Kultum Ramadhan: Andai Timbangan Amal Kebaikan Setara dengan Keburukan

 

Kultum Ramadhan:

Andai Timbangan Amal Kebaikan Setara dengan Keburukan

 

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ  وَعَلَى الْأَعْرَ‌افِ رِ‌جَالٌ يَعْرِ‌فُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ  وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلَامٌ عَلَيْكُمْ  لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ وَإِذَا صُرِ‌فَتْ أَبْصَارُ‌هُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ‌ قَالُوا رَ‌بَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu“.

(QS. al-A’raf: 46-47)

Imam Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash, bahwa beliau duduk di sisi Abdullah bin Umar ketika menjenguk Khabbab. Beliau berkata, “Wahai Abdullah bin Umar, tidakkah Anda medengar apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa beliau mendengar Nabi bersabda,

مَنْ خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ مِنْ بَيْتِهَا وَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ أَجْرٍ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa yang keluar untuk mengantarkan jenazah dari rumahnya, dia mensholatkannya, kemudian mengikuti hingga disemayamkan, baginya dua qirath pahala, di mana satu qirath sebesar uhud. Dan barangsiapa shalat jenazah, kemudian pulang maka ia mendapatkan pahala sebesar bukit uhud.” Lalu Ibnu Umar mengutus Khabbab kepada Aisyah, untuk menanyakan tentang perkataan Abu Hurairah untuk kemudian kembali mengabarkan kepadanya. Sementara Ibnu Umar memagang satu kerikil yang ada di masjid sambil membolak-balikkan di tangannya (karena gelisah), hingga utusan itu datang. Utusan itu berkata, “Aisyah berkata, “Memang benar apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah.” Ketika itu Ibnu Umar melemparkan kerikil itu ke tanah, lalu berkata, “Sungguh aku kehilangan banyak qirath pahala.” (HR Muslim)

Begitulah jiwa yang senantiasa bermuhasabah. Ia menyesali kesempatan yang telah terlewat, untuk kemudian ia perbaiki di waktu yang masih tersisa. Tak hanya menghitung apa yang telah dilakukan,namun juga mengingat apa yang telah ditinggalkan di antara amal yang mestinya dilakukan.

 

Deret Ukur Pahala, Deret Hitung Dosa

Dengan kemurahan-Nya, Allah memberi perhitungan yang menguntungkan hamba-Nya. Di mana setiap kebaikan yang dilakukan seorang mukmin akan dilipatkan pahalanya, sepuluh kali hingga 700 kali bahkan hingga kelipatan yang banyak lagi. Sementara setiap dosa yang dilakukan seorang mukmin, hanya dihitung sekali saja. Dengan kata lain, penambahan pahala berdasarkan deret ukur; sepuluh, duapuluh, tigapuluh dan seterusnya. Sedangkan penambahan dosa berdasarkan deret hitung; satu, dua, tiga dan seterusnya. Dengan penghitungan amal semacam ini, tidak sepantasnya hitungan amal keburukan kita lebih banyak dari amal kebaikan. Hasan al-Bashri berkata, “Pahala kebaikan dilipatkan, sedangkan sekali dosa dihitung satu, maka celakalah bagi orang yang hasil kelipatannya lebih sedikit dari satuannya.”

Baca Juga: kultum Ramadhan: Takkan Mati Sebelum Habis Jatah Rezeki

Selagi masih ada waktu, di mana kita masih berkesempatan memperberat daun timbangan kebaikan dan mengurangi atau bahkan mengosongkan daun timbangan keburukan, selayaknya kita senantiasa menghitung dan memperkirakan hasil timbangan amal yang telah kita lakukan. Sebelum nantinya amal kita betul-betul ditimbang, dan tak ada lagi tambahan pemberat kecuali yang telah kita usahakan di dunia.

 

Ketika Baik dan Buruk Sama Beratnya

Barangkali kita sering meremehkan beberapa amalan sunnah yang memiliki fadhilah besar, karena kita lupa akan yaumul mizan, hari di mana setiap amal kita akan ditimbang. Bayangkan seandainya posisi kedua daun timbangan sejajar, yakni sama antara hitungan kebaikan dan keburukan kita. Apa kira-kira yang kita angankan ketika itu? Andai saja dahulu saya menambah dengan sedekah, andai dahulu saya melakukan shalat jenazah, andai saja dahulu saya menambah dua rekaat shalat sunnah, dan ketika itu kita tahu betapa berharganya nilai sebuah amal.

Allah mengisahkan keadaan penghuni a’raf dalam firman-Nya,

 

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَن سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. “(QS. al-A’raaf: 46)

Ibnu Katsier rahimahullah menyebutkan perbedaan pendapat para mufassirin tentang siapakah penghuni A’raf, namun kesemuanya bermuara pada makna yang dekat, bahwa penghuni A’raf adalah orang yang memiliki timbangan amal yang sama antara kebaikan dan keburukan. Mereka berada di tempat yang tinggi, perbatasan antara jannah dan neraka. Sehingga mereka bisa menyaksikan betapa kontrasnya pemandangan antara keduanya. Sedangkan diri mereka sendiri masih menunggu kepastian, ke manakah ia akan ditempatkan. Betapa gelisahnya mereka, berada dalam posisi ketidakpastian. Amal kebaikannya memang cukup untuk menyelamatkan dirinya dari neraka, namun belum cukup untuk memasukkannya ke dalam jannah.

Tatkala melihat penduduk jannah yang menyandang segala kenikmatannya, mereka mengucapkan selamat, dan mereka sangat ingin sekali masuk ke dalamnya,

Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).” (QS al-A’raf 46)

Andai saja ada sedikit saja tambahan amal yang memperberat timbangan amal, tentulah ia sudah bergabung bersama penduduk jannah.

Dan tatkala ia menoleh ke neraka, merekapun melihat bagaimana penderitaan yang dialami oleh penghuninya. Merekapun ketakutan, jangan-jangan tempat terakhirnya adalah neraka bersama mereka. Andai saja ada satu dosa yang ia tinggalkan, atau ada satu amalan lagi yang menghapus dosa-dosanya, tentulah ia terjamin selamat dari neraka. Hingga merekapun berdoa,

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu“. (QS. Al-A’raf: 46)

Untuk saat-saat seperti itulah kita banyak mengingat. Agar kita tidak meremehkan satu kebaikanpun yang Allah berikan peluangnya untuk kita. Takkan kita biarkan lagi terlewat keutamaan berjalan menuju masjid, di mana satu langkah bisa menambah timbangan kebaikan, dan satu langkah lagi menggugurkan dosa-dosa. Takkan kita remehkan pula sedekah meski dengan sedikit yang kita miliki. Karena di perhitungan kelak, sekecil apapun amal bisa menjadi penentu akhir nasib kita di akhirat. Allahumma a’inna ‘ala dzikri-Ka, wa husni ‘baadati-Ka. Aamiin

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

Kultum Ramadhan: Berjaya di Atas Takwa

Kutum Ramadhan: Berjaya di Atas Takwa

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

(QS. al-A’raf: 128)

Selalu ada bisikan setan yang menakut-nakuti dengan resiko duniawi ketika seseorang hendak menjalani konsekuensi iman. Tak sepi pula halangan dan rintangan yang mengganggu jalan, hingga ancaman dari musuh-musuh dari kalangan setan jin dan setan manusia. Akan tetapi, ada kaidah qur’aniyah yang membuat orang mukmin memilih untuk melaju dan tegar berada di jalan takwa. Kaidah yang menenangkan jiwa dan mengusir rasa was-was, kekhawatiran dan ketakutan. Yakni kaidah yang berbunyi “wal ‘aaqibatu lil muttaqiin,”  dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-A’raf 128)

Kalimat ini pernah diucapkan oleh Nabi Musa alaihissallam pada saat memberikan motivasi dan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bersama beliau. Bahwa kemenangan akan didapat orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat selagi mereka mau melazimi takwa.

Kalimat yang serupa ditujukan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dengan kalimat ‘wal ‘aqibatu lit taqwa.”

Disebutkan pula kaidah ini setelah Allah mengisahkan kisah tentang Qarun di akhir surat al-Qashash.

Al-Qur’an juga banyak mengisahkan, bagaimana kesungguhan para Nabi dan Rasul dalam merealisasikan takwa, meski apa yang diperintahkan Allah kepada mereka itu secara dhahir bertentangan dengan jalan pikiran dan perasaan umumnya manusia.

Pada saat Ibrahim alaihissalam diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih puteranya, beliau tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan seekor domba. Yang beliau tahu bahwa beliau harus menjalankan perintah Rabbya, lalu Allah memberikan kejutan yang membahagiakannya, sebagai balasan atas kesetiaan beliau terhadap perintah Rabbnya, maka kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Sebagiamana juga Nabi Musa alaihissalam juga tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya laut akan terbelah setelah tongkat beliau dipukulkan ke lautan. Yang beliau tahu bahwa itu adalah perintah Allah, dan pasti Allah memberikan jalan keluar baginya.

Nabi Nuh alaihissalam juga tidak tahu bahwa akan terjadi banjir bandang, saat beliau membuat kapal di musim kemarau hingga ditertawakan kaumnya. Beliau hanya menjalankan perintah, lalu Allah memberikan kesudahan yang baik bagi beliau dan orang-orang yang mengimaninya.

Kaidah ini berlaku tak hanya di akhirat, tapi juga di dunia, baik secara fardi maupun jama’i. Yakni selagi seseorang atau kaum muslimin konsisten dengan takwa, maka Allah akan memberikan kesudahan yang baik kepada mereka.

Memang sepantasnya Allah memenangkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, berpihak di pihak mereka, dan membahagiakan mereka.

Seorang mukmin merasa yakin dengan ketentuan Allah, karena Hanya Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu. Maka, jika Allah mensyari’atkan kepadanya tentang sesuatu, pastilah Dia itu mensyari’atkan atas dasar ilmu-Nya, yang meliputi segala sebab yang dapat menghilangkan mafsadat dan mendatangkan maslahat bagi orang yang melaksanakan syari’at-Nya. Dan untuk segala problem dan masalah, selalu ada jalan keluar untuk mereka.

Bagaimana mungkin orang yang mengikuti aturan Allah akan menemui jalan buntu, sedangkan Allah yang kuasa memberikan petunjuk dan menyesatkan jalan. Bagaimana mungkin seseorang akan kelaparan, sedangkan dia menjaga batasan-batasan yang Allah gariskan dalam mencari rizki.

Ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath Thalaq: 2-3)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa bertakwa, sementara rezkinya menyempit karena terputusnya berbagai hubungan, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar berupa kecukupan.”

Dan alangkah bagusnya penafsiran Umar bin Utsman Ash Shadafi rahimahullah tentang ayat ini, “Barangsiapa yang mengikuti ketentuan-ketentuan Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya, Allah akan mengeluarkannya dari haram menuju halal, dari kesempitan menuju kelapangan, dan menghindarkan dari neraka menuju surga.”

Bahkan, tak ada sesuatu yang lebih menjamin kesejahteraan anak keturunan dibandingkan takwa. Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّـهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

 “Dan hendaklah bertakwa kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa’: 9)

Al-Qasimi rahimahullah berkata, “Di dalam ayat ini Allah menunjukkan, bahwa karena rasa takutnya meninggalkan keturunan yang lemah, para orang tua membimbing anak-anak mereka dengan takwa dalam semua perkara mereka, sehingga terpeliharalah mereka dan mendapat pertolongan dari-Nya. Ayat tersebut juga menunjukkan sisi bahaya yang mengancam anak-anak mereka, jika takwa kepada Allah sirna dari diri mereka. Ini sesuai dengan kaidah, “Dengan memelihara yang ushul (pokok) maka terpelihara pula yang  furu’ (cabang).”

Hal senada dikatakan oleh Muhammad bin Munkadir, “Sesungguhnya Allah akan memelihara seorang anak melalui seorang ayah yang shalih, seoran cucu melalui anak yang shalih pula, dan memelihara negeri di mana mereka tinggal di dalamnya serta wilayah yang mengelilinginya. Dan mereka semua senantiasa berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah.” Dan gelar shalih hanya diperuntukkan bagi seseorang yang bertakwa.

Maka, selagi kita menjalankan konsekuensi takwa dalam menjalankan segala bentuk perintah Allah, juga dalam hal meninggalkan segala bentuk larangannya, tak perlu takut akan resiko dunia. Berbesar hati dan bergembiralah dengan kemudahan yang akan didapatkan, tercapainya tujuan dan terhindar dari berbagai hal yang ditakutkan. Wallahu a’lam bishawab.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

 

Kultum Ramadhan: Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

Kultum Ramadhan

Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

 

Jerih payah perjuangan, akan terasa manis dikenang saat seseorang telah berhasil mencapai tujuan. Derita dan duka lara yang pernah dilalui pun menjadi cerita indah setelah bahagia datang. Seperti seseorang yang untuk bersekolah dan menuntut ilmu harus mengenyam pahitnya kesabaran saat belajar dan keterbatasan di negeri rantau akan senang mengenang peristiwa tersebut setelah ia sukses menyelesaikan pendidikan.

Atau seorang businesman yang harus jatuh bangun merintis usaha akan mengenang peristiwa sulit itu ssebagai kisah indah saat ia telah sukses membangun bisnisnya. Seperti juga liku-liku seseorang yang
menghadapi aral yang terjal saat menuju gerbang pernikahan, kelak ujian itu menjadi kisah romantis yang dikenang selalu. Itulah indahnya bernostalgia. Suatu cara menghibur diri dengan cara mengingat suka duka meraih sesuatu yang diimpikan.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Dari semua nostalgia yang pernah ada dan akan ada, tak ada nostalgia yang lebih indah dari nostalgia penghuni surga. Saat mereka telah bergelimang dengan kenikmatan, telah sirna penderitaan dan kesusahan, maka bernostalgia menjadi tambahan hiburan bagi mereka.

Ibnul Qayyim dalam bukunya yang fenomenal Hâdil Arwah ila Bilâdil Afrah, perjalanan ruh ke negeri kebahagiaan, memberi satu judul bab dengan kalimat, “Fî Ziyârati Ahlil Jannah ba’dhuhum ba’dha wa tadzâkurihim ma kâna bainahum fid dunya,” yakni bab tentang penghuni surga yang saling mengunjungi satu sama lain dan bernostalgia terhadap kenangan yang pernah mereka alami di dunia. Sebuah judul yang unik dan membuat kita penasaran, dasar manakah yang beliau jadikan sebagai sandaran, benarkah penghuni surga saling bernostalgia.

Mungkin kita sering membacanya, namun luput dari perhatian kita. Karena ternyata, ada ayat yang gamblang menjelaskan hal ini, yakni firman. Allah Ta’ala,

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

Allah mengabarkan bahwa penghuni surga saling berhadap-hadapan satu sama lain, mereka bercengkerama dan saling bertanya tentang suka dukanya di dunia. Lalu mereka saling bercerita dan mengenang nostalgia mereka saat di dunia. Hingga ada di antara mereka berkata, ”Sesungguhnya
aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (Ash Shaffat 50-51)

Tak ada sesuatu yang lebih indah untuk dikenang selain liku-liku mereka di dunia saat menghadapi godaan dan gangguan, dan bagaimana beratnya menahan kesabaran di dunia, hingga Allah menyelamatkan sampai di jannah. Di antara mereka ada yang hampir terpengaruh dengan bujuk rayu temannya di dunia yang menanamkan keraguan terhadapnya akan adanya hari kebangkitan di dunia.

Allah mengisahkan seorang penghuni jannah yang mengenang saat di dunia yang digoda oleh temannya,

 

قُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ ﴿٥٢ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

“yang berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan’.” (QS. ash-Shaffat: 52-53).

Ketika itu, ia pun segera mengingat temannya itu, dan ia ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang setelah di akhirat. Maka iapun berkata:

 

قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿٥٤ فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ ﴿٥٥ قَالَ تَاللَّـهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ ﴿٥٦ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ ﴿٥٧

“Maka iapun berkata, ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah naar menyala-nyala. Ia berkata (pula),”Demi Allah, sesungguhnya kamu benarbenar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke naar).” (QS. Ash-Shaffat: 54-57)

Perbincangan para penghuni surga tak hanya menyangkut pribadinya semata, tapi juga bercerita tentang suka duka keluarganya. Masih di bukuyang sama, Ibnul Qayyim membuat sub judul, “fi tadzâkuri ahil Jannah ma kâna bainahum fi Dârid dunya,” yakni tentang penduduk jannah yang bernostalgia (mengenang) di antara mereka saat di dunia. Lalu beliau menyebutkan:

 

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴿٢٥ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦ فَمَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Dan sebagian mereka menghadap sebagian yang lain, saling tanya menanya. Mereka berkata,” sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut akan di azhab. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azhab neraka.” (QS. ath-Thur: 25-27).

Ketika mereka bernostalgia, maka mereka mengenang masa-masa sulit yang mereka alami saat mencari ilmu, memahami al-Qur’an dan asSunnah. Hal ini lebih menyenangkan bagi mereka daripada kenikmatan
makan maupun minum. Bagaimana tidak, setelah mereka berada dalam satu keluarga orang yang beriman, melewati masa-masa hidup di dunia denga suka dan duka, mereka juga sempat kehilangan anggota keluarga yang dicintainya, karena memang Allah mewafatkan mereka bukan dalam waktu yang bersamaan, lalu setelah sekian lama berpisah, akhirnya Allah mengumpulkan mereka kembali di jannah.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat keluarga orang mukmin menjadi satu level dengannya, meskipun amal mereka levelnya berada di bawahnya. Itu semua agar Allah menyempurnakan kebahagiaannya. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. ath-Thur: 21).

Begitulah, Allah akan menyatukan satu keluarga orang mukmin tanpa mengurangi keutamaan salah satu di antara mereka. Tak ada yang diturunkan derajatnya untuk bersatu dengan keluarganya, justru anggota
keluarga yang berada di level bawah akan dinaikkan ke derajat yang paling tinggi di antara mereka. Alangkah indahnya pertemuan mereka ketika itu.

Alangkah mengesankan pula ketika mereka bernostalgia dan mengenang masa-masa hidup di dunia. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai di jannah-Nya, aamiin.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

Kultum Ramadhan: Kebakhilan yang Menyebabkan Kebangkrutan

Kultum Ramadhan

Kebakhilan yang Menyebabkan Kebangkrutan

 

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ وَلَا يَسْتَثْنُونَ فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

  “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan in syaaAllah, lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. lalu mereka panggil memanggil di pagi hari. Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya. Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun yang masuk ke dalam kebunmu”.

 (QS. al-Qalam: 17-24)

 

Ibnu katsier menyebutkan dari Sa’id bin Jabir rahimahullah bahwa para pemilik kebun yang dikisahkan dalam ayat tersebut tinggal di desa Dhurwan yang jaraknya 6 mil dari Shana’a. Ada pula yang berpendapat mereka adalah penduduk negeri Habasyah. Yang jelas bapak mereka adalah seorang petani yang mewariskan kebun itu untuk mereka. Mereka termasuk kalangan ahlul kitab (Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam).

Bapak mereka adalah orang yang memiliki rekam jejak yang baik dalam hidupnya. Dia menggunakan hasil kebunnya untuk modal perawatan kebunnya, sebagiannya lagi disimpan untuk kebutuhan makan keluarganya selama setahun, dan sisanya untuk di sedekahkan.

Kemudian, tatkala dia telah wafat, maka kebunnya diwariskan kepada mereka selaku ahli warisnya. Namun mereka memiliki sikap berbeda dengan ayahnya. Bahkan mereka berkata, “Bapak kita telah berbuat bodoh dan keliru karena telah memberikan sisa panen kebun untuk disedekahkan kepada orang-orang fakir. Sekiranya kita tidak memberikan sisa panen kebun kita kepada orang-orang fakir tentunya harta kita akan melimpah.”

Dengan sifat tamak tersebut, mereka bertekad untuk tidak memberikan sisa panen kebun kepada orang-orang fakir.

Mereka lupa bahwa anugerah yang Allah berikan kepada orangtua mereka itu lantaran sedekah yang ditunaikannya. Ketika kebiasaan baik orangtua mereka yang suka berderma itu diganti dengan kebakhilan, maka dicabutlah anugerah tersebut.

Maka Allah azza wa jalla menggagalkan maksud dan rencana mereka. Allah lenyapkan semua hasil panen yang sudah hampir di tangan dan di depan mata.

Apa yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an, bukan sekedar untuk dinikmati alurnya. Akan tetapi mengandung peringatan bagi orang-orang yang bertindak semisal yang tersebut dalam kisah, maka akan mengalami akibat yang serupa.

Sisi cela yang dimiliki oleh para pemilik kebun itu adalah kelalaian mereka terhadap kehendak dan kekuasaan Allah. Seakan penentu rejeki adalah hasil kerja kerasnya semata. Hingga ketika dalam perhitungan mereka masa panen telah datang, merekapun berencana dengan perencanaan seakan tak ada apa atau siapapun yang menghalangi panen raya. Merekapun tidak mengucapkan kata ‘in syaAllah’ (jika Allah menghendaki). Mereka lupa bahwa sehebat apapun perhitungan, perencanaan maupun ikhtiar manusia takkan terwujud jika Allah tak menghendaki. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS at-Takwir 29)

Karena kelalaian terhadap kehendak dan kekuasaan Allah, mereka juga mengandalkan perhitungan logis semata, bahwa dengan menahan pemberian kepada si fakir maka hitungan hasilnya lebih banyak daripada jika dikurangi dengan sedekah. Padahal, Allah telah menjadikan sedekah sebagai salah satu wasilah untuk datangnya rejeki dan karunia. Dan bahwa sifat tamak tak akan menambah kekayaan dan bahkan kebakhilan menjadi penyebab kebangkrutan. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “

“Tiada datang pagi hari atas manusia melainkan ada dua malaikat turun, di mana salah dari keduanya berdoa, “Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi orang yang berinfak,  dan yang kedua berdoa, “Ya Allah buatlah bangkrut  orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Kultum Ramadhan, Takkan Mati Sebelum Habis Jatah Rezeki

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, “Ketika seorang laki-laki berada di tempat yang sunyi, dia mendengar suara awan, ‘Siramilah kebun fulan.’ Lalu awan itu berjalan dan menumpahkan airnya di tanah yang banyak bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air yang telah dipenuhi oleh air hujan. Laki-laki itu menelusuri jalannya air. Ternyata ada seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya, dia mengalirkan air dengan cangkulnya. Dia bertanya, “ Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Dia menjawab, “Fulan.” Nama itulah yang didengarnya dari suara awan.

Petani itu balik bertanya, “Wahai hamba Allah, mengapa kamu bertanya tentang namaku?” Dia menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang telah tumpah airnya di sini. Suara itu berkata, “Siramilah kebun Fulan!” Apa sebenarnya yang Anda  lakukan?”

Dia menjawab, “Tentang pertanyaan Anda itu, saya memiliki kebiasaan ketika panen hasil kebunku. Sepertiganya aku sedekahkan, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga siasanya aku kembalikan kembali (untuk menanam).” (HR. Muslim)

Maka tak ada cara mendatangkan keberkahan rejeki melebihi tawakal kepada Allah dan menggunakan cara-cara yang Allah kehendaki semisal sedekah. Semoga Allah memudahkan rejeki kita dan memberkahinya. Aamiin.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

Kultum Ramadhan: Ketika Setan Menjadi Teman

Kultum Ramadhan:

KETIKA SETAN MENJADI TEMAN

 

Salwa al-Udlaidan menyebutkan kisah dalam bukunya “Hakadza hazamu al-Ya’sa” bahwa ada seorang salaf yang rontok semua rambut kepalanya, belang kulitnya, buta kedua matanya, dan lumpuh kedua tangan dan kakinya. Meskipun begitu keadaannya, dia berucap, “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari penyakit yang menimpa kebanyakan dari makhluk-Nya, dan melebihkan keadaanku dari keadaan mereka.”

Mendengar ucapan ini, seseorang keheranan dan bertanya, “Dari penyakit apa Allah menyelamatkan Anda, sedangkan Anda dalam keadaan buta, belang, rontok rambut kepala dan lumpuh? Nikmat manakah yang Allah lebihkan Anda dari orang lain?” Iapun menjawab, “Wahai kisanak, Allah telah menjadikan lisanku sehat untuk berdzikir, hati yang bisa bersyukur dan badan yang sabar menanggung cobaan.” Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ{ [الزخرف:36].

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS az-Zukhruf 36)

Begitulah orang yang telah merasakan kecintaan kepada Allah dan manisnya ketaatan kepada-Nya. Yang menjadikan keridhaan Allah sebagai barometer keberuntungan dan kebahagiaan. Apapun derita fisik dan cobaan duniawi terasa ringan selagi ia dekat dengan Allah. Ini mengingatkan kita akan ‘curhat’ Nabi shallallahu alaihi wasallam saat dakwahnya ditampik oleh penduduk Tha’if, bahkan dibalas dengan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Beliau berdoa,

 

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي إِلَى عَدُوٍّ يَتَجَهَّمُنِي أَمْ إِلَى قَرِيبٍ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي! إِنْ لَمْ تَكُنْ غَضْبَانًا عَلَيَّ فَلاَ أُبَالِي، إِنَّ عَافِيَتَكَ أَوْسَعُ لِي

“Ya Allah, kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia wahai Yang paling pengasih di antara para pengasih. Ya Arhamar Raahimin, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku, apakah orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasaiku, selagi Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Karena teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku.” (HR Thabrani)

Segala musibah itu kecil, selagi Allah ridha terhadapnya. Karena dampak dari keridhaan Allah adalah kebahagiaan hakiki yang lebih nyata, sempurna dan lestari selamanya. Begitu pula sebaliknya, tidaklah berarti segala kenikmatan dunia dimiliki sementara Allah murka terhadapnya. Hatinya akan gelisah tak jelas pangkal dan ujungnya. Hati akan diliputi  kegelisahan, dan cepat atau lambat Allah akan mencabut nikmatnya dan menggantikannya dengan niqmah (bencana).

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Hama Pahala di Bulan Mulia

Maka tak ada musibah yang lebih besar bagi manusia, melebihi musibah berupa jauhnya ia dari Allah. Ketika ia tidak mau mendekat kepada Allah, tidak mau mengingat dan mengindahkan titah dan larangan-Nya, maka Allah menguasakan mereka kepada setan. Inilah sunnatullah yang berlaku sebagai balasan yang setimpal bagai orang yang tak mau diuntung.

Pernah suatu kali Sufyan bin Uyainah berkata, “Tidaklah ada kata-kata bijak yang masyhur di kalangan Arab, melainkan saya bisa menyebutkan firman Allah yang lebih bagus tentangnya.” Lalu seseorang berkata, “Bagaimana dengan kata-kata, “A’thi akhaka tamratan, fainlam yaqbal fa’thihi jamratan”, berilah saudaramu tamrah (kurma), jika tidak mau menerima, beri saja jamrah (bara api), ayat mana yang semisal dengan ini?”

Maka beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ{ [الزخرف:36].

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya seitan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az-Zukhruf: 36)

Ketika seseorang tidak mau diuntung dengan cara mendekat dan taat kepada Allah, maka ia akan menjadi buntung, tersesat dalam tawanan setan. Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menyebutkan, ketika segolongan manusia enggan menegakkan shalat jamaah yang merupakan bentuk taqarrub kepada Allah yang paling nyata, maka Allah biarkan setan akan menguasai mereka,

 

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَة

“Tiada tiga orang dalam satu desa, atau pegunungan, lalu tidak ditegakkan shalat jamaah di tengah mereka, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala akan memangsa kambing yang sendirian.” (HR Abu Dawud)

Musibah mana yang lebih besar dari musibah manusia yang telah ditawan oleh setan, hingga setanlah yang menjadi pemimpinnya, yang mengarahkan langkah dan memandu jalannya. Telah nyata bahwa setan adalah musuh sejati manusia, sama sekali tak berpihak kepada manusia, dan tak sedikitpun bermaksud baik kepadanya. Setiap intruksi dan order dari setan terhadap pengikut dan tawanannya adalah uapaya menggiring mereka menuju jurang binasa. Allah berfirman,

 

 إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Wallahu a’lam bishshawab.

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

kultum Ramadhan: Takkan Mati Sebelum Habis Jatah Rezeki

Syaikh Shalih al-Maghamisi dalam sebuah ceramahnya menceritakan, ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur. Ia pun berteriak minta tolong. Orang-orang mendengar teriakannya, lalu berhasil mengeluarkan orang itu dari sumur dalam keadaan selamat. Seseorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminumnya dan menenangkan keadaannya.

Setelah tenang, orang-orang bertanya,  “Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur?”

Mulailah orang itu bercerita, lalu ia berdiri di bibir sumur untuk mempraktikkan kronologi saat ia terjatuh ke dalam sumur. Qadarullah, tanpa sengaja orang itu terjatuh lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati.

 

Begitulah, orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia, yakni satu gelas susu untuknya. Maka setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat yang sama kemudian mati.

Pesan dari kisah ini adalah bahwa manusia telah ditetapkan rezekinya dengan kadar tertentu. Maka tidak pantas seseorang merisaukan rezekinya di dunia. Karena tidak akan terkurangi sedikitpun jatah rezekinya, tidak pula akan tertukar dengan orang lain. Cukup bagi seseorang untuk mengoptimalkan ikhtiar dan sebab, sedangkan Pemberi rezeki adalah Allah. Tak ada rezeki yang akan tercecer, dan seseorang tidak akan mati sebelum menghabiskan jatah rezekinya di dunia.

Allah memberikan jaminan atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi makhluk hidup lain seperti hewan. Tersedia rezeki bagi mereka dari sejak lahir hingga mati. Sebagaimana Allah berfirman:

 

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [هود: 6]

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Hud: 6).

Tak ada sesuatu apa yang mampu menghalangi sampainya rezeki kepada seseorang jika memang itu menjadi jatahnya. Begitupun tak ada suatu usaha atau pertolongan seorang pun yang mampu menyampaikan rezeki kepada seseorang jika memang bukan menjadi bagiannya. Karena Allah yang memiliki kuasa dan kewenangan untuk membagi rezeki kepada semua makhluknya. Inilah di antara makna dari firman Allah:

مَّا يَفْتَحِ اللَّـهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

Keyakinan ini akan membuat orang-orang yang beriman menghindarkan diri dari cara-cara haram untuk mendapatkan rezekinya. Karena toh, usaha haramnya tak menambah sedikit pun dari total rezeki yang Allah tetapkan untuknya. Sedangkan ia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya di dunia. Berarti, usaha yang haram tidak menambah selain dosa dan penderitaan di akhirat.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Kenyang di Dunia, Lapar di Akhirat

Karena hanya Allah yang berhak menetapkan kadar rezeki manusia, maka Allah hanya memerintahkan manusia untuk mencari karunia Allah dan mengelola apa yang Allah anugerahkan sesuai dengan kehendak-Nya. Dan kelak, seseorang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat; dari mana ia mendapatkan harta dan untuk apa ia pergunakan hartanya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ» هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Tidak akan beranjak kedua kaki anak Adam pada hari Kiamat, hingga ia ditanya; tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang jasadnya untuk apa ia pergunakan.” (HR. Tirmidzi).

Allah tidak akan menyoal berapa harta yang mampu didapatkan atau berapa uang yang berhasil dikumpulkan oleh manusia. Karena hal itu di luar kemampuan manusia dan mutlak menjadi kewenangan Allah semata.

Meski telah ada jaminan rejeki dari Allah, bukan berarti manusia boleh berpangku tangan, lalu menanti datangnya rezeki yang kita ingikan. Tugas kita adalah memperbagus cara mengambil rezeki, dan padanya terdapat pahala ibadah. Allah memerintahkan pada banyak ayat, baik tersurat maupun tersirat agar manusia bekerja mencari karunia-Nya, wabtaghu min fadhlillah, dan hendaknya kalian mencari karunia dari Allah.

Perintah tawakal kepada Allah, sama sekali juga tidak menghilangkan keharusan ikhtiar, karena ikhtiar adalah bagian yang tak terpisahkan dari tawakal. Sebagaimana pelajaran yang bisa diambil dari hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

 

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, dimana ia keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu di sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, shahih).

Imam Ahmad menjelaskan hadits tersebut, “hadits ini tidak menunjukkan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari itu demi mencari rezeki.” Wallahu a’lam.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

 

Kultum Ramadhan: Bahaya Dosa Jariyah, Terus Mengalir dan Bertambah

Mundzir meriwayatkan dari Ibnu al-Hanifiyah bahwa dahulu Abu Jahal dan para dedengkot Quraisy memprovokasi orang-orang yang telah didakwahi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan masuk Islam. Mereka berkata, “Muhammad mengharamkan khamr, zina dan mengharamkan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Arab, maka kembalilah kalian (murtad dari Islam), biarlah kami nanti yang akan memikul dosa-dosa kalian…” Lalu turunlah ayat,

 وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ 

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) disamping beban-beban mereka sendiri…” (QS. al-Ankabut: 13)

Mujahid bin Jabr rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, “Mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya, yakni memikul dosa-dosanya sendiri ditambah dosa semua orang yang mengikuti seruannya, tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya.”

Hingga meskipun para penyeru kesesatan itu sudah mati, sedangkan para pengikutnya masih hidup dan berbuat maksiat seperti arahan penyeru itu. Maka para penyeru itu turut memikul dosa-dosa yang dilakukan oleh para pengikutnya. Inilah yang disebut dengan dosa jariyah, dosa yang terus mengalir meskipun pelakunya sudah mati.

Baca Kultum Lainnya: Yang Mengerikan di Bulan Ramadhan

Maka jangan heran, jika ada orang-orang yang pulas tertidur namun kalkulasi dosa terus bergulir. Bahkan ketika jasad telah kaku terbujur, catatan dosa belum berakhir. Hingga pun ia masuk ke dalam kubur, kiriman dosa datang bergilir. Duhai celakanya orang yang telah mati, namun dosanya lebih panjang umurnya daripada pelakunya.

Begitulah resiko menjadi trendsetter dosa, pioner maksiat dan siapapun yang ikut andil menyebarkan kesesatan dan kamaksiatan. Mereka turut menanggung dosa orang-orang yg mengikutinya. Mereka turut memikul dosa orang lain yang bermaksiat, karena ia memiliki saham dalam menyebarkannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 

وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi dosa pengikutnya sama sekali.” (HR. Muslim)

Ambil contoh, ada seseorang yang menggubah sebuah karya lagu yang berisi ajakan keburukan atau menggiring kepada kemesuman, atau berupa kata-kata jorok yang mengandung nilai dosa. Ia berbangga ketika akhirnya lagu itu populer dan digandrungi semua khalayak. Ia juga merasa beruntung dengan besarnya royalti yang bisa dikantongi karena hasil karyanya. Ketika itu ia lupa, bahwa dia juga berhak mendapatkan royalti dosa setiap kali ada yang menirukan lagu ciptaannya yang mengandung dosa.

Dirinya tidur nyenyak sementara lagu ciptaannya dinyanyikan orang lain, dan terus ‘mencetak’ dosa yang akan ia pikul di akhirat. Bahkan, meskipun dirinya telah masuk ke dalam kubur, wal ‘iyadzu billah. Termasuk jika ada orang yang berbuat dosa karena terinspirasi oleh nyanyian itu, sebagai inspirator akan terkena dampaknya.

Ini mengingatkan kita akan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِق

“Sesungguhnya ada orang yang mengucapkan satu ucapan yang dia tidak berfikir (baik buruknya), ternyata ucapan itu melemparkan ia ke neraka yang jauhnya melebihi antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana satu ucapan bisa berdampak begitu berat? Bisa jadi, kata-kata itu mengandung kemungkaran yang besar, atau bisa jadi pula ucapan itu tersebar luas sehingga banyak orang yang terjatuh ke dalam dosa lantaran ucapan itu. Sementara ia tidak memikirkan dampaknya saat berucap, wal ‘iyadzu billah.

Contoh lain, ketika ada seseorang mempublikasikan foto atau film yang mengandung kemaksiatan, maka ia memikul dosa semua orang yang menyaksikan. Pun tidak mengurangi dosa orang yang menyaksikan. Padahal, sekarang betapa mudah menyebarluaskan konten apapun di era ini; internet, facebook, youtube, What’s App, Instagram serta sarana lain yang mudah untuk diakses.

Begitupun ketika seseorang membuat suatu tren atau tradisi dengan konten kesesatan. Sebagai pelopor, maka ia memikul semua dosa orang yang melestarikan tradisi itu, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Dan barangsiapa yang mempelopori dalam Islam ini suatu tradisi yang buruk, maka baginya dosa yang ia lakukan dan juga menanggung dosa orang-orang yang mengikuti setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Semestinya kita berhati-hati saat berucap dan bertindak, apalagi kita berada di era informasi yang dengan mudah segala hal menular kepada banyak orang. Jangan sampai kita menganggap remeh, padahal di sisi Allah adalah perkara besar, wallahu a’lam bishawab.

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

 

Kultum Ramadhan: Semangat Hingga Tamat

Banyak orang lebih bersemangat di awal program kebaikan, tapi loyo di akhir kesempatan, para salaf yang shalih justru lebih semangat lagi di momen-momen akhir setiap peluang. Dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa penentu hasil itu ada di akhir. Umur manusia manusia misalanya,  yang paling menentukan adalah di akhir-akhir kehidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ﺇﻧَّﻤَﺎ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﺨَـﻮَﺍﺗِﻴْﻢُ

“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. (HR Bukhari)

Bahkan jika di awal-awal seeorang melakukan kesalahan dan banyak keteledoran, niscaya dosanya diampuni  jika dia bertaubat dan berkesempatan meraih derajat tinggi jika optimal dengan kebaikan di akhir kesempatan. Karena itulah, orang yang wafat dalam keadaan baik, maka disebut dengan husnul khatimah, akhir atau penutupuan yang baik.

Sebaliknya, meskipun nyaris sepanjang umur manusia melakukan ketaatan danbanyak amal shalih, namun ketika di akhirnya ia murtad atau lebih dominan maksiat, maka ia berakhir dengan suul khatimah, akhir yang buruk dan terancam dengan neraka. Begitulah urgensi amal di penghujung kesempatan.

Baca Juga: Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu

Jika malam dibagi menjadi tiga, maka sepertiga malam yang terakhir adalah waktu terbaik bermunajat dan shalat. Bahkan Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan, “Riawayat ini dibawakan oleh Al Bukhari pada bab yang menerangkan mengenai keutamaan berdoa pada waktu tersebut hingga terbit fajar Shubuh dibanding waktu lainnya.”

Ibnu Baththal dalam Syarah Bukhari berkata, “Waktu tersebut adalah waktu yang mulia dan terdapat dorongan beramal di waktu tersebut. Allah Ta’ala mengkhususkan waktu itu dengan nuzul-Nya (turunnya Allah). Allah pun memberikan keistimewaan pada waktu tersebut dengan diijabahinya doa dan diberi setiap  yang diminta.”

Dalam menjalani amal yang berhubungan dengan Ramadhan juga begitu. Selama 29 atau 30 hari ramadhan, maka hari-hari terakhir sangat menentukan hasil dan penentu kesuksesan Ramadhan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan yang disebut dengan lailatul qadar juga berada di sepertiga hari ramadhan yang terakhir.

Di penghujung Ramadhan seringkali berkecamuk perasaan; antara ingin segera beriedul fithri dan rasa ingin tetap bersama Ramadhan. Mungkin di antara hikmah bahwa ramadhan tak lama adalah agar jiwa senantiasa setia dan merindukan ia kembali tiba. Sungguh, hakikat cinta bukan semata perasaan bahagia ketika hendak bersua, tapi juga perasaan duka ketika hendak berpisah dengannya. Dan sejatinya cinta ialah yang tak ingin melewatkan sedetikpun waktu berlalu tanpa membersamai yang dicintai di hari-hari terakhirnya.

Sebagian salaf tampak bersedih ketika hari raya Iedul Fitri, lalu dikatakan kepadanya:Ini adalah hari kesenangan dan kegembiraan. Dia menjawab, “Kamu benar, akan tetapi aku adalah seorang hamba yang diperintah oleh Rabbku untuk beramal karenaNya, dan aku tidak tahu apakah Dia mengabulkan amalku atau tidak?

Baca Juga: Buta Hati Di Dunia, Buta Mata Di Akhirat

Karena itulah para salaf dahulu sangat serius memberikan perhatian di akhir ramadhan. Mereka masih tetap fokus hingga tamat. Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah sebagaimana uang disebutkan dalam Hilyatul Auliya berkata, “Berbuat baiklah di sisa-sisa Ramadhan niscaya diampuni (kesalahanmu) yang telah berlalu, maka manfaatkanlah hari-hari yangg tersisa, karena Anda tidak tahu kapan bisa meraih rahmat Allah untukmu.”

Mereka menganggap bahwa Ramadhan adalah perlombaan dalam ibadah dan kebaikan. Sedangkan peserta lomba tentu akan lebih power full dan mencurhakan segala kemampuannya ketika mendekati finishnya. Ibnul al-Jauzi berkata, “Sesungguhnya kuda pacu apabila mendekati batas finish ia akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk memenangkan perlombaan.Maka, jangan sampai kuda pacu menjadi lebih cerdas darimu.”

Maka selayaknya, semakin dekat dengan kesempatan terakhir, makin gigih dalam melakukan ketaatan. Seperti Qatadah, di luar bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur`an tujuh hari sekali. Memasuki bulan Ramadhan mengkhatamkannya tiga hari sekali. Bahkan, di sepuluh terakhir, ia mampu mengkhatamkan al-Qur`an satu kali setiap malam.

Teladan terbaik adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang makin gigih di kesempatn-kesempatan terakhir.

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Amalan paling istimewa dan waktu yang paling agung keutamannya adalah lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan umatnya untuk berjaga-jaga akan datangnya malam lailatul qadar,

 

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan, “Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.”

Begitupun menghidupkan malam dengan shalat sunnah, membaca al-Qir’an, istighfar dzikir dan semisalnya termasuk dikatakan berjaga-jaga akan hadirnya malam lailatul qadar.

Intinya, tetap fokus dengan amal taat hingga tamat. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan 

Kultum Ramadhan: Indahnya Adzan di Mata Generasi Pilihan

Adzan adalah syiar yang agung, tiada yang membencinya selain setan dan orang-orang rendahan yang mengikuti jejak setan yang anti terhadap adzan. Allah menyebut kurang akal siapapun yang memperolok adzan, sebagaimana firman-Nya.

“Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. al-Maidah: 58)

Dan beberapa waktu ini makin banyak orang yang berani meremehkan adzan; tidak menyambutnya, ada yang mengaku muslim tapi merasa terusik dengan mendengarnya bahkan ada yang secara ugal-ugalan memperolok-olok adzan.

Adapun orang-orang shalih di kalangan generasi terbaik sangat mengistimewakan panggilan adzan. Karena mereka memahami makna adzan dan menghayatinya, hingga sangat tampak sekali respek mereka terhadap adzan.

Baca Juga: Perlombaan Menuju Puncak Kemuliaan

Di zaman sahabat misalnya, Ibnu Katsier rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa suatu kali sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang sewaktu di pasar. Di mana tatkala adzan untuk shalat dikumandangkan, serta merta mereka tinggalkan perniagaan mereka, dan mereka berbondong-bondong mendatangi undangan shalat. Melihat pemandangan ini, Abdullah bin Mas’ud bergumam, “Mereka inilah yang dimaksud oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nuur: 37).

Abu Hurairah radhiallahu’anhu meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki buta datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallahua’alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang yang menuntunku ke masjid (untuk shalat berjama’ah).” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk diijinkan shalat di rumah. Maka (di awalnya) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam membolehkannya, kemudian ketika orang itu akan pulang, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar seruan adzan untuk shalat (berjama’ah)?”. Orang itu menjawab: Iya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Kalau begitu datanglah ke masjid.” (HR Muslim

Demikian pula para Shahabat lainnya radhiallahu’anhum, memberikan teladan yang sempurna dalam masalah ini, seperti ucapan ‘Adi bin Hatim ath-Tha’i radhiallahu’anhu: “Tidaklah dikumandangkan shalat sejak aku masuk Islam, kecuali aku dalam keadaan sudah berwudhu”.(Siyaru a’lam)

Kemudian generasi tabi’in yang datang setelah para Shahabat Shallallahua’alaihi Wasallam, mereka juga menampilkan sebaik-baik teladan dalam menyambut seruan adzan. Bagi mereka, adzan adalah panggilan mulia yang mengetuk hati dan menggugah nurani. Ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang beriman ketika dimudahkan untuk menyahut dan menyambut panggilan adzan. Seperti yang dialami oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang sering menangis haru di masjid ketika mendengar adzan hingga lantai di hadapannya basah oleh air matanya. Betapa tidak, hakikatnya adzan adalah ‘undangan’ dari Sang Pencipta, Maha Pemberi Karunia. Adapun muadzin hanyalah penyampai ‘undangan’ dan bukan Pemilik undangan. Bukankah suatu kehormatan ketika seseorang bisa hadir mendatangi undangan dari Yang Maha mulia? Undangan yang jauh lebih bergengsi dari undangan resepsi para pejabat maupun raja.

Sa’id bin Musayyib rahimahullah, imam ternama dari generasi tabi’in sangat menghargai undangan ini, memprioritaskannya dari sekian banyak undangan, hingga beliau hadir lebih awal. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah daam ats-Tsiqaat, “Beliau termasuk pemuka para tabi’in dalam pemahaman agama, sifat wara’, ilmu, ibadah dan kemuliaan. Selama empat puluh tahun, tidaklah dikumandangkan adzan shalat kecuali Sa’id bin al-Musayyab telah berada di masjid menanti shalat berjama’ah.”

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Semua Maslahat

Hilal bin Isaf bercerita saat dia bersama Mundzir Ats-Tsauri menjenguk Rabi’ bin Khutsaim radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, “Setelah lama berbincang-bincang, terdengar lantunan adzan Dzuhur. Bersamaan dengan itu puteranya datang, lalu Syeikh berkata kepadanya, “Mari kita sambut panggilan Allah.” Puteranya berkata kepada kami, “Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan kepada kalian.” Kemudian kami memapahnya bersama-sama sehingga beliau bisa bergantung di antara aku dan puteranya pada saat berjalan. Mundzir berkata,”Wahai Abu Yazid, bukankah Allah Ta’ala memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda untuk shalat di rumah?” Beliau menjawab, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju keberuntungan!” Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

Benar apa yang beliau katakan, selain panggilan shalat, adzan juga merupakan ajakan untuk menjadi orang yang sukses, bahagia, menang dan beruntung. Seluruh pengertian ini terkandung dalam kata “al-falah’ ketika diserukan ”hayya ’alal falah”, marilah menuju keberuntungan. Alangkah agung ajakan ini. Tak ada orang berakal yang layak meremehkan ajakan ini. Seruan keberuntungan inilah yang mendorong seorang ulama tabi’in untuk tetap menyambut seruan adzan, meskipun harus dipapah puteranya karena sakit. Bahkan meskipun harus datang dengan merangkak.

Berlanjut ke generasi tabi’ut tabi’in. Mereka juga menyambung estafet kemuliaan dalam menyambut seruan adzan. Sebut saja Ibrahim bin Maimun Ash-Sha’igh, seorang shalih dari generasi tabi’ut tabi’in selalu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar adzan. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengisahkan biografi beliau dalam Tahdzib at-Tahdzib, bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam. Setiap kali beliau telah mendengar seruan adzan untuk shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tak lagi mengayunkannya. Beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat. Karena bagi beliau, adzan adalah panggilan dari Dzat yang memiliki kuasa segalanya atas dirinya. Bagaimana mungkin ia berani menundanya?

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Pribadi Luhur, Laksana Tanah yang Subur

Ada pribadi luhur, yang memiliki sifat keutamaan karena ilmunya, amalnya maupun dakwahnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka laksana tanah yang subur. Beliau bersabda,

“Perumpamaan petunjuk dan ilmupengetahuan yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak.” Lalu Nabi menyebutkan ciri-ciri pribadi tersebut,

فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلّمَ

“Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya.” (HR> Bukhari dan Muslim)

Inilah pribadi yang paling sempurna dalam menunaikan amanah ilmu. Ia ibarat tanah yang subur. Saat turun air hujan, dia mampu
menyerapnya sehingga air itu menjadi nutrisi yang membuat dirinya menjadi lebih ‘hidup’. Lalu dari tanah itu tumbuhlah tanaman-tanaman yang menghasilkan daun, buah ataupun biji-bijian yang bermanfaat bagi makhluk hidup lain, seperti manusia dan hewan.

Begitulah pribadi yang luhur. Saat jalan hidayah sampai kepadanya ia menyambut dengan suka cita. Ketika datang ilmu menghampiri dirinya, dia serap dengan begitu antusiasnya. Maka dengan ilmu maupun hidayah itu ia menjadi hidup setelah matinya, atau lebih sehat dari keadaan semula. Ia juga seperti orang yang bisa melihat setelah tadinya buta. Allah berfirman,

“Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia…” (QS. al-An’am)

Baca Juga: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Yaitu mendapat petunjuk, bagaimana menempuh jalan yang dilaluinya dan bagaimana dia harus berbuat. Sedangkan cahaya yang dimaksud aalah al-Qur’an, sebagai sumber ilmu dan petunjuk. Ilmu dan hidayah yang diserap itu tak hanya membuatnya menjadi hidup dan mengetahui jalan yang benar, namun juga membuahkan hasil yang bisa dipetik oleh orang lain. Buah berupa amal dan akhlak yang
baik, juga berupa pengajaran dan bimbingan yang dengannya umat menjadi terbimbing ke jalan benar.

Sebagaimana tanah subur menjaga amanah hujan agar sesuai dengan faidah diturunkannya, maka pribadi luhur yang memiliki karakter ini juga mampu menjaga amanah ilmu dari awal hingga akhirnya.

Karena dia sadar, bahwa ilmu adalah amanah, dan kelak ia akan dimintai tanggungjawabnya. Kelak, sebelum kedua kaki anak Adam
beranjak pada hari Kiamat, ia akan ditanya tentang empat perkara; dan salah satunya adalah,

وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِم

“dan perihal ilmunya, apakah yang telah ia kerjakan dengannya.” (HR. Tirmidzi)

Pribadi laksana tanah subur ini menjaga dan mengawal amanah ilmu dengan tiga cara; Pertama, dia menyerap segala ilmu yang
bermanfaat. Sebagaimana kesuburan tanah diawali dengan menyerap air hujan, maka kebaikan manusia juga diawali dari ilmu syar’i.
Rasulullah bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR> Bukhari dan Muslim)

Maka barang siapa yang mendapat anugerah pemahaman terhadap ilmu syar’i, berarti ia telah mendapatkan anugerah yang agung. Sebagaimana firman Allah, “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [QS. An-Nisa’: 113]

Amanah yang kedua terkait dengan ilmu adalah mengamalkannya. Dan ini adalah tujuan ilmu yang sesungguhnya. Karenanya, seseorang belum dikatakan berilmu sebelum dia mengamalkan ilmunya. Innamal ‘aalimu man ‘amila bimaa alima, Orang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah dia ketahui ilmunya.

Baca Juga: Al-Quran Bukan Bacaan Biasa

Amanah yang ketiga adalah mengajarkan kepada yang lain. Tak harus menunggu sempurna ilmu untuk menyampaikan. Bahkan tidak dipersyaratkan untuk sempurna dalam hal amal untuk mengajarkan kepada yang lain. Hasan al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin ‘Abdillah, “Nasihatilah sahabatmu”. Ia menjawab, “Tapi saya takut menyuruh seseorang sementara saya tidak berbuat.” Hasan al-Bashri berkata,

“Semoga Allah merahmatimu, apakah ada di antara kita yang mampu melakukan semua yang dikatakannya? Setan sangatlah ingin
mendapatkan bagian dari alasan semisal ini, hingga tidak ada seorang pun yang berani menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah
kemunkaran.”

Hal senada diungkapkan oleh Sa’id bin Jubair rahimahullah, “Seandainya seseorang tidak boleh mengajak kepada kebaikan dan
mencegah kemunkaran hingga tidak ada dosa sedikitpun padanya, niscaya tidak ada seorang pun yang akan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.”

Hanya saja, hendaknya seseorang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu, berusaha kerasa untuk mengamalkan, dan bermujahadah untuk mengajarkan kepada yang lain. Inilah tipe kepribadian luhur laksana tanah yang subur. Orang yang mendapatkan derajat luhur sebagai orang yang berilmu seperti yang Allah firmankan, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11)

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan dari Ibnu Abbas dan Muqatil yang meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, di dunia ini saya adalah orang yang buta, apakah di akhirat saya juga akan buta? Lalu turunlah ayat,

 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada..” (Al-Hajj: 46).

Yakni barangsiapa di dunia hatinya buta terhadap Islam, maka di akhirat dia akan masuk neraka. Demikian dijelaskan oleh al-Qurthubi.
Tak semua orang yang memiliki kelengkapan indera mampu menangkap kebenaran. Bukan karena lemahnya indera, namun karena cacatnya iradah (kemauan) untuk mencari kebenaran, atau lebih suka menggunakan inderanya sesuai keinginan nafsunya, bukan sesuai kehendak Penciptanya.

Semestinya dengan indera mata, mereka bisa membaca ayat-ayat Qur’aniyah yang menunjukkan kebenaran secara terang benderang. Mereka juga bisa melihat ayat-ayat Kauniyah, sehingga bisa memahami dahsyatnya penciptaan yang otomatis menunjukkan keagungan Penciptanya.

Mereka tidak menggunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar dan akalnya untuk memahami kebenaran, hingga mereka tidak mengenalnya dan tidak pula berpihak kepada kebenaran. Bukan inderanya yang lemah, tapi yang buta dan tuli adalah hatinya.

Baca Juga: Qalbun Salim, Hati yang Selamat dari Syubhat dan Syahwat

Mereka adalah orang yang tak mau tahu petunjuk Allah yang seharusnya menjadi panduan hidup manusia. Tidak mau membaca al-Qur’an, tidak pula sudi mendatangi majelis ilmu sehingga mendengarkan petunjuk yang terkandung dalam al-Qur’an. Mereka lebih suka
menggunakan mata, telinga dan pikirannya untuk yang lain sembari berpaling dari al- Qur’an.

Buta hati adalah sebenar-benar bencana, karena dengannya seseorang tidak bisa mengenali nikmat Allah atas dirinya. Dia tidak juga membedakan mana jalan menuju keselamatan dan mana jalan yang menjerumuskan kepada kesengsaraan. Yang baik dikatakan buruk dan sebaliknya, yang semestinya musuh malah dijadikan teman, dan begitulah semua barometer bisa terbolak-balik.

Meski di dunia mereka melek matanya, namun kelak di akhirat, Allah akan bangkitkan mereka dalam keadaan buta lantaran hatinya buta saat di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَن كَانَ فِي هَـٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS al-Isra’ 72)

Qatadah menjelaskan ayat tersebut, “Barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap nikmat-nikmat Allah, juga terhadap bukti penciptaan dan keagungan- Nya, maka di akhirat dia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya.”

Baca Juga: Dari Mata Turun ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Sedangkan Ibnu Katsier menjelaskan dari sudut panang yang lain, “Yakni barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Allah adalah Esa dalam mencipta dan mengurus makhluknya, maka dalam hal akhirat yang tak kasat mata tentu dai lebih buta dan ebih sesat.”

Gejala buta hati di dunia bisa dilihat dari fokus perhatian dan usahanya. Yang mereka lihat, dengar dan pikirkan hanya dunia semata. Mereka tidak pedulikan urusan akhirat, seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum:7)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di berkata, “Pikiran mereka hanya fokus dengan urusan dunia sehingga lalai terhadap urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak pula takut akan neraka. Inilah tanda kebinasaan mereka, bahkan dengan akalnya mereka tidak bisa meraba. Usaha mereka memang menakjubkan seperti kemampuan menemukan atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada kaum lain yang mampu menandinginya, sehingga orang lain begitu remeh dalam pandangan mereka. Akan tetapi sayang, mereka jahil dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya justru akan membinasakan dirinya.”

Maka Allah membenci orang yang hanya pandai dalam hal dunia, atau bahkan menjadi seorang pakar, namun dia jahil dalam urusan
agamanya. Amat disayangkan jika seseorang mampu menempuh jenjang strata-3 dalam hal ilmu dunia, namun pengetahuan agamanya
tidak beranjak dari level TK. Rasulullah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”.
(HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albani)

Ini tidak menunjukkan bahwa ilmu dunia itu cela, akan tetapi sisi celanya adalah ketika seseorang tidak mau belajar tentang ilmu akhirat. Tapi, ilmu akhiratlah yang bisa menunjukkan agar ilmu dunianya bisa berfaidah untuk dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat.

Tanpanya, kepandaiannya bisa jadi akan menjadi bumerang bagi dia. Mungkin akan menyalahgunakan ilmu, atau setidaknya dia tidak mendapat pahala apa-apa dengan jerih payah dan usahanya, karena tidak ada panduan bagaimana keahlianya bisa bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Semoga Allah anugerahkan kita kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Kenyang di Dunia, Lapar di Akhirat

Berlebihan saat makan bukanlah sifat orang-orang yang berjalan menuju Allah. Demikian pula orang yang senantiasa memperturutkan nafsu perutnya tanpa menimbang statusnya. Allah berfirman;

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)

Perintah untuk memperhatikan makanan tentunya mencakup proses dan setatus kehalalannya. Makanan yang halal dan baik akan bermanfaat dan memberikan energi pada tubuh sehingga ia bisa melaksanakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah.

Sebaliknya, makanan yang rendah kualitasnya dan haram cara mendapatkan maupun bendanya tentu akan mendatangkan penyakit, melemahkan badan, dan tentunya menyebabkan dosa. Tidak diterima amal ibadahnya dan tidak ijabah doanya. Rasulullah telah pula mengingatkan umatnya untuk tidak memenuhi nafsu perutnya. Beliau bersabda sebagaimana disampaikan oleh Miqdam bin Ma’dikarib,

 

عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Dari Miqdam bin Ma’dikarib berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Manusia tidak memenuhi wadah yang buruk melebihi perutnya, cukup bagi manusia beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya. Bila tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi)

Banyaknya makan bukanlah sifat terpuji bagi seorang muslim. Orang yang banyak makannya, akan banyak minumnya. Orang yang banyak minumnya, ia akan banyak tidurnya, maka akan banyak dagingnya. Orang yang banyak dagingnya, maka akan keras hatinya, maka akan tenggelam dalam lumpur dosa.

 

Kenyang di Dunia

Rasulullah dan para shahabat lebih memilih lapar tenimbang hidup berlimpah makanan. Bukan karena tak memiliki makanan, namun mereka memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada sebaliknya. Mereka makan dan minum sekadar untuk dapat melaksanakan ibadah, karena hanya untuk itu jin dan manusia diciptakan. Ibunda Aisyah menceritakan bagaimana kehidupan beliau bersama Rasulullah,

“Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.” (Muttafaqun alaihi).

Sebaliknya, terlalu banyak makan mengundang berbagai permasalahan. Amir bin Qois berkata, “Jauhilah oleh kalian kenyang, karena kenyang itu mengeraskan hati.” Malik bin Dinar menasihatkan bahwa tidak semestinya seorang mukmin menjadikan perutnya sebagai cita-citanya yang paling besar dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. Abu Imran Al-Juwaini menuturkan,

“Sesungguhnya nafsu, jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau juga mengatakan, “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar, dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah.

Baca Juga: Setan Dibelenggu, Nafsu Menghasutmu

Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak, dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada
simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” kenyang dengan yang haram berakibat fatal
Bila kenyang dengan yang halal saja banyak dihindari oleh para salaf karena dampak buruk yang mereka rasakan, apalagi dengan makan
haram. Islam sangat melarang pemeluknya memakan makanan haram. Sebab, karena makanan, doa kita bisa tidak dikabulkan.

Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Apa jawaban Rasulullah, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal)
niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada
seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. At-Thabrani)

Dalam Al-Quran disebutkan, “Katakanlah, terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu
jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. “Katakanlah, “Adakah Allah telah memberikan izin kepadamu (dalam persoalan
mengharamkan dan menghalalkan) atau kamu hanya mengada-adakan sesuatu terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59).

Kenyang dengan makanan haram bisa berakibat fatal. Rasulullah bersabda,

“Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari.” (HR At-Thabrani).

Rasulullah juga bersabda,

“Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.” (HR At Tirmidzi).

Begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram, sampai Rasulullah mengajarkan sebuah doa:

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ
وأغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ 

“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki- Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Lapar Di Akhirat

Dunia laksana penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Bila telah kenyang di dunia yang hanya sebentar, maka balasannya
adalah lapar dan dahaga di akhirat. Rasulullah pernah bersabda:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ibnu Umar berkata, ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi n, kemudian Nabi bersabda, “Hentikan sendawamu dari kami karena sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan laparan.” (Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini, dan dalam bab ini ada hadits dari Abu Juhaifah. Dihasankan al-Albani dalam Jaami’ ash-Shaghir).

Penghuni neraka akan merasakan kelaparan yang amat sangat. Mereka akan meminta kepada para penghuni surga untuk memberikan kepada mereka sedikit makanan yang mereka miliki. Allah berfirman mengabarkan hal tersebut dalam firman-Nya, “Mereka tidak memiliki makanan dan minuman, sehingga kelaparan dan memintanya kepada penduduk surga, sedikit saja dari air dan makanan, “Dan
penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orangorang
kafir.” (QS.Al A’raf: 50).

Baca Juga: Yang Mengerikan di Bulan Ramadhan

Kalaupun ada itu adalah, “.. dhari’, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghasyiyah: 6-7), dan “pohon zaqqum, makanan bagi orang yang banyak berdosa (orang kafir). Makanan ini seperti kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. (QS. Ad-Dukhan: 43-46).

Setelah menelan zaqqum, penduduk neraka sangat kehausan, dan yang ada hanya hamim dan ghassaq (nanah), “Mereka tidak
merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan ghassaq (nanah). Sebagai
pambalasan yang setimpal.” (QS. An-Naba: 24 – 26). “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong
ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

Ramadhan  hadir sebagai lahan pelatihan. Selama satu bulan kita dilatih mengendalikan nafsu untuk bisa masuk jannah melalui pintu ar-Rayan. Bagaimana bisa ‘mengetuk’ pintu ar Rayyan bila puasanya tidak benar. Apalagi memperturutkan syahwat perut dengan tidak berpuasa di bulan yang diwajibkan. Sementara, yang berpuasa saja ada yang dinilai Allah hanya mendapatkan lapar dan dahaga di dunia.

Apakah setelah di dunia hanya dihitung mendapat lapar dan dahaga kita juga mau kelaparan dan dahaga di akhirat seperti orang munafik dan orang kafir. Semoga Allah menjauhkan kita dari syahwat perut dan panasnya neraka. Allahumma amin.

 

Oleh: Redaksi/Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu

Ramadhan datang, kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.

Tapi bukan berarti semua manusia menjadi ma’shum karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan mata, dosa pun masih menjadi pemandangan yang biasa. Mengapa?

Masih ada bahaya lain pada diri manusia. Dia adalah musuh besar manusia, tapi dianggap tuan olehnya. Perintahnya diikuti, keinginannya dituruti dan pantangannya disingkiri. Dialah nafsu yang sebagian ulama menyebutnya dengan ‘aduwwun matbuu’, musuh yang diikuti.

 

Nafsu, Teman dan Tunggangan Setan

Nafsu disebut pula sebagai rafiiqusy syaithan, teman akrabnya setan. Nafsu punya kecenderungan bersenang-senang, lalu setan yang menyuguhkan progam maksiat yang menyenangkan. Atau setan lebih dulu memberikan tawaran menggiurkan, lalu nafsu datang memberikan sambutan. Maka antara setan dan nafsu ibarat sejoli yang saling melengkapi keinginan pasangannya.

Ulama yang lain menyebut nafsu sebagai markabusy syaithan atau mathiyyatusy syaithan, kendaraan setan. Karena tatkala setan hendak melancarkan serangan, dia akan memboncengi nafsu yang selaras dengan kesenangan yang memperdayakan. Melalui pintu nafsu pula setan bisa masuk dan menghembuskan bisikan.

Keduanya saling berperan dalam menyesatkan, maka, kelak di neraka masing-masing saling menuduh siapa ‘biang’ yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Setan akan ‘cuci tangan’ atas ajakan yang pernah ia lakukan. Allah berfirman,

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah diri (nafsu)mu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.” (QS. Ibrahim: 22)

Baca Juga: Kisah Para Pendamba Ar-Rayyan

Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan “nafsu ammaaratun bis suu’.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,

“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS. Yusuf: 53)

Memang tidak salah jika manusia memiliki kecenderungan dan kesenangan terhadap wanita, anak-anak, harta dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Bahkan semua itu bisa menjadi sarana untuk taat kepada Allah.

Akan tetapi, seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu menghasut manusia untuk tak berhenti sebatas itu, ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan itu dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.

Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.

 

Jika Dituruti, Tak Pernah Terpuasi

Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi  memberikan gambaran tentang nafsu manusia,

 

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR. Bukhari)

Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hanya dengan satu jenis maksiat saja.

Ibnul Qayyim al-Juaziyah mengatakan, “Hendaknya orang yang berakal mengetahui bahwa orang yang menuruti  kemauan syahwat, akan tergiur untuk berpindah dari satu jenis syahwat menuju syahwat yang lain. Pun ia tidak akan pernah puas karenanya, tetapi tidak pula kuasa untuk meninggalkan kebiasaannya. Karena seakan itu telah menjadi bagian hidup yang mesti di jalaninya. Untuk itu, Anda juga melihat bahwa orang yang terus mabuk khamr dan zina tidak pernah merasakan sepersepuluh kepuasan yang didapat orang lain dalam hidupnya.

Baca Juga: Perturutkan Nafsu di Dunia, Terhalang Keinginan di Akhirat

Syeikh Ath-Thanthawi bahkan memberikan pengandaian yang lebih berani, “Seandainya diberikan kepada Anda seluruh harta Qarun, postur tubuh seperti Herkules dan disediakan untukmu sepuluh ribu wanita yang paling cantik dari berbagai warna kulit, bentuk dan berbagai sisi kecantikan, apakah Anda mengira telah cukup puas? Tidak, aku katakan dengan tegas, ‘tidak.., aku menulisnya dengan pena yang tajam. Akan tetapi, satu saja wanita yang halal untukmu niscaya cukup bagi Anda. Janganlah Anda menuntut bukti kepada saya, karena setiap kali Anda menoleh kepada kehidupan sekitar Anda niscaya Anda akan mendapatkan bukti yang valid, jelas dan kasat mata.”

 

Menyesali, Tapi Kembali Lagi

Ketika nafsu ‘menggolkan’ suatu dosa, hingga pemiliknya terjerumus ke dalamnya, bukan berarti nafsu tidak menyesalinya. Terkadang ia juga menyesal, tapi sebentar kemudian ia ketagihan lagi untuk meneguk cawan maksiat. Inilah yang disebut dengan ‘nafsul lawwaamah’. Allah berfirman,

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. al-Qiyamah: 2)

Ibnu Jarir menyimpulkan berbagai penafsiran tentang nafsul lawwaamah, “yakni nafsu yang suka menyesali perbuatan baik maupun perbuatan buruk dan menyesali apa yang telah berlalu.” Dia menyesal atas perbuatan buruk yang telah dikerjakan, atau perbuatan baik yang ia sia-siakan.

Ada kalanya, ada orang yang dirahmati Allah, penyesalan itu akan membawa pemiliknya untuk bertaubat dan melakukan perbaikan. Namun tak jarang pula yang tetap kembali dengan kebiasaan lama, mencebur kembali ke habitatnya yang kelam.

 

Nafsu Bisa Disapih

Nafsu itu seperti bayi, jika dibiarkan menyusu, ia tak mau berhenti. Tapi jika disapih, tak akan membuatnya celaka. Dengan dipandu oleh wahyu, dibimbing oleh syariat, nafsu yang liar bisa ditundukkan menjadi tenang. Ia akan ridha dalam ketaatan dan benci terhadap kemaksiatan. Inilah yang disebut dengan nafsul muthma’innah. Sebagaimana firman Allah,

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya…” (QS. al-Fajr: 27-28)

Ibnu Katsier rahimahullah menafsirkan nafsul muthma’innah dengan jiwa/nafsu yang tenang, teguh dan berjalan di atas kebenaran.

Dengan kata lain, syariat tidak ‘membunuh’ adanya potensi nafsu pada diri manusia, karena itulah fitrah bagi manusia. Tapi syariat mengarahkan nafsu kepada sesuatu yang bermanfaat, dan mencegahnya dari madharat. Allah melarang zina, tapi menghalalkan pernikahan dengan ketentuan yang rinci. Allah mengharamkan khamr, tapi masih lebih banyak minuman yang dihalalkan. Mengharamkan bangkai dan daging babi, tapi menghalalkan yang baik-baik yang juga disukai oleh nafsu, begitulah seterusnya.

Wal hasil, tantangannya sekarang adalah, mampukah kita mengendalikan nafsu agar tidak menjamah di luar batas yang dihalalkan oleh Allah. Semoga hadirnya Ramadhan menjadi momen penting bagi kita untuk menyapih hawa nafsu dan menundukkan dari sifat ammaratun bis suu’ menuju thuma’niinah. Wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Materi Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Kisah Para Pendamba Pintu Ar-Rayyan

Kebiasaan shaum telah mengantarkan orang-orang pilihan ke derajat yang tinggi. Shaum telah membuat kecenderungan mereka adalah memperbanyak amal shalih. Mereka rajin melakukan ketaatan, tak ada gairah untuk melakukan dosa, mereka jauh dari maksiat, sebagaimana hal itu menjadi inti tujuan shaum, yakni takwa.

Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau melakukan beragam ketaatan di saat menjalankan shaum. Bukan saja ketika di bulan Ramadhan, tapi di bulan-bulan selainnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

“Suatu ketika Nabi Muhammad bermajelis bersama para sahabat, lalu beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini melakukan shaum?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Nabi n bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengantar jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Nabi n bertanya lagi, Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, “Saya.” Kemudian Nabi n bersabda, “Tiadalah semua itu ada pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk jannah.” (HR Muslim)

Begitulah, shaum telah membawa suasana yang ringan untuk melakukan banyak kebaikan. Lihatlah, sepagi itu, ash-Shiddiq telah melakukan amal sebanyak itu.

Mereka yang Terbiasa Menjalani Shaum

Adalah Utsman bin Affan, beliau orang yang sangat rajin menjalankan shaum. Seperti yang diungkapkan oleh Abu Nuaim, “Waktu siangnya adalah kemurahan berderma dan untuk shaum, sedang malamnya untuk sujud dan qiyam (shalat).” Ini menjadi kebiasaan beliau setiap harinya. Adapun di bulan Ramadhan, lebih menakjubkan. Beliau mengkhatamkan al-Quran dalam sehari dalam shalatnya. Perutnya kosong karena Allah, sementara lisannya senantiasa sibuk dengan dzikir dan bacaan al-Quran.

Beliau sangat rajin shaum di hari biasa, hingga di hari terbunuhnya, beliau dalam keadaan shaum sementara mushhaf al-Quran berada dalam dekapannya.

Baca Juga: Ia Ingin Memiliki Nyawa Sebanyak Jumlah Rambutnya

Memang ada hari-hari dimana sebagian sahabat tidak menjalankan shaum, seperti Abu Thalhah. Bukan karena malas, tapi karena tenaganya sangat dibutuhkan di saat perang, untuk menyerang dan menangkis serangan maupun berteriak untuk memberi motivasi kepada para mujahidin, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, suara Abu Thalhah di tengah-tengah pasukan lebih hebat dari seribu orang tentara.”

Tentang Abu Thalhah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah tidak melakukan shaum (sunnah) di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena selalu terjun dalam kancah perang. Akan tetapi, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, aku tidak melihat dia meninggalkan shaum, kecuali di hari-hari Iedul Adha dan tasyriqnya, maupun di hari Iedul Fithri.”

Adapun Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sebagai sahabat yang paling antusias dalam berittiba’ kepada Nabi , selalu menjalankan shaum, kecuali di saat safar. Putera beliau, Nafi’ bin Abdullah bin Umar berkata, “Ibnu Umar tidak melakukan shaum sunnah dalam keadaan safar, akan tetapi ketika tidak dalam keadaan safar, beliau hampir tidak pernah meninggalkan shaum. Inilah kebiasaan sahabat yang dipuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ni’mal ‘abdu Abdullah,” sebaik-baik hamba adalah Abdullah.

 

Hafshah ash-Shawwaamah dan Rahmah al-Abidah

Di kalangan wanita sahabiyat, tercatat seseorang yang digelari shawwamah, ahli shaum. Bukan gelaran yang disematkan oleh teman-temannya, atau generasi setelahnya, tetapi malaikat Jibril yang mengesahkannya. Dialah Hafshah, ummul mukminin, istri dari Rasulullah, sekaligus puteri dari Umar bin Khathab.

Seperti yang diceritakan oleh Qais bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mentalak Hafshah, lalu dua orang paman beliau dari pihak ibu, yakni Qudamah dan Utsman bin Mazh’un menemui beliau. Hafshah menangis sambil berkata, “Demi Allah Nabi mentalakku bukan karena saya senang makan kenyang…demi Allah Nabi mentalakku bukan karena saya senang makan kenyang…”

Tak lama kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan bersabda, “Jibril berkata kepadaku, “Ruju’lah Hafshah, karena ia itu shawwaamah (rajin shaum), qawwaamah (rajin shalat), dan ia nanti menjadi istrimu di jannah.” 

Subhanallah, pengesahan makhluk manakah yang lebih meyakinkan dan lebih berharga dari pengesahan Jibril? Semoga Allah meridhai Hafshah, beliau wafat di saat menjalani shaum, sebagaimana disebutkan oleh Nafi’, keponakannya.

Baca Juga: Shafiyah bintu Huyay, Putri Tercantik Khaibar

Satu lagi teladan menakjubkan dari kaum salaf. Seorang wanita yang dikenal dengan sebutan Rahmah al-Abidah, pelayan Muawiyah. Begitu rajinnya ia dalam melakukan shalat dan shaum, sampai-sampai beberapa orang mendatanginya untuk membujuk, supaya ia mengasihi dirinya. Maka beliau berkata, “Apa yang perlu dikasihani dari saya. Saya hanyalah bilangan hari yang bergulir dengan cepat, ketika satu hari berlalu maka tak mungkin lagi didapatkan di hari esok. Sungguh, saya akan bersungguh-sungguh shalat selagi jasadku terkandung nyawa, aku akan senantiasa shaum selagi masih hidup. Siapakah di antara kalian yang ingin hamba sahayanya berleha-leha tak bekerja keras?” Yakni, Allah yang menjadi majikannya yang sesungguhnya tentu menyukai jika ia bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya. Semoga Allah meridhai Rahmah al-Abidah.

Kiranya, beberapa penggal kisah di atas mampu mengatrol semangat kita untuk menjalankan shaum yang wajib maupun yang sunnah, serta mengisi saat-saat shaum dengan amal kebaikan. Agar kita termasuk kaum yang diijinkan masuk jannah melalui pintu yang istimewa, pintunya orang yang rajin menjalankan shaum, yakni ar-Rayyan.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan

Kultum Ramadhan: Yang Mengerikan di Bulan Ramadhan

Ramadhan memang istimewa. Segala peluang kebaikan dibuka, pintu-pintu keburukan ditutup, dan penghalang-penghalang ketaatan disingkirkan. Seumpama taman indah, Ramadhan memang tampak elok di segala sisinya, dan harum semerbak wanginya. Saking kuatnya aroma, semua orang merasa menjadi pemiliknya, semua orang merasa mendapat keberuntungan saat berada di dalamnya.

Padahal, meski peluang terbuka untuk semua, tak semua orang bisa mereguk keindahannya. Karena di tengah taman itu, ada yang justru memilih ‘comberan’nya, tapi tidak semua orang bisa beruntung mengambil manfaat darinya. Jika diibaratkan senjata, Ramadhan laksana pedang bermata dua. la menjadi senjata yang ampuh untuk memenangkan pemiliknya. Tapi tidak mustahil, senjata itu justru ‘memakan’ tuannya. Telah banyak sudah catatan dan ceramah tentang sisi keindahan Ramadhan, maka ada baiknya kita juga mengetahui sisi lain yang perlu diwaspadai pada bulan Ramadhan. Bahwa ada yang menakutkan, atau bahkan mangerikan dibalik hadirnya bulan Ramadhan. 

Baca Juga: Hukum Suntikan di Siang Hari Ramadhan

Pertama, bahwa Ramadhan memang bulan dibukanya pintu-pintu jannah, akan tetapi bagi orang-orang tertentu, Ramadhan justru menjadi  syahrul hirmaan (bulan terhalangnya) masuk jannah dan makin lancer masuk neraka. Yakni bagi mereka yang tidak menjadikan Ramadhan sebagai peluang untuk mendapatkan  pengampunan dari Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa suatu kali Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik mimbar, Ialu beliau berkata, “aamiin…aamiin…aamiin!” Lalu beliau ditanya, “Duhai Rasulullah, ada apakah gerangan sehingga tatkala Anda naik mimbar membaca, “aaminnn.. aamiin..aamiin?” Beliau bersabda,

 

«إن جبريل عليه السلام أتاني فقال : من أدرك شهر رمضان ، فلم يغفر له ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت : آمين ، ومن أدرك أبويه أو أحدهما ، فلم يبرهما ، فمات ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين . فقلت : آمين ، ومن ذكرت عنده ، فلم يصل عليك ، فمات ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين . فقلت : آمين» 

Sesungguhnya Jibril mendatangiku, lalu berkata, “Barangsiapa yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun ia tidak mendapatkan pengampunan lalu masuk neraka maka Allah akan menjauhkannya, Jibril berkata, “Katakan, Aamiin!” Maka aku pun mengatakan, ‘Aamiin.” (HR. Abu Dawud)

Bukankah ini berita yang mengerikan? Betapa tidak, Jibril yang mendoakan, Nabi shallallahu alaihiwasallam yang mengamini agar orang-orang yang tidak mendapatkan pengampunan di bulan Ramadhan masuk neraka. Yakni orang yang diberi peluang bertemu bulan Ramadhan, namun ia tidak menggunakan peluang dan kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, tidak pula berusaha menghapus dosa-dosanya dengan amal shalih dan istighfar. Mereka ini semakin dekat dengan neraka, di saat Allah mendekatkan banyak orang kedalam jannah. Tapi, yakinkah klta tidak termasuk di dalamnya?

Ramadhan dikenal pula sebagal bulan kebaikan dan penuh keutamaan. Namun bagi sebagian orang, datangnya Ramadhan justru menyebabkan ia semakin jauh dan terhalang dari kebaikan. Saat datangnya Ramadhan, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi kaum muslimin dengan sabdanya,

 

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan shiyam di dalamnya, dibukakan pintu-pintu langit, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan. Allah memilikl satu malam di dalamnya yang leblh baik dari seribu bulan, barang siapa terhalang mendapat kebaikan. maka sungguh dia benar-benar terhalang dari kebaikan.” (HR an-Nasa’i dan Tirmidzi, shahih)

Jika di waktu yang begitu kondusif untuk beramal kebaikan seseorang tidak mau mengambil manfaat, bagaimana halnya dengan bulan Iain yang lebih berat dan lebih banyak godaannya? Tentu makin jauhlah ia dari kebaikan.

Baca Juga: Ramadhan dan Kesulitan Hidup di Gaza

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan dilipatgandakan pahala kebaikan, akan tetapi jangan sampai kita Iengah, karena dosa yang dilakukan saat Ramadhan juga lebih berat daripada dosa yang dilakukan di bulan yang lain. Karena ada unsur penodaan atas kemuliaan Ramadhan. Sebagaimana kita tahu, bahwa zina adalah dosa besar, tapi lebih besar lagi dosanya tatkala dilakukan di dalam masjid, karena ada unsur penodaan terhadap kemuliaan masjid.

lbnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Berlipatnya dosa itu adalah dari sisi bobotnya, bukan jumlahnya, karena satu keburukan tetap dihitung sebagai satu dosa. Hanya saja kesalahan yang besar akan membuahkan dosa yang besar, sebagaimana kesalahan kecil diganjar dengan dosa yang kecil.” Maka dosa yang berkaitan dengan sesuatu yang dimuliakan Allah baik berupa waktu maupun tempat lebih besar bobotnya dibanding dosa yang dilakukan di tempat atau di waktu yang Iain.

Terakhir, pemandangan yang sering kita Iihat, seakan Ramadhan adalah bulan pesta makan-makan di malam hari, dan bulan membuang-buang waktu di siang hari. Ini jelas bertentangan dengan tujuan Ramadhan diadakan. Nikmat kesempatan ini akan dipertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Dan ini akan memberatkan hisab bagi orang yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik. Semoga kita dimudahkan Allah untuk melakukan kebaikan dan dijauhkan dari segala bentuk maksiat. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan/Materi Kultum