<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Tri Asmoro</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/author/tri-asmoro/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 08:46:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Panggilan Kesayangan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/panggilan-kesayangan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/panggilan-kesayangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 03:01:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[abawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[panggil sayang]]></category>
		<category><![CDATA[panggilan kesayangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1526</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan adalah seni mengelola hubungan tingkat tinggi karena melibatkan keintiman dan emosi yang kuat dan dekat. Juga proses panjang pembelajaran yang kita tidak tahu sampai kapan. Bisa bilangan hari, pekan, bulan, tahun, windu, atau seperti harapan kita, selama mungkin. Dan siapa pun di antara kita, para suami, menginginkan hasil karya bercita rasa tinggi untuk proses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/panggilan-kesayangan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1477" title="panggilan-kesayangan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/panggilan-kesayangan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pernikahan adalah seni mengelola hubungan tingkat tinggi karena melibatkan keintiman dan emosi yang kuat dan dekat. Juga proses panjang pembelajaran yang kita tidak tahu sampai kapan. Bisa bilangan hari, pekan, bulan, tahun, windu, atau seperti harapan kita, selama mungkin. Dan siapa pun di antara kita, para suami, menginginkan hasil karya bercita rasa tinggi untuk proses panjang itu. Menyenangkan dipandang dan menentramkan dinikmati. Sebuah karya bernama sakinah, mawaddah dan rahmah.</p>
<p>Sayangnya, ada hal yang kita lupakan, atau memang tidak tahu, bahwa selayaknya sebuah karya seni, hal-hal kecil sering menjadi faktor kunci ketinggian nilai estetika dan artistiknya. Sebuah pencapaian indah karena penguasaan akan detil. Sebuah persembahan sepenuh hati yang berkomitmen untuk mencapai kesempurnaan tanpa henti. Dan ini membutuhkan kepekaan yang tinggi karena kita adalah manusia yang memiliki hati nurani.</p>
<p>Salah satu hal kecil yang bisa memberi efek dahsyat dalam pengelolaan hubungan ini, insyaallah, adalah memanggil seorang dengan panggilan khusus. Sangat sederhana, namun dibalik itu terkandung energi pengikat cinta yang memiliki daya rekat kuat. Panggilan yang menyenangkan, menyentuh dan menentramkan. Membuat sebuah hubungan menjadi semakin berwarna sebab si dia merasa spesial, merasa istimewa dan berbeda. Hubungan tidak lagi bernuansa mekanik, sehingga menjadi lebih mesra, hangat dan intim dibandingkan saat memanggil nama aslinya.</p>
<p>Meski panggilan khusus mengandung penerimaan, penghargaan, dan penghormatan, ia sering dianggap tidak penting, yang karenanya banyak diabaikan. Mungkin karena sungkan, malu, merasa lucu atau perasaan-perasaan lain yang mengikutinya. Atau bisa juga karena meremehkannya. Padahal ia melukiskan hubungan yang akrab dan dekat, yang cair dan akrab tanpa balutan formalitas dan kekakuan. Karena panggilan ternyata tidak sekedar sebuah sebutan. Ia adalah peneguh hubungan-hubungan emosi  di antara kita. Hanya butuh keberanian untuk memulai, dan selanjutnya merubahnya menjadi kebiasaan.</p>
<p>Studi tentang ‘bahasa cinta’ menunjukkan, bahwa semakin unik sebuah julukan atau kode kalimat yang dipakai untuk berkomunikasi dengan sang kekasih, maka pasangan tersebut akan semakin merasa puas dan bahagia dengan hubungan mereka karena  adanya ‘insider language’. Bahasa khusus yang tidak ada di dalam kamus dan hanya mereka yang tahu artinya. Hanya mereka yang memakainya. Dan dalam sehari, kita mungkin memanggil pasangan lebih dari 20 kali. Ini artinya, dalam 20 kali pula kita mengungkapkan rasa sayang melalui panggilan mesra.</p>
<p>James Turndoff, PhD, seorang terapis relationship, mengatakan, “Menggunakan nicknames dan bahasa yang dibuat sendiri adalah cara yang mudah untuk menyampaikan komunikasi yang positif dalam hidup sehari-hari.” Private language, menurutnya, juga merupakan cara yang baik untuk menampilkan hubungan yang penuh kerjasama dan partner yang saling mendukung. Bahkan, ia juga bisa membantu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.</p>
<p>Panggilan mesra yang baik adalah panggilan yang hanya dimiliki oleh sepasang suami isteri. Artinya, panggilan tersebut tidak diucapkan oleh orang lain. Seperti halnya panggilan Nabi Muhammad n kepada Aisyah: humairaa. Ibnu Atsiir berkata, “Al Humairaa adalah bentuk tashghiir dari kata al-hamraa yang berarti al-baidhaa’ atau wanita yang putih kemerah-merahan”. Panggilan ini khusus untuk  Aisyah dari Rasulullah dan tidak untuk yang lain.</p>
<p>Dalam hal ini, para istri kita jelas sangat layak mendapatkan panggilan khusus ini. Selain karena mereka memang orang-orang spesial dalam hidup kita, panggilan ini juga memenuhi kebutuhan jiwa mereka akan penerimaan dan perhatian dari kita, para suami. Ia tidak diminta, ia tidak selalu diungkapkan melalui kata, tapi jelas ia terbahasakan. Sebuah sapaan mesra yang kita berikan kepada istri-istri kita, insyaallah, akan menjawab sebagian kebutuhan jiwan mereka.</p>
<p>Hanya saja, karena Islam mengajarkan ketinggian akhlak dan keluhuran budi, tidak pantas bagi kita jika memanggil para istri dengan panggilan-panggilan yang merendahkan, menghina, atau konyol, meski mungkin mereka ridha. Seumpama memanggil dengan monyet, gendut, pendek, atau yang semisal.</p>
<p>Juga, tidak boleh kita memanggil mereka dengan panggilan kefasikan atau kekufuran. Alloh berfirman, “<em>Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim</em>.” (QS. Al-Hujurat: 11)</p>
<p>Jadi mari kita memilih panggilan itu; ummi, bunda, yayang, ibu, atau berbagai panggilan lain yang pantas. Atau malah membuatnya sendiri sesuai kesepakatan. Sederhana bukan? Hanya saja tidak banyak yang menyadari manfaatnya. <em>Wallahu a’lam</em>.(Tri Asmoro K)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/panggilan-kesayangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memenuhi Panggilan Jiwa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/memenuhi-panggilan-jiwa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/memenuhi-panggilan-jiwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 03:11:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[panggilan jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Semua kerja yang halal adalah baik adanya. Betapapun sebagian manusia menganggapnya rendah dan hina, sebuah kerja halal tidak akan menjadi rendah dan hina karenanya. Apalagi di sisi Alloh. Di mana Dia tidak memandang tampilan kerja itu, namun ketakwaan yang menyertainya. Pada seluruh proses pencapaian maupun distribusinya. Pada keutuhan nilai kebaikan yang ada. Maka kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/panggilan-jiwa.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1476" title="panggilan-jiwa" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/panggilan-jiwa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Semua kerja yang halal adalah baik adanya. Betapapun sebagian manusia menganggapnya rendah dan hina, sebuah kerja halal tidak akan menjadi rendah dan hina karenanya. Apalagi di sisi Alloh. Di mana Dia tidak memandang tampilan kerja itu, namun ketakwaan yang menyertainya. Pada seluruh proses pencapaian maupun distribusinya. Pada keutuhan nilai kebaikan yang ada.</p>
<p>Maka kita tidak lantas menjadi terhormat oleh apa yang kita jabat. Tidak otomatis mulia oleh pekerjaan kita. Tidak pula langsung meninggi hanya karena tingginya gaji. Meski sebagian manusia memberi puja-puji dan kekaguman, nilai kita tetaplah pada esensi kebaikan yang kita timbulkan oleh kerja itu.</p>
<p>Jabatan tidak memberikan kemuliaan, namun kitalah yang mencapai kemuliaan melalui jabatan itu. Apapun nama dan gelarannya.</p>
<p>Namun materialisme membenci kemiskinan. Sinis kepada pekerjaan berpenghasilan rendah. Meminggirkan mereka yang tak berpunya. Juga menghinakan sesiapa yang dianggap gagal memenuhi pundi-pundi kekayaannya. Dan itu membuat banyak di antara kita gelap mata. Menghalalkan apa saja yang penting menjadi kaya. Kita menjadi gila. Gila akan harta dan kenikmatan yang ditimbulkannya.</p>
<p>Maka kita temukan wajah-wajah sedih yang nelangsa karena merasa tersisih. Menjalani hidup dalam kerja berpenghasilan rendah dan merasa hina karenanya. Menatap cemburu semua kenikmatan yang lalu lalang dalam dendam kesumat akan kegagalan menikmatinya. Dan banyak yang kemudian menjadi jahat. Sangat jahat!</p>
<p>Padahal ada satu kebutuhan dalam hati kita yang tidak bisa dipenuhi kecuali oleh Alloh saja. Ada kekuatan pengabdian yang tidak akan menyamankan jika tidak dihadapkan kepada-Nya. Dan ada satu penyakit yang tidak bisa tersembuhkan kecuali oleh keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Rahman.</p>
<p>Sebuah panggilan jiwa yang gelisah menuntut pemenuhannya. Memberi energi untuk menyamankan hati dengan melakukan kerja yang bernilai kebaikan. Begitu dan seterusnya, hingga tumpukan harta dan jabatan yang tinggi pun, tidak mampu menjawabnya. Sedang kejahatan yang terlanjur kita lakukan hanya membuatnya terluka. Merana dalam kerinduan akan pemaknaan hidup.</p>
<p>Padahal, inilah energi untuk memaknai kesungguhan. Merubah sebuah kerja halal yang dianggap rendah menjadi mulia dan terhormat dengan keikhlasan. Kerja tanpa pamrih karena percaya bahwa Alloh maha melihat, maha mendengar, maha membalas dengan keadilan sempurna. Sedang sistem akuntansiNya tidak mungkin salah.</p>
<p>Memenuhi panggilan jiwa adalah esensi hidup akan penghambaan diri sebagai insan beriman. Merasai hidup yang berbeda sebab tidak kebingungan menentukan arah kehidupan dan pilihan-pilihan kerja sebagai bekalnya. Dan untuk itulah hidup menjadi ada. Wallohu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/12/memenuhi-panggilan-jiwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta yang Tak Usai</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pesta-yang-tak-usai.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pesta-yang-tak-usai.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 02:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[pesta tak usai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1456</guid>
		<description><![CDATA[Kita mungkin ingin sesering mungkin berada di sebuah pesta. Gelak canda, tawa riang, senyum menawan, dan tubuh-tubuh yang wangi adalah paduan yang indah. Sedang sajian makanan dan minuman serta hiburannya memang didesain untuk melupakan semua yang di luar sana. Semua serba nikmat, lezat dan memuaskan hasrat. Adakah yang kemudian ingin pulang? Cahaya yang berpendar, kerling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/pesta.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1397" title="pesta" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/pesta-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kita mungkin ingin sesering mungkin berada di sebuah pesta. Gelak canda, tawa riang, senyum menawan, dan tubuh-tubuh yang wangi adalah paduan yang indah. Sedang sajian makanan dan minuman serta hiburannya memang didesain untuk melupakan semua yang di luar sana. Semua serba nikmat, lezat dan memuaskan hasrat. Adakah yang kemudian ingin pulang?</p>
<p>Cahaya yang berpendar, kerling mata yang berbinar, juga wewangian yang segar seolah menahan kita untuk terus terlibat di dalamnya. Semua syaraf kenikmatan menggelinjang liar menemukan pemantik dan bahan bakar. Seolah puncak dari semua yang diinginkan tersedia dan menawarkan diri untuk dicecap. Aih, sungguh mantap dan sedap! Tanpa beban tanpa kesulitan. Tapi benarkah?</p>
<p>Dan waktu terus berputar, dan semua akan segera bubar. Sebab kita tidak mungkin membuat matahari berhenti. Jarum pendek yang terus berdetak tak mungkin bisa menihilkan gerak. Sekejap yang akan usai bersama sorak sorai yang melirih. Meninggalkan jiwa yang perih sebab badan yang letih tak berhenti merintih dalam ringkih. Tinggalah kini sesalan tak berkesudahan. Sesaat yang pergi dengan cepat, dan penyesalan yang datang terlambat.</p>
<p>Kenapa harus ada pagi jika sinarnya menyibakkan palsunya perhelatan? Ada seringai marah yang tak rela melihat semua telah menjadi sampah. Juga semua pesona yang ternyata hanya fatamorgana. Berlalu bersama bayu dan kefanaan yang menyakitkan. Sedang tak ada yang abadi selain Zat Allah sendiri. Ini bukan tangisan pilu karena malu, tapi takut sebab maut telah hendak menjemput. Membuat kalut bersama perginya kabut. Kesadaran yang tak memberi apa-apa selain nestapa.</p>
<p>Sungguh, semua pesta akhirnya akan usai. Semeriah dan semegah apapun! Angan-angan yang mengharapkannya abadi sangat membingungkan. Buah dari ketidaksabaran akan keinginan segera merasai kenikmatan, kelemahan iman akan hari kemudian, serta kelengahan akan tipu daya dunia yang sementara. Sehingga abai akan kenyataan yang sebenarnya adalah kekanak-kanakan. Dan itu hanya sia-sia.</p>
<p>Pesta yang usai adalah prasasti bisu kegagalan kita mengarungi waktu. Semua yang kita perjuangkan selama ini hanyalah sekumpulan barang yang usang dan lapuk. Dalam jumlah melimpah yang segera berpindah ke tempat sampah. Berapa banyak pemilik pesta-pesta besar yang kini menjadi pesakitan? Linglung karena semua mengandung pertanggungjawaban. Jauh lebih dahsyat dari apa yang pernah mereka sebut sebagai nikmat.</p>
<p>Tapi tak banyak yang menyadari bahwa pesta ini bukan untuk kita. Di tempat yang lain, nanti, pesta hakiki dihamparkan bagi kita. Pesta yang tak pernah usai dalam kelegaan luar biasa karena berhasil memaknai hari-hari. Dalam keimanan dan ketakwaan. Hingga terpilih menerima undangan untuk menghadirinya. Sungguh, inilah pesta idaman insan pilihan. Tapi, siapa di antara kita yang berkenan?</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pesta-yang-tak-usai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Salah Senjata</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 10:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar salah senjata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Serupa ujian, kehidupan ini menghadirkan begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Dan bagaimana kita akhirnya menyelesaikan kesemuanya, itulah nilai kelulusan kita yang hakiki. Atau kelas mana yang layak untuk kita tempati. Sedang waktu yang tidak mungkin lagi kembali, mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati. Sebab tidak ada ujian susulan, sebab tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/salah-senjata.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1222" title="salah-senjata" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/salah-senjata-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Serupa ujian, kehidupan ini menghadirkan begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Dan bagaimana kita akhirnya menyelesaikan kesemuanya, itulah nilai kelulusan kita yang hakiki. Atau kelas mana yang layak untuk kita tempati. Sedang waktu yang tidak mungkin lagi kembali, mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati. Sebab tidak ada ujian susulan, sebab tidak ada pengulangan.</p>
<p>Pada galibnya, materi-materi ujian kehidupan bisa diselesaikan jika kita mengetahui jawabannya. Selain karena mayoritas dari materi ujian itu merupakan pengulangan sebab telah banyak manusia lain sebelum kita yang menghadapinya, lengkap dengan kisah tentang kegagalan dan kesuksesan mereka, juga karena kualitas dan kerumitan soal-soal pada setiap diri kita berbeda sesuai ‘kelas’ kita masing-masing. Bukankah Allah tidak memberikan sesuatu ‘beban’ di luar kesanggupan kita?</p>
<p>Maka belajar agama Allah adalah kisah sekolah untuk menemukan berbagai jawaban atas semua permasalahan kehidupan kita. Bukan sekadar seremonial buka tutup kitab dan kegagahan atas sejumlah hafalan, namun gagal mengerjakan ujian. Tak patut rasanya jika yang kita lakukan hanyalah memamerkan kartu kepesertaan, no ujian, tempat duduk, atau bahkan uniform yang licin terseterika, jika akhirnya kita tinggal kelas, atau malah pindah sekolah.</p>
<p>Berjenggot, tidak isbal, jejak sujud di kening, baju koko, rentetan idiom islami yang meluncur dari lisan, hafalan ayat, hadits dan atsar, atau yang semisal bagi para muslimah kita adalah identitas sekolah keislaman kita. Ia hanya akan menjadi rekam jejak pencarian dan bukan penyelesaian jika tidak membuahkan amal shalih. Hanya romantisme masa-masa sekolah yang selalu gelisah saat musim ujian tiba.</p>
<p>Keikhlasan, ketawadhu’an, kelapangan dada, dan keistiqamahan dalam menjalani semua peran, lengkap dengan fluktuasinya, atau bahkan perubahannya adalah hal-hal yang kita inginkan terjadi. Juga kemampuan kita melakukan padu padan dan menjaga keseimbangan atas berbagai sisi kemanusiaan. Sebab kita harus menikmati semua proses ini agar terasa ringan dan tidak memberatkan. Dan bahwa semua proses yang berjalan setiap hari ini adalah hidup itu sendiri. Hingga saatnya tiba.</p>
<p>Maka jika identitas sekolah keislaman kita hanya melahirkan caci maki, keluhan yang nyaris tiada henti, pelanggaran aturan syar’i, wajah murung yang gundah, tidak amanah, atau hidup kehilangan arah –mencari ridha Allah-, apalagi yang bisa kita banggakan? Apa artinya semua atribut itu jika hanya menjadi jejak-jejak samar yang kehilangan kedigdayaannya saat berbagai ujian kehidupan datang mendera. Kita hanyalah para pendekar yang salah senjata karena tidak mampu menghadapi berbagai masalah.</p>
<p>Kecuali memang hanya itu yang kita inginkan. Tapi untuk apa?(trias)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah yang Belum Usai</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/09/kisah-yang-belum-usai.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/09/kisah-yang-belum-usai.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 07:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kisah belum usai]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana kita tidak terpesona pada semua yang menyamankan panca indera, sedang surga pun memberi iming-iming baginya, meski hakikatnya sangat jauh berbeda? Namun, seberapa peka kita akan ‘masa’ pesona itu, jika faktanya tak semua kilau abadi adanya? Beberapa yang kemudian terbukti palsu, tak sendirian saat pergi. Mereka membawa tawanan, jiwa-jiwa yang kagum, kepada pesta yang usai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/bumi-terlindungi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1197" title="bumi-terlindungi" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/bumi-terlindungi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Bagaimana kita tidak terpesona pada semua yang menyamankan panca indera, sedang surga pun memberi iming-iming baginya, meski hakikatnya sangat jauh berbeda? Namun, seberapa peka kita akan ‘masa’ pesona itu, jika faktanya tak semua kilau abadi adanya? Beberapa yang kemudian terbukti palsu, tak sendirian saat pergi. Mereka membawa tawanan, jiwa-jiwa yang kagum, kepada pesta yang usai tanpa damai, sebab sesal membuncah di dada.</p>
<p>Rasulullah telah berpesan bahwa nilai dari sesuatu adalah akhirnya. Namun acap kali kita abai sebab seluruh indera telah mencecap kenikmatan pesona itu. Bahkan mengingikannya lebih. Serupa kondisi tersihir yang melenakan hingga lupa akan arahan dan jejak-ejak yang tertinggal. Padahal, bahkan kesesatan sekalipun meninggalkan tanda-tandanya.</p>
<p>Pertama adalah melacak keadaan batin, sebab ia yang akan berkompromi dengan nikmat badani. Apakah ia selaras dalam kedamaian yang menentramkan, ataukah bertentangan hingga menyisakan pemberontakan. Sebab bagaimanapun, hati memiliki bahasanya sendiri. Yang akan tetap jujur meski kita berusaha dalam-dalam menguburkannya. Bukankah dosa menggelisahkan jiwa?</p>
<p>Lalu pada atas nama apa kita melupakan takwa, sebagai substansi kebaikan dan keberhasilan yang sejati? Hingga kita merindu kesuksesan yang bahkan dimiliki oleh-oleh orang-orang yang ingkar. Keberhasilan yang tidak paralel dengan keimanan sebab ia menjadi milik bersama sesiapapun yang bekerja keras untuk meraihnya. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya.</p>
<p>Akan halnya Allah, maka Dialah Sang Pemilik informasi tentang yang baik dan yang buruk secara hakiki. Juga tentang bagaimana meraih kebaikan, juga bagaimana menghindari keburukan itu. Dialah satu-satunya yang menduduki posisi itu tanpa ada satupun selain-Nya. Dia Mahakaya lagi Mahamulia yang tidak membutuhkan apa-apa lagi. Jumlah pengikut yang banyak untuk meneguhkan posisi, atau untuk mengangkat hinanya kesendirian.</p>
<p>Dia memberi manfaat kepada hamba-hambaNya dalam kecukupanNya dari mereka. Semata-mata menginginkan kebaikan bagi manusia, dan menghindarkan mereka dari keburukan yang sebenarnya tanpa kecuali, tanpa tendensi. Untuk apa? Sedang hal itu tak layak bagiNya. Dia bahkan tidak peduli jika kebenaran ini menyakitkan bagi para penghamba hawa nafsu. Karena rasa dan selera bukanlah standar kebenaran itu sendiri.</p>
<p>Maka, siapapun yang ‘sukses’ dengan meninggalkan Allah, sejatinya hanyalah sebuah episode dari kisah yang belum usai. Kelak, akan tersingkap yang sebenarnya tentang mereka. Bahwa  madharat yang akan menimpa berlipat ganda dan sangat menyiksa. Siapa yang peduli pada akhir tragis dari para penghamba dunia?(trias)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/09/kisah-yang-belum-usai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luka Batin</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/luka-batin.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/luka-batin.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 03:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[luka batin]]></category>
		<category><![CDATA[patah hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan materi memang menyajikan pemandangan yang gemerlap. Menyilaukan sekaligus mengundang decak kagum. Penampilan yang wah nan megah, mengundang semua yang memandang dan menginginkan, untuk bergabung. Apakah Anda akan berpaling dari semua kenikmatan ini? Tapi siapa yang cerdas bisa menangkap pesan; ada yang tidak beres di sana. Ada ketidakseimbangan. Ada luka di balik gelak tawa. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/luka-batin.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-899" title="luka-batin" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/luka-batin-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Keberhasilan materi memang menyajikan pemandangan yang gemerlap. Menyilaukan sekaligus mengundang decak kagum. Penampilan yang wah nan megah, mengundang semua yang memandang dan menginginkan, untuk bergabung. Apakah Anda akan berpaling dari semua kenikmatan ini?</p>
<p>Tapi siapa yang cerdas bisa menangkap pesan; ada yang tidak beres di sana. Ada ketidakseimbangan. Ada luka di balik gelak tawa. Ada tangis di ujung senyum manis. Ada siksa di kelimpahan harta. Ada yang hilang jika iman tak lagi bersarang di hati.</p>
<p>Tidak banyak yang bisa mengambil pelajaran. Menyingkirkan kekaguman dari kehebatan dalam maksiat, membuang keterpesonaan akan sejuta capaian yang mencampakkan iman. Bahwa Allah menunjukkan keadilan-Nya dalam tipuan makna sukses dan keberhasilan, sebab ia harus berkelindan dengan ketakwaan. Yang jika tidak, ia adalah siksa di balik perolehan, meski membuat orang lain menyumbangkan penghargaan dan membangun kekaguman.</p>
<p>Siksa itu adalah hal yang bisa disaksikan, demikian Ibnul Qayyim menjelaskan. Berupa jiwa yang lapar dan tidak pernah terpuaskan, selalu mencari tanpa pernah henti, sebab ibarat meminum air asin, semakin diminum akan semakin membuat dahaga. Matanya yang lapar selalu nanar melihat yang lebih.Sebab, tidaklah manusia mendapatkan sesuatu dari dunia kecuali dia akan menginginkan yang selainnya. Lebih baik, lebih banyak. Bukankah andaipun manusia memiliki dua lembah harta, dia akan menginginkan lembah yang ketiga? Dan hanya kematian yang bisa menghentikannya.</p>
<p>Juga lelahnya raga. Karena manusia yang menghamba kepada materi, dalam upayanya memenuhi laparnya jiwa, membawa fisiknya tersaruk-saruk sepanjang waktu. Tiada waktu untuk beribadah dan beristirahat sebab ia bermakna menghilangkan kesempatan menambah pundi-pundi. Bukankah Allah akan menyibukkannya dengan aktivitas tiada henti?</p>
<p>Belum lagi kesombongan yang akan tumbuh seiring pengakuannya akan keberhasilan. Melampaui batas-batas kepantasan, melupakan hari kemudian, hingga menihilkan bekal untuk pulang menghadapNya. Adakah yang lebih buruk daripada manusia yang merasa tidak membutuhkan Allah dalam hidupnya?</p>
<p>Karena pada manusia berhimpun akal, ruh dan badan. Sedang semua pencapaian yang membanggakan itu, hakikatnya hanyalah melayani kebutuhan badan. Padahal akal butuh keyakinan akan pilihan aktivitas yang menyiapkan bekal, sedang ruh butuh kenyamanan dalam keseimbangan paduan jiwa malaikat dan nafsu binatang.</p>
<p>Karena enggan berbicara tentang kematian dan hari pembalasan adalah sebuah pengingkaran hakikat, maka, ada luka batin yang nyata jika perolehan materi manusia, membuatnya berpaling dari agama. Kelak, dia akan menyesal dan kecewa sebab semuanya tidak memberinya apa-apa, selain kehampaan dan sia-sia. Ini juga sebuah siksa. Tapi apakah kita bisa merasakannya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/luka-batin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ide-ide Kebersamaan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/ide-ide-kebersamaan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/ide-ide-kebersamaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 03:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[gotong royong]]></category>
		<category><![CDATA[ide kebersamaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[Kita sudah mengetahui manfaat kebersamaan sebagai salah pondasi keluarga yang kokoh, kuat dan samara. Yaitu; membaiknya komunikasi antar anggota keluarga, menyehatkan mental, menumbuhkan kerukunan, serta membentuk jati diri dan akar sejarah sebuah keluarga. Dari sini, kualitas dan kuantitas kebersamaan harusnya berjalan beriringan. Artinya, ia bukan sekedar kualitas, sebagaimana sering dijadikan alasan oleh orang-orang sibuk, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/ujian-menempa-jiwa.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-904" title="ujian-menempa-jiwa" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/ujian-menempa-jiwa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kita sudah mengetahui manfaat kebersamaan sebagai salah pondasi keluarga yang kokoh, kuat dan samara. Yaitu; membaiknya komunikasi antar anggota keluarga, menyehatkan mental, menumbuhkan kerukunan, serta membentuk jati diri dan akar sejarah sebuah keluarga.</p>
<p>Dari sini, kualitas dan kuantitas kebersamaan harusnya berjalan beriringan. Artinya, ia bukan sekedar kualitas, sebagaimana sering dijadikan alasan oleh orang-orang sibuk, namun juga dalam kuantitas yang melimpah. Semakin banyak waktu yang kita sediakan untuk menjalani kebersamaan, insyaallah, akan semakin baik.</p>
<p>Hanya saja, kebersamaan yang kita inginkan adalah kebersamaan yang dinikmati seluruh pihak yang terlibat. Kebersamaan yang dirindukan kehadirannya dan dikenang pelaksanaannya. Itu kata kuncinya. Bukan hanya beraktivitas bersama, berada di tempat yang sama dan di saat yang sama, namun tidak terhubung secara hati. Banyak lho, kebersamaan yang dipenuhi pertengkaran, perselisihan, muka-muka yang merengut masam, atau wajah-wajah yang menahan amarah. Kebersamaan yang hanya menyisakan luka dan jiwa-jiwa yang terpaksa.</p>
<p>Karena itu, meski kebanyakan kebersamaan bisa direncanakan sebelumnya, serta dijadikan sebagai kegiatan yang teratur, kita harus peka jika ia hanya menjadi seremonial yang kaku, bisu dan menjemukan. Bukankah sesuatu yang rutin bisa menjebak kita ke dalam kebosanan? Hingga jangan biarkan ia berjalan tanpa menghasilkan kedekatan emosional. Karena ia seharusnya memperkaya wawasan, mengikat hati, dan pada waktu bersamaan, memelihara hubungan di antara anggota keluarga.</p>
<p>Tidak ada salahnya jika, sesekali, kita memunculkan kebersamaan yang spontan, tak terduga dan mengandung unsur surprise. Misalnya saat melihat si kecil sendirian di rumah, sedang kakak-kakaknya belum pulang dari sekolah, kita bisa menawarinya untuk bermain bersama. Atau meminta si kakak menemani adiknya membeli minyak goreng di warung sebelah.</p>
<p>Lalu, apa saja hal yang bisa menjadi ide kebersamaan keluarga, di tengah kesibukan masing-masing dari kita yang sedemikian padat?</p>
<p>Yang pertama adalah makan bersama. Kita bisa merencanakan makan bersama secara teratur. Tidak menjadi soal apakah ia sarapan, makan siang atau makan malam. Intinya adalah mana yang lebih memungkinkan untuk ditempuh dengan komitmen semua pihak untuk menghadirinya.</p>
<p>Yang kedua adalah mengerjakan tugas rumah bersama. Ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan; membereskan tempat tidur, membersihkan rumah, memberi makan hewan peliharaan, mencuci peralatan rumah yang kotor, dan yang lain-lain sesuai kondisi keluarga kita masing-masing. Dan di dalam pelaksanaannya dimungkinkan adanya pembagian tugas. Ayah melakukan A, ibu melakukan B, si sulung melakukan C, dan si adik melakukan D.</p>
<p>Kita harus belajar untuk saling berbicara, berkeringat, kelelahan, dan tertawa bersama. Mengubah waktu yang ada menjadi kesempatan untuk kebersamaan dan berkomunikasi secara efektif, sekaligus menuntun anak-anak agar belajar tanggung jawab dan berbagai ketrampilan yang, insyaallah, berguna bagi mereka kelak.</p>
<p>Yang ketiga adalah bermain bersama. Ia bisa di dalam atau di luar rumah. Termasuk di dalamnya adalah menyalurkan hobi secara sehat. Berkemah, berkebun, piknik, berenang, bersepeda, bermain  bola,  atau sekedar berjalan-jalan melihat sawah di depan rumah. Ini di antara pilihan-pilihan aktivitas out door. Kita bisa menambah daftarnya, atau memodifikasinya agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan bujet yang ada.</p>
<p>Membaca buku, menonton vcd pendidikan, memasak resep warisan keluarga, bercerita pengalaman paling berkesan selama seminggu ini, bermain congklak, atau sekedar tebak-tebakan ringan dan lucu. Ini adalah contoh-contoh yang bisa kita pilih untuk acara <em>in door</em>. Sama, kita bisa merubah dan menambahnya sesuai keperluan.</p>
<p>Yang keempat adalah beribadah dan belajar bersama. Seperti mengajak anak ke masjid untuk shalat berjamaah, menghadiri pengajian, shalat ied di lapangan, membahas satu masalah agama bersama, atau apalah namanya. Intinya adalah pertumbuhan spiritualitas keluarga, dengan mengikat mereka akan seremonial ibadah, serta membangun landasan berfikir yang baik.</p>
<p>Yang kelima adalah acara kebersamaan yang bersifat khusus. Hal ini bisa berupa liburan bersama, perayaan hari raya, syukuran karena kelulusan, aqiqahan adik, pernikahan si sulung, kunjungan ke pesantren untuk menjenguk si tengah, bersilaturahmi ke tempat kakek, dan lain-lain.</p>
<p>Yang perlu kita ingat adalah bahwa, kita beserta seluruh anggota keluarga adalah manusia. Manfaat dari kebersamaan ini adalah memanusiakan mereka; menerima kehadiran, menghargai partisipasi dan menunjukkan kasih sayang. Menjaga kata-kata yang baik, menyentuh dan membelai tanda peduli, hingga memberi hadiah yang tak terduga, akan sangat mengakrabkan kita dengan mereka.</p>
<p>Yang penting juga adalah menyingkirkan hal-hal yang bisa menghalangi kedekatan dan menyita perhatian secara berlebihan. Kalau perlu, matikan telepon dan televisi jika hal itu malah membuat kita sibuk dan pecah perhatian. Karena kita, bahkan tidak perlu melakukan hal-hal yang hebat selain menikmati keakraban yang ada. Percayalah, ini hadiah yang indah untuk keluarga kita! Wallahu a&#8217;lam. (tri asmoro)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/05/ide-ide-kebersamaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bingkai Takwa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/bingkai-takwa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/bingkai-takwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 09:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bingkai takwa]]></category>
		<category><![CDATA[hiasan takwa]]></category>
		<category><![CDATA[ketakwaan]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya, prinsip dasar dari terhubungnya hati hamba dengan selain Allah, adalah membahayakan. Apalagi jika sampai kepada ketergantungan. Tapi kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, mencukupi semuanya tanpa bantuan orang lain, sekalipun kita memiliki Rabb yang Maha Mencukupi. Kecuali Dia berkehendak lain. Dan karenanya, mau tidak mau, kita akan tetap terhubung juga dengan selain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/bingkai-takwa.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-830" title="bingkai-takwa" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/bingkai-takwa-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a>Sesungguhnya, prinsip dasar dari terhubungnya hati hamba dengan selain Allah, adalah membahayakan. Apalagi jika sampai kepada ketergantungan. Tapi kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, mencukupi semuanya tanpa bantuan orang lain, sekalipun kita memiliki Rabb yang Maha Mencukupi. Kecuali Dia berkehendak lain. Dan karenanya, mau tidak mau, kita akan tetap terhubung juga dengan selain Allah.</p>
<p>Bingkainya bernama ketakwaan. Hingga, hubungan hamba dengan selain Allah pun harus  beredar di orbit ini. Sebuah standar abadi yang tak lekang waktu tentang kemuliaan dan nilai sebuah pencapaian yang hakiki.  Bukan hubungan atas nama kepentingan sesaat, yang menjerat dan menyesat di jalan gelap. Yang lahir dari kebodohan dan alasan palsu, tanpa pijakan akal sehat, selain hawa nafsu yang dipertuhankan. Juga sintesa pikiran para penghamba benda dan dunia, yang tidak mampu menjangkau rahasia di balik materi.</p>
<p>Hubungan itu, jika ingin menyelamatkan, harus berdiri di atas dua syarat utamanya; sesuai kebutuhan dan sarana bantu untuk mentaati Allah. Yang jika keduanya tidak terpenuhi, pintu bahaya sudah terbuka di depan mata, meski kebanyakan kita tidak menyadarinya.</p>
<p>Di sanalah syariat berdiri. Dengan rambu-rambu  seterang benderang siang, memagari batas halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang. Lengkap dengan dosis ideal dan aturan main yang menjelaskan kadar cukup atas eksplorasi kenikmatan halal yang tidak melalaikan makna perjalanan pulang ke haribaan-Nya. Paduan serasi antara menikmati dunia dan menyiapkan bekal akhirat.</p>
<p>Maka, terhubung dengan selain Allah berpotensi memudarkan standar kebaikan, merusakkan iradah akan ketakwaan, membelokkan arah perjalanan, serta membingungkan pemahaman  arti kehidupan. Padahal, seharusnya ia adalah alat bantu meluaskan area kebaikan. Bukan malah sebaliknya; melalaikan dan membuat sibuk.</p>
<p>Dari sini, perubahan fase demi fase dalam kehidupan seorang hamba, haruslah paralel dengan takwa. Setiap pilihan perubahan fase itu, apapun risiko yang nanti mengiringinya, hendaknya memastikan substansi takwa yang terjamin penjagaan dan pertumbuhannya. Sebuah keniscayaan atas pilihan sadar dan bertanggung jawab, yang jauh dari alpa dan ikut-ikutan arus.</p>
<p>Jika tidak, maka pencapaian materi akan mensubstitusi nilai. Menjanjikan gebyar pesona syahwat yang memang mudah dicecap. Meliarkan keinginan yang memang tidak akan pernah terpuaskan, juga kenikmatan bertubi-tubi menelusuri seluruh pori-pori. Hingga menumpulkan akal dan nurani.Akhirnya, dalam lelah tak terperi, dan sesal yang mengiringi, manusia menghiba. Tapi waktu tak mungkin lagi kembali. Ia pergi membawa pengikutnya yang merugi.</p>
<p>Akankah kita merelakan diri berjalan di luar bingkai takwa, hanya karena ingin mencecap dunia yang tidak membantu kita dalam taat kepada-Nya? Padahal, itupun hanya sebentar saja.(Trias)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/bingkai-takwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Kebersamaan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/menikmati-kebersamaan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/menikmati-kebersamaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 09:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang diingat oleh manusia dewasa tentang orang tua mereka, saat kanak-kanak dahulu, yang membahagiakan? Banyak studi menunjukkan, betapa mereka merekam saat-saat kebersamaan sebagai kenangan tak terlupakan, bukan uang atau barang yang pernah mereka terima. Kalaupun nama barang atau uang disebutkan, itu lebih sebagai simbol perhatian, sebagai pelengkap saat-saat kebersamaan yang mereka nikmati. Kini, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/menikmati-kebersamaan.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-835" title="menikmati-kebersamaan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/03/menikmati-kebersamaan-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a>Apa yang diingat oleh manusia dewasa tentang orang tua mereka, saat kanak-kanak dahulu, yang membahagiakan? Banyak studi menunjukkan, betapa mereka merekam saat-saat kebersamaan sebagai kenangan tak terlupakan, bukan uang atau barang yang pernah mereka terima. Kalaupun nama barang atau uang disebutkan, itu lebih sebagai simbol perhatian, sebagai pelengkap saat-saat kebersamaan yang mereka nikmati.</p>
<p>Kini, kita telah menjadi orang tua, para ayah tepatnya. Dan seharusnya kita mengerti, bahwa kenangan terbaik dari masa kanak-kanak kita, hampir tidak pernah berhubungan dengan uang atau barang. Namun member perhatian dengan kebersamaan menjalani aktivitas bersama orang-orang terkasih. Dan sayangnya, banyak di antara kita yang tidak menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk keluarga, kemudian menikmati kebersamaan bersama mereka.</p>
<p>Masyarakat materialis di sekitar kita, membawa pesan belanja yang akut. Menimbulkan kesan bahwa membeli barang adalah simbol kesuksesan hidup. Kemudian, banyak orangtua yang kehilangan rasa percaya diri saat mendapati diri mereka tidak bisa mengikuti pola itu. Merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan salah satu anggota keluarga tentang barang atau uang. Padahal mereka memiliki hal yang, insyaallah, jauh lebih berharga daripada pemberian barang-barang kepada anak dan istri; yaitu diri dan waktu mereka!</p>
<p>Maka siapkah kita, memberikan perjalanan yang akan selalu dikenang, dari kebersamaan yang kita jalani bersama anggota keluarga? Atau, kita malah tidak bisa menikmati saat-saat seperti itu? Padahal, ialah kunci kenyamanan itu, lebih dari sekedar menghujani anggota keluarga dengan hadiah barang dan uang. Yakinlah, keduanya tidak bisa membeli kebahagiaan, jika tanpa ketulusan, perhatian, dan kebersamaan.</p>
<p>Kebersamaan adalah awal dari sebuah komunikasi yang efektif. Jika ia berjalan dengan kuantitas dan kualitas yang terjaga, komunikasi antar anggota keluarga, insya Allah, akan membaik bersamaan dengan berjalannya waktu. Dengan kebersamaan, kita akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berbicara dan mengenal anggota keluarga yang lain lebih mendalam. Lebih berpeluang untuk berbicara dari hati ke hati, hal yang menjadi esensi hubungan emosional antar sesama aggota keluarga.</p>
<p>Selain itu, perasaan tidak nyaman yang mungkin timbul dalam proses bemuamalah dengan anggota keluarga, menemukan tempat untuk disalurkan. Rasa tidak puas, juga amarah yang tertahan hingga menyesakkan dada, seringkali menjadi penyebab perceraian jika tidak diselesaikan. Dan kebersamaan menjadi alat untuk menguraikannya pelan-pelan. Mengasah kepekaan dan membangun hubungan emosional yang lebih sehat.</p>
<p>Pernahkah kita mendengar tentang pasangan yang akhirnya bercerai, meski mengaku masih saling mencintai dan tidak membenci pasangannya? Mereka hanya tidak terhubung secara emosional. Tidak lagi saling peduli akan kebutuhan ‘rasa’ yang mulai hambar, serta energi untuk bertahan yang mulai melemah dan pudar. Bukankah Jamilah binti Ubay, istri shahabat Tsabit bin Qais, serta shahabiah istri Utsman bin Mazh’un, mengeluhkan suami-suami mereka karena kehilangan kebersamaan, meski atas nama beribadah?</p>
<p>Para pembunuh berdarah dingin, pelaku tindak kriminal, para remaja yang ‘nakal’, hingga orang-orang yang stress dan depresi, banyak kita temukan di sekitar kita. Mereka memiliki ciri yang hampir sama; terisolasi dari lingkungan, merasa kesepian, dan terasing dari orang-orang terdekatnya. Mereka kehilangan hubungan emosional yang dalam dan menyehatkan mental.</p>
<p>Mungkin mereka memiliki rumah yang megah. Mungkin perabotan mewah. Mungkin juga ibu dan ayah. Namun mereka terasing di tengah semua yang ada. Mereka kehilangan meski terlihat memiliki. Dan meski tinggal bersama, mereka, sebenarnya, kesepian dan sendiri.</p>
<p>Kebersamaan yang baik menjadi penawar atas semua masalah itu. Komunikasi yang terjalin, kehangatan yang tercipta, serta kenyamanan yang dirasa, membuat seluruh anggota keluarga menjadi saling menghargai kehadiran, menajamkan kepekaan akan perasaan orang lain, hingga perasaan diterima dan dicintai. Menjaga kadar hormon oksitosin, yang membuat seluruh anggota keluarga merasa ‘terhubung’.</p>
<p>Selain itu, kebersamaan yang positif akan menumbuhkan kerukunan, meski kadang diselingi perbedaan pendapat.  Para anggota keluarga juga akan, insya Allah, mengembangkan jati diri mereka sebagai manusia yang memiliki akar dan tempat di dalam sejarah kehidupan. Tidak tercampakkan dan kehilangan jejak sejarah. Mereka, insyaallah, akan bangga menyebutkan pohon sejarah keluarga mereka yang memang dirawat untuk dibanggakan.</p>
<p>Dan seperti juga pertunjukan penghargaan, kebersamaan akan menimbulkan efek gelombang. Makin   melebar dan meluas pengaruh yang diakibatkannya, jika ia dikerjakan. Bahkan, seringkali ia akan melahirkan kejutan-kejutan manis yang tidak terduga sebelumnya. Secara alamiah, kita akan menemukan harta karun yang bahkan tidak kita cari; hubungan personal yang semakin membaik dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Hal yang bahkan tidak ditemukan oleh banyak keluarga yang mati-matian mencarinya, dalam harta dan gengsi material yang palsu. Sedang kepuasan berkeluarga itu ada disini, di kebersamaan yang dinikmati oleh seluruh anggotanya.</p>
<p>Marilah sebagai para pemimpin keluarga, kita tumbuhkan aktivitas bersama dengan anggota keluarga. Yang fleksibel dan tidak kaku. Yang positif dan sehat. Alih-alih sebuah keistimewaan, ia adalah sebuah kebutuhan, kuantitas maupun kualitasnya. Jadi, menikmati kebersamaan keluarga, siapa yang mau?(Tri Asmoro)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/03/menikmati-kebersamaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu-waktu Istimewa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/11/waktu-waktu-istimewa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/11/waktu-waktu-istimewa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 01:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[waktu istimewa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Berkomunikasi, entah itu sharing, menyampaikan informasi, atau memberikan nasihat, tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi yang ada saat komunikasi itu terjadi. Artinya, bukan sekedar memindahkan pesan, berkomunikasi juga memindahkan sejumlah variabel yang mengikutinya, agar menimbulkan efek atau respon yang diinginkan. Sehingga selalu ada keadaan yang lebih tepat dan sesuai dibanding dengan yang lain. Seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/waktu-waktu-istimeaw.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-435" title="waktu-waktu-istimeaw" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/waktu-waktu-istimeaw-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Berkomunikasi, entah itu sharing, menyampaikan informasi, atau memberikan nasihat, tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi yang ada saat komunikasi itu terjadi. Artinya, bukan sekedar memindahkan pesan, berkomunikasi juga memindahkan sejumlah variabel yang mengikutinya, agar menimbulkan efek atau respon yang diinginkan. Sehingga selalu ada keadaan yang lebih tepat dan sesuai dibanding dengan yang lain. Seperti doa yang juga memiliki waktu-waktu mustajabnya.</p>
<p>Dan, beda situasi dan kondisi, beda pula hasil yang akan muncul. Sehingga dalam banyak hal, kita tidak bisa berprinsip ‘yang penting saya sudah menyampaikan’ tanpa melihat kemandulan pesan kita, sebab banyak pesan yang salah dimengerti karena salah cara dan salah memilih kondisi. Ada orang yang merasa tersinggung dan marah saat orang yang berbicara kepadanya merasa memberinya nasihat. Atau merasa dipermalukan padahal pihak lain merasa sedang mengingatkannya.</p>
<p>Pun demikian halnya dengan pendidikan anak-anak kita. Para calon penerus masa depan itu adalah manusia-manusia berpotensi besar dan hebat, insyaallah, kelak di kemudian hari. Yang karenanya mereka membutuhkan pendidikan yang benar dan terarah secara bertahap. Sebab alih-alih menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, mereka akan banyak memusingkan kepala dan menambah beban hidup jika kita gagal mendidik mereka dengan baik.</p>
<p>Arahan dan bimbingan yang kita berikan kepada mereka juga membutuhkan kondisi yang munasib, yang sesuai agar tepat sasaran, selain keteladanan yang tulus. Banyak lho, orangtua yang capek berbicara hingga berbusa-busa namun tidak didengarkan dengan baik karena tidak tepat memilih suasana. Banyak berbicara di hampir setiap suasana tentu saja bukan cara mendidik yang baik. Selain terkesan cerewet, lalu lintas informasi yang tidak hadir tepat waktu, tidak akan memberikan pengaruh kepada pendengarnya secara maksimal.Karena bagaimanapun, manusia juga memiliki hati yang mudah berubah-ubah dan terpengaruh suasana, bukan sekedar akal guna menangkap pesan yang didengar.</p>
<p>Kesempatan emas yang pertama guna menyampaikan bimbingan dan arahan adalah saat makan. Kondisi lapar atau rakus karena menginginkan yang lebih, banyak dan lebih besar dari yang lain, seringkali membuat keributan dan memunculkan perangai buruk. Selain tepat untuk mendampingi anak-anak dan menyelesaikan keributan yang mungkin ada, makan bersama merupakan saat yang tepat untuk mengajarkan sesuatu kepada mereka, juga memperbaiki kesalahan yang ada.</p>
<p>Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa salam pernah menemani anak-anak makan, kemudian beliau meluruskan kekeliruan yang ada dengan sangat bijak.  Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah yang pernah mengalami makan bersama Rasulullah. Ketika tangannya hendak menyentuh piring, Rasulullah bersabda kepadanya, “Nak, sebutlah nama Allah dulu, kemudian makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat denganmu!” Kelak, nasihat ini sangat membekas di benak Umar bin Abi Salamah kecil.</p>
<p>Masalahnya adalah, berapa di antara kita yang memiliki kebiasaan makan bersama, hingga meski hanya sekali dalam seharinya?</p>
<p>Kesempatan emas yang kedua adalah ketika anak menderita sakit. Sebab bukan hanya kanak-kanak, orangtua yang keras hati dan berperangai kasar sekalipun, bisa menjadi lembut saat mereka merasakan sakit. Saat itulah mereka akan mudah menerima nasihat yang masuk. Dan pada anak-anak, mereka akan semakin mudah menerima arahan sebab jiwa kanak-kanak mereka yang lembut, bahkan saat sehat, memungkinkan semua itu.</p>
<p>Saat anak sakit adalah kesempatan yang sangat bagus untuk meluruskan kesalahan dan melakukan pembinaan pendidikan, bahkan hingga kepada masalah-masalah keyakinan atau akidah. Seperti Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa salam yang pernah mengunjungi seorang anak Yahudi yang sedang sakit. Dalam kesempatan yang sangat berharga itu, Rasulullah mengajak anak itu untuk memeluk islam, dan dia memenuhi ajakan beliau. Alhamdulillah!</p>
<p>Maka mari kita teladani Rasulullah dengan mendampingi anak-anak kita saat sakit, untuk kemudian memberikan arahan dan bimbingan yang mereka butuhkan secara bijaksana.</p>
<p>Sedang kesempatan emas yang lain adalah saat melakukan perjalanan atau berwisata. Ibnu Abbas mengisahkan tentang bimbingan yang didapatkannya dari Rasulullah saat dia membonceng beliau yang mengendarai bighal dalam sebuah safar. “Nak, peliharalah hak-hak Allah, niscaya Dia akan selalu menjagamu!” demikian Rasulullah bersabda kepadanya.</p>
<p>Selain pengetahuan tentang waktu istimewa untuk membimbing anak-anak, yang perlu kita perhatikan juga adalah sikap kita saat menyampaikan arahan itu, juga pilihan bahasa yang kita pakai. Rasulullah memanggil anak-anak shahabat itu dengan kasih sayang, ya bunayya atau ya ghulam yang menunjukkan kedekatan dan kelembutan. Beliau memangku Umar bin Abi Salamah, dan menggendong  Abdullah bin Ja’far saat menyampaikan arahan.</p>
<p>Alangkah jelasnya semua arahan beliau shalallahu &#8216;alaihi wa salam yang suci ini. Semoga kita dimampukan Allah meneladani Rasulullah dalam semua aspek kehidupan kita. <em>Wallahu a&#8217;lam bis shawwab!</em> (Abu Safana)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/11/waktu-waktu-istimewa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

