Khutbah Iedul Adha 1440 H: Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

Khutbah Iedul Adha 1440 H

Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!

 

إنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Merayakan Iedul Adha kita mengenang kembali pengorbanan Nabi Ibrahim untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Sebagai bukti iman dan ketundukan hamba kepada Rabbnya. Kita berusaha mewarisi jiwa pengorbanan beliau sebagaimana para shahabat Rasulullah rela mengorbankan harta, tenaga, dan nyawanya untuk Islam.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Dalam kitab ar-rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyur Rahman Mubarakfuri menceritakan banyak sekali kisah pengorbanan para shahabat Rasulullah pada masa awal dakwah Islam di Makkah. Salah satu yang beliau kisahkan adalah shahabiyah Sumayyah binti Khayyat, istri dari Yasir radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah.

Ketika mengetahui keislamannya, Musyrikin Quraisy tidak rela jika keluarga ini mengenyam manisnya Islam, hingga Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari Islam, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir saat terik matahari panas menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan sebongkah batu besar di atas dadanya. Akan tetapi, tiada terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan, “Ahad … Ahad ….

Saat Rasulullah ﷺ menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

صَبْرًا آلَ يَاسِرٍفَإِ نِّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” (HR al-Hakim)

Mendengar seruan Rasulullah ﷺ maka Sumayyah binti Khayyat bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Baginya kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para tagut yang zhalim; mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya, sekalipun hanya satu langkah semut.

Hingga tatkala musuh-musuh Allah telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah binti Khayyat maka Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah binti Khayyat. Terbanglah nyawa beliau dari raganya, dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau syahid setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan pengorbanan.

Beliau relakan nyawanya demi meraih puncak kemuliaan. Beliau jual nyawanya untuk mendapatkan ‘barang dagangan’ yang paling berharga dari Allah, yakni jannah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Surga itu mahal. Surga itu istimewa luar biasa nilainya. Kebahagiaan tiada tara, kemewahan tiada banding, kemuliaan tiada tanding, dan kenikmatan yang tak ada akhirnya. Tak terselip sedikit pun derita atau kesusahan di dalamnya. Maka siapapun yang ingin mendapatkannya hendaknya sadar, bahwa ia hendak memiliki sesuatu istimewa tiada tara. Selayaknya ia mengorbankan apapun yang ia punya untuk mendapatkannya dan membayarnya dengan seberapapun harganya.

Rasulullah bersabda,

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan. Dishahihkan Al-Albani)

Jika kita rela berpayah-payah sepanjang hari untuk bisa membeli rumah, memeras keringat demi mendapatkan kendaran roda empat dan mengorbankan waktu dan harta agar bisa menjadi seorang pejabat, lantas dengan apa kita hendak membeli Jannah? Dengan apa kita hendak mendapatkan rumah yang panjangnya 60 mil dengan batu bata terbuat dari emas dan perak di jannah. Dengan apa kita hendak memperoleh kendaraan yang terbuat dari Yaqut dan bisa terbang kemana pun kita suka?

Sangat mengherankan bila ada orang yang hendak membayar sesuatu yang luar biasa berharga hanya dengan sisa receh di sakunya. Mengherankan jika ada orang yang menyumbangkan sisa-sisa waktu dan tenaga lalu berharap menempati kedudukan mulia di surga. Alangkah percaya dirinya seseorang yang merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan jauh dari sempurna, lalu mengharapkan ganjaran yang tiada tara.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Ada pelajaran menarik dari kisah seorang shalih. Suatu kali ia melakukan suatu perjalanan dan di tengah perjalanan ia mencari tempat untuk menunaikan hajatnya. Tampak seorang pemuda berjaga di tempat tersebut, lalu mengatakan, “jika kamu mau masuk ke tempat ini, maka kamu harus membayarnya.” Mendengar ucapan tetersebut orang shalih tadi terdiam dan menitikkan air mata. Pemuda itu pun heran dan berkata, “Jika kamu tak punya uang, carilah tempat lain.” Laki-laki itu berkata, “Aku menangis bukan karena tidak memiliki uang. Aku menangis karena merenungi, jika tempat sekotor ini saja harus membayar untuk memasukinya, apalagi surga yang begitu indahnya.”

Selayaknya kita merenungi, apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan jannah. Berapa durasi waktu yang kita sediakan kemudian kita bandingkan dengan waktu dan usaha yang kita habiskan ketika hendak memperoleh sebagian dari kenikmatan dunia. Kita mengetahu surga itu mahal, tapi seringkali kita menghargainya terlalu murah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Allah telah menawarkan ‘barang dagangannya’ kepada hamba-Nya dengan harga yang telah ditetapkan. Sebagaimana firman-Nya,

 إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga, lantaran mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. Ini merupakan karunia, kemuliaan dan kemurahan-Nya.”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu ‘Anhu sebagiamana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam mustadraqnya menuturkan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah untuk bersyahadat. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:

تَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Engkau bersaksi  tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.

Dia melanjutkan, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; pertama zakat, karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Kedua jihad, karena orang-orang yakin bahwa yang lari ketika perang maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku.”

Kemudian Rasulullah menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya sembari bersabda,

لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟

Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?

“Lalu aku berkata kepada Rasulullah,” kata Basyir, “Aku berbaiat kepadamu, maka baiatlah aku atas semua itu.”

Pertanyaan Rasulullah, “dengan apa engkau hendak masuk surga” menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang ingin mendapatkan surga dengan harga yang murah. Seakan jannah bisa dimiliki hanya dengan sedikit pengorbanan. Atau hanya dengan mendermakan sisa-sia miliknya yang tidak lagi berharga. Sedangkan sesuatu yang berharga miliknya justru dia belanjakan untuk memenuhi keinginan nafsunya. Mereka merasa cukup menggunakan modal yang kecil untuk mendapatkan jannah…” Dengan modal apa engkau hendak masuk jannah?”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Kemuliaan seseorang, juga kenikmatan yang akan diraih seseorang tergantung pada pengorbanan yang ia curahkan. Namun, banyak orang yang belum memahami makna pengorbanan tersebut.

Secara bahasa, at-tadhhiyah atau pengorbanan adalah ketika seseorang mendermakan dirinya, ilmunya, dan hartanya tanpa imbalan. Adapun pengorbanan yang dituntut secara syar’i adalah mendermakan jiwa, waktu maupun harta demi tujuan paling mulia, untuk target yang paling diharapkan di mana pengharapan itu tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengorbanan bisa dilakukan dengan harta. Yakni ketika dia mendermakan hartanya di jalan Allah tanpa mengharap apapun selain Allah. Baik mendermakan sebagai bentuk ibadah seperti udhhiyah (menyembelih hewan qurban), berhaji, berzakat, dan semisalnya, maupun terkait dengan sedekah kepada sesama dengan mengharap imbalan kepada Allah. Begitupun mendermakan harta untuk kepentingan jihad fi sabililah. Bahkan, ketika seseorang rela keluar dari pekerjaan yang haram karena mengharap ridha Allah, maka dia telah berkorban dengan hartanya.

SUDAH PUNYA MAJALAH AR-RISALAH EDISI TERBARU? KLIK DI SINI UNTUK MENDAPATKAN

Pengorbanan juga bisa dilakukan dengan mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkan dan mendakwahkannya. Dan sesuatu yang paling berharga untuk dikorbankan adalah nyawa yang dipersembahkan di jalan Allah.

Generasi pilihan di kalangan para sahabat memahami konsekuensi untuk meraih jannah. Bahwa ia harus ditebus dengan sesuatu yang paling berharga miliknya. Seperti Mush’ab bin Umair setelah keislamannya, ia rela diboikot keluarganya demi keimanannya. Yang semula dimanja dengan kemewahan, pakaian indah nan wangi harus memakai pakaian yang kasar. Dia habiskan masa mudanya untuk berdakwah ke Madinah dengan dakwah yang begitu berkah, hingga pada akhirnya dia gugur sebagai syahid, beliau korbankan nyawanya untuk Allah.

Setidaknya kisah hidup beliau menjadi cermin bahwa kita belum apa-apa, belum seberapa pula pengorbanan kita untuk Pencipta. Sekaligus menjadi pengingat bahwa pengorbanan kita mestinya fokus demi penghambaan kita kepada Allah Ta’ala. Bukan demi pujian atau kenikmatan dunia yang sementara. Agar terwujud ikrar yang kita ucapkan, “Inna shalaati wa nusuki wamahyaaya wa mamati lilahi Rabbil ‘alamin”, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah bagi Rabb semesta alam.

Baarakallahu lii walakum fil quraanil kariim wa nafa’ani wa iyyaaku bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim, innahu huwal ghafuurur raahiim.

Marilah kita akhiri khutbah Ied ini dengan berdoa kepada Allah:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!

Khutbah Jumat: Persaudaraan Butuh Pengorbanan

:Khutbah Jumat

PERSAUDARAAN BUTUH PENGORBANAN

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin kita ucapkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya rabbal alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mengeluarkan sebagian harta demi tersambungnya silaturrahim adalah ringan bagi orang yang memahami manfaat silaturrahmi dan keutamaannya di akhirat. Begitupun jika untuk menyambungnya harus rela mengalah dalam banyak hal, juga menanggalkan rasa gengsinya. Contoh-contoh di bawah ini menyiratkan sebuah hikmah, bahwa menjalin persaudaraan menuntut adanya pengorbanan.

Suatu kali, Abdullah bin Umar keluar menuju Mekah. Beliau mengendarai seekor keledai dan mengikatkan sorban di kepalanya. Saat beliau sedang bersantai, tiba-tiba lewatlah seorang Badui dan berkata, “Bukankah Anda putera Umar?” Beliau menjawab, “Ya.” Tampak seorang Badui itu dekat hubungannya dengan ayah Ibnu Umar. Maka, Ibnu Umar menghadiahkan keledai dan sorbannya kepada orang Badui itu. Dengan heran, seorang sahabatnya bertanya, “Semoga Allah memberikan ampunan kepada Anda. Apa yang mendorong Anda menghadiahkan keledai dan sorban yang Anda kenakan kepada orang Badui itu?” Ibnu Umar menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Di antara cara berbakti yang paling baik adalah dengan menyambung hubungan kasih sayang dengan orang yang dicintai oleh ayahnya setelah meninggal.” Beliau melanjutkan, “Nah, ayah orang Badui itu memiliki hubungan dekat dengan ayahku, Umar.”

Selain dengan memberi hadiah, silaturrahim bisa dijalin dengan cara mengunjungi sanak saudara. Ini juga dilakukan oleh Abdullah bin Umar. Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Burdah bahwa ia berkata, “Aku tiba di kota Madinah, lalu Abdullah bin Umar menemuiku dan berkata, “Apakah engkau tahu, kenapa aku ingin menemuimu jauh-jauh seperti ini?” Aku menjawab, “Tidak.” Ibnu Umar berkata, “Karena aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa yang ingin berbuat baik kepada ayahnya di kuburnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” Nah, aku mengetahui bahwa antara ayahku dan ayahmu terdapat tali persaudaraan dan kasih sayang, sehingga aku ingin menyambungnya.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Tidak sulit mengalah kepada orang yang masih terjalin kasih sayang. Tidak berat pula berkorban untuk kerabat yang memang sudah lama berhubungan dekat. Tapi, tidak mudah untuk melakukan itu semua saat tali silaturrahmi nyaris putus. Karenanya, ada keutamaan lebih bagi orang yang mampu melakukannya. Nabi bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukannya orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang mencukupi kebutuhan kerabatnya, akan tetapi penyambung silaturrahim adalah ketika tali silaturrahmi terputus, lalu ia menyambungnya.” (HR. Abu Dawud)

Banyak orang-orang utama yang mampu mewujudkan keutamaan dalam hadits ini. Salah satunya adalah kasus yang terjadi atas dua putera Ali bin Abi Thalib yang berbeda ibu. Yang satu adalah Hasan bin Ali, ibunya adalah Fathimah puteri Rasulullah, dan di pihak lain ada Muhammad Al-Hanafiyyah, putera Ali dari istrinya yang bernama Khaulah binti Ja’far al-Hanafiyyah. Wanita yang dinikahi Ali sepeninggal Fathimah.

Suatu kali, terjadi ketegangan antara kedua putera Ali yang berbeda ibu tersebut, maka Muhammad bin Al-Hanafiyyah menulis surat kepada Hasan, “Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah seorang wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berharap Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetap lebih utama dariku dalam segala hal.” Sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin persaudaraan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Anjuran untuk menyambung silaturrahim juga berlaku bagi kerabat, atau bahkan orangtua yang belum mendapat hidayah. Asalkan, mereka tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Suatu kali, Asma’ binti Abu Bakar tidak mau menerima hadiah dari ibunya yang bernama Qutailah (yang telah diceraikan Abu Bakar pada masa jahiliyyah) yang datang menjenguknya. Asma’ tidak mengijinkan ibunya masuk sebelum ia menanyakan hal tersebut terlebih dahulu kepada Rasulullah.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar, bahwa dia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku pada masa Islam mulai berkembang di Mekah, sedang ibuku adalah seorang musyrik. Aku pun pergi menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Sesampainya di sana aku bertanya: ‘Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh antusias kepadaku. Apakah aku boleh menyambung silaturrahim dengannya?’ Beliau menjawab,

نعم صلي أمك

“Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara hikmah yang bisa dipetik adalah, silaturrahim kepada kerabat yang belum mendapat hidayah menjadi sarana yang efektif untuk berdakwah, mudah-mudahan mereka mendapat hidayah dari Allah.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga memberi manfaat. Akhir kata, marilah kita berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas silaturahim kita. agar persaudaraan semakin kuat dan pahala semakin banyak kita dapat. Dan kelak buahnya dapat kita panen di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

dapatkan versi PDF di Sini: Khutbah Jumat PDF (Bisa langsung diprint)

Khutbah Jumat: Hati Gersang Karena Iman Telah Usang

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah jum’at rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah l tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Saat dikalahkan Nabi Musa as, tukang sihir Fir’aun segera bertaubat. Mereka tersungkur sujud, dan menyatakan keimanannya di hadapan semua orang yang menyaksikannya, termasuk Fir’aun yang sebelumnya menjadi majikannya. Ujian berat pun langsung mereka hadapi,

“Fir’aun berkata, “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, Sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; Maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);

“Demi, Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.”

Tapi lihatlah jawaban mereka terhadap ancaman Fir’aun,

“Sesungguhnya kepada Allah-ah Kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Rabb Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (QS al-A’raf 123-124)

Bagitulah dahsyatnya iman saat pertama kali datang. Besarnya pengorbanan tak tanggung-tanggung untuk dikerahkan. Beratnya resiko dipikul dengan sepenuh kekuatan, meski nyawa harus dipertaruhkan.

Tapi, iman bukanlah keadaan yang stagnan. Iman bisa turun, bisa juga naik. Bisa usang seperti usangnya pakaian, bisa pula diperbaharui kembali. Iman itu bisa tumbuh dan berkembang, bisa semakin kokoh, akarnya menghunjam, namun bisa pula sebaliknya. Seumpama pohon yang ditelantarkan, makin layu daunnya, kian rapuh batangnya dan tidak mustahil akan tercabut akar dari tanahnya. Bagaimana perjalanan iman kemudian, tergantung cara merawat dan melestarikannya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Proses lunturnya iman umumnya berbeda dengan keadaan saat pertama iman datang. Iman datang langsung meningkat tajam, tapi turun dan lapuk secara perlahan. Bahkan seringkali pemiliknya tidak merasa kehilangan, dan tidak pula mendeteksi terkikisnya iman sedikit demi sedikit.

Saat kita kehilangan gairah untuk melakukan ketaatan, tidak pula bergegas menyambut tawaran pahala yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita harus mulai waspada. Jangan-jangan iman kita mulai usang, dan keyakinan kita makin berkurang. Karena salah satu tanda lemahnya iman adalah lemahnya kemauan seseorang untuk menjalankan ketaatan.

Iming-iming menggiurkan di akhirat tidak lagi mampu membuat orang yang lemah iman untuk bersegera menyambut seruan kebaikan. Seperti keadaan orang munafik yang digambarkan oleh Nabi,

 

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tiada shalat yang lebih berat bagi orang munafik melebihi beratnya mereka menjalankan shalat fajar dan isyak (dengan berjamaah), seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Seandainya iman di hati sehat, yakin akan kebenaran janji Nabi, tentu mereka akan mendatangi shalat jamaah, meskipun dengan susah payah. Tapi jika iman di hati telah pudar, maka kesehatan, kelonggaran waktu dan dekatnya posisi rumah dengan masjid masih belum dianggap kemudahan untuk mendatangi shalat jamaah.

Begitupun dengan tawaran pahala 27 derajat bagi siapa yang menjalankan shalat berjamaah di masjid, tidak juga menyebabkannya bergegas mengambil peluang ini. Berbeda ceritanya jika seandainya mereka dijanjikan hadiah uang 27 juta, tunai di dunia. Pasti mereka akan rela antri dan berdesak-desakan untuk memasukinya. Padahal 27 juta itu tak ada nilainya sama sekali bila dibandingkan dengan nilai 27 derajat di akhirat. Tapi, lemahnya keyakinan menyebabkan orang enggan untuk menunaikan shalat berjamaah.

Sebagaimana dalam urusan shalat, untuk amal ketaatan yang lain pun tak jauh beda. Lemah iman menyebabkan seseorang menjadi bakhil untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Sebab dia tidak yakin, jika harta yang dikeluarkan itu benar-benar akan diganti dengan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat.

Belum lagi untuk urusan ketaatan yang menghajatkan pengorbanan, juga resiko di perjalanan, maka lebih berat lagi bagi mereka untuk menunaikannya. Seperti berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fii sabilillah.

Adapun orang yang sehat imannya, dia tak hanya sekedar menjalankan ketaatan. Ia bahkan merasa sangat ringan dan betah berada di atas ketaatan. Seperti yang diungkapkan oleh Utsman bin Affan, “Andai saja hati kita bersih, tentu kita tak akan bosan membaca al-Qur’an.” Atau seperti yang diungkapkan oleh seorang ulama salaf, “telah tua umurku, telah rapuh tulangku, sehingga aku hanya mampu membaca al-Baqarah, Ali imran dan an-Nisa’ saja ketika shalat malam.”

Subhanallah….!

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ketika penyakit lemah iman mulai menjalar, maka secara perlahan pula, kepekaan seseorang terhadap dosa akan menjadi tumpul. Penyakit ini juga menyebabkan penderitanya kehilangan imunitas, kekebalan ataupun proteksi hati dari segala dosa. Berita tentang siksa akhirat dan ancaman bagi pelaku dosa, disikapi sebagai tak lebih dari sekadar informasi dan maklumat belaka. Bukan lagi sebagai peringatan keras, yang mampu membuatnya mundur dan menjauh dari daerah larangan Allah yang berupa dosa dan maksiat.

Faktor kebiasaan dan pengulangan menjadi penyebab lunturnya keimanan dan melemahnya tali keyakinan. Hingga akhirnya dosa dianggap sebagai perbuatan yang layak mendapat permakluman. Dari sinilah, setan mulai menggoyahkan pendiriannya. Alasan ‘keumuman’, suara mayoritas, adat yang meluas dipaksakan sebagai representasi suatu kebenaran.

Apa iya ini perbuatan dosa? Mengapa banyak yang melakukannya? Masak iya mayoritas manusia akan disiksa? Begitu setan mengikis batu demi batu dari benteng pertahanan iman kita. Terus menerus, hingga akhirnya runtuhlah bentengn itu secara keseluruhan.

Kita mungkin lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Allah tidak pernah menjadikan suara mayoritas sebagai ukuran kebenaran. Dan Allah juga tidak mustahil menyiksa kaum mayoritas, jika mereka memang layak mendapatkan siksa. Seperti kaum Nuh, Kaum Luth dan kaum Nabi-nabi lain yang ternyata lebih didominasi orang yang sesat katimbang yang mengikuti hidayah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Penyakit lemah iman tak hanya bisa diderita oleh orang awam. Orang alim pun tak mustahil menderita penyakit ini. Kuatnya iman seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pengetahuan seseorang terhadap ilmu syar’i. Ada kalanya, seseorang memiliki banyak pengetahuan tentang fikih, tafsir, hadits dan cabang-cabang ilmu lainnya, namun dia tidak selamat dari kelemahan iman. Padahal, jika lemah iman menjangkiti orang semacam ini, tingkat bahayanya jauh lebih besar dari orang biasa.

Karena orang yang alim mengerti celah-celah dalil, mengetahui siasat untuk bisa berkelit darinya, dan bisa menipu umat dengan kepandaiannya dalam berdalil. Ketika ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat, ia bisa berargumen dan memelintir dalil. Dia menjadikan sebagai dalih di hadapan orang-orang awam.

Akhirnya, orang awam akan melakukan kemaksiatan yang sama, lalu menjadikan pendapat ulama’ suu’ itu sebagai argumen. Maka kerusakan pun semakin meluas.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi khatib maupun bagi jamaah sekalian.

Akhir kata, marilah kita berdoa semoga kita diberi kekuatan untuk menjaga kualitas iman kita. Diberi Kekuatan untuk mengembalikan iman kita jika suatu saat lemah. Dan diberi bimbingan agar iman senantiasa ada di dalam jiwa, hingga ajal menjemput kita. amin.

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Khutbah Jumat

 

Baca Khutbah Jumat Lainnya: Minder Taat Akhirnya Maksiat, Kandas Karena Malas, Pejabat; Orang yang Paling Butuh Nasihat

 


Belum Baca Majalah Ar-risalah Edisi Terbaru? Dapatkan Di Sini

Majalah hati, majalah islam online yang menyajikan khutbah jumat, artikel islam keluarga dan artikel islam lainnya

Khutbah Jumat: Minder Taat Akhirnya Maksiat

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Alhamdulillah…! Alhamdulillahi Rabbil alamiin…! Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, anugerah dan hidayahnya kepada kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad, kepada keluarga, shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunahnya.

               

Jamaah Jumat rahimakumullah

Islam adalah agama yang luhur, agung, dan mulia. Tak ada aturan apa pun di dunia ini yang mengungguli Islam. Nilai-nilai Islam tidak pernah berubah, kapan pun, dalam kondisi apa pun, dan di mana pun. Hanya saja, sikap manusia terhadap Islam selalu mengalami pasang surut, dari sisi dukungan dan penentangan terhadapnya. Ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Di awal kehadirannya, Islam dianggap aneh, asing, sesat dan dimusuhi oleh para penentangnya. Orang yang menentang Islam jumlahnya lebih banyak dari pendukungnya. Selang beberapa tahun kemudian, seiring dakwah dan jihad yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya, Islam berjaya. Islam menjadi agama yang dibanggakan oleh penganutnya, dan berwibawa di mata musuh-musuhnya.

Namun, roda sejarah terus berputar. Generasi demi generasi datang pergi silih berganti. Kewibawaan Islam di mata manusia pun tidak selalu pasti. Adakalanya menurun, naik, turun kembali, meningkat, jatuh lagi, begitu seterusnya. Hingga yang kita alami sekarang ini, Islam berada dalam kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi pada zaman keemasannya. Islam kembali menjadi asing seperti saat mula datangnya.

Kondisi ini persis seperti hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

 

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

“Sesungguhnya Islam itu bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.” (HR. Muslim)

Allah menghendaki semua itu terjadi, bukan karena Allah tidak kuasa menjadikan Islam senantiasa berjaya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas itu. Tapi Allah hendak menguji orang-orang beriman, sehingga terbukti siapa yang tetap iman dan taat dalam segala kondisi dan situasi.

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)..” (QS. Ali Imran: 140)

Begitu pun dengan keterasingan Islam, juga menjadi ujian. Adakah mereka tetap beredar bersama Islam dimana pun posisinya, ataukah lepas dari peredarannya saat Islam dan syariatnya dicampakkan oleh manusia.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Keterasingan Islam bukan pada sisi sedikitnya penganut, bukan pula karena sulitnya mendapatkan Kitab Suci, atau tak adanya guru mengaji. Keterasingan Islam terjadi akibat runtuhnya kekuasaan, hilangnya hukum dan syariatnya, juga lenyapnya tradisi dan akhlak-akhlaknya. Kita semua tahu, hukum apa yang mendominasi dunia saat ini. Tradisi mana pula yang menjadi budaya masyarakat dunia, juga masyarakat kita hari ini. Selain adat, tradisi Barat begitu kentara mewarnai setiap celah kehidupan, hingga menjadi pola hidup masyarakat kebanyakan.

Akibatnya, orang yang konsisten dengan ciri khas keislamannya menjadi aneh. Begitu pun orang-orang yang tidak mau melebur dengan tradisi kebanyakan. Maka, hanya ada dua pilihan, setia dengan Islam tapi menanggung risiko celaan dan keterasingan, ataukah larut dengan arus kebanyakan yang didominasi oleh hawa nafsu sebagai unsur terkuatnya.

Pada saat posisi Islam sedang dipinggirkan seperti ini, tak sedikit yang merasa gamang untuk tetap berputar bersama Islam. Tidak sedikit orang Islam yang lantas mencari wilayah ‘aman’ dengan mencelupkan dirinya dengan ‘sibghah’ hawa nafsu yang menjadi warna kebanyakan.

Mereka minder untuk menunjukkan jati dirinya sebagai seorang muslim atau muslimah. Yang muslimah, tidak pede tampil dengan jilbab syar’inya, kurang gaul jika tak hafal lagu-lagu barat, dan merasa rendah diri jika belum bisa berjoged dan berdansa. Mereka lebih pede dengan pakaian ketat, berlenggak-lenggok, kepalanya miring ke sana kemari, persis seperti kaum yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghuni neraka yang perlakuannya belum pernah beliau saksikan di zamannya, yaitu:

“Wanita yang berpakaian tapi telanjang, menyimpang dari ketaatan, berjalan melenggak-lenggok (berjoged), kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk jannah, bahkan tidak mencium baunya, padahal baunya bisa dapat dirasakan dari jarak perjalanan sekian-sekian (yakni sangat jauh).” (HR. Muslim)

Yang laki-laki merasa minder untuk melazimi shalat jamaah di masjid dengan meninggalkan teman ngobrolnya. Atau menampakkan sunnah Nabi seperti memanjangkan jenggot dan mengenakan celana di atas mata kaki. Mereka juga minder jika hendak membaca al-Qur’an, atau berargumen dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Lebih merasa terangkat wibawanya jika bisa menukil petuah-petuah orang Barat.

Belum lagi kelompok muda-mudi yang merasa rendah diri jika belum pernah berpacaran. Takut dikatakan tidak laku, kurang gaul atau culun.

Munculnya rasa minder untuk taat tersebut disebabkan karena menganggap nilai ketaatan itu rendah, Islam dan iman tak begitu berarti. Pada saat yang sama, muncullah kekaguman terhadap tradisi dan kebiasaan di luar Islam. Maka mereka pun lebih memilih untuk mengikuti tradisi orang kafir, meskipun sesuatu yang diikuti itu jelas-jelas buruk dan kotor. Fenomena ini sebenarnya sudah pernah dikabarkan oleh Nabi,

 

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ   قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ  فَمَنْ

“Sungguh (sebagian) kalian nanti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti juga.” Kami (para sahabat bertanya), “Wahai Rasulullah, apakah yang Anda maksud adalah (mengikuti) Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari)

Dan hari ini, tradisi orang-orang kafir sudah mulai menjadi tradisi masyarakat kita. Dari tradisi ulang tahun, valentine day, kumpul kebo, pergaulan bebas, dan berlomba-lomba membuka aurat.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tidak selayaknya seorang muslim mengekor dan membebek tradisi orang kafir. Karena umat Islam adalah ‘ummatan wasatha’, yang diartikan oleh sebagian ahli tafsir sebagai, “kaum yang tingkatannya berada di bawah para nabi, namun di atas semua umat yang ada.” Maka tidak selayaknya kita yang seharusnya menjadi contoh, malah mencontoh. Allah berfirman:

 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kalian merasa hina dan bersedih, kalian lebih tinggi derajatnya jika kalian beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Ya, orang beriman itu tinggi dan mulia, meskipun sedikit sekali orang yang sepaham dengan mereka. Walaupun mereka minoritas, sekalipun mereka ditindas. Karena kemulian itu melekat pada Islam, iman dan takwanya. Bukan pada rupa, harta, status sosial atau banyak sedikitnya teman yang mendukungnya. Dengan ukuran inilah Islam menilai, dengan takaran ini pula para pendahulu kita di kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in menimbang.

Karena keimanannya, Bilal bin Rabah, seorang budak hitam dari Habsyi, kurus dan berambut keriting, justru diberi gelar oleh Umar bin Khattab dengan ‘sayyidina’, sebagaimana disebutkan dalah hadits:

“Abu Bakar pemimpin kita telah memerdekakan pemimpin kita juga (yakni Bilal).” (HR Bukhari).

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendengar suara terompah Bilal di jannah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Begitulah, dengan ketaatannya, Bilal dimuliakan oleh orang-orang shalih di dunia, dan diangkat derajatnya oleh Allah di akhirat.

Ada juga Abdullah bin Mas’ud, sahabat nabi yang berperawakan kecil, kurus, miskin, dan bukan keturunan bangsawan. Tapi beliau memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rasulullah dalam hal yang sifatnya privasi. Sehingga beliau dujuluki dengan shahibu sawaadi (sirri) Rasulillah. Abdullah bin Mas’ud juga dibercaya Umar untuk menjadi gubernur di Kufhah pada masa pemerintahannya. Adapun kemuliaannya di sisi Allah, Nabi saw bersabda, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya (pada Hari Kiamat) lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud.” (HR Ahmad, Thabarani)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Orang-orang yang melampiaskan hawa nafsu maupun kafir yang dianggap terhormat dan diikuti, sebenarnya berkebalikan dengan hakikatnya. Jangan disangka kehidupan mereka serba menyenangkan. Semua manusia pernah memiliki masalah, baik mukmin maupun kafir. Jika kita pernah merasakan sakit dan menderita, mereka pun sama. Bedanya, jika kita beriman, maka kita masih berharap pahala di sisi Allah, ganti yang jauh lebih baik dan lebih kekal di akhirat, sedangkan mereka tidak.

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. an-Nisa’: 104)

Jikalau mereka mengklaim sedang mengenyam kesenangan, maka itu tak lebih sebagai istidraj, tipu daya yang membiarkan mereka berada dalam kesenangan, padahal siksa akhirat telah menanti. Allah berfirman:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. al-An’am: 44)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Akhirnya, kita bisa simpulkan bahwa kemuliaan sejati itu ukurannya adalah iman. Orang  yang memiliki iman, dialah yang menyandang gelar hamba mulia. Adapun seberapa tinggi derajat kemuliaanya, tergantung seberapa tinggi kualitas imannya. Semoga iman di hati kita senantiasa terjaga dan tumbuh subur hingga ajal tiba. amin.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Khutbah Jumat

 

Materi Khutbah Lainnya: 

Pejabat, Orang yang Paling Butuh Nasihat

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Mendulang Manfaat Kala Sakit dan Sehat