Hukum Shalat Memakai APD

Shalat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim dalam segala kondisi. Lantas bagaimana wudhu dan shalat tenaga kesehatan di masa wabah ketika mereka mengenakan APD (alat pelindung diri)? Dalam situs islamqa yang diasuh oleh Syaikh shalih al-Munajid disampaikan sebagai berikut:

Pertama:

Tidak mengapa shalat dengan memakai baju pelindung dari virus (APD) meskipun wajah dan seluruh tubuhnya tertutupi selagi orang yang shalat mampu menempelkan hidung dan dahinya di tanah Ketika bersujud. Nabi bersabda:

  أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ 

“Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh anggota tubuh, di dahi dan memberikan isyarat ke hidungnya, kedua tangan, kedua lutut dan kedua ujung kakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Tidak diharuskan orang yang shalat bersentuhan langsung dengan anggota tubuh ini. Qodhi mengatakan, “Kalau sujud di atas sisa kain surban, atau buntalan atau ujung kainnya, maka shalatnya sah dalam satu Riwayat. Dan ini adalah mazhabnya Malik dan Abu Hanifah. Diantara yang memberikan keringanan bersujud di atas baju Ketika panas dan dingin adalah ‘Atho’, Thowus, Nakho’I, Sya’by, Al-Auza’I, Malik, Ishak dan Pengikut mazhab Abu Hanifah.

Sementara yang memberi keringanan boleh bersujud di atas surban adalah Hasan, Makhul, Abdurrahman bin Yazid. Sementara Syuraih memperbolehkan sujud di atas baju jubahnya. (Mugni; 1/305).

Syekh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang orang yang memakai kacamata besar sekali, tidak memungkinkan bersujud secara sempurna dengan seluruh anggota tubuh yang tujuh terkadang terhalangi sebelum hidungnya. Maka beliau menjawab,”Kalau hal itu menghalangi sampainya ujung hidung ke tanah waktu sujud, maka tidak diterima sujudnya. Hal itu karena yang membawa wajah adalah dua kacamata. Sementara keduanya bukan di ujung hidung bahkan keduanya menempel searah di kedua mata. Sehingga sujudnya tidak sah. Oleh karena itu orang yang memakai kacamata dan dapat menghalangi sampainya hidung ke tempat sujud, harus di lepaskan Ketika kondisi bersujud.” (Majmu Fatawa)

  • Dimakruhkan menutup hidung Ketika shalat, akan tetapi Ketika ada kebutuhan, yang makruh menjadi hilang.

Beliau mengatakan di kitab ‘Syarkhul Mumti’, “Perkataan ‘Yang menutupi mulut dan hidungnya maksudnya dimakruhkan menutupi mulut dan hidungnya. Dengan menaruh gutroh (kain penutup kepala atau surban atau simagh (kain penutup kepala) ke mulut juga ke hidungnya. Karena Nabi melarang seseorang menutup mulutnya waktu shalat. Juga karena hal itu menjadikan kesusahan dan tidak jelas keluarnya huruf Ketika membaca dan berzikir. Akan tetapi hal itu dikecualikan Ketika akan menguap dengan menutup mulutnya agar menahan tidak menguap. Hal ini tidak mengapa. Sementara kalau tidak ada sebabnya, maka hal itu dimakruhkan. Kalau disekitarnya ada bau busuk yang mengganggu Ketika shalat, dan membutuhkan penutup, maka hal itu tidak mengapa. Karena ada kebutuhan. Begitu juga kalau dia sedang flu dan dia mempunyai alergi kalau tidak ditutup mulutnya, ini juga termasuk kebutuhan diperbolehkan untuk menutup mulutnya.

Kedua:

Tidak mengapa Ketika berwudhu dia memakai baju pelindung diri. Ketika memungkinkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Dan mengusap kepalanya. Meskipun dengan memasukkan tangannya dengan air ke dalam bajunya. Diperbolehkan mengusap dua khuf (kaos kaki dari kulit) sehari semalam kalau dia mukim dan tiga hari tiga malam kalau dia musafir.

Mugiroh bin Syu’bah berkata, dahulu saya bersama Nabi dalam suatu perjalanan seraya beliau bersabda:

(يَا مُغِيرَةُ خُذِ الإِدَاوَةَ)، فَأَخَذْتُهَا، فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي، فَقَضَى حَاجَتَهُ، وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ شَأْمِيَّةٌ، فَذَهَبَ لِيُخْرِجَ يَدَهُ مِنْ كُمِّهَا فَضَاقَتْ، فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ أَسْفَلِهَا، فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ، وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ، ثُمَّ صَلَّى 

“Wahai Mugiroh ambillah timba, maka saya mengambilnya. Sementara Rasulullah berjalan sampai tidak terlihat dariku. Dan beliau menyelesaikan kebutuhannya. Dan beliau memakai jubah dari syam. dan mencoba mengeluarkan tangannya dari bajunya tapi kesempitan. Maka beliau keluarkan dari bawahnya. Dan saya siramkan air di atasnya. Dan beliau berwudhu untuk shalat. Dan mengusap di kedua khufnya (kaos kaki dari kulit) kemudian beliau menunaikan shalat. Sementara redaksi Muslim, “Beliau memakai jubah Syam dan sempit kedua tangannya.

Siapa yang mampu berwudhu dalam kondisi memakai baju pengaman maka tidak mengapa. Dan siapa yang tidak memungkinkan, maka dia harus melepaskan agar sempurna bersucinya. Kalau terjadi kesulitan dan kepayahan apalagi bagi para dokter yang mengharuskan hal itu di banyak waktu, maka dia diperbolehkan menjama’ antara dua dhuhur (dhuhur dan Asar) dan dua isya’ (magrib dan isya’) baik di dahulukan atau diakhirkan waktunya (taqdim atau ta’khir). Karena diantara sebab dipebolehkan menjama’ adalah menghilangkan kesulitan dan kepayahan sebagaimana Nabi memberikan keringanan bagi wanita yang tekena istihadhoh dalam menjama’ karena kesulitan bersuci pada setiap shalat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mengqosor (memendekkan shalat) sebabnya khusus bepergian saja. Tidak diperbolehkan di selain bepergian. Sementara menjama’ sebabnya adalah karena ada kebutuhan dan uzur. Kalau dibutuhkan menjama’ dalam safar baik pendek maupun panjang. Begitu juga menjama’ karena ada hujan dan semisalnya. Untuk orang sakit dan semisalnya. Dan sebab-sebab lainnya. Karena maksud dari semua itu adalah menghilangkan kesulitan dari umat ini.” (Majmu Fatawa: 22/293). Wallahu a’lam.

 

Oleh Redaksi (Naskah ini diterbitkan di majalah ar-risalah edisi 228 | Rubrik Fikih Nazilah)

 

Hukum Zakat Profesi

Banyak masyarakat menanyakan tentang hukum zakat profesi. Sebagian kalangan menyatakan bahwa zakat profesi tidak ada dalam Islam, karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. Sebagian lain mengatakan bahwa zakat profesi terdapat dalam Islam. Bagaimana sebenarnya? Tulisan di bawah ini menjelaskannya:

Pengertian Zakat Profesi

Yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat dari penghasilan yang didapat dari keahlian tertentu, seperti dokter, arsitek, guru, penjahit, da’i, mubaligh, pengrajin tangan, pegawai negeri dan swasta. Penghasilan seperti ini di dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-mal al mustafad (harta yang didapat).

Sebagian kalangan yang berpendapat bahwa zakat profesi itu tidak terdapat dalam ajaran Islam, mengatakan bahwa zakat profesi tidak ada pada zaman Rasulullah, yang ada adalah zakat mal (zakat harta). Kalau kita renungkan, sebenarnya zakat profesi dengan zakat mal itu hakikatnya sama, hanya beda dalam penyebutan. Karena siapa saja yang mempunyai harta dan memenuhi syarat-syaratnya, seperti lebih dari nishab dan berlangsung satu tahun, maka akan terkena kewajiban zakat. Baik harta itu didapat dari hadiah, hasil suatu pekerjaan ataupun dari sumber-sumber lain yang halal.

Sebagian kalangan yang mengingkari adanya zakat profesi disebabkan mereka tidak setuju dengan cara penghitungannya yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Padahal para ulama yang mewajibkan zakat profesi berbeda pendapat di dalam cara penghitungannya, tidak semuanya mengqiyaskan kepada zakat pertanian. Kalau mereka tidak setuju dengan satu cara, mestinya bisa memilih cara lain yaitu dengan mengqiyaskannya kepada zakat emas, dan tidak perlu menolak mentah-mentah zakat profesi.

Dasar Zakat Profesi

Adapun dasar diwajibkan zakat profesi adalah firman Allah:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang – orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman bersedekahlah (keluarkanlah zakat) dari apa yang baik- baik dari apa yang kalian usahakan“ (QS. Al-Baqarah: 267)

Dalam Muktamar Internasional Pertama tentang Zakat di Kuwait pada tanggal 29 Rajab 1404 H, yang bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M, para peserta sepakat akan wajibnya zakat profesi jika sampai pada nishab, walaupun mereka berbeda pendapat tentang cara pelaksanaannya.

Pembagian Harta Penghasilan

Harta penghasilan bisa dibedakan menjadi dua bagian:

Pertama: Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil panen padi, dan telah dikeluarkan zakatnya 5% atau 10 %, maka harta tersebut tidak perlu dizakati kembali pada tahun yang sama, karena harta asalnya sudah dizakati, hal ini untuk mencegah terjadinya dua kali zakat.

Kedua: Penghasilan yang berasal dari pekerjaan tertentu yang belum dizakati, seperti gaji, upah, honor dan sejenisnya. Maka harta tersebut harus terkumpul selama satu tahun dan dikurangi kebutuhan pokok. Jika sampai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 % menurut pendapat yang lebih benar.

Ketentuan Zakat Profesi

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan cara mengeluarkan zakat profesi:

Pendapat Pertama: zakat profesi ketentuannya diqiyaskan kepada zakat perdagangan, artinya nishab, kadar dan waktu mengeluarkannya sama dengan zakat perdagangan. Nishabnya senilai 85 gram emas, kadarnya 2,5 persen dan waktu mengeluarkan setahun sekali setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Sebagai contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 10.000.000 Kebutuhan pokoknya Rp. 3.000.000 maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp.10.000.000 – Rp.3.000.000 = Rp.7.000.000

Rp.7.000.000 X 12 bulan = Rp 84.000.000

Rp. 84.000.000 X 2,5 % = zakat yang harus dikeluarkan (Rp.2.100.000 pertahun atau 175.000 perbulan.)

Pendapat kedua: zakat profesi diqiyaskan kepada zakat pertanian. Artinya setiap orang yang mendapatkan uang dari profesinya langsung dikeluarkan zakatnya, tanpa menunggu satu tahun terlebih dahulu. Tetapi besarnya mengikuti zakat emas, yaitu 2,5 %.

Contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 3.000.000, maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp. 3.000.000 X 2,5 % = Rp. 7.500

Jika di jumlah dalam satu tahun berarti: Rp. 7.500 X 12 = Rp. 90.000

Kalau kita perhatikan contoh di atas, ada beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian:

Pertama: uang yang berjumlah Rp. 3.000.000 tersebut langsung terkena zakat, walaupun secara teori belum sampai pada batasan nishob, 20 Dinar = 85 gram emas = Rp. 42.500.000 (kurs emas Rp. 500.000/gram). Mereka mengqiyaskan kepada zakat pertanian, yaitu setiap panen harus dikeluarkan zakatnya.

Kedua: di sisi lain mereka tidak memperhitungkan nishab, padahal jika mau mengqiyaskan kepada zakat pertanian, harus ditentukan nishabnya terlebih dahulu, yaitu 5 wasaq = 653 kg.

Ketiga: di sisi lain juga, mereka menentukan besaran uang zakat profesi yang harus dikeluarkan dengan mengqiyaskan kepada zakat emas, yaitu 2,5 %. Disinilah letak kerancuannya karena mereka mengqiyaskan zakat profesi kepada dua hal, pertama: mengqiyaskan kepada zakat pertanian dalam tata cara pengeluarannya dan mengqiyaskan kepada zakat emas dalam menentukan besaran uang yang dizakati.

Ditambah lagi, ketika mengqiyaskan zakat profesi kepada zakat pertanian, mereka juga tidak konsisten, karena tidak menentukan nishab, padahal zakat pertanian itu ada ketentuan nishabnya.

Tentunya pendapat kedua ini sangat lemah dari sisi dalil dan sangat merugikan dan membebani para pegawai, khususnya yang berpenghasilan pas-pasan.

Tetapi anehnya, justru inilah yang banyak diterapkan di lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta. Mereka dipotong gajinya sebanyak 2,5 % tiap bulannya, padahal sebagian pegawai ada yang gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Walaupun hal ini menguntungkan fakir miskin, tetapi merugikan dan mendhalimi pegawai yang gajinya pas-pasan.

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa zakat profesi diakui oleh syariah dan mempunyai landasan dari al-Qur’an dan sunnah sebagaimana yang tersebut di atas. Zakat profesi hanya sebuah istilah, kalau tidak setuju dengan istilah ini, bisa menyebutnya dengan zakat maal.

Adapun cara pengeluarannya dan besaran uang yang harus dikeluarkan dari zakat profesi ini mengikuti tata cara dan besaran dalam zakat emas, dan harus sudah melalui waktu satu tahun. Wallahu A’lam.

Qatar, 17 Sya’ban 1433 H/ 10 Juli 2012

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Hukum BPJS Menurut Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) menurut wikipedia merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama untuk Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI, Veteran, Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya ataupun rakyat biasa. (lihat Peraturan BPJS No.1/ 2014, Pasal 1)

BPJS Kesehatan bersama BPJS Ketenagakerjaan (dahulu bernama Jamsostek) merupakan program pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 2013. Untuk BPJS Kesehatan mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2014, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi sejak 1 Juli 2014.

BPJS Kesehatan sebelumnya bernama Askes (Asuransi Kesehatan), yang dikelola oleh PT Askes Indonesia (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT. Askes Indonesia berubah menjadi BPJS Kesehatan sejak tanggal 1 Januari 2014

Hukum BPJS

Sebelum menentukan hukum BPJS, harus diketahui terlebih dahulu sistem dan akad yang digunakan di dalam BPJS tersebut. Setelah menela’ah beberapa rujukan, didapatkan beberapa poin bawah ini, berikut pandangan syari’ah terhadapnya:

Pertama: Menarik iuran wajib dari masyarakat. (UU SJSN/No. 40 Th. 2004, Pasal 1 ayat 3) (UU BPJS/No.24 Th.2011, Pasal 14 dan 16) (Peraturan BPJS No.1/ 2014, Pasal 26)

Tanggapan:  Iuran yang wajib dibayar kepada Pemerintah bisa berupa zakat yang harus dibayarkan kepada pemerintah yang menerapkan Syariat Islam. Bisa juga berupa pajak, sedangkan hukum pajak di dalam Islam masih terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Dari hasil pajak inilah seharusnya pemerintah memberikan dana sosial kepada masyarakat dalam pendidikan dan kesehatan. Seandainya BPJS ini dialihkan menjadi pajak wajib bagi masyarakat dan dikhususkan untuk melayani kesehatan masyarakat, maka hukumnya boleh menurut sebagian ulama. Apalagi ada rencana mewajibkan BPJS kepada seluruh rakyat pada tahun 2019 .

Jika menggunakan sistem Asuransi Konvensional, maka peserta yang mendaftar wajib membayar premi setiap bulan untuk membeli pelayanan atas resiko ( yang belum tentu terjadi), dan ini hukumnya haram.  ( Fatwa No : 21/DSN-MUI/X/2001)

Adapun jika ingin menggunakan sistem Asuransi Takaful, maka pesertanya memberikan hartanya secara suka rela – bukan terpaksa – demi kemaslahatan bersama, tanpa mengharapkan dari harta yang diberikan tersebut. Maka dalam hal ini hukumnya boleh. ((Fatwa No : 21/DSN-MUI/X/2001).  Hal ini berdasarkan hadist Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الأشْعَرِيِّينَ إِذَا أرْمَلُوا في الغَزْوِ ، أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بالمَديِنَةِ ، جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ في ثَوْبٍ وَاحِدٍ ، ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ في إنَاءٍ وَاحدٍ بالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأنَا مِنْهُمْ

“Sesungguhnya keluarga al-Asy’ariyun jika mereka kehabisan bekal di dalam peperangan atau menepisnya makanan keluarga mereka di Madinah, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki di dalam satu kain, kemudian mereka bagi rata di antara mereka dalam satu bejana, maka mereka itu bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka. “ (HR Bukhari, 2486 dan Muslim,2500)

Jika peserta Asuransi Takaful mengharapkan dari harta yang sudah diberikan, maka ini bertentangan dengan pengertian hibah, yang secara hukum Islam, harta yang sudah dihibahkan hendaknya jangan ditarik kembali. Ini sesuai dengan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلرَّ جُلِ أَنْ يُعْطِيَ الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يرْخِعَ فِيهَا إِلاَّ الْوَ الِدَ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَه            

 “Tidaklah halal jika seseorang memberikan pemberian kemudian dia menarik lagi pemberiannya, kecuali orang tua (yang menarik lagi) sesuatu yang telah dia berikan kepada anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa-i, dan Ibnu Majah, dishahihkan Syekh Al-Albani)

Ini dikuatkan dengan hadist hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu lainnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْعَائِدُ فِى هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِى قَيْئِهِ

“Orang yang mengambil kembali pemberian ( yang telah diberikan kepada orang lain ) seperti anjing yang menjilat muntahannya ( HR. Bukhari dan Muslim )

Kedua: Memberikan perlindungan atas resiko sosial ekonomi  yang menimpa peserta. (UU SJSN/No. 40 th 2004, Pasal 1 ayat 3)

Tanggapan: Memberikan perlindungan atas resiko sosial ekonomi yang menimpa peserta berdasarkan jumlah premi yang dibayarkan adalah salah satu ciri asuransi konvensional yang diharamkan, karena menjual sesuatu yang tidak jelas dan bersifat spekulatif ( gharar ). Jika peserta mendapatkan resiko, dia mendapatkan pelayanan, tetapi jika tidak mendapatkan resiko, maka premi yang dibayarkan tiap bulan akan hangus.

Ketiga: BPJS bertujuan agar masyarakat saling membantu satu dengan yang lainnya.

Tanggapan: Di dalam BPJS tidak selalu didapatkan  unsur saling membantu ( ta’awun ) dalam arti yang sebenarnya. Karena tidak setiap peserta BPJS ketika membayar premi berniat untuk membantu orang lain, tetapi cenderung untuk kepentingan diri sendiri, agar jika sakit, ia  mendapatkan  pelayanan yang maksimal dengan biaya minimal. Dan tidak selalu didapatkan orang kaya membantu orang miskin, karena pada kenyataannya justru banyak dari orang kaya yang  terbantu biaya pengobatannya dari iuran orang miskin yang tidak sakit.

Bentuk ta’awun yang dianjurkan adalah orang-orang kaya membantu orang-orang miskin, tanpa mengharap timbal balik dari orang miskin. Hal itu bisa diwujudkan dalam bentuk zakat, pajak, maupun pengumpulan dana sosial.

Keempat: Dana yang terkumpul dari masyarakat dikembangkan oleh BPJS, baik dalam bentuk investasi maupun di simpan di Bank-bank Konvensional, yang secara tidak langsung juga mengambil keuntungan. ( UU BPJS/No.24 Th.2011, Pasal 11)  dan (UU SJSN/No. 40 th 2004, Pasal 1 ayat 7) (Peraturan BPJS No.1/ 2014, Pasal 33). Ini juga disebutkan dalam UU 24/2014, bahwa jaminan sosial harus disimpan dalam bank pemerintah yang ditunjuk .

Tanggapan: Pelayanan yang diterima oleh peserta BPJS adalah hasil dari investasi ribawi. Peserta BPJS telah sengaja melakukan akad investasi yang di simpan di Bank-bank Konvensional, kemudian hasilnya akan mereka terima berupa pelayanan kesehatan. Ini berbeda dengan dana haji ataupun dana-dana lain dari Pemerintah yang diterima masyarakat, karena di dalamnya tidak ada akad investasi, tetapi hanya akad mendapatkan pelayanan, yang mana masyarakat tidak mempunyai pilihan lain kecuali melalui pemerintah.

Selain itu, di dalam Asuransi Sosial tidak dibolehkan mengambil keuntungan kecuali  sekedar gaji bagi pengelola sesuai dengan kerjanya.

Kelima: Peserta BPJS jika meninggal dunia, maka haknya untuk mendapatkan dana BPJS gugur secara otomatis.

Tanggapan: Seseorang jika mempunyai hak berupa harta benda atau sesuatu yang bernilai, jika dia meninggal dunia, maka hak tersebut akan berpindah kepada ahli warisnya. Jika hak tersebut menjadi hangus, maka di sini  ada unsur kedhaliman dan unsur merugikan pihak lain. Jika hal itu dianggap kesepakatan, maka tidak boleh ada kesepakatan yang mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, sebagaimana dalam hadist hadist Amru bin ‘Auf Al Muzani radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Perdamaian diperbolehkan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan kaum muslimin boleh menentukan syarat kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. (Hadist Hasan Shahih Riwayat Tirmidzi)

Ini dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

       كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ , وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ

“Setiap syarat yang tidak terdapat di dalam Kitab Allah adalah batil, walaupun seratus syarat . “(HR Bukhari dan Muslim)

Keenam: Memberikan sanksi atau denda bagi peserta yang menunggak atau terlambat dalam membayar premi. (Peraturan BPJS No.1/ 2014, Pasal 35, ayat 4 dan 5)

Tanggapan: Seseorang yang berutang dan terlambat dalam pembayarannya, maka tidak boleh dibebani dengan membayar denda, karena ini termasuk riba yang diharamkan, kecuali jika dia mampu dan tidak ada i’tikad baik untuk membayar, maka – menurut sebagian ulama – boleh dikenakan denda yang diperuntukkan sebagai dana sosial dan sama sekali tidak boleh diambil manfaatnya oleh yang mengutangi. (Fatwa DSN, No: 17/DSN-MUI/IX/2000) Hal ini sesuai dengan hadits Ali bahwasanya radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا.

“Setiap pinjaman yang membawa manfaat (yang meminjamkan) maka dianggap riba “ (HR. Baihaqi dan Hakim, berkata al-Bushairi di dalam Ittihaf al- Khirah al-Mahirah (3/380): Sanadnya lemah karena di dalamnya terdapat Siwar bin Mush’ab al-Hamdani. Tetapi dia mempunyai penguat secara mauquf dari Fidhalah bin Ubaid)

Apakah denda tersebut masuk dalam katagori asy-Syarth al-Jazai (Syarat Bersangsi), yaitu syarat berupa denda atas keteledoran dalam bekerja?  Sebagian ulama membolehkan memberikan sangsi atas keteledoran atau keterlambatan dalam bekerja, tetapi tidak membolehkan denda di dalam utang piutang. Denda di dalam BPJS termasuk dalam katagori denda karena utang piutang.

Ketujuh: Belum ada badan pengawas syariah (BPS) dan belum ada audit oleh Dewan Syariah Nasional (DSN)

Kedelapan: Belum menerapkan Asuransi Syariah

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa BPJS masih menyisakan banyak masalah, selain sistem administrasi yang belum rapi, terdapat beberapa penyimpangan dari sisi hukum Islam. Oleh karenanya, diharapkan ke depan pemerintah membentuk BPJS Syari’ah yang menerapkan Asuransi Syari’ah yang dalam operasionalnya diawasi oleh Badan Pengawas Syari’ah (BPS) dan diaudit oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Wallahu A’lam.

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA/Pondok Gede, 1 Rajab 1436 H / 21 April 2015 M

Belum Shalat Maghrib, Bolehkah ikut Jamaah Isya’?

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustadz, ana mau tanya. Suatu ketika ana melakukan safar. Ana belum menunaikan shalat maghrib dan isya’. Dan ketika sampai di sebuah masjid, ana melihat jamaah sedang melakukan shalat Isya’ karena waktu menunjukkan pukul tujuh –kurang lebih-. Pertanyaan ana, apa yang harus ana lakukan? Shalat maghrib dulu atau langsung ikut jamaah, padahal ana belum shalat maghrib? Bukankah menjamak shalat itu harus urut?

Syukran.

Pembaca

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Dari pertanyaan ini, inti masalahnya ada pada apakah dalam menjamak shalat disyaratkan muwalah atau berurut sesuai urutan waktu atau tidak. Mengenai hal ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang mensyaratkan berurut ada yang tidak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawa menyatakan tidak disyaratkan berurut.

Lebih jelasnya kita simak pemaparan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz:

“Dalam jamak taqdim wajib adanya muwalah (dilakukan berurut dzuhur baru ashar, maghrib lalu Isya’). Jeda sedikit antara dua shalat tidak menjadi masalah. Sebab, ada contoh yang mengukuhkan hal ini dari Nabi ﷺ. Dan Beliau bersabda, ” Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari). Adapun untuk jamak ta’khir, masalahnya lebih longgar karena shalat yang kedua dijalankan pada waktunya. Tapi yang paling afdhal adalah berurut guna meneladani Nabi ﷺ. (Majmu’ Fatawa Syaikh ibnu Baz: 12/240 versi al Maktabah asy Syamilah).

Pendapat lain dari Syaikh Nasiruddin al-Albani saat ditanya dengan pertanyaan seperti ini beliau menjawab: Dia harus mengikuti imam menunaikan shalat isya’ tapi meniatkan shalat maghrib. Dan nanti jika imam hendak bangun di rakaat keempat ia meniatkan diri untuk berpisah dari imam, ia tetap duduk, tasyahud akhir lalu menyelesaikan shalatnya sendiri.” (Fatwa ini dimuat dalam majalah al Ashalah, Edisi Pertama tanggal 15 R. Tsani 1413 H (+ th 1992), hal. 49, terbit di Beirut, Libanon).

Kesimpulannya, untuk jamak ta’khir tidak diharuskan dilakukan berurut. tapi lebih baik dilakukan berurut, lebih-lebih jika melakukan shalat secara munfarid (sendirian). Akan tetapi jika bersama jamaah, boleh ikut shalat Isya’ lalu shalat maghrib, atau mengikuti pendapat syaikh al Albani di atas, dan setelah selesai, bisa bangkit kembali untuk shalat Isya’ berjamaah meski hanya mendapat satu rakaat, jika masih memungkinkan. Wallahua’lam.

Dijawab Oleh: Ust. Taufik El-Hakim/Tanya Jawab Islam

 

Doa Menyembelih Udhiyah (Hewan Kurban) yang Sesuai Sunnah

Beberapa jam lagi kita akan memasuki tanggal 10 Dzulhijjah tahun ini. Hari dimana disyariatkan shalat iedul adha dilanjutkan menyembelih hewan kurban. Kaum muslimin umumnya bergegas untuk gotong-royong, bahu-membahu dalam prosesi penyembelihan hewan kurban tersebut. Para ibu-ibu menempatkan diri mereka di belakang, menyiapkan amunisi untuk para panitia. Para Bapak-bapak, ada yang jadi tukang jagalnya, ada yang spesialis nguliti, ada juga yang memotongi tulang dan sebagian lainnya memasukkan daging kurban ke tas kresek untuk dibagikan.

Pertanyaannya kemudian, apakah jagal hewan kurban tersebut tahu doa menyembelih Kurban yang sesuai sunnah itu seperti apa?

Syaikh Masyhur Hasan Salman menyatakan bahwa, doa menyembelih Kurban yang wajib adalah ucapan basmalah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Itu saja yang wajib diucapkan sebagai doa menyembelih Kurban (Udhiyyah). Sedangkan ucapan

اَللهُ أَكْبَرُ، هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ

Allah Maha Besar, (Udhiyyah) ini dari-Mu dan kembali kepada-Mu.”

Ucapan tersebut hanya anjuran untuk diucapkan ketika membaca basmalah dalam doa menyembelih Kurban (Udhiyyah).

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid juga menyatakan bahwa bacaan yang wajib dalam doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) adalah at-Tasmiyah atau Basmalah saja. Sedangkan doa tambahan lainnya itu hanya anjuran atau mustahab.

Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa hadits Rasulullah yang derajatnya shahih. Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, mengucapkan bismillah dan bertakbir serta meletakkan kakinya pada samping leher.” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian hadits dari Aisyah radhiyallahu anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh untuk diambilkan dua ekor domba bertanduk yang kakinya berwarna hitam, perutnya terdapat belang hitam, dan di kedua matanya terdapat belang hitam. Kemudian domba tersebut diserahkan kepada beliau untuk dikurbankan, lalu beliau bersabda kepada Aisyah, ‘Wahai Aisyah, bawalah pisau kemari.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Asahlah pisau ini dengan batu.’ Lantas ‘Aisyah melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah diasah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut dan membaringkannya, lalu beliau menyembelihnya. Kemudian beliau mengucapkan: ‘Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad.’ Beliau berkurban dengannya.” (HR. Muslim)

Kemudian hadits dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Aku ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di Mushalla (lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah Kurbanku dan Kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 1521)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal,

اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138)

Tambahan lafal doa di atas dimaksudkan sebagai tanda syukur atas rezeki hewan Kurban atau Udhiyyah yang telah diberikan kepada dirinya hal mana itu adalah murni pemberian Allah dan dikembalikan kepada Allah dengan penuh keikhlasan. (Syarh al-Mumthi’, 7/492)

Jadi kesimpulannya, doa menyembelih Kurban atau udhiyyah yang sesuai dengan sunnah adalah sebagai berikut:
  • Pertama, Jika hewan Kurban atau Udhiyyah disembelih sendiri, maka doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) yang diucapkan seperti ini,

 بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma inna hadza minka wa laka.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya (sembelihan) ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِي

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘Anni wa ‘an Ahli Baiti.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, ini dari hamba dan dari keluarga hamba.”

  • Kedua, Jika hewan Kurban atau Udhiyyah yang disembelih bukan milik sendiri, artinya si penyembelih statusnya hanya sebagai wakil, maka lafal doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) seperti ini,

 بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘an fulan (sebutkan nama pemiliknya)

Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari si fulan (sebutkan nama pemiliknya)”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلاَنٍ وَآلِ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma taqabbal min fulan (sebutkan nama pemiliknya) wa aali fulan (sebutkan nama pemiliknya)

Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah terimalah (Kurban ini) dari fulan (sebutkan nama pemiliknya) dan keluarga fulan (sebutkan nama miliknya).”

Wallahu a’lam, Semoga bagi panitia penyembelihan hewan kurban, terutama bagian penjagalnya tidak keliru dalam melafalkan doa dan mengamalkan sunnah-sunnah lainnya.

 

Oleh: Redaksi/Dakwah.id/Udhiyah (dengan sedikit penyesuaian)

Status Anak Hasil Perzinaan

Ada sebuah kasus yang menimpa salah seorang teman, yaitu istrinya melakukan zina dengan seorang laki-laki. Ketika dia hamil dan melahirkan seorang anak, perempuan tersebut minta cerai, karena ingin menikah dengan pacar gelapnya yang telah berzina dengannya. Dia mengatakan bahwa anaknya yang baru saja lahir adalah anak hasil perzinaan dengan pacarnya, maka anak tersebut harus ia bawa. Bagaimana sebenarnya status anak tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan di sini bahwa perempuan yang melakukan perbuatan zina dan hamil dibagi menjadi dua:

  • Pertama:

Dia berstatus sebagai istri dari seorang suami yang sah, sebagaimana yang terjadi pada kasus di atas. Jika perempuan tersebut hamil dan melahirkan, maka status anaknya diikutkan kepada suaminya yang sah, dan bukan kepada laki-laki yang berzina dengannya, walaupun anak tersebut wajahnya mirip dengan laki-laki yang berzina. Kenapa? karena air mani orang yang berzina tersebut tidak dihargai dalam Islam, sehingga tidak diakui nasabnya.

Selain itu, Islam ingin menutupi aib seorang muslim jika hal itu memungkinkan, dan sekaligus ingin menghargai anak manusia yang lahir, karena pada hakekatnya bayi dari hasil perzinaan tersebut adalah makhluk yang tidak bersalah, yang bersalah adalah orang yang berzina. Nah, untuk menutupi hal itu, maka bayi tersebut diikutkan kepada pasangan suami istri yang telah terikat dalam perkawinan yang sah.

Dalilnya adalah hadist yang menyebutkan kisah anak yang lahir dari budak perempuan milik Zam’ah bin Aswad yang ternyata pernah melakukan hubungan badan dengan Utbah bin Abi Waqash. Utbah mewasiatkan kepada saudaranya Sa’ad bin Abi Waqash untuk mengambil anak tersebut, karena anak tersebut sebenarnya adalah anaknya. Tetapi Abdun bin Zam’ah merasa anak tersebut adalah saudaranya. Terjadilah pertengkaran antara Sa’ad bin Abi Waqash (saudaranya ‘Utbah) dengan Abdun bin Zam’ah. Berkata Sa’ad: “Saudaraku bilang bahwa anak dari budak milik Zam’ah ini adalah anaknya. Berkata ‘Abdun: “Dia adalah saudaraku, karena dia adalah anak bapakku karena lahir di atas kasur bapakku.” Maka nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Abdun: “Itu adalah saudaramu wahai Abdun, karena anak yang lahir tersebut dinisbatkan kepada laki-laki  yang mempunyai istri dari ikatan perkawinan yang sah, sedang yang berzina tidak mendapatkan apa-apa, wahai Saudah (binti Zam’ah), kamu harus berhijab ketika bertemu dengannya nanti. (karena wajah anak tersebut mirip dengan Utbah)” (HR. Bukhari: 2533)

  • Kedua:

Perempuan yang berzina tadi belum mempunyai suami dan belum berada dalam ikatan perkawinan yang sah. Hal ini biasanya terjadi di kalangan para mahasiswa-mahasiswiI dan para pelajar putra – putri yang hidup di daerah perkotaan. Bagaimana status anak yang dikandungnya? Apakah boleh diakui sebagai anak keduanya setelah mereka berdua menikah atau anak tersebut tidak boleh dinisbatkan kepada laki- laki yang menghamili ibunya ?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

  • Pendapat Pertama mengatakan bahwa status anak tersebut tetap sebagai anak zina tidak boleh dinisbatkan sama sekali kepada laki-laki yang menghamili ibunya, antara keduanya tidak boleh saling mewarisi, dan jika anak yang lahir tadi perempuan, maka laki-laki tersebut tidak boleh menjadi wali nikahnya. Tetapi anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya yang melahirkan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadist Zam’ah di atas bahwa: “anak itu dinisbatkan kepada suami yang mempunyai  istri dari ikatan perkawinan yang sah, sedang yang berzina tidak mendapatkan apa-apa.”

Oleh karenanya, jika laki-laki yang berzina dengan ibunya tadi ingin agar anak hasil perzinaan tersebut diselamatkan dan tidak terlantar begitu saja, maka dibolehkan baginya untuk merawat anak tersebut sebagaimana dia merawat anaknya sendiri. Hanyasaja ketika pembagian warisan, anak tersebut tidak berhak mendapatkan warisan. Tetapi, jika laki-laki tersebut ingin menghibahkan atau mewasiatkan sebagian hartanya kepada anak tersebut sebelum dia meninggal dunia, maka hal tersebut dibolehkan.

  • Pendapat Kedua mengatakan bahwa anak tersebut boleh dinisbatkan kepada laki-laki yang menghamili ibunya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Ibnu Taimiyah (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa: 32/ 112, 113, 139). Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Ishaq bin Rahawih, Sulaiman bin Yasar, Ibnu Sirrin, Hasan Bashri, Ibrahim an-Nakh’I dan lain-lainnya.(Al Baji, Al Muntaqa: 6/ 11, Ibnu Qudamah, Al Mughni: 6/ 266).

Mereka beralasan bahwa hadist Zam’ah di atas hanya berlaku bagi perempuan yang mempunyai suami dari ikatan perkawinan yang sah, sehingga perempuan tersebut disebut firasy (tempat tidur) bagi suaminya. Tetapi lain halnya, jika perempuan tadi tidak mempunyai suami dari ikatan perkawinan yang sah, maka dia tidak disebut firasy. Dengan demikian hadist di atas tidak berlaku pada perempuan semacam ini.

Selain itu, sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa tujuan dinisbatkan anak zina tadi kepada suami yang sah, adalah untuk menutupi aib dan mengangkat derajat anak yang mungkin dilahirkan dari hasil perzinaan tersebut. Nah, ternyata  perempuan tersebut  pada waktu dia berzina tidak mempunyai suami yang sah, sehingga anak hasil perzinaan tersebut mau dinisbatkan kepada siapa? kalau kepada ibunya tentunya nasib anak itu akan menggantung di masa mendatang karena tidak mempunyai bapak, dan orang lainpun lambat laun akan mengetahui bahwa anak tersebut adalah anak zina, dengan demikian aib tersebut akan terbongkar dan mencorengnya serta mencoreng ibu yang melahirkannya, padahal barangkali ibu tersebut sudah bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga: Hukum Nikah Siri Dalam Islam

Jika dikemudian hari ternyata laki-laki dan perempuan yang berzina tersebut telah bertaubat dan menikah, maka pernikahan mereka berdua adalah sah menurut madzhab Hanafi dan Syafi’I, sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Kemudian timbul pertanyaan, apakah salahnya anak tersebut dinisbatkan kepada laki-laki yang sekarang sudah menjadi suami ibunya, sedangkan tidak ada satupun dari pihak lain yang mengklaim bahwa anak tersebut adalah anaknya.

Pendapat ini dikuatkan dengan Atsar Umar bin Khattab, bahwa beliau menisbatkan anak-anak yang dilahirkan pada waktu jahiliyah kepada siapa yang mengakuinya ketika mereka sudah masuk Islam (Atsar Riwayat Imam Malik di dalam al- Muwatho’, no: 1426, Baihaqi, no: 21799, Berkata Syekh Al-Bani di dalam Irwa’ Ghalil: 6/ 25: orang-orang yang meriwayatkan atsar ini bisa dipercaya, karena telah mereka telah meriwatkan hadist-hadist di dalam shahih Bukhari dan Muslim, hanya saja sanadnya terputus, karena Sulaiman bin Yasar tidak bertemu dengan Umar, akan tetapi tersambung dari jalan lain).

[bs-quote quote=”Kesimpulan dari pembahasan di atas, bahwa anak yang lahir dari perzinaan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang masih berada dalam ikatan perkawinan resmi, maka statusnya dinisbatkan kepada suami yang sah dari perempuan yang berzina tersebut. Sedang jika perempuan yang berzina tersebut tidak sedang dalam ikatan perkawinan sah dengan seorang laki-laki, maka status anak dari hasil perzinaan tersebut masih diperselisihkan para ulama: mayoritas ulama mengatakan bahwa anak tersebut dinisbatkan kepada ibunya, sedang sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa anak tersebut boleh dinisbatkan kepada lelaki yang berzina dengan ibu yang melahirkannya. Wallahu A’lam.” style=”default” align=”center” color=”#2276bf”][/bs-quote]

Oleh: Ust. Ahmad Zain an-Najah/Fikih Nazilah

Hukum Shalat Di Atas Sajadah Bergambar Ka’bah dan Gambar Lainnya

Pertanyaan:

Apakah menginjak Ka’bah dan tempat-tempat suci yang ada dalam sajadah shalat itu haram? Ada propoganda yang mengajak embargo tidak membeli sajadah shalat yang ada gembar tempat-tempat suci agar tidak menginjaknya dengan kaki. Apa pendapat syar’i dalam masalah ini? Terimakasih

 

Jawaban:

Alhamdulillah

Menggambar yang tidak ada ruh baik benda mati atau tumbuhan serta semisalnya tidak mengapa. Termasuk dalam hal ini Ka’bah dan tempat-tempat suci selama tidak ada gambar orangnya. Akan tetapi hendaknya jamaah shalat tidak shalat di hadapan gambar atau di sajadah yang ada gambarnya agar tidak mengganggunya.

Telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Aisyah sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam mempunyai kelambu yang ada gambarnya, maka beliau melihat sepintas gambar tersebut, lalu ketika selesai beliau mengatakan,

 

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

“Pergilah kalian dengan kain ini ke Abu Jahm dan datangkan kain kasar Abu Jahm. Karena ia barusan melenakan dalam shalatku. Hisyam bin Urwah mengatakan dari ayahnya dari Aisyah, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Saya barusan melihat gambarnya, sementara saya dalam shalat, saya khawatir menggangguku.”

Kata ‘Khomishoh’ adalah baju bergaris dari sutera atau wol

Kata ‘Al-A’lam’ adalah ukiran dan hiasan

Kata ‘Anbajaniyah adalah kain tebal tidak ada gambar dan ukiran.

Dimakruhkan shalat di atas sajadah yang bergambar dan ada ada hiasannya karena dapat mengganggu dan melalaikan jamaah shalat. Bukan seperti yang disebutkan dalam pertanyaan yaitu karena ada penghinaan tempat suci dengan menginjaknya. Yang nampak hal itu tidak ada penghinaan dalam hal ini. Bahkan sajadah-sajadah ini sangat dijaga oleh pemiliknya dan biasanya menjadikan ruang kosong untuk tempat pijakan kaki.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang sajadah yang ada gambar masjid apakah shalat di atasnya?

Maka beliau menjawab, “Pendapat kami, hendaknya tidak menaruh sajadah untuk Imam yang ada gambar masjidnya. Karena terdakang mengganggu dan memalingkan pandangannya dan ini mengurangi kekhusyukan shalat. Oleh karena itu ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam shalat dengan kain yang ada gambarnya, beliau melihat selintas gambarnya. Ketika selesai beliau mengatakan, “Pergi dengan kain bergambar ini ke Abu Jahm. Dan datangkan kepadaku dengan kain kasar yang  tidak bergambar karena ia berusan melalaikan shalatku.” Muttafaq ‘alaihi dari hadits Aisyah radhiallahu anha.

Kalau seorang Imam shalat di atas sajadah bergambar sedangkan ia tidak tergangu dengan hal itu, karena buta atau karena hal ini seringkali dilewati sehingga tidak ada perhatian dan tidak mengalihkan pandangannya, maka kami berpendapat tidak mengapa shalat di atasnya. Wallahu muwafiq. Selesai dari ‘Majmu Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, (12/362).

 

Oleh: Ust. Taufik al-Hakim/Fatwa

 

Baca Fatwa Lainnya Tentang:

Hukum Menjadikan Bekam Sebagai Pekerjaan Tetap, Hukum Mengucapkan “al-marhum” Bagi Orang Meninggal, Gaya Rambut Terlarang

Malas, Bikin Hidup Makin Redup

Lebih sering rehat dan berpangku tangan, menunda pekerjaan, bekerja tanpa ruh dan kesungguhan adalah gejala penyakit kaslaan, malas. Dia hanya bersemangat dalam satu hal, yakni sesuatu yang sesuai dengan selera nafsunya. Tapi sayang, nafsu itu cenderung kepada keburukan (ammaratun bis suu’), atau paling tidak, menyenangi hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Berlawanan dengan nasyath yang bermakna enerjik, rajin dan berkativitas dengan penuh kesungguhan. Nasyath mengandung asumsi rajin dalam menunaikan hal-hal yang mengandung dan atau mengundang maslahat.

 

Biang Kerugian Dunia dan Akhirat

Ibnu Hajar al-Asqalalani dalam Fathul Bari, mendefinisikan sifat malas,

اْلكَسْلُ تَرْكُ الشَّيْءِ مَعَ اْلقُدْرَةِ عَلَى اْلأَخْذِ فِي عَمَلِهِ

“Malas adalah meninggalkan sesuatu (yang baik) padahal ia mampu melakukannya.”

Sedangkan al-Aini, penulis Umdatul Qariy Syarh al-Bukhari menjelaskan,

وَالْكَسْلُ هَوَ ضَعْفُ اْلهِمَّةِ وَإِيْثاَرُ الرَّاحَةِ لِلْبَدَنِ عَلَى التَّعَبِ

“Dan malas adalah lemahnya kemauan, lebih mengutamakan rehat daripada lelah bekerja.”

Dari definisi tersebut, telah tersirat hasil buruk yang bakal diunduh oleh pemalas. Bahkan, karena buruknya efek yang ditimbulkan sifat malas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita berlindung kepada Allah dari sifat malas. Di mata sahabat Abdullah bin Mas’ud, tak ada pemandangan yang lebih menyebalkan dari melihat orang malas, beliau berkata, “Tak ada yang lebih memberatkan pandangan mataku selain melihat orang yang tidak bekerja untuk dunianya, tidak pula untuk akhiratnya.”

Sifat malas menjadi penghalang dari banyak sekali maslahat, baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Masa depan pemalas suram di semua alam yang akan dilaluinya. Seberapa kerugian yang ditimbulkan karena malas tergantung pada jenis kemaslahatan yang ia malas dalam menjalaninya. Malas dalam menuntut ilmu menyebabkan kebodohan, malas bekerja menghalangi datangnya rejeki, malas ibadah menghalangi seseorang dari pahala dan keutamaan.

Baca Juga: 
Berkeluh Kesah, Tanda Jiwa yang Lemah

Tapi, rata-rata penyakit malas itu menular. Malas dalam satu aktivitas, menyebabkan malas dalam aktivitas yang lain. Bahkan penyakit ini bisa dengan mudah menular kepada orang lain. Karena tabiat nafsu ingin berleha-leha, dan gampang terpengaruh melihat orang lain berleha-leha.

Penyesalan akibat malas tak hanya diderita di dunia, orang-orang yang malas kelak akan menyesal, ulahnya itu akan diserupakan dengan orang yang buruk rupa di dalam kubur, buruk bajunya, busuk baunya, dan datang dengan membawa kabar buruk. Ia berkata, “Aku adalah amalmu yang buruk, kamu dahulu berlambat-lambat dalam ketaatan kepada Allah, namun rajin dan bergegas dalam bermaksiat kepada Allah, Allah akan membalasmu dengan keburukan..” sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.

 

Enyahkan Malas dari Kehidupan Kita!

Kebiasaan malas banyak disebabkan oleh lingkungan. Berteman dengan para pemalas, tinggal dalam keluarga dengan kadar etos kerja yang rendah, atau karena biasa dimanjakan orangtua. Kurangnya penghayatan terhadap pentingnya suatu tujuan juga menjadi sebab hadirnya rasa malas. Begitupun dengan akibat buruk sifat ini yang tidak diperhitungkan.

Jika kita ingin kebiasaan buruk ini enyah dari kehidupan kita, hendaknya kita pikirkan akibat yang akan timbul di kemudian hari. Seorang ahli bijak berkata, “Jika kamu tak turut menanam benih saat orang lain menanamnya, niscaya kamu akan menyesal saat melihat mereka panen.” Betapa banyak orang yang menyesal karena sifat ini. Andai dahulu aku rajin menuntut ilmu, Andai dahulu aku mau bekerja keras, Andai dahulu aku tak menyia-nyiakan masa mudaku, dan penyesalan lain yang banyak dialami para pemalas.

Sedikit memaksa diri untuk berbuat, bisa menjadi shock terapi dari kemalasan. Seorang salaf, Amru bin Qais al-Mala’i berkata, “Jika sampai di hadapanmu suatu bentuk kebaikan, maka kerjakanlah meskipun berat, niscaya kelak kamu akan senang menjalaninya.”

Benarlah apa yang beliau katakan. Suatu kemaslahatan, awalnya berat diterima oleh nafsu. Tapi kesungguhan dan kemauan yang kuat, juga ketekunan dalam menjalaninya akan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bahkan jika suatu kali terlewatkan olehnya, ia akan merasa kecewa. Bukti dan kisah tentang hal ini bisa Anda baca kembali di rubrik ini, yang berjudul ‘Menikmati Kesungguhan’.

Biasakan pula untuk bergerak cepat dalam setiap aktivitas. Ada hikmah dibalik kebiasaan Nabi yang biasa berjalan dengan cepat. Dari Abu Hurairah berkata,

وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَسْرَعَ فِي مِشْيَتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dan tidaklah aku melihat seorangpun yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah.” (HR. Tirmidzi)

Banyak peneliti menyebutkan, bahwa membiasakan berjalan cepat bisa meningkatkan etos kerja dalam semua aktivitas. Ternyata, kebanyakan para ulama yang sukses dengan perolehan ilmu di atas rata-rata juga memiliki kebiasaan cepat dalam berjalan. Al-Hafizh Abu Isma’il al-Anshari menyebutkan, “Seorang pakar hadits memiliki kebiasaan cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, dan cepat dalam membaca.”

Berkaca pada kesuksesan orang-orang yang bersemangat juga menjadi pemicu untuk bekerja keras. Renungkanlah etos yang dimiliki oleh Ibnu Uqail Rahimahullah, di mana beliau berkata, “Tidak aku halalkan diriku menyia-nyiakan sesaatpun dari umurku. Meski nantinya lisanku tak bisa lagi untuk berdiskusi, mataku tak lagi mampu untuk membaca, maka aku akan berdayakan seluruh pikiranku saat aku berdiam diri dan hanya mampu berbaring di ranjang.”

Baca Juga:
Jadilah yang Pertama dalam Kebaikan

Bagitulah, rehatnya jasad lantaran sakit atau tua tak sedikitpun mengundang rasa malas untuk melakukan hal yang bermanfaat. Seperti juga yang dialami Abu Yusuf, Ya’kub al-Anshari. Ibrahim bin al-Jarah menjenguk beliau saat sakit, begitu masuk, ia dapatkan Abu Yusuf tengah pingsan karena sakitnya. Ketika bangun dan melihat Ibrahim di sampingnya, beliau bertanya, “Wahai Ibrahim, maukah kamu berdiskusi denganku tentang satu masalah?” “Dalam keadaan seperti ini?”jawab Ibrahim. Abu Yusuf  berkata, “Tidak apa-apa, kita belajar, semoga kita sukses karenanya.” Lalu keduanya berdiskusi perihal pelaksanaan haji. Sejurus kemudian, Ibrahim minta ijin undur diri. Tapi belum lagi melewati pintu keluar, Abu Yusuf telah menghembuskan nafas terakhir.

Tokoh yang lain, Waki’ bin al-Jarah, salah satu guru Imam asy-Syafi’i tak hanya rajin menggunakan waktu siangnya. Di waktu malam, beliau belum tidur sebelum menghabiskan bacaan sepertiga al-Qur’an di hari itu. Setelah tidur sejenak, beliau bangun untuk shalat malam, lalu istighfar hingga datang waktu fajar, lalu beliau shalat. Beranikah kita mencobanya?!

 

oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi

 

Hukum Menjamak Mandi Junub Dengan Mandi Jumat

Mandi Jumat dan mandi junub adalah dua amalan yang sama-sama bertujuan untuk mensucikan diri namun memiliki perbedaan faktor penyebab, hukum, dan konsekuensi. Meski demikian, apa benar mandi Jumat dan mandi junub itu boleh dijamak menjadi satu?

Seorang muslim yang hendak melaksanakan shalat Jumat disyariatkan untuk melaksanakan mandi Jumat. Mandi Jumat yang hukumnya sunnah ini dilaksanakan mulai sejak terbit matahari sampai sebelum berangkat menuju ke masjid.

Karena mandi Jumat ini hukumnya sunnah, maka ini berimbas pada konsekuensi hukumnya. Bagi seorang muslim yang telah melaksanakan mandi Jumat, tetap wajib untuk melaksanakan wudhu jika ingin melaksanakan shalat. Mandi Jumat tidak bisa mengangkat hadats yang ada pada tubuh.

Dalil syariat mandi Jumat dapat dijumpai dalam kitab-kitab hadits. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Mandi di hari Jumat wajib bagi setiap muhtalim (orang yang telah mimpi basah; dewasa).” (HR. Al-Bukhari no. 879 dan Muslim no. 846).

Dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

“Apabila salah seorang di antara kalian akan mendatangi shalat Jumat, hendaklah dia mandi.” (HR. Muslim no. 1399)

Dalam kesempatan lain beliau bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

“Barangsiapa berwudhu di hari Jumat, maka itu baik. Namun barangsiapa mandi ketika itu, maka itu lebih utama.” (HR. An-Nasai no. 1380, At-Tirmidzi no. 497 dan Ibnu Majah no. 1091). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Baca Juga: Hukum Membangunkan Orang di Sela-sela Khutbah Jumat

Lain halnnya dengan mandi junub atau mandi janabah. Mandi junub dilakukan untuk mengangkat hadats besar yang ada pada tubuh karena sebab keluar mani, melakukan hubungan suami istri, selesai haidh, selesai nifas, orang kafir masuk Islam, dan muslim yang meninggal. Sehingga, mandi junub ini hukumnya wajib. Disebut juga dengan mandi wajib.

Dalilnya, firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Fathimah binti Abi Hubaisy tentang perintah mandi setelah haidh berhenti. Beliau bersabda,

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

“Apabila kamu mendapati haidh, tinggalkanlah shalat. Apabila darah haidh berhenti, segeralah mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333)

Karena dalam tata cara mandi junub telah ada wudhu, maka bagi orang yang telah mandi junub jika hendak melaksanakan shalat tidak perlu wudhu lagi.

Berkaitan dengan menjamak mandi Jumat dengan mandi junub menjadi satu, mayoritas Ulama Fikih membolehkan seseorang yang menjamak niat mandi Jumat dan mandi junub dalam satu mandi.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa meskipun ketika mandi seseorang meniatkan diri untuk mandi junub dan mandi Jumat, maka ia akan mendapat keduanya dan sah. (Al-Majmu’, 1/368)

Senada dengan itu, Imam Ibnu Qudamah juga berpendapat bahwa jika mandi dengan dua niat; mandi Jumat dan mandi junub, itu boleh. Beliau melihat tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam masalah tersebut. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/257)

Salah seorang ulama kontemporer, syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah, juga pernah ditanya tentang masalah hukum menjamak mandi Jumat dengan mandi junub. Jawaban beliau sama, boleh, jika dilakukan di siang hari (sebelum shalat Jumat).

Baca Juga: “Sunnah Rasul Malam Jumat”, Katanya

Beliau menegaskan bahwa yang lebih utama adalah tetap meniatkan dengan dua mandi; mandi Jumat dan mandi junub. Dengan demikian, dia mendapat pahala keutamaan mandi Jumat juga. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/406)

Sementara itu, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan lebih rinci lagi hukum menjamak mandi Jumat dengan mandi junub. (ar.islamway.net)

Jika seseorang mandi di hari Jumat dengan niat mandi junub, maka ia tak perlu melakukan mandi Jumat. Asalkan mandi dilakukan setelah terbitnya matahari. Kemudian jika meniatkan untuk dua mandi; mandi Jumat dan mandi junub, maka ia akan mendapat pahala keduanya.

Namun jika dia hanya meniatkan mandi Jumat saja, itu belum cukup untuk mengganti mandi junub. Sebab mandi junub itu hukumnya wajib yang bertujuan untuk mengangkat hadats, sehingga harus ada niat. Jika demikian, ia harus mandi lagi dengan niat mandi junub. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 16/137) Wallahu a’lam.

 

Oleh: Redaksi/fikih

Klik Di Sini Untuk Membaca Artikel Serupa

Hukum Kotoran Kucing

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan pernyataan seorang da’I yang menyebut bahwa kotoran kucing itu suci. Apakah pernyataan ini benar? Dan bagaimana pandangan ulama terhadap kotoran kucing? Tulisan bawah ini menjelaskannya.

 

Hukum Memelihara Kucing

Dibolehkan memelihara kucing dengan syarat diberi makanan secukupnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadits  Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا ، وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا ، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dia kurung sampai mati. Dia masuk Neraka karenanya. Dia tidak memberinya makan dan minum sewaktu mengurungnya. Dia tidak pula membiarkannya dia makan serangga bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Air Liur Kucing tidak Najis

Air liur kucing suci, sehingga jika ia menjilat air di bejana atau minuman di gelas, maka air tersebut tetap suci, boleh berwudhu dengannya. Ini sesuai dengan hadits Kabsyah binti Ka’ab bin Malik,

 

عَنْ كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِى قَتَادَةَ : أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا ، فَجَاءَتْ هِرَّةٌ تَشْرَبُ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا أَبُو قَتَادَةَ الإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ – قَالَتْ كَبْشَةَ – فَرَآنِى أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ : أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِى؟ قَالَتْ فَقُلْتُ : نَعَمْ. فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ ، إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ ».

Dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik, bahwa beliau menjadi istri salah satu anak Abu Qatadah. Suatu ketika sahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu datang menjenguknya, diapun menyiapkan air wudhu untuk bapak mertuanya. Tiba-tiba datang seekor kucing ingin minum air itu. Abu Qatadah-pun membiarkan kucing itu untuk minum. Kabsyah melihat kejadian ini keheranan. Kemudian Abu Qatadah berkata: “Apakah kamu merasa heran dengan hal ini, wahai anak saudaraku?” Kabsyah menjawab: “ Iya “. Kemudian Abu Qatadah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Kucing itu tidak najis. Kucing adalah binatang yang sering berkeliaran di tengah-tengah kalian.” (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud dan Tirmidzi. Hadits ini shahih).

Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

 

وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِفَضلها

Saya melihat Rasulullah berwudhu dengan air sisa minum kucing.” (HR. Abu Daud. Hadist ini shahih)

Dari hadist di atas disimpulkan bahwa air liur kucing hukumya suci, tidak najis. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’yah dan Hanabilah. Adapun Abu Hanifah dan Muhammad al-Hasan mengatakan bahwa air liur kucing hukumnya suci tapi makruh.  

 

Hukum Kotoran Kucing

Mayoritas ulama menyatakan bahwa kotoran dan air kencing kucing hukumnya najis. Tetapi mereka berbeda pendapat di dalam menghukumi kotoran hewan selain kucing.

Pertama, mazhab Hanafi berpendapat bahwa air kencing kucing dan tikus hukumnya najis. Ini adalah kesepakatan ulama Hanafiyah di dalam Dhahir Riwayat. Adapun di dalam riwayat yang lemah, terdapat perbedaan pendapat.   

Di dalam al-Bahru ar-Raiq (1/242), Ibnu Nujaim al-Hanafi berkata: “Dari sini diketahui bahwa yang dimaksud kesepakatan ulama bahwa air kencing kucing itu najis dalam perkataan mereka: “Jika seekor kucing kencing di sumur, maka harus dikuras semuanya, karena air kencingnya najis, sesuai dengan kesepakatan riwayat, begitu juga jika terkena baju maka menjadi najis, maksudnya kesepakatan riwayat yang dhahir, tetapi tidak semua riwayat, karena terdapat perbedaan di dalamnya.“ 

Kedua, madzhab Syafi’I menyatakan bahwa seluruh seluruh kotoran dan air kencing yang keluar dari hewan, hukumnya najis, baik yang dagingnya boleh dimakan seperti ikan, burung, ayam, dan kambing. Ataupun dari hewan yang tidak boleh dimakan seperti anjing dan babi. Begitu juga kotoran binatang yang tidak mempunyai darah mengalir, seperti nyamuk.

Berkata Abu Syujak asy-Syafi’I di dalam al-Ghayah wa at-Taqrib (hal.10): “Mencuci seluruh air kencing dan kotoran hukumnya wajib“ ( termasuk di dalamnya air kencing kucing)

Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ ( 2/550): “Madzhab kami menyebutkan bahwa seluruh kotoran dan air kencing yang keluar dari hewan, hukumnya najis, baik yang dagingnya boleh dimakan, ataupun tidak, seperti burung. Begitu juga kotoran ikan dan belalang. Begitu juga kotoran binatang yang tidak mempunyai darah mengalir, seperti nyamuk, maka air kencing dan kotorannya tetap najis menurut madzhab (Syafi’i).”

Ketiga, madzhab Hanbali membedakan antara hewan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan.

Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (1/768):  “Sesuatu yang sulit dihindari ada dua macam;

-pertama, makhluk yang menjadi najis jika mati, seperti kucing dan yang lebih kecil bentuknya dari itu. Maka seperti ini hukumnya mengikuti hukum pada diri manusia. Apa-apa yang kita hukumi najis dari manusia, maka kita hukumi najis juga yang berasal dari kucing tersebut. Begitu juga sebaliknya, apa yang kita hukumi dari manusia suci, maka kita hukumi dari kucing tersebut suci juga, kecuali air maninya, maka hukumnya tetap najis. Karena mani manusia adalah bahan penciptaannya, maka menjadi mulia dengan statusnya yang suci. Berbeda dengan air mani kucing dan sejenisnya. 

-Kedua(sesuatu yang sulit dihindari) adalah binatang yang memiliki darah tidak mengalir (seperti lalat, semut dll), maka hukumnya suci seluruh anggota badannya, termasuk kotorannya. 

Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa kotoran dan air kencing kucing tidak najis, karena sulitnya menghindar darinya. Dasarnya adalah hadist Kabsyah bin Ka’ab bin Malik di atas tentang sucinya kucing. Tentunya pendapat ini lemah, karena yang dimaksud sucinya kucing adalah air liurnya dan badannya, bukan air kencing atau kotorannya, sebagaimana manusia suci badan dan air liurnya, tetapi air kencingnya tetap najis.

Berkata Syekh al-Utsaimin: ”Segala sesuatu yang tidak boleh dimakan dagingnya, maka air kencing dan kotorannya najis, walaupun badannya suci. Seperti manusia, air kencing dan kotorannya najis, walaupun badannya suci ketika hidup dan ketika mati. Begitu juga kucing, badannya suci, tetapi air kencing dan kotorannya najis.“ Wallahu A’lam.

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA/Fikih Kontemporer

 

Baca Juga: 

Hukum Menindik Telinga, Hidung dan Pusar

Hukum Mendonorkan Sebagian Organ Tubuh

Hukum Nikah Sirri dalam Islam

 

Hukum Operasi Selaput Dara (Hymenoplasti)

Selaput dara (hymen) adalah selaput tipis berupa lipatan membran yang ada di dalam kemaluan wanita atau yang biasa disebut keperawanan. Jika selaput dara tersebut belum pecah atau sobek berarti wanita tersebut masih perawan, belum pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki. Meskipun tanda ini tidaklah mutlak. Saat menginjak pubertas, selaput dara menjadi elastis sehingga ada sebagian wanita yang tidak pecah selaput daranya saat melakukan hubungan seksual dan baru pecah saat melahirkan.

Sedang yang dimaksud operasi selaput dara (hymenoplasti) dalam pembahasan ini adalah operasi untuk memperbaiki selaput dara yang rusak atau mengembalikannya kepada tempat semula. Dan ini termasuk masalah kontemporer yang belum ditemui oleh para ulama pada masa lalu. Untuk memudahkan pemahaman, maka pembahasaan ini, kita bagi menjadi beberapa bagian, sesuai dengan  penyebab hilangnya selaput dara:

 

Pertama: Selaput dara rusak karena sesuatu yang tidak dikategorikan maksiat

Faktor penyebab rusak atau pecahnya selaput dara tidak hanya hubungan seksual, tapi bisa juga faktor lain misalnya; kecelakaan, jatuh, tabrakan, membawa beban terlalu berat, atau karena terlalu banyak bergerak, mengalami pelecehan seksual ketika masih kecil dan sebagainya. Dalam keadaan seperti ini, melakukan operasi untuk mengembalikan selaput dara yang hilang atau rusak, menurut sebagian ulama hal tersebut dibolehkan, atau disunnahkan bahkan bisa jadi hukumnya menjadi wajib. (DR. Muh. Nu’aim Yasin, , Fikih Kedokteran, hal 207), alasan-alasannya sebagai berikut:

Gadis tersebut tidak berbuat maksiat, kejadian yang menimpanya merupakan sebuah musibah. Ini sebagaimana orang yang patah tulang atau luka bakar atau terkelupas kulitnya akibat sebuah kecelakaan. Jika orang-orang yang kena musibah ini dibolehkan untuk melakukan operasi dengan tujuan memperbaiki organ tubuhnya yang rusak, maka orang yang kehilangan atau tersobek selaput daranya pun dibolehkan untuk melakukan operasi demi mengembalikan salah satu organ tubuh yang hilang tadi.

Ini bisa menghindarkan si gadis ini dari tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepadanya akibat tidak mempunyai selaput dara lagi, sekaligus menutupi aib yang menimpa dirinya. Hal ini sesuai dengan syariat Islam yang memerintahkan untuk menutupi aib saudaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadits: “Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, walaupun begitu, ada sebagian ulama yang tidak membolehkan. Alasannya mungkin saja orang lain sudah tahu bahwa gadis tersebut sudah rusak atau hilang selaput daranya dari pihak-pihak tertentu, sehingga tujuan untuk menutup aib menjadi tidak terwujud. Selain itu, aurat si gadis tadi akan dilihat oleh para dokter padahal operasi ini bukanlah hal yang darurat. Sedang seperti yang kita tahu, mayoritas dokter ahli adalah laki-laki.

Untuk menghindari fitnah dan tuduhan bisa saja dengan menjelaskan kepada masyarakat atau calon suami, bahwa selaput dara yang hilang tadi akibat kecelakaan, bukan akibat perbuatan zina. (DR, Muh. Muhtar Syinqiti , “Ahkam Jirahiyah Tibbiyah“, hal 432).

Dari dua pendapat di atas, maka siapa saja yang selaput daranya robek atau hilang karena kecelakaan , atau karena hal-hal lain yang tidak termasuk maksiat, sebaiknya tidak usah melakukan operasi selaput dara, karena hal tersebut bukanlah hal yang darurat. Jika ingin menikah bisa dengan menjelaskan kepada calon suami keadaan yang sebenarnya.  Akan tetapi jika memang keadaannya sangat mendesak,  dan membutuhkan operasi selaput dara serta hal itu benar-benar akan membawa maslahat yang besar, maka hal itu dibolehkan juga.

 

Kedua: selaput dara rusak karena maksiat seperti berzina atau hal yang mengarah pada zina

Orang yang berzina bisa dibagi menjadi dua keadaan:

Keadaan pertama: dia telah berzina, tapi masyarakat belum mengetahuinya.

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat di dalamnya, sebagian membolehkannya untuk melakukan operasi selaput dara, dengan alasan bahwa hal itu untuk menutup aib dan maksiat yang pernah dilakukannya, apalagi dia bersungguh–sungguh ingin bertaubat, dan ajaran Islam menganjurkan untuk menutup aib saudaranya, sebagaimana dalam hadist yang disebut di atas. Namun, sebagian ulama yang lain tidak membolehkannya, karena hal itu akan mendorongnya dan mendorong orang lain untuk terus-menerus berbuat zina, karena dengan mudah dia akan melakukan operasi selaput dara setelah melakukan zina dan ini akan membawa mafsadah yang besar dalam masyarakat.

Namun untuk mengambil jalan tengah, hendaknya dilihat keadaan orang yang ingin melakukan operasi selaput dara, jika memang benar-benar orang tersebut ingin bertaubat nasuha dan operasi tersebut akan membawa maslahat yang besar, maka tidaklah mengapa, tapi jika tidak, sebaiknya ditinggalkan.

Keadaan kedua: dia telah melakukan zina, tapi masyarakat sudah mengetahuinya.

Dalam keadaan seperti ini, para ulama sepakat untuk mengharamkan operasi selaput dara, karena madharatnya jauh lebih besar dan tidak ada maslahat yang di dapat dari operasi tersebut sama sekali.

 

Ketiga: Selaput dara rusak karena pernikahan

Hilangnya selaput dara akibat hubungan seksual dalam pernikahan. Ini adalah sesuatu yang sangat wajar dan normal, bahkan hampir semua perempuan yang pernah menikah dan melakukan hubungan seksual dalam pernikahan tersebut pasti mengalaminya. Dengan demikian, melakukan operasi selaput dara untuk mengembalikan selaput daranya yang telah hilang adalah perbuatan sia-sia dan hanya menghambur-hamburkan uang dan waktu. Selain itu, mau tidak mau dia harus membuka auratnya yang paling vital dan tentunya akan dilihat oleh para dokter yang akan menangani operasi. Oleh karenanya, melakukan operasi selaput dara dalam keadaan seperti ini adalah perbuatan yang tercela dan dilarang dalam Islam. Para dokter laki-laki yang ikut menyetujui dan melakukan operasi juga ikut berdosa. Para ulama sepakat dalam hal ini. Wallahu A’lam

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah/Fikih Kontemporer

 

Baca Juga: Hukum Menyemir Rambut, Hukum mendonorkan Organ Tubuh, Hukum Menindik Telinga, Hidung, Lidah & Pusar

 


Ingin berlangganan Majalah Islami yang bermutu dan nyaman dibaca? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085

Hukum Menindik Telinga, Hidung, Lidah dan Pusar

Sebagian besar masyarakat kita sudah terbiasa menindik telinga anak perempuan, khususnya ketika masih kecil. Apa alasan mereka ? Paling tidak, ada tiga jawaban:

 

Pertama, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa tujuan menindik telinga adalah meletakkan anting-anting di telinganya agar tampil lebih cantik.

Kedua, sebagian lagi melihat dari sisi seksual, bahwa perempuan yang telinganya tidak ditindik, syahwat seksualnya masih kuat. Dikhawatirkan, tidak terkendali, oleh karenanya supaya stabil, telinganya ditindik untuk kebaikan dirinya dan suaminya.

Ketiga, sebagian kecil masyarakat menganggapnya tidak hanya terbatas pada  faktor kecantikan, tetapi diyakini sebagai salah satu ritual yang diwariskan nenek moyang mereka untuk kemashlatan anak perempuan tersebut.

 

Hukum Menindik Telinga

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama

Mengatakan bahwa menindik telinga anak perempuan hukumnya haram. Ini pendapat Madzab Syafi’iyah, Ibnu al Jauzi dan Ibnu Uqail dari Hanabilah.  (Mughni Muhtaj : 4/296, Tuhfatu al-Habib : 2/ 508, Ihya Ulumuddin : 2/341, Fathu al-Bari : 10/48)

Mereka berdalil sebagai berikut:

 

Dalil Pertama, menindik telinga termasuk dalam katagori merubah ciptaan Allah, karena  telinga pada asalnya utuh, tidak boleh dilubangi kecuali ada mashlahat di dalamnya. Allah berfirman,

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119)

“ Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”.  Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.(Qs. an-Nisa’: 119)

 

Baca Juga: Hukum Mencukur dan Menggundul Rambut Bagi Wanita

 

Ayat di atas menunjukkan haramnya merubah ciptaan Allah, termasuk di dalamnya memotong dan melubangi telinga, hidung dan lidah, walupun untuk menaruh perhiasan, karena itu termasuk bisikan syetan.

 Dalil Kedua, menindik telinga termasuk menyakiti anak perempuan dengan alasan yang tidak benar. Dalam kaidah fiqh disebutkan,

لا ضرر ولا ضرار

“ Tidak boleh memberikan kemudharatan kepada diri sendiri dan kepada orang lain. “

Berkata Imam al-Ghazali di dalam Ihya Ulumuddin : 2/341: “ Saya tidak melihat adanya keringanan di dalam melubangi telinga anak perempuan, hanya untuk sekedar memasangkan anting-anting emas. Karena ini termasuk melukainya sampai sakit,  dan ini wajib diqishas (dibalas).“

Dalil Ketiga, menghiasi anak dengan anting-anting bukan sesuatu yang darurat, sehingga dibolehkan melukai telinganya.

 

Pendapat Kedua

Menindik telinga hukumnya boleh. Ini  Madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah. (al-Bahru ar-Raiq : 8/232,  Syareh az-Zurqani : 4/210, al-Inshaf : 1/125)

          Diantara dalil mereka sebagai berikut,

 

Dalil Pertama, hadist Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata,

. خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ – وَلَمْ يَذْكُرْ أَذَانًا وَلا إِقَامَةً – ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِينَ إِلَى آذَانِهِنَّ وَحُلُوقِهِنَّ يَدْفَعْنَ إِلَى بِلالٍ ثُمَّ ارْتَفَعَ هُوَ وَبِلالٌ إِلَى بَيْتِهِ .

          “ Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar,  maka beliau shalat, kemudian berkhutbah, tanpa terdengar adzan ataupun iqamah, kemudian mendatangi para wanita.  Beliau menasehati dan mengingatkan,  serta memerintahkan mereka untuk bersedekah, maka saya melihat mereka mengulurkan tangan ke telinga-telinga dan leher-leher mereka (untuk mencopot perhiasan) dan mereka berikan kepada Bilal. Kemudian beliau dan Bilal pergi menuju rumah beliau. ( HR. Bukhari, 4951 dan Muslim, 884)

Hadits di atas menerangkan bahwa para sahabiyat memakai perhiasan anting-anting yang ada pada telinga mereka. Ini menunjukkan bahwa melubangi telinga untuk tempat anting-anting hukumnya boleh.

 

Dalil Kedua, hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya beliau berkata,

جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لا يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا … قَالَتْ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ : زَوْجِي أَبُو زَرْعٍ وَمَا أَبُو زَرْعٍ أَنَاسَ مِنْ حُلِيٍّ أُذُنَيَّ … قَالَتْ عَائِشَةُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُنْتُ لَكِ كَأَبِي زَرْعٍ لأُمِّ زَرْعٍ

          “ Terdapat sebelas wanita yang duduk berkumpul, mereka sepakat dan berjanji untuk tidak menyembunyikan sedikitpun tentang sifat-sifat suami-suami mereka…berkatalah wanita yang kesebelas : “ Suamiku adalah Abu Zar’in, siapakah Abu Zar’in itu ? Dialah  yang memberatkan telingaku dengan perhiasan (sampai bergerak-gerak)”. …Berkata Aisyah, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya :  “ Aku bagimu, seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in” (HR. Bukhari, 4893 dan Muslim, 2448).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari perbuatan Abu Zar’in yang memberikan perhiasan pada telinga istrinya, bahkan beliau sendiri ingin berbuat seperti perbuatan Abu Zar’in kepada istrinya.

Dalil Ketiga: Menindik telinga untuk memakaikan anting-anting padanya terdapat maslahat bagi wanita. Dan itu tidak terlalu membahayakan baginya, sehingga dibolehkan. Karena wanita  mempunyai fitrah untuk selalu ingin berhias, sebagaimana firman Allah,

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.(Qs. az-Zukhruf : 18)

 

Baca Juga: Hukum Menyemir Rambut

 

Ibnul Qayyim di dalam Tuhfatu al-Maudud bi Ahkami al-Maulud (1/209 ) :  “Cukup sebagai dalil bolehnya (menindik telinga anak perempuan) adalah pengetahuan Allah dan Rasul-Nya tentang perbuatan yang dilakukan para sahabat, dan persetujuannya tentang masalah ini. Jika hal itu dilarang , tentu akan dijelaskan di dalam al- Qur’an dan as-Sunnah”

 

Melubangi Hidung, Lidah dan Pusar

Adapun melubangi hidung, lidah dan pusar untuk memakaikan padanya perhiasan, sebagian besar ulama tidak membolehkan, sebagian yang lain membolehkan pada hidung jika hal itu masuk dalam katagori kebiasan masyarakat tertentu. Sedang melubangi pusar dan lidah hampir semua ulama tidak membolehkannya, karena termasuk kebiasaan perempuan-perempuan nakal.

Berkata Syekh Ibnu al-Utsaimin  di dalam Majmu’ al-Fatawa ( 11/no. 69 ) : “ Adapun melubangi hidung, maka saya belum menemukan perkataan ulama yang membahasnya. Tetapi saya berpendapat bahwa melubangi hidung masuk dalam katagori mutilasi dan merusak anggota badan. Barangkali ulama lain mempunyai pendapat yang berbeda. Jika seorang perempuan hidup di negara yang menganggap anting-anting pada hidung sebagai salah satu bentuk berhias dan mempercantik diri, maka tidak apa-apa dia melakukannya.“

 

Baca Juga: Hukum Mendonorkan Organ Tubuh

 

Berkata Syekh Abdul Muhsin al-Abbad di dalam Syareh Abu Daud : “ Adapun melubangi pusar  dan lidah dan sejenisnya dari anggota tubuh,  saya belum mendapatkan perkataan dari para ulama tentang masalah ini. Tetapi yang lebih mendekati kebenaran, bahwa hal itu dilarang, karena dua hal ; pertama, bahwa hal ini masuk dalam katagori mutilasi dan penyiksaan, yang kedua, biasanya perempuan tidak familiar berhias dengan cara seperti ini. Bahkan cara seperti ini dianggap merusak, bukan berhias. Adapun suaminya tidak melarang hal itu, bukanlah suatu alasan syar’i, apalagi jika hal ini dianggap kebiasaan perempuan-perempuan rusak di negara-negara yang  sudah rusak akhlaqnya.

 

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa menindik telinga anak perempuan untuk memakaikan perhiasan (anting-anting) hukumnya boleh. Namun jika ada sebagian masyarakat tidak mau menindik telinga anak perempuan sebagai sifat kehati-hatian, dan menganggap bahwa menaruh perhiasan di telinga dengan cara menindiknya adalah sesuatu yang tidak penting, maka tentunya ini lebih baik, untuk menghindari perbedaaan pendapat ulama, sebagaimana yang diterangkan di atas.

Adapun melubangi hidung, lidah dan pusar pada umumnya perempuan tidak menganggapnya sebagai tempat memakaikan perhiasan padanya. Sehingga dihukumi makruh pada hidung, dan haram pada pusar dan lidah. Wallahu A’lam.

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA/Fikih kontemporer

 

 

 

Hukum Mendonorkan Organ Tubuh

Donor artinya derma atau sumbangan. Donor organ tubuh berarti mendermakan organ tubuh untuk orang lain demi kepentingan medis. Secara medis donor organ tubuh adalah legal asal sesuai prosedur. Namun menurut syariat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pembahasan ini bisa dibagi menjadi empat hal:

 

Pertama, Donor Organ Yang Bisa Pulih

Di antara anggota tubuh yang bila diambil, bisa pulih kembali adalah darah, yang selanjutnya lebih dikenal dengan donor darah. Donor darah dilakukan manakala pasien kekurangan darah akibat operasi, kecelakaan, kebakaran, persalinan, gagal ginjal, kanker darah dan lainnya.

Secara syar’i hukum donor darah adalah boleh untuk kepentingan yang sifatnya darurat (Fatawa Kibar Ulama al Ummah, hal. 939 ) Alasannya:

 

     1.Menjaga Jiwa (hifdzu an nafs). Donor darah dapat membantu kesembuhan dan menghindarkan pasien kehabisan darah yang bisa menyebabkan kematian. Dalilnya:

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. “  (Qs Al Maidah : 32)

     Dalam ayat ini, Allah SWT memuji setiap orang yang memelihara kehidupan orang lain, maka dalam hal ini, para pendonor darah dan dokter yang menangani pasien adalah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Allah SWT, karena memelihara kehidupan seorang pasien, atau menjadi sebab hidupnya pasien dengan ijin Allah SWT.

Firman Allah swt:

 ” Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya…” (Qs. Al Baqarah: 172)

     Ayat di atas menunjukkan diangkatnya dosa bagi orang yang terpaksa memakan yang haram karena keadaan darurat, donor darah adalah termasuk di dalamnya.

 

     2.Donor darah, secara umum, tidak menyebabkan madharat pada pendonor karena darah diproduksi oleh tubuh dan berganti secara berkala.

     Dibolehkannya donor darah kepada seseorang harus memenuhi empat syarat:

1.Sang pasien memang benar-benar membutuhkan darah tersebut, dan harus ada rekomendasi dari dokter.

2.Tidak ada cara pengobatan lain kecuali dengan memasok darah.

3.Darah tersebut tidak membahayakan pasien.

4.Pasien mengambil darah secukupnya. Ini sesuai dengan kaidah fikih yang berbunyi ” Apa-apa yang diperbolehkan karena darurat, maka itu diukur sesuai kadarnya “. (As Suyuti, al- Asybah wa An Nazha’ir, hal. 84).

5.Pasien mendapatkan donor darah secara gratis. Jika tidak mendapatkannya secara gratis, maka dibolehkan baginya untuk membeli darah tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh yang menjual, karena menjual darah hukumnya haram, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist bahwasanya Rasulullah SAW melarang seseorang untuk menjual darah. (Shahih Bukhari, Juz II, hal 8).

Imam Nawawi berkata: “Sebagaimana diharamkan mengambil upah dari (perbuatan haram), maka diharamkan juga untuk memberikan upah kepadanya. Akan tetapi dibolehkan memberikan upah(kepada sesuatu yang haram), jika dalam keadaan darurat ” (Raudhoh At Tholibin, Juz V, hal : 194-195). Hal ini sesuai dengan permasalahan membeli darah karena darurat. 

Kemudian, bagaimana hukum mendonorkan darah untuk disimpan di bank-bank darah seperti PMI atau rumah sakit untuk dipakai dalam peristiwa – peristiwa yang mendadak?

Jawabannya adalah boleh, karena maslahatnya lebih besar daripada madharatnya. 

 

Kedua, Donor Organ Tubuh Yang Bisa Menyebabkan Kematian

Ada beberapa organ tubuh, yang jika diambil, akan menyebabkan kematian seseorang, misalnya; limpa, jantung, ginjal dan otak. Maka mendonorkan organ-organ tubuh tersebut kepada orang lain hukumnya haram, karena termasuk dalam katagori bunuh diri. Allah berfirman,

“..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. ” (Qs. Al Baqarah: 195).

Juga dengan firman Allah swt :

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Qs. An Nisa: 29).

 

Ketiga, Donor Organ Tubuh Tunggal

Organ tunggal bisa jadi memang organ tersebut hanya satu seperti rahim dan lidah, ada juga yang pada asalnya ganda tapi karena salah satunya rusak atau tidak berfungsi sehingga menjadi tunggal, misalnya mata atau ginjal yang tinggal satu. Mendonorkan organ-organ seperti ini hukumnya haram, walaupun hal itu kadang tidak menyebabkan kematian. Karena, kemaslahatan yang ingin dicapai oleh pasien tidak kalah besarnya dengan kemaslahatan yang ingin dicapai pendonor. Bedanya jika organ tubuh tadi tidak didonorkan, maka maslahatnya akan lebih banyak, dibanding kalau dia mendonorkan kepada orang lain.

     Akan tetapi ada organ tubuh tunggal yang jika diambil tidak membahayakan pendonor dan bermanfaat bagi pasien, yaitu rahim. Maka donor rahim hukumnya boleh, tetapi harus terpenuhi beberapa syarat tertentu, diantaranya adalah;

  1. Indung telur pasien masih bisa berfungsi sehingga rahim yang akan diambil dari pendonor bermanfaat baginya.
  2. Rahim pendonor harus steril dari sel telur dan sel sperma lama yang masih hidup, sehingga pencampuran nasab bisa dihindari.
  3. Pemindahan rahim tersebut tidak membahayakan bagi pendonor.

 

Keempat, Mendonorkan Salah Satu Organ

Jika donor salah satu organ tubuh tersebut tidak membahayakan pendonor dan kemungkinan besar bisa menyelamatkan pasien, maka hukumnya boleh, seperti seseorang yang mendonorkan salah satu ginjalnya. Alasannya, bahwa seseorang masih bisa hidup, bahkan bisa beraktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya meski hanya menggunakan satu ginjal saja. Hanya saja pemindahan ginjal dari pendonor ke pasien tersebut jangan sampai membahayakan pendonor itu sendiri.

Syeikh Bin Baz – rahimahullahu – Mufti  Saudi Arabia (Fatawa Kibar Ulama Ummah, hal. 941) menjelaskan, “Tidak apa-apa mendonorkan ginjal, jika memang sangat dibutuhkan, karena para dokter telah menyatakan bahwa hal tersebut tidak berbahaya baginya, dan dalam sisi lain, bisa bermanfaat bagi pasien yang membutuhkannya. Pendonornya insyaallah akan mendapatkan pahala dari Allah SWT, karena perbuatan ini termasuk berbuatan baik dan menolong orang lain agar terselamatkan jiwanya, Sebagaimana firman Allah  :

” dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “  (Qs Al Baqarah: 192)

Dan Rasulullah bersabda:

” Dan Allah akan selalu membantu hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya ” )  HR Muslim no 2699 ).  

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah, MA

 

Baca Juga: 

Hukum Arisan Dalam Islam

Hukum Bank ASI

Hukum Menyusui Orang Yang Sudah Dewasa

 

Hukum Menyemir Rambut

Kini, menyemir rambut bukan hanya ditujukan untuk menutupi uban, tapi sudah menjadi trend. Sekedar gaya dan untuk tampil beda. Seperti biasanya, sesuatu berubah menjadi trend dan ditiru jika para selebritis mulai gemar memakainya, demikian pula trend mewarnai rambut. Apalagi alat-alat kosmetik yang bisa dipakai pun semakin mudah didapat dengan harga terjangkau.

Bukan perkara krusial memang, tapi tentunya sebagai muslim kita tidak bisa sekadar ikut-ikutan. Perlu dikaji dulu, bagaimana syariat menilainya. Perlu juga pertimbangan mashlahat dan madharat yang proporsional karena beberapa perkara berkaitan erat dengan situasi, kondisi atau ‘urf , kebiasaan juga norma masyarakat setempat.

Dalam tinjauan fikih, menyemir rambut untuk menutupi uban pada dasarnya adalah sunnah. Lebih rincinya sebagai berikut:

 

Pembahasan bisa dibagi menjadi beberapa point:

 

Pertama, menyemir rambut dengan warna hitam.

Ada dua kondisi: Dibolehkan dalam jihad dan peperangan. Ibnu Hajar mengatakan, ” Dan dikecualikan dari larangan itu bagi seorang mujahid menurut kesepakatan.” Pendapat serupa dinyatakan al Qusthulani dalam Irsyadul Bari lisyarhi Shahihil Bukhari, juga Ibnu Allan dalam kitab Dalilul Falihin. Tujuannya adalah untuk irhab, atau meneror musuh. Karena musuh akan mengira pasukan Islam terdiri dari kaum muda semua.

Kondisi kedua dilarang jika digunakan untuk menipu. Misalnya seorang wanita yang menyemir saat akan dilamar. Ulama sepakat dalam hal ini seperti dinyatakan oleh Imam al Mabarkafuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at Tirmidzi.

Selain dua kondisi itu, para ulama berselisih pendapat, ada yang berpendapat makruh dan dilarang.  Malikiyah dan Hanabilah berpendapat makruh demikian pula beberapa pendapat dari kalangan Syafi’iyah. Seperti disebutkan dalam kitab Hasyiah al Adawi, al Iqna’ Li Thalibil Intifa’ dan lainnya. Pengikut Madzhab Syafi’i berpendapat haram, seperti dijelaskan dalam kitab al Majmu’ Syarhul Muhadzab, karya Imam An Nawawi. (Makalah Hukmu Syibghisy Syi’ri bis Sawad, Syaikh Shalih bin Muhammad al Asmiri).

 

Kedua, menyemir rambut dengan selain warna hitam.

Jika rambut telah beruban maka disunahkan menyemirnya dengan warna selain warna hitam. Meski ada perbedaan pendapat, namun Syaikh Ibnu Bazz, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin dan Syaikh Shalih Al-Fauzan memfatwakan haramnya menyemir dengan warna hitam. Sedang selain warna hitam adalah sunah.

Dalam kitab kitab Fatawa Al Mar’ah (1/520-522), Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Shalih Al Fauzan ketika ditanya tentang hal ini mengemukakan bahwa menyemir rambut yang telah beruban dengan menggunakan inai atau pacar atau yang selainnya merupakan sunnah yang diperintahkan dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashrani. Sebab mereka membiarkan ubannya dan tidak menyemirnya. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak menyemir ubannya, maka selisihilah mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun rambut yang belum beruban, beliau berdua menjelaskan bahwa sebaiknya dibiarkan sebagaimana aslinya dan tidak dirubah. Kecuali jika warna rambutnya tersebut dianggap jelek maka boleh disemir dengan warna yang sesuai, sekadar menghilangkan warna yang jelek tersebut. Sedangkan rambut lainnya yang tidak ada masalah padanya maka hendaknya dibiarkan sebagaimana aslinya karena tidak ada keperluan untuk mengubahnya.

Syaikh Ibnu Jibrin menjelaskan, mewarnai rambut dengan warna yang bermacam-macam adalah suatu mode yang sedang trend, orang-orang menyebutnya dengan semir. Sebagian pelancong wanita dari negara-negara barat tampil di hadapan kaum laki-laki dengan kepala dan muka terbuka (tanpa kain penutup). Sebagian mereka menyemir rambutnya dengan warna merah, kuning biru dan lainnya. Tujuannya untuk memalingkan atau mengundang perhatian serta menyebarkan fitnah kepada anak-anak muda. Sayangnya, penampilan dan keburukan tersebut ditiru oleh kaum wanita di negara-negara Arab dan negara-negara lain yang penduduknya mayoritas muslim, bahkan terkadang suami mereka memerintahkannya, karena suami mereka melihat wanita dari negara barat yang berpenampilan demikian sangat mempesona hatinya, sehingga suami mereka merasa senang.

Dalam hadits telah dijelaskan mengenai larangan menyemir rambut dan larangan memakai rambut palsu, dilarang menyemir uban dengan warna hitam, tetapi boleh menyemirnya dengan warna merah, dan penyemirannya itu hanya dilakukan dengan pohon pacar dan pohon katam (jenis tumbuh-tumbuhan) saja. Dengan demikian penyemiran rambut itu diperbolehkan apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui (disarikan dari Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, Fatwa dari Syaikh Ibnu Jibrin).

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan,  dikhawatirkan hal itu menyerupai wanita kafir jika model demikian bersumber dari mereka, sementara ada larangan untuk menyerupai mereka. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud. Syaikh Al Albani berkata dalam Jilbabul Mar’ah Al Muslimah hal 204: “isnadnya shahih”)

Baca Juga: Hukum Mencukur & Menggundul Wanita

Kesimpulannya, yang disunahkan adalah menyemir rambut yang telah beruban dengan warna selain hitam. Bahan yang digunakan pun, menurut Syaikh Ibnu Jibrin, haruslah sesuai dengan yang terdapat dalam hadits. Adapun menyemir rambut yang belum beruban, dari beberapa fatwa yang ada memang tidak ada yang melarang. Namun tidak selalunya, yang dibolehkan dalam syariat selalu layak dilakukan. Dalam beberapa kondisi, ada beberapa hal yang dibolehkan syariat, namun kurang pantas menurut ‘urf  atau persepsi masyarakat setempat juga situasi dan kondisi.

Tentunya kita akan merasa aneh jika melihat seorang da’i tapi rambutnya disemir warna-warni. Para ulama sendiri sangat mengkhawatirkan jika hal itu dilakukan hanya karena ingin meniru budaya orang kafir. Contoh lain, memanjangkan rambut juga tidak dilarang. Tapi sedikit kurang pantas kiranya seorang ustadz atau kyai berambut gondrong layaknya perempuan.

Kita bisa menimbang dan mengukur sejauh mana manfaat dan kekurangan dari apa yang kita kerjakan. Jika memang tak pantas dan hanya sia-sia, untuk apa kita melakukannya? Wallahua’lam bish shawab.

 

Oleh: Taufik Anwar/Fikih Kontemporer

 

Hukum Kopi Luwak

Kopi Luwak adalah kopi yang diproduksi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Luwak adalah sejenis musang, karenanya biasa dikatakan musang luwak. Binatang karnivora ini juga suka mencari buah-buahan yang baik dan masak, termasuk buah kopi. Luwak memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya. Kemudian, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak.

Berdasarkan keterangan di atas, menentukan hukum kopi luwak dikembalikan kepada dua masalah: Pertama, apakah musang itu halal dimakan atau haram? Kedua, apakah kotorannya suci atau najis?

 

Hukum Daging Luwak

Musang luwak adalah hewan mamalia yang termasuk suku musang dan garangan. Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain seperti, careuh (Sunda), luak atau luwak (Jawa), serta musang pulut dalam bahasa malaysia. Di desa-desa, luwak dikenal sebagai binatang yang suka memangsa ayam, sehingga sering diburu oleh manusia. Tetapi sebenarnya, luwak lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan, seperti buah  pepaya, pisang, bahkan coklat. Luwak juga suka makan serangga, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Pertanyaannya, apakah luwak termasuk binatang buas yang haram untuk dimakan?   Para ulama berbeda pendapat:

  Pendapat Pertama: daging luwak haram, karena termasuk binatang buas yang bertaring, sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda:

كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

 “Setiap binatang buas yang bertaring maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim)

  Pendapat Kedua: mengatakan walaupun luwak binatang pemakan daging dan buas, tetapi tidak menyerang manusia, sehingga dagingnya halal dimakan.  Luwak ini seperti adh-dhobu’(hyena) yang halal dimakan. Sebab, hyena tidak menyerang manusia, walaupun termasuk binatang pemakan daging. Dalilnya hadist Jabin bin Abdillah:


عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الضَّبُعِ فَقَالَ هُوَ صَيْدٌ وَيُجْعَلُ فِيهِ كَبْشٌ إِذَا صَادَهُ الْمُحْرِمُ

Dari  Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hyena? Beliau menjawab: Hyena adalah binatang buruan, dan bila seorang yang sedang berihram memburu binatang ini, dia dikenakan denda dengan menyembelih seekor domba.” (HR Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad)

 

Hukum Kopi Luwak

Sebagaimana diterangkan di atas bahwa kopi luwak bukanlah kopi yang berasal dari kotoran luwak, tetapi berasal dari biji kopi yang tidak dicerna di dalam perut luwak, kemudian keluar bersama kotoran luwak. Pertanyaannya adalah apakah kotoran luwak itu najis? Kita kembalikan kepada perbedaan ulama di atas, jika luwak adalah binatang yang haram dimakan, maka kotoran luwak adalah najis, kalau kotorannya najis, maka biji kopi yang keluar bersama kotorannyapun menjadi najis. Agar halal untuk dikonsumsi, maka biji kopi tersebut harus disucikan terlebih dahulu. Setelah suci, maka biji kopi tersebut siap untuk diproses menjadi kopi luwak.

Hal seperti ini pernah disebutkan di dalam fiqh madzhab Syafi’i, sebagaimana yang ditulis Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’:

Para sahabat kami (dari ulama madzhab Syafi’i) RHM:  mengatakan: “Jika ada hewan memakan biji-bijian (dari tumbuhan) dan keluar lagi dari dari perutnya dalam keadaan masih baik,  jika kerasnya masih utuh, yaitu jika biji tersebut ditanam kembali, akan dapat tumbuh, maka biji tersebut dikatakan suci, tetapi harus dibersihkan luarnya karena terkena najis.

Baca Juga: Hukum Jual-Beli Anjing

Pendapat ini diambil oleh  MUI (Majlis Ulama Indonesia) di dalam sidang fatwanya pada hari Selasa (20/ 7/ 2010) yang menetapkan bahwa biji kopi yang keluar bersama kotoran binatang tersebut statusnya halal setelah adanya proses pensucian.

Adapun jika kita mengambil pendapat kedua yang mengatakan bahwa luwak adalah binatang yang halal dimakan, secara otomatis kotoran kopi luwak tersebut tidak najis. Ini  menurut pendapat ulama yang mengatakan bahwa luwak adalah binatang yang boleh dimakan dagingnya, secara otomatis kotorannya tidak najis. Ini dikuatkan dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama: hadist ‘Urayinin:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ

Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menunjukan bahwa air kencing unta tidak najis, karena Rasulullah SAW memerintahkan ‘Urayinin yang terkena sakit untuk berobat dengan meminum air susu dan air kencing unta. Beliau tidak akan menyuruh untuk meminum sesuatu yang najis. Adapun air kencing hewan-hewan lain yang boleh dimakan juga tidak najis dengan mengqiyaskan kepada air kencing unta.

  Kedua: hadist Anas bin Malik,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ

“Dari Anas berkata, “Sebelum masjid dibangun, Nabi SAW shalat di kandang kambing.” (HR. Bukhari)

Dibolehkannya sholat di dalam kandang kambing dalam hadist di atas menunjukkan bahwa air kencing kambing adalah suci tidak najis, karena biasanya kandang kambing itu tidak bisa terlepas dari air kencing dan kotoran kambing.

Baca Juga: Hukum Rokok Herbal

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa binatang yang boleh dimakan termasuk di dalamnya binatang luwak, status kotorannya tidak najis.  Jika kotoran luwak tidak najis, tentunya biji kopi tersebut menjadi halal dengan sendirinya.

Dari keterangan di atas, baik dengan mengambil pendapat yang mengatakan bahwa luwak adalah binatang buas yang tidak boleh dimakan, maupun pendapat yang mengatakan bahwa luwak halal dimakan, tetap saja kopi luwak hukumnya halal. Wallahu A’lam

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

 

Tema Lainnya: