Menumbuhkan Akhlak Anak Sejak Usia Dini

Setiap orang tua, tentu memiliki harapan besar bagi buah hatinya. Semua itu, tak hanya tersirat dalam sorot mata yang penuh pinta. Bahkan goresan pena “semoga menjadi anak sholeh/ sholehah” tertulis dengan berjuta impian dalam setiap lembar doa menyambut lahirnya makhluk kecil, yang sekian lama dinantikannya.

Namun seiring berjalannya waktu, tak sedikit orang tua yang justru mengeluhkan kehadiran anaknya. Katanya, mereka berkembang tak sesuai harapan. Apa pasalnya? Anak yang semula nampak lucu dan menyenangkan, kini sering berkata kasar, membantah orang tua bahkan tidak mengerti adab atau sopan santun. Hmm… kalau begitu, siapa ya yang harus diluruskan?

Jujur, para orang tua sering mengabaikan pendidikan akhlak bagi anaknya sejak usia dini. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi nyatanya terkadang kita tak bisa membedakan antara al khuluq (akhlak) dengan al khim (watak). Bahkan para orang tua sering menyamaratakan keduanya. Padahal, akhlak adalah tabiat yang bisa dibentuk. Sedangkan watak lebih kepada tabiat yang bersifat naluri.

Mari kita simak perkataan Ibn Qoyyim dalam kitabnya Ahkamul Maulud,  “Yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Dia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya memperbaiki hal tersebut ketika dewasa. Perangai ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika semua perangai itu akan muncul. Jadi, bila kita temui akhlak yang menyimpang dari kebanyakan manusia, bisa jadi karena pendidikan akhlak yang dilaluinya.”

Baca Juga: Jangan Cemas Bila Anak Tak Paham Pelajaran di Sekolahan

Maka jangan terburu-buru menyalahkan anak atau guru mereka di sekolah. Mungkin tanpa disadari, kita telah menanamkan deretan kekeliruan yang kemudian menjadi tabiatnya. Boleh jadi kita membiarkan mereka serba terburu-buru dalam menjalankan sesuatu. Makan terburu-buru, berangkat sekolah terburu-buru bahkan sholat pun terburu-buru. Hingga kebiasaan ini melekat, menjadi pribadi egois dan selalu kemrungsung dalam setiap tindak tanduknya. Atau, mungkin juga tanpa disadari kita selalu mengikuti kemauan anak. Hingga anak-anak tumbuh sebagai manusia manja dan keras kepala yang selalu berusaha memenuhi hawa nafsunya. Tanpa peduli dengan orang yang ada di sekitarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah membangun akhlak yang mulia itu? Jawabnya ada pada “Pendidikan Adab”.

Akhir-akhir ini, banyak orang tua yang cenderung melalaikan pendidikan adab bagi anak-anaknya. Menganggapnya sebagai hal sepele yang dapat diabaikan. Atas nama pola pendidikan modern, para orang tua membiarkan perilaku anak tanpa pagar sopan santun yang dibenarkan. Ia tidak tahu, yang demikian itu berarti menyiapkan anak-anak untuk berbuat durhaka. Ia tidak tahu bahwa menanamkan adab merupakan hak anak atas bapaknya sebagaimana hak mereka untuk diberi makan, dan minum yang menjadi kewajiban orang tuanya.

Sebenarnya urgensi adab akan tampak jelas dalam kehidupan seorang anak ketika bermuamalah dan bergaul. Khususnya bagaimana mereka menghormati yang tua maupun memperlakukan yang lebih muda. Rasulullah bahkan memberikan perhatian besar terhadap hal ini. Ibn Abbas meriwayatkan dari Ibn Majah, Rasulullah bersabada, “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.”

Baca Juga: Salah Kaprah Mendidik Anak

Tak heran, para salafush sholih juga memiliki perhatian besar terhadap hal ini. Mereka menumbuhkembangkan anak diatas pilar adab mulia. Ibrahim bin Habib bin Syahid menceritakan bahwa ayahnya pernah berucap, “Datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka. Ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka. Karena hal itu lebih aku sukai daripada banyak bicara.”

Jelaslah kini. Tujuan utama perhatian terhadap akhlak dibangun agar menjadi karakter dan perangai dalam diri anak. Adab yang baik akan menghasilkan akal yang efektif. Sedangkan dari akal yang efektif akan melahirkan  kebiasaan- kebiasaan yang baik. Dari kebiasaan baik melahirkan karakter terpuji; dari karakter terpuji melahirkan amal shalih; dan dari amal shalih akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Bila Allah ridha, maka akan muncul kejayaan bagi umat ini. In syaAllah.

Pendeknya, persoalan adab atau sopan santun bukanlah perkara main-main. Hal ini dapat menjadi tabiat yang sulit diubah bila telah melekat kuat. Masih banyak para orang tua yang membiarkan anaknya berlaku ‘tidak sopan’ ketika bertamu. Masih banyak anak-anak yang orang tuanya rajin menghadiri majelis takllim –bahkan sekolah di SDIT- namun tak peduli dengan orang yang lebih tua. Rupanya, ini juga PR besar bagi kita semua.

 

Oleh: Redaksi/Parenting Anak/Majalah ar-risalah edisi 166

Menanamkan Aqidah Kepada Anak-Anak

 

“Mi, kalau Umi tidak punya uang, kakak nanti akan minta uang kepada Allah untuk membeli es krim. Dia Maha Pemberi dan Penyayang, kan?” Si Ibu gelagapan menjawab pertanyaan sulungnya itu. Apalagi saat si kecil ikut bertanya, “ Allah itu tinggal dimana sih, Mi?”

Seringkali sebagai orangtua, kita merasa kesulitan untuk menjelaskan masalah-masalah aqidiyah (keyakinan) kepada anak-anak. Karena Aqidah Islamiyah dengan ke-enam rukunnya yaitu; beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhir serta Qadha’ dan Qadar, adalah persoalan ghaib yang berada di luar kemampuan akal dan panca indera untuk menjangkaunya.

Meski hal inilah yang menjadikan aqidah islamiyah menjadi unik dan khas, menjelaskannya kepada anak-anak membutuhkan keseriusan dan ketelatenan tersendiri. Bagaimanapun, kemampuan berfikir anak-anak yang masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak, menjadi penghalang yang tidak bisa diremehkan. Sementara kesalahan kita dalam memberi jawaban akan berakibat fatal, sebab jawaban itulah (mungkin) yang akan terekam di benak anak untuk seterusnya.

Baca Juga: Seni Menjawab Keingintahuan Anak

Menanamkan aqidah islamiyah kepada anak-anak sangatlah penting. Aqidah atau keyakinan yang tertanam akan menjadi acuan dan pegangan dalam mengarungi kehidupan mereka selanjutnya. Aqidah itu juga akan menjadi standar perbuatan yang mereka lakukan, serta menjadi pembanding setiap kali mereka menjumpai bentuk-bentuk perilaku baru.

Aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa anak-anak, membantu mereka mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta memudahkan mereka menjalani proses menuju manusia yang lebih bermoral dan berkepribadian lebih baik.

Mereka tumbuh bukan hanya berbasis pengetahuan umum dan memperturutkan hawa nafsu semata, namun jauh dari kehidupan yang religius, hal yang terbukti memiliki andil besar munculnya kanakalan dan kerusakan moral manusia.

Rahmat Allah

Merupakan rahmat Allah kepada manusia adalah Allah menciptakan mereka di atas fithrah. Allah berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan) ini”. (QS. Al A’raaf: 172)

Ketika menjelaskan hadits “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah”, Syaikh Mulla Ali al-Qari berkata, “Yang dimaksudkan adalah fitrah Islam, yang berupa ketauhidan dan pengetahuan tentang Rabbnya”. Artinya, setiap manusia yang hadir ke dunia, lahir dalam keadaan mengenal Allah  dan mengakuinya. Ia diciptakan di atas karakter siap menerima syariat.

Mendiktekan Laa Ilaaha Illallah

Agar aqidah ini tertanam kuat dalam jiwa anak-anak, metode talqin (pendiktean) ternyata merupakan cara yang sangat efektif bagi anak-anak yang relatif sulit menerima penjelasan yang rasional dan abstrak. Metode ini juga tidak selalu menghajatkan bukti-bukti atau argumentasi yang nyata. Ini adalah karunia Allah, bahwa Dia telah melapangkan dada manusia untuk menerima iman tanpa memerlukan berbagai argumentasi yang berbelit atau bukti-bukti yang rumit.

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebuah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam,

اافتحوا علي صبيانكم  أول كلمة  لا إله إلا الله, ولقنوهم عند الموت  لا إله إلا الله

“Mulakanlah kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada anak-anak kalian, dan diktekanlah kepada mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah saat menjelang kematian”

Para sahabat suka mengajarkan kalimat ini kepada anak-anak mereka, hingga menjadi kalimat pertama yang mereka hafalkan dan ucapkan dengan fasih. Sementara Ibnul Qayyim menganjurkan agar kalimat inilah yang pertama didengar oleh telinga anak-anak. Imam Ghazali mengatakan bahwa saat anak-anak telah menghafal kalimat ini, makna-maknanya akan tersingkap sedikit demi sedikit di masa yang akan datang. Maka mengajarkan aqidah kepada anak-anak hendaklah diawali dengan pemberian hafalan, kemudian pemahaman, kepercayaan, keyakinan dan pembenaran.

Mencintai Allah dan Rasulullah

Cinta adalah sumber kekuatan, juga pengorbanan. Untuk itu, aqidah islamiyah akan semakin kokoh menancap di dalam jiwa jika berdiri di atas dasar cinta kepada Allah dan Rasulullah-Nya. Ibarat tongkat bagi si buta, ia akan semakin menuntun manusia menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupannya kelak. Mempermudah kesulitannya, memperingan rasa sakitnya, menjernihkan kekeruhannya dan mendekatkan jarak ke akhirat yang sering dianggap jauh. Rasulullah bersabda,

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah”. (HR. At-Thabrani)

Pada fase perkembangannya, manusia akan melakukan proses imitasi (peniruan) terhadap sosok yang dianggapnya teladan, untuk kemudian berusaha menyerupakan dirinya dengan sang tokoh itu. Dalam hal ini peneladanan terhadap Rasulullah mutlak perlu, karena beliau adalah teladan terbaik bagi manusia. Jauh dari sifat tercela dan akhlak yang hina. Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab: 21)

Mengajarkan al-Qur’an

Menyakinkan anak-anak bahwa Allah adalah Rabb dan al-Qur’an adalah firman-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah, agar ruh al-Qur’an merasuki jiwa dan cahaya sinarnya menerangi akal mereka, dimulai dengan membacakan dan mengajaarkan al-Qur’an kepada mereka semenjak dini.

Hal ini akan menjadikan mereka mudah menerima dan memahami aqidah al-Qur’an dan tumbuh di atas keyakinan yang mantap, karena mereka menerima aqidah ini dalam satu paket, akal, jiwa dan hati mereka. Dari sini, melaksanakan serangkaian perintah dan menjauhi serangkaian larangan yang mereka temukan di dalam al-Qur’an menjadi tidak terasa sulit dan memberatkan. Banyak persoalan dan masalah yang mereka temukan di kemudian hari, baik berhubungan dengan keyakinan dan kejiwaan akan mereka pecahkan dan hadapi dengan mudah, Insya Allah.

Imam as-Suyuthi berkata, “Mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu pilar di antara pilar-pilar Islam, agar mereka tumbuh di atas fithrah. Begitu juga cahaya hikmah akan masuk ke dalam hati mereka lebih dahulu sebelum dikuasai hawa nafsu dan dinodai kemaksiatan dan kesesatan”.

Pengajaran al-Qur’an menjadi pijakan utama seluruh kemampuan anak-anak pada masa pertumbuhan mereka. Hal ini diawali dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah dan dilanjutkan pengajaran isinya secara bertahap. Juga senantiasa membiasakan mendengarkan tilawah al-Qur’an.

Rasulullah bersabda,

“Ajarilah anak-anak kalian tiga hal; kecintaan kepada Nabi kalian, kecintaan kepada keluarga beliau dan membaca al-Qur’an. Karena sesungguhnya, para pembawa al-Qur’an iu berada di bawah naungan singgasana Allah, di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya ”. HR. At Thabrani dari Ali bin Abi Thalib. Al Munawi dalam Faidhul Qadiir menyatakannya sebagai hadits dha’if.

Banyak kita temukan para ulama terkemuka telah menghafalkan al-Qur’an pada usia yang sangat muda. Imam Syafi’i telah hafal al-Qur’an pada usia tujuh tahun, demikian juga Sahl bin Abdillah at- Tastari. Sementara Ibnu Sina dan Imam Nawawi pada usia sepuluh tahun.

Teguh Memegang Aqidah dan Siap Berkorban Karenanya

Sebuah aqidah atau keyakinan tentu saja memerlukan pengorbanan. Semakin kuat dan teguh sebuah aqidah yang dimiliki, semakin besar pengorbanan yang akan diberikan. Sebab aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa akan membuahkan keyakinan yang mantap dan tanpa keraguan. Setiap pengorbanan yang dilakukan akan memberikan keamanan dan ketenangan batin serta kemanisan iman.

Baca Juga: Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Hari ini kita sebagai kaum muslimin menghadapi tantangan yang sangat berat untuk tetap berpegang teguh dan istiqamah di atas aqidah islamiyah yang kita miliki. Berbagai konspirasi keji yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari aqidah, juga al-Qur’an menghadang dari seluruh penjuru kehidupan. Baik berupa berbagai studi keislaman yang (katanya) ilmiah namun ujung-ujungnya menyimpangkan Islam dari keotentikan ajarannya, berbagai pemikiran yang merusak aqidah, juga semangat menghamba hawa nafsu (hedonis) yang semakin menggila.

Semua itu tentu saja membutuhkan jiwa yang teguh memegang aqidah, juga kesiapan berkorban untuk mempertahankannya. Seperti memegang bara api, demikian Rasulullah pernah menyatakan.

Rasulullah tercinta mendidik para sahabat untuk siap berkorban di atas aqidah mereka, agar menjadi pribadi yang matang dan berpendirian. Beriman bukanlah sikap main-main, namun sebuah pilihan sadar tentang makna kebenaran, juga kesiapan menanggung semua risikonya. Rasulullah pernah menceritakan kisah ashabul uhdud kepada para sahabat, juga kisah-kisah lain yang menumbuhkan keberanian mereka untuk berkorban di atas keimanan mereka.

Kita temukan para ibu yang memberi motivasi anak-anak mereka agar berani berjihad fi sabilillah, kemudian bangga saat mendengar berita kesyahidan mereka. Juga anak-anak yang meminta peralata jihad dan menangis jika tidak diizinkan berangkat jihad. Dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian kita, melatih anak-anak untuk berbuat kebaikan kepada sesama, tidak berbohong dan selalu berkata jujur, apapun risikonya.

Keluarga

Akhirnya semua akan kembali kepada bagaimana keluarga memberikan perhatian terhadap aqidah anak-anak mereka. Menanamkan aqidah kepada anak-anak harus diawali dari rumah, sebelum mereka memperolehnya dari luar dan dihantam badai akhlak tercela. Ketidakpedulian orangtua dalam mempersiapkan aqidah anak-anak akan berakibat fatal.

Satu nasihat lagi, jangan menyerahkan pola asuh spiritul-terutama masalah aqidah kepada sekolah. Sebab banyak sekolah berlabel islam, namun mengacuhkan masalah yang sangat penting ini. Kita harus tetapi mengawasi dengan ketat agar tidak kecolongan. Wallahu A’lam.

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Keluarga

Helicopter Parents, Mengenal Orang Tua yang Over Protektif

Suatu ketika penulis pernah merasa tercengang. Seorang ibu dengan wajah marah mendatangi saya. Pasalnya, di wajah anak lelakinya terdapat bekas cakaran yang diduga akibat kuku panjang anak lelaki saya. Meski telah berulang kali meminta maaf, tapi ternyata persoalannya tidak semudah itu. Si ibu masih menyimpan dendam, meski anak telah berkalung pundak.

Sebenarnya ini adalah masalah klasik. Terus berulang, terutama pada keluarga muda atau pada orang tua yang over protektif kepada anaknya. Memang, setiap orang tua bertanggung jawab penuh atas anak-anaknya. Bahkan para orang tua, kelak akan dimintai pertanggungjawaban terkait amanah yang diberikan Allah ini. Maka tak heran bila setiap orang tua akan memberikan perlindungan yang optimal terhadap buah hatinya. Bila perlu dengan super maximum security sehingga anak benar-benar bersih dari ‘virus’ yang berasal dari luar.

Baca Juga: Beberapa Kiat Agar Anak Berbakti Kepada Orangtua

Akan tetapi di belahan hati yang lain, terkadang anak justru merasa tak nyaman dengan perlakuan orang tua –yang sebenarnya memiliki maksud yang baik ini. Sehingga tanpa disadari, kemudian merenggut kreativitas mereka yang berakibat pada banyak hal. Seperti ketergantungan terhadap orang lain, mudah cemas, kurang dewasa, dan tidak pandai menyelesaikan hal-hal yang mendasar. Belum lagi bila kemudian orang tua membatasi ruang bergaul anak, agar terhindar dari ‘teman yang nakal’ tadi. Si anak menjadi tidak terampil bersosialisasi, entah karena egois  atau tidak memiliki rasa percaya diri.

 

Apakah itu Helicopter Parents?

Mungkin Anda pernah mendengar tentang helicopter parents. Ialah sebutan bagi orang tua yang over protective terhadap buah hatinya. Bisa jadi keadaan tersebut lahir tanpa unsur kesengajaan. Sebagaimana telah disebutkan tadi, wajar bila orang tua memberikan perlindungan dan perhatian kepada anak-anaknya. Namun jika model pengasuhannya over protektif, bisa jadi kesempatan anak untuk belajar menghadapi tantangan hidup, mengambil keputusan, atau menyelesaikan masalah akan hilang.

 

[bs-quote quote=” “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”” style=”default” align=”left” color=”#2878bf”][/bs-quote]

Dalam tulisannya, Rhenald Kasali mengutip ucapan Carol Dweck –psikolog Stanford University,  “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan”. Baik itu berupa kesulitan-kesulitan hidup karena gesekan dengan teman sebaya sampai pada kegagalan-kegagalan yang akhirnya membuka pintu kesuksesan. Ini bertolak belakang dengan kebanyakan pandangan orang tua, yang selalu ingin mengambil alih (baca: turut campur) segala persoalan anak. Kesalahan anak membuat orang tua resah, sebaliknya rasa bangga berlebihan pun muncul ketika anak mengalami kemudahan dalam berbagai hal.

 

Tanda-Tanda Helicopter Parents

Boleh jadi, Anda bukan orang yang over protektif  kepada anak. Namun tak ada kelirunya bila kita mengenali tanda-tandanya. Karena tidak mesti orang tua yang ‘tahan’ dengan setiap rengekan anak bukan orang tua yang over protektif.

  1. Helicopter Parents akan menganggap bahwa tugas utamanya adalah meminimalisir rasa sakit dalam kehidupan anak. Misalnya melarang mereka bersepeda di luar rumah karena takut jatuh di jalanan beraspal, selalu meminta si Kecil untuk berpakaian lengkap meski di tengah terik matahari karena khawatir akan digigit serangga, dan lain-lain.
  2. Para orang tua yang over protektif akan senantiasa merekomendasikan bahwa si kecil akan tumbuh dengan baik apabila mereka selalu merasa bahagia sepanjang hidupnya. Tidak ada kata gagal dalam hidupnya.
  3. Orang tua seperti ini tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa buah hatinya pernah merasakan rasa sakit atau ditanggapi negatif oleh orang lain.
  4. Helicopter Parents selalu berusaha meng-intervensi kehidupan sosial anak-anaknya. Boleh jadi bermula dari hanya sekedar mendengarkan masalah dan berusaha memberikan panduan. Namun tanpa disadari orang tua terus masuk dalam kehidupan anaknya dengan memaksakan pendapat untuk semua permasalahannya.
  5. Orang tua terus menerus memantau saat anak berada di luar rumah, hingga mungkin kecemasan orang tua-lah yang justru menjadi akar masalah.

 

Tips Agar tidak Over Protektif

 

  1. Jangan terburu-buru mencampuri urusan mereka.

Misalnya ketika anak gagal memasuki sekolah yang menjadi impiannya. Biarkan mereka memahami pelajaran hidup yang harus ditempuh untuk belajar bertanggung jawab atas setiap kegagalan pada pilihan yang diambil. Namun ironisnya orang tua over protektif seringkali terlalu mencampuri kehidupan anak-anaknya demi menghindarkan mereka dari pengalaman negatif. Padahal sebagai orang tua, kita perlu membiarkan mereka untuk bebas menyelesaikan masalahnya sendiri. Agar kelak mereka kuat dan terampil dalam kehidupannya.

  1. Ajarkan mereka cara menguasai dan menyelesaikan masalah atau perselisihan yang dialami. 

Daripada orang tua yang memecahkan masalah mereka, lebih baik cobalah ajari  bagaimana menyelesaikannya. Karena orang dewasa biasanya lebih suka mencari kambing hitam ketika terjadi konflik dengan orang lain. Maka biarkan anak-anak mengalami emosi sepenuhnya. Benar, orang tua mana yang tega melihat buah hatinya kecewa; tapi ia juga perlu tahu bahwa tidak semua orang dapat memenuhi keinginannya.

Nah, apakah Anda termasuk orang tua yang over protektiff?

 

Oleh: Redaksi/Parenting Islami

.

Seni Menjawab Keingintahuan Anak

 

“Ma, katanya Allah Maha Melihat. Tapi mengapa Allah menyuruh malaikat untuk mencatat dan melaporkan  semua amal manusia? Bukankah Allah bisa melakukannya sendiri?”

 

#senyum

Pernahkah Bunda menghadapi anak dengan pertanyaan seperti ini? Inilah sebuah keingintahuan yang terlontar dari mulut seorang balita. Mengapa begini atau mengapa begitu. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun yang pasti, setiap orang tua maupun para pendidik yang berinteraksi aktif dengan anak, harus selalu siap menjawab semua pertanyaan mereka.

Pertanyaan anak-anak jaman sekarang, memang jauh berbeda dibanding masa kecil kita dulu. Media informasi yang diwakili oleh gadget dan televisi, telah banyak mereformasi cara berpikir setiap orang, termasuk anak-anak. Terlebih gaya pendidikan masa kini telah menjadikan mereka untuk bebas bertanya kepada orang-orang terdekatnya.

Namun bila kita perhatikan, pertanyaan yang muncul biasanya tidak jauh dari apa yang mereka lihat,amati dan rasakan. Ya, semua didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar terhadap segala sesuatu.

Bekal rasa ingin tahu ini memang telah ada sejak manusia lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak, berjalan dan bicara. Selanjutnya rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas perkembangan otak seseorang. Ketika seorang bunda berkata “Tidak boleh!” Reflek mereka akan berkilah, “Memangnya kenapa kok tidak boleh?”

Baca Juga: Parenting Islami; Mama Galak, Kasihan si Anak

Sayangnya, tak sedikit orang tua yang memberikan intervensi negative sehingga naluri penting ini terkubur begitu saja. Sebagian mereka terkadang merasa tidak perlu menjawab pertanyaan anak yang terdengar konyol, lugu dan dibuat-buat. Bahkan menganggapnya tak berarti dan hanya membuang waktu. Tahukah bunda, hal membuat anak belajar untuk mematikan rasa ingin tahu. Ketika pertanyaan-pertanyaan mereka tidak terjawab dengan baik, mereka menjadi malas bertanya, apatis, dan tidak peduli dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tentu saja, ini sangat tidak mendidik dan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak kelak.

Kita mungkin mengira, balita masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa-apa tentang semesta kehidupannya. Padahal salah besar kalau kita menganggap seperti itu. Mereka justru memiliki daya tangkap dan daya ingat yang jauh lebih hebat dari apa yang kita pikirkan. Dari sekian pertanyaan yang diajukan, pasti ada yang masuk dan direkam baik dalam otaknya. Mengapa? Karena otak mereka yang masih terus berkembang ini belum terpengaruh untuk memikirkan hal-hal komplek. Sehingga satu pertanyaan saja, bagi mereka ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran sekolah sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka setiap jawaban atas pertanyaan yang diajukannya akan mengasah ketajaman otaknya.

 

TRIK MENJAWAB PERTANYAAN ANAK

 

  1. Sabar

Orang tua biasanya merasa tidak punya waktu mendengarkan dan menjawab semua pertanyaan anak karena sempitnya waktu bersama mereka. Seorang ibu yang sudah disibukkan oleh berbagai pekerjaan rumah, mungkin akan lelah menghadapi seribu satu pertanyaan yang diajukan mereka. Ujung-ujungnya, tak jarang si anak malah mendapat bentakan, “Sudah diam. Ibu capek!” Jadi, salut kepada orang tua yang bersedia duduk diam menghentikan pekerjaannya, demi menjawab setiap keingintahuan anak.


  1. Jawab dengan Benar

Jawablah setiap pertanyaan anak dengan bahasa mereka yang singkat dan mudah dimengerti. Jika tidak tahu jawaban yang benar, lebih baik katakan tidak tahu. Jadi jangan bersikap sok tahu. Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, anak justru menelan informasi yang ternyata salah. Respon yang baik dari orang tua akan membantu proses berpikir dan pemahaman mereka kelak. Tidak masalah bila ternyata mereka belum puas dengan jawaban yang diberikan sehingga kemudian bertanya lagi, lagi dan lagi. Orang tualah yang kemudian dituntut mencari jawab dengan bertanya, membaca, dan sebagainya.


  1. Mengajak Anak Ikut Mencari Jawab atas Pertanyaan yang Sulit

Mengajak anak membuka buku bersama atau bertanya kepada orang yang lebih tahu. “Yuuk… kita tanya ayah. Siapa tahu ayah lebih mengerti.” Dengan demikian si kecil akan belajar, bila kelak menghadapi masalah ia akan mencari orang yang bisa membantunya memecahkan masalah atau mencarinya di berbagai literatur.


  1. Adakalanya Tidak Langsung Dijawab.

Untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa’, biarkan mereka berpikir dengan ikut mencari jawabnya. Maklumi jika jawabannya juga masih sangat sederhana karena kemampuan berpikirnya juga masih sangat terbatas. Khusus untuk pertanyaan ‘mengapa’ yang berhubungan dengan akidah, ibadah dan akhlak, giringlah mereka kepada perintah ittiba’ Rasul yang telah disyari’atkan.

 

Jadi, biarkan anak-anak bertanya. Karena itu adalah bagian dari hak mereka. Sesungguhnya selama 24 jam penuh, kitalah yang bertanggungjawab atas titipan Allah ini. Ya, untuk meluruskan, memperbaiki kesalahan dan membiarkan mereka berbuat kebaikan. Wallahu ‘alam.

 

Oleh: Redaksi/Parenting Islami

Suami, Tunaikan Hak Istri Agar tak Merasa Dieksploitasi

Wanita-wanita shalihah adalah pemimpin rumah tangga suami-suami mereka. Merekalah para penjaga benteng keluarga dari unsur-unsur perusaknya, agar tidak menerobos masuk dan menghancurkannya tanpa sisa. Mereka bukan hanya menyuapkan makanan dan memberikan ASI sebagai minuman anak-anak. Namun, juga menyuapkan santapan iman dan memberi minuman berwujud prinsip-prinsip mulia yang barakah. Mereka perdengarkan untaian dzikir dan shalawat kepada Rasulullah agar ketakwaan menghunjam ke dalam dada seluruh anggota keluarga, dan agar kecintaan kepada Islam semakin mengkristal dari hari ke hari.

Karenanya, mereka haruslah wanita cerdas, pandai, terampil dan bertakwa kepada Allah. Dari para wanita shalihah inilah akan lahir generasi pembangun masyarakat menuju kebaikan dan kekuatan, atau suami-suami yang menemukan surga dunia. Dan terbentuklah pondasi bangunan komunitas masyarakat muslim. Keterlibatan wanita dalam proses pendidikan anak-anak dan pelayanan terhadap suami, setara dengan Jihad kaum laki-laki di medan perang dan Shalat di masjid. Sebuah karir yang akan mengangkat mereka menuju derajat yang tinggi dan mulia di sisi Allah, dan menempatkan mereka di barisan wanita-wanita agung sepanjang sejarah peradaban manusia.

Baca Juga: Untukmu Muslimah, Agar Berhiasmu Bernilai Ibadah

Tugas menjadi ibu dan istri ini sangatlah berat. Dan karenanya itulah, di samping kewajiban-kewajiban yang mereka kerjakan, mereka pun memiliki sejumlah hak yang harus mereka peroleh. Bukan saja agar mereka tidak merasa dieksploitasi, namun juga sebagai alat bantu agar pekerjaan mereka tidak terasa memberatkan, di samping sebagai bentuk penghargaan Islam untuk mereka. Allah berfirman,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang makruf”. (QS Al Baqarah; 228)

Tegasnya, ayat ini merupakan petunjuk bagi para suami bagaimana mereka menyeimbangan antara tuntutan yang mereka ajukan kepada para istri dan kewajiban yang harus mereka tunaikan. Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku, sebagaimana dia berhias untukku”.

Berikut ini hak istri yang harus dipenuhi:

  1. Hak Mendapat Bimbingan

Karena setiap aktifitas seorang muslim hakikatnya adalah ibadah, maka para istripun berhak mendapatkan bantuan guna menjaga kualitas ibadah dan ketakwaan mereka. Para suami berkewajiban membimbing dengan mengajarkan agama Islam agar mereka terhindar dari mengerjakan kedurhakaan kepada Allah Subhanaahu Wa Ta’ala. Atau memberi kesempatan kepada mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu selama terjaga dari fitnah dalam ilmu-ilmu yang tidak dimampui para suami.

Termasuk di dalamnya adalah kewajiban menjaga kualitas ibadah istri dan anak-anak. Seperti membimbing mereka untuk menegakkan shalat, puasa, juga akhlak-akhlak islami dan ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…”. (QS. At Tahrim: 6)

Menurut Muqatil, peliharalah diri kalian adalah keharusan mendidik diri dan keluarga dengan cara memerintahkan mereka mengerjakan kebaikan dan melarang mereka berbuat kejahatan. Sdn Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskannya dengan, “Ajarkan kebaikan kepada diri dan keluarga kalian”.

  1. Hak diperlakukan Secara Makruf

Allah berfirman,

“Dan pergaulilah mereka secara makruf”. (QS. An Nisaa’: 19)

Wujudnya adalah memperlakukan mereka dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka secara patut menurut ukuran yang wajar, dan pada batas-batas syariat. Seperti memberi mereka makan seperti apa yang di makan para suami. Demikian pula dalam hal minum, pakaian dan tempat tinggal. Tentu saja sesuai dengan kemampuan yang dimiliki para suami itu sendiri.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud dab Ibnu Majah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam pernah ditanya tentang hak istri dari suaminya oleh seorang shahabat. Kemudian beliau menjawab,

“Engkau memberinya makan jika engkau makan. Engkau memberinya baju jika engkau berpakaian. Dan janganlah engkau memukul wajah, jangan menghinakannya dan jangan memisahkannya kecuali di dalam rumah”.

Termasuk di dalamnya adalah segera pulang ke rumah setelah shalat Isya’ apabila tidak ada keperluan yang sangat penting, agar mereka tidak cemas, dan melahirkan kecemburuan.

  1. Hak Mendapat Penjagaan

Karena para suami adalah pemimpin bagi para istri, maka mereka bertanggung jawab dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka, dengan mewaspadai hal-hal yang bisa merendahkan dan menodai martabat mereka. Para suami harus melarang istri-istri mereka untuk berhias ala jahiliyah dan bergaul dengan selain mahram. Para suami juga harus memiliki kecemburuan atas istri-istri mereka sebagai bukti kepedulian mereka atas kehormatan para istri. Bukan malah bangga ketika istri-istri mereka dipuji kecantikan dan kemolekan mereka.

Termasuk di dalamnya adalah penjagaan atas aib mereka dengan tidak membeberkannya kepada khalayak ramai, baik fisik maupun akhlak. Sedang untuk urusan ranjang, larangan dari Rasulullah lebih tegas lagi. Sebab itu seperti setan laki-laki yang bersetubuh dengan setan perempuan di jalan dan dilihat orang lain.

  1. Hak Mendapatkan Maaf

Para wanita adalah manusia biasa yang kadang salah dan lupa. Mereka kadang juga memiliki kemampuan menunaikan sesuatu kewajiban yang tidak sesuai dengan keinginan para suami. Karenanya terlarang para suami mencari-cari kesalahan dan kekurangan istri-istri mereka, karena pasti akan mereka dapatkan. Namun akan lebih baik mencari kelebihan-kelebihan dan kebaikan mereka, ridha terhadap semua itu dengan berusaha membantu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan, serta tidak mempersulit memberi maaf kepada mereka jika ada hal-hal yang mengecewakan.

Sabda Rasulullah di dalam hadits riwayat Muslim,

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ada satu akhlak yang tidak disenanginya, maka bisa jadi ada (akhlak) yang lain yang diridhainya”.

Bukan hanya menahan diri dari perilaku tidak terpuji kepada mereka, namun juga bersabar atas gangguan, kekeliruan dan kemarahan mereka.

  1. Hak diperlakukan dengan Adil

Ini apabila seorang suami memiliki lebih dari satu istri. Keadilan di antara para madu adalah dalam pemberian makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan giliran bermalam. Condong kepada salah satu di antara mereka adalah perilaku sewenang-wenag, tidak adil dan haram hukumnya di sisi Allah Subhanaahu Wa Ta’ala. Rasulullah bersabda di dal hadits riwayat At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan  An Nasaai,

“Barangsiapa memiliki dua istri sedang dia lebih condong kepada salah satunya, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring separuh tubuhnya”.

Alangkah indahnya jika masing-masing pihak yang bersekutu dalam membangun sebuah keluarga muslim mengetahui dan menunaikan kewajiban mereka. Tidak hanya saling menuntut dan menyalahkan, tapi mampu melihat kekurangan diri dan mengalah jika da hal-hal yang belum memuaskannya. Para suami harus thu bahwa mereka adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab di hadapan Allah. Juga bahwa para istri ternyata memiliki serangkaian hak yang seimbang dengan kewajiban mereka. Dan itu berarti kewajiban bagi para suami.

Baca Juga:Istri Shalihah pendukung Dakwah

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah,

“Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan mereka pun memiliki hak atas kalian”.

Bagaimana seorang suami bersikap di dalam rumah tangganya, sesungguhnya menunjukkan kualitas imannya. Tengok saja sabda Rasulullah di dalam sebuah hadits riwayat At Tirmidzi,

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istri mereka”.

Wallahu A’lam.

Oleh: Redaksi/Keluarga Islami

Ayah Ideologis, Tak Skeptis Menghadapi Krisis

Banyak di antara kita, para ayah, yang akhir-akhir ini bermuka masam. Nilai tukar dollar naik, imbasnya harga sembako melambung, kebutuhan meningkat, namun uang semakin tipis saja yang tertinggal di kantong. Boro-boro menyisihkannya untuk ditabung, hidup sederhana saja terasa demikian sulit. Bayangan masa depan yang suram, sulit, dan lesu telah menjadi trauma bagi mereka. Merosostnya ekonomi nampaknya menjadi kambing hitam yang dituding menjadi biang penyebab masalah. Benarkah krisis ini serupa monster mengerikan yang akan melumat kita bulat-bulat?

Seperti kehilangan akidah, banyak yang sedih, murung, stress, skeptis hingga depresi menghadapi hari-hari. Hingga kita lupa bahwa Allah-lah yang menjadi penentu segalanya, bukan asing dan aseng, merosotnya rupiah, atau apapun nama makhluk yang bisa kita sebut. Padahal, Sang Mahakaya yang memiliki seluruh perbendaharaan yang ada, bahkan dalam semua yang tidak pernah kita duga, telah menjamin rezeki bagi seluruh makhluk-Nya yang melata. Lalu, adakah jalan keluar?

Pertama

Harus kita sadari, bahwa melambungnya harga, bahan pokok dan melemahnya rupiah saat ini adalah buah dari kecongkakan manusia dengan sistem ekonomi ribawinya. Sistem zhalim yang penuh kecurangan itu benar-benar telah terbukti menyengsarakan umat manusia. Hal yang akan membuat kita tahu bahwa solusinya, mestinya, adalah kembali kepada sistem ekonomi syariah yang menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sistem yang jauh dari kezhaliman antar sesama; lebih adil, manusiawi, menguntungkan, dan barakah.

Kedua

Insyaallah, inilah saatnya merenung tentang tujuan pernikahan yang sebenarnya. Bahwa ia bukan semata mencari kemapanan finansial belaka, hal yang memang seringkali dianggap sebagai indikator keberhasilan, bahkan harga diri seseorang. Hingga segalanya tampak mudah dan selesai dengan uang. Yang berarti pula, semua masalah akan muncul dengan ketiadaannya. Jika tanpa krisis saja, kita sudah pontang-panting mengumpulkan materi, apa jadinya kita di masa kritis begini?

Padahal, tujuan pernikahan jelas lebih luas daripada itu. Kemapanan mental emosional, sosial, bahkan spiritual juga sangat dihajatkan. Saat-saat seperti ini sangat tepat jika kita pergunakan untuk mengatur ulang prioritas hidup. Melancarkan komunikasi dan meneguhkan peran serta masing-masing anggota keluarga. Seberapa sebenarnya jumlah materi yang kita butuhkan, dan seberapa yang kita inginkan. Kemudian, hal lain apa yang ingin kita capai dengan keluarga ini? Inilah yang akan membuat hidup menjadi selaras seimbang, dan tidak terjebak menjadi penghamba materi. Hal yang akan menyeret kita ke dalam pusaran pencarian yang melelahkan dan mengorbankan banyak hal.

Mereka yang fokus pada kemapanan materi, sebenarnya melalaikan fakta bahwa banyak kebutuhan non finansial, dan banyak masalah yang tidak akan pernah selesai dengan uang. Ia terpendam menjadi bom waktu yang mengancam keharmonisan dan keutuhan rumah tangga, dan akan meledak saat krisis finansial datang. Apalagi bagi mereka yang mengidap sindrom ingin lebih, berapapun capaian materi yang mereka dapatkan, selalu ada keinginan untuk menambahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ia tiada berkesudahan kecuali jika kematian datang. Terus, bagaimana dengan mereka yang gagal mencapai keinginan materinya? Jelas lebih mengerikan!

Ketiga

Kita harus belajar berhemat; hanya membeli hal-hal yang benar-benar kita butuhkan. Demi untuk keberhasilannya, selain komitmen yang tinggi, teladan dari orangtua dan dukungan seluruh anggota keluarga mutlak diperlukan. David Hochman, seorang penulis barat, pernah berlatih hidup sederhana, dan dalam sebulan, dia bisa menghemat uang belanja keluarga hingga 2000 dollar. Nilai yang sangat besar, tentu saja. Nah, kalau David bisa, kenapa kita tidak? Meski dengan jumlah uang yang jauh lebih kecil, penghematan tetaplah pilihan yang cerdas dan terpuji. Dan kalau ternyata ada sisa uang belanja, kita harus menabungnya, seraya memikirkannya agar kelak bisa kita gunakan sebagai modal investasi.

Satu hal yang harus kita ingat, bahwa apa yang akan terjadi besok adalah hal ghaib yang tidak kita ketahui, hingga tidak ada alasan untuk takut menghadapinya. Agar siap menghadapi apapun keadaan yang akan kita temui nanti, kita harus menambah kadar keimanan. Bukankah keadaan orang yang beriman itu sangat menakjubkan? Bersyukur di saat mendapatkan kelapangan, dan bersabar saat menemui kesempitan. Alangkah indahnya!

Jangan lupakan untuk membangun komunitas muslim yang saling berta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan, termasuk dalam perekonomian. Sebab menurut Ibnu Abbas, loyalitas sesama muslim yang dilandasi kecintaan dan kebencian karena Allah, akan menjadi jalan tergapainya pertolongan Allah.

Selain itu, kita harus tetap berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Karena kita percaya sunatullah, bahwa mereka yang menanam kebaikan akan memanen kebaikan, dan demikian juga sebaliknya. Karena Allah Mahaadil yang tidak mungkin berbuat zhalim terhadap hamba-hamba-Nya, inilah saatnya kita memperbanyak tabungan kebaikan.

Jadi, tetap optimis menghadapi krisis. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua!

Oleh: Redaksi/Keluarga

Tetap Bisa Mesra Meski Datang Bulan Sedang Tiba

Anda jangan salah sangka! Judul di atas bukan bermaksud memprovokasi. Apalagi ingin menggiring pembaca untuk nyrempet-nyrempet sesuatu yang haram. Tidak begitu. Karena memang, sudah diketahui banyak orang, bahwa termasuk hal yang diharamkan agama adalah menggauli istri yang sedang haid.

Tulisan ini hanya ingin memberikan pencerahan, bahwa berjimak dengan istri yang sedang haid atau datang bulan memang jelas dilarang. Namun, bukan berarti saat istri sedang haid, semua aktivitas bermesraan diharamkan. Sehingga, suami-istri mesti ‘libur total’ pada momen bulanan itu. Jika ini terjadi, tentu yang paling kasihan adalah saudara-saudara kita yang menikah di saat mempelai putrinya sedang datang bulan!!

 

Bukan Seonggok Najis

Wanita haid bukanlah seonggok najis yang mesti dijauhi dan tak boleh disentuh. Sebagaimana kebiasaan kaum Yahudi, bahwa apabila seorang wanita datang haid, ia tidak diberi makan dan tidak disetubuhi di dalam rumah. Maka, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal ini. Lalu turunlah ayat, “Engkau ditanya tentang haid, katakanlah, ‘Haid itu penyakit, maka jauhilah mereka itu sebelum suci’.” Nabi bersabda, “Perbuatlah segala sesuatu dengan istrimu di waktu haid, kecuali bersetubuh.” (HR. Muslim)   

Islam memberikan solusi pertengahan. Istri yang sedang haid tak diharamkan untuk disentuh. Bermesraan dengannya tak semuanya dilarang. Ada model bermesraan dengan istri yang sedang haid yang diperbolehkan. Rambu-rambu syar’i ini yang seharusnya dimengerti oleh pasangan suami-istri muslim. Sehingga, keduanya akan tetap bisa mesra sepanjang masa, tetap bisa harmonis walau di saat ‘kritis’.

 

Ini yang Dilarang

Para ulama fiqih telah membuat rincian hukum terhadap aktivitas bermesraan dengan istri yang sedang haid.

Pertama,

bermesraan dengan melakukan senggama pada kemaluan istri yang sedang haid, sebelum suci. Hal ini jelas diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

 مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا فَقَدْ كَفَرَ

Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menye­tubuhi wanita dari duburnya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Nasai)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Umat Islam telah membuat suatu kon­sensus, bahwa haram hukumnya seorang suami meng­gauli istrinya pada kemaluannya saat ia sedang haid atau nifas. Tak seorang pun dari kaum muslimin yang menyelisihi hal ini.” (Fatawa Ibni Taimiyyah, XXI : 624).

Baca Juga:
Bila Rasa Bosa dengan Pasangan Mulai Menjangkiti

Imam Nawawi juga menegaskan, “Perlu diketahui bahwa men­­cumbui istri yang sedang haid ada beberapa macam. Salah satunya adalah mencumbuinya dengan melakukan senggama pada kemaluannya. Ini adalah haram hukumnya berdasarkan ijmak kaum muslimin, dengan landasan nash dari Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih.” (Syarhun Nawawi ‘ala Shahih Muslim, II : 202).

Kedua,

bermesraan dengan melakukan senggama saat istri sudah suci dari haid, tapi belum mandi. Jumhur fuqaha’, dari kalangan madzhad Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiyah, juga Imam Asy-Syaukani, Imam Ath-Thabari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Ab­bas, Az-Zuhri, Imam Nawawi dan ulama lainnya, berpendapat bahwa tidak boleh berjimak dengan wanita yang sedang haid, sebelum darahnya berhenti, dan ia mandi.

Pendapat mereka di­san­­­dar­­­kan kepada firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepada­mu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu ha­id, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyuci­kan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Yakni, apabila ia telah mandi. Demikianlah yang ditafsir­kan oleh Ibnu Abbas, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala berfir­man, “…dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri,” yakni Allah menyanjung mereka. Ini menunjukkan bahwa Allah men­­yan­­­jung perbuatan mereka. Sedang perbuatan mereka itu ada­lah mandi, bukan berhentinya darah. Dengan demi­ki­an, sebelum dibolehkannya berjimak itu harus memenuhi dua syarat, yakni berhentinya darah, dan mandi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimi­yyah menga­­­­­­­­­ta­­­kan, “Tidak boleh berjimak dengan istri yang se­dang ha­­­id dan nifas, sebelum ia mandi. Jika ia tidak menda­patkan air atau khawatir akan membahaya­kan dirinya bilamana meng­­­gu­­­­­­nakan air karena ia sakit atau cuaca sa­ngat dingin se­kali, maka hendaknya ia ber­taya­mum, setelah itu baru si sua­mi boleh berjimak dengan­­nya.” (Majmu’ul Fatawa, I : 635)

 

Ini yang Dibolehkan

Bermesraan dengan istri yang sedang haid, selain dengan berjimak pada kemaluan. Para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan de­ng­an istri yang sedang haid di daerah atas pusar dan bawah lutut, baik dengan ciuman, dekapan, tidur bersa­ma, bercumbuan dan lain sebagainya. (Majmu’ul Fatawa, I : 624). Sedangkan bermesraan dengan istri yang sedang haid di daerah bawah pusar dan atas lutut, selain di ke­ma­luan, diperbolehkan bagi suami yang wara’ dan mampu menguasai dirinya.  

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Apabila sa­lah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mam­pu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mampu menguasai hajatnya?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini, dapat di­sim­pul­kan bolehnya bermesraan dengan istri yang se­dang haid dan nifas di daerah atas pusar dan ba­wah lu­­­­­tut. Karena arti “mengenakan kain sarung (ta’taziru)” ada­­­lah mengikatkan kain sarung yang bisa menutupi pusarnya dan daerah bawahnya sampai lutut.

Baca Juga: 
Mama Galak Kasihan Si Anak

Diriwayatkan juga dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah di atas kain sarungnya.” (HR. Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra

Bermesraan adalah bumbu pemanis dalam kehidupan rumah tangga. Hal tersebut juga bernilai ibadah, jika dilakukan untuk membahagiakan pasangannya. Namun, bermesraan tetap ada batas-batasnya, tak boleh lepas bebas, termasuk saat istri sedang haid. Lakukan yang dibolehkan, dan jauhi yang dilarang syariat. Semoga sakinah dan mawaddah akan selalu menggelayuti kehidupan rumah tangga Anda. Wallahul musta’an.

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Parenting Islami: Mama Galak, Kasihan Si Anak

Karakter ‘galak’ tidak semata dimiliki oleh ibu saja. ‘Galak’ bisa pula tersematkan menjadi sebuah hiasan sikap yang nggegirisi dalam pribadi seorang ayah. Namun, melihat kedekatan anak dengan ibu yang secara fitrah jauh lebih lekat ketimbang dengan ayahnya, terutama di masa kanak-kanak, maka fenomena ‘ibu galak’ patut diperbincangkan secara serius. Lebih serius lagi, kalau ternyata ayah dan ibu dalam sebuah keluarga sama-sama berkarakter galak dan keras dalam menyikapi perilaku anaknya. Sungguh, dentuman bentakan dan kegalakan yang terekspresikan dalam sikap ayah dan ibu, akan menjadi sebuah pupuk perdana yang akan menyemaikan watak keras dan nakal dalam diri anak. Dan, kerasnya anak maupun nakalnya anak merupakan bencana kehidupan bagi ayah-ibunya!

 

Dampak Buruk Sikap Galak

Banyak faktor yang menyebabkan ibu bersikap keras terhadap anaknya. Kondisi keluarga yang sedang dirundung masalah, atau suasana batin ibu yang tertekan oleh berbagai problema, sangat berpotensi memekarkan ‘sikap galak’ pada diri ibu. Sesekali bersikap keras mungkin masih bisa ditolerir, namun jika kegalakan itu hampir setiap hari ditembakkan kepada anaknya, maka jangan berharap kelembutan dan kesantunan budi akan menghiasi kepribadian anak Anda. Bukankah Rasulullah SAW menghasung kita untuk bersikap lembut dan kasih sayang? Beliau bersabda :

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ وَالْفُحْشَ

 “Hendaknya kamu bersikap lemah-lembut, kasih sayang dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR. Bukhari)

Salah satu bentuk kegalakan yang sering dilakukan oleh orang tua adalah mengeluarkan kata-kata kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan kepada si anak. Muhammad Rasyid Dimas dalam bukunya Siyasat Tarbawiyyah Khathi’ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan para orang tua –umumnya ketika sedang marah– dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, “Goblok!”, “Kamu tolol!”, “Diam, dungu!”, “Kemarilah, hai anak nakal!”, “Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, “Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku!”, “Kamu orang paling bodoh yang pernah saya lihat!”, “Mengapa kamu tidak seperti adikmu!”, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para orang tua. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri; serta akan menumbuhkan sikap aprioiri, pembangkang, frustasi, pasif dan suka bermusuhan dengan orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan memangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Melihat efek negatif sikap galak terhadap kejiwaan anak, maka ibu (maupun ayah) dituntut harus bisa mengerem dan menahan diri. Jangan sampai kegalakan itu cepat tersulut setiap waktu, sehingga anak kerapkali menjadi bulan-bulanan kemarahan dan sikap keras orang tua. Kalau ini yang terjadi, maka sungguh kasihan si anak!!

 

La Taghdhab!

Islam sebenarnya telah mengajarkan kepada kita untuk menghindari sifat marah dalam hidup ini, apalagi itu ditujukan kepada anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki tersebut mengulang-ulang perkataannya beberapa kali. Beliau pun selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Seseorang mendatangi Ibnul Mubarak –semoga Allah merahmatinya– dan berkata, “Coba rangkumkan akhlak yang baik dalam satu kalimat!” Maka, Ibnul Mubarak menjawab, “Hindari marah!”

Baca Juga: Salah Kaprah Dalam Mendidik Anak

Sungguh, wasiat la taghdhab (jangan marah) yang disampaikan oleh Nabi kepada kita, akan membawa kemaslahatan yang berlimpah jika kita bisa ‘membumikannya’ dalam realitas kehidupan kita, termasuk dalam keluarga kita. Seorang ibu yang mengedepankan kelembutan dan membuang jauh-jauh kegalakan saat berinteraksi dengan anaknya, akan lebih berpeluang menggapai kesuksesan dalam mencetak anak shalih-shalihah. Karena, Allah Ta’ala akan mencintai dan mencurahkan kebaikan kepada keluarga yang dinaungi oleh sifat kelembutan. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتٍ أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

 “Sesungguhnya Allah jika mencintai penghuni sebuah rumah, Dia akan menanamkan kepada mereka sikap lemah-lembut.” (HR. Ibnu Abi Dunya dan selainnya, terdapat dalam Shahihul Jami’, no. 1704)

 

Tips Meredam Kegalakan

Apabila suatu ketika, karena beberapa faktor, ketegangan tak dapat dihindarkan, marah telah membuncah, emosi telah meninggi, dan kegalakan telah terpancing untuk diledakkan, maka Islam memberikan tips syar’i untuk meredam kemarahan. Yang jelas, pertama kali, ia harus segera sadar bahwa marah adalah penyakit kronis yang akan menimbulkan berbagai bencana yang hebat. Lalu, hendaklah ia menjauhi hal-hal yang bisa semakin membakar emosinya, dan hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Karena, pada hakikatnya, marah itu berasal dari setan. Berwudhu saat marah juga sangat positif untuk dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Maka, apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (Sunan Abi Dawud, No. 4784, hal. 678)

Hendaklah ia tetap berada pada posisinya semula. Jika orang yang marah dalam kondisi duduk, maka janganlah ia berdiri, karena gerakan tertentu saat marah bisa membangkitkan emosi lebih besar lagi. Namun, mengubah posisi kepada yang lebih rendah lagi saat marah, bisa dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah dan ia sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk. Dan jika marahnya belum sirna dari dirinya, hendaklah ia berbaring” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Juga, hendaklah ia menahan diri dari berkata-kata saat sedang marah, karena ucapan yang meluncur dari bibir yang gemeretak karena marah, berpotensi untuk semakin menyulut emosi. Beliau bersabda, “Dan apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)

Demikian. Semoga setelah membaca tulisan singkat ini, Anda tak lagi menjadi ibu yang galak. Anda akan berubah menjadi ibu yang ramah-menyejukkan saat berinteraksi dengan anak-anak dan suami Anda. Wallahul musta’an

 

Oleh: Redaksi/Parenting Islami

Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Salah satu hal terpenting yang perlu diajarkan orang tua kepada anak adalah perasaan selalu dilihat oleh Allah atau muraqabah. Muraqabah merupakan landasan keshalihan seorang anak. Oleh karena itu, Luqman memberikan nasihat kepada anaknya, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Luqman:  16)

Salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam adalah menumbuhkan perasaan diawasi oleh Allah. Perasaan bahwa Allah dengan ilmu dan kekuasaan-Nya senantiasa melihat dan memberikan balasan sesuai dengan yang dikerjakan.

Dalam sebuh hadits diceritakan bagimana Rasulullah mengajarkan tentang muraqabah ini kepada Abdullah bin Abbas. “Suatu hari,” kata Abdullah bin Abbas, “saya diboncengkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda kepadaku, “Nak, maukah aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat:  Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Baca Juga: Beberapa Kiat Agar Anak Berbakti Kepada Orangtua

Dengan perasaan bahwa Allah selalu mengawasi, anak akan dengan mudah memutuskan segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya. Anak akan terjaga dari kemaksiatan dan senantiasa dalam ketaatan baik saat ia sendiri maupun saat bersama orang lain. Anak akan senantiasa istiqamah di atas jalan Allah baik saat senggang maupun saat sibuk.

Dengan menanamkan sifat ini, muncullah pribadi-pribadi kuat layaknya Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Usaid bin Zhahir, Al-Bara bin Azib, Zaid bin Arqam, dan yang lainnya. Kita lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib pada usia 10 tahun telah beriman kepada Rasulullah sehingga ia mengalami berbagai gangguan dan intimidasi dari kaum kafir. Meskiun demikian, ia tetap berpegang teguh pada prinsip yang ia pilih.

Mendidik anak untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah akan memunculkan ruh untuk senantiasa terkait dengan Allah di setiap keadaan. Apabila orang tua berhasil menanamkan  perasaan ini insyaallah anak akan terjamin keistiqamahan dan keselamatannya dari penyimpangan meskipun jauh keberadaannya jauh dari orang tua.

Ketika anak telah dapat membedakan baik dan buruk, orang tua perlu mengaitkan segala aktivitas anak dengan Allah. Bahwa manusia memiliki tanggung jawab di hadapan Allah dan kewajiban kepada Allah. Ketika anak melakukan kewajiban berupa melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya maka Allah akan memberikan balasan berupa kebahagiaan. Sebaliknya, ketika anak melakukan hal yang dilarang oleh Allah maka Allah akan memberikan ganjaran yang buruk. Sedangkan manusia tidak bisa bersembunyi dari Penglihatan Allah.

Dalam hal ini orang tua dapat memotivasi anak dengan memujinya ketika si anak melakukan kebaikan. Misalnya dengan mengatakan, “Masyaallah, pinternya anak abi. Semoga Allah memasukkan kamu ke surga.” Selain itu, orang tua juga perlu mengingatkan anak bahwa Allah marah kepada orang yang melakukan keburukan. Untuk memperkuat hal tersebut, ajarkan kepada anak ayat dan hadits tentang surga dan neraka. Carilah waktu yang tepat untuk menyampaikannya, misalnya dalam perjalanan mengantarkan mereka ke sekolah. Orang tua dapat menyampaikan hadits dan ayat tersebut dengan penjelasan yang baik dan mudah diterima.

Baca Juga: Kenangan dan Bekas yang Baik Pada Anak

Orang tua dapat mengajarkan sifat ini dengan memberikan contoh dari kisah para orang shalih terdahulu. Seperti penjual susu yang tidak mau mencampur dengan air karena takut kepada Allah atau penggembala yang tidak mau menjual dombanya karena merasa diawasi oleh Allah.

Orang tua juga harus memberi teladan. Jangan sampai apa yang disampaikan orang tua bertolak belakang dengan perbuatannya. Karena anak akan selalu melihat dan meniru perilaku orang dekat, dan orang tualah orang yang paling dekat dengan mereka.

Penanaman perasaan muraqabah ini mencakup 4 hal, mengacu pada pendapat Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan, dalam kitabnya, “Tarbiyah Ruhiyah.”

1. Muraqabah dalam ketaatan kepada Allah. Orang tua menanamkan keikhlasan dalam diri anak saat menjalankan segala perintah-Nya. Seperti benar-benar menfokuskan tujuan amal ibadahnya hanya kepada Allah dan karena Allah dan bukan karena faktor-faktor lainnya.

2. Muraqabah dalam kemaksiatan. Orang tua mengajarkan bahwa Allah murka pada orang yang berbuat maksiat sehingga ia harus menjauhi kemaksian, bertaubat, menyesali perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukannya dan lain sebagainya.

3. Muraqabah dalam hal-hal yang mubah. Orang tua menanamkan adab-adab terhadap Allah, bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya pada kita, dan melakukan amalan kebaikan untuk mendapatkan pahala dari Allah.

4. Muraqabah dalam musibah yang menimpanya, yaitu dengan ridha pada ketentuan Allah serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran. Ia yakin bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang datang dari Allah dan menjadi hal yang terbaik bagi dirinya, dan oleh karenanya ia akan bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.

Semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Parenting


Baca juga artikel islami menarik penyubur iman dan penguat ketakwaan hanya di majalah islam ar-risalah. Segera miliki majalahnya dengan menghubungi agen terdekat atau kunjungi fanspage kami di FB: Majalah ar-risalah

Beberapa Kiat Agar Anak Berbakti Kepada Orangtua

Fenomena durhaka kepada orang tua semakin hari semakin mengenaskan. Tak “sekadar” hardikan dan bantahan saat diperintah, bahkan seperti terjadi tak lama lalu, seorang anak tega membunuh orang tuanya hanya karena tidak dibelikan helm. Krisis bakti kepada orang tua ini harus segera dicarikan jalankeluar. Sangat penting orang tua mendidik anak-anak agar berbakti kepada orangtua sejak mereka masih kecil.

Allah memerintahkan seorang anak berbakti kepada kedua orangtua dalam surat Lukman ayat 14 dengan kalimat “wasiat” yang menunjukkan keharusan atau sesuatu yang tak boleh ditinggalkan. Allah berfirman:

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [Luqman : 14]

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan agar anak-anak kita menjadi anak yang berbakti? Berikut beberapa caranya.

 

Menceritakan Pengorbanan Orangtua

Selain menyampaikan kewajiban, ayat tersebut mengajarkan salah satu cara mendidik anak agar berbakti kepada orangtua. Allah mengajarkan kepada orang tua untuk menceritakan pengorbanan ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuhnya hingga besar. Nasihat pada anak tentang pengorbanan seorang ibu sebaiknya berasal dari ayah. Dengan begitu ayah bisa mendramatisir cerita tanpa merasa pamrih. Hal ini merupakan cara memberi pengaruh dengan menggugah emosional anak sehingga berdampak kuat terhadap perilaku.

Allah menghendaki agar anak berbakti kepada kedua orangtua mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itu pun masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan kelelahan orang tua dalam mengandung, membesarkan dan mendidik sang anak hingga beranjak dewasa. Berbakti kepada orangtua merupakan salah satu tanda syukur (terimakasih) kepada kedua orang tua.

 

Memberi Teladan

Orangtua perlu memberi contoh kepada anaknya dalam hal berbakti lewat sikap mereka kepada orangtua. Apa yang sudah ia lakukan pada ibu-bapaknya dan apa yang sudah dia lakukan untuk membuat anaknya taat kepadanya. Dalam hadist disebutkan, Rasulullah bersabda,

 

بَرُّوا اَبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ

“Berbaktilah kalian kepada orangtuamu, niscaya anak kalian akan berbakti pada kalian.” (HR. Hakim).

Seperti apa perlakuan kita pada orangtua, hal itulah yang menjadi sebab perlakuan anak kita pada kita. Al-jaza’ min jinsil amal, balasan itu tergantung dengan perbuatan.
Orangtua yang membina anaknya dengan baik akan mendapatkan perlakuan yang sama dari anaknya ketika usia senja. Seorang yang durhaka kepada orang tua akan melahirkan anak yang mendurhakainya. Maka, sebelum mengharap perilaku anak menjadi baik perilaku bapak dan ibu kepada orang tuanya harus diperbaiki terlebih dahulu.

 

Menceritakan Kisah Anak-anak Yang Berbakti

Salah satu cara mengajarkan tentang bakti pada orangtua ialah menceritakan kisah indah tentang birrul walidain. Ada banyak kisah tentang hal ini, misalnya: 1. Kisah tentang tiga orang yang terjebak di dalam goa kemudian dibebaskan oleh Allah lantaran bakti salah satu dari mereka kepada orang tuanya. 2. Kisah Uwais al-qarni, seorang tabiin yanb berbakti sehingga setiap doanya dikabulkan. 3. Kisah sahabat yang tak boleh berangkat jihad karena mengurus orang tuanya, dan lainnya. Atau kisah sedih para pendurhaka, seperti kisah Juraij.

 

Menanamkan Adab

Imam an-Nawawi menyebutkan satu hadits dalam kitabnya, al-Adzkar, “Nabi melihat seseorang bersama anaknya. Maka Nabi bertanya kepada anak tersebut, ‘siapakah ini yang bersamamu?’, Ia menjawab, ‘Ayahku.’ Lalu Nabi bersabda, ‘jangan berjalan di depannya dan jangan membuatnya marah kepadamu. Jangan pula duduk di depannya dan jangan memanggil namanya langsung.”

Mengajarakan akhlak, sopan santun adalah kewajiban para orang tua. Imam bukhari menyebutkan perkataan Walid bin Numair dalam al-Adabul Mufrad bahwa dahulu orang-orang shalih berkata, “kebaikan adalah berasal dari Allah sedangkan adab atau tata krama adalah berasal dari orang tua.” Ketika orang tua tidak mengajarkan akhlak yang baik kepada anaknya besar kemungkinan sang anak akan berperilaku buruk kepada kedua orang tuanya.

 

Berdoa Agar Anaknya Menjadi Anak Yang Berbakti

Doa orang tua untuk anak-anaknya adalah doa yang mudah diijabah oleh Allah. Maka bila orang tua ingin anaknya menjadi anak yang shalih dan berbakti, doakan mereka.

Rasulullah bersabda sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah,

 

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Mudah terkabulnya doa orang tua mencakup doa baik dan doa buruk. Maka ketika sesekali anak membuat tak nyaman hati orang tua, jangan sampai keluar dari lisan orang tua doa buruk pada anaknya sendiri seperti yang terjadi pada Juraij. Orang tua hendaknya selalu mendoakan anaknya istiqamah dalam kebaikan, menjadi anak yang shaleh dan berbakti. Salah satu doa yang termuat di dalam al-Qur’an adalah doa ibadurrahman yang memohon kepada Allah agar dikaruniai istri dan anak yang menyenangkan hati dengan kesalihan mereka dan kepatuhan mereka kepada orang tua. Allah berfirman,

 

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

Semoga Allah karuniakan kita anak yang shalih dan berbakti kepada orangtua. Anak-anak yang senantiasa istiqamah di atas kebenaran.

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

 

Baca Juga: 

 

 

Bila Rasa Bosan Dengan Pasangan Mulai Menjangkiti

Jika anda bertemu dengan konsultan rumah tangga, tanyalah, sudah berapa banyak klien yang mengadu bahwa mereka sudah tidak lagi cinta pada pasangannya. Rasa cinta pada pasangan tidak seperti pohon yang semakin lama semakin besar, kuat, rindang dan menyejukkan, tapi seperti mesin yang makin hari makin aus, banyak masalah dan sering mogok. Pasangan mungkin masih hidup bersama, masih melakukan hubungan badan, tapi semua terasa hambar dan diselimuti kejenuhan.

Kondisi seperti ini dapat terjadi pada siapapun, bagaimanapun cara mereka menikah. Pasangan yang memulai mahligai rumah tangga dengan cinta pertama, tatapan yang serasa membuat dunia berhenti, pacaran yang penuh romansa, pernikahan yang membuat bujangan dan perawan lain patah hati, dan awal kehidupan berumah tangga yang terlihat bahagia, pun bisa dihinggapi kejenuhan pada akhirnya.

 

Baca Juga: Menjadi Suami Rumah Tangga Seperti Nabi

 

Waktu yang berlalu, membuka semua tabir diri masing-masing; masa lalu, rahasia-rahasia pribadi, sifat-sifat yang tak disukai, sikap-sikap yang sering salah dan menyakiti, juga perubahan-perubahan fisik maupun perilaku dan sebagainya. Semua ini membuat cinta yang dulu berseri serasa layu bahkan mati.

 Atau pasangan yang mememulai rumah tangga dengan cara islami; tanpa pacaran, ta’aruf, istikharah, dan akhirnya menikah dengan niat awal hanya mencari ridha Allah pun tidak menutup kemungkinan tertimpa masalah yang sama. Ada yang sejak awal, ternyata memang tak mampu menumbuhkan cinta sebagaimana cintanya Romeo dan Juliet, Zainudin dan Hayati atau Ainun dan Habibi. Waktu berlalu dan sekian kali mencoba, namun rasa klik itu tak kunjung tiba. Atau ada yang sempat merasakan indahnya menikah tanpa pacaran, namun beberapa tahun kemudian, kebosanan pun melanda dan mereka pun menghadapi masalah yang sama dengan dua contoh sebelumnya.

 

Harus Bagaimana?

Dari sisi sunnah kauniyah, munculnya kejenuhan setelah lama menjalani rumah tangga, pada dasarnya wajar adanya. Hanya pasangan-pasangan yang memang dikaruniai cinta seperti pohonlah yang barangkali tak merasakannya. Pertemuan yang lama dengan intensitas luar biasa dalam rumah tangga, tentu sangat mungkin menimbulkan rasa bosan.

Nabi sendiri pernah menyatakan bahwa setiap amal memang mungkin mengalami syirrah, masa bosan, masa jenuh. Tak hanya menikah, menjalankan shalat pun, bisa pula dijangkiti rasa bosan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Setiap amal perbuatan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya. Barang siapa yang masa jenuhnya tetap menuju sunnahku, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk. Namun barang siapa yang masa jenuhnya menuju pada yang lainnya, maka sungguh dia telah binasa.” (HR. Ahmad).

Menurut hadits ini, rasa bosan itu tidak akan menjadi masalah jika diatasi dengan benar. Yaitu tidak berpindah dari garis sunnah menuju maksiat. Begitu pula saat mengalami kejenuhan dalam menjalani pernikahan. Jika rasa ini menjangkiti, pastikan tetap berada di atas sunnah. Tetap berada di atas sunnah dalam hal ini wujudnya bisa beragam. Tetap menjaga hak-hak pasangan dan melaksanakan sunnah lain berupa mu’asyarah bil ma’ruf, berinteraksi dengan cara yang baik, juga sunnah Nabi dalam berumah tangga. Melakukan hal-hal baru seperti berlibur, pergi mencari ilmu atau berdakwah selama beberapa waktu agar tumbuh kerinduan, juga merupakan sunnah. 

 

Baca Juga: Istri Shalihah Pendukung Dakwah

 

Bagaimana dengan poligami? Jika pun sunnah ini dianggap sebagai solusi, tentu akan menjadi solusi sepihak, bagi lelaki saja. Perlu diingat juga, tanggung jawab sunnah poligami tak bisa diremehkan. Jika alasannya semata karena bosan, poligami malah bisa mendatangkan masalah lebih serius daripada kebosanan itu sendiri. Diperlukan manajemen yang baik agar solusi ini benar-benar menjadi solusi. Jangan sampai setelah poligami, justru menghadapi kejenuhan double dengan dua istri atau bahkan kejenuhan quadrople karena istrinya empat dan keempatnya tengah mengalami masa yang sama.

Intinya, tetap berada di atas sunnah dan jangan sampai menjadikan maksiat sebagai pelarian. Tidak sedikit pasangan yang dengan alasan merasa jenuh, akhirnya selingkuh. Seakan hal itu bisa dibenarkan. Mulai dari sekadar curhat sampai maksiat yang lebih terlaknat. Padahal semestinya setiap pasangan harus menyadari bahwa fase jenuh dalam pernikahan boleh dikata merupakan salah satu konsekuensi dalam sebuah hubungan yang sangat intens seperti pernikahan. Pernikahan tidak selalu berada dalam kondisi bahagia, damai dan tanpa masalah. Akan ada masalah, akan ada yang salah, akan datang masa jenuh, akan datang pula masa penuh problema. Harus dihadapi dan diobati, bukan ditinggal lari.

 

Baca Juga: Milikilah Rasa Cemburu

 

Lari dari kejenuhan dalam berumah tangga dengan berselingkuh seperti mengobati pegal-pegal dengan minum minuman keras. Saat minum, pegalnya tidak terasa tapi sebenarnya tidak hilang, malah isi perut, ginjal dan organ lain harus menanggung akibat buruk dari alkohol. Selingkuh tidak akan mengobati kejenuhan malah pasti menimbulkan masalah dalam rumah tangga, rumah tangga sendiri, bahkan orang lain. Sampai walaupun akhirnya rumah tangga harus berakhir, lalu menikah dengan selingkuhan, kejenuhan ini akan kembali menjangkit. Apakah akhirnya juga akan diakhiri dengan perselingkuhan dan perceraian lain?

Cinta memang bisa layu, hambar dan memudar. Namun sebagaimana ia bisa tumbuh dan mati, cinta juga bisa hidup kembali. Sebagaimana cinta pernah mekar dan berseri, dia juga bisa disirami agar tumbuh kembali. Wallahua’lam.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Pasutri

 

Menjadi Suami Rumah Tangga Seperti Nabi

Banyak suami merasa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memasak, mencuci piring, momong anak adalah pekerjaan domestik istri. Banyak suami yang tak mau menyentuh ranah ini. “Saya paling tidak suka bila tidur saya terganggu, apalagi untuk mengganti popok anak,” ujar seorang bapak. Ada juga yang mengatakan, “Saya sudah sibuk seharian bekerja. Urusan rumah tangga urusan istri.”  Padahal, suatu hal yang baik apabila suami mau membantu pekerjaan rumah yang biasa dilakukan istri untuk meringankan pekerjaan dan beban keseharian istri.

Ummul mukminin, Aisyah pernah ditanya, “Apa yang dilakukan Nabi di rumah?” Beliau menjawab, “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ibunda Aisyah yang lainnya, beliau berkata, “Nabi saw menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum wanita di rumah mereka.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Kisah Pasangan Harmonis Yang Paling Tragis

Tentu tak ada yang meragukan kesibukan Rasulullah, bukan? Beliau seorang Nabi dengan kesibukan dakwah yang luar biasa dan beliau juga seorang pemimpin. Namu, beliau sangat senang membantu pekerjaan istri beliau. Hal itu beliau lakukan kapan saja selagi beliau di rumah bersama istrinya.

Al-Aswad pernah bertanya kepada ibunda Aisyah, istri Rasulullah, mengenai apa yang dilakukan Nabi di rumah. Beliau mengatakan, “Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya, lalu ketika waktu shalat tiba, beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat.”

Catatan penting bagi para suami bahwa ketika tiba waktu shalat, Nabi meninggalkan pekerjaan rumahnya untuk pergi ke masjid. Rasulullah meninggalkan pekerjaannya saat panggilan adzan berkmandang di masjid. Tak ada istilah kena tanggung, pakaian masih kotor, dan lain sebagainya.

Nabi telah memberi teladan kepada para suami bahwa mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah hal yang tabu. Suami harus menyadari bahwa meskipun tampak sepele, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang berat. Istri dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu demi untuk berbakti kepada suaminya. Membuatnya senang dan betah di rumah.

 

Mari kita Tengok Kembali Kisah Fathimah, Putri Rasulullah

Fathimah merasa lelah dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus ditanganinya. Dia pun pergi menemui Rasulullah untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada beliau. Tatkala Rasulullah tiba, ibunda Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Kebetulan memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, di antaranya wanita. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan. Lalu beliau pergi ke rumah Fatimah. Saat itu Fatimah dan suaminya hendak tidur. Beliau masuk rumah putrinya dan bertanya, “Saya mendapat kabar bahwa kamu datang untuk meminta satu keperluan. Apakah keperluanmu?”

Fathimah menjawab, “Saya mendengar kabar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku.”

Beliau berkata, “Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu?” Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.”

Baca Juga: Saat Konflik Mendera Dalam Bahtera Keluarga

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Oleh karenanya, ketika ada waktu, suami hendaknya berusaha membantu pekerjaan istri, semampu yang ia bisa.

Mengerjakan pekerjaan rumah bagi suami bukan berarti bertukar peran sebagaimana yang kita saksikan di dalam sinetron. Suami menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, sementara istri duduk bermalas-malasan sambil bermain HP atau menonton TV. Karena salah satu tugas utama suami sebagai qowam keluarga adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, seorang suami selayaknya menunjukkan bahwa ia siap membantu istrinya bila mampu. Bila belum mampu tunjukkan minat untuk membantu. Kehadiran suami saat istri sedang melakukan pekerjaan rumah saja terkadang sudah cukup membahagiakan istri. Apalagi ikut mengiris bawang atau memasukkan bumbu ke dalam air yang terjerang panas untuk mematangkan hidangan, sungguh momen yang berkesan.

Jika suami tidak dapat melakukan hal ini, setidaknya ia memberikan pujian kepada istrinya dan memberikan senyuman tanda keridhaan kepadanya. Ketika ada sedikit kekurangan dari apa yang dilakukan istri, maklumi saja, tak perlu memarahi apalagi sampai memaki. Wallahu a’lam.  

 

Oleh: Redaksi/Keluarga 

Wasiat Sang Pemimpin Kepada Anaknya

Dr. Muhammad Harb dalam al-Utsmaniyyun fi at-Tarikh wal Hadharah mencatat wasiat khalifah Utsman ketika menghadapai kematiannya kepada putranya.

Wahai anakku. Janganlah kamu sibuk melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah, Rabb semesta alam. Jika kamu menghadapi suatu kesulitan dalam pemerintahan, bermusyawarahlah dengan para ulama agama ini.

Wahai putra kesayanganku. Lingkupilah orang yang menaatimu dengan pemuliaan. Berilah kecukupan karunia kepada para tentara. Janganlah setan membuat kamu tertipu oleh tentaramu dan hartamu. Janganlah kamu menjauhi para ulama syariat.

Wahai putra kesayanganku. Kamu mengetahui bahwa tujuan akhir kita adalah mencapai keridaan Allah, Rabb semesta alam dan bahwa dengan jihad cahaya agama kita menjadi tersebar di setiap penjuru, sehingga menyebabkan keridaan Allah.

Wahai putra kesayanganku. Kita bukanlah orang-orang yang mengobarkan peperangan-peperangan untuk syahwat kekuasaan atau menguasai orang-orang. Dengan Islam kita hidup dan dengan Islam kita mati. Dan kamu wahai putraku adalah orang yang ahli terhadap urusan ini.

Itulah wasiat seorang ayah kepada putranya sekaligus wasiat pemimpin kepada calon pemimpin. Wasiat yang kemudian menjadi dasar perjalanan Bangsa Utsmani.

Nasihat pertama,

Seruan untuk konsisten kepada syariat Allah dalam segala urusan yang besar dan yang kecil dan agar hukum Allah dan perintah-Nya itu mendominasi segala sesuatu. Utsman memberikan wasiat kepada anaknya dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan setelahnya untuk sebuah negara Islam agar terikat kepada hukum Allah dalam perbuatan-perbuatannya. Karena dia mengetahui bahwa menegakkan hukum Allah melalui penguasa yang beriman itu adalah sebuah perjanjian yang sudah disebutkan oleh Allah,

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu)” (Al-Mâidah [6]: 7).

Ini adalah peringatan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap nikmat-Nya kepada mereka di bidang syariat yang telah ditetapkan kepada mereka dalam agama yang mulia ini, yang telah diutus seorang Rasul yang mulia untuk membawanya, mengambil perjanjian kepada mereka agar mengikutinya dan menyampaikannya serta mengamalkannya.

Baca Juga: Salah Kaprah Mendidik Anak

Ini adalah konsekuensi baiat yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah untuk senantiasa mendengarkan dan taat, baik pada waktu giat maupun dalam keadaan yang tidak disuka. Sebagaimana menodai perjanjian penghakiman itu adalah merupakan suatu bentuk jahiliyah. Allah telah berfirman:

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin (Al-Mâidah [6]: 50).

Pemahaman yang luas terhadap ibadah itu mencakup hubungan-hubungan dan perbuatan-perbuatan yang banyak. Di antaranya ada yang dapat dilakukan oleh para personal dan di antaranya ada yang tidak dapat dilakukan secara sempurna kecuali dalam naungan sebuah Negara Islam. Makna-makna yang luhur ini adalah jelas pada diri pendiri Daulah Utsmaniyah. Karena itu Sang Pemimpin berwasiat dengan sebuah kalimat yang prinsip ini: “Wahai anakku, janganlah kamu sibuk melakukan sesuatu yang tidak perintahkan oleh Allah, Tuhan semesta alam.”

Nasihat kedua, 

Jika kamu menghadapi suatu kesulitan dalam pemerintahan maka bermusyawarahlah dengan para ulama. Agama ini Allah telah menetapkan sistem permusyawaratan karena ada hikmah mendalam dan tujuan-tujuan yang mulia. Dan karena di dalamnya adalah keuntungan-keuntungan yang besar dan kaidah-kaidah yang agung yang menjadikan umat, negara dan masyarakat itu terbiasa untuk melakukan kebaikan dan keberkahan. Karena itu Utsman menyuruh putranya untuk menjadikan para ulama sebagai patner dalam memecahkan urusan-urusan yang pelik.

“Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Âl-Imrân [3]: 159).

Islam menegaskan prinsip musyawarah sebagai sebuah sistem yang kokoh. Bahkan Rasulullah sendiri melaksanakannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Utsman memerintahkan kepada putranya agar mengikuti pendapat para ulama. Dia berkata: “Ikutilah petunjuk mereka. Karena mereka itu tidak memerintahkan kecuali kepada kebaikan …..”

Seolah-oleh Utsman bependapat bahwa bermusyawarah merupakan suatu keharusan bagi seorang penguasa. Yang berpendapat demikian ini di antara para ulama modern pada masa ini adalah Abul A’la Al-Maudûdi. (Redaksi/Parenting/Keluarga

 

Tema Terkait: Keluarga, Parenting, Kisah Sahabat

Bahagianya Menyambut Kelahiran Si Buah Hati

 

Bagi para orang tua, terutama ibu, menunggu detik-detik kelahiran sang bayi merupakan momen yang sangat mendebarkan. Campur-baur perasaan antara bahagia, cemas dan harapan agar bisa melahirkan dengan selamat, menjadikan saat-saat itu begitu mengesankan. Bagi seorang ibu muslimah, di samping usaha-usaha lahiriah, doa kepasrahan kepada Allah Ta’ala dan selalu memohon pertolongan-Nya menjadi hiasan hati yang tak pernah ‘mati’, menjadi senjata ampuh yang tak pernah rapuh.

 

Perbanyak Dzikir dan Doa

Ukhti muslimah, ada sebuah buku menarik yang membahas tentang doa dan dzikir bagi ibu hamil, yang sangat penting untuk Anda miliki. Yakni yang ditulis oleh Naurah binti Abdurrahman dengan judul Al-Ifadah fi Ma Ja’a fi Wirdil Wiladah, dan diapresiasi positif oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dalam kata pengantarnya. Edisi terjemahan buku itu telah beredar luas di pasar buku Islam, antara lain diterbitkan Pustaka Arafah, Solo, dengan judul Wirid Ibu Hamil. 

Di antara doa yang bisa diamalkan oleh para ibu hamil adalah :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Terus Mengurusi Makhluk, dengan rahmat-Mu, aku memohon pertolongan.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani di dalam Shahihut Targhib, I : 278, 657)

Dianjurkan juga untuk memperbanyak doa :

بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً، وَ إِنْ تَشَأْ تَجْعَلُ الْحَزْنَ سَهْلاً

“Bismillah (dengan nama Allah) -dibaca tiga kali-. Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa-apa yang Engkau menjadikannya mudah; dan jika Engkau menghendaki, Engkau mampu menjadikan kesulitan menjadi mudah.” (HR. Ibnu Hibban, dan Syu’aib Al-Arnauth mengatakan, “Isnadnya shahih”)

Serta dzikir-dzikir dan doa-doa mu’awwidzat lainnya yang hendaknya dibaca para ibu untuk memohon keselamatan dan kemudahan dalam menjalani proses melahirkan. Wallahul musta’an. 

 

Sunnah Nabi SAW Saat Melahirkan

Ukhti muslimah, begitu si mungil lahir, iringilah kelahiran anak Anda dengan seperangkat tuntunan dari sunnah Nabi SAW tatkala menyambut kelahiran sang bayi. Hal itu dilakukan sebagai langkah awal untuk mendidik anak-anak kita berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Dan, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Di antara sunnah Nabi SAW dalam pengasuhan bayi adalah sebagai berikut :

     Pertama, mentahnik bayi. Tahnik maksudnya adalah mengunyah buah kurma dan menggosokkannya di langit-langit mulut bayi. Juga, meletakkannya di bagian mulut bayi, kemudian menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang halus, sehingga seluruh bagian mulut bayi terolesi dengan kurma yang telah dikunyah itu. Jika kurma sulit didapatkan, maka tahnik bisa dilakukan dengan bahan apa saja yang manis (misalnya madu), sebagai realisasi terhadap ajaran sunnah dan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Baca Juga: Saat-saat Berharga Bersama Anak

Telah diriwayatkan hadits Abu Burdah, dari Abu Musa RDL, ia berkata, “Telah lahir anakku, dan aku membawanya mendatangi Nabi n, maka beliau menamainya Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma. –Bukhari menambahkan– Dan beliau mendoakannya dengan keberkahan dan menyerahkannya kembali kepadaku. Dia adalah anak Abu Musa yang paling besar.” (Muttafaq ‘alaih)

     Kedua, mencukur rambut kepala bayi. Nabi SAW bersabda, “Laksanakan aqiqah untuk anak, maka tumpahkanlah darah karenanya dan hilangkanlah penyakit darinya.” (HR. Bukhari). Yang dimaksud menghilangkan penyakit dalam hadits tersebut adalah mencukur rambut kepala bayi. Malik meriwayatkan di dalam Al-Muwaththa’ dari Ja‘far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata, “Fathimah RDH menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, kemudian ia bershadaqah dengan perak seberat timbangan rambut itu.”

Di samping bersedekah atasnya, sesudah mencukur rambut bayi, disunnahkan untuk mengusap kepala bayi dengan wewangian. Buraidah RDL berkata, “Di masa jahiliyah jika lahir salah seorang anak kami, kami menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing tersebut. Ketika telah datang Islam, (jika anak kami lahir) kami menyembelih kambing dan mencukur rambut bayi, serta melumuri kepalanya dengan minyak za‘faran.” (HR. Abu Dawud)

     Ketiga, melaksanakan aqiqah. Hal ini merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Untuk itu, Imam Ahmad merasa senang kepada seseorang yang berhutang (karena tidak mampu), agar dapat melaksanakan aqiqah. Ia berkata, “Dia telah menghidupkan sunnah, dan saya berharap semoga Allah akan memberi ganti atasnya.”

Aqiqah adalah menyembelih kambing disebabkan kelahiran bayi, dan dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahirannya. Untuk anak laki-laki disembelihkan dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing. Nabi SAW bersabda, “Semua anak digadaikan dengan aqiqahnya, maka hendaklah disembelihkan (kambing) pada hari ketujuh dan ia diberi nama.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)

     Keempat, memberi nama anak yang baik. Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad shahih, dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan menggunakan nama-nama kalian dan dengan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian.”

     Kelima, melaksanakan khitan. Telah diriwayatkan banyak hadits tentang khitan, antara lain hadits Abu Hurairah a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kesucian itu ada lima, yakni khitan, mencukur rambut di sekitar kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun waktu pelaksanaan khitan, menurut Ibnul Mundzir, tidak ada dalil yang menetapkan kepastian pelaksanaannya. Sehingga, khitan bisa dilaksanakan kapan saja disesuaikan dengan kondisi anak dan orang tua. Namun, lebih utama bagi orang tua untuk melaksanakan khitan di hari-hari awal dari kelahiran anak.

     Keenam, memohonkan perlindungan untuk anak. Nabi SAW pernah memohonkan perlindungan bagi Hasan dan Husain dengan berdoa:

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَ هَامَّةٍ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

“Aku memohonkan perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap gangguan setan, binatang yang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang jahat.” (HR. Bukhari)

     Ketujuh, menyusui bayi sampai dua tahun, dan kemudian menyapihnya. Allah Ta’ala berfirman, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf…” (Al-Baqarah: 233)

Ukhti muslimah, semoga si mungil yang menggemaskan itu tumbuh berkembang menjadi anak shalih-shalihah dalam belaian pengasuhan Anda, dengan menjadikan sunnah Nabi SAW sebagai rambu-rambu pengasuhan sang bayi. Wallahu a’lam. (Redaksi/Arrisalah)

 

Tema Terkait: Parenting, Keluarga, Pasutri 

  

 

Milikilah Rasa Cemburu

Pagi itu, sepasang suami istri turun dari motornya dipelataran sebuah mall yang cukup besar. Sang istri meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya. Mesra sekali. Sang istri kemudian masuk ke dalam mall sementara sang suami pergi, mungkin pulang ke rumahnya. Saya lupakan kejadian itu, tapi sekilas kemudian saya berpikir, tidak kah sang suami tadi cemburu melepaskan sang istri bekerja bahkan mengantarnya dari rumah menuju tempat kerjanya sementara tampak riasan tebal dengan beraneka polesan make-up di wajah istrinya. Pakaiannya pun ‘sekadarnya’ dengan menampakkan aurat di sana-sini yang mestinya hanya dimiliki oleh suami. Sudah pudarkah rasa cemburu dari diri suami hingga rela melepaskan istri dalam kondisi seperti tadi.

Ketika cemburu sirna, keruntuhan akhlak akan menimpa. Ketika suami tak lagi memiliki cemburu terhadap istrinya maka tak ada alasan baginya untuk menjaga istrinya dengan baik. Menjaganya dalam istana yang mulia agar tidak terjamah tatapan mata dan sentuhan tangan yang tak memiliki hak atasnya. Rasa cemburulah yang dapat mendorong suami untuk menjaga istrinya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah.

Cemburu Itu Perlu

Dalam Islam suami dituntut untuk memiliki rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tidak menghadapkan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu dan mengeluarkannya dari kemuliaan.

Saad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu pernah berkata dalam mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku niscaya aku akan memukul laki-laki itu dengan pedang (yang dimaksud bagian yang tajam, red.)…”

Nabi kemudian bersabda,“Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa’d? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’d, dan Allah lebih cemburu dariku.” (Sahih, HR. Bukhari dan Muslim).

Asma’ bintu Abi Bakr ash-Shiddiq bertutur tentang dirinya dan kecemburuan suaminya,

“Az-Zubair menikahiku dalam keadaan ia tidak memiliki harta dan tidak memiliki budak. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali hanya seekor unta dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan dan minum kudanya. Aku yang menimbakan air untuknya dan mengadon tepung untuk membuat kue. Karena aku tidak pandai membuat kue maka tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yang membuatkannya. Mereka adalah wanita-wanita yang jujur. Aku yang memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik az-Zubair yang diserahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagiannya. Jarak tempat tinggalku dengan tanah tersebut 2/3 farsakh.

Baca Juga: Doa Untuk Keshalihan Keluarga

Suatu hari aku datang dari tanah az-Zubair dengan memikul biji-bijian di atas kepalaku, maka aku bertemu dengan Rasulullah beserta sekelompok orang dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku, kemudian menderumkan untanya agar aku naik ke atasnya.
Namun aku malu untuk berjalan bersama para lelaki dan aku teringat dengan az-Zubair dan kecemburuannya, sementara dia adalah orang yang sangat pencemburu
.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa aku malu maka beliau pun berlalu. Aku kembali berjalan hingga menemui az-Zubair. Lalu kuceritakan kepadanya, ‘Tadi aku berjumpa dengan Rasulullah dalam keadaan aku sedang memikul biji-bijian di atas kepalaku, ketika itu beliau disertai oleh beberapa orang sahabatnya. Beliau menderumkan untanya agar aku dapat menaikinya, namun aku malu dan aku tahu kecemburuanmu’.” (Sahih, HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah cemburunya orang-orang mulia. Cemburu bukan berarti posesif dan selalu berprasangka buruk kepada istri. Sehingga ia harus selalu mengunci pintu saat pergi dan meninggalkan istrinya di dalam rumah. Sebab istri shalihah tahu batas hak dan kewajibannya sehingga dia akan menjaga harga dirinya dan suaminya.

Bahkan Allah Pun Cemburu

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam ad-Da’ wa Dawa menuturkan bahwa bara dan panasnya cemburu akan menyaring kejelekan dan sifat tercela, sebagaimana emas dan perak dibersihkan dari kotoran yang mencampurinya. Orang-orang mulia dan tinggi harga dirinya pasti memiliki cemburu yang besar terhadap dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya, juga terhadap orang lain secara umum. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memiliki rasa cemburu terhadap umatnya. Dan cemburunya Allah ‘azza wa jalla lebih dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ أَحَدَ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ ما ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Tidak ada satu pun yang lebih cemburu daripada Allah. Karena cemburu-Nya inilah Dia mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5220 dan Muslim no. 2760)

Hilangnya Cemburu

Dari paparan Ibnu Qayim diatas, kita bisa mengetahui bahwa barangsiapa mengabaikan sifat cemburu maka ia hidup dengan hati yang rusak dan melenceng dari fitrahnya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada ad-dayyuts pada hari kiamat, dan tidak akan memasukkannya ke dalam surga.”

Siapakah ad-Dayyuts? Dayuts adalah seorang suami yang tidak memiliki sifat cemburu dan membiarkan isterinya berbuat maksiat. Dan sebaliknya, suami yang terlalu berlebihan rasa cemburunya akan hidup sengsara dan tersiksa, bahkan jarang seorang istri yang mampu hidup lama dengannya, karena selalu merasa diawasi dan merasa tertekan.

Baca Juga: Istri Shalihah Pendukung Dakwah

Cemburu yang tepat akan membawa dampak positif, terpeliharanya harga diri, kehormatan dan tercapainya kehidupan yang berbahagia. Tanpa rasa cemburu akan membawa malapetaka bagi kehidupan rumah tangga.

Peradaban barat yang dapat dengan mudah kita saksikan di televisi banyak dipahami oleh masyarakat sebagai ukuran kemajuan dan keterbukaan. Masyarakatpun mengadopsi budaya tersebut sedikit demi sedikit. Tak jarang seorang suami justru bangga saat kecantikan istrinya bisa dinikmati orang banyak. Alangkah kacaunya rumahtangga saat cemburu tak lagi ada. Wallahu a’lam. (Redaksi/Keluarga/Nikah)

 

Tema Terkait: Pasutri, Keluarga, Fikih Nikah