Muslim Maluku Melawan Portugis

Di Maluku, umat Islam dengan sengit melawan Portugis selama 85 tahun (1520—1605). Portugis pertama datang ke Maluku pada 1512. Tiga tahun berikutnya, Portugis diizinkan mendirikan loji di Hitu sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah sehingga terjalinlah hubungan perdagangan antara Hitu dan Portugis.

LATAR BELAKANG PERLAWANAN

Namun demikian, hubungan ini tidak berlangsung lama karena ulah Portugis sendiri. Pada 1516 orang Portugis membawa minuman keras dari kapal untuk dijual. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Kejadian ini menimbulkan kemarahan masyarakat Hitu terhadap orang Portugis. Mereka menuntut penguasa Hitu, yaitu Empat Perdana, agar menghukum orang Portugis karena telah melanggar adat dan agama. Akhirnya orang Portugis disuruh pindah ke bagian selatan Hitu. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-40)

Atas tindakan ini, pada 1520 Portugis menyerang Hitu dengan mempengaruhi penduduk di bagian selatan jazirah itu untuk membantu mereka. Menghadapi situasi itu, Empat Perdana Menteri tidak tinggal diam. Mereka memerintahkan seluruh rakyat turun ke pantai menghadapi musuh yang akan mendarat. Rakyat Hitu tidak gentar menghadapi serangan Portugis karena mati bagi mereka saat itu adalah mati syahid. Pertempuran satu lawan satu berlangsung dengan seru sampai petang, namun tidak ada kemenangan yang diraih oleh salah satu pihak. Pasukan Portugis mundur karena sudah malam, lalu berlayar pulang ke pangkalannya. Serangan pertama pihak Portugis ini merupakan awal permusuhan antara Hitu dan Portugis yang berlangsung selama ± 85 tahun. (hlm. 43-44)

PERLAWANAN MUSLIM HITU

Pertempuran kembali terjadi antara rakyat muslim Hitu dan orang Portugis pada 1525. Banyak orang Portugis mati terbunuh. Penduduk Hitu Selatan yang dulu membantu penyerangan Portugis pada 1520 juga mendapatkan balasan sehingga mereka lari menyelamatkan diri. Rakyat Hitu memperoleh kemenangan yang gemilang. Delapan tahun berikutnya (tahun 1533), Portugis mencoba mempengaruhi negeri Hatiwe, yaitu salah satu negeri Islam di jazirah Hitu bagian selatan, agar membantu mereka menyerang Hitu dari laut dan darat. Sebelum rencana penyerangan Portugis itu terlaksana, pasukan Hitu bersama pasukan bantuan dari Jepara menyerang Hatiwe terlebih dahulu. Pasukan Hitu tidak hanya menunggu Portugis di tempat, tapi diperintahkan untuk menghadang pasukan musuh dalam perjalanan sebelum tiba di Hitu. Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sepanjang perjalanan ke Hitu, pasukan Portugis banyak menderita kerugian karena banyak yang mati. Senjata mereka banyak pula yang jatuh ke tangan pasukan Hitu. Pasukan Portugis mengundurkan diri ke Hatiwe sambil menunggu bantuan dari Goa. Namun bantuan yang ditunggu baru tiba pada 1537 dan terjadilah pertempuran antara pasukan Hitu dan pasukan Portugis.

Pada 1570 Portugis kembali menyerang Hitu di bawah pimpinan Sancho. Karena serangan ini, Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu sampai harus berpindah ke Seram Barat. Melihat keberangkatan mereka, Portugis merasa puas karena musuhnya di jazirah Hitu sudah tidak ada lagi. Namun demikian, pada 1574 Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu ditambah bantuan penduduk Seram Barat melakukan penyerangan dan berhasil mengusir Portugis dari Hitu. Keadaan pun menjadi tenang kembali. Namun, hal ini hanya bertahan selama 6 tahun. Pada 1580 pasukan Portugis di bawah pimpinan Panglima Paul Dirk Kastanya kembali datang dan membuat kekacauan. Dua tahun berikutnya, Portugis menyerang Mamala. Dalam pertempuran yang berlangsung 2 hari itu, orang-orang Mamala berhasil menghalau pasukan Portugis setelah dibantu oleh Perdana Menteri Tahalele II dengan pasukannya dari Hitu. (hlm 44-56)

PERLAWANAN MUSLIM TERNATE

Perlawanan bersenjata terhadap Portugis juga terjadi di Ternate. Pada mulanya, kerajaan Islam yang berada di Maluku bagian utara ini menjalin hubungan dagang dan perjanjian damai dengan Portugis. Namun setelah Portugis memonopoli perdagangan, menyebarkan agama Katolik dengan licik dan paksaan, serta mengadu domba antara penduduk Maluku, orangorang Ternate pun menjadi benci kepada mereka. Portugis juga sering turut campur dalam urusan pemerintahan dan bertindak sewenang-wenang terhadap para sultan. Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dari masyarakat Maluku Utara terhadap bangsa Portugis. Kemarahan ini semakin bertambah ketika Sultan Khairun dan ibunya ditangkap dan diasingkan dalam benteng. Mereka berdua akhirnya dibebaskan karena rakyat memberontak. Di seluruh daerah kekuasaan Sultan Ternate, timbul kebencian terhadap Portugis. Kemarahan terhadap Portugis mencapai puncaknya ketika Sultan Khairun dibunuh secara kejam pada 18 Februari 1570 dalam benteng oleh pengkhianatan de Mesquita yang menjabat sebagai Gubernur Portugis di Ternate pada waktu tersebut. Akibat kejadian itu, Sultan Babullah yang telah menggantikan ayahnya segera bertindak keras terhadap Portugis, dengan mengusir mereka yang tinggal di luar benteng.

Sementara benteng Ternate (Sau Paulo) dikepung, Sultan Babullah mengirimkan angkatan perangnya ke Ambon di bawah pimpinan Kaicili Leliato untuk menghajar Portugis. Walaupun Kerajaan Tidore bermusuhan dengan Ternate, namun dorongan solidaritas Islam telah memaksa para sultan dan rakyat Maluku Utara membantu Ternate. Kepungan terhadap benteng telah mengakibatkan timbulnya wabah dan kelaparan sehingga para penghuni dalam benteng mulai menderita penyakit busung lapar. Melihat penderitaan orang-orang yang terkepung itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Sultan Babullah. Dia kemudian menawarkan beberapa usul. Pertama, Portugis harus menyerahkan benteng dan meninggalkan Ternate dalam waktu 2 X 24 jam. Kedua, Orang-orang Portugis harus menyerahkan pembunuh Sultan Khairun dan kaki tangannya. Sejak saat itu, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate tetap tegang sampai tiba saatnya mereka meninggalkan Maluku untuk selamanya pada 1606, setelah Ternate mengalahkan Portugis dengan bantuan Belanda dan Hitu. (hlm. 57-66)

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Nusantara dalam Sejarah Islam Dunia

Penulisan Sejarah meski diarahkan agar netral (obyektif), namun faktanya sering tidak netral, karena untuk kepentingan tertentu. Terutama akibat cara pandang Filsafat Barat yang empiris-rasionalis, menolak wahyu. Sebagai Muslim, tidak ada yang lebih benar dalam memandang sejarah, kecuali dengan dasar ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah. Demikian pula, memandang sejarah Islam di Nusantara, mesti dengan dasar keduanya. Oleh karena sejarah perdaban manusia di dunia adalah sejarah Islam seluruhnya, sejak Nabi Adam ‘as hingga hari kiamat.

 

Pentingnya Belajar Sejarah Islam

Sesungguhnya sejarah memiliki peran sangat besar menanamkan pemikiran, merubah cara pandang dan membangkitkan semangat hingga mampu menggerakkan suatu peradaban dan mengubahnya menjadi peradaban lain. Tujuan terpenting belajar sejarah adalah menimbulkan rasa harap dan takut. Harapan mengikuti jejak kaum beriman seperti dalam sejarah para Nabi dan Rasul. Rasa takut, khawatir bila mengikuti langkah setan dalam wujud jin maupun manusia seperti sejarah para pembangkang (kafirin, musyrikin dan munafiqin). Tidak heran jika masa kenabian Muhammad ﷺ, ayat-ayat Al-Qur’an tentang berbagai kisah terdahulu diturunkan untuk memahamkan perjalanan dakwah para Rasul dan pengikutnya. Sikap kaum terbelah menjadi dua kubu yang selalu berseteru: antara keimanan yang akan membawa ke surga dan kekufuran yang berakibat masuk neraka, kekal untuk selamanya.

 

Kewajiban Belajar Sejarah

Pada Ramadhan, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup manusia, menjadi al-Furqan (pembeda haq dan batil). Al-Qur’an adalah kalam Allah, diturunkan ke Nabi Muhammad ﷺ melalui Jibril. Al-Qur’an terdiri 30 juz (114 surat atau 6.236 ayat). Sebagian besar isinya berupa kisah-kisah (sejarah), bahkan surat ke-28 adalah Al-Qashash (kisah-kisah).

Surat Al-Fatihah (pembuka Al-Qur’an) sebagai ummul kitab (induk Al-Qur’an) dan al-sab’u al-matsani (7 ayat diulang bacaannya). Setiap Muslim diwajibkan membaca Al-Fatihah di setiap raka’at dalam shalat. Bahkan shalat tidak sah tanpa membaca Al-Fatihah. Oleh karena itu, lebih dari 1440 tahun yang lalu, seluruh umat Islam dunia membacanya 17 kali dalam shalat wajib sehari semalam. Setiap muslim menyatakan bahwa Allah Maha Pemurah dan Penyayang, sebagai Rabb semesta alam yang memiliki segala pujian, menguasai hari pembelasan serta hanya kepada-Nya ditujukan ibadah dan hanya kepada-Nya memohon pertolongan.

Tidak mungkin bagi seorang Muslim untuk dapat memahami jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, kecuali dengan mempelajari sejarah kehidupan para Nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholih yang telah berlalu di atas muka bumi.

Demikian pula, tidak mungkin memahami jalannya orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi dan jalannya orang-orang sesat dari kaum Nashara serta siapa saja yang menyerupai mereka, kecuali dengan mempelajari sejarah kehidupan mereka yang menyimpang dari jalan yang lurus itu, dengan mendasarkan kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber utama dalam Islam.

Oleh karena pentingnya sejarah Islam, tidak heran pula jika kaum kafir ingin sekali mendistorsi dan menghitamkan sejarah Islam agar menjadi gelap gulita dan kelam. Mereka  hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Namun Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya  meski kaum kafir membencinya.

Sesungguhnya bagi seorang Muslim, mempelajari kisah-kisah sebagai fakta sejarah bukan persoalan minat (hobi). Akan tetapi, ia termasuk kewajiban atas setiap Muslim untuk mempelajari dan mengambil berbagai ‘ibrah (pelajaran). Bagaimana bisa seorang Muslim tidak mau mempelajari dan mencintai kisah-kisah? Sedangkan petunjuk hidupnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang sebagian besar isinya tentang kisah-kisah masa lalu?.

 

Sekilas Sejarah Peradaban Islam Dunia

Iblis terlaknat telah sombong hingga tidak mau bersujud menghormati Nabi Adam ‘as. Sejak itu, dendam Iblis terhadap seluruh keturunannya berlanjut hingga hari kiamat. Terjadilah perseteruan antara ahlul haq dengan ahlul batil, pejuang tauhid melawan para pembela syirik. Ini dimulai dari Nuh ‘as melawan pembesar kafir hingga binasa dengan banjir. Dilanjutkan putranya, yaitu Sam (Arab), Ham (Habasyi) dan Yafits (Rum) hingga manusia dikembangbiakkan menjadi bersuku dan berbangsa, lalu tersebar di berbagai negeri. Perseteruan pejuang tauhid melawan pembela syirik berlanjut hingga Ibrahim VS Namrudz, Musa VS Fir’aun, Nabi ‘Isa VS imperium Romawi, hingga masa Nabi Muhammad ﷺ di Makkah (13 tahun) dan di Madinah (10 tahun).

Makkah berada diantara Imperium Romawi & Persi (571-623). Nabi Muhammad ﷺ lahir (571 M), bersama Halimah Sa’diyah & Aminah (6 th), Abdul Muththalib (8 th), Abu Thalib (8-50 th), ikut kafilah dagang ke Syam (12 th & 25 th), menikahi Khadijah (25 th), Renovasi Ka’bah (35 th), Turunnya Wahyu di Gua Hira’ (40 th), dakwah sirriyah (1-3 K), dakwah jahriyah (3-10 K), boikot jual beli dan nikah (7-10 K), Abu Thalib dan Khadijah wafat (10 K), Bai’ah Aqabah 1 (12 K), Bai’ah Aqabah 2 (13 K) lalu hijrah ke Yatsrib (1 H).

Di Madinah, Rasulullah ﷺ menegakkan Peradaban Islam (1-11 H), pecah Perang Badar (2 H), kekufuran Yahudi Qunaiqa’ (2-3 H), Perang Uhud (3 H), pengusiran Bani Nadhir (4), Perang Khandaq/Ahzab (5 H), Perang Bani Quraidhah (5 H), Perjanjian Hudaibiyah (6 H), Perang Khaibar (7 H), Perang Mu’tah (8 H), Fathu Makkah (8 H), Perang Hunain (8 H), Perang Tabuk (9 H), tahun para utusan (9 H), Haji Wada’ (10 H), futuhat Syam, Usamah ke Balqa’ melawan Byzantium (Nashara) hingga wafatnya Rasulullah ﷺ (11 H).

Di masa Khulafa’ ar-Rasyidin (30 th) terjadi jihad muslimin melawan musyrikin. Abu Bakar Ash-Shiddiq (10-12 H/632-634) memerangi Byzantium dan Persia pasca menumpas gerakan Murtad.  Umar bin Khaththab (12-22 H/634-644) melakukan futuhat ke negeri Timur dan Barat, membuka Baitul Maqdis dan Mesir.  ‘Utsman bin ‘Affan (22-34 H/644-656) melanjutkan futuhat ke Afrika Utara (Alexandria, Tripoli, Tunisia dan Nubia). ‘Ali bin Abi Thalib (34-39 H/656-661) berjuang keras memadamkan kobaran fitnah Khawarij dan Syi’ah.

Kekhalifahan Bani Umayah di Damaskus (40-132 H/661-750) melanjutkan futuhat memerangi Nashara di Yunani (662) dan upaya futuhat Konstantinopel (670). Thariq bin Ziyad melakukan futuhat di Andalusia (711), Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan Samah bin Malik, futuhat ke Perancis (718), dilanjutkan Abdurrahman Al-Ghafiqi (732). Pemerintahan Islam Bani Umayah di Andalusia tetap berdiri selama 781 tahun (132-897 H/750-1492) meski Kekhalifahan beralih ke Bani ‘Abbasiyah. Abdurrahman Ad-Dakhil menjadi Amir hingga berlanjut ke Abdurrahman An-Nashir. Namun Andalusia dengan puncak peradaban Islam di Granada, Toledo, Cordoba dan Seville harus berakhir runtuh di tangan salibis Katholik Spanyol.

Bani ‘Abbasiyah mendirikan Kekhalifahan  di Baghdad, Iraq (750-1258). Masa ini lebih meraih puncak peradaban Ilmiah dengan tinta dan kertas. Khalifah yang jaya seperti Harun Ar-Rasyid (786-809) dan Al-Ma’mun (813-833). Banyak lahir ulama (ahli fiqih: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal; ahli hadits: Bukhari, Muslim dll) serta banyak Ilmuwan Muslim (Al-Battani, Ibnu Haytham dll). Bangkit kekuatan Islam bangsa Turki masa Al-Mu’tashim (833-842). Banyak Khalifah ‘Abbasiyah menyerukan jihad melawan salibis Byzantium Romawi (842-1258). Alib Arsalan melibas salibis (Manzikert, 1071), berlanjut perang Sabil (Salib) masa Imaduddin Zanky (1095-1145), Nuruddin Zanky (1145-1148) dan Shalahuddin Al-Ayyubi (Hitthin, 1187), menguasai Baitul Maqdis.  Namun Khilafah ‘Abbasiyah runtuh di tangan Hulaghu Khan, Tartar-Mongol (1258 M). Gerakan jihad dipimpin Saifuddin Qutuz (Mesir) mengalahkan Tartar-Mongol (‘Ainun Jalut, 1260). Kesultanan Mamluk (1250-1517) menguasai Mesir, Syam, Hijaz dan Yaman hingga jatuh ke Sultan Salim I, Utsmani.

Kesultanan Turki Utsmani didirikan ‘Utsman (1299-1323) bin Urthughul, jihad melawan salibis selama ratusan tahun, Orkhan (1323-1362), Murad I (1362-1389), Bayazid I (1389-1402), Muhammad I (1413-1421), Murad II (1421-1451), Muhammad Al-Fatih (1451-1481) menaklukkan Konstantinopel dan berupaya menaklukkan Roma (Otranto, 1480). Masa Sultan Bayazid II (1481-1512) terjadi nestapa Andalusia, Isabella-Ferdinand membantai umat Islam dan Yahudi di Spanyol (Andalusia). Perjanjian Tordesillas (1494), Paus Alexander VI menetapkan Spanyol ke barat dan Portugis ke timur. Sultan Salim I (1512-1520) mendirikan Khilafah Utsmani (1517), lalu Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566) menaklukkan 3 Benua (Eropa, Afrika & Asia). Inilah puncak Keemasan Khilafah Utsmani, mendominasi dunia. Namun setelah itu, mulai melemah hingga berakhir runtuh menjadi Republik Turki (Sekuler) di tangan Mustafa Kamal, Yahudi (1924).

Afrika Utara menjadi bagian Khilafah Turki Utsmani. Jihad ‘Uruj (1512-1518M) dan Khairuddin Barbarossa (1518-1546) melawan salibis Spanyol dan Portugis di Laut Tengah. Dibantu Hasan Agha Ath-Thusy (1539M), Saleh Pasya (1552 M) di Aljazair, Haidar Pasya (1573) di Tunisia hingga masa Omar Mukhtar (1862-1931) melawan salibis Italia di Libya.

Di India, salibis Portugis dikalahkan Husein Al-Kurdi, Mamluk (Chaul, 1508), lalu Mamluk kalah (Diu, 1509). Portugis menguasai Goa (1510), Malaka (1511), Hurmuz (1515), Pasai (1521), namun dihancurkan Fatahillah di Sunda Kalapa (1527). Utsmani memerangi Syi’ah-Portugis di Persia dan Yaman. Lalu datang imperialisme-kolonialisme Protestan Anglikan Inggris di India (abad 17-20 M).

Di kepulauan Melayu-Nusantara, juga banjir imperialis-kolonialis salibis (Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis dan Inggris). Di Sumatera, jihad dipimpin Mahmud Syah (1511) di Bintan-Riau, Sultan Ali Mughayat (1507-1530) dari Kesultanan Aceh, Alauddin Riayat (1563), Sultan Iskandar Muda (1607-1639), Sultan Abdul Jalil (1723-1744), Imam Bonjol (1821-1837), Muslimin Aceh perang Sabil VS Protestan Belanda (1873-1912), Cut Nyak Dien (1910) hingga Perang Batak oleh Si Singamangaraja XII (1878-1907).

Di Jawa, jihad Kesultanan Demak melawan salibis Portugis masa Sultan Fattah (1512), Pati Unus (1521) dan Fatahillah (1527). Sultan Trenggono memerangi musyrikin Syiwa-Buddha di Pasuruan. Sultan Ageng Tirtayasa jihad melawan VOC Belanda (Protestan) di Banten (1619), Sultan Agung Mataram (1628), Trunojoyo (1672-1680), Untung Suropati (1683-1706), Pakubuwana II (Surakarta, 1745), Mangkubumi & Mas Said (1749-1755), Perjanjian Giyanti (Yogyakarta lahir, 1755), Perjanjian Salatiga (1757) hingga pecah perang Jawa, dipimpin Sultan Abdul Hamid Heru Cokro Diponegoro (1825-1830).

Di timur laut Nusantara, jihad melawan salibis Belanda oleh Antasari (Perang Banjar, 1859), Sultan Hasanuddin di Sulawesi (1667), Tidore dan Ternate (Maluku) melawan Portugis-Spanyol (1521), Sultan Khairun (1534-1570), Sultan Babullah (1570-1575), Sultan Nuku (1797-1805) dan Ahmad Matulesy Pattimura (1817). Masa sebelumnya, Sultan Brunei jihad melawan salibis Spanyol (1521-1645), Bangsa Moro (Mindanao, Sulu & Luzon) jihad melawan salibis Spanyol. Di timur Nusantara, berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusa Tenggara  (1540-1550) dan di Papua.

 

“Abad 1-9 H (7-15 M) Islam mendominasi dunia dengan Futuhat (offensive). Abad 9-14 H (15-20 M) Nashara (Kristen) Barat mendominasi dunia dengan Imperialisme-Kolonialisme/3G (offensive). Abad 14-15 H (20-21 M) kini Yahudi mendominasi dunia dengan perang pemikiran (ideologi & isme-isme). Umat Islam dunia menyongsong Al-Mahdi, Yahudi menanti Dajjal dan Nashara menunggu Isa putra Maryam.”

– Tinta Emas Sejarah

 

Oleh: Ust. Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd/ Sejarah Islam Indonesia

Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Ilmu

Salah satu prestasi besar para ulama dan dai di negeri ini adalah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Islam. Dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Melayu secara resmi dinyatakan sebagai bahasa Indonesia. Bahasa ini menjadi bahasa yang menyatukan beragam suku dari Sabang sampai Merauke.

Oleh karena Islam merupakan agama ilmu, maka proses Islamisasi tentu juga merupakan proses penyebaran ilmu. Dengan demikian, Islamisasi bahasa Melayu berarti pula upaya menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu. Proses ini melibatkan penerjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu karena kepada bangsa Arab lah pertama kali Islam diturunkan.

Menurut A.H. Johns, seorang ilmuwan dari The Australian National University, ada sekitar 15 hingga 20 persen kata-kata serapan dari bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu.

Kata-kata serapan itutersebar luas ke berbagai bidang, mencakup iman, ibadat, fikih, sistem penanggalan, perdagangan, bidang pekerjaan dan profesi, pendidikan, perasaan, emosi, kesusastraan, ilmu, filsafat, dunia hewan, mineral, batu-batuan mulia, pakaian dan berbagai macam ornamen. Semua kata serapan itu sama-sama terkait dengan kehidupan perkotaan dalam sebuah lingkungan Islam atau yang telah mengalami Islamisasi, dan hampir semuanya berasal dari sumber-sumber sastra.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, penerjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu itu mempunyai empat tahap perkembangan. Masing-masing tahap bisa dijelaskan sebagai berikut.

TAHAP PERTAMA

Tahap ini dimulai sejak kedatangan Islam pertama kali ke kepulauan Nusantara dan berakhir pada awal abad ke-11.

Pada tahap ini, penerjemahan Al-Qur’an menjadi materi utama. Dalam kehidupan umat Islam, kitab suci Al-Qur’an memiliki peranan sentral. Semua komunitas Islam membutuhkan salinan kitab suci itu. Oleh karenanya, menyalin Al-Qur’an, mengajar aturan melafalkannya, serta menerjemahkan maknanya ke dalam bahasa setempat merupakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan. Pengalaman langsung menyalin Al-Qur’an serta meningkatnya jumlah orang yang dapat membaca kitab suci itu sangat berperan dalam memasyarakatkan pemakaian tulisan Arab dalam kegiatan tulis menulis dalam bahasa-bahasa setempat, sehingga wacana sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa lokal itu dapat juga ditulis dengan huruf suci tersebut.

Sebelum tradisi tulisan berkembang, penerjemahan Al-Qur’an dilakukan secara lisan melalui kutipan-kutipan pendek surat atau ayat ke dalam bahasa setempat, paling tidak surat yang paling sering dibaca dalam shalat wajib, terutama surat pertama, yakni Al-Fatihah. Meski demikian, dampak terjemahan lisan ini tak dapat dipandang sebelah mata. Pada masyarakat pra-modern, dampak yang ditimbulkan oleh penerjemahan lisan yang hanya mengandalkan pendengaran, peniruan dan hapalan ini ternyata tidak kalah dengan dampak yang timbul karena membaca tulisan.

TAHAP KEDUA

Tahap kedua berkembang ketika tulisan Arab semakin dikenal, dipakai secara luas, serta diadaptasi untuk menuliskan bahasa-bahasa setempat. Terjemahan antar-baris dan catatan-catatan pinggir dalam bahasa Melayu, dengan memakai huruf yang sama, merupakan alat bantu belajar yang berguna, serta menjadi panduan untuk menerjemahkan berbagai istilah dan ungkapan secara akurat, sekalipun terjemahan itu tetap lisan.

Bukti-bukti arkeologis tertua yang menunjukkan keberadaan Islam di Asia Tenggara adalah sebuah pilar bertulis huruf Arab di Phanrang, di wilayah pesisir tengah Vietnam, yang berasal dari tahun 1050. Temuan ini cocok dengan bukti yang tertua tentang pemakaian huruf Arab di wilayah tersebut, yakni batu nisan raja-raja Pasai (1237), serta bukti yang tertua mengenai penggunaan tulisan Arab untuk menuliskan bahasa Melayu pada Batu Trengganu (1303). Semua artefak ini dibuat pada tahap kedua tersebut.

TAHAP KETIGA

Tahap ketiga terjadi dengan munculnya terjemah antarbaris lengkap bagi seluruh naskah. Naskah sejenis tertua yang berhasil ditemukan adalah Al-‘Aqâ’id An-Nasafiyyah. Naskah itu adalah naskah dasar karya Abu Hafsh Umar Najmuddin, yang biasanya dikenal melalui nisbahnya “an-Nasafi”.

Naskah ini menyajikan penjelasan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan, hakikat dunia, sifat-sifat Allah, kemampuan (qudrah) manusia berbuat yang haq maupun bathil, adzab dan pahala dari Allah, serta kedudukan para nabi dan wali. Karya An-Nasafi ini merupakan kitab yang populer dan dipakai di banyak madrasah di seluruh dunia Islam. Menurut kajian Syed Muhammad Naquib Al-Attas, naskah tertua kitab ini di Asia Tenggara ditulis di Semenanjung Malaka pada 1590.

Naskah terjemahan antarbaris lain yang berasal dari masa yang sama adalah sebuah puisi dalam bahasa Arab berjudul Burdah karya Syarafuddin Muhammad bin Sa‘id Al-Busiri. Burdah berisi ungkapan rasa cinta dan puji-pujian bagi Nabi Muhammad serta mukjizat yang ada pada jubahnya. Burdah sangat berbeda dari naskah An-Nasafi karena bersifat persembahan cinta, sementara naskah An-Nasafi lebih teratur dan memiliki ketelitian intelektual.

TAHAP KEEMPAT

Tahap keempat ditandai dengan munculnya penulisan buku-buku berbahasa Arab oleh penulis-penulis Melayu yang pada gilirannya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Pada tahap ini, semakin banyak karya asli berbahasa Melayu ditulis berdasarkan teks-teks dasar agama Islam, atau pembahasannya. Buku-buku itu menyajikan atau menciptakan karya-karya penting tentang ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu, yang dimungkinkan oleh adanya terjemahan-terjemahan terdahulu dalam bahasa Melayu, termasuk terjemahan yang tidak pernah berbentuk tulisan.

Buku-buku tersebut merupakan hasil dari apa yang dapat disebut penyerapan kosakata, idiom dan dunia khayal dari pemikiran dan budaya Islam. Nuruddin Ar-Raniri, misalnya, memperkenalkan ilmu sejarah dalam bahasa Melayu melalui bukunya berjudul Arab, Bustân As-Salâthîn (Taman Raja-Raja), di samping karya-karya lainnya tentang fikih, tazkiyatun nafs dan eskatologi (ilmu tentang akhirat). Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Nusantara

(Disadur dari “Penerjemahan Bahasa Arab ke Dalam Bahasa Melayu oleh A.H. Johns dalam Sadur, ed. Henri Chambert-Loir, hlm. 49-53)

 

Islamisasi dan Deislamisasi Bahasa Jawa

Groeneveldt mencatat bahwa jejak awal Islam di Jawa adalah pada masa pemerintahan Ratu Shima (674 M) di Kalingga. (Nusantara dalam Catatan Tionghoa, hlm. 20-21) Sayangnya, tidak ada catatan yang bisa menjelaskan secara detail proses Islamisasi selanjutnya. Islam mulai berkembang pesat pada abad 13 M. Meski pelan, pengaruh Islam mulai merambah kehidupan masyarakat Jawa. Sebagaimana bahasa Melayu, bahasa Jawa juga mendapatkan pengaruh Islam.

 

Islamisasi Bahasa Jawa

Salah satu bukti terjadinya Islamisasi bahasa Jawa adalah naskah karya Sunan Bonang yang diedit oleh B. J. O. Schrieke menjadi Het Boek van Bonang. Bahasa naskah ini adalah bahasa Jawa pertengahan, yaitu bahasa Jawa masa peralihan dari bahasa Jawa kuno ke bahasa Jawa baru yang masih digunakan hingga sekarang. Mengenai hal ini, R. M. Ng. Poerbatjaraka menyatakan, Serat punika basanipun taksih basa Djawi-tengahan gantjar, nanging isinipun bab agami Islam. Ukaranipun sadjak ketularan ukara basa Arab, amila angel tegesipun; ugi wonten tjengkokipun Malaju sawatawis, kados ta ana pon (ada pun).” Artinya, “Serat ini bahasanya masih menggunakan bahasa Jawa pertengahan gancar (tidak bersajak), tetapi isinya tentang agama Islam. Kata-katanya terlihat terpengaruh kata dalam bahasa Arab sehingga sulit diartikan. Ada juga sedikit serapan bahasa Melayu, seperti ana pon (ada pun).” (Kapustakan Djawi, hlm. 88)

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Bahasa Jawa pertengahan digunakan mulai zaman Majapahit (abad 13) sampai abad 16 M. Pada periode itulah Sunan Bonang hidup. Bahasa yang digunakan putra Sunan Ampel ini dalam kitabnya banyak terpengaruh oleh kata-kata Arab. Beberapa kata masih murni disebutkan sebagaimana bahasa aslinya, seperti ushûl sulûk, qadîm, dzâtullâh, ‘isyq, ‘âsyiq, ma‘syûq, iman, tauhid, ma‘rifat, muhdats, murtadd, dhalâlah, bid‘ah, dan sebagainya. Beberapa kata terlihat sedang mengalami proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa dan diucapkan dengan dialek Jawa, seperti sinalametaken (sing + selamet + aken) yang berarti memberinya keselamatan, angimanaken (ang + iman + aken) yang berarti mengimani, asifat (a + sifat) yang berarti mempunyai sifat, ingitsbataken (ing + itsbat + aken) yang berarti ditetapkan, ama‘dûmaken (a + ma‘dûm + aken) yang berarti menyatakan ma‘dûm (tiada), aja esak (e + syak) yang berarti janganlah kamu ragu, dan sebagainya. Kata-kata Arab tadi ternyata merupakan kata-kata kunci dalam agama Islam yang lazim digunakan dalam ilmu akidah maupun tasawuf.

 

Deislamisasi Bahasa Jawa

Meskipun Kitab Bonang menunjukkan ada upaya Islamisasi bahasa Jawa setidaknya pada abad 16, namun pada masa selanjutnya upaya ini kurang begitu berhasil dibanding dengan Islamisasi bahasa Melayu. Terutama sejak kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa pada 1830, ada upaya sistematis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, misionaris maupun orientalis untuk memisahkan Islam dari budaya Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan ahli Jawa berkebangsaan Belanda yang dapat berbicara bahasa Jawa dan memahami berbagai hal tentang Jawa, pada 1830 didirikanlah Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta, tempat ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda kemudian mempelajari bahasa Jawa Surakarta dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat seperti Dieng, Borobudur, dan Prambanan untuk melihat tradisi Jawa Kuno. Javanologi Belanda itu dengan minat besar terhadap bahasa Jawa kuno yang dilengkapi dana, metode, serta lembaga yang kuat segera membeberkan dangkalnya pemahaman orang Jawa terpelajar tentang tradisi Jawa kuno dan menjadi satu-satunya penakluk. Javanologi Belandalah yang “menemukan”, “mengembalikan”, dan membentuk serta memberikan makna terhadap masa lalu Jawa. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka juga harus membaca karya-karya Javanolog Belanda yang ditulis dalam bahasa Belanda dan jika mungkin, melalui pendidikan Javanologi di negeri Belanda. (Takashi Shiraisi, Zaman Bergerak, hlm. 7-8)

Upaya memisahkan Islam dari budaya Jawa juga menjadi strategi misi Katolik sejak paruh pertama abad 20. Agama Islam harus dipisahkan dengan budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari. Dalam strategi ini, penyangkalan atas jati diri Muslim Jawa atau setidak-tidaknya peremehan atas unsur Muslim dalam budaya Jawa tetap merupakan sebuah faktor yang kuat. Untuk itulah, di sekolah-sekolah yang didirikan para misionaris di Jawa, seperti di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.

Baca Juga:Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Imam Jesuit Frans van Lith mengatakan, “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.” (Lihat Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Jilid II, hlm. 686 dan 726)

Pada 1980-an, Nancy K. Florida, seorang profesor dari Universitas Michigan, mendokumentasikan naskah-naskah Jawa kuno yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta, Istana Mangkunegaran, dan Perpustakaan Radya Pustaka di Solo. Betapa jengkelnya ia setelah mengetahui bahwa sebagian besar naskah Jawa yang telah diteliti para filolog Belanda mempunyai kecenderungan non-Islam atau anti-Islam, padahal bagian terbesar dari naskah Jawa yang tersimpan dalam perpustakaan bernuansa Islam. Sebuah katalog naskah Jawa dari Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Oleh karena itu, kecurigaan Steenbrink tentang kecenderungan akademis untuk memisahkan Jawa secara konseptual dari Islam di kalangan ilmuwan zaman kolonial dan yang mempunyai kecenderungan orientalistik, apalagi dari kalangan gereja, ternyata dibenarkan oleh Florida. (Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, hlm. x) Wallahu a‘lam.

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Sumbangan Islam dalam Memajukan Negeri Ini

Sebagian orientalis berpendapat bahwa kedatangan Islam ke negeri ini tidak membawa pengaruh dan perubahan penting. Snouck Hurgronje, misalnya, menyatakan dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1) bahwa Islam baru masuk ke kepulauan Indonesia pada abad XIII setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Snouck Hurgronje juga menyatakan dalam bukunya, Arabie en Oost Indie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam. Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Nusantara dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada.

Benarkah demikian?

 

Permulaan Zaman Modern

Kedatangan dan penyebaran Islam merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Oleh karena itulah, M.C. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul A History of Modern Indonesia menulis permulaan munculnya zaman modern di Indonesia sejak kedatangan Islam. Hal ini berarti bahwa sebelum kedatangan Islam, Indonesia belum memasuki zaman modern. Begitu pula, Indonesia sudah memasuki zaman modern sebelum para penjajah Barat yang beragama Katolik dan Protestan datang ke negeri ini.

Baca Juga: Islam Sebagai Kekuatan Orang Aceh Melawan Portugis

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, agama Islam yang datang ke negeri ini telah membawa suatu pemikiran baru dengan konsep-konsep rasionalisme, intelektualisme, dan penekanan kepada sistem masyarakat yang berdasarkan kepada kebebasan perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan. (Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hlm. 20) Dorongan baru yang dibawa oleh Islam itu telah menggalakkan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

 

Perkembangan Ilmu

Setelah kedatangan Islam, perkembangan ilmu pengetahuan berlaku bukan saja di pusat-pusat kebudayaan di istana atau keraton, tetapi kegiatan intelektualisme ini turut juga tersebar di kalangan rakyat jelata. Dalam Islam, kewajiban belajar dan membaca, terutama kitab suci Al-Qur’an, sudah menjadi sesuatu yang mesti dilakukan oleh setiap manusia Indonesia muslim. Sejak dari kecil, seseorang sudah diasuh mempelajari huruf Arab agar bisa membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama yang lain.

Dengan hal itu, gerakan pendidikan tidak lagi dimonopoli oleh istana-istana raja, tetapi tersebar luas di kalangan rakyat melalui institusi pendidikan, seperti madrasah, pesantren, masjid, langgar, surau dan lain-lain. Hasil dari pendidikan di berbagai institusi pengajian Islam, bahasa Melayu juga turut berkembang karena ia telah dijadikan sebagai bahasa pengantar dan bahasa ilmu pengetahuan. Melalui pendidikan Islam itu lahirlah cerdik pandai Indonesia, bukan saja ahli dalam bidang agama Islam, tetapi juga mengetahui cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain. (Ismail Hamid, Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, hlm. 12-13)

 

Bahasa Melayu sebagai Bahasa Muslim

Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa muslim kedua terbesar yang digunakan oleh kaum muslim di wilayah Asia Tenggara. Selambat-lambatnya pada abad XVI, bahasa Melayu telah mencapai kedudukan sebagai bahasa religius dan kesusastraan. Dibandingkan dengan bahasa Melayu kuno pada prasasti batu abad VII dan VIII, bahasa Melayu baru yang menyebar itu telah mengalami evolusi yang mendalam. Bahasa Melayu kemudian ditulis dengan huruf Arab dan sedikit demi sedikit diimbuhi dengan sejumlah besar istilah baru yang diambil dari bahasa-bahasa Islam lainnya. Dalam sebuah kajian, R. Jones telah menghitung secara global 2.750 kata asal Arab (di antaranya 260 nama diri) dan 321 kata asal Persia. Selain itu, ada beberapa kata Hindustani dan beberapa kata Tamil yang juga masuk melalui perantaraan Islam. (Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179)

Baca Juga: Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Bahasa Melayu pun menjadi bahasa Islam dan berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Untuk menghilangkan pengaruh Islam, sampai-sampai beberapa sekolah di Jawa yang didirikan oleh misionaris pada awal abad XX menghindari penggunaan bahasa Melayu sejauh mungkin. Imam Yesuit Frans van Lith, pendiri sekolah Muntilan berpendapat, ”Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.” (Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Jilid II, hlm. 726)

 

Budaya Menulis

Mengikuti pengaruh di bidang bahasa adalah tersebarnya sedikit demi sedikit alas baru untuk menulis, yaitu kertas. Sebelum kedatangan dan penyebaran Islam, orang Indonesia biasanya menulis di daun lontar. Teknologi kertas baru menyebar seiring dengan kedatangan dan penyebaran Islam. Meskipun lebih mahal, namun kertas lebih awet dibandingkan daun lontar. Kertas dibuat oleh para ulama dan kyai untuk menyalin buku-buku agama. Kertas itu di Jawa dinamakan dluwang yang digarap dari bagian dalam kulit kayu pohon gluga. Pembuatan kertas dluwang dengan tangan itu biasa dilakukan di pesantren-pesantren. Kata kertas sendiri menunjukkan adanya hubungan erat antara bahasa Melayu dengan Arab dan Islam. Teknik yang pernah berjaya ini akhirnya merosot mulai abad XVII karena adanya impor kertas buatan Eropa secara besar-besaran. (Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179))

Berdasarkan fakta-fakta di atas, tepatlah pernyataan bahwa Islam merupakan rahmat bagi alam semesta. Islam datang ke Indonesia dibawa oleh orang-orang yang berilmu dan berperadaban tinggi. Islam datang membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian mengubah pandangan hidup bangsa Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. Islam mengubah masyarakat Indonesia yang primitif menjadi masyarakat modern dan berilmu. Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari, M.Si/sejarah Islam Indonesia

 

Petualangan Portugis di Jawa

Barangkali perjumpaan pertama antara orang Jawa dengan orang Portugis terjadi di Malaka saat bangsa Paranggi –sebutan lain untuk orang Portugis dan Spanyol– itu datang pada 1511. Tidak lama setelah berhasil menguasai Malaka, Alfonso de Albuquerque mengirimkan pasukan ekspedisinya ke beberapa wilayah lain di Nusantara. Jawa adalah salah satu wilayah yang menjadi tujuan ekspedisi tersebut.

Orang Portugis yang pertama datang ke Jawa adalah Antonio de Abreu. Ia mengunjungi Jawa pada 1511. Ada dua pelabuhan yang dikunjunginya, yaitu pelabuhan Tuban dan Gresik. Ia melaporkan bahwa pelabuhan Gresik penuh dengan para pedagang Cina. Dari Gresik, ia melanjutkan pelayarannya ke Ambon dan Banda. (Donald M. Campbell, Java: Past and Present, Volume I, hlm. 157)

 

Perjanjian dengan Padjadjaran

Kunjungan berikutnya terjadi pada 1522. Kali ini Portugis mengunjungi Banten, pelabuhan kerajaan Padjajaran yang sangat ramai pada masa itu. Portugis bermaksud mengadakan perjanjian dagang. Peristiwa ini dicatat oleh Joao de Barros sebagai berikut.

Pada tahun 1522, Jorge de Albuquerque, kapten kota Malaka untuk urusan perdagangan, mengirim utusan yang dipimpin oleh Henrique Leme menghadap Samiam, raja Sunda. Sewaktu utusan tersebut tiba di pelabuhannya raja tersebut menerima orang-orang Portugis dengan baik. Guna memperoleh bantuan dalam peperangan yang sedang berlangsung melawan orang Islam, dan untuk memperkuat berbagai hubungan dagang, orang Portugis diberi hak untuk membangun benteng dan dijamin bahwa mereka boleh memuat merica sejumlah yang mereka kehendaki. Selain itu, raja pun berjanji memberikan 1000 karung merica setiap tahunnya kepada raja Portugal mulai hari dibangunnya benteng tersebut. Perjanjian itu dibuat secara tertulis. Tiga orang menteri setempat turun mengambil bagian dalam pembicaraan tersebut: Mandari Tadam, Tamungo Sague de Pate dan Bengar, syahbandar setempat. Atas perintah raja, mereka mengantar Leme ke tempat akan dibangunnya benteng tersebut, di sebelah kanan muara sungai, di kawasan yang dinamai Calapa, di situ mereka mendirikan sebuah padrao (semacam tugu peringatan). Selanjutnya Leme pulang ke Malaka. Jorge de Albuquerque menilai hal itu sangat penting dan menulis kepada raja Portugal untuk meminta persetujuannya. Joao III menyetujui usaha tersebut dan mempercayakan pelaksanaannya kepada Francisco de Sa yang berangkat dengan armada kapal yang dipimpin oleh Vasco da Gama, wakil raja India yang baru. Oleh karena Vasco da Gama kemudian meninggal, maka Francisco de Sa tinggal beberapa waktu di Goa.

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

Ketika Francisco de Sa tiba di Malaka, armada Portugis sedang menyiapkan operasi militer melawan Bintan di bawah pimpinan Pero Mascarenhas. Francisco de Sa dengan armadanya bergabung, dan setelah selesai baru berangkat menuju Sunda. Armadanya terserang badai. Duarto Coelho, salah seorang kapten armada tersebut, berhasil sampai di Calapa, sementara kapalnya tenggelam di situ. Semua penumpang kapal diserang oleh orang-orang Islam yang beberapa hari sebelumnya telah merebut kota itu dari Samiam, sahabat orang Portugis.

Orang Islam yang telah merebut kota itu adalah orang rendahan bernama Faletehan asal Pasai. Sewaktu Pasai baru saja direbut oleh Portugis, Faletehan pergi berlayar menuju Mekah dengan kapal yang memuat rempah-rempah, dan tinggal di sana selama kira-kira dua atau tiga tahun untuk belajar agama Islam. Sekembalinya di Pasai, dia menganggap tidak mungkin dapat mengajarkan agama Islam di dekat benteng orang Portugis, ia lalu pergi ke Jepara, mengislamkan rajanya dan dia sendiri menjadi kadinya. Sebagai imbalan, raja memberikan saudara perempuannya untuk diperistri. Terdorong oleh keinginan untuk mengislamkan banyak orang, Faletehan meminta izin kepada raja untuk pergi ke Bintam, kota di Sunda. Di kota itu, dia diterima dengan baik oleh seorang tokoh setempat yang kemudian masuk Islam. ketika Faletehan menganggap keadaan kota itu cocok untuk melaksanakan rencananya, dia meminta kepada raja Jepara untuk mengirim pasukan tentara. Raja Jepara menyanggupinya dan segera mengirimkan dua ribu orang tentara. Ketika Francisco de Sau tiba di Pelabuhan Sunda, Faletehan telah menguasai keadaan dengan begitu baiknya, sehingga mampu melarang pembangunan benteng itu.

 

Kandasnya Perjanjian

Setelah ikut mengambil bagian dalam ekspedisi Pero Mascarenhas melawan Bintan, Francisco de Sa berlayar menuju Sunda untuk membangun benteng. Selama perjalanan, armada yang dipimpinnya diserang badai sehingga kapal-kapalnya terpencar-pencar selama beberapa hari. Tiga di antaranya, sebuah kapal yang besar pimpinan Duarte Coelho serta dua kapal lainnya, dengan susah payah berhasil mencapai Pelabuhan Sunda. Pada waktu terserang badai itulah salah satu kapalnya terdampar, tiga puluh orang Portugis yang ada di dalamnya berenang menuju daratan, tetapi di pantai itu mereka diserang oleh musuhnya, orang-orang Islam. sebenarnya raja yang menghendaki dibangunnya benteng itu sudah meninggal dan musuh yang diperanginya telah merebut daerahnya. Pada waktu itu, musuh dalam jumlah yang besar telah tiba di kota Bantam, kota terpenting di kerajaannya, dan berusaha menundukkannya. Begitu orang Islam melihat kedatangan armada Portugis, timbul niat mereka untuk membalas dendam, mereka tahu bahwa raja yang meninggal itu telah memberi izin kepada Portugis membangun benteng di pelabuhan tersebut. Namun demikian, kapal besar dan satu kapal lainnya tidak terdampar. Sewaktu melihat apa yang menimpa para penumpang kapal yang terdampar itu, tanpa mengetahui nasib Francisco de Sa beserta kapalnya, Duerte Coelho bertolak kembali ke Malaka.

Francisco de Sa beserta kapalnya terbawa badai sampai di pantai Jawa. Dia berhasil menghimpun kembali kapal-kapal lainnya di Pelabuhan Panarukan, dan membawa armadanya menuju pelabuhan Batam untuk berlabuh. Dikirimnya utusan untuk memperingatkan raja akan janji yang sudah pernah diberikan oleh raja yang digantinya. Karena raja menolak, Francisco de Sa memutuskan untuk mempergunakan kekuatan, tetapi di daratan dia menghadapi pertahanan yang begitu kuat –di antara pasukan Portugis, empat orang terbunuh dan sejumlah orang lainnya luka-luka– sehingga dia mengundurkan diri dan kembali ke Malaka.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia 

Islam Sebagai Kekuatan Orang Aceh Melawan Portugis

Sulit untuk mendapatkan karya ulama Aceh abad 16 yang membahas respons mereka terhadap penjajahan Portugis di beberapa wilayah Nusantara. Di India, misalnya, reaksi terhadap penjajahan Inggris diekspresikan dalam karya-karya ulama seperti Shah Abdul Aziz (meninggal 1824 M). Ia menulis beberapa karya tentang masalah-masalah agama dan mengembangkan konsep pandangan politik Islam tentang Darul lslam dan Darul Harb dalam fatwa-fatwanya. Di Aceh, ada beberapa ulama yang menulis sejumlah besar karya penting tentang masalah agama dan memainkan peran penting dalam urusan agama maupun politik. Sebut saja misalnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatranï (meninggal 1039 H), Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (meninggal 1068 H), dan Syaikh Abdurra’uf Singkil (meninmggal 1106 H). Sayangnya, tidak ada satu pun karya mereka yang menunjukkan reaksi mereka terhadap penjajahan barat.

Meskipun demikian, ada beberapa petunjuk yang mengukuhkan bahwa Islam menjadi kekuatan bagi orang Aceh dalam melawan Portugis. Seperti dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo, tujuan utama kehadiran Portugis di Nusantara adalah untuk mendapatkan rempah-rempah. Sebagai reaksi terhadap para pengacau Eropa itu, semangat “pan-lslamisme” di Nusantara menyebar dari Aceh ke Ternate. Orang Aceh juga memanfaatkan ibadah haji. Saat menunaikan ibadah ini, mereka bertemu dengan kaum Muslim dari daerah lain. Kesempatan ini menghasilkan hubungan yang baik dan juga memberi semangat baru untuk berperang melawan penjajah kafir.

 

Kebijakan yang Gagal

Orang Portugis sangat membenci umat Islam. Perasaan ini merupakan kelanjutan dari semangat perang salib. Oleh karena itu, Alfonso de Albuquerque berencana untuk menaklukkan Mekah. Pasukan Portugis membunuh 300 orang Aceh dan 40 orang Arab di kapal mereka di dekat Aceh dalam perjalanan pulang dari Mekah. Kaum Muslim di Asia Tenggara menyadari tindak kejahatan Portugis itu. Dari seringnya berhubungan dengan orang-orang Muslim dari daerah lain, mereka juga belajar lebih banyak tentang perasaan dan perilaku Portugis.

Kebijakan-kebijakan Portugis yang penuh permusuhan secara tidak sengaja memperkuat posisi Islam di Nusantara. Beberapa penguasa Hindu memilih masuk Islam dan segera bergabung dalam barisan persatuan umat Islam untuk melawan Portugis. Pertahanan Islam dan perlawanan yang kuat terhadap Portugis di antaranya ditunjukkan oleh kegagalan Portugis untuk menyebarkan agama Kristen di negeri-negeri Muslim yang mereka tempati. Konversi ke Kristen di Malaka tidak berhasil. Malaka hanya merupakan pusat administrasi untuk upaya misionaris ke bagian timur Nusantara, Filipina, Kamboja, Jepang, dan Cina.

Baca Juga: Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Kegagalan yang sama juga terlihat di Hormuz. Kekuatan Islam di wilayah ini cukup kuat untuk mencegah Portugis menghancurkan semua masjid, seperti yang mereka lakukan di tempat lain ketika memiliki kesempatan. Gambaran ini jauh berbeda dari daerah-daerah non-Muslim dimana para misionaris Kristen mencapai sukses besar, seperti di beberapa bagian timur Nusantara, Goa, dan daerah-daerah lain yang telah disebutkan di atas.

Identitas agama yang hadir di kerajaan-kerajaan Muslim di kepulauan itu cukup kuat untuk meniadakan aktivitas orang Portugis. Sebuah aliansi Muslim yang dibentuk pada 1560-an dan 1570-an dipandang oleh para sejarawan Asia dan Barat sebagai reaksi keagamaan. Anthony Reid menegaskan bahwa “Islam adalah satu-satunya dasar untuk aliansi semacam itu.” Ia juga menyatakan bahwa kekuatan Muslirn di Asia Tenggara yang tampaknya rentan terhadap idealisme pan-lslam adalah Atjeh, Japara, Ternate, Grisek, dan sampai batas tertentu Johor.”

 

Karakter Orang Aceh

Perhatian khusus perlu diberikan atas respon Aceh terhadap penjajahan Belanda kelak. Dalam studinya tentang masyarakat Aceh, T. Roddel mengategorikan orang Aceh sebagai ras Melayu. Dia menulis bahwa orang Melayu memiliki karakter sebagai orang yang berani, sangat sopan, perhatian terhadap kebenaran, dan tidak mudah lelah. Di sisi lain, harus diakui bahwa mereka mudah temperamen, tidak sabar di bawah penghinaan, dan cepat membalas cedera. Selain itu, orang Aceh adalah Muslim ortodoks dan kepatuhan terhadap Islam merupakan faktor utama dalam identifikasi diri seseorang sebagai orang Aceh.

Karakteristik ini dapat dianggap sebagai faktor penting dalam perlawanan masyarakat Aceh terhadap invasi Barat. Perlawanan yang kuat dari orang Aceh terhadap ekspansi militer Belanda pada akhir abad 19 dan awal abad 20 akhirnya memaksa Belanda untuk mengirim C. Snouck Hurgronje ke Aceh. Dia ditunjuk sebagai penasihat pemerintah di Hindia Belanda, khususnya di Jawa dan Aceh, antara 1889-1936. Setelah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Muslim, Snouck Hurgronje tinggal di Aceh selama beberapa tahun untuk mempelajari keadaan penduduk. Menurut Snouck, agama Islam telah melahirkan kebencian terhadap kafir. Akibatnya, orang Aceh sering melakukan tindak kekerasan terhadap orang Eropa.

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Kebencian terhadap orang Belanda kafir, yang mereka sebut Kaphe (pelafalan bahasa Aceh dari kafir), diekspresikan dalam jihad yang dipimpin oleh ulama. Ulama memainkan peran penting dalam struktur politik dan di lembaga-lembaga Islam. Ulama merupakan tokoh spiritual yang menstimulasi murid-muridnya untuk mengobarkan jihad melawan penjajah Barat.

Sikap religius orang Aceh terhadap Belanda kemungkinan besar tidak jauh berbeda dengan yang ditunjukkan kepada Portugis. Perbedaannya, reaksi orang Aceh terhadap Belanda lebih canggih daripada reaksi terhadap Portugis. Pada abad 16, Aceh hanyalah negara pelabuhan. Sebaliknya, selama perjuangan melawan Belanda, Aceh adalah negara yang lebih terstruktur dan terkonsentrasi di kedua pelabuhan dan daerah pedalaman. Posisi ulama di pengadilan dan masyarakat jauh lebih jelas. Oleh karena itu, tidak mungkin menilai tanggapan Aceh terhadap Portugis hanya dengan melihat tanggapan mereka terhadap Belanda. Sejak periode awal, Islam telah memainkan peran penting dalam memobilisasi komunitas Muslim Aceh melawan Portugis, karena konsep jihad juga ditekankan pada saat itu. (disadur dari Aceh and The Portuguese; Studi of The Struggle of Islam in South East Asia 1500-1579 karya Amirul Hadi, hlm. 81-87)

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Nusantara

 

Respons Militer Kesultanan Aceh Terhadap Ekspansi Portugis

Kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 mendorong aktif perlawanan dari orang-orang di wilayah tersebut. Atas dasar intoleransi beragama dan monopoli perdagangan, mereka mengancam hampir semua penduduk dan pengunjung Malaka dan sekitarnya. Akibatnya, beberapa kerajaan menantang orang Portugis, dengan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai pihak yang paling gigih melakukannya. Oposisi ini diungkapkan melalui kegiatan militer, politik, perdagangan, dan semangat agama.

 

Bersatu Sebelum Melawan

Setelah menaklukkan Malaka pada 1511 dan menghalau pedagang Islam dari situ, Portugis berusaha menanamkan pengaruh di Pasai dan Pidie dengan mendukung salah satu pihak dalam perselisihan perebutan mahkota yang banyak terjadi di situ. Pada mulanya hubungan antara Kesultanan Pasai dan Kesultanan Pidie dengan Portugis berlangsung dengan baik. Ketika pertama kali datang di Pasai pada 1509, rombongan Portugis diterima dengan baik oleh Sultan Pasai. Di tempat ini, pemimpin rombongan Portugis, Diogo Lopez de Sequieira, bahkan sempat mendirikan tugu atau salib.

Sementara itu, kedatangan orang Portugis di Pidie bermula dari orang-orang mereka yang melarikan diri dari Malaka. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Pidie. Alfonso d’ Albuquerque menyatakan penghargaannya terhadap sikap bersahabat Sultan Pidie dan memperbarui persekutuan yang telah dirintis oleh Sequieira. Kemudian ia meneruskan perjalanan ke Pasai.

Hubungan baik itu akhirnya kandas di tengah jalan karena ambisi Portugis yang memaksakan pengaruhnya di Malaka dan sekitarnya khususnya dan Kepulauan Nusantara umumnya. Akibatnya, hal ini mendorong semua unsur anti-Portugis, termasuk masyarakat pedagang kaya Islam, untuk bersatu di bawah panji-panji Aceh, sebuah kesultanan baru yang terbentuk pada sekitar 1500 di atas bekas-bekas Lamri kuno di ujung barat lau Sumatra. Antara 1519 dan 1524 Sultan Ali Mughayat Syah dari Aceh berhasil mengusir orang Portugis keluar dari Sumatra utara dan mulailah apa yang kemudian menjadi abad pertarungan sengit melawan orang asing Kristen ini. (Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra, hlm. 5-6 dan William Marsden, Sejarah Sumatra, hlm. 376)

Pada awal abad 16 konsentrasi kekuatan Portugis sempat tidak dilawan oleh kaum Muslim di Nusantara. Inilah alasan penting yang membuat orang Portugis begitu cepat mencapai kesuksesan. Akan tetapi, setelah diketahui siapa bangsa Portugis sebenarnya, berbagai perlawanan muncul dari Aceh di barat hingga Maluku di timur. Kekuatan spiritual Islam memberikan kekuatan dan persatuan kepada dunia Islam. Hal ini membuat semua pedagang Muslim tidak hanya menjadi pengikut Islam, tetapi juga penyebar agama dan pembela keyakinan. Umat Islam pun bersatu memberikan perlawanan terhadap orang Portugis. (M. A. P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara, hlm. 121-122)

 

Api Jihad Berkobar

Tidak seperti Pasai dan Pidie, Aceh sejak awal menunjukkan respons yang berbeda terhadap Portugis. Para penguasa Aceh tidak pernah berkompromi dengan Portugis. Mereka lebih memilih untuk menggunakan kekuatan militer sebagai gantinya. Sekitar tahun 1519, sebuah kapal di bawah komando Gaspar de Costa hilang di dekat Aceh. Orang-orang Aceh menyerang kapal itu, membunuh sejumlah orang dan menawan sisanya, termasuk de Costa. Nina Cunapam, syahbandar Pasai, harus membayar tebusan kepada Sultan Aceh, Ali Mughayat Syah, dan de Costa pun diserahkan kepadanya untuk dipulangkan ke Malaka. Selanjutnya, Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mengusir semua pemukiman Portugis di Daya (1520), Pidie (1521) dan Pasai (1524). Ia terbukti menjadi penguasa yang kuat dan Sultan Aceh pertama yang mengendalikan seluruh wilayah Aceh yang disebut Aceh Darussalam. (Amirul Hadi, Aceh and The Portuguese, hlm. 53-54)

Tidak seperti Pasai dan Pidie, Aceh sejak awal menunjukkan respons yang berbeda terhadap Portugis. Para penguasa Aceh tidak pernah berkompromi dengan Portugis. Mereka lebih memilih untuk menggunakan kekuatan militer sebagai gantinya.

Setelah berhasil mengusir Portugis dari Aceh dan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di ujung utara Sumatra, Kesultanan Aceh kemudian aktif menyerang Portugis di Malaka. Serangan pertama terjadi pada 1537, yakni pada masa Sultan Alauddin Al-Kahar (1537-1571). Selanjutnya selama berada di Malaka (1511-1641), Portugis mengalami 13 kali serangan lagi dari Kesultanan Aceh, tapi selalu gagal. Dalam penyerangan ke Malaka, Kesultanan Aceh sering mendapatkan bantuan dari umat Islam di luar Aceh. Misalnya serangan pada 1567, yaitu pada zaman Sultan Mansur Syah. Pada waktu itu, Sultan Mansur Syah membawa sebuah armada besar yang berisi 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki, dan 200 meriam. (Sejarah Sumatra, hlm. 389)

Dalam serangan pada 1569, Sultan Mansur Syah membentuk persekutuan dengan Ratu Jepara. Armadanya berkekuatan 90 kapal. Dua puluh lima di antaranya adalah kapal perang besar yang mengangkut 7.000 pasukan dan sejumlah artileri. Namun, serangan ini tidak berhasil. Pada 1574, Malaka dikepung oleh armada Ratu Jepara berkekuatan 300 kapal layar. Delapan puluh di antaranya jung berukuran 400 ton. Setelah mengepung kota itu selama 3 bulan, armada itu mundur dan kehilangan 5.000 orang. (hlm. 390)

Serangan Aceh yang cukup gemilang terjadi pada 1575 setelah armada dari Jawa itu meninggalkan Malaka. Sultan Mansur Syah memerintahkan untuk menyerang 3 fregat Portugis yang sedang berlabuh melindungi beberapa kapal perlengkapan. Akhirnya, ketiga fregat hancur beserta seluruh awaknya. William Marsden menggambarkan peristiwa ini sebagai pukulan dahsyat bagi Malaka. Jumlah pasukan yang tersisa adalah 150 orang dan sebagian besar jumlah ini non-efektif. Sultan Aceh segera mendaratkan pasukannya dan mengepung benteng. Benteng itu dihujani peluru meriam selama 17 hari. Tembakan-tembakan orang Portugis semakin mengendor. Setelah beberapa waktu, tembakan itu berhenti sama sekali karena gubernur berpendapat lebih baik menghemat persediaan amunisi yang tinggal sedikit untuk pertempuran terakhir. Sultan menjadi gelisah karena kesunyian yang tiba-tiba. Ia mengartikannya sebagai persiapan untuk sesuatu tipu muslihat berbahaya sehingga segera menghentikan pengepungan dan kembali ke Aceh. (390-391)

Demikianlah jihad Muslim Aceh melawan penjajah Portugis. Dalam sejarah, Muslim Aceh memang dikenal sebagai suku bangsa yang pantang menyerah kepada penjajah. Mereka lebih memilih bangkit melawan daripada diam menghinakan diri. Wallahu a‘lam.

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Ahli Sejarah Pemikiran Islam

Persaingan Dakwah Islam VS Misi Kristen Portugis di Nusantara

J. O. Schrieke, ahli sosiologi Belanda terkemuka, menyatakan bahwa penyebaran Islam di kepulauan Nusantara mengalami percepatan pada abad 16 M sebagai kelanjutan persaingan antara Islam dan Kristen yang sudah berlangsung lama di Arab, Semenanjung Iberia, dan Eropa. Dengan meyakinkan, ia menulis, “Kita tidak mungkin dapat memahami penyebaran Islam di Nusantara tanpa melihat adanya persaingan antara para pedagang Muslim dengan Portugis.” (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 2, hlm. 318)

 

Pro Kontra Teori Persaingan

Schrieke berpendapat bahwa teori umum tentang Islamisasi Nusantara gagal memberikan penjelasan yang mencukupi mengapa terdapat sedikit sekali kemajuan yang dicapai Islam sebelum abad 16, sementara setelah itu agama ini berkembang sangat pesat. (hlm. 318) Merujuk pada teori umum tersebut, Islam menyebar di tengah masyarakat melalui pernikahan antara pedagang Islam dengan wanita pribumi, kemudian menembus ke lingkaran para pemimpin dan pangeran, dan secara bertahap menjadi agama yang umum ada di seluruh kalangan.

Menurut Schrieke, suatu hal yang musykil bahwa Islamisasi di Nusantara terjadi hanya dan terutama karena pernikahan yang dilakukan sekelompok orang asing yang jumlahnya sangat kecil. Mereka berdiam hanya di beberapa tempat di pesisir, menikmati hak-hak istimewa, mengepalai kelompok mereka sendiri, dan berada di luar komunitas adat, serta kebanyakan mereka hanya tinggal sementara. Apalagi proses ini berjalan selama berabad-abad. (hlm. 315-316)

Sejak Schrieke mengemukakan teorinya, beberapa ilmuwan memberikan tanggapan. Ada yang mendukung dan ada pula yang mengkritiknya. Di antara pendukung Schrieke adalah W. F. Wertheim. Dalam bukunya, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Wertheim menulis bahwa ekspansi Islam di kepulauan Nusantara adalah akibat adanya orang Barat. Kedatangan orang Portugis terutama mendorong sekian banyak raja di Nusantara untuk menganut iman Islam sebagai gerakan politik untuk melawan penetrasi Kristen. (hlm. 153-154)

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam di Nusantara

Pendukung teori Schrieke lainnya adalah Anthony Reid. Ia menyatakan bahwa pada 1540-1600 terjadi polarisasi (pertentangan) antara Islam dan Kristen. Banyak orang di kota maupun desa beralih ke Islam dan menganggap dirinya bagian dari suatu komunitas Islam internasional. Identifikasi yang eksplisit ini terutama disebabkan oleh dua faktor: 1) hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan laut Merah, dan 2) polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya. (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, Jilid 2, hlm. 169)

Dari pihak pengkritik antara lain adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia menolak teori Schrieke tadi. Menurutnya, Islam tidak menganggap agama Kristen sebagai pesaing yang serius di Nusantara. Agama Kristen  baru memberi pengaruh pada abad 19 dan seterusnya. (Preliminary Statement on A General Theory of The Islamization of The Malay-Indonesian Archilepago, hlm. 31)

 

Wujud Persaingan

Terlepas dari pro dan kontra tentang teori Schrieke di atas, persaingan antara dakwah Islam dan misi Kristen memang merupakan fakta tak terbantahkan dalam sejarah Nusantara. Adanya persaingan yang oleh Schrieke ditafsirkan telah mempercepat penyebaran Islam di negeri ini bukan berarti orang Kristen Barat (Portugis) turut berjasa bagi usaha dakwah di Nusantara. Sejak pertama datang, Portugis telah membawa motif menyebarkan agama Kristen Katolik dan menaklukkan Islam. Dengan motif ini, tidak mungkin Portugis secara sengaja dan terencana membantu penyebaran Islam sehingga bisa dikatakan berjasa.

Sebelum Portugis datang, para pedagang Muslim telah berhasil membangun jaringan dakwah antarpulau di Nusantara. Jaringan dakwah yang semula hanya menyentuh daerah pesisir ini kemudian dilanjutkan oleh orang-orang Muslim pribumi ke daerah pedalaman. Proses Islamisasi itu terus bergerak bahkan hingga setelah Portugis meninggalkan Nusantara. Islam sendiri merupakan kekuatan antipenjajah. Kekuatan inilah yang mendorong umatnya untuk merespons kedatangan penjajah Portugis. Respons tersebut bisa berupa respons politik, ekonomi, militer maupun dakwah. Jadi, adanya percepatan penyebaran Islam di Nusantara pada abad 16 adalah imbas yang tidak pernah disengaja oleh Portugis.

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

Sejak penaklukan Malaka pada 1511 dan seterusnya, Portugis menjadikan Nusantara sebagai medan perangnya melawan Islam dan para pedagang Muslim. Berbagai penaklukan mereka dibarengi kegiatan misionaris yang bersemangat. Hal ini membuat lawan mereka bertindak untuk membalasnya. Para pedagang yang terusir dari Malaka kemudian berdiam di Aceh. Setelah pertengahan abad 16, daerah ini menjadi pusat transit terpenting bagi perdagangan di Asia Barat dan negeri-negeri Islam di India dengan Nusantara. Islam mendapatkan simpati dan tersebar dengan sukses di Sumatra. Sebaliknya, Portugis selalu gagal menancapkan pengaruhnya di pulau ini.

Di wilayah timur Nusantara terdapat persaingan antara Islam dan Kristen yang tampak pada perebutan supremasi antara Portugis dengan para pangeran Muslim di Solor, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Ambon, Morotai, Banda, Seram, Guinea Baru, dan seterusnya. Portugis berusaha meluaskan kekuasaannya dengan mengkristenkan penduduk pribumi, sementara para pangeran daerah di sana berusaha memperkuat kedudukan mereka dengan menyebarkan Islam. (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 2, hlm. 321-323)

Sejak 1550-an pertikaian antara Islam dan Kristen di Ambon dan sekitarnya kian tajam sehingga banyak menghambat laju perkembangan misi Kristen. Meningkatnya pertikaian itu tak lepas dari usaha Sultan Hairun dari Ternate untuk mengintensifkan penyebaran Islam di Ambon dan sekitarnya. Berbagai tindakan curang pihak Portugis sejak pertengahan 1540-an hingga 1557 dan semakin banyaknya kerajaan di Maluku yang bersekutu dengan Portugis, membuat Hairun semakin kehilangan kepercayaan terhadap Portugis dan kian bersikap anti-Kristen. Pada 1558 Sultan Hairun mengirim pasukan untuk menyerang Pulau Buru dan Ambon. Pasukannya memaksa banyak orang Kristen untuk meninggalkan agamanya. (Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam, hlm. 36)

Oleh:  Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Ekspansi Portugis ke Nusantara pada abad 16 diwarnai oleh semangat anti-Islam. Sebab, Semenanjung Iberia –negeri mereka– pernah dikuasai oleh pemerintahan Muslim (711-1492). Dengan semangat ini, armada Portugis menjelajahi Laut Merah, Laut Arab dan Samudra Hindia untuk mengkristenkan umat Islam dan melakukan perdagangan. Untuk itu, Pulau Socotra di Selat Aden direbut pada 1505. Pada 1507, Hormuz, salah satu pusat perdagangan di Teluk Persia, juga ditaklukkan. Agar bisa menaklukkan Jeddah, sebuah armada laut Mamluk dihancurkan di Laut Merah pada 1509.

 

Mengkristenkan Pribumi

Pada 1500 dibentuk suatu komite bernama komite Cabral. Komite ini bertugas memberikan informasi kepada penguasa Calicut tentang permusuhan Portugis terhadap Muslim. Komite Cabral mengultimatum umat Islam bahwa Portugis merampas kapal dan harta umat Islam sebanyak mungkin. Jika umat Islam tidak bersedia murtad ke Kristen, mereka akan dihadapi dengan senapan dan pedang. Mereka akan diperangi tanpa kasih sayang.

Alfonso D’Albuquerque berencana membelokkan Sungai Nil untuk melumpuhkan Mesir, salah satu pusat perlawanan Islam. Selanjutnya Portugis akan menaklukkan Aden sehingga terbukalah jalan untuk menghancurkan Mekah untuk selamanya. Meksipun rencana itu tidak berhasil, permusuhan terhadap Islam tetap berlanjut. Mereka merampas dan membakar kapal dagang Muslim dan mengurangi impor Mesir dari Asia sehingga Gujarat dan Aden, dua pelabuhan dagang utama itu, mengalami kerugian.

Mesir sebenarnya sudah diminta untuk mencegah Kristenisasi Muslim secara paksa dan agar Portugis tidak menghalangi pelayaran ke India. Akan tetapi, Portugis rupanya telah bertekad untuk tetap menjalankan program Kristenisasi itu, sebagaimana disampaikan Raja Manuel kepada penguasa Calicut dalam suratnya, “…kami boleh percaya bahwa Tuhan kami tidak menakdirkan sesuatu yang menakjubkan seperti perjalanan kami ke India hanya untuk meningkatkan hubungan duniawi, tetapi juga untuk keuntungan spiritual dan keselamatan jiwa yang kami harus memberikan penghargaan yang lebih tinggi.” (B. J. O Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 53-54)

Pada 1511 Portugis berhasil menaklukkan Malaka. Setelah peristiwa ini, datanglah kapal-kapal Portugis berikutnya. Orang Portugis yang datang itu membawa misionaris yang giat menyebarkan agama Kristen. Franciscus Xaverius, misionaris yang masyhur, sering mengunjungi Malaka. Gereja Kristen Roma segera berdiri. Jemaatnya tidak hanya terdiri dari orang Portugis, tetapi juga orang Indo-Portugis, India, dan Cina. Orang Melayu Islam dari semula susah menerima agama Kristen. Pada 1557 Malaka sudah menjadi tempat tinggal seorang uskup, tetapi jumlah orang Kristen hanya beberapa ratus. (J. D. Wolterbeek, Geredja-Geredja di Negeri-Negeri Tetangga Indonesia, hlm. 85)

Ekspansi misionaris Portugis kemudian berlanjut ke wilayah lain di Nusantara, seperti Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Di wilayah tersebut, misi Portugis bersaing dengan dakwah Islam. Kedatangan Portugis memang antara lain untuk membendung dakwah Islam. (Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, hlm. 40-46)

 

Membangun Koalisi Melawan Islam

Untuk menghadapi kekuatan Islam, Portugis sengaja membangun koalisi bersama pihak-pihak yang berseteru dengan umat Islam. Dalam pertarungannya melawan Turki Sunni, Portugis bersekutu dengan Persia Syiah. Upayanya untuk menghancurkan monopoli perdagangan dari para pedagang Muslim di pesisir India mendapat dukungan mayoritas penduduk Hindu. Orang Portugis menyediakan senjata api bagi para penguasa Hindu. Mereka mengimpor kuda dari Arabia dan Persia ke negara-negara di India bagian selatan. Di negara-negara tersebut, binatang-binatang ini tidak dikembangbiakkan walaupun sangat berguna bagi para penguasa Hindu untuk menghadapi ekspansi Muslim di daratan utama India. Oleh karena itu, para Maharaja menjadi bergantung pada orang asing.

Di wilayah Nusantara, orang Portugis juga berupaya menjalin hubungan erat dengan negara-negara Hindu Jawa. Mereka berupaya bersikap baik dengan para pedagang Hindu di wilayah ini. Hasilnya di pelabuhan laut Malaka, elemen Hindu memajukan permukiman Portugis. Setelah penaklukan, mereka menduduki posisi paling penting dalam kehidupan perniagaan di pelabuhan. (M.A.P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara; Sejarah Perniagaan 1500-1630, hlm. 121-122)

Sejak dikudeta oleh Girindrawardhana pada 1478, hubungan penguasa Majapahit dengan umat Islam di Jawa menjadi buruk. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya yang menghormati Islam, Girindrawardhana sangat membenci dan memusuhi Islam. Pada masa pemerintahannya (1478-1498) itulah terjadi perang pertama antara Demak dan Majapahit. (Solichin Salam, Sekitar Walisanga, hlm. 12)

[bs-quote quote=”Untuk menghadapi kekuatan Islam, Portugis sengaja membangun koalisi bersama pihak-pihak yang berseteru dengan umat Islam. Dalam pertarungannya melawan Turki Sunni, Portugis bersekutu dengan Persia Syiah. ” style=”default” align=”center” color=”#1872a5″][/bs-quote]

Raja berikutnya, Prabu Udara, tidak jauh berbeda dengan Girindrawardhana. Karena tidak senang melihat kemajuan Demak, pada 1512 ia mengirim utusan ke Malaka menghadap Albuquerque. Utusan ini menyerahkan hadiah berupa 20 buah gamelan kecil yang terbuat dari logam, 13 batang lembing dan lainnya. Maksud pengiriman utusan tadi adalah meminta bantuan Portugis guna memerangi kerajaan Islam Demak. Hal inilah yang memaksa Demak mengangkat senjata melawan Majapahit kedua kalinya pada 1517. (Solichin Salam, Sedjarah Islam di Djawa, hlm. 43 dan Saefuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 331)

Pada 1522 panglima Portugis Henrique Leme mengadakan perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran. Raja Sunda ini menganggap Portugis dapat membantunya dalam perang melawan orang Islam yang di Jawa Tengah telah mengambil alih kekuasaan dari tangan raja Majapahit. Sebelum bantuan Portugis datang, Demak mengirim Sunan Gunung Jati pada 1525 untuk menduduki Banten. Dua tahun berikutnya, Sunda Kelapa berhasil diambil alih juga. Karena tidak tahu peristiwa ini, orang Portugis sempat datang ke Sunda Kelapa untuk mendirikan perkantoran berdasarkan perjanjian pada 1522. Oleh pasukan Sunan Gunung Jati, mereka ditolak dengan kekerasan senjata. (H. J. De Graaf, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, hlm. 134-135)

 

Kolom ini ditulis oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Hingga saat ini, banyak orang menganggap bahwa Islam baru masuk dan menyebar ke tanah Jawa pada masa akhir kerajaan Majapahit. Wali Sanga menjadi perintis jalan penyebaran Islam di Jawa. Periode Wali Sanga sendiri menurut versi yang masyhur terjadi pada abad 15-16 Masehi. Pada periode ini, penyebaran Islam di tetangga Jawa yang paling dekat, yaitu Sumatera dan Malaka, padahal telah memperlihatkan hasilnya. Beberapa kerajaan Islam telah lama muncul dan berkembang di dua wilayah tersebut. Sementara itu, Jawa seakan menjadi wilayah yang termarginalkan dari sentuhan dakwah Islam sehingga kedatangannya pun telat sekian abad dibanding Sumatera. Benarkah demikian?

Berbicara tentang Islamisasi Jawa, memang masih banyak hal yang terasa samar dan perlu dikaji berulang-ulang. Kesamaran itu di antaranya terjadi karena langkanya sumber tentang proses awal Islamisasi Jawa. Sumber-sumber yang ada lebih banyak memuat data periode saat Islam sudah berkembang. Berbeda dengan Sumatera, sumber tentang proses awal Islamisasi di wilayah ini masih bisa dilacak. Penulisan sejarah Islamisasi Sumatera pun menjadi lebih jelas dibanding Jawa. Terlepas dari faktor ini, harus dipahami bahwa Islamisasi adalah hasil dari interaksi bangsa Nusantara dengan dunia internasional, khususnya dengan bangsa yang sudah masuk Islam.  

 

Hubungan Jawa dengan Dunia Internasional

Dalam hubungan antarbangsa, nama Jawa sudah cukup lama dikenal di dunia internasional. Hal itu dibuktikan dengan disebutnya nama Jawadwipa dalam kitab Ramayana. Diceritakan, Sugriwa sang raja kera mengirimkan pasukannya ke empat mata angin untuk mencari Shinta. Salah satu daerah yang dituju adalah Jawadwipa. Menurut Prof. Sylvain Lévi, kitab ini ditulis tidak lebih dari abad 1 M. Ptolomy, ahli astronomi dari Iskandariah, menulis geografi dunia abad 2 M. Ia menyebut Jawa dengan Iabadiou. Menurutnya, “Iabadiou, yang berarti pulau jewawut (sejenis padi), konon adalah pulau yang sangat subur dan menghasilkan banyak emas.” Kronik China menyebutkan bahwa sekitar 132 M, Tiao Pien (Dewa Warman?), raja Ye-tioa (Jawadwipa), mengirimkan seorang duta ke Cina. Raja Cina menghadiahi Tiao Pien stempel emas dan pita ungu. (Bijan Raj Chatterjee, India and Java, 1933, hlm. 1 dan 22)

Data yang diungkap Prof. Bijan Raj Chatterjee di atas menunjukkan bahwa bangsa India, Mesir kuno (Koptik), dan China sudah lama mengenal Jawa dan berhubungan dengan penduduknya. Hubungan Jawa dengan Mesir kuno sendiri bahkan sudah terjalin berabad-abad sebelum Masehi. Donald Maclaine Campbell mengemukakan bahwa orang-orang dari barat yang pertama kali mengunjungi Jawa adalah orang-orang dari Laut Merah. Mereka datang dengan menaiki perahu pada permulaan 4.500 sebelum Masehi. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 20)

Jawa juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Madagaskar di Afrika Timur. Dalam History of Madagascar, Flaccourt menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh penduduk pulau ini penuh dengan kata-kata Jawa dan Melayu. Menurut Raempfer, fakta ini merupakan bukti hidup terjalinnya perdagangan antara Madagaskar dengan Jawa dan Sumatera sejak 2.500 tahun yang lalu. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 87)

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah, Portugis

Termasuk yang berhubungan cukup intens dengan orang Jawa adalah orang Arab. Sangat aneh jika orang Jawa sudah berlayar hingga Madagaskar dan menjalin hubungan dengan orang Mesir kuno, namun tidak mempunyai hubungan dengan orang Arab. Jazirah Arab berada di jalur yang dilewati orang Jawa ke Madagaskar. Orang Arab juga dikenal sebagai penjelajah bahari. Mereka membangun pemukiman di pantai barat Sumatera pada awal abad 1 M. Orang Arab tentu sudah lama menjalin hubungan dengan orang Jawa. Akan tetapi, kapan orang Arab pertama kali mengunjungi Jawa tidaklah diketahui meski beberapa abad sebelum Masehi mereka dipastikan sudah mengenal kepulauan Maluku. (ibid)         

     

Jejak Awal Islam di Jawa

Hubungan intens dengan dunia internasional menjadi mata rantai utama untuk menelusuri jejak awal Islamisasi Jawa. Apabila bangsa Arab, bangsa yang pertama kali menerima dan menyebarkan Islam, sudah sangat lama menjalin hubungan dengan bangsa Jawa, tentulah upaya Islamisasi Jawa juga sudah dilakukan sejak awal lahirnya agama ini. Jauh sebelum masa Wali Sanga, tentu sudah ada geliat dakwah di Jawa.

W.P. Groeneveldt dalam “Nusantara dalam Catatan Tionghoa” menceritakan bahwa seorang pemimpin pemukiman Arab di pantai barat Sumatera sempat berencana menyerang Kerajaan Kalingga di Jawa pada masa pemerintahan Ratu Shima (674 M). Akan tetapi, serangan ini dibatalkan ketika ia mendengar keadilan sang ratu dan kecintaan rakyat kepadanya. (hlm. 20-21) Rencana penyerangan itu sezaman dengan pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan di Damaskus. Pada saat tersebut, bangsa Arab telah memeluk Islam dan menjadi dai yang sangat giat. Ini menjadi jejak awal datangnya orang Islam ke Jawa. 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

Jejak berikutnya diungkap Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Wali Sanga. Ia menyatakan bahwa pada masa Mpu Sendok (929-949 M), banyak orang Jawa berdagang hingga Baghdad. Dari hubungan ini, pada masa Airlangga (1019-1042 M) atau setidaknya masa Jayabaya (1135-1157 M), terbentuklah komunitas muslim di daerah pantai Jawa. Salah satu buktinya, ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik (meninggal th 1082 M). (hlm. 9)

Jejak berikutnya diungkap Soetjipta Wirjosoeparto. Dalam disertasinya tentang Kakawin Gatutkacasyara, ia menyebutkan bahwa kitab karya Mpu Panuluh yang ditulis pada masa Jayabaya tersebut banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Arab. Jejak lain diungkap oleh T.W. Arnold. Dalam The Preaching of Islam (hlm. 378), ia menulis bahwa pada akhir abad 12 M, putra tertua raja Pajajaran masuk Islam. Namanya Haji Purwa. Ia berusaha mengislamkan Pajajaran, namun gagal. 

Itulah sebagian jejak sejarah yang menunjukkan upaya dakwah Islam sebelum Wali Sanga. Jadi, Wali Sanga bukanlah pihak pertama yang berdakwah di Jawa. Mereka hanya melanjutkan dakwah yang telah dirintis para dai sebelumnya. Dakwah Wali Sanga ternyata lebih sukses dibandingkan dakwah para pendahulu mereka. Oleh karena itu, nama-nama dan kisah mereka selalu dikenang dalam ingatan orang Jawa. 

 

Oleh: Ust. Muh. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Perdagangan Jawa Pada Zaman Kekuasaan Portugis

Ekspansi Portugis ke Asia pada abad 16 didorong oleh beberapa faktor, seperti agama dan niaga, rasa haus akan petualangan serta ambisi kaum bangsawan yang belum tersalurkan sejak berakhirnya perang Salib. Setelah berhasil melewati Tanjung Harapan, Portugis mendapati pemandangan ramainya perdagangan di Samudra Hindia. Kapal orang Moor berlalu lalang di jalur ini. Orang Portugis dan orang Moor adalah saingan dagang. Selain itu, keduanya merupakan musuh bebuyutan yang berusaha saling menghancurkan. (B.J.O. Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 51 dan 56)   

 

Catatan Portugis Tentang Perdagangan Jawa

Pada 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka, bandar terbesar di Nusantara saat itu. Setahun berikutnya, Portugis  tiba di Maluku. Selanjutnya, Portugis berusaha mengontrol jalur perdagangan Malaka-Maluku.

Berita dari orang Portugis pertama menceritakan bahwa orang Jawa sekitar tahun 1500 mendominasi perdagangan di perairan Nusantara, termasuk Malaka di sebelah barat dan Maluku di sebelah timur. Undang-undang Maritim Malaka disusun pada waktu itu oleh sekelompok pemilik kapal Malaka yang sebagian besar berasal dari Jawa. Kapalnya yang berbasis di Malaka dengan teratur berlayar ke Cina.

Tome Pires, orang Portugis yang mencatat perjalanannya dalam Summa Oriental, melaporkan bahwa mereka wajib berlabuh di lepas pantai karena orang Cina benar-benar khawatir jika “salah seorang anak buah jung ini menghancurkan dua puluh jung Cina”. Namun Pires juga mengemukakan bahwa perdagangan di Jawa jauh lebih besar satu abad sebelumnya –“karena mereka menyatakan bahwa pelayarannya sampai ke Aden dan bahwa perdagangan utamanya berada di Benua Keling (India Selatan), Bengala dan Pasai, ia pun menguasai seluruh perdagangan pada waktu itu”. Pada setiap “musim” di tahun 1406, 1408, 1410, 1414, 1418, dan 1432, armada Cina yang terdiri dari seratus atau lebih menghabiskan waktu yang panjang untuk perbaikannya di bandar-bandar Jawa Timur. (Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2, hlm. 48-49)

Baca Juga: Pengaruh Islam Pada Zaman Perdagangan Jawa

Pires juga melaporkan bahwa informasi tentang jalur ke Maluku diperoleh di Malaka dari orang Islam setempat. Sementara itu, peta pelayaran ke Maluku didapat dari orang Jawa. Dalam surat Alfonso de Albuquerque kepada Raja Manuel 1 April 1512, ia mencatat, “Sehelai peta besar dari jurumudi Jawa, berisi peta Tanjung Harapan, Portugal, dan Daratan Brasilia, Laut Merah, dan Laut Persia, Kepulauan Cengkih, pelayaran orang Cina dan Ryukyu, dengan jalur mata angin dan jalur langsung mereka yang diikuti oleh kapal-kapal, kawasan pedalaman, dan bagaimana kerajaan-kerajaan itu saling berbatasan. Paduka, bagi saya tampaknya ini adalah hal yang paling bagus yang pernah saya lihat … Peta ini bertulisan Jawa, tetapi bersama saya ada orang Jawa yang dapat membaca dan menulis.” (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, hlm. 55)          

 

Berpindah ke Bandar Baru

Orang Portugis berambisi untuk menjadi bangsa besar dan ingin mencari keuntungan dari perdagangan. Mereka bernafsu menjadi kaya mendadak dengan menjarah bangsa-bangsa lain. Sebagaimana diceritakan sebelumnya, pada mulanya mereka meminta bantuan orang Muslim Jawa untuk menunjukkan jalur pelayaran ke Maluku. Namun setelah berhasil tiba di Maluku, Portugis justru berbalik memerangi para pedagang Muslim Jawa dan Muslim lainnya. Saudagar-saudagar Arab dan Persia melukiskan bangsa Portugis sebagai bajak laut liar. Pada awalnya, orang-orang Portugis hanya ingin mengadakan perjanjian dagang. Kemudian dengan kerakusan, mereka menghancurkan dan memperbudak sultan-sultan yang telah mempercayai mereka ataupun memberi tempat bagi mereka di kerajaannya. (William Marsden, Sejarah Sumatra, hlm. 375 dan 376)

Baca Juga: Datangnya Si Perusak Kedamaian, Portugis

Dengan pendudukan Malaka, monopoli perdagangan dan penjarahan terhadap kapal-kapal dagang milik kaum Muslim, Portugis telah menghancurkan perdagangan Nusantara, bahkan perdagangan Asia. Selama berabad-abad, perdagangan di lautan Nusantara, dari Selat Malaka hingga kepulauan Maluku, berjalan dengan damai dan melibatkan banyak bangsa. Keadaan ini tiba-tiba berubah setelah Portugis datang. Timbullah kekacauan sistem perdagangan secara damai berubah menjadi sistem perampokan. Portugis tidak memiliki komoditi yang bisa dibarterkan di Malaka. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid I, hlm. 159)

Maka dari itu, setelah Malaka diduduki Portugis, para pedagang selain mereka berusaha menghindari jalur Selat Malaka. Mereka juga memindahkan aktivitas perdagangan mereka ke bandar-bandar lain, seperti Aceh, Banten, Tuban dan Makasar. Namun demikian, Portugis tetap menjadi ancaman di lautan dari Selat Malaka hingga kepualaun Maluku. Oleh karena itulah, terutama pedagang-pedagang Jawa menganggap orang-orang Portugis sebagai musuh. Akibatnya, tidak ada satu tempat pun di Pulau Jawa yang sempat diduduki oleh orang-orang Portugis, kecuali di Jawa Timur yang hingga akhir abad 16 masih terdapat sebuah kerajaan Hindu Jawa yang kecil. (Th. Muller Kruger, Sedjarah Geredja di Indonesia, hlm. 19) Upaya pendudukan terhadap bandar di Jawa, seperti Sunda Kalapa, segera membangkitkan perlawanan dari Muslim Jawa.   

 

Goyahnya Monopoli Portugis

Sejak tiba di Maluku pada 1512, Portugis berusaha mengontrol dan memonopoli perdagangan di kepulauan ini. Usaha untuk mendapatkan hak eksekutif atas rempah-rempah menjadi faktor pendorong bagi ekspansi mereka terhadap daerah-daerah penghasil cengkih. Mereka juga giat menyebarkan agama Katolik di kalangan pribumi. Akibatnya, meletuslah perlawanan rakyat Maluku dengan dibantu para pedagang Muslim Jawa. Akhirnya, monopoli rempah-rempah oleh Portugis pun goyah. Pada sekitar 1565, Portugis harus menyerahkan perdagangan di Maluku ke tangan orang Jawa. Dengan penyerahan itu, kawasan dagang orang Jawa semakin meluas, bahkan luasnya melampaui yang sudah-sudah.

Portugis terpaksa melepaskan impiannya dalam kebijakan monopoli di Maluku. Mereka tidak pernah benar-benar berkuasa atas Banda. Hitu yang merupakan perkampungan Muslim Jawa di Ambon terbukti terlalu kuat bagi Portugis. Pada 1572 Portugis meninggalkan benteng mereka di Ternate. (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 63-64) Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Pengaruh Islam Pada Zaman Perdagangan Jawa

Aktivitas perdagangan di Nusantara mempunyai sejarah yang cukup lama. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban di Nusantara juga telah muncul sejak lama. Kapan pertama kali hubungan dagang antara orang Nusantara dengan orang di dunia luar secara pasti memang tidak diketahui. Yang jelas, sejak sebelum Masehi, orang Nusantara telah melakukan pelayaran ke barat hingga Afrika dan ke timur hingga Cina untuk berdagang. Letak Nusantara yang berada di jalur kuno pelayaran dari Arab ke Cina membuat negeri ini ramai dikunjungi dan disinggahi berbagai bangsa.  

 

Pengaruh Islam terhadap Ramainya Lalu Lintas Perdagangan

Di antara bangsa yang berhubungan cukup intens dengan orang Nusantara adalah bangsa Arab. Pada awal abad 1 M, mereka membangun pemukiman di pantai barat Sumatra antara Padang dan Bengkulu. Kedatangan Islam (622 M) selanjutnya mendorong orang Arab semakin sering melakukan petualangan. Mereka tergerak untuk menyebarkan kepercayaan baru sambil melakukan aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, hubungan dagang antara Arab dan Nusantara semakin intens.

Perdagangan kemudian menjadi jalan perintis bagi penyebaran Islam. Munculnya dua dinasti yang kuat, Khilafah Umayyah di barat (660-749 M) dan Dinasti Tang di timur (618-907 M), juga mendorong perdagangan laut antara wilayah barat dan timur Asia. Hal ini memberi peluang bagi perdagangan orang Arab untuk tumbuh dengan kuat. (Muhammad Redzuan Othman, “Islam and Cultural Heritage From Trade Relations Between The Middle East and The Malay World” dalam Journal of Islam and International Affair, hlm. 112-113)

Baca Juga: Dinamika Dakwah Islam di Kesultanan Banjarmasin

Bersama orang Afrika, Persia, India dan Cina, orang Arab mendominasi perdagangan di Samudra Hindia. Mereka saling berpartisipasi dalam perdagangan sesuai kemampuan dan kebutuhannya serta tidak menghalangi jalan bagi lainnya. Periode antara 41 H/661 M hingga 904 H/1498 tercatat sebagai periode dominasi Islam di wilayah tersebut. (Syauqi Abdul Qawi ‘Utsman, Tijârah Al-Muhîth Al-Hindî fî ‘Ashr As-Siyâdah Al-Islâmiyyah: 41-904 H/661-1498 M, hlm. 7 dan 35)

 

Dominasi Pedagang Jawa di Nusantara

Selain para pedagang asing, pedagang Melayu dan Jawa turut aktif meramaikan arus perdagangan di jalur Samudra Hindia. Orang Melayu dan Jawa menjadi pedagang perantara yang mendistribusikan komoditas di kepulauan Nusantara. Kedua suku bangsa ini bahkan sering terlibat persaingan dalam menguasai pasar.

Pada periode abad ke-12 hingga abad ke-15 menunjukkan bahwa perniagaan laut Jawa mengalami kemajuan besar. Bernard Vlekke berpendapat bahwa dalam masa ini perdagangan tadi berkembang secara cepat. Dalam abad ke-12 keadaan kerajaan Sriwijaya sangat maju. Perkebunan-perkebunan lada meluas dari Sumatera Selatan dan Banten. Menurut Vlekke, kemajuan perniagaan dalam abad ke-12 tadi besar pengaruhnya terhadap perkembangan kerajaan Kadiri menjadi negara laut yang utama. Kadiri kemudian berhasil tampil menggeser dominasi Sriwijaya yang menguasai wilayah barat Nusantara. Dalam waktu lima puluh tahun, daerah di bagian timur kepulauan Nusantara ditaklukkan oleh kerajaan Kadiri.

Sejak paruh kedua abad ke-12, sebuah sumber Cina menyebutkan bahwa Jawa lebih makmur secara perniagaan daripada Sriwijaya. Menurut sumber itu, negeri-negeri di luar Cina yang paling kaya berturut-turut adalah negeri Arab, Jawa, dan Sumatera. Jadi, rupanya kerajaan Kadiri (atau Daha: 1050-1222) pada waktu itu telah mengalahkan kebesaran Sriwijaya. (H. Burger, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, 25 dan 29)

Baca Juga: Kedatangan Si Perusak Kedamaian; Portugis

Pada periode itu, Sriwijaya (Palembang), Malayu (Jambi), Malaka dan Tumasik (Singapura) memang mampu membangun imperium perdagangan yang menguasai Nusantara. Akan tetapi, Jawa punya keunggulan penyeimbang karena posisinya di tengah dan tanah vulkaniknya subur. Jawa mampu bukan hanya menyokong populasi yang padat, tapi juga memberi makan Kepulauan Rempah-Rempah (Maluku) dan wilayah-wilayah lain yang tidak punya beras. Jadi, Jawa yang menyandarkan kekuatannya pada pertanian selalu menjadi pesaing imperium komersial yang menguasai Selat Malaka. Tambahan pula, keunggulan Jawa bukan hanya pada pertanian. Ia terletak di jalur antara Kepualauan Rempah-Rempah dan Selat Malaka. Ia selalu menyediakan tempat peristirahatan bagi pedagang-pedagang antara Timur dan Barat, dan dengan demikian sebagian kekuatannya juga bersandar pada perdagangan. (J. S. Furnivall, Hindia Belanda; Studi Tentang Ekonomi Majemuk, hlm. 3)  

Sebelum orang Jawa mulai mengunjungi pasar Malaka secara rutin, lalu lintas perdagangan yang ramai terjadi antara pelabuhan Jawa dan pelabuhan Sumatera bagian utara yang menjual lada dari Pasai. Sejak munculnya pelabuhan kecil ini, orang Jawa menjual beras dan rempah-rempah di sana dan membawa kembali muatan berupa lada. Para pedagang Jawa menikmati posisi yang sangat diuntungkan di Pelabuhan Pasai dan dikecualikan dari pajak impor dan ekspor. Mereka juga bisa mendapatkan muatan kembali yang bagus dan menguntungkan. Walaupun penguasa Pasai adalah seorang Muslim, hubungan vasal terus diperkuat. Hubungan ini diawali oleh sebuah perjanjian persahabatan yang tegas dengan kerajaan Hindu Jawa yang menjamin suplai rempah-rempah ke Pasai serta menyediakan pasar untuk ladanya. Hubungan vasal kemungkinan berawal dari masa kampanye Majapahit di Sumatera.

Sejak munculnya Malaka sebagai kota dagang, junk-junk Jawa sudah mulai mengatur haluan ke Malaka, bukan ke Pasai. Dalam segi apa pun, Pelabuhan Malaka lebih strategis dan aman daripada kondisi Pasai. Mungkin juga, Malaka sudah memiliki populasi yang lebih besar daripada Pasai. Artinya, Malaka adalah sebuah pasar yang lebih baik bagi beras Jawa. Di kalangan para pedagang yang menetap di Malaka, para pedagang skala besar adalah orang Keling dan Jawa.

Aktivitas perniagaan Malaka menyebabkan agama Islam tersebar ke wilayah yang lebih luas. Dalam hubungan ini, sepertinya perdagangan menjadi faktor yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sebagai contoh, Malaka memainkan peran penting dalam konversi Kepulauan Rempah melalui pelabuhan-pelabuhan laut di Jawa, yang mereka sendiri memeluk Islam akibat pengaruh Malaka. Sebagian juga bertanggung jawab terhadap perubahan keyakinan ini. (M.A.P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara; Sejarah Perniagaan 1500-1630, hlm. 30-36) Wallâhu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

Keberhasilan ekspansi Portugis pada pergantian abad 15 ke 16 M mengantarkan bangsa ini sebagai pelopor imperialisme modern bersama rekan dan saingan mereka, Spanyol. Pengaruh ekspansi Portugis membentang panjang dari Afrika hingga Asia Tenggara. Di sepanjang jalur itu, Portugis bertemu dan berinteraksi dengan bangsa-bangsa dari Afrika dan Asia. Banyak di antara mereka adalah orang Moor, yaitu sebutan orang Portugis untuk orang Muslim.  

 

Orang Moor yang Dibenci Sekaligus Dibutuhkan

Sudah lama Portugis menaruh dendam kepada orang Moor yang pernah menguasai wilayah mereka selama berabad-abad. Ekspansi Portugis juga tidak lepas dari upaya memburu orang Moor, setelah Khilafah Bani Umayah di Spanyol mulai runtuh dan berakhir dengan jatuhnya kota kaum Muslim Granada pada 1492 ke tangan pasukan Spanyol. Mengapa Portugis begitu getol memburu orang Moor? Sebab, mereka mempunyai hasrat untuk mendepak para pedagang Arab, Turki dan Gujarat dari jaringan perdagangan. Hingga 1500, jalur perdagangan di Asia Timur dan Tenggara dikuasai para pedagang Muslim tersebut. Para pedagang Arab, Turki dan Gujarat mendominasi jalur perdagangan di sekitar Laut Arab, Afrika Timur hingga Teluk India dan Kepulauan Nusantara. Mereka memegang peranan kunci dan berpengaruh kuat atas aktivitas perdagangan dari Gujarat dan Malabar hingga Malaka dan dari Aceh hingga Maluku, Banda dan Ambon. (M. Adnan Amal, Portugis dan Spanyol di Maluku, hlm. 127)

  1. J. O. Schrieke menggambarkan kebencian orang Portugis dan Spanyol kepada orang Moor, “Penting untuk dikatakan bahwa orang-orang Frank –sebutan untuk orang Eropa Barat– hanya menaruh antipati dan kebencian terhadap Muslim dan agamanya… Bagi mereka, Muhammad adalah perwujudan setan. Siapa pun yang mengampuni umatnya, maka orang itu gagal dalam tugasnya.” (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, I/52)

Meskipun benci, faktanya Portugis dalam banyak hal membutuhkan bantuan orang Moor. Untuk menunjukkan jalur ke India, Portugis memanfaatkan jasa navigator Muslim. Pada 1498, penguasa Melinde (wilayah Kenya) memberikan seorang mualim kepada para kelasi di kapal-kapal Portugis pimpinan Vasco da Gama dalam perjalanan mereka menuju Calicut. Ketika Vasco da Gama menunjukkan peralatan astronomi kepada mualim tersebut, yang merupakan seorang Muslim Gujarat, salah satunya adalah astrolabe yang terbuat dari kayu dan logam, “Orang Moor itu tidak merasa heran ketika melihat alat tersebut.” (Grabriel Ferrand, “L’Kouen-Iouen…” dalam Jurnal Asiatique, XIII, hlm. 489)   

Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, Portugis berencana melakukan ekspedisi ke Maluku. Akan tetapi, mereka belum mengetahui jalur menuju kepulauan rempah-rempah itu. Oleh karenanya, mereka meminta Nakoda Ismail, seorang pedagang Melayu, untuk menjadi pemandu ekspedisi tadi. Nakoda Ismail menggunakan junk Cina sebagai kapal pemandu, yang berlayar paling depan menuntun ketiga kapal Portugis pimpinan d’Abreau. Pelayaran ini merupakan pelayaran armada Eropa pertama di perairan Nusantara. (Portugis dan Spanyol di Maluku, hlm. 21)

Mengapa orang Muslim mau membantu Portugis? Barangkali mereka menganggap Portugis sama seperti bangsa-bangsa lain yang sekian lama terlibat dalam jaringan perdagangan Asia dan senantiasa menjaga kestabilan jaringan tersebut. Orang Muslim itu tidak mengetahui jika Portugis datang untuk merusak jaringan itu, bahkan juga mengancam agamanya. Setelah mengetahui kenyataan sebenarnya, Muslim pribumi bangkit melakukan perlawanan terhadap Portugis.    

 

Gambaran Buruk Tentang Pribumi

Dalam ekspedisi ke Asia, Portugis membawa juru tulis yang mencatat berbagai peristiwa dan keadaan yang mereka lihat. Salah satunya adalah Tome Pires yang datang ke Nusantara pada 1512-1515. Dalam catatannya, The Suma Oriental, ia menggambarkan orang Melayu adalah bangsa yang pencemburu, karena isteri orang-orang penting tidak pernah terlihat di muka umum. Bilamana para isteri tersebut berniat bepergian, mereka berkeliling dengan tandu yang tertutup, dan kebanyakan mereka melakukannya bersama-sama.

Gambaran buruk tentang orang Melayu juga ditulis oleh Kapten Portugis De Vellez Guirero yang mengunjungi Malaka pada awal abad 18. Ia memandang orang Melayu sebagai orang biadab. Ia sangat menghargai penguasa Johore, tetapi ia mengutuk orang-orang Melayu pesisir yang termasuk “mazhab Muhammad yang terkutuk, pada dasarnya berbahaya dan kurang setia.” Ia agak kasar terhadap orang Melayu Bugis yang pernah bentrok dengan Gubernur Portugis. (S.H. Alatas, Mitos Pribumi Malas, hlm. 52)

Sementara itu, Jono de Barros menggambarkan orang Jawa dalam bukunya Decada Primiera e Segunda yang terbit pada 1552 sebagai berikut, “Penduduk asli, dipanggil Jaos (Jawa), sangat sombong dan menganggap bangsa lain lebih inferior sehingga bila mereka berjalan di satu tempat, dan melihat orang asing berdiri di tempat yang lebih tinggi serta tidak segera berpindah tempat, maka akan dibunuhnya karena dia tidak mengizinkan siapa pun berdiri lebih tinggi darinya, mereka juga tidak mau membawa sesuatu dengan kepalanya walaupun diancam dibunuh…  Mereka pemberani dan akan melakukan amok untuk membalas dendam. Walaupun berbagai halangan dihadapi, mereka akan terus berusaha mencapai keinginannya.” (III/bab 1)

 

Gambaran Baik Tentang Pribumi 

Selain gambaran buruk, ada juga penulis Portugis yang menceritakan pribumi Nusantara dengan gambaran baik. Duerte Barbossa, yang tiba di Malaka tidak lama setelah wilayah ini dikuasai Portugis, menulis laporan pada 1518 bahwa orang-orang Melayu terkemuka di Malaka adalah kelompok Muslim yang taat, menjalani kehidupan yang menyenangkan, tinggal dalam rumah besar di luar kota dengan banyak kebun buah-buahan, taman dan tangki air. Mereka halus budi bahasanya dan sopan, gemar main musik, dan cenderung saling menyayangi.

Mengenai orang Jawa di Malaka, yang juga kelompok Muslim, Barbossa menulis, “Mereka sangat terampil dalam segala jenis pekerjaan, terlatih dalam setiap kadar kebencian; walaupun tindakannya tidak taat aturan, namun sangat gagah berani (dan siap untuk setiap jenis kejahatan). Mereka memiliki senjata yang baik dan bertempur tanpa takut.” (The Book of Duerte Barbossa, hlm. 176)

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Baca Juga Sejarah Islam Indonesia Lainnya: Klik Di Sini!        

Kedatangan Portugis di Bumi Nusantara

Portugis bersusah payah mencari jalan pelayaran ke Asia. Di bawah pimpinan Vasco da Gama, mereka berhasil tiba di India pada 1498. Pelayaran pertama ke India ini harus dibayar mahal. Hanya 54 dari 170 kelasi dan dua dari empat kapal yang kembali ke negeri mereka dengan selamat pada 1499. Meski demikian, pelayaran da Gama berhasil membangun rute laut dari Eropa ke India yang memungkinkan perdagangan dengan Timur Jauh tanpa menggunakan rute Jalur Sutera antara Timur Tengah dan Asia Tengah yang sering tidak aman.

Untuk kedua kalinya, Vasco da Gama kembali ke India pada 1502. Kali ini ia datang dengan armada yang terdiri dari 20 kapal perang. Ia memaksa orang India agar menerima cara dagang Portugis. Kota Calicut ditembaki karena melawan Portugis. Selain menguasai kota-kota di pantai India, Portugis juga berusaha meluaskan pengaruhnya ke wilayah lain. Terlebih akhirnya Portugis mengetahui bahwa India bukanlah tempat rempah-rempah berasal. Barang dagangan ini berasal dari negeri yang masih jauh berada di sebelah timur India. Pada 1509, mereka pun untuk pertama kali datang ke Nusantara.

 

Motif Kedatangan Portugis

Pada pelayaran kedua dan selanjutnya, semakin terlihat jelas motif kedatangan Portugis ke Asia umumnya dan Nusantara khususnya. Setidaknya ada tiga motif yang melatarbelakangi pelayaran mereka.

Pertama: motif ekonomi (gold/emas), yaitu merebut perdagangan Asia. Rempah-rempah merupakan komoditas terpenting di pasar Eropa. Barang itu harus didatangkan dari Asia dengan jarak tempuh yang sangat panjang sehingga harganya pun menjadi mahal. Pada waktu itu, rempah-rempah dikuasai oleh para pedagang Muslim dari Turki. Portugis ingin menemukan jalan ke Asia dan mengambil rempah-rempah langsung dari pusatnya.

 

Baca Juga: Kedatangan Si Perusak Kedamaian; Portugis

 

Kedua: motif politik (glory/kejayaan), yaitu menghancurkan kekuasaan negeri-negeri Islam. Kalau berhasil memperoleh jalan langsung ke Asia, mereka dapat mengalihkan lalu lintas perdagangan melalui jalan itu. Hal ini akan merugikan bangsa-bangsa yang sampai saat itu menguasai rantai perdagangan Asia-Eropa. Salah satu dari bangsa itu ialah bangsa Turki yang justru pada zaman itu sedang melancarkan serangan yang dahsyat terhadap negara-negara Eropa. Serangan mereka mungkin dapat dilumpuhkan kalau pendapatan yang diperoleh negara Turki dari perdagangan dapat dihancurkan.

Ketiga: motif agama (gospel), yaitu menyebarkan agama Kristen. Orang-orang Portugis ingin mengepung lawan yang beragama Islam dan menyiarkan agama Kristen di seberang lautan. (M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, hlm.32)

 

Api Perang Salib

Semangat perang salib sangat kuat mendorong ekspansi mereka. Portugis memandang semua penganut Islam adalah bangsa Moor dan musuh yang harus diperangi. Oleh karena itulah ketika Alfonso d’Albuquerque berhasil menduduki Malaka pada 1511, ia berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita adalah mengusir orang Moor dari negeri ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini… Saya yakin, jika kita berhasil merebut jalur perdagangan Malaka ini dari tangan mereka, Kairo dan Mekkah akan hancur total dan Venesia tidak akan menerima rempah-rempah kecuali para pedagangnya pergi dan membelinya di Portugis.” (F. C. Danvers, The Portuguese in India, I/226)

 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

 

Api perang salib cukup kuat dalam diri Albuquerque sehingga mendorongnya menangkap dan menjarah semua kapal muslim yang bisa ditemukannya antara Goa dan Malaka. Ia memerangi orang Muslim sambil melayani kepentingan perniagaan Portugis. Demikianlah, sekali lagi terjadi perang salib antara orang Muslim dan orang Kristen. Sebelumnya, perang itu berkali-kali bergolak di Laut Tengah. Akan tetapi, kini perang itu berlangsung di Nusantara yang jauh. Dengan pukulan pertama, armada Portugis berhasil menjatuhkan Malaka, tetapi tiga kerajaan lain bangkit untuk tetap mengibarkan bendera Nabi Muhammad di Kepulauan Nusantara. Kerajaan tersebut adalah kesultanan Aceh, Demak, dan Ternate. (Bernard H. M. Vlekke, Nusantara, hlm. 98)

 

Kristenisasi

Setelah berhasil menaklukkan Malaka, pada 1512 kapal-kapal Portugis mulai berlayar di Laut Jawa dan akhirnya sampai ke Maluku. Di kawasan inilah terletak kepulauan rempah-rempah. Pada mulanya Portugis hanya membeli rempah-rempah di kepulauan tersebut. Mereka juga meminta izin untuk mendirikan benteng sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah. Para sultan di Maluku memberikan izin kepada mereka karena mengharapkan laba besar dari hubungan dagang itu. Benteng Portugis pun berdiri di Hitu pada 1515 dan di Ternate pada 1523.

Akan tetapi, lama kelamaan Portugis berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah. Para pedagang Muslim tidak boleh lagi turut dalam perniagaan itu. Portugis juga mengedarkan dan menjual minuman keras di kalangan penduduk Muslim. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Lebih dari itu, Portugis juga menyebarkan agama Kristen Katholik Roma.

 

Baca Juga: Awal Islamisasi Maluku

 

Penyebaran Kristen Katholik di Maluku dimulai sekitar 1523, yaitu ketika Antonio de Brito datang untuk mendirikan benteng di Ternate. Pada waktu itu, beberapa biarawan Fransiscan ikut serta dalam kapal Portugis. Para misionaris Portugis itu menyebarkan agama Kristen Katholik dengan cara paksaan dan tidak mengenal toleransi beragama. Para misionaris Portugis tidak menghiraukan agama Islam yang telah dianut oleh penduduk di Maluku. Hal ini membangkitkan perlawanan dari kaum Muslim di Maluku.

Penyebaran Kristen Katholik oleh para misionaris Portugis di wilayah-wilayah Islam terkadang dilaksanakan pada hari Jumat tepat waktu shalat. Pada waktu itu semua orang laki-laki berada di masjid, sedangkan wanita dan anak-anak berada di rumah. Mereka yang dapat meloloskan diri dari kepungan Portugis terpaksa lari meninggalkan keluarganya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi di wilayah-wilayah Islam di pulau Ambon, seperti Negeri Lama (Pasolama), Suli, Wai dan lain-lain. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-41)

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia