<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; liberalisme</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/tag/liberalisme/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Sep 2010 01:51:09 +0000</lastBuildDate>
	
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Misi kaum Liberal di Balik Judicial Review UU PNPS Tahun 1965</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/2010/02/misi-kaum-liberal-di-balik-judicial-review-uu-pnps-tahun-1965.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/2010/02/misi-kaum-liberal-di-balik-judicial-review-uu-pnps-tahun-1965.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 07:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muslim Setiabudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Di check point sebuah bandara, seorang wanita muda ditahan oleh petugas dan digelandang ke ruang pemeriksaan. Petugas mendapati wanita tersebut menyimpan beberapa gram heroin dibalik (maaf) bra-nya. Belakangan, wanita terebut mengaku mau melakukan pekerjaan itu karena mengharap upah beberapa ratus dollar yang sangat dia perlukan mengatasi kesulitan ekonominya.
Yang dia merasa aneh, mengapa sejak memasuki areal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="id-ID">Di <em>check point </em>sebuah bandara, seorang wanita muda ditahan oleh petugas dan digelandang ke ruang pemeriksaan. Petugas mendapati wanita tersebut menyimpan beberapa gram heroin dibalik (maaf) <em>bra</em>-nya. Belakangan, wanita terebut mengaku mau melakukan pekerjaan itu karena mengharap upah beberapa ratus dollar yang sangat dia perlukan mengatasi kesulitan ekonominya.</p>
<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/liberal1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-199" title="liberal" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2010/02/liberal1-e1273561834220.jpg" alt="" width="218" height="158" /></a>Yang dia merasa aneh, mengapa sejak memasuki areal bandara dia merasa seolah sudah ditunggu oleh orang-orang yang selalu mengikuti dan menguntitnya sampai dia masuk pemeriksaan <em>X-ray</em> yang kemudiandia ditangkap disitu. Seolah para petugas itu sudah tahu akan kedatangannya, dan begitu dia masuk, langsung ditangkap. Dia merasa, sepertinya dia dikorbankan.</p>
<p lang="id-ID">Setelah di penjara dia bertemu dan bertukar pengalaman dengan mereka yang terkena kasus sama, barulah dia <em>ngeh</em>, bahwa hal seperti itu biasa terjadi di dunia mafia obat bius. Para <em>boss</em> mafia telah menjalin hubungan dengan beberapa oknum petugas yang ikut menikmati bagian dari bisnis haram yang super menggiurkan itu. Terkadang, jaringan mafia obat bius tersebut sengaja mengorbankan satu-dua kurirnya, biasanya rekrutan baru yang belum mengerti, dengan maksud, sebenarnya pada saat yang sama mereka meloloskan pengiriman yang jauh lebih besar. Jadi tertangkapnya perempuan muda itu bukan <em>accident</em> tapi <em>by program.</em></p>
<p lang="id-ID">Pola yang sama terjadi pada sebuah peristiwa tampak besar, hingar-bingar, menyedot perhatian publik dan di<em>blow up</em> media massa. Sebenarnya pengaruh peristiwa tersebut terhadap kehidupan publik tak seberapa. Sebaliknya, ada peristiwa di balik hingar-bingar itu yang sepi dari sorotan kamera, tak banyak mengisi <em>headline </em>koran tetapi pengaruhnya kepada kehidupan masyarakat lebih besar, dalam dan permanen. Jadi, terkadang suatu peristiwa <em>by program</em> dibesar-besarkan di media massa, sengaja untuk menutupi atau setidaknya menyamarkan, perkara substansial yang sedang dalam skenario kelompok kepentingan.</p>
<p lang="id-ID">Rekayasa sosial seperti itu sangat lazim di dalam kehidupan politik dan kriminal. Pemerintah, atau mafia obat bius, atau kelompok kepentingan seperti lobi Yahudi biasa menggunakan cara-cara seperti itu. Bahkan ada ahli yang spesialis pembuat skenario semacam itu.</p>
<p lang="id-ID">Raibnya uang negara 6,7 trilyun tentu suatu perkara besar, kerugian negara besar. Sekalipun ada yang tetap <em>ngancil pilek</em>, pura-pura tidak tahu bahwa negara rugi. Negara untung, karena tidak jadi terkena dampak sistemik yang akan terjadi kalau bank Century tidak di <em>bailout</em>. Negara rugi jika terjadi <em>gonjang-ganjing </em>perbankan terkena dampak psikologis bangkrutnya bank Century. Para ekonom liberal itu mencekoki 250 juta lebih manusia mengenai sesuatu yang ‘mungkin’ terjadi untuk memaksakan benarnya sesuatu yang sudah ‘pasti’ terjadi, yakni negara dirugikan 6,7 trilyun dengan keputusan dini hari yang <em>slintutan </em>itu. Ini masalah besar, tetapi bagi rakyat ya <em>ndak</em> begitu terasa secara langsung, <em>toh</em> sebelumnya memang sudah <em>ngos-ngosan</em> akibat beban ekonomi yang ditanggung.</p>
<p lang="id-ID">Keretakan partai-partai koalisi pendukung KIB II akibat beda sikap menghadapi Pansus Century adalah perkara besar sampai muncul ancaman <em>rusuffle</em> kabinet. Bagi para politikus, itu merupakan <em>early warning</em> bakal ada yang geser dari posisi menteri, masuk kotak. Implikasi langsung yang segera dirasakan, penerimaan bulanan yang semula pokoknya saja sekitar 18 juta masih ditambah <em>ceperan </em>sana-sini, berubah menjadi 2,7 juta. Wah!&#8230;sungguh berat  kalau tidak ada sumber lain, apalagi kalau gaya hidup sudah terlanjur di-<em>setel </em>dengan selera tinggi, bisa stress bahkan depresi. Itu masalah besar, tetapi pada <em>scope</em> terbatas, dan pengaruhnya tidak terlalu signifikan untuk diperhitungkan. Kecuali kalau setelah di-<em>resuffle</em> menggalang pengikut, dibayari, kemudian <em>ngamuk</em>, lain masalah.</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Genderang Perang Kaum Liberal-Sekular.</strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Di balik hingar-bingar obyek sorot kamera TV, corong radio maupun <em>headline </em>koran pekan ini, terselip peristiwa substansial yang akan berpengaruh mendalam dalam jangka panjang, yakni pengajuan <em>judicial review </em>(pengujian) UU Nomor I Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama oleh Mahkamah Konstitusi, Kamis 5 Pebruari 2010. Pengabulan atau penolakan MK terhadap permintaan itu berpengaruh besar dan mendalam terhadap kehidupan beragama di Indonesia, terutama ummat Islam.</p>
<p lang="id-ID">Permohonan pengujian ini dilakukan oleh 7 LSM dan beberapa nama perorangan yang merupakan <em>garda</em> depan pengusung sekularisme, pluralisme dan liberalisme, yakni : IMPARSIAL (Rachland Nashidik), ELSAM (Asmara Nababan), PHBI (Syamsudin Radjab), DEMOS (Anton Pradjasto), Perkumpulan Masyarakat Setara (Hendardi), Desantara Foundation (M.Nur Khoiron), YLBHI (Patra M Zein) dan perorangan yakni : (mendiang) Abdurrahman Wahid, Prof. Dr.Musdah Mulia, Prof.M.Dawam Rahardjo dan Maman Imanul-Haq. Mereka tergabung dalam wadah Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).</p>
<p lang="id-ID">Kelompok ini menggagas untuk mengajukan <em>judicial review </em>sejak pertengahan tahun 2008. Dikeluarkannya SKB tiga menteri terkait pelarangan kelompok sesat Ahmadiyah, dijadikan <em>momentum </em>oleh aliansi ini untuk melayangkan gugatan. Mereka menganggap UU Nomor I Tahun 1965 itu merupakan pelanggaran konstitusi kebebasan beragama dan berkeyakinan, bahkan dianggap diskriminatif terhadap kelompok-kelompok penghayat kepercayaan, karenanya harus segera diganti.</p>
<p lang="id-ID">Kuasa hukum penggugat, Uli Parlian Sihombing mengatakan, <em>“Undang-undang ini melanggar konstitusi, khususnya ayat 1 pasal 3 tentang negara hukum. Di dalam negara hukum itu kan ada perlindungan HAM. Nah, di dalam UU PNPS No 1 tahun 1965 itu ada larangan kegiatan dan penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama, itu intinya. Kemudian, apalagi menceritakannya di depan umum. Nah, dalam konteks HAM, penafsiran itu bagian dari keyakinan seseorang, tidak bisa di-intervensi”. </em>Para penggugat berkeyakinan bahwa pasal ini yang dijadikan dasar dan memicu tindakan kekerasan kepada kelompok yang dianggap keluar dari penafsiran kelompok agama utama.</p>
<p lang="id-ID">Sebaliknya, Menkumham Patrialis Akbar, mewakili pemerintah menolak anggapan itu dan berpendapat bahwa pencabutan UU itu justru akan merusak harmoni dan memicu konflik antar sesama pemeluk agama. Katanya, <em>“Kemudian permohonan ini juga dikhawatirkan dapat menimbulkan gejolak dan konflik horisontal antar masyarakat. Karena dapat kita bayangkan, bagaimana suatu agama dimasuki oleh prinsip-prinsip lain dengan memakai nama agama itu sendiri, tetapi sistem dan ajarannya justru bertolak belakang dengan agama itu&#8230;.”</em></p>
<p lang="id-ID">Persis! Ya seperti itu spririt <em>liberalisme</em> yang diyakini dan diusung oleh AKKBB ini, itulah yang dinamakan <em>al-hurriyah bilaa haddin</em>, kebebasan tanpa batas. Tahu <em>ndak</em>, dalam bentuk paling ekstrem, bahkan memberi definisi terhadap kebebasan itu sendiri tak boleh. Mengapa? Ya,&#8230; karena definisi itu artinya batasan, kalau sudah diberi batasan berarti sudah tidak bebas lagi. Gila!</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Kontradiksi atau Ketidak-jujuran?</strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Kaum liberalis-sekuler melihat bahwa kelompok Ahmadiyah sebagai obyek kekerasan dari kelompok agama utama, maksudnya ummat Islam, dimana mereka dibatasi haknya untuk mempunyai penafsiran sendiri sesuai keyakinannya, dibatasi dalam beribadah dan diserang rumah-rumah ibadahnya. Penafsiran agama Ahmadiyah, salah satunya mereka meyakini bahwa masih ada rasul setelah Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak dipandang oleh kaum liberal sebagai serangan kepada keyakinan ummat Islam. Keyakinan mereka itu telah mengantarkan keluar dari pokok ajaran Islam paling mendasar yang telah mapan dan diyakini kebenaranya lebih dari 14 abad. Bahkan hal itu oleh kelompok sekular-liberal di-<em>justifikasi</em> sebagai kebebasan berkeyakinan yang dilindungi undang-undang. Kaum liberal-sekular sama sekali, <em>sekali lagi </em>sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa penafsiran itu sangat menyakiti keyakinan yang diimani oleh pemeluk Islam, melebihi serangan pisik berdarah atau ambruknya rumah ibadah.</p>
<p lang="id-ID">Mereka tidak mau melihat, <em>bukan tidak melihat</em>, bahwa jika ada reaksi spontan massa <em>grass root</em> ummat kepada Ahmadiyah, hal itu disebabkan karena serangan pendahuluan yang dilakukan oleh kaum Ahmadiyah kepada keyakinan suci yang diimani ummat. Bahkan hal itu telah berlarut-larut. Ahmadiyah dilarang di Indonesia bukan dengan SKB tiga menteri pada tahun 2008, tetapi jauh sebelum itu, sejak zaman Orde Lama. Serangan yang terjadi belakangan itupun lebih disebabkan karena mereka telah menyepakati untuk kembali kepada induk ajaran Islam, dan hal itu dituangkan dalam sederet point yang dirumuskan oleh Majelis Ulama. Nah, ternyata dalam perkembangannya, kesepatan itu hanya di atas kertas. Dalam praktek, mereka tidak mau kembali kepada keyakinan pokok Islam dan tetap menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pembawa risalah baru setelah Rasulullah <em>katamul-anbiyaa’ wal-mursaliin. </em>(Padahal menulis nama nabi mereka dengan huruf kapital saja rasanya khawatir berdosa, kalau bukan karena aturan EYD mengharuskan menulis nama dengan huruf besar). Nah! Sikap mereka yang <em>plin-plan </em>dan tidak memenuhi janji inilah yang membuat ummat merasa ditikam keyakinannya, mereka spontan marah. Ya,&#8230;kalau sudah massa yang marah, tahu sendiri. ‘Siapa suruh datang ke Jakarta?’</p>
<p lang="id-ID">Lha, membatasi ‘menyakiti’ hanya dengan ‘ukuran-ukuran pisik’ ini yang tidak adil dan tidak jujur. Kalau kaum liberal-sekular bisa menerima ketika para pemeluk agama Ahmadiyah mengatakan bahwa mereka mendapatkan ‘kepuasan batin’ dengan meyakini nabi peliharaan penjajah Inggris itu, mengapa mereka tidak dapat berpikir sama bahwa ummat Islam merasakan ‘penderitaan batin’ akibat kelakuan pemeluk agama Ahmadiyah itu. ‘Penderitaan batin’ ummat Islam lebih perih lagi karena keyakinan itu diatasnamakan Islam.</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Mengatas-namakan Tuhan</strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Salah seorang pemohon <em>judicial review</em> Khairul-Anam dalam suatu kesempatan berkata, <em>“Tuhan saja tidak marah dengan penafsiran itu&#8230;”.</em> Ini serangan lain yang tidak kalah dahsyat-nya. Jika kita bawa kepada kasus Ahmadiyah, orang ini bermaksud mengatakan bahwa <em>toh</em> orang-orang Ahmadiyah yang menafsirkan dan meyakini keyakinan yang berbeda dengan pemeluk agama Islam arus utama juga tidak dijatuhi hujan batu dari langit atau tertelan bumi seperti Qarun.</p>
<p lang="id-ID">Memang, mengatakan kalimat bahwa ada nabi baru setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak serta-merta bibir jadi ‘sumbing’. Dulu, sebelum ini pada waktu ada issue susu Dancow mengandung lemak babi, serombongan ulama’ melakukan inspeksi ke pabrik susu Dancow, kemudian secara demonstratif rombongan itu minum susu Dancow yang telah disediakan, di bawah sorotan kamera TV. <em>Sama dan Sebangun</em>. Begitukah cara mengajari logika kepada ummat? Ini bukan pengajaran, ini penyesatan!</p>
<p lang="id-ID">Kalau kalimat <em>“Tuhan saja tidak marah&#8230;”</em> itu dilanjutkan, bukankah kira-kira kelanjutan kalimatnya seperti di atas? Mas Khairul-Anam mau pakai indikator apa untuk menandai bahwa ‘Tuhan marah’? Atau ‘Tuhan senang’? Apa kalau tuhan marah, tiba-tiba datang gempa, angin ribut, atau hujan batu dari langit, atau datang wabah penyakit? Sebaliknya kalau tuhan senang lalu tuhan mengucurkan dana 1,4 milyar rupiah setahun melalui Asia Foundation, begitu? Coba, apa indikatornya?</p>
<p lang="id-ID">Maaf lho, Mas! Statement yang ringan di lisan Anda ini banyak persoalan besar terkandung di dalamnya. Bagi ummat Islam awam, pernyataan itu membuat keraguan. Hati kecil ummat awam yang beriman mengatakan “tidak!” tetapi mereka tidak mampu mendatangkan argumentasi, bahkan untuk sekedar menepis keraguannya sendiri, apalagi meyakinkan orang lain. Sebab, betapapun lemahnya nalar mereka, iman itu sendiri memiliki daya hidup. Kalau ada yang asing dengan keyakinan yang bersemayam di dalam qalbu tersebut pasti ada reaksi penentangan.</p>
<p lang="id-ID">Sementara, sekelompok ummat awam yang lain, yang posisi imannya benar-benar <em>‘alaa </em><em><span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>arfin, </em>(di tepian) akan bergumam, “iya, ya! Nyatanya <em>toh </em>dari dulu orang-orang Ahmadiyah berkeyakinan begitu juga biasa-biasa saja, tidak ada apa-apa! Kalau tuhan saja tidak marah orang berkeyakinan begitu, mengapa kita harus marah-marah?” Jadi, ringkasnya hasil akhir kalimat Anda itu menanamkan keraguan kepada ummat Islam awam terhadap keyakinan agamanya.</p>
<p lang="id-ID">Bagi orang yang paham terhadap agamanya, statement Anda itu dalam pandangan mereka adalah peragaan kebodohan. Kelompok ini mengerti bahwa tidak setiap pembiaran Allah terhadap suatu kemalasan dalam menjalankan perintah agama, atau penolakan, atau kekafiran selalu diganjar tunai dengan hukuman langsung di dunia. Kadang penundaan siksaan langsung itu karena kasih sayang Allah untuk memberi kesempatan baginya bertaubat, atau sebaliknya, karena Allah marah kepadanya supaya dia berbuat dosa lebih banyak dan lebih besar lagi sehingga di akherat mereka akan mendapatkan adzab yang tidak saja amat berat, tetapi juga membuat mereka putus asa. Firman-Nya, <em>“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu (mata) mereka terbelalak, mereka datang dengan bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong”. (Ibrahim : 42-43)</em></p>
<p lang="id-ID">Begitu pula tidak setiap terbukanya peluang kekayaan dan fasilitas duniawi kepada seseorang atau sekelompok orang, berarti Allah senang dan mencintai mereka. Sebab, terkadang gerojokan peluang duniawi itu dimaksudkan Allah sebagai <em>istidraj</em>. Coba simak firman-Nya, <em>“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Al-An’aam 44).</em></p>
<p lang="id-ID">Jadi, tidak setiap limpahan duniawi merupakan indikator senang dan ridhonya Allah. Begitu pula, tidak setiap musibah duniawi yang menimpa selalu identik kemurkaan Allah, seperti wabah penyakit misalnya. Bencana alam memang telah menjadi kesudahan bagi ummat para nabi terdahulu, jika kita percaya kepada kitab suci Al-Qur’an. <em>Toh</em> begitu, ketika bencana datang berupa gempa bumi, tanah longsor, angin ribut maupun tsunami, kaum sekuler-liberal teman-teman Mas Khayrul-Anam juga yang berteriak, <em>“Bencana alam tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan” </em>Lha terus, bagaimana? Kalau begitu, ya jadinya adu argumentasi tanpa pakem, dikejar kemana saja, selalu berkelit, pindah <em>patokan</em>, capek Deh!</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Kesempurnaan Risalah <em>Khatamul-Anbiyaa’</em></strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Mungkin Mas Khayrul-Anam belum tahu, atau sudah tahu pura-pura tidak tahu detik-detik menjelang dan setelah wafatnya Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, terjadi gelombang kemurtadan. Abu Bakar <em>ash-Shiddiq </em>Khalifah Rasul pada awal pemerintahannya dihadapkan dan disibukkan dengan <em>harakatur-riddah</em> ini, jazirah Arab yang belum lama memeluk Islam kembali murtad kecuali penduduk tiga kota saja; Makkah, Madinah dan Bahrain. Ada yang beralasan tidak mau membayar zakat dengan dibumbui argumentasi bahwa zakat hanya diserahkan kepada Rasul dan mereka yang berkeyakinan seperti itu menahan zakatnya kepada Abu Bakar Sang Khalifah. Tetapi ada juga yang lebih frontal dan terang-terangan men<em>tahbis</em>kan diri sendiri sebagai nabi, seperti Sa’jah Tamimiyah (jadi Lia Eden bukan perempuan pertama), Musailamah, Thulai<span style="text-decoration: underline;">h</span>ah bin Khuwailid dan Aswad al-Ansi.</p>
<p lang="id-ID">Coba jawab pertanyaan ini, <em>“Allah marah atau tidak kepada mereka yang mengaku nabi itu, Mas Khayrul-Anam?” </em>Jawabannya ya ataukah tidak, <em>kan</em> harus ada indikator-nya! Soalnya Allah ghaib, sehingga kemarahan dan keridhoan-Nya <em>kan</em> harus dilihat dari indikator-nya. Atau kalau indikator <em>kok </em>sepertinya <em><span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>issi </em>banget, <em>mbok</em> yang agak intelektual, kriteria atau alat ukurnya, begitu!</p>
<p lang="id-ID">Baiklah, jika musibah atau bencana tidak selalu merupakan tanda kemurkaan Allah, begitu pula limpahan kekayaan duniawi juga belum tentu menjadi tanda keridhoan-Nya, apa kriteria untuk mengukur hal itu. Soalnya semua ulama <em>salaf </em>maupun<em> kholaf</em> sepakat menjuluki Musailamah dengan tambahan <em>al-kadzdzab </em>di belakang namanya. Sedangkan para <em>muarrikh</em> mencatat tak ada bencana alam menimpa Musailamah dan para pendukungnya, bahkan di hadapan pengikutnya dia memiliki <em>haybah</em> buah dari ilmu sihirnya.</p>
<p lang="id-ID">Mengapa yang marah justru Abu Bakar <em>ash-shiddiq </em>dan para shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> sehingga mereka terlibat pertempuran hidup-mati menghadapi pasukan Musailamah? Apalagi kedustaannya mendapat justifikasi dari shahabat murtad Rajal bin Unfuwah.</p>
<p lang="id-ID">Ya! Karena para shahabat Rasulullah, manusia yang paling mengerti agama Islam setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengetahui dan sepakat bahwa ukuran kemurkaan Allah dan ridho-Nya tertuang di dalam prinsip-prinsip ajaran agama yang termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah nabi-Nya. Sekali lagi, kriteria seseorang atau sekelompok orang itu diridhoi atau dimurkai oleh-Nya adalah kesesuaian sikap, ucapan dan tindakannya apakah berdasar dan bersesuaian dengan prinsip-prinsip yang termaktub di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Gugatan Kaum Sekuler-Liberal Terhadap Perkara-Perkara <em>Tsubut </em>(yang Telah Tetap)</strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Pada titik tersebut di atas, jangan disangka bahwa orang-orang sekuler-liberal tersebut sudah menyerah dan <em>taslim</em>. Belum, bahkan tidak! Sebab mereka masih akan mengatakan bahwa prinsip-prinsip itu <em>kan </em>relatif, itu <em>kan</em> persepsi para shahabat Nabi terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Sebab yang mengetahui apa maksud Al-Qur’an yang sesungguhnya hanyalah Allah, yang lain itu hanya persepsi, termasuk para shahabat nabi, itu relatif, tidak mutlak. Jadi persepsi itu tidak boleh dipaksakan terhadap orang yang mempunyai persepsi yang lain. Nah,&#8230;lho!</p>
<p lang="id-ID">Perkara-perkara yang telah <em>tsubut</em> (tetap) dan diterima oleh ummat sebagai prinsip dasar yang tidak berubah <em>pun</em> mereka tolak. Bahwa Islam itu berdiri di atas <em>Tsalaatsatu al-Ushul al-Ma’shumah</em> (tiga landasan pokok yang tidak mungkin salah) yakni: Al-Qur’an, Sunnah dan <em>ijma’</em> (kesepakatan) para shahabat Nabi juga tidak mereka terima dan di-<em>relatif</em>-kan. Kalau shahabat yang para ahli hadits sepakat bahwa periwayatan shahabat Nabi terhadap hadits Rasul tidak perlu di-check, karena mereka sepakat keadilan para shahabat, bahwa para shahabat tidak mungkin berdusta. Sendirian saja tidak perlu diragukan keadilannya, apalagi ketika mereka bersepakat atas suatu perkara, tentu lebih kuat lagi. Lha kalau sumber pertama yang paling terpercaya setelah Nabi yang telah disepakati keabsahannya saja mereka ‘relatif’-kan, apalagi produk ijtihad para ulama setelahnya, sekalipun integritas ilmu mereka tidak diragukan.</p>
<p lang="id-ID"><span style="color: #365f91;"><span style="font-family: Cambria, serif;"><span style="font-size: medium;"><strong>Medan yang Berbahaya</strong></span></span></span></p>
<p lang="id-ID">Pertarungan menghadapi <em>judicial review </em>UU No 1 PNPS tahun 1965 ini, hanya salah satu ujian dari serangkaian serangan yang dilancarkan oleh kaum liberal-sekular. Sebelumnya mereka telah juga menyerang dengan <em>Kompilasi Hukum Islam </em>yang <em>saking </em>jahatnya kaum liberal-sekular ini sampai-sampai ada memelesetkan judul kompilasi tersebut dengan, <em>Kompilasi Hukum Iblis</em> <em>la’natulLaah ‘alaihi</em>. Serangan mereka untuk menggoyahkan sendi-sendi agama yang telah mapan terus-menerus mereka lakukan.</p>
<p lang="id-ID">Sidang menghadapi <em>judicial review </em>kelompok liberal-sekular ini, merupakan pertarungan substansial yang hakiki. Keputusan pemerintah untuk menolak gugatan atau menerimanya masih akan dilakukan beberapa pekan ke depan. Dalam beberapa kali masa sidang itu, masih banyak para ahli yang akan diundang untuk menyampaikan pandangannya, sebelum palu diketokkan.</p>
<p lang="id-ID">Jika judicial review ini berhasil, maka benteng pertahanan kemurnian Islam tak hanya retak, tetapi jebol. Sesudahnya banjir penafsiran terhadap agama Islam akan melanda tanpa dapat dihentikan, ajaran Islam akan mengalami penafsiran berbeda-beda, sebanyak kepala pemeluknya, <em>wal’iyadzu bilLaah. </em>Semoga Allah menyelamatkan kita semua, aamiin.</p>
<p lang="id-ID">Demi Allah, masalah ini sekalipun tenggelam dalam hingar-bingar kasus Century dan <em>resuffle </em>KIB II, sesungguhnya permasalahannya jauh lebih serius dan berdampak dalam jangka panjang. Karena dampaknya secara ‘psikologis’ dan ‘sistemik’ merusak kerangka pemahaman Islam yang sudah mapan lebih 14 abad, merusak cara berpikir ummat Islam dan potensial memunculkan serpihan-serpihan kelompok yang keluar dari Islam dengan tetap mengatasnamakan ajaran Islam.</p>
<p lang="id-ID">Ini ‘kebakaran’ di rumah Islam kita. Seluruh ummat Islam yang masih mempunyai <em>ghirah</em> terhadap agamanya harus mengambil bagian untuk memadamkan kebakaran ini, tanpa mempertanyakan ‘merk ember’ apa yang dipakai. Kalau tidak, kerusakan pemahaman dan bencana perpecahan di depan mata, <em>na’udzu bilLaah</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/2010/02/misi-kaum-liberal-di-balik-judicial-review-uu-pnps-tahun-1965.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tipu Daya Setan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 13:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adian Husaini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adian Husaini]]></category>
		<category><![CDATA[Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[orientalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[
“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am:11)

Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, membuat uraian menyangkut ayat tersebut: 
“Seorang Rasul diutus Allah untuk menyeru manusia menempuh Shirathal Mustaqim, jalan yang lurus. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="CENTER">“<span style=""><span style="">Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al-An’am:11)</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, membuat uraian menyangkut ayat tersebut: </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">“<span style=""><span style="">Seorang Rasul diutus Allah untuk menyeru manusia menempuh </span></span><span style=""><span style=""><em>Shirathal Mustaqim</em></span></span><span style=""><span style="">, jalan yang lurus. Maka segala syaitan-syaitan manusia dan jin itu menyusun pula kata-kata yang penuh tipu daya untuk membelokkan perhatian orang daripada jalan yang lurus itu. Mereka mencoba manggariskan jalan yang lain, memujikan, mempropagandakan supaya orang merasa bahwa yang mereka kemukakan itulah yang benar. Inilah tipudaya! Karena kalau sudah diselidiki kelak dengan seksama, akan ternyata bahwa rencana yang mereka kemukakan itu hanya semata-mata </span></span><span style=""><span style=""><em>zukhrufal-qauli</em></span></span><span style=""><span style="">, yaitu kata-kata yang dihiasi. </span></span><span style=""><span style=""><em>Zukhruf</em></span></span><span style=""><span style=""> artinya perhiasan, lebih besar bungkusnya daripada isinya, reklame yang kosong penuh tipu.” (Hamka, Tafsir al-Azhar, Juzu’ VIII).</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kita ingat, bahwa setelah terusir dari surga, Iblis kemudian bertekad bulat untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia. Salah satu caranya, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur`an adalah menghiasi (mengemas) kebathilan menjadi sesuatu yang indah, sehingga menarik perhatian manusia untuk mengikutinya.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style=""><em>&#8220;Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.”</em></span></span><span style=""><span style=""> (QS. al-Hjir: 39). </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tentu, peringatan Allah SWT dalam al-Qur`an ini wajib kita camkan. Hidup di era globalisasi dan kebebasan informasi mengharuskan kita bekerja keras untuk mampu menyaring dan menilai, mana informasi yang benar dan mana informasi bikinan para setan. Sebab, betapa banyaknya orang tertipu dengan kata-kata indah tetapi salah dan menyesatkan.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Lihatlah, banyak orang yang masih mengaku Islam tetapi meletakkan paham kebebasan di atas ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Ada yang berteriak lantang agar agama dan negara tidak ikut campur tangan dalam urusan pakaian. Mereka menganggap tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak ada yang berhak mengatur urusan pakaian, baik negara atau pun Tuhan sekali pun. Mereka merasa berdaulat penuh atas tubuh mereka. Mereka mau telanjang atau melacurkan dirinya, itu adalah urusan mereka, dan tidak ada urusan dengan Tuhan atau agama. Manusia-manusia seperti ini tampil begitu menawan di layar televisi, sambil menyombongkan diri, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan di muka bumi, karena telah menjaga dan memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kata-katanya indah! Tapi, tujuannya untuk menipu. Terhadap orang-orang yang berkeinginan agar soal pakaian diatur, mereka dengan lantang menuduhnya sebagai orang yang kolot, sok moralis, anti-kebhinekaan, melanggar HAM, munafik dan sebagainya. Ada yang menyatakan, bahwa yang harus dipersoalkan bukan objeknya, tapi pikiran manusia itu yang kotor. “Jangan salahkan gambar-gambar yang telanjang. Tapi, salahkan pikirannya yang kotor!” ujarnya. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Kata-katanya semacam itu tampak indah! Tapi untuk menipu! </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Ketika MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa paham sekularisme, liberalisme, dan pluaralisme agama adalah bertentangan dengan Islam, maka ada yang langsung menuduh MUI tidak menghargai kemajemukan bangsa! Begitu juga saat MUI menegaskan bahwa Ahmadiyah sesat, langsung muncul tudingan MUI merasa benar sendiri, MUI melampaui kewenangan Tuhan, karena berani menyesatkan manusia. Padahal, katanya, yang berhak menyatakan sesat atau tidaknya seseorang adalah Tuhan dan bukan manusia. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Banyak sekali kata-kata indah dengan tujuan untuk menipu manusia! </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tahun 2008, Yayasan Wakaf Paramadina menerbitkan edisi kedua buku karya Farag Fouda berjudul Kebenaran yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslimin. Judul aslinya adalah al-Haqidah al-Ghaibah. Simaklah, judul buku ini sangat indah: “Kebenaran Yang Hilang!” Jadi, seolah-olah, selama ini, umat Islam telah kehilangan satu kebenaran, yang kemudian diungkap oleh Farag Fouda, seorang tokoh liberal dari Mesir. </span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tapi, jika ditelaah dengan cermat, yang dimaksud sebagai “kebenaran” oleh Farag Fouda adalah sederet fakta palsu tentang para sahabat Nabi Muhammad SAW. Salah satu sahabat Nabi yang digambarkan begitu buruk dalam buku ini adalah Usman bin Affan RDL. Sampai-sampai, dalam salah satu kolomnya di Majalah TEMPO yang dijadikan epilog buku ini, Goenawan Mohammad menulis:</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">“<span style=""><span style="">Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.” Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.”</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Tulisan itu jelas-jelas fitnah besar terhadap Sayyidina Usman RDL. Pakar sejarah INSISTS, Asep Sobari, telah membongkar kecurangan Farag Fouda dalam mengutip bahan-bahan cerita dari sejumlah kitab klasik. (Lihat: CAP ke-246 Adian Husaini di www.hidayatullah.com). Fitnah keji terhadap sahabat Nabi itu dikemas dengan kata-kata indah, dengan tujuan untuk menipu manusia. Maka, bukan hanya orang awam yang bisa tertipu oleh buku Fouda, tetapi sejarawan terkenal seperti Prof. A. Syafii Maarif pun ikut-ikutan tertipu, sampai-sampai dia menulis di sampul belakang buku ini:</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT">”<span style=""><span style="">Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda menawarkan ”kacamata” lain untuk melihat sejarah Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita tidak punya pilihan lain kecuali meminjam ”kacamata” Fouda untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif”.</span></span></p>
<p style="text-indent: 0.49cm; margin-bottom: 0cm;" align="LEFT"><span style=""><span style="">Padahal, jika seorang Muslim mau berpikir jernih: tidaklah mungkin Nabi Muhammad SAW telah berbohong dengan memuji-muji Usman bin Affan, jika ternyata Usman bin Affan adalah manusia bejat seperti digambarkan Fouda dan Goenawan Mohammad. Karena itu, dalam berbagai ayat al-Quran, Allah SWT mengingatkan, bahwa setan itu adalah musuh manusia yang nyata. Dan setiap waktu kita berdoa: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk!. </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/adian-husaini/2009/06/tipu-daya-setan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
