Allah bersumpah dengan potongan demi potongan waktu, “wal fajr (demi waktu fajar), wash shubh demi waktu shubuh, wadh dhuha (demi waktu dhuha), wan nahaar (demi waktu siang), wal ‘ashr (demi masa/demi waktu ashar), wal lail (demi waktu malam). Para ulama sepakat bahwa sesuatu yang Allah bersumpah dengannya itu menunjukkan urgensinya dan agar manusia memerhatikan dengan seksama.
Begitupun tatkala Allah bersumpah dengan waktu dhuha, ini menunjukkan bahwa pada waktu dhuha itu ada sisi istimewa. Seorang muslim yang istimewa tentu memilih aktivitas dhuha dengan mulia dan berguna. Ia amat bakhil terhadap waktu yang dimilikinya untuk dibuang percuma. Ia( berusaha memanfaatkan setiap waktunya dengan aktivitas yang paling utama untuk setiap kondisinya. Dengan demikian, kesuksesan yang didapatkannya semakin sempurna dalam berbagai sisi, baik dalam hal duniawi maupun ukhrawi.
Adapun permulaan waktu dhuha menurut Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Syarah al Arba’in an-Nawawiyah adalah mulai dari matahari setinggi tombak (secara pandangan mata) hingga mendekati waktu zawal (dhuhur). Jika menggunakan hitungan menit, waktunya dimulai kira-kira 20 menit setelah matahari terbit, hingga 10 atau 5 menit sebelum matahari bergeser ke barat. Sedangkan Al Lajnah Ad Da-imah menjelaskan bahwa waktu awal shalat Dhuha adalah sekitar 15 menit setelah matahari terbit.
Perbedaan profesi dan kondisi masing-masing orang menuntut adanya perbedaan jenis aktivitas di waktu dhuha ini. Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy dalam kitabnya “Tauzi’ul Ibaadaat ‘ala Maqaadirul Auqaat menjelaskan di antara pilihan aktivitas di waktu dhuha itu berkisar pada empat hal,
Pertama, menyibukkan diri untuk mencari ma’isyah (bekerja) seperti pergi ke pasar. Jika dia menjadi seorang pedagang hendaklah berdagang dengan jujur dan amanah, jika menjadi seorang pemilik perusahaan, maka hendaklah murah nasihat dan berlaku ramah, jangan lupa berdzikir kepada Allah Ta’ala di tengah kesibukan dan hendaklah qana’ah (merasa cukup dan tidak mengeluh) ketika mendapat rejeki yang sedikit.
Kedua, qailulah yakni tidur sejenak di waktu siang, karena sesungguhnya qailullah bisa membantu untuk bisa melakukan shalat tahajud sebagaimana makan sahur bisa membantu meringankan shaum di siang hari. Suatu kali pernah Imam Hasan al-Bashri masuk ke pasar dan melihat hiruk pikuknya orang-orang sepanjang hari tanpa tidur siang, lalu beliau bergumam, “Kukira malam mereka adalah malam yang buruk ketika mereka tidak melakukan qailulah (tidur sejenak menjelang siang).”
Maknanya, ketika seseorang sudah melakukan qailulah, hendaknya ia melakukan shalat malam, karena itulah di antara tujuan dianjurkannya qailulah. Hingga di antara ulama memberikan sindirian, “Barangsiapa yang qailulah di siang harinya namun tidak shalat tahajud di malam harinya, maka ia seperti orang makan di waktu sahur tapi tidak mengerjakan shaum di siang harinya.”
Tidur sejenak ini juga untuk membedakan diri dengan setan sebagaiamana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيْطاَنَ لاَ يَقِيْلُ
“Hendaknya kalian lakukan qailulah, karena setan tidak melakukan qailulah.” (HR Thabrani, al-Albani menyatakan haditsnya hasan)
Pilihan aktifitas ketiga adalah mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan manusia seperti menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, menghadiri majlis ilmu (belajar), atau mencukupi kebutuhan seorang muslim.
Adapun amal unggulan di waktu dhuha adalah shalat (sunnah) dhuha. Banyak sisi keutamaan shalat dhuha ini, di antaranya sebagai perwujudan syukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Hingga orang yang menjalankannya dianggap telah bersedekah untuk ruas-ruas persendiannya. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari dituntut atas kalian bersedekah untuk seluruh persendian di antara. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) adalah sedekah, dan setiap takbir (Allahu akbar) juga bernilai sedekah. Begitupun amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Dan ini semua tercukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha 2 raka’at.” (HR. Muslim)
Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebanyak 360 persendian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007)
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at.”
Bayangkan seandainya ruas-ruas persendian kita macet, kaku tak bisa menekuk, memutar dan sebagainya. Maka hendaknya kita mengikat nikmat ruas persendian itu dengan syukur, bersedekah atau setidaknya dengan menjalankan shalat dhuha.
Shalat dhuha juga menjadi sebab kecukupan kebutuhan seseorang di hari itu. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
“Allah Ta’ala berfirman, Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rekaat shalat di awal siang (dhuha), niscaya itu akan mencukupimu di akhir siang.”
Al ‘Azhim Abadi dalam Aunul Ma’bud memberikan penjelasan, “Hadits ini mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha bisa menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan dirinya. Bisa juga dimaknai bahwa shalat Dhuha dapat menjaga pelakunya dari terjerumus ke dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.”
Oleh: Abu Umar Abdillah/Majalah risalah hati
