Abu Umar Abdillah

Tahan Godaan Teguh Pendirian

Qais bin Ibad berkata, “Ketika aku duduk di dalam masjid Madinah, tiba-tiba masuk seorang lelaki dari raut wajahnya terpancar keteduhan. Para sahabat yang berada di masjid berkata, ‘Orang itu termasuk penghuni Surga.’ Kemudian dia mengerjakan shalat dua rakaat lalu keluar masjid.

Aku mengikuti langkahnya dan bertanya, ‘Ketika engkau masuk masjid tadi, orang-orang berkata, inilah orang yang termasuk penghuni Surga!’ Dia berkata, ‘Subhanallah‘ Tidak pantas seseorang mengatakan sesuatu yang tidak diketahui. Baiklah, akan aku beritahukan kepadamu bagaimana sebenarnya.

Ketika itu, pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, aku pernah bermimpi, kemudian mimpi itu aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam, Seolah-olah aku berada di tengah-tengah taman, aku sebutkan seberapa luasnya dan bagaimana suburnya, di tengah taman itu terdapat tiang terbuat dari besi yang terpancang kuat di dalam bumi, dan ujungnya tinggi di langit. Di atas besi yang terpancang tersebut terdapat tali, laludikatakan kepadaku, ‘Naiklah kamu!’ Aku jawab, ‘Aku tidak bisa memanjat.’ Kemudian datanglah pelayan yang mengangkat bajuku dari belakang, ia berkata; Aku pun naik hingga aku berada di atas tiang dan aku bisa mengambil tali itu. Lalu dikatakan kepadaku, “Pegang dengan erat.” Tiba-tiba aku terbangun. Maka mimpiku itu aku ceritakan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Selanjutnya beliau bersabda, ‘Yang dimaksud dengan taman adalah al-Islam, sedang tiang-tiangnya adalah sendi-sendi Islam. Tali yang dimaksud adalah al-Urwatul Wutsqa. Sungguh kamu tetap dalam keadaan Islam sehingga kematian menjemputmu.’” (HR Bukhari)

 

Tali yang Kokoh

Para salaf memaknai urwatul wutsqa (tali yang kokoh) dengan berbagai makna yang saling berdekatan. Ibnu Abbas menafsirkan, maksudnya adalah kalimat la ilaha illallah. Anas bin Malik mengartikan dengan al-Qur’an, Mujahid menafsirkan dengan iman, ada juga yang memaknai dengan Islam ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya cinta karena Allah dan benci karena Allah. Ibnu Katsier mengomentari berbagai pendapat tersebut, “Semua makna tersebut benar dan tidak saling bertentangan antara satu dengan yang lain.”

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga memberikan kesimpulan yang memudahkan makna dari urwatul wutsqa, “Inti dari semua makna yang disampaikan para ulama tentang urwatul wutsqa adalah apa-apa yang bisa dipegang sebagai pengantar menuju jannah. Maka makna tali yang kokoh bisa dimaknai dengan Islam, iman, al-Qur’an, kalimat tauhid dan masing-masing makna saling berdekatan.”

Alangkah beruntung Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, beliau telah dikabarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai orang yang berpegang pada tali yang kokoh hingga wafat, padahal saat itu beliau masih hidup. Ada isyarat yang jelas bahwa beliau termasuk satu di antara sahabat yang dikabarkan sebagai penghuni jannah. Dari Abu Malik, dari Amir bin Sa’ad berkata, saya mendengar ayahku berkata,

مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ يَمْشِي إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ

Saya tak pernah mendengar Rasulullah berkata kepada seorang yang masih hidup, bahwasanya ia adalah ahli surga kecuali kepada Abdullah bin Salam.” (HR Muslim)

Amal unggulan yang tampak pada diri sahabat Abdullah bin Salam tersebut adalah ketegaran beliau dalam berpegang dengan tali yang kokoh hingga akhir hayat. Beliau tidak melepaskan tali itu dalam suka maupun duka. Baik pada saat diterpa gangguan yang menyakitkan saat berpegang pada tali kebenaran, dan beliau tidak pula sudi melepasnya saat menghadapi tawaran-tawaran yang menggiurkan agar beliau melepaskan tangannya dari tali yang kokoh itu. Inilah istiqamah yang merupakan karamah yang paling agung sebagaimana yang dikatakan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “inna a’dhamal karaamah luzuumul istiqamah”, sesungguhnya karamah yang paling agung adalah ketika seseorang konsisten di jalan istiqamah.

Karena biasanya manusia memiliki titik lemah; jika kuat diuji kemiskinan, kadang lemah saat diuji kekayaan. Tegar saat diuji dengan gangguan dan penderitaan, namun tepar saat diuji dengan kenikmatan yang menggiurkan. Apalagi, jika ketahanan dan ketegaran itu harus dijaga sepanjang hayat, sebagaimana yang sukses dijalani oleh Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu.

Kita mungkin salut tatkala melihat ada orang yang begitu rajin beribadah dan bersemangat saat berdakwah. Akan tetapi, kita belum tahu apakah ia bisa menjaga amal itu secara kontinyu hingga ia diwafatkan oleh Allah. Maka kita lebih salut terhadap orang yang istiqamah di jalan ketaatan hingga hari di mana ia diwafatkan. Ibnul Mubarok menceritakan dari Wahb bin Munabbih, ada seseorang lewat di hadapan ahli ibadah yang lain. Ia pun berkata, “Apa yang kamu perhatikan?” Dia menjawab, “Aku begitu takjub pada si fulan, ia sungguh-sungguh rajin ibadah sampai-sampai ia meninggalkan kenikmatan dunianya.” Maka Wahb bin Munabbih berkata, “Tidak perlu takjub pada orang yang meninggalkan kenikmatan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih takjub pada orang yang bisa istiqomah.”

 

Tahan Terhadap Godaan

Berpegang pada tali yang kokoh mengharuskan seseorang fokus, dan tidak tergiur oleh bujukan nafsu, rayuan setan maupun godaan gemerlapnya dunia.

Dari tiga godaan itu, kuncinya adalah mengalahkan  musuh dari dalam, yakni menaklukkan bujukan nafsu. Karena nafsu adalah kendaraan setan, selagi seseorang mampu mengendalikan nafsunya, maka setan tak mampu mengambil alih kendalinya. Begitupun godaan dunia, ketika nafsu telah dikendalikan di jalan ketaatan, maka gemerlapnya dunia tak akan menggoyahkan ia dari ketaatan.

Nafsu juga merupakan medan magnet yang mengitari jahannam, maka barangsiapa yang terseret ke dalam nafsu, dia akan terseret ke dalam neraka.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.”

Adapun tali yang menghubungkan ke jannah adalah tali yang diliputi dengan berbagai hal yang tidak disukai oleh nafsu. Sementara nafsu cenderung memilih yang nyaman dan bersenang-senang. Maka, mengikuti bujukan nafsu berpotensi terlepasnya tangan dari pegangan tali menuju jannah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh berkata, “Barangsiapa yang mengikuti nafsu dan memperturutkan syahwatnya, maka terputuslah tali taufik dari dirinya.”

Orang yang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya. Ia tetap bertahan dengan pegangannya pada tali kebenaran, meski nafsu membujuk dan merayu. Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin menukil perkataan seorang salaf, “Orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih kuat daripada orang yang mampu menaklukkan sebuah kota sendirian.”

Hendaknya kita menyadari bahwa tidak ada satupun hari yang berlalu melainkan antara nafsu dan dorongan amal saling bergelut dalam diri seseorang. Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan mengusirnya dan menguasainya. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika pada diri seseorang berkumpul nafsu dan amal, lalu amalnya mengikuti nafsunya, maka hari yang dilaluinya adalah hari yang buruk. Jika nafsunya mengikuti amalnya, maka harinya adalah hari yang baik.”

 

Teguh dalam Pendirian

Memegang tali kebenaran tak ubahnya seperti memegang bara api, panas memang. Tali yang terhubung ke jannah memang harus dipegang dengan balutan kesabaran. Jalan menuju jannah memang harus ditempuh dengan kepayahan dan kepenatan. Sedangkan orang-orang mengira bahwa dengan jalan melenggang dan semaunya mereka merasa dengan lancar akan sampai ke finish jannah. Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitanya al-Fawa’id mengingatkan jiwa-jiwa yang lalai dan malas, “Wahai orang yang lemah motivasi, di manakah posisimu dari jalan (kebenaran) ini. Yakni jalan di mana Adam mengalami kelelahan, Nabi Nuh mengeluh menangis karenanya. Jalan di mana Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Nabi Ismail dibaringkan untuk disembelih, Nabi Yusuf menjadi budak belian yang dijual dengan harga murah dan dipenjara. Jalan di mana tubuh Nabi Zakaria dibelah dengan gergaji, Nabi Yahya disembelih, Nabi Ayub menderita penyakit kronis, Nabi Dawud yang tangisannya lebih dari kadar biasa, Nabi Isa yang berjalan sendirian dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang ditimpa kefakiran dan berbagai gangguan. Sedangkan engkau ingin menempuh jalan tersebut dengan melenggang dan senda gurau?”

Memang tidak selayaknya kita menantang cobaan, akan tetapi setidaknya kita tahu tabiat jalan kebenaran. Ada saat di mana datang gangguan yang tak diinginkan, sebagaimana datangnya godaan yang menggiurkan di kali yang lain.

BACA JUGA : Bahagia Di Penghujung Usia

Hendaknya senantiasa fokus dengan tali kebenaran yang menjadi pegangan, memperbesar pengharapan akan akhir yang membahagiakan bagi orang yang konsisten dalam ketaatan. Jika diuji dengan kesulitan, maka ingatlah masih ada yang lebih sulit dan berat dari apa yang kamu alami.

Meneladani kesabaran para Nabi dan salafush shalih juga menjadi nutrisi segar untuk memperbaiki stamina kesabaran dan gizi ketahanan terhadap fitnah dan godaan. Sembari memperbanyak doa yang Nabi shallallahu alaihi wasallam ajarkan,

“يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ “

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” [HR. At-Tirmidzi)

Wallahul muwaffiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *