<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; jannah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/tag/jannah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Membangun Rumah di Jannah</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/12/membangun-rumah-di-jannah.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/12/membangun-rumah-di-jannah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[membangun jannah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah di jannah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Menteri Agama Suryadharma Ali pernah melansir sebuah data bahwa pertambahan masjid di Indonesia lebih rendah prosentasenya jika dibanding dengan pertambahan gereja. Sejak tahun 1977 sampai 2004 penambahan Masjid dari 392.044 menjadi 643.834 buah, jadi kenaikannya hanya 64,22 persen. Sementara pertambahan Gereja Kristen,  dari 18.977 buah menjadi 43.909 buah atau naik 131,38 persen. Sehingga tidak berlebihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/rumah-di-jannah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-558" title="rumah-di-jannah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/11/rumah-di-jannah.jpg" alt="" width="200" height="165" /></a>Menteri Agama Suryadharma Ali pernah melansir sebuah data bahwa pertambahan masjid di Indonesia lebih rendah prosentasenya jika dibanding dengan pertambahan gereja. Sejak tahun 1977 sampai 2004 penambahan Masjid dari 392.044 menjadi 643.834 buah, jadi kenaikannya hanya 64,22 persen. Sementara pertambahan Gereja Kristen,  dari 18.977 buah menjadi 43.909 buah atau naik 131,38 persen. Sehingga tidak berlebihan jika Hasyim Muzadi berkata bahwa Indonesia merupakan negara terbanyak gerejanya di Asia.</p>
<p>Ironis memang, penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim justru perkembangan tempat ibadahnya lambat. Sementara agama Kristen yang minoritas pertumbuhannya justru begitu pesat. Banyak faktor sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya hal ini, diantaranya adalah masalah dana. Sering kita saksikan pembangunan masjid yang akhirnya mandeg di tengah jalan karena tidak mendapatkan perhatian serius dari kaum muslimin. Pernah penulis didatangi dua orang yang mengaku sebagai panitia pendirian masjid yang mengeluhkan dana yang seret. Meski mereka sudah berusaha mencari dana dengan cara door to door (masuk dari rumah ke rumah) tapi tetap saja tidak mencukupi untuk menyelesaikan pembangunan masjid yang telah tertunda bertahun-tahun. Bahkan untuk menggali dana tersebut ada sebagian saudara kita yang rela ‘mengemis’ di dalam bis atau di pinggir jalan raya, karena sudah tidak ada lagi alternatif lain.</p>
<p>Memang tidak semua pembangunan masjid nasibnya seperti itu, ada yang mendapatkan dana yang melimpah hingga terkadang sisa. Maka dalam hal ini perlu ada pemerataan. Yang kebetulan mendapatkan dana melimpah selayaknya menengok  daerah-daerah lain yang gersang dalam pendanaan, terutama di daerah minoritas muslim. Ada sebagian kaum muslimin yang harus menempuh perjalanan beberapa kilometer karena tidak ada masjid jami’ yang bisa dipergunakan untuk menunaikan shalat jum’at. Sementara di tempat lain terkadang dalam satu desa ada dua masjid besar yang sama-sama dipergunakan untuk menunaikan shalat jumat.</p>
<p><strong>Keikhlasan yang Diutamakan </strong></p>
<p>Masjid sebenarnya memainkan peran penting dalam kehidupan umat Islam, sehingga perlu mendapatkan perhatian bersama. Karena pentingnya, pertama-tama yang dibangun oleh Rasulullah saw setelah tiba di Madinah -saat beliau hijrah dari Makkah- adalah masjid, yaitu Masjid Quba. Allah SWT juga menjanjikan jannah bagi orang yang membangun masjid. Nabi saw bersabda:</p>
<p>مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ</p>
<p>“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah -Bukair berkata, &#8216;Seingatku beliau bersabda, &#8216;Dengan maksud mencari wajah Allah&#8217;-, niscaya Allah membuatkan rumah di surga untuknya.” (HR. Muslim)</p>
<p>Keutamaan tersebut hanya bisa dicapai dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah semata, meskipun masjid yang dibangun itu berukuran kecil. Karena dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa membangun sebuah masjid karena Allah walau seukuran sarang (kandang) burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam jannah.” (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi)</p>
<p>Adapun bila seseorang membangun masjid dengan tujuan ingin dipuji oleh manusia atau hanya untuk berbangga-banggaan semata maka ia tidak akan memperoleh keutamaan ini. Dan jika hal ini merajalela di tengah-tengah manusia maka itu salah satu pertanda dekatnya hari kiamat.</p>
<p><strong>Memakmurkan bukan sekedar membangun</strong></p>
<p>Pembangunan masjid atau rehabilitasi yang dirancang oleh masyarakat, rata-rata menghendaki bentuk bangunan yang megah, lengkap dengan ornamen dan arsitektur mewah. Hal ini sudah menjadi tren di kalangan umat Islam. Mereka beralasan bahwa jika bangunan masjid dirancang dengan megah, tentu akan menarik minat kaum muslimin untuk lebih sering dan rajin datang ke masjid. Meskipun kenyataannya tidaklah demikian. Sering kita jumpai sebuah masjid yang begitu megah bangunannya namun sepi pengunjung. Jama’ahnya bisa  dihitung dengan jari, terlebih saat shalat shubuh. Hal ini terjadi karena banyak masjid yang dibangun hari ini bukan untuk dimakmurkan. Masjid belum difungsikan secara maksimal. Rata-rata hanya sekedar untuk mengerjakan shalat berjamaah, setelah itu pintu dikunci, gerbang ditutup rapat dan hanya dibuka kembali setelah waktu shalat tiba.</p>
<p>Fungsi masjid sebenarnya bukan hanya untuk menunaikan shalat  semata. Jika kita merujuk kepada sejarah perjuangan Rasulullah saw, kita akan melihat betapa masjid itu memiliki peran yang sangat besar dalam menanamkan dan memperkuat akidah, akhlak dan penegakan hukum Islam. Selain itu, masjid juga menjadi sentra pembinaan umat, kebersamaan, dan kepedulian kepada sesama.</p>
<p>Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka memakmurkan masjid. Selain menjaga dan memelihara kebersihannya, masjid juga bisa dijadikan sebagai sarana meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat, iktikaf, membaca Al Qur’an serta memperbanyak doa dan dzikir di dalamnya.</p>
<p>Masjid juga bisa kita manfaatkan untuk menyampaikan ilmu dan membina umat, bisa melalui khutbah atau mengadakan berbagai kajian keislaman. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, empat khalifah rasyidah yang menjadi penerus kepemimpinan Rasulullah saw adalah guru, ekonom dan pemimpin umat yang lahir dari masjid. Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali adalah empat ulama besar yang lahir dari masjid. Mereka belajar dan mengajar di masjid. Demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Imam Nawawi, dan ulama-ulama besar lainnya.</p>
<p>Yang tidak kalah pentingnya masjid juga bisa dimaksmimalkan fungsinya sebagai tempat pembinaan dan pengembangan ekonomi umat, yaitu dengan memfungsikannya sebagai sarana pengelolaan zakat, infak, sedekah dan wakaf .</p>
<p>Dari Masjidlah sebenarnya kemuliaan Islam bisa kembali tegak dan berkuasa di muka bumi ini. Asalkan umat Islam bukan hanya sekedar berlomba-lomba membangun masjid namun juga mau memakmurkannya. (abu hanan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2010/12/membangun-rumah-di-jannah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbekal Untuk Hidup Setelah Mati</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2009/07/berbekal-untuk-hidup-setelah-mati.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2009/07/berbekal-untuk-hidup-setelah-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 14:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[bekal]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[ujub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Faedah besar akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan memperbanyak amal ketaatan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> (QS. al-Hasyr 18)</p>
<p>Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan meneliti kembali bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Faedah besar akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan memperbanyak amal ketaatan. Tapi jika kita ujub, merasa telah mencapai derajat tertentu dalam keimanan, merasa telah memiliki bsnyak tabungan kebaikan, maka hal ini akan membuat kita terpedaya.</p>
<p><strong>Tiga Cara Mengusir Ujub</strong></p>
<p>Imam Syafi&#8217;i memberikan tips kepada kita supaya tidak lekas berbangga dengan amal yang berhasil kita tunaikan, atau dosa yang mampu kita tinggalkan. Beliau berkata, &#8220;Jika kamu khawatir terjangkiti ujub, maka ingatlah tiga hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barangsiapa merenungkan tiga hal tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.&#8221;</p>
<p>Alangkah dalamnya nasihat beliau. Mari kita jawab tiga pertanyaan tersebut, lalu kita selami kedalaman makna dari nasihat tersebut.</p>
<p>Pertama, ridha siapa yang kamu cari? Jawaban idealnya tentu ridha Allah yang kita cari. Tapi  bagaimana dengan aplikasinya? Kita tengok apa yang kita lakukan setiap hari, adakah setiap langkah, gerak-gerik kita, diam dan bicara kita, terpejam dan terjaganya mata kita selalu demi meraih ridha-Nya? Bahkan kegigihan dan pengorbanan manusia untuk mendapatkan ridha atasan, kekasih, atau untuk mendapat kewibawaan di kalangan masyarakat seringkali lebih hebat dari usaha dia untuk menggapai ridha Allah.</p>
<p>Kedua, Kenikmatan manakah yang kamu cari? Tentu kita akan menjawab, &#8220;kenikmatan jannah.&#8221; Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan,</p>
<p>?????????? ?????? ?????????? ?????????</p>
<p>&#8220;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jannah.&#8221; (HR Abu Dawud)</p>
<p>Tapi, sudahkah layak usaha yang kita lakukan sehari-hari itu diganjar dengan pahala jannah yang identik dengan kenikmatan tiada tara dan tak ada sesuatupun yang identik dengan kesengsaraan dan penderitaan? Berapa kalkulasi waktu yang kita pergunakan untuk beribadah kepada Allah, lalu bandingkan dengan keinginan kita untuk mendapatkan kenikmatan jannah.</p>
<p>Banyak orang rela bekerja sehari 8 jam, untuk mendapatkan rumah mewah sepuluh atau belasan tahun kemudian. Tapi, adakah rumah itu lebih mewah dari rumah dijannah yang digambarkan oleh Nabi, &#8220;batu-batanya dari emas dan batu-bata dari perak?&#8221; Manakah yang lebih luas, rumah dambaannya, ataukah rumah di jannah yang disebutkan Nabi saw,</p>
<p>???????? ???????? ??????</p>
<p>&#8220;Panjangnya sejauh 60 mil.&#8221; (HR Muslim)</p>
<p>Maka pikirkanlah, berapa waktu yang mesti kita pergunakan setiap harinya, agar kita mendapatkan rumah sebesar dan seindah itu? Barangsiapa merenungkan hal ini, niscaya akan menganggap bahwa amalnya belum seberapa. Belum sepadan antara usaha yang dia lakukan dengan &#8216;hadiah&#8217; yang dijanjikan oleh Allah bagi orang mukmin di jannah.</p>
<p>Ketiga, dari bahaya manakah kita hendak lari? Tentu kita akan menjawab, &#8220;Dari siksa api neraka&#8221;, sebagaimana hal ini juga menjadi permohonan yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah,</p>
<p>????????? ???? ???? ???????</p>
<p>&#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari neraka.&#8221; (HR Abu Dawud)</p>
<p>Masalahnya, adakah perbuatan yang kita lakukan setiap harinya sudah mencerminkan kondisi orang yang menghindar dari bahaya neraka yang amat dahsyat? Ataukah keadaan kita seperti yang digambarkan oleh seorang ulama salaf ketika memperhatikan banyak orang terlelap di waktu malam tanpa shalat, &#8220;Aku heran dengan jannah, bagaimana manusia bisa tidur lelap sedangkan katanya ia sedang memburunya. Dan aku heran terhadap neraka, bagaimana bisa manusia tidur nyenyak, sementara ia mengaku tengah lari dari bahayanya?&#8221;</p>
<p>Mungkin kita pernah melihat orang yang takut ditimpa suatu penyakit, takut ditangkap aparat, takut di PHK dari suatu perusahaan, takut dirampok dan lain-lain. Merekapun bertindak ekstra hati-hati dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Padahal itu semua bukan apa-apanya bila dibandingkan dengan ancaman neraka. Tapi adakah kita yang mengaku takut neraka lebih takut dan waspada dari keadaan mereka?</p>
<p>Tidak diragukan lagi, jika kita memikirkan ketiga perkara di atas, kita akan merasa, betapa amal kita masih jauh dari sempurna, masih jauh dari yang semestinya. Sehingga kita tak layak untuk ujub dan berbangga. Selayaknya kita menghitung kembali perbekalan kita, meneliti agar tak satupun tercecer, dan kita memilah dan memilih, mana yang harus dibawa, dan mana pula yang harus ditinggal.</p>
<p><strong>Jangan Keliru Membawa Bekal</strong></p>
<p>Semangat untuk beramal adalah baik. Namun setiap amal harus di dahului dengan ilmu yang benar. Jika tidak, bisa jadi bekal yang dibawa keliru. Ibarat seorang musafir yang membawa onggokan kerikil dalam perjalanan, disangkanya itu bekal yang membantunya dalam perjalanannya, tidak tahunya justru menjadi beban yang memberatkan perjalanannya. Ini perumpamaan bagi orang yang beramal tanpa dilandasi ilmu yang benar, sehingga ia terjerumus kepada bid&#8217;ah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maupun diajarkan oleh syariat. Allah mengabarkan nasib tragis di akhirat yang dialami oleh orang yang keliru membawa bekal,</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah:&#8221;Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya</em>. (QS. Al Kahfi :104)</p>
<p>Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini,</p>
<p>&#8220;Ini adalah kondisi orang memiliki banyak amal, akan tetapi dia lakukan bukan untuk Allah atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw.&#8221;</p>
<p>Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan tujuan dan tindakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/abu-umar-abdillah/2009/07/berbekal-untuk-hidup-setelah-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

