Sembunyikan Amalan Jaga Keikhlasan

Dawud bin Hindun berpuasa selama 40 tahun, namun keluarganya tidak ada yang mengetahuinya. Dawud bekerja sebagai penggali sumur. Dia selalu membawa bekal makan siang yang disiapkan istrinya, namun ia menyedekahkannya di jalan. Sore harinya barulah ia berbuka (makan malam) bersama keluarganya.

Dahulu Ali bin Al Husein biasa memanggul karung (makanan) di kegelapan malam untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Mereka tidak tahu siapa yang selama ini menyantuni mereka. Tatkala Ali bin Al Husein meninggal dunia dan orang-orang memandikan jenazahnya, tiba-tiba mereka melihat bekas-bekas menghitam di punggungnya. Mereka lantas bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.”

Abdullah bin Mubarak menutupi wajahnya di saat berperang supaya tidak dikenal.

Mereka inilah para akhfiya’. Orang-orang yang menyembunyikan amalnya. Orang-orang yang tidak suka dengan popularitas. Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjaga dengan keras nilai keikhlasan dari setiap amal yang dilakukan. Tidak ada yang paling mereka takuti kecuali jika amal ibadahnya ditolak di hadapan Allah Ta’ala, karena dipenuhi virus popularitas, berupa riya’ (ingin diperhatikan) dan sum’ah (ingin dibicarakan). Mereka juga khawatir hatinya akan terkotori dengan penyakit ujub (bangga diri) dan kibr (sombong).

Mereka ingin mengamalkan sabda Nabi saw:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal shaleh yang tersembunyikan maka lakukanlah !” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam As Shahihah)

Keutamaan Menyembunyikan Amalan

Banyak fadhilah yang akan kita dapatkan jika kita kita mau menyembunyikan amal kebaikan. Rasulullah saw bersabda :

“Shalat sunnahnya seseorang yang dikerjakan tanpa dilihat oleh manusia nilainya sebanding dengan dua puluh lima shalat sunnahnya yang dilihat oleh mata-mata manusia” (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya dan dishahihkan oleh Al Albani)

Karena itulah Ar Rabi bin Khutsaim -murid Abdullah bin Mas’ud- tidak  pernah mengerjakan shalat sunah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali saja.

Rasulullah juga mengabarkan, diantara kunci masuk jannah dengan selamat adalah melakukan shalat malam di saat manusia terlelap dalam tidurnya yang panjang.

Beliau menyebutkan bahwa shalat malam yang paling utama adalah sebagaimana yang dikerjakan oleh nabi Daud. Yaitu segera tidur saat manusia masih berjaga dan bangun ditengah malam saat manusia sedang tidur mendengkur, lantas tidur kembali hingga menjelang subuh saat manusia mulai terbangun.  Ada rahasia dibalik disunahkannya Shalat Daud ini, yaitu untuk menjaga keikhlasan. Biarlah manusia menganggap dirinya tidak pernah shalat malam, namun di pandangan Allah tidaklah demikian.

Keutamaan lainnya, bahwa di antara golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat nanti adalah,

“Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyembunyikan doa dengan cara mendoakan seseorang secara rahasia, tanpa diketahui olehnya juga memiliki keistimewaan. Doa yang dilakukan dengan cara ini adalah doa yang mustajab dan akan mendatangkan kebaikan bagi yang melakukannya, seperti dirinya yang menginginkan kebaikan untuk saudaranya. Doa yang dilakukan dengan cara ini juga jelas menunjukkan ketulusannya dalam berdoa, berbagi kebaikan dengan orang lain.

Dari Abu Darda ra., ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba muslim berdoa untuk kebaikan saudaranya secara rahasia, melainkan ada malaikat yang akan berkata, “Semoga Engkaupun mendapatkan yang semisal.” (HR. Muslim)

Menyembunyikan amal adalah cara paling efektif agar amal shaleh yang kita lakukan dapat terhindar dari riya’. Ibadah yang dilakukan di tempat yang jauh dari pandangan manusia, hanya kita dan Allah saja, akan menjadikan hati lebih tenang dan tidak sibuk mengharap penilaian manusia.

Beribadah dengan cara ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang jujur dalam keimanannya. Ia adalah bukti keimanan dan kecintaan mereka yang sangat dalam kepada Allah. Sementara orang-orang munafik, mereka tidak akan mampu melakukannya, karena mereka senantiasa membangun ibadahnya diatas riya’.

Wahab Bin Munabbih berkata, “Orang munafik itu memilki tiga ciri, yaitu: Apabila sedang menyendiri, ia malas berbuat. Apabila ada orang lain di sisinya, ia giat beramal. Dan ia senantiasa semangat dalam segala urusan demi untuk mendapat pujian orang lain.”

Tidak Semua Harus Dirahasiakan

Merahasiakan amal ini hanyalah pada amalan-amalan yang memang disyareatkan dirahasiakan serta hal itu khusus untuk amalan sunah dan tidak berlaku untuk amalan fardhu.

Shalat berjamaah, membayar zakat, menunaikan haji di tanah suci dan amal fardhu lainnya tidak mungkin dikerjakan sembunyi-sembunyi apalagi sendirian.

Amalan sunah pun terkadang memang perlu diperlihatkan , terutama jika pelakunya adalah seorang imam atau yang dijadikan panutan. At Thabari menulis, “Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang tokoh salaf biasa mengerjakan shalat tahajud di masjid mereka. Mereka menampakkan amal baik mereka agar ditiru masyarakat.”

Menampakkan dan menyembunyikan suatu amal tetaplah suatu pilihan. Menyembunyikannya, agar sempurna khalwah (menyendirinya) seorang hamba dengan Rabbnya. Atau menampakkannya, untuk memotivasi orang lain melakukan kebaikan.

Ikhlas yang sejati, tak tergerus oleh sanjungan, tak kusam oleh cacian, ia akan tetap utuh dalam kesendirian maupun keramaian. Dalam persembunyiannya, ia terhindar dari ujub, dalam penampakannya ia terbebas dari riya. Hati yang jernih yang bisa dengan tepat menentukan kapan suatu amal disembunyikan atau ditampakkan, mana yang lebih besar kemaslahatan bagi dirinya dan juga saudaranya seiman. Wallahu a’lam.

Membangunkan Istri Meraih Rahmat Ilahi

Itulah perasaan yang diungkapkan oleh seorang tabi’in yang mulia, Imam Ibnu Al-Munkadir tentang nikmatnya menjalankan shalat di malam hari, yaitu qiyamul lail atau yang lebih dikenal dengan shalat tahajud.

Sarat pahala, banyak manfaatnya

Menghidupkan malam dengan mengerjakan shalat tahajud sebenarnya sarat dengan pahala dan banyak manfaatnya. Sayangnya, keutamaan ini banyak terlewatkan oleh sebagian besar kaum Muslimin. Entah akibat ketidaktahuan ataukah kelelahan beraktivitas sepanjang hari sehingga membawa seseorang tertidur lelap hingga fajar menyapa.

Tahajud merupakan shalat sunah paling utama yang dianjurkan Rasulullah. Allah swt memuji hambaNya yang selalu menyempatkan bangun di sepertiga malam bermunajat kepadaNya. Allah berfirman, “Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.“ (QS. Al Isra`: 79).

Ayat di atas hanya satu dari segudang keutamaan menjalankan shalat tahajud. Masih dipertegas lagi oleh Rasulullah dalam rentetan hadits yang beliau ungkapkan. Sebut saja  misalnya, sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, Jibril datang untuk meyakinkan Rasulullah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada sejauh mana konsistensinya menjaga shalat malam.

Manfaat lainnya, tahajud menjadi penghapus dan pencegah dosa, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian membiasakan shalat malam, sebab ia merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Ia sebagai media pendekatan diri kepada Rabb kalian, sekaligus sebagai penghapus dan pencegah perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

Lebih dari itu, dengan shalat malam Allah akan memasukkan kita ke dalam surga, “Di surga itu terdapat beberapa ruangan yang bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa terlihat dari luarnya. Allah menyiapkannya untuk orang-orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, senantiasa berpuasa (sunnah), menyebarluaskan salam, serta mengerjakan shalat pada malam hari ketika orang-orang sedang terlelap tidur.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi)

Saat qiyamul lail juga merupakan waktu yang utama untuk berdoa. Amru Ibn Abasah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, malam apakah yang paling didengar?” Rasulullah menjawab, “Sepertiga malam terakhir, maka shalatlah sebanyak yang engkau inginkan. Sesungguhnya shalat pada waktu tersebut disaksikan.” (HR. Abu Daud)

Masih banyak lagi keutamaan lainnya, baik yang telah termaktub dalam Al-Quran, As-Sunnah ataupun dalam untaian kata mutiara salaf.

Membangunkan keluarga

Dalam Islam, berkeluarga bukanlah sekedar mengejar kebahagiaan dunia dan memenuhi kebutuhan biologis. Lebih dari itu, keluarga di dalam Islam juga berfungsi sebagai penguat ketaatan kepada Allah.

Salah satu bentuk ketaatan yang didorong untuk bisa dilakukan suami istri adalah saling membangunkan untuk shalat tahajud. Jika hal ini bisa dilakukan, ada keutamaan yang menanti suami istri.

Diantaranya janji akan mendapatkan rahmat dari-Nya.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ رَشَّ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى رَشَّتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah memberi rahmat seorang laki-laki yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan isterinya kemudian shalat. Jika istrinya enggan ia memercikkan air di wajahnya. Dan semoga Allah memberi rahmat seorang wanita yang bangun malam kemudian shalat, lalu membangunkan suaminya kemudian shalat. Jika suaminya enggan ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Allah pun menggolongkan mereka dalam kategori adz-dzakirinallaha khairan wadz dzakirat (lelaki dan wanita yang banyak berdzikir).

“Barang siapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka mereka berdua akan digolongkan ke dalam lelaki-lelaki dan wanita-wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.“ (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Baihaqi, dan Hakim).

Berjamaah atau sendiri-sendiri

Tidak ada dalil yang menetapkan mana yang lebih utama, melakukan shalat malam dengan berjamaah atau sendiri-sendiri. Jika shalat sendirian lebih khusyuk karena bisa leluasa untuk memanjangkan bacaan maka shalat sendirian lebih utama. Namun, jika istri dan anak-anak meminta agar dapat melakukannya dengan berjamaah dan ternyata dengan cara itu akan menambah kekhusyukan, memperkuat tali mawaddah dan rahmah dalam keluarga serta memberikan dampak perubahan akhlak yang mulia maka boleh mengerjakannya dengan berjamaah. Syaikh Abu Said Al Jazairi menfatwakan, boleh mengerjakan shalat tahajud berjamaah asalkan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, tapi terkadang dikerjakan dengan berjamaah dan terkadang sendiri-sendiri.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi pernah melakukan dua cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendiri-sendiri. Perlu diketahui bahwa Nabi pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami  para sahabat di rumah Itban bin Malik; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu Abbas.

Maka berbahagialah suami dan istri yang dimudahkan bangun malam dan melaksanakan shalat, keluarga tersebut telah membangun budaya dalam rumah tangganya sebagaimana Rasulullah dan keluarganya.

Beliau membiasakan untuk saling membangunkan di antara mereka, terutama bila waktu malam akan segera berakhir. Aisyah bercerita, Rasulullah pernah mengerjakan shalat pada suatu malam, sementara aku tengah terbaring di atas tempat tidur beliau. Ketika hendak mengerjakan shalat witir, beliau membangunkan aku. Dan, aku pun ikut mengerjakan shalat witir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah tidak hanya membangunkan keluarganya sendiri, beliau juga membangunkan keluarga Ali bin Abi Thalib, menantunya. Kenyataan ini telah menjadi bukti yang cukup bagi kita untuk membiasakan saling membangunkan di antara anggota keluarga untuk mengerjakan shalat tahajud.

Berawal dari diri, kita hasung semangat qiyamullail di setiap penghujung malam. Baru kemudian kita bangunkan isteri dan keluarga kita untuk bersama merajut tangga meraih rahmat Ilahi.

Amalan Ringan Jangan Diremehkan

 

Al Hasan Al Bashri berkata, “Wahai anak adam, sesungguhnya kamu akan melihat amalmu, dan kebaikan-keburukanmu akan ditimbang. Maka janganlah kamu meremehkan satu kebaikan pun, sekalipun kecil, karena kamu akan melihat yang kecil itu akan membuatmu bahagia. Dan jangan pula meremehkan satu kejelekan pun karena jika kamu melihatnya, ia akan membuatmu sengsara.

Kadang kita meremehkan sesuatu yang kecil, baik berupa amal kebaikan atau keburukan. Padahal boleh jadi amal kebaikan yang kita remehkan tersebut justru memberikan manfaat untuk kita di dunia dan penyebab Allah masukkan kita ke dalam surga.
Balasan di dunia

Banyak kisah orang-orang yang mendapatkan kemudahan dan pertolongan dari Allah dikarenakan amalan-amalan yang justeru tidak bernilai menurut anggapannya tapi di sisi Allah memiliki nilai yang luar biasa. Diantaranya:

Syaikh Athiyah berkata, “Syaikh Al Fadhil Abdul Hamid Abbas, seorang yang kejujurannya tidak diragukan lagi bercerita kepadaku. Dia berkata, “Pada suatu ketika, ada seorang wanita yang berjalan jalan di daerah Quba’, tiba tiba dia terperosok ke dalam sungai. Dia terjatuh dan terbawa arus air hingga dia berhasil berpegangan pada sebuah batu besar dan duduk diatasnya. Dia berada ditempat itu selama empat hari hingga akhirnya seorang laki-laki melewati tempat itu dan mendengar suara minta tolong.

Diapun segera turun dan mengeluarkan wanita tersebut dari atas batu itu. Keluarganya lalu bertanya “Bagaimana kamu bisa bertahan hidup?” Dia menjawab, “Semangkuk susu yang biasa aku berikan kepada para janda lanjut usia telah mendatangiku setiap hari.” Ternyata wanita itu memiliki seekor kambing yang susunya selalu ia berikan kepada para janda lanjut usia yang sekaligus tetangganya.

Memberikan segelas susu, seolah merupakan amalan yang kadang oleh sebagian orang dianggap remeh dan tidak bernilai. Namun ternyata memberi manfaat yang luar biasa, pelakunya mendapat pertolongan dari Allah di masa-masa sulit.
Janganlah menganggap remeh amal kebaikan sekecil apa pun. Boleh jadi Anda sedang tertidur sedangkan pintu langit diketuk puluhan doa untuk Anda.

Doa dari seorang fakir miskin dan janda lanjut usia yang telah Anda bantu meskipun sedikit. Doa dari orang yang telah Anda hibur dari kesedihannya. Doa dari orang yang lewat di jalan yang telah Anda hadiahkan kepadanya berupa senyuman yang tulus. Doa dari seorang kuli bangunan atau tukang becak yang Anda berikan segelas air putih. Doa dari seorang yang telah Anda tunjukkan kepadanya alamat yang dicarinya. Ucapan terima kasih dan doa dari seorang nenek yang menghiba uang seribu rupiah namun anda memberinya lima ribu rupiah. Atau doa dari orangtua yang menitipkan anaknya untuk dididik di pesantren yang Anda kelola.

Semua itu adalah balasan dari Allah yang disegerakan di dunia ini, belum balasan pahala yang akan Allah berikan lewat lisan Rasul-Nya di akherat kelak bagi orang-orang yang melakukan amal kebaikan.

Balasan dan pahala di akherat
Sungguh, teramat banyak variasi amalan ringan yang bisa kita lakukan tetapi sering tidak kita pedulikan karena kita anggap sepele atau hukumnya hanya sekedar sunah saja. Seperti menyingkirkan gangguan di jalan. Amalan ini sungguh teramat sepele untuk diperhatikan oleh banyak orang hingga mereka lewatkan begitu saja kesempatan berpahala ini. Padahal Abu Hurairah ra pernah mengabarkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda:

“Sungguh aku melihat ada seorang lelaki berpindah dari satu tempat ke tempat lain di surga (untuk bersenang-senang dengan kenikmatannya), disebabkan sebuah pohon yang dipotongnya dari jalanan karena pohon tersebut mengganggu kaum muslimin yang lewat di jalan tersebut.” (HR. Muslim)

Subhanallah! Sekadar menghilangkan gangguan dari jalanan ternyata memiliki keutamaan yang besar dan teranggap sebagai amalan yang menjadi sebab pelakunya masuk surga. Hikmah dari anjuran Nabi ini memang luar biasa. Berapa banyak orang mengalami kecelakaan di jalan yang menyebabkan luka berat hingga meninggal dunia hanya disebabkan dahan yang melintang, paku yang berserakan, oli yang berceceran di jalan atau sekedar batu kecil yang terlempar dan tidak ada yang tergerak hatinya untuk menyingkirkan.

Atau saat kita berwudlu. Berapa banyak dari kita yang enggan berhenti sejenak sekedar untuk melantunkan doa selepas berwudhu. Andai mereka memahami dengan benar akan janji yang akan Allah berikan bagi pelantun doa selepas wudlu ini tentulah mereka akan berlomba untuk meraihnya.

Dari Umar bin Khattab ra, Nabi saw bersabda: “Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu, lalu membaguskan wudhunya kemudian mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan lalu dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia inginkan.” (HR. Muslim)

Coba kita juga renungkan sejenak sebuah kebaikan ringan lainnya yang berbuntut ganjaran tak terkira, yakni tatkala kita mau menjenguk orang sakit. Rasulullah saw pernah bersabda, “Tiada seorang muslim yang menjenguk seorang muslim pada waktu pagi melainkan dia didoakan oleh 70.000 malaikat hingga sore hari. Dan ia menjenguk pada sore hari maka ia di doakan oleh 70.000 malaikat hingga pagi harinya. Dan akan mendapatkan jaminan buah-buahan yang siap di petik di dalam syurga.”(HR.Tirmidzi dan dia berkata hasan dianggap shahih oleh Al Albani)

Maka janganlah sekali-kali menganggap remeh akan amal kebaikan sekecil apa pun!

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim).
Karena, sekecil apapun amal kebaikan yang kita kerjakan, Allah akan memberikan balasan.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7).

Sedekah Air Pahala Mengalir

 

Biasanya, jika beristirahat, mereka membiarkanku kepanasan sedangkan mereka berteduh. Mereka juga tidak memberiku makan atau minum, sampai tiba waktu untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, dalam kesempatan istirahat kali ini, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menetes ditubuhku, lalu menetes kembali. Setelah kuraba ternyata itu adalah tetesan air dari sebuah ember. Maka akupun segera meminumnya sedikit, lalu ember terangkat dan kembali lagi. Aku mengambilnya lagi dan minum sedikit. Lalu ember itu terangkat dan kembali lagi. Kejadian itu terus berulang beberapa kali, dan aku meminumnya sedikit demi sedikit sampai puas. Kemudian akupun membasuh seluruh tubuh dan pakaianku..

Itulah kisah yang disampaikan sendiri oleh Ummu Syuraik, seorang shahabiyah yang disiksa oleh musyrikin Quraiys karena keistiqomahannya dalam bertauhid. Allah memberinya pertolongan dengan tetesan air dari ember yang tergantung diantara langit dan bumi, sehingga diapun bisa bertahan hidup.

Sedekah paling utama
Air adalah senyawa yang penting bagi semua makhluk hidup, mereka tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan. Kebutuhan mereka terhadap air jauh lebih besar daripada kebutuhan terhadap makanan. Manusia akan lebih lama bertahan hidup dengan keberadaan air daripada hidup dengan makanan namun tanpa adanya air. Maka memberikan air sama dengan memberikan kehidupan bagi orang lain dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Oleh karena itu, Rasulullah menyebutkan bahwa bersedekah air merupakan amalan utama.

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ سَقْيُ الْمَاءِ

Dari Saad bin Ubadah RA, ia pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Memberi air.” (HR. Abu Dawud. Shahih).

Ibnu Abbas RA juga pernah ditanya, sedekah apakah yang paling utama? Ia menjawab, “Air, apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana penduduk neraka memohon kepada penduduk surga:
`Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzkikan Allah kepadamu`. Mereka (penghuni syurga) menjawab: `Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.’ (QS. Al A’raf : 50) .
Menurut Imam Qurthubi ayat ini merupakan dalil bahwa memberi air adalah termasuk sedekah yang paling utama.

Pelebur Dosa
Manusia tidak lepas dari salah dan khilaf. Namun demikian Allah dengan rahmat-Nya selalu memberikan kesempatan kepada semua hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa untuk bertaubat untuk melebur segala dosa dan kesalahannya. Ada salah satu cara untuk menghapuskan dosa-dosa seorang hamba yang sering dilupakan dan diremehkan manusia yaitu dengan cara bersedekah, karena ia termasuk amal kebaikan. Rasulullah bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Sebagian tabi’in berkata, “Barang siapa yang banyak dosanya, hendaknya ia banyak bersedekah dengan air.”
Pendatang pahala

Suraqah bin Ju’tsum berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang unta yang tersesat lalu mendatangi telagaku, apakah aku mendapat pahala jika kuberi minum?” Beliau bersabda, “Ya. Pada setiap sesuatu yang punya hati (yang hidup) akan mendapat pahala.” (Ash-Shahihah: 2152)

Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa menggali sumur, maka tidak ada yang memiliki hati yang hidup dari kalangan jin, manusia, dan burung yang meminumnya, kecuali karenanya Allah memberi pahala kepadanya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban)
Pahala sedekah air bahkan masih memberikan manfaat bagi seseorang yang sudah meninggal dunia. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Sa’ad bin Ubadah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat. Sedekah apakah yang lebih utama untuknya?” Nabi SAW menjawab, ”Air.” Lalu Sa’ad menggali sumur dan ia berkata, “Ini untuk Ibu Sa’ad.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Penyakit sirna

Setiap manusia pernah mengalami sakit, baik itu sakit ringan ataupun berat, bahkan Rasulullah juga menjelang wafatnya mengalami sakit. Ini sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan. Islam mengajarkan kepada kita agar berikhtiyar untuk melakukan pengobatan. Sedekah merupakan salah satu cara efektif untuk mengobati penyakit sebagaimana sabda Rasulullah, “Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata di dalam kitab Al Wabilush Shayyib, “ Sesungguhnya sedekah itu memiliki pengaruh yang luar biasa di dalam menolak berbagai macam musibah, dan ini sudah sangat dimaklumi oleh seluruh manusia baik yang awam maupun yang berilmu, seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah membuktikannya”.

Di antara bukti kebenaran tentang hal ini adalah apa yang disebutkan oleh Al Hafidz Ad Dimyathi dalam kitab Al Matjarur Rabih fi Tsawabil ‘Amalis Shalih, dari Ali bin Hasan bin Syaqiq ra. berkata, aku mendengar Ibnul Mubarak ditanya seorang lelaki, “Wahai Abu Abdirrahman ada luka di lututku aku telah berusaha mengobatinya dengan berbagai macam obat, bertanya kepada para dokter tapi tetap tidak bisa memberiku manfaat?” Ibnul Mubarak berkata, “Pergilah kesuatu tempat lalu pilihlah lokasi dimana manusia membutuhkan air, lalu galilah sumur diatasnya aku berharap akan muncul mata air disana yang akan menahan darah dari dirimu.” Lelaki itupun melakukan saran tersebut maka sembuhlah ia.

Pembaca sekalian, memberi minum kepada tamu yang berkunjung ke rumah kita, menyediakan minuman ketika ada kajian, atau menyediakan galon yang berisi air mineral di masjid dan fasilitas umum adalah diantara contoh cara bersedekah dengan air. Bahkan terhadap makhluk lain sekalipun, seperti kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, kita tetap dianjurkan untuk memberi sedekah meski hanya dengan setetes, seteguk atau seciduk air. Ketika kita melakukan hal ini berarti kita telah melakukan amal utama yang akan mendatangkan pahala, diampuni dosa-dosa kita, penyakit akan sirna dan merupakan jalan meraih surga. Wallahul musta’an.

Mengejar Dua Gunung Besar

“Kepada hadirin yang punya kelonggaran waktu, kami mohon untuk ikut mengantarkan jenazah hingga ke pemakaman yang terletak tidak jauh dari rumah duka. Namun seandainya ada kesibukan lain yang tidak bisa ditunda maka kami ucapkan terimakasih atas kehadiran dan doanya.” Itulah sepenggal kalimat yang biasanya disampaikan wakil keluarga si mayit ketika jenazah siap diantarkan ke makam.

Respon hadirin pun beragam. Ada yang tetap duduk-duduk di rumah duka, ada pula yang ikut mengantar si mayit sampai kuburan, namun biasanya kebanyakan mereka lebih memilih untuk pulang dengan berbagai alasan. Yang tetap setia mengantarkan ke kuburan kadang hanya segelintir orang seperti sanak saudara dan tetangga-tetangga dekatnya saja.
Dinul Islam menganjurkan umatnya untuk menghadiri pemakaman, baik kerabat, tetangga, kenalan, terlebih jika yang meninggal adalah anggota keluarga. Selain mendapat pahala, mengantar mayit sampai kuburan juga bertabur hikmah bagi siapa yang mau mengambil pelajaran darinya.

Pahala menghantar sampai kuburan
Dari Al-Barra’ bin Azib ra dia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَنَصْرِ الضَّعِيفِ وَعَوْنِ الْمَظْلُومِ وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ

“Rasulullah memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya amalan sebagaimana tersebut dalam hadits di atas amatlah mudah dan ringan kita jalankan. Selain sebagai bentuk kepedulian kita kepada sesama muslim, berbagai amal shaleh tersebut memiliki pahala yang besar. Akan tetapi kadang karena ketidaktahuan, atau sudah tahu namun kalah dengan hawa nafsu lantas kita sering mengabaikannya.
Sekedar takziyah hingga menshalatkan mayit lantas pulang memang tetap mendapatkan pahala, namun jika mau melanjutkan mengantar ke kuburan pahalanya lebih besar.

مَنْ شَهِدَ اَلْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ, وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ: وَمَا اَلْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ اَلْجَبَلَيْنِ اَلْعَظِيمَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: ( حَتَّى تُوضعَ فِي اَللَّحْدِ)

Dari Abu Hurairah ra bersabda, “Barang siapa menghadiri jenazah sampai menyalatkannya maka baginya satu qirath dan barang siapa menghadiri jenazah sampai dimakamkan maka baginya dua qirath.” Seorang bertanya, “Apa itu dua qirath?” Beliau bersabda, “Dua gunung besar.” (Muttafaq Alaihi). Dan menurut riwayat Muslim, “Sampai diletakkan dalam liang lahat.”

Penjelasan tentang qirath ini berbeda-beda di dalam berbagai riwayat, di dalam riwayat Ibnu Sirin sebagaimana hadits ini dijelaskan “semisal uhud”, demikian juga didalam riwayat Walid bin Abdurrahman. Adapun pada hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’i dari jalur As-Sya’bi “lebih besar dari pada gunung uhud,” juga pada riwayat Abu Shalih yang diriwayatkan Imam Muslim, “yang paling kecil dari keduanya (qirath) adalah semisal uhud,” dan dari jalur Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan Ibnu Majah, “lebih besar dari pada uhud.” Di dalam riwayat yang lain, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirath? Rasulullah menjawab, “Seperti dua buah gunung yang besar.”
Jadi, saat menghantar jenazah ke kuburan sejatinya kita sedang mengejar pahala, dua gunung yang besar.

Taburan hikmah saat mengantar jenazah
Kematian adalah rahasia Allah yang tidak ditampakkan kepada seorang pun di antara makhluknya. Kadang pagi hari masih sehat wal afiat namun sore harinya ruh sudah berpisah dari tubuhnya, badannya kaku dan sudah saatnya diantarkan menuju makam untuk dimasukkan dalam liang kuburan. Hendaknya para pengantar jenazah mengambil pelajaran berharga atas pengalamannya mengusung dan mengantarkan jenazah. Yaitu sebuah penggambaran bahwa dirinya suatu ketika akan menjadi yang diantarkan.
”Jenguklah orang sakit dan ikutilah penguburan jenazah karena itu akan mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, dan Ibnu Hibban)

Selain hikmah di atas, Dr Muhammad Ali Al Hasyimi menerangkan bahwa anjuran menghadiri pemakaman berguna untuk menguatkan ikatan persaudaraan dan memperdalam rasa kesetiaan di antara mereka. Melalui keikutsertaan ini, lanjutnya, maka keluarga yang ditinggalkan juga akan merasa nyaman, terhibur, dan terbantu dalam menghadapi kehilangan anggota keluarga mereka dengan sabar dan ikhlas.

Memperhatikan adab
Hikmah dan pahala akan kita dapatkan dengan sempurna jika mau memperhatikan beberapa adab saat menghantar jenazah atau saat di pemakaman.
Apabila mayit itu orang shalih, hendaknya mempercepat langkah ketika mengusungnya. Dari Abi Said Al Khudhri ra bahwa Rasulullah bersabda, “Bila jenazah diangkat dan orang-orang mengusungnya di atas pundak, maka bila jenazah itu baik, dia berkata, “Percepatlah perjalananku.” Sebaliknya, bila jenazah itu tidak baik, dia akan berkata,”Celaka!, mau dibawa ke mana aku?” Semua makhluk mendengar suaranya kecuali manusia. Bila manusia mendengarnya, pasti pingsan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saat dalam perjalanan mengantar atau sudah tiba di pemakaman sering kita saksikan banyak orang yang bercanda, ngobrol membicarakan masalah dunia atau berlomba mengeraskan suara. Saat itu mestinya saat yang paling tepat untuk merenung dan memikirkan bekal apa yang sudah disiapkannya untuk perjalanan ke negeri akhirat. Abu Qilabah berkata, “Kami pernah menghadiri prosesi jenazah. Tiba-tiba ada tukang cerita yang menyampaikan cerita dengan suara keras. Lantas aku mengingatkan, ‘Para sahabat memuliakan jenazah dengan tenang (menghindarkan suara keras).’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Abu Qilabah adalah salah seorang ulama tabi’in. Dalam kasus di atas, beliau menceritakan kebiasaan di zaman sahabat yang pernah beliau jumpai untuk mengingatkan sikap buruk yang dilakukan oleh mereka yang tidak memahami kebiasaan baik para sahabat.
Selanjutnya usai pemakaman, hendaknya kita berdoa sekaligus memohonkan ampunan atas orang yang meninggal. Inilah yang senantiasa dilaksanakan Nabi saw sekaligus yang beliau perintahkan pula kepada para sahabat.
Utsman bin Affan ra meriwayatkan, “Ketika Nabi saw menyelesaikan pemakaman seseorang yang meninggal, beliau berdiri di atasnya dan bersabda,

اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ

“Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya agar diberi kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari para malaikat, karena saat ini ia ditanya.” (HR. Abu Dawud).
Semoga dengan memperhatikan adab dalam bertakziyah, kita bisa mengambil hikmah dan Allah pun akan memberikan pahala-Nya yang melimpah.

Agar Utang Kita Berpahala

Siapa saja di antara kita, hampir tidak ada yang tidak pernah berhutang. Dari utang yang paling kecil di warung atau kantin hingga berhutang untuk modal usaha. Rasulullah pun pernah berhutang. Di akhir hayatnya, beliau masih memiliki utang kepada seorang Yahudi, dan utang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasanya dia berkata:

“Nabi saw membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya.” (HR. Bukhari).
Islam sangat memperhatikan masalah utang. Allah memerintahkan kepada mereka yang terlibat utang piutang agar menulis dan dipersaksikan.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah: 282)

Pembuka Banyak Dosa
Meskipun berhutang itu hukumnya jaiz (boleh), namun orang yang berhutang hendaknya berusaha melunasi utangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikannya. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan utang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zalim. Rasulullah bersabda, “Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman.” (HR. Bukhari)

Bahkan Rasulullah menyebut pencuri bagi penghutang yang berniat tidak ingin mengembalikan utangnya.
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah). Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.”

Selain itu utang kadang akan menjadikan seseorang berbuat dosa. Nabi saw biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).” Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?” Rasulullah lantas bersabda, “Orang yang berhutang itu, jika berkata dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penghalang Masuk Jannah-Nya

Utang juga akan menyusahkan dirinya ketika meninggal dunia dan di akhirat kelak. Rasulullah pernah tidak mau menshalati orang yang punya utang sementara ia tidak memiliki jaminan untuk membayar utangnya tersebut. Di akherat, ia akan terhalang masuk surga hingga utang tersebut dilunasi oleh ahli warisnya, atau amal shaleh yang ia miliki agar digunakan untuk membayar utangnya.

الدَّيْنُ دَيْنَانِ . فَمَنْ مَاتَ وَهُوَ يَنْوِي قَضَاءَهُ فَأَنَا وَلِيُّهُ ، وَمَنْ مَاتَ وَلَا يَنْوِي قَضَاءَهُ فَذَلِكَ الَّذِي يُؤْخَذُ مِنْ حَسَنَاتِهِ ، لَيْسَ يَوْمَئِذٍ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

“Utang itu ada dua. Barang siapa mati sementara dia berniat membayarnya, maka akulah walinya. Namun barang siapa mati sementara dia tidak berniat untuk membayarnya maka itu akan diambilkan dari kebaikan-kebaikannya untuk membayarnya pada hari dimana tidak ada dinar dan dirham. “ (HR. Thabrani. Shahih)

“Diampunkan semua dosa bagi orang yang meninggal dalam keadaan syahid kecuali jika ia mempunyai utang (kepada manusia).” (HR. Muslim).

Mendatangkan Pahala
Namun demikian, utang terkadang bisa mendatangkan pahala bagi pemiliknya. Dalam Kitab Al-Matjarur Rabih fi Tsawabil ‘Amalis Shalih karya Al Hafidz Ad Dimyati yang telah ditahqiq oleh Zakaria Ghulam Qadir Al Bakistani disebutkan satu bab tentang pahala bagi orang yang berhutang. Beliau cantumkan dalam bab tersebut beberapa hadits yang menerangkan pahala orang yang berhutang dengan niat membayar, di antaranya:

Aisyah ra pernah berhutang, maka ada yang mengingatkan, “Kenapa kamu berhutang, bukankah kamu mampu untuk tidak berhutang?” Dia menjawab, “Aku mendengar beliau saw bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُدَانُ وَفِي نَفْسِهِ أَدَاؤُهُ إِلَّا كَانَ مَعَهُ مِنْ اللَّهِ عَوْنٌ فَأَنَا أَلْتَمِسُ ذَلِكَ الْعَوْنَ

“Tidak ada seorang hamba yang memiliki niat membayar hutangnya kecuali dia memperoleh pertolongan dari Allah. Maka aku mencari pertolongan itu.” (HR. Ahmad. Rawi-rawinya shahih. Diriwayatkan juga oleh Thabrani dengan lafal, “Dia mendapat pertolongan dari Allah dan membukakan untuknya sebab rezeki.” Hadits shahih)
Abdullah bin Ja’far ra menuturkan bahwa Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ ، مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

“Sesungguhnya Allah bersama penghutang hingga ia melunasi utangnya selama tidak dalam urusan yang dibenci oleh Allah.” Dia berkata, “Abdullah bin Ja’far ra berkata kepada penjaga gudangnya, ‘Pergilah dan berhutanglah untukku, karena aku tidak ingin bermalam satu malam pun kecuali Allah bersamaku, setelah aku mendengar Rasulullah bersabda begitu.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan. Al-Hakim berkata, sanadnya shahih).

Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang meminjam harta orang lain dengan niat ingin mengembalikannya, Allah akan mengembalikan pinjaman itu, namun barang siapa yang meminjamnya dengan niat ingin merugikannya, Allah pun akan merugikannya.” (HR. Bukhari).

Maksud dari “Allah akan mengembalikan….” adalah orang yang berhutang akan dimudahkan dalam mencari rezeki agar dia selekasnya membayar utang tersebut. Begitu juga sebaliknya, Allah akan menyengsarakan dia, tidak hanya dunia mungkin juga di akherat nanti.”

Begitulah, utang bisa menyebabkan seseorang bergelimang dengan dosa yang pada akhirnya bermuara ke neraka. Namun bisa pula mendatangkan pahala, juga penyebab Allah akan memberikan pertolongan padanya dan pada akhirnya jannah adalah tempat kembalinya. Wallahu a’lam.

Panjang Lehernya Diampuni Dosanya

 

Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, Sp.JP dalam buku ‘Kesaksian Seorang Dokter’ mengisahkan, “Dokter Jasim al-Haditsy, seorang penasehat jantung anak di ‘Amir Sulthan Center Untuk Penyakit Jantung’ Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh, berkisah kepadaku, “Salah seorang rekanku yang bisa dipercaya bercerita bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit, ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia segera memastikan akan kematian pasien tersebut, ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara, ‘Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu alla ilaha illallah…

Ia berkata, “Saya rasa adzan subuh”. Kemudian saya bertanya kepada perawatnya, “Jam berapa sekarang?” ia menjawab,”Jam satu malam.” Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya. Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaanya semasa hidup, mereka menjelaskan, “Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu mengkhatamkan Al Qur’an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan”.

Subhanallah, karena keistiqamahannya dalam menjalankan amal shaleh, Allah memberikan kemuliaan kepada sang muadzin ini saat meninggal dunia.
Jabatan Mulia
Banyak di antara kita yang masih meremehkan para muadzin. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai pekerjaan rendahan. Ketika seorang anak muadzin ditanya oleh temannya tentang kesibukan bapaknya, dengan malu-malu ia menjawab, “Cuma tukang adzan kok, sama bersih-bersih masjid.”

Sebenarnya menjadi muadzin adalah sebuah jabatan mulia dan mendulang bergunung-gunung pahala. Karena, adzan merupakan pemberitahuan kepada manusia bahwa waktu shalat telah tiba, sekaligus mengingatkan dan mengajak mereka yang tengah sibuk dengan pekerjaannya agar beristirahat sejenak memenuhi seruan Rabbnya, menunaikan shalat berjama’ah.
Wajar jika kelak para muadzin memiliki posisi terhormat karena amalan itu. Dan selayaknya manusia memandang bahwa menjadi muadzin adalah sebuah kemuliaan.

Kenapa mulia? Karena Allah swt saja kagum terhadap mereka.
“Rabb kalian kagum terhadap seorang pengembala kambing di sebuah puncak bukit yang mengumandangkan adzan. Maka Allah yang Maha perkasa lagi Maha mulia berfirman, ” Lihatlah hamba-Ku itu, dia mengumandangkan adzan dan iqamah karena merasa takut kepada-Ku. Sesungguhnya aku telah mengampuni hamba-Ku itu dan memasukannya ke surga.” (HR. Abu Daud )
Sehingga Rasul pun secara khusus mendoakan mereka.

اللهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ، وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ

“Ya Allah berikanlah bimbingan kepada para imam, dan ampunilah dosa para muadzin.” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)
Umar bin Al Khaththab ra pernah berangan bisa menjadi muadzin, “Andaikata saya mampu menjadi muadzin sekaligus memegang pemerintahan niscaya saya akan menjadi muadzin.”

Panjang lehernya
Sejatinya banyak fadhilah yang akan didapatkan oleh para muadzin, pengumandang adzan dan iqamah. Di hari kiamat nanti mereka akan dimuliakan karena lehernya yang panjang. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat nanti.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ath Thabrani)

Para ulama’ berbeda pendapat tentang makna ‘orang yang paling panjang lehernya’.
Menurut Yunus bin Ubaid, yang paling dekat dengan Allah. Ada yang berpendapat bahwa para muadzin akan menjadi para pemimpin, karena orang Arab biasa menyebut pemimpin sebagai orang yang paling panjang lehernya. Fudhail bin Iyadh menerangkan, para muadzin menjadi orang paling cepat dan dahulu memasuki surga.
Ada pula yang berpendapat bahwa leher mereka benar-benar panjang. An Nadhr bin Syamil berkata, “Pada hari kiamat manusia akan tenggelam oleh keringat mereka, sedangkan leher para muadzin menjadi panjang agar mereka terbebas dari kesusahan tersebut”
Kesaksian para pendengar

Cukuplah menjadi penyelamat dan penyejuk hati kita manakala semua orang bersaksi atas amal kebaikan kita di hadapan Allah. Kebahagiaan inilah yang akan Allah sematkan pada para muadzin. Semua makhluk yang mendengar adzan akan menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat.

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, dia berkata kepada seorang laki-laki:
“Aku perhatikan kamu ini orang yang suka menggembala dan berkelana, maka jika kamu sedang menggembala kambingmu atau sedang berkelana dan engkau ingin menyeru manusia agar melaksanakan shalat, keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan. Karena sesungguhnya semua yang mendengarkan adzan, baik dari golongan jin, manusia dan apa pun, mereka akan menjadi saksi bagi si muadzin ada hari kiamat nanti. Abu Sa’id berkata: Aku mendengar hal ini dari Rasulullah saw.” (HR. Al Bukhari)

Hapus dosa sepanjang suara
Para muadzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya dan semua yang mendengarkan adzan di bumi akan memintakan ampunan baginya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda:
“Bagi muadzin akan diampuni dosanya sejauh jangkauan suaranya, dan akan memohonkan ampun baginya semua benda yang basah dan kering. “ (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Maksud ‘dosanya akan diampuni sejauh jangkauan suaranya’ pada hadits di atas adalah, seandainya dari tempat ia berdiri untuk mengumandangkan adzan hingga ujung terjauh dari suaranya terdapat dosa dan kesalahan, niscaya Allah akan mengampuni semuanya.
Muaranya Surga

Kesabaran seorang muadzin untuk selalu menyeru manusia menuju Allah bukanlah hal yang ringan. Jadi pantasnyalah jika Allah mengganjar surga bagi mereka. Nabi saw bersabda:
“Barang siapa mengumandangkan adzan selama dua belas tahun maka wajib baginya mendapatkan surga, dan dengan adzannya itu dicatat baginya setiap hari enam puluh kebaikan, dan setiap iqamah yang dia lakukan dia mendapatkan tiga puluh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi, Ath Thabarani dan Al Baghawi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Subhanallah, alangkah bahagianya para muadzin dengan guyuran fadhilah yang akan didapatkannya. Jika muaranya adalah surga maka tak sepantasnya lagi mereka merasa hina dengan tugas yang mulia ini. (abu hanan)

Misteri Surat Al Mulk

Jika ingin kelihatan hebat dan berwibawa bacalah Surat Al-Mulk. Jika surat tersebut diamalkan menjadi wirid dan dzikir harian maka akan meluaskan rezeki dan menghilangkan kemiskinan. Jika dibaca 2.012 kali bisa menolak bala.

Itulah diantara keyakinan sebagian masyarakat di sekitar kita tentang keutamaan surat Al-Mulk. Boleh jadi keyakinan tersebut muncul setelah mereka membaca atau mendengar hadits-hadits tentang keutamaan membaca surat Al-Mulk, padahal derajatnya dhaif bahkan maudhu’ (palsu) atau hanya melandaskan pada perbincangan dari mulut ke mulut yang tidak jelas sumbernya.

Kandungan Surat Al-Mulk

Surah Al-Mulk tergolong surat makkiyah (diturunkan sebelum Rasulullah hijrah), terdiri dari 30 ayat. Dinamakan Al-Mulk karena kata Al- Mulk yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang berarti kerajaan atau kekuasaan. Surat ini disebut juga dengan At-Tabaarak (Mahasuci) karena diawali dengan tabaarak, sehingga juz 29 yang diawali dengan surat Al-Mulk disebut dengan juz Tabarak.

Di antara pokok-pokok isinya, hidup dan mati merupakan ujian bagi manusia; Allah menciptakan langit berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan; perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta; azab yang diancamkan terhadap orang-orang kafir; dan janji Allah kepada orang-orang mukmin; Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga mudah bagi manusia untuk mencari rezeki serta peringatan Allah kepada manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada nikmat Allah.

Fadhilah Surat Al-Mulk

Semangat kaum muslimin untuk menerapkan Islam nampak menonjol dalam bentuk kajian-kajian dan pengamalan terhadap hadits-hadits seputar fadhail a’mal (amal ibadah yang mempunyai keutamaan). Namun banyak kaum awam yang terjebak mempelajari buku-buku fadhail a’mal yang mengetengahkan hadits dengan tingkat validitas yang beragam, dari yang shahih hingga yang dhaif bahkan maudhu’.

Syaikh Zakariya bin Ghulam Ghadir telah menghimpun riwayat-riwayat shahih dari hadits-hadits Rasulullah tentang berbagai jalan untuk menggapai fadhail a’mal dalam kitab beliau Shahih Al-Matjarur Rabih fi Tsawabil Amalis Shalih. Di antara isi kitab tersebut, disebutkan hadits-hadits shahih tentang keutamaan membaca beberapa surat dalam Al-Quran, diantaranya surat Al-Mulk.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}

Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada satu surat dalam Al-Quran terdiri dari tiga puluh ayat. Ia akan memberi syafaat bagi orang yang selalu membacanya sehingga Allah mengampuni (dosa-dosanya), yaitu surat Al-Mulk: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan,..” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam At Tirmidzi dan syaikh Al Albani).

 

Baca Juga: Baca Surat Yusuf Saat Hamil, Anak Jadi Setampan Nabi Yusuf?

 

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafaat dengan izin Allah. Hadits ini semakna dengan Hadits lain dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah bersabda:

“Ada satu surat dalam Al-Quran yang hanya terdiri dari tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan.” (HR. Ath-Thabrani, dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar).

Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur).
Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Siapa yang membaca tabaarakalladzi biyadihil mulku… setiap malam niscaya Allah akan melindunginya dari adzab kubur. Pada zaman nabi kami menamainya al-mani’ah (pelindung/penghalang) dari adzab kubur.” (HR. An Nasai, Al Hakim berkata, “sanadnya shahih” dihasankan oleh Al-Albani).
Ada juga penguat dalam riwayat lain:

يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ فَتُؤْتَى رِجْلَاهُ فَتَقُولُ رِجْلَاهُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ صَدْرِهِ أَوْ قَالَ: بَطْنِهِ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: لَيْسَ لَكُمْ عَلَى مَا قِبَلِي سَبِيلٌ إِنَّهُ كَانَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْمُلْكِ، فَهِيَ الْمَانِعَةُ تَمْنَعُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَهِيَ فِي التَّوْرَاةِ سُورَةُ الْمُلْكِ مَنْ قَرَأَهَا فِي لَيْلَةٍ فَقَدْ أَكْثَرَ وَأَطْيَبَ

Dari Ibnu Masud, ia berkata: “Seseorang didatangi di dalam kuburannya, lalu kedua kakinya didatangi. Maka kedua kakinya berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah dadanya -atau berkata: perutnya- maka dia berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah kepalanya, maka kepalanya berkata: “Kalian tak punya jalan melalui arahku, karena dulu dia denganku sering membaca surat Al-Mulk.” Maka surat ini adalah Mani’ah, penghalang dari siksa kubur. Di dalam Taurat juga disebut dengan nama surat Al-Mulk. Barang siapa membacanya di malam hari, maka itu lebih banyak dan lebih bagus.” (HR. Al Hakim, beliau berkata sanadnya shahih dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi)

Baca Juga: Fadhilah Surat-surat Al Qur’an

 

Hadits ini dihukumi marfu’ karena perkara ghaib seperti ini tidak mungkin diucapkan oleh Ibnu Mas’ud kecuali dari Nabi. Ibnu Mas’ud juga tidak dikenal mengambil berita dari Ahli Kitab.

Dalam Faidhul Qadir disebutkan, keutamaan dalam hadits-hadits di atas diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat Al-Mulk secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya.

Subhanallah, begitu luasnya fadhilah surat Al-Mulk. Bahkan surat ini termasuk surat-surat Al-Quran yang biasa dibaca oleh Rasulullah sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya. Mungkin karena alasan inilah, ketika ada seorang akhwat ditanya tentang mahar pernikahan yang diminta, ia menjawab, ”Hafalan surat Al-Mulk akhy…”. Wallahu a’lam. (abu hanan)

Pilih Kurban Unta atau Telur?

Berkurban dengan telur, memang dibolehkan?. Penulis bukan sedang membahas tentang ahkamu udhhiyah, hukum-hukum yang berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adhha. Karena selain waktunya sudah berlalu, berkurban dengan telur jelas tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam. Disini penulis ingin membahas tentang keutamaan datang lebih awal ketika menunaikan shalat Jumat. Barang siapa datang lebih awal maka seolah-olah ia telah berkurban dengan seekor unta. Dan yang datang paling akhir sebelum imam naik ke atas mimbar seolah berkurban dengan sebutir telur.

Meski pahalanya begitu besar, namun kenyataannya masih sering kita dapatkan jamaah baru berdatangan meskipun adzan jumat sudah berkumandang. Bahkan ada yang datang ketika khatib memulai khutbah kedua. Lebih ironis lagi banyak diantara mereka yang baru datang setelah khatib melantunkan doa pertanda khutbah hampir selesai.

Kejadian seperti di atas sering kita dapatkan di masjid sekitar kita. Kalau toh datang lebih awal, banyak yang lebih suka mencari tempat di pojok atau paling belakang sambil bersandar ke dinding, tidak lama berselang kepalanyapun terangguk-angguk karena mengantuk. Atau memang sengaja datang di akhir-akhir khutbah karena tidak mau lama menunggu. Padahal sejatinya ada fadhilah besar yang akan ia dapatkan jika ia mau datang di awal waktu.
Rasulullah saw bersabda:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ (متفق عليه)

“Barangsiapa yang mandi janabah pada hari Jumat kemudian berangkat ke masjid maka seakan-akan ia berkurban unta, barangsiapa yang berangkat di waktu yang kedua seakan-akan berkurban sapi, barangsiapa yang berangkat di waktu yang ketiga seakan-akan berkurban kambing, barangsiapa yang berangkat di waktu yang ke empat seakan-akan berkurban ayam, barangsiapa yang berangkat di waktu yang kelima seakan-akan berkurban telur. Jika Imam keluar, malaikat hadir (duduk) untuk mendengarkan dzikir (khutbah).” (Muttafaqun ‘alaih).

Berdasar hadits di atas para ulama’ berbeda pendapat tentang waktu yang paling utama seseorang berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat jumat. Imam Malik berpendapat, tidak disunahkan berangkat shalat jumat sebelum zawal (matahari tergelincir). Diantara dalil yang digunakan, bahwa makna sabda Rasulullah ‘raaha’ adalah pergi di siang hari setelah zawal. Sedangkan Al Auzai, Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad dan Ibnu Mundzir berpendapat bahwa yang paling utama yang berangkat di awal waktu siang (pagi hari). Barangsiapa datang lebih pagi maka lebih utama. Imam Nawawi menerangkan makna ‘raaha’ dengan pergi di awal siang.
Syaikh Utsaimin menjelaskan tentang pembagian waktu tersebut, yaitu dimulai dengan terbitnya matahari di hari Jumat dan berakhir sampai Imam mulai naik mimbar. Rentang waktu tersebut dibagi dalam 5 bagian.

Sebagai contoh, untuk memudahkan pemahaman: Seandainya hari jumat di bulan ini matahari terbit jam 06.00 pagi (WIB) dan waktu Dzuhur bermula pada jam 12 siang (Imam naik ke atas mimbar), maka rentang waktu 6 jam tersebut dibagi 5 bagian. 6 jam = 6 x 60 menit =360 menit. Jika 360 menit dibagi 5, maka masing-masing waktu itu adalah 72 menit atau 1 jam lebih 12 menit. Sehingga pembagian waktu bagi orang yang mendatangi masjid dan menunggu imam di sana dengan aktivitas ibadah, kurang lebih sebagai berikut:

Waktu I (seperti berkurban unta) : 06.00 WIB – 07.12 WIB
Waktu II (seperti berkurban sapi) : 07.12 WIB- 08.24 WIB
Waktu III (seperti berkurban kambing) : 08.24 WIB – 09.36 WIB
Waktu IV (seperti berkurban ayam) : 09.36 WIB – 10.48 WIB
Waktu V (seperti berkurban telur) : 10.48 WIB – 12.00 WIB

Jika datang paling akhir sebelum imam naik mimbar saja, seakan berkurban dengan telur. Lantas bagaimana dengan yang datang setelah imam naik mimbar atau bahkan shalat jumat hendak dilaksanakan? Memang kewajiban shalat jumatnya sudah gugur, namun ia tidak mendapatkan pahala berkurban tersebut, karena malaikat telah menutup lembaran catatannya.
Dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda: “Para Malaikat duduk pada hari Jumat di depan pintu masjid dengan membawa buku catatan untuk mencatat (orang-orang yang masuk masjid). Jika imam keluar (dari rumahnya untuk shalat Jumat), maka buku catatan itu dilipat. Kemudian Abu Ghalib bertanya, “Wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam keluar mendapat Jumat? Ia menjawab, “Tentu, tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan.”

Selain pahala berkurban, Rasulullah menjanjikan berbagai fadhilah lainnya diantaranya diampuni dosa-dosanya juga akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun. Tetapi dengan syarat mau melazimi beberapa tuntunan Rasulullah ketika menunaikan shalat jumah, seperti mandi janabah, memakai minyak wangi, diam ketika mendengar khutbah, tidak memisahkan jamaah yang sedang duduk dan lainnya. Rasulullah saw menyebutkan:

“Barang siapa mandi pada hari Jumat dan memakai baju paling bagus, memakai parfum jika punya, kemudian mendatangi shalat Jumat dan tidak melangkahi pundak manusia, lalu shalat semampunya, kemudian diam bila khatib sudah datang sampai dia selesai shalatnya, maka hal itu sebagai penghapus dosa antara Jumat hari itu dengan Jumat sebelumnya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al Hakim dan Ibnu Hibban)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:

مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barangsiapa mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud, Nasai dan Ahmad)

Subhanallah, akankah fadhilah yang begitu banyak ini kita lewatkan begitu saja? Andai berkurban unta, sapi, kambing, dan ayam masih terasa berat karena aktifitas mencari ma’isyah yang tidak bisa ditinggalkan, maka setidaknya kita berusaha untuk tetap berkurban meski dengan sebutir telur. Wallahul musta’an. (abu hanan)

Umrah di Bulan Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan.. Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan maghfirah sudah berada di pelupuk mata. Mestinya kaum mukminin bergembira dan merasa senang dengan kedatangannya. Sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa berat dengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasannya. Kebebasan makan, minum, berhubungan badan di siang hari. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Boleh jadi timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …wal ‘iyadzu billah.
Bulan Ramadhan selayaknya kita hiasi dengan berbagai amal shalih, agar Ramadhan sebagai madrasah ketakwaan benar- benar hadir dalam hidup kita. Rasulullah saw telah memberikan contoh pada kita bagaimana beliau menghiasi bulan Ramadhan dengan banyak berdzikir dan tilawah Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, memberi hidangan berbuka, i’tikaf di masjid pada sepuluh hari yang terakhir dan juga melaksanakan umrah.
Setara pahala haji
Sedikitnya kuota haji dan semakin lamanya jadwal pemberangkatan jamaah haji menjadikan biro perjalanan haji dan umrah penuh sesak dengan antrean kaum muslimin yang hendak berangkat umrah. Pikir mereka mendingan berangkat umrah dulu daripada tidak ke tanah suci sama sekali dikarenakan usia yang tak lagi muda. Lagi pula umrah merupakan amalan istimewa yang bisa menghapus tumpukan dosa dan nista.
Nabi saw senantiasa memotifasi umatnya untuk melakukan umrah kapan saja mereka sanggup.

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya. Sementara haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini pahalanya jika umrah dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Maka bisa dibayangkan besarnya pahala yang akan diraih jika dikerjakan dalam bulan Ramadhan, mengingat semua pahala dilipatgandakan di bulan ini.
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi saw bersabda:

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجّ

“Maka apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” Dalam riwayat lain, “Seperti haji bersamaku.”
Maksud dari hadits adalah penyamaan pahala, bukan penyamaan dalam pelaksanaan perintah. Jadi, samanya di sini adalah kadar pahala antara umrah di Ramadhan dan pahala haji. Bukan dari jenis dan bentuknya. Karena pahala haji jelas lebih utama daripada umrah ditinjau dari jenis amal. Maka siapa yang sudah umrah di Ramadhan maka ia mendapatkan pahala sebanyak pahala haji. Hanya saja dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat keutamaan, keistimewaan, dan kedudukan yang tidak didapatkan dalam umrah. Seperti doa di Arafah, melempar jumrah, menyembelih hewan kurban, dan selainnya. Walaupun keduanya sama dalam kadar banyaknya pahala, namun keduanya tidak sama dalam pelaksanaan dan jenis ibadah. Ini seperti keterangan Ibnu Taimiyah saat beliau menjelaskan hadits yang menyebutkan bahwa surat Al-Ikhlash menyamai sepertiga Al-Qur’an.
Umrah tanpa harta
Gundah gulana dan bercucuran air mata. Itulah yang dirasakan seorang yang papa saat melihat orang-orang pergi menuju baitullah sementara ia sendiri tidak mampu ke sana. Besarnya pahala umrah dan haji semakin membuncahkan rasa sedih dan rindu dalam relung kalbunya.
Akan tetapi Allah begitu sayang kepada hamba-Nya. Dia tidak membiarkan hamba-Nya berduka dan kecewa manakala tidak mampu melaksanakan amalan yang diwajibkan-Nya. Lewat lisan Rasul-Nya, Allah mensyariatkan amalan-amalan tertentu yang jika dilakukan dengan niat yang benar akan mendapatkan pahala yang setara dengan haji dan umrah. Di antara amalan tersebut adalah melazimi dzikir pagi sampai matahari terbit dilanjutkan dengan shalat dua rakaat.
Dari Anas bin Malik ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk — dalam riwayat lain: dia menetap di masjid— untuk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.“ (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh Tirmidzi dan syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah).
Pelaksanaan amalan mulia ini pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. Jabir bin Samurah pernah ditanya, “Apa kamu pernah menemani Rasulullah?” Jabir menjawab, “Ya, beliau sering tidak berdiri dari tempat shalatnya—dimana beliau melakukan shalat shubuh— hingga matahari terbit. Jika matahari telah terbit, maka beliau berdiri.” (HR. Muslim).
Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha, kira-kira 10-15 menit setelah matahari terbit. Bukan pas matahari terbit karena ada larangan melakukan shalat pada waktu tersebut.
Maksud ‘berzikir kepada Allah’ dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca dzikir di waktu pagi, maupun dzikir-dzikir lain yang disyariatkan.
Jika segenap kemampuan telah kita kerahkan, rezeki yang lebih telah ditabungkan, bahkan rela menjual sawah dan ladang, akan tetapi ternyata Allah belum mengizinkan kita untuk menziarahi rumah-Nya. Amalan yang ringan ini bisa menjadi solusi.
Meskipun kelihatannya mudah, tapi jarang orang bisa mengerjakannya, hanya yang diberikan taufik oleh Allah swt. Alasannya karena setelah shubuh biasa digunakan untuk persiapan bekerja, kesibukan dalam rumah tangga, dan seterusnya.
Kalau toh kita belum mampu mengamalkannya setiap hari, di bulan Ramadhan tahun ini mari kita mengazamkan diri untuk mengamalkan sunah mulia ini, agar meraih pahala haji meski belum bisa berangkat ke tanah suci. Wallahul Musta’an. (Abu Hanan).

Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Jihad adalah amalan agung dalam Islam, hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyebutnya sebagai dzarwatu sanamil Islam (puncak tertinggi ajaran Islam). Banyak fadhilah yang dijanjikan Allah bagi para mujahidin yang syahid di jalan Allah. Namun ada amalan yang lebih utama dan lebih dicintai Allah dari amalan jihad ini, yaitu beramal shaleh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada satupun yang kembali.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Amalan yang disunahkan

Disunahkan pada sepuluh awal bulan Dzulhijjah untuk memperbanyak amalan-amalan shaleh seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah utama yang dikerjakan pada hari lainnya. Demikian juga halnya dengan dzikir.

Baca Juga: Udhiyah Untuk Luar Daerah

Allah berfirman:

…dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj: 28)

Yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” menurut para mufassirin adalah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang artinya, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Imam Bukhari berkata: ”Ibnu Umar dan Abu Hurairah ra keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbir keduanya.”

Hari-hari tersebut memang begitu istimewa di sisi Allah, Karena di dalamnya terdapat hari Arafah dan hari raya Idul Adhha. Ibnu Qayim menyebutkan bahwa siang 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah lebih utama dari siang 10 hari akhir Ramadhan. Namun untuk malamnya tentu lebih utama 10 hari akhir Ramadhan, karena di dalamnya ada lailatul qadar.

Shaum Arafah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pernah bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Shaum pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Para ulama berselisih pendapat mengenai dosa yang terhapus ini. Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm berpendapat sebagaimana zhahir hadits bahwa yang terhapus adalah dosa kecil dan dosa besar. Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu’, shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pada hari itu pula Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Pada hari Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman, ’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih)

Pelaksanaan shaum Arafah

Para Ulama salaf maupun khalaf berselisih pendapat mengenai hal ini antara 9 Dzulhijjah ataukah harus bersamaan dengan wukuf di Arafah. Sebagian ulama memahami bahwa shaum Arafah dan juga Idul Adhha tergantung pada sebab terlihatnya hilal bulan Dzulhijjah di negara masing-masing, sebagaimana halnya untuk permulaan Ramadhan dan Syawal. Sementara ulama lain berpendapat bahwa ibadah ini mengikuti ibadah haji di tanah Haram sebagai bentuk solidaritas pada para hujjaj (jamaah haji).

Akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sendiri pernah melaksanakan shaum Arafah tidak berbarengan dengan wukuf pada saat belum ada syari’at ibadah haji. Shaum Arafah disyariatkan pada tahun ke-2 H bersamaan dengan Iedul Adha sedangkan ibadah haji disyareatkan pada tahun ke-6 H, sebagaimana dinyatakan oleh jumhur ulama. Dengan demikian, beberapa tahun sebelum disyariatkannya ibadah haji berarti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengerjakan shaum arafah padahal di Arafah belum ada orang yang wukuf.

Disebutkan juga dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud, Ahmad, dan Baihaqi bahwa sebagian istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam pernah mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. shaum pada tis’a Dzilhijjah, hari Asyura, dan tiga hari pada setiap bulan. Lafazh tis’a Dzilhijjah, yang berarti tanggal 9 Dzulhijjah, memberikan batasan miqat zamani (ketentuan waktu pelaksanaan) shaum ini, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Baca Juga: Kurban Sambil Akikah

Syaikh Utsaimin juga berpendapat bahwa pelaksanaan shaum Arafah di setiap daerah berbeda berdasar perbedaan mathla’ (dimana hilal itu dilihat di berbagai tempat). Besar kemungkinan adanya perbedaan nampaknya hilal di berbagai tempat di dunia ini dengan di Mekkah sehingga bisa jadi mendahului atau bahkan setelahnya.  Masing-masing melaksanakannya shaum Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kapan hilal nampak di daerahnya, meski kadang berbeda hari. Inilah pandangan yang rajih, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Apabila kalian melihat (hilal) berpuasalah, dan (juga) jika kalian melihatnya maka berbukalah.” (Muttafaq ‘alaih)

Namun demikian, ini adalah masalah khilafiyah yang masing-masing berhujjah pada dalil-dalil yang dianggap shahih, kita boleh mengamalkannya sesuai yang keyakinan kita. Jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini membuat kita bercerai berai dan berpecah belah.

Idul Adha

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari Idul Adhha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)

Disebut hari teragung karena sebagian besar amalan-amalan manasik Haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada hari yang penuh berkah ini, kaum muslimin juga berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adhha dan mendengarkan khutbah.

Subhanallah, ternyata setelah bulan Ramadhan ada hari-hari yang begitu istimewa di sisi Allah. Banyak diantara kita yang belum mengetahuinya sehingga tidak memanfaatkannya dengan baik. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk melejitkan kembali berbagai amal shaleh pada hari-hari tersebut. Wallahul Musta’an. (Redaksi/Dzulhijjah/Udhiyyah) 

 

Baca Yang ini: Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah

 

Tema Terkait: Dzulhijjah, Idul Adha, Udhiyah

Musibah, Awal Kebahagiaan Seorang Hamba

Tak selamanya kehidupan di dunia ini membuat kita bisa tersenyum, kadang air matapun tertitik sebagai tanda kesedihan yang sedang menimpa, musibah datang tak disangka-sangka baik berupa tekanan/ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, bahkan hilangnya jiwa dan jiwanya orang-orang yang di cinta, itu semuanya tuk menguji hambanya siapa diantara meraka yang tetap mulia dan tegar diatas jalan-Nya.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَت

وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya.”

Begitulah kehidupan dunia digelar, ada kalanya kenikmatan dan kebahagiaan yang datang, ada kalanya musibah dan kesedihan yang menghampiri. Keduanya adalah cobaan dan ujian, agar Allah ‘dapat melihat’ –dan Alah maha mengatahui-  siapa diantara ciptaanNya yang benar-benar menghamba kepada Rabnya.

Inilah keadaan orang mukmin, segala keadannya menakjubkan baik dikala senang mendapat nikmat maupun dikala sedih mendapat musibah.

عَن صُهَيْب قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”

Mari kita simak bagaimana pendahulu kita yang shalih bereaksi ketika mendapati musibah.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ : سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ : فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ : أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِى سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ إِنِّى قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ : فَأَرْسَلَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَاطِبَ بْنَ أَبِى بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِى لَهُ فَقُلْتُ : إِنَّ لِى بِنْتًا وَأَنَا غَيُورٌ فَقَالَ :« أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُغْنِيَهَا وَأَدْعُو اللَّهَ أَنْ يُذْهِبَ الْغَيْرَةَ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ummu Salamah bahwa ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.” Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, “Orang muslim manakan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab, “Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu.” Selanjutnya beliau pun menjawab: “Adapun anaknya, maka kita do’akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo’akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu.”

Itulah buah keimanan, Allah memuji dan menambahkan balasan kebaikan yang banyak bagi mereka yang mendapat musibah lalu berdoa, dalam firmanya:

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna (ampunan) dan rahmat (keselamatan di akhirat) dari Rab mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 156-157)

Bahkan Nabi Muhammad mengajarkan ketika kita menemui sesuatu yang tidak menyenangkan dengan tetap memuji Allah Azza wa Jalla dengan mungucapkan : “ALHAMDULILLAH ‘ALA KULLI HAALIN”. (hadits shahih dikeluarkan Imam Baihaqy dari ‘Aisyah radhiyalahu ‘anha)

Maka bersabar merupakan kewajiban seorang muslim dan itulah pilihan terbaik. Kemudian dengan bersabar akan menumbuhkan sikap optimis dan lisanpun akan mengatakan perkataan dan doa yang diridhoi Allah, dan jasad akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak membuat Allah murka.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah