<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; redaksi</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/author/redaksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 08:46:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>The Journey of Love</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/the-journey-of-love.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/the-journey-of-love.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 08:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[journey of love]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1633</guid>
		<description><![CDATA[Cinta itu menyatukan hati, menyamankan jiwa. Kepadanya hati mencari dan melepaskan dahaga. Menjadikannya sumber energi, nyaris tanpa henti, untuk terus melayani. Lapang dada dan ringan langkah menjalani hari-hari. Menjadikannya penawar atas semua jeri, juga pijakan untuk setiap tindakan. Seolah semua menjadi benar jika cinta sebagai latar. Dengan cinta seluruh saat terasa nikmat, setiap warna terasa  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/the-journey.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1570 alignnone" title="the-journey" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/the-journey-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Cinta itu menyatukan hati, menyamankan jiwa. Kepadanya hati mencari dan melepaskan dahaga. Menjadikannya sumber energi, nyaris tanpa henti, untuk terus melayani. Lapang dada dan ringan langkah menjalani hari-hari. Menjadikannya penawar atas semua jeri, juga pijakan untuk setiap tindakan. Seolah semua menjadi benar jika cinta sebagai latar.</p>
<p>Dengan cinta seluruh saat terasa nikmat, setiap warna terasa  memesona, semua pengorbanan terasa menawan, dan segala lelah terasa megah. Rasa ini memabukkan yang karenanya seringkali menumpulkan akal. Karena dalam cinta, kepasrahan tanpa syarat menjadi niscaya untuk cita rasa terbaik dan kelezatan terdahsyat.</p>
<p>Badai nikmat menyapa seluruh pori-pori. Rasa angkuh pun meluruh karenanya. Dan kita berharap semuanya takkan usai, tak pernah selesai. Menjalani hidup bersama cinta selama mungkin, menjadi abadi seandainya bisa. Berdoa semoga waktu berhenti melaju. Adakah yang lebih indah dari ini?</p>
<p>Tapi hari-hari terus berlari tak peduli. Ia membawa kita ke kenyataan sejati, bahwa cinta bukanlah Sang Penguasa meski sebagian kita menjadi budaknya. Semuanya berubah saat perjumpaan itu tiba. Ketika tanggung jawab atas semua perbuatan diminta. Saat keadilan ditunjukkan dan kebenaran ditampakkan. Ketika kepalsuan disingkapkan, dan semua alasan kebingungan mencari rujukan.</p>
<p>Ketika itulah cinta ingkar atas perilakunya yang mungkar, memenangkan syahwat atas akal sehat. Para pecinta saling menghindar agar selamat dari siksa akhirat sebab cinta tanpa iman hanya melahirkan maksiat. Dan puja puji yang berubah menjadi caci maki, membuahkan permusuhan sejati. Saat itu kita akan tersadar, bahwa menghamba kepada cinta yang salah adalah sia-sia. Semua kelezatannya hanyalah semu dan palsu. Ia telah menipu nafsu!</p>
<p>Karena cinta, mestinya, mengalirkan keluhuran jiwa. Memberanikan si penakut, memuliakan si pengecut, mendermawankan si kedekut, dan membuat si kasar menjadi lembut. Mata air penuh vitalitas yang harus berasal dari Sang Empunya yang sebenarnya, Allah.</p>
<p>Ia berjalan berkelindan dengan iman mengitari kehidupan setiap insan. Membawa pesan-pesan langit membumi dalam prestasi terbaik seorang hamba, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kemungkaran sepenuh keikhlasan.</p>
<p>Inilah cinta yang takkan bisa dihentikan. Karena ia membangun jembatan menuju istana surga. Membawanya menikmati buah manis penghambaan, saat semua cinta terlaknat berakhir tragis. Dan karena kita adalah hamba dari apa yang kita cintai, sudahkah kita memilihnya dengan teliti?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/the-journey-of-love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Perbaikan Iman</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/doa-perbaikan-iman.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/doa-perbaikan-iman.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 08:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[doa perbaikan iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1630</guid>
		<description><![CDATA[اَللَّهُمَّ جَدِّدِ الِإيْمَانَ فِي قَلْبِي “Ya Allah, perbaruilah iman dalam hatiku.” Doa ini merupakan doa yang mengandung permohonan yang sangat penting bagi manusia. Setiap muslim pasti mencari dan berharap mendapatkanya, yang dimohonkan adalah untuk memperbaiki sekerat daging yang sangat penting dalam jasad manusia, yang Allah SWT akan menimbang dan menilai amal manusia dengan sekerat daging [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/doa-perbaikan.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1555 alignnone" title="doa-perbaikan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/doa-perbaikan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>اَللَّهُمَّ جَدِّدِ الِإيْمَانَ فِي قَلْبِي</strong></p>
<p align="center">“Ya Allah, perbaruilah iman dalam hatiku.”</p>
<p align="left">Doa ini merupakan doa yang mengandung permohonan yang sangat penting bagi manusia. Setiap muslim pasti mencari dan berharap mendapatkanya, yang dimohonkan adalah untuk memperbaiki sekerat daging yang sangat penting dalam jasad manusia, yang Allah SWT akan menimbang dan menilai amal manusia dengan sekerat daging itu.</p>
<p align="left">Maka apabila sekerat daging itu baik maka baiklah semuanya, namun bila rusak, maka rusaklah semuanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :</p>
<p>وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p align="left"><em>“Ketahuilah, pada setiap tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” ( HR. Bukhari dan Musim)</em></p>
<p align="left">Oleh sebab itu Islam menganjurkan kepada setiap muslim untuk meminta kepada Alloh perbaikan sekerat daging ini, yaitu dengan memasukkan iman yang baru ke dalam hatinya. Hal ini tidak dipintakan kepada selain Alloh, karena hanya Alloh saja lah yang menguasai hati manusia. Rasulullah SAW menjelaskan kepada sahabat yang bertanya apakah hati tidak tetap keadaannya dan bisa berbolak-balik, beliau menjawab :</p>
<p>مَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ بَشَرٍ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَإِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ اللَّهُ أَزَاغَهُ</p>
<p align="left">“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari jemari Alloh. Jika Alloh berkekendak maka akan meneguhkan hati manusia atau  memalingkan hatinya.” (HR.Ahmad)</p>
<p align="left">Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda :</p>
<p>إِنَّ الْإِيْمَانَ ليَخْلَقُ فِى جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَوْبَ فَاسْأَلُوْا الله َأَنْ يُجَدّدَ الإِيْمَانَ فِى قُلُوْبِكُمْ</p>
<p align="left">“Sungguh, keimanan yang ada dalam hati kalian akan usang sebagaimana usangnya baju, maka mintalah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam hati kalian.” (HR. Thabraniy dan Hakim. Dihasankan oleh imam al Iraqiy)</p>
<p align="left">Sebelum memerintahkan untuk berdoa dengan doa perbaikan iman, Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam memberikan perumpamaan yang membumi dan biasa dijumpai kebanyakan orang agar mudah dipahami. Yaitu usangnya baju karena sering dipakai, atau sering di cuci. Maka begitu juga dengan iman. Ia tidak akan tetap keadaannya, bisa naik dan turun. Bahkan bisa usang sebagaimana usangnya baju. Hal ini sebagaimana aqidah ahlus sunnah wal jama’ah yang menyatakan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan hamba kepada Alloh SWT dan berkurang dengan ketaatan hamba kepada syaiton.</p>
<p align="left">Iman seorang muslim dapat menjadi usang dengan kemaksiatan yang dilakukan,  sedikitnya amal shaleh yang dikerjakan serta ketiadaan taubat setelah melakukan maksiat. Mu’adz bin Jabal berkata kepada sahabat yang lain ‘<em>ijlis bina nukminu sa’atan</em>’ marilah duduk-duduk sebentar untuk beriman kepada Allah. Hal ini tidak berarti Mu’adz RA tidak memiliki iman, tapi untuk menambah dan memperbarui keimanan kepada Allah SWT dengan berdikir kepadaNYa.</p>
<p align="left">Dengan keburukan dan dosa yang selalu dikerjakan maka usanglah iman dan bertambahlah noda-noda, sehingga hati benar-benar jadi barang usang seperti hitamnya bagian panci yang selalu terkena api. Bila hati sudah hitam kelam, maka ia tidak akan mengenal kebaikan sebagai kebaikan tapi justru kebaikan disangka keburukan dan keburukan disangkanya kebaikan, nas alullah al afiyah wa qolban salimah.</p>
<p align="left">Dalam doa ini Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam menggunakan <em>fi’il mudhari’ </em>pada kalimat <em>‘an yujad dida’</em> yang menunjukkan sifat kontinyu dalam meminta iman yang baru, yang secara tidak langsung permintaan iman yang baru ini juga mengandung permintaan akan amal-amal shalih, keyakinan yang shahih dan dijauhkan dari syubhat dan bid’ah. Sehingga apabila seorang muslim benar aqidahnya, shalih amalnya dan jauh dari perkara syubhat dan syahwat, maka ia akan selalu memperoleh iman yang baru dalam hatinya, dan dengan iman yang baru ini selamatlah hatinya dari kerusakan.</p>
<p>Lafadz doa diatas memang bukanlah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam, namun tidak ada salahnya berdoa dengan menggunakan lafadz ini karena inti dari doa ini diperoleh dari perintah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam kepada kita untuk memohon kepada Allah supaya diperbarui iman dalam hati. Dan selama tidak ada lafadz yang khusus dari Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasalam maka kita boleh berdoa dengan lafadz yang semakna dengan perintah Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasalam diatas, kecuali jika ternyata ada lafadz yang bersumber dari Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasalam tentunya itu yang lebih utama dan kita pilih. (Taufik al hakim.Lc)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/doa-perbaikan-iman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Sahabat yang Menjadi Pelecut Semangat</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/pilih-sahabat-yang-menjadi-pelecut-semangat.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/pilih-sahabat-yang-menjadi-pelecut-semangat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 08:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat pelecut semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Manusia mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, utamanya teman pergaulannya. Karenanya Nabi bersabda, ”al-mar’u ’alaa diini khaliilihi”, (keadaan) seseorang itu tergantung agama temannya. Karakter ini tidak selalu berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara dan kepada siapa seseorang bergaul. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengumpamakan teman pergaulan laksana makanan. Di antara makanan ada yang mengandung racun, membahayakan tubuh jika dikonsumsi. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/pilih-sahabat.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1566 alignnone" title="pilih-sahabat" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/pilih-sahabat-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p><strong>M</strong>anusia mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, utamanya teman pergaulannya. Karenanya Nabi bersabda, ”al-mar’u ’alaa diini khaliilihi”, (keadaan) seseorang itu tergantung agama temannya. Karakter ini tidak selalu berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara dan kepada siapa seseorang bergaul. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengumpamakan teman pergaulan laksana makanan. Di antara makanan ada yang mengandung racun, membahayakan tubuh jika dikonsumsi. Ada pula yang menjadi obat, diperlukan di saat sakit, tapi ditinggalkan dikala sehat. Dan ada pula makanan bergizi, yang secara rutin layak untuk dikonsumsi.</p>
<p>Begitulah halnya dengan sahabat. Pertama ada tipe ’racun’. Bergaul dengannya hanya mendatangkan kerugian. Tertular kebiasaan buruk, terpadam semangat untuk taat atau minimal ikut tercemar nama baiknya. Seperti bergaul dengan para pemalas yang akan menularkan kemalasan. Atau kepada para penyeru kesesatan yang akan mewariskan kesesatan. Juga orang-orang fajir yang cepat atau lambat akan menyeret teman-temannya kepada dosa dan kejahatan.</p>
<p>Yang kedua adalah teman yang diumpamakan obat yang diperlukan dikala sakit. Seperti para relasi yang berhubungan dengan keperluan ma’isyah dan jual beli. Bermuamalah dengan mereka bisa menutup sisi kekurangan duniawi kita. Namun karena fungsinya sebagai obat, maka takaran atau dosisnya pun harus tepat, tidak boleh berlebihan dan melampaui batas yang justru akan menimbulkan madharat.</p>
<p><strong>Teman Sejati Ibarat Nutrisi</strong></p>
<p>Yang paling bermanfaat adalah teman yang diumpamakan layaknya nutrisi bergizi. Jika dikonsumsi secara teratur, kondisi tubuh menjadi fit, kekuatan tubuh terjaga dan seluruh fungsi tubuh berjalan secara sehat. Teman yang baik akan menginspirasi banyak kebaikan, mengingatkan disaat khilaf dan menguatkan di saat lemah. Teman semisal ini sesuai dengan apa yang diumpamakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai penjual minyak wangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih bersabda,</p>
<p>إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً</p>
<p><em>”Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau akan mencium aroma wangi darinya. Adapun bersama tukang pandai besi, bajumu bisa terbakar karena apinya, atau setidaknya engkau pasti akan mendapati bau tak sedap.” </em>(HR Muslim)</p>
<p>Pertemanan dengan orang-orang yang baik dan shalih akan menjadi pupuk bagi keimanan kita. Pertemuan dengan mereka akan menyegarkan dan menguatkan keyakinan kita. Nasihat-nasihat mereka ibarat siraman air di tanah yang tandus. Betapa sangat dibutuhkan teman seperti ini, apalagi di saat menghadapi pilihan yang sulit. Seperti yang pernah dialami Imam Ahmad bin Hambal saat mendapatkan intimidasi penguasa lantaran teguh dengan pendapatnya, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk.</p>
<p>Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ menuliskan penuturan Abu Ja’far al-Anbari,</p>
<p>”Telah sampai berita kepadaku bahwa Imam Ahmad ditangkap oleh al-Ma’mun. Maka aku segera menyeberangi sungai Eufrat. Setelah tiba, aku dapati Imam Ahmad di tempatnya dan kuucapkan salam kepadanya. Beliau berkata, ”Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu.” Lalu aku berkata, ”Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin, dan kaum muslimin berada di  belakangmu. Jika Anda mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan hal yang sama. Dan jika Anda tetap tegas mengatakan bahwa al-Qur’an itu (Kalamulllah) bukan makhluk, maka umat akan berpendapat sama.Sementara jika Anda tidak mati dibunuh oleh penguasa, toh Anda juga akan mati dengan cara yang lain. Maka bertakwalah kepada Allah dan jangan turuti kemauan mereka.”</p>
<p>Mendengar nasihat ini, Imam Ahmad menangis seraya berkata, ”Masya Allah! Wahai Abu Ja’far, ulangilah nasihat Anda.” Akupun mengulanginya dan beliau kembali mengucapkan, ”Masya Allah!”Mencari</p>
<p><strong>Sahabat Pelecut Semangat</strong></p>
<p>Sebagaimana dalam kontek keimanan, dalam hal menjaga semangat belajar, motivasi untuk berusaha dan antusias untuk mendapatkan kemaslahatan dan cita-cita luhur, teman juga memiliki pengaruh yang besar. Selayaknya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki cita-cita besar, enerjik dan teguh pendirian. Karena berteman dengan mereka menjadi energi tersendiri untuk memupuk ’iradah’ (kemauan) yang mulia dan melecut semangat untuk meraih segala hal yang bermanfaat.</p>
<p>Kita bisa menengok sejarah para ulama. Kesuksesan mereka ternyata banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Keulamaan Ikrimah bin Abdillah, dipengaruhi oleh ’kehebatan’ majikannya, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma. Salim bin Abdullah bin Umar yang banyak terinspirasi oleh keshalihan dan kefaqihan ayahnya, Abdullah bin Umar bin Khaththab.</p>
<p>Jika ada keterbatasan untuk mendapatkan teman yang mampu meletupkan semangat, maka kita bisa pula mengais inspirasi dengan bergaul bersama para ulama dan tokoh sepanjang sejarah. Yakni dengan membaca sejarah dan kisah-kisah mereka, sehingga kita seakan berteman dengan mereka. Inilah yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak rahimahullah, yang disebut-sebut sebagai ’amiirul mukminin fil hadiits’, pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal hadits.</p>
<p>Semoga Allah menganugerahkan kepada kita para sahabat yang bisa membantu dan menginspirasi kita meraih faedah di dunia dan akhirat. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/02/pilih-sahabat-yang-menjadi-pelecut-semangat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengan Kekhusyu’an Dosa Berguguran</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/dengan-kekhusyu%e2%80%99an-dosa-berguguran.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/dengan-kekhusyu%e2%80%99an-dosa-berguguran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[khusyu' dosa gugur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1626</guid>
		<description><![CDATA[Shalat semestinya tidak dikerjakan hanya demi menggugurkan kewajiban saja. Shalat sejatinya adalah munajat; waktu untuk menghadap dan  mendekatkan diri kepada Rabb yang Maha Tinggi. Waktu yang seharusnya kita hiasi dengan kekhusyukan tanpa terganggu dengan segala kesibukan duniawi. Konsentrasi dan penuh ketenangan menghadap ilahi, dan melakukan gerakan shalat dengan tuma`ninah, bukan seperti penari. Pertama yang akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/dengan-kekhusyuan.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1554 alignnone" title="dengan-kekhusyu'an" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/dengan-kekhusyuan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Shalat semestinya tidak dikerjakan hanya demi menggugurkan kewajiban saja. Shalat sejatinya adalah munajat; waktu untuk menghadap dan  mendekatkan diri kepada Rabb yang Maha Tinggi. Waktu yang seharusnya kita hiasi dengan kekhusyukan tanpa terganggu dengan segala kesibukan duniawi. Konsentrasi dan penuh ketenangan menghadap ilahi, dan melakukan gerakan shalat dengan tuma`ninah, bukan seperti penari.</p>
<p><strong>Pertama yang akan diangkat oleh Allah</strong></p>
<p>Khusyu’, sebuah kata yang mudah diucap tapi berat untuk diamalkan. Berapa banyak dari kita yang mengazamkan kekhusyu’an di awal shalat tapi menjadi lenyap tatkala takbir karena lintasan drama kehidupan yang dilakoni sebelumnya. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah bahwa khusyu’ merupakan amalan yang pertama kali akan dicabut oleh Allah dari hamba-Nya.</p>
<p>“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’ sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (HR. Thabrani)</p>
<p>Hudzaifah ra berkata : “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’, dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang khusyu’”.</p>
<p>Rasulullah saw menyebutkan tentang tingkatan pahala orang yang mengerjakan shalat:</p>
<p>إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا</p>
<p>“Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, dan setengahnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Hadits tersebut memberikan isyarat bahwa kwantitas dan kwalitas pahala shalat kita salah satunya tergantung pada kekhusyu’an, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas ra, “Engkau tidak mendapat pahala shalatmu kecuali yang engkau sadari dari shalat itu.”</p>
<p><strong>Kenapa tidak khusyu’?</strong></p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakkhusyu’an. Bisa karena kita tidak memahami makna doa-doa dan bacaan yang ada dalam shalat.  Mungkin pula karena banyaknya pikiran atau urusan yang belum terselesaikan ketika kita hendak melakukan shalat.  Juga karena tidak menghadirkan hati dan jiwa kita ketika mulai takbiratul ihram sehingga pikiran kita melayang kemana-mana dan memikirkan hal-hal diluar shalat. Badan di masjid tapi terkadang pikiran melayang kemana-mana. Amat kontras dengan keadaan para generasi pendahulu kita (salaf shaleh), meski badan masih di rumah namun hati mereka sudah sampai ke masjid.</p>
<p>Faktor lain yang menyebabkan ketidak khusyu’an adalah mengerjakannya dengan tidak tumakninah (tenang), padahal itu termasuk kesalahan besar yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai sebuah pencurian, bahkan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat.</p>
<p>“Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya, ‘Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?’ Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad)</p>
<p><strong>Agar bisa khusyu’</strong></p>
<p>Menghadirkan kekhusyu’an dalam shalat memang perkara yang tidak mudah. Namun dengan berusaha sambil memohon pertolongan kepada Allah, semuanya akan menjadi mudah. Diantara tips agar shalat kita khusyu’ adalah menghadirkan hati bahwa seolah shalat yang akan kita kerjakan adalah shalat yang terakhir kali di dunia ini.  Rasulullah saw pernah memberikan nasehat kepada seorang pemuda, “Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah, seolah-olah engkau melihat Allah swt, apabila engkau tidak melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu..” (HR. At-Thabrani)</p>
<p>Seorang ulama salaf, Hatim Al Asham, pernah ditanya bagaimana cara ia menunaikan shalat. Ia menjelaskan, “Saya berdiri sesuai yang diperintahkan, berjalan dengan tenang, memulai shalat dengan menghadirkan niat, bertakbir dengan keagungan, membaca dengan tartil dan perenungan, ruku’ dengan khusyu’, sujud dengan tawadhu’, berucap salam sesuai sunah dan dengan penuh keikhlasan kepada Allah tetapi aku khawatir bila shalatku tidak diterima.”</p>
<p>Usahakan untuk tidak berlama-lama dalam mengerjakan, karena bisa jadi akan menyebabkan kebosanan dan pikiran melayang. Ammar bin Yasir adalah seorang sahabat yang biasa mengerjakan satu shalat dengan ringan. Ketika ditanyakan, “Kenapa Anda mengerjakan shalat dengan ringan wahai Abu Yaqhzhan (julukan untuk Amar) ?” Ia menjawab, “Apakah kalian melihat aku mengurangi sesuatu dari batasan-batasannya?” Mereka menjawab,”Tidak.” Ia berkata, “Sesungguhnya aku mendahului gangguan setan.” Begitu pula Zubair dan Thalhah serta sekelompok sahabat Nabi, mereka adalah manusia yang paling ringan shalatnya. Batasannya, tidak terlalu panjang hingga menyebabkan lalai dan bosan juga tidak terlalu pendek hingga merusak kekhusyu’an.</p>
<p>Pahala khusyu’</p>
<p>Rasulullah saw menjanjikan pahala bagi mereka yang khusyu’ dalam shalatnya:</p>
<p>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْمُ فِى صَلاَتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُوْلُ إِلاَّ انْتَفَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ</p>
<p>“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu melaksanakan shalat dan mengetahui apa yang dibacanya (dalam shalat) kecuali ia terbebas (dari dosa) seperti di hari ia dilahirkan ibunya.”(HR. Al-Hakim)</p>
<p>Hadits tersebut memberikan petunjuk kepada kita bahwa seolah-olah kekhusyu’an adalah penghapus yang mampu menghapus dosa yang telah berlalu dan menghancurkan kesalahan yang telah lewat. Satu shalat yang dijiwai ruh itu cukup merubah lembaran dan catatan amal kita menjadi putih bersih.</p>
<p>“Jika seorang hamba berdiri mengerjakan shalat, maka semua dosa-dosanya didatangkan lalu diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya. Tiap kali ia rukuk dan sujud maka dosa-dosanya berjatuhan.” (HR. Thabrani)</p>
<p>Abdurrahman Al Munawi mengaitkan hadits ini dengan kekhusyu’an, ia berkata, “Maksudnya tiap kali ia menyempurnakan satu rukun shalat, maka jatuhlah satu pilar dosa. Sehingga ketika ia selesai shalat habis sudah jatuhnya dosa. Ini dalam shalat yang memenuhi semua syarat, rukun dan kekhusu’an…”</p>
<p>Akhirnya kita memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari hati yang tidak khusyu’: “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ , dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/dengan-kekhusyu%e2%80%99an-dosa-berguguran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merawat Diri, Senangkan Hati Suami</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merawat-diri-senangkan-hati-suami.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merawat-diri-senangkan-hati-suami.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[hati suami]]></category>
		<category><![CDATA[merawat diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1623</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua hadits yang hampir pasti disebutkan pada ceramah nikah, satu untuk nasihat bagi suami dan satunya lagi untuk isteri. Untuk suami biasanya disebutkan hadits berikut; “ Nasehatilah wanita dengan baik, karena dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Dan rusuk itu yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Kalau kamu memaksa meluruskannya, kamu akan mematahkannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/merawat-diri.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1560 alignnone" title="merawat-diri" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/merawat-diri-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p align="left">Ada dua hadits yang hampir pasti disebutkan pada ceramah nikah, satu untuk nasihat bagi suami dan satunya lagi untuk isteri. Untuk suami biasanya disebutkan hadits berikut;</p>
<p align="left">“ Nasehatilah wanita dengan baik, karena dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Dan rusuk itu yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Kalau kamu memaksa meluruskannya, kamu akan mematahkannya. Tapi kalau dibiarkan dia akan tetap bengkok. Karenanya, nasihatilah wanita dengan baik.” (HR. Bukhari)</p>
<p align="left">Sedang hadits berikut untuk isteri;</p>
<p dir="RTL">خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تُسِرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَ تُطِيْعُهُ إِذَا أُمِرَ</p>
<p align="left">“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan suami jika dia memandangnya, dan menaati suami jika suami memerintahnya.” (HR. an Nasa’I, dinilai shahih oleh Syaikh al AlBani dalam as Silsilah as Shahihah).</p>
<p align="left">Kalau dicermati, dua hadits ini memang sangat pas untuk nasihat sepasang kekasih yang baru saja diikat pernikahan, seutas tali cinta yang diridhai Allah. Coba cermati, mengapa penekanan pada masing-masing hadits berbeda? Untuk suami Rasulullah mewasiyatkan agar berlemah lembut, sedang kepada isteri, hal pertama yang disebut adalah agar isteri terlihat menarik dan menyenangkan di mata suami, mengapa?</p>
<p align="left">Inilah sisi keagungan hikmah dalam nasihat-nasihat Rasulullah. Untuk hadits pertama, Imam Ibnu hajar al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, maksud hadits itu adalah wasiyat kepada para suami agar berlemah-lembut, bersikap penuh kasih dan perhatian pada isterinya.</p>
<p align="left">Ini bukan teori biasa. Secara psikis, wanita adalah makhluk yang mengedepankan perasaan dan segala hal yang bersifat afektif. Baginya,  sikap lemah lembut sang suami, perhatiannya, kesetiaannya, dan kesediaan suami untuk mendengarkan dirinya adalah segala-galanya. Penampilan sederhana sang suami seringkali tidak menjadi masalah baginya. Kadangkala kalau suaminya tampil terlalu cakep, isteri malah sering khawatir kalau-kalau ada makhluk sebangsanya yang melirik.</p>
<p align="left">Karenanya, nasihat Rasulullah menekankan pada suami agar bersikap lemah lembut dan penuh kasih pada isterinya. Utamanya ketika memberi nasihat, saran atau bahkan teguran. Yang terpenting bagi isteri adalah cara, bukan materi yang disampaikan. Barangkali suami berpikir, nasihatnya sudah sangat rasional, argumentatif dan tak terbantahkan. Tapi jika hal itu disampaikan dengan cara kasar, yakinlah, jangankan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, masuk ke kuping pun tidak alias tidak akan didengarkan. Tapi boleh jadi nasihat dan tegurannya sederhana bahkan tak hafal dalilnya, tapi jika disampaikan dengan lemah lembut dan penuh kasih, akan langsung menancap ke sanubari. Yah, meskipun kadangkala isteri tetap merengut, tapi yakinlah cara ini akan efektif.</p>
<p align="left">Sedang bagi isteri, dengan halus dan secara tidak langsung Rasulullah menyampaikan bahwa sebaiknya, isteri selalu berusaha menyenangkan pandangan suaminya dan menaati perintahnya. Menyenangkan pandangan maksudnya memberi perhatian pada penampilan dirinya. Kecantikannya akan menyenangkan suami sekaligus membantunya menjaga diri dari fitnah wanita. Dan semua wanita itu cantik serta memiliki sisi-sisi keantikan yang unik. Itulah yang harus dirawat sebagai bentuk syukur kepada Allah dan untuk menyenangkan suami.</p>
<p align="left">Imam al Munawi menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir mengenai hadits tersebut dengan berkata, “Kecantikan isteri bagi lelaki adalah sarana yang dapat membantunya untuk menjaga diri dan agamanya.”</p>
<p align="left">Semua lelaki tentunya menginginkan sang isteri menaruh perhatian dalam hal merawat tubuh dan penampilannya meski dengan cara yang sederhana. Ini hal yang wajar dan sepertinya sudah menjadi naluri lelaki. Kalaupun tidak pernah diungkapkan, sebenarnya di sudut hatinya tetap ada secuil rasa yang menginginkan hal itu. Lelaki memang tidak biasa mencurahkan segala uneg-unegnya seperti halnya wanita. Dia biasa menyikapi atau bahkan menyelesaikan persoalan dengan diam dan berpikir.Alasan lain, mungkin tidak mau dicap hanya mementingkan fisik karena tahu, wanita pasti tidak menyukai hal itu. Padahal seringkalinya tidak separah itu. Yang diinginkannya hanyalah sedikit perhatian dari isteri dalam hal ini di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga. Pasalnya, tidak sedikit para wanita yang setelah menikah dan punya anak tidak lagi menaruh perhatian pada penampilan.</p>
<p align="left">Perbedaan ini, apabila tidak dipahami dengan baik akan berdampak buruk pada hubungan. Isteri mengabaikan keinginan suami, suami kurang nyambung dengan apa yang paling diinginkan isteri. Isteri merasa cukup dengan memberikan perhatian pada suami sebagaimana dia juga menginginkan hal itu pada dirinya. Soal fisik, seharusnya suaminya bisa menerima apa adanya lalu dia pun benar-benar memperlakukan tubuh dan penampilannya dengan kualitas “apa adanya” alias sekenanya. Sebaliknya, suami merasa, asalkan sudah mencukupi kebutuhan rumah tangga, logistik dan sedikit perhatian, itu sudah cukup. Komunikasi juga tak dijalin dari hati ke hati dan penuh kelembutan. Akhirnya masing-masing merasa sudah mencukupi kebutuhan pasangan, tapi kenyataannya, sering terlihat adanya ketidak puasan. Mengapa? Karena antara apa yang dinginkan masing-masing dengan usaha yang dilakukan belum benar-benar nyambung.</p>
<p align="left">Yah, memang, ini semua masih berupa idealisme yang pelaksanaannya kadang-kadang tidak mudah. Tapi bagaimanapun, urusan ini tetap harus dipahami terlebih dahulu, baru kemudian berusaha untuk diterapkan. Wallahua’lam. (aviv)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merawat-diri-senangkan-hati-suami.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merubah Kebiasaan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merubah-kebiasaan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merubah-kebiasaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[merubah kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[merubah perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1621</guid>
		<description><![CDATA[Hidup adalah pilihan. Apa yang ingin dan tidak ingin kita kerjakan, kembali kepada keputusan kita; baik buruknya, pantas tidaknya, dan untung ruginya. Namun yang sering kita lupa, bahwa nilai diri dan hidup kita, sebenarnya, adalah akumulasi dari berbagi pilihan itu. Terkadang kita tidak menyadari bahwa proses yang akumulatif itu sering menyajikan fakta-fakta mengejutkan. Bahwa hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/mengubah-kebiasaan.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1559 alignnone" title="mengubah-kebiasaan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/mengubah-kebiasaan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Hidup adalah pilihan. Apa yang ingin dan tidak ingin kita kerjakan, kembali kepada keputusan kita; baik buruknya, pantas tidaknya, dan untung ruginya. Namun yang sering kita lupa, bahwa nilai diri dan hidup kita, sebenarnya, adalah akumulasi dari berbagi pilihan itu.</p>
<p>Terkadang kita tidak menyadari bahwa proses yang akumulatif itu sering menyajikan fakta-fakta mengejutkan. Bahwa hal yang tampak sepele dalam sekali pelaksanaannya, menjadi sangat berarti dalam pengulangannya sekian tahun ke depan. Baik maupun buruk. Hal yang sering membuat kita terkejut-kejut.</p>
<p>Membaca al-Qur’an beberapa ayat sehari bisa tampak sangat remeh, tapi tidak jika terakumulasi dalam sekian tahun. Sebatang rokok yang kita hisap setiap hari, jelas akan sangat memengaruhi kesehatan kita dalam beberapa tahun di muka. Bukankah tidak menjadi kecil, dosa-dosa yang dibiasakan, meski tampak sepele?</p>
<p>Kita faham bahwa kebiasaan menunda-nunda, berkomunikasi secara buruk, lebih suka bicara daripada mendengar, sibuk bekerja hingga waktu untuk keluarga sempit, egois dan banyak lagi yang lain adalah hal yang buruk? Tapi mengapaa banyak di antara kita yang masih saja membiasakannya? Hingga kita sangat menghajatkan pendidikan untuk hal-hal yang bahkan sudah jelas.</p>
<p>Maka, cerdas memilih kebiasaan harian, kemudian berusaha istiqamah dalam pilihan itu adalah prestasi tersendiri yang tidak bisa diremehkan. Selain karena kita memang jarang merenung untuk berfikir tentang masa depan, juga karena kita sering tidak berdaya untuk mengubah kebiasaan buruk, meski kita tahu akibat yang akan timbul, karena sudah mengakar kuat dalam perilaku keseharian kita. Rasulullah menyatakan bahwa hamba yang cerdas adalah dia yang bisa mengendalikan nafsu dan bisa beramal untuk hidup sesudah mati.</p>
<p>Artinya, kita bisa kehilangan kecerdasan jika tidak mengontrol keinginan nafsu. Hanyut dalam kenikmatan instan yang disajikan, hingga bersikap masa bodoh tentang berbagai kemungkinan buruk di masa mendatang. Atau kita hanya berfikir hari ini, dunia ini, dan lupa bahwa ada akhirat yang menjadi hari pertanggungan jawab.</p>
<p>Maka, menjadikan muhasabah atau instropeksi diri sebagai kebiasaan akan menjamin kita berada dalam jalur kebaikan. Kemudian melakukan kebiasaan baik dan tekun melaziminya meski tampak sulit. Kelak, dalam rentang waktu yang lama, kita akan memanen hasilnya dengan manis. Karena apa yang kita biasakan akan menjadi akhlak kita. Akan membentuk integritas diri kita.</p>
<p>Kebiasaan menjadi 90 % perilaku normal kita. Sesuatu yang sering kita perbuat hingga menjadi mudah, dan memberi perasaan nyaman karena kita lakukan tanpa perlu pemikiran yang mendalam. Ia berjalan secara mekanik, menggambarkan diri kita dari sisi lahiriahnya. Bagaimana kita bangun tidur, berpakaian, sarapan, menyapa, menggosok gigi, menata meja, menyelesaikan masalah, bersikap di dalam rapat dan ratusan bahkan ribuaan perilaku kita yang lain, adalah buah dari apa yang kita putuskan untuk kita biasakan.</p>
<p>Di sisi lain, meski membuat perasaan kita nyaman, sebuah rutinitas yang terlalu banyak, bisa menjebak kita kepada rasa puas diri yang berujung kepada kebosanan. Seringkali dengan keadaan standar yang menghambat keluarnya potensi diri yang sebenarnya. Karena kita menjadi malas dan miskin berkreasi, terlanjur nyaman dengan apa yang sudah ada.</p>
<p>Tapi, bagaimana jika banyak dari kebiasaan kita adalah hal yang buruk, bahkan ia bisa memengaruhi orang-orang lain di sekitar kita? Karena sebagai suami, apa yang kita kerjakan dan biasakan, apalagi ia buruk adanya, tentu sedikit banyak akan berpengaruh kepada anak-anak dan istri-istri kita. Sedang banyak di antara kita yang enggan untuk merubahnya. Memang sulit jika dibayangkan, namun insyallah mudah jika kita memiliki tekad yang kuat dan komitmen yang tinggi.</p>
<p>Al-jazaa’ min jinsi al-‘amal, balasan akan sebanding dengan kerja, begitu kira-kira. Sebuah sunatullah yang harus kita yakini agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah. Karena kita ingin memanen hasil yang baik, dan takut mendapat akibat yang buruk. Dan itu ditentukan oleh apa yang akhirnya lakukan. Juga konsistensi kita dalam pengerjaannya.</p>
<p>Konsistensi penuh dan sungguh-sungguh untuk hasil yang maksimal. Tidak bisa setengah-setengah apalagi apa adanya. Karena jika kita mendapat tekanan dan stres, sangat mungkin kita akan kecewa, putus asa, hingga akhirnya kembali kepada kebiasaan lama. Untuk kemudian semuanya menjadi sia-sia. Maka kita harus fokus, disiplin dan kuat.</p>
<p>Secara umum, sebuah kebiasaan baru membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu agar menjadi mudah bagi kita. Meski ia juga tergantung pada kedalaman sebuah kebiasaan buruk yang sudah mengakar di dalam diri kita. Semakin lama ia sudah menjadi bagian dari kebiasaan kita, semakin sulit upaya untuk merubahnya meski bukan berarti tidak bisa.</p>
<p>Untuk itu, selain menguatkan akidah dan mempertajam ilmu tentang tujuan hidup agar kita memiliki tekad yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik, dukungan orang-orang sekitar, terutama keluarga sangat dibutuhkan. Para pendukung yang tulus, sebab mereka mengharapkan kita, suami dan ayah mereka, menjadi yang terbaik sebagai imam mereka.</p>
<p>Iman akan membimbing kita kepada cita-cita hidup yang tinggi, memampukan kita menjalani kesulitan dan penderitaan sebab harapan kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat telah terpatri dengan kuat di dalam dada.</p>
<p>Kita ingin menjadi hamba Allah yang baik, dan itu dimulai dari hal-hal baik yang kita yakini, ucapkan, serta biasakan dalam pengamalannya. Allah tidak akan merubah kita jika kita tidak merubah diri kita sendiri. Tapi, mulai kapan kita bersungguh-sungguh untuk memulainya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merubah-kebiasaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mewujudkan Asa Ibunda</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/mewujudkan-asa-ibunda.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/mewujudkan-asa-ibunda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[asa ibunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1618</guid>
		<description><![CDATA[“asalamu’alaikum warahmatullah” kutolehkan kepalaku ke arah kiri, mengakhiri shalat isyak secara berjama’ah. Diikuti gerakan yang sama oleh makmum yang berada di belakangku. Hari ini menjadi hari pertama aku melakukan “ta’limul qura” kegiatan mengajar di desa sekitar pondok. Sebuah aktifitas yang diawali dengan TPA, dan dilanjutkan dengan kajian agama. Pengalaman yang baru saja mengisi lembaran hidupku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/mewujudkan-asa.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1562 alignnone" title="mewujudkan-asa" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/mewujudkan-asa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>“asalamu’alaikum warahmatullah” kutolehkan kepalaku ke arah kiri, mengakhiri shalat isyak secara berjama’ah. Diikuti gerakan yang sama oleh makmum yang berada di belakangku. Hari ini menjadi hari pertama aku melakukan “ta’limul qura” kegiatan mengajar di desa sekitar pondok. Sebuah aktifitas yang diawali dengan TPA, dan dilanjutkan dengan kajian agama.</p>
<p>Pengalaman yang baru saja mengisi lembaran hidupku terus berputar di otakku, bagaikan film hitam putih di jaman dulu. Menjadi teman di dalam perjalanan pulang. Terlihat jelas bagaimana demam panggung meringkus nyaliku ketika berhadapan dengan 30 orang bapak dan ibu. Detak jantungku terasa meningkat beberapa kali, hampir merontokkan materi yang telah aku persiapkan sejak siang hari. Keringat bercucuran, meleleh dari lubang pori-poriku, padahal malam cenderung dingin. Suaraku bagaikan tertahan di tenggorokan, walaupun hanya sekedar memberikkan salam pembukaan. Gugup, namun aku tidak mungkin lagi untuk mundur, “harus maju” batinku berteriak mencoba mengusir rasa takut.</p>
<p>Sekitar 30 menit aku menyampaikan materi, tanpa ada kendala yang berarti, meskipun jantung ini dag dig dug tak beraturan, namun dapat berangsur tenang. Rasa gugup yang kurasakan diawal larut oleh suasana. Akan tetapi rasa canggung kembali lagi, ketika ada seorang ibu yang mengangkat tangannya, disusul dengan pertanyaan yang aku belum bisa menjawabnya. “Yah pengalaman pertama”  hatiku menghibur. Belum reda rasa canggung karena sebuah peratanyaan, rasa gugup kini menggantikan. Seusai iqamah, salah seorang warga memerintahkanku mengimami mereka. Bagiku imam adalah sebuah posisi yang sangat sakral, tidak bisa sembarang orang menempati posisi itu. Terlebih bagi diriku yang minim ilmu agama.</p>
<p>Kuberanikan diri melangkah kedepan, menghadap makmum yang rata-rata usianya jauh di atasku.  Ku rapikan shaf, sebagai bentuk ittiba’ kepada Rasulullah, dan “allahakbar” suara takbiratul ikhram mengawali ibadah kami. Keheningan membungkus suasana. Kami larut dalam kekhusukan menyelami makna ayat suci Al-Qur’an, hingga kalimat “salam” ku ucapkan, mengakhiri ibadah pada malam itu.</p>
<p>Setelah shalat aku terdiam. Dalam diam rasa haru dan rindu tiba-tiba muncul di dalam hatiku. Bukan karena bangga telah menjadi imam, akan tetapi teringat akan sebuah kenangan. Kenangan masa lalu tentang  harapan Ibuku yang kini telah menjadi kenyataan. Seusai sholat sebuah do’a kupanjatkan sebagai bukti baktiku kepadamu, wahai ibu. Doa inilah yang mampu mengobati rasa rinduku. Tak ada lagi yang bisa aku hadiahkan kepadamu untuk segala jerih payahmu, melainkan hanya sebuah doa. Walaupun aku sadari berapapun banyaknya doa yang ku panjatkan, tetap tidak akan mampu melunasi segala apa yang telah engkau lakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“nang… Sini…!, iqra’nya dibawa” suara ibuku yang dulu selalu terdengar selepas shalat maghrib. Akupun menghampirinya dengan membawa buku kecil berwarna merah yang bertuliskan “iqra’ jilid 1”. Masih lekat dan teringat di dalam otakku, bagaimana kesabaran ibuku berjuang mengenalkan huruf hija’yah kepada putranya yang kini telah beranjak dewasa. Satu demi satu huruf hija’iyah disebutkan dan aku harus menirukan sebagaimana yang ibuku ucapkan. Terasa membosan bagiku yang ketika itu lebih senang dengan acara televisi, dan lebih tertarik dengan mainan baruku yang baru saja dibeli. Sebagai bentuk protesku, Kadang aku berlari kesana kemari, tidak perhatian dengan apa yang ibuku ajarkan. Namun ibuku tidak pernah bosan dengan tingkah polahku, dan tetap sabar mengajari ku membaca Al-Qur’an.</p>
<p>Pernah suatu ketika ibuku mencubitku karena aku mogok belajar. Tentu saja suara tangisku membahana, merobek ketenangan senja. Dengan penuh sayang, jemari ibuku membelai rambutku. Dan lisannya memberikan nasehat bertapa pentingnya belajar membaca Al-Qur’an. Kala itu aku tidak faham dengan semua yang dia ucapkan, aku hanya mendengarkan dan sedikit senang karana mendapatkan sebuah perhatian. Namun ada satu pesan yang tidak bisa aku lupakan, “Nang… kamu ini anak laki-laki, jadi harus bisa baca Al-Quran&#8230; Karena anak laki-laki kalau sudah besar akan menjadi imam.”</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah kejadian itu setiap malam ibuku menuntunku untuk menghafal juz’amma. Dimulai dari an-nas hingga terus naik ke atas. Bagi diriku yang masih kecil butuh beberapa hari untuk menghafal satu surat pendek. Namun ibuku tidak pernah mengeluh atau bahkan putus asa dalam mendidik anaknya. Seringnya, setelah aku berhasil menghafal satu surat pendek, doa-doa sholat, ataupun doa sehari-hari dari TPA yang kuikuti, aku akan memamerkannya kepada ibuku. Rasa senang ketika melihatku bisa menyetorkan hafalanku dengan sempurna, terekspresikan dengan seulas senyum di wajahnya. lalu biasanya sebuah pujian atau pelukan akan aku terima.</p>
<p>Kini semua itu hanya menjadi sebuah kenangan. Tidak ada lagi seseorang yang akan mencubitku, ketika rasa futur (malas) mengabrasi semangatku. Tidak ada lagi belaian penuh sayang, ketika jiwa ini menangis menghadapi beratnya ujian. Tidak ada lagi perhatian yang dulu pernah ku dapatkan, sebagaimana perhatian yang engkau berikan. Tidak ada lagi seseorang yang akan memberikkan senyuman penuh kebanggaan, ketika sebuah tantangan berhasil kuselesaikan. Namun harapanmu kepadaku kini telah Allah kabulkan wahai ibuku, Allah membukakan mata hatiku untuk memperdalam agama. Setelah ku terlena dengan kehidupan dunia. Walaupun engkau tak pernah bisa menyaksikannya.</p>
<p>Mungkin itulah yang terbaik yang Allah takdirkan. Engkau meninggal ketika berjuang melahirkan anakmu yang kedelapan. Kami sekeluarga hanya bisa bersabar dengan apa yang Allah ujikan.  Bukankah semua ini telah menjadi ketetapan-Nya 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan?</p>
<p>***</p>
<p>Seusai shalat, aku pun pulang ke pesantren dan menuliskan semua ini.  Hanya dengan tulisan inilah aku mampu mengisahkan dan menumpahkan kerinduanku kepadamu, wahai ibuku. Semoga engkau mendapatkan ampunan dan Allah berkenan menerima amal sholehmu. Aku selalu merindukanmu.  (amry el-jifarye)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/mewujudkan-asa-ibunda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merebaknya Buku, Tanda Kiamat yang Bermanfaat</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merebaknya-buku-tanda-kiamat-yang-bermanfaat.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merebaknya-buku-tanda-kiamat-yang-bermanfaat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[merebaknya buku]]></category>
		<category><![CDATA[tanda kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1615</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Amru, bahwasanya Rasulullah bersabda; &#160; مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ اْلأَشْرَارُ وَيُوْضَعُ اْلأَخْيَارُ وَيُقْبَحُ اْلقَوْلُ وَيُحْسَنُ الْعَمَلُ وَتَفْرِىَ فِي اْلقَوْمِ الْمَسَاءَةُ قُلْتُ وَمَا الْمَسَاءَةُ قَالَ مَا كُتِبَ سِوَى كِتَابِ اللهِ “Di antara  tanda dekatnya kiamat adalah manusia-manusia jahat dihormati sedang orang-orang baik direndahkan, kata-kata dianggap buruk dan aksi lebih dipuji, dan tersebarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/merebaknya-buku.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1561 alignnone" title="merebaknya-buku" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/merebaknya-buku-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Dari Abdullah bin Amru, bahwasanya Rasulullah bersabda;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ اْلأَشْرَارُ وَيُوْضَعُ اْلأَخْيَارُ وَيُقْبَحُ اْلقَوْلُ وَيُحْسَنُ الْعَمَلُ وَتَفْرِىَ فِي اْلقَوْمِ الْمَسَاءَةُ قُلْتُ وَمَا الْمَسَاءَةُ قَالَ مَا كُتِبَ سِوَى كِتَابِ اللهِ</p>
<p>“Di antara  tanda dekatnya kiamat adalah manusia-manusia jahat dihormati sedang orang-orang baik direndahkan, kata-kata dianggap buruk dan aksi lebih dipuji, dan tersebarnya masa’ah pada manusia.” Aku –Abdullah- bertanya, “Apa itu masa’ah?” Rasulullah menjawab, “Sesuatu yang ditulis selain kitabullah.” (HR. ath Thabrani, Imam al Haitsami menyatakan rijal haditsnya shahih)</p>
<p>Dalam buku-buku yang membahas tanda kiamat, kalimat terakhir dari hadits di atas diartikan dengan “merebaknya buku-buku” sebagai salah satu tanda kiamat. Banyaknya buku yang diterbitkan mengindikasikan banyak pula penulis yang bermunculan. Fenomena ini memunculkan tanda tanya. Adakah ini tanda kiamat ini merupakan tanda yang buruk? Bukankah dengan merebaknya buku berarti ilmu semakin tersebar luas? Tapi mengapa kata yang dipilih adalah masa’ah yang menurut kamus artinya adalah hal yang tidak menyenangkan?</p>
<p>Sayangnya, dari hasil penulusuran  penulis, hadits ini tidak banyak dinukil oleh para pen-syarah hadits. Akibatnya, cukup sulit memahami maksud yang gamblang dari hadits ini.</p>
<p>Wallahua’lam, pembaca dapat mengkaji lagi secara mendalam tentang hal ini. Hanya saja, ada kemungkinan, fenomena ini memang memiliki efek negatif di samping pula dampak positif atau hikmah yang bisa diambil. Seperti kita tahu, tanda kiamat tak selalunya hal-hal buruk. Ada beberapa yang merupakan kebaikan dan hal bermanfaat.</p>
<p>Maraknya buku-buku akan menjadi hal yang buruk, barangkali maksudnya jika buku-buku tersebut sama sekali tidak mengacu atau tidak sesuai dengan Kitabullah. Buku adalah media paling efektif dan valid untuk menyebarkan pemahaman, termasuk pemahaman yang menyimpang. Efektif karena buku bisa dibaca semua orang, rinci dan tahan lama. Valid karena buku merupakan referensi ilmiyah. Sesederhana apapun sebuah buku, tetap dianggap sah dipakai sebagai rujukan dari sisi metodologi penulisan. Jika yang marak adalah buku-buku yang menyimpang dari kitabullah, umat terancam binasa dan kitabullah bakal segera ditinggalkan. Tentunya, ini bukan hal yang menyenangkan.</p>
<p>Namun, jika dilihat dari segi positifnya, ada banyak manfaat dari fenomena ini karena faktanya, yang marak dan bermunculan bukan hanya buku-buku menyimpang tapi juga buku-buku Islam dan pengetahuan secara umum. Di kalangan umat Islam sendiri, tradisi menulis buku dengan tema-tema Islam sudah mendarah daging sejak dulu. Meski melalui pasang surut, umat ini memiliki tradisi menulis yang cukup bagus. Dan kini, sepertinya gairah menulis di kalangan umat kembali bangkit, meski ada kekurangan di sana-sini.</p>
<p>Di Indonesia sendiri kepenulisan literasi Islam mengalami kemajuan luarbiasa pesat 10 tahun terakhir ini. Menurut data dari IKAPI, antara tahun 1995-2005 jumlah penerbit di Indonesia  bertambah 33 % atau sekira 172 penerbit dalam sepuluh tahun. Padahal saat itu, kebanyakan yang dicetak adalah buku-buku sekolah karena memang pasar buku masih lesu dan hanya lembaga pendidikan yang menyerap. Tapi itu dulu.</p>
<p>Kini, sejak tahun 2005-2010 hingga kini, perbukuan mengalami kemajuan luar biasa bahkan seperti tak terbendung. Boleh dikata, gairah ini sudah meningkat sejak sebelum tahun 2000. Saat ini penerbit buku sudah bejibun. Dulu, tercatat dalam setahun rata-rata penerbit hanya mampu menerbitkan 9 buku pertahun. Tapi kini, tersiar kabar bahwa tidak sedikit penerbit yang mampu menerbitkan 10 buku dalam sebulan, bahkan lebih.</p>
<p>Perkembangan ini juga terjadi pada buku-buku Islam. Tahun 1995, buku agama secara umum hanya menempati 15 % dari total buku yang diterbitkan. Sekarang, lihatlah ke toko buku. Buku-buku islam akan menempati sebagian besar rak di toko-toko buku. Kalau tidak salah, perkembangan buku Islam di Indonesia bermula dari akses internet yang semakin mudah. Di internet ada ribuan buku-buku Islam, kebanyakan berbahasa Arab yang dapat di ambil (download) secara gratis. Buku-buku ini kemudian diterjemahkan dan dicetak. Dengan pengemasan dan strategi pemasaran yang semakin menarik dan maju, daya beli masyarakat pun meningkat. Dunia perbukuan Islam pun bergairah. Kemudian, dari tren terjemahan beralih ke tren penulisan buku secara mandiri. Bermunculanlah penulis-penulis muslim lokal yang sampai saat ini jumlahnya sangat banyak dan beberapa sangat produktif. Tak hanya orang dewasa, anak kecil umur sepuluh dan belasan tahun pun banyak yang sudah punya karya.</p>
<p>Fenomena ini dipicu, salah satunya oleh penerbit yang mulai lebih menyukai karya penulis lokal alih-alih terjemahan. Pasalnya, karya terjemah sering mengalami persaingan tak sehat. Satu buku diterjemahkan oleh sekian banyak penerbit –karena naskah aslinya gratis- dengan judul berbeda-beda. Akibatnya, tidak sedikit konsumen yang kecewa dan mungkin sedikit trauma dengan terjemahan; beli lima buku dengan judul beda, ternyata isinya sama. Akhirnya, para penulis lokal pun mulai mendapat tempat. Namun, sindrom yang sama juga mulai dirasakan. Ada buku tulisan sendiri yang hanya berupa pengulangan dari buku yang sudah ada. Akan tetapi hal ini tidak mematikan sama sekali nafas literasi Islam di negeri ini. Masih ada banyak penulis produktif dengan hasil karya yang bagus.</p>
<p>Ditambah lagi kemajuan teknologi berupa buku elektronik alias e-book yang semakin memudahkan orang untuk membaca buku. E-book adalah Buku yang dapat dibaca melalui komputer atau handphone. Juga CD-CD program buku seperti maktabah Syamilah dan sejenisnya yang berisi ribuan buku dalam satu keping CD, yang kini hampir dimiliki setiap orang.</p>
<p><em>Subhanallah</em>. Tentunya ini menjadi kabar baik bagi umat Islam. Buku-buku ini memudahkan kita untuk belajar agama secara cepat. Meskipun belajar Islam haruslah tetap melalui bimbingan Ustadz, kyai atau ulama, namun fenomena ini tak ayal sangat membantu kita. Tinggal kita mau memanfaatkan atau tidak. Semua tema telah tersedia; tafsir, fikih, akidah, tsaqafah, faraih, keluarga, sirah nabi, pendidikan anak, buku remaja, thibun nabawi, sains Islam, berbagai ensiklopedi dan masih banyak yang lain.</p>
<p>Segi inilah yang mseti kita ambil dari tanda kiamat ini. Karenanya, mari giatkan membaca untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan ilmu. Semoga fenomena ini menjadi berkah bagi kita semua.</p>
<p><em>Wallahua’lam</em>.(T. anwar).</p>
<div id="divLookup" style="top: 121px; left: 259px;"><img src="data:image/gif,GIF89a%12%00%12%00%B3%00%00%FF%FF%FF%F7%F7%EF%CC%CC%CC%BD%BE%BD%99%99%99ZYZRUR%00%00%00%FE%01%02%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%00%21%F9%04%04%14%00%FF%00%2C%00%00%00%00%12%00%12%00%00%04X0%C8I%2B%1D8%EB%3D%E4%00%60%28%8A%85%17%0AG*%8C%40%19%7C%00J%08%C4%B1%92%26z%C76%FE%02%07%C2%89v%F0%7Dz%C3b%C8u%14%82V5%23o%A7%13%19L%BCY-%25%7D%A6l%DF%D0%F5%C7%02%85%5B%D82%90%CBT%87%D8i7%88Y%A8%DB%EFx%8B%DE%12%01%00%3B" alt="" border="0" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/merebaknya-buku-tanda-kiamat-yang-bermanfaat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Thalaq ketika Marah</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/01/thalaq-ketika-marah.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/01/thalaq-ketika-marah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[thalak ketika marah]]></category>
		<category><![CDATA[thalaq marah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1612</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Ustadz, bagaimana hukum talak yang diucapkan suami ketika marah? Sebab ana banyak menemukan para istri yang mengeluhkan hal ini. Jazakumullah khaira jazaa’ atas jawaban ustadz. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Ummahat Sukoharjo &#160; Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh Ibu, memang tidak nyaman mendengarkan kata-kata cerai meski diucapkan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/thalaq-marah.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1569 alignnone" title="thalaq-marah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/thalaq-marah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p>Ustadz, bagaimana hukum talak yang diucapkan suami ketika marah? Sebab ana banyak menemukan para istri yang mengeluhkan hal ini. Jazakumullah khaira jazaa’ atas jawaban ustadz.</p>
<p><em>Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatu</em>h</p>
<p>Ummahat Sukoharjo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh </em></p>
<p>Ibu, memang tidak nyaman mendengarkan kata-kata cerai meski diucapkan dengan main-main, biasa-biasa saja, ataupun marah-marah.  Dan talak itu memiliki dua syarat; ada niat dan diungkapkan. Sedang marah (ghadhab) adalah salah satu bentuk pengungkapannya, selain lewat ucapan biasa, tulisan atau isyarat.</p>
<p>Ibu, marah itu ada dua macam. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal, di mana yang bersangkutan masih menyadari ucapan atau tindakannya. Kedua, marah yang sangat, yang menghilangkan kesadaran atau akal, dimana yang bersangkutan tidak lagi menyadari ucapan dan tindakannya, atau mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya.</p>
<p>Untuk yang pertama, talaknya jatuh berdasar riwayat Mujahid, bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ibnu Abbas dan berkata, “Saya telah menjatuhkan talak tiga kali pada istri saya dalam keadaan marah.” Ibnu Abbas menjawab, “Aku tak bisa menghalalkan untukmu apa yang diharamkan Allah. Kamu telah mendurhakai Allah dan istrimu telah haram bagimu.”</p>
<p>Sedang untuk kategori yang kedua, talaknya tidak jatuh karena hilangnya akal ketika marah yang sangat, menjadikannya dianggap bukan mukallaf sehingga tidak bernilai hukum. Ada hadits dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah bersabda, “Tak ada talak dan pembebasan budak dalam keadaan marah yang sangat.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah).</p>
<p>Kesimpulannya ibu, suami yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah dianggap tetap jatuh talaknya, sebab kondisi marah tidak mempengaruhi keabsahan tasharruf (tindakan hukum) yang dilakukannya. Kecuali jika ucapannya terjadi dalam keadaan marah yang sangat (ighlaq). Namun, hendaknya para suami berlatih menahan diri ketika marah agar terhindar dari kata-kata yang tidak layak seperti itu. Wallahu a’lam.</p>
<p>Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/01/thalaq-ketika-marah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya Hidup</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/gaya-hidup.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/gaya-hidup.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 07:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[selebriti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1603</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat kita mayoritas merupakan konsumen tetap acara-acara TV, dari mulai berita, reportase terkini, sport, entertainment, film, hingga drama sinetronnya. Kalau kita cermati acara yang disajikan, kebanyakan acara itu jauh dari kenyataan. Jika ada yang menyajikan realitas masyarakat, jumlahnya sedikit, ditayangkan bukan pada saat prime time, lantaran tidak mendatangkan banyak sponsor. Sajian realitas itu sedikit sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/gaya-hidup.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1556 alignnone" title="gaya-hidup" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/gaya-hidup-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Masyarakat kita mayoritas merupakan konsumen tetap acara-acara TV, dari mulai berita, reportase terkini, sport, <em>entertainment</em>, film, hingga drama sinetronnya. Kalau kita cermati acara yang disajikan, kebanyakan acara itu jauh dari kenyataan. Jika ada yang menyajikan realitas masyarakat, jumlahnya sedikit, ditayangkan bukan pada saat <em>prime time</em>, lantaran tidak mendatangkan banyak sponsor. Sajian realitas itu sedikit sekali membawa muatan edukasi bagi masyarakat. Apalagi jika dibandingkan prosentase muatan edukasi dengan gabungan dari berita selebriti, (selebriti) politis dan peragaan gaya hidup melalui iklan sponsor, sungguh tidak seimbang. Padahal jumlah prosentase asupan informasi sejenis yang digelontorkan secara konsisten dan terus-menerus itu yang membentuk <em>mindset</em> masyarakat kita.</p>
<p>Cara berpikir itu mempengaruhi gaya hidup. Tanpa sadar masyarakat menjadi  konsumtif. Peragaan gaya hidup para seleb dan (selebriti) politis yang secara terus-menerus di <em>update</em>, dibumbui tayangan sinetron percintaan dan konflik keluarga yang menjadi <em>thema</em> sentral <em>sineas</em> saat ini, menciptakan suatu kondisi mental masyarakat yang kompleksitasnya sulit dibahasakan. Akumulasi persepsi di atas, bersentuhan dengan kondisi timpang yang dihadapi ; kesulitan pemenuhan kebutuhan dasar hidup, keinginan melakukan <em>imitasi</em> (peniruan) tokoh idola yang terbentuk dalam fantasi, ketidakmampuan membiayai fantasi tersebut, menciptakan kecemburuan yang potensial meledak manakala ada <em>trigger</em> yang memantik.</p>
<p><strong>Antara Gaya Hidup dan Kepekaan Sosial</strong></p>
<p>Ketika pers memberitakan bahwa halaman parkir gedung ‘wakil rakyat’, lebih menyerupai <em>showroom </em>mobil mewah, ketimbang berisi mobil sejenis (kendaraan dinas), maka perdebatan menyeruak ke permukaan. Pertunjukan cara pandang masalah yang menganga lebar <em>pun</em> tersaji ke publik. Ada <em>Hummer 8 M, Bentley 7 M, ada Alphard, Mitsubishi Pajero</em> dll, dan sedikit <em>Toyota Crown Royal Saloon</em>, mobil dinas resmi para ‘wakil rakyat’ tersebut.</p>
<p>Sebagian menilai pertunjukan kemewahan itu sebagai ketidakpekaan terhadap penderitaan mayoritas rakyat yang kesulitan memenuhi hajat pokok hidup. Perdebatan pun meluas. Ada pihak yang setuju dengan pendapat itu, ada pula yang berpendapat bahwa persoalan itu merupakan gaya hidup masing-masing orang yang tidak perlu diatur. Serahkan saja kepada pilihan masing-masing.</p>
<p>Soal kubu-kubuan sikap para legislator menanggapi hal tersebut tidak terlalu penting bagi masyarakat, toh tidak mempengaruhi nasib rakyat. Rakyat kecil juga tidak mengetahui, andai pers tidak meramaikannya. Yang layak dicermati adalah argumentasi dari sikap-sikap itu. Ada yang berpendapat bahwa sekalipun kaya, semestinya ‘wakil rakyat’ jangan memperagakan kemewahan di tempat tugas. Hal itu dianggap menyakiti rakyat, tidak menenggang kondisi mereka yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan tidak peka penderitaan rakyat. Seharusnya mereka memakai jatah mobil dinas, toh mobil itu juga tidak murah. Mereka yang berpendapat bahwa sebaiknya hal itu dibiarkan pilihan pribadi masing-masing, berargumentasi bahwa latar belakang para ‘wakil rakyat’ itu beragam, ada pengusaha, mantan aktivis, akademisi, jendral TNI-Polri, birokrat, kepala daerah, bahkan mantan selebriti. Menurutnya, soal <em>life style</em> tidak perlu ada regulasi.</p>
<p>urgensinya bersikap <em>sok</em> menjaga moral sekadar untuk tidak melukai hati rakyat, <em>toh</em> harta kekayaan itu juga telah dilaporkan ke KPK, begitu kata mereka. Lebih baik bersikap jujur, kalau kaya ya nampakkan kekayaan yang dimiliki daripada bersikap ‘munafiq’, <em>sok</em> sederhana hanya karena alasan menjaga citra. Bahkan mereka menambahkan, idealnya politisi sudah mencapai kehidupan pribadi yang mapan atau kaya sebelum terjun ke dunia politik, supaya ketika memilih hidup sebagai politisi sepenuhnya untuk mengabdi kepada bangsa. <em>Wah!</em></p>
<p><strong>Perdebatan Moral</strong></p>
<p>Perdebatan ini menjadi perdebatan tanpa alat ukur. Itu sebabnya sulit untuk ketemu, kalau tidak dikatakan tidak bisa ketemu.</p>
<p>Konsep ajaran moral bangsa yang sering didengungkan oleh para politisi dan birokrat tidak memiliki alat ukur yang pasti bagaimana seseorang dikatakan bermoral atau tidak bermoral. Selain itu, komponen ajaran moral itu tidak komprehensif, satu bagian dengan bagian yang lain tidak saling melengkapi secara <em>integrated</em>. Juga, tidak dilengkapi dengan balasan baik bagi yang mentaati dan <em>punishment</em> bila melanggar. Hal itu merupakan ke-khas-an kelemahan ajaran bumi yang tidak bersumber dari wahyu Allah.</p>
<p>Ketidakjelasan ukuran itu menjadikan satu orde pemerintahan dengan orde yang lain memberi isi berbeda sekalipun <em>jargon</em> dan <em>slogan</em> yang diusung sama. Apalagi jika telah masuk kepada keperluan konsep yang mengatur kehidupan bersama manusia dalam aspek-aspek kehidupan riil yang kompleks. Misalnya, sistem ekonomi yang dianut. Awalnya, sistem ekonomi yang diklaim sesuai dengan nilai-nilai moral bangsa adalah sistem <em>koperasi</em> dengan sendi dasar gotong-royong dan keadilan. Namun, dalam prakteknya ketika hal itu tidak terintegrasi dengan sistem poli  tik yang dianut, bidang politik memberi ruang hidup <em>komunisme</em> dengan sistem ekonomi pertentangan kelas yang menempatkan institusi negara sebagai pihak yang mutlak menguasai sumber-sumber kehidupan dengan mematikan peran individu. Orde berikutnya memberi isi dengan sistem ekonomi <em>kapitalisme liberal</em> dan mendesak sistem ekonomi kerakyatan dan institusi koperasi ke tepi lapangan kehidupan tanpa peran. <em>Alih-alih </em>memegang salah satu eksplorasi minyak atau penambangan tembaga.</p>
<p>Seorang pezina tetap dianggap bermoral karena dia baik dengan lingkungan sekitarnya. Pelaku mega korupsi tetap terbuka peluang untuk mendapatkan ‘bintang maha putra’ asal tak terbongkar. Pengusaha yang ekspoitatif terhadap buruh tetap dianggap sebagai pahlawan pembangunan ketika menjadi pembayar pajak terbesar, meski angka itu sudah dimanipulasi oleh <em>‘Gayus’. Al-hasil, nisbi.</em></p>
<p><strong>Akar Masalah</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Yang sesungguhnya dihadapi oleh masyarakat, adalah sistem hidup yang tidak jelas, tidak berlandaskan nilai-nilai <em>transenden</em> (keimanan kepada Allah dan kehidupan sesudah mati), yang dibangun diatasnya sikap penyerahan total kepada Allah Sang Pencipta, meyakini dan menyerah kepada aturan-aturan-Nya dan berharap akibat baik dari ketaatan itu didunia serta harapan kebahagiaan nanti setelah mati, serta takut akan akibat buruk dari pelanggaran terhadap aturan-Nya dan kemurkaan serta siksa-Nya kelak setelah mati.</p>
<p>Perdebatan tentang boleh tidaknya peragaan kemewahan oleh ‘wakil rakyat’, argumentasi simpang siur untuk ‘membela rakyat’ atau membela diri, patut atau tidak patut, adalah keniscayaan akibat pilihan sistem hidup yang tidak berasal dari Pencipta kehidupan. Yang sedang berdebat, sejatinya adalah pihak yang merasa bahwa tak ada yang salah dari apa yang dilakukan karena hal itu merupakan konsekuensi pilihan sistem hidup laa <em>diniyah </em>(sekuler) dengan pihak yang menyangka masih ada ruang hidup bagi moral agama (baca akhlaq) dalam sistem hidup <em>laa diniyah </em>tersebut. Menyedihkan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/01/gaya-hidup.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

