<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah &#187; ramadhan</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/tag/ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 06:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Tantangan Ramadhan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/08/tantangan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/08/tantangan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 09:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tantangan ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1178</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan datang dengan membawa tantangan berat bagi ibu rumah tangga. Selain pekerjaan harian yang tidak banyak berubah alias seabrek seperti hari biasa, para umahat (ibu-ibu) juga ditantang untuk melakukan ibadah lebih banyak dari biasanya; shalat malam, menjaring ilmu di berbagai kajian yang bertebaran, dzikir, mencari lailatul qadar,  dan yang paling utama adalah membaca al Quran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/tantangan-sebanding.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1117" title="tantangan-sebanding" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/tantangan-sebanding-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a> Ramadhan datang dengan membawa tantangan berat bagi ibu rumah tangga. Selain pekerjaan harian yang tidak banyak berubah alias seabrek seperti hari biasa, para umahat (ibu-ibu) juga ditantang untuk melakukan ibadah lebih banyak dari biasanya; shalat malam, menjaring ilmu di berbagai kajian yang bertebaran, dzikir, mencari lailatul qadar,  dan yang paling utama adalah membaca al Quran sampai khatam, sekali atau lebih.</p>
<p>Padahal semua tahu, seperti apa padatnya pekerjaan ibu rumah tangga, kecuali bagi yang diberi rezeki lebih oleh Allah bisa memiliki <em>khadimah</em> (pembantu), pekerjaan bisa lebih ringan. Tapi yang <em>single fighter </em>alias pejuang mandiri, apalagi yang punya momongan banyak, pasti mengerti betapa berat tantangan itu. Pekerjaan rumah tangga itu seperti kereta yang terus saja ada jadualnya. Satu pekerjaan selesai menjadi tanda ‘kelahiran’ pekerjaan berikutnya. Jangankan khatam al Quran, bisa melaksanakan shaum dan tarawih dengan tenang saja, sudah alhamdulillah. Nah, bisakah para ibu menaklukkan tantangan ini?</p>
<p>Mungkin ada yang berkomentar, bukankah melakukan semua pekerjan itu juga termasuk ibadah dan dzikir? Sama berpahalanya dengan membaca al Quran?</p>
<p>Benar sekali. Semua yang dilakukan seorang mukmin, asalkan berupa kebaikan dan tidak keluar dari koridor syariat dapat bernilai kebaikan, bernilai ibadah bahkan juga dzikir dalam maknanya yang luas. Hanya saja, tetap saja ada bedanya dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, dzikir dan membaca al Quran. Ibadah-ibadah ini lebih mampu mendekatkan jiwa seseorang dengan Allah karena di dalamnya terdapat penyebutan asma Allah, pengagungan, perenungan dan peresapan terhadap kandungan lafadz-lafadz yang dibaca. Sedang kebaikan berupa melaksanakan pekerjaan rumah tangga misalnya, tidak semuanya bisa dilakukan dengan penuh penghayatan disertai hati yang khusyu’ mengingat kebesaran-Nya. Malah-malah, tak jarang pula dilakukan sembari dongkol dan marah-marah, bukan begitu ibu-ibu?</p>
<p>Oleh karena itu, tantangan ini tetap berlaku untuk para umahat. Berat dan bakal melelahkan memang. Ya begitulah, tantangan Ramadhan ini hanya akan diambil oleh orang yang berani capek. Tapi insyaallah, rasa capek itu akan terasa nikmat jika dilakukan dengan penghayatan diiringi keyakinan dan harapan besar kepada jaza’ atau balasan yang Allah siapkan. Ada banderol harga untuk setiap peluh dan lelah yang kita rasakan. Rasulullah bersabda,</p>
<p dir="RTL">مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ</p>
<p>“Tidaklah seoang muslim tertimpa rasa lelah, sakit, duka, kesedihan, gangguan dan kekhawatiran sampai duri yang menusuk, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dengan semua hal tersebut.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Lelah itu akan menjadi kafarah atau penghapus bagi semua kesalahan-kesalahan kita. Tentunya, kita tidak mungkin dengan angkuhnya menyatakan kita tak memiliki salah hingga harus berlelah-lelah mencari penghapus dosa. Ada banyak amanat yang belum kita tunaikan, ada banyak perintah yang belum kita laksanakan dan ada banyak larangan yang masih kita langgar. Karenanya, lelah itu diharapkan bisa jadi cash untuk melunasi hutang-hutang tersebut.</p>
<p>Nah, yang mau menerima tantangan ini, khatam 2 kali selama Ramadhan misalnya, berarti harus siap memenej waktu agar target tercapai dan pekerjaan rumah tangga juga tidak terbengkalai. Memenej waktu berarti berusaha mengisi waktu-waktu yang dirasa masih kosong dengan membaca al Quran. Waktu kosong tidak selalunya berarti waktu yang tidak terisi agenda apapun. Waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti nonton sinetron adalah waktu kosong. Kosong dari manfaat maksudnya.</p>
<p>Atau mencoba menghemat waktu dengan tidak menambah menu masakan. Biasanya, acara buka dan sahur mendorong para ibu untuk jadi chef dadakan yang harus memasak sekian menu dalam waktu bersamaan. Penyebabnya, setiap anggota keluarga merequest menu masing-masing, ayah minta sop, si sulung minta oseng kangkung, si ragil ayam semur, dan ibu sendiri pingin kolak. Demo masak ini tentunya sangat menguras tenaga dan waktu sang ibu. Akibatnya, pagi harus hunting bahan dan sejak sebelum ashar sudah harus terjun ke dapur. Banyaknya menu menyebabkan banyak alat makan kotor dan waktu cuci piring pun jadi lama. Malam harinya, karena capek kelopak mata berasa berton-ton beratnya hingga tak mampu menyelesaikan barang 2-3 lembar al Quran.</p>
<p>Padahal Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL">فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ</p>
<p><em>“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”</em><em> </em>(QS. Asy Syarh:7)</p>
<p>Imam Ibnu kastier menjelaskan bahwa maksud ayat itu adalah, setelah kamu usai melaksanakan segala pekerjaan yang berkaitan dengan duniamu, maka bersungguh-sungguhlah atau bercapek-capeklah di dalam ibadah shalat. Ibnu Abbas bependapat, “-Bercapek-capeklah- di dalam doa.” (Tafsir Ibnu Kastier, Tafsir surat as Syarh)</p>
<p>Maka ,ada baiknya keluarga dituntun untuk meresapi makna kesederhanaan dalam menjalani shaum. Karena sebenarnya, kesederhanaan, sikap qonaah dan tidak mudah menuruti keinginan itulah salah satu nilai yang seharusnya bisa diraih dengan melaksanakan shaum. Kalau waktu shaum justru menjadi ajang eksplorasi kuliner, faidah-faidah di atas tak mungkin bisa di dapat. Cukup satu-dua menu untuk sehari dan bisa diganti dengan variasi lain di hari berikutnya. Dengan begitu, ibu tak perlu pusing memasak banyak menu hingga bisa menggunakan waktu dan tenaganya untuk beribadah.</p>
<p>Apalagi jika kita berpikir, jangan-jangan Ramadhan ini adalah Ramadhan terkahir bagi kita. Berarti inilah kesempatan kita untuk memaksimalkan perjumpaan di bulan istimewa ini. Jadi, beranikah ibu-ibu menerima tantangan ini?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2011/08/tantangan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan dan Kesulitan Hidup di Gaza</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/berita/2009/08/ramadhan-dan-kesulitan-hidup-di-gaza.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/berita/2009/08/ramadhan-dan-kesulitan-hidup-di-gaza.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 01:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ar-risalah.or.id/blog/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Tidak seperti umat Islam Indonesia yang biasanya sangat boros di bulan Ramadhan, penduduk Gaza menikmati Ramadhan di tengah kesulitan hidup.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak seperti umat Islam Indonesia yang biasanya sangat boros di bulan Ramadhan, penduduk Gaza menikmati Ramadhan di tengah kesulitan hidup.<span id="more-38"></span></p>
<p><em><strong> </strong></em>Shadi Al-Helo duduk di luar toko ayam bekunya di pasar Al-Zawya, pusat kota Gaza. Ia menghitung berapa banyak pelanggan yang sudah datang selama beberapa hari terakhir, ketika orang-orang biasanya bersiap-siap memasuki bulan Ramadhan.</p>
<p>&#8220;Saya hanya kedatangan 6 orang pembeli hari Jum&#8217;at pagi, padahal tahun lalu saya kedatangan lusinan pelanggan hanya dalam waktu beberapa jam,&#8221; kata Al-Helo. &#8220;Sepertinya persiapan Ramadhan kali ini nihil. Orang-orang bokek,&#8221; katanya seraya menambahkan bahwa krisis ekonomi melanda negeri itu.</p>
<p>Seperti Al-Helo, banyak pedagang yang berdiri di pintu masuk toko mereka. Barang dagangan langka, seperti halnya pembeli. Harga-harga juga meroket sehingga orang tidak lagi mampu menjangkaunya.</p>
<p>Israel memberlakukan blokade atas wilayah Gaza sejak Hamas menculik prajurit Israel, Gilad Shalit, pada Juni 2006. Blokade semakin diperketat ketika Hamas berhasil menjadi pemegang pemerintahan di Gaza pada Juni 2007.</p>
<p>Negara Yahudi Israel tidak mau membuka blokade, kecuali Shalit dibebaskan dan para pejuang di Gaza setuju untuk melakukan gencatan senjata untuk waktu yang lama.</p>
<p>Ayam beku Al-Helo sekarang ini dijual seharga 25 Shekel (sekitar USD 10) per kilonya. Harga itu tiga kali lipat dari 2 tahun sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Kami tidak dapat bekerja dengan layak. Dan hidup semakin sulit,&#8221; katanya mengeluh, sambil mengambil ayam bekunya untuk dipajang di dekat pintu masuk agar menarik perhatian pembeli.</p>
<p>&#8220;Saya harus berjuang untuk menjual barang-barang dagangan ke orang-orang,&#8221; kata Al-Helo. &#8220;Mereka semua semakin tak berdaya akibat blokade, kemiskinan dan pengangguran.&#8221;</p>
<p>Kelompok pemerhati HAM di Gaza mengatakan, tingkat kemiskinan dan pengangguran telah memuncak sejak Israel menutup seluruh tempat penyeberangan niaga di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza mulai Juni 2007.</p>
<p>Sebagian besar negara Arab memasuki bulan Ramadhan pada Sabtu (21/8). Selama Ramadhan umat Islam menjauhkan diri dari makanan, minuman dan juga rokok mulai fajar hingga  matahari terbenam.</p>
<p>Setelah matahari menghilang, orang-orang dapat menikmati makanan di rumah-rumah mereka yang dihiasi lentera. Orang-orang yang lebih mampu memberi makan orang miskin untuk berbuka puasa. Jadi Ramadhan juga merupakan keceriaan bagi umat Islam.</p>
<p>Namun di Gaza, sulit bagi orang-orang untuk menjalankannya seperti tradisi selama ini, dan merasakan suasana penuh kedermawanan seperti itu. Bahkan sangat sulit untuk sekedar mempertahankan hidup secara layak.</p>
<p>Hakem Owaida, pejabat senior di Kementerian Keuangan pemerintahan Hamas mengatakan, &#8220;Jalur Gaza sangat kekurangan pasokan barang dagangan, terutama barang-barang yang dibutuhkan saat Ramadhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Juga tidak tersedia cukup banyak alat-alat tulis, yang mana menjadi masalah ketika sekolah akan memulai tahun ajaran baru pada bulan September,&#8221; katanya menambahkan.</p>
<p>Ketua Kamar Dagang Gaza, Mahmoud Al-Yazji mengatakan, &#8220;Harga-harga menyentuh tingkat yang paling tinggi bulan ini karena kurangnya pasokan barang yang dibutuhkan saat Ramadhan, yang biasanya menjadi waktu baik untuk menggairahkan perekonomian.&#8221;</p>
<p>Ia mengatakan, departemennya telah mengirimkan surat ke berbagai organisasi internasional, &#8220;Mendesak mereka agar menekan Israel untuk memperlonggar blokade dan memperbolehkan masuk barang-barang yang dibutuhkan penduduk Gaza selama bulan Ramadhan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Para pedagang dan pengusaha menderita kerugian besar tahun ini akibat ketatnya blokade,&#8221; kata Al-Yazji.</p>
<p>Di sebuah toko mainan anak di Gaza, Abu Sami, penduduk Gaza berusia 44 tahun, bersama dengan istrinya berusaha membujuk penjaga toko untuk menurunkan harga lampu Ramadhan ukuran sedang seharga 30 Shekel. Dua tahun lalu, lentera semacam itu harganya hanya separuhnya.</p>
<p>Lampu-lampu itu dibuat di Mesir, kemudan dimasukkan ke Jalur Gaza lewat terowongan di bawah perbatasan.</p>
<p>Ribuan terowongan digali di bawah perbatasan antara Jalur Gaza dengan Mesir, yang digunakan orang-orang Gaza memasukkan berbagai macam barang dari Mesir.</p>
<p>&#8220;Tak bisa saya bayangkan anak-anak akan merayakan Ramadhan tanpa lentera di malam hari,&#8221; kata Ummu Sami sang istri. &#8220;Kehidupan di Gaza saat ini sangat berat dan kami tidak tahu harus pergi kemana dan apa yang harus dilakukan.&#8221;</p>
<p>Untuk membantu mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi penduduk Gaza, UNRWA (United Nations for Relief and Work Agency) memutuskan untuk meluncurkan program pemberian makanan selama Ramadhan yang menggunakan dana USD 181 juta.</p>
<p>&#8220;UNRWA akan menerima pasokan makanan dari Uni Emirat Arab, Kuwait dan Arab Saudi,&#8221; kata Adnan Abu Hasna, jurubicara UNRWA di Jalur Gaza. &#8220;Makanan itu akan disalurkan kepada seluruh pengungsi Palestina,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Namun, masih ada sedikit orang di Gaza yag sanggup membeli banyak makanan dan memberikan sedekah selama Ramadhan.</p>
<p>Hamdi Sheikh Ali, pria 45 tahun seorang pegawai yang bekerja untuk sebuah LSM internasional dengan gaji lebih dari USD 2.000 sebulan mengatakan, ia berencana membeli seekor domba dan membagikannya kepada orang-orang miskin.</p>
<p>&#8220;Saya akan memanggil tukang jagal untuk menyembelihnya di gerbang rumah hari Sabtu. Dan kemudian akan membagikan dagingnya dalam kantung-kantung satu kiloan untuk tetangga-tetangga yang miskin,&#8221; kata Ali.</p>
<p>Menurut Ali, seekor domba dengan berat 50kg  yang biasanya diselundupkan dari Mesir, dijual dengan harga USD 150 di Gaza. Tapi ia cukup senang karena masih mampu membelinya dan memberikan istri serta ketiga anaknya kesempatan untuk menyaksikan ibadah penyembelihan hewan.</p>
<p>&#8220;Saya melakukannya agar mendapat ridha dari Allah untuk keluarga saya,&#8221; kata Ali. &#8220;Tapi saya tidak akan membeli barang-barang mewah lain untuk menunjukkan kekayaan saya selama Ramadhan.&#8221;</p>
<p>sumber: Hidayatullah.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/berita/2009/08/ramadhan-dan-kesulitan-hidup-di-gaza.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

