<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Abu Umar Abdillah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 08:46:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Wudhu, Bersihkan Diri Sucikan Hati</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 03:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu bersihkan hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1573</guid>
		<description><![CDATA[Ali bin Husein apabila berwudhu, wajahnya berubah menjadi pucat. Tatkala ditanya, “Apa yang terjadi dengan Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?” Adalah Ali bin Husein, apabila beliau berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya, “Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/muthalaah.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1565" title="muthalaah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/01/muthalaah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><em>Ali bin Husein apabila berwudhu, wajahnya berubah menjadi pucat. Tatkala ditanya, “Apa yang terjadi dengan Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”</em></p>
<p>Adalah Ali bin Husein, apabila beliau berwudhu maka wajah beliau berubah menjadi pucat. Tatkala beliau ditanya, “Apakah yang terjadi pada Anda saat berwudhu?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku hendak berdiri menghadap?”</p>
<p>Lazimnya, tatkala seseorang hendak menemui seorang pejabat yang dihormati dan dicintai misalnya, ia akan memperbagus tampilan sebelum bertemu. Ia akan bersih diri, memakai pakaian yang paling bagus dan memakai minyak yang paling wangi. Ia pun akan bercermin dan meneliti secara detil hal-hal yang sekiranya dapat mengundang kesan tidak baik dalam pandangan pejabat yang dimaksud. Itupun disertai perasaan gugup, takut dan sekaligus berharap akan mendapat sambutan yang baik. Begitulah keadaan seseorang yang hendak menghadap pejabat. Lantas bagaimana keadaan seorang hamba yang sedang mempersiapkan diri untuk menyambut panggilan Pencipta-nya untuk menghadap?</p>
<p>Alasan inilah yang membuat raut wajah Ali bin Husein berubah. Beliau memahami bahwa shalat berarti menghadap dan menyambut undangan Pencipta yang berkuasa untuk berbuat apapun terhadapnya. Sedangkan wudhu adalah persiapan untuk menyambut undangan agung tersebut.</p>
<p>Adapun sekarang, betapa sedikit orang yang mencapai penghayatan demikian dalam. Wudhu hanya sebatas formalitas dan aktifitas lahir yang tidak menyertakan amal bathin. Sehingga, amal yang sejatinya besar ini tidak banyak memberikan pengaruh yang signifikan ke dalam hati, selanjutnya nihil pula dampaknya dalam amal perbuatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wudhu dan Kesucian Hati</strong></p>
<p>Sejatinya, wudhu memiliki dua dimensi kesucian yang menjadi tujuan. Suci lahir dan suci batin. Sisi lahir adalah sucinya anggota badan, dan sisi batinnya adalah penyucian hati dari noda dosa dan maksiat dengan bertaubat. Oleh karena itu Allah menyandingkan antara taubat dan thaharah (bersuci) dalam firmanNya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”</em> (QS. Al-Baqarah: 222)</p>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam <em>Bada’i al-Fawa’id</em> menjelaskan ayat ini, “Bersuci yang dimaksud ada dua hal; bersuci dari hadits dan najis dengan air, dan bersuci dari kesyirikan dan kemaksiatan dengan taubat. Dan poin kedua inilah yang menjadi inti. Karena bersuci dengan air tidaklah berguna tanpa bersuci dari syirik dan maksiat. Maka mempersiapkan dan mencurahkan kesungguhan untuk mendapatkan kesucian hati lebih diprioritaskan. Sebagaimana seorang hamba tatkala masuk Islam, dia terlebih dahulu membersihkan kesyirikan dengan bertaubat, baru kemudian bersuci dari hadats dengan air.”</p>
<p>Pada kesempatan yang lain, dalam Kitab Ighaatsatul Lahfaan beliau juga berkata, “Dengan hikmah-Nya, Allah menjadikan kebersihan sebagai persyaratan untuk berjumpa dengan-Nya, karena itu seorang yang melaksanakan shalat tidak boleh bermunajat dengan-Nya kecuali setelah bersuci. Demikian pula Allah menjadikan kebersihan dan kebaikan sebagai syarat untuk masuk jannah, sehingga tidak masuk jannah kecuali orang yang baik dan suci. Itulah dua jenis kesucian, suci badan dan suci hati. Karena itu, orang yang selesai berwudhu diperintahkan berdoa,</p>
<p dir="RTL">أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ.</p>
<p>“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan jadikan aku termasuk orang-orang yang beriman.”  (Lafal ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, shahih dan memiliki beberapa syawahid, seperti yang diutarakan oleh al-Albani dalam al-Irwa’)</p>
<p>Kebersihan hati diperoleh dengan bertaubat dari dosa, sedangkan kebersihan badan bisa diperoleh dengan air. Tatkala seseorang telah memiliki dua macam kebersihan, maka ia layak untuk berjumpa dengan Allah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dan Dosa pun Berguguran</strong></p>
<p>Dosa bagi hati, laksana penyakit bagi badan. Setiap kali bertambah dosa, bertambah pula tingkat keparahan penyakit yang diderita oleh hati. Hingga tatkala tak diiringi dengan penawar, sementra penyakit bertambah akut, lambat laun hati akan mati. Dosa juga menimbulkan karat di hati. Setiap kali jasad melakukan satu dosa, muncullah satu bercak hitam di hati. Jika tidak dibersihkan dan dosa terus bertambah, maka bercak hitam akan memenuhi permukaan hati, hingga hati menjadi buta, gelap dan tertutup dari cahaya iman. Inilah ‘rona’ yang dimaksud dalam firman Allah,</p>
<p><em>“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” </em>(QS. Muthaffifiin;14).</p>
<p>Wudhu menjadi salah satu penggugur dosa dan pembersihnya, hingga racun hati menjadi tawar, penyakit menjadi hilang dan karat di hati menjadi bersih. Nabi shallallahu alaihi wasallam,</p>
<p dir="RTL">“إِذَا تَوَضّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ (أَوِ الْمُؤْمِنُ) فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ (أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ) حَتّى يَخْرُجَ نَقِيّاً مِنَ الذّنُوبِ”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan kedua matanya bersamaan dengan keluarnya air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh tangannya, akan keluar dari kedua tangannya setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau tetesan air yang terakhir. Jika dia membasuh kedua kakinya, akan keluar setiap dosa yang pernah diperbuat oleh kedua kakinya bersama dengan air atau tetesan air yang terakhir, sehingga dia akan keluar dalam keadaan benar-benar bersih dari dosa.” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>Wudhu pun harus <em>Khusyu’</em></strong></p>
<p>Seyogyanya, kita hadirkan hati dan batin kita saat berwudhu. Sadar bahwa anggota wudhu yang kita basuh kerap melakukan dosa, dan kita berharap agar Allah menggugurkan dosa bersamaan tetesan air wudhu. Bukankah apa yang kita basuh di saat wudhu adalah anggota badan yang sering bersentuhan langsung dengan maksiat? Mata memandang yang haram berkali-kali, tangan berbuat aniaya bertubi-tubi, kaki melangkah ke tempat-tempat yang tidak Allah ridhai? Begitupun dengan lisan yang tak terkendali, hingga disunnahkan pula untuk berkumur sebagai penyuci.</p>
<p>Sertakan pula penyesalan dan taubat hati dari segala hal yang bisa mengotori, agar ia menjadi suci. Inilah yang disebut dengan wudhunya hati atau wudhu batin. Seperti perbincangan di antara dua ulama dan ahli ibadah berikut ini,</p>
<p>Suatu hari, Isham bin Yusuf menghadiri majlis Hatim Al-Asham, Isham bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?” Hatim menjawab, “Apabila masuk waktu shalat aku berwudhu dengan lahir dan bathin.” Isham bertanya, “Bagaimana maksud wudhu lahir dan bathin itu?” Hatim menjawab, “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu bathin adalah membasuh hati dari tujuh perkara; bertaubat, menyesali dosa yang dilakukan, tidak tergila-gila oleh dunia, tidak mencari pujian orang (riya’), tidak gila jabatan, membersihkan dari kebencian dan kedengkian.”</p>
<p><strong>Antara Air dan Sucinya Hati</strong></p>
<p>Bersuci dengan air memang memiliki kaitan erat dengan bersihnya hati dari dosa. Karenanya, dalam salah satu doa Nabi shallalahu alaihi wasallam berbunyi,</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ya Allah cucilah dosa-dosaku dengan air, dan salju dan barad (air hujan es).” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Bagaimana Allah membersihkan kesalahan-kesalahan dengan air dan salju? Bukankah air panas lebih efektif untuk membersihkan kotoran?”</p>
<p>Beliau menjawab, “Kesalahan-kesalahan menyebabkan hati menjadi panas, kotor dan lemah. Akibatnya, hati menjadi lembek, sementara api syahwat berkobar di dalamnya. Kesalahan dan dosa ibarat kayu bakar yang tersulut api, semakin banyak kesalahan, maka nyala api di hati semakin besar, dan hati semakin lemah. Air akan membersihkan kotoran sekaligus mematikan api. Apabila air tersebut dingin, ini bisa menjadikan badan lebih kuat dan lebih kokoh. Bila air tersebut disertai dengan salju dan barad, maka akan lebih menyegarkan, menguatkan dan mengokohkan badan. Dengan demikian, ia lebih banyak menghilangkan dampak dan pengaruh dari  kesalahan-kesalahan tersebut.”</p>
<p>Begitulah keagungan wudhu, hingga kita pun tahu, tak ada satu syariatpun yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, kecuali mengandung maslahat yang besar. Bukan sekedar formalitas, apalagi hanya iseng. Bahwa ada yang belum merasakan efeknya secara signifikan, itu dikarenakan minimnya pengetahuan, di samping masih jauh dari pengamalan yang benar. Semoga wudhu kita bisa menjadi pembersih bagi diri dan hati kita. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/01/wudhu-bersihkan-diri-sucikan-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Derita karena Dusta</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 02:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[derita karena dusta]]></category>
		<category><![CDATA[muthola'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1460</guid>
		<description><![CDATA[Tak seorangpun rela dan suka dibohongi. Tapi anehnya, rata-rata orang tidak membenci dirinya berbohong. Sebagian bahkan merasa enjoy dan menikmati kebiasaan dusta. Memang, awal mula dusta itu tidak terjadi begitu saja. Ada faktor pemicunya, dan ada segudang alasan sehingga banyak orang nekat melakukannya. &#160; Untung Diharap, Apes Didapat Adakalanya seseorang berdusta demi mendapatkan berbagai manfaat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/derita-dusta.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1464" title="derita-dusta" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/derita-dusta-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Tak seorangpun rela dan suka dibohongi. Tapi anehnya, rata-rata orang tidak membenci dirinya berbohong. Sebagian bahkan merasa enjoy dan menikmati kebiasaan dusta. Memang, awal mula dusta itu tidak terjadi begitu saja. Ada faktor pemicunya, dan ada segudang alasan sehingga banyak orang nekat melakukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Untung Diharap, Apes Didapat </strong></p>
<p>Adakalanya seseorang berdusta demi mendapatkan berbagai manfaat. Seperti dusta yang dijalani saat berjual beli. Dalam hitungan matematis, pembohong itu merasa mendapat keuntungan dengan menipu. Karena dia mendapatkan selisih keuntungan dari takaran, timbangan maupun kualitas barang. Hingga dusta menjadi jurus andalan untuk mengeruk keuntungan.</p>
<p>Ia lupa bahwa ada Dzat yang kuasa menentukan kadar keuntungan, yang tidak terikat oleh rumus matematis atau kalkulasi yang dibuat oleh manusia. Dzat yang kuasa untuk menimpakan kebangkrutan di luar perhitungan para penipu yang ingin kaya dengan cara berbuat curang. Dan Nabi telah mengabarkan kerugian yang dialami oleh orang yang berjual beli dengan dusta,</p>
<p dir="RTL">الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا</p>
<p>“Dua orang yang bertransaksi jual beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menerangkan (apa adanya), maka keduanya akan diberi barakah dalam jual belinya. Tapi bila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat) maka akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR Bukhari dan Abu Dawud)</p>
<p>Alloh berkehendak membalas tipu daya orang yang ingin meraup untung dengan jalan yang haram. Hingga apa yang didapatkan akhirnya berkebalikan dengan apa yang diharapkan. Dusta akan melenyapkan keberkahan dan kemanfaatan rejeki, mendatangkan kesulitan dan kesempitan, serta menghilangkan kepercayaan pelanggan terhadapnya. Karena betapapun pintar seseorang menyembunyikan kedustaan, akhirnya akan terendus juga. Dan tatkala orang-orang telah mengetahui pedagang yang suka mengelabuhi, maka takkan ada lagi yang sudi untuk berjual beli.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mencari Simpati Menuai Caci </strong></p>
<p>Adakalanya seseorang berdusta untuk menaikkan gengsinya di hadapan manusia. Atau ingin menarik simpati orang yang diajaknya bicara. Iapun berusaha memoles kata, menghiasi cengkerama dengan kisah yang hiperbola, dan membumbui cerita dengan data-data dusta tentang dirinya. Tentang aset yang dimilikinya, kepahlawanannya, atau aktifitas palsu yang membuat lawan bicara berdecak kagum terhadapnya.</p>
<p>Hanya orang yang cupet nalar dan berakal dangkal, yang ingin menarik simpati orang dengan jalan mengumbar dusta. Sungguh dia tak pernah belajar dari pengalaman. Bukankah masing-masing kita pernah merasa kecewa berat karena ditipu, merasa jengkel dan betapa merasa bodohnya kita saat kita terbuai oleh kata-kata manis yang menipu. Dan akhirnya kita memutuskan untuk tidak respek kepada si pembohong, dan memberikan stempel buruk terhadapnya. Maka jika kita pernah mengalami peristiwa semisal ini, bagaimana mungkin kita akan menjadikan dusta sebagai cara memperoleh simpati?</p>
<p>Sesaat, terkadang dusta memang bisa menaikkan pamor, menarik simpati pendengar bahkan boleh jadi lawan bicara lantas memutuskan untuk mengiyakan ajakannya. Namun, itu tak akan berlangsung lama. Seperti kata pepatah “sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga.” Dan jeda antara dusta dan waktu terbongkarnya, pembohong tak pernah merasakan lega dan tenang di hatinya. Rasa was-was dan bayang-bayang resiko yang ditimbulkan oleh kebohongannya selalu menghantui pikirannya. Dan iapun tahu, bahwa kelak akan terkuak juga, seperti menunggu bom waktu, yang ia tidak tahu kapan akan meledak dan meluluhlantakkan dirinya.</p>
<p>Yang sebenarnya, tidak ada kata yang lebih enak untuk didengar, lebih menenangkan hati bagi pembicara dan lebih mengundang simpati dari kejujuran. Dan tiada kata yang lebih menyakitkan, membuat hati was-was dan mendatangkan kebencian dari kedustaan. Maka benarlah yang disabdakan Nabi n,</p>
<p dir="RTL">فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَة</p>
<p>“Sesungguhnya kejujuran itu (membawa) ketenangan, dan kedustaan itu (menyebabkan) kebimbangan.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan “hadits hasan”)</p>
<p>Kejujuran tak akan berkurang kadar kebaikannya, meski kita berada di zaman yang dipenuhi oleh atmosfir kedustaan. Yang menganggap kedustaan sebagai kecerdikan, dan memandang kejujuran sebagai kampungan atau kepolosan. Alangkah indah ungkapan sahabat Umar bin Khathab, “Sungguh, aku direndahkan orang karena kejujuranku, itu lebih aku sukai daripada aku disanjung karena kedustaanku.”</p>
<p>Karena sanjungan semisal itu hanyalah semu dan hanya muncul dari orang-orang yang tidak tahu. Sementara yang pasti, dusta itu kotor dan keji. Ada riwayat yang disebutkan oleh Imam Tirmidzi bahwa, “Jika seorang hamba berdusta, maka malaikat akan menjauh darinya sejauh satu mil lantaran bau busuk yang keluar dari lisannya.” Tirmidzi menyatakan haditsnya hasan, hanya saja Syeikh al-Albani menyatakan sebagai hadits dha’if.</p>
<p><strong>Dusta Berakhir Derita</strong></p>
<p>Sebagaimana kerugian akan dialami oleh pendusta dalam hal duniawi, begitupun dalam hal ukhrawi. Satu dusta akan melahirkan dusta kedua untuk menutupi dusta pertamanya. Dusta kedua akan mengundang dusta yang ketiga demi menutupi dusta yang kedua, dan seterusnya. Karena dusta berpotensi kuat untuk beranak pinak dan berkembang biak.</p>
<p>Bukan saja mengundang dusta berikutnya, bahkan dusta bisa menjadi awal dari dosa apa saja. Baik berhubungan dengan Sang Pencipta, maupun dengan sesama manusia. Karena dengan lisannya dia merasa aman untuk menutupi dosanya di hadapan manusia. Maka yang terus menjadi perhatiannya adalah, bagaimana ia bisa berdosa apa saja sekaligus menyiapkan alibi dusta untuk menutupinya. Namun, ia tidak bisa bersembunyi dari Alloh. Jika kedustaannya tak terendus oleh manusia yang mempercayainya, itu bukan berarti Alloh mengasihinya. Bukan pula Alloh tidak punya cara untuk menyingkapnya di tengah manusia. Justru dengan kelihaiannya dalam berdusta, semakin bersemangatlah ia untuk menumpuk dosa, dan jika dosa telah menggunung, kemana lagi ujung perjalanannya kalau bukan ke neraka. Nabi n bersabda,</p>
<p dir="RTL">وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu membawa kepada dosa, dan dosa itu menjerumuskan ke neraka.” (HR )</p>
<p>Semoga Alloh menjauhkan kita dari sifat dusta, aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/12/derita-karena-dusta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyingkap Cela Orang Ternganga Aib Sendiri</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri-2.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 03:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[menyingkap cela]]></category>
		<category><![CDATA[muthala'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1548</guid>
		<description><![CDATA[Pernah tersebar gosip keji tentang Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha,  yang menuduh beliau telah berbuat serong. Adalah Abu Ayyub al-Anshari termasuk sahabat yang sangat hati-hati menjaga pendengarannya, tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang mampir di telinganya. Tatkala istrinya bertanya, “Wahai Abu Ayyub, Tidakkah kamu mendengar desas desus yang memperbincangkan Aisyah?” Beliau menjawab, “Itu hanyalah berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menyingkap-cela.jpg"><img class="alignleft" title="menyingkap-cela" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/menyingkap-cela-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pernah tersebar gosip keji tentang Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha,  yang menuduh beliau telah berbuat serong. Adalah Abu Ayyub al-Anshari termasuk sahabat yang sangat hati-hati menjaga pendengarannya, tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang mampir di telinganya. Tatkala istrinya bertanya, “Wahai Abu Ayyub, Tidakkah kamu mendengar desas desus yang memperbincangkan Aisyah?” Beliau menjawab, “Itu hanyalah berita bohong.” Lalu beliau bertanya kepada Ummu Ayyub, “Apakah kamu pernah melakukan (serong), wahai Ummu Ayyub?” Ia menjawab, “Belum pernah, demi Allah, dan aku tidak akan pernah melakukannya.” Lalu Abu Ayyub berkata, “Demi Allah  (wahai istriku), Aisyah lebih baik dari dirimu.”</p>
<p>Begitulah cara Abu Ayyub menyeleksi informasi. Tidak semua ucapan boleh dinikmati oleh telinga, dan tidak setiap informasi boleh disebarkan kepada orang lain. Ada hal-hal yang seharusnya ia dengar. Ada pula hal-hal yang tidak layak didengarnya. Dan dalam hal yang ia mendengarnya tanpa sengaja, ia seleksi mana yang layak dipercayai dan mana pula yang layak dimusnahkan dari memori. Inilah cara mensyukuri nikmat pendengaran. Seperti jawaban Abu Hazim rahimahullah tatkala ditanya, “Bagaimana cara mensyukuri nikmat pendengaran?” Beliau menjawab, “Jika kamu mendengar kebaikan, maka jagalah dan jika kamu mendengar tentang keburukan, maka sembunyikanlah.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menyebarkan Berita Dusta</strong></p>
<p>Telinga adalah mitra paling setia dari lisan. Dari lisan siapapun ucapan terlontar, memungkinkan telinga untuk menikmatinya, sengaja atau tidak sengaja. Maka, seberapa kuat sensor pendengaran untuk menyaring setiap suara yang masuk, menentukan baik buruknya seseorang. Begitu strategisnya fungsi pendengaran, hingga kelak secara khusus ia  akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah didengarnya,</p>
<p><em>”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.”</em> (QS al-Isra’ 36)</p>
<p>Di antara berita yang pasti sempat hinggap di telinga adalah kabar miring mengenai pribadi dan kehormatan seseorang. Sudah tentu, tidak semua yang didengar telinga itu sesuai dengan realita yang sebenarnya. Pasti ada berita dusta yang berseliweran di telinga. Karenanya Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam memberi stempel ‘pendusta’ bagi orang yang suka menceritakan setiap apa yang didengarnya,</p>
<p dir="RTL">كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta, jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR Muslim)</p>
<p>Betapa ringan lisan membeberkan, betapa nikmat telinga mendengarkan. Akan tetapi, begitu dahsyat efek yang ditimbulkan. Berapa banyak orang-orang yang bersaudara dipisahkan oleh berita-berita bohong? Berapa banyak pasangan suami istri berpisah karena kabar dusta? Dan berapa banyak pula peperangan antar kaum yang dipicu oleh informasi  palsu? Dan berapa banyak orang terpidana karena kesaksian palsu?</p>
<p>Allah Yang Maha Bijaksana telah mengingatkan umat ini, agar masyarakat ini tidak tercabik-cabik, tidak terpecahbelah dan terbakar oleh api fitnah yang tatkala berkobar sulit untuk dipadamkan. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”</em> (QS. al-Hujurat: 6)</p>
<p>Sebagaimana indikasi ayat di atas, bahwa dampak berita dusta itu tak hanya menimpa korban tertuduh. Bahkan bisa jadi yang tertuduh mendapatkan keuntungan. Sebagaimana Allah menghibur Aisyah dan keluarganya terkait berita dusta tentang dirinya,</p>
<p><em>“Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu”</em> (QS. An-Nuur: 11)</p>
<p>Adapun bagi orang yang turut terlibat menyebarkan berita dusta, justru terancam akan menyesal. Bisa saja ia menyesal karena telah turut menyiarkan kabar burung tapi akhirnya terbukti sebagai kabar bohong. Bisa juga ia menyesal karena buntut dari tindakan itu bisa membahayakan dirinya. Tatkala ia menyebarkan berita dusta, berarti telah berlaku zhalim kepada orang lain. Sedangkan orang yang dizhalimi memiliki peluang besar mendoakan keburukan untuk orang yang telah merusak kehormatannya, dan doa orang yang dizhalimi tidak terhalang untuk diijabahi.</p>
<p>Seperti kasus yang menimpa orang yang mencemarkan nama baik Sa’ad bin Abi Waqash ra dengan tuduhan dusta. Sebagaimana diriwayatka oleh Jabir ra,</p>
<p>“Seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengadukan Sa’ad karena ia tidak membagi rampasan secara sama rata, tidak pernah ikut berperang bersama pasukannya dan tidak adil dalam menghukumi sesuatu.”</p>
<p>Mendengar tuduhan itu, maka Sa’ad berdoa, “Ya Allah, jika ia berdusta, maka panjangkanlah umurnya, panjangkan kefakirannya, dan timpakan berbagai fitnah atasnya.”</p>
<p>Ibnu Amir menceritakan bahwa ia menyaksikan laki-laki yang mengadukan Sa’ad itu berumur panjang, sampai-sampai alisnya menutupi mata karena saking panjangnya, ia betul-betul ditimpa kemiskinan, dan di sebuah jalan ia pernah bertemu dengan budak-budak perempuan kemudian mecolek mereka, karena itu ia terkena fitnah. Sewaktu ditanya, “Mengapa kamu bisa jadi begini?” Jawabnya, “Aku menjadi tua bangka dan terkena fitnah karena doa Sa’ad.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Begitulah balasan di dunia. Adapun di akhirat, Allah mengancam orang yang suka menuduh dan menyebarkan berita bohong tentang keburukan seseorang,</p>
<p><em>”Dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun.  Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar</em>” (QS. an-Nuur: 15)</p>
<p>Hingga firman-Nya,</p>
<p><em>”&#8230;mereka terkena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.</em>”(QS. an-Nuur: 23-24)</p>
<p><strong>Menyingkap Aib Orang, Ternganga Aib Sendiri</strong></p>
<p>Berita dusta tentang keburukan seseorang sudah pasti terlarang untuk disebarkan. Lalu bagaimana jika berita tentang aib seseorang itu benar adanya? Sering kita dengar, ketika teguran ditujukan kepada orang yang sedang menggunjing, ia pun segera menyergah, “Saya mengatakan apa adanya, saya tidak berdusta!” Padahal, tidak semua berita yang benar itu boleh menjadi konsumsi publik, atau diperdengarkan orang lain. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam mendefinisikan ghibah atau menggunjing,</p>
<p>“Menyebutkan keburukan tentang saudaramu, hal yang ia tidak suka (diketahui orang lain).” Lalu Nabi ditanya, “Bagaimana jika ternyata apa yang saya sebutkan memang benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab,</p>
<p dir="RTL">إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ</p>
<p>“Jika (aib) itu memang ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah membuat kedustaan tentangnya.” (HR. Muslim)</p>
<p>Itulah ghibah, yang diumpamakan Allah dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.</p>
<p>Jangan disangka, bahwa kerugian hanya menimpa orang yang digunjing. Sejatinya, akibat yang dialami oleh orang yang menggunjing lebih parah. Rata-rata orang yang suka mencacat dan mengumbar aib orang, niscaya akan sedikit mendapat teman. Karena tidak akan ditemukan teman yang tak memiliki cacat, dan tak banyak orang yang bisa bertahan jika cacatnya diumbar oleh temannya sendiri. Alangkah indahnya nasihat Imam asy-Syafi’i kepada Yunus bin Abdil A’la. Beliau berkata, “Wahai Yunus, jika kamu mendengar seorang temanmu melakukan apa yang tidak kamu suka, janganlah kamu lekas memusuhinya, atau memutus persahabatan. Karena sesuatu yang meyakinkan (tentang kebaikan teman) jangan dihapus dengan sesuatu yang masih meragukan (tentang keburukan teman). Sebaiknya, temuilah dia, dan katakan kepadanya, “Telah sampai desas-desus tentang dirimu begini dan begitu&#8230;” Tapi ingat, janganlah kamu menyebutkan sumber beritanya. Jika dia menyanggah dan mengingkari kabar tersebut, maka katakanlah, “Baiklah, kamu lebih jujur dan lebih layak aku percaya.” Dan jangan menambahnya dengan pertanyaan atau komentar yang lain. Namun jika dia mengakui kebenaran berita itu, dan kamu memaklumi alasannya, maka terimalah alasannya&#8230;”</p>
<p>Tak hanya sulit mendapatkan teman, orang yang hobi mengumbar aib saudaranya, maka kelak aibnya akan tersebar. Ini sebagai balasan yang setimpal untuk dirinya. Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda,</p>
<p dir="RTL">يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِى بَيْتِه</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya sedangkan iman belum merasuk di hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, niscaya Allah akan mengawasi aib mereka, dan barangsiapa yang diawasi aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkan aibnya di rumahnya.” (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Jika tak ingin aib kita terbuka, maka jangan coba-coba mengumbar aib saudaranya. Kecuali jika aib itu berupa dosa yang membahayakan orang lain, atau dilakukan terang-terangan dengan bangga. Semoga Allah menutupi aib kita, dan menjaga telinga dan lisan kita dari segala bentuk kezhaliman atas kaum muslimin.aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/11/menyingkap-cela-orang-ternganga-aib-sendiri-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balasan Setimpal Perbuatan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/10/balasan-setimpal-perbuatan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/10/balasan-setimpal-perbuatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 09:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[balasan setimpal perbuatan]]></category>
		<category><![CDATA[nandur ngunduh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1313</guid>
		<description><![CDATA[Adz-Dzahabi dalam Kitabnya al-Kaba’ir, dan juga Ibnu Hajar dalam Kitabnya az-Zawaajir menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seorang laki-laki yang buntung tangannya hingga pangkal lengannya berkata, “Barangsiapa yang melihat keadaanku, maka jangan sekali-kali berlaku zhalim kepada seorang pun.” Lalu orang itu ditanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?” Lalu dia bercerita, “Kisahku sangat menyedihkan. Dahulunya aku seorang  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/balasan-setimpal.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1245" title="balasan-setimpal" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/balasan-setimpal-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Adz-Dzahabi dalam Kitabnya al-Kaba’ir, dan juga Ibnu Hajar dalam Kitabnya az-Zawaajir menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seorang laki-laki yang buntung tangannya hingga pangkal lengannya berkata, “Barangsiapa yang melihat keadaanku, maka jangan sekali-kali berlaku zhalim kepada seorang pun.” Lalu orang itu ditanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?” Lalu dia bercerita, “Kisahku sangat menyedihkan. Dahulunya aku seorang  yang mudah sekali mendzalimi orang. Suatu hari aku melihat seorang nelayan mendapatkan ikan besar yang menakjubkanku. Akupun mendekatinya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku.” Dia menjawab, “Tidak, karena ikan ini akan saya jual dan hasilnya untuk membeli makan bagi keluargaku.” Lalu aku memukulnya dan merebutnya dengan paksa dan langsung pergi. Ketika aku pulang membawa ikan tersebut, tiba-tiba ikan itu menggigit jempol tanganku dengan gigitan yang kuat. Sesampainya di rumah aku letakkan ikan itu, sementara jempol tanganku semakin terasa sakitnya hingga aku tidak bisa tidur karena nyeri.Pagi harinya aku mendatangi tabib dan mengeluhkan rasa sakitku, lalu sang tabib berkata, “Anda terkena infeksi, seharusnya jempol ini dipotong, kalau tidak niscaya akan menjalar ke tanganmu.” Maka saya harus merelakan jempolku diamputasi. Namun rasa sakit telah menjalar ke telapak tangan hingga aku tetap belum bisa tidur karena sakitnya. Akupun kembali mendatangi tabib dan tabib berkata, “potonglah telapak tanganmu, agar penyakit tidak menjalar ke hasta.” Akhirnya telapak tanganku diamputasi juga.”</p>
<p>Penyakit terus menjalar, hingga orang itu harus memotong tangannya sampai siku, lalu dipotong lagi di pangkal lengannya. Hingga seseorang menyarankan agar dia meminta maaf kepada orang yang dizhalimi. Allah berkehendak mempertemukan keduanya, dan penyakit tersebut tak lagi menjalar setelah orang yang dizhalimi memaafkannya.</p>
<p>Begitulah balasan orang yang berlaku zhalim, seperti pepatah ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Balasan Setimpal Dengan Kejahatan</em></strong><strong></strong></p>
<p>Sayyid Husain al-Affaani dalam Kitabnya al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal juga menyebutkan sebuah kisah,</p>
<p>“Ada seorang laki-laki yang memiliki orangtua yang sudah lanjut usia. Dia sudah merasa lelah untuk melayani dan menuruti kemauan ayahnya itu. Hingga suatu ketika ia membawa orangtuanya ke perbukitan. Sesampainya di tempat yang dituju, dia menurunkan orangtuanya dari kendaraan. Orangtuanya bertanya keheranan, Apa yang hendak engkau lakukan terhadapku wahai anakku?” Dia menjawab, “Aku ingin menyembelih ayah!” Ayahnya berkata, “Jika kamu bersikeras untuk menyembelihku, maka sembelihlah aku di bukit yang sana, karena dahulu aku juga menjadi seorang anak yang durhaka, dan aku telah menyembelih ayahku di sana. Tapi ingat, kelak kamu juga akan mengalami hal serupa wahai anakku.”</p>
<p>Betapa kejahatan dibalas dengan perlakuan serupa. Maka hendaknya kita pikirkan bagaimana kita memperlakukan orang lain, sebagaimana kaidah berlaku, ”fakamaa tadiinu tudaanu”, sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan.</p>
<p>Kisah yang lain diangkat oleh at-Tanuukhi dalam bukunya al-Faraj Ba’da asy-Syiddah,</p>
<p>“Seorang menteri di Baghdad telah merampas dengan paksa harta kekayaan seorang wanita tua. Segala harta milik wanita itu dijarah dengan cara licik. Lalu wanita itu datang menuntut haknya di hadapan sang menteri sambil menangis. Namun sang menteri tak mau peduli, tidak jera dan tidak mau bertaubat atas kesalahannya itu. Kemudian wanita itu mengancam, “Jika engkau tidak mengembalikannya juga, aku akan memohon kepada Allah agar engkau celaka.” Menteri itu malah tertawa mengejek seraya berkata, “Berdo’alah pada sepertiga malam.” Begitulah ucapan yang keluar dari orang yang  fasik lagi pongah. Wanita itupun pergi meninggalkannya. Pada setiap sepertiga malam terakhir, ia selalu berdo’a. Tak berapa lama berselang, menteri itu dipecat dari jabatannya, dan seluruh harta bendanya disita. Ia diikat di tengah pasar dan dicambuk sebagai hukuman menurut ketentuan majelis hakim atas kekejamannya terhadap rakyatnya. Pada saat itu wanita tua itu lewat sambil melihat siapa yang sedang diikat itu. Begitu melihatnya, ia berkata, “Engkau benar, engkau telah menganjurkan kepadaku untuk berdo’a di sepertiga malam terakhir, ternyata terbukti bahwa sepertiga malam terakhir itu memang waktu yang terbaik.”</p>
<p>Begitulah, saat orang lalim yang merasa punya kuasa dan kekuatan dengan santai berbuat aniaya, dia lupa bahwa orang yang dizhalimi memiliki senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Karena Nabi saw bersabda,</p>
<p dir="RTL">وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ</p>
<p>“Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari)</p>
<p>Maka orang yang menimpakan kezhaliman kepada orang lain, baik dalam bentuk menipu, mengambil harta orang lain dengan cara yang haram, menyakiti dengan lisan dan perbuatan, atau merusak kehormatan, dan yang ingin mencelakakan orang lain hakikatnya sedang menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Sebagaimana dikatakan, “man hafara hufratan liakhiihi waqa’a fiiha,’ dan barangsiapa menggali lubang untuk saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Belum Mengalami, Bukan Berarti Takkan Terjadi</strong></p>
<p>Banyaknya kasus, kisah dan realita yang menimpa orang zhalim di dunia seringkali tidak membuat mata orang zhalim menjadi terbuka. Mungkin karena mereka merasa tidak bernasib sama. Meski telah berlaku aniaya, namun telah berselang lama tak tampak pula tanda-tanda akan bernasib celaka. Padangan inilah yang membuat mereka terus terlena.</p>
<p>Jika mereka belum merasakan balasan yang setimpal, itu bukan berarti Allah lupa, atau kejahatannya tidak mendatangkan efek apa-apa. Hingga mereka tak merasa perlu menyesali perbuatannya, apalagi menyudahi kezhaliman yang dilakukannya.</p>
<p>Padahal bisa jadi Allah hanya melepaskan ia sementara, hingga pada saat yang tak diduga ia akan dibalas sepadan dengan perbuatannya, dan ia tidak bisa berkutik apa-apa. Allah mengancam mereka dengan firman-Nya,</p>
<p dir="RTL">وَلَا تَحْسَبَنَّ اللهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُ‌هُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ‌</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”<em>Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.</em>.” (QS Ibrahim: 42)</p>
<p>As-Sa’di mengatakan tentang ayat ini, ”Sungguh, ini merupakan ancaman yang keras bagi orang yang berbuat zhalim, sekaligus penghibur bagi orang yang dizhalimi.” Karena orang yang dizhalimi akan mendapatkan keadilan yang sesungguhnya. Kalaupun hingga akhir hayat hukuman belum diturunkan, balasan di akhirat telah menanti. Keadilan hakiki akan ditegakkan. Maka kelak ada orang-orang yang merasakan dampak dari kezhaliman yang ia lakukan. Pahala kebaikan menjadi hilang, dan dosa keburukan banyak tersandang. Hingga ada yang disebut Nabi saw sebagai muflis, yakni orang yang bangkrut. Beliau bertanya kepada para sahabat, ”Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, ”Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun kekayaan.” Lalu beliau bersabda,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّار</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Namun ia juga mencela si anu, menuduh si anu, menjarah harta si anu, menumpahkan darah si fulan dan memukul si fulan. Maka kebaikannya dibagikan untuk ini dan itu hingga ketika kebaikannya habis sebelum cukup melunasi kezhalimannya, maka keburukan orang yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)</p>
<p>Allahumma inna na’udzubika min an-nazhlima au nuzhlama, ya Allah, kami memohon perlindungan kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/10/balasan-setimpal-perbuatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cari Muka Beroleh Nista</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/09/cari-muka-beroleh-nista.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/09/cari-muka-beroleh-nista.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 06:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[cari muka]]></category>
		<category><![CDATA[kehinaan]]></category>
		<category><![CDATA[muka hina]]></category>
		<category><![CDATA[nista dan hina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[Imam al-Hakim meriwayatkan, suatu kali Umar bin Khathab datang ke Syam. Beliau mengenakan izaar (pakaian bawah/semisal sarung), kasut (alas kaki) dan imamah (penutup kepala). Dalam riwayat lain disebutkan pula beliau turun dari onta dan melepaskan kasutnya. Dikalungkannya kedua kasutnya diatas bahu, kemudian ia mengambil kendali ontanya dan dipegangnya sambil mengarungi sungai. Lalu di antara sahabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/cari-muka.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1218" title="cari-muka" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/cari-muka-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Imam al-Hakim meriwayatkan, suatu kali Umar bin Khathab datang ke Syam. Beliau mengenakan izaar (pakaian bawah/semisal sarung), kasut (alas kaki) dan imamah (penutup kepala). Dalam riwayat lain disebutkan pula beliau turun dari onta dan melepaskan kasutnya. Dikalungkannya kedua kasutnya diatas bahu, kemudian ia mengambil kendali ontanya dan dipegangnya sambil mengarungi sungai. Lalu di antara sahabat berkata,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Wahai Amirul Mukmunin, para tentara dan pembesar negeri Syam akan menyambut Anda, tetapi Anda seperti itu keadaannya?” Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Karena itu kami tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah kemuliaan dalam pandangan generasi terbaik. Kemuliaan yang dinilai dari tingkat ketakwaan, pada sejauh mana ia bisa mengabdikan dirinya kepada Allah dan komitmennya terhadap syariat Islam. Bukan kemuliaan yang didapat dengan mencari sanjungan manusia, atau mengukurnya dengan barometer dunia. Dengan karakter itulah, kaum muslimin di waktu itu berwibawa, baik di mata kawan maupun lawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Ingin Mulia, Malah Terhina</em></strong></p>
<p>Ada yang menarik dari kalimat kedua yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ’anhu, “Kita tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.” Karena ketika umat Islam mencari kemuliaan dengan selain Islam, lalu menggantinya dengan nilai-nilai materi duniawi yang ingin dibanggakan di hadapan manusia, maka yang didapatkan adalah kehinaan, dan bukan kemuliaan. Sayang sekali, fenomena inilah yang justru menimpa kaum muslimin hari ini.</p>
<p>Demi kehormatan dan pengakuan ‘modern’ di mata dunia, dengan enteng kebanyakan kaum muslimin menanggalkan identitas keislamannnya, lalu menggantinya dengan identitas Barat yang kafir. Kemuliaan diukur dari seberapa kemiripannya dengan orang kafir. Mengekor kepada tradisi dan cara berpikir Barat dianggap hebat. Dan menjadi pembeo Barat diklaim sebagai kaum moderat. Meskipun tradisi dan keyakinan yang diimpor itu berupa kemaksiatan dan kenistaan. Selainnya, diklaim sebagai kejumudan dan ketinggalan jaman.</p>
<p>Lalu apa hasilnya, kewibawaankah? Bahkan, keadaan kaum muslimin nyaris sempurna atau mungkin sempurna menyamai gambaran umat akhir zaman yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,</p>
<p dir="RTL">يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ الله مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ الله فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Hampir-hampir umat-umat menge-rumuni kalian layaknya orang-orang yang mengerumuni hidangan. Seseorang bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian laksana buih di lautan. Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian perasaan gentar terhadap kalian, dan Allah mencampakkan di hati kalian penyakit al-wahn.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau bersabda, “cinta dunia dan benci (takut) mati.” (HR Abu Dawud, al-Albani menshahihkannya)</p>
<p>Begitulah jika kemuliaan diburu dengan jalan yang salah, Allah menghukum dengan keadaan yang sebaliknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Mencari Muka, Beroleh Nista</em></strong></p>
<p>Tak berbeda halnya dengan balasan bagi masing-masing individu. Ketika seseorang ingin mencari kewibawaan bukan di atas jalurnya, maka justru kehinaan yang akan didapatkannya. Seperti orang yang ingin memperdengarkan kebolehan dan kelebihannya di tengah manusia, agar manusia menyanjungnya. Atau memamerkan kebaikannya agar manusia memujinya, justru akan diganjar dengan aib yang akan terkuak. Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الله بِهِ ، وَمَنْ يُرَائِى يُرَائِى الله بِه</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Barangsiapa berlaku sum’ah, Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barangsiapa berbuat riya’, maka Allah akan memperlihatkan aibnya.” (HR. al Bukhari)</p>
<p>Al-Khaththabi menjelaskan hadits tersebut, “Yakni barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan tidak ikhlas, dan hanya ingin didengar dan dilihat manusia, maka ia akan dibalas dengan terkuaknya keburukan-keburukannya. Sehingga tampaklah apa yang disembunyikan dan dirahasiakannya.”</p>
<p>Peringatan ini semestinya menjadi kontrol dan sarana bagi seorang muslim untuk mawas diri. Jika suatu kali ada aib atau rahasia yang memalukan terungkap, jangan-jangan ada amalan atau ibadah yang mestinya ditujukan kepada Allah, namun dilakukan untuk mengharap pujian manusia semata. Hingga Allah mengganti pujian dengan celaan, kemuliaan menjadi kehinaan, nas’alullahal ‘aafiyah.</p>
<p>Sebagaimana dalam hal ibadah, fenomena ujub, pamer atau merasa hebat dari orang lain terjadi pula dalam hal duniawi.</p>
<p>Demi mendapatkan penghargaan dan penghormatan masyarakat, ada yang memaksakan diri untuk berpenampilan ’wah’ dan selalu mengikuti tren, meski sejatinya dia termasuk orang yang tidak mampu. Dia mengira, bahwa orang-orang akan berdecak kagum melihat penampilannya. Padahal, orang yang mengetahui realita kehidupannya akan geleng-geleng dibuatnya. Bukan karena kagum, tapi karena merasa kasihan bercampur jengkel melihat orang yang tak mau mengaca diri. Orang kaya yang sombong memang tidak terpuji, namun lebih parah lagi jika ada orang miskin yang sombong. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِر</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak akan disucikan, tidak akan dilihat dan baginya adzab yang pedih; orang tua yang berzina, raja yang pendusta dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim)</p>
<p>Bukan berarti orang yang diuji dengan sedikitnya harta tidak boleh berpenampilan menarik. Namun sisi celanya adalah pada mengada-ada dan memaksa diri dalam hal yang sebenarnya ia tidak mampu. Karena selayaknya seorang muslim tampil dalam wujud aslinya, jujur dengan kondisinya, dan tidak memoles diri dengan apa yang tidak dimampui agar disangka sebagai orang yang jauh lebih kaya atau lebih hebat dari kenyataannya. Inilah yang diumpamakan Nabi dengan istilah ’labisu tsaubai zuur’, memakai dua pakaian dusta. Belum lagi buntut dari ambisi tersebut tidak sederhana. Hutang yang menumpuk, kredit yang macet dan seabrek problem yang disandang hanya demi ambisi untuk dipuji.</p>
<p>Adapun orang yang diuji dengan kelebihan harta dan jabatan, lebih banyak lagi yang terjerumus pada sikap angkuh dan sombong. Tentang harta, Qarun dinyatakan tak lulus ujian lantaran ujub dan keangkuhannya, di mana dia berkata,</p>
<p><em>”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.</em> (QS al-Qashash 78)</p>
<p>Begitupun Fir’aun, dinyatakan tak lulus ujian karena sombong atas kekuasaan yang dimilikinya, hingga dia mengaku sebagai tuhan,</p>
<p><em>”berkata (Fir’aun), ”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.</em> (QS an-Nazi’at 24)</p>
<p>Keduanya mati dalam keadaan terhina, dan bagi keduanya azab yang pedih di neraka. Sayangnya, banyak sekali qarun-qarun kecil dan fir’aun-fir’aun kecil yang mengikuti jejak keangkuhannya.</p>
<p>Mereka mengira, dengan unjuk kekayaan atau kekuasaan itu membuat orang akan mencintai mereka, membanggakan dan memuja mereka. Padahal sejatinya, kabanyakan orang muak melihat polah tingkah mereka yang angkuh. Dan berapa banyak orang-orang lemah yang justru mendoakan keburukan untuk mereka. Inikah kemuliaan? Tentu saja kehinaan lebih pas untuk menggambarkan keadaan mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Di Akhiratpun Terhina</em></strong></p>
<p>Belum lagi kelak di akhirat orang-orang yang angkuh akan semakin ternista dan tak berharga. Tak ada yang memandang mereka sebagai orang kaya atau pejabat. Nabi shallallahu alaihi wasallam menggabarkan keadaan mereka di akhirat,</p>
<p dir="RTL">يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِى صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Orang-orang yang sombong pada hari Kiamat akan dihimpun pada hari Kiamat semisal semut kecil dalam bentuk manusia, kehinaan meliputi mereka dari segala penjuru.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan haditsnya hasan).</p>
<p>Begitulah nasib tragis mereka yang mencari kemuliaan dengan jalan menyimpang. Hina di dunia, nista dan siksa di akhirat. Adapun insan yang beriman tentulah menyadari, bahwa izzah dan kewibawaan itu hanyalah milik Allah seluruhnya. Hanya dengan taat kepada Allah pula, kewibawaan umat akan kembali. Firman Allah,</p>
<p><em>”Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”</em> (QS Fathir 10)</p>
<p>Alangkah indah doa yang dipanjatkan oleh seorang ulama salaf, “Ya Allah, muliakanlah aku dengan taat kepada-Mu, dan jangan hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu.” Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/09/cari-muka-beroleh-nista.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syariat Dibuang, Nestapa Menghadang</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/08/syariat-dibuang-nestapa-menghadang.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/08/syariat-dibuang-nestapa-menghadang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 07:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[membuang syariat]]></category>
		<category><![CDATA[meremehkan syariat]]></category>
		<category><![CDATA[syariat dibuang]]></category>
		<category><![CDATA[tidak memakai syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari yang kita lalui di zaman ini, betapa sering kita mendengar kasus pencurian, perjudian, mabuk-mabukan, suap menyuap, korupsi, perzinaan, pembunuhan, penipuan, pengkhianatan, aborsi dan bunuh diri. Jika masing-masing pelaku ditanya tentang alasan yang mereka perbuat, hampir tak ada perbedaan secara substansial dari setiap jawaban mereka. Yang satu ingin mereguk kesenangan, yang lain ingin menyudahi penderitaan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/syariat-dibuang.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1116 alignleft" title="syariat-dibuang" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/syariat-dibuang-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Hari-hari yang kita lalui di zaman ini, betapa sering kita mendengar kasus pencurian, perjudian, mabuk-mabukan, suap menyuap, korupsi, perzinaan, pembunuhan, penipuan, pengkhianatan, aborsi dan bunuh diri.</p>
<p>Jika masing-masing pelaku ditanya tentang alasan yang mereka perbuat, hampir tak ada perbedaan secara substansial dari setiap jawaban mereka. Yang satu ingin mereguk kesenangan, yang lain ingin menyudahi penderitaan, dan yang lain lagi tak ingin hidup menderita di masa depan.</p>
<p>Ditambah lagi, situasi yang tak menentu dan problem multi dimensi yang dihadapi masyarakat, membuat mereka gagap mencari solusi. Di lain isi, banyak pilihan cara yang dipublikasikan, berbagai metode ditawarkan, bermacam program dijajakan, yang kesemuanya menarik untuk dijajal. Maksud hati ingin memperoleh kehidupan yang lapang, namun ujung-ujungnya justru kembali pada kesesatan, keruwetan, kebingungan dan problem yang tak berkesudahan.</p>
<p>Semestinya, di momen Ramadhan yang merupakan syahrul Qur’an, menyadarkan kita, bahwa kembali kepada syariat adalah solusi yang pasti, sebagaimana akar dari seluruh nestapa dan derita adalah berpalingnya manusia dari syariat.</p>
<p>Telah ada jaminan pasti, bahwa siapapun yang berpaling dari peringatan Allah, membuang aturan dan syariat-Nya, niscaya akan berbuah nestapa yang tak ada kesudahannya. Firman Allah,</p>
<p><em>Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta&#8221;. Berkatalah ia:&#8221;Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat&#8221; Allah berfirman:&#8221;Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu dilupakan&#8221;. </em>(QS. Thaha: 124-126)</p>
<p>Dosis peringatan dalam ayat ini benar-benar tinggi. Langsung mengena pada akar segala penyakit ruhani berupa kufur, nifak, maksiat dan lainnya dengan ancaman hukuman maksimal mencakup hukuman dunia, alam barzakh dan akhirat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nestapa di Dunia</strong></p>
<p>Hukuman bagi siapapun yang berpaling dari syariat, telah dirasakan saat ia masih hidup di dunia. Sempitnya penghidupan di dunia akan disandang oleh orang yang berpaling dari ketaatan, lalu cenderung pada hawa nafsu dan bujuk rayu setan. Makna penghidupan yang sempit (<em>ma‘isyatan dhanka</em>). Dan secara bahasa, makna <em>dhankan</em> adalah <em>dhayyiqah syadiidah</em> (kesempitan yang luar biasa).</p>
<p>Kalangan mufassirin seperti a<strong>l-Qasimi</strong><strong>, </strong><strong>Ibnu Katsir</strong><strong>, </strong><strong>asy-Syaukani</strong><strong>,</strong> dan yang lain <strong>berpendapat</strong> bahwa kesempitan hidup itu terjadi dunia, karena ancaman itu diikuti dengan ancaman ukhrawi pada ayat berikutnya. Namun ada pula yang menafsirkan, bahwa maksud penghidupan yang sempit adalah disempitkan kuburnya. Dan tidak ada pertentangan di antara dua penafsiran tersebut.</p>
<p>Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin berkata, ”Pendapat yang benar, penghidupan yang sempit itu berlaku baik di dunia maupun di alam barzakh bagi siapapun yang berpaling dari peringatan Allah berupa syariat yang Dia turunkan, maka ia akan merasakan sempitnya hati, suramnya kehidupan, banyaknya ketakutan, kandasnya angan-angan, kelelahan dalam mengejar dunia, bersedih sebelum mendapatkannya, menyesal setelah hilang darinya dan aneka penderitaan yang selalu menyertainya..”</p>
<p>Beliau juga berkata, ”Jikalau sebagian tidak merasakan penderitaan itu, semata-mata karena mereka tengah tenggelam dalam mabuk syahwat, segala rasa itu dienyahkan dari hati dan ia tidak mau berfikir tentangnya.”</p>
<p>Keadaannya seperti orang yang mabuk khamr, hingga lupa akan masalah yang dihadapi, juga terhadap penyakit yang diderita. Bukan karena masalah itu selesai dengan mabuk, atu penyakit sembuh karenanya. Begitulah keadaan orang yang sedang mabuk syahwat.</p>
<p>Tak ada yang janggal dalam hal ini. Semua ini sebagai balasan yang setimpal di dunia. Karena nasib manusia di dunia ini sebagaimana keadaan mereka di akhirat; amat ditentukan oleh penyikapannya terhadap syariat. Siapapun yang berpaling dari syariat, niscaya akan sesat dan akan mengenyam penderitaan yang dahsyat. Begitupun sebaliknya, siapa pun yang taat terhadap syariat dalam bentuk iman dan amal shalih, niscaya akan nikmat dan selamat. Sebagaimana Allah janjikan,</p>
<p><em>”Siapa saja yang mengerjakan amal salih -baik laki-laki maupun perempuan- dalam keadaan beriman sesungguhnya akan Kami beri kehidupan yang baik</em>.”<strong> </strong>(Qs. an-Nahl 97).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Terhimpit Di Alam Kubur</strong></p>
<p>Banyak salaful-ummah yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan sempit dalam firman Allah, “Maka, sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaahaa: 124)</p>
<p>Adalah azab kubur. Dan mereka menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya siksa kubur.</p>
<p>Abu Sa’id al-Khudri menafsirkan ayat tersebut, ”Yakni kubur akan menghimpitnya hingga berantakan tulang rusuknya.”</p>
<p>Mayorits ulama menafsirkan <em>ma’isyatan dhonka</em> dalam ayat ini adalah kehidupan sempit yang akan dirasakan di alam kubur. Tafsir ini didukung dengan sebuah riwayat yang oleh Imam al Albani dinilai hasan. Penggalan riwayat yang cukup panjang tersebut adalah:</p>
<p>Rasulullah SAW bertanya, “ Tahukah kalian apa arti <em>ma’isyah dhanka</em> (kehidupan yang sempit) itu? Shahabat menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah SAW bersabda, “ Itu siksaan bagi orang kafir di kuburnya. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, dia akan diumpankan kepada 99 <em>at tinin</em>. Dan tahukah kalian apa itu at tinin? At Tinin adalah tujuh puluh ular yang masing-masing memiliki tujuh kepala, ular itu akan mematuk dan mencabiknya hingga hari Kiamat.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban).</p>
<p>Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, ad Daruquthni dan lainnya yang dinilai shahih oleh Imam al Albani disebutkan,</p>
<p dir="RTL">وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ، فَيُقَالُ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِي. كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ، فَيُقَالُ لَهُ: لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ، ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً فَيَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: يَضِيقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حَتَّى تَخْتَلِفَ أَضْلاَعُهُ.</p>
<p>“Adapun orang kafir dan munafik, akan dikatakan padanya, “Apa yang kau ketahui tentang orang ini -Nabi Muhammad-?” Dia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan seperti apa yang dikatakan manusia.” Lalu dikatakan, “Kau tidak tahu dan tidak membaca.” Lalu dia dipukul dengan palu besi sekali di antara dua telinganya. Diapun berteriak keras hingga terdengar oleh yang ada didekatnya kecuali jin dan manusia. Sebagian mereka berkata, “Lalu kuburnya menyempit hingga hancur tulang rusuknya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Siksa terakhir yang tak berakhir</strong></p>
<p>Kemudian kalimat <em>wa nahsyuruhum yawm al-qiyâmati a‘mâ</em> (dan Kami akan menghimpunkan mereka pada Hari Kiamat dalam keadaan buta). Secara lahiriah, yang dimaksud dengan <em>a‘ma</em> (buta) di sini adalah hilang atau tidak berfungsinya penglihatan mereka, padahal semasa di dunia mereka adalah orang-orang yang dapat melihat.</p>
<p>Cukuplah ini menjadi gambaran yang mengerikan. Di tempat yang sangat asing dan penuh bahaya, ia dikumpulkan dalam keadaan buta dan terlantar. Sebagai balasan yang sepadan, karena mereka telah membutakan diri dari petunjuk Allah di dunia, maka Allah pun membutakan mata mereka di dunia.</p>
<p>Belum lagi siksa neraka yang menanti. Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan di antara makna penghidupan yang sempit adalah siksa neraka. Salah satu riwayat dari Ibnu Zaid menyebutkan, “ Kehidupan yang sempit itu ada di neraka, di dalamnya ada duri dari api, buah zaqum dan campuran darah dan nanah. Sebenarnya di alam kubur dan juga di dunia hakikatnya tidak ada kahidupan. Kehidupan itu hanya ada di dunia.” (Tafsir ath Thabari XVIII/391).</p>
<p>Itulah balasan bagi yang berpaling dari al Quran. Semakin total manusia berpaling, semakin utuhlah balasan buruk yang bakal diterima. Begitupun sebaliknya, semakin total personal maupun komunal dalam berpegang kepada syariat, maka semakin sempurna pula perolehan kebahagiaan yang didapat. Karena tak ada yang lebih valid kebenarannya daripada aturan Allah. Sistem kehidupan dari <em>Rabb al-‘alamiin</em> ini juga tidak akan pernah kehilangan relevansinya dengan pergantian zaman. Sebab, tidak ada satu pun perkara yang luput dari pengetahuan-Nya, yang tampak maupun yang gaib; dulu, kini, maupun yang akan datang. Karena sifat-Nya Yang Mahabijaksana, maka semua hukum-hukum Allah pastilah adil, dan mustahil zalim, meski terhadap satu orangpun. Semua hukum-Nya sempurna dan tanpa cacat, karena datang dari Dzat Yang Mahasempurna tanpa cacat. Wallahu a’lam. (Abu Umar/Anwar)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/08/syariat-dibuang-nestapa-menghadang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersakit-sakit Dahulu diSiksa Kemudian</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/07/bersakit-sakit-dahulu-disiksa-kemudian.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/07/bersakit-sakit-dahulu-disiksa-kemudian.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 04:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[fir'aun]]></category>
		<category><![CDATA[ingkar]]></category>
		<category><![CDATA[kaum ad]]></category>
		<category><![CDATA[kaum tsamud]]></category>
		<category><![CDATA[luth]]></category>
		<category><![CDATA[qarun]]></category>
		<category><![CDATA[siksa neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1039</guid>
		<description><![CDATA[Selalu ada orang yang menjadi budak dari berbagai jenis kenikmatan, berlaku kufur terhadap Pemberi nikmat, lalu menggunakan nikmat untuk mendurhakai Sang Pemberi. Begitulah waktu abadi orang yang ingkar kepada Rabbnya. Dan karena ingkarnya, Allah pun telah menimpakan berbagai adzab di dunia kepada mereka, sebelum nantinya ada adzab yang lebih dahsyat di akhirat. Yang Durhaka Kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/bersakit-sakit.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1049" title="bersakit-sakit" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/07/bersakit-sakit-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a>Selalu ada orang yang menjadi budak dari berbagai jenis kenikmatan, berlaku kufur terhadap Pemberi nikmat, lalu menggunakan nikmat untuk mendurhakai Sang Pemberi. Begitulah waktu abadi orang yang ingkar kepada Rabbnya. Dan karena ingkarnya, Allah pun telah menimpakan berbagai adzab di dunia kepada mereka, sebelum nantinya ada adzab yang lebih dahsyat di akhirat.</p>
<p><strong>Yang Durhaka Kemudian Binasa</strong></p>
<p>Seperti yang dialami kaum ‘Aad. Mereka adalah kaum yang dianugerahi oleh Allah berupa kekuatan jasad, umur yang panjang dan kekayaan yang melimpah. Akan tetapi nikmat yang semestinya dimanfaatkan untuk mengabdi kepada Allah, justru dipergunakan untuk memusuhi-Nya,</p>
<p>”<em>Dan itulah (kisah) kaum &#8216;Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran)</em>.” (QS. Huud: 59)</p>
<p>Diutusnya Huud atas mereka tidak disambut, melainkan dengan permusuhan. Ibnu Katsier menyebutkan riwayat dari Ibnu Ishaq, bahwa tatkala mereka berlaku kufur, maka Allah menahan turunnya hujan selama tiga tahun atas mereka. Hingga pada saat mereka melihat awan hitam yang menggelayut di langit, mereka bergembira dan menyangka bahwa itu pertanda hujan akan segera turun. Mereka bersorak kegirangan, &#8220;Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami&#8221;. Akan tetapi, Allah berfirman,</p>
<p>”<em>(Bukan!) bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya</em>.” (QS. al-Ahqaaf:  24-25)</p>
<p>Maka Allah tidak menyisakan mereka,</p>
<p>”<em>Adapun kaum &#8216;Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum &#8216;Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).</em>” (QS. al-Haaqah 6-7)</p>
<p>Kisah yang serupa juga dialami oleh kaum Tsamud, kaum Luth, Fir’aun dan bala tentaranya, juga Qarun yang ditenggelamkan ke perut bumi beserta seluruh hartanya. Ini membuka mata manusia sepanjang masa, bahwa pada akhirnya nasib tragis di dunia akan menimpa orang yang ingkar dan durhaka kepada Penciptanya.</p>
<p><strong>Janji Siksa di Neraka</strong></p>
<p>Selain mereka, ada pula kaum atau personal yang telah dijanjikan siksa di neraka lantaran ingkar dan durhaka. Seperti al-‘Ash bin Wa’il. Ibnu Abbas bercerita, ”suatu kali ia mengambil tulang dari sebidang tanah, lalu dia tenteng dengan tangannya. Ia menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sembari berkata dengan sinis, “Apakah Allah akan menghidupkan orang ini setelah menjadi tulang belulang seperti ini?” Maka Nabi menjawab, “Ya, benar, Allah akan mematikan kamu, dan kelak Dia akan menghidupkan kamu lalu memasukkanmu ke dalam jahannam.” (HR al-Hakim)</p>
<p>Allah juga menjanjikan Abu Lahab dengan neraka lantaran kesombongan dan kekafirannya. Tatkala Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy untuk mendakwahi mereka, Abu Lahab memandang urusan itu terlalu sepele hingga para tokoh sekaliber dirinya diundang. Dengan sombongnya ia berkata, “tabban laka (yaa Muhammad), alihadza jama’tana?” Celakalah kamu wahai Muhammad, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?” (HR Bukhari)</p>
<p>Sebagai balasan atas kecongkakan dan celaan Abu Jahal tersebut, turunlah firman Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak”…dan seterusnya.</p>
<p>Ini sebagai balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sebagaimana kaidah, “fakaifa tadiinu tudaanu”, Sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan. Orang yang berlaku zhalim dan fajir akan merasakan pedihnya balasan siksa atas mereka.</p>
<p><strong>Tersiksa Meski Bergelimang dengan Dunia</strong></p>
<p>Yang seringkali luput dari pengetahuan dan penghayatan kaum muslimin adalah siksa dunia atas para pendurhaka. Hakikatnya, siksa yang menimpa orang yang fajir itu tak sebatas nasib tragis mereka di akhir hayat, atau sebatas siksa di akhirat saja. Jauh sebelum itu, tatkala mereka mengikuti selera nafsunya, ingkar dan membangkang kepada Penciptanya, sebenarnya siksa telah mereka rasakan pedihnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata tatkala menafsirkan firman Allah,</p>
<p>”<em>Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam ‘jahim</em>.” (QS. al-Infithar: 14)</p>
<p>”Jangan Anda sangka bahwa bahwa balasan ini hanya berlaku untuk penderitaan (jahim) di akhirat saja, bahkan di tiga alam; di alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat.”</p>
<p>Sekilas, mungkin tampak sulit dipahami, bagaimana mereka dikatakan sengsara dan menderita sementara kita menyaksikan sebagian mereka bergelimang dengan harta dan memperturutkan hawa nafsunya?</p>
<p>Namun, hakikatnya tidaklah sulit untuk dipahami, sebagaimana pula kita meyakini kebenaran firman Allah Ta’ala,</p>
<p>”<em>Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia</em>,” (QS. at-Taubah: 99)</p>
<p>Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, ”Siksa atas mereka itu adalah sesuatu yang bisa disaksikan. Siksa bagi para pemburu dunia, yang menggandrunginya dan lebih mengutamakan dunia dibanding akhirat adalah ambisi mereka untuk mendapatkan dunia, jerih payah mereka untuk mengumpulkannya, dan mereka didera oleh berbagai kesulitan untuk itu. Maka Anda tidak akan mendapatkan orang yang lebih lelah dari orang yang menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarnya.”</p>
<p>Keadaan mereka seperti yang digambarkan sebagaian salaf, ”Barangsiapa yang menggandrungi dunia, maka tiga musibah akan menimpanya; kegelisahan yang sudah pasti, kelelahan tanpa henti dan penyesalan tak terperi.”</p>
<p>Gelisah untuk bersegara mendapatkan keinginannya dan gelisah karena sesuatu yang diinginkan menjadi milik orang lain. Tak ada orang yang lebih parah sifat dengkinya dari orang yang hanya mengutamakan dunia. Makin kuat ambisinya, makin kronis kedengkian yang menyengsarakan hatinya. Karena dia ingin memiliki segalanya, hal yang mustahil untuk diraihnya. Allah menjadikan bayang-bayang kefakiran selalu di pelupuk mata mereka, tidak pernah rasa puas menyapa mereka. Besarnya ambisi untuk memburu kenikmatan yang belum diraih melupakan mereka untuk menikmati hasil yang telah didapatnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ</p>
<p>”Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan (bayang-bayang) kefakiran berada di pelupuk matanya.” (HR Tirmidzi)</p>
<p>Adapun siksa berupa kelelahan dan keletihan sudah pasti. Seluruh raga, hati dan pikiran akan terforsir hanya untuk memperebutkan kenikmatan dunia semata. Sesekali merancang intrik, membuat makar dan bersiasat untuk menjatuhkan dunia orang lain, atau merebutnya dari tangan mereka. Sesekali juga harus mengorbankan segalanya untuk sebuah kehormatan duniawi yang semu.</p>
<p><strong>Bersusah dahulu di Dunia, Lalu Tersiksa di Neraka </strong></p>
<p>Setelah bersusah payah dan lelah dalam memburu dunia, ada yang kemudian berhasil meraih impiannya, ada pula yang gagal mendapatkannya. Namun keduanya sama saja bagi orang yang durhaka, semua berpotensi derita bagi mereka. Ibnul Qayyim RHM berkata, ”Barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah, maka ia akan merasakan pedihnya derita. Baik dia mendapatkan apa yang ia cintai ataupun tidak. Jika ia tidak bisa meraihnya, maka dia tersiksa lantaran tak bisa memilikinya, penderitaannnya sesuai dengan kadar ketergantungan hati terhadapnya. Dan jika apa yang dia inginkan tercapai, maka dia merasakan deritanya pada saat bersusah payah sebelum mendapatkannya, kekhawatiran setelah mendapatkannya, dan penyesalan setelah sesuatu itu hilang darinya.”</p>
<p>Ini seperti yang diungkapkan penyair Arab, ”Siapakah yang lebih tersiksa dari orang yang mencintai (dunia). Meski nafsu mendapatkan manisnya rasa, kau lihat dirinya selalu menyeka air mata. Karena takut akan berpisah darinya, atau karena rindu ingin segera bersua.”</p>
<p>Tidak disangkal, orang mukmin juga mengalami sebagian yang mereka rasakan, berupa keletihan dan kesusahan. Bedanya, setiap kelelahan yang menimpa seorang mukmin bersamaan dengan bergugurannya beban dosa di pundaknya, ia pun menjadi lega. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ</p>
<p>”Tiada sesuatupun yang menimpa seorang muslim berupa kelelahan, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan dan kesusahan, hingga duri yang mengenai dirinya, melainkan dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari)</p>
<p>Berbeda dengan orang kafir yang tidak memiliki pengharapan kepada Allah, keletihannya adalah siksa, ’titik’. Kalaupun masih ada ’koma’, maka kalimat berikut berisi keletihan dan kepayahan yang lebih berat di neraka. Bersakit-sakit di dunia, disiksa kemudian di neraka. Nas’alullahal ’aafiyah. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/07/bersakit-sakit-dahulu-disiksa-kemudian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syukur Bertambah, Nikmat Melimpah</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/06/syukur-bertambah-nikmat-melimpah.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/06/syukur-bertambah-nikmat-melimpah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 02:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[kufur nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[syukur nikmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=966</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa suatu kali hujan turun di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu Nabi bersabda, ”Pagi ini, di antara manusia ada yang bersyukur, namun ada juga sebagian yang kufur. Mereka (yang bersyukur) berkata, ”Hujan ini adalah rahmat dari Allah.” Namun sebagian lagi (yang kufur) berkata, ”Memang benar (hujan turun karena) bintang ini dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/syukur-bertambah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-967" title="syukur-bertambah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/06/syukur-bertambah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa suatu kali hujan turun di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu Nabi bersabda, ”Pagi ini, di antara manusia ada yang bersyukur, namun ada juga sebagian yang kufur. Mereka (yang bersyukur) berkata, ”Hujan ini adalah rahmat dari Allah.” Namun sebagian lagi (yang kufur) berkata, ”Memang benar (hujan turun karena) bintang ini dan bintang itu.” (HR Muslim)</p>
<p><strong>Ada yang Syukur dan Ada yang Kufur</strong></p>
<p>Meski kasus di atas terkait dengan hujan, namun kaidah ini berlaku untuk segela jenis nikmat yang Allah turunkan. Untuk setiap karunia yang Allah berikan, selalu menjadi ujian untuk memisahkan dua golongan, golongan orang yang bersyukur, dan golongan orang yang kufur.</p>
<p>Dikatakan kufur atas nikmat Allah, karena mereka mengalamatkan asal nikmat dan rejeki yang disandangnya kepada selain Allah. Bahwa rejeki datang karena kerja kerasnya, harta berlimpah karena kepiawaian dalam bisnisnya, atau karena semata-mata kondisi ekonomi sedang bagus-bagusnya. Apalagi jika mengalamatkan rejeki diperoleh berkat jimat, pertolongan leluhur, mendatangi dukun atau sesaji yang dilakukannya.</p>
<p>Sebagian lagi yang kurang, atau bahkan tidak bersyukur, mereka tidak peka atas nikmat yang tertuju kepadanya. Mereka tidak menyadari tiap nikmat yang melekat pada dirinya. Karena fokus pikirannya hanya tertuju pada apa-apa yang belum dimiliki.</p>
<p>Mereka  baru sadar, ketika nikmat itu dicabut atau hilang dari genggaman. Inilah karakter kebanyakan manusia sebagaimana yang difirmankan Allah,</p>
<p>”Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya” (QS al-’Adiyaat 6)</p>
<p>Imam Hasan al-Bashri  rahimahullah menyebutkan bahwa maksud ’lakanuud’ (sangat ingkar) adalah yang suka mengingat musibah, namun melupakan nikmat.” Saat musibah datang, atau ada sesuatu yang hilang darinya, maka seakan ia tak pernah memiliki apa-apa selain yang hilang itu. Maka bagaimana Allah akan memberikan nikmat tambahan jika mereka hanya memandang nikmat dengan sebelah mata? Bagaimana pula mereka akan bahagia jika mereka tak mampu mendeteksi segala nikmat yang disandangya? Begitulah siksa bagi orang yang kufur atas nikmat Allah di dunia, sebelum nantinya merasakan pedihnya siksa di akhirat.</p>
<p><strong>Ikat Nikmat dengan Syukur</strong></p>
<p>Berbanding terbalik dengan kufur nikmat. Begitu indahnya nikmat saat direspon dengan syukur. Sungguh kesyukuran itu bahkan lebih berharga nilainya dari nikmat yang disyukuri. Karena ia akan melahirkan banyak sekali buah dan faedah yang akan dirasakan nikmatnya dalam segala sisi, baik di dunia maupun di akhirat. Tidaklah mengherankan, jika target setan menggoda manusia dari segala arah adalah untuk menjauhkan manusia dari kesyukuran, Iblis berjanji,</p>
<p>”Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS al-A’raf 17)</p>
<p>Setan tidak ingin manusia mendapatkan faedah melimpah karena bersyukur. Karena orang yang bersyukur tak hanya terhindar dari siksa akhirat, tapi juga bisa mengenyam selaksa kebahagiaan di dunia.</p>
<p>Kebahagiaan akan terpancar di hati orang yang bersyukur. Tiada orang yang lebih berbahagia dan lebih optimis dari orang yang bersyukur. Syeikh Abdurrahman as-Sa’di menggambarkan kondisi hati orang yang bersyukur, “Orang yang bersyukur adalah orang yang paling bersih jiwanya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Karena hati dipenuhi oleh pujian terhadap-Nya, merasakan hadirnya setiap nikmat-nikmat dari-Nya, dia pun bahagia lantaran bisa menikmati karunia dari-Nya. Lisannya senantiasa basah dengan ungkapan syukur dan dzikir kepada-Nya. Dan semua ini merupakan pondasi terwujudnya kehidupan yang baik, inti dari kenikmatan jiwa, dan rahasia diperolehnya segala kelezatan dan kegembiraan. Ketika hati menyadari dan mendeteksi hadirnya tambahan nikmat, maka harapan terhadap karunia Allah pun semakin bertambah dan menguat.”</p>
<p>Tatkala seorang hamba merasa senang, mengakui nikmat dari Allah dan mensyukurinya, maka Allah tak ingin mencabut nikmat itu darinya. Benarlah ungkapan para ulama bahwa <em>asy-syukru qayyidun ni’am</em>, syukur adalah pengikat nikmat. Dengannya, nikmat-nikmat yang tersandang menjadi langgeng dan lestari. Dan tak ada cara yang paling kuat untuk mempertahankan nikmat selain dari syukur.</p>
<p>Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menurunkan nikmat atas hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Jika ia tidak mensyukurinya, maka nikmat akan diganti dengan musibah. Karena itulah, syukur juga disebut dengan <em>al-haafizh</em> (penjaga), karena ia bisa menjaga nikmat yang telah ada. Syukur disebut juga dengan <em>al-jaalib</em> (yang mendatangkan), karena ia bisa mendatangkan nikmat yang belum di depan mata.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Syukur bertambah, Nikmat Melimpah</strong></p>
<p>Nikmat itu hadir karena syukur. Lalu syukur itu akan mengundang hadirnya tambahan nikmat. Tambahan nikmat akan terus diturunkan kepada seorang hamba, dan tidak akan berhenti hingga hamba itu sendiri yang menghentikan syukurnya kepada Allah. Begitulah kesimpulan cerdas dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>Sesuai dengan kadar syukur seseorang, sebanyak itu pula tambahan nikmat akan tercurah kepadanya. Tatkala menafsirkan firman Allah,</p>
<p>“dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran 145)</p>
<p>Ibnu Katsier rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah Kami akan menurunkan karunia dan rahmat Kami di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar syukur dan amal perbuatannya.” Mereka akan mendapatkan karunia tersebut, dan tak akan terkurangi sedikitpun. Ketika seorang mukmin bersyukur dengan menjalankan ketaatan, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar syukurnya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِى الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِى الآخِرَةِ</p>
<p>Sesungguhnya Allah tidak akan menzhalimi atas satu kebaikan seorang mukmin, Allah akan memberikan imbalan di dunia, dan memberinya pahala di akhirat.” (HR Muslim)</p>
<p>Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang diberi kemudahan dalam memperoleh harta, atau rejeki datang silih berganti itu selalu diartikan sebagai tambahan karunia. Ada kalanya kemudahan melimpah itu sebagai istidraj, Allah hendak membiarkan mereka bersenang-senang sementara hingga nantinya akan disiksa secara tiba-tiba. Maka hendaknya seorang mukmin segera mawas diri, apakah dia sedang berada dalam taat, ataukah maksiat, sehingga bisa dibedakan, apakah kenikmatan itu berupa karunia atukah istidraj.  Nabi saw bersabda,</p>
<p>إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ</p>
<p>”Jika kamu mendapatkan Allah memberikan kemudahan dunia kepada seorang hamba sementara ia bergelimang dengan maksiat sesukanya, maka itu hanyalah istidraj.” (HR Ahmad)</p>
<p>Untuk merealisasikan syukur yang dengannya akan mengundang tambahan karunia, hendaknya kita senantiasa mengingat, merenungi dan mencari-cari kenikmatan yang sudah kita miliki. Dengan cara seperti itu, kita pun akan merasakan nikmatnya karunia, untuk kemudian bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan karunia.</p>
<p>Inilah yang sering dilakukan oleh para ulama. Seperti Fudhail bin Iyadh dan Sufyan bin Uyainah, keduanya duduk bersama di malam hari untuk saling mengingatkan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada keduanya. Sufyan mengatakan, ”Allah telah menganugerahkan kepada kita ini dan itu, Dia telah menolong kita tatkala ini dan itu..” Begitupun halnya dengan Fudhail.</p>
<p>Maka barangsiapa yang ingin diberi tamhahan nikmat, baik dalam hal ilmu, harta, keharmonisan rumah tangga dan segala kemaslahatan yang lain, maka hendaknya mengingat nikmat, lalu mensyukuri dengan lisan dan menggunakan nikmat untuk ketaatan. Karena Allah tidak pernah ingkar janji dengan firman-Nya,</p>
<p>Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema&#8217;lumkan:&#8221;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS al-Maidah 7)</p>
<p>Sebagaimana Allah juga tidak akan mengingkari janji-Nya,</p>
<p><strong>{مَّا يَفْعَلُ اللّهُ</strong><strong> </strong><strong>بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ( النساء :147</strong><strong>(</strong></p>
<p>“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?” (QS an-Nisa’ 147)</p>
<p>Qatadah mengatakan, “yakni Allah tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” Allahumma a’inna ‘alaa dzikri-Ka wa syukri-Ka wa husni ‘ibaadati-Ka, ya Allah bantulah kami untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadahku kepada-Mu. Amiin. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/06/syukur-bertambah-nikmat-melimpah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kendala Sirna Karena Takwa</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/kendala-sirna-karena-takwa.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/kendala-sirna-karena-takwa.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 04:33:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[abu umar]]></category>
		<category><![CDATA[kendala sirna]]></category>
		<category><![CDATA[kendala sirna karena takwa]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[Tak sedikit orang yang berpikir, bahwa hidup tanpa aturan halal haram lebih berpeluang untuk mendapatkan kemudahan. Dengan tanpa aturan mereka merasa memilki lebih banyak pilihan dan jalan. Ingin sukses menjadi pejabat, ingin menjadi orang kaya, ataupun keinginan lain yang disangka mendatangkan kebahagiaan dirinya. Tak peduli dengan cara suap, penghasilan riba, menjual makanan yang haram, menanggalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/kendala.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-950" title="kendala" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/kendala-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Tak sedikit orang yang berpikir, bahwa hidup tanpa aturan halal haram lebih berpeluang untuk mendapatkan kemudahan. Dengan tanpa aturan mereka merasa memilki lebih banyak pilihan dan jalan. Ingin sukses menjadi pejabat, ingin menjadi orang kaya, ataupun keinginan lain yang disangka mendatangkan kebahagiaan dirinya. Tak peduli dengan cara suap, penghasilan riba, menjual makanan yang haram, menanggalkan syariat demi sebuah karier yang kesemuanya terbebas dari pertimbangan syar’i.</p>
<p>Begitupun dalam menghadapi solusi dari setiap problem yang dihadapi. Tanpa mengindahkan batasan syariat, mereka merasa lebih leluasa untuk mencari jalan keluar. Mereka bisa mencoba semua cara yang pernah dilakukan manusia. Baik tatkala menghadapi problem pekerjaan, terlilit hutang, berurusan dengan perselisihan, atau sakit yang tak kunjung sembuh. Mereka bisa mengenakan jimat, mendatangi dukun, berbohong dan cara-cara lain yang rasional maupun tidak, tanpa dibayang-bayangi oleh norma syar’i, halal ataukah haram.</p>
<p>Begitulah logika hawa nafsu yang tidak mengenal Sang Pencipta. Seakan alam ini berjalan begitu saja tanpa ada yang mengaturnya. Seakan kejadian dan peristiwa itu bisa terjadi tanpa kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Urusan Mudah dengan Takwa</strong></p>
<p>Berbanding terbalik dengan logika iman yang Allah ajarkan. Justru dengan takwa, segala urusan menjadi mudah. Dengan membatasi diri dengan yang halal, dan meninggalkan semua cara-cara haram, kemudahan akan didapat. Bukankah Allah yang menciptakan manusia, Dia pula yang paling tahu tentang kebutuhan hamba-Nya, dan jalan apa yang paling mudah untuk meraihnya. Maka Allah menggariskan jalan berupa syariat kepada manusia. Dengannya manusia akan berhasil menemukan keberuntungan dan kemaslahatan yang didambakan, asal mereka sudi menempuh jalannya.</p>
<p>Taat terhadap perintah dan larangan syariat inilah realisasi dari takwa. Makin taat terhadap aturan, makin mulus jalan bagi seseorang untuk meraih tujuan. Tidak mungkin dia akan dikecewakan. Karena mustahil Allah mengingkari janji-Nya, mempermainkan atau menzhalimi hamba-Nya yang telah tunduk dan taat di atas aturan yang digariskan-Nya. Allah telah berjanji,</p>
<p><em>“Adapun orang yang memberi dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah</em>.” (QS. 92:5-7)</p>
<p>Itulah kabar gembira bagi orang yang berbekal takwa dalam memburu kemaslahatan. Dia akan dimudahkan dalam segala urusan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bukan saja kemudahan tatkala mendapatkannya, tapi juga berupa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan yang menyertainya. Orang yang bermuamalah dengan jujur misalnya, maka Allah akan memudahkan urusannya dan memberkahi usahanya. Dan setelah tujuan itu tercapai, pun tidak menyisakan was-was atau kekhawatiran, karena <em>ash-shidqu thuma’niinah</em>, kejujuran itu membawa ketenangan.</p>
<p>Pada ayat berikutnya, Allah menyebutkan yang sebaliknya. Ada kabar buruk bagi orang yang tak mengindahkan takwa, yakni berupa jaminan kesulitan dan kesukaran yang akan ditemuinya. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”</em> (QS al-Lail 8-10)</p>
<p>Ada yang menarik dari dua kondisi berkebalikan yang disebutkan di atas. Sudah sangat maklum ketika Allah menyebutkan, kebalikan dari memberi adalah bakhil, kebalikan dari membenarkan adalah mendustakan, dan kebalikan dari kemudahan adalah kesulitan. Tapi, kenapa Allah menyebutkan kebalikan dari ‘ittaqa’ (takwa) adalah ’istaghna’, merasa tidak butuh (terhadap pertolongan Allah)?</p>
<p>Ada jawaban yang memuaskan dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang hal ini, sebagaimana beliau sebutkan dalam kitabnya <em>At-Tibyaan fii Ahkaamil Qur’an</em>. Beliau menyebutkan, bahwa orang yang bertakwa, tatkala menyadari betapa mereka itu fakir di hadapan Allah, dan amat membutuhkan pertolongan Allah, maka dia takut mengundang murka dan kemarahan Allah, takut melanggar apa yang dilarang oleh Allah. Sungguh ini adalah argumen yang sangat tepat. Bagaimana mungkin seseorang berani membuat kecewa dan sengaja memancing kemarahan Dzat yang berwenang dan Kuasa memberikan segala sesuatu atau mencegahnya?</p>
<p>Maka tepat jika disebutkan bahwa kebalikan dari takwa adalah ’istaghna’, merasa tidak butuh pertolongan Allah. Orang yang tidak merasa butuh pertolongan-Nya, maka dia tidak peduli atas segala tindakannya. Dia tidak takut bermaksiat dan mengundang murka-Nya. Maka sebagai balasan dari rasa congkaknya itu, Allah akan menimpakan kesulitan yang senantiasa mengepungnya dari segala arah. Hingga sulit baginya mendapatkan kemaslahatan hakiki yang menenangkan jiwa dan hati.</p>
<p>Sekilas ada yang janggal, karena faktanya banyak orang yang menempuh jalan haram, namun dengan mudah bisa mencapai tujuannya. Mari kita renungkan dengan seksama, apakah benar mereka mendapatkan kemudahan? Karena ukuran kemudahan itu tidak hanya diukur dari start seseorang memulai usaha sampai tujuan teralisasi. Namun juga melihat resiko di belakangnya. Bagaiamana dikatakan kemudahan, jika setelah tujuan tercapai justru membawa efek kegundahan dan kekhawatiran di belakangnya? Atau bahkan resiko yang lebih besar serta berefek pada keruwetan yang berkepanjangan? Mungkin orang bisa cepat kaya dengan korupsi, tapi apakah ini berarti kemudahan? Bukan..! sekali lagi bukan! Karena hati maling tak pernah tenang, takut jika perbuatannya diketahui. Dan tatkala aksinya benar-benar ketahuan, buntutnya adalah problem berkepanjangan. Ini hanya sekedar sampel, namun begitulah ujung dari semua cara meraih tujuan yang tidak memenuhi unsur takwa, sulit dan rumit. Belum lagi kesusahan yang lebih berat dan lebih kekal akan mereka alami di akhirat kelak, nas’alullahal ’aafiyah.</p>
<p><strong>Kendala Sirna Karena Takwa</strong></p>
<p>Di samping memuluskan jalan meraih kebaikan dan kemaslahatan, takwa juga menjadi solusi mujarab atas semua problem yang dihadapi manusia. Abu Dzar radhiyallahu ’anhu menceritakan, bahwa suatu kali Nabi saw membaca firman Allah,</p>
<p>”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.&#8221; (QS ath-Thalaq 2-3)</p>
<p>Beliau mengulang-ulang ayat itu kemudian bersabda,</p>
<p>ياَ أَباَ ذَرٍّ لَوْ أَنَّ الناَّسَ أَخَذُوْا بِهاَ لَكَفَتْهُمْ</p>
<p>”Wahai Abu Dzar, seandainya manusia mengambil (cara) ini, niscaya akan mencukupi mereka.” (HR al-Hakim beliau mengatakan, sanadnya shahih. Adz-Dzahabi juga menyebutkan dalam at-Talkhis bahwa hadits ini shahih)</p>
<p>Ayat tersebut tidak menyebutkan jalan keluar dari problem apa, ini menunjukkan keumuman makna. Artinya, bahwa takwa menjadi jalan keluar bagi seluruh problem yang di hadapi manusia. Abu al-Aliyah menafsirkan ayat tersebut, ”Yakni jalan keluar dari segala kesulitan. Ini mencakup segala kesulitan di dunia maupun di akhirat, serta kesempitan di dunia maupun di akhirat.”</p>
<p>Inilah resep paling ampuh untuk mengatasi segala masalah. Solusi yang tak mungkin salah. Karena berasal dari Dzat yang Mahatahu dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Banyak sudah bukti yang dirasakan oleh orang-orang yang berusaha merealisasikan takwa. Ibnu al-Jauzi adalah salah satu orang yang telah merasakan khasiatnya. Sebagaimana pengakuan beliau dalam kitabnya ’Shaidul Khaathir’, di mana beliau berkata, ”Suatu kali saya mengalami problem yang rumit. Urusan yang menimbulkan kegundahan berkepanjangan. Lalu aku berpikir keras untuk mencari solusi dari kegelisahan ini. Dari segala solusi yang mungkin, saya kaji dari berbagai sisi, namun saya belum juga mendapat jawaban yang memuaskan. Lalu ditawarkan kepadaku solusi dari firman-Nya,</p>
<p>”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS ath-Thalaq 2)</p>
<p>Lalu saya pun tahu, bahwa takwa adalah solusi paling handal untuk menyudahi segala kegundahan. Maka setiap kali saya berusaha merealisasikan takwa, disitulah saya dapatkan jalan keluar.”</p>
<p>Adapun, cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang fajir, meski sekilas tampak ada penyelesaian dari satu sisi, namun dampak negatif yang ditimbulkannya lebih luas dan lebih berat lagi. Karena Allah menjanjikan kesulitan bagi mereka yang melanggar rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah. Mereka yang lebih percaya dengan jimat, dukun ataupun cara haram yang lain, tak mungkin mendapat solusi yang memadai. Begitupun orang yang tak merasa butuh dengan pertolongan Allah, dan hanya mengandalkan kekuatan fisik dan akalnya semata. Justru rasa takut yang makin akut, depresi yang terus menghantui dan keruwetan yang menjadi-jadi, laksana benang kusut yang tak jelas pangkal dan ujungnya. Belum lagi kesulitan akhirat yang lebih berat dan lebih abadi. <em>Allahumma rahmataka narju, wa laa takilna ilaa anfusina tharfata ’ain.</em> (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/kendala-sirna-karena-takwa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Prasangka Menjadi Nyata</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/karena-prasangka-menjadi-nyata.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/karena-prasangka-menjadi-nyata.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 02:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[abu umar]]></category>
		<category><![CDATA[karena prasangka]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka menjadi nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Hibban meriwayatkan, bahwa Nabi Ayyub AS terjangkit penyakit selama delapan belas tahun. Hingga orang-orang dekat maupun yang jauh mengasingkan beliau. Kecuali dua orang dari saudaranya. Di mana keduanya setiap pagi dan sore menjenguk beliau. Suatu hari, salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, ”kamu tahu, demi Allah Ayyub telah melakukan suatu dosa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/karea-prasangka-jadi-nyata.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-875" title="karea prasangka jadi nyata" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/05/karea-prasangka-jadi-nyata-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ibnu Hibban meriwayatkan, bahwa Nabi Ayyub AS terjangkit penyakit selama delapan belas tahun. Hingga orang-orang dekat maupun yang jauh mengasingkan beliau. Kecuali dua orang dari saudaranya. Di mana keduanya setiap pagi dan sore menjenguk beliau. Suatu hari, salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, ”kamu tahu, demi Allah Ayyub telah melakukan suatu dosa yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di alam ini.” Temannya berkata, ”Apa itu?” Dia menjawab, ”Sejak delapan belas tahun  Allah tidak mengasihi dia.” (Silsilah ash-shahihah, al-Albani menyatakan ’shahih’)<br />
Perbincangan itu sampai ke telinga Ayyub AS. Namun, semua itu tidak menyurutkan harapannya kepada Allah. Beliau ridha atas ketetapan Allah, dengan tetap optimis, bahwa Allah akan mengasihi dan menolongnya. Subhanallah, selama delapan belas tahun, beliau menjaga prasangka baiknya kepada Allah, dan tak pernah turun kadarnya dengan interval waktu yang begitu lama. Hal yang barangkali seandainya terjadi di antara kita (nas’alullahal ’aafiyah), harapan segera pupus setelah beberapa lama berusaha dan berdoa. Atau minimal terjadi pergulatan hebat antara keyakinan, keraguan dan bahkan ketidakpercayaan. Namun, tidak demikian dengan Nabi Ayyub AS. Hingga suatu hari, Allah mewahyukan kepada beliau,<br />
”(Allah berfirman): &#8220;Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum&#8221;. (QS. Shaad 42)<br />
Begitulah, kemudian beliau sembuh total, seperti tidak pernah sakit sebelumnya, dan bahkan keadaannya lebih baik dari sedia kala.</p>
<p><strong>Prasangka Menjadi Nyata</strong><br />
Apa yang dialami Nabi Ayyub alaihis salam itu menguatkan kebenaran hadits qudsy, di mana Nabi saw bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,<br />
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى<br />
”Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR Bukhari)<br />
Selagi seseorang berharap sembuh kepada Allah, dan terus terjaga prasangka baiknya kepada Allah, niscaya Allah akan menyembuhkannya. Begitu pula sebaliknya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, di mana ketika Nabi menengok seorang badui yang sedang sakit, beliau mengatakan, “la ba’sa, thahuurun insya Allah!”, tidak apa-apa, menjadi pembersih (dosa) in syaaAllah. Tapi, si badui itu malah menyanggah dengan kata-kata, “(Penyakit ini menjadi) pembersih katamu? Bukan, ini adalah demam tinggi yang menyerang si tua renta dan akan mengantarkannya ke dalam kubur!” Nabi saw menjawab, “na’am idzan”, ya, baiklah kalau begitu. Maka sakit itupun menyebabkan si badui itu wafat. Begitulah, buruk sangka menghasilkan hasil yang buruk, sebagaimana berbaik sangka kepada Allah membuahkan hasil yang diinginkan.<br />
Betapa sering manusia menghadapi masa-masa menentukan seperti itu; antara sembuh dan tidak sembuh, antara selamat atau tidak selamat, antara optimis dan pesimis, antara berharap dan putus asa. Dan kesudahan yang akan terjadi, sangat bergantung dengan persangkaan dalam hatinya.<br />
Dalam hal perolehan manfaat juga seperti itu. Manusia sering diuji persangkaannya kepada Allah, antara berhasil atau gagal, pesimis ataukah pesimis. Kemana arah persangkaannya, di situlah hasil yang akan dipetiknya.<br />
Begitu pentingnya husnuzhan kepada Allah, hingga Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya ”Husnuzhan Billah”, menyebutkan 151 dalil baik berupa ayat maupun hadits, yang kesemuanya menghasung kita untuk optimis dalam berpengharapan, meninggalkan pesimistis dan putus asa, dan senantiasa konsisten dengan prasangka yang baik.<br />
<strong>Karena Prasangka adalah Doa</strong><br />
Prasangka kepada Allah, tidak sama dengan prasangka kepada selain-Nya. Karena semua makhluk terbatas kemampuannya, sedangkan Allah, kuasa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Berbaik sangka kepada Allah tidak saja menimbulkan semangat berusaha lantaran luasnya harapan dan kesempatan. Namun hakikatnya, prasangka itu adalah permohonan dan doa. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan efek prasangka dalam usaha dan pengharapan, “Setiap kali seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, maka harapanpun yang muncul adalah yang baik-baik, tawakalnya kepada Allah menjadi kokoh. Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan keinginannya sedikitpun. Allah tidak akan menelantarkan orang yang berusaha dengan dilandasi optimis dan prasangka yang baik (kepada-Nya). Maka tidak ada yang lebih melapangkan dada setelah iman kepada Allah, selain percaya penuh kepada Allah, berharap kepada-Nya, dan selalu berbaik sangka kepada Allah.”<br />
Bahkan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu atas dasar hadits qudsy di atas berkata, ”Demi Allah yang tiada ilah yang haq kecuali Dia, tiada seorangpun berbaik sangka kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan sesuai yang disangkanya, karena kebaikan ada di tangan-Nya.” (Atz-Tadzkirah, imam al-Qurthubi)<br />
Maka selayaknya seorang muslim tidak pernah melepaskan husnuzhannya kepada Allah dalam meraih segala kemaslahatan, baik di dunia maupun di akhirat.<br />
Dalam hal perolehan rejeki misalnya. Tak selayaknya seorang muslim khawatir dan takut jatuh dalam kemiskinan. Seakan rejekinya bergantung kepada manusia, musim, atau lingkungan di mana ia tinggal di dalamnya. Buruknya persangkaan ini justru menjadi penyebab sejati, seseorang akhirnya menjadi miskin papa. Karena tatkala ia merasa peluang ma’isyah sempit, menjadi sempitlah harapannya. Kemudian akan menjalar pada lemahnya usaha dia untuk mencari karunia dari Allah. Andai saja dia berbaik sangka, bahwa Allah kuasa membagikan rejeki kepada siapapun, kapapun dan seberapapun, niscaya keadaan akan berubah. Tak ada satu kekuatanpun yang mampu menahan tatkala Allah menghendaki untuk menganugerahkan rejeki kepada kita. Begitupun sebaliknya, tak ada satupun orang hebat, orang kaya, orang yang memiliki lapangan pekerjaan, tidak pula kondusifnya ekonomi sekitar bisa mendatangkan rejeki kepada kita, jika Allah menahannya. Allah berfirman,<br />
”Atau siapakah dia yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizki-Nya? (QS.al-Mulk :21)<br />
Begitupun ketika seseorang berada dalam ancaman, ketakutan dan kekhawatiran atas bahaya yang mengancam. Apa yang menjadi kenyataan pada akhirnya, tergantung persangkaan di awalnya. Orang-orang yang merasa berputus asa untuk berusaha, pun telah pupus harapannya kepada Allah, hanyalah orang yang lemah imannya terhadap kekuasaan-Nya. Merekapun jutsru mendatangi dukun, mengalungkan jimat dan menempuh hal-hal yang jauh dari nalar, jauh dari iman. Allah mencela orang-orang musyrik yang meragukan kekuatan dan kekuasaan Allah, lalu berpaling kepada sesembahan selain Allah,<br />
”Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS az –Zumar 67)<br />
Simaklah bapaknya kau muwahhidin, Khalilullah Ibrahim alaihis salam. Betapa kuat persangkaan baiknya kepada Allah. Bahwa tiada suatu kekuatanpun yang kuasa menahan kehendak-Nya, betapa pula tipu daya manusia itu lemah dan remeh di hadapan kekuasan-Nya. Tatkala Ibrahim alaihis salam dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala, beliau yakin, Allah akan menyelamatkannya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Diapun menyerahkan keselamatannya kepada Allah dengan berucap, “hasbunallah wa ni’mal wakil”, cukuplah Allah sebagai penolong, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Apa yang terjadi setelahnya? Allah membalas lunas persangkaan baik Ibrahim alaihis salam kepada Penciptanya,<br />
“Kami berfirman:&#8221;Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim&#8221;, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan itu mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS al-Anbiya’ 69-70)<br />
<strong>Baik Sangka Hingga Ajal di depan Mata</strong><br />
Husnuzhan kepada Allah, senantiasa berkhasiat sepanjang hayat. Bahkan, di detik-detik akhir kehidupan manusia, husnuzhan lebih dibutuhkan lagi. Karena kegentingan yang dihadapi tak tertandingi. Itulah saat yang paling menakutkan, mengkhawatirkan, sekaligus menentukan apa yang akan terjadi sesudahnya. Maka Nabi saw memperingatkan dengan serius, untuk menjaga husnuzhan sampai titik penghabisan. Beliau bersabda,<br />
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ<br />
”Janganlah salah seorang di antara kamu mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” (HR Muslim)<br />
Anas bin Malik juga menceritakan, bahwa Nabi saw menjenguk seorang pemuda yang sedang menghadapi sakaratul maut, lalu belia bertanya, “Bagaimana keadaan dirimu?” Orang itu berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berharap (baik) kepada Allah, dan saya takut akan dosa-dosaku.” Kemudian Rasulullah saw bersabda,<br />
“Tidaklah berkumpul dua hal itu terkumpul dalam hati seorang hamba di saat seperti ini, kecuali Allah memberikan karunia sebagaimana yang diharapkannya dan akan menyelamatkannya dari apa yang dia takuti.” (HR Tirmidzi, Syaikh al-Albani mengatakan, “hasan”)<br />
Begitulah dahsyatnya prasangka kepada Allah, maka silakan berprasangka kepada Allah, sesuai dengan apa yang Anda suka. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2011/05/karena-prasangka-menjadi-nyata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

