Khutbah Jumat: Baldatun Thayyibatun, Negeri Ideal yang Didambakan

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا ,يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia-Nya. Allah menempatkan kita di sebuah negeri yang dianugerahi banyak keistimewaan. Tanahnya mudah ditanami, banyak jenis pepohonan yang dapat tumbuh, hawa yang baik dan perairan yang luas. Sebuah nikmat yang luar biasa yang harus senantiasa kita syukuri. Syukur dalam arti mengguna kian nikmat itu untuk taat kepada-Nya, bukan hanya untuk memenuhi kesenangan nafsu pada kenikmatan dunia. Sebuah kenikmatan yang jika kita kufuri, akan berubah menjadi bencana yang membinasakan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ keluarga dan juga orang-orang yang senantiasa teguh membela sunahnya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Belasan tahun lalu, sering kita dengar optimisme para pembesar negeri mengungkapkan impian negeri ini sebagai negeri ideal dengan slogan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur’, sebuah negeri yang baik, dan diberi ampunan oleh Allah.

Seperti negeri Saba di era kejayaan dan kemakmurannya, hingga Allah menjadikannya sebagai percontohan dalam al-Qur’an. Tadinya, Saba’  adalah negeri yang aman, subur dan makmur . Bukan saja aman dari segala bentuk kriminal dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia, namun juga tak ada ancaman dari hewan-hewan yang berbahaya. Bahkan Allah membersihkan hewan-hewan pengganggu dari negeri itu.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik(Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’:15)

Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menyebutkan dari Imam Abdurrahman bin Zaid rahimahullah tentang firman-Nya, “Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka..”

Yakni, “mereka tidak melihat adanya nyamuk, lalat, kutu, kalajengking, ular dan hewan (pengganggu) lainnya.” Dalam kontek kekinian, barangkali termasuk virus dan bakteri yang membahayakan. Saba’ juga menjadi negeri yang sangat subur dan makmur. Dengan bendungan yang disebut sejarawan sebagai Bendungan Ma’rib, mengairi dua kebun yang terletak di sisi kanan dan sisi kiri wilayah mereka,

yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Qatadah dan yang lain menggambarkan betapa subur dan makmurnya negeri Saba’, “Seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan memanggul keranjang di kepalanya untuk mewadahi buah-buahan yang berjatuhan, maka keranjang itu penuh tanpa harus susah payah memanjat atau memetiknya.” Buah-buahan yang ada juga digambarkan dengan segala sifat kelezatan dan istimewa dibandingkan dengan buah-buahan yang ada di dunia. Begitulah ’baldatun thayyibatun’ bernama Saba’, yang sempat diimpikan masyarakat dan didongengkan para tokoh negeri ini.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sekarang, slogan negeri yang baik itupun nyaris tak terdengar. Mungkin kurang percaya diri, atau malu untuk mengungkapkannya. Karena realita makin jauh dari impian. Harapan itupun seakan kandas sebelum mendekati titik yang diharapkan. Seakan potensi alam kita menjelma menjadi musuh dan dari arah itulah bencana dan musibah datang bergantian. Mengingatkan kita akan kondisi kaum Saba’ ketika mereka merubah syukur dengan kufur, maka dalam sekejap Allah menggantikan ni’mah (nikmat) dengan niqmah (bencana). Hujan lebat tiada henti, bendunganpun jebol dan terjadilah banjir besar. Firman Allah,

”Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS. Saba’:16)

Berubahlah keadaan secara ekstrim, tak ada lagi rasa aman, tikus-tikus menggerogoti bendungan seperti yang disebutkan Ibnu Katsier. Tak ada lagi yang tumbuh selain pepohonan atau buah yang mereka tidak membutuhkannya atau tidak bisa memanfaatkannya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sungguh, dijadikannya Kaum Saba’ sebagai permisalan, agar kita mengambil pelajaran. Karena pada beberapa bagian, antara kita dan mereka ada kemiripan. Kemiripan dalam hal potensi alamnya yang subur, sekaligus kemiripan dari sisi musibah yang menimpa. Selayaknya kita berkaca diri, adakah kesamaan sebab antara Saba’ dan negeri kita, hingga kita juga mengalami bencana serupa?

Mungkin kita tak mau dipersalahkan, atau sebagian malah menganggap bahwa menghubungkan antara dosa dengan musibah hanyalah wujud simplifikasi (menggampangkan) masalah, atau bahkan dianggap tidak empati terhadap para korban bencana. Padahal, mengkaitkan bencana dengan dosa tidak berarti menuduh korban bencana itu menjadi biangnya dosa. Boleh jadi orang yang tidak terkena musibah juga turut andil dalam mengundang datangnya musibah. Baik dengan menyebarluaskan dosa, atau sekedar meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena kita ibarat penumpang dalam satu kapal, jika kita biarkan sebagian penumpang melobangi kapal untuk mendapatkan air, maka tatkala kapal tenggelam, tentu tidak hanya menimpa mereka yang melobangi kapal saja.

Meski telah kenyang dengan musibah dan kekhawatiran yang bertubi-tubi, Allah masih memberikan peluang kepada kita untuk bangkit. Menuju baldatun thayyibatun, sekaligus wa Rabbun ghafuur. Kalimat Allah mengampuni, mengandung konsekuensi bahwa untuk mendapatkan situasi negeri yang baik, kita harus bersedia bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Dengan terlebih dahulu mengakui kesalahan, kesombongan dan kelancangan kita yang telah mencampakkan hukum dan aturan-aturan-Nya. Harus ada penyesalan, bertekad untuk tidak mengulangi maksiat lagi, dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup baik secara personal, maupun komunal. Gairah untuk mencegah kemungkaran harus pula digalakkan, karena tanpanya, bencana belum akan dicabut, meski doa terus dilantunkan, Nabi ﷺ bersabda,

 

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْلَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kamu mengajak yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan bencana atas kalian, kemudian kalian berdoa namun tidak dikabulkan.” (HR Tirmidzi, hadits hasan)

Rabbij’al haadza baladan aaminan, war zuq ahlahu minats tsamaraati man aamina minhum billah wal yaumil aakhir. Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, karuniakanlah penduduknya dengan buah-buahan, yakni mereka yang beriman kepada ALlah dan hari akhir. Amien

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدَ لله الَّذِي أَنَارَ قُلُوْبَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ بِنُوْرِ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الْعَرَبِيِّ اْلأُمِّيِّنَ اَلَّذِي فَتَحَ اللهُبِهِ أَعْيُناً عُمْياً وَأَذَاناً صُمًّا وَقُلُوْبَاً غَلْفاً وَأَخْرَجَبِهِ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَي النُّوْرِ. صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ عَلَيْهِإِليَ يَوْمِ الْبَعْثِ وَ النُّشُوْرِ وَعَلَىآلِهِ الطَّيِّبِيْنَ اْلأَطْهَرِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَبْرَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إِلَي يَوْمِ الدِّيْنَ

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواصَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.اَللَّهُمَّاغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

 

Oleh: Majalah ar-risalah/Khutbah Jumat

 

Baca Juga Khutbah Lainnya:
Solusi Andalan Saat Sulit dan Terjepit, Hati Gersang Karena Iman Telah Usang, Keluarga, Fondasi Utama Kekuatan Umat

 

10 Nasihat Kepada Aktivis Muslim

Gerakan dakwah Islam akan kendur apabila tidak digawangi dengan aktifnya para partisipan dakwah yang bergerak beriringan menjalankannya. Dakwah bukanlah amalan ringan yang bisa dilakukan sesaat atau sepenggal waktu saja. Tapi ia adalah amalan berkepanjangan, yang imbasnya banyak yang tidak kuat memikulnya, ada yang bertolak ke belakang karena sulitnya, ada juga yang memilih berhenti karena sepinya teman dalam melakukannya.

Olehnya, bagi para aktivis muslim untuk selalu memompakan semangat pada dirinya; bisa dengan memperhatikan nasihat kebaikan lalu mengenyam dan mengamalkannya.

Berikut sepuluh nasihat dari Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al-Jalil kepada para Aktivis Muslim,

  1. Memohon Hidayah Agar Ditunjukkan Kepada Kebenaran

Nabi lbrahim berdoa,

“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku temasuk orang yang sesat…(QS. Al-An’am: 77)

  1. Hindari Hawa Nafsu dan Kepentingan Pribadi

lbnu Qayim al-Jauziyah berkata, “ada fanatisme kepada Allah dan fanatisme kepada hawa nafsu. Fanatisme pertama akan berkobar kettka mementingkan Allah dan perintah-Nya sementara fanatisme yang kedua dikobarkan oleh segala Upaya memenangkan nafsu dan emosi yang muncul lantaran keinginannya tidak terturuti.” (ar-Ruh)

  1. Berprasangka Baik Kepada Allah

Dengan terus berprasangka baik kepada Allah hati menjadi tenang dan terproteksi dari gangguan setan.

  1. Membekali Diri Dengan Ilmu Syar’i

Golongan yang salah memilih jalan kebenaran umumnya dari kalangan orang-orang yang tak berilmu. Baik ilmu agama maupun ilmu tentang realitas.

  1. Verifikasi Berita

Salah satu factor penyumbang masalah umat adalah terlalu mudah menyebar berita tanpa memverivikasi kebenarannya.

  1. Empati dan Musyawarah

Empati dengan penderitaan saudara sesame muslim, sebagai bentuk kepeduliaan dan tanggung jawab kita. Sedangkan musyawarah sebagai jalan untuk menemukan dan menentukan pilihan dan tindakan yang benar.

  1. Menyelesaikan Masalah Yang Dihadapi

Muadz bln Jabal berkata, “Janganlah kamu tergesa membicarakan suatu masalah yang belum terjadi. Jika kamu tidak tergesa-gesa membicarakan masalah itu ketika masalah itu terjadi akan ada orang yang diberi taufik dan benar jika dia berbicara.

  1. Bersatu dan Menghindari Perpecahan

Ibarat domba yang terpisah dari rombongannya, ia akan mudah diterkam serigala dan binatang buas lainnya. Tapi, saat ia bergerombol dengan domba-domba lainnya, serigala pun akan berpikir ulang ketika ingin memangsanya.

Rasulullah bersabda, “Berjamaah itu rahmat dan berpecah belah itu adzab.” (HR. Ahmad)

  1. Bertakwa dan Beramal Shalih

Rasulullah bersabda, “Jagalah Allah, Allah kan menjagamu. Jagalah Allah kamu akan dapatkan Dia mengawasimu. Kenalilah Allah dalam suka Dia akan mengenalimu dalam duka.”

  1. Mewaspadai Makar Orang-Orang Munafik

Orang munafik ibarat musuh dalam selimut. Seakan memberikan bunga, tapi ternyata dilumuri dengan racun. Itulah mereka, yang hendaknya kita hindari.

Allah berfirman kepada Nabi, “Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah kepada mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. At-tahrlm: 9)

 

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Biah

Muslimah dalam Perjalanan Hijrah

Hijrah itu berat, baik secara lahiriya maupun batiniyah. Karena hijrah membutuhkan keberanian dan kesiapan mental luar biasa. Meninggalkan kenyamanan dan tempat yang sudah bertahun-tahun jelas bukan perkara mudah. Ada banyak konsekuensi yang harus dihadapi dari aktivitas ini.

Namun, hijrah tetaplah sebuah syariat yang mesti dijalani. Ia bahkan tak hanya wajib dilakukan oleh para lelaki yang secara fisik lebih kuat, namun juga bagi para muslimah. Dalam surat mumtahanah Allah memerintahkan kaum muslimah untuk berhijrah dengan sebenar-benarnya. Bahkan, mereka harus berpisah dari suami-suami mereka yang masih kafir.

 

Muslimah dalam Perjalanan Hijrah Nabi

Hijrah nabi tak lepas dari peran serta muslimah. Di sana ada Asma bintu Abu Bakar. Ia dikenal dengan dzatu nitaqain pun karena peristiwa hijrah.

Saat Rasulullah dan Abu Bakar di gua Tsur itulah saat-saat pengorbanan Asma’ binti Abu Bakar. Ia yang tengah hamil mendapatkan amanah untuk mengirimkan makanan ke sana. Pekerjaan ini bukan pekerjaan mudah. Selain jaraknya yang cukup jauh, bisa saja ia mati terbunuh ketika bertemu dengan orang kafir. Tetapi itu semua tak menghalanginya untuk ikut ambil bagian dalam amal islami tersebut. Saat membawakan bekal untuk Rasulullah itulah ia tidak punya tali untuk mengangkut makanan maka ia membelah selendangnya. Satu bagian untuk membebat perutnya dan satu bagian untuk mengikat makanan tersebut.

 

Muslimah Muhajirah

Namanya Asma binti Umais. Ia merupakan salah satu muhajirah pertama. Ia telah masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Arqam. Beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu ja`far bin Abi Thalib menuju Habasyah. Di sana ia melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah maka hampir-hampir Asma’ terbang karena girangnya, inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum Muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.

Baca Juga: Kabar Gembira Untuk Para Wanita

Begitulah, Asma ‘ keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negri Habasyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan dan membawa kemenangan, takbirpun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum Muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habsyah.

Ja`far bin Abi Thalib datang disambut oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan gembira kemudian beliau cium dahinya seraya bersabda :

“Demi Allah aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, kemenangan khaibar ataukah kedatangan Ja`far.”

Asma’ masuk ke dalam rumah Hafshah binti Umar tatkala Nabi menikahinya, tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafshah sedangkan Asma’ berada di sisinya, lalu beliau bertanya kepada Hafshah, ‘Siapakah wanita ini?” Hafshah menjawab, “Dia adalah Asma’ binti Umais? Umar bertanya, inikah wanita yang datang dari negeri Habasyah di seberang lautan?’ Asma menjawab, “Benar.” Umar berkata; ‘Kami telah mendahului kalian untuk berhijrah bersama Rasul, maka kami lebih berhak terhadap diri Rasulullah dari pada kalian. “Mendengar hal itu Asma’ marah dan tidak kuasa membendung gejolak jiwanya sehingga beliau berkata: “Tidak demi Allah, kalian bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau memberi makan bagi yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh diantara kalian, adapun kami di suatu negeri atau di bumi yang jauh dan tidak disukai yakni Habasyah, dan semua itu adalah demi keta`atan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Asma’ diam sejenak selanjutnya berkata: “Demi Allah aku tidak makan dan tidak minum sehingga aku laporkan hal itu kepada Rasulullah, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga akan aku sampaikan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah.”

Tatakala Rasulullah datang, ia berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah sesungguhnya Umar berkata begini dan begini.” Rasulullah bersabda kepada Asma`, “Tiada seorangpun yang berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali.”

 

Air Minum untuk Muhajirah

Ummu Aiman radhiallahu ‘anha, adalah seorang wanita yang mulia. Dari rahimnya telah lahir orang-orang mulia. Ia adalah seorang wanita yang mendapatkan kemuliaan dua hijrah, ke bumi Habasyah dan ke bumi Madinah. Suatu ketika dalam salah satu perjalanan hijrahnya, Ummu Aiman menempuhnya dengan berpuasa. Tiba saat berbuka, tak ada bekal air yang dapat digunakan untuk melepaskan dahaganya yang sangat. Tiba-tiba didapatinya setimba air terulur dari langit dengan tali timba yang berwarna putih. Ummu Aiman  pun meminumnya.

Baca Juga: Taubat Yang Batal & Hijrah Yang Gagal

Ummu Aiman menuturkan, “Sejak itu, aku berpuasa di siang yang panas dan berjalan di bawah terik matahari agar aku merasa haus, namun aku tidak pernah merasakan dahaga.”

Hijrahnya ke Madinah ditempuhnya selang beberapa waktu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhuma dengan berbekal dua ekor unta dan 500 dirham untuk membawa dua putri beliau, Fathimah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma, serta Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha. Pada saat itu pulalah Ummu Aiman bersama putranya, Usamah bin Zaid, bertolak menuju Madinah bersama rombongan ini.

 

Oleh: Redaksi/Wanita/Motivasi

 

Taubat Adalah Obat yang Khasiatnya Bertingkat-tingkat

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat seorang hamba ketika dia bertaubat dari (bahagianya) seorang diantara kalian, yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang pasir yang luas. Tiba-tiba hewan tunggangannya itu hilang darinya. Padahal disana ada perbekalan makan dan minumannya. Hingga ia putus asa. Lalu ia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Sungguh ia telah putus asa dapat kembali menemukan hewan tunggangannya. Kemudian dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangan itu sudah berada di sisinya. Maka ia segera meraih tali kekangnya seraya berkata karena sangat bahagianya, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.” Ia keliru bicara karena saking bahagia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah menegaskan kecintaannya kepada para hamba-Nya yang bertaubat dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-baqarah: 222)

Karena kecintaan-Nya maka Allah mengampuni seluruh dosa yang telah lalu. Pun begitu, taubat adalah obat bagi dosa. Khasiatnya bertingkat-tingkat sesuai kondisi.

Ada obat yang tidak menyembuhkan, baik karena obatnya yang abal-abal atau tidak sesuai dengan penyakit yang diderita. Begitupun dengan taubat yang tidak diterima, karena taubatnya abal-abal atau pura-pura. Memohon ampunan namun tak ada sesal dan tak pula berhenti mengerjakannya. Atau seseorang yang bertaubat setelah nyawa di tenggorokan.

Ada pula obat yang hanya mengurangi penyakit. Seperti orang yang berobat, namun tidak konsisten dengan seluruh aturan pengobatan. Berobat tapi masih juga mengkonsumsi sebagian pantangan.

Seperti orang yang bertaubat, atau bahkan masuk Islam dari kekafiran, namun tidak seluruh dosa-dosa dia tinggalkan.

Baca Juga: Dua Ayat Penyebab Taubat Seorang Begal

Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah! Apakah kami akan dihukum karena perbuatan yang telah kami lakukan semasa Jahiliyah?” Beliau ﷺ menjawab:

أَمَّا مَنْ أَحْسَنَ مِنْكُمْ فِي الْإِسْلَامِ فَلَا يُؤَاخَذُ بِهَا وَمَنْ أَسَاءَ أُخِذَ بِعَمَلِهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالْإِسْلَامِ

“Barangsiapa di antara kamu yang berbuat baik setelah Islam, maka dia tidak akan dikenakan hukuman karena perbuatannya di masa Jahiliyah. Tetapi barangsiapa yang berbuat kejahatan, maka dia akan dihukum karena perbuatannya di masa Jahiliyah maupun Islam.” (HR. Muslim)

Adapun tingkatan berikutnya adalah taubat yang mampu menghapus seluruh dosa yang telah lalu. Ini seperti obat yang menyembuhkan secara total. Karena obatnya mencocoki dan dikonsumsi dengan dosis yang pas.

Yakni taubat yang memenuhi syarat-syaratnya; berhenti dari dosa, menyesal atas dosanya, bertekad untuk tidak mengulanginya, beristighfar kepada Allah dan mengembalikan hak sesama jika berhubungan dengan manusia. Itulah syarat taubat yang dijelaskan para ulama yang disimpulkan dari nash-nash yang ada.

[bs-quote quote=”Yakni taubat yang memenuhi syarat-syaratnya; berhenti dari dosa, menyesal atas dosanya, bertekad untuk tidak mengulanginya, beristighfar kepada Allah dan mengembalikan hak sesama jika berhubungan dengan manusia. Itulah syarat taubat yang dijelaskan para ulama yang disimpulkan dari nash-nash yang ada.” style=”style-4″ align=”left” color=”#1e73be”][/bs-quote]

Ini adalah bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah menganggap orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak pernah melakukan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
“Orang yang telah bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.” [HR. Ibnu Majah]

Lalu apakah kemudian hitungan bagi orang yang bertaubat dimulai dari nol?

Amru bin Ash radhiyallahu anhu bercerita, “Pada saat Allah menganugerahkan hidayah Islam di hatiku, aku mendatangi Rasulullah ﷺ.

Aku mengatakan, ‘ulurkanlah tangan Anda, aku ingun membaiat Anda (masuk Islam). Rasulullah pun mengulurkan tangan kanannya kepadaku. Lalu mendadak kutahan tanganku hingga Rasulullah bertanya, ‘Ada apa wahai Amru?”

Kujawab, “Saya ingin mengajukan syarat.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Syarat apa yang kamu minta?” Aku menjawab, “Agar dosa-dosaku diampuni.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidakkah engkau tahu, bahwa keislaman menghapuskan dosa-dosa sebelumnya? Demikian juga hijrah menghapus kesalahan-kesalahan yang telah lalu?” (HR. Muslim)

Namun tidak cukup di sini anugerah Allah bagi orang yang bertaubat. Bisa jadi seseorang yang bertaubat telah memiliki berbagai jenis kebaikan yang pernah ia lakukan. Sehingga seorang berandai jika berbuat baik di masa lalu itu bisa bernilai sebagai amal yang dikakukan di masa Islam atau setelah taubatnya.

Ini seperti yang dirasakan oleh Hakim bin Hizam, keponakan Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha. Meski dekat dengan Nabi sejak kecilnya, dan dikenal baik perilakunya, namun 20 tahun setelah kenabian beliau baru menyatakan keislamannya. Ia pun gelisah dan menyesal kenapa tertinggal. Hingga beliau bertanya perihal kebaikan-kebaikannya di masa jahiliyah dahulu, adakah pahala baginya. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Keislamanmu turut mengislamkan pula kebaikan yang telah engkau lakukan (sebelumnya).” (HR. Bukhari)

Artinya bahwa taubat seperti ini tak hanya menjadikan seseorang memulai dari nol dosa, namun langsung membawa poin pahala atas suatu kebaikan yang pernah dilakukan sebelum taubatnya. Siapa lagi yang lebih pemurah daripada Allah.

Baca Juga: Taubat Yang Batal & Hijrah Yang Gagal

Masih ada lagi taubat yang membawa khasiat lebih dahsyat, seperti obat yang tak hanya menyembuhkan dari penyakit, namun juga memperbaiki stamina dan imunitas setelah sembuh dari sakitnya.

Ada taubat yang mengubah keburukan dan dosa di masa lalu menjadi kebaikan dan pahala. Sesuatu yang diawal masuk ditimbangan keburukan, dipindah posisinya ke timbangan kebaikan, Allahu Akbar. Siapa mereka? Allah berfirman,

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan: 70)

 Mereka tidak hanya berhenti dari dosa lalu berdiam, akan tetapi dia menggantikan aktivitas keburukan dengan perilaku kebaikan. Sehingga ia mendapatkan pahala kebaikan sekaligus memindah posisi keburukan di masa lalu menjadi kebaikan yang berpahala. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi

Bijak Mengelola Harta ala Istri Shalihah

[bs-quote quote=”“Kini, kau tlah jadi milikku dan aku telah menjadi milikmu. Semoga jiwa dan raga kita menyatu selamanya dalam cinta di bawah naungan-Nya…”.” style=”style-4″ align=”left” color=”#2677bf”][/bs-quote]

Sah-sah saja mengungkapkan kalimat mesra di samping setelah ijab-qobul dinyatakan. Setelah menikah, istri memang menjadi milik suami, begitupun sebaliknya. Keduanya disatukan oleh sebuah ikatan yang kuat, mitsaqan ghalidza. Sebuah ikatan yang menghalalkan jiwa dan raga masing-masing untuk pasangannya.

Cinta, kasih dan perhatian harus menyatu untuk menyongsong masa depan. Hanya saja, ikatan nikah bukanlah akad yang melebur hak kepemilikan atas suatu harta. MOU dalam nikah hanya mengikat suami untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri serta mu’asyarah bil ma’ruf, dan istri menaati suami dalam hal yang ma’ruf. Artinya, status kepemilikan harta masing-masing tidak lantas sama sekali melebur; milikku jadi milikkmu dan milikmu jadi milikku. Perpindahan tangan atas hak milik suatu harta disyaratkan adanya kerelaan dari pemiliknya atau ketentuan lain.

Allah berfirman;

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آَتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka.” (QS. al Baqarah: 229)

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Jika mereka (istri-istri kamu) menyerahkan dengan penuh kerelaan sebagian mas kawin mereka kepadamu, maka terimalah pemberian tersebut sebagai harta yang sedap dan baik akibatnya.” (QS. an Nisa’: 4).

Ayat ini menegaskan bahwa istri berhak atas hartanya sendiri. Dalam ayat ini, harta tersebut berupa mahar yang diterimanya dari suami. Harta mahar itu mutlak menjadi miliknya. Demikian pula harta yang ia terima sebagai nafkah dari suami, atau harta warisan dari orangtuanya, atau ia peroleh dari bekerja.

Syaikh asy -Syinqithi menjelaskan bahwa harta wanita adalah miliknya pribadi. Ia berhak mengelolanya sesuai keinginan. Suami tidak berhak turut campur apalagi mengambil paksa. Sebab ada beberapa kasus, suami mengambil paksa semua harta istri yang diperoleh dari usahanya. Ini jika istri mampu mengelola hartanya dengan benar; tidak boros dan dihambur-hamburkan. Adapun jika istri tidak rasyidah (bijak) dalam mengelola hartanya, suami berhak ikut mengendalikan. Dasarnya adalah ayat 4 surat an nisa’. (Syarhul Mustaqni’ li Syinqithi VII/311).

Pun demikian pula harta suami. Selain harta yang diberikan kepada istri sebagai nafkah, hak milik suatu benda yang dibeli suami tetap menjadi miliknya. Istri tidak berhak mengambil alih hak kepemilikannya tanpa seijin suami. Kecuali jika suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, barulah istri berhak mengambilnya, bahkan meski dengan cara mengambil diam-diam. Seperti istri Abu Sufyan yang sampai harus mencuri harta suaminya karena saking pelitnya sang suami, pada saat itu, untuk mencukupi kebutuhannya. Disebutkan dalam hadits;

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ ، فَهَلْ عَلَىَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ « خُذِى أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Hindun Ibu Muawiyah berkata kepada Rasulullah, “Abu Sufyan itu orangnya sangat pelit. Bolehkah saya mengambil hartanya diam-diam? “ Rasulullah bersabda, “ Ambillah yang bisa mencukupimu dan anak-anakmu dengan ma’ruf.” (HR. Bukhari)

(Ma’ruf artinya kadar harta yang diambil cukup untuk menutupi kebutuhan menurut standar umumnya orang).

Jadi, istri berhak atas hartanya, suami juga berhak atas segala yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hak harta ini sangat diperlukan agar jangan sampai terjadi kezhaliman. Misalnya suami menganggap bahwa harta istrinya adalah miliknya. Ia pun mengambil dan menggunakannya tanpa ijin tanpa memedulikan isteirnya. Menurut Syaikh asy-Syinqiti dalam lanjutan keterangan ayat di atas, perbuatan suami tersebut termasuk “aklu amwalin nas bil bathil” memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Atau sebaliknya, merasa sudah mendapat ijin dari Rasulullah, istri seenaknya saja menggunakan dan mengakuisisi harta suami, padahal semua kebutuhannya telah dicukupi. Semua ini dilarang. Namun begitu, jika suami atau istri ‘mencuri’ harta dari istri atau suaminya, tidak lantas dikenai had potong tangan meskipun jumlahnya mencapai nishab had.

Oleh karenanya, idealnya memang harus ada pembagian yang jelas antara nafkah untuk istri pribadi, hal mana harta tersebut akan menjadi miliknya, dengan anggaran untuk kebutuhan keluarga. Fungsinya agar istri benar-benar nyaman ketika hendak menggunakan suatu harta untuk keperluan pribadinya. Misalnya memberi uang saku untuk anak saudaranya atau bersedekah. Bukankah wanita disuruh banyak-banyak sedekah? Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai para wanita, bersedekahlah karena aku lihat kalian menjadi mayoritas penduduk neraka.” (HR. Bukhari )

Jadi, para istri berhak meminta nafkah kepada suami dan menggunakannya sesuai keinginannya dengan baik. Kalaupun toh pada akhirnya uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ya, memang seperti itulah yang dianjurkan. Bukankah orang yang paling berhak menerima sedekah seorang istri adalah suami dan anak-anaknya?

Dalam lanjutan hadits di atas dikisahkan bahwa setelah bersabda demikian, Zainab, istri Ibnu Mas’ud menemui rasulullah dan berkata, “ Wahai Nabi Allah, hari ini Engkau memerintahkan sedekah, saya punya perhiasan dan saya ingin menyedekahkannya. Tapi Ibnu Mas’ud mengklaim bahwa Dia dan anak-anaknyalah yang paling berhak atas sedekah saya.” Rasulullah bersabda, “ Ibnu Mas’ud benar. Suamimu dan anak-anakmu adalah orang yang peling berhak menerima sedekahmu.”

Jadi meskipun harta tersebut kembali lagi untuk keluarga, para istri bisa mendapat pahala sedekah. Benefitnya jadi berlipat; kebutuhan keluarga tercukupi, istri mendapat pahala sedekah dari Allah. Wallahua’lam.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Keluarga

 

Sa’ad bin Mu’adz, Kematiannya Menggetarkan ‘Arsy Ar-Rahman

Perang Badar menjelang. Rasulullah ﷺ dihadapkan pada pilihan harus menghadapi seribu pasukan kafir Quraisy, sementara jumlah pasukan kaum muslimin hanya sekitar tiga ratus orang. Beliaupun meminta pendapat para sahabat. Para pimpinan Muhajirin menyatakan siap menghadapi peperangan sampai titik darah penghabisan. Sedangkan para sahabat Anshar yang merupakan mayoritas peserta pasukan belum memberi pandangan. Beliapun meminta pendapat mereka.

Pemimpin pasukan Anshar yang tidak lain adalah Sa’ad bin Mu’adz dengan mantap berkata, “Kami sudah beriman dan membenarkan anda. Kami bersaksi bahwa apa yang anda bawa adalah kebenaran. Kami telah bersumpah dan berjanji untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang anda kehendaki. Demi Dzat Yang mengutus anda dengan kebenaran, andaikata anda berjalan bersama kami lalu terhalang lautan dan anda menghendaki untuk terjun, maka kami pun akan terjun pula bersama anda. Tak seorangpun yang akan mundur diantara kami. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepada anda apa yang menyenangkan anda. Maka majulah bersama kami dengan barokah Allah.”

Jaminan Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu melegakan hati Rasulullah ﷺ. Dan pasukan Islam itu pun bertekad untuk menghadapi musuh meskipun jumlah dan kekuatan tidak berimbang. Akhirnya, peperangan tersebut disudahi dengan kemenangan gemilang kaum muslimin.

Musuh-musuh Islam tak pernah berhenti dari keinginan menumpas gerakan Islam. Kali ini mereka bersekutu untuk mengadakan penyerangan habis-habisan ke Madinah. Pasukan gabungan yang dimotori kaum Quraisy dan dibantu kaum Yahudi yang telah bersekongkol dan mengompori para kabilah Arab untuk menyerang Rasulullah, telah bergabung dalam jumlah besar, sekitar sepuluh ribu orang. Melebihi jumlah penduduk Madinah saat itu.

Sebelum musuh masuk, kaum muslimin pun bersiasat membuat parit, sehingga pertempuran itu disebut perang  Khandaq. Akibatnya pasukan musyrik tidak bisa masuk. Mereka hanya menyerang dari jarak jauh dengan lemparan panah dan tombak. Saat berjaga, sebuah anak panah melesat dan berhasil memutuskan urat lengan pemimpin Anshar, Sa’ad bin Mu’adz. Darah segar pun mengucur dari tangan beliau. Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu kemudian berdoa, ” Ya Allah, jika Engkau masih menyisakan peperangan dengan kaum Quraisy, maka berikanlah sisa kehidupan kepadaku. Sesungguhnya tidak ada yang lebih saya inginkan selain berjihad memerangi satu kaum yang telah menyakiti, mendustakan dan mengusir Rasul-Mu. Jika memang Engkau telah menyelesaikan peperangan antara kami dan mereka maka jadikanlah luka ini sebagai pintu syahidku. Dan Janganlah Engkau matikan diriku sampai aku merasa senang dengan apa yang terjadi pada bani Quraidhah.”

Doa lelaki shalih itupun terkabul. Darah di urat tangannya mulai terhenti. Meskipun akhirnya beliau harus menjalani perawatan di kemah perawat Islam, Rufaidah. Rasulullah ﷺ pun memerintahkan agar kemah perawatan Sa’ad diletakkan di masjid agar beliau bisa sering menjenguknya.

Setelah Allah hinakan pasukan gabungan dengan kegagalan menguasai Madinah dan mereka pulang dengan tangan hampa, tiba saatnya untuk memberesi para pengkhianat. Bani Quraidhah, salah satu kelompok Yahudi yang tinggal di Madinah telah bersekongkol dengan pasukan musuh untuk membantu menghancurkan kaum muslimin. Padahal sebelumnya mereka terikat perjanjian damai dengan Rasulullah ﷺ. Rasulullah pun kemudian mengepung mereka sampai mereka menyerah, dengan syarat yang menjatuhkan hukuman adalah Sa’ad bin Mu’adz. Mereka memilih Sa’ad bin Mu’adz karena sebelumnya telah terjadi pertemanan yang baik dengannya.

Rasulullah ﷺ pun mendatangkan Sa’ad bin Mu’adz ke bani Quraidhah. Sesampai di sana, kaumnya mengingatkan beliau agar jangan memberi hukuman terlalu berat karena bani Quraidhah sejak jaman dahulu adalah sekutu mereka. Dengan tegas beliau berkata, “Tibalah saatnya untuk tidak takut lagi di jalan Allah dengan celaan orang-orang yang suka mencela.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Berilah hukuman pada mereka.” Beliau berkata, “Saya memberi putusan pada mereka, hendaknya para lelakinya dibunuh, sedangkan para wanita dan anak-anak menjadi tawanan, dan harta bendanya dibagi sebagai ghanimah.” Beliau ﷺ menimpali putusan Sa’ad, “Engkau telah menghukumi mereka sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.”

Beberapa hari kemudian luka Sa’ad memecah sehingga darah banyak keluar dari tangannya. Pada saat kritis tersebut Rasulullah ﷺ memangku kepalanya dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan telah melaksanakan kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baik cara Engkau menerima ruh.”

Dengan susah payah, di akhir hayatnya Sa’ad pun berkata, “Semoga keselamatan bagimu wahai Rasulullah, saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.” Kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Abu Bakar dan umar Radhiyallahu ‘anhuma yang juga berada di situ tak kuasa menahan tangis haru dan kesedihan atas kematian salah seorang pemimpin Anshar tersebut.

Saat kaum muslimin mengangkat jasad Sa’ad bin Mu’adz terjadi keanehan. Mereka merasa sangat ringan sekali padahal tubuh Sa’ad tinggi besar. Beliau ﷺ bersabda, “Tidak ada yang membuat tubuhnya ringan kecuali karena telah turun para malaikat dalam jumlah banyak, mereka belum pernah turun sebelumnya. Dan mereka ikut mengangkatnya bersama kalian.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Inilah lelaki shalih yang kematiannya membuat Arsy bergoncang karena gembira dengannya, dibukakan pintu-pintu langit baginya, dan ada tujuh puluh ribu malaikat yang menyaksikannya yang sebelumnya mereka belum pernah turun ke bumi.”

Ya, lelaki shalih tersebut telah meninggalkan dunia di usianya yang ke tiga puluh tujuh. Beliau telah berhasil mengukir sejarah kehidupannya dalam jihad dan pengorbanan untuk tegaknya Islam. Semoga kita tidak terhalangi untuk mengikuti jejak lelaki shalih tersebut. Amin. (Maraji’: Siyar A’lamin Nubala’, Asadul Ghabah, Shifatu Shafwah, Rakhikul Makhtum).

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

 

Diyatsah, Matinya Kecemburuan dan Lumpuhnya Kepekaan Terhadap Islam

Manusia memiliki fitrah, yaitu tabiat dasar yang cenderung pada kebaikan. Merasa malu, hidup bersosial, suka kebersihan, ingin memiliki keturunan, adalah beberapa contohnya. Islam datang membimbing manusia agar tetap berada pada fitrah sucinya dan membawanya menuju kebaikan yang sempurna.

Salah satu fitrah manusia adalah memiliki rasa cemburu. Dalam bahasa Arab disebut ghirah. Ghirah adalah ketidaksukaan hati pada orang yang dipandang merebut hak dan sesuatu yang dimiliki. Istilah ini identik pada hubungan lelaki dan wanita, yaitu saat mana salah satu dari keduanya merasa bahwa ada pihak ketiga yang berusaha menggoda atau bahkan merebut pasangannya. Ghirah sangatlah manusiawi. Oleh karenanya, dalam Islam rasa cemburu tidak dikekang, hanya dibatasi agar tidak berlebihan.

Rasa ini justru dijaga dan dipelihara karena merupakan pilar penjaga hubungan bahkan penanda cinta yang paling transparan. Baca saja hadits-hadits yang mengisahkan kecemburuan istri-istri Nabi dan respon bijak nan lemah lembut Beliau kepada para isterinya yang tengah cemburu. Aisyah bahkan pernah memukul gelas yang dibawa oleh seorang budak wanita karena cemburu sampai pecah berkeping. Luar biasanya, respon Nabi tak lebih dari memunguti pecahan sembari menenangkan sang budak wanita dengan berkata, “Ibunda kalian sedang cemburu.” Itu saja. Tidak ada hardikan atas kecemburuan Aisyah.

Baca Juga: Ghirah, Cemburu Karena Allah

Bahkan tidak hanya manusia saja yang cemburu, ternyata dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah pun cemburu. Cemburunya Allah adalah ketika hamba yang beriman: orang-orang yang menyatakan diri cinta kepada-Nya, dan Allah pun cinta pada mereka, melakukan kemaksiatan. Allah cemburu karena maksiat adalah kosongnya hati dari Allah dan terisi oleh nafsu dan bisikan setan hingga lebih menuruti keduanya daripada syariat-Nya.

Jadi, cemburu atau ghirah memang baik asal proporsional. Sebaliknya, hilangnya rasa cemburu adalah petaka. Dalam bahasa Arab musnahnya rasa cemburu disebut diyatsah. Pelakunya disebut Dayuts. Dayuts adalah orang yang tak lagi cemburu pada pasangan atau pada apapun yang dilakukan orang pada pasangannya. Dan diyatsah adalah tanda paling kentara dari musnahnya rasa cinta. Hilangnya rasa cinta bukan ditandai dengan benci, tapi dengan tidak lagi peduli. Berapa banyak orang membenci namun masih menyisakan ruang untuk cinta di hati. Namun, jika sudah tak peduli, hati telah tertutup dan telinga ta mau lagi mendegar apapun yang terjadi. Inilah klimaks dari kosongnya cinta.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ

Dari Salim bin Abdullah (bin Umar), dari bapaknya, dia (Abdullah) berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiga orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sudi melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayuts.” (HR. Ahmad)

Lihatlah, balasan bagi dayuts adalah Allah tidak peduli padanya bahkan memadang pun tak sudi. Persis sama dan setimpal dengan ketidakpeduliannya pada orang atau sesuatu yang seharusnya dia pedulikan. Lantas bagaimanakah orang yang sudah tidak lagi dipedulikan oleh Allah? Wal iyadzu billah. Semoga kita dijauhkan dari tiga dosa dalam hadits ini.

 

Diyatsah yang Mengerikan

Pada tataran praktik,diyatsah memang mengerikan. Rasa cemburu yang harusnya ada pada seseorang yang memang seharusnya dicemburui, musnah sama sekali dari hati. Suami tak lagi cemburu melihat istrinya bersama orang lain, atau sebaliknya. Apa yang tersisa dari cinta dan hubungan jika seperti ini? Kasus paling parah, dikisahkan dalam sebuah berita bahwa ada isteri yang rela bahkan membiarkan suaminya berzina dengan pelacur asal tidak nikah lagi atau menceraikan dirinya. Naudzubillah min dzalik.

Seorang ayah tak cemburu saat anaknya digoda atau bahkan dipermainkan laki-laki yang entah bakal jadi suaminya atau tidak. Atau seorang saudara tak ambil pusing manakala saudari atau bahkan ibunya sendiri, diganggu dan diseret ke dalam maksiat oleh orang tak bertanggung jawab. Subhanallah, akan seperti apa sebuah hubungan tanpa kecemburuan? akan seperti apa keluarga jika penanggungjawabnya sudah tak lagi peduli?

 

Skala Lebih Luas

Diyasath akan lebih mengerikan jika diseret pada skala yang lebih luas dari hubungan suami isteri dan keluarga, menuju hubungan antar mukmin kepada mukmin lain dan hubungan mukmin dengan agamanya.

Cemburunya seorang mukmin kepada saudaranya adalah rasa tidak rela saat saudaranya dihina, dizhalimi apalagi ditindas. Kecemburan ini muncul dari rasa cinta kepada sesama mukmin. Cinta melahirkan cemburu, cemburu menggerakkan jiwa dan raga untuk melakukan pembelaan. Bagaimana jika rasa ini mati?

Saat rasa cemburu mati dan diyatsah menggantikan posisinya di hati, kepedulian akan sirna. Seperti apapun derita yang menimpa saudara mukmin, hati tidak lagi peka. Diyatsah seperti kaca pembatas hati yang telah buram dan tebal hingga menghalangi suara. Sebenarnya masih bisa terlihat, namun karena tidak jelas, apa yang tampak tak mengundang perhatian. Sebenarnya masih terdengar, namun jeritan hanya terdengar seperti teriakan kecil hingga hati pun tak terpanggil.

Saat rasa cemburu mati dan diyatsah menggantikan posisinya di hati, kepedulian akan sirna. Seperti apapun derita yang menimpa saudara mukmin, hati tidak lagi peka.

Seperti apapun bombardir media menginformasikan bagaimana penderitaan saudara seiman di Palestina, Suriah, atau Rohingya, semuanya hanya disikapi dengan dingin. Dinding diyatsah dalam hati telah diblok stiker berbunyi, “Itu urusan bangsa dan negara lain, bukan urusan bangsa dan negaraku.” Atau slogan yang sepertinya indah nan bijaksana, namun sebenarnya menunjukkan matinya rasa cinta dan ukhuwah, yang berbunyi, “Kita harus netral dalam menyikapi apapun yang terjadi di negara lain.” Jika netral berarti diam, maka netral adalah bebal. Inti cinta dan ukhuwah bukanlah sekadar kata yang diucapkan atau senyum yang disunggingkan melainkan pembelaan dan keberpihakan.

Baca Juga: Taubat yang Batal dan Hijrah yang Gagal

Kasus pelecehan terhadap Islam, Syiar islam, kalimat tauhid, syariat dan al-Quran akan memunculkan banyak wajah-wajah dayuts. Oknum-oknum yang dianggap tokoh Islam namun ghirahnya kepada al-Quran malah layak dipertanyakan. “Allah Maha Kuat, tidak butuh dibela”, katanya. Kalimat yang benar tapi ditujukan pada konteks yang salah. Allah memang Maha Kuat, Allah juga tidak pernah butuh pada pembelaan siapapun. Namun, pembelaan umat Islam pada Allah dan syariat-nya bukan karena kasihan dan menganggap lemah tapi karena cinta dan kecemburuan. Kalimat itu justru menjadi penghinaan Bagi Dzat Yang Maha Kuasa.

 

Nahi Mungkar adalah Ekspresi Kasih Sayang

Nahi mungkar atau gerakan pemberantasan kemaksiatan juga lahir dari rahim cinta kepada Islam dan kecemburuan kepada sesama muslim. Seorang muslim tidak rela saudaranya dibelenggu setan dan dijerumuskan ke dalam kemaksiatan. Oleh karenanya, muslim lain pun berusaha memberantas semua sarana yang digunakan setan untuk menjebak seorang muslim. Sayangnya, kepekaan ini tidak dimiliki oleh dayuts. Dia justru menganggap nahi mungkar sebagai arogansi dan intoleransi, meski nahi mungkar sudah dilakukan dengan hati-hati. Wajar, hati dayuts memang tak pernah terusik oleh maksiat. Dalam pikirannya, biarlah manusia memilih apa yang diinginkan asal tidak terjadi konfrontasi.

Demikian juga yang terjadi saat peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kaum muslimin berbondong-bondong mengecam dan tidak mentolelir perbuatan tersebut karena telah merendahkan simbol islam dan kaum muslimin. Namun, sangat disayangkan ternyata banyak juga umat islam yang kecemburuannya sudah tumpul dan sudah tersemai benih dayuts dalam jiwanya, hingga ia mencari pembenaran dan pembelaan atas kasus tersebut. Wal iyadzubillah.

Bahkan saat merebaknya fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat, fitrah manusia bahkan norma masyarakat pun, para dayuts tetap bebal hatinya untuk bisa tergerak. Propaganda yang justru mampu merasuk dalam hati dan pikirnya adalah propaganda setan yang menyatakan bahwa LGBT adalah hak asasi setiap manusia yang tidak perlu diributkan. Dan dengan itu, dirinya merasa paling bijaksana. Adapun orang-orang yang dengan keras menentang, dicitrakan sebagai barbar yang intoleran, tidak memiliki kedewasaan berpikir dan kebijakan kultural, padahal semua itu adalah indikasi bahwa iman di hatinya telah mati. Penentangan orang-orang beriman adalah wujud hidupnya hati dan kasih sayang mereka serta ketidakrelaan mereka jika saudara-saudara mereka menjadi karib setan dan dimurkai Allah. Lantas siapakah di antara keduanya yang lebih pengasih, lebih toleran dan lebih bijaksana? Wal iyadzu billah wallahul musta’an. 

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Telaah

Khutbah Jumat: Belum Datangkah Saat Untuk Bertaubat?

Khutbah Jumat:

Belumkah Datangkah
Saat Bertaubat?

Oleh: Majalah ar-risalah

 

الْحَمْدُ للهِ الغَفُورِ التَّوَّابِ، يَقْبَلُ التَّوبَةَ مِمَّنْ تَابَ إِلَيْهِ وَأَنَابَ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَستَغْفِرُهُ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، دَعَا عِبَادَهُ إِلَى الإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالمَتَابِ، وَوَعَدَهُمْ عَلَى ذَلِكَ رِضْوَانَهُ وَحُسْنَ مَآبٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، كَانَ يَتُوبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَيَستَغْفِرُهُ بِلا عَدٍّ وَلا حِسَابٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنِ اتَّبَعَهُ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:113)1 

 

Jama’ah jum’at rahimakumullah

Menjadi kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, atas segala limpahan dan karunia yang tak terhingga. Sungguh, kenikmatan itu datang karena syukur, dan syukur itu akan mengundang hadirnya tambahan nikmat. Tambahan karunia dari Allah tak akan berhenti, kecuali jika hamba itu menghentikan syukurnya. Di antara ulama mengartikan syukur dengan tarkul ma’aashi, meninggalkan maksiat. Maka barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka dia telah menanggalkan syukurnya kepada Allah, sesuai dengan tingkat dosa yang dilakukannya. Namun, dengan kasih sayang Allah atas hamba-Nya, Dia memberikan kesempatan kepada setaip orang yang berdosa untuk bertaubat. Taubat yang sempurna tak hanya menghapus dosa, bahkan bisa jadi keadaan orang yang bertaubat lebih baik dari keadaannya sebelum berbuat dosa.

Jamaah jumat rahimakumullah

Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata, “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melampiaskan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَماَ نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلُ فَطاَلَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فاَسِقُوْنَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (QS. al-Hadid: 16).

Tatkala mendengarnya, tubuh beliau gemetar dan berkata, “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus!,” dan sebagian yang lain berkata, “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Fudhail menceritakan, “Kemudian aku merenung dan bergumam, “Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram.”

Ayat itulah yang menyadarkan seorang Fudhail bin ‘Iyadh dari kelalaian yang panjang. Hingga akhirnya beliau menjadi ulama senior di kalangan tabi’in, sekaligus dikenal sebagai ahli ibadah yang zuhud. Ayat itu pula yang menyadarkan Malik bin Dinar rahimahulah yang pada gilirannya beliau menjadi ulama terkemuka di zamannya.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Ayat ini menjadi teguran yang halus, sekaligus ‘menohok’ terhadap orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman. Halus, karena Allah menyentuh dengan sapaan “orang-orang yang beriman”, bukan orang-orang yang durhaka. Menohok, karena setiap orang yang merasa dirinya beriman pastilah terhenyak ketika menghayati ayat ini. Karena mereka akan menyadari, betapa tidak layaknya seseorang yang disifati sebagai orang beriman, namun hati dan perbuatannya tidak mencerminkan sebagai orang beriman. Yang terkadang masih menyepelekan dosa-dosa, menomorduakan perintah Allah dan rasul-Nya dan ditambah lagi merasa enjoy untuk berlama-lama dengan kondisi seperti itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنُ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ مِثْلَ ذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَذَبَّ عَنْهُ

“Sesungguhnya seorang muslim membayangkan dosa-dosanya seperti duduk di kaki gunung dan ia takut tertimpa olehnya. Sedangkan seorang yang fajir menganggap dosanya seperti lalat yang hinggap dihidungnya, lalu dikibasnya.” (HR. Tirmidzi)

Janganlah kita membatasi obyek seruan ayat ini hanya kepada orang yang mengaku Islam namun masih menjadi penjahat, pemabuk atau pezina. Atau seakan-akan kita telah bebas dari teguran ini.

Para sahabat yang demikian taat menganggap bahwa ayat ini sebagai teguran untuk mereka. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Jarak antara keislaman kami dengan teguran Allah pada ayat ini adalah 4 tahun.” Sementara Abdullah bin Abbas mengatakan, “Sesungguhnya Allah menganggap lambat hati orang-orang dalam merespon (ayat-ayat-Nya), lalu Allah menegur mereka setelah 13 tahun sejak diturunkan ayat!”, yakni teguran dengan ayat ini.

Jika demikian, tentulah kita lebih layak menjadi obyek dari teguran Allah dalam ayat ini. Memang kita telah banyak mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, juga membaca dan mempelajarinya, alhamdulillah. Namun jujur, kadang hati dan jasad belum juga khusyuk. Hati belum fokus dan konsen terhadap peringatan dari Allah, jasadpun belum menunjukkan ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah dan larangan-Nya.

Berapa kali kita membaca dan mendengar ayat-ayat perintah, tapi seberapa persenkah yang telah kita lakukan? Dan segigih apakah kita dalam menjalankan?

Ayat-ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang larangan, sering pula mampir di telinga. Ancaman bagi setiap pelaku dosa juga kerap kita baca. Namun seberapakah efek peringatan itu terhadap hati dan tindakan kita? Seakan masih menunggu waktu, atau merasa masih panjang waktu kita bersenang-senang. Seolah kita tahu berapa jatah umur kita hidup dunia, lalu dengan pedenya merencanakan untuk menyisihkan saat taubat itu beberapa saat saja di ujung usia.

Kita lupa, bahwa angan-angan manusia itu melampaui batas ajalnya. Kematian bisa saja datang sebelum kita menyelesaikan separuh atau bahkan seperempat dari rencana ‘goal setting’ yang kita buat. Bagaimana lancangnya kita jika meletakkan target bertaubat itu di ujung usia kita, padahal kita buta, kapan hari ketetapan ajal itu tiba.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Membaca ayat ini, mestinya kita tersadar, Allah masih memberi kesempatan kita untuk bertaubat, dan menyuruh kita bersegera kembali kepada-Nya setelah sekian lama teledor dan lalai. Dan kita tidak tahu, seberapa lama lagi Allah masih memberi kesempatan dan menunggu kita untuk memperbaiki diri.

Tak ada pilihan lain, kita harus menyudahi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah sekarang juga, baik dosa yang tersembunyi, maupun yang terang-terangan. Sebelum satu dari dua keburukan menimpa kita. Apakah ajal yang datang sebelum sempat bertaubat, ataukah kerasnya hati lantaran tak sudi menggunakan peluang yang panjang untuk berbenah diri.

Sementara setan terus menghembuskan bisikan yang memabukkan, tapi berdampak mematikan. Bisikan itu adalah ‘taswif’, bujukan untuk menunda kebaikan dan taubat dengan kalimat beracun, “nanti!” Dihembuskannya bisikan itu setiap kali tercetus hasrat di hati seorang hamba untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Karena itulah, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “innat taswif min junuudi iblis”, sesungguhnya taswif (mengatakan ‘nanti” untuk kebaikan) adalah satu di antara tentara Iblis.”

Sebelum semua itu terjadi, sekarang juga kita pasrah di hadapan Allah, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، فَتَحَ بَابَ تَوْبَتِهِ لِلتَّائِبِينَ، وَأَسْبَلَ سِتْرَهُ عَلَى العَاصِينَ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَأَفْضَلُ المُخْبِتِينَ التَّائِبِينَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

  : عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ .وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Melamar Lewat HP dan Sosial Media, Bagaimana Hukumnya?

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ustadz, ada masalah yang mengganjal di hati ana tentang hal menuju pernikahan. Bolehkah seorang lelaki mengungkapkan keinginannya untuk melamar seorang wanita secara langsung, tanpa ada pihak ketiga? Misalnya melalui hp dan sosial media; DM di Instagram, chat via Whatsapp dan semisalnya. Zaman memang semakin canggih, namun menurut ana pribadi hal itu sangat mengganggu dan lebih banyak madharatnya.

Ana minta penjelasannya karena hal ini sudah menjamur di kalangan ikhwan dan akhwat pengajian. Bahkan, setahu ana, ada ustadz yang melakukannya. Terkadang, ana jadi kecewa dengan semua ini. Syukran atas semua jawabannya, ya Ustadz?

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Muslimah di bumi Allah

 

 

Jawaban:

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saudari yang dirahmati Allah, saya bisa mengerti kekecewaan anda. Bagaimanapun, praktik lamaran itu, kalau dilakukan dengan sembrono, main-main, atau sekedar coba-coba, mengesankan sikap pengecut dan tidak bertanggung jawab. Dan bisa jadi, seperti yang saudari khawatirkan, menimbulkan banyak madharat. Dan kalau pelakunya adalah para aktifis pengajian, dampak negatifnya akan semakin besar. Bagi mereka sendiri, maupun bagi kepentingan dakwah yang lebih luas.

Saudari, lamaran sebenarnya adalah permintaan dari seorang lelaki kepada seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Sehingga, normalnya, tidak akan ada akad nikah tanpa diawali dengan lamaran, meski tidak selalu formal dan dengan acara khusus. Dengan demikian, ia tidak menjadi masalah sepanjang syarat-syaratnya dipenuhi, karena ia adalah mukadimah bagi sebuah pernikahan.

Hanya saja, lamaran mestinya dilakukan dengan hati-hati, bermartabat, dan sesuai syariat. Selain karena pernikahan adalah hal serius dan sangat penting dalam kehidupan seseorang, yang karenanya harus terencana dengan baik, juga agar seluruh tahapannya bernilai ibadah dan memperoleh ridha Allah. Dan itu, insyaallah, ada dalam ketaatan kita terhadap ajaran islam dan keikhlasan tujuan.

Misalnya dengan memastikan dulu status perempuan yang akan kita lamar. Apakah dia gadis, janda atau malah sudah bersuami, dalam keadaan siap menerima lamaran atau tidak, seperti sedang dalam lamaran lelaki yang lain atau sedang dalam masa iddah.

Selain itu, juga harus benar prosesnya. Misalnya dengan ta’aruf yang tidak berkhalwat dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan syariat, melibatkan walinya jika perempuan itu masih gadis, serta menunjukkan itikad baik akan keseriusan lelaki itu dalam rencana lamarannya.

Yang tidak kalah penting adalah sikap para akhwat sendiri; jangan terkesan gampangan dan mudah dipermainkan. Harus tegas, hati-hati, dan selektif saat melihat gelagat yang mencurigakan dari lawan jenis, juga abaikan saja lamaran yang asal-asalan dan tidak serius. Ini bukan saatnya main-main. Jangan pernah beri peluang kalau tidak yakin benar akan keseriusan lelaki itu.

Demikian saudariku, semoga bermanfaat.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Dijawab oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Konsultasi

 

Taubat Yang Batal & Hijrah Yang Gagal

Banyak yang menyayangkan saat melihat artis yang sudah bertaubat dan berhijrah, kembali lagi menerjuni dunia hiburan. Kembali membuka aurat, kembali berjoget dan kembali melakukan hal-hal yang dilarang syariat. Fenomena hijrah gagal dan taubat yang batal yang membuat hati sesak dan merasa kasihan.

Pada hakikatnya, batalnya taubat dan gagalnya hijrah bukanlah kasus baru. Sejak dahulu, kasus-kasus hijrah maknawi dan taubat yang gagal dan batal sudah banyak terjadi. Ubaidullah bin Jahsy dan As-Sukran bin Amru menjadi kasus pertama hijrahnya seorang musyrik menjadi muslim yang kembali lagi menjadi musyrik dengan memeluk agama nashrani. Kasus kedua terjadi pada saat Isra’ dan mi’raj di mana sebagian orang yang telah memeluk Islam kembali murtad karena tidak percaya kisah isra’ dan mi’raj Nabi. Dan masih banyak kasus lain seperti murtadnya sebagian kaum muslimin saat kemunculan nabi palsu, Musailamah al-Kadzab.

Kasus yang lebih kecil dalam arti seseorang yang telah bertaubat lalu kembali melakukan maksiat, dan tidak sampai murtad, jauh lebih banyak. Dalam lingkup dosa yang sifatnya personal, barangkali kita pun sering mengalami taubat yang batal dan hijrah yang gagal seperti ini. Hati telah sadar, niat telah dibulatkan, dan beberapa waktu berlalu telah berhasil meninggalkan suatu maksiat, namun sebuah momen hadir saat mana jiwa tak sanggup menahan nafsu dan akhirnya kembali melakukan dosa yang sama.

 

Hijrah itu Berat

Ya. Hijrah itu berat. Tidak semua kuat. Hijrah dalam makna berubah secara drastis dari kondisi yang tidak peduli dengan agama menjadi reiligus dan taat pada syariat memang bukan perkara remeh. Tentu saja karena untuk berhijrah dalam makna tersebut dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental luar biasa. Meninggalkan kebiasaan dan sesuatu yang telah diakrabi bertahun-tahun jelas bukan perkara mudah. Ada banyak konsekuensi dan implikasi yang harus dihadapi dari pilihan ekstrem ini.

 

Baca Juga: Hijrah adalah Tuntutan Taubat

 

Hijrah dari dunia keartisan berarti harus bersiap kehilangan job dan income. Memang, rezeki bisa datang darimana saja, namun berubah dari entertain menjadi pebisnis juga tidak mudah. Hijrah dari pakaian yang mengumbar aurat menjadi hijab syar’i berarti harus bersiap dengan omogan orang sampai kehilangan pekerjaan. Hijrah dari riba berarti harus siap berlepas diri dari kucuran dana bank yang dapat begitu mudah dicairkan.

Lagkah hijrah semacam ini sudah berat, namun yang lebih berat dari hijrah itu sendiri adalah langkah berikutnya yaitu istiqomah dalam hijrah. Dan pada level inilah tidak sedikit para muhajirin yang gugur. Gagal hijrahnya dan batal taubatnya.

 

Penyebab Gagalnya Hijrah

Ada dua faktor yang bisa menggagalkan hijrah seseorang: faktor eksternal dan faktor internal.

Paling tidak ada dua faktor eksternal;

Pertama,

  • setan

Jelas, setan mana yang suka melihat ‘kawan’nya pergi meninggalkan kawanannya, lalu bergabung bersama musuh-musuhnya? Setan mana yang rela karib maksiatnya berkurang karena pergi menuju jalan ilahi?

Oleh karenanya, apabila ada seseorang yang berhijrah, setan jin maupun manusia pasti akan melakukan segala cara untuk mengembalikannya. Dari cara yang halus sampai cara kasar. Jika anda memiliki kawan mantan pemabuk, bertanyalah bagaimana mantan-mantan kawannya berusaha megembalikannya ke jalan yang salah. Atau jika anda memiliki kawan mantan gay, bertanyalah bagaimana usaha manusia-manusia pecinta lubang kotoran itu berupaya keras mengembalikan anggotanya yang berhijrah. Anda akan dapati kisah-kisah mengerikan soal usaha mereka membuat  ‘saudaranya’ kembali ke jalan neraka. Sebagian usaha mereka gagal, namun tak jarang pula berhasil. Dan inilah tantangan berat pertama bagi para muhajirin, orang-orang yang berhijrah menuju Rabbnya.

Faktor kedua

  • anggapan orang bahwa orang yang berhijrah otomatis menjadi baik seluruhnya.

Inilah tantang berat kedua bagi orang yang berhijrah. Orang menganggap, saat seorang wanita, misalnya, telah berhijrah dan memakai pakaian syar’i, berati secara otomatis akhlak dan perilakunya jadi baik. Mereka tidak memaafkan adanya cela dan kekuarangan. Padahal, hijrah dalam bentuk berhijab itu satu masalah, belajar akhlak itu masalah lain, dan mengamalkan apa yang sudah dipelajari juga masalah lain lagi. Tidak ada yang otomatis.

Tapi begitulah, manusia tidak mau tahu. Inilah yang kerap kali membebani para muhajirin dan muhajiraat yang berhijrah pada satu jalan yang mereka mampu. Mereka harus menanggung anggapan, seakan-akan setelah hijrah, dalam hal pakaian misalnya, mereka dikarunia ilmu laduni yang langsung terserap ke otak dan hati yang super bersih hingga akhlak dan perilaku pun dapat berubah drastis seshalih ulama. Padahal hijrah bisa jadi hanyalah langkah awal bagi mereka menuju kebaikan. Hanyalah langkah kecil dari puluhan ribu langkah menuju keshalihan yang baru saja mereka tempuh. Yang tidak kuat menanggung beban ini, bisa jadi akan kembali ke jalan lama karena berpikir, ternyata menjadi baik itu berat.

 

Faktor internal

Adapun faktor internal gagalnya hijrah diantaranya:

pertama,

  • Kurang Ikhlas

Motivasi dasar seseorang saat berhijrah akan berpengaruh besar pada keistiqomahannya. Ikhlas adalah landasan uatama istiqomah. Hati yang hanya mengharap ridha Allah dan bersandar penuh kepadanya menjadi sumber energi bagi keistiqomahan seseorang. Setiap kali badai rintangan datang dan menguras energi, menguras emosi dan menguras kesabaran, ikhlas akan menyuntikkan tenaga yang mampu membangkitkan jiwa.

Jika yang dituju benar-benar Allah, maka Allah adalah Dzat yang Maha kuasa, Maha besar, tidak kemana-mana dan mensyukuri sekecil apapun usaha hamba untuk mendekati-Nya. Namun jika yang dituju adalah selain-Nya, maka energi hijrah akan berangsur hilang seiring hilangnya tujuan yang dicapainya.

Saat menafsirkan ayat,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30).

Imam Ibnu Katsier menjelaskan bahwa yang dimaksud istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah dan beramal sesuai apa yang disyairatkan.

Kedua

  • Tidak sadar konsekuensi

Hijrah dan taubat adalah jalan panjang dan perjuangan seumur hidup. Bukan sekadar momen sementara yang bisa dilewati dengan mudah. Hijrah dan taubat juga bukan amalan yang dapat segera dinikmati hasilnya, layaknya sedekah yang akan segera dibalas tiga kali lipat dari jumlah semula. Hijrah adalah jalan dimana seseorang harus menyadari konesekuensi jalan yang ditempuhnya.

Baca Juga:
Siapa yang Sebenarnya Intoleran?

Bisa jadi, saat seseorang membuka pintu hijrah, saat itulah ujian imannya tengah dibuka. tidak perlu heran jika melihat pengusaha yang bertaubat dari riba justru kemudian bangkrut usahanya. Bukannya usaha semakin maju karena taubat, tapi justru hartanya dikuras dan dibersihkan oleh Allah sebersih bersihnya hingga jatuh miskin. Bagi yang tidak menyadari konsekuensi jalan ini, bisa jadi dia akan berpaling dan kembali ke jalur lama.

Tak perlu kaget juga saat anda memutuskan berhijab kemudian merasa jodoh semakin jauh dan sulit. Padahal dahulu sewaktu rajin buka aurat, lelaki seperti tak berhenti mendatangi. Itulah konsekuensi dan bisa jadi juga sebuah hukuman dan ujian yang harus dijalani terlebih dahulu. Hingga nanti di waktu yang dikehendaki Allah, anda benar-benar menjadi shalihah seperti yang dikehendaki Allah. Jika hal ini tidak dipahami dengan baik, hati akan mudah tergoda untuk kembali ke kebiasaan lama.

Faktor ketiga

  • Tidak benar-benar berniat meninggalkan lingkungan yang lama

Kawan adalah faktor utama yang memengaruhi hati. Rasulullah bersabda,

 
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seorang laki-laki di atas agama  sahabat dekatnya, maka hendaknya seseorang di antara kalian melihat kepada siapa dia bersahabat.(Abu Daud)

Janganlah dahulu beralasan bahwa kita harus mendakwahi kawan lama dan tidak boleh meninggalkan mereka dalam kesesatan. Itu memang benar. Namun hati yang baru saja berhijrah membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk memelihara hijrahnya. Interaksi yang intens dengan orang-orang shalih akan menguatkan jiwa dan iman hingga menumbuhkan keistiqomahan. Sebaliknya, tetap tinggal dan membersamai kawan lama dan bersinggungan dengan maksiat lama akan membuat hati goyah dan setan leluasa menggoda.

Adakalanya, hijrah maknawi harus disertai hijrah hakiki dalam arti pergi dari tempat lama menuju tempat baru untuk rehabilitasi hati. Itulah mengapa pembunuh 100 orang dalam hadits Nabi disuruh untuk berhijrah, bukan secara maknawi saja tapi juga berkumpul bersama orang-orang shalih di suatu desa.

Demikianlah, hijrah dan taubat memang bukan urusan gampang. Bahkan sebagai manusia yang selalu salah dan lupa, kehidupan kita ini akan menjadi ajang pertarungan antara taubat dan maksiat. Semoga Alalh memudahkan langkah hijrah kita, mengstiqomahkan taubat kita, dan mengampuni dosa-dosa yang kita lakukan. Aamiin. Wallahul musta’an.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Telaah

 

Hijrah Adalah Tuntutan Taubat

Ketika Allah bukakan pintu insaf dan kesadaran, maka sungguh Allah telah karuniakan anugerah yang sangat berharga. Kewajiban manusia selanjutnya adalah merawat kesadaran dan menjadikannya sebagai titik tolak perubahan dari kegelapan kepada cahaya.

Cara paling mujarab untuk menjaga kesadaran sekaligus meneguhkan taubat adalah dengan hijrah. Yakni, berpindah dari satu keadaan yang buruk kepada keadaan lain yang lebih baik.

 

Hijrah adalah Tuntutan Taubat

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada seorang laki-laki sebelum kalian (dari kalangan bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa. Kemudian dia bertanya tentang orang yang paling pandai di muka bumi. Ditunjukkanlah kepadanya seorang ahli ibadah. Dia pun mendatanginya dan bercerita  bahwa dia telah membunuh 99 jiwa, masihkah ada peluang untuk bertaubat? Ahli ibadah itu menjawab, “Tidak.” Kemudian lelaki tadi membunuhnya hingga genaplah menjadi 100 jiwa yang dibunuhnya. Dia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi ini. Lalu ditunjukkanlah ia kepada seorang yang alim. Dia bertanya kepadanya, bahwa dia telah membunuh 100 jiwa, masihkah ada peluang untuk bertaubat? Orang alim itu berkata, “Ya, Amasih. apa yang menjadi penghalang untuk bertaubat?  Pergilah ke daerah itu, di dalamnya ada banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka beribadahlah kepada Allah Ta’ala bersama mereka. Dan jangan kembali ke daerahmu, karena ia tempat yang dipenuhi dengan keburukan. Lelaki itu kemudian meninggalkannya dan menuju ke daerah yang disarankan. Ketika di pertengahan jalan Malaikat Maut mencabut nyawanya. Malaikat pembawa rahmah dan malaikat pembawa adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, “Dia telah datang dengan bertaubat kepada Allah Ta’ala.” Malaikat adzab barkata, “Dia belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.” Lalu datanglah seorang malaikat dalam wujud manusia sebagai penengah di antara keduanya. Dia berkata, “Ukurlah jarak antara kedua tempat tersebut, mana yang lebih dekat dengan tempat wafatnya, maka itu adalah bagiannya’. Keduanyapun melakukan itu, dan mendapati bahwa jaraknya lebih dekat kepada tempat yang dituju. Kemudian Malaikat Rahmat membawanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara pesan sangat penting dalam kisah ini adalah nasihat orang alim dalam hadits di atas kepada pembunuh 100 orang agar berhijrah ke tempat baru yang dihuni oleh orang-orang shalih sekaligus meninggalkan lingkungan lamanya dengan cara ini, taubat akan terjaga, dan lebih mudah menghindar dari godaan-godaan, terutama di saat taubat masih seumur jagung. Berapa banyak orang yang telah diberi hidayah kesadaran, insaf dan taubat, namun keimanannya laksana kuncup bunga yang layu sebelum berkembang. Atau seperti nyala lilin yang mati sebelum sempat menerangi dengan cahayanya.

Baca Juga: 
Tangisan yang Menyelamatkan

Taubat memang tidak bisa lepas dari hijrah. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hijrah itu tidak akan terputus hingga ditutupnya pintu taubat, dan taubat itu tidak pernah tertutup sampai terbitnya matahari dari barat” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits ini kata hijrah dikaitkan dengan taubat, karena taubat yang paripurna itu membutuhkan hijrah, maka hijrah tetap ada selagi peluang taubat itu masih terbuka.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua; pertama hijrah secara fisik dari suatu negeri ke negeri yang lain. Sedangkan yang kedua adalah hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Inilah hijrah hakiki dan merupakan akar pondasi semua amalan yang terkait dengan hijrah. Hijrah fisik hendaknya dilandasi dengan hijrahnya hati. Maka Muhajir adalah orang yang berhijrah dari kecintaannya kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari ketergantungan kepada selain-Nya menuju kepada-Nya, dari berharap kepada selain-Nya menuju kepada-Nya.”

Semisal dengan itu, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan, “Hijrah itu dua jenis; lahiriyah dan batiniyah. Hijrah batin adalah meninggalkan seruan nafsu dan kehendak jahat, sedangkan hijrah lahir adalah meninggalkan fitnah untuk menjaga agama.” Inilah hijrah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang Muslim itu adalah ketika kaum muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Sedangkan muhajir (orang yang berhijrah) itu adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah.” (HR. Bukhari)

 

Tinggalkan Kawan dan Kebiasaan Lama

Hijrah menuntut keberanian seseorang untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan pemicunya. Dan yang paling mendesak adalah meninggalkan teman-teman buruknya, lalu mencari teman atau komunitas baru yang lebih diridhai oleh Allah. Karena teman adalah penentu. Seseorang itu tergantung temannya, maka sulit untuk istiqamah di jalan hidayah dengan tetap berada dalam komunitas maksiat. Tanpa dukungan teman yang baik, sulit bagi orang yang bertaubat untuk berubah dan istiqamah di jalan hijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Nabi memberikan perumpamaan indah tentang pengaruh teman dekat. Beliau bersabda,

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jahat adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak diberi minyak misk oleh pemiliknya, engkau bisa membeli darinya atau minimal bisa menikmati aroma harumnya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau merasakan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari)

Terkait dengan hadits ini, Imam an-Nawawi memberikan nasihat kepada orang-orang yang menapaki jalan taubat, ”Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, shalih, berilmu, ahli ibadah, wara’(mennjaga diri dari dosa dan pencetusnya) dan orang-orang yang meneladani mereka. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.”

Jika sebelumnya terbiasa nongkrong di pinggir jalan tak jelas tujuannya, atau bahkan turut meramaikan hiburan-hiburan yang menyuguhkan menu dosa, hendaknya mengganti dengan majlis-majlis ilmu yang bermanfaat. Juga menyibukkan diri dengan ketaatan setelah  tadinya menghabiskan waktu untuk maksiat atau hal-hal yang tidak bermanfaat.

Baca Juga:
Kawan tapi Lawan

Hijrah juga menuntut seseorang berubah sikapnya berkaitan dengan maisyah (mata pencaharian) dan apa yang dikonsumsi sehari-hari. Karena mengkonsumsi yang haram hanya akan menghasil kan ‘out put’ berupa ucapan dan perilaku  yang haram pula.

Harus berani meninggalkan transaksi riba atau jual beli barang haram atau dengan cara yang haram. Karena hal ini menjadi biang penghalang taat sekaligus pemicu maksiat.

Jangan takut kesepian dengan meningggalkan teman lama, karena ia akan menemukan teman, sahabat dan saudara dalam ketaatan yang lebih menenteramkan dan membahagiakan. Tak perlu pula galau dan takut meninggalkan harta yang haram, karena Allah janjikan kelapangan rejeki bagi hamba-hamba-Nya yang hijrah untuk menyempurnakan taubat ataupun memenuhi tuntutan perintah Allah. Firman Allah Ta’ala,

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.(QS. an-Nisa’: 100)

Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang telah berkurban demi mendapat keridhaan-Nya. Jika hamba itu meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pasti akan gantikan untuknya dengan ganti yang lebih baik.

Memang tak mudah meninggalkan kebiasaan yang telah mengakar dan juga kawan lama yang sudah akrab dan dekat. Akan tetapi, itu lebih mudah bagi orang yang bertaubat dalam menjaga imannya daripada ia tetap bersama dengan kebiasaan dan kawan lama.

Menghentikan kebiasaan buruk, artinya menghapus salah satu bagian dari pola hidup kita. Jika kita memotong begitu saja kebiasaan tersebut, ada kekosongan yang terjadi dalam keseharian kita. Maka harus ada pengganti yang lebih baik, karena nafsu itu ketika tidak disibukkan dengan ketaatan, maka ia akan menyibukkan dengan kemaksiatan.

Memperbaiki kualitas shalat juga mempercepat proses transisi dari maksiat kepada taat dan dari kebiasaan buruk kepada kebiasaan baik. Karena shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Semoga Allah karuniakan kita istiqamah dan keteguhan di atas ketaatan, aamiin. 

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Telaah

 

Kultum Ramadhan: Semangat Hingga Tamat

Banyak orang lebih bersemangat di awal program kebaikan, tapi loyo di akhir kesempatan, para salaf yang shalih justru lebih semangat lagi di momen-momen akhir setiap peluang. Dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa penentu hasil itu ada di akhir. Umur manusia manusia misalanya,  yang paling menentukan adalah di akhir-akhir kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ﺇﻧَّﻤَﺎ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﺨَـﻮَﺍﺗِﻴْﻢُ

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari)

Bahkan jika di awal-awal seeorang melakukan kesalahan dan banyak keteledoran, niscaya dosanya diampuni  jika dia bertaubat dan berkesempatan meraih derajat tinggi jika optimal dengan kebaikan di akhir kesempatan. Karena itulah, orang yang wafat dalam keadaan baik, maka disebut dengan husnul khatimah, akhir atau penutupuan yang baik.

Sebaliknya, meskipun nyaris sepanjang umur manusia melakukan ketaatan danbanyak amal shalih, namun ketika di akhirnya ia murtad atau lebih dominan maksiat, maka ia berakhir dengan suul khatimah, akhir yang buruk dan terancam dengan neraka. Begitulah urgensi amal di penghujung kesempatan.

Baca Juga: Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu

Jika malam dibagi menjadi tiga, maka sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik bermunajat dan shalat. Bahkan Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan, “Riawayat ini dibawakan oleh Al Bukhari pada bab yang menerangkan mengenai keutamaan berdoa pada waktu tersebut hingga terbit fajar Shubuh dibanding waktu lainnya.”

Ibnu Baththal dalam Syarah Bukhari berkata, “Waktu tersebut adalah waktu yang mulia dan terdapat dorongan beramal di waktu tersebut. Allah Ta’ala mengkhususkan waktu itu dengan nuzul-Nya (turunnya Allah). Allah pun memberikan keistimewaan pada waktu tersebut dengan diijabahinya doa dan diberi setiap  yang diminta.”

Dalam menjalani amal yang berhubungan dengan Ramadhan juga begitu. Selama 29 atau 30 hari ramadhan, maka hari-hari terakhir sangat menentukan hasil dan penentu kesuksesan Ramadhan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan yang disebut dengan lailatul qadar juga berada di sepertiga hari ramadhan yang terakhir.

Di penghujung Ramadhan seringkali berkecamuk perasaan; antara ingin segera beriedul fithri dan rasa ingin tetap bersama Ramadhan. Mungkin di antara hikmah bahwa ramadhan tak lama adalah agar jiwa senantiasa setia dan merindukan ia kembali tiba. Sungguh, hakikat cinta bukan semata perasaan bahagia ketika hendak bersua, tapi juga perasaan duka ketika hendak berpisah dengannya. Dan sejatinya cinta ialah yang tak ingin melewatkan sedetikpun waktu berlalu tanpa membersamai yang dicintai di hari-hari terakhirnya.

Sebagian salaf tampak bersedih ketika hari raya Iedul Fitri, lalu dikatakan kepadanya:Ini adalah hari kesenangan dan kegembiraan. Dia menjawab, “Kamu benar, akan tetapi aku adalah seorang hamba yang diperintah oleh Rabbku untuk beramal karenaNya, dan aku tidak tahu apakah Dia mengabulkan amalku atau tidak?

Baca Juga: Buta Hati Di Dunia, Buta Mata Di Akhirat

Karena itulah para salaf dahulu sangat serius memberikan perhatian di akhir ramadhan. Mereka masih tetap fokus hingga tamat. Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah sebagaimana uang disebutkan dalam Hilyatul Auliya berkata, “Berbuat baiklah di sisa-sisa Ramadhan niscaya diampuni (kesalahanmu) yang telah berlalu, maka manfaatkanlah hari-hari yangg tersisa, karena Anda tidak tahu kapan bisa meraih rahmat Allah untukmu.”

Mereka menganggap bahwa Ramadhan adalah perlombaan dalam ibadah dan kebaikan. Sedangkan peserta lomba tentu akan lebih power full dan mencurhakan segala kemampuannya ketika mendekati finishnya. Ibnul al-Jauzi berkata, “Sesungguhnya kuda pacu apabila mendekati batas finish ia akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk memenangkan perlombaan.Maka, jangan sampai kuda pacu menjadi lebih cerdas darimu.”

Maka selayaknya, semakin dekat dengan kesempatan terakhir, makin gigih dalam melakukan ketaatan. Seperti Qatadah, di luar bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur`an tujuh hari sekali. Memasuki bulan Ramadhan mengkhatamkannya tiga hari sekali. Bahkan, di sepuluh terakhir, ia mampu mengkhatamkan al-Qur`an satu kali setiap malam.

Teladan terbaik adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang makin gigih di kesempatn-kesempatan terakhir.

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Amalan paling istimewa dan waktu yang paling agung keutamannya adalah lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk berjaga-jaga akan datangnya malam lailatul qadar,

 

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.”

Begitupun menghidupkan malam dengan shalat sunnah, membaca al-Qir’an, istighfar dzikir dan semisalnya termasuk dikatakan berjaga-jaga akan hadirnya malam lailatul qadar.

Intinya, tetap fokus dengan amal taat hingga tamat. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan 

Kisah-kisah Menggugah dalam Menjalankan Sunnah

Para salaf tak hanya antusias dalam mencari ilmu. Semangat mereka dalam mengamalkan ilmu setara dengan mujahadah mereka dalam mencarinya. Karena mereka paham bahwa maksud dicarinya ilmu adalah untuk diamalkan.

Tak hanya dalam hal yang wajib, perkara sunnah yang telah mereka ketahui tak sedikitpun mereka remehkan, Jika para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang kebaikan, itu karena mereka ingin mengamalkan, bukan sekedar tambahan wacana atau bahan diskusi seperti yang umum terjadi hari ini. Dan jika mereka bertanya tentang keburukan, itu dalam rangka agar mereka terhindar darinya.

Tidak mengherankan, karena mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat kepada kebaikan. Hal ini pula yang telah memberi pengaruh kepada orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan salaf dan generasi utama. Sejarah telah mencatat untuk kita contoh-contoh yang menggugah jiwa untuk meniti jalan sunnah dari mereka yang mengikuti generasi sebelumnya dalam hal komitmen mereka terhadap sunnah.

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Segala Maslahat

Imam Ahmad rahimahullah mendokumentasikan lebih dari 40.000 hadits dalam kitabnya ‘al Musnad’, Bukan sekedar dokumentasi, beiau juga mengamalkan apa yang beliau tulis di dalamnya. Beliau berkata, “Tidaklah aku menukil sebuah hadits melainkan aku telah mengamalkannya.” Tatkala beliau meriwayatkan hadits, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibekam dan memberi Abu Thibah (orang yang membekam Nabi) dengan upah satu dinar, Imam Ahmad berkata, “Aku dibekam, lalu aku beri orang yang telah membekamku dengan uang satu dinar.” Satu dinar sama dengan 4,25 gram emas. Beliau rela mengeluarkan satu dinar demi menjalankan apa yang dijalankan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, meski kadar tersebut bujan merupakan satu keharusan.

Generasi terbaik di kalangan sahabat adalah teladan dalam hal ittiba’m mengikuti ilmu yang telah diketahui. Seperti Ummul Mukminin Ummu Habibah yang berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

 

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang mengerjakan dua belas raka’at shalat sunnah rawatib sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya suatu rumah di jannah.” (HR Muslim)

Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah yang meriwayatkan hadits ini juga berkata, “Aku juga tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah.” Begitupun dengan An-Nu’man yang mendengar dari Anbasah, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah.”

Tak hanya di waktu aman dan longgar, para salaf komitmen mengamalkan ilmu yang diketahui dalam segala kondisi. Seperti yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Fathimah radhiyallahu anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda:

 

 أَلاَ أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ, تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ

wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”.

Ali bin Abi Thalib mengatakanm “Aku tidak pernah meninggalkan amalan ini semenjak aku mendengarnya.” Ketika ada yang bertanya, ”Bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?” Beliau menjawab, “Begitupun juga di hari-hari peristiwa Shiffin, aku tidak meninggalkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mereka juga menyesal jiak meninggalkan keutamaan meski ilmunya baru diketahui belakangan. Seperti sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu pernah melakukan shalat jenazah lalu pergi dan tidak ikut mengantarkan ke kuburnya. Tatkala sampai kepada beliau riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau menyesal karena telah melewatkan keutamaan.

Baca Juga: Tetap Takwa Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia sedang duduk di sisi Abdullah bin Umar. Datanglah Khabbab dan berkata, “Wahai Abdullah bin Umar, tidakkah engkau mendengar perkataan Abu Hurairah? Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuju  jenazah dari rumahnya, kemudian menshalatkannya, lalu mengantarkannya sampai dikebumikan, maka pahala baginya adalah dua qirath, setiap qirath besarnya seperti gunung Uhud. Adapun orang yang menshalatkannya lalu pulang, maka ia hanya mendapat pahala seperti satu gunung Uhud.” Ibnu Umar mengutus Khabbab agar menemui Aisyah untuk bertanya kepadanya perihal perkataan Abu Hurairah tersebut, lalu ia kembali kepadanya membawa kabar dari Aisyah. Ibnu Umar mengambil satu genggam tanah masjid dan membolak-balikkannya di tangannya (seperti gelisah menunggu jawaban-pen), hingga datang Plah Khabab dan berkata, “Aisyah berkata, “Abu Hurairah benar.” Seketika itu Ibnu Umar membanting tanah yang ada di tangannya, lalu berkata, “Sungguh kita telah melewatkan banyak  qirath pahala.” (HR Bukhari)

Imam an-Nawawi rahimahullah  memberikan komentar dalam al-Minhaj, “Kisah ini menjadi gambaran semangat para sahabat dalam ketaatan saat mereka mengetahuinya, dan merasa menyesal jika mereka terlewat darinya, walaupun karena sebelumnya mereka tidak mengetahui besarnya keutamaan amal tersebut.

Semoga Allah tunjukkan kita ilmu yang benar dan taufik untuk mengamalkannya, aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi

Tetap Takwa, Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Semua orang tentu mendambakan bisa menikah dan hidup bahagia bersama pasangannya. Terutama wanita. Mereka mulai berharap dan bermimpi tentang seorang suami semenjak masa remaja. Keinginan untuk segera menyempurnakan separuh agamanya cukup kuat pada wanita. Wanita ingin memiliki pasangan yang membuat hidupnya luar biasa dalam melalui hari hari dan kehadiran anak-anak yang menjadikan rumahnya serasa surga. Sungguh, wanita mana yang tidak menginginkan gambaran keluarga yang sempurna dalam hidupnya.

Setiap wanita menginginkan hal tersebut. Dan dengan keinginan ini, muncul tekanan bagi banyak wanita Muslim untuk menikah pada usia muda. Ya, bagi pria mungkin tak begitu menjadi soal, namun bagi wanita hal ini sering membuatnya tertekan.

Sebagian wanita bahkan menjadi rendah diri karena tak kunjung mendapatkan belahan jiwa. Ketika jodoh tak kunjung datang dan sebagian masyarat mulai menganggapnya sebagai perawan tua, pikiran buruk pun berkecamuk. Bagaimana bila umur saya sudah 25 dan belum menikah? Apa yang dikatakan kerabat saya? Mengapa Allah menguji saya dengan ujian ini? Apakah saya tidak cantik? Mungkin saya harus melepaskan jilbab saya… (Naudzubillah min dzalik)

Mereka mulai mengalami depresi saat melihat teman-temannya menikah. Banyak yang bahkan merasa seperti masa muda mereka terbuang jika tidak segera menikah saat masih muda.

Jika pikiran-pikiran itu sempat terlintas di benak Anda, waspadalah! Setan sedang ingin merusak hidup Anda karena ia tak senang pada jiwa-jiwa yang berbakti kepada Allah.

Bersabarlah, karena Allah berfirman, Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).

Bagaimana membuang pikiran negatif dan kesedihan?

 

1. Dedikasikan masa muda Anda untuk beribadah kepada Allah jika jodoh tak kunjung datang

Banyak alasan kenapa jodoh tak kunjung datang, namun bukan berarti masa muda Anda sia-sia. Dedikasikanlah hari-harimu dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan cara ini Anda tidak akan merasa sedih atau menyesal. Tidak ada yang hilang jika Allah bersamamu setiap hari. Rasulullah menuturkan bahwa ada tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah

 

2.Melakukan aktivitas yang yang mulia

Isilah masa mudamu dengan aktivitas yang produktif. Misalnya terlibat aktif dalam dakwah muslimah atau mengajar TPA.

 

3.Jangan memperhatikan apa yang orang lain katakan

Tekanan keluarga yang terus menanyakan kapan nikah memang membuat hidup Anda tidak nyaman. Namun, ingat bahwa rasa sakit hanyalah sebuah keadaan pikiran. Anda bisa memikirkan jalan keluar dari segala hal, bahkan rasa sakit. Cobalah untuk tidak melibatkan diri dalam argumen, hindari berpikir negatif. Jika Anda merasa terbebani, berdoalah, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 286)

 

4. Anda adalah spesial dan terlahir dengan tujuan mulia

Allah menciptakan setiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Hidup kita adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Allah akan senantiasa menguji hambaNya untuk melihat sejauh mana cintanya. Akan ada air mata tapi juga akan ada tawa dan cinta. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Percayalah bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

 

5. Selalu ada alasan mengapa Allah menakdirkan hal tersebut

Cobalah merenung sejenak dan carilah alasan mengapa Allah memilih situasi ini untukmu.

Mungkin Dia menginginkan agar Anda memenuhi tugas yang sangat penting dalam hidup Anda sehingga Allah membebaskan Anda sampai tujuan itu tercapai? Atau mungkin Ia ingin memberi hadiah kepada Anda dengan sesuatu yang hebat dan cobaan berat ini adalah ujian untuk Anda. Jadi beristighfarlah sebanyak yang Anda bisa dan berdoalah kepada Allah agar Allah memberikan kemenangan dan kedamaian dan meenangkan hatimu. Banyaklah berdoa agar Allah memberikan pasangan terbaik untukmu.

Bacalah doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Jika hati kita dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tentu kita dapat menghadapai semua rintangan.
Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita dalam kebaikan. Amin.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Motivasi

Baca Juga yang Lainnya: Untuk Muslimah: Jangan ragu Datangi Majelis Ilmu, Amalnya di Puncak Takutnya Mencapai Klimaks, Dari Mata Turun Ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Teruntuk Muslimah: Jangan Ragu Mendatangi Majelis Ilmu

Ketika wanita Indonesia mengenal Kartini sebagai tokoh pendidikan wanita, jauh sebelumnya Islam telah memiliki tokoh-tokoh besar di bidang pendidikan. Ketika peradaban lain masih menganggap wanita sebagai makhluk kelas dua, Islam telah menyamakan kedudukan pria dan wanita dalam hal pendidikan.

Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hal ini, para ulama menegaskan, bahwa kata muslim dalam hadits di atas mencakup muslim dan muslimah. Ibnul Jauzy berkata, “Perempuan adalah seorang yang mukallaf seperti laki-laki, maka wajib baginya untuk menuntut ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan atasnya, agar ia menunaikan ibadah tersebut di atas keyakinan.”

Muslimah zaman salaf selalu bersemangat dan antusias terhadap ilmu dan tak segan bertanya kepada ahlinya. Mereka sangat haus ilmu apalagi mereka melihat kaum lelaki mendominasi sebagian besar waktu Nabi. Karenanya mereka meminta waktu khusus dari Nabi untuk dapat mendengarkan nasihat dan pelajaran.

Para muslimah betul-betul merasakan betapa pentingnya ilmu dan menjadi kebutuhan mendesak memperdalam ilmu agama, sampai salah seorang dari mereka datang meminta fatwa kepada Nabi dan meminta beliau menyediakan waktu khusus.

Baca Juga: Buat Para Wanita: Awas Bidadari Marah Padamu

Abu Said al-Khudri menuturkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah untuk mengadu. “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami maka berikanlah kami satu hari dari waktumu.” Beliau kemudian menjanjikan satu hari utnuk melakukan pertemuan bersama mereka guna memberikan nasihat dan perintah kepada mereka. Dan di antara pelajaran yang beliau sampaikan kepada mereka adalah, “Tidaklah seorang wanita ditinggal mati oleh tiga anaknya melainkan itu menjadi hijab baginya dari api neraka.” Seorang wanita bertanya, “Bagaimana bila dua anak?” Beliau bersabda, “Dua anak juga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits riwayat muslim, Rasulullah memuji muslimah Anshar. Aisyah menuturkan, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak merasa malu dalam mendalami ilmu agama.”

 

Tokoh-tokoh Ilmuwan Muslimah

Al-Hafidz adz-Dzahabi menggambarkan sosok Aisyah, “Aisyah banyak menimba ilmu yang bermanfaat dan penuh berkah dari Nabi Muhammad, ayahnya, Umar, Fatimah, Saad, Hamzah, Ibnu Amru al-Aslami dan Hadamah bin Wahab.”

Urwah bin Zubair berkata, “aku tidak menemukan orang yang lebih memahami masalah fikih, pengobatan, dan syair melebihi Aisyah.”

Ummu Darda, seorang ahli fikih yang zuhud berkata, “Aku telah mencari jalan ibadah dalam segala sesuatu, namun tidak menemukan yang lebih kusenangi dari mendatangi majelis ilmu dan mudzkarah berasama para ulama.”

Hafshah binti Sirin membaca dan memahami al-Qur’an sejak berumur 12 tahun. Ketika ayahnya merasa kesulitan tentang al-Qur’an, dia berkata, “datanglah kepada Hafshah dan tanyakan kepadanya bagaimana membacanya.”

Ummu Darda termasuk istri luar biasa yang banyak mengambil ilmu dari suaminya, Abu Darda. selain itu, ia juga mengambil ilmu dari para sahabat yang ia temui seperti Salman al-Farisi, Kaab bin Ashim al-Asyari, Aisyah, Abu Hurairah, dan lainnya. Sejak kecil ia telah menyetorkan bacaan al-Qur’annya kepada Abu Darda.

Fatimah, cucu Sultan Shalahuddin al-Ayubi, dalam kitab Audatul Hijab karya Muhammad Ismail, juga diceritakan sebagai seorang yang banyak mempelajari fikih dan hadits sehingga sangat masyhur di masanya.

Masih banyak lagi ulama-ulama wanita dengan keilmua yang mumpuni. Bahkan sebagian dari mereka menjadi guru bagi ulama-ulama besar seperti Imam As-Syafii, Imam Bukhari, dan Ibanu Hiban.

 

Jangan Ragu Mendatangi Majelis ilmu

Salah satu nikmat besar yang diberikan oleh Allah kepada kita saat ini adalah kemudahan untuk mendapatkan ilmu. Buku-buku banyak tersedia dengan cetakan yang bagus. Rekaman kajian dalam bentuk video maupun MP3 tersebar tak terhitung jumlahnya. Beragam kajian diselenggarakan di masjid-masjid, bahkan tak sedikit yang didukung dengan media online yang memungkinkan disimak dari rumah-rumah kaum muslimin. Tentunya sangat merugi bila kajian-kajian keilmuan, majelis dzikir dan aktivitas semacam itu diacuhkan begitu saja.

Para akhwat semestinya bisa menggunakan sarana yang tersedia dan forum-forum kajian untuk menambah bekal ilmu sehingga kelak tumbuh menjadi istri dan ibu yang menyejukkan bagi suaminya. Mengingat, mendidik anak dan sikap baik kepada suami merupakan hal terpenting yang wajib di ketahui oleh seorang muslimah.

Baca Juga: Kabar Gembira untuk Para Wanita

Kesediaan memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu merupakan nikmat yang tidak ada bandingannya dengan nikmat yang lainnya. Oleh karenanya para istri semestinya bisa mengajak serta suaminya untuk menghadiri majelis ilmu dan mengambil manfaat darinya. Dengan menghadiri majelis ilmu banyak manfaat yang bisa muslimah dapatkan. Para muslimah akan mendapat penjelasan yang lebih gamblang menyangkut masalah akidah, ibadah, maupun muamalah. Di sana para muslimah akan bertemu dengan muslimah yang lain sehingga akan terjalin ukhuwah dan persaudaraan diantara para muslimah. Dengan ukhuwah yang terjalin mereka bisa saling mengingatkan dalam ketaatan dan saling menghibur ketika ada muslimah yang sedang mengalami musibah.

Selain itu, menghadiri majelis ilmu di masjid memiiki manfaat lain yaitu meraih pahala berkumpul di rumah Allah untuk mengkaji kitab-Nya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699).

 

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Wanita

 


Segera miliki majalah islam ar-risalah edisi terbaru di agen terdekat di kota Anda! atau hubungi kami di: 0852 2950 8085