<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arrisalah</title>
	<atom:link href="http://www.arrisalah.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.arrisalah.net</link>
	<description>Menata hati menyentuh ruhani</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 07:28:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Kemiskinan dalam Keluarga</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/04/kemiskinan-dalam-keluarga.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/04/kemiskinan-dalam-keluarga.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan dalam keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masalah keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1724</guid>
		<description><![CDATA[Dalam keterbatasan finansial, percayalah, tidak mudah menjalani hidup di zaman serba materi seperti ini, meski kita tahu, kekayaan tanpa kekuatan iman juga akan menjadi senjata makan tuan yang mencelakakan. Tapi, sukses bagi manusia secara umum adalah gelimang harta, bukan nyamannya hati. Hal yang sering membuat kita hanya bisa terdiam sebab sulit memilih kata-kata untuk menjelaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/kemiskinan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1706" title="kemiskinan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/kemiskinan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Dalam keterbatasan finansial, percayalah, tidak mudah menjalani hidup di zaman serba materi seperti ini, meski kita tahu, kekayaan tanpa kekuatan iman juga akan menjadi senjata makan tuan yang mencelakakan. Tapi, sukses bagi manusia secara umum adalah gelimang harta, bukan nyamannya hati. Hal yang sering membuat kita hanya bisa terdiam sebab sulit memilih kata-kata untuk menjelaskan kebenaran. Tapi, bukankah kita memang sedang hidup di dunia?</p>
<p>Kesulitan itu muncul karena standar minimal kelayakan hidup, terus meningkat seiring kemajuan materi dan teknologi, hal yang akan semakin menyengsarakan siapapun yang kekurangan. Sementara di sisi lain, kita hampir tidak bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan pihak lain. Dan dalam banyak kasus, hal itu berarti sejumlah materi sebagai gantinya. Sehingga ketiadaan materi jelas membawa kita dalam kondisi serba terbatas.</p>
<p>Dan hal itu akan menjadi semakin sulit jika kita berbicara dalam konteks keluarga. Karena keluarga adalah aktifitas kolektif yang melibatkan banyak pihak. Tentu bukan hal mudah membuat semua pihak yang terlibat, memiliki satu sikap ketika menghadapi suatu keadaan. Bersabar dalam kemiskinan jangka waktu yang lama, atau bahkan bersyukur saat rejeki datang bertubi-tubi.</p>
<p>Sebenarnya, miskin dan kaya berasal dari sudut pandang dan keyakinan, jauh sebelum keduanya menjadi fenomena kebendaan. Syaikh Muhammad al-Ghazali pernah berkata, “Sesungguhnya kefakiran dan kekayaan adalah fenomena kejiwaan sebelum keduanya menjadi bagian dari penampakan keduniawian.” Sehingga bisa saja orang yang terlihat kekurangan oleh orang lain, namun merasa berkecukupan. Demikian juga sebaliknya, yang terlihat berlebihan, menderita karena tidak pernah merasa puas.</p>
<p>Dengan demikian, kaya dan miskin sangat berhubungan dengan persepsi kita tentang apa yang kita inginkan dalam hidup, tentang bagaimana kita memaknai sebuah kesuksesan, juga tentang bagaimana kita mengambil manfaat dari apa yang kita peroleh. Sebab selain bisa berbeda pada masing-masing orang, sudut pandang kita tentang dunia sebagai tujuan atau wasilah menuju akhirat, jelas sangat memengaruhi sikap kita. Karena kita semua ingin kesuksesan dan tidak menghendaki kegagalan.</p>
<p>Pun kemampuan kita bersikap qanaah (merasa cukup dengan yang ada), sebaik-baik benteng pertahanan dari serangan kenikmatan dunia, atau malah rakus dan merasa selalu kekurangan meski telah bergelimang harta, sangat dipengaruhi keyakinan yang kita miliki. Padahal ia menjadi penentu perasaan bahagia atau menderita, puas atau kecewa, berani atau takut atas apa yang kita temui dalam hidup ini.</p>
<p>Banyak di antara kita yang mengira, bahwa kemiskinan adalah penyebab semua masalah dalam kehidupan, sehingga seruan untuk memeranginya terdengar sangat nyaring. Dalam banyak hal, kemiskinan bahkan dianggap lebih berbahaya daripada kekafiran dan kesyirikan, seburuk-buruk hal yang dibenci Allah. Banyak di antara kita yang meyakini, bahwa dengan menjadi kaya, semua masalah otomatis akan selesai.</p>
<p>Padahal ada siksa dalam limpahan harta bagi orang-orang yang banyak kehilangan iman. Sejenis permainan berbahaya seperti meminum air garam, perasaan tidak pernah merasa puas sebanyak apapun hasil yang didapat, kelelahan fisik yang tak terhindarkan, hingga penyesalan yang selalu datang belakangan.  Usia yang merambat pergi, mendekatkan mereka kepada kematian yang seringkali beriringan dengan kekufuran. Tapi siapa yang peduli?</p>
<p>Yang penting bagi kita adalah bekerja secara maksimal, sebagai sebuah sebab untuk menjemput rejeki dari Allah. Bersiap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi, bersyukur atas nikmat yang ada, belajar menikmati apa yang tidak dimiliki, dan menjaga husnuzhan kepada Allah. Bahwa apapun yang kita alami, setelah kerja keras, adalah yang terbaik bagi kita.</p>
<p>Memilih lingkungan atau teman dekat adalah tugas kita selanjutnya. Selain karena sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-hari, lingkungan bisa menjadi pendukung atau malah perusak pemahaman keislaman kita. Termasuk  di dalamnya pola kita menjalani hidup keseharian. Padahal, kebiasaan hidup sederhana, mengerem keinginan yang tidak perlu, serta fokus kepada nilai-nilai dan kenyamanan hati daripada tumpukan benda, adalah hal yang lebih pantas diutamakan agar kita lebih tenang menjalani kehidupan.</p>
<p>Dr. Abd Karim Bakar berkata, “Sesungguhnya, orang yang berakal tahu bahwa dia takkan mampu mendapatkan semuanya. Karena itu, dia menahan perasaan, perbuatan, dan kenikmatannya. Dia juga akan seimbang dan sederhana dalam bercita-cita.”</p>
<p>Terakhir adalah selalu mengkondisikan keluarga akan nilai-nilai keislaman yang kuat. Agar keberadaannya benar-benar menjadi pendukung dakwah kita, bukan malah sebaliknya. Sebab kemiskinan tidak berbahaya bagi mereka yang kuat imannya. Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam bersabda, “Tidaklah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah dibentangkannya dunia kepada kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka lakukan, lalu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/04/kemiskinan-dalam-keluarga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Gadis atau Janda</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/04/pilih-gadis-atau-janda.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/04/pilih-gadis-atau-janda.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[gadis dan janda]]></category>
		<category><![CDATA[pilih gadis atau janda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1722</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Ustadz, saya ingin bertanya, apa bedanya menikah dengan janda dan perawan? Dan atas jawaban ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh 081939930xxx Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh Akhi yang dimuliakan Allah, perawan atau janda hanyalah soal pilihan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, meski [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/gadis-janda.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1703" title="gadis-janda" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/gadis-janda-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></em></p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh</em></p>
<p>Ustadz, saya ingin bertanya, apa bedanya menikah dengan janda dan perawan? Dan atas jawaban ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.</p>
<p><em>Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh </em></p>
<p align="right">081939930xxx</p>
<p><em>Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh </em></p>
<p>Akhi yang dimuliakan Allah, perawan atau janda hanyalah soal pilihan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, meski jika keduanya sama dalam banyak hal, memilih istri yang masih perawan lebih diutamakan. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah, “Hendaklah kalian menikah dengan wanita-wanita perawan, sebab mulut mereka lebih terasa segar (lebih terpelihara dari ucapan yang tidak patut,  tidak baik, atau bahkan menyakitkan suami), rahim-rahim mereka lebih dapat berguncang (lebih siap untuk hamil dan melahirkan) , dan mereka lebih dapat bersikap rela terhadap pemberian yang sedikit.”</p>
<p>Hal ini karena fitrah seorang perawan belum memiliki pengalaman kemesraan dengan laki-laki, sehingga dia akan lebih fokus dan merasa senang dengan suami pertamanya. Pengetahuan dan pengalaman hidup berumah tangganya yang masih minim, membuatnya lebih polos, lugu, dan sederhana, baik dalam pemikiran maupun tuntutan kehidupan. Insyaallah, dia juga lebih sedikit tipu dayanya. Ini adalah keadaan umum, dengan pengecualian di sana-sini tentu saja.</p>
<p>Adapun janda, dia memiliki kemungkinan membandingkan suaminya yang baru dengan mantannya karena adanya referensi untuk itu. Bagaimana pun, dia memiliki kenangan masa lalu dengan laki-laki lain. Dan jika suaminya yang dahulu memiliki kebaikan atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh suami barunya, dia akan mudah merasa kecewa. Terutama jika muncul konflik antara dirinya dengan suami baru.</p>
<p>Tetapi, janda juga memiliki kelebihan berupa pengalaman dan ketrampilan hidup berumah tangga. Dalam beberapa keadaan, menikah dengan janda bisa menjadi pilihan jika ada hal-hal yang menuntutnya. Seperti shahabat Jabir radiyallahu ‘anhu yang memilih janda karena ingin ada yang bisa mengasuh dan mendidik tujuh saudara perempuannya. Rasulullah pun membenarkan pilihan Jabir ini.</p>
<p>Jadi, pilihlah sesuai keadaan Anda. Mana yang lebih baik akan kembali kepada banyak hal. Saya rasa Anda bisa menilai sendiri dengan cermat dan hati-hati agar jangan hanya mengandalkan nafsu. Dan jika pilihannya adalah menikahi perawan, waspadalah dengan perawan dalam tanda kutip, yaitu belum pernah menikah tetapi banyak pacar dan pengalamannya dengan laki-laki lain di masa lalu. Hal yang akan menghalangi Anda memperoleh manfaat menikahi perawan seperti hadits di atas.</p>
<p>Semoga Allah memudahkan Anda memilih yang terbaik. Jangan lupa untuk shalat istikharah sebelum memutuskan memilih siapa atau yang mana. []</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/konsultasi/2012/04/pilih-gadis-atau-janda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar tak Sepi Sendiri  di Barzakh Nanti</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/04/agar-tak-sepi-sendiri-di-barzakh-nanti.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/04/agar-tak-sepi-sendiri-di-barzakh-nanti.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[tak sepi di barzakh]]></category>
		<category><![CDATA[teman di barzakh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1720</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Abdul Malik bin Marwan telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru negeri dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya. Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq menyebutkan dari Abu Mashar yang mengisahkan detik-detik akhir kehidupan sang Khalifah. Tatkala beliau sakit menjelang kematiannya ditanya, “Apa yang Anda rasakan wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/agar-tak-sepi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1701" title="agar-tak-sepi" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/agar-tak-sepi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p><span style="text-align: left;">Khalifah Abdul Malik bin Marwan telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru negeri dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya. Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq menyebutkan dari Abu Mashar yang mengisahkan detik-detik akhir kehidupan sang Khalifah. Tatkala beliau sakit menjelang kematiannya ditanya, “Apa yang Anda rasakan wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang Allah firmankan:</span></p>
<p align="right">وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ</p>
<p><em>“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.”</em> <strong>(QS. Al-An’âm: 94)</strong></p>
<p>Lalu beliau mensifati kenikmatan dunia, “Sesungguhnya selama apapun kenikmatan dunia, tetap saja singkat, dan sebesar apapun kenikmatan di dalamnya, tetap saja hina.”</p>
<h2>Tanpa Keluarga dan Tanpa Harta</h2>
<p>Apa yang dirasakan oleh Khalifah Abdul Malik, mewakili setiap insan. Manusia akan menghadap Allah sendiri-sendiri. Bermula ketika seseorang menemui ajalnya, maka keluarga, teman dan sebagian hartanya  hanya menyertai sampai ke tempat di mana ia akan dikuburkan. Keluarga yang disayanginya tak satupun sudi menyertainya. Mereka juga tak ingin jenazah itu tetap tinggal bersama mereka. Meskipun dahulu di dunia ia telah bekerja, mencari nafkah dan mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka. Harta yang dahulu dikumpulkannya pun akan ditinggalkan untuk ahli warisnya. Sebagaimana ia dilahirkan tidak membawa apa-apa, seperti itu pula kelak ia dimasukkan ke lahatnya. Jabatan yang diembannya akan diganti orang lain. Tak ada yang tersisa untuknya selain tanggung jawab yang akan dilaporkan kelak di akhirat. Setinggi apapun  kedudukan, tatkala mati akan sendirian, tak ada lagi karyawan atau bawahan. Firman Allah, <em>“dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.”</em> <strong>(QS. al-An’am: 94)</strong></p>
<p>Mari sejenak kita mengandai, posisi kita sebagai orang yang mati itu. Karena toh, kita juga akan mengalaminya. Pernahkah kita bayangkan, bagaimana kelak kita menjalani hari-hari selama di alam kubur. Tinggal seorang diri, di tempat yang sangat sempit dan gelap. Andaikan kita terjebak di dalam lift sehari saja, kesedihan menyiksa hati. Lantas bagaimana nasib seseorang yang terkurung di liang lahad hingga hari dibangkitkannya ia dari kuburnya?</p>
<p>Betapa banyak insan yang terasing di kegelapan kubur. Hanya berkawan siksa dan amal buruknya sewaktu di dunia. Bayangkan hidup tanpa tersedianya makanan, tak ada cahaya, ruang sempit dan susah untuk bergerak, bahkan untuk sekedar bernafas. Tak ada hiburan yang mengurangi rasa galau, ketakutan dan kepedihan. Betapa banyak dari manusia yang ingin keluar dari tempat yang sempit itu. Hanya saja, keinginannya untuk kembali ke dunia bukan untuk melanjutkan bersenang-senang, atau mengejar angan-angan yang belum tersampaikan. Tapi, untuk menjalani kehidupan baru yang akan diisi dengan amal shaliah. Walhasil, semua itu hanya angan-angan belaka. Firman Allah,</p>
<p><em> “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia, agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka.”</em> <strong>(QS al-Mukminun: 99-100)</strong></p>
<p>Ada pembatas abadi antara dirinya dengan dunia yang tak mungkin bisa kembali, dan ada batas penantian hingga hari di mana ia akan dibangkitkan.</p>
<h2>Jadikan Amal Shalih Sebagai Kekasih</h2>
<p>Adalah Hatim bin al-Asham, memiliki resep jitu untuk menghindari kesepian dan kesempitan kubur. Beliau mengatakan, “Aku perhatikan perilaku manusia, aku dapatkan masing-masing memilikikekasih di dunia. Namun tatkala ia masuk ke dalam kubur, sang kekasih tak turut serta. Maka aku jadikan amal shalih sebagai kekasih, agar ia bisa menemaniku saat masuk ke dalam kubur.”</p>
<p>Alangkah cerdas sikap beliau. Beliau yakin akan kabar dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,</p>
<p align="right">يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ</p>
<p>“Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”. <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hanya amal kebaikan yang bisa memakmurkan hidupnya di alam penantian. Makin banyak amal kebaikan dilakukan di dunia, makin banyak teman dan hiburan di dalam kubur. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa setelah seorang mukmin bisa menjawab pertanyaan malaikat penjaga kubur, maka ia didatangi oleh teman yang berwajah tampan, wangi aromanya, bagus bajunya seraya menyapa, “Berbahagialah dengan karunia dari Allah dan kenikmatan yang kekal.” Lalu di mayit menjawab, “Dan Anda, semoga Allah membahagiakan Anda dengan kebaikan, siapakah Anda?” Tamu itu menjawab,</p>
<p align="right">أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ، كُنْتَ وَاللهِ سَرِيعًا فِى طَاعَةِ اللهِ، بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا</p>
<p>“Aku adalah amalmu yang shalih, demi Allah, Anda adalah orang yang bersegera dalam mentaati Allah, lamban untuk bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.” (HR Ahmad)</p>
<p>Kuburnya akan dilapangkan sejauh mat a memandang, cahaya memenuhi ruangan, dan akan disediakan ranjang dari jannah.</p>
<p>Maka alangkah tepat bahasa yang dipilih oleh Hatim, “Aku jadikan amal shalih sebagai kekasih.” Amal shalih memang menjadi kekasih sejati, yang setia menyertai kita hingga akhir perjalanan hingga kita meraih kenikmatan abadi. Hanya saja, menjadikannya sebagai kekasih artinya mencintai amal shalih, betah bertemu dan menyertainya, juga selalu merindukannya. Semoga Allah jadikan kecintaan kita kepada ketaatan, dan benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, aamiin. (Abu Umar Abdillah)[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/04/agar-tak-sepi-sendiri-di-barzakh-nanti.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sujud: Dahi di Tanah, Derajat Tinggi di Jannah</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/sujud-dahi-di-tanah-derajat-tinggi-di-jannah-2.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/sujud-dahi-di-tanah-derajat-tinggi-di-jannah-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Abu Umar Abdillah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[sujud derajat di jannah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1715</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Jarier menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Apakah Muhammad masih menyungkurkan wajahnya ke tanah (sujud untuk shalat) di tengah kalian?” Orang-orang Quraisy menjawab, “Iya.” Lalu dia berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihat ia shalat lagi, sungguh aku akan injak tengkuknya (saat sujud), dan aku akan benamkan wajahnya ke tanah.” Lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/muth11.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1707" title="muth1" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/muth11-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Ibnu Jarier menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Apakah Muhammad masih menyungkurkan wajahnya ke tanah (sujud untuk shalat) di tengah kalian?” Orang-orang Quraisy menjawab, “Iya.” Lalu dia berkata, “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihat ia shalat lagi, sungguh aku akan injak tengkuknya (saat sujud), dan aku akan benamkan wajahnya ke tanah.” Lalu ia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menginjak tengkuk beliau. Tiba-tiba ia terkejut, melangkah mundur sambil melindungi wajah dengan kedua tangannya. Lalu ia ditanya, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Antara aku dan dia ada parit api dan makhluk bersayap.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya dia mendekatiku sungguh malaikat akan mencabik tubuhnya sepotong demi sepotong.”</p>
<p>Tentang peristiwa inilah Allah berfirman, <em>“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat…” hingga firman-Nya, “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb.”) </em><strong>(QS. Al-Alaq 9 &#8211; 19)</strong></p>
<p>Meski dalam bayang-bayang ancaman, Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap diperintahkan sujud kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan sebagai jaminannya, Allah mengutus malaikat untuk melindungi beliau dari ancaman yang membahayakan. Seberapa berartikah sujud itu?</p>
<h2>Mencari Nikmat dalam Sujud</h2>
<p>Sujud, sebagaimana disebutkan al-Ashfahani, bermakna merendahkan dan menghambakan diri kepada Allah (al-tadzallul lillah wa ‘ibadatih). Sujud adakalanya dilakukan secara ’mekanik’ melalui ketetapan dari Allah. Inilah sujud tumbuh-tumbuhan, binatang, dan semua benda-benda baik di langit maupun di bumi, termasuk di dalamnya sujud para malaikat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>‘<em>’Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri.’’</em><strong> (An-Nahl: 49).</strong></p>
<p>Adakalanya sujud juga dilakukan karena usaha (ikhtiyari). Inilah sujud seorang Muslim, baik waktu shalat, mendengarkan bacaan al-Qur’an (sujud tilawah), maupun ketika ia mendapatkan kenikmatan (sujud syukur). Ini sebagai realisasi dari firman Allah,</p>
<p><em>‘’Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu, dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.’’</em><strong> (Al-Hajj: 77).</strong></p>
<p>Demikian agung perkara sujud. Sujud menjadi cara paling tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang paling jauh dari sujud. Sedangkan orang yang paling dekat dengan Allah, adalah orang yang paling banyak bersujud. Posisi sujud yang merupakan posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya, sekaligus menjadi momen yang baik bagi seorang hamba untuk memohon kepada Rabbnya. Baik untuk mendatangkan kemaslahatan maupun menolak kemadharatan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p align="right">أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ</p>
<p>“Posisi hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah di saat sujud, maka perbanyaklah doa (di kala sujud).” (HR Muslim)</p>
<p>Saat posisi dahi seseorang menyentuh tanah, merendahkan dirinya kepada Penciptanya, itulah posisi puncak ketawadhu’an. Karena dahi adalah simbol kehormatan seseorang. Dengan posisi itu, seseorang telah mengenyahkan sifat takabur dari hatinya. Bahwa dia hanyalah seorang hamba sebagaimana hamba lain yang ubun-ubunnya berada di tangan-Nya. Ia tak mampu berbuat apapun tanpa pertolongan-Nya. Sujud mengharuskan seseorang mengalahkan ego dan nafsunya, untuk kemudian menyerahkan total penghambaan kepada Rabb-Nya.</p>
<p>Agar sujud kita diterima, dan kita bisa menikmatinya, hendaknya menjalani sesuai sunnah Nab shalallahu ‘alaihi wasalam, dan dengan menyertakan sujudnya hati. Sentuhkan dahi ke tempat sujud dengan tenang, tak perlu tergesa-gesa untuk membaca, atau untuk segera mengangkat kepala. Resapilah posisi dan makna sujud kita yang meninggikan Allah semata. Akui kelemahan  kerendahan diri di hadapan-Nya. Lalu bacalah bacaan sujud saat badan sudah pas dengan posisi sujud. Yakni ketika tujuh anggota badan; dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung telapak kaki telah menempel di alas sujud secara sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Perbanyak pula doa di dalamnya, karena Anda sedang berada dalam posisi yang paling dekat dengan Rabb Anda, dan dekat dengan pengabulan-Nya. Bisikkan doa dengan sepenuh pengharapan. Keadaan ini akan membuat jiwa menjadi tenang, hingga benar-benar shalat menjadi rehat dan pelepas lelah bagi orang-orang yang beriman.</p>
<p>Bagaimana tidak nikmat orang yang menjalani sujud dengan segenap jasad dan hatinya. Sujud hati yang akan menyatu dengan jiwa meski telah berada di luar shalat. Karakter <em>Saajidiin</em> (orang yang bersujud) terus disandang oleh hati, dan terejawantahkan oleh jasad dengan menjalani ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa di antara ulama salaf ditanya, “Apakah hati juga bersujud?” Beliau menjawab, “Iya, dengan sujud yang tidak pernah berhenti hingga bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menguatkan bahwa ulama yang dimaksud adalah Sahl bin Abdillah at-Tusturi.</p>
<p>Sujud yang tidak menyertakan hati, atau bahkan hanya sekedar ingin diakui sebagai orang sebagai seorang muslim, jelas akan dirasa berat. Begitupun sujud yang dilakukan dengan cara menyelisihi sunnah, dan nihil dari tuma’ninah.</p>
<p>Umar bin Khathab radhiyallahu ’anhu berkata, “Ada seseorang yang rambutnya telah beruban di dalam Islam, namun belum menyempurnakan satu rekaatpun untuk Allah.” Beliau ditanya, bagaimana itu terjadi wahai Amiirul mukminin?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”</p>
<p>Orang munafik juga tidak pernah mengenyam lezatnya sujud. Kerasnya hati membuat jasad tidak betah pula menyungkurkan wajah di hadapan Allah. Nabi menggambarkan buruknya sujud orang-orang munafik,</p>
<p dir="RTL"> تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً</p>
<p>”Itulah shalatnya orang munafik, ia duduk menunggu matahari hingga berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam) lalu berdiri shalat kemudian mematuk ke tanah empat kali dan ia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.” <strong>(HR Muslim)</strong></p>
<h2>Dahi di Tanah, Derajat di Puncak Jannah</h2>
<p>Alangkah rugi orang yang kehilangan nikmat sujud, juga mereka yang minim sujud secara kualitas maupun kuantitas. Karena pada sujud terkandung keutamaan-keutamaan yang sangat banyak.</p>
<p>Bukanlah suatu kehinaan merendahkan diri atau bahkan menghinakan diri di hadapan Sang Pencipta. Justru, semakin tawadhu’ dan tunduk seseorang di hadapan Allah, semakin tinggi dan mulia pula kedudukannya di sisi Allah, sedangkan kemuliaan hanyalah milik Allah. Karenanya, Allah akan mengangkat satu derajat kemuliaan setiap kali seorang hamba bersujud kepada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda,</p>
<p align="right">عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ، فَإِنَّكَ لا تَسْجُدُ للهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً ، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً”</p>
<p>“Hendaknya kamu memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa.” (HR Muslim, Tirmidzi, dan an-Nasa’i).</p>
<p>Satu derajat ditinggikan, dan satu dosa dihapuskan dengan sekali sujud. Makin banyak sujud dalam shalat, dosa makin terkikis, dan makin tinggi pula derajat seseorang di jannah. Bahkan bisa menyertai Nabi shallallahu alaihi wasallam di puncak jannah. Imam Muslim meriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu,</p>
<p dir="RTL">فَأَعِنِّي عَلى نَفْسِكَ بَكَثْرَةِ السُّجُودِ</p>
<p>“Aku menginap bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam dan membantu beliau untuk menyiapkan air wudhu dan kebutuhan lainnya.” Kemudian, Rasulullah bersabda, “Mintalah sesuatu kepadaku.” Aku menjawab, “Aku mohon agar bisa menemani Anda di jannah.” Beliau menjawab, “Masih ada yang lain?” Aku berkata, “Hanya itu saja.” Lalu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim, An-Nasai, Abu Daud, Ahmad).</p>
<p>Peluang ini berlaku pula bagi selain Rabi’ah bin Ka’ab. Siapapun yang memperbanyak sujud, maka ia berpeluang untuk menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di ketinggian jannah.</p>
<p>Tak perlu khawatir bagaimana bisa mengetahui posisi dan bertemu Nabi. Karena orang-orang yang rajin sujud akan dikenali bekasnya oleh Nabi pada Hari Kiamat.</p>
<p>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Tak satu orangpun di antara umatku yang tidak kukenali pada Hari Kiamat. Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana engkau dapat mengetahuinya wahai Rasulullah, sedangkan engkau berada di tengah-tengah banyaknya makhluk? Beliau bersabda: “Apakah kalian dapat mengetahui sekiranya kalian memasuki tempat tumpukan makanan yang di dalamnya terdapat sekumpulan kuda berwarna hitam pekat yang tidak dapat tertutup oleh warna lain, dan di dalamnya terdapat pula kuda putih bersih, bukankah kalian dapat membedakannya? Mereka menjawab,  “Tentu!” Beliau bersabda, “Sesungguhnya umatku pada hari itu berwajah putih bersih karena (bekas) sujud dan karena (bekas) wudlu’.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dengan sanad yang sahih; Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini, dengan komentar : shahih).</p>
<p><em>Allahummaj’alna minas saajidin</em>, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bersujud. Aamiin. (Abu Umar Abdillah) []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/sujud-dahi-di-tanah-derajat-tinggi-di-jannah-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Operasi Payudara</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hukum-operasi-payudara.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hukum-operasi-payudara.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dr Ahmad Zain An Najah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dr. Ahmad Zain]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[hukum operasi payudara]]></category>
		<category><![CDATA[operasi payudara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1713</guid>
		<description><![CDATA[Banyak wanita yang bertanya tentang hukum melakukan operasi payudara, karena ingin membahagiakan suami mereka, atau karena memang keinginan dari suami mereka. Wanita-wanita itu beralasan bahwa membahagiakan suami itu akan mendapatkan pahala, tetapi di sisi lain mereka takut kalau hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, karena larangan untuk merubah ciptaan Allah. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/hukum-operasi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1705" title="hukum-operasi" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/hukum-operasi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Banyak wanita yang bertanya tentang hukum melakukan operasi payudara, karena ingin membahagiakan suami mereka, atau karena memang keinginan dari suami mereka. Wanita-wanita itu beralasan bahwa membahagiakan suami itu akan mendapatkan pahala, tetapi di sisi lain mereka takut kalau hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, karena larangan untuk merubah ciptaan Allah. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap masalah ini?</p>
<p>Tulisan berikut ini menjelaskan permasalahan di atas.</p>
<p><strong>Operasi Payudara </strong></p>
<p>Mengubah ukuran payudara secara medis, yaitu dengan cara operasi. Salah satu cara yang paling mutakhir adalah dengan metode TUBA (trans-umbilical breast augmentation) atau pembesaran payudara melalui irisan di sekitar pusar.</p>
<p>Teknik operasi implant ini ditemukan, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Dr. Gerald Johnson seorang dokter ahli operasi plastik dari Amerika. Irisan TUBA adalah irisan yang dilakukan dengan membelah pusar kemudian menyusuri sebagian pinggirannya. Operasi ini lebih jarang dilakukan dibandingkan dengan tiga metode pemasangan implant yang lain, yaitu Peri-areolar Incision, Inframammary Fold Incision, dan Transaxillary Incision.</p>
<p>Setelah irisan dilakukan, dokter akan menggunakan endoskopi atau semacam tabung silinder untuk membuat jalan dari perut menuju payudara. Jalur dibuat melalui jaringan lemak di bawah kulit perut. Implan flatable digulung kemudian di pasangkan di ujung endoscope, diarahkan dan ditempatkan di dalam payudara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Operasi Payudara Yang Normal</strong></p>
<p>Operasi payudara kadang dilakukan oleh seorang wanita yang mempunyai payudara yang normal dan standar, mungkin tidak terlalu besar dan montok, tetapi juga tidak terlalu kecil sekali, alias sehat dan tidak cacat.</p>
<p>Kenapa seorang wanita membesarkan payudaranya dengan cara medis padahal payudaranya normal? Hal ini tidak lepas dari dua faktor:</p>
<p>Faktor Pertama: Karena keinginannya sendiri, sekedar iseng dan ingin berbangga diri, baik dia mempunyai suami, maupun belum mempunyai suami. Dalam keadaan seperti ini, tidak dibolehkan baginya untuk melakukan pembesaran dengan cara medis dalam bentuk apapun, karena masuk dalam katagori merubah ciptaan Allah dan tidak bersyukur dengan nikmat Allah yang diberikan kepadanya.</p>
<p>Faktor Kedua: Karena ingin membahagiakan suaminya, atau karena suaminya yang memintanya agar berbuat seperti itu. Apakah ini termasuk berbakti dan taat kepada suami sehingga mendapatkan pahala?</p>
<p>Jawabannya: seorang istri akan mendapatkan pahala jika dia mentaati perintah suaminya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p>“<em>Maka, wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah (dan kepada suaminya), lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”</em><strong>(Qs an-Nisa’: 34) </strong></p>
<p>Tetapi ketataan itu terbatas pada masalah yang ma’ruf dan baik serta tidak dilarang oleh Islam. Jika perintah tersebut menyalahi ajaran Islam, maka tidak boleh ditaati. Sebagaimana disebutkan di dalam hadist Imran bin Husain, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :</p>
<p align="right">لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الخالقِ</p>
<p>“Tidak ada ketaatan kepada makhluq untuk bermaksiat kepada Allah” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah, hadist ini dishahihkan oleh Ibnu Qayim, Suyuti, Syaukani dan yang lain)</p>
<p>Melakukan operasi payudara yang sebenarnya masih normal adalah bentuk dari merubah ciptaan Allah dan tanda bahwa orang tersebut tidak ridha dengan ketentuan Allah, maka perintah suami dalam ini tidak boleh ditaati, bahkan sebaliknya jika sang istri mengetahui hukum operasi payudara ini tidak boleh, hendaknya dia mengingatnya suaminya dengan cara lemah lembut yang tidak menyinggung perasaannya.</p>
<p><strong>Operasi Payudara Yang Cacat </strong></p>
<p>Operasi payudara kadang dilakukan oleh wanita yang mempunyai payudara tidak normal atau cacat, seperti payudaranya yang terlalu kecil dan tidak wajar, yaitu berbeda dengan payudara para wanita pada umumnya, bahkan sampai ada yang payudaranya menyerupai dada seorang laki-laki, sehingga tidak bisa dibedakan apakah dia seorang wanita atau seorang laki-laki.</p>
<p>Dalam keadaan seperti ini, maka dibolehkan untuk membesarkan payudaranya dengan cara operasi sampai pada batas normal, karena ini merupakan penyakit dan cacat yang seorang muslim dibolehkan untuk mengobatinya. Hal ini sesuai dengan Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia (25/ 16) , no: 20919), ketika menjawab pertanyaan dari seorang suami yang merasa murung dan menderita karena istrinya mengalami kelainan dalam tubuhnya, terutama payudaranya yang sangat kecil, sehingga ukurannya kadang-kadang sama dengan yang dimiliki laki-laki.</p>
<p>Hal ini juga mengakibatkan istri tertekan batinnya sehingga tidak percaya diri ketika berhadapan dengan suaminya. Apakah dibolehkan bagi istrinya untuk melakukan operasi sewajarnya sehingga ukuran payudaranya kembali normal sebagaimana perempuan lainnya? Jawaban Lajnah Daimah sebagai berikut:</p>
<p>“Jika faktanya sesuai dengan yang disebutkan oleh penanya, maka dibolehkan untuk dilakukan operasi demi memperbaiki bentuk payudara, jika hal tersebut tidak membahayakan tubuh istrinya. Ini dibolehkan karena yang diceritakan tadi termasuk salah satu penyakit yang dibolehkan untuk diobati berdasarkan dalil-dalil syar’I yang begitu banyak.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Bagi wanita yang mempunyai payudara normal, walaupun kadang tidak ideal, hendaknya bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut. Sekali-kali tidak dibolehkan untuk melakukan operasi payudara, kecuali kalau payudaranya cacat atau terkena penyakit, maka dalam keadaan seperti ini dibolehkan untuk melakukan operasi dalam batas-batas kewajaran, dan tidak melampaui batas.</p>
<p>Tetapi yang paling baik tentunya wanita tersebut bersabar dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, selama hal tersebut tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Mudah-mudahan Allah membimbing kita kepada jalan-Nya yang lurus.[]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cipayung, Jakarta Timur, Ba’da Ashar, 1 Pebruari 2012 M</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hukum-operasi-payudara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kebangkitan</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hari-kebangkitan.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hari-kebangkitan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 07:15:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imtihan Syafi&#39;i</dc:creator>
				<category><![CDATA[Imtihan Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[hari kebangkitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1711</guid>
		<description><![CDATA[وَنُؤمِنُ بِالْبَعْثِ وَجَزَاءِ اْلأَعْمَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْعَرَضِ وَالْحِسَابِ وَقِرَاءَةِ الْكِتَابِ وَالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَالصِّرَاطِ وَالْمِيْزَانِ (87) Kami beriman kepada kebangkitan, balasan amal pada hari Kiamat, ‘aradh, hisab, pembacaan catatan amal, pahala, hukuman, shirath, dan mizan. Setelah bumi luluh-lantak oleh kehendak Allah pada hari Kiamat dan semua manusia dan jin tak ada yang tersisa, bahkan semua makhluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/hari-kembangkitan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1704" title="hari-kembangkitan" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/hari-kembangkitan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>وَنُؤمِنُ بِالْبَعْثِ وَجَزَاءِ اْلأَعْمَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْعَرَضِ وَالْحِسَابِ وَقِرَاءَةِ الْكِتَابِ وَالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَالصِّرَاطِ وَالْمِيْزَانِ</p>
<p align="center"><strong>(87) Kami beriman kepada kebangkitan, balasan amal pada hari Kiamat, ‘aradh, hisab, pembacaan catatan amal, pahala, hukuman, shirath, dan mizan.</strong></p>
<p>Setelah bumi luluh-lantak oleh kehendak Allah pada hari Kiamat dan semua manusia dan jin tak ada yang tersisa, bahkan semua makhluk ciptaan Allah binasa, tinggallah malaikat peniup sangkakala yang masih hidup. Maka, Allah mewafatkan malaikat peniup sangkakala itu, lalu Allah menghidupkannya setelah masa berlalu sekian lama sedangkan tidak ada satu makhluk hidup pun yang hidup. Kemudian Allah memerintahkannya untuk meniup sangkakala sekali lagi dan semua manusia dan jin, dari yang pertama sampai yang terakhir, hidup lagi. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing).”</em><strong> (Az-Zumar: 68)</strong></p>
<p>Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Waktu di antara dua tiupan sangkakala adalah empat puluh.” Mereka yang hadir bertanya, “Wahai Abu Hurairah, empat puluh hari?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.”  Mereka bertanya lagi, “Empat puluh bulan?”  Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Mereka bertanya lagi, “Empat puluh tahun?” Abu Hurairah berkata, “Saya tidak bisa menjawab.” Lantas Abu Hurairah melanjutkan periwayatannya, “Kemudian Allah menurunkan air dari langit sehingga manusia  tumbuh seperti tumbuhnya sayuran.” Rasul melanjutkan,  “Seluruh bagian tubuh manusia telah hancur kecuali satu tulang saja, yaitu tulang ekor dan darinya akan di mulai penciptaan pada hari Kiamat”. <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<h2>Kebangkitan</h2>
<p>Peristiwa kebangkitan semua makhluk pada hari Kiamat tidak diyakini oleh umat manusia dari dulu sampai sekarang. Hal itu sudah dikabarkan oleh Allah dalam banyak ayat dan ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dalam banyak hadits. Di antaranya adalah:</p>
<p><em>“Dan mereka selalu mengatakan, ‘Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah/tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Apakah bapak-bapak kami terdahulu (akan dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan kemudian benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang telah dikenal.’.”</em> <strong>(Al-Waqi’ah: 47-50)</strong></p>
<p>Ketika dibangkitkan kelak, semua manusia berada dalam keadaan tak berpakaian tak beralas kaki. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang  dan tidak berkhitan.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasululllah, laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?!” Beliau menjawab, “Urusan pada hari itu lebih besar daripada hal itu sehingga mereka tidak akan memperhatikannya.” <strong>(HR. al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<h2>Pembalasan Amal</h2>
<p>Semua amal yang pernah dikerjakan oleh manusia, yang baik maupun yang buruk, yang kecil maupun yang besar, semua akan dibalas oleh Allah. Tidak ada yang dilewatkan. Allah telah menjanjikan hal itu.</p>
<p><em>“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.</em>” <strong>(Al-Zalzalah: 7-8)</strong></p>
<p>Yang perlu dipahami terkait dengan janji Allah ini, ada amal-amal shalih yang dapat menghapus dosa dan kesalahan sebagaimana ada dosa-dosa yang dapat menghapus amal kebajikan.</p>
<p>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dalam keadaan apa pun! Kerjakanlah kebaikan setelah kamu melakukan keburukan, semoga kebaikan itu menghapus keburukan! Bergaullah dengan orang lain secara baik!” (HR. at-Tirmidzi)</p>
<p>Allah berfirman,<em> “Jika engkau berbuat syirik (besar), niscaya semua amalmu akan terhapus,dan engkau menjadi golongan orang yang merugi.”</em> <strong>(Az-Zumar: 56)</strong></p>
<p>Besar-kecilnya nilai suatu amal telah dinyatakan oleh Allah. Begitu pun dengan pengaruh-pengaruhnya. Kitalah yang mesti melacak dan memenuhinya dari Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya.</p>
<p>Satu hal yang pasti, Allah Mahaadil dan Maha Pemurah. Jika Dia menghukum, pastilah dengan keadilan-Nya. Tak ada seorang pun yang dizalimi-Nya. Jika Dia memberi balasan yang baik atau ampunan, sungguh itu dengan rahmat dan anugerah-Nya.</p>
<h2>Penghitungan Amal</h2>
<p>Sebenarnya, memberikan balasan atas apa yang dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia tanpa melakukan penghitungan amal pun mudah bagi Allah. Allah Maha Mengetahui semua perkara, baik secara global maupun detail. Hanya—kiranya demikianlah salah satu hikmahnya—untuk menunjukkan kesempurnaan apa yang dilakukan oleh Allah dan keadilan-Nya, Allah akan menghitung berbagai amal manusia. Amal baik dan amal buruk, semuanya.</p>
<p>Penghitungan amal atau hisab ini ada yang ringan dan ada yang berat, di samping ada orang-orang beriman yang masuk surga tanpa hisab. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,</p>
<p>“Tidak seorang pun dihisab pada hari kiamat kecuali celaka.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah berfirman, ‘Adapun siapa yang diberi kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan ringan?’ Rasulullah saw menjawab, “Hanyasanya itu adalah ‘aradh (memperlihatkan amal). Tidak seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan diazab.” <strong>(HR. al-Bukhari)</strong></p>
<p>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat oleh Allah. Aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorang pun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak. Kukira mereka itu umatku, tetapi disampaikan kepadaku, ‘Itu adalah Musa dan kaumnya.’ Lalu tiba-tiba kulihat lagi sejumlah besar orang, dan disampaikan kepadaku, ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang, mereka akan masuk surga tanpa hisab dan azab.’.” <strong>(HR. al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Hisab akan dilakukan sendiri oleh Allah sebagaimana dinyatakan oleh Rasululla shalallahu ‘alaihi wasalam.</p>
<p>“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. Lalu ia melihat ke sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya; dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat neraka ada di hadapannya.” <strong>(HR. al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p>Dus, umat Islam akan terbagi menjadi tiga. Masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab yang ringan atau ‘aradh, dan masuk surga setelah dihisab yang berarti masuk neraka terlebih dahulu. Semoga kita termasuk golongan yang pertama atau kedua.</p>
<h2>Catatan Amal</h2>
<p>Setelah menjalani hisab, kepada setiap orang akan diberikan kitab yang bertuliskan catatan amalnya sewaktu di dunia. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?’ Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun.”</em> <strong>(al Kahfi: 49)</strong></p>
<p><em>“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”</em> <strong>(al-Mujadalah: 6)</strong></p>
<p>Pada saat catatan amal diperlihatkan, mulut manusia dikunci sehingga ia tak dapat mengingkarinya. Bahkan anggota badannya menjadi saksi atas apa yang tercatat itu.</p>
<h2>Mizan</h2>
<p>Tak hanya dihisab dan diberi catatan amal. Manusia dan amalnya pun akan ditimbang; manakah yang lebih berat: amal kebaikannya ataukah amal buruk dan dosa-dosanya. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Kami akan memasang mizan (timbangan) yang tepat pada hari kiamat. Maka, tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun.”</em> <strong>(Al-Anbiya`: 47)</strong></p>
<p>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Allah yang Maha Penyayang, ringan diucapkan, berat di mizan (timbangan). Yaitu, ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya’ dan ‘Mahasuci Allah yang Mahaagung.’.” <strong>(HR. al-Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<h2>Shirath</h2>
<p>Setelah menjalani semua prosesi menuju pembalasan amal yang sejati, manusia akan digiring menuju sebuah tempat di mana selanjutnya mereka harus melewati Shirath menuju jannah. Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Rasulullah saw adalah orang pertama yang melewatinya, sebagaimana dikabarkan oleh Imam al-Bukhari.</p>
<p>Tentang keadaan manusia saat melewati shirath, Rasulullah saw bersabda, “Orang beriman melewati shirath dengan keadaan: ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara perlahan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa keadaan manusia saat melintas di atas shirath sama persis dengan perjalanan hidupnya di dunia.</p>
<p>Semoga kita semua mendapatkan husnul khatimah.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kolom/2012/04/hari-kebangkitan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biarkan Hati Tumbuh</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/biarkan-hati-tumbuh.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/biarkan-hati-tumbuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 06:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[biarkan hati tumbuh]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1692</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tubuh yang menghajatkan keterbebasan dari penyakit untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bergerak dengan bebas, begitupun dengan hati kita. Ia tidak bisa menjalankan aktivitas utamanya, mencintai kebaikan, jika banyak kotoran yang menghalanginya. Karena berbagai penyakit itu, hakikatnya adalah unsur perusak. Tak sekadar membuatnya kotor, ia bahkan menjadi penghalang bagi tumbuh kembang tubuh ke arah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/biarkan-hati.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1669" title="biarkan-hati" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/biarkan-hati-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Seperti tubuh yang menghajatkan keterbebasan dari penyakit untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bergerak dengan bebas, begitupun dengan hati kita. Ia tidak bisa menjalankan aktivitas utamanya, mencintai kebaikan, jika banyak kotoran yang menghalanginya.</p>
<p>Karena berbagai penyakit itu, hakikatnya adalah unsur perusak. Tak sekadar membuatnya kotor, ia bahkan menjadi penghalang bagi tumbuh kembang tubuh ke arah yang lebih baik. Hingga upaya menghilangkannya menjadi keniscayaan. Dan menjadi langkah pertama bagi para perindu kesehatan dan perubahan menuju kesempurnaan.</p>
<p>Ini adalah tentang bagaimana memunculkan kekuatan alami dalam tubuh agak tidak bergerak melambat karena terhambat. Selain menjadi tidak efisien, perlambatan itu membuat tidak nyaman, dan seringkali menyiksa. Lunglai dalam onggokan tulang berbalut daging. Hingga berbagai kenikmatan halal hanya menjadi pemandangan indah tanpa kemampuan menikmatinya sebab tiada daya upaya untuk itu.</p>
<p>Dosa dan maksiat adalah kotorannya hati. Ia membuatnya enggan berkehendak kepada kebaikan karena kehilangan energinya. Menuntunnya kepada kegiatan aneh, menghancurkan diri sendiri dengan kenikmatan semu yang disangkanya nyata, sesaat yang diyakininya lama. Kemudian menutup telinga dari informasi tentang bahaya yang mengintainya, padahal ia benar adanya. Adakah kebodohan yang lebih parah darinya?</p>
<p>Hati yang terlena dalam dosa tak berdaya memenuhi panggilan kebaikan. Serupa pemalas yang mengabaikan tawaran kerja dengan penghasilan mengesankan, namun sibuk mencari pembenaran. Dalam pengaruh bius maksiat yang meluruhkan semua formula kesuksesan, ia membangun angan-angan kosong tentang makna kejayaan. Ia bermimpi telah menjadi sesuatu, padahal hanya berilusi yang ia mampu.</p>
<p>Dan tumbuh kembang bukan hanya tentang nutrisi yang bergizi atau gerak badan berkesinambungan. Yang lebih esensi adalah pembersihannya dari materi jahat yang bisa merusakkan semuanya. Menjadikannya sia-sia sebab hasil yang ada tak seperti yang diharapkan. Sesal mengiringi kehancuran yang bahkan sudah diprediksi, namun semuanya tiada arti lagi.</p>
<p>Maka biarkanlah hati kita bertumbuh! Menjadi semakin sehat, menjadi semakin baik menuju kesempurnaannya seandainya mungkin. Tapi tidak jalan yang benar selain membebaskannya dari berbagai dosa dan maksiat dengan taubat. Atau membanjirinya dengan amal shalih yang melimpah serupa air bah.</p>
<p>Dengan demikian, menjajarkan sikap taat dan maksiat tentulah tidak wajar, menyandingkan amal shalih dan dosa sangat membuat letih. Tidak benar dan hanya membuat kebingungan.</p>
<p>Wallahu a’lam.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/biarkan-hati-tumbuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakat yang Terkubur</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/bakat-yang-terkubur.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/bakat-yang-terkubur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 06:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[bakat]]></category>
		<category><![CDATA[bakat terkubur]]></category>
		<category><![CDATA[pencari bakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1690</guid>
		<description><![CDATA[Penulis mengenal banyak teman di sekolah dahulu. Sebagian mereka membuat penulis takjub karena kemampuan mereka dalam menghafal, memahami pelajaran dan kecerdasan. Puluhan tahun berlalu, dan tatkala Allah pertemukan kembali dengan sebagian mereka, serasa hilang ‘kehebatan’ yang dahulu pernah mereka miliki. Ada yang kondisi pengetahuannya relatif tak berkembang setelah berselang sekian lama. Bahkan tak jarang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/bakat-terkubur.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1668" title="bakat-terkubur" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/bakat-terkubur-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Penulis mengenal banyak teman di sekolah dahulu. Sebagian mereka membuat penulis takjub karena kemampuan mereka dalam menghafal, memahami pelajaran dan kecerdasan. Puluhan tahun berlalu, dan tatkala Allah pertemukan kembali dengan sebagian mereka, serasa hilang ‘kehebatan’ yang dahulu pernah mereka miliki.</p>
<p>Ada yang kondisi pengetahuannya relatif tak berkembang setelah berselang sekian lama. Bahkan tak jarang yang kecerdasannya justru menyusut, seakan potensi ilmunya terkubur begitu saja tanpa bekas.</p>
<p>Tanpa sadar angan-angan penulispun melambung, mengandaikan sekiranya dahulu si fulan itu mengoptimalkan potensi kecerdasan yang Allah anugerahkan kepada mereka. Teringat masa kecil Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika seorang ulama dari Suriah sengaja datang ke Damaskus untuk melihat Ibnu Taimiyah kecil. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata, “Jika anak ini hidup hingga dewasa, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya.” Prediksi itu benar adanya, beliau menjadi ulama besar, dan menjadi rujukan bagi kaum muslimin di zamannya dan sesudahnya.</p>
<p>Teringat juga masa kecil Imam Nawawi, yang telah tampak bibit-bibit ‘kehebatannya’ sejak kecil. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan tidak suka bermain. Pernah suatu ketika ia dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya. Namun ia menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Ia lebih suka menghafalkan Al-Quran daripada memenuhi ajakan teman-temannya. Ketika Syeikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi, salah satu ulama di zamannya memperhatikan keadaan an-Nawawi kecil, ia pun mendatangi orang tuanya, berpesan bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Dan Allah takdirkan prediksi itu menjadi kenyataan.</p>
<p>Hal itu dikarenakan mereka menyambut potensi yang Allah berikan tersebut dengan rasa syukur. Mereka tindaklanjuti dengan memupuk ilmu, menyuburkannya dan menempuh segala hal yang bisa menyebabkan ilmu berkembang dan berbuah. Seperti Imam an-Nawawi yang di masa mudanya menghadiri 12 majlis ilmu setiap harinya. Maka bertemulah antara bakat dengan tekad, melahirkan pengetahuan dan karya-karya amal yang menakjubkan.</p>
<p>Meskipun tidak sehebat Ibnu Taimiyah ataupun Imam an-Nawawi, di kalangan barisan para penuntut ilmu syar’i,  kita juga sering mendapatkan orang-orang yang dianugerahi kemampuan yang bagus, kecerdasan  yang lebih, yang membuat mereka sebenarnya pantas mendapat kemuliaan ilmu. Hanya saja cita-cita mereka yang rendah menghancurkan anugerah tersebut, menghilangkan eloknya keunggulan mereka. Mereka merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, tidak suka membaca dan menelaah, malas menghadiri majlis ilmu dan terkungkun oleh aktivitas yang tidak mendukung bertambahnya pengetahuan maupun amal kebaikan. Akhirnya, bakat mereka terkubur.</p>
<p>Mereka layak untuk dikasihani, memiliki potensi besar, namun tidak mau mengembangkan potensi diri.  Ini mengingatkan kita akan perkataan  Al-Farra’ v, “Tidaklah aku menaruh belas kasihan pada seseorang melebihi rasa belas kasihanku kepada dua orang; Seorang yang menuntut ilmu, namun dia tidak mempunyai pemahaman, dan seorang yang paham tetapi tidak mencarinya. Dan aku sungguh heran dengan orang yang lapang untuk menuntut ilmu tetapi dia tidak belajar.” <em>(Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi</em>, 1/103)</p>
<p>Adapun orang pertama, jika memang ia telah bersungguh-sungguh mengusahakannya, tiada cela baginya. Karena ilmu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki.   Bisa jadi   Allah membuka pintu kebaikan untuknya dari sisi yang lain. Dan dia tetap mendapatkan pahala sesuai dengan jerih payahnya. Rasa kasihan terhadap tipe pertama ini hanya dari sisi kauniyah, yang bersifat alami. Kita merasa kasihan karena sudah bersungguh-sungguh mencari, namun belum mendapatkan. Tapi secara syar’i, ia sudah menjalankan kewajiban, jerih payahnya tetap terpuji.</p>
<p>Yang paling disayangkan adalah tipe orang kedua. Orang yang telah diberi potensi lebih oleh Allah, namun ia sia-siakan begitu saja. Betapa cepatnya mereka melepaskan potensi ini dan menghilangkan berkah waktu-waktu mereka. Hal itu terjadi karena kufur nikmat. Dan kufur nikmat itulah yang menyebabkan nikmat itu lenyap. Bukankah potensi pendengaran, penglihatan dan hati yang Allah berikan kepada kita harus kita syukuri? Dan di antara cara mensyukurinya adalah menggunakannya untuk memperbanyak pengetahuan yang tadinya belum tahu menjadi tahu. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalamkeadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”</em> <strong>(QS. an-Nahl: 78)</strong></p>
<p>Banyak faktor yang memicu berpalingnya mereka dari nikmat kecerdasan terus berproses. Alasan sibuk bekerja, ingin santai dan berleha-leha, juga kesalahan asumsi bahwa belajar itu hanya sarana untuk mencari pekerjaan. Namun inti dari banyak sebab di atas sekaligus menjadi pemicu yang paling dominan adalah faktor ‘<em>dunuwwul himmah</em>’, rendahnya cita-cita.</p>
<p>Setelah membaca paparan ini, tidak selayaknya kita posisikan diri sebagai orang dengan tipe pertama yang disebutkan oleh al-Farra’. Merasa sebagai orang yang tidak berpotensi dan sudah berjuang secara maksimal. Dengan sikap ini, bisa jadi kita justru membunuh potensi diri, dan masuk dalam kriteria tidak mengenali nikmat apalagi mensyukurinya. Bukankan jenis kecerdasan itu banyak ragamnya?</p>
<p>Maka, bagi yang melihat pada dirinya ada tanda-tanda keunggulan dan kecerdasan, baik secara umum maupun khusus, tak selayaknya berpaling dari ilmu. Atau, dia akan mengenyam kerugian yang besar. Seperti yang dikatakan Imam asy-Syafi’i, “Barangsiapa yang tidak pernah merasakan rasa pahitnya mencari ilmu, niscaya ia akan mengenyam pahitnya menjadi orang bodoh sepanjang hayatnya.” <em>Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)[]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/bakat-yang-terkubur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi Agar Tak Lupa Diri</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/silaturahmi-agar-tak-lupa-diri.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/silaturahmi-agar-tak-lupa-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 06:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri Asmoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1687</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali, dengan alasan agama, seseorang menutup diri dari dunia luar sehingga terkesan eksklusif. Selain terjangkiti virus merasa paling benar, pemahaman seperti ini juga menghasilkan kecurigaan tanpa alasan kepada pihak lain. Hasilnya? Banyak di antara para aktivis dakwah yang menarik diri dari lingkungan yang mereka anggap jahiliyah. Bahkan, meski kepada keluarga sendiri, banyak di antara kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/silaturahmi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1673" title="silaturahmi" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/silaturahmi-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Seringkali, dengan alasan agama, seseorang menutup diri dari dunia luar sehingga terkesan eksklusif. Selain terjangkiti virus merasa paling benar, pemahaman seperti ini juga menghasilkan kecurigaan tanpa alasan kepada pihak lain. Hasilnya? Banyak di antara para aktivis dakwah yang menarik diri dari lingkungan yang mereka anggap jahiliyah. Bahkan, meski kepada keluarga sendiri, banyak di antara kita yang tidak lagi menjalin silaturahmi.</p>
<p>Padahal, silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Sudah selayaknya jika kita tidak mengabaikan dan melupakannya. Bukan saja karena moda transportasi dan komunikasi yang sekarang jauh lebih mudah dan terjangkau, juga karena bersilaturahmi merupakan kebutuhan yang dituntut fitrah manusia. Ia merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.</p>
<p>Rahim bisa bermakna rahmah yaitu lembut dan kasih sayang, atau bermakna kerabat. Manapun itu, keduanya memiliki nilai yang sangat tinggi di dalam Islam. Sehingga bersilaturahmi berarti mengunjungi orang dengan harapan bisa melembutkan hati dan menambah kasih sayang, baik dia memiliki hubungan nasab dengan kita, atau tidak. Dari sini, berbagai macam manfaat bisa kita dapatkan dari silaturahmi. Mulai dari kelapangan rizki, barakah umur, bertambahnya rahmat dan kasih sayang, hingga wasilah menuju jannah.</p>
<p>Dalam hal ini, tentu saja bersilaturahmi lebih utama kepada mereka yang memiliki hubungan nasab, karena Islam sangat memerhatikan masalah ikatan keluarga setelah ikatan aqidah sebagai landasan hubungan. Ia adalah tanda keimanan seorang hamba. Bahkan, Allah mewajibkan kita untuk menyambung hubungan kerabat, dan menetapkan pemutusannya sebagai dosa besar.</p>
<p>Sayangnya, banyak keluhan yang terlontar dari istri para aktivis dakwah tentang minimnya silaturahmi yang dilakukan sejak pernikahan mereka. Bahkan, meski silaturahmi kepada orangtua mereka. Selain karena kesibukan dan minimnya dana, para suami banyak juga yang berlaku jumawa karena merasa dia lebih besar haknya kepada istri jika dibandingkan hak orangtua mereka.</p>
<p>Padahal, istri kita tidak langsung besar dan menjadi seperti sekarang dengan sendirinya. Mereka datang ke dunia dengan orangtua sebagai wasilah. Pun tumbuh kembang dan pendidikan yang mereka terima sampai sejauh ini. Sehingga sangat tidak layak jika kita para suami bersikap seolah ingin memisahkan para istri dari keluarga mereka. Pahahal kita bisa bercerai dengan mereka sehingga menjadi mantan suami, namun tidak ada mantan orangtua bagi anak-anaknya.</p>
<p>Kita akan merasa malu jika melihat kehidupan para salaf yang masih sempat bersilaturahmi di tengah kesibukan mereka yang menggunung. Bahkan selevel shahabat Abu Bakar dan Umar yang menjadi khalifah, yang tentu saja sangat sibuk, kisah-kisah tentang kunjungan mereka sangat mudah kita temui. Padahal, alat transportasi dan telekomunikasi bisa dikatakan sangat minim saat itu.</p>
<p>Tampaknya, yang menjadi sebab utama jarangnya kita bersilaturahim adalah buruknya manajemen waktu dan lemahnya ilmu tentang manfaat silaturahmi dan besarnya dosa memutus silaturahmi. Kemudian kesibukan dunia yang berlebihan, hingga kita merasa tidak punya waktu untuk memenuhi hak-hak keluarga, anak-anak, kedua orang tua dan kerabat. Dan ternyata, kesempatan luang yang kita tunggu, seringkali tidak kunjung datang kecuali kita mengatur manajemen waktu lebih baik.</p>
<p>Selain kita terkadang memerlukan bantuan, yang mana kerabat lebih layak untuk dimintai bantuannya, juga andaipun kita berkelebihan harta, maka berinfak kepada kaum kerabat kita yang miskin jelas lebih diutamakan daripada kepada orang lain. Sedang doa-doa mereka untuk keberkahan usaha kita, insyaallah lebih mudah dikabulkan Allah.</p>
<p>Apabila kita memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, serta egoisme muncul ke permukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tidak mengetahui hak orang lain, hingga orang-orang yang kekurangan merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.</p>
<p>Mengingat kebaikan dan hubungan nasab sanak kerabat layak untuk kita lakukan. Mereka menyumbang kebaikan yang tidak sedikit kepada kita baik lansung maupun tidak lansung. Paling tidak, mereka yang membantu acara pernikahan kita dulu dengan ikhlas hingga kita bisa menikah dengan istri yang sekarang. Hal ini, insyaallah, akan mencegah kita dari suu zhan, prasangka negatif dan berbagai bentuk kezhaliman kepada mereka.</p>
<p>Sekarang, masukkan jadwal kunjungan, minimal bentuk sapaan yang baik kepada kerabat, di tengah kesibukan kita yang bertumpuk-tumpuk tanpa jeda. Kita bisa memaksimalkan perangkat komunikasi yang ada, atau transportasi yang terjangkau untuk bisa memudahkan rencana kita. Tidak perlu terlalu sering, tapi juga bukan berarti tidak pernah sama sekali. Bahkan meski mereka bukan aktivis dakwah, selama tidak mengajak kita kepada maksiat dan dosa, kenapa kita harus menghindari?</p>
<p>Semoga Allah memberi kemudahan. Amiin![]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/kajian/2012/03/silaturahmi-agar-tak-lupa-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titipkan Kepada Allah,  Agar Ia Menjadi Milikmu Selamanya</title>
		<link>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/03/titipkan-kepada-allah-agar-ia-menjadi-milikmu-selamanya.html</link>
		<comments>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/03/titipkan-kepada-allah-agar-ia-menjadi-milikmu-selamanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 06:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Umar Abdillah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir Qolbi]]></category>
		<category><![CDATA[harta titipan]]></category>
		<category><![CDATA[menitipkan harta]]></category>
		<category><![CDATA[titipkan kepada allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.arrisalah.net/?p=1685</guid>
		<description><![CDATA[ماَ عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 96) Adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><a href="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/titipkan-allah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1674" title="titipkan-allah" src="http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2012/05/titipkan-allah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></strong></p>
<p align="center"><strong>ماَ</strong><strong> عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</strong></p>
<p align="center"><em>“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”<strong> </strong></em><strong>(QS. an-Nahl: 96)</strong></p>
<p>Adalah Hatim bin al-Asham, berguru kepada Syaqiq al-Balkhi selama 33 tahun. Sang guru bertanya, “Pelajaran apa yang kamu dapatkan setelah sekian lama berguru kepadaku?” Hatim menjawab, “Ada delapan pelajaran yang saya dapatkan.” Sang guru berkata, “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un, umurku habis untuk mendidikmu, tapi kamu hanya mendapatkan delapan pelajaran?” Hatim menjawab, “Memang hanya delapan hal yang kudapatkan, saya tidak ingin berdusta kepada guru.” Syaqiiq berkata, “Baiklah, utarakan kepadaku pengetahuan apa yang kamu dapatkan!”</p>
<p>Sejenak, mari alam pikir kita masuk dalam situasi perbincangan dua ulama besar itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Yang Sirna dan Yang Kekal Selamanya</strong></p>
<p>Selama 33 tahun, hanya mendapatkan delapan pelajaran. Tentulah yang didapatkan Hatim tersebut ilmu-ilmu inti yang disimpulkan dan diperas dari lautan ilmu yang ia pelajari dari gurunya. Bukan sekedar apa yang dia hafal atau dia dengar tanpa penghayatan dan perenungan. Satu dari delapan pelajaran yang beliau dapatkan itu adalah,</p>
<p>“Saya perhatikan perilaku manusia, dan saya amati setiap orang yang memiliki barang berharga, ia menjaganya agar tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah Ta’ala,</p>
<p>مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ</p>
<p><em>”Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah kekal”</em> <strong>(QS. Surat an-Nahl: 96)</strong></p>
<p>Maka ketika aku memiliki sesuatu yang berharga, aku titipkan kepada Allah, agar Dia menjaganya untukku.”</p>
<p>Sungguh merupakan pengamatan yang jeli, kesimpulan yang jitu dan sekaligus sikap yang cerdas. Rata-rata manusia, ketika memiliki barang berharga semisal emas, ia akan menjaganya dengan ketat. Barang dimasukkan kotak lalu dikunci, kotak masuk laci, lacinya dikunci. Laci berada dalam lemari, lemarinya dikunci. Lemari berada di kamar, kamarnya juga dikunci. Kamar berada di dalam rumah, dan rumahnya juga dikunci. Rumahpun dipagari, dan pagarnya dikunci. Begitulah cara manusia menjaga barang berharga agar tidak lenyap dari genggaman.</p>
<p>Tapi apakah dengan cara seperti itu, barang miliknya akan tetap abadi? Jawabannya, “Tidak.” Lambat laun pasti ia akan kehilangan olehnya. Kalaupun tidak dicuri, mungkin akan dikeluarkan karena terdesak kebutuhan, atau paling tidak saat ia meninggal akan berpisah dengan barang kesayangannya.</p>
<p>Hatim memilih cara yang paling ampuh, agar sesuatu yang berharga miliknya bisa langgeng, tidak akan berpindah tangan ataupun hilang. Yakni dengan menitipkannya kepada Allah. Karena beliau yakin akan firman-Nya, “wa maa ‘indallahi baaqin”, dan apa yang di sisi Allah itulah yang kekal.</p>
<p>Benar, apa yang kita persembahkan keada Allah itulah yang kekal. Itulah yang menjadi simpanan kita, dan kelak akan kita panen tanpa ada masa kadaluarsa, dan dengan stok yang tak dibatasi takarannya. Sedangkan apa yang kita pakai di dunia ini akan usang, yang kita makan menjadi kotoran, begitupun dengan jatah waktu dan umur yang kita sandang akan berakhir. Berbeda dengan sesuatu yang dititipkan kepada Allah.</p>
<p>Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Yakni, pahala untuk kalian di jannah akan kekal, tidak akan terputus, tak akan sirna, selalu kekal dan tiada akan berpindah tangan atau lenyap.”</p>
<p>Ini  mengingatkan kita sebuah riwayat, ketika Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu ‘anha ditanya oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tentang kambing yang disembelih, beliau menjawab, “Sudah habis disedekahkan, yang tersisa hanyalah sebelah bahunya saja.” Lalu Nabi bersabda, “Masih utuh, kecuali sebelah bahunya.” (HR Muslim)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jangan Berikan Untuk Allah Hanya Sebatas Sisa</strong></p>
<p>Apa yang bisa dititipkan kepada Allah, tentu bukan sebatas harta. Karena kita memiliki banyak karunia yang berharga. Masa muda misalnya, adalah sesuatu yang paling berharga dari umur. Selayaknya masa muda dipersembahkan untuk Allah, mengisinya dengan hal-hal yang bernilai pahala dan ketaatan kepada Allah.</p>
<p>Waktu juga merupakan perbendaharaan yang berharga. Begitupun dengan kesehatan, akal, tenaga maupun harta benda. Tidak selayaknya kita memberikan untuk Allah, hanya sisa-sisa dari apa yang kita miliki. Sisa harta yang tidak kita sukai, sisa waktu setelah  jenuh dengan aktivitas duniawi, sisa pikiran untuk mempelajari syariatnya dan memperjuangkannya, sisa tenaga, maupun sisa umur dan menunggu usia tua untuk mengabdi kepada-Nya.</p>
<p>Lagi pula, apa yang kelak kita dapatkan di akhirat, sesuai dengan apa yang kita ‘titipkan’ dan persembahkan kepada Allah. Tidak akan ada nikmat di akhirat, melainkan kenikmatan yang kita usahakan dengan amal shalih kita di dunia. Tak ada pula hunian yang nyaman di akhirat, kecuali jika kita membangunnya sejak di dunia. Seperti dikatakan sebagian ulama, “laa daara lil mar’i ba’dal mauti yaskunuhaa, illal latii kaana qablal mauti yabniiha, tiada rumah bagi seseorang setelah matinya, selain rumah yang ia bangun sebelum matinya.”</p>
<p>Sebagai tambahan ilustrasi, ada kisah menarik yang bisa diambil hikmahnya. Ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut seorang pemborong. Iapun bermaksud mengajukan pensiun karena ingin menghabiskan sisa umurnya bersama keluarganya. Si Pemborong berkata, “Saya kabulkan permohonan pensiun Anda, tapi dengan satu syarat; kamu bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun.” Si tukang bangunan menyetujui dan segera  membangunnya. Karena kejar tayang, iapun mengerjakannya asal-asalan, serba cepat dan asal jadi.</p>
<p>Selesai sudah bangunan terakhir yg ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong. Sang Pemborong pun tersenyum dan berkata, “Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena kamu telah lama bekerja bersamaku.” Terkejutlah tukang bangunan itu, dan ada rasa sesal di hati, kenapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu dikerjakannya secara asal-asalan.</p>
<p>Faedah dari kisah ini, bahwa ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah ‘rumah’ yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Selayaknya kita bangun dengan perencanan yang baik, dengan kualitas ‘bahan’ yang baik dan penuh kesungguhan dalam pengerjaan. Jangan sampai kelak kita menyesal kerena kita menempati rumah buruk yang kita bangun sendiri ketika di dunia. Wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah) []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.arrisalah.net/analisa/tafsir-qolbi/2012/03/titipkan-kepada-allah-agar-ia-menjadi-milikmu-selamanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

