Agar Nabi Mendoakanmu

Siapa yang tak ingin didoakan secara langsung oleh rasulullah ﷺ!? Tentunya semua orang beriman ingin dan sangat berharap bisa didoakan Nabi ﷺ. Namun kiranya hal itu tidak bisa terjadi karena rasulullah telah meninggalkan kita jauh-jauh hari. Meski demikian, dalam banyak sabdanya, beliau mendoakan umatnya; dengan rahmat, ampunan ataupun keberkahan kepada orang-orang yang mengamalkan ibadah-ibadah berikut:

Nabi ﷺ memohonkan ampunan, rahmat atau keberkahan untuk orang-orang yang berbuat amal shalih berikut.

Beberapa amalan tersebut adalah:

  1. Shalat Qabliyah Asar 4 Rekaat

رحِم اللهُ امرأً صلَّى قبْلَ العصرِ أربعًا). رواه الترمذي (430) وأبو داود (1271)

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat sebelum ashar empat rekaat”  (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

 

  1. Imam dan Muadzin

(الْإِمَامُ ضَامِنٌ ، وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ ، اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ ، وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ). رواه أبو داود

“Imam adalah penjamin, dan muadzin adalah orang yang dipercaya, Ya Allah berilah petunjuk bagi imam dan berikan ampunan bagi muadzin” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Berhaji

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ .

“Ya Allah ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimohonkan ampunan olehnya” (HR. Thabrani)

 

  1. Pasutri yang Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

رحمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى، ثمَّ أيقظَ امرأتَهُ فصلَّت، فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ، ورحمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فصلَّت ، ثمَّ أيقَظَت زوجَها فصلَّى، فإن أبى نضحَت في وجهِهِ الماءَ). رواه أبو داود

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Bermudah dalam Menjual, Membeli dan Menuntut Hak

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إذا باعَ، وإذا اشْتَرَى، وإذا اقْتَضَى).رواه البخاري

“Allah merahmati orang yg memudahkan ketika menjual & ketika membeli & juga orang yg meminta haknya.” (HR. Bukhari)

 

  1. Orang yang Berkata Baik atau Diam Menahan untuk Tidak Berkata yang Buruk

رحمَ اللهُ عبدًا قال خيرًا فغَنِمَ أو سكَتَ عن سوءٍ فسلِمَ

“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata baik ia pun beruntung atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Mubarak, Az-Zuhdi)

 

  1. Pemimpin yang Lemah Lembut Kepada Rakyatnya

اللَّهُمُّ مَنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشِقَّ عَلَيْهُمْ فَاِشْقَقْ عَلَيْهِ، وَمِنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرِفْقَ بِهُمْ فَاِرْفَقْ بِهِ). رواه مسلم

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. (HR. Muslim, no.182)

 

  1. Orang yang Menggunakan Waktu Awal Paginya untuk Kebaikan

اللهمَّ بارِكْ لِأُمَّتِي في بُكورِها). رواه الترمذي

“Ya Allah berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi)

 

  1. Mengembalikan Hak Orang yang Dizhalimi dan Meminta Kehalalannya

رَحِمَ اللهُ عبدًا كانت لِأَخِيهِ عنده مَظْلِمَةٌ في عِرْضٍ أو مالٍ فجاءه فاسْتَحَلَّهُ قبلَ أن يُؤْخَذَ وليس ثَمَّ دينارٌ ولا دِرْهَمٌ ، فإن كانت له حسناتٌ أُخِذَ من حسناتِه ، وإن لم تكن لهُ حسناتٌ حَمَّلُوا عليهِ سَيئاتِهم). رواه الترمذي

“Allah merahmati orang yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun lalu ia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya” (HR. Tirmidzi)

   10. Orang yang Menghafal dan Menyampaikan Hadits Nabi

(رَحِمُ اللهُ امرأً سَمِعَ مَنِّيُّ حَديثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ غيرَه.. الحديث). صححه الألباني

“Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain.”

 

Oleh: Redaksi/Fadhilah Amal

 

Agar Bertetangga Nikmat Dirasa

“Alhamdulillah, keluarga si fulanah akhirnya pindah ke kampung sebelah.” Ujar seorang ibu kepada tetangganya. Sang ibu tersebut mengungkapkan rasa gembiranya karena kepindahan keluarga fulanah yang selama ini menjadi tetanganya. Lumrah saja ia gembira, karena memang keluarga Fulanah termasuk keluarga yang kurang disenangi,  tidak pernah mau kerja bakti, ngomel ketika dimintai iuran sosial dan seabrek akhlaq buruk lainnya melekat pada keluarga si fulanah tersebut. Sehingga para tetangga merasa sesak dengan keberadaan mereka bahkan berharap mereka pergi dengan segera.

Barangkali kisah serupa acap kita jumpai di sekeliling kita. Ketidakberesan dalam berinteraksi dengan tetangga berbuah ketidaknyamanan.

 

Masuk Jannah Karena Tetangga

Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita setelah keluarga. Dari merekalah kita mendapatkan bantuan pertama kali ketika keluarga kita tertimpa musibah atau kita butuh pertolongan. Maka selayaknya kita labuhkan segala kebaikan kepada mereka agar kita mendapatkan jannah-Nya.

Nabi ﷺ pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, si Fulanah itu biasa shalat malam, shaum di siang hari, melakukan kebaikan dan bersedekah, tapi dia suka mengganggu tetangga dengan lisannya.” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Dia tidak punya kebaikan. Dia termasuk penduduk neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Sementara si Fulanah (wanita yang lain) hanya menjalankan shalat wajib, bersedekah hanya dengan sepotong keju, tapi tak pernah mengganggu siapa pun.” Rasulullah menyatakan, “Dia termasuk penduduk jannah.” (HR. Al Bukhari)

Bahkan beliau mengancam keras orang yang mengganggu tetangganya. Beliau bersabda;

“Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Al-Bukhari)

 

Apakah Kita Tergolong Orang Baik?

Seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan jika aku mengerjakannya maka aku dapat masuk jannah. Beliau menjawab, ”Jadilah Engkau seorang muhsin (orang yang baik perangainya).” Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tahu bahwa aku seorang muhsin?” Beliau menjawab, “Bertanyalah kepada tetanggamu, jika mereka mengatakan bahwa kamu itu orang muhsin, berarti memang kamu orang baik. Namun jika mereka mengatakan bahwa kamu itu seorang orang yang musi’ (buruk perangainya) berarti memang kamu orang yang buruk’. (HR. Al Hakim).

Dari sini jelaslah bagi kita bahwa untuk mengevaluasi diri apakah kita termasuk orang yang baik atau orang yang buruk, cukuplah kita melihat komentar tetangga tentang kita. Merekalah yang paling dekat dengan kita sehingga mereka lebih mengetahui akhlak kita yang sebenarnya. Mungkin ketika di luar kita akan tunjukkan kelakuan baik sehingga manusia bisa kita kelabuhi. Namun lain halnya dengan tetangga, mereka tidak bisa kita tipu. Mereka tahu benar akhlaq kita yang sebenarnya.

Betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Jibril  menekankan dalam wasiatnya kepada Nabi ﷺ.

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.” (HR. Al-Bukhari)

 

Menumbuhkan Rasa Cinta Antar Tetangga

Tentunya semua berharap, para tetangga menyukai keberadaan kita. Tidak merasa sesak hati dan risih dengan kehadiran keluarga kita sehingga selalu mengharapkan kepindahan kita. Ada beberapa langkah agar benih cinta tumbuh meninggi antar kita dengan tetangga, diantaranya dengan saling bertegur sapa dan mengucapkan salam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai: sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW juga menganjurkan kita untuk selalu berbagi bila punya kelebihan rezeki. Karena saling memberikan hadiah akan melahirkan kecintaan di antara sesama, sebagaimana sabda beliau:

 تَهَادَوْا تَحَابُّوا

‘’Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”(HR. Malik)

Hadiah atau pemberian tidak harus sesuatu yang bernilai mahal. Sekedar membagi lauk  dan sayuran yang kita masak bisa menumbuhkan rasa kasih sayang antar tetangga. Dalam memberikan hadiah kita utamakan tetangga yang paling dekat pintunya dengan kita. Karena merekalah yang pertama kali melihat apa yang keluar dan masuk dari rumah kita, sehingga kemungkinan mereka memiliki harapan dan keinginan,  Dan merekalah yang paling cepat menyahut jika dipanggil ketika kita memerlukan, terutama ketika musibah menimpa kita.

Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Al Kabaair menyebutkan sebuah riwayat bahwa pada hari kiamat nanti seorang tetangga yang miskin akan mengikuti tetangga yang kaya sambil mengadu, “Wahai Rabbku, tanyakan kepadanya mengapa ia menghalangiku dari kebaikannya dan menutup untukku uluran tangannya?”

Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik dan dikaruniai tetangga yang baik pula. Karena itulah satu diantara kebahagiaan di muka bumi ini.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibnu Hibban)

Wallahul Musta’an

Oleh: Ust. Abu Hanan/Fadhilah Amal

Fadhilah Surat-Surat dalam Al-Qur’an

Allah menjadikan Al-qur’an sebagai petunjuk dan cahaya bagi setiap hamba yang mengimaninya. Ia sebagai penawar hati dan obat dari penyakit yang ada di dada, yang merupakan mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihi wasallam.

Kalamullah, setiap huruf yang dibaca mendatangkan pahala bahkan dilipatgandakan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan beberapa keutaman surat-suratnya, semoga dengan mengetahui  keutamaannya menumbuhkan semangat untuk membacanya dan membuahkan amal sesuai dengan tuntunannya, aamiin.

Al-Fatihah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, terdengarlah suara dari arah atas dan ia mendongakkan kepalanya, Jibril berkata, “Ini adalah suara pintu langit dibuka pada hari ini setelah sebelumnya ia tidak pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.” Maka turunlah malaikat darinya. Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi setelah sebelumnya ia tidak pernah turun sama sekali kecuali pada hari ini.” Lalu (malaikat tersebut) memberi salam dan berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang sebelumnya ia tidak pernah diberikan kepada seorangpun Nabi sebelummu, (yaitu) pembuka Kitab (Surat Al-Faatihah) dan penutup surat Al-Baqarah, tidaklah engkau membaca satu huruf pun (dari keduanya) kecuali cahaya tersebut akan diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Surat Al-Baqarah

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan surat Al Baqarah didalamnya.” (HR. Muslim)

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menulis kitab sejak dua ribu tahun sebelum Ia menciptakan langit dan bumi, Allah menurunkan darinya dua ayat yang menjadi penutup surat Al Baqarah. Tidaklah keduanya dibaca didalam rumah selama tiga malam kemudian syetan berani mendekatinya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ad Darimi)

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah dalam suatu malam, kedua ayat itu telah mencukupinya.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada tiap akhir shalat wajib maka tidak ada yang menghalanginya memasuki surga kecuali kematian.” (HR. An Nasai)

Surat Ali ‘Imraan

Abu Umamah Al-Bahiliy berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang di hari kiamat nanti sebagai syafa’at kepada yang membacanya. Bacalah Az-Zahraawain, yaitu Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imraan, karena keduanya akan datang di hari kiamat nanti bagai dua gumpalan awan atau bagai dua naungan atau bagai dua kawanan burung sebagai pembela kepada yang membacanya. Bacalah Surat Al Baqarah karena sesungguhnya membacanya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, Al-Bathalah (tukang sihir) tidak akan dapat menguasainya.” (HR. Muslim)

Al Musabbihaat

Dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia telah menceritakan kepada mereka, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca Al-Musabbihaat sebelum beliau beranjak tidur, beliau bersabda, “Disana ada ayat yang lebih afdhal dibanding seribu ayat.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad)

Al-Musabbihaat adalah surat-surat Al-Qur’an yang diawali dengan “subhana”, “sabbaha” dan “yusabbihu”, surat-surat tersebut adalah Al-Israa’, Al-Hadiid, Al-Hasyr, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, At-Taghaabun dan Al-A’laa.

Surat Al-Kahfi

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa hafal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain dengan lafazh, “Dari akhir surat Al-Kahfi.”

Surat Al-Mulk

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Surat dari Al-Qur’an yang berjumlah tiga puluh ayat, ia dapat memberikan syafa’at bagi yang membacanya hingga dia diampuni Allah, (surat itu adalah) Tabarakalladzi biyadihil mulku (Surat Al-Mulk).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad)

Dari Jaabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak tidur hingga beliau membaca “Alif Laam Miim, Tanziil (As-Sajdah)” dan “Tabarakalladzi biyadihil mulku (Al-Mulk).” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Surat Al-Kaafiruun

Dari Jabalah bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku sesuatu yang dapat aku baca ketika akan tidur.” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kau hendak menuju pembaringan, maka bacalah “Qul yaa ayyuhal kaafiruun (Al-Kaafiruun)” hingga akhir surat, karena ia akan melepaskannya dari kesyirikan.” (HR. Ahmad, Nasai,)

Surat Al-Ikhlaash dan Al-Mu’awwidzatain

Dari Abu Darda’, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidakkah salah seorang dari kalian sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana caranya membaca sepertiga Al-Qur’an?” Rasulullah bersabda, “Qul huwallaahu ahad sama dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu (surat al ikhlash) disetiap rakaat?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai surat tersebut.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya mencintai surat tersebut akan memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi, Ahmd, Ad Darimi)

Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda, “Ucapkan, Qul huwallaahu ahad dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) saat sore dan pagi hari tiga kali, maka mereka akan mencukupimu dari segala sesuatu.” (HR. Abu Daud, Nasai, Ahmad)

Oleh: Redaksi/Al-Quran

Menjadi Da’i Hingga Setelah Mati

Ada orang yang telah dikubur mati, namun ia masih beramal di muka bumi. Ada pula orang yang jasadnya masih bergentayangan di muka bumi, namun keberadaannya seperti orang yang telah mati.

Orang yang tidak menyambut hidayah, menutup mata dari aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, dan cuek terhadap syariat-Nya, hakikatnya ia seperti orang yang telah mati, meskipun jasadnya masih berkeliaran ke sana kemari. Ia tak bisa mengambil manfaat apapun untuk dirinya, apalagi memberikan manfaat bagi orang lain.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ اْلمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ … وَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُوْرِ قُبُوْرٌ

“Kebodohan adalah kematian bagi ahlinya, sebelum ia mati meninggalkan dunia. Jasadnya adalah kuburan bagi (ruh)nya, sebelum (tanah menjadi) kuburannya.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim al-jauziyah)

 

Perumpamaan Tentang Hidup dan Mati

Kebodohan yang dimaksud di sini adalah kebodohan terhadap ilmu syar’i. Jika orang buta tidak bisa mengambil manfaat dengan adanya cahaya, maka orang yang cuek dan berpaling terhadap aturan syar’i adalah orang yang buta atau bahkan mati hatinya. Ia tidak bisa mengambil manfaat dari cahaya kebenaran yang telah Allah turunkan melalui lisan Rasul-Nya.

Adapun orang yang menerima hidayah setelah tadinya sesat dan tak tahu apa-apa, ia seperti orang yang hidup dari kematiannya. Allah menyebutkan perumpamaan tentangnya di dalam frman-Nya,

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122).

Begitulah Allah memberikan perumpamaan bagi orang yang menerima ilmu dan hidayah, dan orang yang menampiknya. Ibnu Katsier menafsirkan ayat tersebut, “Allah telah membuat perumpamaan orang mukmin yang tadinya mati, yakni berada dalam kesesatan dan kebingungan, lalu Allah menghidupkannya. Yakni menghidupkan hatinya dengan iman, dan memberikan taufik kepadanya untuk mengukuti Rasul-Nya.

 

Menjadi Da’i Setelah Mati

Orang yang menyambut ilmu syar’i dan mengamalkannya, bukan saja memiliki hakikat hidup hakiki di dunia, bahkan ia masih bisa menjadi da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah.

Jasadnya telah terkubur di dalam tanah, namun ilmunya masih tersebar di permukaannya. Dengan ilmu yang ditinggalkannya ia masih mampu mengajak manusia ke jalan Allah, mencegah dari perbuatan maksiat, mengingatkan yang alpa, mengajari yang belum tahu dan mengingatkan manusia dari maksiat dan dosa.

Tatkala semasa hidupnya seseorang yang hatinya diterangi oleh cahaya ilmu dan hidayah berjalan di muka bumi dengan aturan Rabbnya, lalu menginspirasi orang lain untuk berbuat seperti apa yang ia perbuat, maka ia adalah seorang pelopor kebaikan bagi orang-orang yang di belakangnya;baik yang tinggal satu masa dengannya maupun bagi generasi-generasi setelahnya.

Tatkala kita membaca kisah para Nabi, juga tentang kesungguhan para sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in dalam mengabdi kepada Allah, hingga kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama, maka mereka adalah da’i, sedangkan kita adalah mad’u (obyek dakwah)nya. Mereka mendapat pahala kebaikan karena memberi teladan yang baik kepada orang-orang di belakangnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْء

”Barangsiapa yang mempelopori satu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya.” (HR Muslim)

Para ulama yang meninggalkan bekas berupa buku pintar dan karya-karya tulisnya, adalah cara mereka menjadi da’i hingga setelah kematiannya. Bukankah tatkala kita membaca karya Imam an-Nawawi misalnya, kita serasa belajar kepada beliau dan beliau serasa mengajar kita? Dengan membacanya kitapun mendapatkan faedah yang nyata, dan alangkah banyak umat yang mengambil manfaat dari tulisan-tulisannya.

Baca Juga: Bijak Menasehati Tanpa Menyakiti

Benarlah kata Ibnu al-jauzi rahimahullah, bahwa karya para ulama itu ibarat anak yang hidup hingga hari Kiamat. Artinya, karya-karya tersebut bisa menjadi sumber penghasilan pahala bagi penulisnya yang ikhlas, yang nilainya tergantung sejauh mana peredaran ilmunya dan hingga kapan ilmu itu dimanfaatkan orang. Inilah yang disebut dengan al-ilmu yuntafa’u bihi, ilmu yang dimanfaatkan orang lain, salah satu pahala yang terus mengalir setelah pemiliknya meninggal.

Tapi, bagi orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas ilmu untuk berkarya, masih ada pilahn lain untuk dijadikan sebagai ’atsar’ (jejak) yang ia tinggalkan setelah matinya. Ia masih bisa berdakwah setelah ia meninggalkan dunia ini. Yakni dengan membangun atau berpartisipasi dalam pendirian lembaga atau markas-markas dakwah misalnya. Selagi proyek-proyek dakwah yang dibangun itu masih berjalan, maka para pendiri dan orang-orang yang berperan di dalamnya mendapat pahala seperti para pengelolanya yang masih hidup. Ia mendapat pahala dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh penerusnya yang menjalankan misi dakwah ilallah. Baik pahala sebagai pelopor kebaikan, maupun sebagai orang yang mengajak atau menunjukkan kepada kebaikan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه

”Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya kebaikan seperti orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Penata Hati

Istikharah, Untuk Pilihan Terbaik

Istikharah artinya meminta pilihan. Abu Amru Abdillah al Hamadi menjelaskan, istikharah artinya  meminta agar keinginan hati dicondongkan pada apa yang terbaik dan utama menurut Allah, dengan cara menunaikan shalat sunah dan berdoa dengan doa istikharah yang diajarkan Nabi ﷺ .

Prakteknya cukup mudah, seseorang menunaikan shalat sunah -bukan shalat wajib- dua rakaat dan membaca surat apapun dari al Qur`an setelah al Fatihah. Setelah salam, membaca tahmid atau bacaan yang berisi pujian pada Allah, membaca shalawat untuk Nabi ﷺ lalu berdoa dengan do’a istikharah dan ditutup dengan shalawat. Soal waktu pelaksanaannya, pada dasarnya bisa dikerjakan kapan saja, tapi lebih utama dilaksanakan pada waktu-waktu yang memiliki fadhilah (keutamaan) seperti pada sepertiga malam akhir.

Adapun lafazh doanya bisa kita baca dalam hadits shahih riwayat Imam al Bukhari, dari Jabir bin Abdillah beliau berkata,

“Adalah Rasulullah ﷺ mengajari kami Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah al Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah dua rakaat, kemudian membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي –أَوْ قالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik bagi agamaku, kehidupanku dan akibatnya terhadap diriku – atau Nabi ﷺ bersabda: untuk dunia atau akhiratku- sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagi dalam agamaku, kehidupanku dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerrdhaan-Mu kepadaku.” Lalu menyebutkan urusannya.

 

Boleh Doa Saja

Yang paling utama adalah melakasanakan istikharah adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits; diawali dengan shalat sunah dua rakaat kemudian membaca doa. Sebab, ada hikmah yang agung dalam anjuran untuk melakukan shalat sunah sebelum memanjatkan doa.

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hikmah disyariatkanya shalat sebelum doa adalah, bahwa tujuan istikharah adalah memperoleh  kebaikan dunia dan akhirat. Untuk itu seseorang harus mengetuk pintu al Malik (Allah). Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan itu semua selain dengan shalat, karena di dalamnya terdapat pengagungan kepada Allah, pujian dan rasa membutuhkan yang sempurna.”

Akan tetapi bagi yang tidak mungkin melaksanakan shalat, diperbolehkan istikharah hanya dengan membaca doanya saja. Misalnya seorang wanita yang tengah haid dan ingin melakukan istikharah karena suatu keperluan.

Imam an Nawawi berkata, ” Jika tidak memungkinkan bagi seseorang melakasanakan shalat, ia boleh istikharah dengan berdoa saja.” Inilah pendapat ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i.

 

Baca Juga: Menjadi Istri Penyejuk Hati

 

Yang perlu diperhatikan, hendaknya lafazh doa yang dibaca, persis seperti apa yang diriwayatkan dalam hadits yang shahih. Kita harus berusaha menghafalnya sebisa mungkin. Ulama mengatakan, lafazh doa ini diajarkan oleh Rasulullah sebagaimana beliau mengajarkan surat al Qur`an, sedang surat dalam al Qur`an tidak boleh ditambah atau dikurangi. Beliaulah yang paling tahu mengenai lafazh terbaik untuk memohon kepada Allah.”

Artinya, lafazh istikharah semacam inilah yang paling pas, syamil (mencakup semuanya) dan utama karena diajarkan oleh manusia yang paling dekat dengan Allah. Kita bisa melihat betapa indahnya doa tersebut –salah satunya- dari kalimat ” yang terbaik untuk dienku, hidupku dan akibat sesudah itu bagiku” maknanya bahwa hendaknya kebaikan tersebut adalah kebaikan yang menyentuh semua aspek; dien, kehidupan dan akhir atau dari itu semua dan kebaikan akhirat. Sebab bisa jadi, sesuatu terlihat baik bagi dunianya tapi buruk bagi agamanya.

 

Tak Hanya untuk Memilih Jodoh

Istikharah adalah doa bagi hamba ketika menghadapi dilema, harus memilih antara dua atau beberapa hal. Karena tak jarang, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membutuhkan keputusan tepat mengingat urusan tersebut sangatlah krusial bagi diri kita atau mungkin juga orang lain. Seberapa penting atau tidaknya, besar kecilnya, krusial atau sepelenya setiap urusan, masing-masing orang memiliki standar berbeda dan lebih tahu dengan urusannya. Sehingga persepsi bahwa Istikharah hanyalah ritual khusus untuk memilih calon pasangan saja adalah salah karena kita juga disunahkan melakukan istikharah untuk selian itu, misalnya; saat akan memilih tempat tinggal atau sekolah, apakah harus pergi (safar) ataukah mengurungkannya, mengatakan suatu rahasia kepada teman, keluar dari pekerjaan atau tidak, memutus hubungan kerja dengan seseorang dan urusan lainnya.

Anas bin Malik berkata, “Ketika Rasulullah wafat, di madinah ada dua orang tukang gali kubur, yang satu pembuat lahad (kubur yang digali agak condong ke samping/dinding lubang) dan dharih (lubang kubur biasa). Orang-orang berkata, ” Kita istikharah pada Allah lalu kita utus dua orang kepada dua tukang gali itu. Utusan yang datang terakhir, kita tinggalkan.” Lalu penggali lahad datang lebih dahulu dan digalilah kubur Rasulullah SAW dalam bentuk lahad.”

Intinya bahwa istikharah adalah salah satu sunah bagi kita saat harus mengambil keputusan dan pilihan. Tujuannya agar dalam mengambil keputusan selalu melandaskannya pada keimanan dan syariat-Nya. Yaitu iman bahwa Allahlah yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, hanya kepada-Nyalah kita meminta petunjuk dan arahan dan iman pada takdir. Sehingga apapun yang kita pilih, hati kita akan tenang dan yakin bahwa apa yang telah Allah takdirkan adalah yang terbaik dengan segala hikmah yang ada padanya.

 

Istisyarah, Bukan Menanti Mimpi

Apa yang harus kita lakukan setelah menunaikan istikharah? Menunggu ilham dan mimpi atau terus saja melangkah sesuai kata hati?

Dalam hal ini, para ulama telah menjelaskan pada kita beberapa hal yang sangat berguna. Setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan dua hal:

Pertama, istisyarah, yaitu musyawarah atau meminta pendapat para ulama dan orang-orang bijak. Disebutkan dalam Kitab “Kasyfus Sitarah ‘an Shalatil Istikharah” bahwa sebagian salaf mengatakan, “Termasuk tindakan orang berakal yang benar adalah menambahkan pendapat para ulama pada pendapatnya dan menyatukan pikirannya dengan pikiran orang-orang bijaksana. Sebab, satu pendapat bisa jadi salah, dan satu pikiran mungkin tergelincir.”

 

Baca Juga: Orang Tua Belum Mengizinkan Menikah

 

 

Abul Hasan al-Marudi asy-Syafi’i berkata, ” Sikap yang mengindikasikan kemantapan seorang yang berakal adalah ia tidak memutuskan perkara atau membuat keputusan tanpa bermusyawarah dengan orang yang bisa menasehati dan analisa dari orang yang berpemikiran lurus. Bahkan Allah masih menyuruh Nabi-Nya agar bermusyawarah, padahal Allah telah menyatakan akan selalu memberi petunjuk padanya ﷺ.

Allah berfirman,

Dan ajak musyawarahlah mereka dalam memutuskan perkara.” (QS. Ali Imran; 159).

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pendapat, nasehat dan arahan dari orang lain yang lebih berilmu atau lebih berpengalaman dari kita. Kekhawatiran atau pertimbangan-pertimbangan yang kurang baik yang barangkali pernah kita pikirkan sebelumnya bisa teratasi. Sebab, ilmu dan pengamalan serta kebijaksanaan yang Allah berikan pada mereka adalah sesuatu yang mungkin belum kita miliki.

Ibnu Taimiyah berkata,

“Tak akan menyesal orang yang telah istikharah pada al-Khalik, musyawarah dengan para makhluk dan mantap dengan pilihannya.”

Ahli sastra mengatakan,

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tak akan rugi orang yang telah istikharah, dan tak akan menyesal oang yang sudah bermusyawarah.”

Istisyarah adalah salah satu anjuran yang sangat baik setelah istikharah. Seakan keduanya adalah dua mata koin. Namun begitu, pada beberapa kondisi, bisa jadi istisyarah tidak bisa kita lakukan karena beberapa alasan. Dan hal itu tidak masalah karena kita hanya dituntut untuk beramal sesuai kemampuan kita.

Kedua: Memantapkan hati atas satu pilihan dan melaksanakannya dengan penuh tawakal.

Caranya dengan menyingkirkan berbagai pertimbangan yang dilandasi nafsu. Dalam hal ini kita harus jujur pada diri sendiri. Karena jika tidak, hal inilah yang akan menjadi pemicu malapetaka. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang yang sudah berniat melakukan sesuatu, hendaknya ia tidak melaksanakan apa yang membuat hatinya senang, tapi didasari hawa nafsu yang kuat sejak sebelum ia istikharah.”

Izzudin bin Abdissalam berkata, “Hendaknya ia kerjakan apa yang ia yakini.”

Muhammad bin Ali Kamaludin az Zamlakani menjelaskan bahwa jika seseorang telah menunaikan dua rakaat istikharah untuk suatu perkara, maka hendaknya ia lakukan apa yang jelas baginya, baik hatinya merasa benar-benar lega atau belum. Sebab di situ pasti ada kebaikan meski -mungkin-  masih ada yang mangganjal di hatinya.

Dengan kedua hal di atas, kita telah menempuh sunah syar’iyahnya dengan menjalankan sunah dari rasul dan juga sunah kauniyahnya dengan musyawarah dan memikirkan berbagai pertimbangan nalar yang kemudian akan melahirkan sebuah pilihan atau keputusan.

Sebuah langkah yang begitu indah jika kita senantiasa menjalankannya dalam setiap perkara, memohon petunjuk pada Yang Mahakuasa, bermusyawarah dengan orang yang bijkasana dan menjalani segalanya dengan kemantapan hati, tawakal dan husnudzan pada Allah. Takdirnya pasti akan terjadi sesuai kehendak-Nya dan itulah yang terbaik bagi kita.

Soal mimpi, bisa jadi memang merupakan salah satu isyarat. Tapi tidak dibenarkan jika kita bertindak atau tidak bertindak hanya berdasarkan mimpi dan melupakan musyawarah dan berbagai pertimbangan kemashlahatan.

Bisa jadi, mimpi tersebut hanyalah bunga tidur karena pikiran kita memang tangah betul-betul fokus pada satu suatu urusan hingga terbawa ke pikiran bawah sadar kita. Istikharah adalah doa sebagaimana doa lainnya. Artinya tidak selalunya setelah istikharah, Allah pasti akan menjawab doa kita dengan memberi tanda dan isyarat melalui mimpi. Wallahua’am.

Oleh: Redaksi/Fadhilah

 

Bijak Menasihati Tidak ‘Menelanjangi’

Kita sering menjumpai seseorang menasihati saudaranya, baik secara langsung maupun melalui sarana media. Sayangnya, caranya menasihati justru terkesan mengkritik, menghina, atau ‘menelanjangi’ kesalahan saudaranya. Ia tidak sungkan menyatakannya di depan umum, atau dibeberkan melalui media sosial yang bisa dilihat banyak orang. Niatnya ingin menasihati, tetapi hati justru tersakiti. Bukan cinta yang ia dapat, tetapi benci yang kemudian melekat.

Nasihat seharusnya menghadirkan kebaikan kepada orang yang diberi nasihat, bukan malah mendatangkan keburukan. Al Khaththabi mengingatkan, “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:219).

 

Mengikat Hati dalam Menasihati

Setiap insan bisa berbuat kekeliruan, kesalahan, atau tersesat karena salah jalan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya.” (HR. At Tirmidzi no. 2499, Hasan)

Kesalahan adalah keniscayaan, dan bertaubat darinya merupakan keharusan. Proses itu mungkin butuh nasihat, perlu diingatkan agar tidak bermaksiat. Memberi nasihat bukan sekedar memberikan penjelasan mengenai aturan dan konsekuensinya. Bukan pula menyatakan bahwa ia harus begini dan begitu, tidak boleh ini atau itu.

Ia harus dilakukan dengan cara yang bijak, sehingga hati bisa menerima dengan baik. Cara yang bijak akan memperindah nasihat itu sendiri. Tersebut dalam atsar, “Barangsiapa memerintahkan kebaikan, hendaklah memerintahkannya dengan cara yang baik.”

Ada dua cara menasihati dengan bijak.

Pertama, menasihati dengan perkataan yang lembut. Dari Abdurrahman bin Abi Uqbah, dari ayahnya yang pernah menjadi budak orang Persia bahwa ia berkata, “Aku turut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Uhud, lalu aku memukul seseorang dari kalangan kaum musyrikin. Aku katakan kepada orang musyrik itu, ‘Ayo kalau berani, aku adalah seorang pemuda Persia!’ Rasulullah kemudian menoleh kepadaku dan berkata, “Mengapa tidak kamu katakan saja, aku adalah seorang Anshar, putra dari saudari mereka?” (HR. Abu Dawud)

Inilah nasihat yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak langsung menghardik, tetapi justru memberikan nasihat yang menarik. Sebuah cara yang indah, namun tetap terkesan gagah. Cara yang tidak menyalahkan, tetapi mengarahkan.

Kedua, menasihati dengan memberikan teladan melalui perbuatan. Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seorang anak yang sedang menguliti seekor kambing, namun keliru dalam melakukannya. Beliau bersabda, “Menyingkirlah dulu, akan aku perlihatkan kepadamu cara menguliti yang benar.” Beliau kemudian memasukkan tangan di antara kulit dan daging lalu menyusupkannya hingga masuk ke bagian ketiak. Sesudah itu beliau berlalu untuk melaksanakan shalat bersama para sahabat tanpa berwudhu lagi.” (HR. Abu Dawud)

Cara menasihati ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan cara yang cukup efektif. Lembut dan tidak menyakiti, namun justru mengikat hati. Beliau juga memilih bahasa yang bisa diterima, susunan kata yang tepat untuk diungkap. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan bahasa yang tak terjangkau akal pikiran mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR. Muslim)

 

Menasihati Bukan ‘Menelanjangi’

Sebagian orang merasa tidak bersabar ketika menjumpai orang lain melakukan kesalahan atau kelalaian dalam berucap dan bersikap. Dengan spontan mereka langsung menghina, mencaci dan menghakimi. Hal semacam ini merupakan kesalahan dalam menasihati.

Menasihati tidak dilakukan dengan menghina dan mencaci. Tidak perlu pula mengungkapkan kesalahan itu di depan orang lain, karena seharusnya kita menutupinya. Membuka kesalahannya di depan orang sama seperti ‘menelanjangi’ saudara kita, membuka aib yang semestinya kita tutupi.

Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 225).

Imam Syafii rahimahullah mengajarkan agar kita tidak menasihati seseorang di depan umum. Ia berkata, “Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri dan janganlah menasihatiku di depan banyak orang. Karena sesungguhnya menasihatiku di hadapan banyak orang adalah bagian dari menjelekkanku. Aku tidak ridha mendengar seperti itu. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka jangan marah jika nasihatmu tak kuikuti.”

Baca Juga: Kesempatan Berharga Bersama Orang Tua

Menyalahkan bukan sikap yang baik untuk memberi nasihat. Apalagi jika dilakukan dengan membuka aib saudara kita di depan orang lain, hakikatnya sama dengan menelanjanginya. Jika hal itu dijadikan kebiasaan, maka nasihat yang diberikan tidak akan menjadi kebaikan, bahkan cenderung menyebabkan kebencian. Maksud hati hendak merangkul, tetapi justru memukul, dan pada akhirnya nasihat menjadi tumpul.

Ikutilah teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan nasihat. Beliau pernah mengingatkan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma yang pada saat itu masih kecil dan tidak menjaga pandangannya. Beliau bersabda kepadanya, “Nak, sesunggunya pada hari ini (Arafah), siapa saja yang bisa memelihara pandangannya, maka ia akan mendapatkan ampunan.”

Betapa indahnya cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meluruskan kesalahan. Beliau menunjukkan kesalahan tersebut dengan nasihat, sehingga anak yang mendapat teguran dapat langsung memperbaiki kesalahannya. Begitulah seharusnya kita, menasihati dengan mengikat hati, bukan dengan membuka aib saudara sendiri.

Oleh: Ust. Asadullah al-Faruq/Fadhilah Amal

 

Awali Kerja dengan Shalat Dhuha

HASYIM (60) terbaring lemah. Kedua kaki dan tangannya terasa lemas. Warga Dusun III Tanjung Tinggi Kecamatan Sijuk itu hanya berbaring di ruang kamar kediamannya. Ia menderita penyakit aneh. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Persendian tangan dan kakinya nyeri dan sulit digerakkan.

Tubuh manusia memiliki ratusan tulang yang masing-masing dihubungkan dengan persendian. Jumlah persendian dalam tubuh manusia adalah 360, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dan dibenarkan oleh para dokter. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana jika tulang-tulang yang ada dalam tubuh kita tersebut tidak dihubungkan dengan persendian. Atau salah satu persendian tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Maka, tidak ada yang mengetahui betapa besarnya nikmat ini kecuali orang yang telah kehilangan nikmat tersebut, sebagaimana yang dialami oleh bapak Hasyim diatas. Sekujur tubuhnya sakit, persendian tangan dan kakinya terasa nyeri dan sulit untuk digerakkan.

 

Shadaqah Tanpa Harta

Setiap hari, persendian kita mempunyai kewajiban untuk bershadaqah sebagai realisasi syukur kita kepada Allah, Dzat yang telah menciptakannya. Caranyapun beragam sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ:

 “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bershadaqah setiap harinya sejak matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang yang berselisih adalah shadaqah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shadaqah. Berkata yang baik juga termasuk shadaqah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah shadaqah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu berat dan lelahnya kita jika harus  melakukan berbagai amal tersebut setiap harinya. Sehingga para sahabatpun bertanya, “Siapa yang sanggup melakukan, wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab, “Jika ia tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Baca Juga: Menahan Sendawa, Meraih Pahala

Rasulullah ﷺ memberikan kemudahan kepada umatnya, bahwa semua shadaqah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha, karena shalat merupakan amalan semua anggota badan. Jika seseorang mengerjakan shalat, maka setiap anggota badan menjalankan fungsinya masing-masing. Demikian penjelasan yang disebutkan oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied.

Jumlah raka’at Dhuha minimal adalah 2 raka’at sedangkan maksimalnya adalah 8 raka’at. Dengan mengerjakan 2 rakaat Dhuha, kita telah melaksanakan salah satu wasiat Rasulullah ﷺ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kekasihku, Rasulullah ﷺ berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: puasa selama tiga hari setiap bulannya, dua rakaat shalat Dhuha dan mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur.” (Muttafaq ‘Alaihi).

 

Keutamaan Shalat Dhuha

Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung banyak fadhilah (keutamaan), namun tidak banyak dari kita yang memperhatikannya. Diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah ta’ala berfirman:

ابْنَ آدَمَ ، اِرْكَعْ لِيْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهاَرِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat pada permulaan hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu pada sore harinya” (HR. Tirmidzi).

At-Thayyibi menerangkan bahwa: dengan mengerjakan empat rakaat di pagi hari, Allah akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita dan menjauhkan kita dari semua yang tidak kita inginkan hingga sore hari. Fadhilah lainnya, orang yang mengerjakannya dimasukkan dalam golongan orang-orang yang kembali kepada Allah. Karena shalat dhuha adalah shalat awwabin, yakni shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (bertaubat). Dalam hadits lain Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pahala orang yang mengerjakan shalat dhuha seperti orang mengerjakan umrah.

 

Menjadi Kaya dengan Shalat Dhuha?

Ada diantara kaum muslimin yang begitu bersemangat mengerjakan shalat dhuha. Namun ironisnya ketika mereka melaksanakan shalat wajib, justru malas-malasan dan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Shalat subuh dikerjakan jam enam pagi dan shalat asar hanya kalau sempat saja. Penyebabnya, ada tujuan lain ketika mereka mengerjakannya yaitu ingin mendapatkan balasan di dunia, biar lancar rezkinya dan menjadi orang yang kaya raya. Sehingga doa-doa yang dipanjatkanpun hanya berkenaan dengan kelancaran rizki.

Baca Juga: Silaturahmi, Memanjangkan Umur Menambah Rizki

Demikian fenomena yang sering kita dapatkan di masyarakat. Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Boleh jadi akan semakin lancar rizkinya dan karirnya terus meningkat. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat? Qatadah ketika menafsirkan surat Hud: 15-16, ia berkata, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan shalehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ihlas dalam beribadah (yang hanya mengharapkan wajah Allah), selain akan mendapatkan balasan di dunia dia juga akan mendapatkan balasannya di akhirat.”

 

Luangkan Waktu

Waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai naik sepenggalan, kira-kira seperempat jam setelah matahari terbit hingga waktu zawal (matahari tergelincir). Dan waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai panas.

Memang, tidak mudah untuk melaksanakan shalat Dhuha. Karena waktunya bertepatan dengan jam-jam dimulainya aktivitas keseharian, orang sibuk bekerja mencari rezki pada waktu tersebut. Namun, sesempit apa pun waktu kita karena aktivitas sehari-hari, jika kita luangkan waktu sejenak untuk mengerjakan shalat Dhuha, insya Allah tidak akan mengurangi jatah rizki yang telah ditentukan untuk kita. Kalau toh meluangkan waktu pada waktu tersebut tidak memungkinkan pula, karena peraturan perusahaan yang begitu ketat dan mengikat, shalat Dhuha bisa kita kerjakan sebelum masuk jam kerja. Nah, mari awali kerja kita dengan melaksanakan shalat Dhuha.

Oleh: Ust. Qadri Fathurrahman/Fadhilah Amal

Keutamaan Bersuci Ketika Hendak Merebahkan Diri

Diberitakan beberapa tahun yang lalu, Ton Eddy Noor, salah seorang mantan anggota DPRD di Jambi diketahui meninggal dunia saat tidur di rumah temannya. Meninggalnya Ton secara mendadak sempat menimbulkan tanda tanya karena sejumlah teman dekatnya menyatakan bahwa selama ini ia tidak pernah menderita penyakit serius, seperti gangguan jantung. Pria berusia 37 tahun tersebut diketahui telah meninggal dunia ketika temannya hendak membangunkannya. Saat dibangunkan Ton tak bergeming. Ketika dicek nadinya, ternyata tak berdenyut lagi. Napasnya sudah berhenti.

Kematian, tidak ada seorangpun yang bisa memperkirakan kedatangannya. Sakit memang terkadang merupakan pendahuluan sebelum datangnya kematian. Namun tidak jarang orang yang sebelumnya sehat wal afiat, tanpa adanya sebab akhirnya meninggal dunia. Bahkan kematian mungkin akan datang disaat manusia sedang tidur. Kisah diatas adalah salah satu buktinya.

Tidur merupakan kematian kecil, yaitu perpaduan antara kehidupan dan kematian. Ketika seorang sedang tidur berarti ruhnya berpisah sementara dari badannya. Maka saat ia bangun dari tidurnya berarti Allah berkenan mengembalikan ruh ke dalam jasad orang itu. Namun jika Allah berkehendak lain, Dia akan menahan ruh orang itu untuk selamanya sehingga tidak kembali ke badannya. Dan inilah yang disebut dengan peristiwa kematian.

“Allah menggenggam jiwa manusia ketika matinya dan menggenggam jiwa (manusia) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka dia tahanlah jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya, dan dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar: 42)

Seorang mukmin yang mengerti dan meyakini konsep ini tentu tidak akan berangkat tidur begitu saja tanpa mempersiapkan kemungkinan dirinya tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Rasulullah telah memberikan teladan kepada kita untuk melazimi amalan-amalan sunah sebelum tidur, salah satunya bersuci atau berwudhu sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam keadaan suci.

Suatu ketika sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu a’nhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku:

“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat.  Kemudian berbaringlah di atas bagian tubuh yang kanan. Lalu ucapkanlah:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

”Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena senang dan takut. Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan, dan Nabi yang telah Engkau utus.” Apabila kamu meninggal dunia, maka kamu meninggal dalam keadaan fitrah. ‘Dan jadikanlah ia ucapan terakhirmu.(HR. Bukhari)

Maksud fitrah dalam hadits ini adalah berada diatas dinul Islam, yaitu bertauhid kepada Allah Ta’ala. Orang yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid maka akan dimasukkan ke dalam surga.

Dengan menjalankan sunah ini, juga akan menyebabkan seseorang bermimpi baik dalam tidurnya dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya.

Sedang manfaat lainnya, Malaikat -makhluq Allah yang mulia, yang memiliki penampilan istimewa, dimana tahlil dan tasbih makan dan minumnya, yang selalu taat terhadap perintah Rabbnya- akan selalu menyertai para hambanya yang selalu bersuci dan memohonkan ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sucikanlah badan kalian niscaya Allah mensucikan kalian.Tidaklah seorang hamba bermalam dalam keadaan suci kecuali pada baju dalamnya terdapat malaikat yang bermalam bersamanya. Dia tidak berbalik di waktu malam kecuali malaikat itu berdoa,’Ya Allah, ampunilah hamba-Mu karena ia bermalam dalam keadaan suci”. (Diriwayatkan oleh At Thabrani dengan sanad jayyid)

 

[bs-quote quote=”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sucikanlah badan kalian niscaya Allah mensucikan kalian.Tidaklah seorang hamba bermalam dalam keadaan suci kecuali pada baju dalamnya terdapat malaikat yang bermalam bersamanya. Dia tidak berbalik di waktu malam kecuali malaikat itu berdoa,’Ya Allah, ampunilah hamba-Mu karena ia bermalam dalam keadaan suci”. ” style=”default” align=”center” color=”#2075bf”][/bs-quote]

 

Ketika Harus Tidur Dalam Keadaan Junub

Memang ketika seorang dalam keadaan junub, lebih utama jika ia bersegera untuk mandi. Namun Rasulullah  memberikan rukhsah kepada orang yang sedang junub untuk menunda mandi dan menggantinya dengan berwudhu sebelum tidur.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, padahal beliau sedang junub, maka beliau berwudhu terlebih dahulu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat, sesudah itu barulah beliau tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu sebabnya adalah karena malaikat enggan mendekati seseorang yang tidur dalam keadaan junub, padahal ia belum berwudhu.

Dari Ammar bin Yasir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Malaikat tidak akan mendekati jenazah orang kafir, orang yang melumuri tubuhnya dengan za’faran (kunyit), dan seorang yang sedang junub; kecuali ketika hendak makan, minum dan tidur ia berwudlu terlebih dahulu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Subhanallah, begitu banyak manfaat yang akan kita didapat jika mau melazimi bersuci sebelum merebahkan diri. Maka, jika kita ingin selalu dekat dengan malaikat, jangan berwudhu hanya ketika hendak shalat. Wallahu musta’an.

Oleh: Ust. Qodri Faturrahman/Fadhilah Amal

Bersiwak, Malaikat Mendekat Pahala Berlipat

Bersiwak atau menggosok gigi dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arok atau yang semisalnya adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah mulai dilupakan oleh kaum muslimin. Bahkan ada sebagian kaum muslimin yang merasa jijik jika harus melakukannya dan menganggap sebagai perbuatan jorok. Padahal amalan tersebut adalah termasuk kebiasan para Rasul: “Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul: Malu, memakai minyak wangi, bersiwak dan menikah” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

[bs-quote quote=”“Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul: Malu, memakai minyak wangi, bersiwak dan menikah” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)” style=”default” align=”center” color=”#176b9b”][/bs-quote]

 

Sebenarnya banyak manfaat yang akan kita dapat kalau mau mengerjakannya, ٍٍٍbaik di dunia maupun di akherat. Manfaat yang paling besar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW :

السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak itu sebagai pembersih mulut dan diridhai oleh Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasai)

Hadits diatas ternyata telah terbukti dalam dunia kesehatan. Dalam sebuah penelitaan, siwak ternyata mempunyai zat anti bakteri sehingga mampu mengurangi jumlah bakteri di dalam mulut. Sehingga gigi menjadi sehat dan mencegah timbulnya gigi berlubang. Di dalam siwak juga terdapat enzim yang mencegah penyakit gusi.

Bersiwak dianjurkan setiap waktu, namun ada waktu-waktu tertentu yang diutamakan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melaksanakannya, diantaranya:

  • Setiap Akan Mengerjakan Shalat.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan mengerjakan shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Setiap Bangun Tidur

Rasulullah SAW juga menganjurkan kepada kita agar bersiwak setiap bangun tidur. Karena tidur di malam hari menyebabkan bau mulut berubah. Menggosok gigi dengan siwak akan menghilangkan bau mulut dan akan menambah semangat setelah bangun tidur.

  • Setiap Kali Masuk Rumah

Beliau juga mengajarkan kepada kita agar bersiwak setiap kali masuk rumah. Salah seorang sahabat bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Apa yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak”. (HR. Muslim).

Sebuah teladan yang bagus dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, ketika seseorang keluar rumah, boleh jadi ia menyantap makanan atau minuman yang menyebabkan bau mulut. Maka dengan bersiwak bau itu akan hilang dan isteri yang menyambut tidak ‘tersiksa’ dengan bau tersebut.

 

Pahalanya Berlipat

Secara khusus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keistimewaan bagi orang yang menunaikan shalat dengan bersiwak terlebih dahulu dengan pahala 70 kali lipat dibanding yang tidak bersiwak. Beliau bersabda,

فَضْلُ الصَّلَاةِ بِالسِّوَاكِ عَلَى الصَّلَاةِ بِغَيْرِ سِوَاكٍ سَبْعِينَ ضِعْفًا

“Shalat dengan bersiwak (terlebih dahulu) lebih utama 70 kali dibanding yang tidak bersiwak.” (HR. Ahmad).

Bahkan beliau bersabda: “Mengerjakan shalat dua rakaat dengan bersiwak lebih aku cintai daripada mengerjakan tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak.” (Sebagian ulama’ mendhaifkan hadits ini, namun ada yang menghasankannya bahkan menyatakannya shahih, diantaranya Ibnu Huzaimah, Al Hakim dan Abu Nua’im).

 

Malaikat Mendekat

Malaikat sebagai makhluk yang paling dekat dengan Allah akan merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap yang keluar dari orang yang sedang mengerjakan shalat. Mereka akan merasa merasa senang dan betah berlama-lama di sisi orang yang sedang mengerjakan shalat jika sebelumnya bersiwak.

Dari Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bersiwak. Apabila seorang hamba berdiri shalat, malaikat akan mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya dan mendekat untuk mendengar bacaan Al-Qur’an. Maka malaikat terus mendengar dan mendekat hingga meletakkan mulutnya di atas mulut hamba itu. Sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali akan masuk ke tenggorokan malaikat.” (HR. Baihaqi)

Bagaimana Dengan Sikat Gigi?

Sebagian ulama berpendapat bahwa bersiwak tidak bisa diganti dengan sikat gigi karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi, baik dari tinjauan syar’i maupun kesehatan. Namun pendapat yang benar, bahwa jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi atau kain. Karena illah (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya” (HR. Ahmad). Namun tentunya membersihkan gigi dengan kayu siwak lebih utama daripada dengan lainnya, karena lebih mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia.

 

Satu Siwak Untuk Berdua

Mungkin diantara kita merasa jijik jika harus menggunakan siwak orang lain, meskipun milik istri kita. Padahal Rasulullah dan istri beliau tercinta, Aisyah Radhiyallahu ‘anha telah memberikan teladannya kepada kita. Aisyah pernah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersiwak, lalu siwak diberikan kepadaku untuk dicuci. Maka aku menggunakannya untuk bersiwak, kemudian (setelah aku gunakan) aku mencucinya, kemudian aku menyerahkannya kepada beliau.” (HR.Abu Daud).

Jika begitu banyak manfaat yang kita akan dapat dengan bersiwak, masihkah kita meremehkannya? Wallahu musta’an.

Redaksi/Fadhilah Amal

 

Tiga Wasiat Singkat Nan Padat Dari Rasulullah Kepada Seorang Shahabat

Allah mengutus Rasululullah sebagai seorang mu’allim (guru). Beliau bersabda, “Dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah).

Beliau menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya sebagimana sahabat Muawiyah bin al-Hakam berkata,  “Aku belum pernah bertemu dengan seorang pendidik yang lebih baik pengajarannya daripada beliau.” (HR. Muslim)

 

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Dari Abu Ayyub dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku (ilmu) yang singkat padat.” Beliau bersabda, “Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali. Berputus asalah dari apa yang dimiliki manusia.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan Al-Albany)

Allah memberikan jawami’ul kalim (perkataan yang singkat tapi padat maknanya) kepada Rasulullah, sehingga kalimatnya ringkas dan mudah dihapal. Ketika ada laki-laki yang datang kepada Nabi dan meminta diajarkan ilmu yang singkat dan padat, Rasulullah memberikan tiga wasiat kepadanya.

 

Wasiat Pertama: Shalatlah Sebagaimana Orang yang Hendak Berpisah

Orang yang hendak berpisah, meninggalkan satu tempat menuju tempat yang lain, akan membawa sesuatu yang bermanfaat untuk bekal perjalanannya dan tentunya meninggalkan kebaikan kepada siapa saja yang ditinggalinya.

Bila kita tahu seandainya shalat kita adalah yang terakhir dan setelah itu kita mati, tentu kita akan membaguskan shalat tersebut. Kita akan berusaha untuk khusyu’ dan berharap shalat kita diterima oleh Allah. Khusyu’ ketika rukuk, tunduk dan menghina ketika sujud, serta tidak tergesa-gesa dalam shalat.

Rasulullah menjadikan shalat sebagai qurratu ‘aini. Sebagaimana sabdanya, “Dan dijadikan penyejuk mata hatiku dalam shalat.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, (kumandangkan iqamah) untuk shalat. Dan buatlah kami istirahat dengannya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Baca Juga: 
Mereka yang Mendapatkan Pahala Tanpa Beramal

Itulah shalat bagi orang mukmin, istirahat dari kepenatan, kesusahan dan kesempitan dunia, menuju keluasan, kenyamanan dan kelapangan dalam shalat bermunajat kepada Allah.

Ia akan hidup dalam setiap detik yang dilalaui dalam shalatnya, menghayati setiap doa yang dibaca dan ayat yang didengar, merinding kulitnya ikut merasakan getaran iman. Bersegera kepada kebaikan dan takut serta lari dari tindak keji dan kemungkaran.

Jika shalat kita bagus maka kebahagiaan dan keselamatan yang didapat, Rasulullah bersabda, “Yang pertama kali dihisab (dihitung) dari perbuatan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat; jika shalatnya baik maka dia beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia merugi. Apabila ada sesuatu yang kurang dari shalat wajibnya, Allah berfirman; maka lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai shalat sunnah?” Lalu kekurangannya dalam shalat fardhu disempurnakan dengannya. Kemudian semua amalan ibadahnya juga seperti itu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)

 

Wasiat Kedua: Jagalah Lisan dan Jangan Mengatakan Suatu Perkataan yang Menyesalkan

Sebagaimana perkatan orang kafir, yang mengatakan, “Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.”

“Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88-91)

Langit bumi dan gunung hampir pecah, terbelah dan runtuh gara gara perkataan yang batil tersebut. Begitu ngerinya akibat perkataan mungkar yang terucap.

Baca Juga: 
Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

Orang yang lahirnya Islam juga bisa keluar dari keislamannya gegara kalimat yang diucapkan, meskipun hanya candaan. Kisah orang-orang munafik di Tabuk perlu menjadi pelajaran. Mereka berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang perutnya lebih besar (rakus terhadap makanan), lebih suka berbohong serta pengecut ketika bertemu musuh dalam perang dari pada ahli qiro’ah kami (yang dia maksudkan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum).” Maka turunlah ayat,

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah: 65-66).

Setiap perkataan ada yang mencatat, tidak akan luput perhurufnya. Bila jahat dan buruk perkataannya maka bisa menghantarkan kejurang neraka. Bila baik dan benar perkataannya maka akan mendapat keridhaan-Nya.

 

Wasiat Ketiga: Berputus asalah dari apa yang dimiliki manusia

‘Iffah (menjaga kehormatan), qonaah (menerima pemberian Allah), dan zuhud dari apa yang dimiliki manusia.

Jika manusia melihat seseorang yang Allah berikan kenikmatan yang lebih maka jiwanya akan meminta dan menuntut kenikmatan tersebut dan memandang kecil nikmat Allah yang sudah ada ditangannya. Ia menjadi rakus dan tamak untuk mendekati atau mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Bila tidak mendapatkannya dan justru upaya keras mengejar dunia itu malah menghancurkannya ia akan meminta-minta kepada manusia, sehingga hidup dalam kehinaan, dan  orang tidak suka padanya.

Seorang muslim harusnya berputus asa dari apa yang dimiliki manusia. Merasa tidak butuh terhadap apa yang dimiliki manusia, tapi hendaknya ia menggantungkan kebutuhan dan permintaannya hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Orang yang tidak meminta-minta dan menjaga kehormatannya, maka manusia akan mencitainya. Bila telah merasa cukup dengan pemberian Allah maka ia akan tercukupi dan merasa kaya. Bila jiwanya kaya dan terjaga kehormatannya maka ia hidup dengan mulia.

 

Oleh: Ust. Taufik al-Hakim/Fadhilah Amal

 

Allah Menjamin Urusan Seorang Hamba, Selagi Hamba Menjadikan-Nya Jaminan

Tak akan pernah rugi orang yang memasrahkan segala urusannya kepada Allah. Allah akan memberikan jaminan keselamatan atau keberhasilan atau jaminan dalam bentuk lain selama seseorang menjadikan Allah sebagai saksinya dan mencukupkan Allah sebagai dzat yang Maha menjamin segala urusan.

Sebagaimana tersebut sebuah kisah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa pada suatu hari ada seorang dari Bani Israil yang datang meminjam uang sebanyak seribu dinar kepada saudaranya. Pemilik uang tersebut lalu berkata kepadanya, “Beri saya saksi yang bisa menengahi kita berdua.”

Orang yang hendak meminjam tersebut berkata, “Cukup Allah sebagai saksi kita.”

Pemilik uang tersebut lalu berkata lagi, “Kalau begitu beri aku jaminan.”

Orang itupun menjawab, “Cukuplah Allah sebagai jaminan saya.”

Kalau demikian aku percaya padamu,” Jawab pemilik uang.

Baca Juga: Sukses dengan Keterbatasan

Orang itu lalu memberikan pinjamannya seribu dinar sampai batas waktu yang telah mereka sepakati. Kemudian si peminjam tersebut pergi menyeberangi lautan untuk menunaikan hajatnya.

Selang beberapa lama, setelah ia menyelesaikan keperluannya, ia pun hendak mencari kapal yang bisa ia tumpangi untuk segera membayar utangnya . Akan tetapi, tak ada satu kapalpun yang ia temukan.  Sampai ia kebingungan bagaimana cara mengembalikan pinjamannya karena sudah tiba jangka waktu yang telah disepakati.

Lalu ia mengambil sebatang kayu, kemudian ia lubangi tengahnya dan diisi uang sebanyak seribu dinar, jumlah yang telah ia pinjam. Ia tulisi secarik surat untuk saudaranya tersebut. Setelah itu ia pergi ke tepi laut seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hamba pernah berutang pada si fulan sebanyak seribu dinar, ia meminta padaku sebuah jaminan, akupun berkata, ‘cukup Allah sebagai jaminannya, ia pun setuju. Lalu ia meminta seorang saksi, akupun katakana padanya, “cukup Allah sebagai saksinya, Ia pun ridha dan setuju dengan hal itu.” Dan sekarang sungguh aku telah berusaha untuk mencari tumpangan untuk segera kembali dan membayar utangku, namun aku tidak mendapatkannya, oleh karena itu, aku pasrahkan ini pada-Mu.”

Lalu ia pun melemparkan batang kayu yang sudah ia isi dengan uang seribu dinar itu dan masih berusaha mencari kapal untuk balik ke negerinya.

Di seberang jauh, orang yang meminjamkan uangnya tersebut sudah menunggunya di tepi pantai berharap si peminjam itu lekas balik dan mengembalikan uangnya. Namun sekian waktu menunggu, belum juga datang, ia menemukan sebatang kayu yang terdampar dan mengarah ke dirinya. Ia segera mengambilnya untuk kayu bakar, lalu diberikan kepada istrinya. Ketika sang istri hendak memasak dan membelah kayu tersebut, ia kaget, ternayat di dalamnya ada uang seribu dinar dan secarik kertas.

Tak lama kemudian orang yang berutang tersebut datang dan hendak membayar utangnya seraya meminta maaf karena terlambat membayar utangnya. Ia berkata, “Demi Allah, aku sudah berusaha untuk mencari kapal agar aku bisa segera membayar utangku padamu.”

Baca Juga: Untuk Muslimah: Jangan Ragu Datangi Majelis Ilmu

Si pemilik uang berkata, “Apakah kamu pernah mengirimiku sesuatu?”

Kata si peminjam itu, “Saya sudah berusaha mencari tumpangan, namun tidak aku dapatkan satupun”

Laki-laki pemilik uang itu berkata lagi, “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hutangmu, (dengan) sebatang kayu yang kamu kirimkan. Silakan kembali dan bawalah seribu dinarmu itu dengan selamat.”

(Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Banyak orang yang mengaku percaya kepada Allah dan pasrah kepada-Nya, namun masih banyak yang ragu-ragu; kalau-kalau nanti hartanya berkurang, kalau saja nanti dia jadi miskin dan kalau saja ia tidak bisa makan. Padahal Allah maha menjamin dan Allah maha mencukupi kebutuhan semua hamba-Nya, manakala hamba tersebut memasrahkan segala urusan dan kebutuhannya kepada Allah secara total. Semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Fadhilah

 


Dapatkan artikel islami terbaik di Majalah islam ar-risalah. Majalah panduan untuk ketakwaan dan manajemen hati. Info keagenan dan Langganan: 085229508085

Dari Mata Turun Ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Disebutakan dalam Kanzul Umal, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menyebutkan peristiwa terkait turunnya ayat,

 

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. an-Nur:  30) 

“Ada seorang laki-laki di masa Rasulullah shallallahualaihi wasallam berjalan di Madinah lalu ia melihat seorang wanita dan kebetulan juga wanita itu memandangnya. Kemudian keduanya terbujuk setan sehingga keduanya saling pandang dengan disertai ketakjuban. Pada waktu si laki-laki sedang berjalan di samping tembok, pandangannya fokus kepada wanita itu hingga tiba-tiba wajahnya membentur tembok dan hidungnya pecah. Kemudian ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mebersihkan darah ini sampai aku datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam memberitahukan masalahku ini.” Lalu ia datang kepada beliau dan menceritakan apa yang dia alami. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Itu adalah hukuman bagi dosamu!” Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Katakanlah kepada orang-orang Mukmin: “Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mereka…..”(Q.S. An-Nur ayat: 30)

Tampaknya sederhana, apalagi zaman ini dianggap terlampau biasa memandang atau sengaja mencari pandangan wanita-wanita cantik. Malah diistilahkan dengan “cuci mata”, la haula walaa quwwata illa billah. Padahal hakikatnya adalah mengotori mata dan kemudian masuklah kotoran itu sampai ke hati.

Baca Juga: Allah Tak Akan Lupa Perbuatan Zhalim Hamba-Nya

Ayat ini merupakan perintah Allah kepada hamba-Nya yang beriman agar mereka menahan pandangan dari perkara-perkara yang haram dilihat. Janganlah melihat kecuali kepada hal-hal yang dibolehkan untuk dilihat dan hendaklah mereka menahan pandangan dari perkara yang haram untuk dilihat. Jika tanpa sengaja berpapasan dengan obyek pandangan yang menggoda, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, di mana Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajali radhiyallahu anhu berkata,

“Aku bertanya kepada rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang pandangan spontan. Beliau memerintahkanku agar segera memalingkan pandanganku.”

Ayat ini juga menjelaskan bahwa kesucian hati didapatkan setelah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sebagaimana mengumbar pandangan menjadi sebab kotoran hati dan penyakitnya. Jika ada pertanyaan, apakah mata yang membuat hati menjadi kotor ataukah hati kotor yang menyebabkan mata memandang yang haram?

Keduanya memang saling berperan. Seperti kerjasama antara orang buta yang bisa berjalan dengan orang yang lumpuh tapi bisa melihat. Ketika orang yang bisa melihat memandang sesuatu yang disukainya sementara ia lumpuh, maka dia memberitahukan kepada orang buta namun bisa berjalan. Maka keduanya bersekongkol untuk mendapatkan kenikmatan yang dimaksudkan. Yang satu menyumbang mata dan satunya lagi menyumbang kaki.

Pada kasus melihat yang haram juga sama; ketika mata terbiasa melihat yang haram, maka mata memberikan informasi negatif kepada hati. Ketika hati itu kotor dan buruk, maka ia tidak memerintah kecuali yang buruk. Termasuk perintah kepada mata untuk melihat yang haram lagi.

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan siklus dosa yang berawal dari pandangan mata, “Pandangan itu merupakan utusan hati, hatilah yang mengutus pandangan untuk melihat apa yang bisa dikabarkannya dari keindahan apa yang terlihat. Kemudian dari apa yang dilihat inilah muncul bayang-bayang, lalu meningkat menjadi rasa cinta. Selanjutnya rasa cinta ini meningkat menjadi rasa cinta yang bersifat penghambaan, sehingga hatinya menjadi budak apa yang dia cintai yang semula hanya berawal dari apa yang dia lihat. Sehingga akhirnya mengakibatkan letihnya hati dan hatinya akan menjadi tawanan apa yang ia lihat. Kemudian sang hati yang telah letih ini mengeluhkan keletihannya pada mata, namun (seakan) apa yang dikatakan pandangan tidaklah seperti yang dia harapkan. Dia mengatakan, “Aku hanyalah sebagai utusanmu dan engkaulah yang mengutusku.”

Baca Juga: Kesempatan Berharga Bersama Orangtua

Betapa peringatan dalam ayat ini sesuai dan sangat manfaat diterapkann di zaman kita ini. Saat di mana akses manusia untuk melihat hal-hal yang haram itu terbuka seluas-luasnya dan semudah-mudahnya. Maka menundukkan pandangan menjadi sangat penting untuk menjaga kesucian hati.

Setidaknya menjaga pandangan dari yang haram menghadirkan manisnya iman dan kelezatannya. Di mana rasa ini lebih manis dan lebih baik serta lebih lezat dibandingkan melihat pemandangan yang ia tinggalkan karena Allah tersebut. Karena barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantikan untuknya sesuatu yang lebih baik baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

 

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah kau tinggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa Jalla melainkan pasti akan Allah gantikan untukmu dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kau tinggalkan.” (HR. Ahmad)

Barangsiapa yang menundukkan pandangan juga akan mendapatkan cahaya hati dan firasat yang tepat. Rahasianya adalah, bahwa balasan itu sepada dengan perbuatan. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari yang diharamkan Allah, maka Allah memberi ganti yang sejenis tapi dengan kadar yang jauh lebih banyak. Maka sebagaimana seseorang menahan cahaya matanya dari yang haram, maka Allah anugerahkan kepadanya cahaya bashirah yang memancar di hatinya. Maka dia mampu melihat apa-apa yang tidak mampu dilihat oleh orang yang mengumbar pandangannya kepada yang haram.

Ibnu Syujaa’ Al-Karmani rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang menjaga dhahirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan perasaan selalu diawasi Allah ‘azza wa jalla (muraqabah), menahan diri dari mengikuti syahwat, menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang haram dan menjaga diri untuk tidak makan yang haram maka firasatnya tidak akan meleset.” Wallahu a’lam. 

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kajian

 

Kesempatan Berharga Bersama Orang Tua

Foto-foto pengungsi Rohingya yang sedang memikul orang tuanya menjadi viral di media sosial. Beberapa video juga tersebar menunjukkan bagaimana mereka terseok menggendong ibu mereka menyeberangi lumpur dan sungai.

Hal tersebut mengingatkan kita pada kisah ibnu Umar saat ia melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

Semoga Allah memberi kemudahan kepada mereka lantaran bakti mereka kepada orang tua. Beruntunglah mereka yang masih diberikan nikmat kebersamaan dengan orang tua karena masih terbuka salah satu pintu dari pintu-pintu surga.

Keberadaan orang tua merupakan kesempatan berharga bagi anak untuk menimba pahala sebanyak-banyaknya.

 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَظُنُّهُ قَالَ أَوْ أَحَدُهُمَا

Rasulullah bersabda, “Celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena kebaktiannya).” Dan berkata Abdurrahman, “aku mengira ia mengatakan atau salah satunya.”

Raghima anfu rajulin dalam hadits tersebut adalah seseorang akan mengalami berbagai kehinaan di dunia jika ia hidup bersama orang tuanya sementara ia tidak bisa menjadikan keduanya faktor yang membuatnya masuk surga. Taat kepada orang tua adalah cara termudah untuk masuk surga.

Baca Juga: Pahala Sempurna Bagi Orangtua yang Anak Kecilnya Meninggal

Salah seorang sahabat pernah datang kepada Nabi dan bertanya, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah.” Nabi menjawab, “Shalat pada waktunya.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Birul walidain.”

Rasulullah menggunakan istilah berbakti bukan taat, karena kata bakti mencakup semua jenis kebaikan, kasih sayang, memberi, menolong, dan membahagiakan mereka berdua.

Kesempatan hidup bersama orang tua tak datang dua kali. Maka para sahabat dan orang-orang shalih memanfaatkan waktu tersebut dengan baik.

Anas bin Nadzr al-Asyja’I pernah bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.”

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang didapatkan anaknya.

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar. Suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum!” Mendengar panggilan ibunya, beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya.

Baca Juga: Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking.

Melihat tindakan seperti itu, ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu?” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.”

 Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma).

Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian? Padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan, pasti kuberikan.” (Shifatush Shafwah)

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah, beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, ‘Ada apa dengan Muhammad? Apakah dia mengadukan suatu hal?’ Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, ‘Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya’.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Bersegeralah untuk berbakti kepada orang tua sebelum kesempatan itu berlalu dan penyesalan selalu hadir dibelakang. Jika ingin memperoleh cinta Allah, mintalah ridha orang tua. Kita bahagiakan orang tua. Buat mereka tertawa, bantulah mereka, bersabarlah terhadap perilaku mereka yang membuat kita tak senang.

Jika salah seorang dari mereka berumur lanjut dalam pemeliharaan kita, jangan tinggikan suara dihadapan mereka dan tetaplah berkata dengan perkataan yang mulia. Berdoalah untuk keduanya baik ketika mereka masih hidup atau setelah mereka meninggal.

Seorang tabiin pernah ditanya, “Berapa kalikah saya harus berdoa kepada ayah dan ibuku?” Ia menjawab, “Lima kali dalam sehari.” Orang itu bertanya, “mengapa?” Ia menjawab, “Bukankah engkau telah diperintahkan untuk shalat lima waktu dalam sehari?” orang itu menjawab, “Benar.” Tabiin itu berkata, “Bukankah Allah berfirman, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.’ (QS. Luqman: 14). Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan/Fadhilah

 


Segera miliki majalah islam keluarga, ar-risalah. Majalah pilihan keluarga muslim dalam meningkatkan kualitas hati dan ketakwaan. Hubungi agen terdekat atau sms/wa ke: 0852 2950 8085

Balasan Sempurna Bagi Orangtua Yang Meninggal Buah Hatinya

Istri positif hamil! Sebuah kabar gembira tiada terkira untuk seorang suami. Apalagi bagi pengantin baru atau pasangan yang telah sekian lama menunggu hadirnya si buah hati. Dengan kabar gembira ini, keduanya pun mulai berangan-angan tentang kebahagiaan yang akan menghiasi kehidupan keduanya, 9 bulan kemudian. Perdebatan kecil nan mesra seputar apakah nantinya yang akan lahir seorang putri jelita atau pangeran tampan yang mempesona, ikut meramaikan suasana dan menambah kehangatan kehidupan berumah tangga. Partikel-partikel kebahagiaan berkilau beterbangan bak permata. Senyum pun terulas, mata mengerjap dan setitik airmata syukur luruh bersama puja dan puji kehadirat-Nya atas anugerah yang teramat mulia.

Akan tetapi dunia, tak selalu selaras dengan apa yang diinginkan manusia. Berputar, menggilir waktu dan nasib. Siang berganti malam, sehat berganti sakit dan bahagia berganti duka dan lara. Kebahagiaan yang tengah dirasa, anugerah yang tengah diimpikan dan didoakan setiap malamnya, harus retak, pecah dan berganti nestapa merobek jiwa. Janin dalam kandungan, tak diberi kesempatan membuka kelopak mata, menatap kemilau dunia dan bertukar pandang dengan dua wajah yang sangat menantikan kehadirannya. Atau ia telah lahir, tapi Yang Mahakuasa tak memperkenankannya berlama-lama di alam fana. Ia pun pergi dengan tenang dengan jiwa yang suci, meninggalkan semua tangis yang seakan berusaha mencegahnya. Kuasa-Nya, siapapun tak akan mampu menolaknya.

 

Baca Juga: Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

 

Jiwa yang lemah akan berteriak memberontak, “Kenapa Kau timpakan semuanya pada kami berdua?! Dan Mengapakah harus kami yang menanggungya?! Kenapa harus putra yang pertama, yang telah kami tunggu sekian lama?!”

Rasa kecewa, sedih, marah, dan putus asa mengguncang tulang-tulang rusuk, menggetarkan dada. Iman dan ilmunya terlalu lemah dan tak mampu membangun benteng kesabaran yang bisa menahan lahar panas kesedihan.

Sedang jiwa yang selalu tersiram segarnya ilmu dan iman, akan tertunduk pasrah. Ilmunya akan menasehati bahwa semua yang ada adalah milk-Nya. Sedari awal kita memang tak punya apa-apa, lalu dikarunai, dipinjami, menikmati kemudian diminta kembali. Imannya akan memberi wejangan, keputus asaan dan pemberontakan adalah kebodohan dan kedurhakaan.

Jiwa pun kembali tenang dan mencoba mencari makna dan hikmah dari apa yang telah hilang dengan menyelami sabda Rasulul Musthafa,

” Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya janin yang gugur akan menarik tangan ibunya dengan tali pusarnya menuju jannah, jika sang ibu berharap (ridha) dari Allah. (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad).

 

Baca Juga: Memanah, Hiburan yang Mengantarkan Ke Jannah

 

” Barangsiapa yang memiliki dua anak kecil yag meninggal dari umatku, niscaya Alalh akan memasukkannya ke dalam Jannah.” Aisyah berkata, ” Lantas bagaimana dengan orang yang memiliki seorang anak (lalu meninggal)?” Nabi menjawab, ” Dan orang yang memiliki seoang anak, wahai wanita yang diberi taufik. ” (Hadits hasan riwayat Imam at Tirmidzi).

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami yang terbaik dari sisimu. Karuniakanlah syukur saat kami bahagia, dan berikanlah kesabran saat kami dirundung nestapa.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Fadhilah Amal

Mereka Yang Mendapatkan Pahala Tanpa Beramal

Saat di mana Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang mempersiapakan perbekalan dan kendaraan menjelang keberangkatan perang Tabuk, beberapa orang fakir di kalangan sahabat bermaksud untuk mendaftarkan diri mereka turut dalam barisan pasukan fie sabilillah. Akan tetapi, mereka yang tidak memiliki kendaraan sendiri namun sudah bersemangat dan bertekad bulat untuk ikut serta itu tidak mendapatkan tumpangan kendaraan yang bisa mereka naiki. Sehingga Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak bisa membawa serta mereka untuk berangkat.

Betapa sedihnya mereka, lantaran merasa tidak bisa memberikan andil apa-apa dalam perjuangan itu. Hingga air mata mereka mengalir deras karena kesedihannya. Ibnu Jarier menyebebutkan dari Muhammad bin Ka’ab bahwa mereka ada tujuh orang; Salim bin Umair, Hurmiy bin Amr, Abdurrahman bin Ka’ab, Salman bin Shakhr, Abdurrahman bin Zaid, Amr bin Ghunmah dan Abdurrahman bin Amr radhiyallahu anhum.

Allah mengetahui ketulusan hati mereka, maka Allah menerima alasan mereka untuk tidak turut serta dalam perang Tabuk, dan Allah tetap mencatat pahala bagi mereka sebagaimana pahala orang yang berangkat berjihad. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh ada orang-orang yang tertinggal di Madinah, tidaklah kalian berinfak dengan apa yang kalian infakkan, berjalan menyusuri lembah hingga kalian berjuang saat bertemu musuh, melainkan mereka (yang tertinggal di Madinah itu) menyertai kalian dalam pahala. Kemudian beliau shallallahu alahi wasallam membaca (QS at-Taubah 92),

 

تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (Tafsir Ibnu Katsier, dan asal hadits terdapat dalam Shahihain)

Peristiwa ini mengajarkan kita banyak faidah.

Pertama

Tentang arti ketulusan yang dipraktikkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Mereka sangat antusias dalam berburu keutamaan, bersemangat untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ingin hadir dalam setiap momen kebaikan, terus bergerak menyusuri jalan menuju ridha Allah. Hingga tak ada yang menghentikan langkah mereka selain ketidakmampuan. Yang seandainya mereka memiliki kemampuan, niscaya mereka akan melakukannya. Ini juga menjadi realisasi dari perintah, “fattaqullaha mastatha’tum’, bertakwalah kepada Allah sejauh kemampuanmu. Mereka adalah teladan, maka lihatlah semangat kita terhadap setiap jenis kebaikan, apakah juga sudah sejalan dengan jejak para teladan.

 

Baca Juga: Cara Allah Ta’ala Menjaga Iman Hambanya

 

Jika dalam perkara kebaikan yang tak mampu mereka kerjakan pun ada kesedihan ketika terlewat oleh mereka, lantas bagaimana jika mereka terlewatkan dari suatu kebaikan yang mereka mampu mengerjakannya.

Jiwa yang antusias dalam kebaikan akan menyesali keteledorannya hingga melewatkan suatu keutamaan apalagi kewajiban. Menyesal ketika tertinggal shalat berjamaah di masjid, sedih karena terhalang mengerjakan shalat malam, gelisah ketika dalam sehari belum menyempatkan tilawah al-Qur’an dan begitupun untuk jenis dan mcama kebaikan yang lain.

Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang justru mencari banyak alasan untuk mengelak dari kebaikan pada saat sebenarnya dia memiliki kemampuan dan kesempatan. Seperti al-Jad bin Qais yang meminta ijin kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, maukah Anda mengijinkan aku untuk tidak ikut, atau kalau tidak maka Anda akan menjerumuskan aku ke dalam fitnah (godaan), demi Allah kaumku mengetahui tidak ada laki-laki yang lebih tergoda oleh wanita Bani al-Ashfar selain dariku. Maka saya takut jika nanti melihat wanita-wanita Bani Ashfar lalu saya tidak bisa bersabar.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpaling sembari berkata, “Ya, aku ijinkan kamu untuk tidak berangkat!” Tentang hal ini turunlah ayat,

 

مِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا

“Di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah…” (QS. at-Taubah 49)

Yakni dia berbohong soal alasannya tidak ikut berjihad, karena kenyataannya tidak demikian. Dengan ucapannya itu otomatis dia telah terjerumus ke dalam fitnah.

 

Baca Juga: Cara Menepis Godaan Kemaksiatan

 

Kedua

Tentang keutamaan niat yang tulus. Bahwa dengan niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan suatu keutamaan, maka seseorang telah tercatat untuknya pahala kebaikan. Meskipun pada kenyataannya dia terhalang untuk melakukan apa yang telah dia niatkan.  Tangisan penyesalan yang tulus para sahabat lantaran tidak bisa menyertai Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal mereka sangat ingin mengerjakannya menjadikan mereka mendapatkan pahala sama dengan mereka yang berangkat di perang Tabuk. Ini adalah karunia dari Allah, dan berlaku juga dalam setiap lini kebaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa berniat untuk melakukan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka baginya satu pahala kebaikan yang sempurna.” (HR Bukhari)

Termasuk orang yang terbiasa menjalankan shalat berjamaah, kemudian ia tidak mampu datang karena sakit, maka ia tetap tercatat sebagai orang yang shalat berjamaah. Karena ia memilki niat yang tulus, namun ada udzur yang membuat ia terhalang datang ke masjid. Begitupun untuk kebaikan dan keutamaan yang lain. Maka sudah seharusnya kita banyak belajar tentang sebanyak mungkin pintu kebaikan, meniatkan untuk menjalankan seluruhnya dan mengerjakan sejauh kemampuannya, wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tafsir