<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Hukum Menggunakan Uang Haram	</title>
	<atom:link href="https://www.arrisalah.net/hukum-menggunakan-uang-haram/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.arrisalah.net/hukum-menggunakan-uang-haram/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Feb 2011 10:33:16 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: joni agustian		</title>
		<link>https://www.arrisalah.net/hukum-menggunakan-uang-haram/comment-page-1/#comment-606</link>

		<dc:creator><![CDATA[joni agustian]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 10:33:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://www.arrisalah.net/?p=774#comment-606</guid>

					<description><![CDATA[Assalammualaikum 

bukan mau komen cuma mo tanya tentang perkataan: &quot;Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat/dengarlah apa yang dibicarakan&quot; yang sering diutarakan oleh suatu kelompok dakwah  agar kaum muslim dapat hadir mendengarkan ceramah (bebas/non-topik).  Apakah kalimat tersebut baik/benar jika kita meninjau dari sudut pan sedang keberadaan Rasulullah dalam masyarakat mekkah yang menjadi Al-Amin terlebih dahulu baru kemudian menyatakan sbg Rasul shg dapat diterima walaupun banyak yang menentangnya.  Saya sebenarnya kurang setuju dg kalimat tsb sebab dapat menyesatkan apalagi bila diucapkan oleh orang/kelompok yang keterpercayaannya dalam masyarakat adalah rendah.  

terimakasih dan wasalam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammualaikum </p>
<p>bukan mau komen cuma mo tanya tentang perkataan: &#8220;Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat/dengarlah apa yang dibicarakan&#8221; yang sering diutarakan oleh suatu kelompok dakwah  agar kaum muslim dapat hadir mendengarkan ceramah (bebas/non-topik).  Apakah kalimat tersebut baik/benar jika kita meninjau dari sudut pan sedang keberadaan Rasulullah dalam masyarakat mekkah yang menjadi Al-Amin terlebih dahulu baru kemudian menyatakan sbg Rasul shg dapat diterima walaupun banyak yang menentangnya.  Saya sebenarnya kurang setuju dg kalimat tsb sebab dapat menyesatkan apalagi bila diucapkan oleh orang/kelompok yang keterpercayaannya dalam masyarakat adalah rendah.  </p>
<p>terimakasih dan wasalam.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
