Wasathiyah Dalam Al Quran

Salah satu kenikmatan besar dan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat Islam adalah menjadikan umat ini sebagai umat pertengahan (washatan), yang paling baik (khiyaran), dan yang paling adil (adulan). Sebagaimana firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan begitulah kami jadikan kalian umat pertengahan.” (QS. Al Baqarah: 143)

Ada beberapa penjelasan tentang kata wasathan dalam ayat tersebut. Fakhruddin ar-Razi menyebutkan ada beberapa makna yang maknanya saling mendekati.

Pertamawasath berarti adil. Makna ini didasarkan pada ayat-ayat yang semakna, hadis nabi, dan beberapa penjelasan dari sya’ir Arab mengenai makna ini. Berdasarkan riwayat Al-Qaffal dari Al-Tsauri dari Abu Sa’id Al-Khudry dari Nabi Saw. bahwa ummatan wasathan adalah umat yang adil.

Keduawasath berarti pilihan. Al-Râzi memilih makna ini dibandingkan dengan makna-makna lainnya, karena beberapa alasan antara lain: kata ini secara bahasa paling dekat dengan makna wasath dan paling sesuai dengan ayat yang semakna dengannya yaitu ayat, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ke tangah manusia…” (QS Ali Imrân [3]: 110).

Ketigawasath berarti yang paling baik.

Keempatwasath berarti orang-orang yang dalam beragama berada di tengah-tengah antara ifrâth (berlebih-lebihan hingga mengada-adakan yang bbaru dalam agama) dan tafrîth (mengurang-ngurangi ajaran agama). (Tafsîr Al-Rârî, Jil. II hal. 389-390).

Makna-makna di atas tidak bertentangan satu sama lain. Oleh sebab itu, Al-Sa’di menyimpulkan bahwa ummat wasath yang dimaksud adalah umat yang adil dan terpilih. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan umat ini pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama (dibanding dengan agama-agama lain) seperti dalam hal kenabian, syari’at, dan lainnya.

Salah satu penjelasan dari umatan wasathan adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ali Imron ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Kemudian Allah mengutus dari sebaik-baik umat itu seorang Nabi yang paling baik dan paling pertengahan di antara mereka secara nasab dan tempat. Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ia juga dibekali dengan sebuah kitab pedoman yang paling mulia, guna meluruskan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Kandungannya menyeluruh tanpa cacat. Allah berfirman mengenai ini:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (QS. Al-Maidah: 48).

Dengan mengikuti Rasulullah dan mengamalkan Al-Qur’an, kita senantiasa akan menjadi umat mulia dan umat pilihan. Sebagiamana telah dicontohkan oleh pendahulu kita, para sahabat, kemudian para tabi’in dan tabiut tabi’in. Mereka merupakan generasi unggulan dari umat ini karena selalu ber ittiba’ kepada Rasul dan mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Merekalah tiga generasi emas agama ini, sebagaimana yang di sabdakan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam:

“خيرُ أمَّتي قَرني، ثمَّ الذين يَلونهم، ثمَّ الذين يَلونهم”

“Sebaik-baik umatku adalah pada generasiku, kemudian yang mengikuti setelahnya dan setelahnya.”

Para salafus shalih, merupakan generasi terbaik dari umat ini kemudian dilanjutkan oleh generasi setelah mereka. Semakin kebelakang, kualitas umat ini semakin menurun. Sepeninggal Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan masa kepemimpinan khulafa’u rosyidin, di akhir kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, mulai muncul banyak perpecahan dan perbedaan di antara kaum muslimin. Setelah perpecahan itu bermunculan, datanglah sekte-sekte melenceng yang mengusung bid’ah dan ghuluw seperti Khawarijj dan Syi’ah. Tidak bisa dipungkiri setelah itu persatuan umat semakin goyah disebabkan banyaknya paham-paham melenceng yang jauh dari sifat asli agama Islam sebagaimana yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad, yaitu adil dan pertengahan.

BACA JUGA : Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Bila kita melihat realitas saat ini, kita akan melihat berapa banyak penyimpangan dan perpecahan yang jauh dari kesatuan umat. Kita dapati banyak sekali orang-orang yang berlebihan dalam menjalankan syariat dan ada juga yang jauh meremehkannya. Ketika melihat realitas yang menyakitkan ini, para pendakwah bergegas mencari solusi, menyetop arus kemungkaran ini guna menyelamatkan akidah umat dan mereka kembali berpegang teguh dengan ajaran yang sesuai kaidah.  Hari ini umat terbagi menjadi dua bagian, ada yang berlebihan dan sebagian yang lain justru sangat meremehkan. Satu ke barat satu ke timur. Mereka seperti apa yang dilakukan kaum dulu. Sejak itulah para du’at dan pemikir tentang umat mulai sedikit dan hilang. Dan akhirnya umat kehilangan jatidiri bahkan akidah mereka juga ikut tergerus. 

Diantara banyaknya umat yang semakin hari memburuk akidahnya, akan nampak jelas bahwa kebutuhan terhadap akidah sohihah dan manhaj yang lurus sangat diharapkan. Yang akan menggiring umat menuju shiratal mustaqim. Para salafus salaf mereka membuang jauh-jauh para pelaku ghuluw dari agama islam ini, begitu juga orang-orang yang malas beribadah (mufrith), dan para penyebar fitnah. Dengan begitu umat sangat membutuhkan petunjuk agar mereka mampu bertahan dari fitnah yang menghancurkan dan membuat sakit akidah umat. para duat (dai) mereka berperan penting untuk mengingatkan umat agar  memahami manhaj salaf yang benar dan jelas. Allah berfirman :

 

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia.” (QS. Al-An’am: 153).

Kebutuhan umat manhaj yang washatiyah sangat di tekankan mengingat fitnah ghuluw begitu cepat menyebar dan menjangkiti. Al quran sebagai petunjuk bagi manusia sudah menjelaskan semuanya, bagimana manhaj yang benar. Dalam aspek ibadah maupun muamalah, dalam amalan maupun perilaku dan dalam konteks ushul maupun furu’. Al quran menjelaskan bahwa washitiyah memiliki beberapa pembagian yang tiap-tiap dai harus mengetahuinya, diantaranya tentang ghuluw dan ifrath, jafa’ (enggan beramal) dan tafrith, dan yang terakahir mengenai shirathal mustaqim.

Siapa saja yang hendak mengetahui tentang washitiyah maka dia harus mengetahui beberapa perkara diatas. Shiratal mustaqim yaitu jalan pertengahan antara ghuluw dan enggan, atau antara ifrath dan tafrith, sebagaimana kebaikan maknanya sudah jelas. Shiratal mustaqim memilik dua hal yang menjadikannya washitiyah, yaitu khairiyah : kebaikan dan bayaniyah : kejelasan. Sebagaimana yang tertulis dalam Al qura’an, washitiyah mempunyai suatu corak atau ciri khusus yang terkandung. Yang menjadikan washitiyah berbeda dengan yang lain. Dan menjadikan umat ini berbeda dengan umat lainnya. Ciri khas washitiyah sudah di tetapkan berdasarkan nash-nash yang terkandung dalam Al qur’an.

Penetapan ciri khas washitiyah ini sangat penting bagi seorang muslim yang menyeru kepada manhaj salaf. Agar menutup kemungkinan terbukanya fitnah syahwat dan mengikuti hawa nafsu. Wasahatiyah begitu agung derajatnya dan mahal harganya, karena merupakan corak dari umat ini. Yang menjadikannya berbeda dari umat-umat yang lainnya. Allah juga telah mengkhususkan umat ini dengannya sebagia bentuk kemuliaan dan kelebihan. Allah berfirman :

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54).

Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita -Tabaaraka wa Ta’ala- turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nuzul (turun) termasuk dari sifat af’aliyah (sifat yang berkaitan dengan perbuatan) yang Allah akan berbuat demikian jika menghendaki. Wajib bagi setiap muslim untuk menetapkan sifat af’aliyah Allah berupa nuzul, dan Allah turun setiap malam pada seprtiga malam yang akhir. Ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah tasbit  bila tamsil dan tanzih bila ta’thil. Maknanya, menetapkan sifat af’aliyah Allah yang nuzul tanpa menyerupakan turunnya Allah dengan turunnya makhluk dan mensucikan Allah Ta’ala dengan menetapakan secara hakiki tanpa memalingkan dengan makna yang menyimpang.

Sesat Dengan Mentamtsil Dan Menta’thil

Sifat nuzul ini sebagaimana sifat af’aliyah yang lain yang layak bagi Allah Azza wa Jalla bukanlah seperti turunnya makhluk, kita tidak mengetahui tata cara Allah turun, tetapi kita menetapkan sebagaimana khabar yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, mengimaninya dan tidak mentakwilkan (menyelewengkan maknanya) dan tidak memisalkan turunnya Allah dengan turunnya makhluk.

Kelompok yang menyimpang dalam masalah ini adalah dengan mentakwilkan nuzulnya Allah dengan makna yang turun adalah perintahNya, bukan Allah Ta’ala’yang turun, ada juga yang metakwilkan yang turun adalah malaikat Allah. Hal ini tidaklah sejalan dengan hadits Rasulullah yang shahih yang menyatakan ketika Allah turun kelangit dunia, Allah berfirman : “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.”

Jika yang turun adalah perintah Allah atau malaikat Allah, maka sangatlah tidak layak bagi malaikat Allah dan perintah Allah berkata : siapa yang memohon ampun kepadaku maka aku ampuni, siapa yang meminta kepadaku maka akan aku beri. Maka ini adalah takwilan yang batil. Yang benar adalah bahwa Allah lah yang turun dan hanya Allah lah yang bisa mengampuni, memberi dan mengabulkan.

Kemudian ada juga yang memberikan syubhat kepada setiap muslim dengan perkataan : bagaimana mungkin Allah turun pada setiap malam, padahal di bumi yang kita huni ini ketika satu daerah mengalami malam maka akan di susul pada tempat-tempat yang lain, maknanya Allah terus menerus selalu turun.

Hal ini sangatlah mudah untuk di jawab, yaitu dengan jawaban bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, menciptakan malam dan siang, akan tetapi Allah tidaklah terikat dengan hukum cipataanNya, berbeda dengan manusia yang diciptakan di dunia, maka ia akan tunduk dan terhukumi dengan hukum ciptaanNya yang berupa malam dan siang.

Mereka yang mempunyai pemikiran dan perkataan batil tersebut hendak menyamakan Allah dengan penciptaanNya yang mereka semua terhukumi dengan siang dan malam, Maha Suci Allah dari terhukumi oleh makhluknya, tapi Allah lah yang meliputi dan menguasai semua ciptaanNya termasuk siang dan malam.

BACA JUGA : Wajib Berjamaah Haram Berfirqah

Allah Ta’ala berfiman :

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. Al An’am : 18)

Maka kita katakan kepada setiap orang yang hendak merusak aqidah islam, dengan perkataan yang semisal dengan perkataan imam malik, an nuzulu ma’luum  wal kaifiyatu majhul (turunnya Allah adalah suatu yang maklum, dan tata caranya adalah suatu yang tidak mampu kita ketahui).

Sepertiga Malam Yang Akhir

Mengetahui aqidah yang benar dalam pembahasan Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir, melazimkan seorang muslim untuk menindak lanjuti pemahamanya dengan amal shaleh. Yaitu menghidupkan malam dengan berdiri mengerjakan qiyamul lail, bedoa  dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala.

Allah subhanahu wata’ala menciptakan langit berlapis-lapis, sebagaiman firmaNya :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (QS. Nuh : 15)

Dan pada malam itu, Allah Subhanahu wata’la turun ke langit yang paling dekat dengan dunia, kemudian berfirman dalam hadits qudsi :

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah waktu yang mustajab bagi setiap hamba yang mendamba keampunan, pemenuhan hajat dan permintaan rizki, dan siapakah yang tidak butuh ampunan Allah dan pengabulan doa?. Allah Ta’ala menerima taubat dan ampunan hamba pada setiap waktu, namun terdapat waktu dan keadaan khusus yang mustajab, diantaranya adalah sepertiga malam yang akhir, waktu di hari jum’at dan pada saat sujud di waktu shalat.

Agar terbantu untuk bangun malam Sebaiknya seorang muslim tidur lebih awal, dan ini adalah suatu hal yang harus dibiasakan, karena kemudahan bangun malam akan datang dengan pembiasaan setelah rahmat dari Allah kepadanya. Apalah keuntungan dari melebihkan jam tidur bagi muslim, yang ada adalah kerugian dan pengharaman terhadap kebaikan yang banyak atas dirinya sendiri.

Dengan bangun malam, maka seseorang dapat beristighfar di waktu sahur, karena istighfar di waktu sahur mempunyai kekhususan tersendiri, bahkan ini termasuk sifat hamba Allah yang bertaqwa, sebagaimana difirmankan Allah :

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariat : 17-18)

Cukuplah dengan keyakinan bahwa Allah turun kelangit dunia pada sepertiga malam yang akhir dan dua nash di atas menjadikan dirinya lebih semangat untuk menghidupkan malam-malamnya. Ya Rab..mudahkanlah kepada kami untuk bangun malam dan bermunajat kepadaMu.

Hadits Mutawatir

Hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah tentang turunnya Allah kelangit dunia pada sepertiga malam yang akhir merupakan hadits yang mutawatir, yaitu hadits yang banyak diriwayatkan oleh sahabat Nabi, dan sahabat Nabi adalah suatu masyarakat terbaik yang dipilih Allah untuk menemani Nabi dalam menyampaikan risalah Islam. Tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong atas nama Nabi.

Mereka mempunyai hati yang terbaik setelah hatinya para Nabi dan Rusul. Sekian banyak sahabat yang meriwayatkan hadits ini, atau yang mendengar hadits ini tidak ada yang memahami sebagaimana para pengikut sesat yang mentamtsil dan menta’thilkan sifat af’aliyah Allah.

Wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti pemaham para sahabat dan menjauhi kelompok-kelompok yang menyimpang dan menyesatkan, apalagi menjadi corong penyebar kesesatan, iyadzan billah. Selain berdosa atas perbuatannya, di tambah lagi dengan dosa orang yang mengikutinya, ini telah di sabdakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk / kebenaran maka ia mendapat pahala seperti pahala-pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim)

Al-Barr Yang Maha Baik

Syarah Sullamul Wushul Seri 06

Abu Zufar Mujtaba

الأحَدُ الفَرْدُ الْقَدِيرُ الأزَليّ الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ العَلِيّ

(Allah adalah) al-Ahad, al-Fard, al-Qadir, ash-Shamad, al-Barr, al-Muhaimin, dan al-‘Ali.

Kita telah membahas lima dari delapan Asma`ul Husna yang tersebut pada nazham di atas. Kelima nama itu adalah al-Ahad (Yang Esa), al-Fard (Yang Tunggal), al-Qadir (Mahakuasa), dan ash-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya). Kali ini, dengan izin Allah, kita akan mengupas tiga nama yang tersisa: al-Barr (Yang Mahabaik), al-Muhaimin (Yang Memelihara), dan al-‘Ali (Yang Maha Tinggi).

Al- Barr Allah Maha baik

Al-Barr artinya Mahabaik. Allah Mahabaik sifat dan perbuatan-Nya. Allah berfirman,

“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (Ath-Thur: 28)

Ibnu ‘Abbas—sebagaimana dikutip oleh al-Qurthubi—berkata, “(Yakni) yang menyampaikan kepada hamba-Nya maslahat mereka dengan lembut dan baik, dari jalan di mana mereka tidak merasakannya.”

Adh-Dhahhak berkata,”(Yakni) yang menepati semua janji.”

Ibnul Qayyim berkata, “Yang banyak kebaikan dan karunia-Nya.”

Syaikh as-Sa’diy menyatakan, “Di antara nama-nama Allah ta’ala adalah al-Barr, al-Wahhab, dan al-Karim. Allah meliputi seluruh alam semesta dengan kebaikan-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dialah yang memiliki keindahan dan selalu memberi kebaikan, Maha Luas pemberian-Nya. (Di antara) sifat-Nya adalah kebaikan, dan buah dari sifat ini adalah seluruh nikmat yang lahir maupun yang batin, sehingga tidak satu makhluk pun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Dan nama-nama ini menunjukkan keluasan rahmat-Nya dan pemberian-Nya yang menyeluruh pada segala yang ada, sesuai dengan hikmah Allah ta’ala.”

Apabila kita mengimani nama al-Barr dengan keseluruhan maknanya, dengan izin Allah hal itu menumbuhkan rasa syukur kepada-Nya yang telah memberikan kepada kita berbagai macam karunia. Bahkan sebagiannya tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui dari mana datangnya. Semestinyalah ini akan menggugah kita untuk kemudian segera kembali kepada-Nya dan taat kepada-Nya. Apalagi karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya tentu begitu besar. Bahkan kenikmatan-Nya tidak lagi dapat dihitung oleh hamba-hamba-Nya.

Profesor Umar Sulaiman al-Asyqar menjelaskan, siapa pun yang merenungi nama ini, merenungi betapa baiknya perlakuan Allah terhadap makhluk-Nya, niscaya akan menyadari kenyataan bahwa Allah begitu baik. Kebaikan-Nya tak terbatas. Dia tetap memberi perhatian karena kebaikan-Nya terus mengalir, sekalipun hamba-Nya sering tenggelam dalam keburukan. Nikmat tetap melimpah walau hamba kadang berlaku angkara di muka bumi. Hujan terus turun. Bayi-bayi terus lahir dan manusia terus menikmati kekayaan. Sementara itu, air tetap memancar dan sungai melingkari daratan di mana manusia tinggal. Buah-buahan matang, sayur-sayuran menghijau, dan ternak terus memancarkan susu. Di samping itu, perut bumi terus mengeluarkan kekayaannya, dari minyak bumi sampai logam mulia (batu permata, emas, intan berlian dan sebagainya). Sungguh, semua kebaikan itu tak seimbang dengan amal manusia.

 

Al-Muhaimin

Kata haymana yang merupakan kata dasar dari nama al-Muhaimin bermakna mengawasi sesuatu. Adapun nama al-Muhaimin memiliki makna yang memperhatikan makhluk-makhluk-Nya, seperti mengurusi perilaku mereka, rezeki mereka, dan saat kematian mereka. Dia memperhatikan mereka dengan pengetahuan-Nya.

“Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj: 9)

“Kemudian Allah Maha Menyaksikan segala yang mereka kerjakan” (Yunus: 46)

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddiy, dan Muqatil, “Maknanya adalah yang menyaksikan amal hamba-Nya.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Artinya adalah yang Memelihara.”

Al-Khalil berkata, “Yang Mengawasi dan Menjaga.”

Menyaksikan dan mengawasi mengharuskan adanya kesempurnaan kemampuan atau kekuasaan. Juga menuntut adanya sifat ilmu yang tidak ada batasnya dan kekuasaan yang sempurna yang meliputi segala sesuatu. Memelihara mengharuskan adanya tindakan. Siapa pun yang mampu menyatukan makna-makna ini, dialah al-Muhaimin. Sang Pelindung yang sejati. Namun, hanya Allah yang memiliki semua itu secara mutlak dan sempurna.

Jika kita mengatakan bahwa Allah sebagai al-Muhaimin, maka itu berarti Allah memiliki ilmu sempurna yang tidak ada batasnya. Tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagi-Nya di langit dan bumi. Dia maha mengetahui apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Allah berfirman,

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59).

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Hadid: 4).

“Katakanlah, ‘Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran: 26).

Apabila kita beriman kepada nama al-Muhaimin dengan benar, dengan izin Allah akan kita rasakan keagungan Allah dalam penguasaan, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan-Nya terhadap segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Juga akan tumbuh dalam diri kita tsiqah (percaya) kepada Allah sehingga kita pun akan merasa ridha untuk menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Tidak akan ada perasaan takut kepada apapun dan siapapun kecuali kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha mengawasi, menguasai, mengatur, menjaga dan memelihara segala sesuatu.

Iman kepada nama ini juga akan memberikan kekuatan kepada jiwa seorang mukmin untuk dapat menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup karena dia mengetahui bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu dan ia meyakini bahwa Allah tidak akan memilihkan untuk para hamba-Nya kecuali yang terbaik dan paling bermanfaat untuk kehidupannya, terutama untuk kehidupan akhiratnya.

 

Al-‘Ali

Al-‘Ali berarti Yang Mahatinggi. Allah Mahatinggi dengan seluruh makna ketinggian: dzat dan sifat. Sifat pun meliputi kekuasaan dan sifat-Nya yang jauh dari kekurangan.

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255)

“Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Mahabesar.” (Asy-Syura: 4)

“Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada ilah yang benar selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan. (Shad: 65)

“Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Az-Zumar: 4)

“Dialah al-Qahir (Yang Maha Mengalahkan) di atas hamba-hamba-Nya.” (Al-An’am: 18)

Maknanya, “Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu dan segala sesuatu tunduk kepada keagungan-Nya. Dan kecil-kerdillah segala seuatu di hadapan keagungan-Nya. Dan Dzat-Nya tinggi di atas ‘Arsy di atas segala sesuatu.”

baca juga: Allah Yang Pertama dan Yang Terakhir

Mengimani nama Allah al-‘Ali berikut sifat yang terkandung di dalamnya menjadikan kita menyadari betapa rendah dan hinanya kita. Tidak pantas rasanya bila ada di antara kita yang menyombongkan diri di hadapan ke-Mahatinggi-an Allah. Wallahu a’lam.

Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”, Syirikkah?

“ Penampakan hantu ” di sini maksudnya seseorang melihat jin dengan mata kepala dan dalam kondisi sadar. Adapun hantu yang dimaksud adalah jin yang menampakkan diri dalam wujud yang menakutkan. Muncullah kontroversi, sebagian percaya karena telah mengalami, sementara sebagian lain tidak percaya karena belum mengalami. Orang yang telah melihat penampakan pun, ada yang tetap tidak percaya dan meyakini bahwa penampakan yang ia lihat hanyalah ilusi belaka. Bahkan ada sebagian kelompk yang menyatakan bahwa jin itu tidak ada, setan hanyalah watak dan hasrat buruk manusia.

Menjawab hal ini, ada beberapa poin yang perlu dijelaskan.

Pertama mengenai keberadaan jin. Mengimani adanya jin merupakan bagian dari keimanan kepada al Quran dan as Sunah. Al Quran telah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah.

“”Dan tidaklah aku ciptkan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”

Meyakini bahwa setan dan jin hanyalah sifat tidak sesuai dengan pemahaman ayat di atas. Dalam ayat di atas, jin dan manusia disebut sebagai dua buah objek (makhluk) yang diciptakan Allah (khalaqtu) dengan tujuan yang jelas: beribadah. Jika jin dan setan hanyalah sifat atau karakter buruk manusia, penyebutan jin dalam ayat akan kehilangan makna. Penyebabnya, karakter yang diciptakan Allah bersama manusia tidak hanya yang karakter jahat, tapi juga karakter baik. Dan, karakter atau sifat atau nafsu manusia tidak dibebani dengan ibadah karena merupakan bagian dari manusia. Manusia secara utuhlah yang dibebani ibadah.

Jika jin hanya dipahami sebagai sifat, maka ayat itu akan bermakna, “Dan tidaklah aku ciptakan manusia dan sifat buruknya, melainkan keduanya harus beribadah kepada-Ku.” Bagaimana sifat buruk akan beribadah? Bukankah saat manusia melaksanakan ibadah dengan baik, sifat buruk tidak sedang bersamanya? Pemaham ini sangatlah rancu dan tidak masuk akal. Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan eksistensi jin sebagai makhluk

Jadi, jin itu ada. Jin adalah makhluk Allah yang diciptakan dari unsur api. Hidup di dimensi lain yang berbeda dari manusia. Manusia tidak bisa melihat, namun dua dimensi ini tetap memiliki simpul hubungan. Bisa saling berinteraksi dan memengaruhi. Hal ini bisa kita ketahui melalui hadits-hadits Rasulullah misalnya hadits tentang larangan menyiram dengan air panas atau buang air sembarangan di suatu lubang karena bisa jadi itu tempat tinggal jin. Perintah menutup pintu saat maghrib dan menutup bejana karena saat sore hari setan berkeliaran. Menyisakan tulang saat makan daging sebagai bekal jin muslim dan beberapa hadits lain. Ini menunjukkan bahwa dunia manusia dapat memengaruhi dimensi dunia jin dan sebaliknya.

Kedua mengenai adakah jin bisa menampakkan diri? Bukankah Allah berfirman, “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikutnya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka (Q.S. Al-A’raaf : 27)?

Jin Sama Sekali Tidak Dapat Menampakkan Wujud

Sebagian ulama madzhab Dzahiri menyatakan bahwa jin sama sekali tidak bisa menampakkan wujud kepada manusia. mam Al-Qusyairi menyatakan, “Allah SWT sudah menetapkan (mengikut hukum alam) bahwa anak cucu Adam tidak akan dapat melihat syaitan di dunia.” An Nuhhas berkata : Jin itu tidak bisa dilihat kecuali pada masa Nabi saja sebagai bentuk pemuliaan masa Nabi. Ibnu Hazm Azh-Zhahiri (Aliran zhahiriyah yang menerjemahkan ayat secara arti zhohirnya) berkata : Kalau Allah memberitakan kepada kita bahwa kita tidak dapat melihatnya maka barang siapa mengklaim diri telah melihat mereka, maka dia telah berdusta, kecuali dia seorang nabi sebab para nabi melihat jin adalah sebagai mukjizat (Al Fishal fo Al Milal wa An Nihal Juz V/12).

Namun demikian, beberapa dalil lain menjelaskan bahwa jin bisa dilihat dengan mata kepala. Yaitu jika jin menampakkan diri kepada manusia. Jin menyamakan dimensinya dengan dimensi manusia sehingga mata bisa melihat pantulan cahaya dari tubuh (objek) jin. Ada bberapa dalil dari hadits yang menyatakan bahwa para shahabat bisa menyaksikan penampakan jin.

Dari Abu SA’id Al Khudri Rasulullah SAW melaksanakan shalat subuh dan Abu Sa’id bermakmum di belakang Beliau. Tiba-tiba bacaan Beliau keliru. Sesudah selesai melaksanakan shalat Beliau berkata : “Kalau engkau bisa melihat aku dengan Iblis, maka dia (Iblis) menarik-narik lenganku. Aku terus  menerus mencekiknya sampai aku dapat menjadikan permainan di antara jari-jariku ini (ketika Beliau mengatakan ini Nabi mengisyaratkan dengan ibu jari dan jari telunjuknya). Kalaulah aku tidak ingat doa saudaraku Sulaiman niscaya Iblis itu akan tetap terikat di salah satu pagar masjid untuk dijadikan mainan anak-anak kota Madinah.…”  (H.R. Ahmad).

Jika Nabi SAW mau, iblis tersebut kan diikat di tiang masjid dan bisa dijadikan mainan anak-anak. Artinya bisa dilihat bahkan disentuh. Dalam hadits tersebut pun, Rasulullah bisa menyentuh dan mencekik Iblis.

Utsman bin al-Ash pernah datang ke pada Rasulullah Saw sambil berkata: “Ya Rasulullah,sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur’an) saya, dengan cara menjelma dalam wujud Ali”. Mendengar hal itu Rasulullah SAW bersabda: “Syaithan yang mengganggu kamu itu bernama Khinzib. Apabila kamu merasakan datangnya, maka berlindunglah kepada Allah dari godaannya dan meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali”. Utsman berkata: “Lalu aku melaksanakan petunjuk Rasulullah Saw tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya” (H.R. Muslim).

Demikian pul hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya nomor 2311. Dikisahkan bahwa Abu Hurairah menangkap jin yang hendak mencuri harta zakat lalu dilepaskan. Kejadian itu berulang tiga kali. Dan pada kali ketiga, Abu Hurairah tak mau melepaskan hingga setan tersebut mengatakan satu rahasia kepadanya  gar jika hendak tidur hendaknya membac ayat kursi. Dengan bacaan itu, manusia tidak akan diganggu selama tidurnya. Abu Hurairah melepaskan dan melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah. Rasulullah membenarkan dan mengatakan bahwa setan itu berkata jujur saat itu meski dia adalah pendusta.

Selain itu, fakta-fakta bahwa banyak orang telah melihat penampakan hantu baik dengan mata telanjang maupun melalui kamera bisa menjadi pendukung keberadaan jin dan kemampuan mereka menampakkan diri. Tidak semua kisah penampakan jin benar, sebagian hanyalah kisah fiktif untuk membuat sensasi. Namun ‘ala kulli hal, sebagai seorang mukmin kita wajib percaya adanya makhluk bernama jin. Kita juga wajib percaya bahwa dunia mereka memiliki persinggungan dengan dunia manusia. Mereka juga memiliki kemampuan menampakkan diri. Semua itu didasarkan pada hadits-hadits yang shahih.

Alasan mereka menampakkan diri bisa jadi karena ingin mendapatkan penghormatan dari manusia. Dengan menampakkan diri, sebagian manusia akan takut bahkan ada yang takutnya menjerumuskannya ke dalam syirik. Percaya adanya jin dan kemampuannya menampakan diri adalah bagian dari iman. Sementara takut kepada jin dan melakukan perbuatan syirik berupa menyembah jin dengan sesaji dan lain lain adalah perbuatan yang bisa merusak keimanan.

Jadi, percaya akan adanya penampakan jin atau biasa disebut hantu merupakan bagian dari iman. Sebaliknya, tidak percaya adanya jin merupakan kekufuran terhadap ayat dan hadits tentang hal tersebut. Soal bagaimana menyikapi adanya penampakan, hendaknya kita berlindung kepada Allah, membaca ayat kursi dan bertawakkal kepada-Nya.

baca juga: Mental Syirik

Satu hal sebagai catatan, hantu adalah jin yang menampakkan diri, bukan arwah leluhur. Arwah manusia setelah mati berada di alam kubur. Sebagian mendapat nikmat dan sebagian lagi disiksa malaikat. Tidak ada yang dibiarkan gentayangan. Wallahua’lam. (taufikanwar)

 

# penampakan hantu # penampakan hantnu # penampakan hantu # penampakan hantu

 

Al-Ahad Yang Maha Esa

Syarah Sullamul Wushul Seri 04

oleh: Abu Zufar Mujtaba

الأحَدُ الفَرْدُ الْقَدِيرُ الأزَليّ الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ العَلِيّ

(Allah adalah) al-Ahad, al-Fard, al-Qadir, ash-Shamad, al-Barr, al-Muhaimin, dan al-‘Ali.

 

Nazham yang kita bahas pada edisi ini masih berkenaan dengan nama-nama Allah, al-Asma`ul Husna. Ada 8 nama yang dibahas pada nazham kali ini. Kedelapan nama itu adalah al-Ahad (Yang Esa), al-Fard (Yang Tunggal), al-Qadir (Mahakuasa), ash-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya), al-Barr (yang Mahabaik), al-Muhaimin (Yang Memelihara), dan al-‘Ali (Yang Maha Tinggi). Insya Allah kita akan memakrifahinya satu demi satu.

 

Al-Ahad

Nama al-Ahad atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Yang Maha Esa termasuk nama Allah yang paling sering kita sebut dan kita kenal sejak kanak-kanak. Tidak ada anak SD yang mendapatkan tarbiyah Islam yang baik yang tidak hapal surat al-Ikhlash. Nama al-Ahad disebut oleh Allah dalam surat al-Ikhlash ayat yang pertama.

“Katakanlah (hai Muhamad), ‘Dialah Allah al-Ahad (Yang Maha Esa).’.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Dan tidak ada penyebutan di surat yang lain.

Selain nama al-Ahad, ada nama Allah lain yang maknanya berdekatan dengan nama al-Ahad ini. Yakni nama al-Wahid yang berarti Yang Satu. Jika al-Ahad disebut hanya pada satu ayat al-Quran, al-Wahid disebut pada lebih dari 15 ayat al-Quran yang mengabarkan nama dan sifat Allah. Yaitu:

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang disembah bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)

“Katakanlah, ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Yang Satu lagi Maha Perkasa.’.” (QS. Ar-Ra’du: 16)

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

“Dan sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain Allah Yang Satu dan Maha Mengalahkan.” (QS. Shad: 65)

“Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)

“(Lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Al-Mukmin: 16)

“Dan ilah kalian adalah Ilah yang satu; tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

“Sesungguhnya ilahmu adalah Satu, Rabbnya langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dan Rabbnya tempat-tempat terbit matahari.” (Ash-Shaffat: 4-5)

Makna al-Ahad dan al-Wahid

Dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid sama-sama menunjukkan ke-Esaan-Nya. Maksudnya hanya Allah sajalah yang memiliki sifat mulia, agung , besar dan bagus. Tidak ada yang mirip dengan-Nya dan tidak ada yang menyerupai sifat-Nya. Tidak ada sekutu dan pembantu dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Allah satu-satunya ilah yang berhak untuk diibadahi, tidak boleh dipersekutukan dalam hal cinta dan pengagungan. Sikap merendahkan diri dan tunduk hanya kepada-Nya saja. Dialah Allah, Dzat yang agung sifat-Nya, sehingga hanya Dia yang layak untuk menyandang segala kesempurnaan. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui sifat Allah atau sebagian dari sifat-Nya dengan sempurna. Maka, tak mungkin seseorang akan dapat menyerupai sebagian dari sifat-Nya.

Kewajiban setiap hamba yang mengetahui semua itu adalah mentauhidkan Allah, baik dengan keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Hendaknya mengakui pula keutamaan dan ke-Esaan Allah yang mutlak serta mentauhidkan-Nya dalam semua bentuk peribadatan.

Allah Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia.

 

BACA JUGA: Al-Barr Yang Maha Baik

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Al-Ahad yakni yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmat dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada. Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.”

Al-Baihaqi berkata, “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah berhak memilikinya.”

 

Hikmah Penetapan Dua Nama

Dengan mengakui dan menetapkan dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid, maka kita telah meyakini beberapa hal penting berikut:

  1. Bahwa tidak ada yang menyamai dan menandingi Allah, serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada pula yang manandingi-Nya.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

  1. Batilnya pemahaman takyif yaitu, usaha seseorang dengan akalnya yang lemah untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat Allah. Usaha semacam itu tidak mungkin bisa terwujud. Sebab Allah adalah satu-satu-Nya yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia, maka tidak ada satu dzat pun yang bisa menjadi serikat-Nya, tidak ada yang dapat menyerupai-Nya.
  2. Penetapan seluruh sifat Allah yang sempurna, tidak ada satu sifat yang menunjukkan kemuliaan dan keindahan melainkan sifat tersebut telah dimiliki Allah.
  3. Bahwa semua sifat yang Allah miliki merupakan sifat-sifat paling agung yang berada pada puncak keagungan. Allah berfirman, “Dan bahwasanya kepada Rabbmulah puncak (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 42)
  4. Allah Mahasuci dari segala kekurangan dan aib. Karena kekurangan dan aib merupakan sifat para makhluk, sementara Allah adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhluk pun yang semisal dengan-Nya.
  5. Wajibnya berikrar (menyatakan) bahwa Allah memiliki kesempurnaan sifat yang mutlak, baik dalam Dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan keyakinan itu hendaknya tertanam dalam hati.
  6. Wajibnya meng-Esakan Allah dan ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allah satu-satunya Pencipta dan Pemberi rizki yang dapat memberi maupun menahannya, dapat merendahkan serta mengangkat derajat hamba-Nya, dan dapat menghidupkan serta mematikan. Oleh karena itu wajib meng-Esakan Allah dalam semua sisi peribadatan.
  7. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allah dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya. Mereka yang tidak mengakui ke-Esaan, sehingga mereka membuat sekutu-sekutu bagi Allah, membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah, berburuk sangka kepada Allah, mencela serta meremehkan Rububiyah Allah dan melakukan pelanggaran terhadap tujuan diciptakannya manusia; yaitu mentauhidkan (mengesakan) Allah, tunduk dan patuh dengan melaksanakan semua peribadatan kepada Allah.

 

Al-Fard

Nama al-Fardu yang berarti Yang Maha Tunggal disebut oleh al-Qurthubi dalam al-Asna fi Syarhi Asma`illahi al-Husna, hal 138-141. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqiy yang beliau muat dalam kitab al-Asma` wash Shifat, halaman 116. Hanya, hadits tersebut tidak shahih.

Lantaran penetapan nama dan sifat Allah bersifat tauqifiy, maka lebih baik kita tidak memasukkan al-Fardu ke dalam nama-nama Allah. [Bersambung, insya Allah]

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah islam Arrisalah
hubungi:

Tlp: 0813-9103-3330 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.arrisalah

Instagram: majalah_arrisalah

Website: arrisalah.net

Tauhid Asma` wa Shifat

Syarah Sullamul Wushul Seri 02

oleh: Abu Zufar Mujtaba

أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْعَبِيدِ … مَعْرِفَةُ الرَّحْمَنِ بِالتَّوْحِيدِ

إِذْ هُوَ مِنْ كُلِ الْأَوَامِرِ أَعْظَمُ … وَهْوَ نَوْعَانِ أَيَا مَنْ يَفْهَمُ

إِثْبَاتُ ذَاتِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا … أَسْمَائِهِ الْحُسْنَى صِفَاتِهِ الْعُلَى

وَأَنَّهُ الرَّبُّ الْجَلِيلُ الْأَكْبَرُ … الْخَالِقُ الْبَارِئُ وَالْمُصَوِّرُ

بَارِي الْبَرَايَا مُنْشِئُ الْخَلَائِقِ … مُبْدِعُهُمْ بِلَا مِثَالٍ سَابِقِ

Kewajiban pertama atas seorang hamba… Adalah bermakrifah kepada ar-Rahman dengan mentauhidkan-Nya.

Tauhid adalah perkara yang terbesar di antara semua perkara… Dan ia ada dua, wahai orang yang hendak memahami.

Menetapkan Dzat Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi… Juga nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.

Dan bahwa Dia adalah Rabb yang Mahamulia lagi Mahabesar… Yang Maha Pencipta Maha Mengadakan dan Maha Membentuk.

Mengadakan segala yang ada, menciptakan segala makhluk… Memulai penciptaan tanpa ada misal sebelumnya.

 

Matan nazham yang menjadi sumber syarah pada edisi ini masih sama dengan matan nazham edisi yang lalu. Yang demikian itu lantaran Syaikh Hafizh al-Hakami tidak memisahkan antara kajian tauhid rububiyah dengan tauhid asma` wa shifat. Tentu ini bukannya tanpa maksud. Kiranya maksud beliau adalah agar kita ingat selalu bahwa baik tauhid rububiyah maupun tauhid asma` wa shifat adalah tauhid yang merupakan kewajiban akal pikir. Pun beliau mengkategorikan keduanya dalam satu kategori: tauhid ‘ilmi khabari i’tiqadi.

Seluruh matan nazham di atas masih berbicara tentang tauhid rububiyah dan tauhid asma` wa shifat.

 

Al-Khaliq: Yang Maha Mencipta

Nama Allah al-Khaliq (الْخَالِقُ) bermakna “Yang Maha Mencipta”. Sifat mencipta terkandung di dalam nama ini. Tidak seperti Mu’tazilah yang menetapkan nama tanpa sifat, Ahlussunnah menetapkan nama al-Khaliq untuk Allah, sekaligus menetapkan sifat “mencipta” untuk-Nya. Dalam pandangan Ahlussunnah, Allah-lah pencipta segala sesuatu. Pencipta semua makhluk. Bahkan Allah menciptakan mereka semua tanpa ada contoh sebelumnya.

Siapa pun yang memperhatikan benda-benda mati dan benda-benda hidup di alam raya ini akan sampai pada kesimpulan, tidak mungkin semua ini ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakannya. Keindahan, keteraturan, dan lain sebagainya. Allah berfirman,

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu atau merekakah yang berkuasa?” (QS. Ath-Thur: 35-37)

Allah yang Maha Mengetahui isi hati dan kepala semua manusia berfirman, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Qatadah bin Di’amah (61-117 H), salah seorang mufassir dari kalangan tabi’in berkata, “Barangsiapa memikirkan penciptaan dirinya, niscaya ia akan mengetahui bahwa persendiannya diciptakan sedemikian rupa untuk beribadah kepada Allah.”

Allah juga berfirman,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah: 164)

 

Al-Bari`: Yang Maha Mengadakan

Sifat menciptakan yang terkandung dalam nama al-Khaliq bersifat umum, meliputi berbagai perbuatan menciptakan. Adapun sifat menciptakan yang terkandung dalam nama Al-Bari` (البارئ) adalah menciptakan sesuatu dengan keindahan pada yang diciptakannya tersebut.

Menurut Abu Ishaq az-Zajjaj—salah seorang mufassir ahlussunnah yang wafat pada tahun 311 H, makna al-Bari` adalah “mengadakan dan menciptakan”.

Allah berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Pada ayat di atas, al-Bari berarti yang mengadakan sesuatu setelah mengetahuinya. Gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan berbagai musibah lainnya, sebelum terjadi—dengan izin Allah—telah diketahui oleh Allah bahwa musibah itu akan terjadi.

Dengan demikian nama al-Bari mengandung makna sebagai berikut:

  1. Yang mewujudkan, yang mengadakan, yang menciptakan. Di sini al-Bari` bersinonim dengan al-Khaliq.
  2. Yang memerinci sebagian makhluk, membedakan yang satu dengan yang lain, ada yang hitam ada yang putih, ada yang Arab ada yang non-Arab.
  3. Menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu—secara umum—dengan seimbang sempurna.

Adapun adanya makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan kekurangan, maka selain untuk hikmah yang sangat besar, kita harus ingat QS. Al-Anbiya’: 23. Juga, kalau itu berkenaan dengan manusia, ada hukum khusus berkenaan dengan mereka.

Misalnya, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa kehilangan kedua matanya, niscaya Allah akan mengganti kesabarannya atas keduanya dengan surga.” (HR. Ahmad)

Nama al-Bari’ disebut dalam al-Quran dengan tiga keadaan. Mutlak, mu’arraf (didahului dengan lam ta’rif), dan dikehendaki terang-terangan untuk menunjukkan kesempurnaan sifat.

Nama al-Bari` memenuhi syarat agar suatu nama dapat dikategorikan asma’ul husna. Syarat-syarat itu adalah:

  1. Mutlak tidak muqayyad. Seperti di surat QS. Al-Hasyr: 24. Sedangkan yang muqayyad seperti disebut oleh Allah di surat QS. Al-Baqarah: 54.
  2. Mu’arraf tidak nakirah. Pada surat al-Hasyr nama al-Bari` disebut secara mu’arraf.
  3. Ditujukan untuk menamai Allah.
  4. Menunjukkan kesempurnaan sifat tanpa diliputi syubhat.

 

Al-Mushawwir: Maha Membentuk Rupa

Al-Mushawwir (المصور) adalah yang menciptakan dengan memberikan bentuk dengan berbagai bentuk. Tashwir, sifat yang terkandung dalam nama al-Mushawwir terjadi setelah penciptaan dan pengadaan.

Al-Khathabiy dan Ibnu Katsir mengatakan, “Al-Mushawwir berarti yang membuat ciptaannya dalam berbagai bentuk yang beragam agar saling dapat mengenal dan dapat dibedakan.”

Allah telah menganugerahkan kepada kita sebaik-baik bentuk, “Dan (Allah) membentuk kamu lalu membaguskan rupamu.” (QS. Ghafir: 64)

Allah menciptakan manusia di rahim dengan tiga fase: fase ‘alaqah, fase mudhghah, dan lalu fase shurah (pemberian bentuk sebagai manusia).

Ada yang memaknai tashwir dengan penciptaan. Padahal tidak demikian. Tashwir adalah tahap akhir dari penciptaan. Khalq, lalu birayah, dan terakhir tashwir.

Buktinya adalah firman Allah, “Dan ketika engkau menciptakan dari tanah sesuatu seperti seekor burung.” (QS. Al-Maidah: 110)

Di sini Allah menggunakan kata “khalaqa”

Al-Mushawwir bermakna yang mengadakan bentuk-bentuk, yang menyusunnya dalam berbagai bentuk.

Disebut sekaligus, al-Khaliq al-Bari` al-Mushawwir, yakni Allah yang apabila menghendaki sesuatu maka Dia berkata, “Jadilah” maka terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya sesuai dengan sifat yang dikehendaki-Nya dan dengan bentuk yang dipilih-Nya. Allah berfirman, “Dalam bentuk apa pun Dia menghendaki untuk menyusunnya.”

Saat ini jumlah manusia yang menghuni bumi telah mencapai 6 miliar. Tidak ada satu pun di antara mereka yang benar-benar sama dengan yang lain, baik rupa atau warna kulitnya. Dan sebelum mereka sudah banyak yang mendahului mereka dan meninggalkan mereka. Dan sesudah mereka pun masih banyak lagi yang akan diciptakan oleh Allah dengan rupa yang berbeda-beda. Semua membuktikan keagungan Allah dan kebenaran sifat yang terkandung dalam nama al-Mushawwir. Wallahu a’lam.

Akidah Khawarij tentang Iman

Umumnya Khawarij berpandangan bahwa hakikat iman itu meliputi ma’rifat dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Menurut mereka, tidak ada iman bagi orang yang tidak terkumpul padanya ketiga perkara di atas.

Ibnu Hazm mencatat, menurut Khawarij iman akan hilang dengan hilangnya amal. Jika seseorang memenuhi semua amal yang menjadi tuntutan iman, sempurnalah imannya. Sedangkan bila amalnya kurang, maka ia pun keluar dari iman.

Sedangkan menurut catatan Ibnu Taymiyah, Khawarij berpandangan, iman mutlak itu meliputi seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak dibagi-bagi. Apabila sebagiannya hilang, maka menjadi kafirlah seseorang.

Syaikh ‘abdul’aziz Muhammad Salman berkata, “Menurut Khawarij dan Mu’tazilah, tidak disebut mukmin kecuali orang yang menunaikan kewajiban dan menjauhi dosa-dosa besar. Mereka berkata, ‘Agama dan iman itu meliputi ucapan, amalan dan keyakinan. Hanya saja ia tidak bertambah dan tidak berkurang. Barangsiapa melakukan dosa besar seperti membunuh, liwath (perilaku homoseksual), qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina tanpa bukti/saksi), dan lain sebagainya, kafirlah ia menurut Haruriyah. Mereka pun menghalalkan hak-hak orang tersebut sebagaimana mereka menghalalkannya dari orang-orang kafir.’ Menurut mereka, orang tersebut telah keluar dari iman lantaran melakukan kemaksiatan yang karena kemaksiatan seperti itu pula hal-hak orang-orang  kafir menjadi halal.”

BACA JUGA : Al Quran, Keajaiban Dunia yang Terabaikan

Beda Khawarij dengan Ahlussunnah

Pandangan Khawarij tentang hakikat iman sebenarnya sama dengan pandangan Salaf: bahwa ia meliputi keyakinan, ucapan, dan amalan.

Dalam Syarah Shahih al-Bukhari, Ibnu Bathal al-Maliki menyatakan, “Pandangan jamaah Ahlussunnah dari kalangan para Salaf dan Khalaf adalah bahwa iman meliputi ucapan dan amalan serta dapat bertambah dan berkurang.”

Ibnu Taymiyah berkata, “Di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah ada banyak nash yang menjelaskan mengenai tidak adanya iman bagi orang yang tidak punya amal. Petunjuk syariat yang menjelaskan bahwa amal-amal wajib merupakan bagian dari kesempurnaan iman pun tak terhitung.”

Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud oleh Ahlussunnah tentang amal sebagai bagian dari iman adalah bahwa amal menjadi syarat kesempurnaan iman. Dari sinilah hadir pemahaman mereka bahwa iman dapat bertambah dan berkurang.”

Yang membedakan antara keduanya, Khawarij menjadikan semua amal wajib sebagai syarat sah iman, sedangkan Salaf tidak. Menurut Salaf, tidak semua amal wajib menjadi syarat sah iman. Yang menjadi syarata sah iman tidak banyak.

Berangkat dari keyakinan bahwa amal adalah syarat penyempurna bagi adanya iman, para Salaf tidak menyebut seseorang sebagai orang yang sempurna imannya kecuali jika ia menjauhi semua dosa besar. Tidak juga kepada orang-orang yang tidak mengerjakan salah satu kewajiban Islam. Sehubungan dengan mereka Ahlussunnah mengatakan, “Orang itu mukmin dengan imannya dan fasiq dengan dosa besar yang dilakukannya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Sebutan mukmin tidak disematkan kepada orang yang melakukan dosa besar atau meninggalkan amalan fardhu. Sebab, sebutan sesuatu secara mutlak berlaku untuk hakikat yang sempurna, tidak berlaku untuk yang kurang. Oleh karena itulah sebutan mutlak boleh dinafikan dari mereka yang tidak sempurna dalam memenuhi hakikat iman. Rasulullah saw bersabda, ‘Tidak beriman seorang pencuri ketika ia mencuri.’ Yakni tidak beriman dengan iman yang sempurna.”

Ibnu Taymiyah berbicara tentang orang yang imannya tidak sempurna. “Hendaknya dikatakan, ‘Dia mukmin yang imannya tidak sempurna. Dia mukmin dengan imannya dan fasiq dengan dosa besar yang dilakukannya. Dia tidak berhak disebut dengan mukmin secara mutlak karena al-Qur`an dan as-Sunnah menegasikannya.”

Syaikh ‘Abdul’aziz Muhammad Salman berkata, “Sedangkan Ahlussunnah, mereka berkata, “Iman meliputi ucapan dengan lisan, keyakinan di dalam hati, dan amal perbuatan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Beliau juga menyatakan, “Barangsiapa melakukan dosa besar, maka menurut Ahlussunnah ia adalah mukmin yang imannya kurang. Atau dengan ungkapan lain, ia mukmin lantaran imannya dan fasiq lantaran dosa besar yang dilakukannya. Di akhirat, statusnya terserah kepada Allah (bisa jadi mendapat siksa, dan bisa jadi pula mendapat ampunan sehingga langsung masuk surga).”

 

Bertambah dan Berkurangnya Iman

Lantaran Khawarij berpandangan bahwa amal merupakan bagian dari iman, sebagai konsekuensinya, pandangan mereka tentang bertambah dan berkurangnya iman serta hukum pelaku dosa besar adalah sebagai berikut:

Secara umum Khawarij berpendapat, iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Iman itu terus ada atau hilang secara keseluruhan. Menurut mereka, hilangnya iman terjadi karena tidak dikerjakannya sebagian amal wajib atau dilakukannya sebagian dosa besar. Berkurangnya sebagian iman menyebabkan hilangnya keseluruhan iman, menurut mereka. Dan oleh karena itu pelakunya akan kekal di neraka.

Ibnu Taymiyah menjelaskan, menurut Khawarij, jika seseorang  keluar dari iman, ia pun keluar dari Islam. Sebab, tidak ada beda antara islam dan iman.

Menurut Khawarij, kemaksiatan tidak mengurangi iman melainkan merusak dan menghilangkannya. Tidak ada bertambah dan berkurangnya iman. Tidak ada ampunan di akhirat buat pelaku dosa besar, pun tidak ada syafaat.

Padahal ada banyak nash syar’i yang menegaskan adanya tambah-kurang iman. Di antaranya:

“Dan tidaklah Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Muddatsir: 31)

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (Al-Kahfi: 13)

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.” (At-Taubah: 124)

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (Maryam: 76)

Hubungan antara Islam dan Iman

Menurut Khawarij, tidak ada perbedaan antara islam dan iman. Islam dan iman itu satu. Jika salah satunya hilang, hilanglah keduanya.

Sedangkan menurut Ahlussunnah, islam dan iman itu tidaklah sama. Ibnu Taymiyah menjelaskan, iman lebih khusus daripada islam. Jika yang lebih khusus ada maka yang umum pasti ada, tetapi tidak sebaliknya. Ibnu Taymiyah juga menyatakan bahwa agama ini meliputi tiga perkara: islam, iman, dan ihsan. Dan ada tiga tingkatan: muslim, mukmin, dan muhsin. Di dalam ihsan ada iman dan di dalam iman ada islam. Orang-orang muhsin lebih khusus daripada orang-orang mukmin; orang-orang mukmin lebih khusus daripada orang-orang muslim.

Dengan bahasa lain Ibnu Taymiyah menjelaskan, islam itu suatu kewajiban; iman pun demikian. Islam menjadi bagian iman. Maka barangsiapa beriman sebagaimana mestinya, pastilah ia sudah memenuhi islam, tetapi barangsiapa yang berislam belum tentu memenuhi semua tuntutan iman.

Wallahu a’lam.

5 Hal yang Meneguhkan Akidah

Akidah merupakan pokok urusan agama. Fondasi yang akan menentukan kokoh tidaknya bangunan agama di atasnya. Fondasi yang benar dan kuat akan membuat bangunan di atasnya stabil dan aman. Adapun pondasi yang miring dan rapuh akan membuat bangunan goyah dan runtuh.

Oleh karenanya, generasi salaf: shahabat, murid-murid mereka dan generasi sudahnya sangat menjaga dan memerhatikan urusan ini. Mereka memiliki keteguhan dan kesamaan dalam akidah. Teguhnya keyakinan mereka berasal dari keimanan yang kuat terhadap al quran dan as sunah. Dan kesamaan akidah mereka terwujud karena mereka selalu mengambil ilmu dari generasi penerima wahyu.

Dan secara rinci, ada beberapa hal yang membuat akidah generasi salaf teguh, bersih dan senafas, di antaranya:

Pertama, mengimani semua isi kitab dan as sunah tanpa terkecuali. Mereka benar-benar yakin terhadap al Quran dan as Sunah hingga perkara detail. Tidak ada keraguan sedikitpun. Keimanan yang utuh dan tanpa sedikitpun celah ragu. Dan ini adalah ciri mukmin sejati. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al Hujrat: 15).

Sebagian salaf berkata, “ Risalah Dari Allah, Rasul menyampaikan dan tugas kita mengimani.” Al Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hal yang membedakan antara jalan selamat dengan jalan sesat adalah meyakini bahwa apa yang diturunkan Allah keapda Rasul-Nya adalah al haq yang wajib diikuti. Adapun perkataan manusia harus diteliti, jika selaras dengan al Quran dan as Sunah berati benar dan jika menyelisihi berarti bathil.

BACA JUGA : Akidah Khawarij tentang Iman

Dan karena al Quran dan as Sunah berisi kebenaran secara menyeluruh, maka keduanya menjadi dalil, landasan argumen yang haq. Imam Ibni taimiyah Rahimahullah berkata:

“Sesiapa yang memisahkan diri dari dalil akan tersesat dan tidak ada dalil selain dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW.”

Kedua, keyakinan bahwa al Kitab dan as Sunah telah menjelaskan semua yang dibutuhkan manusia dalam hal agama mengenai akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.

Allah berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah 3).

Rasulullah SAW berkat:, “Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku melainkan pasti telah menyampaikan kebaikan dari apa yang diajarkan kepada umatnya dan memperingatkan segala marabahaya dari berbagai hal yang telah disampikan kepada mereka.” (HR Muslim)

Al Quran dan as Sunah merupakan petunjuk sempurna yang menjelaskan hal –hal besar seperti akidah dan ibadah bahkan hal-hal detail seperti adab buang air besar. Jika adab buang air saja dijelaskan, mustahil hal-hal besar semisal urusan keyakinan dan ibadah ada yang dilewatkan. Oleh karenanya, generasi salaf tak lagi butuh hal lain selain al Quran. Inilah yang membuat iman mereka semakin istimewa.

Adapun orang-orang jaman ini, tidak sedikit yang terpesona dengan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh yang buta terhadap al Quran tapi memandang rendahpara ulama yang berpegang teguh kepada al Kitab dan as Sunah.

Ketiga, senantiasa merujuk dan kembali kepada al Kitab dan as Sunah tatkala menghadapi berbagai macam perselisihan. Baik perselisihan mengenai akidah, ibadah dan muamalah.

Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya..”

(QS An nisa: 59).

Mereka meyakini bahwa solsui dari semua perselisihan ada dalam al Quran dan as Sunah. Keduanya adalah hakim pemutus dalam perkara yang diperselisihkan. Mengandalkan akal-akal dan pemikiran manusia hanya akan menambah runyam karena setiap orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Sisi pandang subjektif yang berbeda-beda dan keinginan hati yang tak sama. Dengan ini, mereka selalu memiliki ‘rumah’ tempat kembali manakala manusia yang lain bingung dan mencari-cari.

Keempat, tidak mendahulukan akal di atas dalil. Karena akal memiliki batas. Akal harus diposisikan mengikuti dalil. Ada dua sisi ekstrim yang dilakukan manusia perihal akalnya. Yang pertama adalah yang menempatkan akal di atas segalanya. Seakan dia berkata, “Aku bersaksi bahwa akal adalah utusan Allah.” Bukan rasul. Orang-orang ini akan menganggap bahwa semua hal yang tidak bisa dinalar berarti bukan merupakan kebenaran. Tak peduli apakah hal itu ada dalam al Quran, as Sunah bahkan bibel, taurat atau apapun. Padahal ada banyak hal yang tak bisa dijangkau nalar dan hanya bisa diimani tanpa bisa dinalar.

Yang kedua adalah membuang akalnya dan mengosongkan pikirannya. Akibatnya, mereka selalu menelan mentah-mentah segala macam kebodohan. Contohnya adalah orang-orang sok sufi yang memercayai segala hal secara ajaib tanpa mau menalar sama sekali.

Adapun generasi salaf adalah generasi yang senantiasa berusaha menyesuaikan akal mereka dengan apa yang disampaikan rasulullah SAW. Mereka tunduk terhadap apa-apa yang harus diimani dan membantah berbagai hal tak amsuk akal yang menyelisihi kebenaran. Dengan ini, keimana mereka senantiasa teguh dan utuh.

Kelima, selalu menjaga hubungan yang baik kepada Allah dengan ibadah yang benar dan ikhlas. Inilah ciri khas mereka yang membedakan dengan ahlul bathil. Agama bagi mereka bukan sekadar identitas atau bahan diskusi belaka, tapi jalan hidup dan ajaran yang harus dijalankan sepenuh hati.

Hari ini, muncul orang-orang liberal yang bersikap sok kritis terhadap agama tapi lemah dalam pelaksanaannya. Mereka tajam dalam mengkritik pemikiran dan cara beragama orang lain tapi kelu dalam dzikir dan ibadah. Seperti singa di ruang diskusi keagamaan, tapi menjadi rubah yang menyelinap pergi dari masjid dan waktu-waktu ibadah. Bagaimana mungkin mengambil agama dari orang-orang seperti ini?

Generasi salaf adalah generasi terbaik dalam hal melaksanakan agama. Kita bisa membaca bagaimana keistiqomahan mereak dalam ibadah. Bagaimana kekhusyukan mereka dalam shalat, kesungguhan mereka dalam mengamalkan sunah dan keberanian mereka dalam membela kebenaran serta pengorbanan total mereka dalam jihad demi menegakkan syariat Allah.

Jika lebih dirinci, masih ada banyak faktor lain yang membuat akidah generasi salaf menjadi teguh dan kuat. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita apa yang telah Allah karuniakan kepada generasi salaful ummah. Karena umat ini mustahil bisa menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang telah membuat generasi pertama menjadi baik. Aamiin. (taufik anwar)

 

Faktor Kemunculan Khawarij

(Mengenal Khawarij 2)

Kemunculan Khawarij membawa pengaruh yang signifikan dalam aspek keagamaan, politik, sosial, dan pemikiran kaum muslimin. Oleh karena itulah sejarah kemunculannya mendapat perhatian serius dari para pakar sejarah Islam. Mereka mencatat, sekurang-kurangnya ada empat faktor yang diduga kuat mendorong kemunculan Khawarij.

Perbedaan Pendapat Seputar Khilafah

Yang dimaksud di sini bukan perbedaan pendapat biasa, melainkan terjadinya perselisihan bersenjata di antara kaum muslimin seputar Khilafah di satu sisi dan perselisihan Khawarij dengan selain mereka tentang metode pengangkatan khalifah serta kriteria mereka yang dapat diangkat sebagai khalifah menurut versi Khawarij di sisi yang lain.

Dari sisi terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin seputar khilafah, di antara para pakar sejarah ada yang mengkategorikan Khawarij—seperti Syi’ah—sebagai kelompok politis yang muncul di awal Islam. Kemunculan mereka pertama-tama kembali kepada perselisihan seputar Imamah ‘Uzhma (kepemimpinan tertinggi dalam Islam).

DR ‘Abdulhalim Mahmud berkata, “Faktor kemunculan Syi’ah dan Khawarij adalah perselisihan seputar kepemimpinan, sedangkan faktor kemunculan kelompok yang lain—Musyabbihah, Mu’tazilah, dll—adalah kajian berlebihan dan perdebatan dalam masalah akidah.”

Realitanya, perselisihan di antara kaum muslimin seputar Imamah ‘Uzhma setelah wafatnya ‘Utsman bin ‘Affan bukan hanya menjadi faktor kemunculan aliran Syi’ah dan Khawarij saja, melainkan semua aliran. Hanya, pengaruhnya terhadap kemunculan Syi’ah dan Khawarij lebih jelas dan nyata.

Sebelum mereka keluar dari ketaatan kepada khalifah ‘Ali, orang-orang Khawarij adalah bagian dari pasukan khalifah ‘Ali. Setelah peristiwa tahkim, mereka keluar dari kepemimpinan khalifah ‘Ali dan juga dari Mu’awiyah.

BACA JUGA : Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”, Syirikkah?

Setelah itu, faktor lain yang membuat Khawarij keluar dari kepimpinan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah adalah pandangan mereka bahwa metode pengangkatan khalifah dan syarat-syarat untuk menjadi khalifah tidak ada pada para khalifah yang menjabat. Mereka menggunakan sistem kerajaan, yakni kekuasaan diwariskan kepada anak dan seterusnya. Mereka berpandangan, kekhilafahan harus dipilih oleh kaum muslimin.

Peristiwa Tahkim

Peristiwa Tahkim terjadi pasca perang Shiffin, yakni setelah ‘Ali terpaksa menerima tawaran tahkim di mana Ali menunjukk Abu Musa al-Asy’ari sebagai wakilnya. Akhir dari peristiwa itu ‘Ali masih harus terpaksa menerima keputusan tahkim. Meskipun demikian Khawarij tetap membencinya dan menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk membenci ‘Ali, tidak taat kepadanya dan menolak kepemimpinannya.

Kebanyakan ulama menjadikan peristiwa tahkim ini sebagai peristiwa yang langsung memunculkan Khawarij. Ini tampak dalam dialog ‘Ali dengan mereka dimana mereka berkata, “Kami pernah bertahkim. Saat itu kami berdosa dan dengan itu kami menjadi orang-orang kafir. Hanya, kami telah bertaubat. Maka jika kamu bertaubat sebagaimana kami telah bertaubat, kami menjadi bagian darimu dan akan bersamamu. Namun jika tidak, kami akan meninggalkanmu, kami menolakmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”

Orang-orang Khawarij menyatakan bahwa tahkim mereka perbuatan kufur yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan harus meninggalkan orang-orang yang meyakininya.

Kezhaliman penguasa dan kemungkaran yang meraja lela

Faktor ini dinyatakan sendiri oleh orang-orang Khawarij. Mereka menyatakan bahwa hal itulah yang menjadi faktor keluarnya mereka dari kepemimpinan seorang penguasa muslim. Mereka melakukannya sampai mereka dapat menegakkan keadilan dan memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran serta mengembalikan manusia kepada Rabb mereka dan agama mereka. Inilah motif yang sering disampaikan oleh tokoh-tokoh Khawarij sehingga mereka menggerakkan orang-orang yang sepaham dengan mereka dan mengangkat pedang. Di antara khutbah yang disampaikan oleh ‘Abdullah bin Wahab ar-Rasibiy di depan para pengikutnya, “Demi Allah, tidaklah pantas dunia ini bagi orang-orang yang beriman kepada ar-Rahman dan kembali kepada hukum al-Qur`an. Dunia yang mereka rela terhadapnya, cenderung kepadanya, dan mendahulukannya. Dunia yang lebih mereka dahulukan daripada amar makruf, nahyi mungkar, dan menyampaikan kebenaran… maka, mari keluar wahai saudara-saudaraku dari negeri yang penduduknya zhalim ini menuju puncak gunung atau ke suatu kota untuk kita ingkari kebid’ahan yang menyesatkan itu.”

Tetapi anehnya, meskipun mereka mengakui keadilan khalifah ‘Umar bin ‘Abdulaziz dan bahwa ia berhasil menepis berbagai kezhaliman yang dilakukan oleh Bani Umayah, mereka tetap keluar dari ketaatan kepadanya. Alasan mereka, karena ‘Umar bin ‘Abdulaziz masih mengkategorikan dosa-dosa khalifah sebelumnya sebagai kezhaliman, bukan kekafiran. Itulah yang diungkapkan oleh salah satu dari dua utusan mereka yang menemui ‘Umar. Waktu itu ‘Umar bertanya, “Apakah yang membuat kalian tetap bersikap menentang kami dan membenci kami?” Salah satu dari dua orang itu menjawab, “Demi Allah! Kami tidak membenci perjalanan hidupmu. Kamu telah berjalan di atas keadilan dan kebaikan. Hanya, antara kami dan kamu ada satu perkara, jika kamu memenuhinya maka kami bagian darimu dan kamu pun bagian dari kami. Demikian pula sebaliknya, jika kamu menolaknya kamu bukan bagian dari kami dan kami pun bukan bagian darimu.” ‘Umar bertanya, “Apakah itu?” Orang itu menjawab, “Kami telah melihatmu menyelisihi apa yang telah dilakukan oleh para penguasa sebelummu. Namun kamu menamainya dengan kezhaliman. Dan kamu pun menempuh jalan yang berbeda dengan jalan mereka. Jika kamu mengklaim berada di atas kebenaran dan mereka di atas kesesatan, laknatlah mereka dan berlepas dirilah dari mereka. Inilah perkara yang akan membuat kita bertemu atau berpisah.”

Sikap mereka ini adalah sikap ghuluw, berlebih-lebihan. Dan ‘Umar bin ‘Abdulaziz memberikan jawaban yang mewakili pemahaman Ahlussunnah, “Apakah menurut kalian, melaknat para pendosa merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan? Jika demikian, beritahukan kepadaku, kapan kalian melaknat Fir’aun?”

“Tidak pernah,” jawabnya.

“Lho! Bagaimana kamu tidak melaknat Fir’aun sedangkan dia adalah makhluk yang paling buruk, sementara menurutmu aku harus melaknat keluargaku sendiri dan berlepas diri dari mereka?” kata ‘Umar.

Ekstrem dalam Memahami Islam

Sebagian ulama menyatakan, faktor keluarnya Khawarij adalah dampak dari pemikiran mereka yang ekstre m terhadap al-Qur`an dan as-Sunnah. Inilah yang disebut oleh ath-Thalibiy, “Ketakwaan dan berpegang teguh kepada al-Qur`an dan as-Sunnah secara berlebihan menjadi faktor sikap khuruj dan ingkar.”

Yang dimaksud dengan khuruj adalah keluar dari ketaatan kepada imam; sedangkan ingkar adalah mengingkari kemaksiatan dengan menganggapnya sebagai kekafiran.

Ahmad Amin, seorang pakar sejarah Islam dari Mesir juga menyatakan, “Keimanan mereka yang ekstrem telah mendorong mereka untuk menghabiskan seluruh waktu yang mereka miliki untuk menyeru umat kepada prinsip mereka secara terang-terangan. Mereka mengirim surat dan utusan kepada para khalifah Bani Umayah. Mereka tidak memperdulikan dampak dari perbuatan mereka tersebut. Apapun siap mereka korbankan.

Ustadz Abu Zahrah, juga seorang ulama dari Mesir, mengatakan bahwa ekstremitas keagamaan yang membuat mereka seperti itu adalah kehidupan pegunungan mereka (yang belum terpoles dengan baik oleh Islam). Setelah masuk Islam mereka kembali ke kehidupan mereka di pegunungan, jauh dari ilmu.

Faktor Lain

Ada juga pakar sejarah Islam yang menyebut beberapa faktor lain seperti fanatisme kabilah dan faktor ekonomi. Hanya, kebanyakan pakar sejarah tidak mengakui dua hal tersebut sebagai faktor yang spesifik mendorong kemunculan Khawarij. Wallahu a’lam.

Mengenal Firqah Khawarij (Bagian 1)

Dewasa ini berkembang pemikiran, setiap orang yang mengangkat senjata, memberontak, dan melawan penguasa adalah Khawarij. Bahkan meskipun yang melawan adalah orang-orang yang berkomitmen penuh kepada manhaj dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah—termasuk sikap mereka terhadap penguasa. Bahkan meskipun penguasa yang dilawan adalah penguasa yang menolak pemberlakuan hukum Islam dimana para ulama telah sepakat mengenai kewajiban memerangi mereka. Bahkan jika mereka adalah para penguasa kafir. Untuk itulah penting bagi kita untuk mengenal Firqah Khawarij dan pemikirannya, agar kita dapat menyikapi segala sesuatu secara proporsional.

Definisi Khawarij

Secara bahasa “khawarij” adalah bentuk jamak (plural) dari “kharij” yang berarti “orang yang keluar.” Secara istilah, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinikannya.

Az-Zubaidiy berkata, “Mereka adalah golongan Haruriyah. Kharijiyah adalah salah satu kelompok mereka. Mereka terdiri dari 7 golongan.”

Asy-Syahrastani berkata, “Siapa saja yang keluar dari imam yang benar, imam yang disepakati oleh al-Jamaah, ia disebut dengan seorang Khawarij, baik ia keluar pada masa al-khulafa` ar-rasyidun ataupun setelah masa mereka, dan para imam sampai akhir zaman.” (Al-Milal wan Nihal, 1/114)

Ada pula ulama yang mengkhususkan Khawarij sebagai kelompok yang keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib. Al-Asy’ariy berkata, “Sebab dari mereka disebut Khawarij adalah karena mereka keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib.” (Maqalatul Islamiyin, 1/207)

Ibnu Hazm menambahkan, nama khawarij disematkan juga kepada orang-orang yang melakukan tindakan yang sama dengan yang khawarij lakukan kepada ‘Ali bin Abu Thalib pada zaman mana pun.

Dr. Nashir bin ‘Abdulkarim al-‘Aql mendefinisikan Khawarij dengan, “mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan orang lain karena kemaksiatan dan keluar dari imam kaum muslimin dan jamaah mereka.” [al-Khawarij, 28]

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam mendefinisikan Khawarij, para ulama firaq berbeda pendapat menjadi tiga:

  • Orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang benar pada zaman manapun.
  • Orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada ‘Ali bin Abu Thalib dan mereka yang setuju dengan pandangan mereka.
  • Orang-orang yang keluar setelah masa ‘Ali bin Abu Thalib dari kalanga Azariqah.

Ada juga pendapat lain tetapi bukan pendapat Ahlussunnah.

Hanya Sebagian yang Khawarij

Sejarah mencatat, mereka yang keluar dari ketaatan kepada imam tidak semuanya Khawarij. Ada yang keluar dari ketaatan karena imam yang zhalim dan meninggalkan sunnah. Ini seperti keluarnya al-Husain bin ‘Ali, penduduk Madinah dalam peristiwa Hurrah, dan Zaid bin Ali Zainul ‘Abidin. Para ulama berbeda pendapat mengenai bolehnya keluar seperti ini. Ada yang membolehkannya dan bahkan menganggapnya sebagai jihad dan ada pula yang tidak membolehkannya disebabkan mafsadat yang lebih banyak daripada manfaatnya. Ini adalah pandangan kebanyakan ulama Ahlussunnah, [al-Imamatul ‘Uzhma ‘inda Ahlissunnah wal Jamaah, ‘Abdullah ad-Dumayjiy, 502, 518, 547].

Ada yang keluar kepada pemegang kekuasaan dengan takwil yang masih dapat diterima. Ini seperti yang dilakukan oleh mereka yang keluar dalam perang Jamal dan Shifin. Mereka keluar dari ‘Ali bukan karena membelot dan hendak merebut kekuasaan. Mereka melakukannya lebih karena mengikuti pendapat atau ijtihad mereka. (Majmu’ Fatawa, 28/ 266, 275)

Ada yang keluar karena menginginkan kekuasaan saja. Peperangan mereka semata-mata karena dunia. Mereka ini adalah bughat yang sebenarnya. (Fathul Bari, 12/286)

Ada pula yang keluar dari ketaatan kepada imam dan dari jamaatul muslimin dan mereka menyeru orang lain untuk mengikuti pendapat mereka. Mereka keluar lantaran mereka menyelisihi prinsip Aswaja. (Fathul Bari, 12/285).

Yang disebut terakhir inilah orang-orang yang berlaku pada mereka hadits-hadits Nabi tentang orang-orang Khawarij; tentang perintah untuk memerangi mereka. Ibnu Taymiyah berkata, “Para sahabat dan para ulama sesudah mereka sepakat mengenai wajibnya memerangi mereka.” [Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/ 243]

 Beda Pendapat yang Lain

Para ahli tarikh berbeda pendapat mengenai awal kemunculan kelompok Khawarij. Ada yang berpendapat, mereka sudah muncul sejak zaman Nabi saw. ada yang berpendapat mereka muncul pada masa ‘Utsman bin ‘Affan, dan apa pula yang berpendapat Khawarij muncul pada masa ‘Ali bin Abu Thalib, yakni ketila Thalhah dan Zubair keluar terhadap ‘Ali—ada pula yang menyatakan bahwa Khawarij muncul pasca peristiwa tahkim. Pendapat yang rajih adalah pendapat yang terakhir ini.

Pendapat pertama, bahwa Khawarij muncul pada masa Nabi, yakni Dzul Khuwayshirah atau ‘Abdullah bin Dzul Khuwayshirah at-Tamimiy yang keluar pertama kali terhadap Nabi saw saat beliau membagi harta Fa’i dimana ia menuduh Nabi saw tidak adil. Peristiwa itu dikabarkan dan dimuat oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih beliau. Abdullah inilah kharij pertama (kharij, bentuk tunggal dari khawarij). Di antara mereka yang berpendapat bahwa Dzul Khuwayshirah adalah khawarij pertama adalah Ibnul Jawzi, Ibnu Hazm, asy-Syahrastani.

Pendapat kedua, pendapat Ibnu Abil ‘Izz—pensyarah Aqidah Thahawiyah. Beliau menyatakan bahwa khawarij muncul pada masa ‘Utsman, yakni masa fitnah yang berakhir dengan terbunuhnya ‘Utsman. Ini disebut dengan fitnah pertama. Ibnu Abul ‘Izz berkata, “Khawarij dan Syi’ah muncul pada masa fitnah yang pertama.” (Syarh Akidah Thahawiyah, 472)

Ibnu Katsir juga menamai mereka yang memberontak terhadap ‘utsman dan membunuhnya sebagai orang-orang Khawarij. Beliau menulis, “Maka datanglah orang-orang Khawarij, mereka mengambil harta dari baitulmal, padahal di sana ada harta yang banyak sekali.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 7/189)

Ketiga adalah pendapat yang menyatakan bahwa Khawarij muncul pasca mundurnya sejumlah pasukan dari tentara ‘Ali bin Abu Thalib dan mereka keluar darinya, yakni setelah peristiwa tahkim. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama Ahlussunnah. Di antara mereka adalah Abul Hasan al-Asy’ariy—orang pertama yang mencatat sejarah Khawarij. Al-Asy’ariy berkata, “Sebab mereka dinamai Khawarij adalah karena mereka keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib,” (Maqalatul Islamiyyin, 1/207).

Kesimpulan al-Asy’ariy diamini oleh al-Baghdadi dimana ia memulai tarikh Khawarij dengan menyebut tentang orang-orang yang keluar dari ‘Ali, (Al-Ibadhiyah baynal Firaq al-Islamiyah, hal. 377).

Demikian pula pendapat Abul Husain al-Malthiy yang menyatakan bahwa kelompok pertama dari Khawarij adalah al-Muhakkimah, (at-Tanbih war Radd, hal. 15)

Pendapat terakhir ini pula yang banyak diikuti oleh para ahli sejarah kontemporer seperti Ahmad Amin, Syaikh Abu Zahrah, dan al-Gharabi.

Syaikh Abu Zahrah menulis, “Kemunculan kelompok ini—yakni Khawarij—diikuti dengan kemunculan kelompok Syi’ah. Keduanya muncul sebagai firqah pada masa ‘Ali bin Abu Thalib setelah sebelumnya mereka berpihak dan menjadi pasukan ‘Ali, (Tarikhul Madzahib al-Islamiyah, 1/65).

Demikianlah, benih ketidaktaatan telah muncul pada masa Nabi, namun ini masih merupakan sikap pribadi, bukan kelompok atau firqah.

Masa kenabian berlalu. Demikian pula dengan masa Abu Bakar dan ‘Umar bin Khattab. Tak sekalipun disebut tentang penentangan Dzul Khuwayshirah selain pada kasus pembagian harta Fa’i. tidak disebut pula adanya orang-orang yang sepaham dengannya. Tidak disebutkan Dzul Khuwayshirah menyebarkan pemikiran khusus. Tidak disebut pula Dzul Khuwayshirah termasuk mereka yang memberontak pada masa ‘Utsman. Tidak pula disebut di antara mereka ada anak-anak atau keturunan Dzul Khuwayshirah.

Mereka yang memberontak terhadap ‘Utsman jelas merupakan satu kelompok orang yang tidak taat kepada imam yang sah. Hanya, mereka tidak memiliki keyakinan/akidah yang berbeda secara spesifik dengan kaum muslimin pada masa itu.

Sebagai satu kelompok/firqah yang memiliki pemahaman/akidah secara spesifik, orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada pasca peristiwa tahkim, merekalah yang disebut sebagai Khawarij.

Semoga Allah menjaga kita dari pemikiran sesat Khawarij.

 

Keterbatasan dan Peran Akal

(Perspektif Ahlussunnah wal Jamaah)

Dewasa ini banyak manusia yang memosisikan akal melebihi dari yang seharusnya. Apalagi setelah Allah memudahkan dan membukakan untuk mereka pintu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan luar angkasa dan atom. Banyak dari mereka yang membuang agama dan menggantikannya dengan hawa nafsu mereka sendiri. Lantaran mereka sudah merasa pandai, mereka pun menetapkan syariat untuk diri mereka sendiri.

Dalam Islam, akal mendapatkan posisi yang istimewa. Tetapi ada batasnya. Manusia tidak boleh menuhankan dirinya sendiri. Bagaimana pun, akal memiliki kemampuan untuk mengetahui perkara-perkara yang baik dan yang buruk. Hanya, akal tidak benar-benar dapat menjawab tantangan dan problematika kehidupan tanpa tuntunan wahyu.

 

Keterbatasan Akal

Ada beberapa perkara yang tidak diketahui akal kecuali dengan bantuan wahyu. Perkara-perkara itu  adalah:

  1. Hakikat perkara ghaib yang disembunyikan oleh Allah dari makhluk-Nya, seperti mangetahui sifat-sifat Allah, mengetahui hakikat malaikat, jin, neraka, dan surga, serta apa-apa yang disediakan oleh Allah yang berupa pahala dan hukuman di akhirat kelak.
  2. Detail suatu kebaikan atau keburukan. Kemampuan akal bersifat global, tidak detail. Terkadang, akal mengetahui bahwa suatu perbuatan itu baik seperti keadilan atau buruk seperti kezaliman. Namun ia tidak mengetahui apakah suatu amal itu termasuk keadilan atau kezaliman. Riba adalah contoh untuk poin ini.
  3. Kebaikan perkara yang mengandung maslahat sekaligus mengandung mafsadat atau perkara yang tampak sebagai kerusakan, padahal sejatinya ada maslahatnya. Ibnu Taymiyah berkata, “Para Nabi datang dengan membawa perkara yang akal tidak mampu memahaminya, bukan membawa perkara yang akal mengetahui pasti kebatilannya. Para Nabi mengabarkan bagaimana akal mesti beraksi, bukan menjelaskan ruang lingkup akal.” (Majmu’ Fatawa, 2/312)

Peran Akal

Dalam pandangan Islam, peran akal adalah memikirkan makhluk-makhluk Allah, mengeluarkan perbendaharaan bumi dan segala kebaikan yang ada di dalamnya, serta mengkaji segala macam ilmu yang dapat dicapainya sehubungan alam raya ini. Perkara-perkara yang tidak dimampuinya, ia tidak perlu membahasnya. Seperti mengetahui apa yang ada di balik alam raya ini dan bagaimana cara memperbudak akal manusia yang lain.

Kewajibannya adalah tunduk kepada wahyu dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahaminya dan mentadabburinya serta mengambil kesimpulan dari bagian yang belum dijelaskan secara sharih. Itupun harus disertai dengan sikap tawadhu’ dan pasrah kepada wahyu-Nya, serta tetap menerima apa-apa yang tidak dapat dijangkaunya,

 

Urgensi Risalah

Akal manusia butuh kepada risalah dari Allah untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi. Allah amat murka kepada mereka, baik yang Arab maupun non-Arab; kecuali beberapa gelintir Ahli Kitab.”

Meskipun Allah amat murka, namun Allah tidak mengazab mereka kecuali setelah mengutus Rasul.

Allah berfirman,

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`: 15)

“Dan sekiranya kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Wahai Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?’.” (Thaha: 134)

“Dan tidak adalah Rabb-mu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di ibukota itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 59)

BACA JUGA : Keterbatasan dan Peran Akal

“Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, ‘Wahai rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu dan jadilah kami termasuk orang-orang yang beriman.’.” (Al-Qashash: 47)

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (An-Nisa`: 165)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa azab Allah ditimpakan setelah diutusnya para Rasul dan tegaknya hujjah dengan diutusnya mereka. Ini meskipun faktor turunnya azab ada, yakni kemurkaan Allah yang amat sangat kepada mereka dan Allah pun telah menjelaskan bahwa mereka berhak dan layak untuk diazab. Hanya saja Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.

 

Daya Akal Mengenali Kebaikan

Kaum muslimin berbeda pendapat mengenai dapatkah akal mengetahui baik buruknya ucapan dan perbuatan dan apakah pengenalannya akan kebaikan dan keburukannya itu berakibat hukuman atau tidak. Ada banyak pendapat, tetapi ringkasnya ada tiga:

Pertama, mereka yang berpendapat, baik buruknya ucapan dan perbuatan hanya diketahui dengan syariat saja, akal tidak dapat melakukannya. Ini adalah pendapat Jahm bin Shafwan, Abul Hasan al-Asy’ariy, Abu Bakar bin ath-Thayyib, al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’ali al-Juwayniy, Abul Wafa` bin ‘Uqail, dan lain-lain.

Kedua, mereka yang menyatakan, akal dapat mengetahui baik buruknya ucapan dan perbuatan. Barangsiapa menyelesihi apa yang baik-buruknya ditunjukkan oleh akal akan mendapatkan azab di akhirat. Ini adalah pendapat Mu’tazilah, Hanafiyah, dan Abul Khattab Mahfuzh bin Ahmad.

Ketiga, mereka yang mengatakan, akal dapat mengetahui baik-buruknya ucapan dan perbuatan. Hanya, akal saja tidak dianggap cukup sebagai sarana tegaknya hujjah dan orang yang menyelisihinya tidak berhak dan layak mendapatkan azab kecuali setelah penegakan hujjah dengan diutusnya para Rasul. Mereka berkata, “Mereka tidak diazab sampai diutusnya rasul kepada mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah. Hanya, perbuatan mereka dicela dan dimurkai oleh Allah. Mereka pun disifati dengan sifat kekafiran yang dicela dan dibenci oleh Allah. Meskipun Allah tidak mengazab mereka sehingga mengutus seorang Rasul kepada mereka.” Ini adalah pendapat jumhur Ahlussunnah wal Jamaah.

 

Fungsi Syariat

Datangnya syariat bukan untuk menjelaskan kepada manusia perkara-perkara yang bermanfaat dan berbahaya buat kehidupannya di dunia. Jika hanya untuk itu, binatang pun sudah bisa. Keledai dan kuda dapat membedakan antara tanah dan rumput sehingga keduanya hanya memakan rumput dan tidak memakan tanah. Datangnya syariat adalah untuk menjelaskan perkara-perkara yang bermanfaat dan berbahaya/bermudharat di kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini hanya dapat diketahui dengan risalah. Jika bukan karena risalah, akal tidak akan mampu sampai kepada detail perkara yang bermanfaat dan bermudharat di dunia dan di akhirat. Maka, adalah nikmat Allah yang amat besar Dia mengutus rasul dan menurunkan kitab serta menjelaskan jalan yang lurus.

Sekiranya manusia diberi kebebasan, dipersilakan untuk menentukan syariat seperti apa yang hendak mereka jalani, niscaya mereka akan memilih dan memutuskan jalan yang sesuai dengan hawa nafsunya dan tidak terlepas dari kelemahan manusia, sempitnya ilmu dan pengetahuan mereka, di samping kemusyrikan yang telah mendarah daging dengan mereka. Oleh karena itu semua, sepantasnyalah memilih syariat yang datang dari atas langit. Dari Dzat yang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi umat manusia sepanjang masa.

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22)

Wallahu al-Muwaffiq.

Bara’ terhadap Aliran Sesat

Syarah Akidah Thahawiyah
(Matan Terakhir)

فَهَذَا دِيْنُنَا وَاعْتِقَادُنَا ظَاهِراً بَاطِنًا وَنَحْنُ بَرَاءٌ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ مَنْ خَالَفَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ وَبَيَّنَّاهُ وَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُثْبِتَنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ وَيَخْتِمَ لَنَا بِهِ وَيَعْصِمَنَا مِنَ اْلأَهْوَاءِ الْمُخْتَلِفَةِ وَاْلآرَاءِ الْمُتَفَرِّقَةِ وَالْمَذَاهِبِ الرَّدِيَّةِ مِثْلُ الْمُشَبِّهَةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ وَالْجَبْرِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الَّذِيْنَ خَالَفُوا السُنَّةَ وَالْجَمَاعَةَ وَحَالَفُوا الضَّلاَلَةَ وَنَحْنُ مِنْهُمْ بَرَاءٌ وَهُمْ عِنْدَنَا ضُلَّالٌ وَأَرْدِيَاءٌ وَبِاللهِ الْعِصْمَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

Inilah agama dan akidah kita—lahir dan batin. Kita bara` kepada Allah dari semua yang menyelesihi semua perkara yang telah kita sebut dan kita jelaskan. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar Dia meneguhkan kita di atas iman dan menutup usia kita dengan iman pula serta memelihara kita dari berbagai hawa, pendapat, dan aliran yang sesat seperti Musyabbihah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Jabriyah, Qadariyah, dan yang lain; yakni mereka yang menyelisihi sunnah dan jamaah. Mereka yang bersekutu dengan kesesatan. Kita bara` dari mereka dan menurut kita mereka adalah orang-orang yang sesat dan hina. Keterpeliharaan dan taufik hanya datang dari Allah.

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidah Thahawiyah dengan pernyataan yang lugas dan tegas bahwa Islam meliputi lahir dan batin. Bahwa semua yang telah beliau urai pada matan-matan sebelumnya adalah bagian dari Islam. Sebagiannya perkara lahir dan sebagian yang lain perkara batin. Islam tidak memisahkan antara lahir dan batin. Allah berfirman,

“Tinggalkan dosa-dosa lahir dan batin!” (Al-An’am: 120)

Ada dosa-dosa lahir dan ada dosa-dosa batin. Amal pun seperti itu.

Menganggap Islam hanya yang lahir atau hanya yang batin adalah kesalahan. Termasuk kesalahan pula pernyataan bahwa masyarakat awam dibebani dengan yang lahir, sedangkan masyarakat khusus dibebani dengan yang batin.

Kenapa Firqah Sesat

Ahlussunnah berbara` (antiloyal) kepada siapa saja yang menyelisihi perkara-perkara prinsip—bukan perkara-perkara cabang/hasil ijtihad—yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mereka melempar al-Qur`an ke belakang punggung dan lebih memilih untuk mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Mereka meninggalkan Jamaatul Muslimin dan mengutamakan jalan kesesatan.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi perkara cabang/hasil ijtihadi, maka Ahlussunnah tidak bara` terhadap mereka. Meskipun pendapat yang diikuti adalah pendapat yang marjuh (tidak kuat), selama pendapat itu adalah pendapat para ulama terdahulu.

Selanjutnya Abu Ja’far menyebut beberapa firqah atau aliran sesat yang Ahlussunnah bara` terhadap mereka.

Musyabbihah

Musyabbihah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan atau menyerupakan makhluk dengan Allah. Paham tasybih dalam Islam pertama kali dikemukakan oleh Abdullah bin Saba’, seorang rahib Yahudi yang berpura-pura masuk islam dan akhirnya merusak Islam dari dalam.

Imam Ahmad berkata, “Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengaranku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seperti tanganku.”

Ishaq bin Rahawaih—guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim—berkata, “Tasybih itu terjadi ketika seseorang mengatakan, ‘Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku.’ Inilah yang dinamakan Tasybih. Adapun jika seseorang menyifati Allah dengan seperti yang Dia firmankan, ’Tangan, pendengaran, penglihatan,’ kemudian ia tidak mengatakan, ’Bagaimana’ dan ’Seperti,’ maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman, ‘Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ (Asy-Syura:11).”

Mu’tazilah

Mu`tazilah adalah aliran sesat yang pernah menggemparkan dunia Islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan. Selama waktu itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ulama Ahlussunnah yang bersikukuh dengan pedoman mereka.

Sejarah munculnya aliran Mu’tazilah oleh para kelompok pemuja aliran Mu’tazilah tersebut muncul di kota Basrah Irak pada abad ke 2 Hijriyah antara tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin AbdulMalik. Pelopornya adalah seorang penduduk Basrah mantan murid Hasan al-Basri yang bernama Washil bin ‘Atha.

Abu Hasan Al-Kayyath di dalam kitabnya Al-Intisar berkata, “Tidak ada seorang pun yang berhak mengaku sebagai penganut Mu`tazilah sebelum ia mengakui al-Ushul al-Khamsah (Lima Pondasi) yaitu Tauhid, Adil, Wa`ad wal Wa`id, Manzilah baina Manzilatain, dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar.”

Yang mereka maksudkan dengan Tauhid adalah menegasikan sifat-sifat Allah. Yang mereka maksud dengan Adil adalah bahwa Allah akan menyiksa dan memberi pahala untuk para hamba-Nya atas apa yang mereka kerjakan, dan karena itu mereka bebas—tidak terkait dengan kehendak-Nya. Adil versi Mu’tazilah sama dengan akidah Qadariyah.

Yang mereka maksud dengan Wa’ad wal Wa’id adalah bahwa Allah tidak akan mengingkari janji; baik janji akan memasukkan seseorang ke dalam surga ataupun ke dalam neraka. Maknanya, tidak ada yang namanya syafaat atau ampunan Allah di akhirat. Sebab dengan begitu berarti Allah tidak menepati janji. Yang mereka maksud dengan Manzilah baina manzilatain adalah bahwa pelaku dosa besar itu tidak lagi mukmin tetapi juga tidak kafir. Hanya saja tempat mereka kelak adalah di neraka bersama orang-orang kafir.

Dan yang mereka maksud dengan Amar Makruf Nahyi Munkar adalah kebolehan mengangkat senjata dan memerangi penguasa muslim yang memberlakukan al-Qur`an dan as-Sunnah lantaran ia melakukan suatu dosa besar.

Jahmiyah

Nama Jahmiyyah dinisbatkan kepada tokoh pengusungnya, Jahm bin Shafwan yang berasal dari Khurasan dan muncul pada abad kedua Hijriyah. Jahm dikenal sebagai orang yang suka dan banyak berdebat. Hanya saja, ia tidak memiliki pemahaman dan perhatian kepada ilmu hadits.

Jahmiyah lebih parah daripada Mu’tazilah. Jahmiyah mengingkari seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifatNya serta menganggap nama-nama sebagai majas. Dalam masalah iman, mereka berpaham irja`, bahwa iman itu cukup dengan mengenal Allah dan selainnya tidak harus ada. Oleh karenanya, menurut Jahmiyah, Iblis adalah makhluk Allah yang beriman, sebab Iblis mengenal Allah.

Jahmiyah juga mengingkari sebagian besar perkara yang berkait dengan hari Kiamat, seperti shirat (jembatan di atas Jahannam), mizan (timbangan), melihat Allah pada hari Kiamat, dan adanya azab kubur. Mereka juga berpendapat bahwa surga dan neraka tidak kekal.

Jabriyah

Jabariyah adalah aliran sesat yang berpandangan bahwa manusia itu di dalam perbuatannya serba terpaksa (majbur). Perbuatan mereka itu pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Oleh karena itu mereka berpaham, manusia tidak bersalah dan tidak berdosa. Sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan di atasnya dimana ia tidak lain laksana robot, yang mati tidak berarti. Mereka tidak mempunyai kekuasaan, kehendak, dan kebebasan memilih. Menurut mereka, manusia sama seperti sehelai bulu yang diterpa angin.

Qadariyah

Qadariyah adalah kebalikan dari Jabriyah. Menurut Qadariyah, seluruh tindakan manusia tidak ada yang diintervensi oleh Allah. Aliran ini berpendapat, setiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Semua terbebas dari kehendak Allah. Masih menurut mereka, tidak adil jika Allah mengintervensi perbuatan hamba baik dengan membantunya atau menghalanginya, lalu Allah memberi pahala atau mengadzab mereka karenanya.

Penutup

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidahnya dengan kalimat yang menunjukkan kelurusan akidahnya. Bahwa manusia wajib berusaha mencari jalan kebenaran. Dalam menjalaninya, keterpeliharaan dari berbagai kesalahan dan hidayah taufik hanya datang dari Allah. Wabillahit taufiq wal ‘ishmah.

Islam Itu Moderat bukan Islam Moderat

وَهُوَ بَيْنَ الْغُلُوِّ وَالتَّقْصِيْرِ وَبَيْنَ التَّشْبِيْهِ وَالتَّعْطِيْلِ وَبَيْنَ الْجَبْرِ وَالْقَدَرِ وَبَيْنَ اْلأَمْنِ وَاْلإِيَاسِ

Islam itu antara ghuluw dan taqshir, antara tasybih dan ta’thil, antara jabr dan qadr, dan antara amn dan iyas.

Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dan kemudian dipahami serta diamalkan oleh para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tab’in (para salaf ahlussunnah wal jamaah) adalah Islam yang moderat. Islam dengan takaran yang tepat; tidak berlebih-lebihan tetapi juga tidak asal-asalan. Islam yang berada di antara dua ekstremitas.

Tolok ukur wasathiyah (kemoderatan) Islam adalah sesuatu yang baku, tidak relatif. Tolok ukurnya bukan kebiasan, kemauan, atau pikiran suatu kaum, kelompok atau orang tertetu. Tolok ukurnya adalah Sunnah Nabi Muhammad saw. Ia harus seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Ini meliputi semua perkara, baik berkenaan dengan perkara akidah, hukum, kenegaraan, kekeluargaan, hubungan dengan orang kafir, dan lain sebagainya.

Penilaian berdasarkan kebiasaan, kemauan, atau pikiran suatu kaum, kelompok, atau orang tertentu tidak masuk hitungan. Bisa saja satu bagian dari Islam dipandang sebagai satu bentuk ektremitas oleh mereka. Padahal Islam yang dibawa oleh Nabi, itulah Islam yang moderat; bukan Islam seperti yang mereka pahami semau sendiri tanpa mengindahkan rambu-rambu warisan Nabi.

Islam itu moderat dari sono-nya; jika dimoderatkan lagi, jadinya Islam ekstrem. Maknanya, Islam moderat yang dipropagandakan oleh orang-orang yang benci dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah as-Salafush Shalih adalah sebuah ekstremitas.

Pada matan ini, Abu Ja’far ath-Thahawiy menerangkan kemoderatan Islam sebagaimana yang diwariskan oleh as-Salafush Shalih. Ada empat kemoderatan yang beliau jelaskan.

BACA JUGA: Islam Harga Mati Yang Lain Bisa Terganti

Antara Ghuluw dan Taqshir
Ghuluw artinya berlebih-lebihan, sedangkan taqshir artinya tidak sungguh-sungguh dan asal-asalan. Keduanya adalah dua bentuk ekstremitas dalam berislam. Baik dalam perkara lahir (amal) maupun dalam perkara batin (aqidah, keyakinan), keduanya sama-sama dilarang. Allah pernah mengingatkan Ahlikitab untuk tidak beragama secara berlebih-lebihan.

“Wahai Ahlikitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian!” (Al-Maidah: 77)
Di antara bentuk ghuluw Ahlikitab adalah Yahudi meyakini ‘Uzair sebagai anak Allah dan Nasrani meyakini Nabi Isa juga sebagai anak Allah.

Larangan berlebih-lebihan dalam beragama ini tidak hanya berlaku untuk Ahlikitab. Larangan ini pun berlaku untuk kita, umat Nabi Muhammad. Dan nyatanya, hari ini banyak orang yang beragama secara berlebih-lebihan. Ada yang memosisikan orang-orang shalih di posisi yang melebihi posisi para Nabi dan Rasul, ada yang mencintai dan memuja Nabi secara berlebihan sampai menetapkan sifat-sifat ilahiyah (ketuhanan) pada diri beliau, ada yang mengerjakan banyak shalat malam sampai tidak tidur sama sekali, ada yang berpuasa berhari-hari dan tidak berbuka, dan lain sebagainya.

Padahal Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan tawa kepada Allah di antara kalian. Namun, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku pun menikahi beberapa wanita. Maka, barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan bagian dariku.”
Adapun bentuk keislaman yang asal-asalan mudah sekali kita jumpai. Malas mengerjakan shalat, enggan membayar zakat, tak mau berpuasa Ramadhan, dan berbagai bentuk kemalasan dalam menjalankan banyak terjadi di sekitar kita.

Ibnul Qayyim menyatakan, “Dalam setiap perkara yang diperintahkan oleh Allah, setan memasang jerat; apakah kepada taqshir dan kemalasan ataukah kepada ghuluw dan berlebih-lebihan. Setan akan mendekati hati seorang hamba lalu mengendusnya. Jika setan mendapati di hati itu ada benih futur, malas, dan sikap meremehkan, ia akan mendorong si hamba kepada taqshir. Ia akan mengupayakan agar si hamba malas dan berpaling dari perintah Allah.

Ia akan membuka pintu takwil dan harapan sehingga bisa-bisa si hamba pun meninggalkan perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah secara keseluruhan. Sedangkan bila didapatinya hati si hamba adalah hati yang selalu waspada dan semangat dalam beramal, ia akan mendorongnya untuk bersungguh-sungguh secara berlebihan. Setan menghembuskan padanya bahwa kesungguhan yang tidak berlebihan tidak cukup baginya.”

Antara Tasybih dan Ta’thil
Tasybih adalah meyakini sifat-sifat Allah serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya, sedangkan ta’thil adalah meniadakan sifat-sifat Allah.

Kedua sikap sehubungan dengan tauhid asma wa shifat ini adalah sama-sama ekstrem. Yang satu menetapkan sifat-sifat Allah sampai-sampai meyakini sifat-sifat itu sama dengan sifat-sifat makhluk—khususnya manusia. Sedangkan yang satunya meniadakan sifat-sifat dari Allah sampai-sampai meniadakan sifat sama sekali.

Jika ditelusuri sejak kemunculannya, sebenarnya baik yang melakukan tasybih maupun ta’thil, mereka sama-sama ingin mentauhidkan Allah. Sama-sama ingin menetapkan kesempurnaan untuk Allah. Namun, karena mereka tidak mengindahkan petunjuk Salaf dan lebih mengedepankan pendapat mereka sendiri, akhirnya mereka tersesat.

Ahlussunnah wal Jamaah berada di antara mereka. Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat Allah, yakni semua sifat yang ditetapkan oleh Allah, apa adanya, tidak meyakininya serupa dengan sifat-sifat makhluk—apa dan siapa pun itu. Di samping itu Ahlussunnah juga meniadakan sifat-sifat dari Allah, yakni sifat-sifat yang ditiadakan sendiri oleh Allah (dan Rasulullah saw). Ahlussunnah tetap berpegang teguh dengan firman Allah,
“Dia (Allah) tidak semisal dengan sesuatu pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Antara Jabr dan Qadr
Jabr adalah keyakinan bahwa manusia melakukan perbuatannya di luar kehendaknya. Semua yang dilakukannya adalah kehendak dan takdir Allah dalam pengertian ia tidak punya iradah sama sekali.

Perbuatannya ibarat gerakan tetumbuhan yang dihembus angin. Adapun qadar adalah keyakinan bahwa manusia bebas melakukan perbuatannya. Bebas sebebas-bebasnya dan terlepas dari kehendak Allah. Bahkan Allah tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.

Sama seperti tasybih dan ta’thil, keyakinan jabr dan qadr ini bermula juga karena para pencetusnya ingin menjauhkan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas untuk-Nya. Yang satu meyakini tak pantas ada sesuatu yang terjadi di alam raya milik Allah ini sesuatu yang tidak diketahui dan ditakdirkan oleh Allah.

Akhirnya mereka meniadakan iradah dan kemampuan manusia sama sekali. Padahal, Allah membebani manusia dengan perintah dan larangan justeru karena mereka memiliki iradah dan kemampuan. Adapun yang satunya, meyakini bahwa tak pantas bagi Allah mengadzab manusia yang melakukan kesalahan sementara Allah sendiri menghendaki kesalahan itu terjadi.

Adapun Ahlussunnah wal Jamaah yang berada di tengah-tengah mereka meyakini bahwa manusia melakukan perbuatannya dengan iradah dan kemampuannya. Itu semua hanya terjadi dengan kehendak Allah dan telah diketahui oleh Allah, jauh sebelum manusia diciptakan. Allah memang telah mengetahui segalanya, namun Allah tidak memaksa mereka melakukan kabaikan atau kemaksiatan.

Allah telah memberitahukan konsekuensi dan risiko pilihan amal mereka. Bisa saja manusia menginginkan kebaikan atau keburukan, tetapi jika Allah tidak menghendaki, apa yang diinginkannya tidak akan terjadi. Dalam hukum Allah, jika manusia menginginkan kebaikan namun ia tidak berhasil melakukannya, ia tetap dicatat telah beramal shalih. Begitu pun dengan sebagian kasus menginginkan keburukan. Ia tetap dicatat telah melakukan keburukan. Hanya, dalam beberapa kasus—dengan kemurahan Allah—keburukan yang baru diniatkan tidak dicatat sebagai keburukan.

Antara Amn dan Iyas
Amn adalah amal hati yang berupa roja` (harapan terhadap rahmat Allah) yang berlebihan. Sedangkan iyas atau ya`s adalah amal hati yang berupa khauf (takut terhadap adzab Allah) yang juga berlebihan. Amn membuat seseorang jadi malas beramal shalih, sedangkan iyas membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah sehingga—setelah mengakibatkan berlebih-lebihan dalam beramal—dapat pula mengakibatkan nihil amal. Setelah dikuasi iyas, seseorang akan mengambil sikap berbuat dosa sebanyak-banyaknya. Prinsipnya, nikmati dunia sebisa-bisanya, daripada sengsara di dunia dan sengsara di akhirat.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai bentuk ekstremitas yang semua itu tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.

Islam: Nama dan Esensi

فَدِيْنُ اللهِ فِي اْلأَرْضِ وَالسَّمَاءِ وَاحِدٌ، وَهُوَ دِيْنُ اْلإِسْلاَمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ الله الإِسْلامُ وَقَالَ تَعَالَى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Agama Allah di bumi dan di langit itu satu, yakni agama Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya agama di sisi Allah itu Islam” (Ali ‘Imran: 19). Juga, “Dan aku telah ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)

Yang dimaksud oleh Abu Jakfar ath-Thahawiy dengan ungkapan beliau, “Agama Allah di bumi dan di langit,” adalah agama yang diridhai oleh Allah di bumi dan di langit. Di bumi, agama manusia banyak ragamnya. Ada yang bikinan manusia sendiri; dan ada pula yang semula diajarkan oleh para Nabi—datang dari Allah, tetapi meski sudah dinyatakan “kadaluwarsa” oleh Allah, sebagian orang masih menganutnya. Hanya ada satu yang diizinkan oleh Allah untuk dianut. Yakni Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Siapa saja yang ingin selamat dunia akhirat dan terhindar dari siksa api neraka serta dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia berpegang teguh kepada Islam sampai akhir hayatnya.

وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali sebagai muslim.” (Ali ‘Imran: 102)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, niscaya tidak akan diterima; dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Di langit, agama yang dianut oleh para malaikat pun Islam. Allah berfirman,

يَخَافُوْنَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Mereka (para malaikat itu) takut kepada Rabb mereka dari atas mereka. Dan mereka mengerjakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl: 50)

Islam Nama Islam Esensi

Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw adalah Islam secara nama dan esensi. Sedangkan islamnya para malaikat adalah Islam esensi. Sama seperti islamnya para nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad. Keislaman mereka semua diakui oleh Allah. Keislaman mereka adalah Islam esensi. Esensi Islam yang merupakan agama langit dan bumi adalah kepasrahan, ketundukan, dan ketaatan kepada Allah. Allah berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا

“Ibrahim itu bukanlah Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif dan muslim.” (Ali ‘Imran: 67)

Nabi Ibrahim seorang muslim bukan dalam pengertian mengucapkan dua kalimat syahadat seperti yang kita ucapkan, mengerjakan shalat lima waktu seperti yang kita kerjakan, menjalankan puasa Ramadhan seperti kita, membayar zakat seperti kita, dan menunaikan haji seperti kita. Bukan seperti itu. Nabi Ibrahim adalah muslim dalam pengertian beliau adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah dan beliau taat, tunduk, dan patuh kepada Allah. Beliau mentauhidkan Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Islam adalah istislam (pasrah) kepada Allah dengan bertauhid dan tunduk taat kepada-Nya. Esensi inilah yang dibawa dan diajarkan oleh semua nabi, mulai dari Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, ‘Isa, dan agama semua rasul.
Rasulullah saw bersabda,

الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةُ لِعِلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi adalah saudara-saudara se-‘illat. Ibu mereka berbeda-beda. Agama mereka satu.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lain)

Saudara-saudara se-‘illat maksudnya adalah saudara dengan ibu yang berbeda-beda. Meskipun ibu mereka berbeda-beda, namun agama mereka satu. Meskipun syariat mereka beragam, tetapi tauhid mereka adalah satu. Yakni mengesakan Allah dalam ibadah.

BACA JUGA: Islam Harga Mati Yang Lain Bisa Terganti

Islam adalah agama semua Nabi dan para pengikut mereka. Setiap Nabi menyeru kaumnya untuk esensi ini. Semua orang yang mengikutinya secara esensial adalah muslim, baik ia dari kalangan umat Nabi Muhammad atau pun bukan. Orang itu adalah orang yang pasrah kepada Allah dengan tauhid dan tunduk dengan ketaatan. Agama para nabi satu, syariatnya berbeda-beda disesuaikan oleh Allah dengan kebutuhan manusia pada masa masing-masing. Allah berfirman,

“Untuk masing-masing telah Kami jadikan syariat dan manhaj.” (Al-Maidah: 48)
Islam adalah agama para Nabi, karena pokoknya satu, mentauhidkan Allah dalam uluhiyah, rububiyah, dan asma wa shifat, iman kepada para nabi, memuliakan para nabi, mengagungkan perintah dan larangan Allah. Inilah agama Islam.

Semua Nabi diutus oleh Allah untuk membawa ajaran tauhid, iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir. Semua nabi melarang dari perbuatan syirik. Semua nabi memerintahkan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Adapun syariat yang menggambarkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, maka berbeda-beda.

Misalnya, syariat untuk nabi Adam. Diperbolehkan bagi anak-anak Adam menikahi saudara perempuan, selama saudara perempuan itu bukan saudara kembarnya. Setelah manusia smakin banyak, barulah diharamkan menikahi saudara kandung. Juga, dalam syariat Nabi Ya’qub, masih diperbolehkan menjadikan dua orang perempuan kakak-adik untuk dinikahi oleh seorang laki-laki hal mana yang seperti itu diharamkan bagi umat Nabi Muhammad saw.

Pokok agama ini adalah syariat Allah bagi hamba-hamba-Nya. Pondasinya adalah wahyu, bukan akal atau logika—meskipun banyak perkara yang disyariatkan-Nya masuk akal dan logis akan mendatangkan kemaslahatan.

Islam Nama dan Esensi
Allah menetapkan syariat untuk seorang Nabi yang sesuai dengan kaumnya dan kemaslahatan mereka. Syariat tersebut berlaku sampai tidak mendatangkan maslahat lagi sehingga Allah menghapusnya dan menggantinya dengan syariat baru. Maka, barangsiapa yang berpegang kepada agama seorang Nabi sebelum dinasakh, ia adalah muslim. Namun setelah datangnya nasakh, ia harus meninggalkan agama Nabi yang telah dinasakh tersebut. Sebab, agama itu menurut Allah sudah tidak selaras dengan zaman Nabi sesudahnya.

Esensi Islam yang bernama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah agama yang menasakh seluruh ajaran Nabi sebelum beliau. Maka, tidak ada agama yang diterima oleh Allah setelah diutusnya Nabi Muhammad selain agama yang beliau bawa dan ajarkan. Agama Islam berlaku untuk seluruh umat manusia, sepanjang zaman sampai datangnya hari Kiamat.

Islam adalah satu-satunya agama yang diterima oleh Allah sejak diutusnya Nabi Muhammad. Siapa pun yang enggan untuk berpegang teguh kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, keislaman lamanya tidak akan diterima oleh Allah. Allah berfirman,

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah itu Islam” (Ali ‘Imran: 19)

Keluar Semudah Masuk
Untuk masuk Islam dan belajar Islam tidaklah sulit. Bahkan mudah sekali. Siapa pun hanya perlu waktu yang pendek sekali. Dan begitu pula jika seseorang hendak keluar dari Islam. Tidak perlu waktu yang panjang. Ini sama sekali bukan anjuran untuk keluar dari Islam. Ini justru untuk memperingatkan bahwa bahkan tanpa disadari oleh seseorang sekalipun, bisa saja ia telah meyakini, mengucapkan, atau melakukan perbuatan yang dapat mengeluarkannya dari Islam.

Tentang mudahnya seseorang mempelajari Islam, adalah utusan yang menghadap Nabi Muhammad saw hendak masuk dan mempelajari Islam, ia menemui Nabi saw sebentar dan berbincang-bincang sebentar dengan beliau, maka tak seberapa lama kemudian ia telah menjadi muslim dan mengetahui prinsip-prinsip ajaran Islam. Memang untuk mengetahui sampai detail, seseorang butuh waktu yang lama. Namun, tidak setiap muslim dituntut mengetahui detail Islam.

Seseorang cukup memahami secara global, mengetahui tata cara ibadah sehari-hari yang benar, lantas jika ia menghadapi suatu persoalan yang belum diketahuinya ia dapat bertanya kepada yang ahli.
Tentang mudahnya seseorang keluar dari Islam, jika seseorang meragukan kebenaran satu perkara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, atau mengingkarinya, atau menolaknya, maka ia telah kafir.

Jika keraguan, pengingkaran, atau penolakan itu dinyatakannya, maka ia telah kafir lahir batin. Sedangkan jika hal itu hanya dibatinnya, maka ia telah kafir hatinya, meskipun secara lahir ia disikapi sebagai seorang muslim. Wallahu a’lam.

Wajib Berjamaah Haram Berfirqah

 

وَنَرَى الْجَمَاعَةَ حَقَّا وَصَوَاباً وَالْفِرْقَةَ زَيْغاً وَعَذَاباً

Kita meyakini, jamaah itu haq (benar) dan shawab (tepat) sementara firqah itu salah dan adzab

Salah satu prinsip Ahlussunnah adalah menuju jamaah atau persatuan umat dan menjauhi perpecahan dan segala hal yang mengakibatkan perpecahan. Ini adalah adab dan akhlak yang mesti dipahami dan diwujudkan oleh siapa pun yang mengaku sebagai bagian dari Ahlussunnah. Setiap orang haruslah berupaya dan mentarbiyah diri masing-masing untuk itu, sebab untuk itu memang diperlukan usaha dan tarbiyah.
Sayangnya, banyak orang lebih siap untuk berpecah-belah. Mestinya semua tahu bahwa karakter dasar banyak orang adalah egois, mengikuti hawa nafsunya, ingin dimengerti tetapi tidak mau mengerti. Oleh karena itulah para Salaf menyebut mereka yang keluar dari prinsip Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ahlul ahwa` (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu).

Makna Jamaah

Yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah bersatunya umat Islam dalam menapaki jejak kenabian, menjadikan petunjuk Nabi sebagai panduan. Berjamaah maknanya berkumpul di atas kebenaran. Inilah rahmat. Berfirqah atau berpecah-belah adalah kebalikannya. Dan ia berakibat adzab dan kesengsaraan.

Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ‏

“Berpegang teguhlah dengan tali Allah kalian semua serta janganlah berpecah belah.” (Ali ‘Imran: 103)
Para mufassir menjelaskan, tali Allah adalah al-Qur`an dan Islam. Maka makna berkumpul atau berjamaah adalah berkumpul dan berjamaah di atas al-Qur`an dan as-Sunnah. Dan sebagai penegas perintah untuk berjamaah, Allah melarang berfirqah, berpecah belah. Berkumpul harus di atas al-Qur`an dan Islam, tidak boleh di atas asas yang lain, sebab itu mengakibatkan perpecahan. Jamaah yang benar tidak akan terwujud kecuali dengan berdasar pada al-Qur`an.

Meskipun kaum muslimin berada di tempat yang berjauhan, mereka harus bersatu di atas kebenaran. Hati mereka harus menyatu. Sebagian mereka harus mencintai sebagian yang lain. Mereka mesti bekerja sama dan bahu membahu dalam mengejawantahkan seluruh perintah Allah. Jika ada di antara mereka yang sakit, yang lain pun akan turut merasakannya.

Adapun orang-orang yang memperjuangkan kebatilan dalam hidupnya, meskipun mereka berada di tempat yang sama, hati mereka berpecah belah. Mereka bersaing untuk mencari kepuasan masing-masing.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ‏‏

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datangnya keterangan kepada mereka. Mereka itu akan mendapatkan siksa yang besar.” (Ali ‘Imran: 105)

Kaum muslimin haruslah bersatu dalam akidah, ibadah, dan ketaatan kepada ulil amri di antara mereka. Saat mereka mewujudkan petunjuk Nabi inilah saat mereka menjadi rahmat bagi mereka sendiri dan masyarakat sekitar mereka. Darah mereka terjaga, hati mereka bersatu, masyarakat mereka aman. Kehidupan yang sejahtera aman sentausa pun hadir menjelma.

Dua Sisi Jamaah
Kata jamaah disebut oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadits shahih, di antaranya adalah hadits iftiraqul ummah berikut.

إِنَّ الْيَهُوْدَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ النَّصَارَى افْتَرَقَتْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ قَالُوْا مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ هِيَ الْجَمَاعَةُ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ هِيَ مَا كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Sesungguhnya Yahudi terpecah belah menjadi tujupuluh satu firqah, Nasrani terpecah belah menjadi tujupuluh dua firqah, sedangkan umat ini akan terpecah belah menjadi tujupuluh tiga firqah; semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” “Mereka adalah Jamaah,” Jawab Rasulullah. Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Mereka adalah (yang berpegang teguh kepada) apa yang aku dan sahabat-sahabatku memeganginya.” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidziy)

BACA JUGA: Makmum Sujud Tilawah Sendiri Setelah Selesai Dari Shalat Jamaah

Memperhatikan kehidupan Rasulullah dan para sahabat para ulama menyimpulkan bahwa berjamaah itu memiliki dua sisi. Seperti dua sisi mata uang, dua-duanya harus ada. Kedua sisi itu adalah: pertama, sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi yang melandasi persatuan mereka. Kedua, sisi praktik, fisik, atau institusi hal mana Rasulullah memimpin para sahabat dalam hal ini, dalam membumikan semua perintah yang datang dari langit, dan para sahabat taat kepada beliau dalam hal itu.

Jika ada ulama salaf yang menafsirkan dengan dien saja atau dengan fisik saja, harus dipahami sebagai tafsiran sesuatu dengan sebagiannya. Hal itu biasa dilakukan oleh para salaf.
Sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi jamaah adalah asas terbesar. Allah menurunkan kitab-Nya dan mengutus rasul-Nya untuk menegakkan jamaah secara sisi ini. Allah hendak mengumpulkan manusia dalam dien-Nya. Sisi atau makna ini terkandung dalam firman Allah,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نًوْحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ

“Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa; yaitu, ‘Tegakkanlah dien dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya!’.” (Asy-Syura: 13)

Sisi jamaah berkumpul secara fisik, yakni taat kepada ulil amri dalam selain kemaksiatan kepada Allah adalah sarana menuju yang pertama. Ada hubungan yang erat antara yang pertama dan yang kedua. Pelanggaran atau kekurangsungguhgan dalam melaksanakan yang pertama berakibat munculnya kerusakan pada yang kedua. Begitu pun sebaliknya, pelanggaran atau kekurangsungguhan dalam melaksanakan yang kedua akan berakibat munculnya kerusakan pada yang pertama.

Dalam kedua sisi, eksistensi jamaah diperlukan. Berjamaah dalam pengertian yang pertama yakni dalam dien adalah kebenaran dan ketepatan. Mengadakan sesuatu yang baru dalam hal ini adalah bentuk kebatilan, kesalahan, dan kesesatan. Demikian pula halnya dengan berkumpul secara fisik. Ia adalah kebenaran dan ketepatan. Menyelisihinya adalah bentuk perpecahan, kebatilan, dan kesesatan.

Salaf Menjaga Keseimbangan
Menjaga keseimbangan antara sisi pertama dan kedua jamaah adalah jalan yang telah ditempuh oleh para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in, dan para ahli ilmu. Mereka berusaha menjaga diri, keluarga dan orang-orang Islam yang ada di sekitar mereka agar menjaga keseimbangan kedua sisi jamaah ini. Mereka mengerti bahwa tidak menjaga keseimbangan dalam hal ini adalah bentuk tidak menjaga amanat dan tidak meneladani jalan hidup para pendahulu mereka yang shalih.

Sejarah mencatat, sehubungan dengan menjaga keseimbangan kedua sisi jamaah ini kaum muslimin terkelompokkan menjadi tiga:

Pertama, mereka yang lebih mendahulukan sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi. Mereka kurang mengindahkan sisi berkumpul secara fisik. Melihat kesalahan atau kemungkaran membuat mereka meninggalkan orang-orang yang melakukannya. Belakangan para ulama mengidentifikasi mereka sebagai orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah. Atas nama berpihak kepada kebenaran kedua firqah ini memerangi pemerintahan yang sah secara syar’i, padahal—jika mereka tahu—secara ilmu dan manhaj pun Rasulullah sudah menjelaskan sikap yang benar dalam hal itu. Yakni tetap taat pada perkara yang bukan berupa kemaksiatan kepada Allah.

Kedua, mereka yang lebih menjaga sisi fisik sehingga mereka meninggalkan amar makruf nahyi mungkar, bahkan terhadap kemusyrikan dan kebid’ahan yang menafikan esensi dua kalimat syahadat.

Ketiga, mereka yang memadukan keduanya dengan sekali waktu menarik-mengulur demi menjaga keseimbangan di dalamnya. Mereka mengajak bersatu berjamaah dalam komitmen kepada dien, dan dalam waktu bersamaan mereka mengajak untuk bersatu berjamaah secara fisik. Semua itu dilakukan dengan menyebarkan ilmu, dakwah, nasihat, dan amar makruf nahyi mungkar, dan berbagai metode syar’i lainnya. Dengan penuh hikmah mereka menjalaninya. Mereka mempertimbangkan situasi kondisi dan perkara-perkara yang memang semestinya dipertimbangkan. Mereka adalah Ahlussunnah wal Jamaah.