Kajian

Kejutan yang Tak Terlupakan

Setiap pelajaran agama Islam, Pak Abas selalu memintaku ke luar kelas. Aku memang satu-satunya non muslim di kelas. Bukan karena pak Abas benci, tapi itu justru karena Beliau tidak ingin ada kesalahpahaman. Biasanya aku ke perpustakaan atau kantin. Sebenarnya, aku ingin berada di ruang kelas mendiskusikan agama bersama beliau.

Seperti hari-hari yang sebelumnya, hari ini ada pelajaran agama Islam. Kebetulan aku lagi suntuk sekali karena di rumah bapak dan ibu bertengkar lagi. Aku punya inisiatif untuk mengikuti pelajaran agama kali ini.

“Pak, untuk pelajaran kali ini, ijinkan saya tetap tinggal di kelas ya pak. Saya sedang malas ke luar kelas.” kataku

“Lho, ini kan pelajaran agama Islam. Apa kamu nanti tidak terbebani waktu saya menerangkan ke teman-temanmu? Apa kamu tidak merasa terganggu?” kata pak Abas dengan bijaknya.

“Tidak pak. Saya akan tenang dan tidak mengganggu yang lain.” kataku dengan gembira karena diijinkan tetap tinggal di kelas.

“ Ya sudah kalau begitu, silakan duduk. Kalau nanti kamu merasa kurang nyaman, kamu boleh ke luar kelas.” kata pak Abas

Akhirnya, akupun tetap di kelas ikut mendengarkan pelajaran agama Islam untuk yang pertama kalinya. Aku merasakan sesuatu yang lain dengan pelajaran ini. Ketika itu pak guru menerangkan tentang perjuangan Nabi Muhammad menghadapi orang-orang Quraisy. Aku betul-betul tertarik dengan cerita Nabi Muhammad.

Hari-hari berikutnya setiap pelajaran agama aku selalu ikut mendengarkan. Aku seperti mendapatkan ketenangan batin setiap pelajaran usai. Apa ini karena ketenangan ini tidak kudapatkan dirumah? Entahlah. Bapak dan ibu selalu saja bertengkar gara-gara masalah sepele. Betul-betul kontras dengan kehidupan Nabi Muhammad dan Siti Khadijah yang penuh keharmonisan. Tanpa sadar aku mulai tertarik dengan agama ini.

Selepas SMP aku pun masuk SMEA. Kebetulan juga di kelasku aku satu-satunya nonmuslim. Teman-teman memahami posisiku yang berbeda tetapi mereka tetap tidak membedakan. Di sekolah ini pun kuputuskan untuk tetap mengikuti semua pelajaran termasuk agama. Kebetulan guru agamanya perempuan, bu Wid.  Bu Wid orang yang sabar dan pengertian, dari sinilah rasa simpatiku terhadap agama ini semakin kuat.

Kelas III SMEA merupakan tonggak perubahanku. Setelah sekian lama aku berkutat dengan rasa ingin tahu yang lebih dengan agama ini. Hingga suatu ketika kuutarakan kegalauanku kepada bu Wid.

Akhirnya kuungkapkan semua kegalauan yang selama ini kualami. Kuceritakan semuanya tanpa terkecuali. Keluargaku yang kurang harmonis hingga keresahan hati yang selalu mendera perasaanku. Setiap hari Minggu aku juga mendapatkan wejangan tapi bukan ketenangan yang kudapat.

Aku merasakan ketenangan setiap mengikuti pelajaran agama Islam. Kekeringan yang selama ini kurasakan seperti terobati. Apa arti semua ini? Bu Wid menjelaskan bahwa itu adalah hidayah.  “Cobalah Kamu bicarakan dulu dengan orang tuamu. Ikutilah kata hatimu. Apa yang menurut hatimu baik, ikutilah.” kata bu Wid menyarankan.

Sesampai di rumah aku langsung menemui ibu. Kuutarakan apa yang tadi aku diskusikan dengan bu Wid. Sengaja aku bicara dengan Ibu terdahulu karena kutahu kelembutannya. Ibu sosok yang mudah mengerti perasaanku. Awalnya ibu menolak keinginanku. Dia takut kalau bapak akan marah. Setelah kujelaskan semua, ibu pun mau menerima dan mengerti keputusanku.

“Kamu sudah besar, Nduk. Kamu yang menentukan pilihanmu.” kata ibu dengan berlinang air matanya. “ Tentang bapak, nanti biar ibu yang mengurus.” lanjutnya.

Akhirnya aku memantapkan hati untuk memeluk Islam. Dengan disaksikan teman-teman kuikrarkan dua kalimah syahadah. Kalimat yang selama ini memanggil-manggil relung hatiku. Kurasakan kedamaian yang sebelumnya tak kurasakan. Hari ini aku resmi menjadi muslimah.

Ujian kelas III pun di ambang pintu. Aku harus lebih berkonsentrasi dalam menghadapi ujian. Aku harus mendapatkan hasil yang terbaik  Ingin kubuktikan pada orang tuaku bahwa dengan agamaku yang sekarang aku bisa menjadi lebih baik lagi.

Alhamdulillah, ujian pun berakhir. Aku tinggal menunggu pengumuman. Waktu yang banyak luang sering kugunakan diskusi dengan ibu soal agama. Ibu tidak membantah tapi juga belum menerima. Sementara adik-adikku cenderung mengikuti jejakku. Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai tertinggi dan mendapat kesempatan untuk PMDK di Unnes.

Akhirnya, akupun kuliah di unnes. Aku kost di sebuah kost yang Islami. Disinilah kesempurnaanku berawal. Teman-teman satu kos kebetulan berjilbab semua, di kos inilah jilbab mulai kukenakan. Serasa diri ini telah menjadi muslimah seutuhnya.

Hingga pada suatu hari, pak pos datang membawa surat dari ibu. Berpanjang lebar ibu menceritakan kegelisahannya selama kutinggalkan kuliah. Ibu menceritakan pertemuannya yang tidak sengaja dengan bu Wid, guru agamaku. Pertemuan itu membuatnya mantap ibu menyatakan berhijrah mengikutiku. Aku meneteskan air mata bahagia karena ibu telah menjadi muslimah. Ibu juga menceritakan bagaimana teman-teman lamanya datang untuk mengajak kembali. Ibu sudah mantap dan menyatakan yakin dengan pilihannya. Ibu juga bercerita kalau bapak tetap belum bisa meninggalkan agama lamanya. Aku hanya berharap suatu saat bapak pun akan mendapatkan pencerahan seperti ibu.

Liburan pun tiba. Ibu bilang bapak yang akan menjemput, naik motor. Dua jam perjalanan, kami masuk Boyolali. Sayup-sayup kudengar adzan Dzuhur berkumandang. Dari jauh kulihat sebuah masjid. Sampai depan masjid, bapak membelokkan motor ke halaman masjid. Aku kaget.

“ Lho, Pak. Kenapa berhenti?” kataku dengan penasaran.

“Nduk, kita shalat dulu ya!” kata bapak dengan suara gemetar.

“Masya Alloh. Subhanallah. Kenikmatan apalagi yang Kau berikan pada hamba-Mu.” aku terduduk dan terpekur tanpa bisa berbicara. Aku hanya takjub dengan rencana-Nya. Maha Suci Engkau ya Alloh yang memberi petunjuk kepada siapapun yang Engkau kehendaki. (Amatullah di Kendal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *