Uswah

Silsilah Shirah Nabawiyah

Salah satu syarat yang wajib dimiliki bagi siapa saja yang melantunkan kalimat tauhid atau syahadat adalah mahabbah. dan mahabbah merupakan amalan hati, yang tercermin dalam amalan lisan dan arkan (angota badan). jika tidak ada mahabbah maka gugurlah syahadat yang diikrarkan. Orang yang bersyahadat namun tidak mencintai Allah atau salah menempatkan posisi puncak kencintaanya, serta tidak mencintai RasulNya, maka ia membatalkan syahadat yang diikrarkan oleh lisannya.

Mencintai Allah Kemudian RasulNya Adalah Tuntutan Tauhid

Ahlu tauhid mencintai Allah dengan kencintaan yang puncak, sebaliknya ahlu syirk mereka mencintai Allah dan disaat yang sama mencintai selain Allah dengan kadar yang sama.

Simak firman Allah ta’ala :

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]

Ummat Muhammad mencintai Nabinya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, orang tua, pasangan hidup dan anaknya serta seluruh manusia. Rasulullah bersabda;

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidak beriman salah seoang diantara kalian hingga aku lebih dicintai melebihi kecintaanya kepada orangtuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari)

Dan bila benar kita cinta kepada Allah maka syaratnya hanya satu tiada duanya, yaitu mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman :

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Belajar Shirah Untuk Memahami Islam Dan Meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Mengikuti, mencontoh dan meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berarti mewajibkan kita untuk mempelajari shirahnya. Perjalanan hidup Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah bagian dari agama ini. Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam kemudian memerintahkannya untuk menerangkan kepada manusia, sebagaimana firmanNya :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, litubayyina (agar kamu menerangkan) pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl: 44)

BACA JUGA : Simbol Keluarga Harmonis

Dan bayan (penjelasan/menerangkan) Al Qur’an mengandung makna penjelasan dengan perkataan dan perbuatan serta justifikasi (taqrir) terhadap suatu perbuatan. dan Sirah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam memuat aplikasi nyata dari pesan-pesan al qur’an. Setiap penjelasan yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah bukan dari hawa nafsunya, akan tetapi wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya shallallahu’alaihi wasallam.

Pelajaran Dan Ibrah

Dengan mempelajari shirah atau perjalanan hidup Nabi, maka kita akan mendapati secara detail dan rinci mulai dari detik-detik kelahiran Nabi hingga beliau wafat; kehidupan masa kecil, kehidupan masa muda, bersama istri-istrinya, bersama para sahabatnya, dakwahnya, jihad dan kesabarannya.

Terdapat contoh bagaimana menghadapi suatu kaum, bagaimana memimpin suatu negri, menjadi komandan jihad, menjadi suami bagi para istrinya, menjadi bapak bagi anak-anaknya, Hakim, guru, juru dakwah, sekaligus menjadi pribadi yang sangat zuhud.

Dengan mempelajari shirah berarti kita sedang belajar; aqidah, hukum, adab dan akhlak, kehidupan para sahabat Nabi yang berjuang bersama Nabi, serta ilmu berdakwah di jalan Allah.

pelajaran, ibrah dan hikmah yang layak untuk ditulis dengan tinta emas ini kita jadikan acuan dalam menjalankan kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. menjadi solusi di setiap sudut permasalahan yang dihadapi manusia akhir zaman, karena memang syariat Nabi Muhammad inilah yang menjadi penutup syariat-syariat sebelumnya, yang berlaku umum baik untuk manusia maupun jin, cocok untuk setiap umat di setiap zaman dan tempat, dan dunia ini tidak butuh lagi kepada syariat yang baru, karena dunia tidak membutuhkan Nabi baru lagi setelah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Kesimpulannya, dengan mengenal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam lewat shirahnya ini maka akan mengantarkan kita menuju ;

Kecintaan kita kepadanya shallallahu’alaihi wasallam, menghormati, menghargai serta mengasihi sang kekasih yang menjadi pilihan Allah, semuanya itu dengan dasar pengetahuan dan bukan karena perasaan semata yang terwarisi, sementara kecintaan yang didasari dengan ilmu itulah cinta yang dikehendaki.

Menjadikan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai suri tauladan, karena kita diperintahkan Allah untuk mencontoh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Yang kemudian kita berharap agar Allah mencintai kita, dan mengampuni dosa-dosa kita sebagaimana janji Allah; “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *