Tabiat Manusia itu Pelupa

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Ketika Allah menciptakan Adam, Allah mengusap punggungnya, lalu dari punggung itu berjatuhan seluruh jiwa yang Allah akan menciptakannya dari anak cucunya sampai hari Kiamat. Dan Allah menjadikan di antara kedua mata masing- masing orang ada kilauan cahaya. Kemudian mereka diperlihatkan kepada Adam. Adam berkata, “Ya Rabbi, siapa mereka?” Allah menjawab, “Mereka adalah anak cucumu.”
Lalu Adam melihat seorang laki-laki dari mereka. Dia mengagumi kilauan cahaya yang memancar di antara kedua matanya. Adam bertanya, “Wahai Rabbi siapa ini?” Allah menjawab, “Ini adalah laki-laki dari kalangan umat terakhir dari anak cucumu yang bernama Dawud.” Adam bertanya, “Wahai Rabbi, berapa Engkau beri dia umur?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Adam berkata, “Wahai Rabbi, tambahkan untuknya empat puluh tahun dari umurku.” Lalu tatkala umur Adam telah habis, dia didatangi oleh Malaikat maut. Adam berkata, “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?” Malaikat menjawab, “Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu Dawud?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,

فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَتُهُ وَنَسِيَ وَنَسِيَتْ ذُرِّيَتَهُ وَخَطَئَ فَخَطَئَتْ ذُرِّيَتُهُ

“Adam mengingkari, maka anak cucunya pun mengingkari. Adam dijadikan lupa, maka anak cucunya dijadikan lupa; dan Adam berbuat salah, maka anak cucunya berbuat salah.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih)

Tentang lupanya Adam Allah juga berfirman,

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thaha: 115)

Begitulah, manusia memiliki tabiat pelupa. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa manusia disebut insan, karena sifat ‘nisyan’ (pelupa) yang melekat padanya.

Tidak semua jenis lupa itu buruk dan cela. Di antara jenis lupa bahkan merupakan karunia dan kasih sayang Allah kepada manusia. Andai saja manusia tidak bisa lupa, betapa lestari kesedihannya. Apa jadinya jika nikmat lupa ini dicabut dari manusia. Siapa di antara kita yang belum pernah mengalami musibah? Siapa yang tak pernah disakiti orang lain, atau pernah mengharap sesuatu tetapi kandas. Jika semua itu terus lekat maka betapa hidup itu menderita dan sulit baginya untuk sekedar tidur.

Baca Juga: Rahasia Mengapa Ketika Bersin Disunnahkan Baca Hamdallah

Namun ada lupa yang merupakan keteledoran dan musibah sehingga bisa dianggap sebagai cela. Di antaranya adalah lupa terhadap ilmu syar’i yang telah dihapal atau diketahuinya. Ada kalimat yang masyhur, “afatul ilmi nisyaanun”, bencana ilmu adalah lupa. Seperti orang yang telah menghafal sesuatu dari al-Qur’an misalnya. Tidak disangsikan bahwa lupa dalam hal ini adalah musibah. Meskipun dari sisi dosa atau tidaknya para ulama memerinci menjadi dua hal, jika lupanya sebatas karena tabiat manusia atau karena memang faktor kemampuan, maka ia tidak berdosa. Namun jika lupanya karena ada unsur melupakan, tidak lagi punya perhatian terhadap al-Qur’an maka ia berdosa.

Termasuk pula ketika seseorang yang lupa terhadap amanah yang menjadi tanggungannya. Jika adanya unsur keteledoran maka dia berdosa dan telah melakukan kezhaliman yang merugikan orang lain.

 

Melawan Lupa

Setelah mengetahui ada jenis lupa yang merupakan nikmat dari Allah dan ada pula lupa yang merupakan musibah, lantas bagaimana cara mendapatkan porsi lupa yang bermafaat dan meminimalisir sifat lupa yang tak terpuji?

Sebenarnya sifat lupa itu muncul disebabkan karena sedikitnya perhatian. Sedangkan lekatnya ingatan disebabkan karena besarnya perhatian. Maka jika kita ingin lupa terhadap perkara-perkara yang tak berfaidah, maka alihkan dan sibukkan perhatian kita kepada ilmu dan perkara-perkara yang bermanfaat.

Seseorang yang lupa terhadap ilmu, bisa jadi karena keteledorannya dalam menjaga. Dan di antara cara serius menjaga ilmu adalah dengan sering mengulangnya. Imam Bukhari pernah ditanya, “Apa obat lupa itu?” Beliau menjawab, “Dengan terus menerus membaca (mengulangnya).”

Ibnul Jauzi dalam buku beliau Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil ‘Ilmi berkata, “Jalan untuk menguatkan hafalan adalah dengan sering mengulang. Dan manusia itu bertingkat tingkat dalam masalah hafalan. Ada yang hafalannya kuat walau sedikit mengulang. Ada juga yang tidak hafal kecuali setelah mengulanginya berkali-kali. Maka hendaklah seseorang mengulang ulang hafalannya setelah menghafalnya, agar hafalan itu kuat dan terus bersamanya.”

Baca Juga: Lupa, Nikmat Allah yang Sering Terlupa

Selain banyak mengulang, meninggalkan dosa dan bertaubat darinya adalah cara mencegah lupa. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Saya menduga bahwa seseorang yang telah lupa terhadap yang pernah dia ketahui adalah karena dosa yang dikerjakannya.” Ilmu itu adalah cahaya sebagaimana yang dikataka oleh al-Waki’ kepada Imam Syafi’I, sedangkan cahaya Allah tidak diperuntukkan bagi pecandu maksiat.

Bukan hanya dalam hal ilmu, kadang-kadang kita juga melupakan amal; meninggalkan apa-apa yang telah kita ketahui kewajibannya atau melanggar apa-apa yang telah kita ketahui keharamannya. Karena sifat pelupa dan teledor inilah, kita diperintahkan untuk memberi peringatan satu sama lain. Allah Ta’ala befirman,

“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyāt: 55).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah azza wa jalla mengabarkan bahwa peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman, karena pada diri mereka terdapat keimanan, rasa takut, taubat dan mengikuti ridha Allah, yang semua itu menyebabkan peringatan itu bermanfaat bagi mereka.

Selebihnya, jika seseorang telah berupaya menjaga lmunya, juga menjaga kesadarannya untuk konsisten terhadap ilmunya, selebihnya Allah memaafkan apa-apa yang kita lupa dan tak sengaja melakukannya. Sebagaimana firman-Nya,

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Ia akan mendapatkan pahala atas usahanya dan mendapatkan siksa atas kesalahannya. (Lalu mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah”. (QS. Al Baqarah: 286).

 

Oleh: Ust.Abu Umar Abdillah/Insaniyah


Baca juga artikel islami menarik penyubur iman dan penguat ketakwaan hanya di majalah islam ar-risalah. Segera miliki majalahnya dengan menghubungi agen terdekat atau kunjungi fanspage kami di FB: Majalah ar-risalah

Ini Dia Rahasia Mengapa Ketika Bersin Disunnahkan Mengucap Hamdallah

Siapa tak pernah bersin? Pasti tak ada orang yang selama hidupnya tak pernah melakukannya. Namun tahukah Anda, ternyata ada rahasia besar dibalik bersin kita.

Bersin atau dalam bahasa jawa lebih akrab dengan wahing dan ada juga yang menggunakan nama bangkis, adalah salah satu mekanisme perlindungan tubuh dari masuknya benda asing, seperti debu, bakteri, atau bau-bauan ke dalam tubuh kita. Wahing merupakan keluarnya udara semi otonom yang terjadi dengan keras lewat hidung dan mulut. Udara tersebut keluar sebagai respon yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung.

 

Baca Juga: Lupa, Nikmat Allah yang Sering Terlupa

 

Uniknya, saat seseorang mengalaminya, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdetak untuk sekejap, selama proses ini. Setelah selesai, jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali.

Berapa lama durasinya? Karena bersin adalah pengeluaran udara, maka lama prosesnya akan sama dengan kecepatan udara tersebut keluar dari hidung, yaitu sekitar 70 meter/detik. Saat bersin, kita mengeluarkan butir-butir air yang terinfeksi oleh bakteri yang ingin dikeluarkan dari hidung/mulut. Dan Anda tentu tidak menyadari bahwa dalam satu kali wahing, kita mampu mengeluarkan sekitar 40.000 butir air!

Itulah mengapa saat bersin kita disunnahkan mengucap syukur dengan berucap, “Alhamdulillah…!” Sebab, setidaknya kita terhindar dari penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh.

 

Baca Juga: Nikmat Allah Dalam Mengunyah Makanan

 

Dan tahukah Anda, ungkapan senada juga diucapkan dalam berbagai bahasa dan bangsa. Di negara-negara berbahasa Inggris ada kebiasaan untuk mengatakan “God bless you” (Semoga Tuhan memberkati Anda). Tradisi ini berasal dari Abad Pertengahan, ketika diyakini bahwa ketika seseorang bersin, jantungnya berhenti berdenyut, jiwanya meninggalkan tubuhnya, dan dapat direnggut oleh roh jahat. Dalam bahasa Italia, ada jawaban bagi yang mendengar “Salute” (sehat). Dalam budaya Portugis, diikuti oleh jawaban Saúde, (sehat), dan yang bersin kemudian menjawab Obrigado atau Obrigada (terima kasih).  Dalam Bahasa Jerman, diikuti oleh ucapan, Gesundheit (yang artinya “Sehat [bagimu]”). 

Hal ini demikian terlihat sepele, tapi setelah mengetahui rahasinya, kita wajib bersyukur dan selalu mengucap hamdallah kepada Allah.  Segala puji bagi Allah atas segenap kenikmatannya yang tidak mampu kita perhitungkan sebelumnya.

 

Oleh: Redaksi/Kauniyah

Kejang Demam pada Anak

Kejang demam selalu menjadi momok bagi orang tua. Fenomena yang terjadi pada saat anak kejang, yaitu mata mendelik, kaku-kelojotan, dan lidah tergigit, tak ayal membuat orangtua panik.

Apakah kejang demam itu ?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih yang disebabkan proses di luar otak. Kejang demam merupakan penyakit yang sering dijumpai pada anak dan merupakan gangguan kejang tersering pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Faktor penyebab kejang demam antara lain adalah derajat demam, umur, dan genetik.

 

Baca Juga: Mengatasi Demam Anak

 

Kejang demam dapat dibedakan menjadi 2, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang kurang dari 15 menit, tidak berulang, dan kejangnya mengenai seluruh tubuh (kelojotan). Kejang demam sederhana merupakan bentuk yang paling sering ditemukan dan memiliki risiko komplikasi yang rendah. Sedangkan kejang demam kompleks adalah kejang lebih dari 15 menit, yang dapat berulang dalam 24 jam, dan kejangnya hanya mengenai satu atau beberapa bagian tubuh.

Apa penyebab kejang demam?

Penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran napas atas. Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda: ada yang kejang pada suhu 38 derajat Celsius, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40 derajat Celsius.

Apa yang terjadi bila anak kejang?

Sebagian besar kejang demam merupakan kejang umum. Bentuk kejang umum yang sering dijumpai adalah mata mendelik atau terkadang berkedip-kedip, kedua tangan dan kaki kaku, terkadang diikuti kelojotan, dan saat kejang anak tidak sadar tidak memberi respons apabila dipanggil atau diperintah.

Ilustrasi Kejang Demam

 

Apa yang harus dilakukan bila anak kejang?

Bila melihat anak kejang, usahakan untuk tetap tenang dan lakukan hal-hal berikut:

  1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
  2. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
  3. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka
  4. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
  5. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter, sambil bawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat.
  6. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.

 

Bagaimana cara mencegah kejang demam?

Pencegahan kejang demam yang pertama tentu dengan usaha menurunkan suhu tubuh apabila anak demam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun panas, misalnya parasetamol atau ibuprofen. Hindari obat dengan bahan aktif asam asetilsalisilat, karena obat tersebut dapat menyebabkan efek samping serius pada anak. Pemberian kompres air hangat (bukan dingin) pada dahi, ketiak, dan lipatan siku juga dapat membantu.

Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah dan mengukur suhu anak saat sedang demam. Pengukuran suhu berguna untuk menentukan apakah anak benar mengalami demam dan pada suhu berapa kejang demam timbul.

Pengobatan jangka panjang hanya diberikan pada sebagian kecil kejang demam dengan kondisi tertentu.

  Pada umumnya kejang demam adalah penyakit yang tidak membahayakan dan memiliki risiko kompllikasi yang rendah. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain adalah kejang demam berulang, epilepsi, penurunan IQ, dan gangguan neurologis

Kejang yang perlu diwaspadai ?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam.

 

Rahasia Temperatur Atmosfer

Sebuah fakta bahwa, semakin tinggi kita mendaki gunung, udara akan menjadi semakin dingin. Secara sains, fenomena ini bisa dijelaskan dengan teori tekanan udara. Semakin bertambah tinggi, tekanan udara semakin rendah. Semakin rendah tekanan udara, suhu akan semakin rendah pula.

Fenomena ini hanya terjadi pada lapisan atmosfer paling bawah, yaitu lapisan Troposfer. Lapisan terdekat dengan bumi, yang meliputi 90% dari massa atmosfer. Lapisan yang langsung bersentuhan dengan manusia. Fenomena sebaliknya, terjadi di lapisan Stratosfer. Pada lapisan ini, semakin tinggi, temperaturnya pun akan meningkat.

Namun, pernahkan kita berpikir, bahwa di balik fenomena biasa ini tersimpan rahmat Allah yang luar biasa?

Mari kita cermati. Pada lapisan Troposfer, semakin ke atas, temperatur udara semakin dingin, hingga menyentuh titik beku air. Uap air yang naik ke atas, pada titik tertentu akan mengembun. Lalu membentuk awan. Dan, turun lagi ke bumi sebagai hujan. Bayangkan, andai temperaturnya sama atau bahkan semakin panas, maka uap air tak akan mengembung, awan tak akan terbentuk, hujan pun tak mungkin turun. Akibatnya, bumi pun akan kering dan semakin panas.

Sedangkan pada lapisan Stratosfer, semakin ke atas, temperatur udara semakin tinggi. Hingga pada ketinggian tertentu, oksigen akan mudah terpecah dan bereaksi dengan oksigen lain menghasilkan ozon. Dengan cara ini, bumi terlindung dari bahaya sinar ultraviolet matahari.

Sungguh, Allah telah menciptakan bumi, lengkap dengan fenomena-fenomena alamnya. Semua teratur. Semua bermanfaat, tak ada yang sia-sia, atau tercipta tanpa alasan. Hanya saja, kita kerapkali tak mampu menerjemahkan ayat-ayat kauniyah-Nya.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Rabb-mu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [QS. Fushilat (41): 53]

 

Belajar dari semut

Baris berderet deret dengan rapi, dan bila di ikuti ia akan menuju pada suatu lubang kecil, ya.. itulah semut menuju sarangnya.

Seringnya kita tidak perhatian dan bahkan bisa salah memperlakukan semut dan sarangnya bila emosi sedang menguasai diri.

Padahal banyak nash-nash syar’i yang membicarakan tentang semut, dari yang tidak boleh membunuhnya atau membakar satu desa semut gara-gara digigit salah satu dari pasukan semut.

Dan Bahkan di dalam alqur’an al Karim, ia dijadikan sebagai nama satu surat, yaitu surat an naml (semut). Yang tentunya Allah tidak menjadikannya secara sia sia, namun manusia bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari binatang kecil ini. salah satunya adalah firman Allah:

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS An Naml : 18)

“Lembah semut”

Baru dua tahun yang lalu para ilmuwan barat menemukan lembah semut Padahal Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam telah menyebutkannya lebih dari 1400 tahun yang lalu tentang keberadaan kerajaan semut. Penemuan ini diberitakan daily mail(2-2-2012), arkeolog dari universitas arizona yang berhasil menemukan sarang semut raksasa di brasil sehingga layak disebut kota semut atau kerajaan semut.

“Berkatalah seekor semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu.”

Pelajaran untuk kita, bahwa semut saja perhatian kepada saudara-saudaranya, satu semut mengingatkan umat semut dengan lembut dari kebinasaan, dan tidak mementingkan keselamatan bagi dirinya sendiri. Bahkan menunjukkan solusi tempat yang aman bagi saudara-saudaranya, bagaimana dengan kita?

“Sedang mereka tidak menyadari”

Memberikan udzur kepada Nabi sulaiman dan tentaranya bila menginjak semut dan mereka tidak menyadari. bagaimana dengan kesalahan saudara kita, bila saja semut memberikan udzur kepada Nabi sulaiman, tentunya kita lebih layak untuk mencarikan udzur bagi kesalahan yang dilakukan saudara kita..

Maha benar Allah dengan segala firmanNya

Lupa, Nikmat Allah yang Sering Terlupa

Siapa tak pernah lupa. Saya, anda, atau siapa pun pasti pernah lupa. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Ada yang sangat pelupa, hingga sulit mengingat. Ada pula yang ingatannya tajam, sehingga sulit lupa.

Seringkali menyesali sifat lupa, hanya karena sedikit kerugian yang diakibatkannya. Kita juga kerap menganggap sifat lupa sebagai pangkal kebodohan, dan sebaliknya sifat ingat sebagai bukti kecerdasan. Orang yang mudah menghafal dianggap sebagai orang yang sangat cerdas. Sebaliknya orang yang mudah lupa dicap sebagai orang bodoh dan ceroboh.

Padahal, andai kita mau merenung sejenak, kita akan menemukan bahwa sifat lupa adalah nikmat yang menakjubkan dari Allah. Sama seperti sifat ingat yang ada pada kita.

Bayangkan, andai saja Allah tak memberi kita sifat lupa, maka kita tak akan mampu melupakan setiap kejadian yang kita alami sepanjang hidup. Kita akan terus ingat, bagaimana kita menjalani masa kecil. Setiap kejadian yang menggembirakan dan menyedihkan, setiap orang yang kita temui, setiap tempat yang kita lewati dan kita tinggali. Semuanya akan membekas jelas dalam ingatan kita. Karena tak ada sifat lupa dalam diri kita. Mungkin, hidup kita akan semakin berat.

Alhamdulillah, Allah memberikan kita sifat lupa. Sehingga kita dapat melupakan setiap kejadian menyedihkan dalam hidup kita. Melupakan kesalahan orang lain kepada kita, sehingga kita mudah memaafkan mereka. Melupakan amal kebaikan yang kita lakukan, sehingga kita tetap bisa ikhlas dan tidak riya’. Dan juga, kita tidak terbebani dosa, ketika kita melakukan kesalahan karena lupa.

“Maka nikmat manakah yang engka dustakan?”

Energi Kehidupan dari Sehelai Daun

 

Kita pasti terbiasa melihat pohon dan tanaman. Di halaman rumah, di pinggir jalan, sawah, kebun, hutan, dan di berbagai tempat lainnya. Saking biasanya, kita melihat pohon tak lebih dari sekadar tanaman saja. Padahal, ada banyak keajaiban tersembunyi di dalam tanaman.

Salah satunya tersimpan di daun. Ya, daun. Lembaran tipis berwarna hijau, yang melambai kala tertiup angin, dan gugur saat sudah menguning. Daun adalah pabrik makanan bagi tumbuhan, dan juga bagi manusia dan binatang.
Pada daun terdapat sebuah proses kimia yang sangat istimewa, yang tak bisa dilakukan oleh manusia dan binatang, yaitu proses fotosintesis. Fotosintesis yaitu proses biokimia pembentukan zat makanan karbohidrat pada tumbuhan yang mengandung zat hijau daun atau klorofil.

Untuk melakukan fotosintesis, tumbuhan menyerap gas karbon dioksida dari udara dan air dari dalam tanah. Dan dengan memanfaatkan energi dari sinar matahari, terjadilah reaksi kimia yang menghasilkan gula dan oksigen.
Dan tahukah Anda, glukosa hasil proses fotosistesis ini adalah sumber energi utama bagi manusia dan binatang. Manusia dan binatang yang tak punya kemampuan membentuk makanan sendiri, karenanya mereka mengambilnya dari tumbuhan. Dengan kata lain, tumbuhan adalah penyedia energi utama bagi kehidupan di bumi.

Selain itu, fotosintesis bermanfaat untuk menjaga tingkat normal oksigen di atmosfer. Tumbuhan menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Sedangkan manusia dan binatang menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Jika tak ada tumbuhan yang melakukan fotosintesis, maka kadar oksigen di udara akan terus berkurang, dan kadar karbondioksida akan naik. Ini adalah ancaman bagi kehidupan bumi.
Maha suci Allah yang telah menciptakan keseimbangan kehidupan di bumi. Allah telah menciptakan tiap helai daun dari tanaman sebagai rezeki bagi makhluk hidup di bumi.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. AL-Baqarah: 22)

Kerjasama Sempurna Mata dan Telinga

Sistem penglihatan manusia memiliki keunggulan tak terkira. Salah satunya adalah, kita tidak pernah kesulitan melihat, meskipun kita menggelengkan kepala dengan cepat. Pemandangan di depan kita tetap jelas, dak tidak blur.
Mengapa? Karena, saat kita memutar kepala, pada saat yang sama mata kita secara otomatis akan pindah ke arah yang berlawanan untuk menyeimbangkan penglihatan. Gerakan ini disebut refleks Vestíbulo-okular.

Dan, tahukah Anda, gerak reflek ini tidak dilakukan mata sendirian. Mata memiliki pendukung yang sangat penting untuk menjalankan reflek, yaitu telinga.

Di dalam telinga terdapat struktur bernama “kanalis semisirkularis” yang terdiri dari tiga kanal berbentuk setengah lingkaran, dengan posisi saling tegak lurus satu sama lainnya. Masing-masing kanal bertugas mendeteksi tiga jenis perubahan gerakan pada kepala kita. Pada ujung kanal ini ada bagian yang disebut “ampulla”, yang berisi reseptor keseimbangan.

Cairan dalam endolymph bersifat lembam. Cairan ini akan bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah putaran. Aliran endolymph akan mendorong cupula melengkungkan cillia-cillia dari sel-sel rambut, dengan demikian maka sel bercillia tersebut terangsang dan merubahnya menjadi impuls sensori yang untuk selanjutnya ditransmisikan ke pusat keseimbangan di otak.

Otak lalu memerintahkan otot-otot di sekitar mata, untuk bergerak berlawanan dengan arah gerakan. Jika kita gelengkan kepala ke kiri, maka otot mata akan menahan mata agar tidak ikut bergerak ke kiri, dengan cara menggerakkan mata ke kanan. Demikian pula sebaliknya.

Sesungguhnya proses ini sangat rumit. Namun, yang kita rasakan sangatlah mudah. Karena mata dan telinga melakukan tugas mereka dengan sempurna, cepat, teliti, dan tak pernah salah.
Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, sekaligus menjadi bukti kebesaran dan kesempurnaan ciptaan-Nya.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk: 3)

Hipotalamus, Manajer Tubuh yang Tersembunyi

Rasakanlah kenyamanan tubuh kita. Detak jantung yang teratur. Tekanan darah yang terjaga. Dan suhu tubuh yang stabil. Semua dalam keadaan seimbang. Sedikit saja ada gangguan, maka tubuh akan mengenalinya. Dan, selanjutnya akan berusaha mengembalikannya ke keadaan seimbang tersebut.

Lalu, bayangkan usaha-usaha yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ini secara buatan. Pertama, bayangkan adanya termometer- termometer peka di beberapa tempat dalam tubuh, peranti-peranti untuk mengukur kekentalan darah dalam pembuluh darah, dan laboratorium mini untuk mengendalikan kecepatan fungsi sel. Lalu, bayangkan ribuan perlengkapan yang berada di berbagai titik dalam tubuh ini harus setiap detik mengkaji secara tepat dan menyampaikan informasi yang diterimanya ke sebuah komputer yang sangat canggih.

Pada saat yang sama, tubuh harus juga memutuskan, berdasarkan data yang ada, tindakan apa yang perlu diambil dan perintah seperti apa yang perlu diberikan ke sel yang mana.
Tentunya, sangat mustahil menempatkan ribuan thermometer, laboratorium mini, dan alat pengukur tekanan di kedalaman tubuh manusia. Namun, Allah telah merangkumnya pada sebuah sistem khusus dengan rancangan tercanggih, yang telah diletakkan di kedalaman tubuh manusia sejak lahir. Sistem ini ada di bagian otak yang disebut hipotalamus.

Hipotalamus adalah pemimpin umum sistem hormon. Ia bertugas memastikan kemantapan dalam tubuh manusia. Setiap saat, hipotalamus mengkaji pesan-pesan yang datang dari otak dan dari dalam tubuh. Setelah itu, hipotalamus menjalankan beberapa fungsi, seperti menjaga kemantapan suhu tubuh, mengendalikan tekanan darah, memastikan keseimbangan cairan, dan bahkan pola tidur yang tepat.
Fungsi layaknya ultrakomputer super canggih ini ternyata tersusun atas sel-sel tak sadar seukuran biji kenari.

Suatu sel tak mengetahui berapa lama manusia harus tidur; ia tak dapat menghitung berapa seharusnya suhu tubuh. Sel tak dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan informasi yang ada, dan tak dapat membuat sel lain yang berjauhan letaknya dalam tubuh menjalankan keputusan itu. Namun, sel-sel dalam hipotalamus bertindak dalam cara yang luar biasa sadar demi menjamin bahwa keseimbangan yang dibutuhkan dalam tubuh terjaga.

Allah menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Dan, setiap bagian-bagian terkecil dari manusia, juga memiliki kesempurnaannya sendiri.

“Dialah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hasyr, 59: 24)

Janin yang Mendengar dan Belajar

Ibu yang sedang mengandung, dianjurkan untuk sering mengajak ngobrol dengan bayi yang sedang dikandungnya. Lebih baik lagi, jika sang janin diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur`an dan doa-doa yang disunnahkan. Mengapa? Karena, janin dalam kandungan sudah bisa mendengar, dan menyimpan informasi atas apa yang didengarkannya dari dunia luar.

Setidaknya, inilah simpulan dari riset Eino Partanen, ahli syaraf kognitif dari University of Helsinki, Finlandia, sebagaimana dirilis di Science Magazine, bahwa janin bisa mempelajari lagu tidur saat masih dalam kandungan, beberapa bulan sebelum ia lahir.

Dalam penelitian ini, Partanen melibatkan 17 orang ibu yang usia kehamilannya mencapai 29 minggu. Mereka diberi rekaman suara wanita yang mengulang-ulangi kata ‘tatata’ ratusan kali. Terkadang perkataaan akan berubah menjadi ‘tatota’ yang merupakan kata-kata pengalihan. Kata-kata ini dipilih karena hanya terdiri dari 3 suku kata dan dinilai cukup menantang bagi otak kecil untuk menemukan perubahan sekaligus membuatnya cukup sulit dipelajari. Rekaman diputar selama 5-7 kali seminggu.

Secara keseluruhan, bayi-bayi dalam penelitian sudah mendengar kata-kata tersebut lebih dari 25.000 kali saat dilahirkan. Untuk memastikan apakah bayi mengenali kata-kata, bayi-bayi tersebut dipasangi electroencephalograms (EEG) di kepalanya. Sebagai kontrol, ada 16 bayi yang tidak mendapat perlakuan khusus tersebut.

Dari pemeriksaan EEG, diketahui bahwa bayi yang masih ingat kata ‘tatata’ menunjukkan respon lebih kuat. Uniknya, bayi ternyata memberikan respon lebih pada kata ‘tatota’, yang juga disebut respon mismatch.

“Reaksi saraf yang sama muncul ketika orang dewasa sedang belajar bahasa baru. Fakta bahwa mempelajari suara bisa dilakukan saat bayi masih dalam kandungan berarti bahwa pembelajaran bahasa tidak dimulai pada hari pertama kelahiran, tapi saat bayi di dalam rahim,” kata Patricia Kuhl, direktur dari University of Washington National Science Foundation Science Learning Center.
Karenanya, membacakan ayat Al-Qur`an, doa-doa, perkataan yang baik dan lembut, sangat mungkin berpengaruh terhadap perkembangan janin. Jika sejak dini, anak sudah akrab dengan kalamullah dan ucapan-ucapan baik, insyaallah, setelah lahir si anak akan lebih mudah mengenalinya lagi.

“Dialah (Allah) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali Imran: 6)

Kekuatan pada si Lemah

Berapa beban paling berat yang bisa diangkat manusia? Orang biasa yang tak terlatih, paling hanya mampu mengangkat beban 50-60 kilogram. Sedangkan atlet angkat berat bisa mengangkat lebih dari 300 kilogram. Itu pun hanya mampu beberapa detik saja.

Dengan kemampuan seperti itu, manusia sesungguhnya tak lebih kuat dari dua makhluk Allah berjenis serangga. Mari kita berkenalan dengan dua spesies serangga yang istimewa; semut Atta dan kumbang badak.

Semut Atta adalah jenis semut pemotong daun. Mereka mengumpulkan daun-daun untuk memenuhi kebutuhan makanan koloninya. Namun, mereka tidak memakan daun begitu saja. Mereka menggunakan daun untuk media menanam jamur. Jamur inilah yang menjadi makanan koloni semut.

Kumbang badak adalah sejenis kumbang yang memiliki semacam cula di kelapanya. Kumbang ini hidup di pucuk pohon kelapa, pinang, dan jenis palem lainnya. Diantara jenis kumbang, kumbang badak tergolong jenis yang terbesar.
Lalu, apa keistimewaan kedua serangga ini?

Kedua serangga tersebut adalah binatang terkuat di dunia. Ya, serangga-serangga tersebut mampu mengangkat beban yang beratnya jauh melebihi berat tubuhnya sendiri.

Kumbang badak sanggup menarik dan mengangkat benda yang beratnya 850 kali berat tubuhnya. atau jika disetarakan dengan manusia, maka sama dengan manusia yang mampu mengangkat dua buah tank sekali angkat. Sedangkan semut pemakan daun mampu mengangkat beban yang beratnya 50 kali berat tubuhnya. Setara dengan manusia yang mampu mengangkat sebuah truk kontainer seberat 5 ton. Bandingkan dengan gajah, hewan yang besar dan kuat, namun ‘hanya’ mampu mengangkat beban seberat 3 kali berat tubuhnya.

Inilah kemurahan dan rahmat dari Allah kepada makhluk-Nya. Semut daun diberi kekuatan luar biasa agar lebih mudah dan cepat dalam mengumpulkan daun-daun, sekaligus tak akan berbahaya karena ukurannya yang kecil. Andai saja gajah mampu sekuat semut, tentu sangat berbahaya, karena kekuatannya menjadi sangat luar biasa.

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada hewan melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.” (Surat Al-Jatsiyah: 3-4)

Nikmat Mengunyah Makanan

Apa yang pertama kali kita lakukan saat makan? Ya, memasukkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya hingga lembut, baru kemudian, menelannya dengan nyaman. Apa jadinya jika kita menelan makanan yang masih utuh, tanpa mengunyahnya terlebih dahulu? Tentu saja, kita akan tersedak, bahkan saluran pernafasan kita dapat terganggu.

Tapi, proses mengunyah bukan sekadar proses melembutkan makanan. Ada proses yang cukup rumit di sana. Mari kita perhatikan.
Saat kita memasukan sesuap nasi, misalnya, kita akan langsung mengunyahnya. Lidah akan mengatur posisi nasi pada gigi geraham, yang siap melumat butiran-butiran nasi. Pada saat bersamaan, tanpa kita sadari, mulut mengeluarkan cairan saliva (ludah). Saliva mengandung enzim ptyalin (amilase) yang berfungsi mengubah zat tepung menjadi zat gula. Setelah lembut, makanan akan dikirim ke perut melalui melalui faring dan kerongkongan.

Cuma itu? Tentu saja tidak. Perhatikan bentuk gigi-gigi kita. Mereka berlainan bentuk, kan? Bentuk gigi kita sangat sesuai dengan kebutuhan kita. Saat mengunyah, kita menggunakan geraham. Gigi seri di bagian depan, kita gunakan untuk memotong makanan. Sedangkan giri taring yang runcing bermanfaat untuk merobek, seperti saat kita makan daging. Bayangkan, andai saja gigi kita sama bentuknya, atau terletak di tempat yang tidak semestinya, pasti sangat mengganggu kenyamanan makan kita. Subhanallah!

Dan yang tidak kita sadari, di bagian belakang lidah kita ternyata hidup sekelompok bakteri yang bermanfaat. Bakteri-bakteri ini bertugas membunuh kuman yang mencoba masuk ke lambung kita. Ada serangkaian proses rumit yang mendukung kerja bakteri ini. Pertama-tama, mereka mengubah zat nitrat dari makanan yang dikunyah mulut menjadi nitrit. Nitrit, yang bergabung dengan air liur yang dikeluarkan di dalam mulut, inilah yang memiliki sifat anti-mikroba. Adanya proses ini, membuat kita terlindung dari berbagai penyakit.

Inilah kemurahan dan kasih sayang Allah kepada manusia. Allah telah menciptakan tubuh kita dengan sempurna, dan memberi kita nikmat yang tak ternilai banyaknya. Bahkan, nikmat mengunyah makanan pun, adalah nikmat yang tak terhingga.
“Jika kalian hitung nikmat Allah, kalian tidak akan pernah dapat menghitungnya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18)

Energi Besar dari Makhluk Kecil

Sepele bukan berarti tak bermanfaat. Itulah alga, spesies yang termasuk dalam Famili Algae. Terdapat beragam bentuk dan warna dari alga, mulai dari organisme bersel satu hingga segerombolan besar rumput laut di lautan. Ada yang berwarna hijau, merah, hingga cokelat.

Allah menciptakan alga bukan tanpa manfaat. Sebagaimana setiap ciptaan Allah, pasti tak ada yang sia-sia. Tanpa kita sadari, alga menyokong kehidupan manusia, dengan cara mengurangi kadar karbondioksida dan mensuplai oksigen ke udara. Alga menyerap karbondioksida selama proses fotosistesis, dan menghasilkan oksigen. Jadi, alga berperan besar mengurangi dampak polusi lingkungan akibat emisi karbondioksida.
Selain itu, alga berpotensi menjadi sumber energi alternatif. Berbagai penelitian telah berhasil membuat beragam jenis ekstrak minyak dari tumbuhan untuk dijadikan bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan. Salah satu alternatif sumber energi yaitu alga.

Alga dapat diproses untuk menghasilkan biofuel, yang bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Mikrolga, misalnya, memiliki kandungan minyak yang sangat tinggi, yaitu 40-85% dari berat kering. Bandingkan dengan minyak pada kelapa sawit, yang hanya 20%.

Produktivitas alga juga sangat tinggi. Jika pada satu hektar ladang minyak bumi, rata-rata hanya bisa disedot 0,83 barel minyak per hari, maka dengan luas lahan yang sama, budidaya mikroalga bisa menghasilkan 2 barel minyak per hari.
Inilah kemurahan dari Allah. Sebuah potensi energi yang sangat besar, dari sebuah makhluk hidup yang kecil dan sederhana.
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS: Ali ‘Imran: 191)

Bakteri yang Hidup Bersama Manusia

Manusia tak bisa hidup sendirian, bagaimanapun keadaannya. Manusia selalu membutuhkan bantuan manusia lain, pun juga sokongan dari makhluk Allah yang lain. Bahkan, seandainya ada manusia mampu hidup sendiri, sejatinya dia tidak benar-benar sendiri. Karena di dalam tubuhnya terdapat jutaan makhluk lain yang menumpang hidup.
Ya, tubuh manusia tidak pernah benar-benar dalam keadaan steril. Selalu ada organisme lain yang hidup bersamanya. Tanpa kehadiran organisme-organisme tersebut, mungkin hidup manusia tak akan nyaman. Karena keberadaan organisme tersebut justru sangat bermanfaat bagi manusia.
Satu contoh organisme –atau lebih tepatnya, mikroorganisme- yang selalu menjadi teman kita adalah bakteri yang hidup di usus besar atau kolon. Mereka adalah Bacteroides, Bifidobacteria, Eubacteria, Lactobacillus, Streptococcus, Clostridium, Candida albicans (jenis yeast). Tentu saja, bukan tanpa tujuan mereka ditempatkan di dalam usus manusia. Bakteri-bakteri tersebut berguna dalam proses pencernaan, terutama membantu pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar, sehingga lebih mudah dikeluarkan dari dalam tubuh.
Fungsi lainnya adalah menekan pertumbuhan bakteri jahat, dan juga membantu proses pembentukan vitamin K. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan darah. Saat terjadi pendarahan seperti pada luka atau mimisan, vitamin K bisa membantu menghentikannya.
Dalam keadaan normal, jumlah mereka selalu seimbang. Meskipun milyaran yang terbuang bersama kotoran manusia, milyaran pula yang terbentuk lagi dan siap mengurai sisa-sisa makanan yang masuk ke usus besar.
Andaikan mereka dihilangkan dari dalam tubuh, kita pasti akan kesusahan. Tak ada lagi yang mengurai sisa-sisa makanan dalam usus, sehingga sulit dikeluarkan. Sisa makanan itu akan mengeras dan menumpuk dalam usus. Jadilah penyakit.
Atau, pada suatu saat jumlah mereka berlipat ganda. Mungkin mereka akan meluaskan wilayahnya hingga ke usus halus, bahkan lambung. Ini juga akan menimbulkan penyakit.
Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna. Termasuk, menempatkan makhluk-Nya yang berjenis mikroorganisme ke dalam tubuh manusia, dengan jumlah dan ukuran yang tepat. Dan tentu saja, dengan fungsi dan peranan yang tepat pula. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada-Nya.
Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An-Naml: 64).