Warisan Terbaik Untuk Anak

Di hari pembaiatan Khalifah al-Mansur, datanglah Muqatil bin Sulaiman rahimahullah. Kemudian sang khalifah pun berkata kepadanya, ”Nasihatilah aku wahai Muqatil!”

Beliau menjawab, “Apakah nasihat dengan apa yang pernah saya lihat, ataukah dengan apa yang pernah saya dengar?”

Khalifah menjawab, “Nasihatilah aku dengan apa yang pernah engkau lihat!”

Muqatil mulai memberikan nasihat, “Wahai Amirul mukminin, adalah Umar bin Abdil Aziz (khalifah yang terdahulu) mempunyai 11  anak. Akan tetapi saat meninggal, beliau hanya meninggalkan warisan 18 dinar saja. 5 dinar di antaranya untuk membeli kafan, 4 dinar untuk membeli pekuburan beliau, dan sisanya 9 dinar dibagikan kepada 11 anaknya.

Adapun Hisyam bin Abdul Malik (khalifah setelahnya) memiliki 11 orang anak juga, dan saat beliau wafat, masing-masing anak mendapatkan bagian 1 juta dinar.

Demi Allah wahai Amirul Mukminin..

Sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di satu hari yang sama, salah satu anak Umar bin Abdul Azis (yang hanya mendapatkan warisan 9/11 dinar) bersedekah 100 kuda perang untuk keperluan jihad fii sabilillah, sementara salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik yang mendapat warisan 1 juta dinar), sedang mengemis di dalam pasar..

Orang-orang pernah bertanya kepada Umar bin Abdul Azis saat menjelang wafatnya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?!”

Beliau menjawab,

“Aku tinggalkan untuk mereka ketakwaan kepada Allah. Ketika mereka menjadi orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih. Jika ternyata mereka bukan orang yang shalih, setidaknya saya tidak mewariskan kepada mereka sesuatu yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah.”

Redaksi | Hibiy ya riihal Iiman, Syeikh Khalid Abu Syadi

Keteladanan 3 Tokoh Wanita

Insan pertama yang menyambut dakwah Islam adalah seorang wanita, yakni Khadijah binti Khuwailid. Yang pertama kali syahid di dalam Islam juga seorang wanita, yakni Sumayyah. Yang paling dicintai Nabi di antara semua manusia yang ada juga seorang wanita, yakni Aisyah. Dimana Rasul pernah ditanya tentang manusia yang paling beliau cintai maka Rasul menjawab “Aisyah”.

Tiga sosok utama kaum wanita tersebut patut dijadikan teladan bagi wanita yang ingin mulia seperti mereka. Mereka juga layak dijadikan cermin bagi wanita yang telah mengumumkan dirinya sebagai muslimah. Unggulan amal mereka berbeda-beda, maka ambilah teladan yang paling sesuai dan memungkinkan untuk Anda ambil, karena di manapun pilihan Anda, pasti tak akan lepas dari kemuliaan dan keutamaan, selagi yang Anda jadikan teladan adalah satu di antara tiga tokoh teladn tersebut.

 

Pertama Kali Beriman

Nilai bagi seorang pelopor tidaklah sama dengan mereka yang hanya ikut-ikutan. Orang yang memberikan contoh kebaikan, baginya pahala setiap kali ada orang yang mengikuti jejaknya. Begitu pula sebaliknya, para pelopor maksiat  ikut menagnggung dosa setiap orang yang melakukan maksiat karena mengikutinya.

Khadijah adalah pelopor kaum wanita dalam hal kebaikan. Dia paling dahulu beriman di saat manusia ingkar, beliau paling gigih membantu dakwah nabi di saat yang lain memusuhinya. Beliau berani tampil beda dengan keimanannya di tengah arus jahiliyah yang mencapai puncaknya.

Jika ada seorang wanita yang berani tampil beda zhahir dan bathinnya dengan keimanannya, meski  masyarakat masih asing melihatnya, maka dia menyerupai Khadijah yang dikatakan nabi sebagai ‘khairun nisa’, sebaik-baik wanita. Dia tidak akan membiarkan orang   lain mendahului dia dalam hal iman dan amal shalih. Begitu datang kepadanya perintah dari Allah dan Rasul-Nya, ketika itu juga dia melaksanakannya, meskipun orang lain belum ada yang mendahuluinya. Ketika datang kepadanya berita larangan, maka serta merta dia meninggalkannya, meskipun masyarakat di sekitarnya  masih akrab dengannya. Iniah karakter muslimah yang mengambil Khadijah sebagai teladan dalam hidupnya.

 

Mengorbankan Jiwa Raganya untuk Islam

Dialah Sumayyah binti Khayyath, manusia pertama yang syahid di dalam Islam demi mempertahankan keyakinannya. Ketika Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari dien mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir takala keadannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad…Ahad…, beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar dan Bilal.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyaksikan keluarga muslim tersebut tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru :

Bersabarlah wahai keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah jannah.”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berambah tegar dan optimis dengan kewibawaan imannya dia mengulamg-ulang dengan berani,”Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah di penuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para thaghut yang zhalim, yang mana mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut. Hingga akhirnya Abu Jahal  membunuhnya karena berputus asa memalingkan beliau dari jalan Allah. Beliau mengorbankan sesuatu yang paling berharga demi Penciptanya, yakni nyawanya.

Jika ada wanita yang siap menanggung segala resiko di dunia demi mempertahankan jati dirinya sebagai muslimah dan mukminah, maka dia menyerupai Sumayyah. Iming-iming harta dan kemewahan tak  membuatnya tertarik jika harus ditebus dengan melepaskan jilbabnya, bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya atau bahkan menanggalkan keislamannya, na’udzu billah. Bayang-bayang kemiskinan, penderitaan dan ancaman juga tak menyurutkan langkahnya untuk   tetap istiqamah di jalan Islam, komitmen dengan apa yang Allah syar’iatkan dan sunnah yang Nabi ajarkan. Inilah generasi Sumayyah binti Khayyath, syahidah pertama dalam Islam.

 

Serius Mendalami Ajaran Islam

Az Zuhri pernah berkata,” seandainya ilmu Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita , niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”

Aisyah adalah istri terbaik yang memperhatikan ilmu dari Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sehingga beliau sampai pada puncak ilmu yang mana beliau menjadi guru bagi kaum kaum laki-laki. Dan mereka menjadikan beliau sebagai rujukan dalam bidang hadits, sunnah dan fikih. Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya yang berkata,”sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al Qur’an, hal-hal yang fardhu, sunnah, sya’ir, yang  paling banyak meriwayatkan, sejarah Arab, ilmu nasab, ilmu ini, ilmu itu dan ilmu kesehatan (kedokteran), maka aku bertanya kepada beliau:”Wahai bibi…kepada siapa anda belajar tentang ilmu kedokteran?” Maka beliau menjawab:”Tatkala aku sakit, maka aku perhatikan gejala-gejalanya, tatkala ada orang sakit dia menyebutkan gejala-gejalanya, dan aku mendengar dari orang-orang menceritakan perihal sakitnya, kemudian aku menghafalnya.”

Jika ada muslimah yang memiliki antusias yang tinggi untuk mempelajari urusan agamanya, juga sesuatu yang mendatangkan maslahat bagi umatnya, maka dia termasuk generasi Aisyah, wanita yang paling dicintai oleh nabiyullah dan di pangkuannya pula sekian banyak wahyu Allah turun kepada nabi-Nya. Hingga Nabi bersabda: “ittaqillaha fii Aisyah”, takutlah kamu kepada Allah perihal Aisyah,  yakni  jangan sampai engkau menyakiti Aisyah.

Nah karakter manakah yang paling menonjol pada diri Anda di antara tiga figur utama tersebut? Pastikan, Anda memiliki satu karakter di antara ketiganya.

 

Oleh: Redaksi/wanita

Muslimah dalam Perjalanan Hijrah

Hijrah itu berat, baik secara lahiriya maupun batiniyah. Karena hijrah membutuhkan keberanian dan kesiapan mental luar biasa. Meninggalkan kenyamanan dan tempat yang sudah bertahun-tahun jelas bukan perkara mudah. Ada banyak konsekuensi yang harus dihadapi dari aktivitas ini.

Namun, hijrah tetaplah sebuah syariat yang mesti dijalani. Ia bahkan tak hanya wajib dilakukan oleh para lelaki yang secara fisik lebih kuat, namun juga bagi para muslimah. Dalam surat mumtahanah Allah memerintahkan kaum muslimah untuk berhijrah dengan sebenar-benarnya. Bahkan, mereka harus berpisah dari suami-suami mereka yang masih kafir.

 

Muslimah dalam Perjalanan Hijrah Nabi

Hijrah nabi tak lepas dari peran serta muslimah. Di sana ada Asma bintu Abu Bakar. Ia dikenal dengan dzatu nitaqain pun karena peristiwa hijrah.

Saat Rasulullah dan Abu Bakar di gua Tsur itulah saat-saat pengorbanan Asma’ binti Abu Bakar. Ia yang tengah hamil mendapatkan amanah untuk mengirimkan makanan ke sana. Pekerjaan ini bukan pekerjaan mudah. Selain jaraknya yang cukup jauh, bisa saja ia mati terbunuh ketika bertemu dengan orang kafir. Tetapi itu semua tak menghalanginya untuk ikut ambil bagian dalam amal islami tersebut. Saat membawakan bekal untuk Rasulullah itulah ia tidak punya tali untuk mengangkut makanan maka ia membelah selendangnya. Satu bagian untuk membebat perutnya dan satu bagian untuk mengikat makanan tersebut.

 

Muslimah Muhajirah

Namanya Asma binti Umais. Ia merupakan salah satu muhajirah pertama. Ia telah masuk Islam sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Arqam. Beliau turut berhijrah bersama suaminya yaitu ja`far bin Abi Thalib menuju Habasyah. Di sana ia melahirkan tiga putra yakni Abdullah, Muhammad dan Aunan. Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah maka hampir-hampir Asma’ terbang karena girangnya, inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum Muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.

Baca Juga: Kabar Gembira Untuk Para Wanita

Begitulah, Asma ‘ keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negri Habasyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan dan membawa kemenangan, takbirpun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum Muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habsyah.

Ja`far bin Abi Thalib datang disambut oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan gembira kemudian beliau cium dahinya seraya bersabda :

“Demi Allah aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakanku, kemenangan khaibar ataukah kedatangan Ja`far.”

Asma’ masuk ke dalam rumah Hafshah binti Umar tatkala Nabi menikahinya, tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafshah sedangkan Asma’ berada di sisinya, lalu beliau bertanya kepada Hafshah, ‘Siapakah wanita ini?” Hafshah menjawab, “Dia adalah Asma’ binti Umais? Umar bertanya, inikah wanita yang datang dari negeri Habasyah di seberang lautan?’ Asma menjawab, “Benar.” Umar berkata; ‘Kami telah mendahului kalian untuk berhijrah bersama Rasul, maka kami lebih berhak terhadap diri Rasulullah dari pada kalian. “Mendengar hal itu Asma’ marah dan tidak kuasa membendung gejolak jiwanya sehingga beliau berkata: “Tidak demi Allah, kalian bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau memberi makan bagi yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh diantara kalian, adapun kami di suatu negeri atau di bumi yang jauh dan tidak disukai yakni Habasyah, dan semua itu adalah demi keta`atan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Asma’ diam sejenak selanjutnya berkata: “Demi Allah aku tidak makan dan tidak minum sehingga aku laporkan hal itu kepada Rasulullah, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga akan aku sampaikan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah.”

Tatakala Rasulullah datang, ia berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah sesungguhnya Umar berkata begini dan begini.” Rasulullah bersabda kepada Asma`, “Tiada seorangpun yang berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali.”

 

Air Minum untuk Muhajirah

Ummu Aiman radhiallahu ‘anha, adalah seorang wanita yang mulia. Dari rahimnya telah lahir orang-orang mulia. Ia adalah seorang wanita yang mendapatkan kemuliaan dua hijrah, ke bumi Habasyah dan ke bumi Madinah. Suatu ketika dalam salah satu perjalanan hijrahnya, Ummu Aiman menempuhnya dengan berpuasa. Tiba saat berbuka, tak ada bekal air yang dapat digunakan untuk melepaskan dahaganya yang sangat. Tiba-tiba didapatinya setimba air terulur dari langit dengan tali timba yang berwarna putih. Ummu Aiman  pun meminumnya.

Baca Juga: Taubat Yang Batal & Hijrah Yang Gagal

Ummu Aiman menuturkan, “Sejak itu, aku berpuasa di siang yang panas dan berjalan di bawah terik matahari agar aku merasa haus, namun aku tidak pernah merasakan dahaga.”

Hijrahnya ke Madinah ditempuhnya selang beberapa waktu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhuma dengan berbekal dua ekor unta dan 500 dirham untuk membawa dua putri beliau, Fathimah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma, serta Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha. Pada saat itu pulalah Ummu Aiman bersama putranya, Usamah bin Zaid, bertolak menuju Madinah bersama rombongan ini.

 

Oleh: Redaksi/Wanita/Motivasi

 

Sa’ad bin Mu’adz, Kematiannya Menggetarkan ‘Arsy Ar-Rahman

Perang Badar menjelang. Rasulullah ﷺ dihadapkan pada pilihan harus menghadapi seribu pasukan kafir Quraisy, sementara jumlah pasukan kaum muslimin hanya sekitar tiga ratus orang. Beliaupun meminta pendapat para sahabat. Para pimpinan Muhajirin menyatakan siap menghadapi peperangan sampai titik darah penghabisan. Sedangkan para sahabat Anshar yang merupakan mayoritas peserta pasukan belum memberi pandangan. Beliapun meminta pendapat mereka.

Pemimpin pasukan Anshar yang tidak lain adalah Sa’ad bin Mu’adz dengan mantap berkata, “Kami sudah beriman dan membenarkan anda. Kami bersaksi bahwa apa yang anda bawa adalah kebenaran. Kami telah bersumpah dan berjanji untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang anda kehendaki. Demi Dzat Yang mengutus anda dengan kebenaran, andaikata anda berjalan bersama kami lalu terhalang lautan dan anda menghendaki untuk terjun, maka kami pun akan terjun pula bersama anda. Tak seorangpun yang akan mundur diantara kami. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang-orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepada anda apa yang menyenangkan anda. Maka majulah bersama kami dengan barokah Allah.”

Jaminan Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu melegakan hati Rasulullah ﷺ. Dan pasukan Islam itu pun bertekad untuk menghadapi musuh meskipun jumlah dan kekuatan tidak berimbang. Akhirnya, peperangan tersebut disudahi dengan kemenangan gemilang kaum muslimin.

Musuh-musuh Islam tak pernah berhenti dari keinginan menumpas gerakan Islam. Kali ini mereka bersekutu untuk mengadakan penyerangan habis-habisan ke Madinah. Pasukan gabungan yang dimotori kaum Quraisy dan dibantu kaum Yahudi yang telah bersekongkol dan mengompori para kabilah Arab untuk menyerang Rasulullah, telah bergabung dalam jumlah besar, sekitar sepuluh ribu orang. Melebihi jumlah penduduk Madinah saat itu.

Sebelum musuh masuk, kaum muslimin pun bersiasat membuat parit, sehingga pertempuran itu disebut perang  Khandaq. Akibatnya pasukan musyrik tidak bisa masuk. Mereka hanya menyerang dari jarak jauh dengan lemparan panah dan tombak. Saat berjaga, sebuah anak panah melesat dan berhasil memutuskan urat lengan pemimpin Anshar, Sa’ad bin Mu’adz. Darah segar pun mengucur dari tangan beliau. Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu kemudian berdoa, ” Ya Allah, jika Engkau masih menyisakan peperangan dengan kaum Quraisy, maka berikanlah sisa kehidupan kepadaku. Sesungguhnya tidak ada yang lebih saya inginkan selain berjihad memerangi satu kaum yang telah menyakiti, mendustakan dan mengusir Rasul-Mu. Jika memang Engkau telah menyelesaikan peperangan antara kami dan mereka maka jadikanlah luka ini sebagai pintu syahidku. Dan Janganlah Engkau matikan diriku sampai aku merasa senang dengan apa yang terjadi pada bani Quraidhah.”

Doa lelaki shalih itupun terkabul. Darah di urat tangannya mulai terhenti. Meskipun akhirnya beliau harus menjalani perawatan di kemah perawat Islam, Rufaidah. Rasulullah ﷺ pun memerintahkan agar kemah perawatan Sa’ad diletakkan di masjid agar beliau bisa sering menjenguknya.

Setelah Allah hinakan pasukan gabungan dengan kegagalan menguasai Madinah dan mereka pulang dengan tangan hampa, tiba saatnya untuk memberesi para pengkhianat. Bani Quraidhah, salah satu kelompok Yahudi yang tinggal di Madinah telah bersekongkol dengan pasukan musuh untuk membantu menghancurkan kaum muslimin. Padahal sebelumnya mereka terikat perjanjian damai dengan Rasulullah ﷺ. Rasulullah pun kemudian mengepung mereka sampai mereka menyerah, dengan syarat yang menjatuhkan hukuman adalah Sa’ad bin Mu’adz. Mereka memilih Sa’ad bin Mu’adz karena sebelumnya telah terjadi pertemanan yang baik dengannya.

Rasulullah ﷺ pun mendatangkan Sa’ad bin Mu’adz ke bani Quraidhah. Sesampai di sana, kaumnya mengingatkan beliau agar jangan memberi hukuman terlalu berat karena bani Quraidhah sejak jaman dahulu adalah sekutu mereka. Dengan tegas beliau berkata, “Tibalah saatnya untuk tidak takut lagi di jalan Allah dengan celaan orang-orang yang suka mencela.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Berilah hukuman pada mereka.” Beliau berkata, “Saya memberi putusan pada mereka, hendaknya para lelakinya dibunuh, sedangkan para wanita dan anak-anak menjadi tawanan, dan harta bendanya dibagi sebagai ghanimah.” Beliau ﷺ menimpali putusan Sa’ad, “Engkau telah menghukumi mereka sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.”

Beberapa hari kemudian luka Sa’ad memecah sehingga darah banyak keluar dari tangannya. Pada saat kritis tersebut Rasulullah ﷺ memangku kepalanya dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad telah berjihad di jalan-Mu, membenarkan Rasul-Mu, dan telah melaksanakan kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baik cara Engkau menerima ruh.”

Dengan susah payah, di akhir hayatnya Sa’ad pun berkata, “Semoga keselamatan bagimu wahai Rasulullah, saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.” Kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Abu Bakar dan umar Radhiyallahu ‘anhuma yang juga berada di situ tak kuasa menahan tangis haru dan kesedihan atas kematian salah seorang pemimpin Anshar tersebut.

Saat kaum muslimin mengangkat jasad Sa’ad bin Mu’adz terjadi keanehan. Mereka merasa sangat ringan sekali padahal tubuh Sa’ad tinggi besar. Beliau ﷺ bersabda, “Tidak ada yang membuat tubuhnya ringan kecuali karena telah turun para malaikat dalam jumlah banyak, mereka belum pernah turun sebelumnya. Dan mereka ikut mengangkatnya bersama kalian.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Inilah lelaki shalih yang kematiannya membuat Arsy bergoncang karena gembira dengannya, dibukakan pintu-pintu langit baginya, dan ada tujuh puluh ribu malaikat yang menyaksikannya yang sebelumnya mereka belum pernah turun ke bumi.”

Ya, lelaki shalih tersebut telah meninggalkan dunia di usianya yang ke tiga puluh tujuh. Beliau telah berhasil mengukir sejarah kehidupannya dalam jihad dan pengorbanan untuk tegaknya Islam. Semoga kita tidak terhalangi untuk mengikuti jejak lelaki shalih tersebut. Amin. (Maraji’: Siyar A’lamin Nubala’, Asadul Ghabah, Shifatu Shafwah, Rakhikul Makhtum).

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

 

Indahnya Adzan di Mata Generasi Pilihan

Adzan adalah syiar yang agung, tiada yang membencinya selain setan dan orang-orang rendahan yang mengikuti jejak setan yang anti terhadap adzan. Allah menyebut kurang akal siapapun yang memperolok adzan, sebagaimana firman-Nya.

“Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS: al-Maidah 58)

Dan beberapa waktu ini makin banyak orang yang berani meremehkan adzan; tidak menyambutnya, ada yang mengaku muslim tapi merasa terusik dengan mendengarnya bahkan ada yang secara ugal-ugalan memperolok-oloknya.

Adapun orang-orang shalih di kalangan generasi terbaik sangat mengistimewakan panggilan adzan. Karena mereka memahami maknanya dan menghayatinya, hingga sangat tampak sekali respek mereka terhadap adzan.

Di zaman sahabat misalnya, Ibnu Katsier rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa suatu kali sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang sewaktu di pasar. Di mana tatkala adzan untuk shalat dikumandangkan, serta merta mereka tinggalkan perniagaan mereka, dan mereka berbondong-bondong mendatangi undangan shalat. Melihat pemandangan ini, Abdullah bin Mas’ud bergumam, “Mereka inilah yang dimaksud oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nuur: 37).

Abu Hurairah radhiallahu’anhu meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki buta datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallahua’alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang yang menuntunku ke masjid (untuk shalat berjama’ah).” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk diijinkan shalat di rumah. Maka (di awalnya) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membolehkannya, kemudian ketika orang itu akan pulang, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar seruan adzan untuk shalat (berjama’ah)?”. Orang itu menjawab: Iya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kalau begitu datanglah ke masjid.” (HR. Muslim)

Demikian pula para Shahabat lainnya radhiallahu’anhum, memberikan teladan yang sempurna dalam masalah ini, seperti ucapan ‘Adi bin Hatim ath-Tha’i radhiallahu’anhu: “Tidaklah dikumandangkan shalat sejak aku masuk Islam, kecuali aku dalam keadaan sudah berwudhu”.(Siyaru a’lam)

Kemudian generasi tabi’in yang datang setelah para Shahabat Shallallahua’alaihi Wasallam, mereka juga menampilkan sebaik-baik teladan dalam menyambut seruan adzan. Bagi mereka, adzan adalah panggilan mulia yang mengetuk hati dan menggugah nurani. Ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang beriman ketika dimudahkan untuk menyahut dan menyambut panggilan adzan.

Seperti yang dialami oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang sering menangis haru di masjid ketika mendengar adzan hingga lantai di hadapannya basah oleh air matanya. Betapa tidak, hakikatnya adzan adalah ‘undangan’ dari Sang Pencipta, Maha Pemberi Karunia. Adapun muadzin hanyalah penyampai ‘undangan’ dan bukan Pemilik undangan. Bukankah suatu kehormatan ketika seseorang bisa hadir mendatangi undangan dari Yang Mahamulia? Undangan yang jauh lebih bergengsi dari undangan resepsi para pejabat maupun raja.

[bs-quote quote=”‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah dikumandangkan shalat sejak aku masuk Islam, kecuali aku dalam keadaan sudah berwudhu”.” style=”default” align=”left” color=”#1e73be”][/bs-quote]

Sa’id bin Musayyib rahimahullah, imam ternama dari generasi tabi’in sangat menghargai undangan ini, memprioritaskannya dari sekian banyak undangan, hingga beliau hadir lebih awal, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah daam ats-Tsiqaat, “Beliau termasuk pemuka para tabi’in dalam pemahaman agama, sifat wara’, ilmu, ibadah dan kemuliaan. Selama empat puluh tahun, tidaklah dikumandangkan adzan shalat kecuali Sa’id bin al-Musayyab telah berada di masjid menanti shalat berjama’ah.”

Hilal bin Isaf bercerita saat dia bersama Mundzir Ats-Tsauri menjenguk Rabi’ bin Khutsaim radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, “Setelah lama berbincang-bincang, terdengar lantunan adzan Dzuhur. Bersamaan dengan itu puteranya datang, lalu Syeikh berkata kepadanya, “Mari kita sambut panggilan Allah.” Puteranya berkata kepada kami, “Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan kepada kalian.” Kemudian kami memapahnya bersama-sama sehingga beliau bisa bergantung di antara aku dan puteranya pada saat berjalan. Mundzir berkata,”Wahai Abu Yazid, bukankah Allah Ta’ala memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda untuk shalat di rumah?” Beliau menjawab, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju keberuntungan!” Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

Benar apa yang beliau katakan, selain panggilan shalat, adzan juga merupakan ajakan untuk menjadi orang yang sukses, bahagia, menang dan beruntung. Seluruh pengertian ini terkandung dalam kata “al-falaah’ ketika diserukan ”hayya ’alal falaah”, marilah menuju keberuntungan. Alangkah agung ajakan ini. Tak ada orang berakal yang layak meremehkan ajakan ini. Seruan keberuntungan inilah yang mendorong seorang ulama tabi’in untuk tetap menyambut seruan adzan, meskipun harus dipapah puteranya karena sakit. Bahkan meskipun harus datang dengan merangkak.

Berlanjut ke generasi tabi’ut tabi’in. Mereka juga menyambung estafet kemuliaan dalam menyambut seruan adzan. Sebut saja Ibrahim bin Maimun Ash-Sha’igh, seorang shalih dari generasi tabi’ut tabi’in selalu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar adzan. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengisahkan biografi beliau dalam Tahdzib at-Tahdzib, bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam. Setiap kali beliau telah mendengar seruan adzan untuk shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tak lagi mengayunkannya. Beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat. Karena bagi beliau, adzan adalah panggilan dari Dzat yang memiliki kuasa segalanya atas dirinya. Bagaimana mungkin ia berani menundanya?

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kisah Salaf

Abdullah bin Ummi Maktum, Mujahid buta Pemegang Bendera Islam

Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tengah berhadapan dan berdialog dengan para pembesar Quraisy. Beliau sangat berharap para tokoh tersebut bisa mendapat hidayah Islam, sehingga bisa mengajak kaumnya untuk turut masuk Islam.

Saat pembicaraan menghangat, tiba-tiba muncullah seorang buta dan menyeru, “Muhammad, Muhammad, ajarkanlah padaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”

Ada rona ketidaksukaan pada wajah beliau. Beliau pun berpaling dari lelaki buta tersebut. Ya, kesempatan emas mendakwahi para pentolan Quraisy ini jangan sampai terganggu. Beliau pun terus berbicara dengan para tokoh tersebut.

Setelah selesai berbicara dengan para tokoh tersebut, beliau hendak untuk pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang memberatkan kepala beliau. Ternyata turunlah enam belas ayat dari surat ‘Abasa.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya…”. (QS. ‘Abasa [80]: 16).

Siapakah lelaki buta yang karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam langsung mendapat teguran dari langit? Ia tidak lain adalah Abdullah bin Qais, yang masih sepupu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Ibunya, Atikah binti Abdullah lebih dikenal dengan sebutan Ummi Maktum, karena telah melahirkan anak yang buta sejak lahir. Maka Abdullah bin Qais lebih dikenal dengan sebutan Abdullah bin Ummi Maktum.

Kebutaan matanya ternyata tidak menghalanginya untuk menerima hidayah Islam. Bahkan hatinya melihat kebenaran dan bersemangat meraihnya, sehingga beliau mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendapat pengajaran Al Qur’an. Sedangkan pentolan-pentolan Quraiys yang diharapkan masuk Islam ternyata telah buta hatinya tidak bisa melihat kebenaran Islam. Makanya Allah memperingatkan Nabi-Nya untuk mengutamakan para pencari kebenaran meskipun dari kalangan orang biasa, daripada tokoh-tokoh  kaum yang tidak peduli dengan Islam.

Sejak peristiwa itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, mendekatkan tempat duduknya dengan beliau, menanyakan tentang kebutuhannya dan memenuhinya.

Ketika penindasan Quraisy kepada kaum muslimin di Makkah semakin menjadi-jadi, Allah mengijinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Dan orang yang paling dahulu meninggalkan tanah airnya menuju bumi hijrah adalah Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum. Sesampainya di Madinah, mereka berdua berpencar dan mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, Abdullah bin Ummi Maktum mendapat kehormatan bersama Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan panggilan shalat menyeru manusia menuju keberuntungan selama lima kali sehari semalam. Kebutaan matanya tidak menghalangi beliau untuk selalu melazimi shalat berjama’ah yang diperintahkan Rasul untuk selalu menghadirinya.

Kehormatan lain dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Ummi Maktum adalah pernah beberapa kali ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah untuk menyerang musuh, maka kepemimpinan kota Madinah diserahkan kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

Suatu ketika selepas perang Badar, turunlah ayat yang memuji mujahidin. Firman-Nya:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah …”(QS. An-Nisa: 95)

Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menuliskannya. Abdullah bin Ummu Maktum lantas bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana halnya dengan orang yang tidak mampu berjihad?”

Tidak lama berselang dari pertanyaan tersebut, Rasulullah langsung mendapat wahyu yang melengkapi ayat tersebut, sehingga menjadi:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. (QS. An-Nisa: 95)

Ayat tersebut menjadi hujjah bagi orang semisal Abdullah bin Ummi Maktum untuk tidak ikut berjihad karena udzur yang mereka miliki.

Namun jiwa yang besar tidak rela kecuali untuk meraih pahala yang besar. Meskipun sudah mendapat udzur dari Allah, tetapi Abdullah bin Ummi Maktum tidak tinggal diam. Justru sejak saat itu beliau bertekad untuk mengikuti pertempuran melawan musuh-musuh Allah. Beliau berkata: “Tempatkanlah saya diantara dua barisan pasukan, berikan bendera kepada saya, maka saya akan membawanya untuk kalian dan akan menjaganya…saya adalah lelaki buta yang tidak akan bisa lari dari medan tempur..” Sungguh, satu keberanian yang luar biasa. Tetapi memang begitulah para lelaki tempaan Rasulullah, yang hatinya terpaut dengan akhirat, sehingga tidak ada yang ditakutinya di dunia ini selain Allah dan siksa-Nya.

[bs-quote quote=”Abdullah bin Ummi Maktum berkata: “Tempatkanlah saya diantara dua barisan pasukan, berikan bendera kepada saya, maka saya akan membawanya untuk kalian dan akan menjaganya…saya adalah lelaki buta yang tidak akan bisa lari dari medan tempur..” ” style=”default” align=”center” color=”#2a79bf”][/bs-quote]

Sepeninggal Rasulullah, Abdullah bin Ummi Maktum tetap tegar dalam perjuangan Islam bersama kaum muslimin lainnya. Bahkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau mengikuti ekspedisi jihad yang cukup menantang. Pergi ke tanah Persia dengan satu tekad, taklukkan negeri adidaya penyembah api tersebut.

Di bawah kepemimpinan panglima Sa’ad bin Abi Waqash, kaum muslimin pergi ke Qadisiyah untuk memberangus kekuatan durjana. Dan perang besar pun berkecamuk. Pertempuran antara pemegang panji tauhid dengan kaum musyrikin. Dan di tengah-tengah medan pertempuran, bendera kaum muslimin berkibar dengan teguh dipegang seorang lelaki yang tidak mungkin lari dari medan perang. Ya, tidak lain ialah Abdullah bin Ummi Maktum.

Setelah tiga hari pertempuran berjalan, akhirnya kemenangan diraih pasukan penegak tauhid. Salah satu negeri super power dunia pada masa itu, takluk kepada kaum muslimin setelah melalui perjuangan dan pertempuran dahsyat, serta melalui syahidnya ratusan mujahidin. Salah satunya adalah Abdullah bin Ummi Maktum, yang didapati tubuhnya bersimbah darah dengan tetap memeluk bendera kaum muslimin.

Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, selamat atas prestasimu meraih puncak ketinggian Islam. Berjihad dan mati syahid, padahal seandainya engkau tidak ikut berjihad dan diam di rumah, tidak ada yang mencelamu. Namun bersihnya mata hatimu tak rela kecuali mendapat puncak ketinggian Islam. Semoga kami dapat meniti jejak kebaikanmu. Wallahu a’lam.

Oleh: Redaksi/Teladan Islam

Abdullah bin Mas’ud, Mantan Penggembala yang Menjadi Ulama Terkemuka

Siang itu sangat terik. Nampak dari kejauhan dua lelaki dewasa mendekati seorang anak penggembala yang sedang menggembala kambing. Dua lelaki itu tidak lain adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat setianya Abu Bakar RDL. Keduanya yang merasa sangat kehausan berkata pada si penggembala, “Wahai anak muda, tolong perahkan untuk kami susu kambing itu agar rasa haus dan keringnya kerongkongan segera hilang.” Anak muda yang bernama Abdullah bin Mas’ud tersebut menjawab, “Saya tidak bisa melakukannya. Kambing-kambing ini bukan milikku. Sedangkan saya dipercaya merawatnya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, “Tunjukkan padaku kambing yang belum keluar air susunya.” Abdullah bin Mas’ud atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Ummi Abdin pun menunjukkan seekor kambing yang masih kecil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lantas maju dan mengusap puting susu kambing tersebut dengan menyebut nama Allah. Tiba-tiba puting susu tersebut membesar dan penuh berisi air susu. Satu kejadian yang sangat mengagetkan Abdullah bin Mas’ud. Kemudian beliau bersama sahabatnya meminum susu tersebut , lalu Abdullah juga ikut meminumnya.

Setelah cukup puas, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Kempeslah.” Maka puting susu kambing tersebut kembali mengempes seperti sedia kala.

Melihat kejadian yang menakjubkan tersebut, Abdullah bin Mas’ud tertarik untuk belajar kepada dua orang yang belum begitu dikenalnya. Ia berkata,”Ajarilah saya ilmu yang tadi anda katakan.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang anak muda yang akan diberi ilmu.”

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Abdullah bin Mas’ud kemudian mengikrarkan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW. Bahkan ia menawarkan diri untuk menjadi pembantu yang berkhidmat untuk kepentingan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tawaran itupun diterima, dan sejak saat itu Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu hampir tidak pernah berpisah dengan kekasihnya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesempatan hidup bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak disia-siakan. Ibnu Ummi Abdin berusaha mengambil telaga ilmu yang berada di hadapannya. Bacaan Al Qur`annya pun sangat bagus sehingga Rasululllah n memujinya,” Barang siapa yang ingin membaca Al Qur`an persis seperti ketika ia turun, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdin.”

Selain menguasai bacaan Al Qur`an, beliau juga sangat paham tentang tafsir dan makna masing-masing ayat. Beliau pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia.Tidaklah ada satu ayat dari ayat-ayat Allah, kecuali saya mengetahui di mana ayat tersebut turun, dan tentang apa diturunkan. Sekiranya saya tahu ada orang lain yang lebih tahu dariku tentang kitab Allah dan memungkinkan untuk sampai padanya, tentulah saya akan mendatanginya.”

Selain ahli ilmu dan ahli ibadah, Abdullah bin Mas’ud juga memiliki keberanian luar biasa untuk menyampaikan yang benar. Tercatat, beliaulah sahabat pertama yang berani membaca Al Qur`an dengan suara keras di hadapan orang-orang Quraisy setelah Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat di Makkah sedang berembuk. Mereka berkata, “Demi Allah, orang Quraisy itu belum pernah mendengar Al Qur`an dibaca dengan suara lantang. Siapa yang berani memperdengarkannya kepada mereka?” Abdullah bin Mas’ud dengan sigap menjawab, “Saya siap memperdengarkan Al-Qur`an pada mereka.” Para sahabat menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami inginkan adalah yang memiliki backing kuat dari keluarganya.” Beliau menimpali, “Biarkan saya saja, sesungguhnya Allah-lah yang akan menjaga dan melindungiku.”

Kemudian di pagi yang cerah, Abdullah datang ke Ka’bah dan membaca awal surat Ar-Rahman di maqam Ibrahim. Kontan para pembesar Quraisy marah dan memukulinya sampai babak belur. Abdullah pun datang menemui para sahabatnya. Mereka berkata, “Inilah yang kami khawatirkan atasmu.” Abdullah menjawab, “Demi Allah, sekarang dalam pandanganku tidak ada musuh Allah yang lebih rendah dari mereka, jika kalian menghendaki, besok saya akan lakukan hal yang sama.” Tetapi para sahabat mencegahnya.

Hari-hari berikutnya Abdullah bin Mas’ud tetap setia membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, memakaikan sandal dan melepaskannya, membawa tongkat, menutupi beliau saat buang air, mengambilkan air wudhu dan berbagai pekerjaan lainnya. Beliau juga tidak pernah absen dari medan jihad yang ada. Pantas, meskipun tubuh beliau kecil tetapi bobotnya di hari kiamat teramat berat. Sebagaimana disebutkan bahwa pada suatu hari beliau memanjat pohon untuk mengambil kayu siwak. Ketika ada angin berhembus, tersingkaplah betisnya yang kecil, sehingga para sahabat lain menertawakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menukas, “Apa yang kalian tertawakan?” Mereka menjawab,”Ya Rasulullah, betisnya sangat kecil.” Beliau bersabda, “Demi yang jiwaku ada pada-Nya,kedua betisnya tersebut lebih berat daripada gunung Uhud pada timbangan hari kiamat.”

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abdullah bin Mas’ud tetap berkhidmat untuk Islam. Bahkan beliau menjadi rujukan umat karena kedalaman ilmunya. Sebagaimana dipersaksikan salah seorang tabi’in, Masruq yang berkata, “Saya perhatikan bahwa ilmu para sahabat berkumpul pada diri Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.

Beliau sering memberi wejangan-wejangan berharga kepada orang yang hidup semasa dengannya. Diantara wejangannya ialah, “Sesungguhnya saya sangat benci kepada seseorang yang tidak memiliki aktifitas apapun, tidak melakukan aktifitas keduniaan dan juga tidak melakukan amal untuk akhirat.” Beliau juga berkata, “Barang siapa yang shalatnya tidak memerintahkannya untuk berbuat yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran maka shalatnya tidak menambah baginya kecuali semakin jauh dengan Allah.” Beliau juga menasehati para pencari ilmu, “Ilmu bukan sekedar banyak meriwayatkan tetapi ilmu adalah tumbuhnya rasa takut.”

Pada satu malam, setelah beberapa saat menderita sakit, Abdullah bin Mas’ud menghembuskan nafasnya yang terakhir di kota Madinah dengan lisan basah berdzikir kepada Allah. Kaum muslimin pun berduyun duyun menshalatinya dan mendoakan keberkahan baginya.

Selamat atasmu wahai Ibnu Ummi Abdin. Engkau telah menanam tanaman kebaikan dan amal sholeh. Tentunya sekarang sebagian buahnya telah engkau rasakan. Semoga kami tidak terhalangi untuk menapak jejak kiprahmu.

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

Muslihat Sempurna Nuaim bin Masud Pada Sekutu Ahzab

Terbunuhnya Amr bin Abdi wad tak lantas membuat pasukan ahzab menyerah. Mereka tetap melakukan pengepungan Madinah, bahkan sebuah strategi telah disiapkan untuk mengalahkan Rasulullah dan pasukannya. Pasukan ahzab berencana membujuk bani Quraizhah (salah satu kabilah Yahudi Madinah) untuk melanggar perjanjian dengan Rasulullah.

Strategi tersebut segera dijalankan dengan mengirimkan Huyyai bin Akhthab untuk menemui pimpinan bani Quraizhah dan membujuk supaya bergabung dengan pasukan ahzab. Bani Quraizhah pun setuju untuk menghianati perjanjian damai dengan Rasulullah dan bergabung dengan pasukan ahzab.

Kabar penghianatan tersebut pun sampai kepada Rasulullah. Beliau lalu menugaskan Zubair bin Awwam untuk memastikan kebenaran kabar tersebut. Tak berapa lama Zubair kembali dan membenarkan kabar penghianatan bani Quraizhah.

Baca Juga: Dia Ingin Memilki Nyawa Sebanyak Jumlah Rambutnya

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah langsung mengambil dua keputusan penting. Pertama Beliau mengutus Maslamah bin Aslam bersama dengan 500 prajurit untuk menjaga wanita dan anak-anak muslim yang diungsikan di perkampungan bani Haritsah di bagian selatan Madinah. Ketika itu semua pasukan muslim berada di sebelah utara Madinah, sedangkan perkampungan bani Quraizhah berada di sebelah selatan. Sehingga dengan penghianatan tersebut, bani Quraizhah bisa dengan mudah menghabisi wanita dan anak-anak muslim.

Kedua, Rasulullah mengutus Saad bin Muadz, Saad bin Ubadah, Abdullah bin Rawahah, dan Ibnu Jubair mendatangi bani Quraizhah. Keempatnya diutus untuk mengadakan pembicaraan dengan bani Quraizhah. Alangkah terkejut keempatnya ketika bani Quraizhah menolak pembicaraan dan merobek kertas perjanjian seraya mencela Rasulullah.

“Adhl dan Qarah.” Kata keempatnya kepada Rasulullah ketika menemui Rasulullah kembali. Maksudnya adalah bani Quraizhah melakukan penghianatan sebagaimana yang dilakukan Adhl dan Qarah ketika tragedy Raji’.

Mendengar kabar penghianatan bani Quraizhah membuat orang-orang munafik berbalik ke belakang dan keluar dari pasukan muslim. Mereka beralasan bahwa rumah mereka akan menjadi sasaran pasukan ahzab karena berada di selatan Madinah.

Di tengah situasi yang semakin genting tersebut, Nuaim bin Masud datang menghadap Rasulullah. Nuaim berasal dari suku ghatafan, suku yang ikut bergabung dengan pasukan ahzab.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!”

Rasulullah menjawab, “Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”

Baca Juga: Duel Menegangkan Antara Dua Ahli Pedang

“Saya siap, wahai  Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu’aim.

Setelah itu, Nu’aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.

“Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini. Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu’aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.

Setelah itu, Nu’aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu’aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.

Mendengar penjelasan Nu’aim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”

Hal yang sama dilakukan juga oleh Nu’aim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu’aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.

 

Oleh: Redaksi/Tarikh Sahabat

Duel Menegangkan Antara Dua Ahli Pedang

Penggalian parit akhirnya selesai dalam waktu enam hari. Kondisi Madinah makin mencekam, anak-anak dan wanita diungsikan ke benteng milik Bani Haritsah, benteng paling kokoh saat itu. Pasukan Muslim mulai menyiapkan fisik dan mental mereka untuk menyambut pasukan Quraisy dan sekutu yang mulai tampak di kejauhan.

Pasukan musuh mulai berdatangan bak air bah. Dari arah selatan Madinah terdiri dari pasukan Quraisy, Kinanah, dan sekutu mereka dari penduduk Tihamah. Jumlah mereka sebanyak 4000 prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan. Sedangkan dari arah timur, pasukan dari kabilah-kabilah Ghatafan. Total jumlah mereka mencapai 10 ribu prajurit. Jumlah ini melebihi jumlah pasukan Muslim yang hanya 3000 prajurit, bahkan melebihi jumlah seluruh penduduk Madinah termasuk wanita dan anak-anak.

Tidak berapa lama pasukan gabungan (Ahzab) tiba, mereka ingin segera bertempur dan melumat pasukan Muslim. Seketika itu mereka dikejutkan dengan parit yang menghadang dan memisahkan mereka dari pasukan Muslim. Mereka bingung karena belum pernah menjumpai siasat pertahanan seperti itu. Karenanya mereka hanya berputar-putar dekat parit dengan amarah yang memuncak tanpa bias melakukan apapun.

Dengan terpaksa, pasukan Ahzab memutuskan untuk berkemah mengepung Madinah. Keputusan ini diambil meski mereka tak memiliki persiapan untuk berkemah dalam waktu yang lama. Ketika itu cuaca sangat dingin di tengah terpaan badai yang terus menerus. Lambat laun keputus asaan mulai merasuk kedalam hati mereka. Banyak di antara mereka yang memilih untuk kembali ke rumah masing-masing.

Pasukan Ahzab terus bergerilya mencari celah untuk melompati parit. Hingga sejumlah ahli berkuda Quraisy, di antaranya Amr bin Abdi Wadd, Ikrimah dan lainnya berhasil melompati jarak lompat yang lebih sempit. Beberapa orang berhasil menyeberangi parit, Merekapun menantang pasukan Muslim untuk perang tanding.

Amr bin Abdi Wadd, seseorang yang dikenal berani dan tak pernah sekalipun kalah dalam duel satu lawan satu, dengan sombongnya menantang pasukan Muslim, “Siapa yang berani melawanku? Apakah kalian semua takut padaku?”

Ali bin Abi Thalib menjawab tantangan tersebut, keduanya kini saling berhadapan. “Siapakah  engkau?” Tanya Amr.

“Aku adalah Ali bin Abi Thalib.”

“Wahai anak saudaraku… Sesungguhnya ayahmu adalah teman dekatku, maka kembalilah! Aku tak ingin membunuhmu,” kata Amr.

Ali pun berujar, “Hai Amr, aku mendengar bahwa kau telah bersumpah. Kalau kau diberi dua pilihan, maka kau akan memilih salah satunya.”
“Benar.”

“Maka aku akan memberikan dua pilihan padamu, pilih salah satunya, Pertama, engkau mengucapkan dua kalimat syahadat.”

“Aku datang untuk memerangi Muhammad, bukan untuk masuk Islam.”

“Kalau begitu, pilihan yang kedua, aku akan membunuhmu.”

Perkataan Ali membuat Amr naik pitam, selama hidupnya tidak pernah ada yang menantangnya. Dengan cepat, Amr turun dari kuda dan menyerang Ali. Hantaman pedang Amr berhasil ditangkis dengan perisai, namun perisai Ali langsung terbelah.

Semua pasukan Muslim tegang, mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi, tertutup oleh debu-debu dan pasir yang beterbangan di sekitar dua orang yang sedang duel tersebut. Setelah lama berselang, dari balik tebalnya gumpalan debu terdengar teriakan takbir, “Allahu Akbar!”

Teriakan itu didengar Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa Ali bin Abi Thalib telah membunuh lawannya. Rasulullah langsung menyambut dengan pekikan takbir Para sahabat pun turut bertakbir. Tubuh Amr roboh di balik gumpalan debu. Terbunuhnya Amr membuat pasukan Ahzab panik. Mereka ketakutan. Ikrimah bin Abi Jahal lari tunggang langgang meninggalkan tombaknya.

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

 

Baca Kisah yang Ini Juga: Milyarder Mulsim yang Membuat Iri Kaum Muslimin, Dia Ingin Memiliki Nyawa Sebanyak Jumlah Rambutnya

 


Ingin berlangganan Majalah Islami yang bermutu dan nyaman dibaca? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085

Anas bin Malik, Sepuluh Tahun Serumah dengan Rasulullah

Di pagi yang cerah, beberapa lelaki Anshar berteriak: “Sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dan Shahabatnya telah tiba di jalan dekat Madinah.” Dengan serta merta para lelaki Anshar yang telah beberapa lama menunggu kedatangan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segera menuju ke arah jalan secara bergelombang menyambut Rasulullah . Demikian pula halnya dengan anak-anak Anshar.

Belum berapa lama Rasulullah tinggal di Madinah,datanglah seorang wanita Anshar, Rumaisha atau yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim, bersama putranya yang baru berumur sembilan tahun, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Ummu Sulaim berkata, “ Ya Rasulullah, orang-orang Anshar baik lelaki maupun perempuan telah memberikan hadiahnya kepada anda. Tetapi saya tidak memiliki apa-apa untuk kuhadiahkan kepada Anda kecuali anakku ini. Maka ambillah ia agar bekhidmat kepadamu membantu apa yang anda butuhkan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menerima hadiah Ummu Sulaim dengan senang hati. Sejak saat itu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu hidup dalam semerbak rumah kenabian.

Baca Juga: Kisah Menarik dari Sahabat Anas bin Malik

Di dalam rumah tangga Rasulullah inilah, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu langsung merasakan betapa kemuliaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelembutan dan kesabaran beliau. Diantaranya adalah sebagaimana yang beliau ceritakan sendiri: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling santun dan paling penyayang. Suatu hari beliau mengutusku dan sayapun pergi ke luar. Lalu saya melewati kawanan anak yang bermain di pasar, sehingga saya ikut bermain bersama mereka dan tidak melaksanakan perintah beliau.

Ketika saya sedang asyik bermain bersama mereka, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang pakaianku. Akupun menoleh, dan ternyata adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang tersenyum sembari bersabda, “Ya ,Unais, apakah engkau telah pergi melaksanakan perintahku?” Saya langsung berkata, “Baik Rasulullah, sekarang saya mau pergi.” Demi Allah, saya telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, dan beliau belum pernah sekalipun memukulku, belum pernah mencelaku, dan belum pernah bermuka masam kepadaku.”

Selain kemuliaan bisa hidup serumah dengan manusia termulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu juga mendapat barokah do’a Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Suatu ketika beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke rumah Ummu Sulaim. Maka Ummu Sulaim membawakan korma dan minyak samin kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau besabda, “Kembalikanlah korma dan minyak samin kalian ke tempatnya, sesungguhnya saya sedang shaum.” Kemudian beliau berdiri di pojok rumah, lalu melakukan shalat bersama kami, namun bukan shalat wajib, kemudian beliau mendo’akan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.

Baca Juga: Cara Sahabat Membalas Budi Umair bin Sa’ad

Ummu Sulaim pun berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya  saya memiliki orang khusus yang saya sayangi.” Beliau bersabda,”Siapa dia?” Ummu Sulaim berkata,”Pembantumu, si Anas.” Maka beliaupun mendo’akan kebaikan akhirat dan dunia bagiku. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah berilah Ia rezki harta dan anak-anak, dan berkahilah ia padanya.” Do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini di kemudian hari terbukti dalam kenyataan. Anas bin Malik kemudian menjadi orang terkaya dari kalangan Anshar, dan memiliki keturunan tidak kurang dari seratus orang, dan menjadi Shahabat yang terakhir meninggal dunia karena diberi usia seratus tahun lebih.

Sebagai orang yang terbina dalam rumah kenabian, maka tidak heran jika ibadah beliau sangat mirip dengan apa yang dilakukan tuan sekaligus gurunya. Hal ini sebagaimana disaksikan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang berkata, “Saya tidak melihat seorangpun yang shalatnya paling mirip dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melebihi Ibnu Ummu Sulaim ini.”

Selain sebagai seorang ahli ibadah, sebagaimana Shahabat lainnya, Anas bin Malik juga aktif dalam jihad menegakkan agama Allah. Di antaranya adalah saat terjadinya perang Yamamah, jihad menumpas Nabi palsu, yang hampir saja jiwanya terenggut saat beliau terkena kait dari besi panas yang dilempar dari benteng musuh. Namun atas ijin Allah beliau berhasil diselamatkan oleh saudaranya sendiri Baro’ bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Kekuatan ibadah, kesungguhan menegakkan agama Allah, tak jarang berbuah karomah. Demikian pula yang dialami Anas bin Malik.  Suatu ketika penjaga kebun Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengadu kepadanya bahwa tanahnya mengalami kekeringan. Maka beliaupun keluar ke tanah lapang, melakukan shalat sunnah dan menengadahkan tangan berdo’a kepada Allah. Tak berapa lama kemudian, datanglah awan berarak-arakan. Kemudian turunlah hujan dengan derasnya. Sebagian keluarganya lalu mengecek hujan tersebut. Ternyata hujan tersebut hanya turun di sekitar tanah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Baca Juga: Fadhalah bin Umair Mencoba Membunuh Nabi

Selain telah berkhidmat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau juga telah berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin. Tercatat dari beliau terhimpun 1286 hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diantaranya yang sangat berkesan pada jiwa beliau adalah sebagaimana diriwayatkan imam Ahmad, bahwa ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan bertanya,”Kapankah terjadinya kiamat?” Beliau bersabda,” Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?”  Orang itu menjawab, “Tidak ada, kecuali saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.”  Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang kamu cintai.” Mengomentari sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami tidak pernah merasakan kegembiraan yang luar biasa selain dari nikmat Islam melebihi kegembiraan kami dengan sabda beliau ini: Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang kamu cintai.” Anas melanjutkan pembicaraannya, “Saya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Dan saya berharap akan bersama-sama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun saya tidak bisa beramal sebagaimana amal mereka.”

Setelah seratus tahun lebih Shahabat mulia ini meramaikan dunia dengan ketaatan kepada Allah, beliaupun tertimpa sakit. Ketika menjelang ajal, kalimat syahadat tak henti-hentinya keluar dari mulut beliau yang mulia. Kemudian para malaikat suci menyambut ruh beliau yang mulia menuju keharibaan-Nya.

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

Milyarder Muslim Yang Membuat Iri Semua Kaum Muslimin

Kekuatan kaum muslimin mulai membuat Romawi tidak tenang. Kaisar Heraklius melihat ancaman besar jika kaum muslimin Madinah tidak segera digulung. Apalagi beberapa kabilah Arab mulai bergabung dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam setelah sebelumnya mereka tunduk di bawah kekuasaan Romawi. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera menyerang kota Madinah.

Berita tersebut segera direspon Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak ingin kedahuluan, maka beliau segera mengadakan mobilisasi persiapan pasukan untuk menyongsong musuh di Tabuk.

Tetapi cuaca kemarau yang panjang, dan kesulitan ekonomi merupakan satu kendala tersendiri untuk menyiapkan pasukan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin, naik mimbar memuji Allah dan menghasung mereka untuk mengeluarkan hartanya dengan ganti jannah baginya.

 

Baca Juga: Khalid bin Said, Pejuang Assabiqunal Awwalun

 

Saat itulah milyarder muslim, Utsman bin ‘Affan yang juga menantu Rasulullah berdiri dan berkata,”Saya sumbangkan seratus onta dan perbekalannya ya Rasulullah.”

Rasulullah kemudian turun dari mimbar, lalu naik lagi menghasung manusia untuk berinfak. Lagi-lagi Utsman bin Affận berdiri dan menyumbangkan seratus onta dan perlengkapannya. Setelah itu Rasulullah  menghasung lagi dan sekali lagi Utsman menjawab hasungan dengan menambah seratus onta lagi, sehingga genaplah sumbangannya menjadi tiga ratus onta. Sekiranya satu onta seharta 20.000.000, maka sekali menyumbang, milyader dermawan ini menyumbang sekitar enam milyar rupiah.

Pantaslah sehingga wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbinar karenanya seraya bersabda, “Tidak ada sesuatupun perbuatan Utsman yang membahayakannya setelah hari ini”

Tidak hanya itu saja. Beliau kemudian pulang dan mengambil seribu dinar hartanya dan diserahkan kepada Rasulullah. Tahukah anda berapa nilai satu dinar emas? Ia setara dengan 4 ¼ gram emas. Jadi jika satu gram emas dihargai lima ratus ribu, maka ia telah menambah sumbangannya sejumlah 2,25 milyar. Rasulullah bertambah gembira dengan kedermawanan Utsman sehingga beliau bersabda,”Semoga Allah mengampunimu ya Utsman, baik dosa yang tersembunyi ataupun yang kelihatan, baik yang telah lalu ataupun yang kemudian sampai hari kiamat”

Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Utsman senantiasa menambah jumlah sumbangannya untuk persiapan perang tersebut sehingga total bantuan ontanya mencapai sembilan ratus ekor onta.

Itulah salah satu kiprah besar ‘Dzu Nuraini ‘(julukan Utsman) yang mendapat kemulian menjadi suami dua puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kedermawanan Utsman bin Affan tidak hanya sekali saja, melainkan berkali kali dan memang telah menjadi karakter hidup beliau. Diantaranya adalah saat kaum muslimin Madinah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air. Satu-satunya sumber air yang melimpah airnya dimiliki seorang Yahudi tua yang tamak. Orang-orang yang mengambil air dari sumurnya dikenakan biaya yang tinggi sekali sehingga mencekik leher kaum muslimin. Utsman bin ‘Affan tidak tega melihat keadaan ini. Beliau lantas menemui si Yahudi dan menawar harga sumur tersebut. Si Yahudi tamak tadi memanfaatkan keadaan, ia menawarkan separo sumber airnya dengan harga di luar kewajaran sebanyak dua belas ribu dirham. Meskipun mahal tetapi Utsman bin Affan tetap membelinya.

Kemudian kaum muslimin dapat mengambil air tersebut pada hari berikutnya dengan gratis. Sebab oleh sahabat Utsman sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin. Setelah itu jatah air si Yahudi tidak ada yang mau membeli lagi sehingga akhirnya semuanya ia jual kepada sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

 

Baca Juga: Shofiyah binti Huyay Putri Tercantik Khaibar

 

Satu lagi contoh kedermawanan sahabat ini. Ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, pernah terjadi tahun kekeringan dan paceklik, sehingga penduduk Madinah terancam kelaparan. Pada saat yang menegangkan tersebut, datanglah kafilah dagang Utsman bin Affận radhiyallahu ‘anhu dari Syam yang terdiri dari seribu onta dengan membawa bahan makanan.

Para pedagang pun segera bergegas untuk membeli bahan makanan yang sangat dibutuhkan tersebut. Para pedagang berkata,”Ya Abu Amr, juallah bahan makanan tersebut kepada kami. Beliau menjawab, “Baik, tetapi berapa kalian berani memberi untung kepadaku?” Mereka menjawab, ”Kami berani membelinya dua kali lipat.”  Utsman bin Affan berkata, ” Ada yang berani membelinya lebih dari itu.”

Para pedagang pun meningkatkan harganya. Tetapi Utsman mengatakan ada yang berani membeli lebih besar lagi. Mereka pun meningkatkan lagi harganya. Tetapi lagi-lagi Utsman bin Affan mengatakan ada yang berani lebih tinggi lagi.

Akhirnya setelah mereka merasa tidak mampu lagi menjangkau harganya, mereka bertanya, ”Ya Abu Amru, di Madinah ini tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada seorangpun yang mendahului kami untuk menawar dagangan anda. Lantas siapakah yang berani memberimu harga lebih tinggi lagi daripada harga yang kami tawarkan?”

Beliau berkata, ”Sesungguhnya Allah memberi harga padaku setiap dirham dilipatkan sepuluh kali. Apakah kalian berani memberinya lebih tinggi lagi?”

Mereka menjawab,”Tidak wahai Abu Amru.”

Beliau berkata,”Saya persaksikan kepada Allah ta’ala, bahwa apa yang dibawa onta-onta tersebut saya jadikan sedekah bagi kaum muslimin yang fakir. Saya tidak mengharap balasan dari seorangpun juga, melainkan saya hanya mengharap pahala dan keridhaan Allah.”

Selain kedermawanan sang milyarder muslim pertama ini, ada lagi amal besar beliau yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh kaum muslimin sampai hari ini. Yaitu inisiatif beliau untuk menyatukan mushaf. Hal ini terjadi karena keprihatinan sahabat Hudzaifah al-Yamani yang melihat perselisihan sebagian muslimin dalam membaca Al Qur’an dan masing masing berbangga dengan gaya bacaannya. Padahal sebenarnya Al Qur’an memang boleh dibaca dengan tujuh qiro’at.

Kemudian beliau menyampaikan permasalahan ini kepada Utsman bin Affan yang saat itu telah menjabat sebagai khalifah. Khalifah Utsman merespon permasalahan tersebut, lalu memerintahkan sahabat Zaid bin Tsabit memimpin proses penulisan ulang mushaf yang dulu pernah dikumpulkan sahabat Abu Bakar as Siddiq, lalu terakhir disimpan oleh Hafshah bin Umar salah satu Ummahatul Mukminin.

Dengan tekun tim Zaid bin Tsabit berhasil menulis mushaf yang kemudian masing-masing dikirimkan ke wilayah wilayah kaum muslimin yang semakin meluas. Lantas Utsman bin Affan atas kesepakatan para sahabat memerintahkan untuk membakar semua mushaf selain mushaf yang ditulis ulang dari mushaf susunan zaman Abu Bakar as-Siddiq. Dengan demikian persatuan kaum muslimin dalam membaca mushaf pun terjaga.

 

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat

 

Dia Ingin Memiliki Nyawa Sebanyak Jumlah Rambutnya

Suatu hari, Umar mengirimkan pasukan ke Romawi. Pasukan Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu. Mereka membawanya kepada kaisar mereka, Heraklius. “Ini adalah salah satu sahabat Muhammad”, kata mereka. Lantas Heraklius membujuk Abdullah, “Maukah Anda masuk agama Nashrani, dan sebagai gantinya aku akan menghadiahimu dengan separuh kerajaanku?”

Dengan tegas Abdullah menjawab, “Andai kau berikan kepadaku semua kerajaanmu, ditambah lagi dengan semua kerajaanmu, kemudian seluruh kerajaan Arab, sekali-kali saya tidak akan mundur dari Islam, meskipun sekejap mata.” Heraklius menimpali, “Jika begitu, aku akan membunuhmu!”

Dengan tenang Abdullah menyahut, “Silakan.”

Sebagai gertakan, Heraklius memerintahkan tentaranya untuk menyalibnya, dan menyuruh ahli panahnya, “Arahkan panah dekat sekali dengan badannya.” Lagi-lagi, beliau tetap menolak untuk murtad. Hingga akhirnya beliau diturunkan dari tiang salib.

Baca Juga: Shofiyah binti Huyay Putri Tercantik Khaibar

 

Kemudian Heraklius menyuruh tentaranya untuk menyiapkan tungku besar, lalu diisi air, dibakar hingga mendidih. Lalu didatangkan dua tawanan muslim yang lain, dan seorang dari keduanya dimasukkan ke dalamnya hingga mendidih.

Untuk ke sekian kalinya Abdullah dipaksa masuk Nashrani, tapi beliau tetap menolaknya. Ketika beliau sudah di bibir kuali dan menyaksikan jasad saudaranya yang terpanggang, beliau menangis. Hingga Heraklius mengira beliau gentar.

Lalu beliau ditanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis?”

Beliau menjawab, “Ia (temannya) hanya memiliki satu nyawa yang dimasukkan ke dalam kuali. Sedangkan aku sangat ingin memiliki nyawa sebanyak bilangan rambutku, yang kesemuanya dimasukkan ke dalam api karena Allah.”

Karena telah putus asa, Kaisar berkata, “Maukah kamu mencium jidatku, lalu aku bebaskan kamu?” Abdullah berkata, “Bagaimana jika semua tawanan dibebaskan?” “Baik.” Jawab Heraklius.

Abdullah mencium jidatnya lalu seluruh pasukan yang tertawan dibebaskan. Ketika mereka menghadap Umar radhiyallahu ‘anhu dan menceritakan kejadian itu, Umar berkata, “Hendaknya yang hadir mencium jidat Ibnu Hudzafah, dan saya yang akan memulainya.” (Siyaru A’lamin Nubala’, Imam Adz-Dzahabi, II/16) 

 

Oleh: Redaksi/Motivasi

 

Mukjizat Di Sebuah Parit

 

Setengah tahun berlalu sejak pengusiran Bani Nadhir, suasana damai menyelimuti Madinah. Dalam kondisi demikian, Rasulullah memfokuskan diri untuk memperbaiki tatanan hidup masyarakat Madinah.

Suasana damai tersebut tak disukai oleh orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah. Sebelumnya di Madinah terdapat tiga kabilah besar Yahudi, Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir diusir dari Madinah dan menetap di Khaibar.

Tak senang melihat kaum Muslim hidup dalam ketenangan, mereka pun merencanakan makar, mengajak kabilah-kabilah yang membenci Islam untuk bersatu memerangi Rasulullah dan kaumnya. Mereka mendatangi Kaum Quraisy dan kabilah-kabilah lain untuk menggalang kekuatan menyerang Madinah. Hingga terkumpullah sekitar sepuluh ribu lebih pasukan untuk menggempur Madinah.

Informasi ini pun sampai kepada Rasulullah, Beliau segera memanggil para sahabat untuk bermusyawarah menghadapi serbuan tersebut. Dalam musyawarah, Salman al-Farisi mengusulkan idenya, “Wahai Rasulullah, dulu jika kami orang Persia dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami.”

Baca Juga: Penentuan Strategi Perang

Rencana dari Salman al-Farisi pun disetujui Rasulullah.  “Mari kita gali parit di sekeliling Madinah. Kita akan bertahan di dalam kota dan memerangi mereka. Kita pun akan mencari tempat yang aman untuk anak-anak, wanita, dan orang tua.” Seru Rasulullah.

Persiapan perang segera dilakukan. Orang-orang munafik Madinah melarikan diri ke pegunungan sekitar Madinah. Sementara orang-orang tua, wanita, dan anak-anak diungsikan ke tempat yang aman.

Para sahabat mulai melakukan penggalian parit di bawah komando Rasulullah . Panjang parit membentang dari bagian barat sampai bagian timur sekitar 5 km, lebar parit sekitar 4 meter, dalamnya sekitar 4 meter. Tanah galiannya disimpan di arah Madinah, sehingga menjadi pelindung.

Rasulullah saw menugaskan setiap 10 orang menggali 40 hasta. Beliau ikut menggali parit, tidak duduk santai di tenda yang nyaman, tidak pula diam dalam kamar istimewa. Pada pagi yang amat dingin Rasulullah menggali parit bersama dengan sahabat Muhajirin dan Anshor. Beliau tahu bahwa mereka mengalami keletihan yang luar biasa dan perut mereka kosong. Oleh karenanya Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Muhajirin dan Anshor.”

Seorang sahabat, Jabir bin Abdullah, merasa iba melihat Rasulullah yang terus menggali meskipun dalam keadaan lapar. Akhirnya ia memerintahkan istrinya untuk menyembelih dan memasak seekor kambing untuk dihidangkan pada Rasulullah. Jabir berbisik kepada Rasulullah untuk datang ke rumahnya sendiri saja, tetapi Beliau justru mengajak semua yang sedang menggali parit. Atas izin Allah, semua mendapat jatah makanan sampai semua kenyang, bahkan masih ada sisa daging untuk keluarga Jabir bin Abdullah.

Ketika menggali parit, para sahabat menemukan batu yang sangat keras. Setiap sahabat yang kuat maju untuk menghancurkan batu tersebut, namun batu itu tetap tak hancur juga. Para sahabat pun melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah. Beliau pun datang, mengambil cangkul dan berucap, “Bismillah. .”

Hantaman yang pertama Beliau berkata, “Allah Maha Besar, aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang bercat merah saat ini.”

Lalu Rasulullah menghantam untuk kedua kalinya bagian batu yang lain. Bongkahan batu tersebut kembali hancur. Rasulullah berkata, “Allah Maha Besar, aku diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah! Saat ini pun aku dapat melihat istana Mada’in yang bercat putih.”

Kemudian Beliau menghantam untuk ketiga kalinya, “Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah! Dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a.”

Inilah mukjizat. Batu yang tidak bisa dihancurkan oleh para sahabat, bisa dihancurkan oleh Rasulullah sampai hancur lebur menjadi pasir. Dan dalam keadaan sulit seperti itu, Allah memberi kabar gembira, kabar kemenangan bahwa Syam akan dikuasai oleh kaum Muslim, juga Romawi akan berada di bawah kekuasaan Islam, demikian pula dengan negeri Yaman. (Redaksi/Tarikh Islam) 

 

Tema Lainnya: Tarikh Islam, Pahlawan Islam, Dunia Islam

 

Bi’ru Ma’unah

Bulan Shafar tahun keempat hijriah, bulan yang sama terjadinya tragedi ar-Raji’, terjadi tragedi yang lebih memilukan. Ketika itu datang Abu Barra` ‘Amir bin Malik menemui Rasulullah  di Madinah, kemudian oleh beliau diajak kepada Islam. Ia tidak menyambutnya, namun juga tidak menunjukkan penolakan.

Kemudian dia berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengutus shahabat-shahabat engkau kepada penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam, aku berharap mereka akan menyambutnya.”

Beliau berkata: “Aku mengkhawatirkan perlakuan penduduk Najd atas mereka.” Tapi kata Abu Barra`: “Aku yang menjamin mereka.”

Kemudian Rasulullah  mengutus 70 orang shahabat ahli baca Al-Qur`an, termasuk pemuka kaum muslimin pilihan. Mereka tiba di sebuah tempat bernama Bi`r Ma’unah, sebuah daerah yang terletak antara wilayah Bani ‘Amir dan kampung Bani Sulaim. Setibanya di sana, mereka mengutus Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan, membawa surat Rasulullah  kepada ‘Amir bin Thufail. Namun ‘Amir bin Thufail tidak menghiraukan surat itu, bahkan memberi isyarat agar seseorang membunuh Haram. Ketika orang itu menikamkan tombaknya dan Haram melihat darah, dia berkata: “Demi Rabb Ka’bah, aku beruntung.”

Kemudian ‘Amir bin Thufail menghasut orang-orang Bani ‘Amir agar memerangi rombongan shahabat lainnya, namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barra`. Diapun menghasut Bani Sulaim dan ajakan ini disambut oleh ‘Ushaiyyah, Ri’l, dan Dzakwan. Merekapun datang mengepung para shahabat Rasulullah  lalu membunuh mereka kecuali Ka’b bin Zaid bin An-Najjar yang ketika itu terluka dan terbaring bersama para mayat lainnya. Dia hidup hingga terjadinya peristiwa Khandaq.

Baca Juga: Serangan Balik Tentara Allah

Al-Imam Al-Bukhari t menceritakan hal ini dalam Shahih-nya:

 “Dari Anas, bahwa Nabi  mengutus pamannya (saudara Ummu Sulaim) bersama 70 orang berkuda. Ketika itu yang menjadi pemimpin kaum musyrikin ‘Amir bin Thufail. Dia memberi tiga pilihan, katanya: “Untukmu penduduk Sahl dan aku penduduk Madar, atau aku penggantimu, atau aku perangi engkau bersama penduduk Ghathafan dengan dua ribu pasukan.”

Akhirnya ‘Amir ditikam di rumah Ummu Fulan, katanya: “Ghuddah seperti ghuddah Al-Bakri, di rumah seorang wanita Bani Fulan. Bawakan kudaku, lalu dia mati di atas kudanya. Kemudian berangkatlah Haram saudara Ummu Sulaim, dia seorang laki-laki pincang, dan seorang dari Bani Fulan. Katanya: “Mendekatlah, sampai aku menemui mereka, kalau mereka menjamin keamananku, itulah urusan kamu. Kalau mereka membunuhku, maka carilah shahabat-shahabat kamu.”

Lalu dia berkata: “Apakah kamu memberiku keamanan untuk menyampaikan surat Rasulullah ? Kemudian dia mulai berbicara dengan mereka, namun ada yang memberi isyarat kepada seseorang yang mendatanginya dari belakang lalu menikamnya. Kata Hammam, aku kira sampai tombaknya menembus tubuhnya. Dia berkata: “Allahu Akbar, saya beruntung, demi Rabb Ka’bah.” Lalu dikejarlah temannya dan mereka semua dibunuh kecuali seorang yang pincang yang berada di puncak bukit.

Allah turunkan kepada kami ayat yang kemudian dimansukh: “Sesungguhnya kami telah menemui Rabb kami, lalu Dia ridha kepada kami dan membuat kami ridha. Maka Nabi  mendoakan kejelekan terhadap mereka selama 30 hari; terhadap Ri’l, Dzakwan, dan Bani Lihyan serta ‘Ushaiyyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.”

Akhirnya Rasulullah  melakukan qunut selama satu bulan mendoakan kejelekan terhadap orang-orang yang membunuh para qurra` shahabat-shahabat beliau di Bi`r Ma’unah. Belum pernah para shahabat melihat Rasulullah  begitu berduka dibandingkan ketika mendengar berita ini.

Baca Juga: Kekalahan Pertama Kaum Muslimin 

Al-Imam Al-Bukhari mernceritakan dari Anas bin Malik :

“Rasulullah qunut selama satu bulan ketika para qurra` itu terbunuh, dan aku belum pernah melihat Rasulullah  begitu berduka dibandingkan kejadian tersebut.” (Majalah ar-risalah/Maqtufah 194)

 

Tema Terkait: Tarikh Islam, Ensiklopedi Islam Indonesia, Motivasi Islam 

 

Tragedi Ar-Raji’

Kekalahan dalam perang Uhud menyebabkan pamor yang kurang menyenangkan bagi kaum Muslim. Wibawa mereka menjadi luntur di hadapan musuh. Orang-orang Yahudi dan munafik mulai berani menampakkan permusuhannya secara terang-terangan.  Madinah dikepung marabahaya dari segala penjuru. Tetapi semua marabahaya tersebut justru menjadi hikmah tersendiri bagi kaum Muslim untuk mengembalikan pamor yang sempat surut.

Belum genap dua bulan setelah perang Uhud, Bani Asad berani menggelar persiapan untuk menyerang Madinah di bawah pimpinan Thalhah dan Salamah, anak Khuwailid. Persiapan mereka diketahui oleh mata-mata Madinah dan segera informasi tersebut disampaikan kepada Rasulullah.  Seketika itu pula Rasulullah mengirim pasukan sebanyak seratus lima puluh personil di bawah komando Abu Salamah. Abu Salamah langsung menyerang Bani Asad di perkampungan mereka sebelum mereka berangkat menyerang Madinah. Mendapat serangan yang tak disangka-sangka tersebut, Bani Asad pun kocar-kacir menyelamatkan diri mereka masing-masing. Alhasil, pasukan Muslim mendapatkan rampasan perang yang banyak, berupa kambing dan unta milik Bani Asad. Setelah itu pasukan Muslim kembali ke Madinah dalam keadaan utuh dengan membawa rampasan perang tanpa harus berperang. Karena mengalami inveksi pada luka yang diderita dari perang Uhud, Abu Salamah meninggal dunia tak lama setelah peristiwa tersebut. Peristiwa penyerangan ini terjadi pada awal bulan Muharam di tahun ke-4 H.

Tragedi ar-Raji’

Pada bulan Shafar di tahun yang sama, beberapa orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah mengabarkan bahwa di tengah kaumnya ada beberapa orang Muslim. Mereka meminta gara dikirim beberapa orang yang sanggup mengajarkan Islam kepada mereka. Rasulullah pun mengutus sepuluh orang dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan.

Setibanya di ar-Raji’, pangkalan air milik Bani Hudzail, para utusan yang memang sejak awal berniat menipu kaum Muslim itu bekerja sama dengan perkampungan Bani Lahyan. Seratus pemanah dari Bani Lahyan mengejar sepuluh utusan Rasulullah tersebut. Menyadari bahwa bahaya mengintai para utusan Rasulullah tersebut, mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki tempat yang lebih tinggi.

Para pemanah yang mengepung mereka berkata, “Kami berjanji dan bersumpah tak akan membunuh seorang pun di antara kalian asal kalian turun.”

Rombongan itu menolak tawaran yang mereka anggap hanya jebakan tersebut. Mereka bertempur dengan gagah berani hingga gugur dan menyisakan Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinnah. Akhirnya Khubaib dan Zaid di bawa ke Makkah dan di jual kepada penduduk Makkah, padahal keduanya banyak menghabisi para pembesar Quraisy di perang Badar.

Khubaib dimasukkan ke dalam penjara setelah di beli oleh Hujair bin Abu Ilhab, namun kemudian orang-orang Quraisy sepakat untuk membunuh Khubaib. Untuk membunuh Khubaib, orang Quraisy sepakat untuk menyalibnya di luar tanah suci Makkah. Sebelum di salib, Khubaib meminta kesempatan untuk mendirikan salat dua rakaat saja, dan dikabulkan. Selesai salat, Khubaib berkata dengan nyaring, “Ya Allah, hitunglah bilangan mereka, binasakanlah mereka semua dan jangan Engkau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.”

Setelah orang-orang Quraisy membunuh dan menyalib jasad Khubaib, mereka menunjuk beberapa orang untuk menjaga jasad Khubaib supaya tidak diambil oleh kaum Muslim. Tetapi atas ijin Allah, Amr bin Umayyah mampu mengakali para penjaga dan mengambil jasad Khubaib untuk dikuburkan. Sedangkan Zaid bin Datsinnah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh, karena Zaid telah membunuh ayahnya di perang Badar.

Sementara itu, orang-orang Quraisy mengutus beberapa orang untuk memotong sebagian tubuh Ashim bin Tsabit untuk memastikan kematiannya, karena Ashim membunuh banyak pembesar Quraisy di perang Badar. Karena sebelumnya Ashim pernah bersumpah kepada Allah untuk tidak bersentuhan dengan orang-orang Musyrik dan tidak membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang Musyrik, Allah mengutus sekumpulan lebah yang melindungi jasad Ashim sehingga utusan orang Quraisy tersebut sama sekali tak bias mnyentuh jasad Ashim. Ketika Umar bin Khattab mendengar hal ini, dia berkata, “Allah menjaga hamba yang Mukmin setelah meninggal dunia, sebagaimana Dia menjaganya sewaktu masih hidup.”

(Amirullah)