TAKUT, TAPI BUKAN SEMATA TERJANGKIT CORONA

Masih belum hilang rasa was-was dan takut terkait wabah  virus Corona (COVID-19) yang menghebohkan dunia nyata. Bagaimana tidak, ada wabah yang begitu mudah menyebar dan begitu luas jangkauannya. Hingga pemerintah Saudi menutup visa umroh sebagai antisipasi terhadap wabah corona.

Di berbagai belahan dunia juga muncul kepanikan-kepanikan terhadap wabah ini. Semestinya, rasa takut kita bukan semata-mata khawatir terjangkiti wabah berbahaya tersebut. Tapi lebih dari itu, jangan-jangan kesalahan kita, dosa-dosa yang dilakukan manusia sudah melampaui batas, plus minimnya amar ma’ruf nahi munkar hingga mengundang datangnya murka Allah. Atau setidaknya mendatangkan teguran dari Allah Ta’ala. Karena terjadinya musibah secara merata adalah di antara penanda maraknya dosa, terutama riba dan zina.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallan bersabda, ”Tidaklah nampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” (HR Ibnu Majah, shahih)

Tak ada salahnya mewaspadai tersebarnya wabah Corona dengan hal-hal logis yang bisa dilakukan. Akan tetapi, waspada terhadap dosa yang menjadi sebab secara syar’i seharusnya lebih ditakuti.

Tak ada jalan yang lebih efektif untuk menyudahi wabah dan bencana melebihi taubat, berhenti dari dosa, dan menghentikan orang lain yang berbuat mungkar. Karena jika wabah menyebar karena dosa, lalu antisipasi bisa dilakukan, maka Allah Kuasa untuk mendatangkan yang lebih rumit Iagi dan lebih berbahaya ketika manusia terus melakukan dosa, nas’alullahal ‘aafiyah.

Wabil khusus bagi mereka yang diberi amanah kekuasaan dan bisa mencegah kemungkaran dengan tangan atau kekuasaannya, tentu lebih dituntut lagi. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah al-Muqtadi biamrillah.

Pada tahun 478 H, Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah  bahwa pada Bulan Muharram tahun 478 H terjadi Gempa di Arjan yang menyebabkan hancurnya bangunan dan hewan ternak banyak yang mati. Juga menyebar penyakit Demam dan Wabah di Iraq, Hijaz dan Syam, yang menyebabkan kematian secara masal. Ketika itu Khalifah Al Muqtadi biamrillah menggalakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di setiap tempat. Alat-alat maksiat dihancurkan, khamr dimusnahkan, dan bahkan orang-orang nekat berbuat munkar diusir, hingga kemudian wabah reda dan tak ada lagi bencana-bencana yang berarti.

Semoga saja, langkah yang sama dilakukan oleh pemangku amanah rakyat, aamiin.

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Serangan Setan Menjelang Kematian

Secara naluri, tentunya kita berharap kehidupan kita berakhir dengan happy ending, akhir yang bahagia. Bukan kematian yang tragis dan menyedihkan. Untuk akhir sebuah novel, bisa jadi ending tragis digemari oleh sebagian orang, tapi bukan untuk kehidupan nyata. Bolehlah ada riak gelombang duka dan lara saat mengarungi hidup sebagai bumbu yang pasti ada, tapi sebagai penutupnya, kebahagiaanlah yang kita harapkan. Sebuah husnul khatimah. Yaitu akhir hidup yang baik dengan keimanan di dada dan kondisi terpuji saat ajal tiba. Sayangnya, karena menjadi impian yang paling kita harapkan, setan pun telah siap mengubah impian ini menjadi mimpi buruk yang mengakhir semua. Sebuah su’ul khatimah.

Oleh karenanya, Rasulullah mengajarkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari su’ul khatimah. Memohon agar jangan sampai setan menguasai kita saat ajal tiba, padahal sebelumnya kita telah berusaha untuk melawannya dengan sekuat tenaga. Salah satu doa yang beliau ajarkan adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّى وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِى الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِى سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

“ Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari –mati karena- tertimpa,aku berlindung kepadamu dari  jatuh dari ketinggian atau ke jurang, dari tenggelam, terbakar dan renta, aku berlindung kepadamu dari setan yang menggangguku saat maut datang, aku berlindung kepadamu dari mati saat lari dari medan perang dan mati tersengat binatang.” (HR. Abu Daud dan an Nasa’i).

Seperti apa godaan setan saat manusia menjelang ajal? Imam al Khatabi memberi penjelasan, maksud berlindung dari takhabbut (gangguan) setan saat maut adalah berlindung agar jangan sampai setan menguasai diri saat ajal menjelang hingga setan dapat menyesatkan. Atau menghalanginya dari taubat, menghalang-halanginya untuk melakukan kebaikan atau meninggalkan kejahatan yang dia lakukan, membuatnya putus asa dari rahmat Allah, benci terhadap kematian, merasa sayang dengan kehidupan dunianya dan tidak tidak ridha dengan keputusan Allah yang memang membuat dunia ini fana dan pasti akan berganti.

Akhirnya, Ia pun menutup hidupnya dengan keburukan dan bertemu dengan Allah dalam kondisi jengkel kepada Allah. Diriwayatkan bahwa godaan setan paling dahsyat atas anak Adam adalah saat menjelang ajal. Ia berkata kepada kawan-kawannya, “Inilah saatnya. Jika kalian melewatkan saat ini, kalian tidak akan bertemu dengannya lagi.” (Aunul Ma’bud IV/287)

Ternyata, permusuhan dengan setan benar-benar sampai pada titik darah penghabisan. sebelum nyawa benar-benar meninggalkan badan, permusuhan itu akan terus berkobar. Dan menjelang ajal, pertempuran ini mencapai klimaknya. Bagi manusia, situasi saat itu benar-benar kritis. Fokusnya harus terbelah. Di satu sisi, kematian yang mengerikan tengah menyedot segala keberanian, kebahagiaan dan membekapnya dengan ketakutan dan sakit tak terperi.

Dan di sisi lain, ia juga harus bertahan dari serangan setan yang secara licik memanfaatkan situasi kritis tersebut untuk mencuri imannya. Jika setan berhasil, keburukan hati dan iman yang tercuri pun menjadi gong penutup kehidupannya di dunia, sekaligus menjadi kondisi yang mengawali perjalanan akhiratnya. na’udzubillah min dzalik.

Sangat tepat jika Rasulullah ﷺ bersabda;

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Hanyasanya, amal-amal itu tergantung apa yang mengakhirinya.” (HR. Bukhari)

Di sinilah istiqomah dalam beramal menunjukkan peran pentingnya. Kita tidak bisa menentukan akhir hidup kita seperti apa, tapi kita bisa memilih jalan hidup yang kita lalui. Apakah dalam ketaatan atau kemaksiatan. Hingga ketika ajal menjelang, di jalan itulah tapak kaki kita berpijak. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam kondisi muslim.”(QS. Ali Imran; 102). Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha menjadi muslim dan menjaga iman dalam hati agar ketika ajal tiba, Islam masih melekat di dada.

Husnul khatimah lebih mengarah pada kondisi iman dan amal seseorang saat ajal tiba. bukan dari segi cara dan faktor yang membuatnya kehilangan nyawa. Mati karena sebab apapun, asalkan tengah melakukan ketaatan dan berhasil mempertahankan iman hingga nyawa meninggalkan badan, insyaallah husnul khatimah dapat diraih.

Hanya saja, dalam hadits di atas Nabi juga berdoa agar terhindar dari beberapa faktor-faktor penyebab kematian seperti tenggelam dan terbakar. Uniknya, beberapa faktor atau kondisi terakhir seseorang kala menjemput ajal ini justru merupakan kondisi yang beliau sebut sebagai “mati syahid” yang memiliki keutamaan. Misalnya meninggal karena tenggelam dan tertimpa sesuatu. Kontradiktif? Tidak.

Imam ath Thayibi menjelaskan,  Beliau berlindung dari beberapa kondisi yang justru dengan kondisi tersebut orang akan mendapat kesyahidan karena pada dasarnya kondisi tersebut merupakan musibah dan bala’. Sama dengan beberapa penyakit yang beliau juga berlindung darinya. Adapun kesyahidan dalam kondisi-kondisi tersebut bukan lain karena Allah memang akan memberi balasan atas musibah yang menimpa seorang mukmin, bahkan musibah kecil berupa tusukan duri sekalipun.

Inilah perbedaan syahid hakiki (di medan jihad) dengan syahid-syahid tersebut. Syahid hakiki harus diburu dan menjadi cita-cita setiap mukmin, sedang kesyahidan seperti mati karena tertimpa, jatuh, terbakar dan tenggelam harus dihindari. bahkan jika ada yang nekat memburunya, dia justru bermaksiat kepada Allah. (Faidhul Qadir II/148).

Imam al mabarkafuri menjelaskan, Beliau ﷺ berlindung dari sebab-sebab kematian yang justru dapat menyebabkan kesyahidan seperti yang disebutkan adalah karena kondisi-kondisi tersebut merupakan bala’ yang memberatkan jiwa dan hampir tak seorang pun bisa bertahan darinya. (Aunul Ma’bud IV/287).

Begitulah. Usaha menjaga iman adalah perjuangan yang harus paripurna hingga ajal tiba. Semoga Allah memberkahi hidup kita dan melindungi kita saat ajal tiba. Semoga, ketika kelak masa itu tiba, kita tengah berada dalam masa keemasan dalam naungan ketaatan dan ridha-Nya. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Muhasabah

Mereka yang Berguguran di Jalan Iman

Iman merupakan harta paling berharga dalam hidup ini. Tapi tidak sedikit orang yang rela menukar harta berharga tersebut dengan yang lebih rendah nilainya bahkan justru dengan sebuah nilai yang hina.

Kisah pertama, kita mulai dengan kisah Abdah bin Abdurrahim. Masa mudanya diarungi dengan menghafal al quran dan berjihad di jalan Allah. Berbagai ekspansi militer ia ikuti. Kawan-lawan seperjuangannya banyak yang merasa kagum dengan prestasinya. Kini, peperangan besar sedang ia hadapi, melawan Romawi.

Di sinilah ujian keteguhan itu datang menantang keteguhan pemuda luar biasa ini. Bukan pedangnya yang diuji, orang-orang Romawi memiliki mental tak jauh beda dengan musuh-musuh tak punya iman lainnya. Bukan pula ibadah dan hafalannya, karena meskipun tengah berjihad, ia masih bisa beribadah dan menghafal. Yang diuji kali ini adalah nafsu bujangnya.

Ketika melewati sebuah benteng di negeri Romawi, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada sebuah wajah jelita dengan rambut pirang. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan, bukan jatuh cinta lagi, Abdah jatuh hati. Hatinya jatuh dan langsung terpenjara oleh kecantikan wanita Eropa yang baru pertama dilihatnya.

Sekonyong-konyong, hasrat hati Abdah tertarik dengan sangat kuat, seperti besi kecil yang didekatkan pada sebuah magnet besar. Abdah membelokkan langkah kudanya mendekati si wanita. Tanpa babibu, Abdah melamar si wanita untuk dijadikan isteri. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, si wanita menerima, hanya saja ada syaratnya.

Syaratnya, Abdah harus menukar imannya dengan kekufuran, menjadi seorang Nashrani. Rupanya racun cinta yang ditembakkan setan kali ini tepat mengenai tali hati Abdah. Ia mengiyakan begitu saja syarat gadis pirang itu. Ia pun melepas Islamnya dan menikah di dalam benteng.

Seperti disambar petir, kawan-kawan Abdah terguncang. Bagaimana bisa seorang pejuang sekaligus penghafal al Quran rela melepas mahkota iman nya hanya untuk ditukar dengan sampah dunia yang beberapa tahun lagi tua dan akhirnya ke neraka? Ibadah dan semua catatan perjuangannya pun berakhir sampai di sini. Sirna tak tersisa. Saat ditanya, apa yang terisa dari hafalanmu? Abdah menjawab, hanya dua ayat:

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).

Kisah kedua, plotnya setali tiga uang dengan Abdah. Kisahnya dituturkan oleh Imam al Qurthuby dalam kitab at Tadzkirah. Tentang seorang pemuda ahli ibadah yang mendedikasikan dirinya sebagai muadzin. Perjalanan hidupnya dilalui dengan ibadah dan kedekatan dengan masjid.

Sampai suatu ketika, keteguhan hatinya diuji oleh seorang wanita Nashrani. Saat hendak mengumandangkan adzan, matanya terpikat pada pemandangan luarbiasa di sebuah jendela, di bawah menara. Kecantikan putri seorang nashrani itu, rupanya mampu menembus jendela dan menjangkau jarak si muadzin.

Sang muadzin pun jatuh hati. Ia turuni tangga menara, menghampiri sumber pesona itu memancar. Sang gadis bertanya, “ Apa yang anda inginkan?” sang Muadzin menjawab, “Dirimu.” “Kenapa begitu?” Dia menjawab, “Aku telah jatuh cinta padamu.” Wanita itu berkata, “Saya tidak mau berbuat dosa.” Muadzin berkata, “Aku akan menikahimu.” Wanita itu menjawab, “Kamu seorang muslim dan saya seorang Nasrani, ayahku jelas tidak akan merestui.” Muadzin berkata, “Saya akan beragama Nasrani.”

Seperti zombie, pemuda itu menuruti hasrat hatinya tanpa bisa berpikir jernih lagi. Akhirnya, dia pun pindah keyakinan. Dan saat menaiki tangga loteng rumah sang gadis, pemuda itu jatuh dan meningal dunia. Ia mati sebagai orang-orang yang selalu disebut Allah sebagai adh Dhallin, orang-orang yang tersesat. (at-Tadzkirah fi Umuril Akhirah oleh al-Qurthubi hlm. 43)

Kisah ketiga adalah kisah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Perjalanan iman nya sebenarnya sudah cukup cemerlang. Abdull Uzza bin Khattal masuk Islam di Madinah. Namanya diganti oleh Rasulullah menjadi Abdullah bin Khattal. Tak berapa lama, ia sudah dipercaya menjadi petugas pengambil zakat ke berbagai daerah.

Baca Juga: Makanan yang Haram, Merusak Tabiat dan Jasad

Suatu ketika, Abdullah bin Khattal diutus mengambil zakat ke suatu daerah. Di tengah perjalanan, ia menyuruh budak yang bersamanya untuk memasak sesuatu dan Abdullah pun tidur. Bangun dari tidur, ternyata si budak tidak melaksanakan tugasnya. Abdullah naik pitam dan dibunuhlah si budak. Perasaan takut pun menguasai dirinya. Jika ketahuan Rasulullah, ia pasti akan dibunuh. Ia pun lari dan membelot ke pihak musyrikin. Mengganti iman nya agar selamat dari hukuman qishash. Akhirnya, saat pembebasan Makkah, ia dibunuh oleh Said bin Harits dalam keadaan musyrik.

Wal iyadzubillah. Ternyata, kebersamaan dengan Nabi tetap tak mampu membuat jiwa tetap istiqomah di jalan iman. Kasus hampir mirip juga terjadi pada mantan sahabat Nabi bernama Miqyas. Ia masuk Islam sambil menuntut diyat saudaranya. Rasulullah mengabulkan tuntutannya dan diberikan diyat. Ia pun tinggal di Madinah. Namun, rupanya dendamnya atas terbunuhnya saudaranya belum juga surut. Ia tetap membunuh orang yang membunuh saudaranya padahal telah dibayarkan diyatnya. Karena perbuatannya, Miqyas divonis mati dan dibunuh oleh Numailah atas perintah Rasulullah SAW.

Satu lagi kisah seorang sahabat Nabi yang juga berakhir tragis. Namanya Quzman. Seorang lelaki hebat dari Kabilah Bani Zhafr. Saat penduduk Madinah banyak yang masuk Islam, ia pun turut masuk Islam. Ketika terjadi perang Uhud, Quzman ikut trjun dalam kancah perang. Beberapa orang musyirk berhasil dibantainya.

Ketika peperangan usai, Quzman mengalami luka parah. Saudaranya dari Bani Zhafr membawanya pulang dan menghiburnya, memintanya untuk bersabar. Mereka memuji kepahlawanannya dan mendoakannya agar mendapat surga yang tertinggi. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Quzman berkata, “Demi Allah, aku ikut berperang semata-mata karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan sudi untuk berperang!”

Saudara-saudara seiman yang mendengar hal itu menjadi sedih. Mereka membujuknya agar bertaubat, tetapi Quzman enggan. Dan karena luka yang dialaminya cukup parah, rasa sakit yang menyerang syaraf-syarafnya membuatnya tak mampu bersabar. Quzman pun bunuh diri. Ketika Nabi SAW diberitahu tentang keadaan Quzman tersebut, beliau bersabda, “Jika dia berkata (dan berbuat) seperti itu, maka ia termasuk penghuni (akan masuk) neraka!”

 

Istiqamah Tidak Mudah

Istiqomah memang tidak mudah. Fokus pada tujuan itu bikin lelah. Godaan menghadang sepanjang jalan. Hanya orang-orang hebat dan dirahmati Allah yang mampu tetap lurus berjalan dan tahan godaan. Lainnya lebih banyak yang gugur. Ada yang baru satu langkah sudah kalah, setengah perjalanan sudah kelelahan, bahkan ada yang sedikit lagi sampai malah memilih berhenti.

Secara teori, sangat mudah memetakan godaan yang dihadapi hamba beriman. Dalam perjalannya menuju nasib akhir dirinya, manusia akan menghadapi dua jenis godaan:godaan syubhat dan syahwat. Ya.Hanya dua, tapi derivasinya bisa tak terhingga sehingga secara praktek sama sekali tak akan mudah untuk menghadapinya.

Syubhat adalah perkara-perkara yang samar-samar, meragukan dan mampu membuat orang bingung dan akhirnya salah jalan. Wujudnya dapat berupa berbagai pemikiran rusak dan persepsi-persepsi membingungkan dan menyesatkan.

Kisah melencengnya kaum khawarij menjadi bukti nyata beratnya godaan syubhat. Mereka adalah kaum ahli ibadah, tapi pemikiran mereka melenceng karena syubhat (kesamaran) persepsi dalam menyikapi keputusan khalifah. Akibatnya mereka keluar dari baiat kekhilafahan kaum muslimin lalu melakukan banyak pembantaian terhadap saudara muslim sendiri.

Baca Juga: Karakteristik Firqatun Naajiyah, Golongan Orang-orang yang Selamat

Demikian pula kaum syiah. Syubhat pemikiran yang ditebarkan Abdullah bin Saba’ sukses memperdaya ribuan manusia dari generasi ke generasi. Pikiran sesat yang mengangungkan Ali dan ahlul bait melebihi semua sahabat Rasulullah, bahkan Rasulullah sendiri. Berkembanglah sekte sesat paling keji di muka bumi yang berhasil mendirikan daulah bahkan negara sendiri.

Bentuk lain adalah pikiran-pikiran sesat kaum liberal yang mampu membuat seorang mukmin akhirnya tak percaya kebenaran al Quran, tak meyakini kewajiban hijab, shalat dan haji. Wal iyadzubillah, semoga kita dijaga oleh Allah dari pengaruh pikiran-pikiran ini.

Adapun syahwat adalah godaan yang menyerang hawa nafsu. Kategori besarnya dibagi menjadi tiga; harta, tahta, wanita. Tapi pada praktiknya, ketiganya bisa saling terkait dan membentuk berbagai macam jenis godaan yang bisa menjatuhkan seseoran dari jalan iman.

Tak ada jaminan untuk tetap istiqomah selain rahmat Allah dan usaha kita sendiri. Gelar al-hafiz, julukan mujahid, status seorang ahli ibadah bahkan kebersamaan dengan Nabi (sahabat) hanyalah alat dan atribut yang seharusnya bisa membantu, namun tetap tai bisa menjamin. Oleh karenanya, amal apapun yang telah kita lakukan, hendaknya jangan membuat kewaspadaan kita kendur. Bisa jadi, saat rajin beramal, godaan yang terbesar belumlah datang. Selalulah berdoa agar diberi keistiqomahan di atas jalan iman. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang selamat hingga akhir hayat. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Telaah

Lelah dalam Memaknai Syahrun Mubaarak ‘Ramadhan’

Ataakum syahrun mubaarak, telah Adatang kepada kalian bulan yang diberkahi, demikian ucapan selamat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika datang bulan Ramadhan.

Ini memang perkara yang sudah dimaklumi dan disepakati. Sekaligus paling mewakili tentang sifat Ramadhan. Juga lebih tepat daripada menyifati ramadhan sebagai bulan suci, karena masih butuh dalil tentang penyifatan ini. Berbeda dengan syahrun mubaarak yang telah jelas nash dan dalilnya.

Tapi, mari kita selami lebih jauh lagi akan makna keberkahan yang berhubungan dengan Ramadhan. Di antara makna keberkahan adalah an nama’ wa ziyadah, bertumbuh dan bertambah. Keberkahan itu ketika mengenai yang sedikit maka akan berlipat menjadi banyak. Dan jika mengenai yang banyak akan tampak manfaatnya. Indikator yang paling nyata akan keberkahan sesuatu adalah istl’maluhaa alaa tha’atillah, ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah.

Ramadhan kita akan berkah ketika semakin banyak kita gunakan untuk ketaatan. Jelas pula kita pahami bahwa keberkahan bulan Ramadhan menjadikan pahala amal shalih menjadi berlipat ganda.

Namun tak hanya keberkahan yang berupa pahala semata. Bahkan setiap usaha, karya kebaikan dan amal shalih itu akan dilipatkan hasilnya di bulan Ramadhan.

Omset sedekah di bulan Ramadhan biasanya selalu meningkat drastis, pun begitu tak pernah ada laporan atau berita tentang bertambahnya angka kemiskinan disebabkan banyaknya orang yang bersedekah. Meskipun kita dapati bahwa orang yang bersedekah di bulan Ramadhan termasuk juga kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ini di antara yang bisa dilihat dan dirasakan keberkahan sedekah di bulan ramadhan.

Ikhtiar untuk mencari ilmu, di bulan Ramadhan juga akan dilipatkan hasilnya dari pemahaman dan atau hafalannya. Sedikit usaha membuahkan hasil yang berlipat di hari biasa.

Baca Juga: Kultum Ramadhan, Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

Keberkahan Ramadhan juga bermakna bagi orang yang berupaya menghafal aI-Qur’an, kemudahan juga akan lebih dirasakan jauh dibandingkan hari biasa. Pengalaman ini juga banyak disaksikan dan dialami oleh para penghafal al-Qur’an. Begitulah makna keberkahan Ramadhan bagi para penghafal aI-Qur’an.

Bagi para da’i di jalan Allah, ajakan dan seruan mereka lebih banyak didengar dan diterima oleh masyarakat, dibanding waktu-waktu yang lain. Nyatanya, event-event pengajian lebih banyak dihadiri meski secara intensitas juga lebih sering dari bulan selainnya.

Intinya, Ramadhan menjanjikan hasil yang berlipat ganda dan istimewa bagi siapapun yang mengisinya dengan kebaikan. Maka selayaknya kita tak canggung dan tanggung untuk merencanakan program-program di bulan Ramadhan. Baik yang berhubungan dengan target diri sendiri, keluarga maupun masyarakat secara umum. Mari lihat kembali, sedahsyat apa program kita di bulan Ramadhan tahun ini.

Apakah program yang terencaa sudah terealisasi? Sementara Ramadhan hanya tersisa beberapa hari lagi.

Semoga Allah menerima ibadah puasa kita tahun ini.

 

Muhasabah/Ust. Abu Umar Abdillah

Tabiat Kikir, Bisakah Tersingkir?

Al-Qur’an menyebutkan bahwa di antara tabiat dasar manusia adalah kikir, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

“Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya, dan adalah manusia itu sangat kikir.” (QS al-Isra’: 100)

Ibnu Abbas dan Qatadah berkata, “Yakni manusia takut miskin. Ia takut perbendaharaan itu akan lenyap,” Sedangkan Qatur ialah sangat kikir.” Seandainya mereka mempunyai bagian dalam menjalankan kekuasaan, niscaya mereka tidak akan memberi sedikitpun kepada orang lain.”

Inilah tabiat kebanyakan manusia, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Jika suatu kali memperoleh suatu nikmat, kesenangan atau harta, maka ia menyangka bahwa semua itu diperoleh semata-mata karena kepandaian ilmu dan gigihnya usaha. Karena ia berusaha, maka ia memperolehnya, bukan karena pertolongan dan anugerah Allah kepadanya.

Kemudian setan membisikkan ke telinganya bahwa ia adalah orang yang kuat dan mampu mandiri, tidak butuh pertolongan orang lain. Hal ini membuatnya merasa tidak perlu memberikan perhatian kepada orang lain. Jika ia memberi dan mengindahkan orang lain ia akan menjadi miskin.

Padahal hakikatnya, segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya sebagai anugerah, tapi juga sebagai titipan dan ujian. Sewaktu-waktu bisa diambil untuk dipindahkan ke tangan orang lain atau mungkin dimusnahkan jika Dia menghendaki.

Orang kikir itu lupa bahwa ketika Allah menitipkan kepadanya rezeki, lalu menghasungnya untuk mengeluarkan sebagiannya untuk kemanfaatan manusia atau untuk menegakkan agamanya, Allah Kuasa untuk memberikan ganti yang lebih baik untuknya.

Seakan ia menyangka, ketika ia mendermakan hartanya, maka akan berkuranglah miliknya, lalu habis. Seakan Allah tidak memiliki stok lain sebagai pengganti dari yang telah dikeluarkannya. Bukankah sudah sekian lama dan panjang kehidupan alam berlangsung dan Allah terus Kuasa menghidupi seluruh makhluk di alam semesta?.

Disebutkan dalam Shahihain, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ يَمِينَ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِى يَمِينِهِ

“Tangan Allah penuh dengan kekayaan, yang tidak akan berkurang oleh nafkah para dermawan pada malam dan siang hari. Tidakkah kalian mengetahui, apa yang Dia nafkahkan sejak penciptaan langit dan bumi, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal lain yang membuat seseorang pelit untuk mengeluarkan hartanya adalah, karena ia menyangka dengan cara seperti itu akan mebawa keuntungan baginya. Hartanya akan menumpuk dan dikenal sebagai orang kaya. Padahal, seandainya ia mau berpikir sehat, apalah manfaat harta jika tidak dimanfaatkan, ia kumpulkan sebanyak mungkin lalu ia mati tanpa sempat menikmati semua yang pernah dikumpulkannya. Jika pun seseorang ingin langsung menikmati hartanya secara boros, tetap saja rugi.

Keinginannya mungkin tak terbatas, tapi kemampuan untuk menikmati sangat terbatas. Makan, sanggup berapa porsi sekali? Minum, sanggup berapa gelas sehari? Atau jika dibelikan berbagai macam properti maupun kendaraan dengan berbagai model dan teknologi terkini, apakah ia bisa menikmati semua dalam satu waktu? Kenapa ia tidak mau berbagi sedikit saja dari banyaknya hartanya yang menganggur?

Jika orang bakhil mengira bahwa dengan kekayaannya membuat orang lain terpana dan memuja, maka ia salah besar. Kekayaan di tangan orang kikir itu justru menumbuhkan sikap dengki orang lain terhadapnya. Rasa dengki itu membawa kebencian hingga yang paling fatal adalah perlakuan buruk orang akan tertuju kepadanya.

Itu semua belum seberapa, derita yang tragis akan dialami oleh orang yang bakhil terhadap hartanya. Karena harta yang tidak dinafkahkan itu akan dikalungkan di leher mereka kelak di hari kiamat sebagai azab dan siksaan yang amat berat, sebab harta benda yang dikalungkan itu akan berubah menjadi ular yang melilit mereka dengan kuat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

من أتاه الله مالا فلم يؤد زكاته مثل له شجاع أقرع له زبيبتان يطوقه يوم القيامة فيأخذ بلهزمتيه (شد قيه) يقول: أنا مالك أنا كنزك ثم تلا هذه الأية

“Barang siapa yang telah diberi Allah harta, kemudian tidak mengeluarkan zakatnya, akan diperlihatkan hartanya berupa ular sawah yang botak, mempunyai dua bintik hitam di atas kedua matanya, lalu dikalungkan kepadanya di hari kiamat nanti. Ular itu membuka rahangnya dan berkata: “Saya ini adalah hartamu saya ini adalah simpananmu”. (HR. Imam Bukhari dan Nasa’i)

Meski kikir menjadi tabiat dasar manusia, bukan berarti menjadi harga mati yang tak bisa berubah.  Allah Ta’ala berfirman,

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hashr: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa kikir bisa tersingkir, sekaligus menunjukkan bahwa siapa yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil, maka orang-orang itulah orang-orang yang beruntung.

Jika pun seseorang ingin langsung menikmati hartanya secara boros, tetap saja rugi. Keinginannya mungkin tak terbatas, tapi kemampuan untuk menikmati sangat terbatas. Makan, sanggup berapa porsi sekali? Minum, sanggup berapa gelas sehari? Atau jika dibelikan berbagai macam properti maupun kendaraan dengan berbagai model dan teknologi terkini, apakah ia bisa menikmati semua dalam satu waktu? 

Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bakhil adalah penyakit, maka tersedia obat untuknya. Allah tidaklah menurunkan penyakit, kecuali ada obatnya. Penyakit ini muncul dari dua sebab. Sebab pertama adalah keinginan memperturutkan keinginan syahwat, yang tidak terwujud kecuali dengan harta dan angan-angan panjang. Sedangkan sebab kedua adalah cinta berlebihan terhadap harta.”

Beliau juga menjelaskan obatnya, bahwa untuk mengobati keinginan memperturutkan syahwat, adalah qana’ah dengan sesuatu yang sedikit tentu disertai kesabaran. Adapun untuk mengobati angan-angan panjang adalah dengan memperbanyak mengingat kematian, juga mengingat kematian teman-temannya. Melihat kepada panjang dan lamanya rasa letih yang mereka alami demi mengumpulkan harta (semasa hidupnya). Kemudian setelah meninggal, harta yang mereka kumpulkan, yang melupakan dari sekian banyak maksud dan tujuan tidak memberi manfaat bagi mereka. Semoga Allah hilangkan sifat kikir dari jiwa kita, aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Adab Islam

 

Bekerja Keras di Dunia, Sengsara di Neraka

Kita pantas salut melihat orang yang kerja keras mengais rezeki, membanting tulang dan memeras keringat. Tapi, rasa salut itu akan berbalik menjadi belas kasihan, ketika kita tahu, bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak memperhatikan urusan akhiratnya. Tidak shalat, tidak taat dan bahkan uang yang tidak seberapa banyak ia hasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk bermaksiat.  Betapa tidak, hasil dari jerih payahnya bukan kebahagiaan, tapi kepayahan yang lebih dahsyat dari kepayahan yang dia alami di dunia,

 عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ﴿٣ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً 

“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka),”. (QS. al-Ghasyiyah 3-4)

 

Kerja Keras di Akhirat

Banyak variasi pendapat para ulama dalam menafsirkan firman Allah, “bekerja keras lagi kepayahan.” Apakah itu terjadi di dunia, ataukah di akhirat, yakni neraka. Al-Fakhrur Razi dalam tafsirnya menyebutkan tiga pendapat, “Bisa jadi segala kerja keras dan kepayahan yang dimaksud semua dialami di dunia, bisa jadi semuanya terjadi di akhirat, dan bisa jadi pula sebagian kepayahan itu dialami di dunia, sebagian lagi dialami di akhirat.” Beliau tidak memberikan keterangan manakah yang lebih rajih di antara tiga pendapat tersebut.

Namun, tak ada ulama yang membantah, bahwa di neraka, penghuninya akan mengalami kerja keras dan kepayahan. Dan tak ada yang lebih payah dari kepayahan yang dialami oleh penduduk neraka.

Hasan al-Bashri Rahimahullah mengatakan bahwa, “mereka dibuat kerja keras dan lelah di neraka oleh rantai dan belenggu.”

Berbeda dengan kepayahan di dunia yang berjeda dan ada kesempatan untuk istirahat. Di neraka, kepayahan akan berlangsung selamanya. Sementara makanannya duri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar. Tak ada pula minuman selain air mendidih yang amat sangat panasnya.

 

Kerja Keras di Dunia untuk Dunia

Meskipun makna yang sudah pasti masuk dalam ayat tersebut adalah kepayahan di hari Kiamat sebagaiamana diindikasikan ayat sebelum dan sesudahnya, namun tidak dipungkiri, bahwa yang mereka alami di neraka itu karena ulahnya di dunia. Sehingga banyak ulama mengkaitkan kerja keras dan kepayahan di akhirat itu sebagai balasan atas tindakan mereka yang sesat di dunia. Ibnu Abbas berkata, “Yakni, ia telah bekerja keras dan kepayahan di dunia, lalu pada hari Kiamat dia masuk ke dalam Neraka yang sangat panas.”

Kerja keras di dunia yang dimaksud bisa bermakna orang yang hanya mencari kenikmatan dunia semata. Mereka bersusah payah, membanting tulang, sekedar untuk mencari makan dan kebutuhan hidup semata. Pada saat yang bersamaan, mereka enggan untuk mengabdi kepada Allah, meninggalkan amal yang bisa membuat mereka bahagia dan selamat di akhirat. Atau bahkan kerja kerasnya dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Inilah pendapat yang diutarakan oleh Ikrimah dan as-Suddi, “Di dunia mereka kerja keras di jalan maksiat, sehingga merasakan kepayahan di neraka dengan adzab dan kesengsaraan.”

Alangkah mengenaskan nasib mereka. Di dunia menderita, di akhirat sengsara selamanya. Lantas kapan mereka bisa mendapatkan kebahagiaan? Penderitaan mana yang lebih berat dan kekal daripada penderitaan ini?

Islam menghasung kita untuk kerja keras. Jika kemudian hasil jerih payah yang diapatkan belum mencukupi kebutuhan, jangan sampai membuat kita berputus asa, apalagi putus asa untuk mendapatkan kenyamanan di akhirat. Bahkan, bagi orang yang beriman, ketika mendapatkan dirinya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, dia terhibur dengan keyakinan, bahwa kemiskinan itu hanyalah sementara, kelak di jannah takkan lagi terasa bekasnya. Berganti dengan kenikmatan tiada tara. Dengan motivasi ini, mereka akan memperhatikan urusan akhiratnya. Bersabar dalam menghadapi cobaan, sabar dalam menjalani ketaatan, dan bersabar untuk tidak tergiur dengan cara-cara maksiat untuk mendapatkan rejeki.

Mereka itulah orang-orang yang cerdas, bahkan lebih cerdas daripada orang-orang kaya yang menjadikan dunia yang begitu singkat sebagai tujuan akhirnya. Mereka memakmurkan dunia mereka dengan cara merusak akhiratnya. Mereka memilih untuk menderita selamanya, asalkan bisa sesaat bersenang-senang di dunia. Sungguh merupakan pilihan yang picik dan tak sesuai dengan nalar yang sehat.

 

Kerja Keras untuk Akhirat, Tapi Sesat

Penafsiran lain dari ‘kerja keras dan kepayahan’ dalam Surat al-Ghasyiyah ini adalah kerja keras untuk mendapatkan pahala, namun berangkat dari keyakinan yang sesat, atau cara yang salah. Syeikh asy-Syinqithi menukil sebagian penafsiran, bahwa maksud ayat itu adalah, “Mereka kerja keras dan kelelahan dalam menjalankan ibadah yang sesat, seperti para pendeta dan uskup, begitupun dengan para pelaku bid’ah.”

Kelompok ini juga sangat memprihatinkan. Betapa tidak, mereka merasa telah menjalankan ibadah, bersusah payah untuk berbuat baik dalam persangkaannya, namun ternyata sesat.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”  (QS. al-Kahfi 103:-104)

Mereka salah dalam berkeyakinan, keliru pula dalam menjalankan, sementara mereka menyangka di atas kebenaran. Karena itulah, ketika Umar bin Khattab melewati seorang pendeta yang sedang ‘khusuk beribadah’, beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu, beliau menangis sembari membaca firman Allah, ‘amilatun naashibah, tashla naaran haamiya, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).” Karena apa yang dilakukan pendeta itu adalah kekhusyukan dalam kekafiran.

[bs-quote quote=”Ketika Umar bin Khattab melewati seorang pendeta yang sedang ‘khusuk beribadah’, beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu, beliau menangis sembari membaca firman Allah, ‘amilatun naashibah, tashla naaran haamiya, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).” Karena apa yang dilakukan pendeta itu adalah kekhusyukan dalam kekafiran.” style=”default” align=”center” color=”#2476bf”][/bs-quote]

Termasuk dalam kategori ini, mereka yang beribadah, baik shalat, dzikir dan amalan lain yang tidak mengikuti sunnah. Mereka yang tertarik dengan bid’ah yang diada-adakan. Syeikh asy-Syinqithi mengingatkan tatkala menafsirkan ayat ini, “Hendaknya takut akan ayat ini, orang yang beramal tanpa dasar ilmu, tapi beramal di atas bid’ah dan kesesatan.”

Umumnya, orang yang melakukan bid’ah memiliki prasangka akan mendapatkan pahala lebih dengan menjalaninya. Padahal, bukan itu amal yang dikehendaki Allah. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal untuk Allah, sedangkan benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu alam bish shawab.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/ Muhasabah

Jangan Menjilat Karena Ingin Mendekat

Ada yang berebut kekuasaan, ada yang berebut pengaruh supaya dekat dengan pemilik jabatan. Tak jarang untuk meraih kedekatan itu harus mengorbankan keyakinan, atau harus berhadapan melawan kebenaran. Ini karena manusia memandang bahwa kemuliaan terdapat pada jabatan dan kekuasaan, dan kedekatan dengan penguasa dianggapnya numpang mulia.

Di zaman Nabi Musa alaihissalam, mereka yang berani menghadapi mukjizat Nabi Musa alaihissalam dari pihak Fir’aun itu punya pamrih. Dan Fir’aun tahu apa pamrih mereka itu, maka ia pun menjadikannya sebagai iming-iming dan hadiah yang dijanjikan. Dan pamrih itu adalah beruapa kedekatan posisinya dengan Fir’aun. Allah kisahkan tentang hal ini,

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, mereka bertanya kepada Fir’aun: “Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?” (QS. Asy Syu’araa’: 41)

Fir’aun menjawab: “Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku).” (QS. Asy Syu’araa’: 42)

Maka sepanjang sejarah ketika ada penguasa yang tidak pro kepada kebenaran, berseberangan dan berhadapan dengan Islam dan kaum muslimin, maka ia akan memberikan tawaran yang sama bagi siapapun yang dipandang mampu menahan arus dakwah kebenaran. Tak peduli dari pihak manapun asalnya. Inilah yang menarik orang-orang munafik untuk tampil menyambut tawaran. Yang dalam bahasa kasarnya adalah penjilat. Disebut penjilat karena kehinaannya mengorbankan prinsip demi kemengan orang lain, sementara ia hanya sekedar dekat dengannya. Bahkan ada yang rela menjilat hanya demi sekedar dekat atau dianggap kenal dekat dengan seseorang yang punya nama atau wibawa.

Orang-orang munafik mengira menjadi mulia dengan itu, padahal hakikatnya itu adalah kehinaan yang paling hina.

Ketika Imam Malik ditanya, “Siapakah orang yang hina itu?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang mencari makan dengan menjual (mengorbankan) agamanya.” Beliau ditanya lagi, “Lantas siapakah orang yang paling hina di antara yang hina?” Beliau menjawab, “Orang yang mengorbankan agamanya demi dunia orang lain.”

[bs-quote quote=”Ketika Imam Malik ditanya, “Siapakah orang yang hina itu?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang mencari makan dengan menjual (mengorbankan) agamanya.” Beliau ditanya lagi, “Lantas siapakah orang yang paling hina di antara yang hina?” Beliau menjawab, “Orang yang mengorbankan agamanya demi dunia orang lain.”” style=”default” align=”center” color=”#2878bf”][/bs-quote]

Sedang kemuliaan sesungguhnya adalah ketika seseorang berada di pihak Allah, Rasulullah dan membela orang-orang yang beriman. Firman Allah Ta’ala,

“Padahal kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Jika orang-orang munafik berlomba mendekat kepada para raja dengan menghalalkan segala cara, maka orang beriman berusaha mendekat kepada Pencipta para raja yang Mahakuasa lagi Mahamulia. Jika ada orang yang berbangga menjadi keluarga para raja, maka ahlul Qur’an berlomba menjadi keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya. Ahlul Qur’an hum ahlullah wa khaashatuh, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Antara Pamer dan Pencitraan

Rajin beramal saat dilihat orang, tapi malas saat dalam kesendirian adalah satu di antara sekian gejala riya’ (pamer). Suatu aib yang masing-masing kita pernah dah mungkin sering terjerembab ke dalamnya. Di samping aib, dosa riya’ ini bisa merembet kepada dosa lain. Seperti yang dikatakan oleh ulama tabi’in kenamaan, Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Aku mendapati ada orang-orang yang awalnya suka riya’ (pamer) dengan apa yang dikerjakannya. Lambat laun mereka akhirnya memamerkan apa yang sebenarnya bukan merupakan amal atau hasil karyanya.

Ini adalah pengamatan yang jeli dan jelas, bagaimana penyakit riya’ menjalar dan berproses hingga membuahkan dosa baru yakni kedustaan demi mendapat pujian orang. Atau yang lazim disebut dengan pencitraan dengan konotasi negatif.

Baca Juga:
Menjadi Muslim Serba Bisa

Awalnya seseorang berlaku riya’ baik dalam hal ibadah ataupun umumnya amal shalih dan ketaatan. Dia ingin orang lain melihat dirinya sebagai sosok ahli ibadah, dermawan atau gigih dalam membantu sesama. Setidaknya, tatkala ia sedang melakukan aktifitas itu, ia berharap ada orang lain atau bahkan banyak orang bisa menyaksikannya. Sebenarnya, pada batasan ini sudah berbahaya, karena ibadah atau amal tidak diterima ketika dimaksudkan riya’. Dan ini masuk dalam kategori syirik meskipun ashghar (kecil). Riya’ memang tercela, tapi sebatas membahayakan pelakunya saja.

Berawal dari riya’ saat beramal ini, seseorang cenderung ingin menaikkan rating pujian orang terhadapnya. Karena yang penting baginya adalah pujian orang, tak peduli dengan cara yang ia lakukan. Ketika kemampuan dan kemauannya terbatas untuk meraup banyaknya pujian, maka ia akan mengklaim suatu hasil, program, proyek atau keberhasilan suatu dakwah ataupun pembangunan yang dilakukan oleh orang lain sebagai usaha keras dia.

Baca Juga:
Pandai-pandailah Merasa Berdosa

Atau dengan cara menampakkan ibadah tertentu di momen tertentu agar orang lain menilai bahwa aktivitas itu sudah melekat dengan dirinya, sudah menjadi kebiasaan hariannya. Padahal aktifitas itu bukan kebiasaan aslinya. Inilah pencitraan yang mengandung kedustaan yang berbaur dengan riya’. Bahayanya tidak hanya mengenai pelakunya, tapi mengecoh banyak orang hingga mereka mengikuti ambisi pelaku berikutnya, nas’alullahal ‘aafiyah.

Ini berkebaikan dengan orang shalih, yang ketika ia dipuji atau dipandang orang di atas apa yang dilakukannya maka akan beristighfar, mohon ampunan atas keteledoran sekaligus memohon kepada Allah agar diberi kemampuan melakukan amal lebih baik lagi. Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad meriwayatkan, “Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila dia dipuji mengucapkan, “Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekuranganku yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari penilaian mereka terhadapku.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad)

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Sisipkan Satu Ketaatan Di sela Seribu Kemaksiatan

Suatu kali Suhail bin Amru melakukan suatu perjalanan bersama istrinya. Di tengah perjalanan keduanya bertemu dengan kawanan perampok dan merampas semua yang dibawanya, baik harta maupun makanan. Para perampok duduk menikmati makanan dan bekal yang didapatkan, terlihat pemimpin perampok tidak ikut makan. Ketika itu Suhail bertanya kepadanya, ‘Kenapa kamu tidak ikut makan bersama mereka?” Dia menjawab,”Saya sedang puasa.” Maka heranlah Suhail lalu ia bertanya,”Kamu merampok tetapi berpuasa?”

Ia menjawab, “Aku biarkan satu pintu antara aku dengan Allah agar suatu kali aku bisa masuk (bertaubat) kepadanya.”

Setelah selang beberapa lama, Suhail bertemu dengan perampok itu dalam keadaan berhaji. Ia telah menjadi seorang ahli ibadah yang zuhud.

Baca Juga: ‘Wukuf’ di Negeri Sendiri

Sebuah pelajaran berharga, jangan sampai kita menutup pintu yang terbuka antara kita dengan Allah, meskipun banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Karena bisa jadi dari satu pintu itu Allah hendak memperbaiki kita di pintu-pintu ketaatan yang lain sekaligus menutup bagi kita pintu-pintu kemaksiatan. Karena setiap kebaikan akan menghasilkan kebaikan setelahnya.

Seperti juga orang yang berdoa sementara ia masih terbiasa menikmati yang syubhat atau bahkan yang haram. Jangan sampai berfikir untuk berhenti berdoa dengan asumsi doanya tak terkabul. Bisa jadi melalui pintu doa Allah bukakan pintu muhasabah (mawas diri), lalu memberi taufik untuk meninggalkan yang haram, sekaligus memberi anugerah terkabulnya doa.

Baca Juga: Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Kasus lain dalam hal shalat, jangan sampai berfikir untuk berhenti karena belum mendapatkan buahnya, yakni tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Yang seharusnya adalah berusaha memperbaiki kualitas shalat hingga Allah akan memberikan buahnya.

Sebagaimana kita tidak meremehkan satu pintu kebaikan di tengah banyaknya kemaksiatan yang dilakukan, begitupun sebaliknya. Jangan meremehkan satu pintu maksiat di tengah banyaknya ketaatan yang dilakukan. Bisa jadi melalui satu pintu maksiat ini setan masuk dan hendak menyeretnya kepada maksiat-maksiat yang lain. Banyak pula kisah tragis orang yang murtad karena bermula dari satu maksiat yang diremehkan. Dan memang tabiat dosa akan berbuntut munculnya dosa berikutnya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita kepada ketaatan, dan melindungi kita dari dosa dan kemaksiatan, Amiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Islam Adalah Darah Daging Kita, Takkan Hidup Manusia Tanpanya

Ada nasihat indah dari seorang ulama tabi’in yang tak asing di telinga, Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya Islam adalah darah dagingmu…”

Betapa tepatnya perumpamaan beliau tentang agama sebagaimana darah dan daging, karena agama yang benar adalah ruh manusia dan intinya. Apabila Islam itu lenyap dari diri seseorang, maka ia seperti bukan lagi manusia yang hidup. Sebagaimana jika manusia telah hilang darah dan dagingnya, dapatkah ia disebut sebagai manusia?

Seorang muslim yang telah menjadikan Islam sebagai darah dagingnya, hidupnya tak bisa dipisahkan dari Islam. Seluruh aktivitasnya tak bisa lepas dari bimbingan Islam. Ini sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ra’sul amri al-Islam, pokok dari segala urusan adalah Islam.” Memandang apapun, melihat dari sudut pandang Islam, bukan yang lain. Baik baginya adalah apa yang dianggap baik oleh Islam. Buruk baginya adalah apa yang buruk dalam sudut pandang Islam, meksipun kebanyakan manusia berpendapat sebaliknya.

Baca Juga: Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Siapa yang dianggap saudara atau kawan menurut Islam, itulah saudara ataupun kawan. Siapa yang menjadi musuhnya adalah siapapun yang memusuhi Islam dan dianggap musuh oleh Islam.

Jika dia mencari maisyah (pendapatan), Islam menjadi pedoman; mana yang halal dan mana yang haram. Jika ingin berkeluarga, maka Islam juga menjadi panduan memulai dan bagaimana mendidik keluarga. Ringkasnya, segala hal dipandang dari sudut pandang Islam.

Jika setiap muslim menggunakan sudut pandang ini, kemuliaan umat Islam akan terwujud, dan ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana ukhuwah tegak jika yang sebagian menjadikan Islam sebagai pijakan dan sebagian lagi menjadikan selain Islam sebagai patokan?

Lagi pula, Islam adalah jaminan keselamatan, komplit pula mengatur segala urusan, jalan hidup terbaik yang telah Pencipta gariskan. Adakah yang lebih paham tentang kita, dunia dan akhirat kita selain dari Sang Pencipta?

Baca Juga: Yang Menyenangkan Belum Tentu Membuat Bahagia

Sangat disayangkan, ketika sebagian yang menisbahkan dirinya muslim lalu terprovokasi oleh para libearlis maupun atheis, hingga merendahkan martabat Islam, melecehkan orang-orang yang berpegang teguh dengannya.

Sekali-kali umat Islam ini tidak akan kembali berjaya, tegak, berkuasa dengan lurus bagi manusia melainkan jika mereka kembali mengambil pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ini, menguatkan ikatannya terhadap Islam dan meletakkannya pada tempat yang semestinya dalam rangka membina pribadi dan mengatur masyarakat.

Maka tak ada alasan untuk mengelak dari aturan-Nya, apa-apa yang belum Islam dari bagian hidup kita, segera kita sempurnakan agar makin semurna pula kebahagiaan kita dan jaminan akhir kita. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Yang Menyenangkan Belum Tentu Membuat Bahagia

Senang Belum Tentu Bahagia. Banyak orang tak mampu membedakan; mana kebahagiaan dan mana pula kesenangan. Mereka mencari kebahagiaan di dalam kesenangan. Hingga ketika kesenangan usai, kesedihan dan masalah hadir kembali. Berfoya-foya sembari berjoged bersama, dugem dan bahkan minum khamr dianggap sebagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Harta yang melimpah hingga dengan leluasa bisa digunakan untuk memperturutkan keinginan pemiliknya juga sering diduga sebagai sebab kebahagiaan. Ini karena mereka tidak mampu membedakan antara kebahagiaan dan kesenangan.

Durasi kesenangan itu berlangsung singkat, dan sangat dipengaruhi faktor luar yang jika faktor itu ada, maka ia gembira, tapi begitu habis atau hilang faktor tersebut, maka hilang pula kesenangan. Dan untuk merasakan kesenangan, dibutuhkan tiga kondisi; memiliki waktu, kesehatan dan harta. Padahal jarang sekali ketiganya ini berkumpul dalam satu momen. Atau kalaupun terjadi, hanya berlangsung singkat.

 

Baca Juga: Pandai-pandailah Merasa Berdosa

 

Bukankah ketika masa anak-anak rata-rata manusia memiliki waktu dan sehat, tapi belum memiliki harta yang bisa dipergunakan untuk bersenang-senang. Lalu menginjak dewasa dan mampu mandiri, ia memiliki harta dan tubuh masih sehat, akan tetapi kesibukannya dalam pekerjaan membuatnya hanya memiliki sedikit waktu untuk bersenang-senang. Dan ketika manusia memasuki usia tua, ia memang memiliki harta, waktupun banyak tersedia, tapi apa daya saat itu kesehatan dan kondisi fisik tidak mampu lagi mengenyam berbagai jenis kenikmatan. Maka alangkah nisbi jika kesenangan disebut sebagai kebahagiaan.

Padahal kebahagiaan itu mestinya lebih langgeng. Untuk mendapatkannya membutuhkan iman yang benar, yang menumbuhkan amal shalih lalu konsisten dan istiqamah di atasnya. Maka siapapun yang memiliki tiga hal itu, ia mendapatkan kebahagiaan, bahkan meskipun terkadang ia kehilangan sebagian kesenangan.

Kadang tidak mendapatkan makanan yang enak, sesekali tubuhnya kurang fit dan kali lain ia sangat sibuk. Mungkin dia bukan dari kalangan kaya raya atau pejabat. Tapi, kebahagiaan tetap bersemayam di hati. Karena ia tidak terpengaruh oleh faktor eksternal berupa materi fisik yang apabila ada ia bahagia dan apabila tiada ia menjadi sengsara, sama sekali tidak.

 

Baca Juga: Antara Pilihan Kita dan Pilihan-Nya

 

Bahwa ia bahagia ketika rejeki melimpah, namun faktor utamanya adalah rasa syukur kepada Allah yang memberikan anugerah dan nikmat. Karenanya saat itu ia akan berucap sebagaimana tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Alhamdulillahi bini’matihi tatimmush shaalihaat” , segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, kebaikan menjadi sempurna.

Dan ketika suatu kali diuji dengan sempit rejeki atau bahkan musibah menghampiri, tak berarti kebahagiaan tercabut. Mungkin saja kesenangan hilang, tapi kebahagiaan tetap bersemayam di hati. Dari sisi mana kebahagiaan dinikmati? Yakni dengan ridha terhadap takdir, mengharapkan pahala di sisi Allah, terhapusnya dosa-dosa dan dengan pengharapan kepada Allah agar memberi ganti yang lebih baik. Karena itulah, dalam kondisi tidak ideal seperti yang diharapkan pun, ia tetap berucap, alhamdulillah ‘ala kulli haal, segala puji Allah atas segala keadaan. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Ciri Orang yang Mudah Berdusta, Mudah Mencari Alasan

Alasan atau “kilah” dalam bahasa lainnya;  siapa yang belum pernah memakainya? Rasanya siapapun kita niscaya pernah memanfaatkannya. Ya, terutama ketika kita harus menghadapi situasi yang boleh jadi memang bukan seperti yang kita kehendaki. Misalnya saja ketika harus telambat masuk kantor, terlambat membayar hutang, kurang dalam menunaikan kewajiban, dan situasi yang semacamnya.

Adakah yang pernah kesulitan untuk beralasan? Mustahil, karena ternyata tersedia ribuan atau bahkan jutaan alasan yang siapa saja bisa menggunakannya. Tapi hati-hati, jika Anda termasuk yang terampil membuatnya, itu justru merupakan wujud kekurangan terbesar yang ada dalam diri Anda. Mahir membuat alasan sama sekali bukan merupakan kelebihan! Mengapa?

 

Baca Juga: Muslim Itu Haruslah Multi Talenta

 

Begini jawabannya: Alasan yang dipaksakan atau dibuat-buat sama sebangun dengan dusta. Perkara ini jelas tercela menurut ukuran agama dan terhina di mata sesama manusia. Andai ini saja urusannya, maka sungguh celaka orang yang hobi beralasan. Sungguh, karena dusta sama sekali bukan perkara yang pantas disandang dan menjadi tabiat seorang yang beriman. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin  itu ditabiatkan pada semua sifat selain sifat  khianat dan dusta.” (HR. Imam Ahmad).

Adanya kedustaan menandakan tiadanya keimanan. Barangsiapa yang berdusta, apalagi membiasakan diri denganya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan menganiaya dirinya sendiri. Oleh karenannya Allah pun mengutuknya, “Terkutuklah orang-orang  yang dusta.” (QS. Adz-Dzariyat: 10).

Alasan yang mengada-mengada sendiri merupakan cermin atas pribadi yang lemah yang tak mampu mengendalikan dirinya sendiri dan tak kuasa me-manage-nya dengan baik, hingga selalu terjerumus pada kelonggaran-kelongaran yang dibuatnya sendiri. Menurutnya baik-baik saja dan tak ada masalah, padahal sangat mematikan. Dalam kasus ini, memang alasan apapun bisa diciptakan! Tetapi ketahuilah bahwa orang lain, baik yang memiliki urusan secara langsung maupun yang tidak terkait sama sekali, juga tahu sejatinya alasan itu.

 

Baca Juga: Sering Berkeluh Kesah, Tanda Jiwa Yang Lemah

 

Karena itu, lebih baik bicara apa adanya secara terbuka ketika memang kondisi yang memaksa dan diluar kemampuan kita. Siap menanggung resiko kejujuran adalah sifat orang yang masih punya harga diri.

Selain itu, jangan pernah memberikan kelonggaran pada diri sendiri untuk melanggar! Disiplin itu hanya bisa dijaga oleh orang-orang yang benar-benar mau meneggakkanya. Sekali Anda mengambil kelonggaran untuk tidak disiplin, makan Anda adalah orang yang tidak disiplin.

Sekali Anda memberi kelonggaran pada diri Anda sendiri untuk menyeleweng, maka Anda adalah penyeleweng. Dan jika Anda berpikir masih bisa memolesnya dengan alasan yang Anda reka-reka, ketahuilah orang diluar Anda tidak membutuhkannya.  Semakin kreatif Anda membuat alasan,  semakin orang lain tidak menghargai Anda. Wallahu A’lam

 

Oleh: Redaksi

Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Selalu ada target dan tujuan dalam setiap langkah kita. Dan tak sedikit dari tujuan itu tertunda atau bahkan luput dari kita, meskipun tujuan itu berupa kebaikan atau sesuatu yang nantinya kita niatkan sebagai sarana kebaikan. Ingin segera kaya agar bisa sedekah, ingin segera sembuh dari sakit agar kuat menjalankan ibadah, atau ingin berhaji menyempurnakan rukun Islam namun belum diberi kemampuan.

Namun tak perlu patah arang saat tujuan baik belum terpegang. Bisa jadi Allah ingin kita lebih gigih untuk berjuang. Yang dengannya Allah berikan pahala atas kesungguhan dan kesabaran. Atau dengannya Allah hendak menjaga hati kita dari kotoran, yang jika hari ini tujuan kebaikan dalam genggaman boleh jadi ada ujub yang justru menihilkan pahala kesungguhan.

 

Baca Juga: Waspadai Ngedrop Iman Pasca Ramadhan

 

Selagi kita menjaga hak Allah, niscaya Allah menjaga kita ‘ihfazhillaha yahfadzka’. Menjaga hak Allah dalam hal perintah yang harus kita kerjakan. Dan juga dalam hal larangan yang harus kita tinggalkan. Selagi ini yang kita kerjakan, niscaya Allah akan melindungi, menolong dan menjaga kita. Dan penjagaan yang paling berfaedah bagi kita adalah penjagaan iman, agar ia tetap bersemayam di hati, dan terus bertambah kadarnya dan semakin terang cahayanya.

Karena Allah Mahatahu tentang keadaan hati para hamba-Nya, maka Dia menjaga dengan cara-Nya, meskipun cara itu tidak langsung dimengerti oleh hamba-Nya.

Di antara hamba Allah ada yang terjaga keimanannya di suatu kondisi dalam keadaan fakir, yang jika dihamparkan banyaknya harta untuknya saat itu, niscaya akan rusaklah imannya, maka Allah menjaganya dengan cara menunda pemberiannya hingga saat yang paling tepat. Ada pula di antara hamba-Nya yang terjaga keimanannya ketika diberi kekayaan, yang jika dia ditimpa kefakiran niscaya imannya akan rusak. Di antara hamba Allah ada yang imannya terjaga dengan diuji sakit, yang seandainya ketika itu dia dalam keadaan sehat, maka akan rusaklah imannya, atau dia akan menggunakan sehat untuk maksiat. Di antara hamba Allah ada yang punya keinginan menjalankan sebagian jenis ibadah, namun Allah belum memperkenankannya, Karena Allah hendak menghindarkan ia dari ujub yang akan merusak pahala amalnya.

 

Baca Juga: Ketaatan Adalah Ujian

 

Seperti orang yang belum berkesempatan untuk berhaji, tak selalunya ia dalam kondisi buruk. Begitu pula tentang jabatan dan pangkat, yang jelas Allah mengatur dan mengurus hamba-Nya sesuai dengan ilmu-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tetaplah husnuzhan, berprasangka baik kepada Allah, niscaya yang kita panen adalah kebaikan. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah

 

Tanda Haji Kita Diterima

Haji, adalah panggilan Allah bagi hamba-Nya yang beriman lagi mampu, setidaknya sekali seumur hidup. Tentu bagi yang diberi rejeki berkesempatan haji, ini merupakan momen yang super istimewa dalam hidupnya. Bagaimana tidak, ia datangi undangan Allah di tempat dan waktu yang disepakati. Selama prosesi itu hati, lisan dan anggota badan senantiasa fokus dan menikmati ‘hidangan’ sebagai tamu Allah. Hidangan yang pastinya menyehatkan hati dan memperbaiki perilaku bagi yang menikmati. Yang diharapkan, saat ia kembali ke tanah air menjadi pribadi yang sehat jiwanya, lebih matang kepribadian baiknya dan lebih rajin ibadahnya. Dan dalam waktu yang bersamaan, ia makin jauh dari dosa dan kemaksiatan.

Baca Juga: Memakai Obat Penunda Haid Saat Haji dan Umrah 

Imam Hasan al-Bashri menjelaskan indikasi keberhasilan haji seseorang, “Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” Beliau juga mengatakan, “Tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.” Senada dengan beliau, Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, “Dikatakan bahwa tanda diterimanya haji adalah meninggalkan maksiat yang dahulu dilakukan, mengganti teman-teman yang buruk menjadi teman-teman yang baik, dan mengganti kegiatan-kegiatan yang melalaikan menjadi majlis dzikir dan kesadaran.”

Tapi bagi yang tidak berhaji tahun ini, jangan sampai lupa bahwa hakikatnya ia juga mendapat undangan dari Allah, bahkan lima kali dalam sehari. Agar ia datang di tempat dan waktu yang telah ditetapkan. Bagaimana kita mimpi mendatangi undangan Allah ke tempat yang jauh, biaya yang besar, antri yang lama sementara kita abaikan panggilan ke tempat yang dekat, murah dan mudah.

Dituntut pula kita fokus dan khusyuk saat menjadi tamu Allah di lima waktu. Pun juga diharapkan sepulang dari ‘bertamu’ kita kepada Allah akan tampak bekas yang dibawa. Dan bekas yang paling tampak dari shalat adalah hendaknya ia meninggalkan dosa dan maksiat. Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45)

Maka jika kita dapati diri begitu mudah terjerumus ke dalam maksiat, kurang peka terhadap dosa dan berkali-kali melanggar syariat-Nya, kita periksa kembali shalat kita, karena pasti ada yang tidak beres padanya.

Baca Juga: Haji dan Jihad Syariat Sampai Hari Kiamat

Sebagaimana pengharapan utama setelah mendatangi undangan Allah yang seumur hidup sekali, dan yang lima kali sehari adalah terhapusnya dosa dan maksiat, maka itu pula yang kita harapkan saat kita dipanggil untuk terakhir kali. Yakni ketika Allah memanggil kita di sisi-Nya, takkan kembali lagi ke dunia, semoga dalam keadaan baik dan bersih dari noda dan dosa. Agar masuk dalam bilangan orang yang difirmankan Allah, “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An Nahl: 32)

Aamiin. 

Oleh: Abu Umar Abdillah 

 

Tema Lainnya: Haji, Shalat, Ibadah

 

‘Wukuf’ di Negeri Sendiri

Memasuki bulan haji, semua hati terketuk pasti. Yang belum berhaji makin kuat mimpinya, yang pernah haji ingin sekali mengulang lagi. Satu diantara momen penting haji, bahkan inti dari haji adalah wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang shahih dari An-Nasa’I, Tirmidzi dan yang lain, “al-hajju ‘arafah”, (inti) haji adalah (wuquf di) Arafah.

Baca Juga: Pandai-pandailah Merasa Berdosa

Makna wukuf adalah berhenti, atau berdiam diri. Dalam prosesi haji, wukuf adalah hadir dan berada di lokasi mana saja di batasan wilayah Arafah, walaupun dalam keadaan tidur, sadar, berkendaraan, duduk, berbaring atau berjalan, termasuk pula dalam keadaan suci atau tidak suci (seperti haidh, nifas atau junub). (Fiqih Sunnah, 1: 494). Aktivitas ini dilakukan  pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) sejak matahari tergelincir (zawal). Tentu saja aktivitas yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah. Dan selama wukuf seseorang tidak boleh keluar dari area Arafah yang hari ini telah diberi tanda batas yang bertuliskan ‘bidayatu ‘arafah’ (permulaan Arafah) jika terlihat dari luar, dan ‘nihayatu ‘arafah’ (batas akhir arafah) jika dibaca dari dalam area Arafah.

Hari itu dan di tepat itu Allah mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, dan Allah membebaskan banyak orang dari neraka. Singkatnya, banyak sekali fadhilah wukuf di hari Arafah yang tentu sangat diharapkan oleh setiap muslim untuk mendapat peluang emas itu.

Namun bagi yang tidak berangkat berhaji karena suatu hal, ada nasihat berharga dari Imam ibnu Rajab al Hambali, “man lam yastathi’il wuquf bi’arafah falyaqif nafsahu ‘inda huduudillahilladzi ‘arafah’, barangsiapa yang tak mampu wukuf di Arafah, maka hendaknya ia wukuf (berdiam) di batasan-batasan yang Allah tetapkan yang telah ia ketahui.”

Baca Juga: Memakai Obat Penunda Haid Saat Umrah & Haji

Inilah wukuf yang dituntut sepanjang tahun, tak hanya di bulan-bulan yang khusus. Yakni dengan cara mencari tahu dan memahami batasan halal dan haram, sehingga dia membatasi perkara-perkara yang halal untuk diambil dan dilakukan. Ia juga memahami perintah dan larangan, lalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Maka barangsiapa yang konsisten dengan itu semua, doanya akan makbul setiap saat. Karena mencukupkan diri dengan yang halal adalah faktor dominan diijabahinya doa seseorang. Dan selagi seseorang berada dalam ‘wukuf’ seperti ini, maka aktifitasnya tidak kosong dari nilai taqarrub dan ibadah. Karena yang dimaksud ibadah adalah segala aktifitas yang dicintai oleh Allah, diridhai oleh-Nya, baik perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin sebagaimana dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lain. Maka pantaslah orang yang mengisi hari-harinya dengan ibadah untuk dibebaskan dari neraka, wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah/Muhasabah/Wukuf)

 

Tema Terkait: Haji, Syariat, Muhasabah