia kabur soal mana yang haq dan mana yang bathil. Kemudian, kalaupun sebagian lolos dan tetap giat belajar, jalan untuk mengamalkannya dipersempit dengan godaan, tipudaya sampai tindakan mengahalangi secara paksa melalui kaki tangannya dari bangsa manusia; penjahat, ketua adat, pemerintah anti Islam dan sebagainya. Ia pun lemah, tahu banyak tentang tuntutan syariat, tapi tak banyak yang bisa dilakukan untuk memenuhinya.</p>
<p>Dengan adanya gangguan setan ini, secara global manusia akan terbagi menjadi empat klasifikasi, sebagaimana yang disebutkan Ibnul Qoyim, yaitu;</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong><em>,</em> golongan yang paling mulia adalah yang memiliki <em>bashirah</em> sempurna dan kekuatan <em>tanfizh</em> yang paripurna. Mereka adalah para nabi. <em>Bashirah</em> mereka jernih hingga mampu membedakan al haq dan al bathil secara maksimal. Mereka juga memiliki kekuatan hati dan mental untuk melaksanakannya. Inilah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya;</p>
<p dir="RTL">وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ</p>
<p><em>“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yaqub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.”</em> (QS. Shad; 45).</p>
<p><strong><em>al Aidi</em></strong> adalah kekuatan untuk melaksanakan tuntutan kebenaran dan menegakkan kebenaran. Sedang <strong><em>al Abshar </em></strong>adalah pandangan dalam agama atau pengetahuan.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, golongan yang tidak memiliki bashirah dalam agama dan lemah dalam menegakkan tuntutan <em>al haq</em>. Ini merupakan level kebanyakan manusia. Orang-orang kafir masuk di level ini dan jumlah mereka tidaklah sedikit. Mereka, kata Ibnul Qoyim, hanyalah manusia-manusia tak berguna yang mengotori pandangan, mengeruhkan jiwa, dan bergaul secara intens dengan mereka hanya akan membuat kita ikut tercela.</p>
<p>Di antara umat Islam, ada juga yang kondisinya hampir mirip dengan golongan ini. Yaitu orang-orang yang hanya memiliki Islam dalam status kartu identitasnya dan bukan pada identitas dirinya yang sebenarnya. Bukankah kita bisa melihat, hari ini tidak banyak yang benar-benar mau menjadikan agamanya sebagai tolok ukur dalam sikap dan langkah. Seberapa banyak orang yang selalu mempertanyakan dan mengkhawatirkan apakah yang dilakukan sudah sesuai syariat? Apakah pekerjaan yang dijalani, konsep pemikiran yang diyakini, pendidikan yang diajarkan dan berbagai aktivitas yang dilakukan selaras dengan petunjuk dari Nabi SAW?</p>
<p>Kiranya tidak banyak. Sangat jauh dari contoh para shahabat yang selalu melihat semua tindakannya dari sudut pandang agama, sampai hal-hal yang sepele sekalipun.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, orang-orang yang memiliki bashirah dalam agama, mampu mengetahui kebenaran dan kebathilan, tapi lemah dalam pelaksanaannya apatah lagi mendakwahkannya. Ini merupakan kondisi orang mukmin yang lemah. Sedang orang mukmin yang kuat jauh lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Mukmin yang kuat derajatnya akan berada di bawah para nabi, mereka memiliki bashirah dalam agama dan cukup mampu melaksanakannya.</p>
<p><strong><em>Yang terakhir</em></strong>, orang yang memiliki kekuatan, tekad dan keinginan kuat, tapi lemah pengetahuan agamanya, tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah. Dan biasanya, apabila bashirah yang dimiliki buram dan kabur lensanya, manusia akan lebih mudah dituntun menuju kebathilan. Kemudian, karena memiliki kekuatan dalam melaksanakan apa yang menurutnya benar meskipun sebenarnya batil, dia pun akan menjadi budak yang sangat loyal pada kebatilan.</p>
<p>Kita bisa melihat orang-orang yang demikian getol mengamalkan berbagai hal yang menyimpang dari syariat. Ada yang getol membela bid’ah, padahal sudah dijelaskan bahwa hal tersebut bukan dari Islam tapi dari Hindu, misalnya. atau orang-orang yang gigih memperjuangkan tradisi kejawen dan adat istiadat yang menyimpang dari Islam. Yang lain habis-habisan mendakwahkan kebathilan berkedok Islam berupa pemikiran-pemikiran menyimpang yang diadopsi dari para orientalis dan perusak agama.</p>
<p>Nah, di level manakah kita berada? di manapun itu, asalkan masih bisa menjumpai matahari terbit, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri; menguatkan <em>bashirah </em>dengan terus mendalami Islam dan berusaha secara maksimal menunaikan apa yang menjadi tuntutannya.</p>
<p>Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang memiliki bashirah yang jernih dan kekuatan untuk menegakkan kebenaran. Amin. <em>Wallahua’lam</em>.(Abu Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/level-kesempurnaan-manusia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segala Keinginan Menjadi Kenyataan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/01/segala-keinginan-menjadi-kenyataan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/01/segala-keinginan-menjadi-kenyataan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 08:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[keinginan syurga]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1610</guid>
		<description><![CDATA[وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم “Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat 31-32) Allah menghamparkan dunia di hadapan manusia, lengkap dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center">وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم</p>
<p align="center"><em>“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. Fushshilat 31-32)</p>
<p align="left">Allah menghamparkan dunia di hadapan manusia, lengkap dengan berbagai kesenangan yang menghiasi dan problem yang mengisi. Banyak hal yang sesuai dengan selera nafsu manusia, namun tak sedikit pula hal yang tak mengundang hasrat dan bahkan nafsu menyangganya terasa berat. Di antara yang diminati nafsu, ada yang dilarang bagi manusia untuk menjamahnya. Dan ada pula bermacam perbuatan yang terasa berat dipandang nafsu, namun Allah perintahkan manusia melakukannya. Lalu hasil yang akan di panen manusia kelak, tergantung bagaimana ia mengendalikan nafsunya. Karena jalan menuju jannah tampak berat bagi syahwat, sementara jalan menuju neraka tampak indah dalam pandangan nafsu. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَات</p>
<p align="left">”Jannah diselimuti dengan berbagai hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diselimuti dengan berbagai (hal yang disukai) syahwat.” (HR. Muslim)</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Menahan Sedikit Kenikmatan</strong></p>
<p align="left">Walhamdulillah, Allah tidak mengharamkan segala hal yang sesuai dengan selera. Bahkan apa yang dihalalkan lebih banyak daripada yang diharamkan. Tak terhitung jenis makanan, hanya sedikit saja yang diharamkan. Tak terbilang pula jenis minuman, dan hanya sedikit yang dilarang. Begitupun halnya dengan buah-buahan dan berbagai kelezatan. Hingga dikenal sebuah kaidah bahwa asal segala sesuatu adalah boleh, kecuali setelah adanya keterangan yang melarang. Artinya, hal yang diperbolehkan sebenarnya lebih banyak dari larangan. Bahwa ada kesan syariat membatasi banyak hal; ini haram, itu tidak boleh, itu dilarang, atau ada kesan apa-apa serba tidak boleh, ini hanyalah efek dari kebiasaan nafsu yang ingin melampaui batas dan meminta lebih dari yang diijinkan. Sehingga ketika keinginanya bertepatan dengan apa yang dilarang syariat, seakan segala hal menjadi menjadi terlarang baginya. Padahal hakikatnya, yang halal lebih bayak dari yang diharamkan.</p>
<p align="left">Maka barangiapa yang melampaui batas dari yang dihalalkan, dia telah berbuat aniaya. Dan barangsiapa mencukupkan diri dengan yang halal dan menahan diri dari yang haram, baginya kenikmatan jannah dijanjikan.</p>
<p align="left"><em>”Dan adapun orang-orang yangtakut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya).”</em> (QS. An-Naazi’aat 40-:41)</p>
<p align="left">Tatkala mereka berada di jannah, tak ada lagi keinginan yang tertahan, tiada lagi hasrat yang tak tersalurkan. Segala hal yang diinginkan menjadi wujud di hadapan, tak ada larangan, tak ada batasan dan tak ada istilah bosan. Sebagai ganti dari usahanya di dunia yang rela menahan hawa nafsunya, maka di akhirat segala permintaan akan dikabulkan. Allah berfirman,</p>
<p dir="RTL">وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم</p>
<p align="left"><em>“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. Fushshilat [41]: 31-32)</p>
<p align="left">Segala yang ada sesuai dengan keinginan dan selera. Baik dari sisi rupa, aroma maupun kelezatan rasanya. Ini sebagaimana firman-Nya pula,</p>
<p dir="RTL">وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُون</p>
<p align="left"><em>“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” </em>(QS. Az-Zukhruf [43]: 71)</p>
<p align="left">Sedangkan makna ”dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”, maka apapun yang diminta, akan dikabulkan.</p>
<p align="left">
<p align="left"><strong>Tercapai Segala Hasrat yang Diinginkan</strong></p>
<p align="left">Tak perlu mengemukakan banyak alasan untuk memiliki, cukup satu alasan, yakni ‘keinginan’, maka dalam sekejap saja keinginan akan menjadi kenyataan. Nabi menceritakan tentang penghuni jannah yang ingin memiliki anak,</p>
<p dir="RTL">الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِى الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِى سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِى</p>
<p align="left">“Seorang mukmin apabila menginginkan anak di jannah, maka hamil, melahirkan dan (besarnya) anak wujud dalam sesaat sebagaimana yang ia inginkan.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “Shahih” )</p>
<p align="left">Mereka tak perlu merasakan susah payahnya mengandung janin, tak mengalami beratnya kontraksi menjelang kelahiran, tidak pula ada masa penantian seperti di dunia yang kerap mendatangkan kegalauan. Semua wujud dalam sesaat seperti yang diinginkan.</p>
<p align="left">Di antara penghuni jannah, ada pula yang ingin dituruti hobinya bercocok tanam, maka Allah tak menghalangi sedikitpun dari apa yang dia inginkan. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p align="left">“Ada seorang lelaki dari penghuni jannah, minta izin kepada Rabbnya untuk bercocok tanam. Allah berfirman, “Bukankah kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan?” Ia menjawab, “Benar, hanya saja saya suka bercocok tanam,” maka dia bersegera menyemai benih dan dalam sekejap biji itu tumbuh, berbuah dan siap panen hingga seperti gunung (karena lebat buahnya). Lalu Allah berfirman,</p>
<p dir="RTL">دُونَكَ يَا ابْنَ آدَمَ فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ</p>
<p align="left">“Ambillah wahai anak Adam, sesungguhnya segalanya tidak membuatmu kekenyangan.” (HR Bukhari)</p>
<p align="left">Itulah balasan bagi orang yang menyapih nafsunya di dunia, hingga di akhirat keinginannya terpenuhi secara sempurna, <em>Allahumma inna nas’alukal jannah, wa na’udzu bika minannaar.</em>Aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/01/segala-keinginan-menjadi-kenyataan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu, Bersihkan Diri Sucikan Hati</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 03:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu bersihkan hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[Ali bin Husein apabila berwudhu, wajahnya berubah menjadi pucat. Tatkala ditanya, “Apa yang terjadi dengan Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?” Adalah Ali bin Husein, apabila beliau berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya, “Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/muthalaah.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1565" title="muthalaah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/muthalaah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><em>Ali bin Husein apabila berwudhu, wajahnya berubah menjadi pucat. Tatkala ditanya, “Apa yang terjadi dengan Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”</em></p>
<p>Adalah Ali bin Husein, apabila beliau berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya, “Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”</p>
<p>Lazimnya, tatkala seseorang hendak menemui seorang pejabat yang dihormati dan dicintai misalnya, ia akan memperbagus tampilan sebelum bertemu. Ia akan bersih diri, memakai pakaian yang paling bagus dan memakai minyak yang paling wangi. Ia pun akan bercermin dan meneliti secara detil hal-hal yang sekiranya dapat mengundang kesan tidak baik dalam pandangan pejabat yang dimaksud. Itupun disertai perasaan gugup, takut dan sekaligus berharap akan mendapat sambutan yang baik. Begitulah keadaan seseorang yang hendak menghadap pejabat. Lantas bagaimana keadaan seorang hamba yang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut panggilan Pencipta-nya untuk menghadap?</p>
<p>Alasan inilah yang membuat raut wajah Ali bin Husein berubah. Beliau memahami bahwa shalat berarti menghadap dan menyambut undangan Pencipta yang berkuasa untuk berbuat apapun terhadapnya. Sedangkan wudhu adalah persiapan untuk menyambut undangan agung tersebut.</p>
<p>Adapun sekarang, betapa sedikit orang yang mencapai penghayatan demikian dalam. Wudhu hanya sebatas formalitas dan aktifitas lahir yang tidak menyertakan amal bathin. Sehingga, amal yang sejatinya besar ini tidak banyak memberikan pengaruh yang signifikan ke dalam hati, selanjutnya nihil pula dampaknya dalam amal perbuatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wudhu dan Kesucian Hati</strong></p>
<p>Sejatinya, wudhu memiliki dua dimensi kesucian yang menjadi tujuan. Suci lahir dan suci batin. Sisi lahir adalah sucinya anggota badan, dan sisi batinnya adalah penyucian hati dari noda dosa dan maksiat dengan bertaubat. Oleh karena itu Allah menyandingkan antara taubat dan thaharah (bersuci) dalam firmanNya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”</em> (QS. Al-Baqarah: 222)</p>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam <em>Bada’i al-Fawa’id</em> menjelaskan ayat ini, “Bersuci yang dimaksud ada dua hal; bersuci dari hadits dan najis dengan air, dan bersuci dari kesyirikan dan kemaksiatan dengan taubat. Dan poin kedua inilah yang menjadi inti. Karena bersuci dengan air tidaklah berguna tanpa bersuci dari syirik dan maksiat. Maka mempersiapkan dan mencurahkan kesungguhan untuk mendapatkan kesucian hati lebih diprioritaskan. Sebagaimana seorang hamba tatkala masuk Islam, dia terlebih dahulu membersihkan kesyirikan dengan bertaubat, baru kemudian bersuci dari hadats dengan air.”</p>
<p>Pada kesempatan yang lain, dalam Kitab Ighaatsatul Lahfaan beliau juga berkata, “Dengan hikmah-Nya, Allah menjadikan kebersihan sebagai persyaratan untuk berjumpa dengan-Nya, karena itu seorang yang melaksanakan shalat tidak boleh bermunajat dengan-Nya kecuali setelah bersuci. Demikian pula Allah menjadikan kebersihan dan kebaikan sebagai syarat untuk masuk jannah, sehingga tidak masuk jannah kecuali orang yang baik dan suci. Itulah dua jenis kesucian, suci badan dan suci hati. Karena itu, orang yang selesai berwudhu diperintahkan berdoa,</p>
<p dir="RTL">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ.</p>
<p>“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang beriman.”  (Lafal ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, shahih dan memiliki beberapa syawahid, seperti yang diutarakan oleh al-Albani dalam al-Irwa’)</p>
<p>Kebersihan hati diperoleh dengan bertaubat dari dosa, sedangkan kebersihan badan bisa diperoleh dengan air. Tatkala seseorang telah memiliki dua macam kebersihan, maka ia layak untuk berjumpa dengan Allah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dan Dosa pun Berguguran</strong></p>
<p>Dosa bagi hati, laksana penyakit bagi badan. Setiap kali bertambah dosa, bertambah pula tingkat keparahan penyakit yang diderita oleh hati. Hingga tatkala tak diiringi dengan penawar, sementra penyakit bertambah akut, lambat laun hati akan mati. Dosa juga menimbulkan karat di hati. Setiap kali jasad melakukan satu dosa, muncullah satu bercak hitam di hati. Jika tidak dibersihkan dan dosa terus bertambah, maka bercak hitam akan memenuhi permukaan hati, hingga hati menjadi buta, gelap dan tertutup dari cahaya iman. Inilah ‘rona’ yang dimaksud dalam firman Allah,</p>
<p><em>“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” </em>(QS. Muthaffifiin;14).</p>
<p>Wudhu menjadi salah satu penggugur dosa dan pembersihnya, hingga racun hati menjadi tawar, penyakit menjadi hilang dan karat di hati menjadi bersih. Nabi shallallahu alaihi wasallam,</p>
<p dir="RTL">“إِذَا تَوَضّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ (أَوِ الْمُؤْمِنُ) فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) حَتّى يَخْرُجَ نَقِيّاً مِنَ الذّنُوبِ”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan kedua matanya bersamaan dengan keluarnya air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh tangannya, akan keluar dari kedua tangannya setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua kakinya, akan keluar setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua kakinya bersama dengan air atau tetesan air yang terakhir, sehingga dia akan keluar dalam keadaan benar-benar bersih dari dosa.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Wudhu pun harus <em>Khusyu’</em></strong></p>
<p>Seyogyanya, kita hadirkan hati dan batin kita saat berwudhu. Sadar bahwa anggota wudhu yang kita basuh kerap melakukan dosa, dan kita berharap agar Allah menggugurkan dosa bersamaan tetesan air wudhu. Bukankah apa yang kita basuh di saat wudhu adalah anggota badan yang sering bersentuhan langsung dengan maksiat? Mata memandang yang haram berkali-kali, tangan berbuat aniaya bertubi-tubi, kaki melangkah ke tempat-tempat yang tidak Allah ridhai? Begitupun dengan lisan yang tak terkendali, hingga disunnahkan pula untuk berkumur sebagai penyuci.</p>
<p>Sertakan pula penyesalan dan taubat hati dari segala hal yang bisa mengotori, agar ia menjadi suci. Inilah yang disebut dengan wudhunya hati atau wudhu batin. Seperti perbincangan di antara dua ulama dan ahli ibadah berikut ini,</p>
<p>Suatu hari, Isham bin Yusuf menghadiri majlis Hatim Al-Asham, Isham bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?” Hatim menjawab, “Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu dengan lahir dan bathin.” Isham bertanya, “Bagaimana maksud wudhu lahir dan bathin itu?” Hatim menjawab, “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu bathin adalah membasuh hati dari tujuh perkara; bertaubat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergila-gila oleh dunia, tidak mencari pujian orang (riya’), tidak gila jabatan, membersihkan dari kebencian dan kedengkian.”</p>
<p><strong>Antara Air dan Sucinya Hati</strong></p>
<p>Bersuci dengan air memang memiliki kaitan erat dengan bersihnya hati dari dosa. Karenanya, dalam salah satu doa Nabi shallalahu alaihi wasallam berbunyi,</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ya Allah cucilah dosa-dosaku dengan air, dan salju dan barad (air hujan es).” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana Allah membersihkan kesalahan-kesalahan dengan air dan salju? Bukankah air panas lebih efektif untuk membersihkan kotoran?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Kesalahan-kesalahan menyebabkan hati menjadi panas, kotor dan lemah. Akibatnya, hati menjadi lembek, sementara api syahwat berkobar di dalamnya. Kesalahan dan dosa ibarat kayu bakar yang tersulut api, semakin banyak kesalahan, maka nyala api di hati semakin besar, dan hati semakin lemah. Air akan membersihkan kotoran sekaligus mematikan api. Apabila air tersebut dingin, ini bisa menjadikan badan lebih kuat dan lebih kokoh. Bila air tersebut disertai dengan salju dan barad, maka akan lebih menyegarkan, menguatkan dan mengokohkan badan. Dengan demikian, ia lebih banyak menghilangkan dampak dan pengaruh dari  kesalahan-kesalahan tersebut.”</p>
<p>Begitulah keagungan wudhu, hingga kita pun tahu, tak ada satu syariatpun yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, kecuali mengandung maslahat yang besar. Bukan sekedar formalitas, apalagi hanya iseng. Bahwa ada yang belum merasakan efeknya secara signifikan, itu dikarenakan minimnya pengetahuan, di samping masih jauh dari pengamalan yang benar. Semoga wudhu kita bisa menjadi pembersih bagi diri dan hati kita. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya 3 Unsur Kekuatan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/dahsyatnya-3-unsur-kekuatan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/dahsyatnya-3-unsur-kekuatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 03:05:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[syakhsiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tiga unsur kekuatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1533</guid>
		<description><![CDATA[Ada kalimat indah yang saya dapatkan di kitab al-Fawa’id, karya fenomenal dari ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Di mana beliau menulis, ”idza thala’a najmul himmah fii lailil bathaalah, wa radafahu qamarul ’aziimah, asyraqat ardhul qalbi binuuri Rabbiha.” Saya  bisa merasakan keindahan bahasanya, namun terus terang, saya kesulitan untuk memilih diksi yang tepat untuk menerjemahkan. Pendekatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/3-unsur.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1538" title="3-unsur" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/3-unsur-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ada kalimat indah yang saya dapatkan di kitab al-Fawa’id, karya fenomenal dari ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Di mana beliau menulis, <em>”idza thala’a najmul himmah fii lailil bathaalah, wa radafahu qamarul ’aziimah, asyraqat ardhul qalbi binuuri Rabbiha.”</em></p>
<p>Saya  bisa merasakan keindahan bahasanya, namun terus terang, saya kesulitan untuk memilih diksi yang tepat untuk menerjemahkan. Pendekatan makna dari ungkapan beliau kurang lebih begini, ”Bila bintang kemauan terbit di malam keberanian, bertepatan pula dengan hadirnya bulan tekad yang bulat, niscaya bumi hati akan terpancari oleh cahaya Ilahi.”</p>
<p><strong>Tiga Unsur Kesuksesan</strong></p>
<p>Hati yang terpancari oleh cahaya Ilahi adalah hati  yang mengenali Pencipta-Nya secara tepat, mampu membedakan antara yag haq dan yang bathil secara akurat, dan lebih mengutamakan kebenaran daripada kebathilan, hawa nafsu dan bujukan setan dan juga syahwat. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh hati yang mengandungi tiga unsur; ada kemauan, ada keberanian dan ada tekad yang bulat. Lemahnya satu dari ketiga unsur tersebut, memengaruhi redupnya cahaya hati, terlantarnya sebagian kewajiban dan terjamahnya sebagian pantangan.</p>
<p>Unsur itu juga menyebabkan hati menjadi tegar berjalan di atas hidayah, fokus terhadap cita-citanya yang luhur dan gigih dalam menghalau segala rintangan yang menghalangi perjalanan. Maka, dengan modal tiga hal itu, orang-orang sebelum kita mampu meraih derajat yang tinggi di mata manusia dan yang terpenting mereka mulia di sisi Alloh. Mari kita hayati lebih dalam tiga unsur utama itu, dan bagaimana ketiganya mampu memengaruhi kesuksesan seseorang.</p>
<p>Perolehan suatu kedudukan maupun kemanfaatan, bermula dari terbitnya kemauan. Ia ibarat induk yang pada gilirannya melahirkan segala aktivitas yang hendak dikerjakan manusia. Tak ada kemauan, tak akan ada perjuangan dan pengorbanan. Tanpa cita-cita, tak akan ada dorongan untuk berusaha. Maka tingginya derajat kemuliaan harus diawali dengan cita-cita dan kemauan. Dan rekomendasi paling penting terkait cita-cita adalah; meraih kedudukan ’<em>lil mutttaqiina imama</em>’ (menjadi imam bagi orang-orangyang bertakwa), golongan saabiqun bil khairat (berlomba dalam kebaikan), masuk jannah tanpa hisab, meniti shirath secepat kilat dan mendamba Firdaus, jannah yang paling tinggi dan paling tengah. Meskipun dengan unggulan amal yang tidak sama antara satu dengan lainnya.</p>
<p>Namun, kemauan bisa saja redup atau bahkan padam. Karena saat kemauan terbit, perlahan ia akan menyaksikan betapa banyak rintangan menghadang di hadapan, betapa banyak bahaya mengancam di perjalanan.</p>
<p>Jalan menuju cita-cita itu memang mahal. Banyak bukit ujian yang harus didaki, banyak bekal yang haru dikumpulkan, sangat sedikit teman perjalanan, dan rela menjauhi kemauan syahwati yang diharamkan. Dan untuk menjamin konsistensi pada cita-cita ini dibutuhkan keberanian. Kemauan adalah langkah awal, lalu keberanian sebagai pengawal.</p>
<p>Ketika kemauan semakin mantap, keberanian juga telah tertancap,maka hadirlah tekad dan kesungguhan. Dan ketika tekad telah tertanam, jalanpun terlihat jelas di depan mata. Seperti dikatakan, ”<em>idza shadaqal ’azmu wadhahas sabiil</em>”, Jika tekad telah bulat, maka jalan akan jelas terlihat. Alloh memberikan jaminan,</p>
<p dir="RTL">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” </em>(QS. al-Ankabuut: 69)</p>
<p><strong>Nabi </strong>n<strong> Sebagai Teladan</strong></p>
<p>Orang-orang pilihan sepanjang zaman, hanya diisi oleh orang-orang yang memiliki tiga kriteria itu. Dari tingkatan paling tinggi adalah para Nabi, shiddiqin, syuhada’ kemudian shalihin.</p>
<p>Nabi Muhammad n adalah orang yang memiliki kemauan yang tinggi. Sebagai seorang Rasul, beliau memiliki harapan besar akan kebaikan umat. Kepedulian  beliau terhadap umatnya dipuji oleh Alloh dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَ‌سُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِ‌يصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَ‌ءُوفٌ رَّ‌حِيمٌ</p>
<p><em>”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”</em> (QS. at-Taubah: 128)</p>
<p>Beliau juga seorang pemberani dalam menegakkan kebenaran di segala lini. Menghadapi tribulasi dakwah, menerima resiko amar ma’ruf nahi munkar hingga sangat ketara pula keberanian beliau di medan laga.</p>
<p>Al-Barra’ berkata, ”Ketika perang dahsyat berkecamuk, kami berlindung dengannya (di belakang Nabi), dan sesungguhnya orang-orang yang paling pemberani dari kami, posisinya sejajar dengan beliau.” Yakni berada di barisan pasukan yang paling depan. Karena rasul adalah pemimpin ummat. Dan pemimpin ummat tidak boleh memiliki sifat penakut dan pengecut. Beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL">ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا كَذُوبًا وَلَا جَبَانًا</p>
<p>”Kalian tidak akan mendapatkan aku sebagai orang yang bakhil, pendusta maupun pengecut.” (HR Bukhari)</p>
<p>Tentang hadits ini, Ibnu Hajar memberikan komentar, ”Pada hadits ini terdapat celaan terhadap sifat-sifat yang disebutkan, yaitu kikir, pembohong dan pengecut, dan sesungguhnya pemimpin kaum muslimin tidak pantas memiliki sifat-sifat itu.”</p>
<p>Adapun tentang bulatnya tekad, juga keteguhannya dalam pendirian, teramat banyak kisah dan kesaksian. Beliau tidak berputus asa atas sikap kaum Tha’if yang membalas dakwah Nabi dengan cacian, hinaan maupun lemparan batu dan kotoran. Beliau juga tidak sedikitpun goyah dalam dakwahnya, meski dibujuk dengan kemewahan dan kekuasaan. Beliau memang layak dijadikan panutan, dan beliaulah pemilik ’bumi’ hati yang paling terang oleh pancaran cahaya ar-Rahman. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/dahsyatnya-3-unsur-kekuatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Menolak Hujan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/ritual-menolak-hujan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/ritual-menolak-hujan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 02:55:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kasyfu syubhat]]></category>
		<category><![CDATA[ritual menolak hujan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1515</guid>
		<description><![CDATA[“Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Tuhan untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan mengganggu jalannya acara yang akan berlangsung”, Demikian lancangnya ‘sesumbar paranormal dalam iklannya di sebuah media. Hingga ia merasa pasti nantinya Alloh akan mengijinkan keinginannya. Memang memprihatinkan. Beberapa bulan lalu tatkala masih kemarau, sebagian masyarakat menjalani ritual syirik untuk mendatangkan hujan. Dan sekarang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/menolak-hujan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1474" title="menolak-hujan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/menolak-hujan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Tuhan untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan mengganggu jalannya acara yang akan berlangsung”, Demikian lancangnya ‘sesumbar paranormal dalam iklannya di sebuah media. Hingga ia merasa pasti nantinya Alloh akan mengijinkan keinginannya.</p>
<p>Memang memprihatinkan. Beberapa bulan lalu tatkala masih kemarau, sebagian masyarakat menjalani ritual syirik untuk mendatangkan hujan. Dan sekarang, tatkala hujan mulai sering turun, yang laris adalah dukun pawang hujan.</p>
<p>Setidaknya ada dua model cara yang dilakukan oleh pawang hujan untuk ‘menolak’ hujan. Pertama, dengan meminta bantuan kepada jin, dan yang kedua dengan meminta kepada penghuni kubur.</p>
<p>Cara pertama memiliki banyak varian, tergantung kreasi dari masing-masing dukun. Ada yang menggunakan media bokor berisi kemenyan, garam, cerutu, kapur, pinang, dan sirih. Pemesan diminta oleh pawang hujan untuk membuang nasi genggam ke atas genting dan membuang cerutu, kemenyan, kembang, dan kapur ke sungai, tentu setelah diberi mantera-mantera yang berisi pengagungan dan permohonan kepada jin. Jelas ini adalah kesyirikan, karena ia telah berdoa kepada selain Alloh, sedangkan Alloh berfirman, “<em>fa laa tad’u ma’allahi ahadan</em>”, dan janganlah kalian menyeru (berdoa) kepada satu apapun di samping berdoa kepada Alloh.” (QS. al-Jin: 18)</p>
<p>Cara kedua, dengan meminta tolong kepada penghuni kubur. Baik kuburan yang penghuninya dianggap sakti, hingga yang dianggap sebagai wali. Padahal, orang yang telah mati itu terputus amalnya, tidak bisa lagi beramal atau berbuat, bagaimana mungkin mereka hendak membantu kesulitan manusia yang masih hidup? Karenanya, dalam fikih Islam tidak mengenal bagaimana hukum orang mati menolong orang yang masih hidup, apakah berpahala ataukah tidak. Karena memang tidak ada fakta yang membutuhkan adanya suatu hukum.</p>
<p>Yang ada adalah nikmat kubur bagi yang taat, dan adzab kubur bagi pecandu maksiat. Masing-masing tengah sibuk dengan diri mereka sendiri.</p>
<p>Jika kemudian hujan berhenti, atau mendung kembali cerah, itu semata-mata kehendak Alloh. Bukan karena jin mampu menahannya, atau orang mati mampu mengalihkannya, meskipun akhirnya itu diklaim sebagai keberhasilan pawang hujan. Jika itu yang terjadi, tentu ada hikmah di dalamnya, apakah sebagai ujian bagi orang yang beriman ataukah sebagai ‘istidraj’ bagi orang-orang yang menyimpang.</p>
<p>Adapun orang yang beriman, men-cukupkan diri dengan apa yang syariat tunjukkan, baik dalam mengharap turunnya hujan atau berhenti. Nabi n mengajarkan doa,</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.</p>
<p> “Ya Alloh! Hujanilah di sekitar kami jangan kepada kami. Ya Alloh! Berilah hujan ke daratan tinggi beberapa anak bukit perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Wallohu a’lam bishawab (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/ritual-menolak-hujan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perturutkan Nafsu di Dunia, Terhalang Keinginan di Akhirat</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/12/perturutkan-nafsu-di-dunia-terhalang-keinginan-di-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/12/perturutkan-nafsu-di-dunia-terhalang-keinginan-di-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 02:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[gagal akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[mengikuti nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[turutkan nafsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1517</guid>
		<description><![CDATA[وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم مِّن قَبْلُ  إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُّرِ‌يبٍ “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini  sebagai mana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.” (QS. Saba’: 54) Suatu kali, Abdullah bin Umar h [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/napsu-dunia.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1475" title="napsu-dunia" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/napsu-dunia-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم مِّن قَبْلُ</p>
<p dir="RTL" align="center"> إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُّرِ‌يبٍ</p>
<p align="center"><em>“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini  sebagai mana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.”</em> (QS. Saba’: 54)</p>
<p align="left">Suatu kali, Abdullah bin Umar h minum air yang dingin dan segar. Tiba-tiba beliau menangis. Beliau ditanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan Anda menangis?” Beliau menjawab, “Aku teringat akan firman Allah, “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini…” (QS Saba’ 54)</p>
<p align="left">Saya tahu, bahwa penduduk neraka tidaklah menginginkan sesuatu melebihi keinginan mereka untuk mendapatkan air yang dingin.”</p>
<p align="left">Keinginan Penghuni Neraka</p>
<p align="left">Benar apa yang dikatakan Ibnu Umar h, betapa bernafsunya mereka ingin mendapatkan air. Hingga mereka mengemis kepada penduduk jannah agar sudi memberikan air kepada mereka, Alloh mengisahkan dalam firman-Nya,</p>
<p align="left"><em>“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Alloh kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir,”</em> (QS. al-A’raf: 50)</p>
<p align="left">Tidak saja kandas apa yang mereka minta, yang terjadi bahkan sebaliknya. Saat mereka sangat mendambakan minuman yang segar, justru yang didapatkan adalah ‘hamim’, air yang panasnya mencapai puncaknya. Allah berfirman,</p>
<p align="left"><em>“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,</em>” (QS. an-Naba’ : 24-25)</p>
<p align="left">Begitupun tatkala mereka menginginkan makanan lezat untuk mengusir rasa lapar dan memenuhi hasrat lidahnya, justru yang mereka dapati adalah duri, yang justru merusak jasad dan membuat hasrat minum makin kuat.</p>
<p align="left">Apa yang dialami oleh penghuni neraka itu sebagai balasan sepadan atas apa yang mereka lakukan di dunia. Dahulu mereka mengumbar syahwatnya, mengambil setiap apa yang diinginkannya dan berbuat sesuai dengan kehendak hawa nafsunya, meskipun dalam hal yang jelas-jelas Alloh melarangnya. Maka sebagai balasannya, merekapun terhalang untuk memenuhi setiap keinginannya di akhirat.</p>
<p align="left">Qatadah v juga menjelaskan maksud firman Alloh, “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini..” Maksudnya adalah, “Tatkala mereka mernyaksikan adzab dihadapan mereka, merekapun ingin dikembalikan lagi ke dunia, agar ia bia ataat kepada Allah Azza wa Jalla dan menyudahi hidupnya dengan apa-apa yang diperintahkan Alloh. Namun Alloh menghalangi keinginan mereka untuk itu, karena masa di dunia telah berlalu.”</p>
<p align="left">Makna ini tidaklah bertentangan dengan makna yang pertama. Mereka terhalang mendapatkan kenikmatan di akhirat, mereka juga terhalang dari keinginan ingin kembali lagi ke dunia. Betapa banyak al-Qur’an mengisahkan perihal angan-angan orang mati yang ingin dikembalikan ke dunia lagi, untuk memulai hidup baru, tidak sebagaimana cara hidup yang telah dijalaninya dahulu. Sebagaimana firman-Nya,</p>
<p align="left"><em>“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.”</em> (QS. al-Mukminun: 99-100)</p>
<p align="left">Dan masih ada lagi keinginan mereka yang lain. Tatkala penghuni neraka berputus asa untuk terbebas dari siksa, apalagi untuk mendapatkan kenikmatan dan kelezatan, maka merekapun ingin sekiranya mereka dimatikan saja. Agar siksa tak lagi mereka rasakan. Namun, lagi-lagi keinginan tersebut tidak dikabulkan,</p>
<p align="left"><em>“Mereka berseru: “Hai Malik (penjaga neraka-pen), biarlah Rabbmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).</em>”(QS. az-Zukhruf: 77)</p>
<p align="left">Begitulah, tak ada keinginan sekecil apapun yang mereka inginkan lalu dikabulkan. Apalagi keinginan yang besar. Maka siksa mana yang lebih dahsyat dari kenyataan yang berkebalikan dengan keinginan? Apalagi, keinginan yang remeh di akhirat, akan diganti dengan sesuatu yang paling dibenci dan dihindari, berupa siksa tak terperi.</p>
<p align="left">Agar tercapai Segala Hasrat di Akhirat</p>
<p align="left">Merenungkan ayat ini, semoga meningkatkan kesabaran kita untuk menahan keinginan syahwat dari yang haram. Meskipun begitu kuat desakan nafsu merajuk dan betapa setan gigih merayu. Jika kita berharap keinginan kita tidak terhalang di akhirat, maka keharusan bagi kita untuk menghalangi nafsu kita dari yang haram.</p>
<p align="left">Ayat ini pula yang diajarkan kita oleh Syaqiiq al-Balkhi, sebagai jawaban dari hembusan setan yang menggiring kita kepada syahwat. Beliau berkata,  “Tiada suatu pagi pun melainkan setan telah mengincarku dari empat penjuru. Dari depan dan belakangku, serta dari arah kanan dan kiriku. Setan membujukku, “Janganlah kamu takut (berbuat dosa), karena sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Maka aku pun menjawab de-ngan firman  Alloh, <em>“Dan sesungguhnya Aku (Alloh) Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.”</em> (QS.  Thaha: 82)</p>
<p align="left">Adapun dari arah belakang, ia menakut-nakutiku akan terlantarnya keluarga yang kelak aku tinggalkan. Maka aku pun membaca, <em>“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya.” </em>(QS. Hud: 6) Lalu dari arah kananku ia mendatangiku dari sisi wanita, maka aku pun membaca, <em>“Dan kesudahan yang baiklah bagi orang-orang yang bertakwa.” </em>(QS. Al-A’raaf: 128) Sedangkan dari arah kiri, ia mendatangiku dengan memamerkan aneka syahwat dan keinginan haram, maka aku pun membaca, <em>“Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan.”</em> (QS Saba: 54)</p>
<p align="left"><em>Allahumma ati anfusana zakkaaha wa Anta khairu man zakkaaha.aamiin</em>. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/12/perturutkan-nafsu-di-dunia-terhalang-keinginan-di-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Derita karena Dusta</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 02:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[derita karena dusta]]></category>
		<category><![CDATA[muthola'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1460</guid>
		<description><![CDATA[Tak seorangpun rela dan suka dibohongi. Tapi anehnya, rata-rata orang tidak membenci dirinya berbohong. Sebagian bahkan merasa enjoy dan menikmati kebiasaan dusta. Memang, awal mula dusta itu tidak terjadi begitu saja. Ada faktor pemicunya, dan ada segudang alasan sehingga banyak orang nekat melakukannya. &#160; Untung Diharap, Apes Didapat Adakalanya seseorang berdusta demi mendapatkan berbagai manfaat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/derita-dusta.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1464" title="derita-dusta" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/derita-dusta-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Tak seorangpun rela dan suka dibohongi. Tapi anehnya, rata-rata orang tidak membenci dirinya berbohong. Sebagian bahkan merasa enjoy dan menikmati kebiasaan dusta. Memang, awal mula dusta itu tidak terjadi begitu saja. Ada faktor pemicunya, dan ada segudang alasan sehingga banyak orang nekat melakukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Untung Diharap, Apes Didapat </strong></p>
<p>Adakalanya seseorang berdusta demi mendapatkan berbagai manfaat. Seperti dusta yang dijalani saat berjual beli. Dalam hitungan matematis, pembohong itu merasa mendapat keuntungan dengan menipu. Karena dia mendapatkan selisih keuntungan dari takaran, timbangan maupun kualitas barang. Hingga dusta menjadi jurus andalan untuk mengeruk keuntungan.</p>
<p>Ia lupa bahwa ada Dzat yang kuasa menentukan kadar keuntungan, yang tidak terikat oleh rumus matematis atau kalkulasi yang dibuat oleh manusia. Dzat yang kuasa untuk menimpakan kebangkrutan di luar perhitungan para penipu yang ingin kaya dengan cara berbuat curang. Dan Nabi telah mengabarkan kerugian yang dialami oleh orang yang berjual beli dengan dusta,</p>
<p dir="RTL">الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا</p>
<p>“Dua orang yang bertransaksi jual beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menerangkan (apa adanya), maka keduanya akan diberi barakah dalam jual belinya. Tapi bila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat) maka akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR Bukhari dan Abu Dawud)</p>
<p>Alloh berkehendak membalas tipu daya orang yang ingin meraup untung dengan jalan yang haram. Hingga apa yang didapatkan akhirnya berkebalikan dengan apa yang diharapkan. Dusta akan melenyapkan keberkahan dan kemanfaatan rejeki, mendatangkan kesulitan dan kesempitan, serta menghilangkan kepercayaan pelanggan terhadapnya. Karena betapapun pintar seseorang menyembunyikan kedustaan, akhirnya akan terendus juga. Dan tatkala orang-orang telah mengetahui pedagang yang suka mengelabuhi, maka takkan ada lagi yang sudi untuk berjual beli.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mencari Simpati Menuai Caci </strong></p>
<p>Adakalanya seseorang berdusta untuk menaikkan gengsinya di hadapan manusia. Atau ingin menarik simpati orang yang diajaknya bicara. Iapun berusaha memoles kata, menghiasi cengkerama dengan kisah yang hiperbola, dan membumbui cerita dengan data-data dusta tentang dirinya. Tentang aset yang dimilikinya, kepahlawanannya, atau aktifitas palsu yang membuat lawan bicara berdecak kagum terhadapnya.</p>
<p>Hanya orang yang cupet nalar dan berakal dangkal, yang ingin menarik simpati orang dengan jalan mengumbar dusta. Sungguh dia tak pernah belajar dari pengalaman. Bukankah masing-masing kita pernah merasa kecewa berat karena ditipu, merasa jengkel dan betapa merasa bodohnya kita saat kita terbuai oleh kata-kata manis yang menipu. Dan akhirnya kita memutuskan untuk tidak respek kepada si pembohong, dan memberikan stempel buruk terhadapnya. Maka jika kita pernah mengalami peristiwa semisal ini, bagaimana mungkin kita akan menjadikan dusta sebagai cara memperoleh simpati?</p>
<p>Sesaat, terkadang dusta memang bisa menaikkan pamor, menarik simpati pendengar bahkan boleh jadi lawan bicara lantas memutuskan untuk mengiyakan ajakannya. Namun, itu tak akan berlangsung lama. Seperti kata pepatah “sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga.” Dan jeda antara dusta dan waktu terbongkarnya, pembohong tak pernah merasakan lega dan tenang di hatinya. Rasa was-was dan bayang-bayang resiko yang ditimbulkan oleh kebohongannya selalu menghantui pikirannya. Dan iapun tahu, bahwa kelak akan terkuak juga, seperti menunggu bom waktu, yang ia tidak tahu kapan akan meledak dan meluluhlantakkan dirinya.</p>
<p>Yang sebenarnya, tidak ada kata yang lebih enak untuk didengar, lebih menenangkan hati bagi pembicara dan lebih mengundang simpati dari kejujuran. Dan tiada kata yang lebih menyakitkan, membuat hati was-was dan mendatangkan kebencian dari kedustaan. Maka benarlah yang disabdakan Nabi n,</p>
<p dir="RTL">فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَة</p>
<p>“Sesungguhnya kejujuran itu (membawa) ketenangan, dan kedustaan itu (menyebabkan) kebimbangan.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan “hadits hasan”)</p>
<p>Kejujuran tak akan berkurang kadar kebaikannya, meski kita berada di zaman yang dipenuhi oleh atmosfir kedustaan. Yang menganggap kedustaan sebagai kecerdikan, dan memandang kejujuran sebagai kampungan atau kepolosan. Alangkah indah ungkapan sahabat Umar bin Khathab, “Sungguh, aku direndahkan orang karena kejujuranku, itu lebih aku sukai daripada aku disanjung karena kedustaanku.”</p>
<p>Karena sanjungan semisal itu hanyalah semu dan hanya muncul dari orang-orang yang tidak tahu. Sementara yang pasti, dusta itu kotor dan keji. Ada riwayat yang disebutkan oleh Imam Tirmidzi bahwa, “Jika seorang hamba berdusta, maka malaikat akan menjauh darinya sejauh satu mil lantaran bau busuk yang keluar dari lisannya.” Tirmidzi menyatakan haditsnya hasan, hanya saja Syeikh al-Albani menyatakan sebagai hadits dha’if.</p>
<p><strong>Dusta Berakhir Derita</strong></p>
<p>Sebagaimana kerugian akan dialami oleh pendusta dalam hal duniawi, begitupun dalam hal ukhrawi. Satu dusta akan melahirkan dusta kedua untuk menutupi dusta pertamanya. Dusta kedua akan mengundang dusta yang ketiga demi menutupi dusta yang kedua, dan seterusnya. Karena dusta berpotensi kuat untuk beranak pinak dan berkembang biak.</p>
<p>Bukan saja mengundang dusta berikutnya, bahkan dusta bisa menjadi awal dari dosa apa saja. Baik berhubungan dengan Sang Pencipta, maupun dengan sesama manusia. Karena dengan lisannya dia merasa aman untuk menutupi dosanya di hadapan manusia. Maka yang terus menjadi perhatiannya adalah, bagaimana ia bisa berdosa apa saja sekaligus menyiapkan alibi dusta untuk menutupinya. Namun, ia tidak bisa bersembunyi dari Alloh. Jika kedustaannya tak terendus oleh manusia yang mempercayainya, itu bukan berarti Alloh mengasihinya. Bukan pula Alloh tidak punya cara untuk menyingkapnya di tengah manusia. Justru dengan kelihaiannya dalam berdusta, semakin bersemangatlah ia untuk menumpuk dosa, dan jika dosa telah menggunung, kemana lagi ujung perjalanannya kalau bukan ke neraka. Nabi n bersabda,</p>
<p dir="RTL">وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu membawa kepada dosa, dan dosa itu menjerumuskan ke neraka.” (HR )</p>
<p>Semoga Alloh menjauhkan kita dari sifat dusta, aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rugi, karena Menipu Sendiri</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 04:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[rugi menipu sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir qolbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1433</guid>
		<description><![CDATA[بَلِ الإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ﴿١٤﴾ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ ﴿١٥﴾ “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah:14-15) Disebutkan dalam Kitab Uyunul Atsar, Imam Zuhri mengisahkan, “Bahwa suatu ketika Abu Sufyan, Abu Jahal dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Masing-masing mengambil posisi untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/rugi-tipu-sendiri.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1398" title="rugi-tipu-sendiri" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/rugi-tipu-sendiri-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>بَلِ الإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ﴿١٤﴾ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ ﴿١٥﴾</p>
<p align="center"><em>“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.</em>” (QS. Al-Qiyamah:14-15)</p>
<p>Disebutkan dalam Kitab Uyunul Atsar, Imam Zuhri mengisahkan, “Bahwa suatu ketika Abu Sufyan, Abu Jahal dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Masing-masing mengambil posisi untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi masing-masing, yang tidak diketahui oleh yang lain. Hingga ketika Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam.</p>
<p>Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga   mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam, dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. usai melaksanakan shalat, mereka pun selalu memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling cela sebagaimana yang terjadi sebelumnya.</p>
<p>Malam berikutnya, lagi-lagi mereka rindu untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat janji satu sama lain untuk tidak kembali ke rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah, meski mereka memungkiri kenabian Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasalam, namun hati kecil mereka tidak bisa ditipu, bahwa Al-Qur’an itu indah, benar dan menakjubkan. Berbagai alasan, argumen dan kilah sebenarnya tidak bisa mengelabuhi perasaannya,</p>
<p><em>“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.</em>” (QS. Al-Qiyamah:14-15)</p>
<p>Rumus ini berlaku bagi siapapun yang menyelisihi kebenaran, baik yang ringan maupun yang berat. Mereka sebenarnya hanya membohongi diri sendiri tatkala lebih memilih menyelisihi daripada tunduk dan patuh terhadap kebenaran.</p>
<p>Sejenak kita introspeksi dan jujur terhadap diri sendiri. Tatkala diri merasa malas untuk belajar ilmu syar’i, berbagai alasan muncul untuk membela diri. Sibuk dengan pekerjaan, ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan, kesulitan kendaraan, tidak ada tempat kajian, kurang enak badan dan seabrek alasan yang lain. Ketika itu, nurani kita bisa mengukur, apakah semua yang kita utarakan itu benar-benar menjadi udzur, hingga betul-betul tak memiliki peluang untuk menambah ilmu syar’i? Jawabanya, ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” Diri kita sendiri yang tahu akan kebenaran alasan kita, selagi jujur dengan hati nurani.</p>
<p>Begitupula, tatkala ada yang lama tidak menampakkan diri di masjid untuk shalat berjama’ah, berbagai argumen juga digelar agar orang lain memaklumi. Alasan tidak wajib, ada urusan penting, badan masih kotor karena belum mandi, jauh dari masjid, tidak mendengar adzan, tidak bisa khusyuk shalat di masjid dan masih banyak alasan yang lain. Apakah alasan ini dibuat-buat ataukah tidak, sebenarnya diri kita sendiri mengetahui. Diri kita menjadi saksi atas apa penyebab sesungguhnya ketidakhadiran kita ke masjid untuk berjamaah. Kita juga menjadi saksi akan kejujuran atau kedustaan lisan kita saat mengungkapkan alasan.</p>
<p>Sebagaimana dalam hal meninggalkan ketaatan, setiap kemaksiatan seringkali dicarikan alasan oleh pelakunya. Agar orang lain memaklumi, mengapa dia melakukan itu semua. Alasan belum tahu ilmunya, menurutnya tidak berdosa, tidak sengaja melakukannya, hanya coba-coba dan sederet alasan yang bisa dipaparkan. Tapi, kebenaran ucapannya diuji oleh hati nuraninya sendiri. Benarkah ia belum tahu ilmunya, betulkah berdasarkan ilmu yang diketahuinya itu tidak berdosa dan seterusnya. Cukuplah kita katakan kepadanya, ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”</p>
<p>Jika kita merenungkan hal ini, niscaya kita dapatkan perkara yang sangat mengherankan, apa gunanya alasan-alasan itu dikemukakan jika tidak sesuai kenyataan? Siapa yang rugi dengan kebohongan itu? Bukankah dirinya sendiri yang rugi?       Tidakkah ini berarti membinasakan diri sendiri? Memang aneh, tapi faktanya banyak orang yang berusaha menjerumuskan diri sendiri.</p>
<p>Sebagaimana sabda Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam,</p>
<p dir="RTL" align="left">كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا</p>
<p>”Setiap manusia itu berusaha, maka ia mempertaruhkan jiwanya, ada yang usahanya itu menyelamatkan dirinya, ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR Muslim)</p>
<p>Orang yang membohongi diri sendiri termasuk golongan orang yang usahanya untuk membinasakan diri sendiri dalam konteks ini.</p>
<p>Setelah hati nurani kita di dunia menjadi saksi atas setiap alasan saat taat atau maksiat, maka kelak di akhirat, seluruh anggota badan kita sendiri juga akan menjadi saksi atas seluruh apa yang kita jalani di dunia. Saat itu, benar atau tidaknya alasan yang diungkapkan lisan, akan dibuktikan dengan kesaksian seluruh anggota tubuh. Inilah makna kedua dari firman Allah, ” ”balil insaanu ’ala nafsihi bashiirah, walau alqaa ma’aadziirah,” bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”</p>
<p>Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat ini, ”makna bashirah adalah saksi. Yakni kesaksian seluruh anggota badan atas dirinya. Tentang tangannya, apa yang telah ia jamah dengan keduanya, tentang kedua kakinya, kemana ia melangkahkan keduanya, tentang matanya, apa yang telah ia lihat dengan keduanya.”</p>
<p>Ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, ”</p>
<p><em>”Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” </em>(QS an-Nuur 24)</p>
<p>Maka jika kita sayang kepada diri sendiri, hendaknya berlaku jujur dalam menilai diri sendiri. Lalu menepis segala hal yang melemahkan kita dari ketaatan, dan memangkas jalan menuju kemaksiatan. Wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2011/11/rugi-karena-menipu-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karma Membunuh Binatang</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 08:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[hukum karma]]></category>
		<category><![CDATA[karma islam]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh binatang]]></category>
		<category><![CDATA[kasyfu syubhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1430</guid>
		<description><![CDATA[Kezhaliman, maupun tindakan jahat memang akan mengundang datangnya balasan yang setimpal. Hanya saja, parameter zhalim dan jahat didasarkan pada syariat. Bukan sekedar mengikuti naluri, apalagi keyakinan adat dan khurafat. Beberapa orang yang mempercayai karma lantas takut membunuh apapun, termasuk hewan-hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh. Dengan keyakinan, bahwa nanti dia akan diperlakukan sama seperti yang ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/karma1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1386" title="karma" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/karma1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kezhaliman, maupun tindakan jahat memang akan mengundang datangnya balasan yang setimpal. Hanya saja, parameter zhalim dan jahat didasarkan pada syariat. Bukan sekedar mengikuti naluri, apalagi keyakinan adat dan khurafat. Beberapa orang yang mempercayai karma lantas takut membunuh apapun, termasuk hewan-hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh. Dengan keyakinan, bahwa nanti dia akan diperlakukan sama seperti yang ia lakukan terhadap binatang.</p>
<p>Syariat tidak menilai bahwa segala bentuk pembunuhan itu berarti kezhaliman yang karenanya ia akan mendapatkan balasan buruk. Ada makhluk-makhluk yang boleh dibunuh, bahkan sebagiannya diperintahkan untuk dibunuh sesuai syarat dan ketentuan syariat.</p>
<p>Binatang yang halal untuk dimakan, otomatis boleh untuk dibunuh, tetapi dengan cara yang telah ditetapkan, yakni menyembelih dengan cara yang baik. Hendaknya menajamkan pisaunya, dan memulai dengan membaca basmalah. Maka, tak ada alasan takut untuk menyembelih ayam, kambing, sapi atau onta untuk keperluan dimakan, apalagi hewan-hewan yang disembelih untuk tujuan ibadah seperti udhhiyah maupun aqiiqah.</p>
<p>Ada pula hewan yang diperintahkan untuk dibunuh meski dilarang  untuk dikonsumsi. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam,</p>
<p>”Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tempat lain, yaitu  ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali” (H.R. Abu Dawud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak.</p>
<p>Hanya saja, tentang membunuh ular di dalam rumah ada pembahasan yang lebih khusus. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya kota Madinah ini dihuni oleh jin-jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat ular (di dalam rumah), maka usirlah selama tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah setan’,” (HR Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p dir="RTL">إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sesungguhnya rumah-rumah ini dihuni oleh<em> ’awaamir</em> (jin-jin berwujud ular yang biasa menghuni rumah), jika kalian melihatnya, maka usirlah atas nama Allah selama tiga hari. Jika tidak pergi juga, maka bunuhlah karena ia adalah (jin) kafir,” (HR Muslim)</p>
<p>Sebagain ulama berpendapat bahwa perlakuan ini khusus untuk penduduk di sekitar Madinah, ada juga yang berpendapat bahwa itu berlaku umum. Karena ibrah (landasan) yang dijadikan parameter adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab.</p>
<p>Lepas dari perbedaan pendapat tersebut, sebagai langkah hati-hati, jika terlihat ular di dalam rumah, hendaknya diusir atau dibuang dengan menyebut asma Allah. Jika setelah tiga hari tampak lagi, hendaknya dibunuh. Disebutkan pula dalam Syarah Muslim, bahwa sebagian ulama berpendapat, jika ular itu tidak pergi setelah ada peringatan tersebut, maka itu bukanlah jin yang biasa tinggal di rumah-rumah, bukan pula jin yang masuk Islam, maka tidak mengapa jika kalian membunuhnya. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

