Kajian

Menjawab Seruan yang Menghidupkan

Setiap manusia tentu mendambakan kehidupan yang baik atau hayatan thayyibah. Seandainya diberi pilihan, pasti akan memilih bahagia, tak ada yang ingin hidup susah apalagi menderita. Tapi, persepsi tiap orang tentang kehidupan yang baik tersebut ternyata berbeda. Orang yang materialistic oriented memandang bahwa kenikamatan hidup hanya ada di dunia, akhirat adalah dongeng fantasi yang tidak nyata. Sedangkan orang Islam memandang bahwa kehidupan yang hakiki justru kehidupan akhirat yang menjadi hasil atas usahanya di dunia. Sejauh mana ia merespon seruan Allah SWT dan rasul-Nya, sejauh itu pula hasil yang akan ia raih di akhirat. Selebihnya, adalah rahmat dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal; 24)

Ibnu Qayyim al-jauziyah mengatakan bahwa hidup seseorang bisa menjadi manfaat jika ia menerima ajaran Allah SWT dan rasul-Nya. Sebaliknya, orang yang acuh, berpaling atau malah menghindar, maka antara hidup dan mati tidak ada bedanya. Meskipun setiap hari disuguhi dengan kenikmatan dan kegembiraan duniawi, tapi pada hakekatnya merupakan kebahagiaan semu dan tak bisa dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Ingat, satu hari di akhirat sama dengan lima puluh ribu tahun waktu dunia. Dan, kenikmatan akhirat 100 kali lipat jika dibandingkan dengan nikmat yang kita rasakan saat ini. Begitu pula rasa sakit dan adzab di akhirat, pedihnya tak ada bandingannya di dunia.

Karena itu, sebagai seorang muslim, kita sungguh beruntung karena telah siap untuk diatur dengan ketentuan Islam dan menjalani pola hidup yang Islami. Siap mendengarkan pengarahan yang ada dalam ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Kepatuhan inilah ciri utama seoarang muslim. Hal ini sesuai dengan, arti Islam secara syar’i. Yaitu, patuh kepada perintah dan larangan Allah SWT tanpa adanya penolakan. Jadi, belum dikatakan sempurna jika menjalankan aturan Allah SWT dengan berat hati. Sebab, aturan tersebut sebenarnya bukanlah beban, melainkan pemenuhan terhadap kebutuhan yang berupa fisik maupun spiritual.

Unsur Jasmani dan Hati

Manusia memiliki dua unsur yang sama-sama membutuhkan asupan nutrisi agar terus hidup. Unsur pertama adalah jasad. Secara naluri, jasad manusia akan memilih sesuatu yang  bermanfaat dan menghindari apa saja yang menimbulkan madharat. Jasad manusia juga dapat merasakan bahagia dan nestapa.  Kenikmatan fisik dapat dipenuhi dengan memenuhi kebutuhan yang berupa fisik, seperti makan-minum, istirahat dan lain sebagainya.

Unsur kedua yaitu hati yang  salah satu fungsinya sebagai kompas spiritual untuk mengenali apa saja yang baik dan yang buruk, mana jalan yang benar dan yang sesat. Juga untuk membedakan antara suara hati atau dorongan hawa nafsu. Hati yang masih berjalan di atas fitrah secara otomatis memilih kebenaran dan Islam. Sehingga ukuran baik dan buruk adalah standar yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran dan Rasulullah SAW dalam sunnahnya. Bukan persepsi manusia yang diyakini benar oleh khalayak.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa jasad manusia hidup dan berfungsi pertama kali saat malaikat meniupkan ruh kala proses penciptaan dalam rahim. Sedangkan hati manusia akan hidup saat menerima “tiupan” ajaran Rasulullah SAW. Keduanya merupakan dua bagian integral yang tak bisa dipisahkan. Karena itu, itu orang yang hanya mendapatkan ruh yang pertama, sesungguhnya belum lengkap kehidupannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman bahwa sesungguhnya manusia mati lalu Allah SWT ulurkan energi kehidupan sehingga ia dapat bergerak. Oleh karena itu, orang kafir yang tidak beriman ditamsilkan dalam Al-Quran sebagai sebagai orang mati dan orang buta yang tak bisa melihat cahaya.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. AL-anam: 122)

Patuh yang seutuhnya yang terwujud dam menjalankan perintah dan menjauhi larangan merupakan cara hidup hidup orang beriman. Menerima dalam keyakinan lalu menerapkannya dengan anggota badan. Semakin lengkap ketentuan Islam yang ia amalkan semakin banyak manfaat yang akan didapatkan. Dan, semakin banyak manfaat yang akan diperoleh.

Tak Ada Tabir, Tak Ada Batas

Ayat ke-24 dari surat al-anfal di atas juga menjelaskan bahwa Allah SWT sangat dekat dengan hati. Tidak ada pembatas antara Allah SWT dengan isi hati manusia. Allah SWT mengetahui semua rahasia hati tanpa ada satupun yang bisa ditutup-tutupi. Oleh karena itu, istijabah atau respon terhadap seruan Allah SWT dan rasul-Nya harus berawal dari hati. Tanpa adanya ketulusan hati, amal anggota badan tak akan sempurna karena hanya berupa gerakan badan tanpa adanya ruh.

Satu hal yang perlu kita khawatirkan yaitu hukuman yang akan dikenakan bagi orang yang tidak memiliki ketulusan hati. Bahwa hati akan tersekat sehingga sulit menerima kebenaran ajaran Allah SWT dan rasulnya. Kemudian, hati tersebut digenangi oleh keraguan seperti kebimbangan orang-orang tidak beriman.

Allah SWT berfirman:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS. Al-Anam: 110)

Wallahu A’lam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *