Abu Umar Abdillah

Dusta Ditempuh, Malang Direngkuh

Zaman di mana akhlak tak lagi dijunjung tinggi, kedustaan menjadi cara yang diandalkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ada yang menginginkan kekayaan lalu berbisnis dengan modal dusta. Ada yang ingin menjadi pejabat lalu cari dukungan bawahan dan menjilat atasan dengan cara dusta. Ada yang ingin terkenal dan ditokohkan, juga dengan cara menyebarkan kedustaan untuk mengundang imej bahwa diirnya adalah orang hebat. Bahkan untuk menjatuhkan orang lain dan melambungkan dirinya berani mengarang cerita dusta. Begitulah, sepertinya dusta sudah dianggap senjata pamungkas dan paling ampuh menuju kesuksesan.

 

Ketika Dusta Menjadi Pilihan yang Ditempuh

Padahal, ketika dosa dan maksiat menjadi pilihan manusia dalam upaya dan ikhtiyar untuk menggapai keberhasilan, maka yang didapat pada akhirnya adalah kesialan dan kemalangan. Karena sejatinya inti problem itu adalah dosa, bagaimana seseorang menganggap sumber problem sebagai jalan keluar dan alat menuju keberhasilan?

Seperti orang yang menggunakan kedustaan sebagai jalan untuk memperoleh keberuntungan, ia tidak akan mendapatkan selain  kemalangan dan kerugian. Telah kokoh kaidah yang Allah firmankan,

وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى

“Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS Thaha: 61)

Dusta adalah mengabarkan sesuatu yang berbeda dengan hakikatnya. Raghib al-Ashfahani rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul baari berkata, “Asal mula jujur dan bohong adalah dalam perkataan, baik tentang perkara yang telah lampau, akan datang, atau berupa sebuah janji.”

Namun modus dan variasi dusta bisa dilakukan dengan berbagai macam sarana dan media. Seperti menulis berita yang berbeda dengan kenyataan, maka itu juga dusta, meskipun yang melakukan adalah tangan danbukan lisan. Begitupun ketika ada yang merekayasa tempat lalu diberitakan sebagai kabar tertentu yang tidak sesuai kenyataan, maka ini juga dusta.

Jika demikian, TV, dunia maya, socmed semisal whatsApp, facebook, twitter dan yang semisalnya bisa menjadi alat untuk berdusta, dan kedustaan adalah senjata andalan orang yang di hatinya ada penyakit untuk memuluskan tujuan. Dan tentu saja ini sangat meresahkan dan bisa memicu segala bentuk keburukan. Bagi pelaku, kerugian yang dialaminya berlapis, berkesinambungan di dunia hingga akhirnya disiksa di akhirat. Efek dan dampak kerusakan yang ditimbulkan karena dusta juga dahsyat mengganas dalam berbagai aspek. Petaka karena dusta juga menjadi sejarah kelam dari masa kemasa sepanjang kehidupan manusia.

Sangat buruk efek keburukan bagi masyarakat, hingga Allah menghukum para pendusta baik di dunia maupun di akhirat. Meskipun sebagian pelaku tidak menyadari sangsi yang berlaku di dunia. Yang jelas, berlaku atasnya kaidah al-Qur’an, “Sungguh merugi orang-orang yang mengadakan kedustaan.”

Ibnul Qayyim al-Jauziyah memberikan penekanan tentang kaidah ini dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin kepastian bahwa orang-orang yang suka mengada-adakan kedustaan pastilah merugi dan Allah tidak menunjuki mereka serta akan membinasakan mereka dengan adzabnya.”

 

Hanya Kemalangan yang Bisa Direngkuh

Di antara siksa di dunia adalah kegelisahan dan keraguan yang terus menyelimuti hati. Setiap kebohongan adalah racun, atau ia seperti duri di dalam dada, kenikmatannya tak pernah dirasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Kejujuran adalah ketenangan, sedangkan kebohongan adalah kegelisahan.” (HR Tirmidzi, beliah mengatakan hadits hasan shahih)

Sudah maklum bahwa ketika seseorang berlaku dusta maka kekhawatiran akan segera hadir. Khawatir jika kedustaannya tersingkap, takut jika ia akan dituntut dan gelisah menyiapkan jawaban-jawaban untuk menutupi kedustaan awalnya. Begitupun kegalauan akan ketidakpastian nasibnya lantaran kebohongan yang telah dibuatnya. Jikalaupun seseorang bisa melupakan kedustaannya, rasa was-was tidak otomatis tercabut dari hatinya.

Di samping kegelisahan hati yang didapati, tujuan yang diingini pun juga tak akan tercapai. Karena makna “khaba” adalah merugi, malang dan juga gagal. Sebagaimana penjelasan Imam ath-Thabari tentang ayat tersebut, “Yakni tidak akan berhasil seseorang yang membuat kedustaan dan berkata dusta demi mendapatkan apa yang dibutuhkannya dan apa yang diinginkannya.”

Memang dengan berbohong seseorang bisa saja menjadi pejabat papan atas, dengan berdusta bisa mendapatkan kekayaan, dengan tipu-tipu bahkan bisa tersohor. Akan tetapi ia tidak akan bisa meraih kedudukan pejabat yang terhormat, tak bisa menjadi orang kaya yang merengkuh kebahagiaan dan tidak bisa menjadi tokoh yang dijadikan panutan kebaikan. Maka secara hakiki, tujuan yang ingin didapatkan dengan kedustaan itu tidak tercapai.

Belum lagi jika yang terjadi adalah berkebalikan dengan tujuan. Di mana secara fisik dan tampak mata usahanya gagal dan kandas. Dan inilah yang paling sering terjadi, sebagai balasan dan sangsi yang menguatkan ketetapan Allah bahwa pendusta senantiasa merugi. Jikalau ada yang terangkat martabatnya di dunia dengan cara dusta, itu tak lebih karena dengan mengangkatnya tinggi-tinggi, Allah hendak menjatuhkan ia dari ketinggian. Tentu ini lebih menakakutkan, wal ‘iyadzu billah.

Yang lebih mengerikan lagi adalah kondisi orang yang hobi dusta saat berada di dalam kuburnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan apa yang beliau temui dalam mimpinya, sedangkan mimpi Nabi itu adalah wahyu,

“Kemudian kami berangkat lagi mendatangi orang yang terlentang pada tengkuknya. Ternyata ada orang lain yang berdiri di atasnya sambil membawa pengait dari besi. Tiba-tiba ia datangi sebelah wajah orang yang terlentang itu, lalu ia robek (dengan kait besi tersebut) mulai dari sebelah mulutnya hingga tengkuknya, mulai dari lubang hidungnya hingga tengkuknya, dan mulai dari matanya hingga tengkuknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian bersabda: “Selanjutnya orang itu berpindah ke sebelah wajah lainnya dari orang yang terlentang tersebut dan melakukan seperti yang dilakukannya pada sisi wajah yang satunya. Belum selesai ia berbuat terhadap sisi wajah yang lain itu, sisi wajah pertama sudah pulih kembali seperti sedia kala. Maka ia mengulangi perbuatannya, ia lakukan seperti yang dilakukannya pada kali pertama.”

Di penghujung hadits dijelaskan dosa yang diperbuat oleh laki-laki tadi, “Sesungguhnya laki-laki itu setiap keluar dari rumahnya ia berdusta (berbohong) yang kebohongannya sampai ke kaki-kaki langit (tersebar ke mana-mana,-terj)” (HR. Al-Bukhari) dalam riwayat lain, “Ia disiksa demikian hingga tiba hari Kiamat.”

Begitulah dusta, ia adalah sumber berbagai keburukan dan kendaraan menuju neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘Alaih)

Maka selayaknya seorang muslim meninggalkan kebiasaan dusta, karena dusta juga menjadi tabiat yg melekat pada diri orang-orang munafik dan menjadi salah satu ciri mereka yang paling menonjol. Ini sesuai dengan firman Allah, “Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munakikun: 1)

Jangan pula terlibat dalam penyebaran hoax atau berita palsu. Tak semua informasi yang mampir di telinga atau terbaca oleh mata harus disebarkan. Bisa jadi informasi tersebut dusta, atau dengan tersebarnya menimbulkan malapetaka. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam memvonis sebagai pendusta bagi orang yang menceritakan setiap hal yang didengarnya.

Semoga Allah menjaga kita dari kedustaan yang kita lakukan dengan lisan dan perbuatan kita, aamiin.

(Abu Umar Abdillah)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *