<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/kajian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jul 2010 06:58:22 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tiada kata Gagal Sebelum datang Ajal</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/tiada-kata-gagal-sebelum-datang-ajal.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/tiada-kata-gagal-sebelum-datang-ajal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang mungkin pernah merasakan pahitnya kegagalan. Target yang tidak tercapai, perjuangan yang tak membuahkan hasil sesuai keinginan, atau bahkan permohonan yang tak kunjung terkabulkan.
Manusiapun beragam dalam menyikapi kenyataan seperti ini. Ada yang sedih ketika tak lulus sekolah, ada yang depresi lantaran gagal menjadi pejabat, stress lantaran usahanya gulung tikar, dan bahkan ada yang bunuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang mungkin pernah merasakan pahitnya kegagalan. Target yang tidak tercapai, perjuangan yang tak membuahkan hasil sesuai keinginan, atau bahkan permohonan yang tak kunjung terkabulkan.</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2009/09/cov106-gbr.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-222" title="cov106-gbr" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2009/09/cov106-gbr.jpg" alt="" width="300" height="261" /></a>Manusiapun beragam dalam menyikapi kenyataan seperti ini. Ada yang sedih ketika tak lulus sekolah, ada yang depresi lantaran gagal menjadi pejabat, stress lantaran usahanya gulung tikar, dan bahkan ada yang bunuh diri karena gagal menikah dengan orang yang dicintainya. Intinya adalah putus asa dan berat menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan.<span id="more-102"></span></p>
<p><strong>Tak Ada Istilah Gagal, Kecuali dalam Satu Hal</strong></p>
<p>Sebenarnya, tak ada istilah gagal dalam berusaha, selain kegagalan dalam menyikapi hasil. Inipun, masih ada peluang untuk perbaikan. Hanya ada satu kegagalan yang fatal, yang benar-benar dikatakan gagal, yakni gagal dalam mengisi hidup hingga datangnya ajal.</p>
<p>Kalaupun ada tujuan yang belum mampu didapatkan, secara hakikat bisa jadi bukan bermakna kegagalan. Bisa jadi, penangguhan keberhasilan itu merupakan anugerah. Agar kita mau bermuhasabah, lalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Seandainya keberhasilan langsung wujud, mungkin tak ada waktu lagi untuk berbenah. Seyogyanya, seorang muslim langsung bermuhasabah begitu tujuan yang hendak diraih itu meleset.</p>
<p>Pertama, apakah tujuan tersebut benar-benar sesuatu yang disyariatkan, atau bahkan bertentangan dengan syariat. Jika ternyata bertentangan dengan syariat, maka bersyukurlah ketika gagal, karena berarti Allah masih sayang kepadanya. Dia hendak menghindarkannya dari sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Maka ia bukan orang yang gagal, tapi sukses dalam menghindari suatu keburukan.</p>
<p>Namun jika ternyata yang belum berhasil diraihnya adalah suatu tujuan yang mulia, hendaknya ia kembali introspeksi terhadap cara yang dia tempuh. Apakah menggunakan cara yang haram, ataukah yang diijinkan oleh syariat. Jika caranya haram, maka cobalah kembali dengan cara yang sesuai syar’i, karena Allah tidak menghendaki sesuatu yang mulia diraih dengan cara yang hina.</p>
<p>Jika ternyata caranya juga sudah sesuai syar’i, namun belum juga berhasil, ada baiknya melihat <em>makasib</em> (usaha) secara <em>kauni</em>. Dengan bahasa kekinian, apakah usaha tersebut telah termenej dengan baik, baik dari sisi perencanaan, pengelolaan, maupun kontrolnya? Karena bisa jadi kegagalan (sementara) itu disebabkan kurangnya pengetahuan, kesungguhan atau kedisiplinan dalam berusaha. Dengan kegagalan tersebut, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan kesungguhan kita dalam berusaha. Bukankah ini berarti keberhasilan dalam memperbaiki diri? Bahkan keberhasilan seperti yang diinginkan segera mengikuti <em>insya Allah</em>. Perhatikanlah seekor semut yang membawa beban berat menuju sarangnya di ketinggian pohon. Berapa kali ia terjatuh, sebanyak itu pula ia bangkit dan berusaha, hingga akhirnya ia berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/tiada-kata-gagal-sebelum-datang-ajal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kegagalan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/memaknai-kegagalan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/memaknai-kegagalan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Seperti bayi yang tak diinginkan kelahirannya, tapi menjadi orang paling berguna ketika dewasa, daripada saudara-saudaranya. Tamsil ini barangkali cocok untuk mengibaratkan sebuah kegagalan. Kegagalan, adalah realita yang –tak dipungkiri- tidak pernah diinginkan kehadirannya, tapi ternyata membawa hikmah yang luar biasa di balik punggungnya. Meski demikian, wajar jika tak seroang pun pernah menginginkan kegagalan menyapa dirinya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti bayi yang tak diinginkan kelahirannya, tapi menjadi orang paling berguna ketika dewasa, daripada saudara-saudaranya. Tamsil ini barangkali cocok untuk mengibaratkan sebuah kegagalan. Kegagalan, adalah realita yang –tak dipungkiri- tidak pernah diinginkan kehadirannya, tapi ternyata membawa hikmah yang luar biasa di balik punggungnya. Meski demikian, wajar jika tak seroang pun pernah menginginkan kegagalan menyapa dirinya. Itu karena sang hikmah tak pernah mau menampakkan diri tepat pada saat kegagalan menghampiri.</p>
<p>Gagal. Dalam kamus bahasa indonesia artinya batal atau tidak jadi meraih sesuatu. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus membatasi makna gagal pada sesuatu yang tidak jadi atau batal terraih setelah adanya usaha maksimal. Sebab, kegagalan yang terjadi sebelum atau tanpa usaha maksimal, sejatinya bukanlah kegagalan tapi konsekuensi logis. Sebuah keniscayaan dari lemahnya usaha dan semangat. Batasan lainnya adalah sesuatu yang diusahakan tersebut bersifat mubah, bukan yang dilarang syariat. Dengan batasan ini, segala sudut pandang, filosofi dan motivasi –insyaallah- akan bisa benar-benar menyasar dan tak salah tempat.</p>
<p><strong>Kegagalan Memang Menyakitkan</strong></p>
<p>Dilihat dari sudut pandang fakta, kegagalan memang pahit rasanya bahkan mungkin menyakitkan. Betapa keringat yang telah keluar, waktu yang telah terkorban dan segenap usaha ternyata harus runtuh tak menghasilkan. Semua itu jelas bukan sesuatu yang langsung bisa dipersepsikan sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda. Dimana seseorang bisa tetap tenang dan tersenyum saat melihat kemunculannya. Karenanya, diperlukan manajemen berpikir yang baik untuk mengolah <em>shock</em> akibat kegagalan. Harapanya agar kegagalan tersebut bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan.</p>
<p>Pertama, sebelum kita berusaha menghibur diri dengan berusaha mencari filosofi-filosofi orang sukses mengenai kegagalan, kita harus sadari bahwa kegagalan itu bagian dari takdir. Takdir yang harus kita terima, karena semuanya telah terjadi. Ini penting disadari karena dengan memahami sepenuh hati bahwa semua itu telah menjadi kehendak-Nya dan telah berlalu, satu kekecewaan akan tertutup. <em>Qadarallahu ma sya&#8217;a fa&#8217;ala</em>, Allah telah menakdirkan demikian, apa yang Dia kehendaki pasti kan terjadi. Seseorang tidak perlu kembali ke masa silam untuk mengubah keadaan. Ia hanya perlu memulai yang baru, untuk menemukan akhir seperti yang diinginkan, <em>biidznillah</em>.</p>
<p>Kedua, kegagalan itu bukan aib dan bukan sesuatu yang memalukan. Kesalahan itu wajar. Kata orang, kesalahan hanyalah sesuatu yang menegaskan bahwa kita masih layak disebut manusia. Persepsi ini akan membuat hati kita tenang. Mengapa? Karena hantu paling menakutkan bagi manusia adalah tersingkapnya aib dan keburukan. Jika kegagalan dalam usaha bukan sesuatu yang tercela, maka untuk apa ditakuti? Lagipula,  mencela kegagalan sebenarnya hanyalah mencela masa lalu. Perbuatan yang sama sekali tidak berguna.</p>
<p>Ketiga, silahkan mencari berbagai filosofi untuk membangun <em>positif thinking </em>dalam menghadapi sebuah kegagalan. Ada banyak kata-kata bijak yang bisa kita renungi darinya. Misalnya: &#8220;kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda&#8221;. Karena kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari kesuksesan. Tidak ada usaha maksimal yang benar-benar mengalami kegagalan. Kegagalan hanyalah lampu merah bahwa ada yang salah dalam usaha kita. Sedang kesalahan akan semakin menegaskan yang benar dan membuatnya semkain kontras. maka sebenarnya &#8220;Kegagalan adalah guru besar orang-orang sukses&#8221;. Ada lagi yang mengatakan, hitunglah kegagalan seperti menghitung umur. Secara bilangan bertambah, tapi haikikatnya berkurang. Artinya secara jumlah (kali) kegagalan memang bertambah; sekali, dua kali, tiga kali dst. Tapi secara hakikat berkurang karena semakin banyak gagal, semakin banyak pelajaran yang diambil dan semakin dekatlah tangga kesuksesan. Karenanya, benralah jika dikatakan, &#8220;kesuksesan, sejatinya adalah anak tangga terakhir kegagalan&#8221;.</p>
<p>Pada akhirnya, apakah kegagalan adalah abtu loncatan menuju kesuksesan atau tidak, semua bergantung dari sikap si penerima trofi kegagalan. Ia bisa memilih antara;</p>
<ol>
<li>Menolak; tidak terima, mencari kambing hitam, mencari pembenaran diri dan berhenti. Dengan ini kegagalan adalah anak tangga patah yang benar-benar membuatnya terjerembab tak mampu bangun lagi. Bukan yang menjadikan kakinya melangkah lebih panjang menuju anak tangga berikutnya.</li>
<li>Menerima tapi melakukan kesalahan yang sama. Sikap keras kepala yang tidak akan membuahkan –jelas- tidak akan membuahkan kesuksesan.</li>
<li>Menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan suntikan penyemangat. Dan inilah yang akan menjadi kebangkitan yang nyata.</li>
</ol>
<p><strong>Kegagalan Hakiki</strong></p>
<p>Kegagalan, apapun bentuknya selagi masih di dunia bukanlah kegagalan yang yang sebenarnya. Masih ada peluang untuk meraih keberhasilan. Asalkan tetap ada semangat, kerja keras dan kecerdasan untuk belajar dari kegagalan. Sehingga kegagalan bukanlah lembar terakhir dari buku kehidupan. Gagal lulus sekolah, bukan berarti masa depan suram. Banyak pengusaha kaya yang memiliki &#8216;pengalaman buruk&#8217; dalam hal akademik. Gagal mendapat jodoh impian, tidak berarti harus membujang. Masih ada yang lain, yang sangat mungkin jauh lebih baik dan berbagai kegagalan yang lain. Intinya kegagalan bukanlah akhir segalanya.</p>
<p>Kegagalan yang sesungguhnya adalah kegagalan dalam berusaha untuk menjadi hamba yang layak mendapat ridha-Nya. Kegagalan sejati adalah ketika seseorang benar-benar gagal, bangkrut dan tak memperoleh nilai di akhirat dari apa yang telah diusahakannya di dunia. Allah berfirman,</p>
<p><em>&#8220;Bekerja keras lagi kepayahan, -tapi- memasuki api yang sangat panas (naar)</em>.&#8221;, (QS. Al Ghasiyah:3-4)</p>
<p>Profil manusia paling gagal adalah manusia yang tidak beriman. Betapapun baiknya, betatapun dermawannya dan betapapun santunya ia di dunia, tetap saja dia akan gagal mendapatkan balasan dari kebaikannya di akhirat.  Profil yang lain adalah seorang muflis, manusia bangkrut yang benar-benar bangkrut. Rasulullah bersabda,</p>
<p>&#8220;Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, sedekah dan shiyam. Tapi ia telah mengumpat ini, memukul si ini dan memakan harta si ini. Lalu diambilah kebaikannya untuk si ini dan si ini. Jika kebaikannya habis sebelum impas, kesalahan mereka akan diberikan kepadanya, lalu ia dijebloskan ke neraka.&#8221; (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Maka, selagi masih di dunia, tidak ada kata gagal dan tidak perlu khawatir mengalaminya jika kita mampu memaknai kegagalan dengan benar. Yang harus kita waspadai adalah jangan sampai kita mengalaminya di akhirat. Karena akhirat adalah lembaran terakhir dari kisah perjalanan hidup kita. <em>Wallahua&#8217;lam</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/memaknai-kegagalan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Kegagalan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/menikmati-kegagalan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/menikmati-kegagalan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[gagal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Mengalami kegagalan ibarat mengunyah brotowali, pahit rasanya dan sangat tidak enak. Ini sekadar ilustrasi betapa kegagalan sangat tidak diinginkan setiap orang. Apa lagi jika kita sudah mengerahkan usaha secara maksimal. Faktor keberhasilan juga telah dipenuhi. Tapi, hasilnya ternyata jauh dari yang diharapkan. Karena itu, wajar jika orang merasa frustasi bila nasib ini menimpanya. Kegagalan memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengalami kegagalan ibarat mengunyah brotowali, pahit rasanya dan sangat tidak enak. Ini sekadar ilustrasi betapa kegagalan sangat tidak diinginkan setiap orang. Apa lagi jika kita sudah mengerahkan usaha secara maksimal. Faktor keberhasilan juga telah dipenuhi. Tapi, hasilnya ternyata jauh dari yang diharapkan. Karena itu, wajar jika orang merasa frustasi bila nasib ini menimpanya. Kegagalan memang takdir yang tak dapat diubah. Namun, frustasi bukan jawaban tepat karena tak dapat mengubah keadaan. Kegagalan adalah keniscayaan tapi bangkit dan berusaha lagi adalah pilihan. Inilah yang membedakan antara pemenang dan pecundang.</p>
<p><strong>Tak Ada Kambing Hitam</strong></p>
<p>Semua orang pernah mengalami kegagalan dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda. Agar lebih baik, tetaplah berhusnudzan, berfikir positif bahwa itu hanyalah tapak awal menuju kemenangan. Rasulullah SAW pernah mengalami saat terberat dalam hidupnya ketika berdakwah kepada orang Thaif. Beliau sangat berharap mereka memeluk Islam. Namun, tak ada satu orang pun yang menerima. Ajakan ramah beliau dijawab dengan cercaan dan siksaan. Bayangkan seorang Rasul yang mulia diusir keluar kampung dengan dihina. Beliau terus dilempari batu dan kerikil sepanjang perjalanan 3 mil. Kaki beliau berdarah-darah. Tak terhitung pula luka Zaid bin Haritsah yang pasang badan melindungi beliau. Namun yang paling menyakitkan bagi Beliau ialah jawaban ketua kaum, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain sehingga terpaksa mengangkatmu sebagai Rasul?”</p>
<p>Pada saat kritis seperti itu, optimisme tak boleh mati. Keimanan terhadap takdir tak boleh goyah. Keyakinan ini membawa harapan bahwa Allah selalu memberi kemenangan dan jalan keluar. <em>Faiina maal usri yusra</em>, setiap kesulitan membawa kemudahan. Oleh karena itu doa yang mengalir dari lisan Rasulullah SAW adalah harapan,</p>
<p>“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sungguh, mereka hanyalah orang-orang yang tidak tahu.”</p>
<p><strong>Celah Itu Tetap Ada</strong></p>
<p>Sejarah Islam pernah menorehkan prestasi hebat lewat seorang ilmuwan yang bernama Hassan bin Al Haitsam. Beliau adalah ilmuwan muslim pertama menggunakan pendekatan modern dalam studinya, yaitu berdasarkan pengumpulan data melalui pemantauan dan pengukuran, yang diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesa guna menjelaskan data yang didapat. Beliau menemukan teori tentang cahaya alami dan refleksi. Beliau juga mengembangkan teori yang yang disebut sebagai mekanisme benda angkasa yang menjelaskan orbit planet. Bukti penelitian Al Haitsam di bidang astronomi masih dapat ditemukan di musium Iskandariyah hingga saat ini. Di balik semua kisah hebat itu Beliau tetap manusia dan pernah terpuruk dalam kegagalan. Bahkan beliau sempat dipenjara dan dikucilkan antara tahun 1011 dan 1021, setelah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan oleh khalifah yang memintanya menyelesaikan masalah tentang pengaturan banjir sungai Nil. Dia baru dibebaskan karena khalifah yang menghukumnya meninggal dunia.</p>
<p>Kisah ini mengajarkan bahwa, pantang menyerah adalah ciri orang yang sukses. Semangat ini selalu membuka jalan untuk tetap berkarya. Kegagalan dimaknai sebagai waktu untuk rehat dan beristirahat sejenak. Jadi, gagal bukanlah akhir segalanya. Al Haitsam telah membuktikannya, beliau berhasil menyusun 100 penelitian ilmiah dalam berbagai topik di bidang fisika dan matematika.</p>
<p><strong>Anda Luar Biasa!</strong></p>
<p>Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Dunia mendaulatnya sebagai Bapak Sosiologi Islam. Sebagai salah seorang ilmuwan hebat yang buah pikirnya amat berpengaruh. Tidak hanya dikagumi di kalangan ulama muslim tapi sederet ilmuwan barat kagum kepadanya. Buah karyanya, Kitab Al Mukaddimah, hingga kini dijadikan referensi oleh para sarjana ilmu sosial di seluruh dunia.</p>
<p>Tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau pernah mengalami masa sulit dan kegagalan. Salah satunya, kegagalan dalam dunia politik praktis. Akhirnya beliau mentalak dunia politik dan kembali ber-<em>tafaqquh fiddin</em>. Dalam masa penyepiannya ini beliau menulis kitab Al Mukaddimah. Sebuah buku yang menjadi dasar ilmu sosiologi. Karya ini membuat namanya tetap dikenang hingga kini.</p>
<p>Kegagalan adalah saat yang tepat untuk muhasabah dan mengevaluasi. Apakah kita memang mengambil jalan yang tepat? Apakah cara tersebut benar dan tepat? Ini juga merupakan saat yang pas untuk mengenali potensi kita yang terpendam. Bisa jadi kelebihan itu tidak terlihat karena kita terlalu fokus pada hal-hal lain. Kenalilah diri sendiri dan fokuslah pada kelebihan itu.</p>
<p><strong>Guru paling ampuh</strong></p>
<p>Satu kisah kegagalan yang sangat telak terjadi pada perang Uhud. Tujuh puluh shahabat tewas dalam peperangan ini dan ratusan lainnnya terluka. Bahkan Pipi Rasulullah SAW tertembus besi hingga melukai gerahamnya. Kegagalan ini diakibatkan karena pasukan pemanah meninggalkan posnya di atas bukit. Selain itu, 300 tentara meninggalkan medan perang akibat provokasi orang munafik.</p>
<p>Kegagalan ini mengguyurkan kesedihan bagi shahabat. Namun memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kaum muslimin tentang pentingnya taat kepada pemimpin, tentang mengorbankan ego pribadi demi maslahat <em>jama&#8217;i</em>. Dan, membuktikan bahwa menuruti kenginan pribadi di atas kepentingan bersama harus ditebus dengan harga mahal. Selain itu, para shahabat belajar untuk tidak melibatkan orang munafik dalam peperangan. Keberadaan orang munafik seperti kata pepatah, &#8216;duri dalam daging&#8217;, gerakannya merusak bagian di sekelilingnya. Karena itulah Rasulullah SAW selalu menahan keinginan orang munafik untuk ikut dalam ekspedisi peperangan, seperti pada perang khaibar. Setelah itu, tidak pernah terdengar bahwa kaum muslimin mengalami kegagalan yang serupa.</p>
<p>Seperti itulah tipikal orang-orang sukses. Proses menuju keberhasilan begitu beriku dan unik. Mereka memaknai Kegagalan sebagai satu bagian dari rangkaian proses keberhasilan. Kegagalan adalah bahan evalauasi. Hasilnya ialah ilmu dan pengalaman. Seorang muslim boleh gagal karena gagal adalah guru yang paling berharga. Kemenangan memberi kebagiaan sedangkan proses membawa ilmu dan pengalaman yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Jangan takut gagal. Temukan faktor dan sebab kegagalan itu lalu perbaikilah. Tetaplah menjadi mukmin yang kuat yang tidak tersandung oleh batu yang sama. Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>“Seorang mukmin tidak jatuh dua kali ke satu lubang (yang sama).” (HR. Bukhari)</p>
<p>Barang kali inilah jawaban kenapa ada dua orang yang sama-sama gagal, tapi akhirnya bernasib berbeda. Orang yang sukses belajar dari kegagalannya. Tidak menyalahkan orang lain. Dan mencari faktor kegagalan kemudian memperbaikinya. Mereka tidak mau berlama-lama &#8216;menikmati&#8217; kekalahan. Mereka berusaha mengambil pelajaran yang kemudian menjadi pengalaman yang berharga.</p>
<p>Semoga kita termasuk kelompok tersebut. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/menikmati-kegagalan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersih Hati dari Iri dan Dengki</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/bersih-hati-dari-iri-dan-dengki.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/bersih-hati-dari-iri-dan-dengki.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Lihatlah suasana orang yang dilanda iri dengki, hatinya selalu risau dan larut dalam kebencian. Terlebih lagi jika orang yang didengki memperoleh keberhasilan dan mendapat nikmat. Inginnya nikmat tersebut segera sirna musnah tak berbekas. Jika dibiarkan, perasaan iri akan menjadi menjadi bibit dosa lain dan awal bergulirnya pelanggaran perintah Allah. Iblis menjadi mahluk terlaknat berawal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lihatlah suasana orang yang dilanda iri dengki, hatinya selalu risau dan larut dalam kebencian. Terlebih lagi jika orang yang didengki memperoleh keberhasilan dan mendapat nikmat. Inginnya nikmat tersebut segera sirna musnah tak berbekas. Jika dibiarkan, perasaan iri akan menjadi menjadi bibit dosa lain dan awal bergulirnya pelanggaran perintah Allah. Iblis menjadi mahluk terlaknat berawal dari iri, begitu pula pembunuhan pertama yang dilakukan manusia juga bermotifkan iri.</p>
<p><strong>Berhenti, jangan teruskan!</strong></p>
<div id="attachment_192" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2009/09/4586798572_3a2c2e006f.jpg"><img class="size-medium wp-image-192" title="4586798572_3a2c2e006f" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2009/09/4586798572_3a2c2e006f-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">photo: oooheavenlyooo</p></div>
<p>Rasa iri bisa membuat orang gelap mata dan memandang selalu dengan suudzan. Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya bahwa keberhasilan yang diraih orang yang dibencinya lewat jalan yang tidak benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar. Bila sudah begitu  iri hati lebih berbahaya daripada sakit kronis yang susah diobati.</p>
<p>Dengki timbul karena tiupan setan, karena itu segera redam dengan ber-<em>taawwudz </em>kepada Allah. Caranya dengan membaca ayat kursi dan <em>muawwidzatain</em>. Atau membaca, “<em>Audzu bikalimatillahi at tammah min syarri ma khalaq</em>.” (aku berlindung kepada kalimat allah yang sempurna dari kejelekan mahluk-Nya). Selagi iri hati belum berkobar, hentikan sekarang juga dan jangan teruskan!</p>
<p><strong>Takdir Allah Tak Pernah Salah</strong></p>
<p>Seorang ahli hikmah mengatakan, jika dilihat dari sisi takdir orang yang iri berarti sedang menantang tuhan. Alasannya ialah; pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Allah tidak adil dalam membagi karunia. Ketiga, menganggap bahwa Allah bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Allah dan menyanjung dirinya sendiri dan kelima, lebih menuruti bisikan iblis daripada perintah Allah. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa harta, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah kedudukannya.</p>
<p>Semua nikmat dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qadha&#8217; dan qadar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Allah memiliki sifat <em>al &#8216;alim</em> (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hambanya segala sesuatu yang terbaik baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan hikmah.</p>
<p>Tidak semua nikmat dapat membuat hamba bersyukur. Ada hamba yang lebih baik miskin daripada kaya. Sebab kemiskinan dapat membuatnya bersyukur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qarun, yang dapat beriman tatkala miskin tapi melupakan Allah saat kunci-kunci gudang hartanya tidak sanggup dipanggul tujuh orang. Ada pula yang lebih tepat kaya, karena mampu mengatur kekayaannya sesuai tuntunan agama, misalnya sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya, “<em>Dan Jikalau Allah melampangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi allah menurunkan apa yang dikehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.</em>” (QS. As Syura: 27)</p>
<p><strong>Syukuri Apa yang Ada</strong></p>
<p>Iri dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknnya nikmat yang diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki merasa tak lebih beruntung dari orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan, membisikkan bahwa &#8216;rumput tetangga lebih hijau&#8217;. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang diinginkan dapat diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu merasa kurang.</p>
<p>Karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan selalu melihat ke &#8216;bawah&#8217;. Agar kita selalu sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya. Sehingga kita mensyukuri apa yang telah dimiliki.</p>
<p>“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Batin akan merasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah dapat dilalui dengan mudah. Alkisah, seorang wanita cantik menikah dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir. Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu tak dapat membuat suami-istri tersebut goyah. Suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, “Suamiku allah memberi ujian kepadamu berupa istri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan anda tapi aku bersabar. Kita berdua mendapat pahala.”</p>
<p><strong>Arahkan Kepada yang Positif</strong></p>
<p>Segala sesuatu tidak terjadi secara instan. Seseorang tidak begitu saja terlahir pintar tanpa belajar. Orang yang pandai berceramah juga melalui proses. Orang punya banyak teman karena pandai menjaga sikap dan tingkah lakunya. Intinya keahlian diperoleh dari latihan yang tekun dan kontinyu. Kadang, itu semua dilihat sebagai bakat dan telah ada sejak lahir, namun pada hakekatnya hal itu adalah rahmat dan kemudahan dari Allah SWT. <em>Kullun muyassarun lima khuliqa lahu </em>(setiap manusia dimudahkan menuju untuk apa ia diciptakan). Jangan lihat hasilnya tapi proses untuk mencapainya, begitu berat dan kadang mengharukan.</p>
<p>Bila melihat orang lain beroleh nikmat kenapa rasa iri yang harus muncul? Alangkah indahnya jika  turut merasa bahagia. Hati akan merasa lebih tenang dan ikatan ukhuwwah menjadi kian erat. Rasulullah saw bersabda,</p>
<p>“Tidak sempurna iman seorangpun dari kalian hingga mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah tingkatan iman yang tinggi. Untuk menggapainya dengan melatih diri dengan sifat <em>itsar </em>(altruisme), mementingkan orang lain dibanding diri sendiri.<strong> </strong><em>Wallahu A&#8217;lam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/bersih-hati-dari-iri-dan-dengki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Derita Abadi Karena Dengki</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/derita-abadi-karena-dengki.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/derita-abadi-karena-dengki.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[dengki]]></category>
		<category><![CDATA[hasad]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang. Begitulah peribahasa Melayu menggambarkan keadaan orang yang menyimpan rasa dengki. Harapan ingin mendapatkan milik orang tak didapatkan, namun sesuatu yang menjadi milik sendiri dikorbankan. Karena sejatinya pendengki selalu rugi, tak ada keuntungan sedikitpun bagi pendengki. Bahkan, gambaran peribahasa tersebut belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang. Begitulah peribahasa Melayu menggambarkan keadaan orang yang menyimpan rasa dengki. Harapan ingin mendapatkan milik orang tak didapatkan, namun sesuatu yang menjadi milik sendiri dikorbankan. Karena sejatinya pendengki selalu rugi, tak ada keuntungan sedikitpun bagi pendengki. Bahkan, gambaran peribahasa tersebut belum cukup menggambarkan total kerugian orang yang dialami orang yang terjangkiti penyakit dengki.</p>
<p><strong>Derita Para Pendengki</strong><br />
Tak ada yang lebih patut dikasihani melebihi orang yang menderita penyakit dengki. Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya, atau sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki. Tak ada keuntungan sedikitpun yang dihasilkan pendengki. Tak ada pula kesenangan hati yang dipanen oleh orang yang hasud.<br />
Kerisauan hati yang tak putus-putus, dialami oleh pendengki saat melihat orang lain mendapat nikmat. Semakin banyak nikmat disandang orang lain, makin menguat gelisah hati pendengki. Ini tidak akan berakhir hingga nikmat tersebut hilang dari orang yang didengki, bahkan terkadang belum terobati juga rasa dengki itu sebelum orang yang didengki tertimpa banyak kerugian. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah Ta’ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)<br />
Berbeda dengan kesedihan atau musibah yang dialami oleh orang yang bersabar, kegalauan yang terus menerus dirasakan oleh pendengki adalah musibah berat yang sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan berpotensi menggerogoti kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang telah kering.<br />
Nabi SAW bersabda,<br />
“Hindarilah oleh kalian hasad, karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud)<br />
Maksud memakan kebaikan adalah menghilangkannya, membakarnya dan menghapus pengaruhnya, seperti yag disebutkan dalam Kitab Faidlul Qadiir. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa sirna dalam sekejap jika terbakar oleh kedengkian. Makin besar api kedengkian, makin cepat melalap habis kebaikan. Al-Manawi di dalam at-Taisir bi Syarhi al-Jami’is Shaghir menjelaskan sebab dihilangkannya kebaikan pendengki adalah, “karena orang yang dengki itu berarti menganggap Allah Ta’ala jahil, tidak bisa memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya.” Ia menganggap Allah salah dalam mengalamatkan nikmat dan karunia. Seakan ia lebih tahu dari Allah tentang siapa yang lebih layak untuk mendapatkannya. Sehingga layaklah pendengki dihilangkan kebaikan-kebaikannya. Sungguh rugi para pendengki, selalu risau di dunia, terancam bangkrut di akhirat.</p>
<p><strong>Membahayakan Diri dan Orang Lain</strong><br />
Efek kedengkian semakin parah ketika pendengki berambisi melampiaskan kedengkiannya. Makin kuat kedengkian dan ambisi melampiaskan, makin besar pula dosa dan bahaya yang ditimbulkan. Baik mengenai diri sendiri, maupun orang lain. Bahkan dosa pertama yang dilakukan oleh iblis disebabkan oleh dengki. Dia menganggap dirinya lebih layak mendapat penghormatan daripada Adam. Karenanya, Iblis berani menentang perintah Allah yang menyuruhnya bersujud. Jadilah iblis sebagai makhluk yang terkutuk, dan dipastikan bakal menempati neraka selamanya. Kedengkian berlanjut, Iblis berusaha dan akhirnya berhasil menggelincirkan Adam. Belum puas, Iblis bersumpah untuk menggoda dan menyesatkan semua keturunan Adam selagi mampu. Dari sini lahirlah segala bentuk kemaksiatan dan dosa yang merupakan syi’ar Iblis dan siasatnya untuk menjerumuskan anak Adam. Sekali lagi, ini bermula dari hasad. Maka hendaknya orang yang menaruh kedengkiannya kepada saudaranya segera menyudahi, sebelum melahirkan segala bentuk dosa yang belum terbayangkan sebelumnya.<br />
Pembunuhan pertama yang terjadi di jagad raya yang dilakukan oleh Qabil terhadap Habil juga disebabkan oleh dengki. Qabil tak bisa menerima kenyataan atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepada Habil, saudara kembarnya. Dari sebab yang sepele ini, ketika dipicu oleh dengki, akhirnya berujung kepada pembunuhan yang dilakukan Qabil terhadap saudaranya.<br />
Dan memang, umumnya kedengkian tertuju kepada orang-orang terdekat, saudara, keluarga, teman sejawat, tetangga dan orang-orang yang memiliki ikatan tertentu dengannya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling ingin mendapatkan satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada kepentingan yang mengikat satu sama lain.</p>
<p><strong>Bila Hati Bersih dari Rasa Dengki</strong><br />
Kedengkian bermuara dari hubbud dunya, gandrung terhadap dunia. Baik berupa gila tahta sehingga ia dengki terhadap siapapun yang sedang memegang suatu posisi jabatan yang diinginkan. Atau karena ta’azzuz, gila hormat dan merasa diri lebih mulia. Ia keberatan bila ada orang lain lebih dihormati dari dirinya.<br />
Bagi orang yang memiliki orientasi akhirat, juga ingin damai hatinya di dunia, tentu rasa dengki di hati segera dicampakkannya. Karena tak ada untungnya hati mendengki. Jika ternyata yang kita dengki akhirnya masuk jannah, maka bagaimana mungkin kita sakit hati dan dengki kepada orang yang ternyata menjadi penghuni jannah. Jika ternyata yang didengki masuk neraka, buat apa kita kita iri atas nikmat yang disandang oleh orang yang berakhir dengan pendertaan selamanya. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Sirin, &#8220;Apa untungnya saya mendengki orang atas sesuatu dari nikmat dunia, jika ia ahli jannah, maka bagaimana saya akan mendengkinya padahal ia ahli jannah? dan jika ia ahli neraka maka untuk apa dengki terhadap orang yang bakal masuk neraka?&#8221;<br />
Bersihnya hati dari rasa dengki juga menjadi andalan amal Saad bin Abi Waqas, sehingga dijanjikan Nabi masuk jannah.<br />
Sahabat Anas bin Malik RDL bercerita, Ketika kami sedang bermajlis bersama Nabi SAW, tiba-tiba belia bersabda, “Sekarang, akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni jannah.” Tak lama kemudian, seorang Sahabat Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air bekas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari. Pada hari ketiga, ia diikuti oleh Abdullah bin Umar ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu. Akan tetapi Abdullah bin Umar tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa pada amalan orang itu.Karena penasaran, beliau bertanya tentang amalan yang menjadi unggulannya. Sahabat Anshar itu menjawab, “Saya tidak memiliki kelebihan apa-apa selain yang kamu lihat. Hanya saja, tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”<br />
Allah juga memuji kelebihan sahabat Anshar yang tidak mendengki atas kaum Muhajirin yang mendapatkan banyak keistimewaan,<br />
“Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.&#8221; (QS. Al-Hasyr 9)<br />
Para ulama ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan,<br />
Yakni, tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, berupa kedudukan, tingkatan, dan penyebutan yang mendahulukan Muhajirin ketimbang penyebutan Anshar.<br />
Ya Allah jagalah hati kami dari sifat iri dan dengki. Amien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/derita-abadi-karena-dengki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Dengki dan Persaingan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/antara-dengki-dan-persaingan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/antara-dengki-dan-persaingan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:11:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[dengki]]></category>
		<category><![CDATA[hasad]]></category>
		<category><![CDATA[iri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arrisalah.net/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sekecil apapun kadarnya, semua orang pernah merasakan kedengkian. Hanya saja sikap yang diambil ketika dengki mulai tumbuh, masing-masing orang berbeda. Ada yang segera memangkasnya, ada pula yang membiarkannya tumbuh menjadi pohon hasad yang berbuah kezhaliman.
Dengki dalam bahasa kita adalah perasaan tidak suka pada orang tertentu yang meraih atau mendapat suatu karunia. Dengki sering digunakan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekecil apapun kadarnya, semua orang pernah merasakan kedengkian. Hanya saja sikap yang diambil ketika dengki mulai tumbuh, masing-masing orang berbeda. Ada yang segera memangkasnya, ada pula yang membiarkannya tumbuh menjadi pohon hasad yang berbuah kezhaliman.<span id="more-87"></span><br />
Dengki dalam bahasa kita adalah perasaan tidak suka pada orang tertentu yang meraih atau mendapat suatu karunia. Dengki sering digunakan untuk memaknai hasad. Tapi hasad, sebenarnya, bukan hanya perasaan tidak suka tapi juga disertai keinginan agar nikmat tersebut berpindah tangan atau hilang darinya. Sehingga tak mengherankan jika hasad sering menjadi biang kerok dari berbagai tindak kezhaliman sebagai bentuk pelampiasannya. Sampai-sampai, ada ayat khusus yang memerintahkan manusia berlindung dari ulah pendengki (QS. Falaq; 5).<br />
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan dengki; persaingan, dendam, sifat takabur, dan kebencian. Atau, dengki yang memang sudah mengurat akar menjadi karakter hati seseorang. Dimana hatinya senantiasa gelisah terhadap apapun yang didapatkan orang disekelilingnya dan ingin merampasnya.<br />
Jika kita klasifikasikan menurut levelnya, dengki akan terbagi menjadi tiga level;<br />
Pertama, perasaan tidak suka pada orang lain, tetangga atau saingan, atas nikmat yang diperoleh, namun perasaan ini segera diredakan. Rasa semacam ini muncul begitu saja dalam hati. Biasanya, hal itu disebabkan karena orang yang mendapat nikmat tersebut berada pada strata yang lebih rendah daripada dirinya dalam hal tertentu. Sehingga ketika dia mampu meraih atau mendapat sesuatu yang lebih, dengki pun muncul di hati. Akan tetapi karena segera diredakan – mungkin dengan instrospeksi diri bahwa setiap manusia memiliki nasibnya sendiri-sendiri misalnya-, kedengkian itu meredup dan padam. Maka, selamatlah ia.<br />
Kedua, kedengkian yang dipendam dan dibiarkan membara dalam hati. Tidak segera diobati tapi juga tidak dilampiaskan. Memang, Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa asalkan tidak dilampiaskan, kedengkian tidak akan membahayakan. Namun seringnya, tidak dilampiaskannya dengki tersebut bukan karena tidak mau, tapi lebih karena tidak mampu. Kedengkian semacam ini, meski tidak memunculkan perbuatan buruk berupa kezhaliman tapi akan menyebabkan hati menjadi kotor. Ia seperti bom waktu yang meledak jika ada kesempatan. Intinya, rasa ini juga harus dihilangkan.<br />
Ketiga, kedengkian yang dilampiaskan. Level pelampiasan dengki paling rendah adalah dengan ucapan. Saat melihat yang didengki mendapat nikmat, kedengkian mengontrol lidahnya untuk merajut kata-kata keji; fitnah, ghibah, komentar miring dan berbagai ungkapan ketidaksukaan. Level selanjutnya adalah kezhaliman. Bermula dari rasa dengki, berlanjut menjadi perampasan, pencurangan hingga pembunuhan. Ada banyak contoh dalam hal ini, mulai dari Kisah Adam-Iblis, Habil Qabil, Yusuf dan saudaranya dan contoh lain di sekitar kita.</p>
<p><strong>Antara dengki dan persaingan </strong><br />
Dalam semua literatur, dengki selalu dimasukkan dalam kategori al akhlaq al madzmumah, atau akhlak yang tercela. Ketercelaan ini bisa kita lihat dari mana asal dengki ini tumbuh. Seperti yang sudah disebutkan, motivasi tumbuhnya kedengkian rata-rata adalah motivasi yang buruk. Bisa juga dari sisi pelampiasannya berupa berbagai tindak kedzaliman.<br />
Namun, jika kita cermati, rasa dengki sebenarnya hanyalah salah satu kategori dari sifat manusia yang selalu ingin bersaing (kompetisi). Bedanya, hasad atau dengki memilih jalan kiri untuk meraih keinginan; cara-cara kotor dengan tujuan  merampas atau menghilangkan nikmat dari yang didengki dan berbagai tindakan tercela. Sedang persaingan (munafasah) secara umum, adalah semacam rasa iri dan ketidakrelaan untuk disamai atau disaingi, yang kemudian memicu semangat untuk melakukan/meraih hal yang sama atau lebih. Sehingga, motivasi berupa rasa iri ini tidak semuanya buruk. Statusnya mubah jika dalam urusan mubah. Misalnya persaingan dalam hal bisnis, prestasi akademik dan lainnya. Tentu saja jika cara yang digunakan bersih. Tak hanya mubah, bahkan jika persaingan tersebut dalam hal kebaikan, bisa menjadi persaingan yang berpahala atau at tasabuq bil khairat saling berlomba dalam kebaikan. Rasa iri dalam kebaikan disebut ghibtah.<br />
Rasulullah bersabda,<br />
“Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; (yaitu) seorang yang diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkannya di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yang Allah beri harta lalu menginfakkannya di waktu-waktu malam dan siang.” (HR. Muslim).<br />
Nabi menamakan rasa itu sebagai hasad sebagai bentuk majaz karena secara motivasi ada kesamaan yaitu ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain. Penjelasan panjang ini disarikan dari keterangan Ibnul Hajar dalam kitab Fathul Bari; 1/119 ketika menjelaskan maksud hadits di atas.</p>
<p><strong>Tinggal Pilih</strong><br />
Nah, dari dua kategori hasad ini, manakah yang sekarang tengah tumbuh dalam hati kita? Adakah kedengkian yang buruk yang hanya menyiksa dan memenjarakan hati dalam kegelisahan? Kita berlindung kepada Allah dari hasad ini. Ataukah hasad yang baik? Yang menjadi motivasi kuat bagi kita untuk berlomba dalam kebaikan?Atau jangan-jangan, kita tidak dengki pada siapapun, tapi juga tak pernah iri dan termotivasi dengan kebaikan dan prestasi orang lain? Semoga saja tidak, karena kondisi ini, bisa menjadi pertanda buruk bagi iman dan semangat keislaman kita. Wallahua’lam. (T. Anwar)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2009/09/antara-dengki-dan-persaingan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
