<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jul 2010 06:58:22 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rumah Tangga Sepi Konflik</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/07/rumah-tangga-sepi-konflik.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/07/rumah-tangga-sepi-konflik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 06:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ustadz, saya mau bertanya. Selama 4 tahun lebih kami menikah, hanya ‘3’ kali kami pernah ribut. Apakah salah kehidupan keluarga saya? Apakah keluarga kami termasuk baik berhubung tidak ada ‘ribut’ seperti yang sering terjadi di keluarga lain?
Jazakumullah khairan katsiran atas nasihatnya.
Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 
 
Riri
Jakarta
Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/07/anebungacinta.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-248 alignright" title="anebungacinta" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/07/anebungacinta-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Ustadz, saya mau bertanya. Selama 4 tahun lebih kami menikah, hanya ‘3’ kali kami pernah ribut. Apakah salah kehidupan keluarga saya? Apakah keluarga kami termasuk baik berhubung tidak ada ‘ribut’ seperti yang sering terjadi di keluarga lain?</p>
<p><em>Jazakumullah khairan katsiran atas nasihatnya.</em></p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Riri</p>
<p>Jakarta</p>
<p><em>Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Ukhti Riri yang dirahmati Allah, konflik, sekecil apapun, pasti terjadi di dalam kehidupan rumah tangga. Buah dari berpadunya dua pribadi berbeda dengan rentang perbedaan yang bervariasi pada setiap keluarga. Di satu sisi, konflik yang muncul bisa menjadi sarana pendewasaan dan pendidikan jiwa yang efektif, asal tahu cara mengelola dan menyelesaikannya. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi duri dalam daging pernikahan yang menghalangi munculnya perasaan sakinah, tenang, dan tentram yang menjadi salah satu tujuan pernikahan.</p>
<p>Mengenai keluarga yang sepi konflik, seperti rumah tangga Anda, ia bisa menjadi indikasi baik maupun buruk, tergantung kondisi yang melingkupinya. Ia adalah pertanda baik jika sepinya konflik adalah buah pemahaman akan karakter dan pribadi pasangan yang mendalam, kecenderungan untuk berkorban, mengalah dan menjaga perasaan pasangan, atau karena fokus kepada hal-hal yang besar hingga konflik yang ada terasa kecil, sepele, dan tidak untuk dibesar-besarkan. Masing-masing anggota keluarga bersikap dewasa untuk menikmati dan memanfaatkan konflik yang muncul demi kebaikan bersama.</p>
<p>Namun ia adalah pertanda buruk,  jika ketiadaan konflik karena kecenderungan untuk menghindari keributan dan membiarkannya mendingin tanpa penyelesaian. Membiarkan penyimpangan yang ada di rumah karena takut terluka atau melukai perasaan pasangan, tidak mau ribut, atau malah karena hilangnya ghirah keislaman. Ibarat bom waktu, sepinya konflik karena hal-hal ini akan menuai hasilnya suatu saat nanti.</p>
<p>Ketiadaan konflik yang disertai keistiqamahan di atas syariat, sikap saling mendukung dan menolong, perasaan nyaman dan saling percaya, serta lancarnya komunikasi kedua belah pihak, jelas sebuah anugerah luar biasa dalam kehidupan berumah tangga.</p>
<p>Ukhti Riri, saya berharap, apa yang terjadi dalam keluaraga Anda adalah anugerah itu, yang karenanya Anda layak bersyukur kepada Allah. Jangan membuat perbandingan dengan keluarga-keluarga yang lain sebab masing-masing keluarga unik dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Lagi pula, meski sudah berjalan tanpa konflik yang berarti selama ini, bukan berarti tidak akan ada konflik di kemudian hari. Bagaimanapun, usia pernikahan yang baru 4 tahun, meski bisa menjadi modal kuat untuk menghadapi masalah yang datang, terlalu dini untuk mengambil kesimpulan akan nihilnya konflik suatu saat nanti. Maka, peliharalah yang ada dan tetap hati-hati dan waspada.</p>
<p>Saya ucapkan selamat menikmati kehidupan berkeluarga yang adem ayem. Semoga Allah memudahkan Anda dan suami mewujudkan sakinah dalam keluarga. Siapa tahu, keluarga Anda akan menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga lain yang mendamba sakinah, mawaddah, wa rahmah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2010/07/rumah-tangga-sepi-konflik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Sekolah?</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/06/memilih-sekolah.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/06/memilih-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 07:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ustadz, saya berselisih dengan isteri tentang sekolah mana yang akan kami pilih untuk anak kami. Isteri menginginkan sekolah A, sedang saya menginginkan sekolah B. Pendapat mana yang harusnya dipilih?
Atas nasihat Ustadz, saya haturkan banyak-banyak terima kasih.
Jazakumullah khairan katsiran
Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Abi
Somewhere di Bumi Allah

Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.
Abi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Ustadz, saya berselisih dengan isteri tentang sekolah mana yang akan kami pilih untuk anak kami. Isteri menginginkan sekolah A, sedang saya menginginkan sekolah B. Pendapat mana yang harusnya dipilih?</p>
<p>Atas nasihat Ustadz, saya haturkan banyak-banyak terima kasih.</p>
<p>Jazakumullah khairan katsiran</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Abi</p>
<p>Somewhere di Bumi Allah</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/sekolah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-236" title="sekolah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/06/sekolah.jpg" alt="" width="250" height="195" /></a></p>
<p>Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Abi yang baik, saya yakin setiap orangtua menginginkan semua yang terbaik bagi anak-anak mereka, termasuk dalam pendidikan. Jadi, perselisihan Anda berdua, saya yakin lebih karena kurangnya komunikasi dan perbedaan tentang yang baik bagi anak. Isteri sangat yakin jika sekolah A akan memenuhi kebaikan bagi si anak, sedang Anda sangat yakin jika hal itu bisa diberikan oleh sekolah B.</p>
<p>Yang pertama, janganlah menampakkan perbedaan pendapat itu di hadapan anak-anak. Dalam hal ini termasuk semua bentuk perselisihan suami isteri. Anda berdua harus tampak kompak di hadapan mereka agar lebih mudah menanamkan nilai dan pendirian pada diri anak. Sebab, jika orangtua berbeda pendapat dan berselisih di hadapan anak-anak, mereka bisa menangkap itu. Selain akan membingungkan mereka tentang mana yang harus dipilih atau dibela, perbedaan ini bisa juga mereka manfaatkan untuk mencari dukungan ketika melakukan sesuatu yang salah. Dan hal ini tentu saja sangat buruk.</p>
<p>Yang kedua, cobalah membangun komunikasi dengan isteri untuk mencari kesepakatan tentang apa yang baik untuk anak. Mempertimbangkan semua sisi manfaat dan madharatnya secara adil, hingga bisa dipilih mana yang lebih baik. Tentu saja yang bisa mengantarkan anak kita ke jenjang keshalihan, sebab buah dari pendidikan adalah keshalihan itu sendiri.</p>
<p>Jangan terpengaruh penilaian dan minat orang lain tentang pilihan sekolah untuk anak-anak mereka, sebab sangat mungkin Anda berbeda dengan mereka dalam mengharapkan buah dari sebuah pendidikan. Pendapat mereka cukup Anda jadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan.</p>
<p>Yang ketiga, carilah penilaian tentang sekolah pilihan dari pihak-pihak yang terpercaya. Banyak lho, orang yang tidak objektif dalam menilai baik buruknya sebuah sekolah. Seringkali mereka juga hanya menularkan apa yang mereka dengar dari orang lain. Kalau perlu, Anda bisa berkunjung langsung ke sekolah bersangkutan untuk menilainya. Baik tentang kurikulum, bangunan dan fasilitas fisik, para pengajar, kualitas lulusan, hingga kepuasan para wali murid terdahulu.</p>
<p>Pada kasus anak-anak yang sudah cukup besar, semisal seusia SMP, mintalah pendapat mereka juga dalam memilih. Jangan sampai kita memaksakan sesuatu yang tidak disukai anak-anak. Hal ini bisa berpengaruh terhadap prestasi dan kenyamanan mereka menjalani proses pendidikan.</p>
<p>Kalau perbedaan Anda berdua memang terpaksa tidak bisa dipertemukan, mintalah isteri untuk menghormati pilihan Anda sebagai kepala keluarga. Tunjukkan bahwa Anda sudah mempertimbangan semua aspeknya dan bertanggung jawab atas pilihan itu.</p>
<p>Demikian jawaban saya semoga bermanfaat. Salam untuk isteri di rumah.</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2010/06/memilih-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Pribadi yang Berprinsip!</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 14:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[studi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ustadz yang ana hormati, sebentar lagi ana tamat dari SMU, insyaallah, dan ana masih bingung menentukan harus mengambil kuliah di jurusan apa.
Secara pribadi, ana bercita-cita menjadi dokter, namun kebanyakan teman tidak mendukungnya. Mereka menilai ana paling bagus di bidang seni karena nilai-nilai ana menonjol pada pelajaran seni. Di sisi lain, ana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Ustadz yang ana hormati, sebentar lagi ana tamat dari SMU, <em>insyaallah</em>, dan ana masih bingung menentukan harus mengambil kuliah di jurusan apa.</p>
<p>Secara pribadi, ana bercita-cita menjadi dokter, namun kebanyakan teman tidak mendukungnya. Mereka menilai ana paling bagus di bidang seni karena nilai-nilai ana menonjol pada pelajaran seni. Di sisi lain, ana juga sadar kalau nilai biologi ana jelek.</p>
<p>Ustadz, apa yang sebaiknya ana lakukan? Jazakumullah khairan katsiran atas nasihatnya.</p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Akhwat di Simo</p>
<p>Boyolali</p>
<p>Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Akhwat yang baik, jadilah pribadi yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Hal ini penting agar kamu tidak bingung, ragu, dan terombang-ambing menentukan sebuah keputusan. Cobalah bayangkan lima sampai sepuluh tahun dari sekarang, kamu ingin menjadi apa? Bicaralah kepada nuranimu, renungkanlah tujuan hidupmu, kenali bakat dan hobimu, serta pelajarilah kelebihan dan kekuranganmu. Dalam konteks ini, nilai-nilai di sekolah, nasihat teman-teman, dan mengerjakan sejumlah tes bakat, bisa kamu jadikan sebagai pertimbangan. Termasuk, tentu saja, shalat istikharah jika diperlukan.</p>
<p>Kamu harus membuatnya jernih dan jelas, agar kamu mantap melangkah dan bisa memaksimalkan seluruh potensi diri yang ada. Semakin <em>clear</em>, semakin baik, sebab tidak ada perang batin di dalam dirimu. Semakin kabur tujuanmu, semakin mudah kamu dipengaruhi orang lain. Bisa-bisa kamu terombang-ambing oleh banyaknya masukan yang kamu terima. Kamu harus yakin dan percaya diri dengan pilihanmu meski kadang tidak popular dan tampak sulit. Yakinlah kamu bisa jika kamu berusaha dengan cara yang benar, efektif dan efisien.</p>
<p>Setelah pilihanmu jelas, susunlah strateginya. Fokuskan perhatian kepada bidang yang kamu ingini, pelajarilah dengan semangat dan tekun, serta tentukan target-target kecil untuk mencapai tujuanmu. Selain itu, kamu juga bisa mencari figur sukses di bidang yang sama. Pelajarilah berbagai tips dan rahasia suksesnya, baik dari buku, kaset, vcd, atau seminar, serta sesuaikanlah dengan kondisimu. Modifikasikan dengan karakter pribadimu agar kamu menemukan caramu yang unik. Hal ini jauh lebih mudah daripada kamu berusaha menemukan cara sukses sendiri.</p>
<p>Selain berdoa kepada Allah agar Dia memudahkan langkahmu, rajinlah melakukan evaluasi secara berkala. Hal ini untuk menjamin jalan yang kamu tempuh sudah di atas jalan yang seharusnya, tidak menyimpang dan sesuai target. Buatlah perubahan jika memang diperlukan agar lebih sesuai dengan kondisi yang sudah berubah.</p>
<p>Demikian nasihat Ustadz, selamat dan sukses!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
