<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Adian Husaini</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jul 2010 06:58:22 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hermeneutika  dan Cara Berpikir Muslim (2)</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2010/06/hermeneutika-dan-cara-berpikir-muslim-2.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2010/06/hermeneutika-dan-cara-berpikir-muslim-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 03:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Masih membahas tentang sifat al-Quran menurut kaum liberal. Dalam buku terbitan Gramedia tersebut, al-Quran yang suci dan dijaga oleh Allah adalah al-Quran yang di Lauhil Mahfuzh.  Sedangkan al-Quran di dunia ini, yang sekarang dipegang oleh kaum Muslim, sejak awal sudah mengalami kesalahan. Setidaknya, tidak dapat dipastikan seratus persen otentik. Bahkan, Dawam Rahardjo yang memberi kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih membahas tentang sifat al-Quran menurut kaum liberal. Dalam buku terbitan Gramedia tersebut, al-Quran yang suci dan dijaga oleh Allah adalah al-Quran yang di <em>Lauhil Mahfuzh</em>.  Sedangkan al-Quran di dunia ini, yang sekarang dipegang oleh kaum Muslim, sejak awal sudah mengalami kesalahan. Setidaknya, tidak dapat dipastikan seratus persen otentik. Bahkan, Dawam Rahardjo yang memberi kata pengantar buku ini, menulis secara terang-terangan, bahwa al-Quran yang sekarang ini, mungkin saja mengandung kesalahan.</p>
<p>Menurut Dawam Rahardjo, mengutip pendapat pemikir liberal Mohammed Arkoun, Kalam Tuhan yang asli adalah yang tersimpan dalam <em>Lauh Mahfuzh</em>. Berikut ini ungkapan Dawam Rahardjo yang merupakan salah satu perintis liberalisasi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an: <em>”Ketika turun kepada Nabi, wahyu itu bekerja dalam pemikiran Muhammad sehingga mengalami transformasi dari bahasa Tuhan ke bahasa manusia. Dan ketika wahyu itu disampaikan kepada sahabat, beberapa sahabat mentransformasikannya pula dalam bentuk transkrip yang tunduk kepada hukum-hukum bahasa yang berlaku. Dan kemudian ketika dilakukan kodifikasi, komisi yang dibentuk oleh Khalifah Usman melakukan seleksi dan penyusunan dan pembagian wahyu ke dalam surat-surat menjadi antologi surat-surat. Namun di situ terdapat peranan dan campur tangan manusia dalam pembentukan teks al-Quran seperti kita lihat sekarang. Karena adanya campur tangan manusia, wajar jika terjadi kesalahan dalam proses itu yang mendistorsi wahyu yang semula tersimpan di Lauh Mahfuzh itu. Hal itu bisa dipahami melihat kasus kodifikasi hadits yang mengandung ribuan hadits palsu itu. Apalagi dalam penetapan Mushaf Utsmani, Khalifah memerintahkan untuk membakar sumber-sumber yang menimbulkan masalah yang kontroversial. Namun demikian, siapa tahu di antara berbagai masalah yang sangat kontroversial yang dibakar itu justru sesungguhnya terdapat teks yang benar? Dan sebaliknya juga, siapa tahu bahwa sebagian dari kodifikasi itu terdapat teks yang keliru? Dalam hal ini, Aisyah sendiri mengakui kemungkinan terjadinya kecerobohan pada penulisan teks al-Quran.”  (xviii-xix). </em></p>
<p>Cara pandang seperti itu jelas sangat keliru. Selama lebih dari 1400 tahun, kaum Muslim bersepakat dan tidak ragu sedikit pun, bahwa al-Quran adalah Kalamullah. Bukti-bukti otentisitas al-Quran begitu jelas. Karena itulah, kita selalu mengatakan: ”Allah berfirman dalam al-Quran.”  Jika ditanya, bagaimana kita tahu bahwa al-Quran adalah Kalamullah?</p>
<p>Maka, kita jawab, Rasulullah saw sendiri yang menyatakan, bahwa al-Quran adalah Kalamullah.  Kalau Rasulullah saw tidak menyatakan seperti itu, kita juga tidak tahu dengan pasti. Karena kita muslim, dan kita yakin, bahwa Nabi Muhammad saw pasti jujur dan tidak pernah berbohong, maka kita pasti membenarkan segala ucapan Rasulullah saw, bahwa al-Quran adalah Kalamullah. Sejak awal, Rasulullah saw sudah memisahkan, mana yang ucapannya sendiri dan mana yang Kalam Allah, meskipun kata-kata itu sama-sama keluar dari beliau. Kita, sebagai Muslim (tidak pakai tambahan predikat apa-apa), yakin benar akan kebenaran ucapan Nabi kita, Muhammad saw, bahwa al-Quran memang Kalamullah. Jika ada manusia yang menolak konsep al-Quran adalah Kalamullah, maka manusia itu sejatinya telah menuduh Nabi Muhammad saw adalah seorang pendusta. Itu urusan dan tanggung jawabnya sendiri.</p>
<p>Dalam buku terbitan PT Gramedia ini, kaum liberal memang secara tegas menolak pemahaman dan keyakinan kaum Muslim selama ini  bahwasanya al-Quran adalah Kalamullah. Kaum liberal ini bertahan pada posisinya, bahwa al-Quran adalah kata-kata Muhammad. Ditulis di sini: <em>“Muhammad bukan sebuah disket, melainkan orang yang cerdas, maka tatkala menerima wahyu, Muhammad ikut aktif memahami dan kemudian mengungkapkannya dalam bahasa Arabnya sendiri. Karena itu, menurut Nashr Hamid Abu Zaid tidak bertentangan jika dikatakan bahwa al-Quran adalah wahyu Tuhan dengan teks Muhammad (Muhammadan text).” (hal. 143).</em></p>
<p>Jadi, inilah perbedaan yang sangat mendasar antara orang Muslim dengan orang liberal dalam memandang Kitab Suci al-Quran. Kita percaya berita-berita yang dibawa oleh para sahabat Nabi dan para ulama yang shalih. Sedangkan kaum liberal lebih percaya kepada Nasr Hamid Abu Zaid, Mohammed Arkoun, dan para orientalis yang rata-rata tidak beriman kepada al-Quran. Jika selama ini para ulama Islam meyakinkan umat Islam akan kebenaran dan kesucian al-Quran, maka kaum liberal berusaha membuat orang Muslim ragu-ragu terhadap al-Quran dan bahkan terhadap Islam itu sendiri. Mereka tidak merasa tenang, sebelum umat Islam meninggalkan keyakinan akan kebenaran al-Quran.</p>
<p>Pandangan terhadap konsep al-Quran – apakah Kalamullah atau kata-kata Muhammad – ini menurut Dawam Rahardjo, merupakan perbedaan utama antara metode Tafsir klasik dengan metode hermeneutika dalam penafsiran al-Quran. Menurut Dawam Rahardjo: <em>“Metode Hermeneutika ini berbeda dengan pendekatan tafsir al-Quran tradisional yang bertolak dari kepercayaan bahwa al-Quran itu adalah kalam ilahi. Dalam pengertian itu, Tuhan tidak dipandang sebagai pengarang, sebagaimana manusia yang mengarang puisi atau prosa. Dalam menafsirkan al-Quran, para penafsir tidak melihat latarbelakang sosial Tuhan yang memengaruhi perkataan Tuhan. Sedangkan dalam hermeneutika, penafsir teks berusaha memahami teks dengan mempelajari pengarangnya, bahkan pembacanya, ketika teks itu diciptakan atau ditafsirkan kemudian.” (hal.xiii). </em></p>
<p>Jadi, dalam hermeneutika, otentisitas teks menjadi tidak terlalu penting. Yang penting adalah konteksnya. ”Disinilah perlunya metode hermeneutika, yang mencoba memahami teks berikut dengan mempelajari konteks, sehingga para penafsir bisa menemukan esensi makna suatu ayat yang mungkin saja keliru sebagaimana pernah diwacanakan oleh Mohammad Abduh,.” tulis Dawam Rahardjo. (hal. xix).</p>
<p>Bagi para sarjana al-Quran, terlalu mudah untuk menunjukkan kekeliruan data dan kutipan tulisan-tulisan seperti ini. Para ulama kita tidaklah bodoh dan membabi buta dalam meyakini kebenaran al-Quran. Hanya saja, penjelasan para ulama itu tidak banyak manfaatnya bagi orang-orang yang memang ingin ingkar. Di masa Rasulullah saw, banyak kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah melihat dengan jelas bukti-bukti kenabian Muhammad saw, tetapi mereka tetap ingkar. Jika mereka memang mau ingkar, maka Allah menutup hati mereka dari kebenaran. Mata dan telinga mereka juga terhalang untuk menerima kebenaran.</p>
<p>Karena itu, apa yang bisa kita katakan lagi ketika seseorang tidak lagi percaya bahwa al-Quran adalah suci dan otentik?  Kitab mana lagi yang lebih valid dan begitu jelas riwayatnya selain al-Quran? Kitab inilah yang sejak awal dihafal dan ditulis. Ribuan ulama dan ilmuwan sudah membuktikan ketidakmungkinan al-Quran sebagai kitab karya manusia mana pun, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika di siang bolong seperti sekarang, tiba-tiba ada manusia yang mengaku dapat membuktikan bahwa al-Quran mengandung kebohongan, maka manusia itu pastilah amat sangat luar biasa. Dia pasti bukan ”manusia biasa”. (***)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2010/06/hermeneutika-dan-cara-berpikir-muslim-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tipu Daya Setan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 13:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[orientalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[
“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am:11)

Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, membuat uraian menyangkut ayat tersebut: 
“Seorang Rasul diutus Allah untuk menyeru manusia menempuh Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="CENTER">“<span style=""><span style="">Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am:11)</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, membuat uraian menyangkut ayat tersebut: </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">“<span style=""><span style="">Seorang Rasul diutus Allah untuk menyeru manusia menempuh </span></span><span style=""><span style=""><em>Shirathal Mustaqim</em></span></span><span style=""><span style="">, jalan yang lurus. Maka segala syaitan-syaitan manusia dan jin itu menyusun pula kata-kata yang penuh tipu daya untuk membelokkan perhatian orang daripada jalan yang lurus itu. Mereka mencoba manggariskan jalan yang lain, memujikan, mempropagandakan supaya orang merasa bahwa yang mereka kemukakan itulah yang benar. Inilah tipudaya! Karena kalau sudah diselidiki kelak dengan seksama, akan ternyata bahwa rencana yang mereka kemukakan itu hanya semata-mata </span></span><span style=""><span style=""><em>zukhrufal-qauli</em></span></span><span style=""><span style="">, yaitu kata-kata yang dihiasi. </span></span><span style=""><span style=""><em>Zukhruf</em></span></span><span style=""><span style=""> artinya perhiasan, lebih besar bungkusnya daripada isinya, reklame yang kosong penuh tipu.” (Hamka, Tafsir al-Azhar, Juzu’ VIII).</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kita ingat, bahwa setelah terusir dari surga, Iblis kemudian bertekad bulat untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia. Salah satu caranya, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an adalah menghiasi (mengemas) kebathilan menjadi sesuatu yang indah, sehingga menarik perhatian manusia untuk mengikutinya.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style=""><em>&#8220;Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.”</em></span></span><span style=""><span style=""> (QS. al-Hjir: 39). </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tentu, peringatan Allah SWT dalam al-Qur`an ini wajib kita camkan. Hidup di era globalisasi dan kebebasan informasi mengharuskan kita bekerja keras untuk mampu menyaring dan menilai, mana informasi yang benar dan mana informasi bikinan para setan. Sebab, betapa banyaknya orang tertipu dengan kata-kata indah tetapi salah dan menyesatkan.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Lihatlah, banyak orang yang masih mengaku Islam tetapi meletakkan paham kebebasan di atas ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Ada yang berteriak lantang agar agama dan negara tidak ikut campur tangan dalam urusan pakaian. Mereka menganggap tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak ada yang berhak mengatur urusan pakaian, baik negara atau pun Tuhan sekali pun. Mereka merasa berdaulat penuh atas tubuh mereka. Mereka mau telanjang atau melacurkan dirinya, itu adalah urusan mereka, dan tidak ada urusan dengan Tuhan atau agama. Manusia-manusia seperti ini tampil begitu menawan di layar televisi, sambil menyombongkan diri, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan di muka bumi, karena telah menjaga dan memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kata-katanya indah! Tapi, tujuannya untuk menipu. Terhadap orang-orang yang berkeinginan agar soal pakaian diatur, mereka dengan lantang menuduhnya sebagai orang yang kolot, sok moralis, anti-kebhinekaan, melanggar HAM, munafik dan sebagainya. Ada yang menyatakan, bahwa yang harus dipersoalkan bukan objeknya, tapi pikiran manusia itu yang kotor. “Jangan salahkan gambar-gambar yang telanjang. Tapi, salahkan pikirannya yang kotor!” ujarnya. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kata-katanya semacam itu tampak indah! Tapi untuk menipu! </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Ketika MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa paham sekularisme, liberalisme, dan pluaralisme agama adalah bertentangan dengan Islam, maka ada yang langsung menuduh MUI tidak menghargai kemajemukan bangsa! Begitu juga saat MUI menegaskan bahwa Ahmadiyah sesat, langsung muncul tudingan MUI merasa benar sendiri, MUI melampaui kewenangan Tuhan, karena berani menyesatkan manusia. Padahal, katanya, yang berhak menyatakan sesat atau tidaknya seseorang adalah Tuhan dan bukan manusia. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Banyak sekali kata-kata indah dengan tujuan untuk menipu manusia! </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tahun 2008, Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua buku karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah al-Haqidah al-Ghaibah. Simaklah, judul buku ini sangat indah: “Kebenaran Yang Hilang!” Jadi, seolah-olah, selama ini, umat Islam telah kehilangan satu kebenaran, yang kemudian diungkap oleh Farag Fouda, seorang tokoh liberal dari Mesir. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tapi, jika ditelaah dengan cermat, yang dimaksud sebagai “kebenaran” oleh Farag Fouda adalah sederet fakta palsu tentang para sahabat Nabi Muhammad SAW. Salah satu sahabat Nabi yang digambarkan begitu buruk dalam buku ini adalah Usman bin Affan RDL. Sampai-sampai, dalam salah satu kolomnya di Majalah TEMPO yang dijadikan epilog buku ini, Goenawan Mohammad menulis:</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">“<span style=""><span style="">Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.” Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.”</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tulisan itu jelas-jelas fitnah besar terhadap Sayyidina Usman RDL. Pakar sejarah INSISTS, Asep Sobari, telah membongkar kecurangan Farag Fouda dalam mengutip bahan-bahan cerita dari sejumlah kitab klasik. (Lihat: CAP ke-246 Adian Husaini di www.hidayatullah.com). Fitnah keji terhadap sahabat Nabi itu dikemas dengan kata-kata indah, dengan tujuan untuk menipu manusia. Maka, bukan hanya orang awam yang bisa tertipu oleh buku Fouda, tetapi sejarawan terkenal seperti Prof. A. Syafii Maarif pun ikut-ikutan tertipu, sampai-sampai dia menulis di sampul belakang buku ini:</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">”<span style=""><span style="">Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Padahal, jika seorang Muslim mau berpikir jernih: tidaklah mungkin Nabi Muhammad SAW telah berbohong dengan memuji-muji Usman bin Affan, jika ternyata Usman bin Affan adalah manusia bejat seperti digambarkan Fouda dan Goenawan Mohammad. Karena itu, dalam berbagai ayat al-Quran, Allah SWT mengingatkan, bahwa setan itu adalah musuh manusia yang nyata. Dan setiap waktu kita berdoa: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk!. </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu dan Kebahagiaan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 14:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifatullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bukunya, Tasawuf Modern, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”Kun Sa’idan”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!” Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun.
”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit&#8230;.”
”Dan jika engkau fakir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bukunya, <em>Tasawuf Modern</em>, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”<em>Kun Sa’idan</em>”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!” Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun.<span id="more-3"></span></p>
<p>”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit&#8230;.”</p>
<p>”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu&#8230;”</p>
<p>”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!</p>
<p>Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu&#8230;”</p>
<p>”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab</p>
<p>penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.”</p>
<blockquote><p>Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!</p>
<p>Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!</p>
<p>Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!</p>
<p>Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!</p>
<p>Dan sangkaan-sangkaan lain&#8230;</p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang! Lalu, apakah itu ”bahagia” (<em>sa’adah/happiness</em>).</p>
<p>Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus <em>The Oxford English Dictionary</em> (1963) mendefinisikan ”<em>happiness</em>” sebagai: <em>”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” </em>Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya temporal dan kondisional. Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus.</p>
<p>Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (<em>sa’adah/happiness</em>) sebagai berikut:</p>
<p>”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri <em>hayawani</em> sifat <em>basyari</em>; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada <em>keyakinan diri</em> akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, <em>Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam</em>, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).</p>
<p>Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah merasakan bahagia meskipun harus mati dalam penjara. Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam <em>Tasawuf Modern</em>, mengungkapkan, bahwa puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”<em>ma’rifatullah</em>”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:</p>
<p>”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan&#8230;. Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah&#8230; Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”</p>
<p>Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (<em>Laa ilaaha illallah</em>).  Maka, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia harus meraih ilmu yang mampu mengantarkan kepada keyakinan; bukan ilmu yang justru membuat manusia ragu akan kebenaran Islam. Karena itu, satu kerugian besar jika manusia mencari ilmu yang justru tidak pernah mengantakan kepada keyakinan, karena selamanya dia tidak akan pernah menikmati kebahagiaan yang hakiki. (Depok, 10 Ramadhan 1429 H)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jebakan  ”Kesetaraan Gender”</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/04/jebakan-%e2%80%9dkesetaraan-gender%e2%80%9d.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/04/jebakan-%e2%80%9dkesetaraan-gender%e2%80%9d.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 13:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[kkg]]></category>
		<category><![CDATA[propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu paham dan proyek favorit yang sedang dijejalkan kepada kaum Muslim di Indonesia adalah paham ”Kesetaraan Gender”, atau tepatnya ”Keadilan dan Kesetaraan Gender” (KKG). Pendanaan untuk proyek ini dari LSM dan negara-negara Barat sungguh luar biasa besarnya. Pemerintah pun sudah menjadikan paham ini sebagai program resmi yang harus dilaksanakan. Apa sebenarnya paham ini, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu paham dan proyek favorit yang sedang dijejalkan kepada kaum Muslim di Indonesia adalah paham ”Kesetaraan Gender”, atau tepatnya ”Keadilan dan Kesetaraan Gender” (KKG). Pendanaan untuk proyek ini dari LSM dan negara-negara Barat sungguh luar biasa besarnya. Pemerintah pun sudah menjadikan paham ini sebagai program resmi yang harus dilaksanakan. Apa sebenarnya paham ini, dan bagaimana umat Islam menyikapinya?</p>
<p>Pada situs Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (<a href="http://www.menegpp.go.id/">http://www.menegpp.go.id</a>), disebutkan:<strong><em>”</em></strong><em>Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut.”</em></p>
<p>Jadi, program KKG harus dilaksanakan, karena sudah menjadi program nasional. Tidak ada pilihan lain. Sampai pada titik ini, tampak seolah-olah konsep dan program KKG tidak bermasalah dengan Islam. Ketertinggalan perempuan dan rendahnya keterlibatan mereka dalam ruang publik ini kemudian dijadikan sebagai sebab rendahnya Indeks Pembangunan Manusia/<em>Human Development Index</em> (HDI) suatu negara versi UNDP (<em>United Nation Development Program</em>). Tahun 1995,  HDI Indonesia berada pada peringkat ke-96. Tahun 1998, turun menjadi 109 dari 174 negara.  Tahun 1999 naik lagi pada peringkat 102 dari 162 negara. Dan pada  2002, HDI Indonesia berada di urutan 110 dari 173 negara. Lalu, tahun 2003, HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara.</p>
<p>Tapi, jangan berhenti sampai di situ saja! Sebenarnya, dalam penentuan HDI versi UNDP (<em>United Nation Development Program</em>), ada masalah yang sangat serius. Adalah Dr. Ratna Megawangi, dosen Ilmu Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB), yang membongkar apa dampak serius dari program KKG ini bagi keluarga dan masyarakat Muslim.  Dalam bukunya, <em>Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender,</em> (1999), Ratna menyebutkan, bahwa ukuran keberhasilan pembangunan nasional yang diukur oleh UNDP adalah GDI (<em>Gender Development Index</em>), yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam usia harapan hidup, pendidikan, jumlah pendapatan, serta GEM (<em>Gender Empowerment Measure</em>), yang mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan beberapa sektor lainnya.  Misalnya, apabila laki-laki dan perempuan sama-sama berpenghasilan dua juta rupiah setahun, menerima pendidikan sama-sama sepuluh tahun, atau proporsi yang aktif dalam politik sama-sama 20 persen, maka angka GDI dan GEM adalah 1, atau telah terjadi <em>”perfect equality”</em>.  Konsep kesetaraan kuantitatif (50/50) inilah yang diidealkan oleh UNDP, sehingga lembaga ini mengharapkan seluruh negara di dunia dapat mencapai kesetaraan yang demikian.</p>
<p>Inilah pemaksaan konsep kesetaraan yang dalam banyak hal justru merugikan perempuan sendiri. Ide pembebasan wanita dari citra sebagai ”ibu”, sudah digagas oleh John Stuart Mill, melalui bukunya, <em>The Subjection of Women</em> (1869). Menurut Mill, pekerjaan perempuan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan pekerjaan irasional,  emosional dan tiranis. Karena itu, Mill meminta perempuan menekan dan menghilangkan segala aspek yang ada kaitannya dengan pekerjaan domestik agar ”kebahagiaan” tertinggi dapat dicapai. Hal senada disampaikan oleh Sarah Grimke (1838) yang menyatakan bahwa wanita yang menikah telah terpenjara dalam sebuah tirani, di bawah kekuasaan seorang tiran (suami). Katanya: <em>”Man has exercised the most unlimited and brutal power over women in the peculiar character of husband – a word in most countries synonymous with tyrant.” </em></p>
<p>”Analisis Grimke sejajar dengan teori Marx yang mengatakan kekuasaan adalah identik dengan tiran, dan perempuan juga harus meraih ”kebahagiaan”. Jika perempuan ingin meraih kebahagiaan, maka standarnya adalah kebahagiaan materialistis dan maskulin, yaitu standar yang bersumber dari dunia publik dan aspek rasionalitas manusia,” tulis Ratna Megawangi.</p>
<p>Ratna juga menyoroti gerakan feminis liberal yang mengusung gagasan ”perkawinan kontrak” yang saat ini dipandang sejumlah aktivis KKG lebih menjamin konsep kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Mereka menentang bentuk perkawinan sekarang. Kaum feminis liberal di AS, menurut Ratna, berjuang mengubah undang-undang yang menempatkan suami sebagai kepala keluarga. Ada tiga aspek yang ingin dihindari dari hukum perkawinan: (1) anggapan bahwa suami adalah kepala keluarga (2) anggapan bahwa suami bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anak dan (3) anggapan bahwa istri bertanggung jawab atas pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.</p>
<p>Bahkan, bagi sebagian aktivis KKG, lesbianisme dianggap sebagai sesuatu bentuk ”kesetaraan” yang ideal, dimana perempuan benar-benar bebas dari dominasi laki-laki. Jangan heran, jika banyak aktivis KKG sangat gigih dalam memperjuangkan hak-hak kaum lesbian.           Gadis Arivia, seorang pegiat KKG, dalam artikelnya yang berjudul ”Etika Lesbian” di <em>Jurnal Perempuan</em> (Maret 2008) menulis: ”Etika lesbian merupakan konsep perjalanan kebebasan yang datang dari pengalaman merasakan penindasan. Etika lesbian menghadirkan posibilitas-posibilitas baru. Etika ini hendak melakukan perubahan moral atau lebih tepat revolusi moral.”</p>
<p>Lebih jauh, Gadis Arivia menulis tentang keindahan hubungan pasangan sesama perempuan:  <em>”Cinta antar perempuan tidak mengikuti kaidah atau norma laki-laki. Percintaan antar perempuan membebaskan karena tidak ada kategori ”laki-laki” dan kategori ”perempuan”, atau adanya pembagian peran dalam bercinta. Dengan demikian, tidak ada konsep ”other” (lian) karena penyatuan tubuh perempuan dengan perempuan merupakan penyatuan yang kedua-keduanya menjadi subyek dan berperan menuruti kehendak masing-masing. Dengan melihat kehidupan lesbian, kita menemukan perempuan sebagai subyek dan memiliki komunitas yang tidak ditekan oleh kebiasaan-kebiasaan heteroseksual yang memaksa perempuan berlaku tertentu dan laki-laki berlaku tertentu pula.” </em></p>
<p>Itulah jebakan yang dipasang oleh para pegiat KKG. Seharusnya kaum Muslim, khususnya kaum Muslimah, tidak mudah tergiur dengan ”iming-iming” paham KKG. Memang, program ini begitu mempesona, baik dari segi jargon maupun dari segi pendanaan. Dukungan untuk program KKG sungguh menggiurkan.  Seolah-olah program ini akan membawa kebahagiaan pada wanita.</p>
<p>Padahal, faktanya tidak demikian. Selama ini, kaum Muslimah sudah bahagia dengan peran yang diberikan kepadanya oleh Allah SWT sebagai ibu rumah tangga. Kebahagiaan wanita bukan terletak apakah dia jadi menteri atau jadi anggota DPR. Kebahagiaan itu akan tercapai jika seorang wanita muslimah meyakini, bahwa apa yang dikerjakannya adalah suatu ibadah kepada Allah, dan ia berharap akan meraih keridhaan Allah. Dimensi keimanan dan keakhiratan inilah yang sering tidak dipahami dalam gerakan KKG.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/04/jebakan-%e2%80%9dkesetaraan-gender%e2%80%9d.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Relativisme Dan Tipu Daya Setan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/relativisme-dan-tipu-daya-setan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/relativisme-dan-tipu-daya-setan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 13:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[relativisme]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Pada 22 Maret 2009, pada sebuah seminar, saya mengedarkan serangkaian daftar pertanyaan kepada guru-guru sebuah sekolah Islam di Jawa Tengah. Para guru cukup menjawab SETUJU atau TIDAK SETUJU. Salah satu pertanyaan berbunyi sebagai berikut:
”Manusia adalah makhluk yang relatif, sedangkan Tuhan adalah Yang Maha Mutlak. Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relatif, sehingga tidak boleh memutlakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 22 Maret 2009, pada sebuah seminar, saya mengedarkan serangkaian daftar pertanyaan kepada guru-guru sebuah sekolah Islam di Jawa Tengah. Para guru cukup menjawab SETUJU atau TIDAK SETUJU. Salah satu pertanyaan berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>”Manusia adalah makhluk yang relatif, sedangkan Tuhan adalah Yang Maha Mutlak. Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relatif, sehingga tidak boleh memutlakkan pendapatnya. Jadi, hanya Tuhan yang tahu akan kebenaran yang hakiki. Manusia tidak tahu dengan pasti suatu kebenaran, sehingga tidak boleh merasa benar sendiri dan menghakimi orang  lain sebagai sesat atau kafir. Masalah sesat atau kafir adalah urusan Allah, dan serahkan saja kepada Allah.</p>
<p>Dari 65 jawaban yang masuk, ada 53 guru (81,5%) menjawab SETUJU, dan 12 guru (18,5%) menjawab TIDAK SETUJU. Artinya, ada 80 persen lebih guru-guru sebuah sekolah Islam yang setuju dengan paham Relativisme. Padahal, paham ini sangat berbahaya bagi sebuah keyakinan. Paham relativisme telah melanda dunia pendidikan Barat dan kemudian diglobalkan ke berbagai belahan dunia.</p>
<p>Seorang penyair terkenal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal, yang hidup pada tahun 1940-an, sampai mengingatkan umat Islam dalam sebuah puisinya, Bal-e-Jibril,  bahwa pendidikan Barat modern membawa dampak terhadap hilangnya keyakinan kaum muda Muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal, keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Jika keyakinan hilang dari diri seorang manusia, maka itu lebih buruk ketimbang perbudakan. Dikatakan Iqbal dalam puisinya: <em>“Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of  conviction is worse than slavery.”</em></p>
<p>Relativisme biasanya didefinisikan sebagai <em>”the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute.”</em> (Relativisme adalah doktrin dimana ilmu, kebenaran, dan moralitas yang berlaku selalu terkait dengan budaya, sosial, dan konteks sejarah, dan tidak bersifat absolut). Jadi, jika dikatakan, bahwa kebenaran adalah relatif, maka artinya, kebenaran itu hanya berlaku temporal, personal, parsial, atau terkait dengan budaya tertentu. Tidak ada kebebaran abadi atau kebenaran bersama.</p>
<p>Contohnya, kebenaran Islam dianggap hanya berlaku untuk orang Islam saja. Kebenaran Kristen juga hanya untuk orang Kristen dan sebagainya. Apakah zina itu buruk? Penganut relativisme moral akan menyatakan, bahwa itu tergantung pada konteks budaya atau situasi tertentu. Maka, bagi orang Barat sekular, kejahatan zina tidak berlaku mutlak. Jika zina dilakukan dengan suka sama suka, dan sama-sama dewasa, maka itu bukan tindak kejahatan. Jika zina dilakukan dengan anak-anak barulah dikatakan sebagai kejahatan. Bahkan, bagi mereka, walaupun menikah secara sah dengan wanita di bawah 18 tahun, masih dianggap sebagai kejahatan.</p>
<p>Adalah sangat fatal jika seseorang sampai menyatakan, bahwa “saya tidak tahu kebenaran” dan “saya tidak tahu dia sesat atau tidak”. Sebab, seorang Muslim setiap hari berdoa: “Ya Allah Tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, dan bukannya jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat!”</p>
<p>Banyak juga yang berdoa: “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang bathil itu bathil dan berinkanlah kemampuan kepada kami untuk menjauhinya.&#8221;</p>
<p>Jika seorang berdoa seperti itu, bukankah sangat aneh, jika kemudian dia mengatakan bahwa “yang tahu kebenaran hanya Allah!” lalu, untuk apa dia berdoa? Untuk apa dia diberi akal untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Untuk apa Allah menurunkan wahyu yang salah satu fungsinya adalah sebagai “al-Furqan” yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Jika manusia tidak dapat memahami kebenaran, lalu untuk apa Allah memerintahkan agar manusia mengajak manusia kepada jalan Allah? (QS 16:125).</p>
<p>Maka, ujung dari pemahaman relativisme ini adalah sikap apatis terhadap kebenaran. Sikap bebal, sikap masa bodoh. Tidak peduli mana iman dan mana kufur, mana tauhid dan mana syirik. Tidak peduli mana haq dan mana bathil. Juga tidak peduli mana halal dan mana haram. Mana baik dan mana buruk. Manusia seperti ini tidak mungkin bisa diajak untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, dia akan menyatakan, bahwa “Hanya Allah yang tahu kebenaran.”</p>
<p>Jadi, itulah bahaya virus relativisme kebenaran. Pertanyaan tersebut perlu dicermati dengan seksama. Apakah manusia bisa memahami kebenaran secara mutlak? Jawabnya tegas: Bisa! Tentu, kebenaran mutlak sebatas kemampuan manusia, sebab manusia memang tidak diciptakan Allah untuk bisa menandingi Allah. Justru, dalam batasan manusialah, Allah mengaruniai kemampuan akal untuk menerima kebenaran yang mutlak. Dari akal yang menerima kebenaran itulah lahir sebuah keyakinan. Maka, syarat iman adalah <em>yakfur bit-thaghut</em>, ingkar kepada thaghut. Iman menyaratkan yakin, dan tidak ada keraguan.</p>
<p>Kaum Muslim saat ini perlu terus mewaspadai berbagai upaya penyesatan dengan berbagai cara. Sebab, Allah sudah mengingatkan dalam al-Quran, bahwa setan dari jenis manusia dan jin akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Caranya, dengan menyebarkan kata-kata indah dengan tujuan untuk menipu (<em>zukhrufal qauli ghuruura</em>). (QS 6:112)</p>
<p>Lagi pula, moyang setan, yakni Iblis sudah bersumpah di hadapan Allah:</p>
<p><em>&#8220;Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish diantara mereka.” </em>(QS 15:39-40).</p>
<p>Paham relativisme iman dan relativisme kebenaran bisa dikatakan sebagai salah satu contoh bentuk tipudaya setan. Kini, banyak buku-buku kaum liberal yang mengajarkan paham relativisme iman, dimana setiap pemeluk agama dilarang untuk meyakini kebenaran agamanya sendiri. Ada sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan, guru besar di UIN Yogyakarta, berjudul &#8220;Kesalehan Multikultural&#8221; (2005) yang isinya banyak menggugat keyakinan umat Islam atas agamanya sendiri.</p>
<p>Sebagai ganti dari pendidikan Tauhid, dia mengajukan gagasan  ’Pendidikan Islam Multikultural’. Munir menulis: ”Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan  di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam.” (hal. 182-183).</p>
<p>Profesor UIN Yogya itu juga menegaskan: ”Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi   semua orang di semua zaman dalam beragam agama, beragam suku bangsa dan beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa AS atau Yesus, Muhammad SAW, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan. Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya.” (hal. 190).</p>
<p>Pendapat profesor tersebut jelas keliru, sebab masing-masing agama memiliki keyakinan yang khas. Islam yakin bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Kita, sebagai Muslim, yakin bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, maka semua manusia harusnya juga mengikuti ajaran dan perilaku utusan Allah tersebut. Tentu, sebuah kejahatan kepada Allah jika manusia menolak untuk mengikuti utusan-Nya. Jika mereka mengakui Tuhannya adalah Allah, maka konsekuensinya, mereka harus mengikuti utusan-Nya. Jika tidak, maka mereka disebut sebagai pembangkang atau kafir. Itu keyakinan kita sebagai Muslim, yang pasti, dan tidak bersifat relatif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/relativisme-dan-tipu-daya-setan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mantra Demokrasi</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/mantra-demokrasi.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/mantra-demokrasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 13:25:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kolonial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Saat menjadi wartawan Harian Berita Buana, tahun 1990, saya pernah ditugasi meliput satu seminar tentang demokrasi di salah satu hotel di Jakarta. Tema seminarnya tentang demokrasi dan agama-agama. Saat itu, banyak diskusi tentang demokrasi digelar. Seperti paham-paham lainnya, karena dianggap sebagai paham yang bersifat universal dan harus dipeluk oleh seluruh umat manusia, maka agama-agama juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat menjadi wartawan Harian <em>Berita Buana</em>, tahun 1990, saya pernah ditugasi meliput satu seminar tentang demokrasi di salah satu hotel di Jakarta. Tema seminarnya tentang demokrasi dan agama-agama. Saat itu, banyak diskusi tentang demokrasi digelar. Seperti paham-paham lainnya, karena dianggap sebagai paham yang bersifat universal dan harus dipeluk oleh seluruh umat manusia, maka agama-agama juga diminta menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Para tokoh dari berbagai agama yang hadir dalam seminar itu kemudian didorong untuk memberikan legitimasi, bahwa paham demokrasi adalah sesuai dengan ajaran agama masing-masing.</p>
<p>Salah satu buku yang diperbincangkan pada dekade 1990-an adalah <em>The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, </em>karya Samuel P. Huntington. (Tahun 1995, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Grafiti, dengan judul <em>Gelombang Demokratisasi Ketiga</em>). Huntington menyimpulkan dalam buku ini: ”Singkat kata, demokrasi hanya cocok bagi negara-negara Eropa Barat Laut dan barangkali negeri-negeri Eropa Tengah serta koloni-koloni penduduk yang berasal dari negara-negara itu.” (hal. 386). Tentang Islam, Huntington menyebutkan, bahwa ”doktrin Islam mengandung unsur-unsur yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan demokrasi.” (hal. 396). Bahkan, Huntington juga menegaskan: ”Budaya Islam dan Konfusius menghadapkan perkembangan demokrasi dengan penghalang yang tidak mudah teratasi.” (hal. 398).</p>
<p>Seolah-olah seperti terprovokasi oleh Huntington, banyak kalangan cendekiawan yang kemudian tersengat, lalu berteriak lantang bahwa ”Islam sesuai dengan demokrasi!”  Hanya ada seorang cendekiawan dalam seminar itu yang memberikan kritik terhadap konsep demokrasi. Karena sudah menjadi tren global, maka banyak orang yang kemudian ikut-ikutan latah menyuarakan lagu wajib ”demokrasi”. Bahwa, seolah-olah, demokrasi adalah berkah yang harus dipeluk oleh setiap manusia. Hanya dengan demokrasilah, suatu bangsa akan menjadi bangsa besar. Bahkan, ada yang menjadikan demokrasi bukan sekedar mekanisme pemilihan kepemimpinan, tetapi sebagai tujuan dan jalan hidup itu sendiri. Pokoknya, harus demokrasi! Makmur atau sengsara, tidak penting!</p>
<p>Maka, sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, banyak kalangan kini berteriak dimana-mana, membanggakan diri, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi Muslim terbesar di dunia. Banyak cendekiawan juga yang senang jika dipuji-puji oleh para petinggi AS, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia (setelah AS dan India). Saat berkunjung ke Indonesia, pada 18 Februari 2009, Menlu AS, Hillary Clinton menyatakan: ”Indonesia telah mengalami transformasi yang besar dalam sepuluh tahun terakhir. Beberapa hal yang saya catat adalah penghormatan atas HAM, demokratisasi, sukses mengakhiri konflik sektarian dan menjadi tempat yang aman,&#8221; kata Hillary.</p>
<p>Salah satu ciri manusia Indonesia, menurut budayawan Mochtar Lubis, adalah senang dengan <em>takhayul</em> dan mantra-mantra. Kata Mochtar, dalam bukunya, <em>Manusia Indonesia</em>, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001): “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya <em>takhayul</em>. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, <em>the rule of law</em>, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”</p>
<p>Ya, jika kita perhatikan,  oleh banyak kalangan -bahkan oleh orang-orang yang disebut cendekiawan- demokrasi telah dijadikan mantra. Kata ini ditulis, dislogankan, dikampanyekan, dan diucapkan berulang-ulang tanpa kritis. Mereka tidak berpikir panjang, apa sebenarnya makna dan konsekuensi demokrasi. Padahal, negara-negara yang menggembar-gemborkan demokrasi pun -seperti AS- juga tidak mau menerapkan demokrasi sepenuhnya. Demokrasi hanya diterapkan jika mereka perlu, dan sesuai dengan kepentingan mereka.</p>
<p>Lihat saja, ketika Hamas menang Pemilu Palestina, maka AS pun menolak demokrasi, sebab hasilnya tidak sesuai dengan kemauan AS. PBB adalah contoh nyata tidak adanya demokrasi. Barat (AS dan sekutu-sekutunya) tidak percaya, bahwa umat manusia yang mayoritas dapat menghasilkan keputusan yang baik buat dunia internasional, jika bertentangan dengan kemauan mereka. Karena itu, sejak awal berdirinya PBB, 24 Oktober 1945, Barat memaksakan sistem “aristokratik”, dimana kekuasaan PBB  diberikan kepada beberapa buah negara yang dikenal sebagai “The Big Five” (AS, Rusia, Perancis, Inggris, Cina). Kelima negara inilah yang mendapatkan hak istimewa berupa hak ‘<em>Veto’ </em>(dari bahasa Latin: <em>veto</em>, artinya: saya melarang).  Lima negara ini merupakan anggota tetap dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Sisanya, 10 negara, dipilih setiap dua tahun oleh Majelis Umum PBB. Pasal 24 Piagam PBB menyebutkan, bahwa Dewan ini mempunyai tugas yang sangat vital yaitu “bertanggung jawab untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional”. Jika satu resolusi diveto oleh salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB, maka resolusi itu tidak dapat diterapkan. Dalam pasal 29 Piagam PBB dikatakan: <em>“Decision of the Security Council on all other matters shall be made by an affirmative vote of nine members including the concurring votes of the permanent members.” </em></p>
<p>Falsafah PBB yang meletakkan sistem yang aristokratis ini menunjukkan, bahwa Demokrasi Liberal adalah sebuah pilihan yang tidak selalu didukung oleh Barat. Jika percaya pada falsafah demokrasi, bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan” (<em>vox populi vox dei</em>), mengapa Barat tidak mau melakukan restrukturisasi PBB, yang sudah berpuluh-puluh tahun dituntut oleh mayoritas negara di dunia? Dunia seringkali disuguhi tontonan ironis di PBB, ketika mayoritas anggota PBB di Majelis Umum menyetujui satu resolusi, tetapi hanya karena satu negara anggota tetap Dewan Keamanan tidak setuju, maka keputusan PBB itu menjadi tidak bergigi. Dewan Keamanan PBB juga tidak pernah berhasil mengeluarkan resolusi yang mengecam tindakan AS. Sebab, dalam falsafah dan sistem PBB, AS tidak dapat dihukum, apapun kejahatannya. Meskipun sudah melakukan kebiadaban yang luar biasa di Palestina, Israel tetap aman-aman saja. Padahal, mayoritas dunia mengutuk serangan Israel ke Gaza.</p>
<p>Jadi, demokrasi jelas bukan konsep ideal bagi manusia. Dia digunakan jika memang diperlukan. Demokrasi, secara inhern,  mengandung kezaliman. Sistem ini menyamakan antara orang pandai dan orang bodoh. Suara seorang profesor  ilmu politik dihargai sama dengan suara seorang penduduk pedalaman yang buta huruf dan tidak pernah tahu hal ihwal politik sama sekali. Suara ulama yang shalih sama saja dengan suara seorang penjahat. Apakah ini adil? Al-Quran jelas membedakan antara ”orang pandai” dan ”orang bodoh.” Maka, aneh, jika masih ada kaum Muslim yang tergila-gila pada demokrasi dan bangga menjadikan demokrasi sebagai mantra hariannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/03/mantra-demokrasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yahudi-Yahudi Nyeleneh</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/02/yahudi-yahudi-nyeleneh.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/02/yahudi-yahudi-nyeleneh.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 13:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[convertion to islam]]></category>
		<category><![CDATA[rabbi]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[zionis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun banyak mendapat kritik tajam dalam al-Quran, ada saja diantara kaum Yahudi yang nyeleneh. Ia tidak seperti Yahudi kebanyakan. Di masa Rasulullah SAW, ada Abdullah bin Salam dan Mukhairiq, dua orang pemuka Yahudi yang akhirnya menerima kebenaran Islam. Namun, keduanya menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. Mukhairiq bahkan akhirnya gugur sebagai syuhada dalam Parang Uhud.
Di masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun banyak mendapat kritik tajam dalam al-Quran, ada saja diantara kaum Yahudi yang <em>nyeleneh</em>. Ia tidak seperti Yahudi kebanyakan. Di masa Rasulullah SAW, ada Abdullah bin Salam dan Mukhairiq, dua orang pemuka Yahudi yang akhirnya menerima kebenaran Islam. Namun, keduanya menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. Mukhairiq bahkan akhirnya gugur sebagai syuhada dalam Parang Uhud.</p>
<p>Di masa modern ini, ada juga sejumlah Yahudi yang <em>nyeleneh</em>. Di antara mereka ada yang masuk Islam dan menjadi cendekiawan Muslim yang hebat. Ada juga yang belum sampai masuk Islam. Tapi, memberikan kritik-kritik yang keras terhadap ajaran agama Yahudi dan kekejaman negara Israel. Salah satu tokoh Yahudi jenis yang kedua adalah <strong>Prof. Dr. Israel Shahak, </strong>seorang pakar biokimia dari Hebrew University<strong>. </strong></p>
<p>Prof. Dr. Israel Shahak memang bukan Yahudi biasa. Dia tidak seperti sebagaimana kebanyakan Yahudi lainnya, yang mendukung atau hanya bengong saja menyaksikan kejahatan kaumnya. Suatu ketika, saat dia berada di Jerusalem, pakar biokimia dari Hebrew  University ini menjumpai kasus yang mengubah pikiran dan jalan hidupnya. Saat itu, hari Sabtu (Sabath) Shahak berusaha meminjam telepon seorang Yahudi untuk memanggil ambulan, demi menolong seorang non-Yahudi yang sedang dalam kondisi kritis.</p>
<p>Di luar dugaannya, si Yahudi menolak meminjamkan teleponnya. Orang non-Yahudi itu pun akhirnya tidak tertolong lagi. Prof. Shahak kemudian membawa kasus ini ke Dewan Rabbi Yahudi – semacam majlis ulama Yahudi – di Jerusalem. Dia menanyakan, apakah menurut agama Yahudi, tindakan si Yahudi yang tidak mau menyelamatkan orang non-Yahudi itu dapat dibenarkan oleh agama Yahudi. Lagi-lagi, Prof. Shahak terperangah. Dewan Rabbi Yahudi di Jerusalem (<em>The Rabbinical Court of Jerusalem</em>) menyetujui tindakan si Yahudi yang mengantarkan orang non-Yahudi ke ujung maut. Bahkan, itu dikatakan sebagai ”tindakan yang mulia”. Prof. Shahak menulis: <em>”The answered that the Jew in question had behaved correctly indeed piously.” </em></p>
<p>Kasus itulah yang mengantarkan Prof. Shahak untuk melakukan pengkajian lebih jauh tentang agama Yahudi dan realitas negara Israel. Hasilnya, keluar sebuah buku berjudul  <em>Jewish History, Jewish Religion</em> (London: Pluto Press, 1994). Dalam penelitiannya, ia  mendapati betapa rasialisnya  agama Yahudi dan juga negara Yahudi (Israel). Karena itulah, dia sampai pada kesimpulan, bahwa negara Israel memang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Katanya, “<em>In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.” </em></p>
<p>Sebagai satu ”negara Yahudi” (<em>a</em> <em>Jewish state</em>), negara Israel adalah milik eksklusif bagi setiap orang yang dikategorikan sebagai ”<em>Jewish”</em>, tidak peduli dimana pun ia berada. Shahak menulis: <em>“Israel ’belongs’ to persons who are defined bu the Israeli authorities as ‘Jewish’,   irrespective of where they live, and to them alone.” </em>Shahak menggugat, kenapa yang dipersoalkan hanya orang-orang yang bersikap anti-Yahudi. Sementara realitas pemikiran dan sikap Yahudi yang sangat diskriminatif terhadap bangsa lain justru diabaikan.</p>
<p>Kaum Yahudi, misalnya, dilarang memberikan pertolongan kepada orang non-Yahudi yang berada dalam bahaya. Cendekiawan besar Yahudi, Maimonides, memberikan komentar terhadap salah satu ayat Kitab Talmud: <em>“It is forbidden to save them if they are at the point of death; if, for example, one of them is seen falling into the sea, he should not be rescued.” </em> Jadi, kata Maimonides, adalah terlarang untuk menolong orang non-Yahudi yang berada di ambang kematian. Jika, misalnya, ada orang non-Yahudi yang tenggelam di laut, maka dia tidak perlu ditolong. Israel Shahak juga menunjukkan keanehan ajaran agama Yahudi yang menerapkan diskriminasi terhadap kasus perzinahan. Jika ada laki-laki Yahudi yang berzina dengan wanita non-Yahudi, maka wanita itulah yang dihukum mati, bukan laki-laki Yahudi, meskipun wanita itu diperkosa.</p>
<p>Tidak banyak orang Yahudi yang berani bersuara keras terhadap agama dan negaranya, seperti halnya Prof. Israel Shahak, sehingga dia memang bisa dikategorikan Yahudi yang <em>nyeleneh</em>.</p>
<p>Yahudi lain yang nyeleneh, bahkan kemudian menjadi seorang Muslim yang hebat adalah Margareth Marcus. Ia seorang Yahudi Amerika yang sangat tekun dalam mempelajari berbagai agama dan pemikiran-pemikiran modern. Akhirnya, sinar hidayah datang  padanya, dan mengantarkannya menjadi seorang Muslimah. Ia kemudian berganti nama menjadi Maryam Jameela. Sejak remaja, Margareth Marcus sudah berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya. Dia sama sekali tidak menyentuh rokok atau minuman keras. Pesta-pesta dan dansa-dansa pun dia jauhi. Ia hanya tertarik dengan buku dan perpustakaan.</p>
<p>Ia bercerita tentang kisah ketertarikannya kepada Islam. Pada tahun kedua di Universitas New York, Margareth mengikuti mata kuliah tentang Yudaisme dan Islam. Dosennya seorang rabbi Yahudi. Pada setiap kuliah, sang dosen selalu menjelaskan, bahwa segala yang baik dalam Islam sebenarnya diambil dari Perjanjian Lama (Bibel Yahudi), Talmud, dan Midrash. Kuliah itu juga diselingi pemutaran film dan slide propaganda Zionis. Tapi, kuliah yang menyudutkan Islam itu justru berdampak sebaliknya bagi Margareth. Dia justru semakin melihat kekeliruan ajaran Yahudi dan semakin tertarik dengan Islam.</p>
<p>Margareth Marcus kemudian memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Dalam salah satu tulisannya, Margareth menulis: ”&#8230; saya percaya bahwa Islam adalah jalan hidup yang unggul dan merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran.”  Namun, Margareth mengaku keheranan, banyak orang Islam sendiri yang tidak meyakini keunggulan Islam. Ia menulis tentang hal ini: ”Berkali-kali saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Islam yang belajar pada universitas-universitas di New York yang berusaha meyakinkan saya bahwa Kemal Attaturk adalah orang Islam yang baik, dan bahwa Islam harus menerima kriteria filsafat kontemporer, sehingga bila ada akidah Islam dan periabadatannya yang menyimpang dari kebudayaan Barat modern, maka hal itu harus dicampakkan. Pemikiran demikian dipuji sebagai ”liberal”, ”berpandangan ke depan”, dan ”progresif”. Sedang orang-orang yang berpikiran seperti kita dicap sebagai ”reaksioner dan fanatik”, yakni orang-orang yang menolak untuk menghadapi kenyataan masa kini.”</p>
<p>Sebelum resmi menyatakan diri sebagai Muslimah, Margareth Marcus telah menulis berbagai artikel yang membela Islam di sejumlah jurnal internasional. Ia dengan tegas memberikan kritik-kritiknya terhadap paham-paham modern. Dalam suratnya kepada Maududi, 5 Desember 1960, ia  menulis:</p>
<p>”Pada tahun lalu saya telah berketetapan hati untuk membaktikan kehidupan saya guna berjuang melawan filsafat-filsafat materialistik, sekularisme, dan nasionalisme yang sekarang masih merajalela di dunia. Aliran-aliran tersebut tidak hanya mengancam kehidupan Islam saja, tetapi juga mengancam seluruh umat manusia.”</p>
<p>Setelah masuk Islam, Margareth kemudian memilih untuk berhijrah ke Pakistan, setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya. Maryam Jameela pun termasuk sedikit diantara kaum Yahudi yang memiliki sikap kejujuran dan keberanian untuk menerima Islam. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beberapa kaum Yahudi yang <em>nyeleneh</em> tersebut</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/02/yahudi-yahudi-nyeleneh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misi Yahudi Merusak Agama</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/01/misi-yahudi-merusak-agama.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/01/misi-yahudi-merusak-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 13:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[free masonry]]></category>
		<category><![CDATA[Harun Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Bagi umat Islam, nama Free Masonry sudah tidak asing lagi. Organisasi ini pernah beroperasi di Indonesia selama 200 tahun. Dalam buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, karya Dr. Th Steven dijelaskan misi organisasi yang memiliki simbol Bintang David ini: ”Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, dimana pun dia berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi umat Islam, nama <em>Free Masonry</em> sudah tidak asing lagi. Organisasi ini pernah beroperasi di Indonesia selama 200 tahun. Dalam buku <em>Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962</em>, karya Dr. Th Steven dijelaskan misi organisasi yang memiliki simbol Bintang David ini: <em>”Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, dimana pun dia berada dan bekerja,untuk memajukan segala sesuatu yang mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia.” </em></p>
<p>Cermatilah misi Free Mason ini! Yakni, “menghapus pemisah antar manusia!”. salah satu yang sianggap sebagai pemisah antar manusia adalah ”agama”. Maka, jangan heran, jika banyak manusia berteriak lantang: ”semua agama adalah sama”. Atau, ”semua agama adalah benar, karena merupakan jalan yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang satu.” Siapa pun Tuhan itu, tidak dipedulikan. Yang penting Tuhan! Ada yang menulis bahwa agama adalah sumber konflik, sehingga perlu dihapuskan secara perlahan-lahan. Free Mason menyatakan tidak memusuhi agama, tetapi misinya jelas menghapus pemisah antar manusia, termasuk di dalamnya adalah agama.</p>
<p>Sejak awal abad ke-18, Freemasonry telah merambah ke berbagai dunia. Di AS, misalnya, sejak didirikan pada 1733, Free Mason segera menyebar luas ke negara itu, sehingga orang-orang seperti George Washington, Thomas Jefferson, John Hancock, Benjamin Franklin menjadi anggotanya. Prinsip Freemasonry adalah “Liberty, Equality, and Fraternity”.  (Lihat, <em>A New Encyclopedia of Freemasonry</em>, (New   York: Wing Books, 1996).</p>
<p>Harun Yahya, dalam bukunya, <em>Ksatria-kstaria Templar Cikal Bakal Gerakan Free Masonry (Terj.)</em>, mengungkap upaya kaum Free Mason di Turki Utsmani untuk menggusur Islam dengan paham humanisme. Dalam suratnya kepada seorang petinggi Turki Utsmani, Mustafa Rasid Pasya, August Comte menulis, “Sekali Utsmaniyah mengganti keimanan mereka terhadap Tuhan dengan humanisme, maka tujuan di atas akan cepat dapat tercapai.”  Comte yang dikenal sebagai penggagas aliran positivisme juga mendesak agar Islam diganti dengan positivisme.</p>
<p>Paham humanisme sekular adalah paham Free Mason, yang kemudian diglobalkan – salah satunya – melalui konsep HAM. Maka, jangan heran, jika Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang ditetapkan tahun 1948 sarat dengan muatan humanisme dan tidak berdasarkan agama tertentu. Karena itulah, sejumlah pasalnya jelas-jelas bertabrakan dengan konsep Islam.  Kata mereka, konsep HAM itu universal dan bisa diterima semua umat manusia. Faktanya, dunia Islam menolak pasal 16 dan 18 DUHAM (tentang kekebasan perkawinan dan kebebasan untuk pindah agama). Dunia Islam mengajukan gagasan alternatif dalam Deklarasi Kairo yang tetap mempertahankan faktor agama dalam konsep perkawinan dan kebebasan beragama.</p>
<p>Kaum Yahudi tentu saja banyak yang aktif di organisasi seperti Free Mason ini. Di Turki Utsmani, tokoh-tokoh Yahudi di Free Mason memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para aktivis Gerakan Turki Muda. Bahkan, kuat sekali indikasinya, Yahudi merancang dan mendominasi arah organisasi lintas agama ini.  Dan ini sangat bisa dipahami. Selama ribuan tahun Yahudi menjadi korban penindasan kaum Kristen di Eropa. Dengan berkembangnya aktivitas Free Mason, maka secara otomatis,  penindasan terhadap Yahudi bisa semakin diminimalkan.  Karena itulah, di Eropa organisasi yang membawa misi kaum Templar ini menjadi musuh Gereja.</p>
<p>Meskipun mengaku bukan sebagai satu agama tersendiri, tetapi Free Mason juga memiliki ajaran ketuhanan dan tata cara ritual tersendiri. Buku Dr. Th Steven dihiasi dengan banyak foto tempat-tempat pemujaan Free Mason di Jakarta, Surabaya, Makasar, Medan, Palembang, dan sebagainya. Sejumlah tokoh nasional  juga disebutkan menjadi anggotanya. Siapakah Tuhan yang dipuja pengikut Free Mason? Tidak jelas!</p>
<p>Dengan memposisikan dirinya di luar agama-agama yang ada, maka Free Mason lebih mengedepankan problematika kemanusiaan, lintas agama. Humanisme menjadi paham panutan. Misi kemanusiaan yang tidak berdasarkan agama inilah yang ironisnya, kini dicoba dikembangkan dalam berbagai buku studi dan pemikiran Islam. Sadar atau tidak, masuknya misi ini dimulai dengan upaya untuk menghilangkan klaim kebenaran (<em>truth claim</em>). Jika umat beragama tidak lagi meyakini kebenaran agamanya sendiri, maka dia menjadi pembenar semua agama. Sikap netral agama dianggap sebagai sikap ilmiah, elegan, dan terpuji. Orang yang meyakini kebenaran agamanya sendiri dianggap sebagai orang jahat, arogan, dan tidak toleran.</p>
<p>Simaklah berbagai pernyataan berikut yang sejalan dengan pemikiran limtas agama gaya Free Mason. Dalam buku <em>Agama Masa Depan</em>, karya Prof. Komaruddin Hidayat (rektor UIN Jakarta) dan M. Wahyuni Nafis, ditulis: <em>“Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan pada setiap agama, walaupun masing-masing tradisi agama memiliki bahasa dan bungkusnya yang berbeda-beda.” (hal. 130). </em></p>
<p>Dalam sebuah buku berjudul <em>Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama</em> (2008) dikatakan:  <em>“…bila Anda telah menancapkan komitmen untuk membangun rumah tangga beda iman, jalani dengan tenang dan sejuk dinamika ini. </em><em>Tidak perlu dirisaukan dan diresahkan. Yang terpenting, mantapkan iman Anda dan lakukan amal kebaikan kepada manusia. Semua itu tidak percuma dan sia-sia. Beragama apapun Anda, amal kebaikan dan amal kemanusiaan tetap amal kebaikan. Pasti ada pahalanya dan akan disenangi Tuhan.” (hal. 235). </em></p>
<p>Mudah-mudahan kita waspada dengan berbagai upaya untuk merusak agama, baik yang berasal dari kaum Yahudi atau yang para pengikut jejak Yahudi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/01/misi-yahudi-merusak-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru Agama Jadi Sasaran</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2008/11/guru-agama-jadi-sasaran.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2008/11/guru-agama-jadi-sasaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 13:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[guru agama]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[konservatif]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[UIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Pada 25 November 2008, situs Detik.com menurunkan sebuah berita berjudul ”Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif”.  Berdasarkan hasil survei Pusat Kajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa ”Guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa masih bersikap konservatif. Bahkan, para guru tersebut sangat rendah dalam mengajarkan semangat kebangsaan.”
Direktur PPIM-UIN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 25 November 2008, situs Detik.com menurunkan sebuah berita berjudul ”Guru Agama Islam di Jawa Masih Konservatif”.  Berdasarkan hasil survei Pusat Kajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM-UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa ”Guru-guru agama Islam sekolah umum di Jawa masih bersikap konservatif. Bahkan, para guru tersebut sangat rendah dalam mengajarkan semangat kebangsaan.”</p>
<p>Direktur PPIM-UIN Jakarta Dr. Jajat Burhanudin mengatakan, bahwa survei dilakukan terhadap 500 guru di 500 SMA/SMK di Jawa selama kurun Oktober 2008. Responden dipilih dengan menggunakam metode random acak sederhana. Selain itu juga dilakukan wawancara terstruktur terhadap 200 siswa.  &#8220;Dari 500 responden, 67,4% mengaku merasa sebagai orang Islam dan hanya 30,4% yang merasa sebagai orang Indonesia,&#8221; tambah dosen Fakultas Adab UIN Jakarta tersebut.</p>
<p>Lokasi survei dilakukan di kota-kota besar dan menengah di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Malang, Solo dan Cirebon. Berdasarkan hasil survei tersebut, Jajat merasa khawatir terhadap keberlangsungan berkebangsaan ke depan. Pemahaman kebangsaan yang sempit bisa mempengaruhi wawasan kebesangaaan.</p>
<p>&#8220;Banyak faktor kenapa guru agama berperilaku seperti itu, bisa karena pemahaman individu guru,kurikulum atau rendahnya dialog antar agama. Padahal itu di SMA/SMK umum, bukan disekolah agama,&#8221; pungkasnya.</p>
<p>Begitulah berita dari Detik.com.Pada 26 November 2006, koran The Jakarta Post juga menurunkan berita hasil survei PPIM-UIN Jakarta, dengan menulis: ”<em>Most Islamic studies teachers in public and private schools in Java oppose pluralism, tending toward radicalism and conservatism, according to a survey released in Jakarta on Tuesday.</em>”</p>
<p>Sebanyak 62,4 persen guru agama – termasuk dari kalangan NU dan Muhammadiyah, misalnya, menolak untuk mengangkat pemimpin non-Muslim. Survei juga menunjukkan, 68.6 persen guru agama menentang diangkatnya orang non-Muslim sebagai kepala sekolah mereka; dan sebanyak 33,8 persen menolak kehadiran guru non-Muslim di sekolah mereka. Persentase guru agama yang menolak kehadiran rumah ibadah non-Muslim di lingkungan mereka juga cukup besar, yakni 73,1 persen. Sementara itu, ada 85,6 persen guru agama yang melarang murid mereka untuk ikut merayakan apa yang dipersepsikan sebagai “Tradisi Barat”. Begitu juga ada 87 persen yang menganjurkan muridnya untuk tidak  mempelajari agama-agama lain; dan 48 persennya lebih menyukai pemisahan murid laki-laki dan wanita dalam kelas yang berbeda.</p>
<p>Menurut Jajat Burhanuddin, pandangan anti-pluralis para guru agama tersebut terefleksikan dalam pelajaran mereka dan memberikan kontribusi tumbuhnya konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim Indonesia.</p>
<p>Survei PPIM-UIN Jakarta itu juga menunjukkan ada 75,4 persen dari responden yang meminta agar murid-murid mereka mengajak guru-guru non-Muslim untuk masuk Islam, sementara 61,1 persen menolak sekte baru dalam Islam. Sebanyak 67,4 persen responden yang lebih merasa sebagai muslim ketimbang sebagai orang Indonesia. Lebih dari itu, mayoritas responden juga mendukung penerapan syariah Islam untuk mengurangi angka kriminalitas: 58,9 persen mendukung hukum rajam dan 47,5 persen mendukung hukum potong tangan untuk pencuri serta 21,3 persen setuju hukuman mati bagi orang murtad dari agama Islam.</p>
<p>Sebanyak 44,9 responden mengaku sebagai anggota NU dan 23,8 persennya mengaku pendukung Muhammadiyah. Menurut Jajat, itu menunjukkan kedua organisasi tersebut gagal menanamkan nilai-nilai moderat ke kalangan akar rumput. Menurutnya, moderatisme dan pluralisme hanya dipeluk oleh kalangan elite mereka. Ia juga mengaku takut bahwa fenomena semacam ini telah memberikan kontribusi dalam meningkatkan radikalisme dan bahkan terorisme di negeri kita.</p>
<p>Bahkan, katanya, para guru agama itu telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan konservatisme dan radikalisme di kalangan Muslim saat ini. Konservatisme dan radikalisme bukan hanya dikembangkan di jalan-jalan sebagaimana dikampanyekan oleh FPI, tetapi telah berakar dalam sistem pendidikan agama. Bahkan, lebih jauh ia katakan, bahwa sikap intoleran yang dikembangkan dalam pendidikan agama Islam selama ini akan mengancam hak-hak sipil dan politik dari kaum non-Muslim.</p>
<p>Begitulah hasil survei PPIM-UIN Jakarta sebagaimana diberitakan oleh Harian The Jakarta Post.</p>
<p><strong>Misi siapa? </strong></p>
<p>Secara jelas, penelitian PPIM-UIN Jakarta membawa misi besar untuk merombak pola pikir para guru agama di masa depan. Mereka diharapkan agar menjadi pluralis, tidak konservatif, tidak radikal. Mereka nantinya harus mau menerima pemimpin non-Muslim, menerima guru non-Muslim, menolak penerapan syariah, mendukung hak murtad, mendukung perayaan-perayaan model Barat, dan sebagainya. Itulah yang disebut oleh Direktur PPIM-UIN Jakarta itu sebagai jenis Islam moderat, Islam pluralis, atau entah jenis Islam apa lagi. Yang penting jenis Islam yang baru nanti harus mendapat ridho dari nagar-negara Barat yang menjadi donatur penting dari lembaga-lembaga sejenis PPIM-UIN Jakarta tersebut.</p>
<p>Misi inilah yang sebenarnya sedang diemban oleh lembaga-lembaga penelitian dan pendidikan Islam yang menjadi agen dari pemikiran dan kepentingan Barat. Dalam website PPIM-UIN Jakarta (www.ppim.or.id) dapat dilihat daftar mitra kerja dari lembaga ini, diantaranya: AUSAID, US embassy, The Asia Foundation, The Ford Foundation, dan sebagainya.</p>
<p>Karena itu, yang kini sedang dikerjakan oleh sejumlah Perguruan Tinggi Islam di Indonesia adalah menyiapkan guru-guru agama yang pluralis. Ini sesuai dengan isi memo Menhan AS Donald Rusmsfeld, pada 16 Oktober 2003: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru,  lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka.&#8221; (Harian Republika, 3/12/2005).</p>
<p>AS dkk memang sangat serius dalam menggarap pendidikan Islam di Indonesia. Umat Islam harusnya sadar akan tantangan besar yang mereka hadapi. Ini menyangkut masalah aqidah; menyangkut soal hidup dan mati umat Islam Indonesia di masa depan. Jangan sampai umat salah langkah dalam merespon tantangan di bidang pemikiran dan pendidikan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2008/11/guru-agama-jadi-sasaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
