<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/kajian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Khamr, Mengganti alias Tak Mengubah Status</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/khamr-mengganti-alias-tak-mengubah-status.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/khamr-mengganti-alias-tak-mengubah-status.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 06:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[hukum khamr]]></category>
		<category><![CDATA[khamr]]></category>
		<category><![CDATA[nubuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1439</guid>
		<description><![CDATA[لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ Sebagian orang dari umatku akan menganggap halal khamer dengan cara menamakannya dengan sebuah nama. (HR.Ahmad) Ada banyak syahid atau hadits dengan konten semisal yang memperkuat hadits di atas. Di dalam riwayat Imam Abu Daud, kalimat akhirnya menggunakan “menamakannya bukan dengan nama aslinya.” Imam Ibnu Hajar menyebutkan riwayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/khamr.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1387" title="khamr" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/khamr-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><strong>لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ</strong></p>
<p>Sebagian orang dari umatku akan menganggap halal khamer dengan cara menamakannya dengan sebuah nama. (HR.Ahmad)</p>
<p>Ada banyak syahid atau hadits dengan konten semisal yang memperkuat hadits di atas. Di dalam riwayat Imam Abu Daud, kalimat akhirnya menggunakan “menamakannya bukan dengan nama aslinya.” Imam Ibnu Hajar menyebutkan riwayat lain dari ad Darimi yang artinya, “Yang pertama kali akan ‘menumpahkan’ Islam seperti tumpahnya wadah air adalah diminumnya khamer.” Para shahabat bertanya, “ Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam menjawab, “Mereka menamai Khamer bukan dengan “khamer” lalu mereka menganggapnya halal.” (<em>Fathul Bari </em>XVI/61)</p>
<p>Disebut sebagai “yang pertama kali menumpahkan ajaran Islam” karena memang fenomena ini sudah muncul bahkan saat ibunda Aisyah masih hidup. Imam al Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muslim al Khaulani bahwa ketika beliau berhaji beliau mengunjungi Aisyah ra. Aisyah bertanya tentang Syam dan dinginnya hawa disana, Abu Muslim pun menceritakannya. Aisyah bertanya, “Bagaimana kalian bisa bersabar menghadapi dingin?” Abu Muslim menjawab, “Orang-orang meminum  minuman(khamer)  yang mereka beri nama ath Thila’.” Aisyah menjawab, “Allah benar, dan telah sampai padaku bahwa kekasihku Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “ Akan ada sebagian umatku yang meminum khamer dan menamainya bukan dengan namanya.” (VII/294-295)</p>
<p>Dalam banyak catatan Ulama mengenai hadits di atas dijelaskan, sejak dulu khamer memang sudah memiliki banyak alias. Alias ini digunakan agar kesan khamer sebagai minuman terlaknat hilang. Dengan cara ini, beban mental bagi yang ingin meminumnya berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Inilah kronologi penghalalan khamer atau minuman keras dari haram menjadi halal, atau tepatnya dianggap halal.</p>
<p>Padahal di dalam syariat kaidahnya jelas, setiap yang memabukkan itu haram. Kaidah ini lebih substansif karena menunjuk pada hukum dari esensi khamer yaitu sesuatu yang memabukkan. Diolah, dicampur atau dinamai dengan nama apapun, tidak akan merubah status hukumnya. Bahkan ini juga menjadi dasar untuk pengharaman semua produk memabukkan yang bukan berbahan dasar air seperti serbuk ganja, shabu-shabu dan bubuk opium.</p>
<p>Tapi begitulah. Nama adalah identitas yang bisa menentukan status. Khamer adalah nama awal yang kini tidak pernah digunakan lagi atau hanya menjadi nama umum seperti  halnya “miras”. Istilah yang tentunya tidak akan disertakan dalam setiap kemasan khamer yang beredar. Yang tertera di sana adalah nama-nama atau istilah lain yang beragam mulai dari nama buah perahannya sampai nama produsernya. Sekali lagi, penggunaan nama ini berfungsi menghilangkan kesan buruk pada minuman tersebut karena bagaimanapun rata-rata orang tahu bahwa miras itu tidak baik.</p>
<p>Tapi, efektifkah? Bukankah apapun namanya, sebenarnya tidak sedikit yang tahu bahwa itu adalah minuman keras? Jawabnya sangat efektif. Dari dulu sampai sekarang, penamaan itu benar-benar membuat penggemar minuman terkutuk ini dapat lebih rileks saat menikmatinya. Dengan nama itu, yang ada dalam pikirannya bukan khamer yang dilaknat dari awal produksi sampai tuangan ke dalam mulutnya, tapi sari buah yang difermentasikan atau bahkan sekedar minuman penghangat badan. Bahkan khamr asli yang berbahan dasar anggur atau yang berjuluk wine, kini menjadi tren dan dianggap berkelas serta mampu meningkatkan status dan harga diri di mata orang.</p>
<p>Wine telah menjadi tren dan bukan sekedar tren. Keunikan pembuatannya serta tingginya banderol harga membuat miras jenis ini menjadi salah satu simbol kemewahan dan gaya hidup modern yang digandrungi. Bagi yang berduit, memiliki dan meminumnya adalah salah satu bentuk pembuktian bahwa dia kaya. Bagi yang kurang kaya, meminumnya dapat membantunya merasakan sensasi kemewahan dan kekayaan. Minuman ini biasa menjadi pelengkap suasana dan menu wajib dalam acara-acara mewah. Selain disajikan dalam bentuk asli, wine juga kerap digunakan sebagai campuran minuman biasa seperti es buah atau sebagai bumbu masakan. Wine dipercaya dapat meningkatkan cita rasa masakan dan membuatnya semakin terasa nikmat. Lengkap sudah, tidak hanya minum, bahkan makanpun berlauk khamer.</p>
<p>Kenikmatan khamer menginspirasi pecintanya untuk membuat komunitas. Komunitas pecinta wine pun kian marak, terutama di kota-kota besar. Inilah paguyuban yang tali pertemanannya diikat dengan minuman terlaknat. Mereka berkumpul untuk meminumnya, mengobrol seputar minuman kesayangannya serta berusaha mengajak yang lain untuk bergabung bersama.</p>
<p>Penghalalan khamer dengan penggantian nama semakin marak dengan dukungan display dan pesebaran yang semakin mudah. Jangankan di luar negeri, di Indonesia yang mayoritas muslim saja minuman keras dilegalkan dan dapat dijual dimana-mana. Yang sering disweeping itu yang tidak berijin. Yang mengantongi ijin dan membayar pajak, dipersilahkan menuangkan minuman pemicu kejahatan ini ke dalam perut kaum muslimin dan anak bangsa ini sebanyak-banyaknya. Lalu, diapun mengeruk untung bergunung-gunung darinya. Khamer dalam kadar ringan lebih mudah lagi karena dapat dijual bebas dan bisa dibeli di market-market terdekat. Padahal sedikit atau banyak, khamr tetaplah haram.</p>
<p>Benar-benar fenomena akhir zaman yang mengerikan. Kita harus hati-hati dan jangan sampai tertipu dengan nama aliasnya atau sedikitnya kadar khamer yang dikandungnya. Karena apapun namanya, berapapun kadarnya dalam minuman atau makanan, khamer tetaplah khamer yang haram. Telah dilaknat siapapun yang ambil bagian darinya, mungkin termasuk pajak dan uang iklannya, apalagi yang meminumnya. Bahkan Imam al Qari menjelaskan sekedar bergaya seperti pemabuk meski yang diminum adalah air biasa pun dilarang. (<em>Aunul Ma’bud</em> VIII/189). <em>Allahul musta’an</em>, jarak antara kita dan khamer sangatlah dekat, hanya sejarak gelas dan mulut. Yang bisa menjauhkannya adalah iman dan pikiran yang sehat. Semoga Allah menjaga kita. Amin. <em>Wallahua’lam</em>. (anwar)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/khamr-mengganti-alias-tak-mengubah-status.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karma Membunuh Binatang</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 08:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[hukum karma]]></category>
		<category><![CDATA[karma islam]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[karma membunuh binatang]]></category>
		<category><![CDATA[kasyfu syubhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1430</guid>
		<description><![CDATA[Kezhaliman, maupun tindakan jahat memang akan mengundang datangnya balasan yang setimpal. Hanya saja, parameter zhalim dan jahat didasarkan pada syariat. Bukan sekedar mengikuti naluri, apalagi keyakinan adat dan khurafat. Beberapa orang yang mempercayai karma lantas takut membunuh apapun, termasuk hewan-hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh. Dengan keyakinan, bahwa nanti dia akan diperlakukan sama seperti yang ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/karma1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1386" title="karma" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/karma1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Kezhaliman, maupun tindakan jahat memang akan mengundang datangnya balasan yang setimpal. Hanya saja, parameter zhalim dan jahat didasarkan pada syariat. Bukan sekedar mengikuti naluri, apalagi keyakinan adat dan khurafat. Beberapa orang yang mempercayai karma lantas takut membunuh apapun, termasuk hewan-hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh. Dengan keyakinan, bahwa nanti dia akan diperlakukan sama seperti yang ia lakukan terhadap binatang.</p>
<p>Syariat tidak menilai bahwa segala bentuk pembunuhan itu berarti kezhaliman yang karenanya ia akan mendapatkan balasan buruk. Ada makhluk-makhluk yang boleh dibunuh, bahkan sebagiannya diperintahkan untuk dibunuh sesuai syarat dan ketentuan syariat.</p>
<p>Binatang yang halal untuk dimakan, otomatis boleh untuk dibunuh, tetapi dengan cara yang telah ditetapkan, yakni menyembelih dengan cara yang baik. Hendaknya menajamkan pisaunya, dan memulai dengan membaca basmalah. Maka, tak ada alasan takut untuk menyembelih ayam, kambing, sapi atau onta untuk keperluan dimakan, apalagi hewan-hewan yang disembelih untuk tujuan ibadah seperti udhhiyah maupun aqiiqah.</p>
<p>Ada pula hewan yang diperintahkan untuk dibunuh meski dilarang  untuk dikonsumsi. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam,</p>
<p>”Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tempat lain, yaitu  ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali” (H.R. Abu Dawud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak.</p>
<p>Hanya saja, tentang membunuh ular di dalam rumah ada pembahasan yang lebih khusus. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya kota Madinah ini dihuni oleh jin-jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat ular (di dalam rumah), maka usirlah selama tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah setan’,” (HR Muslim)</p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan,</p>
<p dir="RTL">إِنَّ لِهَذِهِ الْبُيُوتِ عَوَامِرَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْهَا فَحَرِّجُوا عَلَيْهَا ثَلاَثًا فَإِنْ ذَهَبَ وَإِلاَّ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sesungguhnya rumah-rumah ini dihuni oleh<em> ’awaamir</em> (jin-jin berwujud ular yang biasa menghuni rumah), jika kalian melihatnya, maka usirlah atas nama Allah selama tiga hari. Jika tidak pergi juga, maka bunuhlah karena ia adalah (jin) kafir,” (HR Muslim)</p>
<p>Sebagain ulama berpendapat bahwa perlakuan ini khusus untuk penduduk di sekitar Madinah, ada juga yang berpendapat bahwa itu berlaku umum. Karena ibrah (landasan) yang dijadikan parameter adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab.</p>
<p>Lepas dari perbedaan pendapat tersebut, sebagai langkah hati-hati, jika terlihat ular di dalam rumah, hendaknya diusir atau dibuang dengan menyebut asma Allah. Jika setelah tiga hari tampak lagi, hendaknya dibunuh. Disebutkan pula dalam Syarah Muslim, bahwa sebagian ulama berpendapat, jika ular itu tidak pergi setelah ada peringatan tersebut, maka itu bukanlah jin yang biasa tinggal di rumah-rumah, bukan pula jin yang masuk Islam, maka tidak mengapa jika kalian membunuhnya. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/karma-membunuh-binatang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertarungan Orientasi</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pertarungan-orientasi.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pertarungan-orientasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 08:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[orientasi]]></category>
		<category><![CDATA[pertarungan orientasi]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas amal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1428</guid>
		<description><![CDATA[Riuh rendah penanganan korupsi di negeri ini telah sampai pada usulan membubarkan KPK, lembaga yang dibentuk justru untuk menangani korupsi. Argumentasinya, di alam demokrasi tidak boleh ada lembaga superbody seperti KPK, demikian menurut Fahry Hamzah, anggota Banggar DPR dari PKS. Sebelumnya ketua DPR Marzuki Ali telah lebih dulu melontarkan hal itu ketika kasus Nazaruddin mencuat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/orientasi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1377" title="orientasi" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/orientasi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Riuh rendah penanganan korupsi di negeri ini telah sampai pada usulan membubarkan KPK, lembaga yang dibentuk justru untuk menangani korupsi. Argumentasinya, di alam demokrasi tidak boleh ada lembaga superbody seperti KPK, demikian menurut Fahry Hamzah, anggota Banggar DPR dari PKS. Sebelumnya ketua DPR Marzuki Ali telah lebih dulu melontarkan hal itu ketika kasus Nazaruddin mencuat. Statement itu memicu kontroversi luas. Ada yang membela eksistensi KPK ada yang menuntut di-likuidasi.</p>
<p>Sedikit flashback, keberadaan KPK sebagai lembaga ad hoc dengan wewenang super itu ditetapkan dengan UU no 30 thn 2002. Pertimbangan membuat lembaga khusus dengan kewenangan super tersebut karena belum efektifnya upaya pemberantasan korupsi melalui lembaga negara reguler yang sudah ada. Apalagi ketika kasus korupsi melibatkan oknum-oknum yang duduk di lembaga penegak hukum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mindset Manusia dan Pengaruhnya</strong></p>
<p>Kita tinggalkan sejenak kebingungan para penyelenggara pemerintahan aparat negara RI di atas, mari kita lihat dari sisi lain.</p>
<p>Mindset, kerangka berpikir manusia akan mempengaruhi cara seseorang mempersepsi masalah yang dihadapi dan upaya memecahkannya, juga mempengaruhi sikap dan pola bertindak. Seperti mesin pengenal, yang kemudian memproses hasil pengenalannya dan mengajukan rekomendasi  sikap dan tindakan apa yang harus dilakukan terhadap sesuatu yang dipersepsinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sekularisme adalah Kerangka Berpikir</strong></p>
<p>Di era ini, tidak ada paham yang lebih besar pengaruhnya terhadap kerangka berpikir manusia melebihi paham sekular. Paham ini menjadi asas hampir semua organisasi dari yang sederhana sampai yang rumit setingkat organisasi penyelenggara negara. Pada level personal, sekularisme tanpa sadar telah mempengaruhi kerangka berpikir manusia sehingga ber-implikasi pada pola pikir dan tingkah laku secara nyata. Hal itu tidak saja menimpa mereka yang secara eksplisit mengaku sekuler, bahkan menjangkiti orang-orang yang mengaku beragama, mengenakan atribut keshalehan dan menampilkan diri sebagai sosok religius. Penetrasi paham sekuler begitu lembut tak terasa, menembus sekat-sekat kelompok, organisasi maupun isme yang secara formal dipeluk oleh manusia.</p>
<p>Sejak awal memang telah ada dua kecenderungan orientasi manusia; ada yang berorientasi kepada kehidupan dan kesenangan dunia, ada yang berorientasi meraih kebahagiaan hidup sesudah mati. Di zaman ini orientasi kepada kesenangan dunia itu menjelma menjadi isme  yang didukung landasan teori, mengalir dalam bentuk gerakan kemasyarakatan yang didukung beragam organisasi, memiliki struktur, ditopang dana, memiliki target-target berjangka maupun ultimate goal yang dicanangkan. Tujuan utama gerakan ini adalah merubah orientasi hidup manusia dari kehidupan akherat kepada kehidupan dunia ansich (Muh. Syarif Syakir dalam Al-’Ilmaniyah wa Tsimaruha al-Khabitsah).</p>
<p><strong>Hakekat Persoalan</strong></p>
<p>Ketika lembaga pemerintahan dan organisasi derivate-nya adalah institusi sekuler, para pemegang jabatan (baca amanah) juga pribadi yang berpaham sekuler, berarti orientasi institusi maupun personalnya adalah kehidupan dunia dan kesenangannya, klop sudah. Sebenarnya, inilah pangkal masalahnya.</p>
<p>Seorang yang berpaham sekuler, selain orientasi hidupnya kesenangan hidup di dunia, dia adalah pribadi yang memiliki anggapan bahwa apa yang dilakukan untuk dunianya tidak mempengaruhi hubungan dirinya dengan tuhannya. Baik-buruk dalam urusan dunia (menurutnya) tidak mempengaruhi hubungan dia dengan tuhan, jika dia masih menyisakan ruang dalam kehidupannya untuk tuhan.</p>
<p>Karena itu, ketertiban sistem hidup sekuler bertumpu pada kelengkapan perundangan (peraturan) yang mengatur hajat hidup dalam sebuah komunitas, keefektifan lembaga kontrol yang mengawasi pelaksanaan undang-undang dan kontrol publik (rakyat). Tak ada lagi pengawasan di atas itu. Tanggung jawab pelaksanaan tugas dan kewenangan pun sebatas itu, tak lebih. Tak ada pertanggungjawaban di atas itu.</p>
<p>Seorang sekuler, jika dia memiliki integritas, berdedikasi, memiliki etos kerja yang baik, pertimbangannya karena dengan semua itu dia akan sukses. Sesuatu yang akan ber-implikasi kepada kesuksesan dunianya; kedudukan tinggi, harta berlimpah, dihormati orang lain dll. Jika dengan semua itu dia tidak mendapatkan imbalan yang memadai, maka ketika dia merasa perlu menggunakan posisinya untuk mendapatkan tambahan sehingga menurutnya imbalan itu seimbang, atau memang merasa perlu membiayai kerakusannya terhadap kelezatan hidup dengan menggunakan kewenangannya, dia juga tidak merasa bersalah selain sekadar karena melanggar peraturan, tak lebih. Tak ada perasaan bersalah di atas itu, dan (menurutnya) tak ada pertanggungjawaban di atas itu. Baginya, persoalannya hanya apakah pelanggarannya diketahui atau tidak, menghadapi proses hukum atau tidak.</p>
<p>Hari ini sistem sekuler ini sudah hampir mendekati titik itu. Sistem birokrasi yang secara berjenjang memasok kader ke atas untuk mendapatkan promosi (amanah) yang lebih tinggi, hampir berhasil melakukan sekularisasi sempurna. Kader yang naik jenjang dijamin telah dirusak orientasi hidupnya sehingga hanya untuk kehidupan dunia. Hal itu dimulai sejak penerimaan sebagai anggota baru birokrasi, lingkungan kerja keseharian yang meniscayakan orang jujur tersingkir, kenaikan pangkat dan promosi jabatan yang selalu menyertakan peran uang dll. Jika ada kader birokrasi yang mendapat sedikit celupan tarbiyah imaniyah, mereka juga harus ‘taqiyah’ demi memberi keuntungan bagi pembiayaan partainya.</p>
<p>Eksistensi KPK sebagai lembaga ad hoc dimaksudkan untuk memberi jawab atas keadaan itu. Lembaga penegak hukum yang seharusnya berfungsi sebagai pengawas mandul karena ditengarai lemah terhadap godaan uang, kelu ketika harus menegakkan peraturan, mudah dibeli agar tidak menuntut dengan tuntutan berat sehingga menimbulkan efek jera, bahkan mem-’peti es’-kan kasus lantaran uang. Eksistensi KPK dipersoalkan oleh sejawatnya sesama institusi penyelenggara negara yang lain, barangkali karena mengambil alih lahan basah mereka, atau membahayakan eksistensi mereka yang korup, atau jangan-jangan oknum-oknum KPK sendiri juga mulai tak tahan godaan.</p>
<p>Sungguh amat berlainan dengan sistem hidup yang bertumpu kepada asas keimanan. Para sahabat hasil didikan Nabi shallalLahu ‘alayhi wa sallam dekat dengan beliau atau ditugaskan jauh dari pengawasan, memimpin pasukan atau mengawasi bayt al-maal tidak ada masalah. Hal itu dikarenakan mereka merasa diawasi oleh Dzat yang Maha Tahu, semua dicatat oleh utusan-Nya dari kalangan para malaikat. Mereka tidak peduli pujian atau celaan manusia dalam melaksanakan amanah, karena pujian dan celaan tidak mempengaruhi pertanggungjawaban yang sebenarnya di hadapan Allah di akherat nanti. Sungguh memang kontradiktif diametral dua orientasi hidup manusia tersebut.(wan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/pertarungan-orientasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjauh dari Allah, Mendekat kepada Iblis</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/menjauh-dari-allah-mendekat-kepada-iblis.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/menjauh-dari-allah-mendekat-kepada-iblis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[ghiwayah]]></category>
		<category><![CDATA[mendekat kepada iblis]]></category>
		<category><![CDATA[menjauh dari allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1417</guid>
		<description><![CDATA[Setan memang senantiasa menggoda manusia. Selalu berusaha mencari celah dan kesempatan untuk menyeretnya menuju kedurhakaan. Godaan yang intens membuat banyak manusia yang akhirnya terjerembab ke dalam dosa. Dalam hal ini setan memang salah. Tapi terjadinya dosa, manusialah yang paling layak disalahkan karena dialah yang menentukan pilihan. Dosa terjadi karena pilihan yang diambilnya adalah pilihan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menjauh-dari-allah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1374" title="menjauh-dari-allah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menjauh-dari-allah-150x128.jpg" alt="" width="150" height="128" /></a>Setan memang senantiasa menggoda manusia. Selalu berusaha mencari celah dan kesempatan untuk menyeretnya menuju kedurhakaan. Godaan yang intens membuat banyak manusia yang akhirnya terjerembab ke dalam dosa. Dalam hal ini setan memang salah. Tapi terjadinya dosa, manusialah yang paling layak disalahkan karena dialah yang menentukan pilihan. Dosa terjadi karena pilihan yang diambilnya adalah pilihan yang disarankan setan.  Setan hanya memberi saran dengan sedikit ajakan. Manusia benar-benar diberi keleluasaan untuk mengikuti atau berdiam diri. Jika pada akhirnya dia ikut dan akhirnya dihukum karenanya, jangan heran jika sang pemberi saran mengelak dan mengatakan, “Fala talumuni, walumuu anfusakum” janganlah kalian mencaciku, tapi cercalah diri kalian sendiri.</p>
<p>Yang dilakukan setan adalah memberi sugesti dan arahan yang menjauhkan manusia dari Allah. Karena jika manusia jauh dari Rabbnya, maka akan mudah bagi setan untuk membantunya menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Memudahkannya untuk mendikte langkah manusia agar seirama dengan langkahnya. Semakin jauh dari-Nya, hidupnya akan semakin terisi dengan keputusan-keputusan yang salah dan langkah-langkah sesat. Pada akhirnya, ketika posisinya benar-benar jauh dari koordinat iman, berangsur-angsur dirinya akan berubah menyerupai makhluk yang menyesatkannya. Na’udzubillah min dzalik.</p>
<p>Ibnul Qayim dalam bukunya ad Daa’ wad Dawa’ menjelaskan, al bu’du minallah atau jauh dari Allah Allah terbagi menjadi empat level. Yang pertama adalah al ghaflah. Selanjutnya adalah level maksiat, ketiga level bid’ah dan terakhir adalah nifak dan syirik.(hlm. 90)</p>
<p>Ibnul Qayim memang tidak menjelaskan lebih lanjut keempat level ini. Tapi dengan merujuk ke beberapa pembahasan mengenai kempat hal ini, kita dapat memahami lebih dalam makna dari penjelasan beliau.</p>
<p>Level pertama adalah ghaflah atau lalai. Imam al Munawi mengatakan, ghaflah adalah kondisi di saat mana seseorang kehilangan kesadaran terhadap segala hal yang semestinya dia sadari. (at Tauqif ‘ala Muhimmatit Ta’arif; 540). Dan di dunia ini tidak ada yang lebih layak untuk disadari oleh manusia melebihi kesadaran terhadap tujuan mereka diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah.</p>
<p>Lalai dari tujuan ini akan menjauhkan manusia dari Rabbnya. Dalam stadium ini, barangkali dia tidak melakukan kemaksiatan tapi juga tidak melakukan ibadah yang mendekatkannya kepada Allah. Dia sibuk melakukan hal-hal mubah yang hanya bernilai di dunia tapi tak berharga di akhirat. Lama terkungkung dalam kelalaian akan membuat manusia tak lagi menggubris perintah-Nya dan mulai acuh terhadap larangannya. Pada akhirnya dia akan terseret menuju stadium berikutnya, maksiat. Sampan ghaflah akan menjauhkannya dari daratan ridha Allah menuju singgasana Iblis.</p>
<p>Yang kedua adalah maksiat. Tak perlu dibahas lagi bagaimana jauhnya manusia dari Allah saat berada dalam kemaksiatan. Larangan Allah ibarat batas wilayah. Melanggarnya berarti keluar dari wilayah-Nya dan berpindah menuju wilayah setan.</p>
<p>Tahapan selanjutnya adalah bid’ah. Perlu dipahami, level ini bukanlah level yang secara berturut digunakan untuk menyesatkan manusia. Level ini adalah tingkatan jauhnya jarak manusia kepada Allah. Artinya, bisa saja seseorang langsung terperangkap dalam tingkat bid’ah tanpa harus dibuat lalai dan melakukan maksiat terlebih dulu.</p>
<p>Bid’ah adalah membuat ritual ibadah baru yang tidak ada tuntunannya dari Nabi SAW. Bidah menduduki level tertinggi ketiga dalam menjauhkan manusia dari Allah karena sifatnya yang ‘unik’. Bidah sangat korosif terhadap iman dan pahala tapi menipu karena pelakunya justru merasa yang sebaliknya; merasa banyak ibadah dan pahala selalu bertambah. Merasa mendekat kepada Allah padahal Allah menjauh darinya.  Mengapa Allah menjauh? Bukan lain karena membuat atau menambah-nambah ibadah tanpa ada tuntunan syariat adalah sikap sok pintar. Merasa lebih tahu cara beribadah yang lebih baik dari yang sudah dituntunkan Rasul-Nya. Tak pelak, pelaku bidah akan terdepak jauh dari rahmat-Nya dan justru dekat dengan Iblis.</p>
<p>Ibnul Qayim berkata dalam Kitab Madarijus Salikin, “ Sebagian salaf berkata, ‘Bidah lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat masih diharapkan bisa bertaubat sedang bidah tidak.” (I/322) pelaku maksiat kadang-kadang masih sadar bahwa yang dilakukannya salah. Tapi pelaku bidah justru merasa benar, mendapat pahala dan mengajak orang untuk melakukan hal serupa, padahal yang dilakukannya lebih pantas mendapat murka.</p>
<p>Yang terakhir dan yang terjauh adalah level syirik dan nifak. Ini adalah akhir dari semuanya. Lembah terdalam di daratan kesesatan, atau palung tergelap dari samudera kebinasaan. Benar-benar jauh dari cahaya-Nya. Di sini segala kebaikan menjadi tidak berarti. Di lembah ini, kebaikan itu ibarat percikan cahaya yang hanya sekejap dan hilang ditelan pekatnya kegelapan. Semua amal kebaikan dalam kemunafikan dan kesyirikan akan menjadi habaa’an manstura, terbang berhamburan tak dapat digenggam untuk diambil manfaatnya.</p>
<p dir="RTL">وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا</p>
<p><em>“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan .”</em>(QS. Al Furqan;23)</p>
<p>Inilah maratib atau tingkatan jarak antara hamba dan Rabb-nya. Dimanakah koordinat kita? Semoga tidak termasuk dalam keempat level ini. Dan bagaimana caranya menjaga agar tidak terseret kesana? Jawabannya simpel tapi pelaksanaannya tidak sesimpel jawabannya; banyak berdzikir kepada Allah. Bukan hanya dzikir lisan dan anggota badan, tapi lebih penting adalah dzikir hati. Yakni kondisi hati yang selalu sadar terhadap keberadaan-Nya, pengawasannya dan kedudukan dirinya dihadapan Allah. Kesadaran ini akan membuat kita senantiasa terjaga dan dengan iringan dzikir lisan dan anggota badan, kita akan berusaha untuk selalu mendekat kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita agar selalu dekat dengan-Nya. Amin, ya rabbal a’alamin. Wallahul musta’an. (Abu Rozin)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/menjauh-dari-allah-mendekat-kepada-iblis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bijaksana Begitu Mempesona</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/bijaksana-begitu-mempesona.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/bijaksana-begitu-mempesona.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:41:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana begitu mempesona]]></category>
		<category><![CDATA[maqalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1413</guid>
		<description><![CDATA[Karakter bijaksana senantiasa mencuri perhatian massa. Orang-orang yang bijaksana selalu menarik simpati siapapun yang memandangnya. Mereka diberi kemampuan menyikapi apapun dengan penuh kearifan dan perhitungan yang matang, sehingga di belakang tidak muncul penyesalan yang kadang tak bisa lekang. Mereka pun bisa menikmati kehidupan ini. Hari-harinya tidak disibukkan dengan dramatisasi beratnya terpaan cobaan. Dia sikapi masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/bijaksana.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1381" title="bijaksana" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/bijaksana-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Karakter bijaksana senantiasa mencuri perhatian massa. Orang-orang yang bijaksana selalu menarik simpati siapapun yang memandangnya. Mereka diberi kemampuan menyikapi apapun dengan penuh kearifan dan perhitungan yang matang, sehingga di belakang tidak muncul penyesalan yang kadang tak bisa lekang. Mereka pun bisa menikmati kehidupan ini. Hari-harinya tidak disibukkan dengan dramatisasi beratnya terpaan cobaan. Dia sikapi masalah dengan hikmah, tenang dan proporsional.</p>
<p>Sebagaimana didefinisikan dalam kamus Lisan Al-‘Arab, bahwa orang yang dianugerahi hikmah sangat menguasai masalah apapun secara profesional dan luas pengalamannya. Orang yang dikaruniai hikmah akan jauh dari celaan dan kenistaan, seperti dikatakan Ibnu Hajar dalam Fat-h Al-Bari dimana beliau menafsirkan hikmah sebagai segala sesuatu yang dapat mencegah dari kebodohan dan celaan akibat perbuatan tercela.</p>
<p>Mereka yang disinari Allah dengan cahaya kebijaksanaan (hikmah) tidak risau bila dunia pergi darinya dan tidak terpukau bila harta datang sepenuh pulau. Hati yang dipancari sinar hikmah akan dapat melihat segala sesuatu dari perspektif Al-Qur`an dan As-Sunnah, yang sejatinya keduanya merupakan sumber hikmah, sehingga respon yang diberikannya sebisa mungkin bersih dari noda dosa yang nista. Kalaupun pernah terjatuh dalam lubang dosa, akan segera bisa bangkit bertaubat dan tidak akan lagi terjatuh padanya, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, “Seorang mu`min tidak akan tersandung dua kali karena satu batu.” (HR. Bukhari no. 6133)</p>
<p>Sebelum berbuat, apapun, pemilik karakter hikmah akan mempersiapkan diri menghadapi segala konsekuensi. Senantiasa waspada dari keterpurukan dan ketergelinciran. Nabi Muhammad menyarankan,</p>
<p dir="RTL">وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jangan berucap dengan suatu perkataan yang menjadikan engkau nantinya menyesal.” (HR. Ibnu Majah no. 3363)</p>
<p>Berkenaan dengan hadits ini, ada ucapan Al-Khaththabi yang bagus, “Hendaklah mu`min senantiasa teguh dan waspada, jangan sampai lalai dan tertipu beberapa kali, kadang dalam persoalan din (Islam), sebagaimana dalam persoalan dunia, dan persoalan din lebih utama untuk diwaspadai.” (Fat-h Al-Bari 1/530)</p>
<p>Karenanya pernah kita mendengar Imam Bukhari mengutarakan prinsip hidup yang simple namun penuh manfaat, “Berilmu sebelum beramal.” Sangat tepat sekali. Atau motto para pakar kesehatan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Prinsip yang sangat simbolik-holistik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pilar Kebaikan</strong></p>
<p>Beruntunglah orang yang dikaruniai oleh Allah hikmah, karena hikmah adalah karunia kebaikan yang melimpah. <em>“Barangsiapa dianugerahi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.”</em> (QS. Al-Baqarah: 269)</p>
<p>Pantaslah bila Allah tidak melarang iri kepada orang-orang yang Allah beri hikmah. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam menyatakan, “Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang; orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia mengalokasikannya dalam kebenaran; dan orang yang dianugerahi hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 7141)</p>
<p>Hikmah adalah pilar kebaikan, darinya lahir kemuliaan dan keagungan kepribadian muslim. Pemilik hikmah akan memiliki tiga inti akhlak mulia, sebagaimana ditulis Doktor Sa’id Al-Qahthani dalam Al-Khuluq Al-Hasan fi Dhau` Al-Kitab wa As-Sunnah, adil yang dapat mencegah si empunya dari zhalim, <em>hilm</em> (lemah lembut) yang bisa menghindarkan si empunya dari amarah, dan ilmu yang mampu menghalangi si empunya dari sikap bodoh.</p>
<p>Sementara orang yang tidak dikehendaki Allah memiliki hikmah, sehingga ia tidak memiliki tiga inti akhlak mulia itu, maka ia akan jauh dari kemuliaan akhlak. Dalam Madarij As-Salikin 2/294, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, “Sumber munculnya semua akhlaq yang rendah dan tercela ada empat hal yang menjadi pilar dan penyangganya, (1) <em>Al-Jahlu</em> (kebodohan), (2) Azh-Zhulm (kezhaliman), (3) Asy-Syahwah (syahwat/nafsu yang tak terkendali), (4) Al-Ghadhab (kemarahan).”</p>
<p>Kita berlindung kepada Allah dari terhalang mendapatkan karakter hikmah. Pasalnya, Allah memerintahkan kita untuk menghiasi dakwah dengan hikmah agar dakwah tak berbuah sepah. <em>“Serulah kepada jalan Rabb-mu dengan penuh hikmah dan pelajaran yang baik.” </em>(QS. An-Nahl: 125)</p>
<p>‘Ali bin Abi Thalib pernah memberikan masukan kepada para da’i, “Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka mengerti, atau inginkah kalian Allah di-dustakan?” Apa yang dinyatakan ‘Ali ini merupakan bagian dari dakwah yang bijak, penuh hikmah. Mendakwahkan Islam adalah kebaikan. Tapi kalau metodenya salah, bisa-bisa Islam dianggap sebuah rekayasa belaka.</p>
<p>Begitu urgennya hikmah bagi kejayaan Islam, sampai-sampai Allah membekali Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam dengan hikmah. Yaitu tatkala Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam hendak menjalani momentum isra` dan mi’raj. Ketika itu beliau masih tinggal di Makkah. Suatu malam, atap rumah Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam membuka, kemudian Jibril turun dan membuka dada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam dan membasuhnya dengan air zamzam. Jibril membawa bejana emas yang berisi hikmah dan iman kemudian menuangkannya ke dalam dada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Setelah Jibril menutup kembali dada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam, Jibril memegang tangan beliau dan mengajak beliau naik ke langit. (HR. Bukhari no. 3164, HR. Muslim no. 163)</p>
<p>Peristiwa penuangan hikmah ke dada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur`an beberapa kali. <em>“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mu`min ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”</em> (QS. Ali ‘Imran: 164)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jalan Menggapai Hikmah</strong></p>
<p>Hikmah itu ada dua dari segi sumbernya, pertama hikmah dari judzur fithriyyah (bawaan semenjak lahir). Orang yang dari lahir sudah ditaqdirkan Allah memiliki sifat hikmah adalah orang yang paling beruntung lagi bahagia. “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 269) Namun orang yang semenjak lahir belum memiliki sifat hikmah tidak berarti selamanya tidak mungkin memilikinya, karena hikmah bisa didapatkan dari usaha.</p>
<p>Diutarakan oleh Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam,</p>
<p dir="RTL">لاَ حَلِيْمَ إِلاَّ ذُوْ عثرَةٍ, وَلاَ حَكِيْمَ إِلاَّ ذُوْ تَجْرِبَةٍ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tidak akan berkarakter hilm (lembut nan santun) kecuali yang pernah berbuat salah. Dan tidak akan berkarakter hikmah kecuali yang berpengalaman.” (HR. Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad)</p>
<p>Ini artinya, ada peluang besar untuk meraih karakter bijaksana, yaitu memperbanyak pengalaman, kemudian mengambil pelajaran darinya. Pengalaman pun tidak hanya dari diri sendiri tapi juga dari orang lain, sesama mu`min. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam telah mengisyaratkan perlunya memetik ibrah dari pengalaman hidup saudara seiman, “Mu`min itu cermin bagi mu`min yang lain. Dan mu`min itu saudara bagi mu`min yang lain.” (Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 6656)</p>
<p>Selanjutnya, langkah meraih karakter hikmah adalah bergaul dengan para ulama, sebagaimana pesan Luqman Al-Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, bersimpuhlah di hadapan mereka dengan kedua lututmu. Sesungguhnya Allah menghidupkan qalbu dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang tandus dengan tetes air hujan.” (Al-Muwaththa` Malik)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pesan Luqman ini sangat imperatif bagi kita. Tidak heran, Luqman telah dipuji oleh Allah, <em>“Dan Kami telah memberi Luqman hikmah, untuk bersyukur kepada Allah, barangsiapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.</em>” (QS. Luqman: 12)</p>
<p>Ada cara lain untuk memupuk karakter hikmah, yaitu membaca dan merenungi syair-syair yang bagus, yang tidak tercemari kata-kata yang merusak, kata-kata yang melenceng dari Islam apalagi yang menyelisihi Islam. Karena Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasalam pernah menyebutkan, “Sesungguhnya di antara syair itu ada yang mengandung hikmah.” (HR. Bukhari no. 5793)</p>
<p>Lihatlah! Syair yang baik saja, Rasulullah  shalallahu &#8216;alaihi wasalam memujinya sebagai jalan mendapatkan hikmah. Sebetulnya, ini merupakan sindiran bagi sebagian orang yang meninggalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah, lalu lebih memilih syair-syair, dalam rangka meraup hikmah. Rasulullah menggunakan kata ‘di antara’ itu menunjukkan tidak semua syair mengandung hikmah. Sementara Al-Qur`an dan As-Sunnah sudah jelas-jelas mengandung hikmah, karena Allah-lah pemilik hikmah, dan Allah-lah yang memberikan hikmah kepada manusia.</p>
<p>Lantas mengapa malah meninggalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah, lantas beralih kepada syair, kalau memang menginginkan hikmah? Seharusnya, mencari hikmah itu diawali dengan mendalami Al-Qur`an dan As-Sunnah, baru kemudian ditambah dengan mengkaji syair-syair yang baik, untuk memperkuat qalbu meyakini kebenaran hikmah-hikmah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.</p>
<p>Bijaksana memang begitu mempesona. Cara meraihnya pun harus dengan tindakan yang mempesona. Adakah diri kita termasuk orang yang bijaksana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/bijaksana-begitu-mempesona.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Tabir Tak Terkoyak</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/agar-tabir-tak-terkoyak.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/agar-tabir-tak-terkoyak.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muthala'ah]]></category>
		<category><![CDATA[tabir terkoyak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab Shahih Bukhari, Imam Bukhari menyebutkan sebuah kisah menarik tentang Rasulullah n, Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Umar menemui Utsman. Beliau bermaksud menawarkan Hafsah, putrinya agar dipersunting oleh Utsman. Utsman tidak langsung mengiyakan ataupun menolak. “Saya pikir-pikir dulu.” Jawabnya. Setelah beberapa hari, Utsman bin Affan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/tabir.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1401" title="tabir" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/tabir-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dalam kitab Shahih Bukhari, Imam Bukhari menyebutkan sebuah kisah menarik tentang Rasulullah n, Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Umar menemui Utsman. Beliau bermaksud menawarkan Hafsah, putrinya agar dipersunting oleh Utsman. Utsman tidak langsung mengiyakan ataupun menolak. “Saya pikir-pikir dulu.” Jawabnya.</p>
<p>Setelah beberapa hari, Utsman bin Affan memberi jawaban. “Untuk saat ini, saya belum ingin menikah lagi.”</p>
<p>Setelah urusan dengan Utsman selesai, Umar menemui Abu Bakar dengan tujuan yang sama, mencari jodoh yang shalih untuk putri tercintanya. Abu bakar hanya diam saja dan tidak memberi jawaban. Bahkan, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Abu Bakar tentang tawaran Umar tersebut. Terpaksalah, Umar melewati hari demi hari menunggu kepastian. Hingga, suatu hari Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam datang untuk meminang Hafsah binti Umar bin Khattab. Umar pun dengan senang hati menerima lamaran Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam.</p>
<p>Setelah itu, Abu Bakar menemui Umar. “Saya menangkap ada rasa tidak suka di hatimu saat engkau menawarkan Hafsah namun aku hanya diam saja.” Kata Abu Bakar. “Engkau benar,” jawab Umar bin Khattab.</p>
<p>“Tidak ada alasan kenapa aku tidak merespon permintaanmu melainkan aku tahu bahwa Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam pernah membicarakan tentang Hafsah. Sedangkan saya tidak ingin membuka rahasia Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam. Seadainya Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam tidak jadi meminang Hafsah, permintaanmu aku terima.”</p>
<p>Kisah di atas secara tersirat mengajarkan kita untuk selalu mengunci rapat rahasia. Jika ada orang menitipkan rahasia kepada kita atau kita mengetahui rahasia orang lain, sesungguhnya kita sedang memikul amanat. Pastinya, setiap amanat akan diminta tanggung jawabnya. Selain itu, tiap orang memiliki cerita pribadi atau informasi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Jadi, bukan hanya aib atau cacat saja yang tidak boleh menjadi konsumsi publik. Bahkan, ketika orang tersebut telah meninggal dunia sekalipun, rahasia tetap harus terjaga. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p dir="RTL">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: مَنْ غَسَّلَ مَيِّتاً فَأَدَّى فِيهِ الأَمَانَةَ وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه</p>
<p>Diriwayatkan dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Orang yang memandikan jenazah. Lalu menunaikan amanah dan tidak membuka aib jenazah. Saat itu dosa-dosanya akan mengalir keluar dari dirinya hingga ia seperti kondisi ketika dilahirkan oleh ibunya.” (Hr. Ahmad)</p>
<p>Menjaga mulut dari menyebarkan aib atau cela ternyata bukan hal yang mudah. Terlebih lagi jika informasi itu tak banyak yang tahu. Nafsu manusia mendorong untuk ghibah dan menumpahkan segala rahasia. Pada saat itu, pertimbangan apakah hal tersebut menyakiti dan mendzalimi orang lain tidak diperhatikan. Karena nafsu memberikan rasa puas setelah rahasia itu tersebar. Oleh sebab itu, sungguh tepat jika Allah mengganjar orang yang menjaga aib dengan pahala yang besar.</p>
<p>Kebalikannya, orang yang tak mampu menjaga rahasia disebut oleh Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam sebagai manusia paling buruk. Terutama lagi jika koban ghibah tersebut merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Contohnya adalah relasi suami-istri. Pola hubungan dalam rumahtangga begitu intim dan dekat. Baik suami ataupun istri bersikap terbuka hingga masing-masing tahu kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Oleh karena itu, amanat yang harus diemban suami-istri yaitu mengubur dalam-dalam aib pasangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p dir="RTL">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِىَّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ أَعْظَمَ الأَمَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يُفْشِى سِرَّهَا.</p>
<p>Dari Abu Said Al Khudri radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “amanat yang paling besar menurut Allah pada hari kiamat ialah, seorang suami yang bercerita sesuatu kepada istrinya atau seorang istri yg bercerita sesuatu kepada suami lalu ia membeberkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim dan Baihaqi)</p>
<p>Menebar aib orang lain memang bukan perkara remeh. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Jika ingin bertaubat darinya, tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada pihak yang didzalimi. Karena itu, sebelum seseorang terjerumus kepada ghibah alangkah baiknya jika mengingat hal-hal berikut:</p>
<p>Pertama, Menyadari bahwa perbuatannya mengundang murka Allah. Sebab, Allah telah melarang ghibah dalam Al-Quran dan menyebutnya seperti memakan daging jenazah saudaranya. Karenanya, seharusnya ia merasa jijik dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Kedua, hendaknya mengaca kepada diri sendiri. Bahwa, setiap orang memiliki kekurangan bahkan aib. Tentunya ia akan malu jika diketahui orang lain lalu dijadikan bahan olok-olok. Karena itu, jika tidak ingin aibnya terbuka hendaknya menjaga lisannya dari ghibah.</p>
<p>Ketiga, Memposisikan diri sebagai korban gunjingan, rasa sakit saat ghibah akan menghalangi dari perbuatan ghibah. Inilah salah satu alasan Imam Syafi’i mengatakan, “Orang yang memperingatkan saudaranya secara pribadi berarti telah memberi nasehat. Sedangkan, orang yang memperingatkan saudaranya secara terang-terangan sama dengan membuka aibnya.”</p>
<p>Keempat, Sadar tentang dampak ghibah terhadap pahala kebaikan. Rasa puas setelah membuka aib tidak sebanding dengan ganjaran dosa yang dibebankan kepadanya. Sedangkan pahala kebaikannya diberikan kepada orang lain. Karena itu ghibah pada hakekatnya adalah menukar pahala dengan dosa orang lain.</p>
<p>Kelima, menyadari bahwa tertutupnya tabir aib atau cela merupakan nikmat Allah yang tidak nampak. Sebab itu, mengumbar aib orang lain atau diri sendiri sama dengan merusak nikmat yang Allah karuniakan.</p>
<p>Menurut Imam Ad-Dhahhak, Allah telah menurunkan dua nikmat yang bersifat dhahir dan batin. Nikmat dhahir yaitu Islam dan Al-Quran. Sedangkan nikmat yang tersembunyi adalah aib yang tertutup.</p>
<p>Seorang muslim juga tidak sepatutnya bangga menceritakan aibnya sendiri. Misalnya, menceritakan perbuatannya yang tak terpuji atau dosa. Tertutupnya rahasia tersebut adalah karunia dari Allah. Dengan menyiarkannya, maka hukuman yang akan ditanggungnya menjadi lebih berat. Utsman  bin Abi  Saudah mengatakan, “Janganlah kalian merobek tirai Allah.  Bagaimana seseorang bisa merobek tirai Allah? Yaitu, seseorang yang berbuat dosa, lalu Allah membuat aib dosa tersebut tidak diketahui orang lain. Namun, jusru ia sendiri menyiarkan perbuatannya kepada orang-orang.”</p>
<p>Semoga kita tidak termasuk tipe tersebut. Amin Ya rabbal alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/agar-tabir-tak-terkoyak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Menutup Aib dan Nahi Mungkar</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/antara-menutup-aib-dan-nahi-mungkar.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/antara-menutup-aib-dan-nahi-mungkar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taufik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[menutup aib]]></category>
		<category><![CDATA[muthala'ah]]></category>
		<category><![CDATA[nahi mungkar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1403</guid>
		<description><![CDATA[Yang seharusnya dilakukan seorang muslim adalah menutupi aib saudaranya, bukan malah mengekspos dan menyebarkannya. Para ulama menyatakan, menyebarkan aib adalah dosa besar. Ada kecaman keras dari Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam dalam hal ini. Beliau bersabda, “Wahai orang-orang yang baru beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan jangan pula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menutupi-aib.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1392" title="menutupi-aib" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menutupi-aib-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Yang seharusnya dilakukan seorang muslim adalah menutupi aib saudaranya, bukan malah mengekspos dan menyebarkannya. Para ulama menyatakan, menyebarkan aib adalah dosa besar. Ada kecaman keras dari Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam dalam hal ini. Beliau bersabda,</p>
<p>“Wahai orang-orang yang baru beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan jangan pula menyelidiki aib mereka, barangsiapa yang suka menyelidiki aib mereka, Allah akan menyelidiki aibnya, dan jika sudah seperti itu, Allah akan membeberkan aibnya sampai dirumahnya sendiri.” (HR. Abu Daud).</p>
<p>Hanya saja, aib wujudnya bisa bermacam-macam. Perbuatan dosa yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga merupakan aib yang tentunya yang pastinya pelakunya tidak ingin hal itu disebarluaskan. Lantas, bagaimana dengan perintah amar makruf nahi mungkar? Bukankah saat melihat saudara kita berbuat dosa kita wajib mengingatkan? Dan bukankah hukuman had seperti zina, mencuri dan lainnya justru dipertontonkan kepada khalayak?</p>
<p>Di sini ada beberapa persoalan yang perlu didudukkan. Aib atau sesuatu yang memalukan yang ada pada seseorang bisa dibagi menjadi dua kategori:</p>
<p>Pertama, aib yang sifatnya khalqiyah. Yaitu aib atau hal-hal memalukan yang sifatnya qodrati dan bukan merupakan maksiat. Misalnya cacat di salah satu organ tubuh, penyakit yang membuat si sakit malu jika diketahui orang seperti lemah syahwat atau bahkan impotensi, ketidak suburan dan hal semisal.</p>
<p>Aib pribadi seperti ini adalah aurat yang harus dijaga. Menyebarkannya, baik secara terang-terangan atau dengan gunjingan adalah dosa besar menurut sebagian ulama. Khusus aib yang sifatnya penciptaan Allah yang manusia tidak memiliki kuasa menolaknya, menyebarkannya berarti menghina dan itu berarti menghina Penciptanya. Demikian sebagaimana dijelaskan Imam al Ghazali dalam Ihya’ juz II/342, versi asy Syamilah.</p>
<p>Atau bukan aib tapi urusan pribadi yang bukan maksiat dan tidak ingin diketahui orang lain seperti masalah keluarga, hutang dan lainnya. Atau sebuah rahasia yang disimpan dan tidak ingin diketahui orang lain.</p>
<p>Menyebarkan rahasia orang lain (ifsa’us sirri) merupakan perbuatan tercela. Imam al Jahidz mengatakan, membocorkan rahasia itu merupakan paduan antara sikap bodoh dan khianat. Bukanlah orang terhormat yang tidak mampu menjaga lisan dan melapangkan dada untuk menjaga apa yang seharusnya ditutupi. (Tahdzibul  Akhlaq, hal.30).</p>
<p>Meskipun begitu, Imam al Izz bin Abdis Salam dalam Syajartul Ma’arif wal Ahwal, hal. 389 menjelaskan,kecuali jika ada manfaat yang benar-benar bisa dibuktikan dengan membocorkan rahasia, maka hal itu boleh. Seperti Nabi Yusuf yang membeberkan aib isteri raja bahwa wanita itulah yang menggoda Yusuf. Hal itu dilakukan untuk membela dirinya.</p>
<p>Kedua, aib berupa perbuatan maksiat. Dari segi caranya, maksiat dapat diIakukan secara sembunyi-sembunyi atau dilakukan terang-terangan.</p>
<p>Maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga terbagi menjadi dua; yang hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Allah seperti minum khamr, berzina, sengaja membatalkan shaum dan lainnya. Kedua yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain seperti mencuri atau korupsi. Dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena pada dasarnya maksiat memang perbuatan yang memalukan.</p>
<p>Jika kita memergoki saudara kita melakukan maksiat jenis pertama pada paragraf di atas, hendaknya kita tidak menyebarluaskannya. Karena bagaimanapun si pelaku masih merasa malu dengan kemaksiatannya. Namun begitu, bukan berarti membiarkan begitu saja dan menihilkan amar makruf nahi mungkar. Nasihat dan peringatan tetap harus diberikan. Tentunya dengan cara yang baik, secara rahasia dan tidak dengan mengumbar keburukannya kepada orang banyak. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesiapa yang menasehati saudaranya dengan tetap menjaga kerahasiaan berarti dia benar-benar menasehatinya dan memperbaikinya. Sedang yang menasehati tanpa menjaga kerahasiaan, berarti telah mengekspos aibnya  dan mengkhianatinya. (Syarh Shahih Muslim, Imam an Nawawi, 1/131). Hal serupa dinyatakan al Fudhail bin Iyadh, “Orang yang beriman itu tetap berusaha menjaga rahasia aib dan menasehati, sedang pendosa itu mengumbar aib orang dan mempermalukannya.” (Jami’ul ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, keterangan hadits ke-7).</p>
<p>Ini jika kita memergoki. Adapun jika baru melihat gelagat atau hanya mendengar gosip, kita dilarang menyelidiki maksiat jenis ini. Larangan ini termuat dalam firman Allah, “ Dan janganlah kalian melakukan tajassus…” (QS. Al Hujurat: 12) juga dalam hadits Nabi tentang larangan tajassus. Tajassus adalah sengaja menyelidiki sesama muslim tentang perbuatan maksiat yang dilakukannya atau mencari-cari aibnya. Hal ini haram dan rawan menimbulkan permusuhan. Dalam tafsir ayat ini, Imam as Suyuti menyebutkan kisah dari Abdurrahman bi Auf saat berjaga malam bersama Umar bin Khattab. Ketika mereka berkeliling, terlihat ada rumah yang masih lampunya masih menyala terang. Mereka pun mendekatinya. Rumah itu terbuka dan di dalamnya terdengar suara-suara keras dan gaduh. Umar bertanya, “Rumah siapa ini?” Abdurrahman menjawab, “Rumah Rabiah bin Umayah bin Khalaf dan mereka sedang minum khamr, apa yang akan anda lakukan?” Umar menjawab, “Menurutku kita telah melanggar larangan Allah agar jangan memata-matai.” Lalu mereka pun pergi. (ad Durrul Mantsur 9/257).</p>
<p>Adapun maksiat yang merugikan orang lain, apalagi orang banyak seperti mencuri dan korupsi tentunya boleh untuk diselidiki dan diungkap. Sangat berbahaya jika hal seperti ini dibiarkan. Lebih dari itu, dosa ini pada akhirnya juga akan diketahui khalayak karena hukumannya adalah potong tangan yang disaksikan kaum muslimin. Berbeda dengan zina, jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi tidak diperbolehkan memata-matai agar dapat menghukumnya, menurut keumuman dalil di atas.</p>
<p>Jenis maksiat kedua adalah maksiat yang dilakukan secara terang-terangan. Ini mencakup seluruh jenis maksiat. Dalam hal ini sudah tidak berlaku lagi kaidah menutupi aib, menjaga rahasia dan nasihat secara sembunyi-sembunyi demi menjaga martabat. Bahkan menggunjingnya pun tidak lagi berdosa. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda,</p>
<p>“Setiap umatku dimaafkan kecuali yang melakukan dosa secara terang-terangan (mujaharah). Dan termasuk mujaharah itu adalah seseorang melakukan dosa di malam hari, lalu di pagi hari Allah telah menutupinya, tapi dia malah mengatakan “Wahai Fulan aku tadi malam melakukan ini dan ini.” Di malam hari Rabbnya telah menutupi dosanya lalu paginya dia malah menyingkap tirai Allah yang ditutupkan padanya.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Imam ath Thayibi mengatakan, “Setiap umatku tidak boleh digunjing kecuali orang yang melakukan maksiat terang-terangan.” Imam an Nawawi menjelsakan, “Sesiapa yang terangan-terangan menampakkan kefasikan atau bidah, apa yang dilakukannya boleh diperbincangkan. (disebutkan dalam al Fath, XVII/238). Wallahua’lam. (T. anwar)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/11/antara-menutup-aib-dan-nahi-mungkar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyingkap Cela Orang Ternganga Aib Sendiri</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 01:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[menyingkap cela]]></category>
		<category><![CDATA[muthola'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1220</guid>
		<description><![CDATA[Pernah tersebar gosip keji tentang Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha,  yang menuduh beliau telah berbuat serong. Adalah Abu Ayyub al-Anshari termasuk sahabat yang sangat hati-hati menjaga pendengarannya, tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang mampir di telinganya. Tatkala istrinya bertanya, “Wahai Abu Ayyub, Tidakkah kamu mendengar desas desus yang memperbincangkan Aisyah?” Beliau menjawab, “Itu hanyalah berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menyingkap-cela.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1376" title="menyingkap-cela" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menyingkap-cela-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pernah tersebar gosip keji tentang Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha,  yang menuduh beliau telah berbuat serong. Adalah Abu Ayyub al-Anshari termasuk sahabat yang sangat hati-hati menjaga pendengarannya, tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang mampir di telinganya. Tatkala istrinya bertanya, “Wahai Abu Ayyub, Tidakkah kamu mendengar desas desus yang memperbincangkan Aisyah?” Beliau menjawab, “Itu hanyalah berita bohong.” Lalu beliau bertanya kepada Ummu Ayyub, “Apakah kamu pernah melakukan (serong), wahai Ummu Ayyub?” Ia menjawab, “Belum pernah, demi Allah, dan aku tidak akan pernah melakukannya.” Lalu Abu Ayyub berkata, “Demi Allah  (wahai istriku), Aisyah lebih baik dari dirimu.”</p>
<p>Begitulah cara Abu Ayyub menyeleksi informasi. Tidak semua ucapan boleh dinikmati oleh telinga, dan tidak setiap informasi boleh disebarkan kepada orang lain. Ada hal-hal yang seharusnya ia dengar. Ada pula hal-hal yang tidak layak didengarnya. Dan dalam hal yang ia mendengarnya tanpa sengaja, ia seleksi mana yang layak dipercayai dan mana pula yang layak dimusnahkan dari memori. Inilah cara mensyukuri nikmat pendengaran. Seperti jawaban Abu Hazim rahimahullah tatkala ditanya, “Bagaimana cara mensyukuri nikmat pendengaran?” Beliau menjawab, “Jika kamu mendengar kebaikan, maka jagalah dan jika kamu mendengar tentang keburukan, maka sembunyikanlah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menyebarkan Berita Dusta</strong></p>
<p>Telinga adalah mitra paling setia dari lisan. Dari lisan siapapun ucapan terlontar, memungkinkan telinga untuk menikmatinya, sengaja atau tidak sengaja. Maka, seberapa kuat sensor pendengaran untuk menyaring setiap suara yang masuk, menentukan baik buruknya seseorang. Begitu strategisnya fungsi pendengaran, hingga kelak secara khusus ia  akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah didengarnya,</p>
<p><em>”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”</em> (QS al-Isra’ 36)</p>
<p>Di antara berita yang pasti sempat hinggap di telinga adalah kabar miring mengenai pribadi dan kehormatan seseorang. Sudah tentu, tidak semua yang didengar telinga itu sesuai dengan realita yang sebenarnya. Pasti ada berita dusta yang berseliweran di telinga. Karenanya Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam memberi stempel ‘pendusta’ bagi orang yang suka menceritakan setiap apa yang didengarnya,</p>
<p dir="RTL">كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta, jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR Muslim)</p>
<p>Betapa ringan lisan membeberkan, betapa nikmat telinga mendengarkan. Akan tetapi, begitu dahsyat efek yang ditimbulkan. Berapa banyak orang-orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita bohong? Berapa banyak pasangan suami istri berpisah karena kabar dusta? Dan berapa banyak pula peperangan antar kaum yang dipicu oleh informasi  palsu? Dan berapa banyak orang terpidana karena kesaksian palsu?</p>
<p>Allah Yang Maha Bijaksana telah mengingatkan umat ini, agar masyarakat ini tidak tercabik-cabik, tidak terpecahbelah dan terbakar oleh api fitnah yang tatkala berkobar sulit untuk dipadamkan. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”</em> (QS. al-Hujurat: 6)</p>
<p>Sebagaimana indikasi ayat di atas, bahwa dampak berita dusta itu tak hanya menimpa korban tertuduh. Bahkan bisa jadi yang tertuduh mendapatkan keuntungan. Sebagaimana Allah menghibur Aisyah dan keluarganya terkait berita dusta tentang dirinya,</p>
<p><em>“Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu”</em> (QS. An-Nuur: 11)</p>
<p>Adapun bagi orang yang turut terlibat menyebarkan berita dusta, justru terancam akan menyesal. Bisa saja ia menyesal karena telah turut menyiarkan kabar burung tapi akhirnya terbukti sebagai kabar bohong. Bisa juga ia menyesal karena buntut dari tindakan itu bisa membahayakan dirinya. Tatkala ia menyebarkan berita dusta, berarti telah berlaku zhalim kepada orang lain. Sedangkan orang yang dizhalimi memiliki peluang besar mendoakan keburukan untuk orang yang telah merusak kehormatannya, dan doa orang yang dizhalimi tidak terhalang untuk diijabahi.</p>
<p>Seperti kasus yang menimpa orang yang mencemarkan nama baik Sa’ad bin Abi Waqash ra dengan tuduhan dusta. Sebagaimana diriwayatka oleh Jabir ra,</p>
<p>“Seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengadukan Sa’ad karena ia tidak membagi rampasan secara sama rata, tidak pernah ikut berperang bersama pasukannya dan tidak adil dalam menghukumi sesuatu.”</p>
<p>Mendengar tuduhan itu, maka Sa’ad berdoa, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka panjangkanlah umurnya, panjangkan kefakirannya, dan timpakan berbagai fitnah atasnya.”</p>
<p>Ibnu Amir menceritakan bahwa ia menyaksikan laki-laki yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang, sampai-sampai alisnya menutupi mata karena saking panjangnya, ia betul-betul ditimpa kemiskinan, dan di sebuah jalan ia pernah bertemu dengan budak-budak perempuan kemudian mecolek mereka, karena itu ia terkena fitnah. Sewaktu ditanya, “Mengapa kamu bisa jadi begini?” Jawabnya, “Aku menjadi tua bangka dan terkena fitnah karena doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Begitulah balasan di dunia. Adapun di akhirat, Allah mengancam orang yang suka menuduh dan menyebarkan berita bohong tentang keburukan seseorang,</p>
<p><em>”Dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun.  Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar</em>” (QS. an-Nuur: 15)</p>
<p>Hingga firman-Nya,</p>
<p><em>”&#8230;mereka terkena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.</em>”(QS. an-Nuur: 23-24)</p>
<p><strong>Menyingkap Aib Orang, Ternganga Aib Sendiri</strong></p>
<p>Berita dusta tentang keburukan seseorang sudah pasti terlarang untuk disebarkan. Lalu bagaimana jika berita tentang aib seseorang itu benar adanya? Sering kita dengar, ketika teguran ditujukan kepada orang yang sedang menggunjing, ia pun segera menyergah, “Saya mengatakan apa adanya, saya tidak berdusta!” Padahal, tidak semua berita yang benar itu boleh menjadi konsumsi publik, atau diperdengarkan orang lain. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam mendefinisikan ghibah atau menggunjing,</p>
<p>“Menyebutkan keburukan tentang saudaramu, hal yang ia tidak suka (diketahui orang lain).” Lalu Nabi ditanya, “Bagaimana jika ternyata apa yang saya sebutkan memang benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab,</p>
<p dir="RTL">إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ</p>
<p>“Jika (aib) itu memang ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah membuat kedustaan tentangnya.” (HR. Muslim)</p>
<p>Itulah ghibah, yang diumpamakan Allah dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.</p>
<p>Jangan disangka, bahwa kerugian hanya menimpa orang yang digunjing. Sejatinya, akibat yang dialami oleh orang yang menggunjing lebih parah. Rata-rata orang yang suka mencacat dan mengumbar aib orang, niscaya akan sedikit mendapat teman. Karena tidak akan ditemukan teman yang tak memiliki cacat, dan tak banyak orang yang bisa bertahan jika cacatnya diumbar oleh temannya sendiri. Alangkah indahnya nasihat Imam asy-Syafi’i kepada Yunus bin Abdil A’la. Beliau berkata, “Wahai Yunus, jika kamu mendengar seorang temanmu melakukan apa yang tidak kamu suka, janganlah kamu lekas memusuhinya, atau memutus persahabatan. Karena sesuatu yang meyakinkan (tentang kebaikan teman) jangan dihapus dengan sesuatu yang masih meragukan (tentang keburukan teman). Sebaiknya, temuilah dia, dan katakan kepadanya, “Telah sampai desas-desus tentang dirimu begini dan begitu&#8230;” Tapi ingat, janganlah kamu menyebutkan sumber beritanya. Jika dia menyanggah dan mengingkari kabar tersebut, maka katakanlah, “Baiklah, kamu lebih jujur dan lebih layak aku percaya.” Dan jangan menambahnya dengan pertanyaan atau komentar yang lain. Namun jika dia mengakui kebenaran berita itu, dan kamu memaklumi alasannya, maka terimalah alasannya&#8230;”</p>
<p>Tak hanya sulit mendapatkan teman, orang yang hobi mengumbar aib saudaranya, maka kelak aibnya akan tersebar. Ini sebagai balasan yang setimpal untuk dirinya. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda,</p>
<p dir="RTL">يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِى بَيْتِه</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya sedangkan iman belum merasuk di hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mengawasi aib mereka, dan barangsiapa yang diawasi aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkan aibnya di rumahnya.” (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Jika tak ingin aib kita terbuka, maka jangan coba-coba mengumbar aib saudaranya. Kecuali jika aib itu berupa dosa yang membahayakan orang lain, atau dilakukan terang-terangan dengan bangga. Semoga Allah menutupi aib kita, dan menjaga telinga dan lisan kita dari segala bentuk kezhaliman atas kaum muslimin.aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Salah Senjata</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 10:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar salah senjata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[Serupa ujian, kehidupan ini menghadirkan begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Dan bagaimana kita akhirnya menyelesaikan kesemuanya, itulah nilai kelulusan kita yang hakiki. Atau kelas mana yang layak untuk kita tempati. Sedang waktu yang tidak mungkin lagi kembali, mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati. Sebab tidak ada ujian susulan, sebab tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/salah-senjata.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1222" title="salah-senjata" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/salah-senjata-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Serupa ujian, kehidupan ini menghadirkan begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Dan bagaimana kita akhirnya menyelesaikan kesemuanya, itulah nilai kelulusan kita yang hakiki. Atau kelas mana yang layak untuk kita tempati. Sedang waktu yang tidak mungkin lagi kembali, mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati. Sebab tidak ada ujian susulan, sebab tidak ada pengulangan.</p>
<p>Pada galibnya, materi-materi ujian kehidupan bisa diselesaikan jika kita mengetahui jawabannya. Selain karena mayoritas dari materi ujian itu merupakan pengulangan sebab telah banyak manusia lain sebelum kita yang menghadapinya, lengkap dengan kisah tentang kegagalan dan kesuksesan mereka, juga karena kualitas dan kerumitan soal-soal pada setiap diri kita berbeda sesuai ‘kelas’ kita masing-masing. Bukankah Allah tidak memberikan sesuatu ‘beban’ di luar kesanggupan kita?</p>
<p>Maka belajar agama Allah adalah kisah sekolah untuk menemukan berbagai jawaban atas semua permasalahan kehidupan kita. Bukan sekadar seremonial buka tutup kitab dan kegagahan atas sejumlah hafalan, namun gagal mengerjakan ujian. Tak patut rasanya jika yang kita lakukan hanyalah memamerkan kartu kepesertaan, no ujian, tempat duduk, atau bahkan uniform yang licin terseterika, jika akhirnya kita tinggal kelas, atau malah pindah sekolah.</p>
<p>Berjenggot, tidak isbal, jejak sujud di kening, baju koko, rentetan idiom islami yang meluncur dari lisan, hafalan ayat, hadits dan atsar, atau yang semisal bagi para muslimah kita adalah identitas sekolah keislaman kita. Ia hanya akan menjadi rekam jejak pencarian dan bukan penyelesaian jika tidak membuahkan amal shalih. Hanya romantisme masa-masa sekolah yang selalu gelisah saat musim ujian tiba.</p>
<p>Keikhlasan, ketawadhu’an, kelapangan dada, dan keistiqamahan dalam menjalani semua peran, lengkap dengan fluktuasinya, atau bahkan perubahannya adalah hal-hal yang kita inginkan terjadi. Juga kemampuan kita melakukan padu padan dan menjaga keseimbangan atas berbagai sisi kemanusiaan. Sebab kita harus menikmati semua proses ini agar terasa ringan dan tidak memberatkan. Dan bahwa semua proses yang berjalan setiap hari ini adalah hidup itu sendiri. Hingga saatnya tiba.</p>
<p>Maka jika identitas sekolah keislaman kita hanya melahirkan caci maki, keluhan yang nyaris tiada henti, pelanggaran aturan syar’i, wajah murung yang gundah, tidak amanah, atau hidup kehilangan arah –mencari ridha Allah-, apalagi yang bisa kita banggakan? Apa artinya semua atribut itu jika hanya menjadi jejak-jejak samar yang kehilangan kedigdayaannya saat berbagai ujian kehidupan datang mendera. Kita hanyalah para pendekar yang salah senjata karena tidak mampu menghadapi berbagai masalah.</p>
<p>Kecuali memang hanya itu yang kita inginkan. Tapi untuk apa?(trias)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/pendekar-salah-senjata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebaikan Didapatkan Keburukan Dihapuskan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/kebaikan-didapatkan-keburukan-dihapuskan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/kebaikan-didapatkan-keburukan-dihapuskan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 10:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan didapat]]></category>
		<category><![CDATA[keburukan dihapus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ، وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian, Dia Yang menghidupkan, dan mematikan, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/doa.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1223" title="doa" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/doa-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ ، وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</p>
<p align="center">“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian, Dia Yang menghidupkan, dan mematikan, di tanganNya segala kebaikan, dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setiap kita pasti pernah melakukan transaksi/jual beli, karena manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bermuamalah dengan orang lain. Bahkan Allah Ta’ala memotivasi hambaNya untuk segera bertebaran di muka bumi setelah selesai menunaikan ibadah tuk mencari karunia/rizki Allah dengan firmanNya :</p>
<p>“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah : 10)</p>
<p>Imam Ibnu katsir dalam tafsinya menyebutkan, Allah Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” Yaitu, dikala menjual dan membeli, dikala mengambil dan memberi hendaklah berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya dan janganlah kesibukan dunia melalaikan kamu dari sesuatu yang mendatangkan manfaat kepadamu di hari akhir. Itulah sebabnya di derangkan dalam sebuah hadits :</p>
<p dir="RTL">مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Barang siapa yang masuk pasar mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIITU LAA YAMUUTU BIYADIHIL KHAIRU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian, Dia Yang menghidupkan, dan mematikan, di tanganNya segala kebaikan, dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu) maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan, dan menghapus darinya satu juta kesalahan, dan membangunkan rumah untuknya di Surga.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al Albaniy).</p>
<p>Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk mebaca doa ini ketika hendak masuk pasar (baik pasar tradisional maupun modern seperti mall). Hal ini dikarenakan pasar merupakan tempat berkumpulnya iblis dan tentaranya, tempat yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah karena asyiknya perdagangan, tempat dimana banyak terjadi penipuan, transaksi riba, janji palsu, kecurangan, khianat dan keburukan-keburukan yang lain.</p>
<p>Ditambah lagi pasar merupakan tempat yang tidak disukai Allah bahkan sejelek-jelek tempat di bumi, hal ini berdasarkan Hadits :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا</p>
<p>“Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar.” (HR. Muslim)</p>
<p dir="RTL">خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ وَإِنَّ شَرَّ الْبِقَاعِ الأَسْوَاقُ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sebaik baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.”                (HR. Hakim, Thabraniy. Hadis hasan).</p>
<p>Kecintaan dan kebencian Allah terhadap suatu tempat adalah karena amalan yang terjadi pada tempat tersebut. Maka ketika pasar yang banyak didalamya terdapat amal-amal <em>syaithaniyah</em>, tetap bisa membuat seorang muslim mengingat Allah dengan doa diatas, tentu balasannya sesuai dengan perbuatannya. Yaitu mendapatkan banyak kebaikan sebagaimana dalam rekadsi hadits <em>alf alf hasanah</em>, selain itu juga mendapatkan penghapusan kejelekan di lembaran-lembaran amalannya atau mendapatkan ampunan dari Allah swt dan bahkan akan dibangunkan baginya rumah di surga .</p>
<p>Allah swt memasukkan orang-orang yang tidak dilalaikan dengan perdanganan dari berdizikir kepada Allah dalam golongan yang mendapatkan banyak kebaikan. Allah berfirman :</p>
<p>“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan Balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An Nur : 37-38).</p>
<p>Tentunya ibu-ibu dan saudariku muslimah yang biasa masuk keluar pasar tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan kebaikan dan dihapus keburukannya, mari kita praktekkan ajaran terbaik dari Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam. Dan bagi para bapak-bapak walaupun hanya mengantar, perlu kiranya tetap membaca doa ini. wafaqakumullah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/10/kebaikan-didapatkan-keburukan-dihapuskan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

