<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; iman</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/tag/iman/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Faktor Kuat-Lemah Iman</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/imtihan-syafii/2010/09/faktor-kuat-lemah-iman.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/imtihan-syafii/2010/09/faktor-kuat-lemah-iman.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 07:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imtihan Syafi&#39;i</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imtihan Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kuat lemah iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[بِالْخَشْيَةِ وَالتُّقَى وَمُخَالَفَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةِ اْلأَوْلَى (72) Iman itu satu. Dalam hal pangkal iman, orang-orang yang beriman itu sama. Perbedaan (keutamaan iman) di antara mereka disebabkan oleh perbedaan rasa takut kepada Allah, ketakwaan, (ketahanan) menyelisihi hawa nafsu, dan (kekuatan) menetapi perkara yang utama. Pernyataan Abu Jakfar ath-Thahawi, “Iman itu satu,” termasuk pernyataan yang—lagi-lagi—diperbincangkan para ulama. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بِالْخَشْيَةِ وَالتُّقَى وَمُخَالَفَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةِ اْلأَوْلَى<a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/faktor-kuat-lemah-iman.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-412 alignright" title="faktor-kuat-lemah-iman" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/09/faktor-kuat-lemah-iman-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>(72) Iman itu satu. Dalam hal pangkal iman, orang-orang yang beriman itu sama. Perbedaan (keutamaan iman) di antara mereka disebabkan oleh perbedaan rasa takut kepada Allah, ketakwaan, (ketahanan) menyelisihi hawa nafsu, dan (kekuatan) menetapi perkara yang utama.</p>
<p>Pernyataan Abu Jakfar ath-Thahawi, “Iman itu satu,” termasuk pernyataan yang—lagi-lagi—diperbincangkan para ulama. Pasalnya, pernyataan ini dapat berkonsekuensi membenarkan pengakuan seseorang bahwa imannya sama dengan iman para nabi atau bahkan iman para malaikat. Tentu saja maksud ath-Thahawi tidak berlebihan atau <em>ghuluw</em> seperti itu.</p>
<p>Ath-Thahawi seperti halnya Imam Abu Hanifah mendefinsikan iman secara bahasa. Sedangkan para ulama yang lain mendefinisikannya secara istilah syar’i, bahwa iman meliputi pembenaran dan keyakinan hati, ucapan lisan, serta amal anggota badan. Ath-Thahawi memaksudkan iman yang satu itu adalah <em>tashdiq</em>, pembenaran/kepercayaan hati. Inilah yang selanjutnya beliau sebut dengan <em>ashlul iman</em>, pangkal iman. Dasar yang dipakai adalah firman Allah,</p>
<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-2.png" alt="" /></p>
<p><em>“Kamu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang jujur.”</em> (QS. Yusuf: 17)</p>
<p>Perumpamaan pangkal iman seperti pangkal akal. Orang-orang yang berakal sama-sama memilikinya dalam arti tidak gila. Hanya saja akal sebagian orang lebih baik dan lebih sempurna daripada yang lain.</p>
<p>Ada juga yang mengumpamakan iman dengan penglihatan. Tidak diragukan bahwa penglihatan orang-orang yang dapat melihat itu tidak sama. Ada yang sempurna, ada yang rabun dekat, ada yang rabun jauh, dan ada pula yang hanya dapat melihat di siang hari. Yang pasti semua sama-sama dapat melihat. Oleh karena itulah Abu Jakfar mengatakan, “Dalam hal pangkal iman, orang-orang yang beriman itu sama.” Beliau mengisyaratkan, orang-orang yang beriman itu sama-sama memiliki pangkal iman. Kesamaan itu hanya pada pangkalnya, bukan pada segala aspeknya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tashdiq yang utuh</strong></p>
<p>Tashdiq atau pembenaran dengan hati harus utuh, tak boleh dikurangi dan tak dapat dibagi-bagi. Jika ia berkurang, yang ada adalah keraguan. Keraguan bukanlah iman. Ruang lingkupnya adalah membenarkan semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari Allah.</p>
<p>Barangsiapa membenarkan semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW maka ia adalah mukmin dengan keimanan yang diketahui oleh Allah. Kemudian Allah mensyaratkan kepadanya agar mengikrarkan keimanannya itu dengan lisan. Agar dalam pandangan orang lain ia juga dipandang sebagai seorang mukmin di dunia. Jika ia tidak mau, meskipun di hatinya ia beriman, namun sebenarnya ia melakukan kekafiran. Yakni kekafiran <em>juhud</em> (penolakan) dan <em>takdzib</em> (pendustaan). Juhud dan takdzib adanya di dalam hati. Ini menunjukkan bahwa hati adalah tempat bersemayamnya (pangkal) iman, bukan pada lisan atau anggota badan.</p>
<p>Dari sini jelaslah bahwa iman—dalam pandangan ath-Thahawi—bukan hanya tashdiq atau pembenaran sebagaimana kekafiran bukan hanya takdzib atau pendustaan. Iman meliputi membenarkan, menyesuaikan, dan menaati; sebagaimana kekafiran juga meliputi mendustakan, membenci dan menyelisihi.</p>
<p>Bukti bahwa membenarkan juga terjadi dengan perbuatan adalah sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, “Kedua mata berzina—zinanya adalah memandang, kedua telinga berzina—zinanya adalah mendengar, … sedangkan kemaluan membenarkannya atau mendustakannya.”</p>
<p>Pembenaran yang membuahkan amal hati dan amal anggota badan lebih sempurna daripada pembenaran yang tidak membuahkannya. Sebab sesuatu yang semestinya mendatangkan buah namun buahnya tidak datang, berarti sesuatu tadi lemah.</p>
<p>Barangsiapa yang diwajibkan menunaikan haji dan zakat misalnya, ia wajib mengimani dalam arti mengetahui apa yang diperintahkan dan meyakini bahwa Allah mewajibkan atasnya secara detail.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa orang yang di hatinya ada <em>tashdiq jazim</em> (pembenaran yang kokoh), tiada syahwat atau syubhat yang mampu menandinginya, niscaya tidak akan muncul kemaksiatan dalam dirinya. Sebab jika syahwat atau syubhat telah dikalahkan, tidak mungkin seseorang itu bermaksiat. Sebaliknya hatinya akan mendorongnya untuk mengisi waktu dengan perkara yang dapat menjauhkannya dari kemaksiataan.</p>
<p>Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seseorang berzina, ia bukanlah seorang mukmin.” Maknanya, pembenarannya yang sejati terhadap keharaman zina sedang hilang; meskipun pangkal kebenaran ada pada dirinya. Setelah ia bertaubat dan beristighfar, pembenarannya pun kembali.</p>
<p>Orang-orang yang beriman, sebagaimana dinyatakan oleh Allah, “apabila ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raf: 201)</p>
<p>Mujahid berkata, “Ini tentang seseorang yang berhasrat untuk berdosa, lalu ia ingat Allah sehingga ia meninggalkannya. Syahwat dan kemurkaan adalah pangkal keburukan. Jika seseorang memandangnya dengan <em>bashirah</em> (mata hati), ia akan kembali.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Faktor pembeda</strong></p>
<p>Perbedaan tingkat keimanan orang-orang yang beriman disebabkan oleh ketidaksamaan derajat cahaya tauhid—ath-Thahawi mengungkapkannya dengan: rasa takut kepada Allah, ketakwaan, ketahanan menyelisihi hawa nafsu dan kekuatan menetapi perkara yang utama—yang ada di dalam hati mereka yang hanya diketahui oleh Allah. Ada yang cahaya tauhidnya seperti matahari, ada yang seperti cahaya bintang kejora, ada yang seperti obor besar dan ada pula yang seperti cahaya lilin yang redup. Semakin besar cahaya ini semakin mampu pula ia membakar berbagai fitnah syubhat dan syahwat. Seorang yang cahaya tauhidnya besar, langit hatinya dijaga oleh pelontar api dari kejahatan pencuri. Kelak pada hari Kiamat cahaya itu akan berkilau di kanan dan di depan mereka sekadar dengan keberadaannya di dalam hati saat mereka masih di dunia, sekadar dengan ilmu dan amal mereka.</p>
<p>Kita pun tahu bahwa Allah mengaitkan keberuntungan dan kemenangan sejati pada ucapan syahadat yang disertai dengan keikhlasan dan mengamalkan berbagai konsekuensinya.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda,</p>
<p>إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ<strong> </strong></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah,’ dengan hanya mengharapkan wajah Allah.” </em>(Hadits shahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 1793)</p>
<p>Sebagian ulama menyatakan bahwa hadits-hadits di atas mansukh. Ada pula yang menyatakan bahwa hadits-hadits itu berlaku ketika berbagai syariat belum ditetapkan, atau yang dimaksud dengan masuk surga adalah kelak orang yang mengucapkannya akan masuk surga juga, meskipun harus masuk neraka dulu. Padahal tidak demikian adanya. Rasulullah SAW tidak memaksudkan ucapan itu sebagai ucapan semata tanpa pembuktian. Ini adalah sesuatu yang jelas. Orang-orang munafik yang mengucapkannya dengan lisan mereka, tetapi mereka menjadi penghuni dasar neraka.</p>
<p>Rasulullah SAW juga bersabda,</p>
<p>الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَة أعلاها قَوْلُ لاَ إِلَه إِلاَّ الله وَأَدْنَاهَا إِمَاطَة الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ<strong> </strong></p>
<p><em>“Iman itu terdiri dari tujuhpuluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan.”</em> (Hadits shahih riwayat Muslim dan Ibnu Majah)<strong> </strong></p>
<p>أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا<strong> </strong></p>
<p>“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang palilng baik akhlaknya.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban) <strong> </strong></p>
<p>Lantaran iman meliputi pokok dan berbagai cabang, dan setiap cabang disebut iman, maka shalat  juga disebut iman, demikian pula zakat, shiyam, haji, dan berbagai amal batin seperti malu, tawakal, takut kepada Allah. Di antara cabang-cabang itu ada yang membuat iman hilang jika ia hilang—seperti cabang dua kalimat syahadat, dan ada pula yang tidak—seperti cabang membuang rintangan dari jalan. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/imtihan-syafii/2010/09/faktor-kuat-lemah-iman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu dan Kebahagiaan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 14:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[ma'rifatullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bukunya, Tasawuf Modern, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”Kun Sa’idan”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!” Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun. ”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit&#8230;.” ”Dan jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bukunya, <em>Tasawuf Modern</em>, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”<em>Kun Sa’idan</em>”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!” Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun.<span id="more-3"></span></p>
<p>”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit&#8230;.”</p>
<p>”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu&#8230;”</p>
<p>”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!</p>
<p>Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu&#8230;”</p>
<p>”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab</p>
<p>penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.”</p>
<blockquote><p>Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!</p>
<p>Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!</p>
<p>Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!</p>
<p>Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!</p>
<p>Dan sangkaan-sangkaan lain&#8230;</p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang! Lalu, apakah itu ”bahagia” (<em>sa’adah/happiness</em>).</p>
<p>Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus <em>The Oxford English Dictionary</em> (1963) mendefinisikan ”<em>happiness</em>” sebagai: <em>”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” </em>Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya temporal dan kondisional. Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus.</p>
<p>Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (<em>sa’adah/happiness</em>) sebagai berikut:</p>
<p>”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri <em>hayawani</em> sifat <em>basyari</em>; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada <em>keyakinan diri</em> akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, <em>Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam</em>, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).</p>
<p>Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah merasakan bahagia meskipun harus mati dalam penjara. Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam <em>Tasawuf Modern</em>, mengungkapkan, bahwa puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”<em>ma’rifatullah</em>”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:</p>
<p>”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan&#8230;. Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah&#8230; Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”</p>
<p>Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (<em>Laa ilaaha illallah</em>).  Maka, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia harus meraih ilmu yang mampu mengantarkan kepada keyakinan; bukan ilmu yang justru membuat manusia ragu akan kebenaran Islam. Karena itu, satu kerugian besar jika manusia mencari ilmu yang justru tidak pernah mengantakan kepada keyakinan, karena selamanya dia tidak akan pernah menikmati kebahagiaan yang hakiki. (Depok, 10 Ramadhan 1429 H)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/ilmu-dan-kebahagiaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

