Meneladani Integritas Hudzaifah bin Yaman

Menjaga hati dan iman agar tetap dalam performa yang maksimal, ternyata tidak mudah. Apa lagi dalam kondisi yang tidak disukai. Karena pengakuan iman, menghajatkan sebuah pembuktian. Ujian keimanan tersebut akan berbeda bagi tiap orang. Namun apa yang dialami oleh Hudzaifah bin Yaman termasuk ujian kelas berat.

Alkisah, salah satu perang yang cukup berat bagi kaum muslimin adalah perang uhud. Awalnya pasukan Islam mendominasi pertempuran. Namun, pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid melacarkan serangan balik dan berhasil mengacaukan pihak pasukan muslim.

Pertempuran lalu berubah menjadi perang tanding satu lawan satu. Musuh dan kawan bercampur dalam satu medan. Hentakan tapak kaki menerbangkan debu-debu yang menggangu pandangan. Suara teriakan dan jeritan mengiringi korban yang jatuh tersungkur atau tewas. Situasi sangat chaos. Mana kawan, mana lawan tak bisa dibedakan.

Saat itulah, Husail bin Jabir Al-Yaman, masuk ke dalam medan pertempuran. Ia dicegat oleh sekelompok prajurit muslim. Mereka berduel sengit. Kedua belah pihak tidak sadar sedang melawan saudara sendiri. Ayahanda Hudazifah tersebut tak mampu menandingi ketangkasan lawan duelnya. Kebetulan Hudzaifah melihat adu senjata yang tak imbang tersebut. Ia pun langsung mengenali ayahnya sedang berkelahi dengan sesama pasukan Islam. Ia berteriak untuk menghentikan, “Ayahku. Ayahku. Itu ayahku.”

Namun, belum sampai teriakannya mereka dengar, tebasan pedang menyayat tubuh renta Husail bin Jabir. Takdir Allah telah terjadi.  Ia tersungkur, meregang nyawa lalu meninggal. Prajurit yang melumpuhkan shahabat yang pernah ikut Baiat Aqabah itu pun tak kalah kaget. Mereka tidak bermaksud mencelakai saudara sendiri.

Hudzaifah tidak membayangkan bahwa ayahnya harus meninggal seperti itu. Tewas oleh pedang kaum muslimin. Secara naluri, tentu muncul dorongan untuk membalas dendam atau meminta qishas. Andai Hudzaifah bukan shahabat yang teguh imannya, tentu peristiwa itu akan mengubah keyakinannya terhadap Islam.

Namun, Hudzaifah sadar mereka tidak bermaksud melukainya. Kejadian itu murni karena kesalahpahaman. Hudzaifah memaafkan mereka dan memohonkan ampunan Allah. “Semoga Allah mengampuni kalian. Allah maha pengasih.” Kata beliau.

Ketika peperangan usai, Rasulullah menerima kabar tersebut. Sesuai hukum Islam, Hudzaifah berhak menerima diyat atau ganti rugi kematian ayahnya. Shahabat yang memiliki 6 saudara tersebut memang menerimanya, tapi bukan untuk dimiliki. Beliau menyedekahnnya untuk kepentingan kaum muslimin. Sikap inilah yang membuat Rasulullah bersimpati dan percaya kepadanya.

Hudzaifah bin Yaman memiliki sifat integritas yang kuat. Sahabat yang menjabat sebagai gubernur Baghdad pada era Umar bin Khattab sangat menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Karena itu, Rasulullah mempercayakan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Sang Nabi menegaskan bahwa rahasia itu tidak boleh bocor kepada siapa pun. Tujuannya agar Hudzaifah dapat leluasa memonitor gerak-gerik kelompok munafik. Sehingga kaum muslimin dapat terhindar dari makar mereka. Karena sifat inilah, Hudzaifah bin Yaman dipanggil oleh para shahabat dengan Shahibu Sirri Rasulullah (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Keteguhan inilah yang membuat Umar bin Khattab sering mendesaknya dengan pertanyaan. “Apakah aku termasuk orang munafik.” Hudzaifah hanya diam, tak mau memberi jawaban meski hanya dengan isyarat. Umar bin Khattab tetap terus mencecarnya. Sebab beliau cemas jika namanya termasuk daftar hitam tersebut. Hingga suatu saat Hudzaifah menjawab, “Tidak. Dan aku tidak akan menyebutkan nama lain setelah ini.”

Kepercayaan Nabi kepada Hudzaifah terbukti dengan beliau mengamanatkan misi khusus hanya kepadanya. Pada suatu peristiwa dalam perang khandaq, Rasululullah bersama para shahabatnya berjaga di garis depan. Malam diselimuti kegelapan yang pekat. Angin bertiup sangat kencang. Desiran angin menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman dan kaum munafiqin minta izin pulang kepada Rasulullah. Mereka berkilah bahwa rumah mereka tidak terkunci. Padahal, sebenarnya rumah mereka terkunci. Shahabat yang bertahan hanya tinggal 300 orang. Rasulullah berkeliling memeriksa satu per satu guna mencari Hudzaifah.

“Pergilah engkau ke camp musuh dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang akurat. Laporkan kepadaku segera.” kata beliau memerintah.

Amanat tersebut cukup berat. Saat rasa takut, lapar dan dingin bercampur menjadi satu berusaha melemahkan iman. Tapi hudzaifah tetap menjalankan tugasnya berbekal doa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. “Ya Allah! lindungilah Hudzaifah, dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.” Tiba-tiba, ketakutan dan keletihan yang menjalari fisik dan jiwa beliau sirna seketika.

Rasululullah juga berpesan, “Jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai dan kembali kepadaku!”

Hudzaifah menyelinap ke jantung pertahanan musuh. Ia sangat tenang dan tidak menimbulkan curiga. Tak lama kemudian, Abu Sufyan memberi komando.

“Hai, pasukan Quraisy! dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”

Hudzaifah reflek menarik tangan orang disampingnya sambil bertanya, “Siapa kamu?”
Jawabnya, “Aku si fulan bin fulan!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy! Sungguh kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita sudah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, pulanglah kalian. Tinggalkan tempat ini.”

Kemudian Abu Sufyan menunggang untanya dan memukulkan cemeti. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Saat itu, Hudzaifah mendapat peluang menewaskan Abu Sufyan. Namun beliau ingat pesan Rasulullah agar segera kembali ke garis pertahanan Kaum muslimin. Hudzaifah melaporkan keadaan pasukan Qusraisy. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.

 

Redaksi | Uswah 

Istriku Boros, Hemm…

Kutipan kalimat dalam judul di atas tentu sangat tidak sedap dibaca para istri. Betapa kalimat itu menyiratkan secara gamblang keluh-kesah suami terhadap borosnya istri. Namun, hendaklah para istri bersikap bijak terhadap lontaran keluhan suami seperti itu. Bahkan, istri yang bertakwa tentu akan menjadikan ‘kalimat pedas’ itu sebagai sarana muhasabah nafsiyah yang dahsyat. Benarkah aku boros?

Kalimat kritik tersebut seringkali meluncur dari lisan-lisan para suami saat mengobrol ke sana-ke mari dalam forum kaum lelaki. Atau paling tidak, kalimat itu barangkali banyak terukir dalam memori para suami, walaupun lisannya masih tertahan untuk memuntahkan ‘aib istri’ tersebut, demi menjaga kehormatan keluarganya.

Istri dalam Perangkap Konsumerisme

Israf atau berlebih-lebihan, alias boros, memang bukan hanya ‘dosa’ istri semata. Banyak juga para suami yang bergaya hidup boros dalam kesehariannya. Namun, secara kodrati, gejolak materialistis dan konsumerisme itu memang lebih banyak mendekam pada diri kaum wanita. Sampai ada seorang pujangga bernama Alqamah Al-Fahl yang menuturkan dalam syairnya :

Jika kalian menanyaiku tentang wanita

Maka akulah dokter yang sangat mengenal penyakit-penyakit wanita

Bila seseorang telah beruban atau hartanya sedikit

Ia takkan sedikit pun mendapat cinta mereka

Mereka menginginkan harta melimpah di mana mereka mengetahuinya

Dan bagi mereka, usia muda begitu menggairahkan

Tabiat boros yang mengental pada diri wanita ini begitu banyak mendapat cemoohan tiada tara. Orang-orang barat banyak melontarkan kritik yang tajam terhadap wanita bertipe boros ini. Simak beberapa ungkapan mereka yang sangat tidak sedap! Para istri jangan sewot dulu, sekali lagi, jadikan ini sebagai sarana muhasabah Anda. John Barrymore menuturkan, “Wanita itu satu-satunya makhluk yang tidak mengetahui apa yang harus dimilikinya, sebelum ia membelinya.” Alexandre Dumas berkata, “Pernikahan itu sama dengan perpindahan tabunganmu secara berangsung-angsur dari kantongmu ke kantong istrimu.” Salah seseorang dari mereka mengatakan, “Wanita itu penyejuk hati dan setan-setan penguras isi saku.” Sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Wanita itu ibarat jalan, perawatannya membutuhkan biaya besar.” (Dikutip dari Ya Ma’syaran Nisa’ Rifqan bir Rijal, karya Dr. Najah binti Ahmad Zhihar).

Na’udzubillah min dzalik. Ajaran Islam yang hanif ini menolak mempersepsikan kaum wanita secara buruk dengan penilaian materialistis seperti ini. Islam sangat memuliakan kaum wanita. Terkait dengan wanita, ajaran Islam beredar untuk meluruskan tabiat wanita dan menshalihkan perilakunya. Merendahkan wanita adalah tabiat jahiliyah yang telah dikubur oleh Islam. Islam datang untuk merias wanita menjadi perhiasan dunia terindah, dengan keshalihan hati dan perilaku sebagai tolok ukurnya.

Jauhi Israf!

Islam secara tegas melarang kaum muslimin bersikap boros. Sikap boros merupakan perangkap setan untuk terus menghasung manusia menumpuk-numpuk harta, dan membelanjakannya secara berlebihan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’ : 27)

Allah Ta’ala juga menegaskan, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Al-An’am : 141). As-Suddiy dalam menafsirkan firman Allah, “Wa la tusrifu”, ia mengatakan, “Janganlah kalian memberikan harta kalian sampai habis, setelah itu kalian duduk dalam keadaan fakir.” Ibnu Katsir mengatakan, “Jangan berlebih-lebihan dalam makanan, karena di dalamnya terdapat mudharat terhadap akal dan fisik.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Makanlah apa yang kamu inginkan, dan pakailah apa yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa kamu dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/190).

Islam membimbing kita untuk bersikap pertengahan; tidak boros dan tidak juga bakhil. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Al-Furqan : 67).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dan orang-orang yang membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, artinya mereka tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta mereka dalam bentuk membelanjakannya melebihi hajat; dan tidak juga mereka bakhil kepada keluarga mereka dalam bentuk mengurang-ngurangi hak mereka, tidak mereka tahan-tahan, bahkan dengan bentuk adil dan yang terbaik, sebab sebaik-baik perkara adalah yang paling menengah, bukan ini dan bukan pula itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/322).

Jadilah Permata Terindah

Dalam sejarah perjalanan hidup para shahabiyah yang mulia terkandung teladan paling agung dan contoh paling indah. Fathimah Az-Zahra’ x memberi kita deskripsi nyata tentang seorang wanita muslimah yang penyabar, mengerti kondisi suami, dan tidak membebaninya dengan beragam permintaan. Suaminya, Ali bin Abi Thalib a, menghadapi situasi ekonomi yang sulit. Lantas, apa yang Fathimah lakukan? Apakah ia mengeluhkan nasibnya ini? Saksikan, apa yang dilakukannya!

Tatkala Fathimah x tak kuasa lagi menahan lapar dan dampak laparnya mulai nampak di wajahnya, Ali terkejut dengan perubahan ini dan ia segera menanyainya, “Kenapa engkau, wahai Fathimah?” “Sudah tiga hari saya tidak mendapati suatu makanan di rumah?,” jawab Fathimah. Ali bertanya lagi, “Kenapa engkau tidak memberitahuku?” “Pada malam pernikahanku, ayahku, Rasulullah n berpesan kepadaku, ‘Wahai Fathimah, bila Ali memberimu sesuatu, makanlah. Dan, bila tidak, maka jangan meminta kepadanya’,” jawab Fathimah. Subhanallah!

      Ali bin Abi Thalib a pernah membuat kriteria wanita terbaik, ia menuturkan, “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang berbau wangi, memakan yang baik-baik; bila mengeluarkan harta, tidak berlebihan; dan bila menahannya, juga tidak berlebihan. Wanita seperti ini termasuk pekerja Allah. Dan, pekerja Allah itu tidak akan kecewa.” (Bahjatul Majalis, III : 33)

Wahai para istri, tidak bersikap boros itu permata. Tidak terlalu membebani suami dalam masalah keduniaan, itu permata. Bersikap qana’ah terhadap rezeki yang diberikan suami, itu permata. Membelanjakan harta suami secara baik, itu permata. Maka, kukuhkan Anda sekarang juga untuk menjadi permata terindah bagi suami Anda tercinta! Semoga bahagia! Wallahul musta’an.

 

Ust. Abu Ilyas Mu’afa | Rubrik Kewanitaan

 

Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Tahu Artinya

Konsultasi: 

Assalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Ustadz, Apakah membaca al-Qur’an harus dengan memahami artinya? Apakah keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an itu harus dengan mentadaburi ayat-ayatnya? Ada teman yang mengatakan bahwa baca Al-Qur’an akan sia-sia bila tanpa mentadaburi artinya.  Jazaakumullahkhairan. Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Ibnu Mabruri, Bumi Allah

Jawab:

Memahami ayat-ayat dari Al-Qur’an dan mentadaburinya sebuah keniscayaan bagi seorang muslim, karena ia diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi ayat-ayatnya.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24)

Walau demikian, dibolehkan hanya membaca tanpa memahami maknanya dengan tujuan mendapatkan pahala membaca, sebagaimana keumuman hadits Nabi SAW,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan tingkatkan, tartillah dalam menbacanya (di jannah) sebagaimana kamu membaca di dunia. Sesungguhnya tempat (kembalimu) pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Al-Khattabi berkata, ”Disebutkan dalam sebuat atsar, sesungguhnya jumlah ayat-ayat Al-Qur’an itu sesuai dengan tingkatan jannah. Maka dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, naiklah di tingkatan jannah sesuai dengan jumlah bacaanmu. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh Al-Qur’an maka dia memiliki puncak tertinggi tingkatan jannah, dan barangsiapa yang membaca satu juz maka dia memiliki tingkatan jannah sesuai bacaan tersebut, maka endingnya pahala itu ketika di penghujung bacaan.” (Lihat: Tuhfatul Al-Ahwadzi: 7/232, Tadabburul Al-Qur’an: 24)

Redaksi | Konsultasi

 

Warisan Terbaik Untuk Anak

Di hari pembaiatan Khalifah al-Mansur, datanglah Muqatil bin Sulaiman rahimahullah. Kemudian sang khalifah pun berkata kepadanya, ”Nasihatilah aku wahai Muqatil!”

Beliau menjawab, “Apakah nasihat dengan apa yang pernah saya lihat, ataukah dengan apa yang pernah saya dengar?”

Khalifah menjawab, “Nasihatilah aku dengan apa yang pernah engkau lihat!”

Muqatil mulai memberikan nasihat, “Wahai Amirul mukminin, adalah Umar bin Abdil Aziz (khalifah yang terdahulu) mempunyai 11  anak. Akan tetapi saat meninggal, beliau hanya meninggalkan warisan 18 dinar saja. 5 dinar di antaranya untuk membeli kafan, 4 dinar untuk membeli pekuburan beliau, dan sisanya 9 dinar dibagikan kepada 11 anaknya.

Adapun Hisyam bin Abdul Malik (khalifah setelahnya) memiliki 11 orang anak juga, dan saat beliau wafat, masing-masing anak mendapatkan bagian 1 juta dinar.

Demi Allah wahai Amirul Mukminin..

Sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di satu hari yang sama, salah satu anak Umar bin Abdul Azis (yang hanya mendapatkan warisan 9/11 dinar) bersedekah 100 kuda perang untuk keperluan jihad fii sabilillah, sementara salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik yang mendapat warisan 1 juta dinar), sedang mengemis di dalam pasar..

Orang-orang pernah bertanya kepada Umar bin Abdul Azis saat menjelang wafatnya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?!”

Beliau menjawab,

“Aku tinggalkan untuk mereka ketakwaan kepada Allah. Ketika mereka menjadi orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih. Jika ternyata mereka bukan orang yang shalih, setidaknya saya tidak mewariskan kepada mereka sesuatu yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah.”

Redaksi | Hibiy ya riihal Iiman, Syeikh Khalid Abu Syadi

Hukum Shalat Memakai APD

Shalat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang muslim dalam segala kondisi. Lantas bagaimana wudhu dan shalat tenaga kesehatan di masa wabah ketika mereka mengenakan APD (alat pelindung diri)? Dalam situs islamqa yang diasuh oleh Syaikh shalih al-Munajid disampaikan sebagai berikut:

Pertama:

Tidak mengapa shalat dengan memakai baju pelindung dari virus (APD) meskipun wajah dan seluruh tubuhnya tertutupi selagi orang yang shalat mampu menempelkan hidung dan dahinya di tanah Ketika bersujud. Nabi bersabda:

  أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ 

“Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh anggota tubuh, di dahi dan memberikan isyarat ke hidungnya, kedua tangan, kedua lutut dan kedua ujung kakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Tidak diharuskan orang yang shalat bersentuhan langsung dengan anggota tubuh ini. Qodhi mengatakan, “Kalau sujud di atas sisa kain surban, atau buntalan atau ujung kainnya, maka shalatnya sah dalam satu Riwayat. Dan ini adalah mazhabnya Malik dan Abu Hanifah. Diantara yang memberikan keringanan bersujud di atas baju Ketika panas dan dingin adalah ‘Atho’, Thowus, Nakho’I, Sya’by, Al-Auza’I, Malik, Ishak dan Pengikut mazhab Abu Hanifah.

Sementara yang memberi keringanan boleh bersujud di atas surban adalah Hasan, Makhul, Abdurrahman bin Yazid. Sementara Syuraih memperbolehkan sujud di atas baju jubahnya. (Mugni; 1/305).

Syekh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang orang yang memakai kacamata besar sekali, tidak memungkinkan bersujud secara sempurna dengan seluruh anggota tubuh yang tujuh terkadang terhalangi sebelum hidungnya. Maka beliau menjawab,”Kalau hal itu menghalangi sampainya ujung hidung ke tanah waktu sujud, maka tidak diterima sujudnya. Hal itu karena yang membawa wajah adalah dua kacamata. Sementara keduanya bukan di ujung hidung bahkan keduanya menempel searah di kedua mata. Sehingga sujudnya tidak sah. Oleh karena itu orang yang memakai kacamata dan dapat menghalangi sampainya hidung ke tempat sujud, harus di lepaskan Ketika kondisi bersujud.” (Majmu Fatawa)

  • Dimakruhkan menutup hidung Ketika shalat, akan tetapi Ketika ada kebutuhan, yang makruh menjadi hilang.

Beliau mengatakan di kitab ‘Syarkhul Mumti’, “Perkataan ‘Yang menutupi mulut dan hidungnya maksudnya dimakruhkan menutupi mulut dan hidungnya. Dengan menaruh gutroh (kain penutup kepala atau surban atau simagh (kain penutup kepala) ke mulut juga ke hidungnya. Karena Nabi melarang seseorang menutup mulutnya waktu shalat. Juga karena hal itu menjadikan kesusahan dan tidak jelas keluarnya huruf Ketika membaca dan berzikir. Akan tetapi hal itu dikecualikan Ketika akan menguap dengan menutup mulutnya agar menahan tidak menguap. Hal ini tidak mengapa. Sementara kalau tidak ada sebabnya, maka hal itu dimakruhkan. Kalau disekitarnya ada bau busuk yang mengganggu Ketika shalat, dan membutuhkan penutup, maka hal itu tidak mengapa. Karena ada kebutuhan. Begitu juga kalau dia sedang flu dan dia mempunyai alergi kalau tidak ditutup mulutnya, ini juga termasuk kebutuhan diperbolehkan untuk menutup mulutnya.

Kedua:

Tidak mengapa Ketika berwudhu dia memakai baju pelindung diri. Ketika memungkinkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Dan mengusap kepalanya. Meskipun dengan memasukkan tangannya dengan air ke dalam bajunya. Diperbolehkan mengusap dua khuf (kaos kaki dari kulit) sehari semalam kalau dia mukim dan tiga hari tiga malam kalau dia musafir.

Mugiroh bin Syu’bah berkata, dahulu saya bersama Nabi dalam suatu perjalanan seraya beliau bersabda:

(يَا مُغِيرَةُ خُذِ الإِدَاوَةَ)، فَأَخَذْتُهَا، فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي، فَقَضَى حَاجَتَهُ، وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ شَأْمِيَّةٌ، فَذَهَبَ لِيُخْرِجَ يَدَهُ مِنْ كُمِّهَا فَضَاقَتْ، فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ أَسْفَلِهَا، فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ، وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ، ثُمَّ صَلَّى 

“Wahai Mugiroh ambillah timba, maka saya mengambilnya. Sementara Rasulullah berjalan sampai tidak terlihat dariku. Dan beliau menyelesaikan kebutuhannya. Dan beliau memakai jubah dari syam. dan mencoba mengeluarkan tangannya dari bajunya tapi kesempitan. Maka beliau keluarkan dari bawahnya. Dan saya siramkan air di atasnya. Dan beliau berwudhu untuk shalat. Dan mengusap di kedua khufnya (kaos kaki dari kulit) kemudian beliau menunaikan shalat. Sementara redaksi Muslim, “Beliau memakai jubah Syam dan sempit kedua tangannya.

Siapa yang mampu berwudhu dalam kondisi memakai baju pengaman maka tidak mengapa. Dan siapa yang tidak memungkinkan, maka dia harus melepaskan agar sempurna bersucinya. Kalau terjadi kesulitan dan kepayahan apalagi bagi para dokter yang mengharuskan hal itu di banyak waktu, maka dia diperbolehkan menjama’ antara dua dhuhur (dhuhur dan Asar) dan dua isya’ (magrib dan isya’) baik di dahulukan atau diakhirkan waktunya (taqdim atau ta’khir). Karena diantara sebab dipebolehkan menjama’ adalah menghilangkan kesulitan dan kepayahan sebagaimana Nabi memberikan keringanan bagi wanita yang tekena istihadhoh dalam menjama’ karena kesulitan bersuci pada setiap shalat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mengqosor (memendekkan shalat) sebabnya khusus bepergian saja. Tidak diperbolehkan di selain bepergian. Sementara menjama’ sebabnya adalah karena ada kebutuhan dan uzur. Kalau dibutuhkan menjama’ dalam safar baik pendek maupun panjang. Begitu juga menjama’ karena ada hujan dan semisalnya. Untuk orang sakit dan semisalnya. Dan sebab-sebab lainnya. Karena maksud dari semua itu adalah menghilangkan kesulitan dari umat ini.” (Majmu Fatawa: 22/293). Wallahu a’lam.

 

Oleh Redaksi (Naskah ini diterbitkan di majalah ar-risalah edisi 228 | Rubrik Fikih Nazilah)

 

Konsultasi: DP hangus Karena tidak Jadi Beli

Ustadz, di sekitar kita sering kita jumpai seseorang membeli suatu barang dengan memberikan uang muka atau DP (down payment) kepada penjual barang agar barang itu tidak dijual ke orang lain. Yang umum berlaku, uang muka itu hangus atau tidak bisa diminta lagi oleh pembeli, apabila ia tidak jadi melakukan pembelian. Apakah yang seperti itu diperbolehkan? (Muslim—Sukoharjo)

 

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Jual beli dengan memberikan uang muka kepada penjual barang dalam istilah fiqhnya disebut dengan bay’u al-‘urban atau bay’u al-‘urbun. Ada hadits berkenaan dengan larangan jual beli dengan uang muka ini.

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ

“Rasulullah saw melarang jual beli dengan uang muka.”

 

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Hanya,  keshahihan hadits ini diperselisihkan oleh para ulama hadits. Dan bertolak dari tidak shahihnya—juga beberapa alasan lain—para ulama berbeda pendapat mengenai hukum jual beli dengan uang muka atau DP seperti tergambarkan dalam pertanyaan saudara Muslim.

Para ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i mengharamkan bay’u al-‘urbun ini. Selain adanya hadits, menurut mereka, jual beli dengan uang muka ini mengandung perkara-perkara yang diharamkan Allah dalam jual beli. Perkara-perkara itu adalah: mengambil harta orang lain secara batil, adanya syarat yang rusak, dan adanya spekulasi antara jadi beli atau tidak (gharar).

Adapun para ulama madzhab Hambali—juga kebanyakan ulama masa kini—membolehkan bay’u al-‘urbun. Selain karena dhaifnya hadits, ada atsar dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau melakukannya. Ada juga keterangan bahwa Ibnu ‘Umar, Sa’id bin Musayyib, dan Muhammad bin Sirin membolehkannya.

Menanggapi klaim dari mereka yang mengharamkan jual beli ini mengenai uang muka atau DP yang diambil oleh penjual jika transaksi tidak jadi, bahwa itu termasuk mengambil harta orang lain secara batil, para ulama yang membolehkan jual beli ini menyatakan, “Uang muka (DP) adalah kompensasi yang diberikan kepada penjual yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu. Dia telah kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Jadi, tidaklah benar pandangan yang mengatakan bahwa uang muka diambil begitu saja.”

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa mereka yang membolehkan jual beli dengan uang muka ini mensyaratkan adanya batasan waktu menunggu bagi penjual, selain kerelaan dari kedua belah pihak. Maknanya jika pada saat jatuh tempo pembeli tidak datang atau tidak ada kabar kepastian darinya, pembeli boleh menjualnya ke pihak lain dan dia berhak atas uang muka yang diberikan oleh pembeli. Meskipun demikian, jika penjual mengembalikan uang muka kepada pembeli, itu adalah yang terbaik. Wallahu al-Muwaffiq.

Oleh: Redaksi ar-risalah

Khutbah Jumat: Hanya Berharap Kepada Allah

KHUTBAH JUMAT:
Hanya Berharap Kepada Allah

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْأَمْوَالِ، وَأَبَاحَ لَنَا التَّكَسُّبَ بِهَا عَنْ طَرِيْقِ حَلاَلٍ، وَشَرَعَ لَنَا تَصْرِيْفَهَا فِيْمَا يُرْضِيْ الْكَبِيْرَ الْمُتَعَالَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَكْرَمُ النَّاسِ فِيْ بَذْلِ الدُّنْيَا عَلَى الْإِسْلاَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَأَدُّوْا مَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ فِيْ أَمْوَلِكُمْ

 

 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan iman dan islam di dalam jiwa dan raga. Dua karunia sebagai bekal Sentosa di dunia dan alam setelahnya. Allah juga masih memberi kita nikmat aman menjalankan syariat agama. Menunaikan shalat tanpa todongan senjata, membaca quran dan mengagungkan syiar islam tanpa takut hilang nyawa.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunah Rasulullah hingga hari kiamat.

Tak lupa khatib mewasiatkan takwa kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah semua, lantaran takwa menjadi bekal terbaik untuk menghadap sang pencipta.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Istilah fakir, sering diidentikkan dengan orang yang tidak memiliki harta yang cukup untuk kelangsungan hidup secara layak. Karenanya, dalam aturan fikih orang fakir berhak menerima zakat. Inilah satu makna dari fakir, tidak memiliki harta yang bisa menutupi kebutuhan hidupnya.

Namun makna kefakiran yang lebih umum adalah ‘ibaaratun ‘an faqdi maa huwa muhtaajun ilaihi’, ungkapan terhadap ketiadaan sesuatu yang dibutuhkan, seperti yang dijelaskan al-Ghazali dalam Ihya’-nya. Dari sudut pandang ini, seseorang cukup dikatakan fakir ketika masih ada kebutuhan atau keperluan yang belum bisa ia dapatkan. Maka tidak diragukan lagi, bahwa segala yang ada selain Allah Ta’ala adalah fakir. Firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ [فاطر/15]

 “Wahai manusia, kamulah yang fakir kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sisi kefakiran manusia bisa dibilang nyaris atau bahkan tak terhingga, karena hajat keperluan manusia memang tak ada hingganya. Selalu ada tuntutan kebutuhan yang ingin diraihnya, sebagai apapun dan kapanpun ia berada. Yang sakit butuh sembuh, yang sehat ingin berkarya. Yang miskin ingin kaya, yang kaya ingin wibawa. Karyawan butuh pekerjaan, pengusaha pun butuh karyawan. Rakyat mengharap bantuan pejabat, pejabat juga butuh dukungan rakyat. Yang bujang ingin menikah, yang menikah ingin memiliki anak, yang memiliki anak ingin juga agar anak bisa berbakti kepadanya. Dan begitulah, setiap manusia memiliki sisi kefakiran, selalu ada kebutuhan yang ingin diraihnya.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Karena fakirnya manusia, maka tatkala manusia membantu orang lainpun, sebenarnya ia lakukan demi membantu dirinya sendiri. Karena tak ada bantuan tanpa pamrih, tak ada pertolongan yang murni tanpa tendensi. Dengan kata lain, ketika sesorang berbuat baik kepada orang lain, cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung sejatinya kebaikan itu hanyalah jembatan yang ia gunakan untuk membantu dirinya sendiri mendapatkan apa yang ia butuhkan.

Yang membedakan manusia dari sisi ini hanyalah jenis tendensi yang dmiliki dan lebih khusus lagi, kepada siapa harapan itu ditujukan.

Ada seseorang yang berbuat baik kepada orang lain, tapi tujuan ia membantu karena ingin mendapat sesuatu yang sama atau lebih dari orang yang dibantunya. Seandainya tak ada gambaran keuntungan yang bisa diharapkan dari orang yang hendak dibantunya, niscaya ia tidak akan membantunya.

Seperti membantu tetangga dalam penyelenggaraan resepsi agar kelak tetangga membantunya pula saat ia menyelenggarakan resepsi. Memberi kado pernikahan agar saat dia menikah juga mendapat kado balasan. Atau mengulurkan bantuan kepada orang lain agar yang dibantu bisa memberikan peluang pekerjaan, dan masih banyak lagi kasus yang lain. Singkatnya, sebenarnya ia yang membutuhkan bantuan, lalu dia membantu orang lain agar kebutuhnnya terpenuhi.

Balasan yang diharapkan, tak selalu berupa materi. Karena ada orang-orang yang sudah berkecukupan secara materi, tapi masih membutuhkan ucapan terimakasih, butuh pengakuan, penghormatan, penokohan atau hanya sekedar kalimat pujian.

Seandainya bantuannya tidak membuahkan apa yang mereka kehendaki, niscaya akan ada keluhan dan penyesalan. “Si fulan tidak tahu terimakasih…air susu dibalas air tuba…kacang lupa kulitnya,” dan banyak lagi keluhan senada dilontarkan.

Dan selagi seseorang membantu orang lain agar orang lain membantunya, dia harus bersiap-siap untuk kecewa. Karena manusia banyak lupa akan jasa orang lain terhadapnya. Dan sebagian lagi tidak menganggap istimewa bantuan kita, dan yang lain memang tidak pandai berterimakasih.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Yang paling istimewa adalah orang yang membantu orang lain, namun dia berharap gantinya kepada Allah. Tak masalah baginya membantu orang yang sudah dikenal atau belum dikenalnya, ada potensi balas budi atau tidak, baginya tidak menjadi soal, karena bukan balasan dari mereka yang diharapkan, tapi balasan dari Allah.

Seperti perkataan ‘al-abraar’ orang-orang yang berbakti dalam firman-Nya,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. al-Insan 9)

Dia tidak menjadi sedih lantaran kebaikannya tak dibalas secara layak, tidak disambut dengan ucapan terimakasih, atau bahkan mendapat perlakuan yang sebaliknya. Karena memang bukan dari mereka balasan diharapkan. Mereka yakin, Allah tidak melupakan kebaikannya, akan menghargai usahanya dan membalasnya dengan balasan yang lebih baik, dan Allah tidak pernah salah dalam mengkalkulasi kebaikan pelakunya. Dan hanya Allah yang bisa membalas kebaikan dengan sempurna, bagi orang yang memang berharap kepada-Nya.

Firman Allah Ta’ala,

 وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ ﴿٢٧٢﴾

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Baqarah: 272)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Begitu dalamnya penghayatan seorang ulama tabi’in Rabi’ bin Khutsaim dalam persoalan ini. Hingga di saat sakit, ia memberikan roti kesukaannya kepada seorang pengemis tua yang tampak kurang waras. Hingga anaknya berkata, “Semoga Allah merahmati ayah, ibu telah bersusah payah membuatkan roti istimewa untuk ayah, kami sangat berharap agar ayah mau menyantapnya, namun tiba-tiba ayah berikan roti itu kepada orang linglung yang tidak tahu apa yang sedang dimakannya.” Beliau menjawab dengan bijak, “Wahai putraku, kalaupun ia tidak tahu apa yang dimakannya, maka sesungguhnya Allah Maha Tahu.”

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Begitulah, semua manusia memang fakir, akan tetapi hendaknya kefakiran kita tertuju kepada Allah, bukan kepada makhluk yang sama-sama fakir. Ya Allah, rahmat-Mu senantiasa kami harapkan, maka janganlah Engkau serahkan nasib kami kepada kami sendiri meskipun sekejap mata. Perbaikilah urusan kami seluruhnya, tiada ilah yang haq kecuali Engkau. Aamiin.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُم واَلأَمْوَاتِ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

Tidak Mau Tinggal dengan Mertua

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya menikah dan tinggal terpisah dengan rumah keluarga saya. Ada banyak masalah di antara istri dan ibu saya, sehingga mereka tidak bisa tinggal di satu rumah. Di satu sisi saya mencintai istri dan ingin agar dia bahagia, tapi di sisi lain saya ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua.

Ustadz, orangtua saya meminta kami agar tinggal bersama mereka. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mematuhi orang tua dan menceraikan istri jika dia tidak mau ikut tinggal bersama, atau saya harus lebih mengutamakan istri dan keluarga kecil saya?

Atas nasihat ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang bingung

Di bumi Allah

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang dirahmati Allah, saya bisa memahami dilema yang sedang Anda alami atas dua keinginan sama-sama sulit. Di mana Anda berkeinginan kuat agar keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Tetapi jika dua hal memang tidak bisa dipadukan, bukankah tidak bijaksana jika kita memaksakannya?

Dalam hal ini yang perlu Anda pahami pertama adalah wajibnya ketaatan dan pelayanan istri kepada suami adalah terhadap diri suami itu saja, bukan kepada keluarga besar suami. Sehingga jika Anda berkeinginan untuk membawa istri masuk ke dalam keluarga besar dan melayani mereka, Anda harus membicarakannya baik-baik sebelumnya. Hal ini agar istri menerimanya dengan ridha dan ikhlas sehingga mudah menjalankannya sebagai tambahan kebaikan baginya.

Namun di sisi lain, Anda juga harus memahami besarnya hak orang tua, terutama ibu atas diri Anda. Sehingga yang diperlukan adalah pembagian waktu yang baik, serta komunikasi yang sehat. Anda jelaskan kepada keduanya bahwa masing-masing memiliki hak atas diri Anda dan hal itu bukanlah untuk dipertentangkan.

Anda tidak bisa memaksa istri untuk tinggal bersama ibu Anda jika dia tidak ikhlas menerimanya. Namun hal itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk berbakti kepada ibu Anda. Carilah tempat yang tidak terlalu jauh sesuai kemampuan Anda agar tetap bisa mengunjungi dan berbakti kepada orang tua. Jangan menyerah untuk terus mengkomunikasikan pilihan Anda agar orangtua dan istri bisa mengerti dan ridha. Katakanlah bahwa hal itu justru demi kebaikan semua pihak.

Jangan lupa berdoa kepada Allah agar memberikan yang terbaik dan kemampuan untuk menyelesaikan maslah Anda dalam keridhaan-Nya.

Selamat mencoba dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

Khutbah Jumat: Fatamorgana Amalan Semu

KHUTBAH JUMAT:
Fatamorgana Amalan Semu

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْأَمْوَالِ، وَأَبَاحَ لَنَا التَّكَسُّبَ بِهَا عَنْ طَرِيْقِ حَلاَلٍ، وَشَرَعَ لَنَا تَصْرِيْفَهَا فِيْمَا يُرْضِيْ الْكَبِيْرَ الْمُتَعَالَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَكْرَمُ النَّاسِ فِيْ بَذْلِ الدُّنْيَا عَلَى الْإِسْلاَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَأَدُّوْا مَا أَوْجَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ فِيْ أَمْوَلِكُمْ

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan iman dan islam di dalam jiwa dan raga. Dua karunia sebagai bekal Sentosa di dunia dan alam setelahnya. Allah juga masih memberi kita nikmat aman menjalankan syariat agama. Menunaikan shalat tanpa todongan senjata, membaca quran dan mengagungkan syiar islam tanpa takut hilang nyawa.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunah Rasulullah hingga hari kiamat.

Tak lupa khatib mewasiatkan takwa kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah semua, lantaran takwa menjadi bekal terbaik untuk menghadap sang pencipta.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sepantasnya kita menjadi hamba yang bersyukur. Dengan karunia-Nya Allah membuka banyak sekali peluang-peluang kebaikan dari segala sisi. Hingga dengan mudah orang-orang yang memiliki semangat bisa mendatangi pintu demi pintu kebaikan. Apalagi, setiap kebaikan yang kita lakukan dilipatkan pahalanya sepuluh hingga tujuh ratus kali, atau bahkan lebih, wal hamdulillah.

Tapi, harus pula diwaspadai, jangan sampai kita seperti mengisi air di bejana yang bocor bagian bawahnya. Rajin mengumpulkan pahala, namun membiarkan kerusakan yang menyebabkan pahala menjadi sirna tak tersisa. Atau yang diumpamakan oleh Allah dengan ‘habaa’an mantsuura’, bagai debu yang berterbangan. Allah berfirman,

 وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا ﴿٢٣

“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ibnu al-Jauzi rahimahullah menafsirkan bahwa maksud, “Apa yang dahulu telah mereka amalkan” yaitu berupa amal-amal kebaikan. Sedangkan Imam al-Baghawi menjelaskan makna “bagaikan debu yang beterbangan” yakni sia-sia, tidak mendapatkan pahala.

Kelak di akhirat akan ada orang-orang yang tercengang. Jerih payah tenaga, pengorbanan harta, perlakuan baik kepada sesama tapi tak ia dapatkan dalam timbangan kebaikan.

Di dunia mereka bisa jadi banyak bersilaturahmi, menolong orang-orang yang terkena musibah, melayani tamu dengan baik, menyantuni fakir miskin, dan bahkan ada yang digelari pahlawan lantaran berkorban nyawa, semuanya bisa sia-sia tak berguna.

Bukan karena Allah tidak menghargai jerih payah mereka, akan tetapi usaha mereka memang bukan untuk Allah, atau mereka berbuat dengan sesuatu yang berbeda dengan apa yang Allah perintahkan. Yang paling sia-sia amal perbuatannya adalah orang-orang kafir. Kebaikan yang mereka lakukan semu bagaikan fatamorgana. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّـهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّـهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿٣٩﴾

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An Nuur (24): 39)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Fatamorgana adalah bayangan yang terjadi akibat panasnya sinar matahari di siang hari menimpa tanah datar di padang pasir, sehingga pasir yang panas dan gersang itu terlihat bagai genangan air. Orang yang kehausan pun akan gembira melihatnya dan bersegera mendekatinya. Tapi, dia tak akan mendapatkan apa pun karena air yang tampak itu hanyalah sebuah fatamorgana. Itulah perumpamaan bagi kebaikan semu yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di barisan orang-orang yang telah berislam, ada pula orang yang terancam amalnya sia-sia. Yakni orang-orang yang beramal secara tidak ikhlas dan tidak pula mengikuti rambu-rambu yang telah digariskan oleh syariat.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Setiap amalan yang tidak ikhlas dan tidak berada di atas ajaran syari’at yang diridhai Allah, maka itu adalah perbuatan yang batil atau sia-sia.”

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Amat disayangkan, ketika seseorang bersemangat melakukan suatu bentuk ibadah, ternyata amalnya tertolak. Karena meskipun maksudnya baik, namun apa yang dilakukan berbeda dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Allah menghendaki manusia beribadah dengan mengikuti Nabi, sedangkan manusia lebih suka berkreasi dan mencari jalan sendiri. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amal yang tidak tuntunan dariku maka tertolak.” (HR Muslim)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Balasan ini sangat wajar, bagaimana seseorang hendak meminta imbalan kepada Allah sementara ia bekerja tidak sesuai order dan perintah-Nya? Maka keberuntungan adalah bagi orang yang mencukupkan diri dengan sunnah Nabinya dalam beribadah. Ittiba’ adalah cara paling efektif untuk memproduksi pahala, sedangkan bid’ah adalah pemborosan amal. Seringkali lebih berat dan lebih lama, tapi tak ada hasilnya apa-apa.

Ambil contoh, kita pasti yakin bahwa shalat Shubuh dua rekaat lebih utama daripada tiga rekaat, meskipun lebih ringan dan singkat. Kenapa? Karena Nabi mencontohkan dengan dua rekaat. Bahkan shalat Shubuh dengan tiga rekaat menjadi tertolak ketika dilakukan dengan unsur kesengajaan, bukan karena lupa.

Begitupun dengan dzikir setelah shalat, membaca tasbih 33 kali tentu lebih utama daripada membacanya sebanya 3333 kali. Karena lebih sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.

Penyebab lain yang membuat amal menjadi sia-sia adalah riya’ dan tidak ikhlas. Karena Allah hanya menerima amal yang ditujukan untuk-Nya. Inipun sesuatu yang adil. Bagaimana pantas seseorang meminta imbalan kepada Allah di akhirat sementara ia di dunia bekerja untuk selain-Nya?

Abu Ishaq al-Fazari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diantara manusia ada orang yang sangat bangga atas pujian orang kepadanya, padahal di sisi Allah dia tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk.”

Orang yang suka pamer, biasanya tampak shalih di hadapan orang tapi tak takut dosa saat sendirian. Seakan ia bersembunyi dari manusia tapi tak bersembunyi dari Allah ketika berbuat dosa. Perbuatan ini terancam dengan sirnanya amal baik yang telah dilakukan.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

يؤتى يوم القيامة برجال لهم أعمال كجبال تهامة ييضا فيجعلها الله هباء منثورا،لأنهم كانوا إذا اختلوا بمحارم الله انتهكوها

“Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak seperti bukit Tihamah kemudian Allah menjadikannya seperti debu yang beterbangan.” Maka mereka -sahabat- bertanya, “Wahai Rasulullah, berikanlah ciri mereka kepada kami agar kami tidak termasuk golongan mereka dalam keadaan tidak sadar.” Maka beliau menjawab,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Adapun, mereka itu adalah saudara-saudara kalian, kulitnya seperti kalian, mereka ambil bagian di waktu malam (untuk shalat) sebagaimana kalian. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang apabila bersepi-sepi dengan apa yang diharamkan Allah maka mereka pun menerjangnya.” (HR Ibnu Majah ,dishahihkan oleh al-Albani)

Semoga Allah menerima semua amal kebaikan kita, aamiin.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُم واَلأَمْوَاتِ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

Suami Tanpa Rasa Cemburu

Namanya ‘Dayyuts’. Satu di antara manusia yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat nanti, juga tidak akan dimasukkan ke dalam jannah. Tentu saja ia adalah sebutan yang tidak pantas melihat betapa besar ancaman Allah kepadanya, meski bagi sebagian orang yang tidak mengerti, kata itu terdengar indah di telinga. Ya, dayyuts adalah dosa besar!

‘Dayyuts’ adalah sebutan untuk suami atau pengendali keluarga yang tidak memiliki rasa cemburu (ghirah), meski anggota keluarganya melakukan perbuatan keji dan tidak senonoh. Dia membiarkan mereka melakukan hal itu meski dia tahu, melihatnya, dan mestinya, mampu menindaknya. Baik secara lisan maupun tindakan.

Dia membiarkan kemungkaran terjadi dalam wilayah kekuasaannya tanpa perasaan terluka. Dalam hal ini, patutlah kiranya jika kita merenungkan hikmah dari Imam al-Hasan, “Demi Allah, tidaklah seorang suami yang selalu menuruti apa kata dan keinginan istrinya, melainkan Allah akan mengekangnya di neraka.”

Dayyuts adalah suami yang mandul menjalankan perannya sebagai penyelamat keluarganya dari api neraka. Dia salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya. Terbuai oleh angan-angan kosong tentang arti kebahagiaan, namun tidak tahu untuk apa berkeluarga selain menyetujui apa saja yang menjadi kesenangan anggota keluarganya meski hal itu bertentangan dengan syariat. Dia adalah suami yang menghambakan diri kepada istri dan anak-anaknya, bukan kepada Allah.

Wujud perilaku dayyuts bisa bermacam-macam. Suami yang memiliki kecukupan materi, terbuai oleh kenikmatan dunia dan terpesona oleh gaya hidup modern yang materialistik. Merasa bahwa hal itulah yang seharusnya mereka lakukan, bahkan mereka banggakan. Tanpa malu bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi tempat-tempa hiburan atas nama lifestyle, membiarkan anggota keluarga ber-tabarruj (bersolek) dengan tujuan memamerkan kecantikan mereka kepada publik, seolah ingin menunjukkan kesuksesannya membiayai kecantikan itu.

Ada juga yang membiarkan anggota keluarganya berkenalan dengan lawan jenis non mahram atas nama pergaulan modern, bercampur baur tanpa hijab, menebarkan senyum kepada semua orang, bernyanyi-nyanyi di karaoke, atau berjoget di klub-klub malam. Atau membuka pintu rumah selebar-lebarnya untuk siapapun yang datang bertamu, baik dia ada di rumah atau tidak, bahkan mengizinkan anggota keluarganya dibawa pergi keluar oleh si tamu itu atas dalih kebebasan, aktifitas ektra kurikuler, belajar bersama, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar di luar sana.

Dia tidak menyadari bahwa apa dilakukannya bukanlah sebuah kebaikan. Hal itu sangat menghinakan, tidak pantas, dan memalukan. Karena hilangnya ghirah dalam hati seseorang, berarti pertanda matinya hati dan lemahnya iman. Padahal rasa cemburu itulah yang akan menghidupkan hati dan menggerakkan kebaikan atas anggota badan dengan menolak berbagai perilaku maksiat yang dilakukannya.

Dayyuts adalah suami yang menjerumuskan orang-orang yang menjadi tanggungannya di akhirat nanti ke dalam kerusakan dan kehancuran yang nyata. Orang-orang yang harusnya dia kasihi dan cintai, dibiarkannya terinjak-injak kehormatan mereka tanpa pembelaan yang berarti. Pertanda kebodohan dan kelemahan sekaligus! Padahal Rasulullah telah bersabda, “Cukuplah seseorang disebut ‘berdosa’ jika dia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Wahai para suami yang bingung menjalani perannya, di manakah ghirah kalian? Mengapa kalian melupakan kewajiban asasi kalian sebagai pengayom dan pelindung keluarga? Kenapa kalian biarkan wanita-wanita kalian keluar rumah tanpa hijab, sedang hal itu merusakkan penghalang antara mereka dengan Allah?

Padahal sebagai kepala keluarga, kita mestinya merasa sakit hati dan cemburu jika maksiat telah dilakukan oleh anggota keluarga kita. Kenyataan pahit bukti kegagalan kepemimpinan kita yang harusnya membuat kita marah dan bergegas melakukan perbaikan untuk menegakkan hukum Allah di dalam keluarga kita. Dalam hal ini, Imam ad-Dzahabi mengatakan, “Sungguh tidak ada kebaikan sama sekali padanya, (yakni) pada orang yang tidak memiliki kecemburuan.”

Tahukah kita tentang kecemburuan shahabat Sa’ad bin Ubadah? Dia pernah berkata, “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki berduaan dengan istriku, niscaya akau akan menyabetnya dengan pedang!” Dan ketika ucapan itu akhirnya disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Apa kalian merasa heran akan ghirah Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, demi Allah, aku lebih cemburu dari padanya!” Subhanallah!

Sekarang saatnya kita berbenah untuk menunjukkan kedudukan kita sebagai kepala keluarga sejati. Yang peduli akan kebaikan asasi bagi anggota keluarga kita dengan tidak membiarkan berbagai bentuk penyimpangan syariat terjadi di bawah kendali kita. Sebab kita akan ditanya tentang hal itu semua.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi atas materi dan fasilitas hidup, namun juga pemenuhan atas kebutuhan arahan dan bimbingan dalam menjalani kebenaran hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Setuju?

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Hukum Zakat Profesi

Banyak masyarakat menanyakan tentang hukum zakat profesi. Sebagian kalangan menyatakan bahwa zakat profesi tidak ada dalam Islam, karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. Sebagian lain mengatakan bahwa zakat profesi terdapat dalam Islam. Bagaimana sebenarnya? Tulisan di bawah ini menjelaskannya:

Pengertian Zakat Profesi

Yang dimaksud dengan zakat profesi adalah zakat dari penghasilan yang didapat dari keahlian tertentu, seperti dokter, arsitek, guru, penjahit, da’i, mubaligh, pengrajin tangan, pegawai negeri dan swasta. Penghasilan seperti ini di dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-mal al mustafad (harta yang didapat).

Sebagian kalangan yang berpendapat bahwa zakat profesi itu tidak terdapat dalam ajaran Islam, mengatakan bahwa zakat profesi tidak ada pada zaman Rasulullah, yang ada adalah zakat mal (zakat harta). Kalau kita renungkan, sebenarnya zakat profesi dengan zakat mal itu hakikatnya sama, hanya beda dalam penyebutan. Karena siapa saja yang mempunyai harta dan memenuhi syarat-syaratnya, seperti lebih dari nishab dan berlangsung satu tahun, maka akan terkena kewajiban zakat. Baik harta itu didapat dari hadiah, hasil suatu pekerjaan ataupun dari sumber-sumber lain yang halal.

Sebagian kalangan yang mengingkari adanya zakat profesi disebabkan mereka tidak setuju dengan cara penghitungannya yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Padahal para ulama yang mewajibkan zakat profesi berbeda pendapat di dalam cara penghitungannya, tidak semuanya mengqiyaskan kepada zakat pertanian. Kalau mereka tidak setuju dengan satu cara, mestinya bisa memilih cara lain yaitu dengan mengqiyaskannya kepada zakat emas, dan tidak perlu menolak mentah-mentah zakat profesi.

Dasar Zakat Profesi

Adapun dasar diwajibkan zakat profesi adalah firman Allah:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang – orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman bersedekahlah (keluarkanlah zakat) dari apa yang baik- baik dari apa yang kalian usahakan“ (QS. Al-Baqarah: 267)

Dalam Muktamar Internasional Pertama tentang Zakat di Kuwait pada tanggal 29 Rajab 1404 H, yang bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M, para peserta sepakat akan wajibnya zakat profesi jika sampai pada nishab, walaupun mereka berbeda pendapat tentang cara pelaksanaannya.

Pembagian Harta Penghasilan

Harta penghasilan bisa dibedakan menjadi dua bagian:

Pertama: Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil panen padi, dan telah dikeluarkan zakatnya 5% atau 10 %, maka harta tersebut tidak perlu dizakati kembali pada tahun yang sama, karena harta asalnya sudah dizakati, hal ini untuk mencegah terjadinya dua kali zakat.

Kedua: Penghasilan yang berasal dari pekerjaan tertentu yang belum dizakati, seperti gaji, upah, honor dan sejenisnya. Maka harta tersebut harus terkumpul selama satu tahun dan dikurangi kebutuhan pokok. Jika sampai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 % menurut pendapat yang lebih benar.

Ketentuan Zakat Profesi

Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan cara mengeluarkan zakat profesi:

Pendapat Pertama: zakat profesi ketentuannya diqiyaskan kepada zakat perdagangan, artinya nishab, kadar dan waktu mengeluarkannya sama dengan zakat perdagangan. Nishabnya senilai 85 gram emas, kadarnya 2,5 persen dan waktu mengeluarkan setahun sekali setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Sebagai contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 10.000.000 Kebutuhan pokoknya Rp. 3.000.000 maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp.10.000.000 – Rp.3.000.000 = Rp.7.000.000

Rp.7.000.000 X 12 bulan = Rp 84.000.000

Rp. 84.000.000 X 2,5 % = zakat yang harus dikeluarkan (Rp.2.100.000 pertahun atau 175.000 perbulan.)

Pendapat kedua: zakat profesi diqiyaskan kepada zakat pertanian. Artinya setiap orang yang mendapatkan uang dari profesinya langsung dikeluarkan zakatnya, tanpa menunggu satu tahun terlebih dahulu. Tetapi besarnya mengikuti zakat emas, yaitu 2,5 %.

Contoh: Seorang pegawai swasta berpenghasilan setiap bulannya Rp. 3.000.000, maka cara penghitungan zakatnya adalah :

Rp. 3.000.000 X 2,5 % = Rp. 7.500

Jika di jumlah dalam satu tahun berarti: Rp. 7.500 X 12 = Rp. 90.000

Kalau kita perhatikan contoh di atas, ada beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian:

Pertama: uang yang berjumlah Rp. 3.000.000 tersebut langsung terkena zakat, walaupun secara teori belum sampai pada batasan nishob, 20 Dinar = 85 gram emas = Rp. 42.500.000 (kurs emas Rp. 500.000/gram). Mereka mengqiyaskan kepada zakat pertanian, yaitu setiap panen harus dikeluarkan zakatnya.

Kedua: di sisi lain mereka tidak memperhitungkan nishab, padahal jika mau mengqiyaskan kepada zakat pertanian, harus ditentukan nishabnya terlebih dahulu, yaitu 5 wasaq = 653 kg.

Ketiga: di sisi lain juga, mereka menentukan besaran uang zakat profesi yang harus dikeluarkan dengan mengqiyaskan kepada zakat emas, yaitu 2,5 %. Disinilah letak kerancuannya karena mereka mengqiyaskan zakat profesi kepada dua hal, pertama: mengqiyaskan kepada zakat pertanian dalam tata cara pengeluarannya dan mengqiyaskan kepada zakat emas dalam menentukan besaran uang yang dizakati.

Ditambah lagi, ketika mengqiyaskan zakat profesi kepada zakat pertanian, mereka juga tidak konsisten, karena tidak menentukan nishab, padahal zakat pertanian itu ada ketentuan nishabnya.

Tentunya pendapat kedua ini sangat lemah dari sisi dalil dan sangat merugikan dan membebani para pegawai, khususnya yang berpenghasilan pas-pasan.

Tetapi anehnya, justru inilah yang banyak diterapkan di lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta. Mereka dipotong gajinya sebanyak 2,5 % tiap bulannya, padahal sebagian pegawai ada yang gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Walaupun hal ini menguntungkan fakir miskin, tetapi merugikan dan mendhalimi pegawai yang gajinya pas-pasan.

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa zakat profesi diakui oleh syariah dan mempunyai landasan dari al-Qur’an dan sunnah sebagaimana yang tersebut di atas. Zakat profesi hanya sebuah istilah, kalau tidak setuju dengan istilah ini, bisa menyebutnya dengan zakat maal.

Adapun cara pengeluarannya dan besaran uang yang harus dikeluarkan dari zakat profesi ini mengikuti tata cara dan besaran dalam zakat emas, dan harus sudah melalui waktu satu tahun. Wallahu A’lam.

Qatar, 17 Sya’ban 1433 H/ 10 Juli 2012

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Agar Nabi Mendoakanmu

Siapa yang tak ingin didoakan secara langsung oleh rasulullah ﷺ!? Tentunya semua orang beriman ingin dan sangat berharap bisa didoakan Nabi ﷺ. Namun kiranya hal itu tidak bisa terjadi karena rasulullah telah meninggalkan kita jauh-jauh hari. Meski demikian, dalam banyak sabdanya, beliau mendoakan umatnya; dengan rahmat, ampunan ataupun keberkahan kepada orang-orang yang mengamalkan ibadah-ibadah berikut:

Nabi ﷺ memohonkan ampunan, rahmat atau keberkahan untuk orang-orang yang berbuat amal shalih berikut.

Beberapa amalan tersebut adalah:

  1. Shalat Qabliyah Asar 4 Rekaat

رحِم اللهُ امرأً صلَّى قبْلَ العصرِ أربعًا). رواه الترمذي (430) وأبو داود (1271)

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat sebelum ashar empat rekaat”  (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

 

  1. Imam dan Muadzin

(الْإِمَامُ ضَامِنٌ ، وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ ، اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ ، وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ). رواه أبو داود

“Imam adalah penjamin, dan muadzin adalah orang yang dipercaya, Ya Allah berilah petunjuk bagi imam dan berikan ampunan bagi muadzin” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Berhaji

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ .

“Ya Allah ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimohonkan ampunan olehnya” (HR. Thabrani)

 

  1. Pasutri yang Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

رحمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى، ثمَّ أيقظَ امرأتَهُ فصلَّت، فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ، ورحمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فصلَّت ، ثمَّ أيقَظَت زوجَها فصلَّى، فإن أبى نضحَت في وجهِهِ الماءَ). رواه أبو داود

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Bermudah dalam Menjual, Membeli dan Menuntut Hak

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إذا باعَ، وإذا اشْتَرَى، وإذا اقْتَضَى).رواه البخاري

“Allah merahmati orang yg memudahkan ketika menjual & ketika membeli & juga orang yg meminta haknya.” (HR. Bukhari)

 

  1. Orang yang Berkata Baik atau Diam Menahan untuk Tidak Berkata yang Buruk

رحمَ اللهُ عبدًا قال خيرًا فغَنِمَ أو سكَتَ عن سوءٍ فسلِمَ

“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata baik ia pun beruntung atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Mubarak, Az-Zuhdi)

 

  1. Pemimpin yang Lemah Lembut Kepada Rakyatnya

اللَّهُمُّ مَنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشِقَّ عَلَيْهُمْ فَاِشْقَقْ عَلَيْهِ، وَمِنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرِفْقَ بِهُمْ فَاِرْفَقْ بِهِ). رواه مسلم

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. (HR. Muslim, no.182)

 

  1. Orang yang Menggunakan Waktu Awal Paginya untuk Kebaikan

اللهمَّ بارِكْ لِأُمَّتِي في بُكورِها). رواه الترمذي

“Ya Allah berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi)

 

  1. Mengembalikan Hak Orang yang Dizhalimi dan Meminta Kehalalannya

رَحِمَ اللهُ عبدًا كانت لِأَخِيهِ عنده مَظْلِمَةٌ في عِرْضٍ أو مالٍ فجاءه فاسْتَحَلَّهُ قبلَ أن يُؤْخَذَ وليس ثَمَّ دينارٌ ولا دِرْهَمٌ ، فإن كانت له حسناتٌ أُخِذَ من حسناتِه ، وإن لم تكن لهُ حسناتٌ حَمَّلُوا عليهِ سَيئاتِهم). رواه الترمذي

“Allah merahmati orang yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun lalu ia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya” (HR. Tirmidzi)

   10. Orang yang Menghafal dan Menyampaikan Hadits Nabi

(رَحِمُ اللهُ امرأً سَمِعَ مَنِّيُّ حَديثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ غيرَه.. الحديث). صححه الألباني

“Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain.”

 

Oleh: Redaksi/Fadhilah Amal

 

Khutbah Jumat: Pilih Janji ar-Rahman atau Bujukan Setan

Khutbah Jumat:
Antara Janji ar-Rahman atau Seruan Setan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia-Nya. Allah menempatkan kita di sebuah negeri yang dianugerahi banyak keistimewaan. Tanahnya mudah ditanami, banyak jenis pepohonan yang dapat tumbuh, hawa yang baik dan perairan yang luas. Sebuah nikmat yang luar biasa yang harus senantiasa kita syukuri. Syukur dalam arti mengguna kian nikmat itu untuk taat kepada-Nya, bukan hanya untuk memenuhi kesenangan nafsu pada kenikmatan dunia. Sebuah kenikmatan yang jika kita kufuri, akan berubah menjadi bencana yang membinasakan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ keluarga dan juga orang-orang yang senantiasa teguh membela sunahnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra, “Setan menjanjikanmu dengan kefakiran.”

Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar dan tak mungkin dusta.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut diindikasikan dengan beberapa keadaan;

Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup, menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan.

Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi ﷺ bersabda,

إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezeki dikarenakan dosa yang ia perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)

Jikalau pun seseorang mendapatkan rezeki dengan kemaksiatan, keberkahan akan dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.

Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan ketaatan kepada Allah.

Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70 tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?

Jamaah Jumat rahimakumullah

Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu, peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,

أَمَّنْ هَـٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ ﴿٢١﴾

“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)

Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tanda ketiga bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan berbagi.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan firman Allah,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦٨﴾

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)

Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”

Jamaah Jumat rahimakumullah

Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)

Sedangkan malaikat satunya berdoa,

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)

Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Ar-Rahman? Adapun seorang mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,

وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS al-Baqarah 268)

 

Demikian khutbah pertama ini.

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

Khutbah Kedua

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ibunda Para Ulama

Orang-orang hebat tak pernah jauh dari rahim yang taat. Maka sungguh benar makna syair di atas. Bahwa seorang ibu yang taat, shalihah, akan mencetak sebuah bangsa, yang nantinya akan membentuk sebuah peradaban luhur. Dan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan sesaat saja. Ta’dib, pendidikan, adalah perpaduan dari kesabaran panjang, perjuangan berat, kesungguhan tak kenal lelah, dan doa yang tak pernah putus menggetarkan langit.

Mari berkenalan dengan mereka, para ibunda shalihat, yang dari rahim mereka, lahirlah para ulama Islam. Sejarah menuangkan tinta emasnya mengabadikan keharuman nama mereka, yang telah berhasil mencetak sebuah bangsa, membentuk peradaban dengan ilmu dan pekerti yang luhur.

Ibunda Imam Malik

Beliau lah yang memakaikan baju bagus kepada putranya, Malik, memakaikan ‘imamah (penutup kepala yang lazim di Arab), lalu memotivasi putranya, “Pergilahke Rabi’ah (Rabi’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik), bergurulah kepadanya, ambillah adabnya sebelum ilmunya!”

Adab sebelum ilmu. Masya Allah! Betapa beliau faham, bahwa ilmu tidak berarti apa-apa tanpa adab yang baik.

Dan adab ini betul-betul ter-shibghah dalam diri Imam Malik. Kelak, beliau sangat menghormati ilmu, memuliakan haditshadits Rasulullah ﷺ, dengan memakai pakaian bagus dan memakai wewangian setiap kali hendak mengajar.

Imam Malik juga pernah menegur murid-muridnya saat ada yang meninggikan suara di majlis beliau. Beliau menganggap bahwa itu sama seperti meninggikan suara di hadapan Rasul. Padahal Allah melarang para shahabat untuk meninggikan suara di hadapan Rasul.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”  (QS. Al-Hujurat: 2)

Kelak, Imam Malik akan menjadi Imam Dar Al-Hijrah (Imamnya kota Madinah). Penulis kitab hadits Al-Muwaththo’, kitab yang menjadi dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits berikutnya.

Ibunda Imam Sufyan Ats-Tsauri

“Anakku, tuntutlah ilmu. Dan ibu akan mencukupimu dengan hasil memintal.” Itulah ucapan Ibunda Sufyan Ats-Tsauri saat putranya ragu.

Ingin menuntut ilmu, namun keyatiman dan kemiskinan menjadi kendala. Wasiat beliau kepada putranya, “Anakku, jika kamu menulis 10 huruf, lihatlah apakah hatimu bertambah khusyu’, lembut dan elok? Jika kamu tidak mendapatkannya, ketahuilah bahwa ilmu itu akan membahayakanmu, dan tidak membawa manfaat bagimu.”

Ilmu yang bermanfaat, itulah yang ditekankan oleh beliau. Ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat dengan Rabb-nya, hati bertambah takut, dan iman serta taqwa yang meningkat. Beliau juga yakin, bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya yang bersungguhsungguh karena-Nya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kelak, putranya akan menjadi Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin kaum mukmin dalam hadits).

Ibunda Imam Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i kecil lahir di Gaza, Palestina. Yatim, miskin. Usia 2 tahun, sang ibunda membawanya ke Makkah, kampung halaman keluarga ayah.

Keyatiman, kemiskinan bukanlah suatu penghalang dari seseorang menjadi mulia dengan ilmu. Beliau yakin akan hal ini. Dalam asuhan sang ibunda, Asy-Syafi’i hafal Qur’an usia 7 tahun. Hafal kitab AlMuwaththo’ karya Imam Malik (gurunya) usia 13 tahun.

Kelak, Asy-Syafi’i menjadi salah satu Imam Madzhab yang diikuti. Beliau diberi gelar Nashir Al-Haq Wa As-Sunnah (penolong kebenaran dan sunnah Nabi). Penulis 140 kitab.

Madzhabnya menjadi rujukan muslimin hingga kini. Bahkan, madzhab beliau dipakai oleh sebagian besar dari kita, muslimin Indonesia.

Ibunda Imam Al-Bukhari

Al-Bukhari lahir di Bukhara, Samarkand. Anak kecil yatim yang pernah buta. Sang ibunda tak pernah putus mendoakannya di sepertiga malam. Hingga suatu malam, sang ibunda berjumpa dengan Nabi Ibrahim as dalam tidurnya, “Wahai ibu, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena kamu sering berdoa kepada-Nya.” Keesokan harinya, penglihatan Al-Bukhari benar-benar telah kembali.

Bahagia dengan kembalinya penglihatan putranya, sang ibunda mewakafkan hidup putranya untuk ilmu. Usia 16 tahun, sang ibunda mengajaknya umrah ke Makkah bersama saudaranya. Seusai umrah, Al-Bukhari menetap di Makkah untuk menuntut ilmu. Sementara ibundanya kembali pulang bersama saudaranya.

Kelak, Al-Bukhari menjadi Syaikh AlMuhadditsin (gurunya para ahli hadits). Kitab beliau, Shahih Al-Bukhari, menjadi kitab rujukan paling shahih setelah Al-Quran.

Sungguh, doa seorang ibu untuk kebaikan dan keshalihan putra-putrinya adalah kendaraan terbaik bagi mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jimat keramat yang menjaga mereka sepanjang hidup.

Karena seyakin apapun kita terhadap upaya kita, kita tetap tidak sanggup menggenggam hidup kita sendiri. Lebih-lebih kehidupan anak-anak kita, cucu kita dan keturunan kita selanjutnya. Maka kepada Allah lah kita sungkurkan kening, mengakui kehinaan diri dan memohon penjagaan-Nya dengan penuh harap. Allah sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung hamba-Nya. Allahu a’lam

Oleh: Redaksi/Keluarga

Beberapa Cara Pelaksanaan Puasa Asyura

Muharram adalah bulan yang mulia, hingga Allah Ta’ala menjadikan bulan tersebut sebagai salah satu bulan haram, maknanya di bulan tersebut diharamkan melakukan pertumpahan darah (perang).

Empat bulan haram itu dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Islam Menyebut Bulan Muharram sebagai syahrullah (bulan Allah). Rasulullah bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”(HR. Muslim)

Bulan ini betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Az Zamakhsyari mengatakan, “Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut.”

Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.”

Maksud puasa disini adalah puasa secara mutlak. Dan minimalnya bagi kita tidak meninggalkan puasa Assyura yang merupakan kebiasaan para salaf.

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, “sesungguhnya Rasulullah melakukan puasa Assyura dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya”. (Muttafaq ‘alaih)

Sedangkan mengenai pahalanya termaktub dalam sebuah hadits. “Sesungguhnya Rasulullah ditanya tentang pahala puasa Assyura maka beliau bersabda ,” Akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim).

Adapun pelaksanaan puasa asyura ada beberapa cara antara lain:

  1. Berpuasa pada tanggal 10 Muharram dengan berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya

Rasulullah bersabda, “Berpuasalah kalian di hari asyura, dan selisihilah orang-orang yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya.” (HR. Al-Haitami)

  1. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Rasulullah bersabda, “”Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada

9 muharram.” (HR. Muslim)

  1. Berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram

Rasulullah bersabda, “Berpuasalah kalian di hari asyura, dan selisihilah orang-orang yahudi dengan

berpuasa sehari sebelumnya dan setelahnya.” (HR. Ahmad)

  1. Berpuasa sehari saja pada tanggal 10 muharram

Rasulullah bersabda, “Puasa di hari Asyura, sungguh aku mengharap kepada Allah dapat menggugurkan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

 

Redaksi/Fikih