Uswah

Pendeta Yahudi dan Dua Tanda Kenabian

Sebuah ironi. Ketika kabilah-kabilah Arab mulai memeluk Islam dan meninggalkan syirik, orang-orang Yahudi justru ingkar dan memilih menjadi musuh Islam. Padahal sebelumnya, merekalah ahli kitab yang paling antusias menubuwatkan kehadirannya. Permusuhan itu adalah puncak akumulasi kekecewaan lantaran nabi terakhir tenyata bukan dari golongan bani Israil.

Sebelum Rasulullah diutus, bangsa Yahudi menghadapi berbagai intimidasi di tanah Syam. Mereka terusir dari satu tempat ke tempat lain. Untuk menyelamatkan diri, mereka akhirnya menyingkir jauh hingga ke tengah padang pasir hijaz.

Di kota Yatsrib pun, orang-orang Yahudi masih terjepit dalam perang saudara antara suku Aus dan Khazraj. Meski demikian komunitas Yahudi cukup dominan dan kuat. Mereka bahkan memiliki tiga komunitas; bani nadhir, bani qainuqa dan bani quraidzah.

Walaupun dianggap sebagai minoritas, orang Yahudi tidak ciut nyali. Mereka justru mengancam kabilah-kabilah Arab yang hendak menyerang mereka, “Akan diutus nabi di akhir zaman, di bawah kepemimpinannya, kami akan membinasakan kalian sebagaimana musnahnya kaum Ad dan Iram.” Kaum Ad dan Iram adalah umat nabi Hud yang dimusnahkan Allah dengan badai mematikan. Tak ada satupun yang selamat dalam adzab tersebut.

Begitu bencinya Yahudi kepada Islam, hingga Rasulullah pernah mengatakan bahwa andai saja ada 10 orang Yahudi yang sudi memeluk Islam, itu sudah cukup bagi beliau. Pernyataan itu menandakan betapa sedikitnya umat Yahudi yang sudi memeluk Islam.

Salah satu pemuka Yahudi yang mau masuk Islam ialah Zaid bin sanah. Ia tinggalkan keyakinan lamanya setelah membuktikan sendiri tanda-tanda kenabian Muhammad SAW yang termaktub dalam kitab sucinya.

Kisahnya bermula ketika seorang badui menemui Rasulullah untuk meminta bantuan. Dia melaporkan paceklik panjang yang menyebabkan sumur dan mata air mengering, ladang tak bisa ditanami dan banyak ternak mati. Utusan itu mengkhawatirkan satu hal. “Di kampung itu ada sekumpulan orang yang sudah memeluk Islam. Mereka mengatakan jika memeluk Islam, mereka akan mendapat rahmat dan rezeki dari Allah. Tetapi sesudah mereka semua memeluk Islam, terjadilah musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mereka ditimpa kelaparan dan kehausan.”

Utusan badui itu khawatir, kaumnya meninggalkan Islam lantaran musibah itu. Karena itu, ia meminta bantuan kepada Rasulullah di Madinah. Mendengar keterangan itu, Rasulullah memandang Ali bin Abu Thalib. Ali mengerti isyarat tersebut. Sayangnya, saat itu tidak ada cadangan makanan yang cukup sebagai bantuan.

“Wahai Rasulullah, tidak ada lagi bahan makanan pada kita untuk membantu mereka,” kata menantu Rasulullah tersebut.

Secara kebetulan, Zaid bin Sanah, seorang pemuka Yahudi mendengarkan pembicaraan Nabi dengan Badui tersebut. Ia pun langsung menawarkan pinjaman lunak berupa kurma, pembayarannya bisa dilunasi dalam tempo yang disepakati bersama.

Rasulullah menerima tawaran Zaid bin Sanah dan menyepakati harga dan jatuh tempo pembayaran. Setelah itu, Zaid membeli buah dengan kualitas terbaik lalu menyerahkannya sesuai permintaan Rasulullah. Kemudian Rasulullah menyerahkannya kepada orang Badui untuk dibagikan kepada penduduk kampung yang tengah ditimpa bencana.

Waktu berlalu hingga menjelang hari jatuh tempo. Saat itu Rasulullah sedang bertakziah bersama Abu Bakar, Umar, Usman dan beberapa orang sahabat lain. Seusai mensholatkan jenazah sahabatnya tersebut, Rasulullah mencari tempat duduk. Tiba-tiba, Zaid bin Sanah menghampirinya lalu menjambak erat-erat kerah bajunya. “Hai Muhammad, bayar hutangmu kepadaku, aku tahu bahwa seluruh keluarga Abdul Muthalib itu selalu mengulur ulurkan waktu membayar hutang!” bentak Zaid bin Sanah dengan kasar.

Melihat Rasulullah dilecehkan seperti itu, Umar bin Khattab langsung naik pitam. “Hai musuh Allah! Engkau berkata begitu kasar terhadap Rasulullah dan tidak sopan. Demi Allah kalau tidak karena rasa hormatku terhadap Rasulullah SAW yang berada di sini, sungguh tentu akan aku penggal lehermu dengan pedangku ini,” kata umar.

Rasulullah SAW memandang pemuka Yahudi itu dengan tenang dan santun. Tak lupa Rasulullah SAW meredamkan kemarahan Umar. “Ya Umar, antara saya dengan dia ada hutang piutang yang belum selesai. Sebaik-baiknya engkau menyuruh aku membayar hutang itu dan menganjurkan dia menagih hutangnya dengan cara yang baik.”

Rasulullah lalu menyuruh Umar dan Zaid pergi ke gudang penyimpanan kurma. Rasulullah juga berpesan agar umar menambah dua puluh sha’ kurma agar kemarahan Zaid mereda.

Zaid bin Sanah menghitung takaran kurma dengan seksama. Ia kaget karena umar menambah jumlahnya dan ternyata tidak sedikit. Zaid bin Sanah pun bertanya kepada Umar, “Kenapa jumlah kurmanya ditambah wahai Umar?”

“Aku diperintahkan oleh Rasulullah menambah 20 sha’ lagi sebagai hadiah untuk meredamkan kemarahanmu,” jawab Umar.

“Umar, apakah engkau tahu siapa namaku?” tanya Zaid bin Sanah.

“Tidak,” jawab Umar.

“Akulah pendeta Yahudi Zaid bin Sanah.”

Umar yang terkejut latas bertanya, “Kenapa engkau menagih dengan cara demikian? Sikapmu berlaku begitu kasar dan menghina?”

Akhirnya, Zaid bin Sanah menjelaskan bahwa sikapnya itu hanyalah sandiwara. “Semua tanda kenabian yang aku baca dalam kitab Taurat telah aku lihat pada diri Muhammad.”

Zaid melanjutkan, “Namun ada dua tanda yang ingin aku buktikan. Pertama, rasa sayang dan santunnya selalu mengalahkan amarahnya. Kedua, semakin orang marah kepadanya, semakin bertambah rasa kasih sayangnya terhadap orang yang marah tersebut. Dari kejadian tadi, wahai umar, aku membuktikan bahwa beliau adalah nabi terakhir yang dinubuwatkan dalam Taurat. Kedua tanda itu ada pada Muhammad.”

Umar melihat raut muka Zaid bin Sanah berubah, ada semacam keharuan yang terpancar dari sosok yang ada di hadapannya. Dengan penuh rasa yakin Zaid lantas berikrar, “Aku bersumpah di depanmu hai Umar, bahwa aku sungguh-sungguh suka dan ridha dengan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabi dan panutanku.”

Keduanya pun langsung kembali menemui Nabi. Di hadapan Rasulullah SAW, Zaid bin Sanah langsung mengucapkan dua baris kalimat tauhid, “Asyhadu Anla ilaha Illallah. Wa asyhadu anna muhammad Rasulullah. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya.”

Perasan haru yang dirasakan Zaid langsung menular kepada Umar. Orang yang sebelumnya ia benci berubah menjadi saudara yang sangat ia cintai. Di mata sahabat yang bergelar al-faruq itu, Zaid bukan lagi pemuka agama Yahudi, melainkan saudara muslim seiman dan seakidah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *