<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; cita-cita</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/tag/cita-cita/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Antara Cita-Cita dan Angan-Angan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 03:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[angan-angan]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Usai menyampaikan motivasi tentang dahsyatnya cita-cita, juga keharusan memiliki cita-cita yang tinggi, seorang peserta menghampiri saya, lantas memberikan apresiasi yang baik. Namun dia juga mengutarakan rasa bimbangnya. Ada rasa takut untuk bercita-cita, karena khawatir terjerumus kepada angan-angan yang dicela. Masih ada kesamaran, apa yang membedakan antara bercita-cita dengan panjang angan-angan. Sekilas memang tampak mirip antara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-331" title="antara-cita-cita-dan-angan-" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan--150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Usai menyampaikan motivasi tentang dahsyatnya cita-cita, juga keharusan memiliki cita-cita yang tinggi, seorang peserta menghampiri saya, lantas memberikan apresiasi yang baik. Namun dia juga mengutarakan rasa bimbangnya. Ada rasa takut untuk bercita-cita, karena khawatir terjerumus kepada angan-angan yang dicela. Masih ada kesamaran, apa yang membedakan antara bercita-cita dengan panjang angan-angan.</p>
<p>Sekilas memang tampak mirip antara keduanya, sama-sama berharap bisa merengkuh suatu kesuksesan dan kemuliaan. Sementara, nash-nash menunjukkan adanya nilai yang berkebalikan antara keduanya. Allah dan Rasul-Nya memuji orang yang optimis dalam bercita-cita, menyukai cita-cita yang tinggi, juga menghasung kita untuk tinggi dalam bercita-cita. Seprti tersirat dalam doa untuk menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa, memohon jannah Firdaus yang merupakan jannah yang paling tinggi dan paling tengah, juga bertekad dengan tulus supaya sampai ke derajat orang yang syahid.</p>
<h6>مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ</h6>
<p>“<em>Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan menyampaikan dirinya ke derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas kasurnya.</em>” (HR Muslim)</p>
<p>Berbeda dengan panjang angan-angan yang dipandang syariat sebagai cela. Layaknya penyakit yang perlu diterapi atau kelemahan yang mendatangkan kerugian dan kebinasaan. Firman Allah,</p>
<p>“<em>Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka</em>). (QS al-Hijr 3)</p>
<p>Muhammad bin Waasi’ rahimahullah, tokoh tabi’in berkata, “Ada empat pertanda kesengsaraan; panjang angan, keras hati, sempit pandangan dan bakhil.”</p>
<p>Maka jelas, nilai kedudukan keduanya berkebalikan, yang satu mulia dan yang satu hina. Lalu apa yang membedakan antara bercita-cita dan berangan-angan?</p>
<p><strong>Beda Motivasi</strong></p>
<p>Pertama, dari sisi sebab munculnya sudah beda. Angan-angan itu muncul karena dorongan hawa nafsu, seperti yang disebutkan oleh Imam as-Suyuuthi dalam Jami’ al-Hadits bahwa <em>thuulul amal huwa raja’un ma tuhibbuhu an-nafsu</em>, harapan (yang timbul) karena keinginan nafsu. Ingin kaya agar bisa menikmati setiap yang diinginkannya, ingin menjadi pejabat yang memiliki banyak bawahan dan terhormat di mata manusia, atau keinginan lain yang ujungnya adalah ingin mendapatkan kepuasan nafsu.</p>
<p>Berbeda halnya dengan cita-cita. Ia muncul dari pemikiran yang jitu, juga renungan yang mendalam tentang posisi atau target apa yang bisa mendatangkan maslahat untuk dirinya dan juga umat. Hal ini sesuai dengan pesan Nabi saw,</p>
<h6>احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِز</h6>
<p>“<em>Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah (pesimis).”</em> (HR Muslim)</p>
<p><strong>Beda </strong><strong>Pula</strong><strong> Efeknya</strong></p>
<p>Di samping faktor pemicu antara angan dan cita-cita berbeda, efek yang ditimbulkan karena keduanya juga berbeda. Orang yang bercita-cita cenderung membulatkan tekadnya, mengatur langkahnya, mengerahkan potensinya dan serius untuk menggapai tujuannya. Berbeda dengan panjang angan-angan yang menyebabkan pemiliknya justru berleha-leha dan banyak melakukan taswif (menunda).</p>
<p>Dengan kata lain, jika ada seseorang memiliki target masa depan yang tinggi, tapi dia berleha-leha, maka yang dia miliki sebenarnya angan-angan, bukan cita-cita. Andai dia memiliki cita-cita, tentu dia akan menggunakan peluang dan potensinya untuk sesuatu yang bermanfaat dan mengantarkan cita-citanya. Dan untuk tujuan inilah Islam menghasung umatnya untuk bercita-cita mulia.</p>
<p>Nabi saw membedakan cita-cita mulia orang yang cerdas dengan kelemahan orang yang mengandalkan angan-angan,</p>
<h6>الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّه</h6>
<p>“<em>Orang yang cerdas adalah orang yang sudi mengoreksi diri dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kepada Allah.</em>” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan haditsnya hasan)</p>
<p>Si lemah berangan-angan, bahwa dengan bersenang-senang, mengikuti hawa nafsu, serta tanpa kesungguhan amal mereka menyangka akan mendapatkan kemuliaan oleh Allah. Tentang hadits ini, Al-Manawi dalam at-Taisir bi Syarhil Jaami’ ash-Shaghiir berkata, “Antara cita-cita dan angan-angan itu berbeda. Barangsiapa yang tidak mengolah tanah, tidak menaburinya dengan benih, namun dia menunggu datangnya panen, maka dia hanyalah pengandai yang terpedaya dan bukan orang yang bercita-cita. Karena orang yang bercita-cita itu adalah orang yang mengelola tanah, menaburinya dengan benih, mengairinya dengan air dan melakukan sebab-sebab yang logis untuk ikhtiar, lalu selebihnya dia berharap kepada Allah agar menghindarkan dari segala hama dan memberikan karunia panen raya.”</p>
<p><strong>Cita-cita Hanya Milik Mukmin Saja</strong></p>
<p>Satu hal lagi yang membedakan antara cita-cita dan panjang angan. Sesungguhnya, cita-cita hanyalah milik orang yang beriman saja. Setinggi apapun target yang hendak diraih oleh orang kafir, meski akhirnya mereka berhasil menggapainya, sebenarnya dari sejak semula, keinginan mereka hanyalah angan-angan semata. Karena obsesi terbesar mereka adalah dunia, puncak ilmu mereka adalah dunia dan mereka menyangka disitulah letak kebahagiaan dan kemuliaan, padahal itu hanyalah fatamorgana. Maka, sebenarnya mereka hanya memiliki angan-angan, bukan cita-cita.</p>
<p>Nantinya mereka akan sadar akan kekeliruannya dalam berangan-angan. Sadar telah salah mengambil jalan. Namun sayang, kesadaran itu muncul saat tak ada waktu lagi untuk merevisi angan-angan kosong menjadi cita-cita mulia,</p>
<p>“<em>Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”</em> (QS al-Hijr 2)</p>
<p>Ya Allah, sampaikanlah kami kepada cita-cita kami, untuk bersama orang-orang yang telah Engkau karuniakan nikmat kepada mereka, dari para Nabi, Shiddiqiin, Syuhada’ dan Shalihin. Amien. (Abu Umar Abdillah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/08/antara-cita-cita-dan-angan-angan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadilah Pribadi yang Berprinsip!</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 14:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[studi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ustadz yang ana hormati, sebentar lagi ana tamat dari SMU, insyaallah, dan ana masih bingung menentukan harus mengambil kuliah di jurusan apa. Secara pribadi, ana bercita-cita menjadi dokter, namun kebanyakan teman tidak mendukungnya. Mereka menilai ana paling bagus di bidang seni karena nilai-nilai ana menonjol pada pelajaran seni. Di sisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>Assalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Ustadz yang ana hormati, sebentar lagi ana tamat dari SMU, <em>insyaallah</em>, dan ana masih bingung menentukan harus mengambil kuliah di jurusan apa.</p>
<p>Secara pribadi, ana bercita-cita menjadi dokter, namun kebanyakan teman tidak mendukungnya. Mereka menilai ana paling bagus di bidang seni karena nilai-nilai ana menonjol pada pelajaran seni. Di sisi lain, ana juga sadar kalau nilai biologi ana jelek.</p>
<p>Ustadz, apa yang sebaiknya ana lakukan? Jazakumullah khairan katsiran atas nasihatnya.</p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em>.</p>
<p>Akhwat di Simo</p>
<p>Boyolali</p>
<p>Wa&#8217;alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.</p>
<p>Akhwat yang baik, jadilah pribadi yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Hal ini penting agar kamu tidak bingung, ragu, dan terombang-ambing menentukan sebuah keputusan. Cobalah bayangkan lima sampai sepuluh tahun dari sekarang, kamu ingin menjadi apa? Bicaralah kepada nuranimu, renungkanlah tujuan hidupmu, kenali bakat dan hobimu, serta pelajarilah kelebihan dan kekuranganmu. Dalam konteks ini, nilai-nilai di sekolah, nasihat teman-teman, dan mengerjakan sejumlah tes bakat, bisa kamu jadikan sebagai pertimbangan. Termasuk, tentu saja, shalat istikharah jika diperlukan.</p>
<p>Kamu harus membuatnya jernih dan jelas, agar kamu mantap melangkah dan bisa memaksimalkan seluruh potensi diri yang ada. Semakin <em>clear</em>, semakin baik, sebab tidak ada perang batin di dalam dirimu. Semakin kabur tujuanmu, semakin mudah kamu dipengaruhi orang lain. Bisa-bisa kamu terombang-ambing oleh banyaknya masukan yang kamu terima. Kamu harus yakin dan percaya diri dengan pilihanmu meski kadang tidak popular dan tampak sulit. Yakinlah kamu bisa jika kamu berusaha dengan cara yang benar, efektif dan efisien.</p>
<p>Setelah pilihanmu jelas, susunlah strateginya. Fokuskan perhatian kepada bidang yang kamu ingini, pelajarilah dengan semangat dan tekun, serta tentukan target-target kecil untuk mencapai tujuanmu. Selain itu, kamu juga bisa mencari figur sukses di bidang yang sama. Pelajarilah berbagai tips dan rahasia suksesnya, baik dari buku, kaset, vcd, atau seminar, serta sesuaikanlah dengan kondisimu. Modifikasikan dengan karakter pribadimu agar kamu menemukan caramu yang unik. Hal ini jauh lebih mudah daripada kamu berusaha menemukan cara sukses sendiri.</p>
<p>Selain berdoa kepada Allah agar Dia memudahkan langkahmu, rajinlah melakukan evaluasi secara berkala. Hal ini untuk menjamin jalan yang kamu tempuh sudah di atas jalan yang seharusnya, tidak menyimpang dan sesuai target. Buatlah perubahan jika memang diperlukan agar lebih sesuai dengan kondisi yang sudah berubah.</p>
<p>Demikian nasihat Ustadz, selamat dan sukses!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/keluarga/2009/06/jadilah-pribadi-yang-berprinsip.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

